Galerians, in.

A/N: Apdet untuk chap 10 kemarin hamba lakukan tepat sebelum ujian akhir semester, yang kemudian dilanjutkan dengan libur panjang. Hamba sih sebenarnya kepingin nulis chapter 11 pas lagi libur itu, tapi baru pulang ke rumah satu hari udah diminta nyokap ngebantu bikin laporan sama presentasi buat seminar. Mana topiknya UU lagi...

Mungkin kedengarannya hamba bikin-bikin alasan, tapi daripada hamba mempersembahkan chapter yang tidak memuaskan, mending ditunda aja apdetnya. Jujur, chapter ini sudah dimodifikasi sampai hampir sepuluh kali, dan baru sekarang hamba puas dengan hasilnya. BTW, chapter 11 dan 12 dimaksudkan sebagai klimaks untuk Arc ini.

Hamba jadi kebanyakan omong ya. Silakan dimulai saja deh bacanya.

*Saran penting: Download lagu Indestructible dari band Disturbed. SANGAT cocok dimainkan dari tengah chapter (hamba akan kasih tahu tepatnya di mana lagunya bisa diputar).

Warning:

Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.

Notification:

"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung (tanda petik double)

'Blablabla' = perkataan dalam hati (tanda petik single)

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!

Selamat membaca!

~••~

When The Sun Goes Working

Part 9

(Dire Situation?! Behold The Wrath of The Wind God!)

Seperti yang sudah didikte oleh profesinya sebagai seorang ninja, Naruto adalah seorang laki-laki yang sudah dilatih dalam belasan keahlian untuk memastikan kelangsungan hidupnya. Semenjak berlatih di bawah panduan Jiraiya, Naruto telah berubah dari seorang anak ingusan menjadi seorang petarung dengan perkembangan pesat yang tak pernah terlihat semenjak Gama-sennin itu melatih sang Yondaime Hokage sendiri. Namun di atas itu semua, pada dasarnya tujuan utama latihan Naruto bukanlah untuk membuat shinobi muda itu menjadi seorang mesin tempur yang berdiri di garis depan medan peperangan hanya dengan bergantung dengan kemampuan bertarung, tapi seorang ahli informasi yang tahu jelas medan pertempuran, latar belakang dan karakteristik musuh, serta semua keuntungan dan kerugian yang ia miliki, yang kemudian bisa ia eksploitasi bahkan dimanipulasi agar dia bisa memenangi pertempuran dengan seefektif dan seefisien mungkin. Kekuatan mentah dan keahlian bertarung memang penting, tapi strategi dan taktik lah yang selalu memenangkan perang.

Bahkan dalam peperangan dengan perbandingan jumlah yang sangat berat sebelah inipun, dengan semua informasi yang telah ia kumpulkan, Naruto tak memiliki sedikitpun keraguan bahwa mereka bisa menang melawan sebuah pasukan berkekuatan seribu orang. Alasan pertama adalah karena semua musuhnya adalah bandit. Memang, mereka adalah orang-orang yang telah terbiasa dengan dunia kekerasan dan tak akan ragu sedikitpun untuk membunuh orang, namun pada akhirnya mereka hanyalah manusia biasa yang sama sekali tak tahu cara memakai chakra atau tenaga dalam. Itu berarti dia hanya butuh satu pukulan telak untuk melumpuhkan mereka. Tak hanya itu, dia juga tahu bahwa bandit-bandit ini dikumpulkan oleh Gato saling tak mengenal karena berasal dari segala macam tempat, sehingga koordinasi mereka tak teratur dan kerjasama hampir tak ada.

Dengan intel yang tersimpan di kepalanya itulah Naruto membuat sebuah kesimpulan bahwa pertarungan ini akan berakhir dengan kemenangan mereka. Memang, para bandit itu menang jumlah dan mereka juga punya senjata api yang meningkatkan level bahaya, tapi melawan sebuah tim yang terdiri dari seorang ninja, penyihir, dan calon bos mafia dengan kekuatan supranatural yang kadang bisa melawan bahkan menulis kembali hukum fisika, seribu orang macam itu sekalipun takkan punya kesempatan.

Atau setidaknya, seperti itulah pikiran Naruto pada awalnya. Dengan kerjasama yang tak tertandingi, setelah 3 jam masuk ke pertempuran lebih dari dua pertiga jumlah musuh telah berhasil mereka jatuhkan. Para bandit yang pada saat itu sudah sangat mengerti bahwa mereka takkan bisa membuat bahkan satu luka pada musuh mereka yang hanya berjumlah tiga, terutama dengan jumlah mereka yang makin menipis, punya cukup otak untuk menyimpulkan bahwa peperangan ini hanya akan berakhir dengan kekalahan mereka dan mulai kabur satu-persatu.

Semua itu berubah ketika sepuluh kepulan asap tiba-tiba terlihat. Dari baliknya, sepuluh ekor ular raksasa dengan sisik berkilap dan taring yang basah oleh racun muncul, mata mereka yang menunjukkan kilatan makhluk buas berkeliling dengan lapar, memandangi setiap manusia di bawahnya seakan sedang dihadapkan dengan santapan makan malam besar.

Dari situ, pertarungan yang berlangsung lancar berubah menjadi malapetaka. Diawali oleh desisan yang menggema, raungan dan jeritan penuh ketakutan berbunyi di sana-sini menjadi sebuah indikasi yang menunjukkan bahwa puluhan orang telah menemui akhir kehidupan mereka dengan menjadi santapan, atau menjadi noda mengerikan di aspal ketika tubuh mereka habis digilas tubuh makhluk-makhluk buas yang datang bagaikan siluman dari dunia lain.

Naruto yang pada saat itu masih diliputi oleh rasa shock dengan cepat melompat mundur ketika instingnya menyuarakan tanda bahaya, tidak sampai dua detik kemudian tempatnya berdiri tadi sudah remuk terkena hantaman ekor salah satu ular yang menjadikannya sebagai mangsa berikutnya. Kepala Naruto terasa dihantam oleh sebuah balok kayu dan perutnya terasa diisi oleh timah panas ketika otaknya yang mulai mencerna informasi tiba-tiba mencetuskan satu nama.

[Orochimaru].

Tapi sebelum dia sempat memikirkan lebih lanjut implikasi dari satu informasi paling baru sekaligus paling mengejutkan ini, Naruto dipaksa untuk melompat ketika ekor yang tadi berkibas ke arahnya. Naruto melihat pergerakan lain di sudut jarak penglihatannya. Seekor ular lain sudah melesat ke arahnya dengan moncong terbuka, membuat pemuda itu menggertakkan gigi sebelum melemparkan kunai khususnya ke bawah. Satu Hiraishin kemudian, dia sudah kembali berdiri di atas aspal.

Ular raksasa itu rupanya tak punya intelegensi tinggi, membuatnya kebingungan untuk sesaat karena mangsanya tiba-tiba hilang dari depan hidung. Namun hanya jeda sejenak itulah yang diperlukan oleh Naruto untuk mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan mengasesi situasi.

Timah panas dalam perutnya berubah menjadi rasa mual ketika pandangannya jatuh ke beberapa bagian tubuh yang bertebaran di sana-sini. Potongan tangan dan kaki dengan tulang yang masih nampak mencuat nampak di sana-sini, dihiasi oleh cairan merah kental dan bau khas darah yang menyengat. Seakan pemandangan itu belum cukup mengerikan, tubuh-tubuh yang remuk dengan organ dalam seperti usus dan paru-paru yang lepas dari kungkungan tulang dan daging tersebar di atas aspal.

Pemandangan sadis itu membuat Naruto mundur satu langkah, sebelum matanya jatuh ke benda yang jatuh teronggok tepat di depan kakinya. Sebuah kepala yang terputus, dengan rahang yang lepas dari engsel, lidah yang robek, dan satu bola mata hanya terhubung oleh urat setelah lepas dari rongganya. Batok kepalanya sudah pecah, membuat isinya yang berwarna abu-abu berhamburan seperti bubur yang ditaburi saus merah. Naruto menutup mulutnya sambil berusaha menahan isi perut yang hampir menyeruak keluar dari kerongkongannya.

Baru saja dia berhasil menelan kembali isi perutnya, Naruto kembali harus berkelit ke belakang ketika sebuah kepala ular mencoba mematuknya. Setelah memperbaiki posisi dan membuat satu tolehan ke kanan dan kiri, Naruto tersadar bahwa dia telah terkepung oleh lima ular raksasa sekaligus, semuanya bergerak memburunya dengan kepala terangkat dan desis menyeramkan yang membuatnya bergidik. Selama hampir sepuluh menit dia harus berkelit, jumpalitan, koprol ke kanan kiri, bahkan berguling-guling demi mempertahankan nyawa sekaligus memberi dirinya waktu untuk membuat sebuah strategi.

Sepanjang ronde yang ia isi dengan terus menghindari serangan itu, Naruto telah jauh berpindah dari posisi semula di tengah kota. Bajunya ikut mendapat nasib malang, robek-robek nampak bertebaran di celana dan jaketnya sedang tepian bawah haori-nya kini sudah setengah rombeng karena serangan-serangan yang hampir-hampir tidak bisa ia hindari. Tapi sebagai gantinya, Naruto telah mengulur cukup waktu untuk membuat strategi yang bisa membuatnya mendapat keunggulan.

Ronde berikutnya ia awali dalam diam. Naruto membuat satu Insou dan dengannya, tiga Kagebunshin muncul. Seakan sudah tahu keinginan sang original, dua dari Kagebunshin itu melakukan Henge menjadi Fuuma Shuriken yang kemudian langsung dilemparkan oleh Naruto dan Kagebunshin yang tersisa. Lima ular yang tadi sudah siap untuk kembali menyerang dipaksa mengubah keputusannya menjadi menghindar ketika kedua Shuriken spesial itu melayang di udara dengan pola terbang melengkung yang membuatnya menjadi seperti bumerang.

Dari dua Fuuma Shuriken, tak ada satupun yang berhasil melakukan apapun kecuali memberi sayatan kecil pada lima ular yang punya cukup kecepatan untuk menghindari luka fatal. Namun, kegagalan itu tak berarti, terbukti dari senyum kecil yang terpasang di bibir Naruto. Dia sudah tahu bahwa musuhnya pasti bisa menghindar, namun luka yang dibuat oleh serangannya telah mengkonfirmasi salah satu asumsi Naruto.

Hebi Kuchiyose (Snake Summon). Tak seperti musuh besarnya, Gama Kuchiyose (Toad Summon), kaum Hebi tak memiliki kecakapan untuk memegang senjata atau melakukan jutsu serta kaki untuk meloncat. Sebagai gantinya, kaum Hebi memiliki racun sangat mematikan yang kabarnya hanya bisa ditandingi oleh Shanshouo Kuchiyose (Salamander Summon), serta kulit atau sisik yang lebih keras dari besi dan mampu melindungi mereka dari senjata atau bahkan jutsu level rendah sampai menengah. Konon, kulit kaum Hebi berkelas elit hanya bisa ditembus oleh jutsu level A ke atas. Bahkan otot di bawah kulit itupun bisa menyaingi kepadatan kayu dari pohon berkualitas tinggi. Tak hanya itu, mereka juga mampu berkelana dalam tanah, berenang dengan kecepatan tinggi, dan tubuh mereka secara alami menganugerahkan mobilitas tinggi serta fleksibilitas yang tak tertandingi di antara semua Kuchiyose yang ada.

Tapi dalam pertarungan ini, seperti yang sudah dibuktikan oleh hasil serangannya yang terakhir, ular-ular yang dipanggil ke kota Nami ini kekurangan satu kualitas vital. Mereka mungkin memiliki level ofensif seperti semua kaum Hebi, namun level defensif mereka yang remeh adalah bukti bahwa mereka hanyalah produk Kuchiyose berderajat rendah.

Dengan informasi itu, strategi yang ada dalam kepala Naruto mendapat lampu hijau. Kagebunshin yang tersisa menerima perintah lain dan mulai berlari ke arah barat alih-alih membantu tuannya. Naruto sendiri tak menunggu sampai kelima ular yang sudah marah karena terluka itu untuk mendapat kesempatan pertama.

Ninja berambut pirang itu mencapai dinding sebuah bangunan apartemen dengan dua loncatan panjang, dan mulai berlari di dinding itu dengan segala kecepatan yang ia bisa. Tiga detik yang ia perlukan untuk mencapai puncak apartemen setinggi sepuluh meter itu sudah cukup baginya untuk sekaligus membakar chakra dan membuat empat Kagebunshin tepat ketika kakinya menginjak atap.

Naruto, bersama keempat Kagebunshin-nya, berbalik dan langsung melompat menuju ke ular yang sudah mulai memburu mereka dengan moncong menganga dan taring yang bergelimang racun, dalam tempo satu detik sebuah bola chakra super padat dengan ukuran lebih besar dari normal terbentuk di tangan kelima sosok identik itu.

"Oodama Rasenrengan!"

Lidah, taring, dan daging berwarna merah muda menghilang, berganti menjadi serpihan-serpihan merah gelap yang memuncratkan darah ketika lima bola energi berkekuatan dahsyat menghantam mereka tanpa ampun. Chakra yang terkondensasi di dalam bola itu meledak dengan suara nyaring, dan kali ini, kepala reptil berbentuk wajik itu hancur tanpa sisa, tubuh-tubuh makhluk melata raksasa yang sudah kehilangan pusat pikiran dan nyawa yang sudah melayang itu roboh ke aspal jalan dengan suara berdebum yang membahana.

Perasaan lega atas kemenangannya berlangsung sangat singkat karena tepat setelah dia mendarat kepalanya sudah diisi oleh ingatan Kagebunshin yang dia kirim untuk melihat situasi tadi. Jika keadaan Naruto tadi sudah tidak baik, maka apa yang menimpa Tsuna dan Negi bisa dideskripsikan dengan singkatan dari barat: FUBAR (Fucked Up Beyond All Recognition). Dari ingatan yang ia terima, dia bisa melihat bahwa kedua adiknya itu berhasil mengalahkan masing-masing satu ular. Akan tetapi, sebagai ganti kemenangan yang mereka raih, penyihir kecil dan calon bos mafia itu sudah benar-benar kehabisan tenaga.

Di ingatan itu, dia juga melihat puluhan sosok yang muncul dari segala sisi.

Semuanya menuju ke arah Tsuna dan Negi.

~•~

Bagi kebanyakan orang, perasaan marah adalah sesuatu yang lumrah dan sudah biasa dialami di kehidupan sehari-hari. Tapi Naruto berbeda. Memang kala kecil dia punya sifat emosional bahkan cenderung temperamental, namun setelah usianya mencapai lima belas tahun, rasa marah menjadi sesuatu yang spesial bagi seorang Naruto. Tentu saja, banyak orang yang tidak akan percaya pada fakta yang satu ini, namun mereka hanya tidak tahu, apa yang mereka kenal sebagai kemarahan, bagi Naruto itu hanyalah rasa kesal atau sebal.

Jangan tertipu kalau dia melotot dengan muka merah, atau dahinya berkerut dan giginya gemeretak, karena itu sama sekali bukan pertanda bahwa dia marah. Sebagai buktinya, keadaan itu pasti akan berakhir dengan segera, dan sikap Naruto akan kembali normal dalam waktu singkat.

Dengan kata lain, bagi Naruto, kemarahan bukanlah sesuatu yang sering ia alami. Dia tidak akan marah walaupun musuh berhasil melukainya dengan parah. Dia tidak akan marah kalau hanya dihujani hinaan bertubi-tubi yang pedas di telinga dan menusuk di hati. Tidak, Naruto tak akan marah kalau hanya dihadapkan dengan permasalahan sepele semacam itu. Ero-sennin telah menjelaskan dengan empasis yang sangat kuat bahwa dalam sebuah kehidupan seorang shinobi, di mana kepala yang dingin dan pikiran jernih bisa menjadi penentu hidup atau mati, kemarahan adalah sesuatu yang harus ia hindari sebisa mungkin.

Tapi pada saat ini, Naruto seakan lupa dengan pelajaran itu. Tapi siapa yang bisa menyalahkannya? Di dunia ini, di mana ada kakak yang tidak akan marah setelah melihat adiknya terluka?

Negi tersandar ke sisi sebuah bangunan, jaket hoodie yang ia pakai robek parah di sisi kanan. Matanya yang tertutup dan tubuhnya yang tidak bergerak walaupun berada di hadapan bahaya mengungkapkan bahwa anak itu telah hilang kesadaran, dan alasan untuk itu bisa terlihat jelas dengan melirik kepalanya yang mengalirkan darah segar.

Jika keadaan Negi sudah memprihatinkan, maka kondisi Tsuna patut diberi label [Hancur Berantakan]. Di samping belasan luka sayatan memanjang yang membungkus hampir sekujur tubuhnya, sebuah objek runcing dengan diameter beberapa inci dan panjang puluhan senti nampak mencuat dari pundak kanannya. Napas remaja itu nampak terlalu berat, dan melihat darah yang membasahi dagu Tsuna, sebagian sudah mulai mengering sedangkan sebagian masih segar, dia pasti sudah muntah darah beberapa kali.

Setelah terpisah hanya dalam tempo tak lebih dari lima belas menit, kedua adiknya sudah menderita luka yang sebegitu parah. Itu adalah sebuah bukti bahwa lawannya yang kali ini sama sekali tak bisa dibandingkan dengan bandit-bandit yang ia hadapi sebelumnya.

Tapi Naruto tak peduli.

Yang ada di kepala pemuda itu saat ini adalah fakta bahwa adiknya terluka. [Dilukai]. Dan itu membuatnya marah.

Dia mendarat tepat di tengah-tengah kerumunan orang yang mengepung Tsuna dan Negi, kakinya menginjak kepala dua musuh dengan sebegitu kuat sampai kepala mereka mencium, menembus, sampai terbenam seluruhnya di aspal jalan.

Dalam satu tarikan napas, sepuluh Kagebunshin muncul di sekeliling Naruto. Seperti biasa, tanpa perlu perintah langsung dari tuannya, sepuluh Kagebunshin itu berkelebat dan mulai membuat kekacauan.

Naruto yang asli sendiri kini memegang dua Hiraishin Kunai, satu ia lemparkan ke depan Tsuna dan Negi sedangkan satunya lagi ia lesatkan jauh ke jalan yang tidak dipenuhi oleh sosok musuh. Dua kilatan sinar keemasan kemudian, Naruto telah berhasil mengamankan kedua adiknya dari bahaya lebih lanjut. Di belakangnya, keributan terus berlangsung selagi sepuluh anak buahnya mengalihkan perhatian musuh dari sang tuan dengan mengamuk seperti orang-orang yang kehilangan akal sehat.

Pengamatan singkat pada Negi memberitahu Naruto bahwa ketakutannya yang pertama tidak berdasar. Anak itu cuma pingsan karena kelelahan ekstrim yang bisa dengan mudah dipulihkan hanya dengan istirahat. Luka di kepalanya tidak parah, cukup untuk mengeluarkan darah namun tak ada kerusakan sedikitpun pada tengkoraknya.

Ketika mata Naruto jatuh pada Tsuna, dia langsung tahu bahwa adiknya itu perlu pertolongan segera. Tak hanya luka-luka yang pasti sudah mengurangi suplai darah di tubuhnya secara drastis, objek runcing yang menembus pundaknya pun tak bisa diabaikan begitu saja karena bisa rasa sakitnya membuat remaja itu shock.

Naruto mengambil sebuah kunai lalu menyodorkannya ke depan wajah Tsuna. "Gigit gagangnya kuat-kuat."

Naruto segera menggenggam duri besar di pundak Tsuna, sebisa mungkin tanpa gerakan ekstra agar tidak menciptakan rasa sakit yang tak perlu. "Dalam hitungan ketiga, oke? Satu..."

Tanpa menyelesaikan hitungannya, Naruto menarik objek itu sekuat tenaga sampai lepas seluruhnya, membuat gigitan Tsuna yang tidak siap seluruhnya pada kunai di mulutnya terlepas dan mengeluarkan jeritan tertahan.

Tanpa menghiraukan Tsuna yang mulai protes sambil mencengkeram pundaknya, Naruto merogoh kantongnya sekali lagi dan mengeluarkan sebiji Zouketsugan (Blood Increasing Pill). "Cepat telan sebelum kau kehabisan darah."

Naruto tidak menunggu sampai Tsuna melaksanakan perintahnya, ia mengeluarkan gulungan perban dari kantungnya dan mulai membalut luka di pundak itu untuk menghentikan pendarahan lanjut. Setelah pekerjaannya selesai, Naruto merogoh kantongnya untuk terakhir kali dan mengeluarkan dua pil dengan ukuran dan warna yang berbeda.

"P-pil apa lagi ini...?" tanya Tsuna dengan suara lemah karena tenaga yang sudah hampir tidak ada. Ia kenal pil yang lebih kecil sebagai Hyorogan yang sudah Naruto perlihatkan sebelumnya, tapi pil yang lebih besar sama sekali tidak ia kenali.

"Pil khusus dari klan Nara untuk mempercepat regenerasi alami tubuh sampai beberapa kali lipat." Naruto menyahut singkat. "Cepat telan sebelum kau mati karena lukamu itu."

Tsuna terlihat gundah sambil melirik ke arah Negi. Naruto segera mengerti apa maksud lirikan itu.

"Tenang saja, luka Negi tidak separah itu. Dia cuma pingsan karena kebanyakan memakai sihir. Dia hanya perlu istirahat. Kalau kau, lain lagi soalnya."

"Tapi..."

"Sawada Tsunayoshi, kalau kau mendebat sekali lagi, aku sendiri yang akan membuka mulutmu dan memasukkan pil itu ke kerongkonganmu! Dengan paksa kalau perlu!"

Ancaman yang sama sekali tidak disembunyikan itu langsung membuat Tsuna ciut dan patuh.

Menelan Hyorogan adalah urusan mudah karena ukuran pil itu relatif kecil, tapi meminum pil satunya membuat mata Tsuna berair karena tidak terbiasa menelan sesuatu yang sebegitu besar tanpa mengunyah lebih dulu, Tsuna mengalihkan perhatiannya sekali lagi pada Naruto. "Jadi, apa rencana kita sekarang?"

Pada poin ini, biasanya Naruto akan langsung mencubit dagunya atau mengerutkan dahinya untuk mulai konsentrasi. Tsuna tahu ini karena dia sudah sering melihatnya. Akan tetapi, saat ini, ekspresi datar yang terpasang di wajah kakaknya itu membuat Tsuna curiga bahwa dia sudah lama membuat keputusan.

Kecurigaan Tsuna berubah menjadi rasa cemas ketika dua Kagebunshin tiba-tiba terbentuk di samping Naruto.

"Naruto-san...?"

Wajah Naruto masih nampak kalem, namun napas yang ia hembuskan seakan-akan terisi rasa sesal mendalam. "Saat ini, mundur bukan pilihan karena kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan kalau dibiarkan begitu saja. Tapi kalian tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk melanjutkan pertarungan."

Dengan kalimat itu, Tsuna tersadar. Mengapa Naruto membuat dua Kagebunshin itu... dan mengapa dia memakai kata 'Kalian' dan bukannya 'Kita' dalam kalimatnya.

"Tidak..." bisik Tsuna lemah ketika ia melihat salah satu Kagebunshin itu mendekati Negi dan menggendong anak yang tidak sadarkan diri itu. "Naruto-san, kau harus ikut!"

"Tsuna..."

"KAU HARUS IKUT!" teriak Tsuna saat melihat kembaran Naruto yang kedua mulai mendekatinya. Dia sebenarnya berniat untuk protes lagi ketika tenaganya tiba-tiba menghilang seluruhnya dan matanya mulai terasa berat. "A-apa yang...?"

Naruto tersenyum masam. Kegunaan dari pil klan Nara yang ia berikan pada Tsuna memang sangat hebat karena pil ini bisa mempercepat empat babak dalam penyembuhan luka (hemostasis, inflammation, proliferative, dan remodeling/maturation). Akan tetapi, semua proses ini tidak semuanya didukung oleh pil tersebut, karena energi yang diperlukan supaya regenerasi tubuh bisa dimultiplikasi seperti itu, berarti semua nutrisi dalam tubuh, apakah itu berasal dari kalori karbohidrat, protein, atau bahkan lemak, akan disalurkan seluruhnya ke proses pembelahan sel dan segala macam proses biokimia yang berlangsung. Ini berarti kurangnya penyaluran nutrisi dan oksigen ke otak yang berakibat pada hilangnya kesadaran selama setidaknya satu sampai lebih dari tiga jam tergantung parahnya luka serta efek samping malnutrisi berat sehingga resep pil ini biasanya mengharuskan peminumnya juga menelan pil nutrisi atau setidaknya makan sebanyak mungkin setelah mereka sadar.

Karena itulah, mengingat buruknya keadaan tubuh Tsuna yang tidak hanya menderita luka berat tapi juga kelelahan ekstrim, bukan hal yang aneh kalau dia akan langsung pingsan dalam hitungan satu atau dua menit setelah menelan pil itu.

Kembaran Naruto menangkap Tsuna yang oleng lalu menggendongnya. Akan tetapi, walaupun otaknya sudah hampir kehilangan kontrol dan semua energi di tubuhnya mulai beralih ke proses penyembuhan luka, Tsuna tetap memaksa tangannya untuk bergerak dan memegang lengan haori Naruto.

"N-Naruto-san..." Tsuna berucap dengan susah payah. Bahkan menggerakkan mulut dan lidahnya pun hampir terasa seberat mengangkat sebuah brankas besi. "...Ikut. Harus... ikut..."

Sebuah senyum menyesal terpasang di wajah Naruto ketika ia meraih tangan Tsuna itu dan meremasnya singkat. "Aku minta maaf..." dia berucap lirih. "...Aku benar-benar minta maaf."

Hal terakhir yang Tsuna lihat sebelum pandangannya berubah gelap total adalah punggung Naruto ketika ia berbalik ke arah musuhnya.

(Kalau Anda sudah mendonlot lagu Indestructible seperti yang sudah hamba sarankan di awal, sekarang Anda bisa mulai mainkan lagunya)

Dua Kagebunshin yang menggendong Tsuna dan Negi melompat pergi dari area itu tanpa sedikitpun menoleh ke belakang, meninggalkan tuan mereka yang kini berdiri sendirian menghadapi satu pasukan yang sama sekali berbeda levelnya dengan rombongan bandit yang ia lawan sebelumnya.

Sekarang, setelah amarahnya sedikit berkurang, serta dengan Tsuna dan Negi yang sudah terjamin keselamatannya, Naruto bisa memperhatikan musuhnya dengan lebih baik. Kelompok yang tadi ia beri label [Orang] kini harus ia ubah menjadi [Monster]. Figur mereka secara umum memang mirip manusia, namun bentuk luar yang sama sekali tidak manusiawi serta kulit yang sewarna pepagan adalah bukti jelas bahwa semua orang yang berdiri sekitar seratus meter di depannya adalah subjek ekspresimen Juinjutsu (Cursed Seal) yang sudah beberapa kali ia lihat pada anak buah Orochimaru. Parahnya lagi, mereka sudah dalam keadaan Joutai Ni (State 2) yang berarti kemanusiaan mereka sudah hampir hilang seluruhnya dan hanya menyisakan sifat haus darah yang ada pada hewan buas. Satu fakta lain yang semakin memperburuk keadaan adalah keberadaan tiga ular raksasa yang merupakan sisa dari konfrontasi pertama.

Tidak lama setelah kepergian dua Kagebunshin-nya, pengalih perhatian yang tadi ia tanamkan di tengah-tengah para pemilik Juinjutsu itu akhirnya menghilang, dan hanya dalam beberapa detik, perhatian hampir tiga ratus makhluk tidak manusiawi itu langsung terarah pada Naruto seperti predator yang menemukan mangsa baru.

Seakan sudah ditentukan oleh takdir, penglihatan Naruto jatuh pada salah satu orang yang berdiri paling depan. Seluruh tangan kanannya dipenuhi oleh objek runcing menyerupai duri, di mana beberapa duri itu nampak basah oleh darah.

Karena tak ada satupun orang itu yang terluka, Naruto bisa dengan mudah menebak dari mana asalnya darah itu. Kemarahannya kembali menyala dengan kekuatan penuh.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, ekspresi [Marah] Naruto adalah sesuatu yang sangat jarang terlihat. Jika dia senang, bibirnya akan melengkung ke atas, dan biasanya, udara di sekitar Naruto akan berubah hangat dan cerah. Jika dia kesal, bibirnya akan melengkung ke bawah atau dahinya berkerut, dibumbui dengan sedikit aura intimidasi (atau banyak, tergantung derajat kekesalannya) yang membuat orang merasa segan.

Tapi jika dia sampai [Marah], bibirnya menjadi garis horizontal lurus. Dahinya tidak berkerut, namun semua ekspresi akan lenyap dari wajahnya dan matanya akan kehilangan semua sinar, biru langit yang teduh dan hangat berubah menjadi biru yang keras dan beku. Udara akan diam bagaikan ketakutan, tak ada angin yang berani berhembus dibawah tekanan amarahnya.

Bagi semua orang yang harus berhadapan dengannya dalam keadaan ini, rasa aman terasa lenyap seluruhnya. Udara seakan berubah menjadi ribuan mata yang mengawasi mereka dari segala sisi, membuat mereka merasa terperangkap tanpa ada jalan untuk kabur, laksana binatang dalam kungkungan jeruji besi.

Bahkan ketiga ular raksasa yang ada di situ pun tahu bahwa satu pemuda yang berdiri di depan telah kehilangan label [Mangsa]. Insting hewani yang ada pada diri mereka pun mengingatkan bahwa udara yang berhenti mengalir ini bukanlah fenomena natural tapi sebuah abnormalitas yang disebabkan oleh sang pemuda.

Naruto mengambil satu langkah.

Udara yang semula hening seakan ketakutan kembali berhembus, akan tetapi kali ini, alih-alih perasaan laksana diawasi oleh ribuan mata, mereka merasakan sensasi dikepung oleh ratusan hewan buas ketika dengungan angin yang abnormal menghampiri gendang telinga.

Dari sang pemuda yang berjalan maju, tak ada satu kata yang terucap.

Hanya hening yang mematikan, dan sebuah sumpah sunyi.

Mereka telah berani melukai orang yang berharga baginya. Dan sekarang, mereka akan membayar.

Dia takkan berhenti sebelum napas mereka yang terakhir meninggalkan tubuh. Itu adalah sebuah [Janji].

Dan seorang Namikaze tak pernah mengingkari [Janji].

~•~

Berbeda dengan ketika ia masih kecil, kemarahan Naruto saat ia sudah remaja ini bukanlah kemarahan yang membuat seseorang buta dan mengamuk begitu saja, namun kemarahan yang membuat pemilik perasaan itu berubah menjadi sebuah mesin yang diciptakan hanya untuk satu tujuan: menghancurkan siapapun yang sudah menyebabkan kemunculan kemarahan itu sampai berkeping-keping.

Mata Naruto menyipit sedikit sementara otaknya membuat analisis dengan kecepatan yang tidak bisa dimiliki orang normal.

Benaknya yang saat ini sudah terisi sepenuhnya oleh nafsu membunuh yang dingin hanya perlu waktu tak sampai setengah menit sebelum memutuskan sebuah strategi.

Lima Insou terbentuk oleh tangannya sebelum Naruto meraih kunai spesialnya dan melemparkannya ke depan dengan sudut elevasi yang tinggi.

"Kunai Kagebunshin no Jutsu."

Jutsu yang berasimilasi dengan objek sasaran membuat Hiraishin Kunai yang dilemparkan Naruto bertambah jumlah dari satu menjadi ratusan dan mulai jatuh seperti hujan senjata tajam. Sayangnya, fakta bahwa kulit semua musuhnya beberapa kali lebih kuat dan tebal dari kulit makhluk hidup pada umumnya membuat serangan ini nampak sepele karena tak mampu menciptakan luka yang signifikan. Bahkan sebagian besar tak menemui sasaran dan hanya jatuh menancap tanah.

Hampir semua musuh yang sudah takut ketika mengantisipasi tindakan pertama Naruto menyeringai setelah serangan yang mereka anggap gagal ini berakhir tanpa ada satupun korban yang jatuh.

Mereka tidak tahu kalau kunai spesial itu memiliki fungsi kedua selain sebagai senjata proyektil.

Tidak sampai sepersekian detik, sebuah kilatan sinar keemasan muncul di sudut pandangan mereka semua dan tiba-tiba saja dua pemakai Juinjutsu sudah terkapar di aspal, tenggorokan mereka menganga karena luka gorokan yang terbuka.

Tak ada yang sempat bereaksi ketika sebuah sinar keemasan itu kembali terlihat. Kali ini, lima orang yang bergerombol terlalu dekat harus menemui akhir kehidupan mereka setelah dihantam oleh sebuah bola energi berdaya rusak sangat tinggi yang menghantam kepala dan menghamburkan isi batok tengkorak mereka dalam campuran putih serpihan tulang, merah cairan darah, dan abu-abu substansi otak.

Tak ada satupun yang menyadari bahwa mereka sedang menjadi objek dari strategi perang yang membuat Yondaime Hokage menjadi legenda dalam Perang Dunia Shinobi III. Mereka tak sadar bahwa pada detik ini sebuah peristiwa sejarah sedang terulang kembali.

[Iwa no Gyakusatsu], atau juga dikenal sebagai [Iwa's Massacre].

Walaupun nampak seperti reka ulang, namun peristiwa yang terjadi di kota Nami ini memiliki perbedaan yang signifikan dengan pendahulunya. Pertama, jumlah musuh memang kurang lebih sama, namun shinobi-shinobi Iwa yang menjadi korban Iwa no Gyakusatsu adalah shinobi level rendahan karena kebijakan Iwa yang mementingkan kuantitas dibandingkan kualitas. Sedangkan yang dihadapi Naruto adalah monster-monster yang menyalahi aturan alam dengan kekuatan ofensif dan defensif yang masing-masing bisa menyetarai sepuluh shinobi berkaliber Chuunin.

Perbedaan kedua adalah, dalam Iwa no Gyakusatsu, Yondaime sedang berada dalam kondisi yang relatif baik... hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk Naruto. Dia telah bertempur selama setidaknya empat jam, mulai dari melawan Zabuza, mengevakuasi penduduk Nami, melumpuhkan seribu rombongan bandit bayaran Gato sampai menghabisi lima ular raksasa yang menyudutkannya. Seperti apapun stamina yang dimiliki Naruto, sisa chakra yang ia miliki pasti sudah berkurang banyak. Bahkan, pada kenyataannya, chakra yang bisa ia bakar sekarang hampir-hampir tidak mencapai angka 30%.

Akan tetapi, walau dengan semua kerugian yang ia miliki dan keuntungan yang ada di pihak musuh, Naruto tidak peduli. Lebih tepatnya, dia tak punya keharusan untuk peduli. Semua ini adalah karena keuntungan yang ia miliki jauh mengalahkan kerugiannya dalam margin yang sangat besar.

Jika kita bisa melihat ke dalam perasaan musuh-musuhnya, maka kita juga pasti akan membuat kesimpulan yang sama.

Setelah para pengguna Juinjutsu itu menyaksikan tujuh nyawa yang pupus hanya dalam durasi lima detik setelah Naruto menyerbu, sebuah kesadaran tercipta dalam lubuk hati mereka.

Pertarungan ini bukanlah pertarungan di mana mereka bisa selamat. Mereka tak bisa melawan. Mereka tak bisa kabur. Tubuh mereka terasa lemas dan pikiran mereka terasa jauh seakan-akan mereka hanya menjadi penonton, terpisah dari kenyataan bahwa merekalah yang sedang mengalami peristiwa ini.

Kenyataannya, pikiran itu tak jauh dari kebenaran.

Mereka tidak tahu bahwa dengungan yang mereka rasakan semenjak Naruto melangkahkan kakinya adalah penyebab fenomena ini. Tanpa punya cara untuk mengetahui apa yang sebenarnya shinobi itu lakukan, mereka tak tahu bahwa dengungan itu adalah gelombang suara ultrasonik yang menyerang dan mengakibatkan disorientasi hebat. Efeknya tak hanya menyerang gendang telinga dan mengakibatkan hilangnya fokus dan konsentrasi, gelombang sonik itu juga mengakibatkan getaran pada bola mata dan menyebabkan kaburnya pandangan.

Ada sebuah penelitian militer yang mencoba mengubah bunyi ultrasonik menjadi sebuah senjata. Hasil penelitian ini membuktikan beberapa efek yang terjadi ketika seseorang diekspos pada gelombang ultrasonik dengan frekuensi tertentu. Efek yang disebutkan termasuk kelainan atau distorsi pada fungsi pendengaran, sensitivitas vibrotactile, kontraksi otot, fungsi cardiovascular, sistem saraf utama, vestibular, serta otot polos dan otot jantung di organ dalam seperti paru-paru dan jantung.

Tentu saja, semua efek yang disebutkan di atas hanya efek samping, karena pada hakikinya hanya ada satu efek yang benar-benar dieksploitasi oleh apapun yang dilakukan Naruto. Apa yang sebenarnya terjadi pada para pengguna Juinjutsu itu, adalah gangguan fungsi saraf. Gangguan ini tidak berefek pada fungsi input tapi hanya pada fungsi output, menciptakan hambatan atau distorsi pada fungsi saraf yang bertugas mengirimkan perintah dari otak ke seluruh tubuh. Hal ini menyebabkan penurunan drastis pada kemampuan bereaksi atau bahkan untuk membuat tindakan.

Dengan kata lain, semenjak Naruto melangkahkan kakinya dan mulai menyerang, semua musuhnya telah berada dalam belas kasihannya. Mereka bisa melihat, mendengar, dan merasakan apa yang terjadi. Mereka tahu bahwa mereka sedang diserang, mereka tahu bahwa mereka akan dibunuh, namun tubuh mereka tak punya kapasitas untuk memberi respon atau reaksi.

Lebih sederhananya lagi, mereka tak mampu melawan.

Sebuah efek yang, normalnya, jika dilihat dari pandangan objektif seorang shinobi, berasal dari sebuah Genjutsu. Tapi dugaan itu masih salah, karena pada dasarnya Genjutsu adalah manipulasi alam pikiran dan mental sebagai efek mengkontaminasi sirkulasi chakra korban. Efek Genjutsu tak bisa mempengaruhi fisik korban.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Kalau bukan Genjutsu, apa lagi yang bisa menyebabkan hal ini?

Peristiwa ini, tentu saja, bukanlah sebuah fenomena alam atau kejadian mistik. Peristiwa ini seluruhnya disebabkan oleh tindakan sengaja. Sebuah teknik yang diciptakan oleh sang shinobi muda.

Teknik konseptual yang selama berabad-abad hanya menjadi buah spekulasi dan asumsi tanpa ada seorangpun yang bisa membuatnya menjadi kenyataan. Teknik yang bisa merenggut paksa kemampuan bertarung seseorang selama korban itu adalah seorang makhluk hidup yang perlu napas untuk hidup dan harus membuat kontak dengan udara.

[Fuuton: Akuma no Sakebi]. (Wind Release: Devil's Cry)

Di bawah lingkup atmosfer bumi, selain sang pengguna, hanya ada satu orang lain yang mengetahui bahwa jutsu ini telah diciptakan. Orang itu adalah Jiraiya.

Hanya untuk penciptaan teknik ini, dan apa yang disiratkan olehnya, sang guru memberi satu gelar lain pada muridnya. Gelar yang sampai saat ini hanya diketahui oleh mereka berdua.

[Fuujin].

Sang Dewa Angin. Karena hanya orang yang bisa menundukkan angin lah yang pantas memiliki gelar ini.

~•~

Semenjak Naruto melangkah melewati pintu rumah Tazuna dalam balutan haori merah tuanya, jam masih menunjukkan pukul satu siang. Saat ini, tak kurang dari lima jam telah berlalu.

Satu jam pertama diisi dengan perjalanan ke jembatan, konfrontasi dengan Zabuza dan Haku, lalu pertarungan yang menyertainya.

Sepuluh menit berikutnya ia habiskan terbang di langit dengan jutsu yang walaupun masih belum sempurna, namun menjadi pilihan terbaik untuk menyingkat durasi yang ia perlukan untuk mencapai kota Nami.

Sekitar dua puluh menit kemudian ia gunakan untuk memanggil lima ratus Kagebunshin dan mengevakuasi ribuan penduduk yang tersebar di seluruh kota dengan bantuan Hiraishin no Jutsu.

Tiga jam lebih ia lalui bertarung bersama Tsuna dan Negi dengan objektif melumpuhkan bandit-bandit bayaran Gato tanpa membunuh seorangpun.

Setelah kemunculan sepuluh Hebi Kuchiyose, tak kurang dari lima belas menit ia butuhkan untuk menghabisi hampir setengah jumlah total makhluk panggilan yang menyudutkannya itu.

Saat ini, matahari telah hampir mencapai puncak umur dan langit yang semula basah oleh merahnya matahari terbenam mulai perlahan-lahan berubah warna menjadi biru kelam.

Di tengah-tengah jalan raya, Naruto berdiri dengan tangan terkulai santai di samping tubuhnya. Tubuhnya yang biasanya tegap nampak sedikit terbungkuk karena kelelahan tak terbayangkan, remaja itu nampaknya mendapat kekuatan untuk berdiri hanya dari tekad saja.

Sekujur tubuhnya tak hanya basah oleh keringat, namun juga darah segar yang tidak hanya berasal dari luka-lukanya sendiri.

Mengelilingi pemuda itu dalam radius hampir seratus meter, adalah tubuh-tubuh yang terkapar tak bergerak dan tak bernyawa dengan gelimang darah yang nampak menyala mengerikan di bawah cahaya matahari terbenam yang kian redup.

Dilihat sekilas, orang akan menyangka mereka semua menderita luka-luka teramat parah. Namun pada kenyataannya, hanya ada satu luka untuk setiap tubuh. Tak ada luka ekstra di tubuh para korban.

Semuanya menderita satu luka fatal yang tak membiarkan sedikitpun kemungkinan untuk selamat dari kematian. Serangan langsung ke otak dengan menghancurkan atau membacok batok tengkorak, urat nadi aorta leher yang digorok, jantung yang tertusuk, paru-paru bocor, sampai urat syaraf utama di tulang punggung yang dipenggal paksa.

Tak ada belas kasihan terlukis di raut wajah sang remaja yang menjadi pusat pembantaian. Baginya, semenjak orang-orang ini melukai adiknya, hasil ini sudah bukanlah sebuah [Kemungkinan], tapi sebuah [Kepastian].

Tak peduli apakah mereka mau melawan sekuat tenaga, atau lari sejauh kaki membawa, Naruto telah merenggut pilihan itu dari genggeman mereka. Sadar atau tidak mereka sendirilah yang memutuskan akhir usia mereka semenjak mereka memutuskan untuk melakukan sesuatu yang membuat Naruto [Marah].

Namun kesalahan tidak seluruhnya jatuh pada para pengguna Juinjutsu itu. seperti yang sudah berulang kali disebutkan, informasi adalah sesuatu yang sangat vital dalam dunia shinobi dan bisa menentukan hidup mati. Pada akhirnya, mereka kehilangan nyawa karena tidak tahu bahwa melukai Tsuna dan Negi adalah pemicu yang tepat untuk kemarahan Naruto. Tidak hanya itu, mereka juga tidak tahu bahwa memicu kemarahan Naruto tidak ada bedanya dengan menyorongkan nyawa mereka dalam pinggan perak.

Dan hal ini bukanlah sesuatu yang aneh atau mengejutkan. Karena pada hakikinya, nilai survival percentage untuk setiap musuh yang pernah memicu kemarahan Naruto adalah 0%.

Dengan kata lain, alasan mengapa seluruh dunia shinobi tidak mengetahui informasi mengenai [Bahaya Amarah Naruto] adalah karena sampai saat ini tak pernah ada yang berhasil selamat.

Orang yang menjadi topik pembicaraan ini sendiri melepaskan hembusan napas panjang sambil merunduk, tangannya mencabut Hiraishin Kunai yang masih terbenam di tengkuk musuh terakhir. Walaupun postur tubuhnya menggambarkan lelah dan letih tak terperi, pada kenyataannya Naruto masih mematuhi hukum shinobi dalam medan perang dan menyimpan setidaknya 5% dari sisa chakranya untuk jaga-jaga. Akan tetapi ini bukan berarti tubuhnya dalam keadaan baik-baik saja, karena hakikinya jika suplai chakra seorang shinobi sudah menurun sampai angka itu, mereka biasanya akan kehilangan kesadaran sampai hampir setengah minggu.

Ketika jarum jam menunjuk pukul enam, matahari benar-benar lenyap seluruhnya di balik cakrawala namun masih menyisakan cahaya. Sistematika listrik kota Nami dengan otomatis mengirimkan sinyal untuk menyalakan semua lampu jalan di penjuru kota.

Entah kenapa, satu peribahasa dari Timur mencuat dalam benak Naruto.

[Setan berkeliaran kala matahari terbenam, sampai hilang cahaya senja].

Naruto bersiap untuk memaksa kakinya berjalan ketika telinganya mendengar suara tepuk tangan.

Namun yang membuat napas Naruto hampir berhenti bukanlah suara itu, namun apa yang muncul dalam pandangannya ketika salah satu lampu jalan itu menyala.

Berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada tiang lampu dengan santai, seorang pria dewasa dengan rambut hitam yang mencapai pinggangnya dan kulit pucat kebiruan. Ungu tua nampak mewarnai sekeliling matanya, dengan iris berwarna keemasan dan belahan pupil yang menyipit vertikal.

Kemarahan yang tadi sudah mulai memadam kembali membara dalam hati Naruto seraya bibirnya mendesiskan satu nama dengan geram.

"...Orochimaru."

To be Continued...

A/N: Oh god oh god oh god... begini nih, sudah jatuh tertimpa tangga tiangnya rubuh pondoknya hancur pula. Ada yang mikir si Naruto terlalu kuat? Lihat sendiri betapa hamba suka bikin dia menderita.

Oh ya, peribahasa di yang ada di bagian akhir itu sebenarnya hamba ambil dari hadist Rasulullah.

Akuma no Sakebi itu mirip dengan judul sebuah lagu, tapi mereka ngambil artian figuratif (mereka ngartiin Akuma no Sakebi jadi Scream of A Nightmare) sedangkan hamba lebih ke artian harfiah. Jadinya, [The Devil's Cry], Jeritan Iblis.

Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.

Thanks a zillion for reading!

Galerians, out.