"New Life And New War"
Disclaimer : Naruto dan Hight School DXD, Bukan punya saya tapi
: Masashi Kishimoto
: Ichiei Ishibumiuncak.
Warning: AU,gaje,abal,typo,dan alur nyeleneh. Melenceng dari canon,ooc,oc,U/N,AN dll.
Summary: Naruto yang telah menyegel chakra Madara,Obito dan Juubi di dalam tubuhnya. Akhirnya mencapai pada ambang batasnya,bukanya mati tapi ia malah terkirim ke dimensi lain dengan kondisi yang berbeda jauh,;
"GLORIA"
Chapter 11 : Misi : Misteri kesakitan Kyuubi
: Isi hati Asia!
-0-0-0-0-0-0-0-0-
Tenku, adalah salah satu youkai dominan yang dalam kurun waktu lebih dari tujuh ratus tahun tak pernah mengalami kekalahan dalam hal kompetisi, baik dalam pertempuran atau separing dengan sesama Youkai, iblis, manusia ataupun malaikat. Lawan yang selama ini ia hadapi pun tak main-main, mulai dari kelas rendah, menengah dan kelas atas selalu dapat ia tumbangkan.
Selain kekuatanya yang tak bisa di pandang sebelah mata, sosok Tenku juga memiliki sifat persaigan ketat dan intelejensi tinggi dalam bidang politik.
Atas dasar itulah Tenku sampai saat ini menyandang gelar sebagai Youkai level SS, sedikit berada di bawah tingkat kekuatan milik pemimpin para Youkai, sang Kyuubi No Youkai, sosok siluman rubah ekor sembilan.
Atas segala prestasi dan pengabdianya , para tetua Youkai tanpa ragu sepakat memilih mahluk menyerupai manusia gagak itu menjadi wakil dari Kyuubi. Berharap supaya Tenku bisa membatu sang pemimpin yang memang masih sangat muda untuk membangkitkan kejayaan kaum mereka yang sudah mulai kekurangan dominasi atas dunia supranatural akibat mulai menjamurnya para Iblis, Malaikat dan Malaikat jatuh di dunia manusia.
-0-0-0-
Entah untuk keberapa kalinya Sona, Rias beserta budak mereka masing-masing harus menahan mulut mereka untuk sekedar burucap'wooow' ataupun ' keren' setelah melihat pertarungan adu jotos antara Naruto dan Tenku dari awal hingga saat ini. Kedua kelompok iblis sama sekali tak menyangka bila mahluk dominan sekelas Tenku bisa di imbangi oleh iblis sekelas Naruto yang kekuatanya hanya dihargai satu biji bidak pion.
Dari awal jalanya laga tak bisa di pungkiri bahwa Tenku nampak seperti main-main dengan Naruto, terbukti dengan gerakan-gerakan simpel yang ia lakukan dalam menyerang maupun bertahan, terlihat sekali bahwa level keduanya sangat jauh berbeda.
Meniliki fakta tersebut, sudah cukup membuat beberapa kaum iblis yang menyaksikan pertarungan keduanya berangapan bahwa remaja pirang yang merupakan budak Sona Sitri tak akan mungkin bertahan cukup lama untuk meneruskan pertarungan yang berat sebelah antara sang iblis baru dengan Youkai kelas SS.
10 menit.
Hanya dalam kurun waktu singkat sepuluh menit, segala macam pikiran dan dugaan yang sedari awal nangkring di otak pengamat mulai berubah total. Di awali dengan ledakan asap lalu pengandaan diri, serta pancaran mata kuning Tenku yang mulai menampakan keseriusan menandakan bahwa pertarungan mereka bukan lagi sekedar saling menjajal kemampuan namun telah memasuki tahap serius, dimana masing-masing pihak mulai memasuki level yang lebih tinggi, lebih berbahaya dan lebih menegangkan.
Dari balik lensa, fiolet milik Sona tak henti-hentinya bercahaya akibat dampak terlalu fokus mengamati setiap gerakan-gerakan dua mahluk berbeda ras yang kini tegah bergulat dalam sebuah irama pertarungan. Pekikan kecil kadang keluar dari mulut adik Maou Leviathan ketika menyaksikan serangan Tenku nyaris mengenai budaknya.
" Itu?"
Dengan secepat yang ia bisa, Rias mengalihkan pandanganya kesamping, menghadap langsung Quin-nya begitu mendengar wanita yang kini tengah menyampingi tubuhnya bergumam." Ada apa Akeno?"
Akeno menoleh dan tersenyum, tanganya terangkat dan menunjuk kearah Naruto, dimana remaja pirang tersebut tengah mencengkram sebuah bola berwarna hijau muda yang mengeluarkan suara berdengung lirih ditangan kananya." Bola yang waktu itu!"
"Ah." pandangan Rias mengikuti arah yang ditujukan oleh jari telunjuk Akeno. Hanya sesaat melihat dan mengalihkan kembali tatapanya kearah sang Quin." Bola itu, sama seperti yang di keluarkanya ketika melawan Kokabiel."
Akeno menganguk lalu kembali mengalihkan pandanganya kemedan laga." Aku ingin melihat dampaknya kalausampai terkena tubuh mahluk hidup."
Alis Rias terangkat heran. Bukanya Akeno sudah melihat bagaimana dampaknya pada Kokabiel, kenapa ia masih penasaran?." Bukanya kau sudah melihatnya pada Kokabiel?"
Sekilas, Akeno menoleh kearah Rias sebelum kemudian mengeleng." Saat itu bukanya bola milik Naruto-kun terkontaminasi Power of Destruktion mu Rias?".
Meski sadar Akeno tak melihatnya Rias menganguk. Gadis pemilik surai merah dara itu baru ngeh kalau waktu itu bukan hanya kekuatan milik Naruto saja yang mengalahkan Kokabiel tapi kekuatanya juga turut ambil adil membantu, dan itu membuatnya sedikit berbangga.
"Aku ingin melihat dampak originalnya!"
Untuk beberapa saat Rias terdiam." Jika kau berkata seperti itu,,,," Adik sang Maou Lucifer itu mengalihkan pandanganya kearah arena pertarungan, kedua tanganya bersidekap di depan dada dan Green foresnya tiba-tiba menajam penuh akan rasa ingin tahu.",,, aku juga ingin tahu?"
'Sekuat apa kau Uzumaki?'
"RASENGAN"
BRAK
BUMMMMMMMMM.
Tanpa sadar masing-masing angota Rias dan Sona menahan nafas ketika serangan Naruto berhasil menghantam telak dada sebelah kanan Tenku yang kala itu berbalut rompi perang khas samurai. Jutsu original milik mendiang Namikaze Minato yang di gunakan putranya sepertinya cukup kuat begitu melihat dapak yang diakibatkan jutsu tersebut hingga lebih dari mampu untuk melemparkan tubuh kekar milik sang wakil Kyuubi kesudut ruangan.
Tsubaki yang masih dalam keadaan tegang mengerakan kepalanya kesamping. Light –bron milikya dengan setia mengikuti tubuh sang wakil Kyuubi melayang jauh menghancurkan sebuah singasana sebelum akhirnya berhenti karena menabrak dinding beton ruangan. Asap yang mengepul membuat gadis bersetatus wakil dari Sona itu tak bisa melihat dengan jelas keadaan Tenku diseberang sana.
Dengan mata melebar Tomoe dan Yura menatap tubuh rekan mereka yang kini berdiri sedikit membungkuk dan memegag pergelangan tangan kananya sendiri. Kedua gadis itu menelan ludahnya dengan paksa ketika sadar kalau pemuda kuning yang merupakan salah satu keluarga iblisnya bisa membuat sosok sekelas Tenku terjerembab sebegitu tak terhormat akibat serangan yang baru saja ia lepaskan. Sebuah fakta bahwa Naruto melakukan semua itu secara mandiri tanpa bantuan rekan tim satupun membuat Tomoe serta Yura yakin bahwa sosok itu memanglah kuat, lebih kuat dari mereka berdua.
Ekspresi Momo dan Bennia berubah total dari khawatir menjadi lega, kedua gadis dibawah naungan Klan Sitri itu tersenyum hangat penuh bangga begitu melihat akhir pertarungan. Reya mengeratkan cengkramanya pada ujung baju milik laki-laki di sebelahnya sedikit keras, matanya membulat dan rahangya terbuka lebar, dan itu lebih dari cukup untuk menandakan bahwa Reya tak begitu percaya dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya. Saji melongo saking tak percayanya, pemuda itu bahkan tak merasakan bahwa kini bajunya tengah ditarik oleh Reya. Sedangkan Ruruko tersenyum yang semakin lama semakin lebar begitu melihat pemuda yang selalu ia panggil ' Nii-san' tampak baik-baik saja dan telah mengalahkan sosok angkuh yang tadi sempat menghina king mereka.
Tak berbeda jauh dengan tim Sona, tim Rias juga mengalami keterpurukan yang hampir sama. Di mulai dari Issei yang mlebarkan matanya tak percaya. Koneko yang memincingkan pandanganya seolah-olah dapat mengupas kulit luar sang Uzumaki dan menampakan jati diri pemuda itu yang sebenarnya. Sama seperti Momo dan Bennie, Xenovia juga perlahan mengembangkan senyum lembutnya, tangan gadis muda itu perlahan naik keatas dada di ikuti gerakan mengelus dimana jantungnya berdetak sangat cepat.' Syukurlah'.
Sementara Asia? Ia masing terbaring pingsan di dekat Koneko.
Dengan sorot mata tak percaya dan kagum, Rias menatap sosok Naruto yang masih setia berdiri di tempat semula. Adik perempuan Sirzechs Lucifer itu menajamkan pandanganya yang masih terkunci ke pungung Naruto, meneliti setiap inci tubuh pemuda itu dengan cermat berharap menemukan sedikit celah yang menunjukan bawa budak milik Sona itu mengunakan cara licik untuk menjatuhkan Tenku. Bagaimanapun juga dari cerita Kakaknya Rias tahu benar bahwa sang wakil Kyuubi adalah Youkai yang sangat Kuat. Reputasi mahluk itu sudah sangat terkenal bukan hanya di kalangan Youkai namun juga kalangan iblis, tentang bagimana kuatnya, cerdasnya dan digdayanya sosok Tenku dapat Rias asumsikan setara dengan Hight clas devil. Bagaimana bisa sosok sekuat itu yang bahkan bisa membuatnya merinding hanya untuk menahan nafsu membunuhnya bisa kalah dari iblis reinkarnasi pemegang bidak satu pion ?.
Cukup lama Rias menganalisa tubuh pemuda pirang yang notabene adik kelasnya di Kuoh Gakuen. Gadis bersurai sewarna darah itu akhirnya menyerah ketika tak menemukan ke anehan sedikitpun dari setiap inci tubuh Naruto yang mendukung kecurigaanya. Menilik dari wajah lelah dan tubuh sedikit membungkuk remaja berusia sekitar 15 tahunan itu membuat Rias cukup yakin kalau sosok tersebut benar-benar melakukan sesuatu yang Rias anggap awalnya mustahil mejadi nyata secara fear..
"Fufufufu,,,,"
Kening Rias mengkerut, begitu mendengar tawa khas gadis berdada besar disampingnya." Ada apa lagi, Akeno?". Sang Red Hair menolehkan kepalanya kearah Akeno dengan sedikit engan. Kegiatanya juga di ikuti oleh Akeno, membuat Rias otomatis bisa melihat lebih jelas bagaimana wajah cantik Akeno.
" Tidak!" Akeno menyentuh bibrnya sendiri dengan telunjuk." Akhirnya aku tahu seberapa kuat bola aneh milik Naruto-kun." Gadis itu tertawa lagi, kali ini sedikit terdedam karena jarinya masih menutupi bibir." Ternyata latihanya waktu itu tak sia-sia!"
Rias menghembuaskan nafas, entah kenapa Rias merasa kalau tawa khas Akeno kali ini terdengar seperti megolok-oloknya. Tangan kirinya berkacak pingang sedangkan tangan kananya memijit pelan pelipisnya." Yeah,, dan aku mendapat tugas baru memikirkan bagaimana menangani kekuatan Naruto ketika melawan kita nanti di Rating game." Menghiraukan kata-kata terakhir Akeno, Rias memilih mengerang dan menambah kuat tekanan di pelipisnya yang secara tiba-tiba serasa berdenyut." Memikirkan otak encer Sona saja sudah membuatku pusing, dan sekarang di tambah bocah itu,,,hah menjengkelkan!"
"Fufufufufu,,,itulah tugasmu sebagai king, Bucho." bukanya membantu kata-kata Akeno malah semakin membuat Rias serasa semakin tertekan. Gadis itu kembali menghela nafasnya, sudut matanya melirik kearah wajah sang sahabat dari Klan Sitri yang berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini. Mendapati gadis berkacamata itu tersenyum membuat Rias ingin sekali mengumpat dengan sangat keras.' Kau dan keluargamu sangat merepotkan!'
Tak dapat Sona pungkiri bahwa rasa lega dan damai turut serta memeluk hatinya saat Naruto berhasil melemparkan sosok Tenku kesudut ruangan. Gadis berkacamata itu sejak awal menyadari perbedaan kekuatan yang sangat jauh antara Naruto dan Youkai gagak yang menjadi lawanya. Sona bahkan sudah siap kalau-kalau diakhir pertarungan ia akan kembali melucuti pakaianya dan tidur berdua kembali dengan budak barunya itu demi menyalurkan energi iblisnya pada Naruto.
Entah apa yang ada di pikiranya akhir-akhir ini hingga mau-mau saja berbaring bersama dengan pemuda itu tanpa sehelai benang pun sebagai penghalang diantara tubuh keduanya, dan yang lebih konyol ia melakukan itu semua hanya karena alasan pengobatan?. Jika boleh jujur, Sona bahkan tak tahu kenapa ia memperlakukan sosok itu begitu istimewa, selama ini ia menyalurkan energi iblis pada para budaknya yang lain hanya melalui media berpegangan tangan saja dan tak pernah lebih dari itu, namun jika menyangkut tentang keselamatan budak barunya kenapa ia tak pernah ragu untuk melakukan lebih?.
Alasan Sona meng-anak emaskan Naruto seiring berjalanya waktu mulai terkupas. Di mulai saat pemuda itu membangkang perintahnya untuk maju kemedan tempur demi menyelamatkan Rias dan timnya dari Kokabiel. Saat itu ada rasa yang aneh di dada kananya yang mendorong tubuhnya untuk mencegah si pencinta ramen untuk terjun ke medan perang karena ia tak mau melihat pemuda itu terluka lagi seperti malam itu, malam dimana ia mereinkarnasikan Naruto.
Melihat bagaimana Naruto berusaha sangat gigih untuk menjatuhkan Kokabiel demi melindungi tim sahabatnya cukup membuat hati sekeras batu milik Sona mulai rapuh. Rasa bangga sebagai Raja dari pemuda itu tak bisa sang Herries Sitri sembunyikan begitu tahu bahwa Naruto tetap berdiri di garis depan walau Sona tahu, pemuda pirang itu lebih dari sadar kalau musuh yang saat itu ia dan sebagian tim Rias hadapi mempunyai tingkatan yang jauh lebih superior dari dirinya sendiri. Perasaan yang awalnya hanya kebangaan perlahan mulai berubah menjadi rasa kagum begitu dia sadar bahwa budak barunya itu memiliki sesuatau yang jauh lebih berharga melebihi sebuah kekuatan.
Saat melihat tubuh lemah itu terkulai di pangkuan Akeno rasa cemas kembali menyerang. Dengan sangat tergesa ia turun untuk memberikan apa yang seharusnya ia berikan sebagai King dari pemuda itu, dan begitu ia mendengar Rias menawarkan dirinya utuk mengatikan kewajibanya, secuil rasa tak rela menyusup. Ia tahu bagaimana cara Rias melakukan penyaluran energi iblisnya dan dengan posesif ia tak menginginkan itu terjadi karena hanya ia yang boleh melakukanya dan hanya dia seorang yang boleh!.
Setelah semua itu ia angap kurang, kini ia kembali dihadapkan dengan sebuah pertanyaan awal ' kenapa kau begitu peduli dengan pemuda itu? kau bahkan baru mengetahui tentang dirinya tak lebih dari satu tahun?'
Dan jawaban-nya keluar sendiri dari tindakan dan kata-kata sosok itu, ketika untuk pertama kalinya ia mengadu pisau hitamnya dengan sosok Tenku. Tanpa rasa takut ia menerima tebasan demi tebasan katana sang wakil Kyuubi, terus bertahan dengan tumpuan kehormatanya dan klanya yang telah dijatuhkan oleh manusia gagak, lawanya.
Setiap kata sederhana yang melucur mulus tanpa keraguan dari mulutnya, meyakinkan Sona bahwa inilah alasanya, inilah alasanya kenapa ia meng-istimewakan sosok itu. Meski tak berasal dari kalangan elit devil atau bagsawan, namun Sona percaya bahwa pemuda itu lebih dari layak untuk menjadi' kebangaan Sitri, sesuatu yang selama ini Sona cari.
Secara alami bibir Sona melengkung, memberikan senyum tulus nan manis saat melihat bahwa pemuda yang kini merupakan salah satu keluarganya berhasil mengalahkan siluman penuh dominan sekelas Tenku, salah satu Youkai yang memegang peran sangat sakral bagi kaumnya. Kecemasan dan prekdisinya ditepis dengan sangat mudah oleh Naruto. Kekalahan yang awalnya ia yakini akan di terima sosok itu di tepis begitu saja. Ketika melihat pemuda itu saat ini, ia bagaikan melihat sesosok ujung belati tajam yang tak pernah gagal merobek garis takdir, selalu melaju, melampaui ataupun merangsek tak perduli dengan takdir yang mengekangnya. Sona melihat, bahwa takdir yang bagi setiap orang selalu di angap sesuatu yang mutlak dan tak dapat diubah, bagi pemuda itu takdir tak lebih dari segumpal batu yang suatu saat nanti pasti akan hancur jika selalu dihantam. Sesuatu yang keras namun tak mustahil untuk dihancurkan atau di rubah.
Naruto kembali menegakan badanya, nafasnya yang sedikit memburu ia hiraukan. Blue safir dan sharingan terus menatap tajam tempat sang lawan terjerembab. Meski telah menyarangkan salah satu amunisi terbaiknya namun ia tak yakin kalau hanya dengan itu sosok sekelas Tenku bisa langsung menyerah. Dari yang Naruto amati, Youkai yang satu ini sejak awal pertarungan sama sekali tak mengeluarkan kekuatan penuhnya. Dan satu fakta bahwa sosok itu adalah wakil dari Kyuubi yang notabene pemimpin kaum Youkai menambah keyakinan sang shinobi bahwa satu Rasengan tak mungkin mampu menumbangkanya.
Dan pemkiran sang Uzumaki terbukti tepat. Tak butuh waktu lama sosok Tenku secara perlahan namun pasti sudah kembali muncul dengan tubuh tegak tanpa luka, satu-satunya bukti bagwa serangan Naruto memanglah mengenainya adalah baju zirah khas samurai yang ia kenakan berlubang sebesar kepalan tangan pada bagian dada kanan tepat Rasengan bersarang. Bulu-bulu hitam yang meutupi kulit sang Youkai yang sejak awal tak terekspos karena tertutup zirahnya kini sedikit terlihat dari lubag bekas Rasengan.
Tanpa menunjukan raut kesakitan sedikitpun, Tenku dengan pelan mulai melangkahkan kakinya mendekati Naruto, membuat tubuh pemuda itu kembali mengambil posisi siaga. Dalam diam, sharingan milik Naruto kembali berputar, mengantisipasi gerakan lanjut yang mungkin di pilih Tenku untuk menjatuhkanya..
Tanpa di sadari seorang pun Tenku menyeringai tipis melihat remaja di depanya kembali pada posisi siaga. Tanpa peringatan iris kuningnya tiba-tiba mengkilat tajam dengan di barengi ledakan energi tak kasat mata yang sejak awal ia tekan. Energi Youkai berwarna ungu gelap secara perlahan mulai keluar dari tubuhnya yang semakin lama semakin membesar. Ia menghiraukan suara-suara gedebuk nyaring yang berasal dari para tamunya yang bersujut akibat tak mampu menahan tekanan kapasitas kekuatanya.
Seringai diwajah Tenku semakin melebar begitu mendapati lawanya sama sekali tak terpengaruh dengan tekanan kekuatanya yang selama ini tak pernah gagal membuat setiap musuh yang ia hadapi gentar. Ia memang melihat sekilat tubuh remaja itu menegang dan bergetar tapi itu tak lama karena beberapa detik kemudian sosok yang berada jauh dibawah umurnya itu kembali tenang, seakan-akan energi menyesakan yang ia keluarkan hanyalah angin lalu, hanya seketika dan kemudian hilang begitu saja.
Prok,,,prok,,,prok,,,prok,,,
Kesunyian yang melanda ruangan pribadi milik sang wakil pemimpin kaum Youkai terpecahkan oleh suara tepuk tangan merdu dari si pemilik. Naruto yang sedari tadi sudah kembali memompa chakranya kembali tak sedikit pun mengendurkan kesiagaan. Instingnya masih saja menjerit waspada andai-andai mahluk gaib di depanya hanya sedang mengalihkan perhatianya sebelum memulai serangan baru. Blue safir dan Sharingan terus saja menatap tajam sosok itu meski energi yang tadi Tenku keluarkan mulai menipis.
Jika boleh jujur sebenarnya Naruto sudah sangat cemas ketika tekanan Youkai milik Tenku dalam waktu yang singkat tiba-tiba meningkat sangat pesat, ia bahkan mulai pesimis bisa mengalahkan mahluk itu hanya dengan kekuatanya.
Di hadapkan dengan kekuatan yang sangat jauh melampaunya saat ini, membuat otak sang Uzumaki muda berkerja sangat keras. Berbagai macam ide-ide gila mulai bersliweran di otak-nya mulai dari serangan frontal, bertahan, bahkan sampai menyerap paksa chakra sang partner. Ide terakhir hampir ia terjunkan, karena Naruto sadar hanya dengan menyerap cakra Ringo ia bisa mendapati kapasitas chakra dalam tubuhnya semakin bertambah dan kuat. Tapi ketika mengingat efek sampingnya, shinobi pirang itu kembali menimbang apakah tindakanya nanti sepadan atau tidak. Menarik chakra sang partner yang masih berada dalam segel Shiki Fujin akan membuat ia menjadi sangat kuat, tapi meski begitu chakra itu juga secara perlahan mengubahnya menjadi mahluk buas yang tak bisa membedakan mana lawan dan mana kawan. Ketakutan terbesar yang membuatnya ragu mengunakan chakra Ringo adalah bagaimana jika ia dalam keadaan tak sadar menyerang atau bahkan sampai melukai salah satu anggotanya dan tim Rias? Hal itulah yang memberatkan ia mengunakan kekuatan lain dalam tubuhnya, ia tak ingin kejadian yang menimpa Sakura rekan setimnya didunia Shinobi juga menimpa teman-teman iblisnya didunia ini.
"Ehem,," dengan sengaja Tenku berdehem untuk menarik perhatian pemura pirang didepanya. Saat melihat sosok itu masih kukuh dengan pandangan tajam dan postur siaga ia menghembuskan nafas." Sudah cukup gaki!"
Naruto mengangkat alisnya heran. Apa maksudnya ini? Kenapa dia mudah sekali mengakhiri konflik diantara mereka berdua?." Apa maksudmu?" meski nada bicaranya masih berat, namun Naruto mulai menurunkan postur kesiagaanya kerena insting miliknya tak lagi menagkap adanya hal ganjil dari gerak tubuh sang Youkai gagak.
Tenku kembali melangkah semakin mendekati Naruto dengan kedua tangan terkulai santai disisi tubuh tegapnya." Sekarang aku percaya!". Saat melihat pemuda didepanya memiringkan kepalanya, lebih dari cukup untuk Tenku sadari bahwa pemuda itu tak menagkap maksud dari kata-katanya barusan. " Aku percaya kalian bisa membantuku dalam menyelesaikan masalah yang kini sedang melanda kaum kami!"
"Oh" Naruto menganguk. Tapi meski keadaan sudah lebih mencair pemuda yang merupakan ninja itu tak serta merta langsung bersikap manis pada sosok didepanya karena ada sesuatu yang masih ia inginkan dari si wakil Kyuubi No Youkai." Jadi?"
Masih dengan tatapan datar khas wajah burung gagak, Tenku menyahut." Jadi hentikan tatapan membunuhmu padaku!"
Naruto mendengus." Setelah kau merendahkan Kaicho?" pemuda itu mengangkat tanganya dan bersidekap angkuh tak perduli sedikitpun dengan siapa kini ia berhadapan.
Tak mempermasalahkan sikap remaja dihadapanya, Tenku mengelus dagunya begitu menyadari maksud kata-kata Naruto. Rupanya pemuda itu meminta pertangung jawaban atas kata-katanya yang telah menghina secara langsung pada Herries klan Sitri.
Menarik sekali bagi Tenku saat melihat loyalitas pemuda itu pada majikanya. Tanpa berkata apa-apa lagi sang Youkai yang memiliki fisik menyerupai manusia gagak itu kembali berjalan meningalkan Naruto yang melihatnya sebal.
Tenku berhenti berjalan tepat didepan Sona. Membuat gadis Keturunan darah murni itu sedikit gugup, namun ia dapat menutupinya dengan sangat baik. Gadis itu itu terdiam sama dengan Tenku yang diam membisu.
Hening.
Tak ada suara satu pun yang terdengar dari kedua mahluk mistis itu membuat ruangan tertutup milik Tenku dilanda kesenyapan. Naruto yang mulai jengah melangkah mendekati Tenku yang kini memunggunginya." Hoy,,, apa ya—"
"Maaf atas semua perkataanku, Sitri-san!"
Niat awal Naruto yang ingin menepuk pundak Tenku terhenti ditengah jalan, tanganya yang sudah terjulur ia turunkan kembali ketika melihat Tenku membungkuk singkat di depan Kaicho-nya. Sementara Sona yang mendapati perlakuan tak terduga dari Tenku melenbarkan matanya, sama sekali tak menyangka bagaimana sosok se-agung Tenku membungkuk didepanya. Meski singkat namun Sona patut berbangga karena sosok sekelas Tenku yang bahkan tak sudi menunduk pada para tetua kaum Youkai mau melakukan hal itu pada dirinya, yang hanya Iblis darah murni dengan kekuatan tak seberapa jika di bandingkan dengan kemampuan sang wakil pemimpin kaum Youkai. Menghadapi situasi seperti ini membuat Seorang iblis sekelas Sona Sitri kehilangan kata untuk diucapkan, Adiak satu-satunya Maou Leviathan hanya bisa menganguk untuk membalas ucapan Youkai didepanya.
Merasa telah menerima jawaban dari Sona, Tenku membalik badanya dan berjalan menuju Naruto yang masih setia memandanginya dengan ekspresi wajah tak tak terbaca." Kau puas, Gaki?" Bisik Tenku ketika badanya bersisihan dengan Naruto.
Sedikit demi sedikit cengiran mulai terbentuk di bibir Naruto." Yehhh." ia menyahut singkat membiarkan sosok Tenku berlalu.
Pertemuan menegangkan yang di selesaikan dengan adu tinju antara Naruto dan Tenku itu pun berakhir dengan kemunculan Kumo, yang memberi kabar pada tuanya bahwa akan di adakan pertemuan penting yang mengharuskan kehadiran dirinya. Setelah memberi izin pada tim Sona dan Rias untuk menyelidiki sebab-sebab penyakit Kyuubi, Tenku berlalu dari hadapan mereka, namun sebelum itu ia memberi perintah pada Kumo untuk mengantar dua tim iblis dari Neraka ketempat sang pemimpin kaum Youkai berada.
-0-0-0-0-0-0-
Dalam setiap langkah di warnai oleh derak nyaring lantai kayu yang mereka pijak, tim Sona dan Rias mengikuti sepasang kaki pendek Senosuke Kumo melangkah dalam hening. Sona dan Rias yang berdiri bersebelahan paling depan diantara anggotanya masing-masing, secara ajaib tak mengeluarkan suara sedikitpun seperti waktu-waktu sebelumnya. Kedua gadis yang sama-sama menyandang gelar Herries dari masing-masing klan itu hanya melangkah dalam diam. Fiolet dan green fores keduanya sesekali menjelajahi lorong-lorong tempat yang mereka lewati dengan teliti.
Tempat yang mereka lewati kini sedikit terang, sangat berbeda jauh dengan tempat yang menuju ke Ruangan milik Tenku yang begitu dominan dengan warna hitam. Berbagai pajangan baik lukisan ataupun senjata seperti Katana, Tanto, Naginata dan segala jenis lainya tersampir rapi menghiasi keindahan dinding yang didominasi oleh warna Orange.
Setelah menempuh perjalan cukup jauh dan menaiki beberapa kelompok anak tangga akhirnya mereka menghentikan langkahnya ketika Youkai Kapa yang menjadi kompas perjalanan mereka berhenti tepat didepan sebuah pintu. Decak kagum secara sepontan keluar berjamaah dari mulut-mulut semua iblis akibat terpesona melihat bagaimana indahnya arsitektur pintu itu. Sebuah pintu setinggi dua setengah meter dengan lebar tiga meter, berwarna kuning mengkilat, dengan dekorasi matahari dan bulan saling berdampingan serta gambar sosok rubah raksasa berekor sembilan yang berdiri gagah ditengahnya lengkap dengan sosok-sosok lain yang digambarkan lebih kecil dari sang rubah tengah berlutut seakan menyembah rubah itu.
Tangan berselaput Kumo dengan perlahan merogoh kantung saku celananya, tak butuh waktu lama sebelum ia menarik kembali tanganya. Sona dan Rias yang memang berada paling dekat dengan Youkai kecil itu dapat melihat dengan jelas sebuah benda berbentuk segitiga berukiran kepala rubah sebesar telapak tangan bayi berwarna merah telah tergengam ditangan Kumo. Dengan hati-hati pelayang Tenku itu menempelkan benda yang ternyata sebuah kunci kelubang di tengah pintu yang berbentuk sama seperti kunci di tangan Kumo. Rias dan Sona dengan sedikit berminat memandang bagaimana sosok Kumo menekan lalu memutar segitiga itu pada lubang kunci.
Bunyi berderik pelan terdengar ketika Kumo menarik kembali tanganya, membiarkan kunci segitiga itu pada tempatnya. Begitu melihat gambar Rubah dipintu tiba-tiba membuka mulutnya, secara sepontan Sona dan Rias mundur, mereka melihat dengan atnusias bagaimana secara perlahan pintu ruangan didepan mereka terbelah menjadi dua bagian.
" Selain materialnya yang sangat kuat pintu itu juga dipenuhi dengan energi besar kaum Youkai. Kami membuat itu demi melindungi Kyuubi-sama dari bahaya. Hanya yang terpercayalah yang bisa membukanya!" Kumo berbicara tanpa menoleh pada tamunya.
Saat pintu terbuka seutuhnya mereka dapat melihat , sebuah ruangan mirip kamar seorang putri. Dengan lantai kramik berwarna perak mengkilap, meja rias, kursi dan lemari pakaian yang terkesan mewah tertata rapi disudut dinding ruangan. Lampu terang yang juga tak kalah mewahnya tergantung manis tepat diatas sebuah ranjang berukuran king zise yang diselimuti oleh selendang selendang berwarna biru laut disetiap sisihnya.
Setiap pasang mata memfokuskan pandanganya pada ranjang ditengah Ruangan. Meski pandangan mereka terhalang oleh selendang-selendang namun tetap saja meski sedikit mereka dapat melihat adanya sesosok tubuh tak bergerak yang tergeletak diatas ranjang.
Tanpa mereka semua sadari sesosok gadis muda berparas rupawan tiba-tiba muncul dari sebuah pintu yang terletak tak begitu jauh dari ranjang tempat sang Kyuubi No Youkai berada. Gadis itu memiliki surai coklat pendek dan sepasang telinga lancip mirip rubah atau anjing yang berada di sisi kiri dan kanan kepalanya, menyembul diantara surai sewarna daun kering milik sang gadis. Gadis itu memiliki bentuk tubuh yang semampai khas remaja pada umumnya, ia mengenaka sebuah kimono berwarna biru muda polos tanpa corak." Kumo, siapa mereka?".
Kumo berjengit, menandakan bahwa Youkai Kapa itu kaget." A-ah Inuzuma-sama?" begitu melihat siapa yang menyapanya Kumo langsung bersujut memberi hormat pada sosok itu.
"Bagun Kumo!" sang gadis meganguk seraya mengerakan satu tanganya keatas, memberih perintah pada Youkai Kapa itu untuk berdiri. " Siapa mereka?"
Dari nada bicaranya yang agak keras memberi siapapun yang mendengarnya berangapan bahwa gadis itu tidak suka dengan kehadiran tim Sona dan Rias yang masih terdiam di depan pintu masuk. Kumo yang telah kembali menegakan tubuhnya berjalan mendekati sosok yang ia panggil Inizuma-sama, dari nada formal yang mahluk itu gunakan memperlihatkan dengan sangat jelas kalau Kumo sangat menghormati sosok itu. " Maaf Inuzuma-sama, mereka adalah tim yang dikirim dari Neraka untuk membantu kita."
Begitu mendengar penjelasan Kumo, gadis yang membalut tubuhnya mengunakan sebuah kimono polos tanpa corak berwarna biru muda dengan lengan pajang itu menganguk. Pandanganya yang pada awalnya terkesan penuh kewaspadaan mulai melunak." Ah, Gomen ne!". Dia membungkuk singkat yang diarahlan pada tim Sona dan Rias.
" Tidak apa Inuzuma-san!" Sona dan Rias ikut membungkuk memberitanda bahwa mereka tak keberatan.
" Tak perlu seformal itu Iblis-san!". Gadis itu mengibaskan satu tanganya di depan wajah dengan disertai senyum manis." Perkenalkan, namaku Inuzuma Takumi, salah satu Youkai dari Klan Inu yang menjadi pengawal Yasaka-hime.". pupil merah milik gadis itu menelusuri wajah-wajah tim Sona dan Rias satu persatu. Menyadari tak ada ancaman dari sang tamu membuat Takumi semakin mengumbar senyumnya." Mari!"
Untuk sesaat Rias dan Sona saling memandang, kedua iblis remaja itu menganguk dan mulai melangkah memasuki ruangan pribadi milik sang pemimpin kaum Youkai di Kyoto.
" Silakan duduk!" Sona dan Rias kembali hanya bisa menganguk dan menuruti perintah gadis yang mengaku sebagai pengawal Kyuubi." Ah,, maaf hanya ada dua kursi!" Takumi kembali tersenyum, namun kali ini terkesan sedikit cangung saat menyadari fasilitas yang tersedia di ruangan milik pemimpinya tak sesuai dengan jumlah sang tamu.
" Ah,, tak apa Takumi-san!" Rias Tersenyum maklum. Ia sadar kalau tempat yang saat ini tengah mereka kunjugi bukanlah ruangan rapat ataupun tempat umum yang selalu menyediakan tempat duduk melimpah. Dia dan Sona selaku ketua dari masing-masing tim mengambil inisiatif untuk duduk dan membiarkan yang lain-nya berdiri dibelakang masing-masing ketua mereka, atupun bersimpun di lantai seperti yang tengah dilakukan Naruto.
Melihat tingkah salah satu budaknya Sona memutar bola matanya agak jengkel."Naruto!" dia mendelik galak.
Naruto menghela nafas bosan."Aku lelah, Kaicho!". Alasan itu tak begitu berguna karena Tsubaki masih saja memaksanya berdiri dengan menarik kerah belakang bajunya." Ais,, senpai!"
"Hn." Tanpa ekspresi dan rasa bersalah Tsubaki terus memaksa pemuda itu berdiri.
" Bertingkah sopanlah, Baka!" Issei mendesis sinis ketika melihat tingkah Naruto yang ia angap tak sopan, padahal dirinya sendiri selama ini tak terlalu mempermasalahkan tentang kesopanan." Taku-chan,, sebagai sang kaisar Naga, aku Hyondo Issei siap melayanimu!" pandangan Issei berubah berbinar begitu bertemu dengan sang Youkai Inu, pemuda bersurai coklat itu juga tak lupa membungkuk ala pangeran-pangeran Hollywood saat bertemu tuan putri demi menarik perhatian Takumi.
Sementara Takumi yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Issei hanya mengangkat alisnya Heran, tapi ia tak menangapinya lebih lanjut dan memilih tersenyum, Membuat sang Naga bersemu.
"Ehem,," Sona berdehem, berusaha mendapat fokus dari sosok gadis Youkai yang masih berdiri di depan-nya dan Rias." Langsung saja Takumi-san, boleh ku pangil begitu?" melihat gadis di depanya menganguk, Sona melanjutkan." Apa yang sebenarnya terjadi dengan Kyuubi-sama?. Dari yang kudengar dari cerita Tenku-sama, Kyuubi-sama terkena racun yang membuat ia mengalami masalah pada tubuhnya. Apa itu benar?."
Takumi menghela nafas. Ia memandang Kumo lalu menganguk. Youkai Kapa yang mengerti maksud gadis itu turut menganguk, tanpa bicara sepatah katapun ia melangkah keluar dari ruagan itu.
Menghiraukan tatapan tanya dari para iblis Takumi mulai bersuara." Apa yang kau dengar memang benar ibl—"
" Pangil saja aku Sona!" Sona menyandarkan tubuhnya kepungung Kursi." Tak enak rasanya memangil kami semua dengan satu julukan, meski kami semua memanglah iblis!"
Takumi hanya menganguk." Apa yang kau kata katakan memang benar Sona-san. Yasaka-Hime memang terkena racun yang membuatnya lumpuh total." Tatapan gadis itu perlahan meredup, rasa sedih dan kecewa tergambar sangat jelas dari sepasang manik ruby-nya." Andai aku ada disana waktu itu mungkin semua ini tak akan terjadi!"
Semua yang ada diruangan itu dalam diam memandang sedih sosok gadis Youkai pengawal Kyuubi yang terkesan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah menimpa penguasa Kyoto.
" Kau bilang racun?.Llebih tepatnya, racun apa yang sampai mampu membuat Youkai sekelas Kyuubi seperti ini?" Rias mencondongkan tubuhnya kedepan, tangan kananya menyanga dagu lancip milikya.
"Kami tidak tahu." Takumi berkata dengan lesu." Semua tabib yang menangani masalah ini angkat tangan, kata mereka racun yang ada dalam tubuh Yazaka-hime sangat aneh." tanpa sadar kedua tangan sang Youkai mengepal, entah karena marah atau kecewa dengan para tabib yang menyerah begitu mudahnya.
" Aneh?" Sona membeo, fioletnya memancar penuh dengan ketertarikan. Otak gadis itu tiba-tiba terasa tersengat listrik beberapa volt begitu menyadari adanya teka-teki dalam masalah yang saat ini kaum Youkai alami. Tipikal Sitri yang selalu haus akan ilmu.
Takumi menganguk lemah." Kata mereka, seluruh orgam dalam,darah maupun otak Yazaka-hime sama sekali tak mengalami kerusakan. Dapat dikatakan bahwa semua dalam keadaan normal. Tapi entah mengapa tubuh bagian luar milik Yazaka-hime terlihat kaku, dan fenomena itu terus berlanjut seiring berjalanya waktu,,,hingga akhirnya sesuatu yang sama sekali tak kami duga terjadi."
" Ada apa?". Sota tampak semakin antusias. Ternyata tak hanya gadis itu saja yang penasaran, karena hampir semua yang menyimak pembicaraan Takumi juga mengalami hal yang sama dengan sang Sitri.
"T-tubuhnya,,,em." Terlihat jelas ada keraguan dan ketakutan pada diri Takumi ketika akan memberitahu keadaan tuanya." Tubuhnya lambat laun berubah menjadi batu."
"B-batu?" mata Rias dan Sona membola kaget. Selama mereka hidup belum pernah keduanya mendengar ataupun mengetahui ada racun yang memiliki efek seperti itu.
"Bagaimana mungkin?" Rias yang sedari awal pembicaraan hanya menyimak mulai berkomentar. Tubuh gadis itu mengigil kecil saat sebuah gambaran bahwa tubuh bohainya perlahan-lahan berubah menjadi sebuah batu, ughh mengerikan!.
" Kami juga tak tahu!" Takumi melirik kearah ranjang tempat sang Youkai terkuat terbaring dengan pancaran sedih.
Ruangan yang lebih didominasi warna emas tempat mereka berada saat ini tiba-tiba dilanda keheningan begitu mulut sang penghuni tak lagi mengelurkan suara akibat terlalu memikirkan masalah yang tengah menimpa pemimpin Kyoto. Takumi sendiri sudah beranjak dari hadapan Rias dan Sona dan lebih memilih mendekati ranjang tempat sosok yang selama ini ia kagumi.
"Ada saran Rias?" pertanyanaan Sona hanya dibalas gelengan, membuat Heries klan Sitri itu paham bahwa sahabatnya tidak bisa di andalkan. Otak jeniusnya berputar-putar layaknya sebuah kincir, mencoba mengali ingatan tentang racun yang menyerang Kyuubi. Gadis manis itu sangat berharap bahwa dari ratusan atau bahkan jutaan buku yang pernah ia baca dan masih jelas di ingatanya berisi pengetahuan yang menyangkut tentang racun aneh didalam tubuh Kyuubi.
" hufff." Sona menyeka keningnya dengan pungung tangan ketika terlalu memaksakan otaknya bekerja ekstrim. Perlahan ia bangkit dan berjalan mendekati Takumi yang masih tak bergeming di sisi ranjang pemimpinnya." Bisa kami melihat Kondisinya?"
Di landasi kepercayaan yang tinggi pada kedua tim dari Neraka, gadis itu dengan sedikit ragu menganguk." Tentu!" ia mengizinkan. Toh jika mereka memang berniat jahat, tak mungkin Tenku membiarkan mereka sampai sejauh ini. Meski kadang Tenku terlihat kurang suka dengan Kyuubi generasi ini, tapi Takumi sangat yakin kalau mahluk supranatural berfisik mirip gagak itu sangat loyal pada Kyuubi. Dan keyakinanya semakin di perkuat dari bagaimana sosok Tenku lebih menuruti perintah Kyuubi dari pada tetua Youkai yang memiliki peran hampir setara seperti Yazaka..
Para iblis remaja dari tim Sona dan Rias hanya menyaksikan dalam diam ketika melihat sosok Takumi semakin mendekati ranjang. Dalam langkah kecil gadis itu, mereka melihat bagaimana Takumi melukai salah satu jarinya dengan gigi hingga megeluarkan sedikit darah. Saat jarak tubuh sang pengawal hanya tinggal beberapa inci dari ranjang berselimut kain biru, secara cepat tangan yang tadi terluka menebas kain itu fertikal. Kegiatan itu mengakibatkan darah yang masih mengalir di jari Takumi menciprat ke kain tipis disisi ranjang, tak butuh waktu lama kemudian secara mengejutkan kain yang berperan layaknya penghalang tubuh lemah Kyuubi dengan dunia luar bersinar redup, menandakan kalau kain itu bukan kain sembarangan. Rias, Sona serta para budaknya dapat merasakan pancaran energi sangat kuat dari kain itu, mereka berasumsi bahwa kain biru muda yang awalnya mereka kira hanya hiasan ternyata memiliki fungsi yang lain. Sebuah kekkai kuat yang telah dipasang oleh para Youkai. Hal yang wajar bila mengingat setatus gadis di atas ranjang adalah pemimpin. Tentu saja bawahannya akan memberikan perlindungan demi memastikan keselamatan pemimpinya.
Menghiraukan decak kagum dari para tamunya, Takumi melanjutkan aksinya, satu tangan ia angkat dalam keadaan terbuka hingga setingi dada. Perlahan ia memajukan badanya hingga telapak tangan miliknya menyentuh kain, ia kemali menghiraukan pendar biru terang yang keluar mendadak dari kain di depanya.
" Kai!"
Setelah Takumi mengucapkan kata pelepas, kain yang awalnya menyelimutu setiap sisi ranjang tiba-tiba terangkat seperti ada seseorang yang menariknya keatas. Tak butuh waktu lama untuk menunggu kain yang merupakan kekkai itu hilang seutuhnya dari sisi ranjang dan memperlihatkan isi-nya yang begitu berharga.
Mata Issei dan Saji secara kompak bersinar saat pandangan mereka menangkap sesosok tubuh gadis remaja terlelap diatas ranjang. Gadis itu memiliki paras sangat cantik, dengan hidung mungil, bibir tipis yang meski sedikit kering namun tetap indah. Bulu mata yang lentik khas bangsawan dan pipi tembem agak pucat namun tak mengurangi pesonanya. Kelopak mata yang tertutup membuat penasaran untuk melihat kilau apa yang tersembunyi didalamnya. Surai pirang emas panjang milik sang gadis nampak lembut walupun tak tertata rapi. Dan disertai sebuah telingga mirip seperti milik Takumi hanya berwarna putih bukanya terlihat aneh namun malah nampak sangat manis dan lucu.
" Inikah,,,Kyuubi?" dalam kesunyian, Suara Naruto terdengar mengelegar hingga membuat semua pasang mata mengalihkan pandanganya pada pemuda itu.
" Apa?" merasa diperhatikan, Naruto mengangkat bahu cuek.
" Ada masalah Blode-san?" Takumi memandang bingung pemuda itu, satu-satunya sosok yang dari awal nampak tak terlalu perduli dengan keadaan sekitar. Takumi bahkan tadi ketika ia berbicang dengan Sona dan Rias sempat melihat sosok itu terkantuk-kantuk dan sesekali menyenderkan kepalanya ke bahu gadis bersurai hitam disampingnya.
"hem?" Naruto menatap balik kearah Takumi yang juga menatapnya. Blue safir + only dan sepasang ruby bertemu, membuat kening Takumi mengernyit heran melihat dua pasang mata berbeda dalam satu wajah." Tidak, hanya tak menyangka saja. Awalnya kukira wujud Kyuubi menyeramkan, mengingat namanya yang begitu agung dan setatusnya sebagai pemimpin kaum Youkai,, tapi ini,,?"
" Kau menghinanya, Baka!" Issei berseru sengit, iblis reinkarnasi dari Klan Gremony itu memberi tatapan tak suka pada Naruto, hal ini dilakukan juga oleh sebagian besar timnya dan tim Sona.
" Hey Kiroi, Kau tak berhak berkata seperti itu baka!" Yura yang gemes dengan prilaku Juniornya menjitak kepala kuning Naruto agak kuat.
"i-taiii, Aoi!"
"Nii-san, jangan membuat masalah!" Ruruko ikut memperingatkan shinobi pirang itu.
" Naruto-san!"
Merasa dirinya dipojokan Naruto menghela nafas. Apa salahnya menyuarakan pendapatnya? Ia hanya heran, apa itu salah?.
Seharusnya Naruto tak perlu sekaget itu, pasalnya ia juga pernah melihat wujud asli Kyuubi yang ada dalam tubuhnya jauh-jauh hari. Menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri sosok Kyuubi yang sangat ditakuti didunia ninja ternyata hanya seorang gadis muda yang terlihat manis dan cantik. Jadi ini sebenarnya bukan hal yang baru untuk pemuda itu.
" Apa maksudmu Blode-san?" suara Takumi kembali membuat Naruto beradu pandang dengan gadis itu.
" Terserah kalian mau bilang apa. Maaf Takumi-san, bukanya aku berniat menghina atau apa!" Naruto bersidekap, matanya tertutup dan ketika membukanya kembali terlihat keseriusan yang mampu membuat Takumi penasaran dengan jawaban selanjutnya sosok itu." Ketika mendengar nama Kyuubi No Kitsune, otak ku membayangkan sosok rubah raksasa dengan taring panjang, ekor berjumlah sembilan biji, mata mengerikan yang bisa membuat siapapun yang melihatnya bergidik atau mungkin sosok lain seperti laki-laki dewasa berjangot putih yang selalu bertampang ganas,,. Tapi dia,,?" Naruto terdiam sesaat membiarkan mahluk-mahluk disekitarnya memikirkan kata-katanya.",,,Bagi ku hanya gadis remaja yang manis dan imut!"
Sona dan Rias secara bersamaan melihat kearah Naruto dengan mata memincing sangsi.' Sejak kapan bocah itu bisa memuji seorang wanita?'.Momo, Tomoe dan Bennia mengikuti apa yang dilakukan Herries klan Sitri dan Gremony, setahu mereka Naruto adalah sosok laki-laki langka yang tak pernah memuji ataupun mengoda mahluk bergender wanita, jadi ketika mendengar sosok itu mengucapkanya dengan langsung dengan disertai tampang serius sekaligus polos membuat mereka sangsi apakah sosok itu memanglah Naruto seperti yang mereka kenal atau bukan.
"Naruto-san!" Saji menepuk pundak pemuda itu, setelah melihat Naruto menoleh padanya ia langsung menyentuh kening sang ninja dengan pungung tanganya." Kepalamu pasti terbentur cukup keras tadi!"
"Ck, apa-apa kau ini!" Naruto menepis kasar tangan Saji.
Dari anggota Gremony, mereka hanya memberi komentar dengan alis terangkat. Bagaimanapun juga interaksi mereka dengan pemuda pirang itu tak terlalu erat, jadi mereka tak begitu tahu sifat-sifat Naruto. oohhh,,, terkecuali untuk gadis bersurai biru, Xenovia. Gadi itu terlihat sedikit tertekan begitu mendengar satu-satunya lelaki yang di sukainya memuji gadis lain. demi melampiaskan emosinya yang tak mungkin diumbar, ia tanpa sadar meremas bahu Asia yang lagi-lagi bernasib malang karena selalu berada di dekat gadis biru itu ketika ia dalam mood buruk.
' Nasibku'. Sang gadis mantan biarawati membatin miris.
" Hihihihi,,,,"
Semua pasang mata yang tadi memandang Naruto beralih fokus kearah Takumi. Gadis itu tak terlihat tersingung dengan ucapan Naruto yang terkesan meremehkan pemimpin mereka. Melihat dari ekspresinya saat ini, sepertinya malah terlihat senang.
"Oh maaf." Takumi menutup mulutnya dengan salah satu pungung tangan, badanya yang masih bergetar menandakan bahwa gadis itu masih berusaha menahan tawa." Jika Yasaka-hime mendengar ini, ia pasti juga akan tertawa!"
"Kenapa begitu?" Issei melangkah sampai berdiri sejajar dengan Buchonya. Remaja itu terlihat binggung dengan jawaban gadis pengawal Kyuubi." Bukanya, ia akan langsung menghukum si baka itu karena telah berani menghinanya?"
Takumi tersenyum, lagi." Bagi sebagian Youkai, perkataan Blode-san memang menyingung. Namun,," Takumi mengalihkan pandanganya menghadap Naruto, gadis itu mengerling saat melihat pemuda itu membuang muka tak perduli.",,,Untuk Yasaka-hime kurasa tidak. dia tak terlalu suka formalitas kau tahu!"
"Tap-"
"Bisa aku melihatnya?"
Issei mendengus kasar ketika Sona memotong ucapanya. Permintaan sang Sitri mendapat angukan dari Takumi. Dengan pelan dan tanpa suara Sona berdiri dari kursinya, ia melangkah pelan kesamping ranjang menghiraukan Rias yang juga ikut berdiri di belakangnya.
"Takumi-san!" Sona menengok kearah gadis yang tengah berdiri disampingnya." Bisa tolong tunjukan padaku?, mungkin aku bisa membantu!"
Tanpa menjawab Takumi langsung menyibak selimut Kuning yang menutupi seluruh tubuh sang Kyuubi kecuali kepalanya, menampilakan sepenuhnya tubuh sang pemimpin para Youkai di Kyoto. Tubuh mungkil yang tak setinggi Rias atau Akeno, mungkin setinggi Sona, memberi kesan lemah untuk siapapun yang pertama kali melihatnya. Gadis itu mengenakan sebuah Kimono yang sewarna dengan rambutnya, bercorakan bulan sabit dan kepala rubah. Meniliki banyaknya gambar rubah ditempat itu membuat para iblis berangapan kalau hewan tersebut sepertinya sangat terhorman ditempat ini.
" Lihat kaki Hime-sama!"
Mendengar suara Takumi membuat masing-masing kepala yang awalnya hanya memfokuskan perhatianya pada tubuh dan wajah sang Kyuubi mulai menganti arah pandangnya ke bawah, lebih tepatnya kekaki Yasaka.
"Astaga!" satu kata itu berhasil tercetus mulus dari lisan tim Sona dan Rias yang bergender perempuan. Mereka menelan ludah masing masing dengan berat begitu menapati bahwa tubuh bawah milik Kyuubi yang berfungsi sebagai penopang terlihat sedikit coklat, sangat berbeda jauh dengan warna kulit tangan dan wajahnya yang putih bersih.
Mendapat respon sedemikian rupa dari Tim Sona dan Rias, Takumi kembali tersenyum kecut. Sebagai pengawal sekaligus penjaga sang tuan, dia sudah sangat sering mendengar respon seperti itu dari setiap pengunjung Kyuubi.
" Apa aku boleh memeriksanya?" Sona menatap kembali kearah Takumi.
Takumi balas menoleh. Gadis itu menganguk." Silakan Sona-san!"
Setelah mendapat persetujuan Takumi, Sona langsung mengeser badanya mendekati kaki sang gadis penyandang gelar Kyuubi. Gadis penerus tahta Klan Sitri itu meraba dengan hati-hati kaki seukuran miliknya itu, mengetuk pelan untuk memastilan bahwa yang dikatakan Takumi pada mereka bukanlah kebohongan.' Benar-benar menjadi batu!'
" Bagaimana Sona-san?" Suara Takumi terdengar penuh harap.
Sona tak menyahut, ia terlalu fokus mengamati fenomena aneh didepanya." Setahuku tak ada racun yang mempunyai efek seperti ini. Baik itu dari kaum kami, malaikat ataupun malaikat jatuh." Sona mengangkat tanganya guna menaikan kacamata yang sempat melorot. Fioletnya menatap serius pada sosok Takumi, yang lagi-lagi tersenyum miris. Melihat ekspresi gadis itu Sona tahu bahwa kata-katanya tadi sudah sering gadis itu dengar dari para tabib Youkai yang menangani Kyuubi. Sinar penuh harap yang beberapa waktu lalu terpancar di ruby Takumi kembali meredup begitu tahu bahwa iblis sekalipun tak mampu menolong tuan putrinya.
"Jad-"
"Tapi aku tahu sihir apa yang bisa berbuat seperti ini!". Sona berkata santai. Tak sadar bahwa kata-katanya berhasil membuat semua mahluk dalam ruangan memandangnya tajam penuh akan rasa ingin tahu dan harapan.
"B-benarkah?" Takumi yang sedak awal selalu berusaha bersikap tenang pun akhirnya mulai menunjukan rasa ketertarikanya. Gadis itu bahkan mungkin tak sadar kalau tanganya yang dari tadi meremas-remas ujung kimononya mulai mengendur. Pancaran harapan kembali terlihat dari Rubynya.
Sona menganguk." Hanya satu mahluk yang bisa melakukan ini!"
" Kautahu mahluk apa yang bisa membuat hal seperti ini Sona?" Rias mendekati sang sahabat. Sepertinya ia juga tak kalah penasaranya dengan Takumi dan para budaknya serta budak Sona sendiri.
Sona tak langsung menjawab, ia berbalik dan menatap Rias tajam membuat Heries Klan Gremony itu merindig tak nyaman.",,,Medusa"
Rias memiringkan kepala dan mengangkat alisnya binggung. Hal itu dilakukan juga oleh sebagian besar iblis di dalam ruangan milik sang Kyuubi." Apa?"
"Ck." Sona berdecak jengkel, apa sahabatnya ini tak pernah membaca buku di perpustakaanya?. Dengan tampang kesal yang tak disembunyikan ia kembali menatap Rias dengan serius." Medusa Rias, apa kau tak pernah membaca isi perpustakaan di rumahmu hah?". Melihat gadis cantik bersurai merah itu nyengir malu membuat Sona yakin bahwa Rias memang tak pernah mau menghabiskan waktunya ditempat penuh buku seperti dirinya. Menghiraukan Rias yang masih cengar-cengir gak jelas, Sona mengedarkan pandanganya keseluruh penghuni ruangan. Begitu melihat wajah-wajah blo'on dari mahluk-mahluk disekelilingnya membuat sang Sitri harus tabah hati." Dasar!"
" Maaf Sona-san, bisa kau lanjutkan?".
Suara Takumi kembali menyadarkan Sona dari rasa jengkel, gadis itu menghela nafas untuk menengkan diri." Medusa adalah mahluk mitologi dari barat yang menurut legenda memiliki tubuh setengah manusia dan setengah hewan. Mahluk ini memiliki sihir yang ia keluarkan melalui mata. Siapa saja yang menjadi objek pandang Medusa dikabarkan mahluk apapun itu akan berubah menjadi batu, tapi menurut buku yang pernah aku baca Medusa sudah sangat lama mati, ia dibunuh oleh Peseus dengan cara memengal kepala Medusa."
Sona tak menceritakan lebih lanjut karena memang hanya itu yang bisa otaknya ingat. Gadis berkaca mata itu kembali mengedarkan pandanganya, lagi-lagi ia mendengus begitu mendapati mahluk disekelilingnya hanya bisa menganguk-angukan kepalanya.
" Jadi Sona, menurutmu Kyuubi terkena tatapan mata Medusa!?" Rias mencubit dagunya seraya bertanya pada Sona.
"Kurasa tidak!" Sona menjawab cepat. Gadis itu memandang tubuh Kyuubi lalu mengalihkanya menuju Rias." Kalaupun Kyuubi-sama terkena sihir Medusa, bukan hanya kakinya saja yang membatu, tapi seluruh tubuhnya."
Rias menghentikan aktifitasnya. "Maksudmu bukan Medusa yang membuat Kyuubi seperti ini?". Entah hanya perasaan Rias saja atau tidak, namun menurutnya Sona seperti tengah memainkan sebuah kuis dimana ia berperas sebagai salah satu persertanya. Gadis Sitri itu terlalu banyak menyimpan teka-teki yang membuat Rias sulit memahami arti kata-katanya.
Sona mengeleng, membuat Rias semakin memaksa otaknya untuk berfikir keras." Mengingat Medusa sudah mati, kurasa bukan dia pelakunya. Menurut saksi ia bertarung dengan seseorang bukan, Takumi-san?" Sona menganguk begitu Takumi membenarkan.
"Apa Sona-san tahu bagaimana mengobati efek dari sihir Medusa?". Kata Takumi dengan nada berharap yang ia tujukan pada Sona.
Sona kembali menganguk." Menurut info. Efek sihir Medusa hanya bisa dihilangkan dengan sesuatu yang 'murni'. Apa maksud kekuatan' murni' itu aku sendiri tidak tahu!"
"Sesuatu yang murni?' Rias dan Takumi membeo. Kedua gadis itu terlihat berpikir keras untuk memecahkan teka-teki itu.
"Ara-ara,,,, apa mungkin maksud dari kata murni adalah hal yang suci?" Akeno yang sedari awal hanya diam saja meyimak mulai bersuara. Gadis bertubuh wow itu maju selangka mendekati Rias yang tengah memandangnya binggung.
" Eh Akeno? Darimana kau bisa berkata seperti itu?" Rias mengernyit, kurang yakin dengan pendapat Quin-nya.
"Kurasa kau benar Akeno!" Sona sepertinya berpendapat sama dengan gadis iblis setengah malaikat jatuh itu." Mengingat Medusa adalah monster dengan sihir jahat, jadi tak mustahil kalau cara menetralisirkan sihirnya dengan mengunakan hal-hal yang bersifat Suci!"
" jika itu benar berarti kita hanya perlu memberikan sesuatu yang suci pada tubuh Yasaka-hime?" Takumi berkata dengan sangat bersemangat. Mereka yang ada disana bahkan yakin melihat bintang di kedua mata gadis itu." Tapi, kalian kan iblis tak mungkin memiliki hal yang suci". Sinar itu kembali meredup begitu sadar bahwa mahluk-mahluk di sekelilingnya adalah iblis, bukan malaikat.
Para iblis terdiam mendengar apa yang dikatakan Takumi. Gadis itu benar, mereka adalah mahluk yang sangat dibenci oleh cahaya, mana mungkin memiliki hal seperti itu. Di antara wajah-wajah murung itu secara mengejutkan Rias menepuk tanganya dengan sangat kerah hingga berhasil membuat Sona dan Akeno yang ada disampingnya berjengit kaget.
"Aku tahu siapa yang bisa membantu kita!" gadis itu berteriak giarang, menghiraukan tatapan tajam Sona padanya." ASIA, kemari!"
Tubuh Asia berjengit ketika namanya di suarakan dengan cukup keras oleh sang King. Ia dengan sedikit ragu melangkah mendekati Rias. Belum juga ia bersuara mempertanyakan maksud kingnya memanggil, gadis pirang itu kembali di kejutkan ketika Rias langsung merangkul pundaknya begitu ia berada disamping tubuh sang putri Gremony.
" Asia adalah gadis suci, meski ia iblis namun dia adalah gadis yang sangggaaaaaaat baik!" Rias menekankan kalimatnya pada kata 'sangat'. Saat melihat tatapan ragu dari Sona dan Takumi, Rias malah nyengir lebar." Selain itu Asia juga pemilih Twilight Healing, Scared gear yang membuat dia mendapat pangilan The Hoiy Priestess oleh pihak gereja. Kalau para penghuni gereja saja sampai memberikan nama itu padanya berarti dapat dipastikan kalau ia adalah gadis yang suci!" Rias mengakhiri pidatonya tentang Asia, gadis itu mengeratkan rangkulanya di leher sang mantan biarawati.
Wajah Asia memerah pandam begitu mendengar rajanya sendiri dengan penuh kebangaan memujinya, dalam rangkulan maut Rias gadis yang menyimpan perasaan pada Issei itu tersenyum tulus. Akhirnya tiba saatnya ia dibutuhkan. Dengan sangat pelan ia menengok kepalanya kesamping, iris hijau jernihnya menatap kearah sang naga berharap pemuda itu juga menatapnya dengan pancaran bahagia ataupun bangga. Namun apa yang di harapkan tak terkabul karena pemuda yang sudah mencuri hatinya itu kini malah sibuk mengoda Koneko.
'Issei-kun' dengan sedikit kecewa ia segera membuang muka, baginya terlalu menyakitkan saat orang yang kau sangat sayangi tak mempehatikanmu.
"Kau siap kan Asia!"
Suara penuh harapan dari Rias kembali menyentak Asia, gadis itu dengan canggung mendongkak menatap wajah rajanya. Begitu melihat senyum lebar Rias, Asia kembali tersenyum. Semangatnya kembali di pompa saat sadar kalau Rias tengah mengandalkanya, setidaknya senyum bangga Rias berhasil mengobati hati gadis manis itu.
Dengan penuh keyakinan dan semangat Asia menganguk." Tentu Bucho, apapun akan kulakukan!"
Rias terkekeh geli melihat gadis itu mengepalkan tanganya dengan penuh semangat." Hehehe,,,bagus Asia!"
Setelah menimbang-nimbang usulan Rias cukup lama, akhirnya Sona dan Takumi sepakat untuk mencoba ide sang gadis Gremony. Asia duduk bersimpuh diujung rajang Kyuubi, wajah gadis itu awalnya terlihat sedikit ragu, takut andai-andai berkahnya tak bisa membantu sang Kyuubi. Rias yang mengerti sifat kurang percaya diri Asia mulai memberi dorongan dengan menepuk pucuk kepala gadis itu, memberi senyuman dan dorongan batin.
Tak ingin mengecewakan Kingnya, Asia dengan sangat serius mulai mendekatkan kedua tanganya pada kedua kaki Kyuubi. Secara perlahan cahaya hijau muda menguar dari kedua tangan mungil gadis itu.
' kau bisa Asia!' batin Asia menyemangati dirinya sendiri.
Seraya menunggu Asia melakukan pengobatan pada Kyuubi, anggota tim Rias, tim Sona serta Takumi memilih memgambil jarak, memberi ruang pada gadis mantan abdi tuhan itu agar tak merasa terganggu dengan keberadaan mereka.
-0-0-0-0-0-
Di dalam ruangan besar bernuansa klasik yang dipenuhi kegelapan sepasang mata hijau tajam terpancar dari salah satu sosok yang kini terlihat tengah duduk di sebuah kursi di ujung meja besar dengan beberapa tiga kursi disekelilingnya. Sosok itu memandang sosok-sosok lain yang yang ada disekelilingnya satu persatu sebelum bersuara.
"Bagaimana Tifa?" suara berat yang sosok itu keluarkan menandakan bahwa ia adalah seorang pria dewasa.
"Semua siap, Zuko-sama!" suara feminim menyahut dengan datar.
"Hahahaha,,,akhirnya, sebentar lagi aku bisa mencabut nyawa-nyawa tak berguna para Youkai busuk itu!" sosok lain didepan sang gadis yang dipangil Tifa ikut bersuara, nada yang ia gunakan terdengar berat serta mencekam.
"Bersabarlah, Ran!" Zuko mengangkat salah satu kakinya kemeje, bergaya layaknya bos-bos Yakuza masa kini." Segera siapkan pasukan kita, Sun!"
"Hai!" Sosok yang di pangil Sun oleh Zuko langsung beranjak dari tempat duduknya. Sosok itu menghilang begitu saja dari ruangan setelah sebelumnya membungkuk pada Zuko yang sepertinya ketua dari tiga orang itu.
" Tifa, kau awasi terus tempat Kyuubi berada saat ini!" melihat sang gadis menganguk, Zuko mengalihkan tatapanya pada sosok lain didepan Tifa." Poles pedangmu setajam mungkin Ran. Karena besok, banyak leher yang harus kau tebas!" melihat sosok Ran menyeringai keji membuat Zuko ikut menyeringai.
" hehehehe,,,dengan senag hati Zuko-sama!"
Zuko berdiri, kedua tanganya direntangkan selebar yang ia bisa kesamping," Besok,,, dapat ku pastikan, bahwa Kyoto,,, akan menjadi-milik-kita,,, HAHAHAHAHAH!"
-0-0-0-0-
Apa yang di katakan Rias sepertinya memang benar tentang kemampuan Asia, gadis itu ternyata meski telah menjadi iblis masih saja memiliki sesuatu yang suci dalam dirinya. Namun itu saja sepertinya tak cukup untuk Asia memulihkan keadaan Kyuubi.
Dalam kurun waktu kurang lebih tiga puluh menit, usaha gigih Asia memang mulai menampakan hasilnya ,beberapa senti tubuh Kyuubi yang membatu sedikit demi sedikit mulai kembali normal, hal ini membuat Takumi tanpa sadar berteriak girang melihat akhirnya ada yang bisa menyembuhkan penyakit tuanya. Kebehasilan ini bukan hanya membuat Takumi seorang bergebira, tapi para iblis juga.
Namun, kebahagiaan itu tak berangsur lama ketika melihat satu-satunya iblis yang bisa menyembuhkan sang Kyuubi mulai oleng sebelum akhirnya terduduk letih dengan nafas memburu. Rias yang sadar bahwa energi Asia sudah terkuras segera menghampiri gadis itu.
"Asia, kau baik-baik saja?" tak dapat di pungkiri bahwa Rias sangat khawatir melihat salah satu budaknya seperti ini, gadis itu meski tersenyum dan menjawab'baik-baik saja' tapi Rias tahu bahwa Asia tidaklah baik-baik saja. Wajah pucat dan nafas nya yang memburu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa gadis manis bersurai pirang itu mengalami kelelahan fisik.
"Aku tak apa Bucho, biar kulanjutkan."
Sumpah. Ingin sekali Rias menampar wajah sok kuat mantan biarawati itu. Tapi ia mengurungkan niatnya karena ia juga paham kesembuhan Kyuubi adalah priyoritas utama misi mereka. Namun sekali lagi, Rias adalah Gremony, Klan iblis yang selalu menyayangi budak-budaknya bagai keluarga. Misi memang penting bagi Rias, tapi keluarga,, jauh lebih penting.
"Issei!" Rias berteriak tanpa mengalihkan pandanganya dari Asia.
Issei yang masih asik bergurau dengan Akeno menoleh kearah Kingnya." Apa Bucho?"
Kini Rias mengalihkan perhatianya dari Asia ke Issei." Gandakan kekuatan Asia, tambah energinya!"
"arhhggg Bucho,,, Booster Gear ku untuk bertarung !" Issei mengerang, sepertinya pemuda itu engan untuk melakukan perintah Kingnya saat ini."Lagian bukankan Asia tadi bilang kalau ia baik-baik saja!"
Rias mencelos, matanya sedikit terbuka menyiratkan ketidak percayaan." Kau,,," Rias menghentikan apapun kata yang akan ia ucapkan begitu budaknya kembali mengalihkan pandanganya pada gunung kembar Akeno yang memang berada dekat di depanya. Selama ini meski telah diberi tahu oleh Sona dan Koneko tentang kelakuan Issei yang mulai berubah Rias tak pernah percaya sedikitpun, gadis itu terlalu menyayangi Issei bahkan hanya untuk berfikir buruk pada pemuda itu. Tapi kali ini, setelah melihat langsung perubahan itu mau tak mau kepercayaanya mulai memudar ketika secara tak langsung Issei menolak membagi kekutanya Untuk Asia.
Rias masih ingat dulu ketika Issei dengan nekatnya menyelamatkan Asia dari tangan malaikat jatuh yang ingin memanfaat kekuatan gadis manis itu, bagaimana pemuda itu membelanya dari olok-olok Xenovia dan bagaimana keseharianya dengan Asia. Jadi kenapa sekarang pemuda itu menolak hanya untuk memberi energi tambahan untuk Asia, pada gadis yang katanya akan selalu ia jaga. Lagian ia tak akan rugi.
Rias mengalihkan pandanganya pada Asia, meniliki bagaimana rupa gadis itu mengetahui penolakan Issei. Seperti dugaanya, wajah Asia yang selalu nampak ceria kini terlihat sangat menyedihkan. Gadis bersurai sewarna darah itu bahkan menahan tubuhnya untuk tak segera mendekap tubuh mungil itu ketika melihat air mata yang mulai menyeruak keluar dari kelopak mata Asia yang terpejam, sepertinya gadis itu masih menahan benda cair itu untuk keluar.
Sona dan timnya hanya diam menyaksikan semua itu. Mereka sadar benar ini bukanlah masalah yang bisa mereka campuri, urusan Rias dan budaknya harus diselesaikan oleh dirinya sendiri. Rias adalah Raja dari tim itu sudah sepantasnya bila ia bisa mengatur semua kelakuan bawahanya sendiri.
"Apa-apaan kau Issei?" Xenovia mendelik galak pada rekan setimnya itu." Lakukan saja perintah Bucho, toh kau tak akan rugi juga!"
Lagi-lagi Issei mendengus." Aku lelah Xenovia-chan.!"
"Tapi Issei—"
"Sudahlah Kiba, kau jangan ikut-ikutan!" Issei menunjuk wajah Kiba dengan jari tengahnya, membuat pemuda paling terkenal di Akademi Kuoh itu membisu.
Naruto menatap tajam sosok Issei.' Inikah sang naga yang diceritakan Kaicho waktu itu? sang Naga perkasa yang bisa mengalahkan pewaris salah satu Klan elit di neraka?' Naruto mendengus. Semua cerita tentang kehebatan Issei yang diceritatakan Kaichonya pada saat ia baru menjadi iblis ternyata nol besar. Kisah Issei yang baik dan penyayang ternyata hanya dongeng semata.
Pemuda pirang itu mengalihkan pandanganya kearah Rias dan Asia berada. Melihat tubuh Asia yang bergetar membuat Naruto binggung, namun saat melihat jelas wajah membiru gadis itu Naruto paham, ia berasumsi kalau gadis itu kelelahan akibat terlalu banyak menyalurkan energinya pada Kyuubi. Tiga puluh menit memgeluarkan energi secara nonstop sepertinya membuat gadis itu kelelahan.
Setelah membulatkan tekatnya, Naruto perlahan bangkit. Berjalan perlahan mendekati ranjang, berfikir bisa setidaknya untuk memberi sedikit bantuan pada gadis muda itu.
"Nii-san? Kau mau kemana?" Ruruko menarik Ujung baju Naruto.
"Oh, Ruko-chan, aku mau kesana membantu Asia-chan!" Naruto tersenyum, telunjuknya mengacung ketempat Asia dan Rias berada.
" Memang apa yang mau kau lakukan?" Tsubaki ikut memberi pertanyaan pada pemuda itu. Sang gadis ahli Naginata sepertinya juga penasarang akan apa yang Naruto lakukan untuk membantu Asia.
"Eeemm, menyalurkan energiku!"
Sona yang mendengar perdebatan para anggotanya menoleh kearah Naruto." Bukanya sudah kujelaskan tadi kalau energi iblis kita tak bisa menyembuhkan Kyuubi-sama, dia hanya bisa disembuhkan oleh energi murni, bukan demon." Sona kembali menjelaskan pada pemuda pirang itu bagaimana aturan penyembuhan Kyuubi.
Naruto nyengir menagapi perkataan kingnya." Kita lihat saja nati." Dengan pedenya bocah ninja itu maju melewati Sona yang menatap kepergian Naruto dengan salah satu
Alis terangkat.
Tsubaki mendekati Sona." Apa tak apa Kaicho?"
Sona menoleh kesamping menghadap Tsubaki." Entahlah?" ia menaikan bahunya Acuh.
"Asia-san, kau bisa menghentikanya sekarang dan melanjutkanya esok hari!" Takumi yang sudah berada disamping Rias dan Asia berusaha membujuk Asia, tapi ketika melihat lagi-lagi gadis kuning itu mengeleng ia pasrah.
"A-aku pasti bisa!" meski pelan namun suara Asia masih sangat jelas ditelinga dua gadis itu. Tanpa bisa dicegah oleh Rias maupun Takumi, Asia kembali menyentuh tubuh bawah Kyuubi dan kembali mengalirkan Twilight Healing miliknya.
Baru beberapa saat saja Asia kembali menyalurkan berkahnya pada tubuh Kyuubi, tiba-tiba badanya kembali melemas. Gadis itu mengigit bibir bawahnya untuk menahan keinginan mengerang. Ia tak boleh berhenti disini, Bucho sangat mengandalkanya. jadi ia tak boleh mengecewakan gadis merah itu. Dengan bermodalkan semangat, Asia memaksakan tubuhnya untuk tidak bergetar.
Setelah berada di belakang Rias, Naruto menepuk pundak gadis itu. Rias memutar kepalanya kebelakang begitu merasakan sentuhan di pundaknya. Adik Maou Lucifer itu menatap bingung sang pemuda yang hanya di balas senyum dan lambaian tangan, menyuruhnya untuk diam dan tenang. Begitu melihat Rias menganguk tanpa kata, Naruto langsung berlutut dibelakang tubuh Asia dan dengan perlahan meletakan telapak tanganya kepungung Asia.
Putra satu-satunya Namikaze Minatao dan Uzumaki Khusina itu mulai memejamkan matanya. Chakra yang biasa ia gunakan untuk membentuk Jutsu ia pusatkan ketelapak tangan yang kini bersentuhan dengan pungung Asia.
Hal seperti penyaluran cakra pada tubuh individu lain bukan hal yang baru untuk Naruto. Ketika hidupnya masih di dunia Shinibi ia dulu cukup sering melihat bagaimana Sakura atau Tsunade melakukan hal seperti ini. Lebih dari itu Naruto juga ingat, waktu penyelamatan Gaara dirinya pernah melakukan penyaluran cakra pada tubuh Chiyo-bassan ketika wanita tua itu menghidupkan Godaime Kazekage dengan salah satu jutsu terlarang yang ia ciptakan sendiri.
Mengingat hal itu, membuat Naruto semakin optimis bahwa ia bisa membatu gadis pirang itu demi menambah pasokan energinya untuk menyembuhkan Kyuubi. Dengan Chakra yang bisa ia produksi oleh tubuhnya, Naruto kembali berasumsi bahwa energi miliknya termasuk dalam energi murni, karena menurut teori yang pernah ia dapat semasa ia di akademi Ninja, Cakra adalah energi yang berasal dari tubuh dan tak sedikitpun terkontaminasi oleh energi demon, intinya Cakra bisa digunakan untuk mendukung Asia.
Mata Asia membulat ketika merasakan sensasi dingin di pungungnya yang semakin lama semaki menyebar keseluruh tubuh. Entah karena apa namun gadis itu perlahan mulai tersenyum begitu mendapati tenaganya mulai naik dengan pesat. Cahaya hijau yang keluar dari ke dua tanganya mengalami pertambahan luas yang awalnya hanya sebatas pingang kini mampu menyelimuti seluruh tubuh Kyuubi. Harus Asia akui energi yang berasal dari siapapun dibelakangnya membuat ia merasa sangat nyaman, rasanya begitu namun dingin menyejukan, bagai dihempas oleh semilir angin musim semi.
"Arigato" Asia bergumam pelan menyampaikan rasa terimakasihnya pada siapapun yang mau dengan sukarela membantunya.
Naruto tersenyum mendengar suara lemah Asia yang tertangkap indra pendengaranya." Jangan sungkan Asia-chan!".
Rias memandang Naruto dan Asia bergantian. Berbagai macam petanyaan mengalir dalam benaknya ketika secara perlahan melihat tubuh Asia kembali tegak. Raja dari tim Gremony ini memfokuskan pandanganya pada wajah Naruto dengan mata menajam. Diri-nya ingin sekali bertanya pada pemuda itu tentang apa yang sudah ia lakukan pada Asia, sehingga membuat gadis yang tadinya terlihat sangat kelelahan kini mulai membaik.
Tapi niatnya untuk bertanya pada budak Sona yang sati itu ia urungkan begitu mendapati ekspresi serius diwajah Naruto. Melihat dampak nya pada Asia menambah keyakinan untuk Rias agar tak menganggu pemuda itu, lagian dari yang dilihat sejak kedatangan Naruto kondisi Asia semakin membaik, berarti pemuda itu tak bermaksud buruk, malah membantu.
" R-Rias-san, lihat!"
Rias segera mengalihkan pandanganya dari kesamping begitu mendengar suara Takumi, begitu mendapai gadis itu tak menoleh kearahnya dan malah menunjuk ketempat tidur Kyuubi, membuat Rias semakin penasaran. Rasa ingin tahu Rias terpuaskan begitu Green Fores miliknya mengikuti arah jari Takumi mengacung memperlihatkan padanya kaki Kyuubi yang awalnya membatu kini telah mulus seutuhnya, tanpa ada warna coklat sedikitpun menghiasi kaki jenjang itu.
"S-sembuh?". Bisik Rias terbata. Gadis itu sangat tak menyangka kalau proses penyembuhan Kyuubi akan secepat ini setelah dibantu oleh Naruto. Apa sebenarnya yang bocah itu lakukan hingga bisa membuat semua ini berakhir dengan cepat. Padahal seingat Rias proses menormalkan tubuh Kyuubi yang membatu pada awalnya memerlukan waktu yang cukup dengan berkah istimewa Asia sekalipun.
" Yazaka-hime!". Secara sepontan Takumi memekik. Luapan kegembiraan nampak sangat jelas dari nada suaranya saat melihat tubuh pemimpianya yang mulai memperlihatkan tanda-tanda kesembuhan. Suara Takumi yang cukup kencang bukan hanya berhasil membuyarkan pemikiran Rias, ia juga dengan sangat sukses mengalihkan perhatian tim Sona dan tim Rias, membuat sekumpulan iblis itu berduyun-duyun mengerubungi ranjang tempat Kyuubi berada.
-0-0-0-0-
Didalam sebuah ruangan minimalis sesosok tubuh tampak terbaring terlentang menghadap atap dengan pandangan menerawang. Blue safir dan Only miliknya yang tadi terasa berat entah mengapa kini malah tak bisa tertutup walau sang pemilik sudah sangat berusaha.
"Argggg!". Untuk kesekian kalinya erangan keluar dari mulut Naruto. Pemuda yang baru-baru ini menjadi iblis melampiaskan rasa kesalnya dengan menjambak surai kuningnya sedikit keras, tak perduli kalau kegiatanya akan menyebabkan rambunya rontok. Naruto terlalu malas memikirkan hal itu, dirinya kini hanya ingin istirahan, badanya pegal akibat pukulan-pukulan Tenku, tenaganya terasa habis karena ia salurkan kepada Asia. Hanya dengan Istirahan ia bisa mengembalikan kondisi fisiknya seperti semula.
Tapi ketika Takumi sudah mempersilahkan tempat isatirahat untuk dia yang kata gadis itu sebagai ungkapan trimakasihnya karena telah ikut serta dalam pemulihan tubuh tuanya, Naruto entah kenapa malah tak bisa menyelami alam mimpi." Sepi sekali!"
Tangan tan miliknya mencengkram erat selimut tebal yang membalut tubuhnya. Pandanganya ia edarkan mengamati ruangan itu, dinding putih yang terbuat dari kertas berbahan kayu, sebuah kursi dan meja sederhana tanpa cermin terbengkalai dipojok ruangan tak jauh dari tempat Naruto berada. Setelah bosan menjelajahi tempat dimana ia sekarang berada, matanya kembali bergulir dan terhenti begitu menemukan sebuah jendela kaca di sebelah kananya.
" Aku benci suasana seperti ini, terlalu sepi!" tubuh yang awalnya sudah terbujur diatas futon mulai bangkit. Pemuda itu berjalan mendekati jendela dengan tangan terkulai santai disisi tubuh.
Srek.
Suara derit pelan terdengar begitu tangan tan pemilik surai kuning emas memilih membuka kaca pembatas antara ruangan dengan dunia luar. Dinginya angin malam yang menjilat tubuh, Naruto hiraukan saat matanya menagkap pemandangan didepanya.
" Hehe,, seperti dulu!". Naruto mengangkat tanganya guna menyibak anak rambut yang turun menghalau pandaganya. Rasa rindu sedikit mengelitik hati pemuda itu ketika pemandangan hutan di depanya mengingatkan ia denga kampung halaman, tempat jauh yang sudah tidak mungkin ia datangi." Apakah kalian baik-baik saja sekarang?"
Sreek...
" Uzumaki-san!"
-0-0-0-0-
Beberapa saat lalu.
Merasa sudah cukup, Asia mulai melepaskan energi dari kedua tanganya yang dari tadi ia salurkan ke tubuh Kyuubi. Gadis itu tersenyum begitu mendapati usahanya tidak sia-sia.
"Kau berhasil, Asia"
Suara Gembira Rias yang ia tunjukan padanya membuat gadis mantan biarawati ini semakin memperlebar senyumnya ketika rasa senang dan haru menelusup kehati. Asia mengedarkan pandanganya kesamping kiri dan kanan saat merasakan banyak pasang mata yang mengepungnya. Begitu mendapati Timnya dan tim Sona memandangnya dengan Rasa bangga sukses membuat gadis dengan rasa percaya diri kecil itu menunduk malu, sekaligus senang.
" Hebat Asia-chan."
"Asia kau heba.t"
"Bagus Asia!"
" A-arigato mina!" Asia bahkan nyaris menangis saking senangnya saat mengetahui pujian-pujian itu ditunjukan padanya. Selama ini hanya sedikit orang yang memuji dirinya akibat tubuh yang lemah dan kemampuanya yang menurutnya kurang berguna, jadi mendapat hal baru seperti ini kontan saja membuat Asia nyaris pingsan.
" Arigato, Asia-san". Asia nyaris memekik saat tubuh kecilnya masuk dalam dekapan Takumi." Arigato, Arigato!".
Meski tulang belakangnya terasa nyeri karena dekapan Takumi yang terlalu kuat, namun Asia tetap tersenyum, bisa menolong orang lain merupakan kebanggaan baginya. Gadis itu bahkan tak berontak saat Takumi semakin mengencangkan pelukanya.
"S-sama-sama, T-Takumi-san"
" Kau bisa mematahkan tulang Asia, Takumi-san". Rias berusaha melepaskan dekapan Takumi pada tubuh Asia. Gadis merah itu sepertinya mengerti keadaan Asia yang sedikit kurang nyaman dengan respon sang Inu.
Begitu sadar tindakanya malah menyakiti Asia, Takumi dengan segera melepaskan dekapanya." Gomen Asia-san!". Dia meraba-raba tubuh Asia, memastikan kalau dirinya tak melukai gadis manis itu.
Asia memengang tangan Takumi yang mengerayanginya, dan menuntun tangan gadis itu untuk menghentikan kegiatanya. " Tak apa, Takumi-san!".
Takumi menganguk." Arigato!". Setelah Asia mengangguk gadis itu beranjak kebelakang Asia, menedekati sosok pemuda pirang yang tampak kelelahan. Asia tak bisa melihat siapa pemuda itu karena terhalang oleh tubuh Takumi.
" Ara-ara,,,Kau hebat Asia-chan!"
Asia tersenyum mendapati pujian Akeno." Arigato,,,Akeno-senpai!"
"Bagus Asia-chan!"
Senyum Asia sedikit luntur ketika sosok Issei ikut nimbrung di dekatnya, pujian dari sosok itu tak serta merta membuat Asia melupakan kejadian beberapa waktu lalu. Namun seperti yang dikatakan Rias tadi tentang betapa sucinya gadis itu, tanpa dendam atau ketidak sukaan Asia perlahan mencoba kembali tersenyum, berusaha melupakan kata-kata Issei yang ditujukan padanya ketika ia membutuhkan bantuan." Ya,, Issei-kun!"
Kegiatan selanjutnya dilanjutkan dengan Sona memberikan air mata Phoenik demi mempercepat kesembuhan Kyuubi. Asia memilih mengistirahatkan tubuhnya di salah satu kursi ditemani Kiba yang sengaja melepaskan diri dari kumpulan para iblis disekitar ranjang Kyuubi. Sedikit rasa aneh mengelitik otaknya saat memikirkan keadaan tubuhnya yang tamoak masih bugar walaupun ia baru saja mengeluarkan energi begitu banyak ketika mengobati Kyuubi. Tak mau terlalu repot memikirkan hal itu Asia akhirnya lebih memilih diam. Matanya sedikit melirik kearah tim Sona ketika mendengar sedikit ribut-ribut dari tengah kumpulan itu
" Kiba-kun?" Asia membuka suara. Pandangan gadis itu tertuju pada Dua budak Sona, Saji dan Ruruko yang memapah sesosok pemuda berjalan keluar ruangan.
"Hem?" Tanpa menoleh, Kiba menyahut. Pemuda itu masih setia menatap kerumunan didepan mereka dengan pandangan bosan.
Giok hijau jernihnya menatap samping wajah Kiba." Uzumaki-san kenapa?"
Kiba memutar kepalanya menatap Asia." Kurasa dia kelelahan!" pemuda iblis itu mencubit dagunya sok berfikir." Setelah melawan Tenku-sama dan menyalurkan energinya padamu, aku yakin Naruto-kun kelelahan!"
Asia memiringkan kepalanya." Membantuku?"
Kiba tersenyum dan menganguk." Dia yang tadi menyalurkan energi anehnya padamu Asia-chan.!".
Asia menganguk, mulutnya membentuk huruf 'O'. Sekarang ia tahu energi dingin yang tadi merasuk dalam tubuhnya ternyata milik teman sekelasnya yang beberapa saat lalu terlibat perseteruan dengan sosok Tenku. Ia kembali mengulirkan matanya ketempat terakhir kali melihat pemuda itu, dan hanya menemukan pintu kosong. Pertanda pemuda itu sudah dibawa pergi kesuatu tempat oleh Saji dan Ruruko.
' Arigato, Uzumaki-san!'
Lebih dari satu jam tim Sona dan Rias berada didalam ruangan Kyuubi sebelum akhirnya mereka di persilahkan oleh tuan rumah untuk beristirahat. Takumi menuntun kedua tim keruangan yang sudah disiapkan khusus untuk tempat istirahan para iblis selama di Kyoto. Rias dan para anggotanya menempati sebuah kamar yang cukup luas dengan sepuluh futon tertata rapi di atas tatami yang disusun berbaris tepat di tengah ruangan. Sementara Sona dan timnya menempati sebelah kamar Tim Rias , sebuah ruangan dengan model yang sama dengan kamar tim Rias.
Asia menatap sebuah pintu geser didepanya dengan ragu. Tangan kananya yang tadinya sudah terangkat menyentuh hendel pintu kembali ia tarik. Gadis itu menarik nafas kemudian membuang, melakukan hal itu berulang ulang berharap mampu untuk sekedar menenagkan perasaanya.
" Ayolah, Asia!" Dia mengepalkan tanganya lalu kembali menyentuh hendel pintu yang sempat ragu ia buka. Dengan tangan bergetar ia mengeser pelan pintu itu kesamping.
Srek..
"Uzumaki-san"
-0-0-0-0-0-
Mendengar suara gesekan pintu, Naruto segera mengalihkan pandanganya. Tanpa merubah posisi yang saat itu tengah bersandar di sisi jendela, Ninja muda itu menatap sosok yang baru saja memasuki kamarnya dalam diam. Sharinganya tiba-tiba aktif ketika pemuda itu tanpa sadar memincingkan matanya berusaha melihat sepenuhnya sosok baru yang wujutnya masih tersembunyi oleh bayangan gelap ruangan.
"U-uzumaki-san!"
Mata Naruto memincing semakin tajam begitu suara itu kembali terdengar dengan nada yang sangat pelan." Asia-chan?". Melihat sekilas surai pirang panjang sosok itu, Naruto mencoba menebak.
Asia menganguk. Kedua tanganya meremas ujung baju yang ia kenakan dengan kuat. Ia sama sekali tak menyangka kalau kedatanganya akan langsung disambut tatapan mengerikan yang berasal dari mata merah milik sang penghuni ruangan yang saat ini ia datangi." I-iya."
Naruto mengangkat alisnya bingung saat mendapati adanya rasa takut dari nada yang dikeluarkan Asia.'ada apa denganya?'. Tak menangkap adanya bahaya dari gadis itu membuat Naruto mematikan Sharinganya.
Asia takut-takut mendongkak, saat tak lagi melihat merah darah milik Naruto, tanpa sadar gadis itu membuang nafas lega.
"Ada apa Asia-chan?".
Tubuh Asia kembali menegang saat mendengar sosok di depanya kembali bersuara.
"A-Ano,,, a-aku,,". Kurangnya interaksi dengan pemuda itu membuat Asia grogi sendiri, jawaban yang sudah ia persiapkan sebelum masuk keruangan ini hilang begitu saja.
Tak mendapat respon dari Asia selain kata 'aku' membuat Naruto semakin penasaran dengan apa yang ingin disampaikan sosok itu." Apa?" Naruto mulai meningalkan jendela yang masih terbuka.
" Ano,,, U-uzumaki-san,,," Asia yang masih menunduk tidak sadar kalau Naruto sudah berdiri didepanya. Memperhatikan tingkah gadis manis itu dengan tatapan tertarik. Entah mengapa melihat Asia dengan gaya malu-malunya mengingatkan Naruto dengan salah satu Konoichi didunianya dulu, Hinata Hyuga.
"Tenaglah,,aku tak akan memakanmu hehehe"
Secara reflek Asia mendongkak ketika merasakan gerakan-gerakan acak membelai kepalanya. Di suguhi cengiran hangat dari sosok didepanya membuat tubuh Asia sedikit merasa rileks.
" A-aku hanya ingin mengucapkan terimakasih atas bantuan Uzumaki-san tadi" akhirnya niat awalnya tersampaikan juga.
Naruto menarik tanganya yang tadi mengacak kepala Asia" Oh,,,Kau tak perlu berterima kasih padaku."
" Tidak bisa!" Asia menyahut tegas. Sadar ucapanya yang terlalu berani,Asia kembali menunduk." T-Tanpa bantuan Uzumaki-san, aku pasti tak bisa menyembuhkan Kyuubi-sama!"
Naruto menhela nafas, ternyata tak hanya sifat malu-malunya yang sama. Sifat rendah diri gadis ini juga sama dengan Hinata." Ck,, kau terlalu merendah Asia-chan!" Naruto menyilangkan tanganya didepan dada." Meski tanpa suplai cakra dari ku, aku yakin kau masih bisa menolong Kyuubi."
Asia mengeleng." Tidak, tanpa energi milik Uzumaki-san, aku pasti tidak bisa!"
Naruto menaikan alisnya, sangsi." Kenapa kau seyakin itu!"
"Karena aku lemah!". Kepala berbalut surai pirang miliknya semakin menunduk. Meski suaranya lebih mirip bisikan namun suasana sepi ditempat ini membuat Naruto dapat mendengar dengan cukup jelas gumaman Asia.
" Siapa yang bilang kau lemah!". Pemuda itu bisa melihat gadis didepanya mengeleng, yang dapat Naruto artikan sebagai jawaban'tidak ada'." Jikat tidak ada, kenapa kau bisa seyakin itu kalau kau ini lemah?"
Asia mendongkak menatap langsung blue safir Narutoyang nampak bercahaya di gelapnya ruangan." Memang itu kenyataanya!". Dia mengalihkan pandanganya dari wajah Naruto ke jendela yang masih di biarkan terbuka." Boleh aku masuk? Terlalu lama berdiri membuat kakiku pegal."
"Ah". Naruto mengaruk belakag kepalanya." Tentu, hehehe!"
Asia kembali memandang wajah pemuda di depanya, ia tersenyu saat melihat cengiran humor dari paras Naruto." Terima kasih!". Asia melangkah melewati Naruto menuju jendela.
Naruto megikuti langkah Asia, ia membiarkan pintu ruangan yang tak sempat ditutup oleh Asia tetap terbuka. Naruto tidak menutupnya karena takut akan ada hal-hal yang tak di inginkan, andai saja ada orang lain yang melihat Asia berada diruanganya. Bagaimanapun juga Naruto cukup tahu, jika dua sososk berbeda gender dalam satu ruangan tertutup bisa menimbulkan pemikiran negatif bagi sebagian orang yang melihatnya. Dan Naruto tak menginginkan hal itu terjadi.
" Jadi,,," Naruto menyandarkan tubuhnya disamping kiri jendela. Matanya menatap langsung wajah Asia yang kini tengah fokus melihat pepohonan. Gadis itu tampak tak tergangu sedikitpun dengan dinginya angin malam, duduk tenang ditengah jendela membiarkan kaki-kakinya mengantung di samping jendela. Letak jendela yang cukup tinggi dan tubuh Asia yang terbilang pendek membuat kaki gadis manis ini tak menyentuh lantai saat dirinya memilih duduk di atas fentilasi ruangan yang ditepati Naruto.
Asia mengayunkan kakinya. Tatapan matanya lurus kedepan memandangi sudut-sudut hutan." Hem?"
Naruto memutar matanya bosan." Jadi apa maksud kata-katamu yang tadi!".
"Oh!". Asia menghentikan ayunan kakinya. Sekilas memori saat Rating Game melawan tim Raiser melintas di kepalanya. Saat itu ia sangat ingat, bagaimana ia tidak bisa berperan seperti anggotanya yang lain, tubuhnya yang terlalu lemah untuk bertarung menghalagi setiap apa yang otaknya inginkan. Ia berbeda, tidak berguna, Asia sadar bahwa dia tidak bisa seperti Akeno, Kiba, Issei bahkan Koneko. Di saat semua anggotanya bertarung habis-habisan ia malah bersembunyi dibalik pungung sang Bucho. Pelayan macam apa dia ini.
" Tanpa ada yang mengatakanya pun aku sadar kalau aku memang lemah!". Kepalanya ia tundukan, lebih memilih menatap tanah coklat jauh dibawah jendela dengan tatapan kosong." Saat bertarung aku selalu di lindungi. Tubuhku yang terlalu lemah tak bisa membantu Bucho dan lainya menghadapi musuh, a-aku hanyalah beban!".
" Otu hanya anggapanmu saja". Naruto menyilangkan keduatanganya didada. Matanya terpejam, menikmati desisan angin dan suara mahluk nokturnal dari dalam hutan.
Asia menatap pemuda disampingnya dengan manik hijau jernihnya yang mulai sayu." Andai saja begitu.". dia menghirup dalam-dalam udara segar Kyoto hingga memenuhi paru-parunya, membuangnya pelan seakan benda tak kasat mata itu sangat berharga.
Naruto membuka kelopakmatanya kembali, ia beringsut medekati Asia." Kau bodoh!"
Asia diam tak membalas atau pun mencela, ia mengeser tubunya saat tahu Naruto mendekatinya. Gadis itu tidak protes saat pemuda itu kini berdiri disampingnya, meletakan kedua tanganya yang berfungsi sebagai tumpuan keatas jendela yang saat ini ia duduki." Aku setuju!"
Naruto mendengus meremehkan betapa pendeknya pemikiran gadis disampingnya." Kau mau mendengar kisahku?". Melihat bagaimana gadis manis di sampingnya yang sudah terlalu terjerumus kedalam lubang putus asa membuat Uzumaki muda ini iba. Ia berfikir bagaimana caranya membangkitkan krisis percaya diri Asia?, mungkin sedikit kisah masa lalunya sepertinya bisa ia pakai.
Hheh?" Asia menghadap langsung wajah Naruto." Kisah Uzumaki-san?". Gadis mantan biarawati itu memiringkan kepalanya imut.
Naruto tersenyum dan menganguk. Melihat betapa polosnya Asia membuat Naruto menahan diri untuk tidak mencubit pipi tembem gadis itu." Kisah Ninja" Naruto mengedipkan satu matanya mengoda.
" Ninja?" mata Asia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya terbelalak kemudian berbinar." Aku mau,,aku mau!"
"Hahaha,,," Naruto tergelak tanganya secara seponta mengacak surai kuning emas milik Asia lembut.
Asia menunduk, wajahnya memera malu." M-Maaf!"
Naruto menghentikan tawanya." Kau juga harus belajar agar tak terlalu sering mengunakan kata Maaf!".
"Ugh,,aku akan berusaha!" Asia kembali mendongkak." Ceritanya!"
"Hah,,, baiklah !" safir itu menatap wajah Asia sebelum kemudian menatap langit." Kau tahu Asia, aku mempunyai seorang teman yang memiliki sifat hampir sama denganmu. Dari kecil tubunya sangat lemah, di usianya yang ke sebelas tahun ia bahkan kalah beradu fisik dengan adiknya sendiri yang berselisih umur tiga tahun lebih muda dari umurnya. Orang-orang disekelilingnya,bahkan ayahnya sendiri tidak yakin bahwa dia pantas menjadi seorang Konoichi."
Naruto tersenyum saat bayangan Hinata tiba-tiba terlintas di otaknya." Aku yang awalnya juga tak begitu memperhatikanya, begitu tercengang ketika kami menghadapi ujian Chunin babak ke-dua. Dari sana angapanku tentang nya mulai berubah, meski di hadapkan dengan musuh yang sangat kuat dia terus bertarung, bertarung dan terus bertarung. Tak peduli dengan orang lain yang menyuruhnya mundur karena mengangap dia tak akan mungkin mampu melewati musuhny saat itu. Ia bahkan tak menghiraukan tubuhnya yang sudah terluka, kakinya yang bergetar karena tak kuat menopang berat badanya sendiri dan tenaganya yang sudah terkuras. Dengan bermodalkan semangat dia terus merangsek, masa bodoh dengan tubuhnya tang sudah kehabisan energi, ia masih terus memukul dan menendang dengan segala kemampuanya."
" Apa dia berhasil?" Asia mendengarkan dengan antusias tinggi. Gadis itu membuka telingganya lebar-lebar. Meski hanya cerita namun dia bisa merasakan bagaimana gigihnya sosok 'dia' dalam cerita Naruto.
Naruto menoleh kearah Asia. Pemuda itu tersenyum miris, membuat tubuh Asia tanpa terasa melemas." Dia gagal,,,"
Asia mendesah kecewa."Begitu ya." Ia berkata lrih.
" Lawanya masih terlalu kuat untuk ia hadapi meski dia telah mengeluarkan semua kemampuanya. Hampir semua sistem cakra ditubuhnya tertutup dan beberapa organ dalamnya hancur. Dengan luka seberat itu dia hampir saja tewas seandainya waktu itu tim medis tak langsung menangganinya."
Asia memilin ujung bajunya sendiri dengan sangat kuat hingga membuat pakaian yang ia kenakan kusut. " L-lalu"
Naruto kembali tersenyum, kali ini bukan senyum miris atau cengiran melainkan senyum lembut yang sangat menengelamkan. Senyum khas seorang Namikaze Minato." Ketika semua orang kembali mengira ia telah menyerah, namun sekali lagi ia menepis semua itu. Nyaris mati bukanlah halangan untuknya, ia justru malah semakin kuat karena semua itu. Suatu hari aku melihatnya berlatih seorang diri didalam hutan. Melihat bagaimana ia dengan semangat mengayunkan tinju dan tendanganya kebatang pohon membuatku tanpa sadar tersenyum, ia sangat gigih. Mencoba begitu keras untuk menjadi lebih kuat, agar bisa diakui oleh semua orang."
" Benarkah? sekeras apa latihanya?"
" Hem" Naruto menganguk. Matanya terpejam dan tanganya menyentuh dagu membuat Asia berangapan bahwa pemuda itu tengah berfikir.",,, Melihat tangan dan kakinya yang selalu berlumuran darah setelah selesai latihan. Kau dapat memperkirakan sendiri bukan?"
Asia menelan ludahnya dengan paksa. Membayangkan tangan dan kakinya berlumur darah akibat terlalu sering dan keras menghantam benda padat membuat Asia ngeri sendiri, meski dirinya tak merasakanya secara langsung namun ia bisa membayangkanya." Apa latihan kerasnya berhasil?".
Naruto menatap Asia. Melihat binar harapan dari sepasang permata Green milik gadis itu membuat Naruto terkekeh. Ia kembali mengangkat tanganya untuk mengacak surai kuning Asia." Kabar terakhir yang aku dengar, dia menjadi salah satu Ninja wanita terkuat disana, dan bukan hanya itu saja, dia juga berhasil mendapatkan kedudukan sebagai pemimpin Klan!"
" Waow!" Mata Asia berbinar, gadis manis itu tersenyum lebar ketika mendegar akhir kisah Naruto."Uzumaki-san, boleh aku tahu siapa dia yang kau ceritakan itu?"
"Hem?". Naruto berguman, ia memutar tubuhnya, menghiraukan Asia yang terus memohon untuk sebuah jawaban." Hah,,,leganya!" Naruto mendesah bersamaan dengan bokongnya yang terhempas diatas futon dan pungung yang bertemu dengan diinding.
Asia dengan tergesa turun dari jendela dan berlari mendekati Naruto." Ayolah Uzumaki-san, beritahu aku!" Dia mencoba membujuk Naruto dengan duduk bersimpuh samping pemuda itu bersandar. Tak mendapat respon berarti dari Naruto membuat Asia berinisiatif mengoyang tubuh Naruto sedikit keras." Ayolah Uzumaki-san!".
Naruto terus diam, melihat wajah merajuk Asia memuat ia ingin lebih lama lagi mengoda gadis manis itu. Naruto memejamkan matanya,hal ini sukses membuat Asia semakin mengeraskan suaranya. Gadis itu merajuk, sangat lucu sekali!.
"Ayolah Uzumaki-san, aku mohon!". Saat paksaan tak berhasil, Asia menganti setrateginya dengan memohon.
"Peffff,,,bwahahahahaha!" pertahanan Ninja itu akhirnya runtuh. Wajah Asia dengan mata berkaca-kaca dan bibir mengerucut sukses besar meruntuhkan diding pertahanan Naruto." Kau manis sekali Asia-chan!"
"Mou,, jangan menertawakanku, Uzumaki-san" Asia mengembungkan pipinya jengkel.
"Hahahaha,,,gomen-gomen!" Naruto menegakan tubuhnya menatap langsung sepasang permata hjau bening Asia." Namanya adalah, Hyuga Hinata."
Asia menganguk puas." Dia gadis yang hebat!"
Naruto memincingkan matanya, heran." Dari mana kau tahu kalau dia itu seorang gadis?"
" Karena menurutku nama Hinata terkesan feminim, agak jangal rasanya kalau nama itu digunakan oleh laki-laki". Melihat Naruto menganguk-anguk polos membuat Asia terkikik. ternyata pemuda itu tak sekaku seperti yang awalnya Asia duga, mengobrol dengan Naruto membuat Asia cukup terhibur.
" Nah Asia, sekarang apa kau tau alasan mengapa aku menceritakan tentang Hyuga Hinata padamu?"
Asia menghentikan tawanya, kepalanya mengeleng polos. Ia tak tahu kenapa pemuda itu menceritakan kisahnya, bukanya Naruto bercerita tentang sosok Hinata untuk menghiburnya saja ya?.
"Hah!" jawaban kelewat jujur Asia tak urung membuat Naruto untuk kesekian kalinya menghela nafas. Kayaknya gadis didepanya ini memang kelewat polos. Setelah mendengar kisah yang menurut Naruto panjang itu, apa dia tak bisa menagkap sedikit saja pesan yang Naruto sembuntikan dalam kisah sang Hyuga?. Ini masalah Asia yang terlalu bodoh atau Naruto yang kurang mahir dalam menginspirasi seseorang, entahlah.
" Begini Asia-chan. Aku menceritakan kisah barusan bertujuan untuk membuktikan padamu bahwa tak ada seorang pun di dunia ini yang tidak berguna. Hinata bisa menjadi kuat karena ia mempunyai sifat pantang menyerah dan keyakinan yang sangat tinggi. Dirinya tahu, meski ia lemah tapi tak menutup kemungkinan untuk nya bertambah kuat. Demi mewujudkan impianya, Hinata terus berlatih agar kemampuanya terus berkembang, meski pernah terjatuh, namun ia akan bangkit dan menjadikan kejatuhanya itu sebagai pendorong, bukan penghambat." Tangan Naruto tergerak, mulai menyentuh dagu lancip Asia lembut. mengangkatnya sedikit agar keduanya bisa saling bertatapan.",,, jika Hinata saja bisa, kenapa kau tidak? kamu hanya butuh sedikit keyakinan dan usaha Asia-chan."
Tubuh Asia sedikit demi sedikit mulai bergetar, Iris hijau jernihnya mulai berkaca-kaca ketika bertemu pandang dengan black and Blue yang menatapnya lembut, penuh akan harapan dan keyakinan. " A-aku berbeda dengan Hinata-san!". Melihat pemuda di depanya mengeleng, Asia berusaha menunduk, namun tangan Naruto yang masih memegang dagunya membuat Asia mengurungkan niatnya dan memaksa ia terus beradu tatap dengan kedua mata berbeda warna milik Naruto yang menurut Asia terkesan menuntut.",,,Hinata bisa bertarung, sedangkan aku tidak. Aku hanya bisa berdiri dibelakang tim, menunggu mereka terluka untuk disembuhkan, dan jika diantara mereka tak ada seorangpun yang terluka aku,,,tak dibutuhkan!"
Naruto terdiam, otaknya kembali berputar mencari seribu macam kata yang bisa ia gunakan untuk mendongkrak semangat gadis itu. melihat airmata Asia mulai meleleh membuat pemuda itu meringis." Hey dengar. Menurutku kau itu bukanlah beban untuk tim mu. Menurutku kau dan kemampuanmu malah menjai berkah!". Satu tangannya ikut ia angkat untuk membelai pipi mulus Asia." Tanpa gadis sepertimu apa jadinya tim Rias jika salah satu di antara mereka terluka parah hah?"
"Kan ada air mata Phoenik!" Asia tetap bersikukuh dengan pendirianya, ia tak berontak ketika jemari-jemari Naruto menari-nari diwajahnya, bergerak lembut menghapus sisa cairan hangat yang tanpa sadar ia keluarkan.
Gemas dengan gadis didepanya membuat Naruto merubah alur gerakanya dari meraba menjadi mencubit. Pemuda pirang itu terkekeh saat Asia meringis." Air mata Phoenik bukan sesuatu yang mudah didapat Asia-chan, menurut Cerita Kaicho benda itu paling hanya diberikan pada masing-masing iblis keturunan darah murni saja, dan setiap iblis memiliki benda itu tak lebih dari tiga tetes." Naruo menagkup wajah Asia dengan kedua telapak tanganya." Coba kau bayangkan andai saja teman-temanmu terluka, dan saat itu persediaan Air mata Phoenik yang kalian miliki telah habis, apa yang akan kau lakukan?"
Asia terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab dengan sedikit ragu." A-Aku akan mengobati mereka!"
"Tepat sekali" Naruto nyengir, tanpa melepaskan kedua tanganya ia kembali memberi masukan pada Asia." Kemampuan istimewamu memiliki durasi lebih lama dari pada air mata Phoenik yang hanya bisa digunakan sekali pakai. Dari semua itu dapat aku simpulkan, kau dan kemampuanmu sangat di butuhkan dalam sebuah tim".
"B-benarkah,,,?"
" Yap!.". Naruto menjawab cepat. Melihat wajah sedikit berharap Asia membuat Naruto tak tahan untuk tak tersenyum." Sekarang mukin kau merasa belum terlalu berguna, tapi nanti, ketika musuh yang kalian hadapi semakin kuat dan banyak. Aku yakin, kau akan sangat banga karena telah memiliki berkah itu!"
Air mata Asia kembali mengalir, bukan karena sedih namun karena terharu. Ia terlalu senang saat tahu masih ada seseorang yang begitu percaya padanya ketika orang lain meremehkanya. Dengan perlahan tangan Asia yang sedari tadi bertumpuh pada lantai mulai terangkat dan menagkup kedua tangan Naruto yang masih setia mengapit setiap sisi wajahnya."Arigato, Uzumaki-san." Di sela airmata yang masih mengalir seulas senyum tulus dan lembut Asia tebar.
Atas segala motifasi dan keyakinan yang di berikan Naruto tanpa henti membuat gadis itu kini mulai menghormati pemuda didepanya. Dari pembicaraan ini, Asia baru tahu bahwa sosok didekatnya itu tak hanya kuat dan hebat dalam beladiri, dia juga sangat pintar dalam berkata, setiap ucapan yang dikeluarkan Naruto yang penuh makna membuat seorang iblis seperti Asia dapat melihat sisi lain yang ada pada dirinya. Sisi lain, yang selama ini ia sendiri tak tahu pernah ada. Sosok gadis lugu yang awalnya begitu rendah diri kini perlahan –lahan mulai bangkit, mencoba berdiri tegak seperti sosok 'Dia' dalam cerita Naruto, sosok kuat yang akan selalu berusaha berdiri meski badai topan berkali-kali menumbangkanya.
Demi teman-temanya,demi dirinya dan demi Uzumaki Naruto. Mulai detik ini Asia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mulai merubah dirinya, dari gadis pemalu yang polos dan lugu menjadi sosok baru seperti Hyuga Hinata yang tegar dan pantang menyerah.
" Kau cengeng sekali ya!" Naruto kembali menghapus airmata Asia yang masih saja mengalair. Pemuda itu menyentil hidung mancung Asia dengan pelan.
"Ugh,,A-aku tahu itu!" Asia menjauhkan wajahnya, gerakanya itu otomatis membuat wajahnya terlepas dari kekangan kedua tangan Naruto. dengan agak kasar Asia menghapus air matanya sendiri dengan pungung tangan.
"Dasar!"
Setelah Asia kembali tenang, keduanya kembali melanjutkan obrolan-obrolan mereka. Mulai dari sekolah, masa lalu dan kehidupan mereka sekarang. Asia yang sepertinya mulai tertarik dengan dunia Ninja setelah mendengar kisah Naruto mulai tanpa henti mendesak pemuda Uzumaki itu untuk kembali menceritakan kisahnya sebagai ninja. Di hadapkan dengan wajah memohon Asia, sulit untuk Naruto menolak. Tanpa beban Naruto menceritakan sedikit kisahnya dikonoha pada Asia kecuali tentang dirinya yang bukanlah mahluk yang seharusnya hidup di dimensi ini. Naruto berfikir, biarlah rahasianya terkuak sendiri seiring dengan terkikisnya waktu.
Perbincangan keduanya berakhir ketika Naruto menyuruh Asia untuk segera kembali kekamar timnya. Awalnya memang cukup sulit meyakinkan Asia untuk segera kembali, gadis itu terus ngotot ingin lebih banyak mendengar kiah-kisah ninja yang Naruto ceritakan. Naruto yang mulai jengkel akhirnya memberi alasan yang dapat membuat gadis baik hati seperti Asia akhirnya luluh dan sekarela mengikuti perintah Naruto. Pemuda itu bilang bahwa tubuhnya yang lelah butuh istirahat! Siapa sangka alasan singkat itu bisa membuat Asia menurut.
Dengan langkah gontai Asia mulai beranjak meningalkan kamar khusus Naruto. Namun saat mencapai pintu, Asia kembali berbalik dan bergerak cepat mendekati sosok Naruto yang masih duduk menyandar. Tanpa bisa dicegah Gadis yang sangat terkenal pemalu dan lugu itu memberikan sebuah kecupan singkat di pipi kanan sang pemuda sebelum akhirnya berlari cepat keluar ruangan, meningalkan Naruto yang berkedip-kedip ria tak menyangka.
-0-0-0-0-0-0-
Asia merebahkan tubuhnya di atas futon yang terletak diantara Xenovia dan Koneko. Senyum tak henti-hentinya ia pancarkan ketika mengingat interaksinya beberapa saat lalu dengan Naruto. Wajah gadis itu tanpa sebuah komando terlebih dahulu tiba-tiba tampak merona begitu teringan tindakan nekatnya sebelum ia keluar dari kamar sang Uzumaki.
'Huff,,tadi itu nekat sekali Asia!' Asia mengulingkan tubuhnya kesamping menghadap pungung Xenovia. Terlalu memikirkan tidakanya yang kurang pantas tadi membuat Asia resah sendiri, matanya yang sudah berat jadi agak susah terpejam.
" Bagaimanaya kisah Ninja-ninja itu selanjutnya?" Asia bergumam pelan, ia menguap sekali, menandakan bahwa fisiknya benar-benar butuh istirahat." Sudahlah, lebih baik besok saja kutanyakan lagi pada Uzumaki-san!"
Dengan senyum tipis kelopak mata Asia mulai tertutup. Malam ini ia mendapatkan pelajaran berharga dari seseorang yang sangat tidak ia duga. Niat awalnya yang hanya ingin berterimakasih kepada Naruto, malah mengantarkan dia kepada sesosok guru yang mulai detik ini akan mengubah garis hidup seorang Asia Argento. Melalui kisahnya Naruto menghiburnya, melalui doronganya, Naruto meberi semangat, melalui canda dan perlakuanya, Naruto meberinya sebuah senyum.
Dalam gelapnya ruang tanpa cahaya yang ia tempati, seulas senyum mereka dibibir Asia saaat otknya lagi-lagii memutar beberapa kisah dengan pemuda bersurai kuning salah satu anggota Osis dibawah kepemimpinan Sona.
"Arigato, Uzumaki-san!"
"TBC"
A/N: no komen untuk kali ini. Gw lagi puyeng.
Terserah lo mau memuji atau flame ni chapter, gw gak begitu perduli. Otak gw lagi muyeng mikirin kehirupan nyata gw yang kayaknya makin hari makin mengenaskan.
Ini mungkin menjadi fict terakhir yang bisa gw updet, setelah ini gw gak janji bisa updet lagi atau gak. Maaf bila ada diantara kalian yang kecewa ya. Sebenarnya gw juga masih pengen nglanjuti fict-fict gw, namun sekali lagi, dunia nyata tak seindah dunia maya. Berbagai persoalan silih berganti menghantam, membuat gw harus fokus menghadapinya.
Sekali lagi gw minta maaf ea,,, gw janji kalau masalah gw dah beres gw bakal balik lagi buat nglanjutin fict gw, namun waktunya kapan gw gak tau, bisa semingu, sebulan atau setahun? Gw gak tahu.
Cukup sekian dari gw.
Karasumaru,,,cayooooo!
