Tipe huruf yang gue pake Calibri dengan ukuran 14.
Kenapa ga keluar yak?! Ya udahlah… ON THE STORY!
Btw, gue coba update tiap minggu –mulai tahun depan 2010. Wish me Luck, guys! Makasih udah ngereview dan nggak melupakan Shi!
.
Disclaimer:: Tuh, om-om bejat yang bikin gue deg-degan tiap jumat!
Berdasarkan Serial TV 'Princess Hours' dan,
Manga Korea berjudul 'Goong' by Park, So Hee.
.
--------------------------Ai_Shirohime---------------------Presenta------------------------
------------------------------------------Palace_Story-----------------------------------------
.
Round 10. –Palace 3-
.
"Selamat pagi."
Rambut merahnya berterbangan tertiup angin semilir di pagi hari, tinggal di Istana tentu akan membuat kesehatan siapa pun lebih baik. Mata kehijauannya berkilauan di bawah cahaya matahari, yang masih tertidur di balik awan pucat. Senyumannya yang menawan, memikat hati setiap dayang yang ia lewati, dalam hati ia sama sekali tidak memiliki ketertarikan dengan mereka, tidak sedikit pun.
Setelan jas putih dengan dasi kupu-kupu berwarna putih pucat, membaluti tubuhnya dengan sempurna. Kesempurnaan miliknya, hampir mendekati dewa ujar mereka… Hanya perlu sedikit dipoles lagi. Ia berjalan hati-hati di atas lantai, mengagumi guratan-guratan indah di atas kepalanya, membayangkan betapa berat perjuangan orang-orang di masa lampau, memperjuangkan bentuk istana yang sampai sekarang tidak berubah walau sekejab. Saking seriusnya ia sampai tidak memperhatikan sekeliling lagi, BRUK!
"Ah! Gomenasai!"
Hidung mancungnya menabrak sesuatu yang keras dan hangat, sebidang dada kokoh yang dimiliki oleh seseorang yang kini menggapai tangannya. "Gaara-sama?"
Suara orang itu, terdengar nyaman dan halus di dalam telinganya. "Ne-Neji-kun?"
Tentu saja, Istana memiliki sisi itu, Pink dan lembut. Berupa cinta yang mekar semerbak di dalamnya. Merekah dan berusaha keluar dari kungkungan. Menerbangkan sepasang merpati yang tengah jatuh cinta, ke langit biru di atasnya.
"Lama tidak berjumpa, ya?"
.
.
Punggungnya terasa dingin, diterpa angin pagi yang menyusup masuk dari sela-sela kayu pintu geser. Ia sama sekali tidak ingin membuka mata., sebab kelopaknya terasa begitu berat, membius kembali ke alam mimpi. Menarik ke atas tubuhnya lagi, selimut yang tadi sempat melorot, entah ditarik oleh siapa.
"Hoi…"
Suara siapa itu? Gelap, tapi suara itu terdengar begitu mengganggu, bising dan merusak moment.
"Bangun, Dobe…"
Jangan tendang tulang rusukku! Gelap, ia masih tidak mau bangun dan menyambut si pemilik suara, memeluk tubuhnya dan membulat di dalam gumpalan selimut seperti kepompong.
"HOI."
Jari-jari Sasuke membuka kedua kelopak mata Naruto dengan paksa, menyajikan tatapan bosan dan mengantuk dari bola mata biru itu. Sang Pangeran menghela nafas pendek, lalu berdiri dari posisinya yang tadi berjongkok seraya membenarkan untaian rambut hitamnya yang terlihat lembab.
"Sudah bangun?"
Naruto menguap lambat, menggosok-gosok rambut pirangnya yang terlihat seperti kumpulan ijuk di kandang sapi , menjawab sang Pangeran dengan kasar. "Iya… Apa sih, maumu? Mengganggu tidur cantikku?"
Dari sudut matanya, Sasuke medengus pada Naruto. Dalam hati ia terkikik pelan, ternyata setelah mereka melakukan kegiatan malam *wink-wink* Naruto tampaknya lebih berani dan mulai menunjukkan sifat aslinya tanpa filter.
"Yah, aku hanya ingin membangunkanmu… Memberitahukan bahwa hari ini aku ada rapat, jadi kau mainlah sendirian tetapi jangan jauh-jauh, oke?" Kali ini sang Pangeran membenarkan kancing kemejanya yang berwarna biru langit, sementara jasnya masih berada di atas pundak. Si Pirang mengernyit heran, kemana perginya pakaiannya kemarin? Ah, tidak peduli.
Ia memutar posisi, berbaring di atas perut sambil memeluk bantal di antara dada dan lengannya, lalu menatap Sasuke dengan pandangan bosan. "Aku bukan anak kecil, Teme… Kalau mau pergi, ya pergi saja…" ia kembali menguap, kali ini sangat lebar, memperlihatkan lidahnya yang kemerahan dan aliran air liur yang mengering di sisi-sisi bibirnya sampai membuat sang Pangeran menatapnya dengan jijik dan sedikit melenguh.
"Hn. Aku hanya tidak ingin menjadi pria yang ada di film-film…"
"Hah?" Potong Naruto heran, "Apa maksudmu Teme?"
"Ya… Pria yang meninggalkan wanita setelah berhubungan, di pagi hari… Begitu 'kan? Lalu si wanita akan menangis sambil meratapi kepergian sang pria. Yah, aku hanya tidak mau menjadi sosok seperti itu." Kata Sasuke panjang lebar, memakai jasnya dengan elegan sembari mengecek untuk terakhir kali penampilannya sebelum menemui para pejabat penting di rapat nanti. Ia tidak memperhatikan bahwa muka Naruto kini sudah memerah seperti tomat saking malu dan marahnya, yah lebih tepatnya marah yang amat sangat. "A-APA!!?!"
"Pelankan suaramu, Dobe… Apa kau mau seluruh istana terbangun karena suara cemprengmu itu?" Sasuke menempatkan satu jari, menutup lubang telinganya. Sementara Naruto, menunjuk-nunjuk marah ke arahnya, dengan ekspresi campur aduk dan berteriak keras, "Aku tidak peduli!! De-dengar ya! Me-mentang-mentang kau pangeran! B-bukan berarti kau bisa menggodaku terus menerus TEME!!" Seringai kecil, bertengger di muka Sasuke.
"Kau tidak mengeluh semalam, Dobe…" Tangannya yang lebar menyentuh kedua sisi muka Naruto, seperti membingkai dan tidak ingin melepaskannya. Si Pirang hanya dapat menahan kesalnya dalam-dalam, muka memerah, sewaktu ia marah tadi, ternyata Naruto mengambil posisi duduk dan memperlihatkan setengah badannya yang tidak berbusana serta tak tertutup selimut. "Jika kau, ingin menjadi anggota keluarga Istana… Pelajarilah, tata berbusana… Apa kau tidak melihat, para dayang berpakaian begitu rapat?" Tanpa disadari, salah satu lengannya telah digapai Sasuke untuk memasukkan lubang dari kemeja panjang yang teronggok di atas lantai tadinya. "Itu untuk menjaga martabat, serta kesucian para dayang yang melayani Raja…" Setelah kedua lengannya telah berhasil masuk ke dalam kemeja itu, yang tentu jelas terlihat besar dan membuatnya tenggelam, Naruto masih saja tidak mampu berkata apa-apa. Tidak menyadari bahwa segenap kemarahannya, kini berubah menjadi kekaguman, mata birunya tidak dapat lepas dari milik Sasuke yang kehitaman, berkilat di bawah sinar temaram pagi hari.
"Walau aku bukan Raja, tidak bisakah kau menjaga tubuhmu demi aku? Ne, Naru-chan?" Kancing terakhir, berhasil dipasang oleh Sasuke. Menatap hasil pekerjaannya dengan sumringah ia lantas kembali membingkai wajah Naruto dengan kedua tangannya. "Apa?" Si pirang mengerucutkan bibirnya, menutupi perasaan groginya dengan berkata ketus, yang gampang sekali tertangkap oleh antena hati Sasuke. *antena? XD* "Hmp… Jangan terlalu banyak gerak ya, emm… Kau tau 'kan, aku agak kasar semalam *wink* Aku akan kembali lagi setelah makan siang, akan kusuruh Kakashi menemanimu, oke?" Tanpa menunggu jawaban Naruto, Sasuke mulai berdiri dan meninggalkan si pirang yang masih mencerna perkataannya barusan. Menghilang di balik pintu geser, hingga yang terdengar hanyalah suara langkah kakinya menjauh.
1 menit.
5 menit.
-BLUSHING MADLY-
"Tidak bagus untuk jantung…" Ujar si pirang, meremas dada keras, meredam dentuman organ vitalnya dengan wajah yang merah dan terengah-engah.
.
.
Sasuke duduk sambil bertopang dagu, menatap sekelilingnya dengan mata setengah terbuka. Setelah rapat selama 2jam di pagi hari, membahas sesuatu menyangkut negara bersama perdana menteri dan beberapa pejabat lainnya. Kini ia masih harus, duduk manis di hadapan orang tuanya, membahas pernikahan, topik yang membosankan.
"Bagaimana dengan keadaannya, hari ini Sasu-chan?" Tanya ibunya, yang mengenakan hanbok sutera, berajutan benang emas yang duduk di depannya dengan halus. Sedikit jengah mendengar nama panggilannya, ia menjawab dengan nada datar seperti biasanya, "Baik."
Sang ayah masih memegangi beberapa folder dokumen, lalu mengalihkan pandangannya ke Sasuke yang duduk di seberangnya, "Bagaimana dengan pelatihannya?" Suara mereka yang sama-sama datar, membuat Mikoto tertawa di dalam hati, nada suara inilah yang membuatnya jatuh cinta pada Fugaku.
"Baik. Jadi, pernikahannya sudah dapat dipastikan waktunya?" Tukas Sasuke, cepat. Sang Raja sedikit terkejut, tetapi cepat mengembalikan ekspresinya ke sedia kala. "Kau tampak begitu tertarik, Sasuke. Tidak seperti kau, sewaktu mengetahui perjodohanmu." Pancing Sang Raja, menatap langsung ke mata hitam serupa, milik Sang Pangeran dengan pandangan bosan. Sementara sang Ratu, tidak mampu berkata apapun kecuali berdehem pelan seraya meraih cangkir teh dan berpura-pura tidak melihat pertarungan glare antara ayah-anak itu. "Hanya bertanya." Sahut Sasuke pendek, tidak mau memulai pertengkaran dengan ayahnya, mengambil langkah pasti. Kenapa harus memancing Singa tidur untuk bangun, pikir Si Serigala. "Hmm…"
-Dasar tua bangka… Apa kau begitu suka menyengsarakan aku begini? Hah!? Katakaaaaannn… Katakan!
Sasuke berteriak-teriak dalam hati, mengertakkan giginya pelan di dalam mulut, meredam kemarahan yang memanas. Masih bertopang dagu, tak melepaskan pandangan dari sang ayah. Sungguh menyenangkan menyaksikkan konfrontasi antara ayah-anak itu, salah satu hal lucu yang jarang sekali ia dapat. "Setelah ia menyelesaikan pelatihannya, lalu akan diadakan…"
"Hmm…" Sang Uchiha muda, menggigiti ujung kukunya dengan mengernyitkan kedua alis yang bertengger anggun di dahi pucatnya menandakan dirinya tengah berpikir keras. "Spesifikasi waktunya?"
Pertanyaan Sasuke, rupanya mengejutkan kedua orang tuanya. Terlebih lagi sang Ayah, "Kenapa kau ingin tahu? Apakah… Kau ingin mengacaukan pernikahan ini? Jika kau memang tidak suka…" Lalu Sasuke dengan cepat memotongnya, "Yang Mulia! Aku tidak berencana seperti itu, aku hanya ingin tahu! Mungkin dengan memberitahukan waktunya pada si Do- Naruto, ia dapat bersiap-siap!" Oke, nada suara Sasuke memang sedikit meninggi. Ehem! Mukanya pun menunjukkan amarah yang mengalun, auranya yang keunguan memberikan kesan menyeramkan terlebih lagi saat bertemu aura keemasan milik sang ayah. "Sungguh mengejutkan… Kau menunjukkan emosimu, Sasuke… Kenapa? Apa kau mulai menyukai anak itu?"
Menghindari tatapan Raja yang lebih tajam dari miliknya, Sasuke hanya dapat mengejangkan rahangnya sambil menghirup habis Black tea dalam cangkir, tadinya hanya ditatap sebelah mata. "Masih banyak yang harus saya kerjakan, saya mohon diri." Sopan sekali 'kan? Ini salah satu tanda saat Sasuke sudah tidak dapat menahan lagi kemarahannya. Mikoto tersenyum di balik lengan hanbok, menatap sang Raja yang hanya menghela nafas tak percaya dari ujung mata hitamnya.
"Seandainya dia masih di sini…" Keluh sang Raja, memikit-mijit dahinya, yang terasa sakit akibat mengernyit terlalu lama.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.Annnddd!!
Haaaaapppyyy New Year! XD
Hehe~ Gue akan coba lebih berusaha dalam mengupdate~ Tapi!
Semesteran udah deket! Liburan juga udah deket! Akan dipastikan gue mau keluar kota! Tapi tenang!
Update tetep jalan! 2minggu sekali oke?
