6 months later

"Dunia musik sempat kehilangan dirinya selama 6 bulan terakhir. Tapi sekarang ia hadir di sini, untuk membawakan lagu terbarunya. Ini dia, Castiel Novak."

Cas mengerjapkan matanya, karena sorotan lampu panggung yang menyilaukan matanya. Ia melangkah menaiki panggung, membawa gitar merah ikoniknya, dan melambaikan tangannya kepada penonton di hadapannya. Ia duduk di sebuah kursi. Sebuah mikrofon berdiri tegak di depannya.

6 bulan setelah kematian Dean. Cas benar-benar kehilangan tujuan hidup setelah hari buruk itu. Sam, Jess, Gabriel, bahkan Michael dan Chuck, datang untuk menghadiri pemakaman Dean Winchester. Alunan lagu 'My Way' mengiringi prosesi pemakamannya, sementara Cas harus menahan tangisnya selama ia berdiri di podium untuk memberi pidato terakhir untuk Dean.

Ia tahu, mau tidak mau, ia harus kembali terjun ke dalam dunia musik.

Dean pasti menginginkannya juga, pikir Cas, saat ia memegang pulpen untuk menandatangani kontrak dengan label rekaman lamanya.

Cas meraih mikrofon di hadapannya, dan sejenak ia tidak tahu harus berkata apa.

"Aku— Uh, lagu ini, kudedikasikan untuk sahabatku." Ia terdiam sejenak. Mungkin inilah saatnya dunia tahu mengenai hal ini. "My boyfriend. Ia meninggal karena tumor otak, 6 bulan yang lalu. Ia merupakan inspirasiku selama ini. Karena dialah aku bisa duduk di sini, untuk membawakan lagu ini."

Sang pembawa acara berjalan mendekati Cas, terlihat setetes air mata jatuh menuruni pipinya.

"Mr. Novak, aku yakin bahwa kekasih Anda sekarang sudah berada di atas sana, penuh kebahagiaan."

Cas mengangguk. Ia menggenggam gitarnya erat-erat. "Aku tahu."

"Dean Winchester, terimakasih untuk semua kenangan yang telah kita jalani bersama. Here's for you."

Jari jemari Cas mulai memetik gitar nya dengan lembut dan lincah. Nada demi nada perlahan terlantun, dan suara Cas memenuhi seisi stadion besar itu.

"Burning on just like a match you strike to incinerate.. The lives of everyone you know.."

"And what's the worst you take.. From every heart you break.."

"And like the blade you stain.. Well, I've been holding on tonight.."

Air mata Cas perlahan terjatuh menuruni pipinya. Kenangannya bersama Dean memenuhi pikirannya. Hari pertama mereka bertemu. Saat hari Natal tiba. Di saat Dean meninggalkannya. Di saat Dean kembali padanya 10 tahun kemudian. Hari-hari di mana mereka berpetualang mengelilingi dunia. Hari-hari terakhir menjelang kepergian Dean..

"What's the worst that I can say? Things are better if I stay.."

Cas mengangkat mukanya, menatap para penonton di hadapannya. Dan saat itulah jantungnya serasa berhenti berdetak

Dean Winchester, berdiri di tengah-tengah kerumunan itu.

Senyuman kecil menghiasi wajahnya yang berbintik-bintik. Rambut hazelnya yang tidak pernah rapi, kali ini tersisir rapi. Mata hijaunya bertemu dengan mata biru Cas, yang menatapnya dengan penuh kekagetan. Walau begitu, Cas meneruskan nyanyiannya, tanpa melepaskan pandangannya dari bayangan yang berpakaian serba putih itu

"So long and goodnight.."

Bayangan itu tersenyum kepadanya. Mata hijaunya berbinar penuh sukacita, melihat Cas kembali tampil di atas panggung

"Goodnight," bisiknya.

Dan bayangan itu perlahan hilang dari pandangan Cas.


A year later

Cas menjulurkan senternya, menatap pintu berwarna putih yang memudar di hadapannya. Melihat nomor yang terpampang di depannya, ia yakin berada di apartemen yang tepat. Ia mengeluarkan sepasang kunci dari saku celananya. Sam memberikannya kepadanya saat pemakaman Dean telah selesai, satu tahun yang lalu. Cas memutuskan untuk pergi melihat apartemen Dean di malam hari, sehingga tidak ada orang yang melihatnya.

Ia melangkah masuk. Bau alkohol segera menyambut kedatangannya. Pecahan botol kaca berserakan di lantai apartemen Dean. Pikiran Cas melayang, membayangkan Dean hidup di sini sendirian selama 10 tahun.

Mata Cas melihat sebuah box berwarna cokelat yang terletak di meja pendek di hadapan sofa tua Dean berwarna merah. Ia mengambilnya, dan meniup debu-debu yang ada di atasnya, lalu membukanya. Beberapa keping CD ada di dalamnya. Cas melirik ke ujung ruangan. Ada sebuah TV LCD beserta dengan player nya.

Ia beranjak menuju player TV dan memasukkan CD pertama yang bisa ia raih dari dalam kotak tersebut. Dengan gugup ia duduk di sofa tua itu dengan box itu di pangkuannya.

"Hey, Cas." Cas melihat ke layar televisi, menampilkan Dean yang sedang tersenyum. "Tahun ini merupakan tahun yang sulit bagi kita berdua. Aku—uh, ini peringatan anniversary kita yang pertama."

Pria bermata hijau itu tertawa dengan canggung di layar TV. "Kertas, mereka bilang. Aku masih tidak mengerti." Dean mendengus. "Anyway, aku harap kau baik-baik saja di sana. Aku benar-benar ingin kembali padamu, tapi aku tidak mungkin tiba-tiba muncul begitu saja di pekarangan flatmu. I'm such a jerk. Bagaimanapun juga, happy anniversary, Cas.."

Rekaman tersebut berhenti. Tanpa sadar, tangan Cas meraih kepingan CD kedua dan meletakkannya di dalam player.

"Happy second anniversary, Cas." Dean tersenyum lebar. Cas tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum balik padanya. "Dua tahun. Sekarang kapas. Apa artinya itu, huh?"

Cas tertawa. "Aku benar-benar merindukanmu. Aku harap aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku tidak tahu kalau kau mau memaafkanku atau tidak. Tapi aku rasa aku tidak layak untuk dimaafkan. I'm sorry, Cas.."

"Third anniversary. Kulit. Jangan tanya aku, karena aku juga tidak tahu apa artinya itu." Dean terlihat bingung. Ia menggaruk belakang kepalanya dengan canggung. "Aku—uh, aku memikirkanmu kemarin, memikirkan tentang kita. Hal-hal tidak berlangsung seperti yang kita inginkan, dan aku minta maaf karenanya.."

"Fourth one this time, dan kali ini linen. Aku masih tidak mengerti. Aku menemukan daftar benda-benda itu beserta tahun anniversary di jurnal ayahku. Aku merindukanmu, Cas. Aku rindu kedua mata birumu, suara tawamu, kerutan di matamu saat kau tersenyum padaku. Aku merindukan segalanya darimu.."

"Hey, Cas. Happy fifth anniversary. Kali ini kayu." Dean menghela nafasnya. "Cas, bagaimana kabarmu? Aku benar-benar ingin kembali padamu. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Kuharap kau bahagia di sana.."

"Keenam. Besi. Cas, aku masih mencintaimu. Tapi, aku tidak tahu apakah kau masih mencintaiku juga. Keep our love as strong as iron, okay?"

Keping CD yang ketujuh. Kali ini Dean terlihat lebih pucat dibanding dengan rekaman-rekaman yang sebelumnya.

"Hey, Cas. Aku merasa tidak enak badan hari ini. Aku sempat terjatuh dari tangga, karena kepalaku sakit sekali rasanya. Kau tidak perlu khawatir. Aku sudah pergi ke dokter. Mereka bilang tidak apa-apa. Anyway, happy seventh anniversary. Wol, dan tembaga."

Cas menatap layar TV di hadapannya dengan khawatir. Gejala tumor otak yang dideritanya dimulai sejak 3 tahun yang lalu. Cas meraih keping CD kedelapan dengan gemetar.

"Happy eighth anniversary, Cas. Perunggu. Aku merasa lebih baik dibanding tahun lalu. Sam datang kemari pagi tadi, bersama dengan Jess. Mereka agak khawatir dengan kesehatanku, tapi aku berkeras kalau aku tidak apa-apa."

Dean tertawa dengan canggung. "Aku masih merasa sakit. Kuharap kau sehat-sehat saja di sana."

"Kesembilan. Tembikar. Kenapa kedelapan perunggu, sementara kesembilan adalah tembikar?" Dean menggelengkan kepalanya dengan jenaka, membuat Cas tertawa kecil. "Anyway, berita buruk untukku. Aku pergi ke dokter pagi tadi, dan mereka mendiagnosa diriku kalau aku terkena tumor otak. Aku menganggap itu hanya omong kosong belaka. Tapi, dokter tidak mungkin berbohong, bukan?"

Dean mulai meneteskan air matanya. "Aku tidak ingin mati, Cas.. Aku masih ingin hidup. Aku masih ingin bertemu denganmu. Tapi, kau tidak mungkin mau bertemu denganku. Aku ketakutan, Cas.."

Cas menggelengkan kepalanya, sembari ia menjulurkan tangannya untuk mengambil keping CD terakhir. Tangannya menyentuh selembar kertas di bawah kepingan terakhir itu. Ia mengambilnya, dan hampir saja membukanya sebelum ia melihat tulisan di atasnya.

Jangan dibuka sebelum kau menonton CD terakhir ini. - DW

Cas tersenyum kecil. Ia beranjak dari sofanya, dan meletakkan kepingan terakhir itu di player TV di hadapannya. Wajah Dean yang lebih pucat dari sebelumnya tayang di televisi. Matanya sembab oleh air mata

"Cas, happy tenth anniversary. Aluminium." Suara Dean terdengar serak. "Kudengar hari ini kau mengadakan konser di San Fransisco."

Dean menundukkan kepalanya, dan menarik nafas dalam-dalam. "Mereka bilang aku hanya tersisa 1 bulan lagi untuk hidup. Dan kau tahu? Aku akan menemuimu. Persetan dengan apapun. Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu terakhirku untuk tidak bertemu denganmu. Aku harus kembali padamu, tidak peduli apapun risiko yang harus kutanggung."

Rekaman terakhir itu berhenti. Cas menarik nafas dalam-dalam, dan meraih surat yang terletak di dalam box di pangkuannya itu. Ia membukanya perlahan, dan tampaklah tulisan Dean yang berantakan, seolah-olah ia menulis surat itu dengan terburu-buru dan dengan tangan yang gemetaran karena sakit yang dideritanya.

Dear Cas,

Saat kau membaca surat ini, aku mungkin sudah pergi meninggalkan dunia ini. Dan aku ingin kau tahu kalau aku akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir memikirkan diriku.

Cas, aku sangat menyesal. Atas apa yang telah kulakukan padamu. Aku minta maaf karena hal-hal tidak berjalan sesuai kehendak kita. Aku minta maaf karena aku meninggalkanmu sendirian. Aku minta maaf karena telah membuatmu menderita dalam kesedihan selama 10 tahun.

Ugh, aku sangat buruk dalam hal menulis surat, Cas. Dan aku senang karena ini adalah pertam dan terakhir kalinya aku harus menulis surat. Untukmu. Terimakasih untuk semua kenangan yang telah kita alami, walaupun mereka tidak terlalu menyenangkan. Tapi aku rela menukar masa depanku hanya untuk satu hari di masa lalu bersamamu.

Tentang pengamatan bintang kita.. Aku sudah merencanakan itu sejak awal. Tapi sejujurnya, aku tidak pernah tahu nama konstelasi ketiga bintang aneh itu. Aku tahu kalau kau akan menamai ketiga bintang itu 'Team Free Stars'; kau, aku dan Sammy. Aku percaya kita bisa menjadi tim yang hebat

Dan kau tahu apa?

Lakukan satu hal lagi untukku, Cas. Lihatlah ke langit saat malam hari. Kau akan melihat ketiga bintang itu di sisi barat. Ketiga bintang terindah di langit. Ingat? Aku akan menjadi bintang ketiga di sebelah kanan, melihat ke bawah ke arahmu. Aku akan ada di sana, dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendiran lagi. Dan mungkin suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi.

Dan Cas, tolong awasi adik kecilku. Kuharap Sammy baik-baik saja setelah aku meninggalkannya.

So long, Cas, and goodnight

Yours truly,

Dean Winchester

Tanpa disadari, air mata Cas menetes melalui pipinya, dan mendarat di kertas surat tersebut. Sambil menggenggam kertas surat tersebut dengan erat, ia beranjak dari sofa tua Dean dan berjalan menuju jendela ruangan itu.

Ia menjulurkan kepalanya ke luar jendela, dan melihat ke langit malam di arah barat. Ketiga bintang itu bersinar paling terang di antara bintang-bintang lainnya. Cas tersenyum kecil. Mata birunya menatap bintang ketiga di sebelah kanan itu di kejauhan.

"Goodnight, Dean."

Bintang di sisi kanan itu berkelip sekali, dan bersinar lebih terang dari yang sebelumnya.


Author's Note:

First of all, I want to thank you for reading this fic. Well I cry everytime I re-read this haha. This is the last chapter, and this fic ends here. If you think that this is not a good fic, please leave a review, or if you think that this is a good fic, please hit the 'like' button. Thanks guys :)