.
.
Naruto tidak ingat kapan terakhir kali ia mengecek warna kulitnya. Mungkin saat dirinya lulus kuliah. Atau ketika harus memilih warna kemeja untuk pernikahannya? Jika ia tidak salah ingat waktu itu Iruka bersikeras bahwa ia harus mengenakan warna kuning atau jingga karena ayah angkatnya itu beranggapan warna-warna bumi akan serasi dengan warna kulit Naruto yang cenderung warm.
Nyeri yang tengah mencengkram tengkorak Naruto saat ini membuatnya butuh lebih dari dua menit untuk menyadari bahwa lengan sepucat lobak yang terjulur ke depan dari bawah lehernya saat ini bukanlah lengan miliknya. Ia tidak pernah punya kulit seputih itu meski ia mendekam di dalam apartemennya selama bertahun-tahun.
Ia mengerang, mencoba berbalik. Namun ketika punggungnya terhalang oleh apa yang ia duga adalah sepasang dada bidang pria dewasa, matanya pun mendarat pada lengan lobak satunya lagi yang rupanya tengah melingkar kokoh di perutnya, otomatis membuat si pirang bertanya-tanya apakah ia dirangkul dalam posisi ini sepanjang malam?
Naruto mengerjap cepat. Berkali-kali. Berusaha memancing semua ingatan keluar dari saraf-saraf otaknya untuk diputar kembali.
Ia berhasil ingat menyambar sebotol vodka dari seorang pelayan bergigi aneh di pesta. Menegaknya, lalu terhuyung masuk ke dalam ruang kecil penuh dengan kain pel dan ember. Anehnya disana ada sebuah ciuman, ia tidak yakin, tidak dengan seberapa banyak ciuman yang terjadi di dalam sana atau pun dengan siapa ciuman itu terjadi, sangat gelap disana. Nyeri lagi-lagi menyerang tekuknya ketika ia berusaha mengingat detail lain yang terjadi di dalam ruangan pengap itu selain kalimat "Ingatkan aku".
Potongan memori selanjutnya adalah sebuah barner merah besar bertuliskan Love Hotel dan ada Sasuke di dalam kamar.
Ia dan Sasuke.
Tanpa busana.
Berciuman.
Naruto sontak merasakan sekujur kulitnya merinding. Ada lebih banyak potongan-potongan ingatan setelah di dalam kamar. Dan kesemuanya didominasi tubuh telanjang mereka berdua. Ada adegan dimana kedua tangannya tengah mendorong tubuh besar penuh peluh Sasuke yang nampak tengah memompa sesuatu di bawah sana sembari diiringi desahan-desahan eksotis entah dari siapa. Bagian bawah tubuhnya yang nampak begitu licin dan sangat terekspos juga muncul dalam potongan ingatan itu. Ia kemudian mengingat sensasi lidah Sasuke...yang sangat liar di dalam mulutnya juga di tiap inchi kulitnya.
Seketika itu juga ratusan titik yang semalam ia ingat telah disentuh bibir Sasuke spontan memanas. Membuat nafas Naruto tertahan di esofagus.
Crap!
Ia ingat apa yang terjadi... .
Memang tidak keseluruhan. Tapi ia tidak sebodoh itu untuk paham apa inti ingatan-ingatan vulgar tersebut.
Naruto terlonjak kaget saat dua lengan yang mengapitnya sedari tadi tiba-tiba bergerak disusul suara erangan rendah di belakang tekuknya.
"Kau sudah bangun dari tadi?" Tanya suara di balik punggung Naruto.
Si pirang tidak perlu repot-repot menebak itu siapa meski suara berat khas bangun tidur barusan terdengar sangat serak dan nyaris tidak familiar.
"...ti...tidak juga."
"Kau baik-baik saja?"
Naruto berani bersumpah bahwa rasanya seperti sebuah setrika panas baru saja ditancapkan ke atas kulitnya ketika telapak tangan besar pria di belakangnya itu menyentuh perpotongan pinggul Naruto.
"Apa masih sakit?" Suara itu bertanya lagi.
Baru setelah pertanyaan itu dilontarkan, Naruto pun baru menyadari betapa rongga anusnya terasa nyeri bukan main hingga ke dalam. Ia mencoba menarik pahanya naik beberapa mili dan seketika menyesalinya ketika nyeri di bawah sana justru bertambah ratusan kali lipat lebih perih.
"Akan kuambilkan pereda nyeri." Sosok itu menarik diri, melompat turun dari ranjang besar, mengobrak abrik isi laci lalu kembali ke hadapan Naruto dengan segelas air dan dua butir Aspirin.
Naruto nyaris lupa pada situasi apa yang sedang ia hadapi ketika pil-pil itu disodorkan padanya. Ia segera menggamitnya seperti orang kelaparan, nyaris menjatuhkannya. Buru-buru ia menegak dua buah benda mungil itu tanpa memperhatikan sekitarnya sama sekali. Jadi ketika ia selesai dan meletakkan kembali gelas ke atas meja laci, ia pun langsung tersendak dan nyaris memuntahkan seluruh air itu kembali dari hidungnya saat tatapannya tidak sengaja jatuh pada benda besar bergelantung di antara kedua paha Uchiha Sasuke yang tengah telanjang bulat di depan matanya.
"Oy! Kau baik-baik saja?!" Sasuke sontak merunduk panik, menepuk-nepuk punggung pria pirang yang terbatuk-batuk di atas ranjang.
"Aku baik-baik saja."
Sasuke memandangnya sejenak. Ia khawatir jika Naruto ternyata masih belum pulih dari mabuknya sampai minum obat pun tidak mampu. Tapi alih-alih mendapatkan kalimat lain dari si pirang, Naruto justru nampak mematung dengan wajah sedikit menghadap ke arah lain, menghindari kontak mata dengan Sasuke.
Sasuke menyadari gelagat itu.
Apa dia lupa? Sasuke membatin khawatir. Jika benar Naruto lupa apa yang terjadi, maka ia benar-benar harus bekerja keras untuk menjelaskan semuanya kekacauan yang terjadi di kamar hotel itu. Apa yang akan dikatakannya? Mereka hanya bermain truth or dare dan Naruto kalah sehingga ia harus melepaskan seluruh pakaiannya 'gitu? Lalu bagaimana ia akan menjelaskan nyeri yang dirasakan si pirang jika ia bertanya lebih lanjut?
Diatas semua itu. Bagaimana cara ia menghadapi Naruto versi sadar penuh setelah ia sudah resmi jadian dengan si pirang versi mabuk?
Ia benar-benar tidak siap. Tidak siap pura-pura menganggap Naruto sebagai sahabat lagi setelah semua hal luar biasa yang mereka lalui semalam.
Ia...tidak yakin bisa.
Sasuke bergerak mundur, menjauh. Tidak ingin menerka-nerka lebih jauh dan membuat isi kepalanya penat lebih dari ini.
"Aku akan mandi lebih dulu. Kau istirahlah sebentar lagi."
.
.
Kau tidak akan mau menghadapi kepala bodyguard Kyuubi hari ini. Sejujurnya, bahkan tidak satu pun dari bawahannya sendiri berani menegurnya.
Pria paruh baya berambut pirang dengan kulit segelap kulit pohon itu berada pada puncak kesabarannya sejak semalam. Ia menggeledah seluruh gedung ketika mendapati Tuan Muda-nya, Kyuubi Kurama, terbaring di atas sofa berselimutkan mantel putih dalam kondisi tubuh penuh memar dan luka. Sang tersangka sangat gesit, begitu pula partner-nya yang Darui yakin ikut berkamuflase di antara para tamu. Ia nyaris meminta separuh polisi Jepang menggeledah kota Tokyo hanya untuk menemukan jejak kedua buronan itu hingga pagi ini. Tapi nihil. Akatsuki selalu tau caranya menyelinap, dan Darui sudah muak bersumpah serapah akan hal itu.
Ini kali pertama dalam sejarah, Darui merasa dipermalukan dengan begitu keterlaluan. Bahkan sejak tali pusar Kyuubi pun belum kering, tidak ada yang pernah bisa menggoreskan luka lecet sekecil apapun pada Tuan Muda-nya itu di bawah pengawasannya. Dan si bajingan Uchiha Itachi dengan beraninya menyerahkan kembali Tuan Muda-nya dalam keadaan babak belur. Butuh lima dokter pribadi sekaligus yang disewa rahasia untuk merawat Kyuubi. Mereka sampai memberinya infus dan morfin sepanjang malam. Ada beberapa bagian yang harus diperban dan satu bagian khusus yang harus segera diberi suntikan antibiotik akibat robekan yang seharusnya tidak ada disana.
Apa yang dipikirkan Kyuubi? Membiarkan orang itu menyakitinya tanpa meminta tolong?
Ini pelanggaran berat!
Jika sampai ayahnya tau, Uchiha Itachi bisa dipastikan tidak akan hidup kurang dari 24 jam terhitung sejak ia meninggalkan gedung. Bahkan Akatsuki pun kali ini tidak akan memberinya perlindungan jika Klan Kurama mendeklarasikan perang terbuka.
Perang antar keduanya akan sengit tentunya, tapi Darui tau Klan Kurama akan menghancurkan mereka hingga menjadi buih meski itu berarti harus mengorbankan banyak hal.
"Tuan Kurama Muda ingin saya menyampaikan ini."
Satu dokter terakhir yang dipersilahkan pulang menghampiri Darui dengan sebuah alat perekam suara di tangannya. Darui mengarahkan salah satu pengawal untuk membawa dokter itu keluar gedung sebelum memutar perekam suara itu.
"Jangan beritahu pak tua." suara Kyuubi dari dalam kotak kecil yang Darui genggam masih terdengar kesakitan. Darui tau Kyuubi sengaja memilih perekam suara ketimbang membiarkan salah satu dokter menyampaikan langsung pesannya, karena majikannya itu paham jika ia akan lebih percaya jika ia mendengar suaranya langsung. "Aku...hng, aku yang urus sendiri. Dan...," suara-suara dokter memotong kalimat disitu, nampaknya Kyuubi baru saja kembali diberi suntikan morfin, karena setelahnya kalimat terakhir yang ia ucapkan terdengar sangat pelan dan lemah, "...jangan...memburunya...dia lebih, menderita." dan seorang dokter pun menyelesaikan rekaman tersebut.
Dua orang pengawal lain yang berjaga di pintu masuk kamar saling bertatapan sebelum beralih memandang pemimpin mereka, "Polisi sudah berhenti mencari sejak semalam, karena kami yakin Tuan Kyuubi pasti tidak ingin ayahnya sampai curiga jika ada keramaian. Jadi yang masih berkeliaran sekarang adalah orang-orang kita sendiri. Kau mau aku menyuruh mereka berhenti?"
Darui mencengkram alat perekam suara di genggamannya, membanting serpihan-serpihan plastik keras itu ke dinding lalu masuk ke dalam kamar tidur Tuan Muda mereka, "Lakukan saja sesuai perintahnya." Jawabnya ketus.
Ia menutup pintu, menguncinya dan berdiri disana. Kali ini ia akan menjaganya sendiri. Dan jika si bangsat Uchiha itu berani muncul lagi, ia harus memastikan bahwa ia harus memberinya ratusan lebam yang sama sebelum Tuan Muda-nya sempat membuka mata.
.
.
Buliran dingin memberi sensasi yang sangat memijat pada otot-otot tubuhnya ketika Sasuke mematung di bawah shower. Semakin lama buliran itu semakin dingin dan ia entah mengapa justru semakin menikmatinya. Ia mendongkak, meresapi lebih banyak lagi buliran beku di wajahnya.
Sembari memejamkan mata, ia bisa menghirup aroma orange dari sampo hotel yang, anehnya, sangat menyegarkan. Ia tidak pernah begitu suka dengan wewangian jeruk atau sebangsanya, hanya saja mungkin karena Naruto selalu menguarkan aroma buah itu, ia pun entah mengapa selalu dalam mood tenang jika mendapati aroma itu di tempat lain.
'Sas...bergerak. Hmnng...!'
Bola mata Sasuke sontak membelalak.
Shit! Kenapa pikirannya kesitu?
Ia memang menyukainya, oh GodI! Bukan cuman suka, dia benar-benar tergila-gila semalam. Naruto menerimanya dan akhirnya mereka bisa melakukan hal yang selama ini hanya ada di mimpinya.
Tapi bukan berarti Sasuke ingin mengingat itu sepanjang hari. Kemarin memang hari yang paling luar biasa dalam hidupnya, ia akui itu. Tapi ia tidak ingin memikirkan itu dulu sekarang. Ia harus rasional kembali...Naruto bahkan belum tentu ingat kejadian semalam...
'...agh! Kau terlalu be―ssh, terlalu cepat! Sas! Tunggu...mmngh...! Ah! Ahn! '
Damn it!
Sasuke memutar termostat shower ke suhu terdingin dan menciprati wajahnya begitu beringas sampai air beku itu menarik kembali logikanya.
Dengan horor ia mengintip ke bawah, khawatir apakah ia akan mengalami 'atraksi' pendamping di antara kakinya dan...
"Shit."
Okay, sepertinya ia akan butuh lebih banyak waktu di dalam kamar mandi.
.
.
"Kau lama sekali." Celetuk Naruto. Pria itu sudah lengkap dengan baju mandinya dan sepasang sendal hotel tipis. Ruangan itu bahkan telah jauh lebih rapi dari yang terakhir Sasuke ingat. Apa Naruto baru saja bersih-bersih?
Si pirang rupanya sudah bersiap gantian mandi sejak setengah jam yang lalu, tapi karena Sasuke tidak juga selesai ia berinisiatif untuk membereskan segala kekacauan di kamar itu lalu berakhir dengan duduk bersila di atas ranjang, memasang wajah bosannya.
"Maaf." sahut Sasuke, ia melangkah mendekat meninggalkan kepulan kabut tebal dari dalam kamar mandi, menggosoki rambut hitamnya dan berhenti tepat di kaki ranjang, "Kau bisa pakai kamar mandinya sekarang."
"Tunggu, coba lihat apa yang kutemukan." sahut Naruto. Seringaian di wajahnya membuat Sasuke mengerutkan dahi. Ia tidak yakin apakah Naruto ingat mereka sedang berada dimana. Atau ia sebenarnya ingat tidak dengan apa yang mereka perbuat semalam? Mengapa wajah musang ini terlihat begitu sumringah tiba-tiba?
Efek Aspirin? Tidak mungkin.
Sebelum Sasuke melanjutkan dugaan-dugaannya akan keanehan tabiat Naruto, pria pirang di hadapannya itu langsung mengeluarkan seonggok benda dari balik tubuhnya, mengangkatnya tinggi-tinggi untuk ditunjukkan pada Sasuke.
"Wig!" seru Naruto. Persis seperti anak lima tahun yang menunjukkan kue tanah liat pertamanya pada kedua orang tuanya.
Sasuke mendengus, "Lalu?"
"Aku belum pernah mengenakan wig seumur hidupku. Aku menemukan ini di kotak kado hotel. Aneh sekali bukan? Ada orang yang punya selera begini." cibir si pirang. Sebagai CEO dari perusahaan besar yang bergerak nyaris di banyak bidang bisnis, Naruto yang merasa aneh dengan fetish cosplay dalam sex cukup mengejutkan.
"Letakkan kembali, Nar. Kau mau mandi tidak?"
"Biar kucoba," potong si pirang. Ia menunduk sedikit, memasukkan kepalanya pada cap rambut palsu bewarna merah itu lalu menghempaskan kepalanya. Anehnya, wig itu terpasang sangat sempurna untuk seseorang yang bahkan tidak pernah menyentuh wig sepanjang hidupnya. Seolah ukuran kepala Naruto tercipta sempurna untuk wig itu.
Naruto langsung turun dari ranjang, mencari cermin dengan wajah geli dan berjingkat-jingkat di dalam kamar hotel. Sepenuhnya mengabaikan Uchiha Sasuke yang mematung tak wajar di tempatnya. Melotot penuh kengerian.
"Huh?" Merasa pria yang bersamanya tidak merespon kejahilan yang sedang ia lakukan, Naruto pun menengok dan menghampiri sang Uchiha yang masih nampak begitu horor memelototinya. "Hey, ada apa? Aku merasa tidak seburuk itu. Wajahmu bisa santai sedikit?"
Dengan terbata-bata, yang mana sangat aneh bagi Uzumaki Naruto lihat dari sosok paling cool sekantornya itu, Sasuke bergumam, "Wajahmu...baru saja sangat persis dengan... Kyuubi."
"Huh?"
"Wig merah itu. Kau persis sekali dengan Kyuubi dengan wig merah itu." Sasuke mengulangi. Mimik wajahnya masih tidak berubah. Berkerut dalam seolah tengah mencerna ribuan konspirasi dalam sekali teguk di dalam benaknya.
Naruto yatim piatu. Kedua orang tuanya tidak diketahui. Kyuubi yang seharusnya bisa membeli Gaiden inc. dalam sekali jentik jari tiba-tiba muncul dan malah memilih menjadi wakil Naruto yang baru dua kali secara resmi ditemuinya. Uang dan aset Kurama yang digelontorkan sangat mudah untuk mengatasi masalah-masalah di kantor Naruto. Dan sifat lembek Kyuubi pada Naruto yang sama sekali tidak beralasan.
Lalu sekarang Sasuke baru saja menyadari bahwa proporsi wajah Naruto rupanya punya kemiripan yang aneh dengan putra tunggal Tuan Besar Kurama itu.
"Jangan bercanda. Kau tau Kyuubi seperti apa. Dia sangat, uh, apa ya yang biasa orang katakan...hmmm, androgini? Nah! Aku sama sekali tidak merasa seperti itu. Aku sekali liat pun orang tau kalau aku laki-laki,"
"Kalau kau sedikit lebih pendek dan lebih kurus ditambah softlens merah. Kuyakin tidak akan ada yang bisa membedakanmu dengan Kyuubi meski perbedaan warna kulit kalian cukup kontras."
"Sas. Caramu menyamakanku dengan Kyuubi terdengar maksa sekali. Mana mungkin juga aku mirip Kyuubi?"
Aku pun ingin menanyakan hal yang sama. Sasuke membatin. Mana mungkin?
Sembari Sasuke merenungi pertanyaannya, Naruto dengan bingung kembali ke depan cermin dan berusaha mencari sudut wajah yang membuat Sasuke berpikir ia mirip dengan wakilnya itu. "Kau tau kenapa aku tiba-tiba kepikiran mencoba wig ini? Itu karena aku penasaran bagaimana kalau aku punya rambut merah. Kau tau 'kan saat Himawari lahir rambutnya itu bewarna merah sampai ia berusia lima bulan?" Ia menoleh, "Hinata bilang anggota keluarganya tidak ada yang berambut merah, jadi kurasa itu dari leluhurku,"
Setelah berkata seperti itu, Naruto sekali lagi memandangi pantulannya di cermin, namun karena merasa sama sekali tidak cocok dengan warna merah atau pun mendapati sudut yang bisa menyakinkannya bahwa ia mirip Kyuubi, ia pun akhirnya melenggang ke kamar mandi. Meninggalkan pria raven yang masih terkejut itu semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri
.
.
Kyuubi sadar lebih cepat dari yang para dokter perkirakan. Darui tidak yakin apakah itu harusnya membuat ia lebih tidak khawatir atau sebaliknya.
Tapi melihat pemuda merah itu kini bisa berdiri bahkan berjalan dengan kedua kakinya sendiri di dalam kamar tanpa merintih, sebenarnya, sedikit banyak telah membuat rasa kesal Darui telah berkurang di banding tadi malam.
"Ini dari siapa?" Kyuubi memecah. Menggamit amplop hitam polos bersegel dari atas meja di ruangan itu.
"Seorang pelayan memberikan itu kepada saya di pesta. Ditujukan kepada Anda."
"Dari?"
"Tanpa nama."
Kyuubi mengeryit. Memandang aneh pada kepala pengawalnya. Sejak kapan pria di depannya ini menjadi ceroboh? Memberinya benda yang tidak jelas dari pengirim tidak jelas.
"Kau tidak membukanya dulu?"
"Pelayan itu berkata hanya boleh dibuka oleh Anda."
Kyuubi semakin mengecutkan wajahnya. Ia tidak suka dibuat penasaran.
Ditatapnya amplop kecil itu. Tidak ada nama. Bahan kertas yang digunakan amplopnya sangat tebal jadi nyaris tidak dapat diterawang.
Setelah menimang-nimang, Kyuubi pun merobek segelnya dan menarik sebuah kertas yang tidak lebih besar dari jempol tangannya. Di atas kertas itu terdapat satu deret angka yang dipisahkan dua huruf.
34.836694, 137.221806 at 13.04
Tidak butuh waktu lama untuk putra Tuan Besar Kurama itu untuk segera menyadari teka-teki sederhana apa yang tengah di pegangnya. Ia lantas mengambil handphonenya dan mengetikkan deretan angka itu di mesin pencarian.
"Mereka menghubungimu?"
Mereka.
Kyuubi melirik. Ia masih ingat kalau ia dan kepala pengawalnya ini memang masih berdebat soal mereka sejak kemarin.
Dan, ya. Mereka menghubungi Kyuubi.
Lebih tepatnya, langsung mengundangnya.
"Kau tidak akan pergi." Tandas Darui ketika pemuda di hadapannya terlihat tengah menggamit sesuatu dari dalam lacinya. Ia menggunakan intonasi yang terdengar tidak terlalu membentak tapi cukup tegas. Pemuda merah itu tidak merespon, sama sekali tidak terkejut dengan kecepatan kepala pengawalnya itu untuk menebak apa yang tengah didapatnya.
Kyuubi berusaha untuk bersikap senormal mungkin ketika ia mengeluarkan sebuah korek gas kecil dan menyalakannya ujung kertas yang ia pegang dengan api.
"Aku tidak akan kemana-kemana. Ini sampah. Lain kali kau harus memastikan isinya bukan dari para penggemar tidak berotak seperti ini lagi." Tutur Kyuubi lalu membakar kertas itu hingga menjadi selembar abu yang melayang di udara.
.
.
"Biasakan untuk mengangkat teleponmu jika berdering. Itu bisa jadi hal penting."
Stasiun Tokyo tidak cukup padat di jam dua belas siang. Dan itulah alasan mengapa Kakashi Hatake mengajak suaminya tercinta untuk bepergian hari itu. Sayangnya, ia tidak pernah benar-benar bebas untuk liburan meskipun ia sudah mengatur jam mengajarnya sebaik mungkin.
"Kau dengar aku?"
Kakashi segera menoleh, mendapati ponselnya tengah disodorkan oleh pria berkulit eksotis dengan bekas luka melintang di wajah bijaknya yang sedang nampak kesal itu. "Kau tau kalau kereta kita nyaris tidak pernah delay?" sahut Kakashi dengan mata tersenyum.
"Aku bukan blasteran sepertimu. Aku besar di Jepang, dan yang barusan kau katakan itu tidak sepenuhnya benar. Ponselmu baru saja berhenti berdering."
"Oh."
"Tidak ada nama penelepon. Aku tidak yakin harus mengangkatnya, Lagipula kenapa aku yang harus memegang ponselmu?" Iruka menggerutu. Memasukkan kembali benda perak berkilau tersebut ke dalam mantelnya.
"Sama sepertimu, Iruka sensei. Aku lebih suka di-chat."
"Bisa jadi hal penting kalau mereka sampai menelpon."
"Atau bisa jadi mereka tidak tau. Lagipula jika itu benar-benar penting mereka pasti mengirim email setelahnya."
Iruka tidak ingin berdebat. Ia memilih untuk berdiri di samping pria perak tinggi itu dan sama-sama memandangi rel, menunggu kereta.
"Berapa lama rata-rata keterlambatan kereta kita?"
Umino Iruka terdengar menghela nafas, "Satu sampai lima menit kurasa. Dan kurang dari satu menit untuk Shinkansen."
"Hmm,"
"Ada apa?" tanya Iruka, tidak mengallihkan padangannya dari depan. Ia tidak perlu mengecek ekspresi Kakashi, bahkan tanpa masker pun ia sudah sangat hapal seperti apa rupa itu jika sedang melontarkan pertanyaan-pertanyaan remeh seperti sekarang. Mereka sudah bersama nyaris 37 tahun sekarang. Ia hapal luar dan dalam isi kepala itu. Dan ia sama sekali tidak senang dengan atmosfir kencan mereka hari ini. Mereka seharusnya sepanjang perjalanan membicarakan bagaimana keadaan mereka selama seminggu ini dan membahas jalan keluar tiap mereka menemukan masalah. Bukannya diam dan membahas hal remeh keterlambatan kereta yang bisa suaminya itu dapatkan jawabannya sendiri tanpa bertanya.
Tidak ada tanggapan. Iruka baru akan menyikut lengan suaminya kalau saja Kakashi tidak mengangkat sebuah amplop hitam kecil yang ia jepit diantara jemari telunjuk dan jari tengahnya di antara mereka sebagai respon cepat.
Kehidupan mereka tidak pernah penuh dengan rahasia. Semuanya dibagi rata. Jadi Kakashi sama sekali tidak merasa harus menyembunyikan yang satu itu juga dari partner seumur hidupnya tersebut.
"Seorang menitipkan itu untukku di meja bartender semalam di pesta Naruto." Ujar Kakashi, mengamati wajah penasaran Iruka ketika pria bermantel tebal itu mulai membuka amplop yang ia berikan dan mengeluarkan sepotong kertas kecil berisi deretan angka di dalamnya.
Kakashi tidak berharap banyak Iruka akan segera tau maksud angka-angka itu. Meskipun Iruka juga seorang guru sekaligus Kepala Sekolah Sekolah Dasar, Kakashi tau suaminya tidak pernah ingin begitu kompleks memasukkan banyak informasi ruwet ke dalam perpustakaan otaknya yang bijak itu. Jadi ketika Iruka kembali mengangkat wajahnya dan bertanya, "Ini apa?" Kakashi hanya bisa tersenyum dengan kesimpulannya.
"Jangan tersenyum. Aku tau arti senyum itu." Umino Iruka memicingkan mata, merasa dijahili. "Ini serius?" tanyanya lagi, mengangkat sepotong kertas di tangannya, "Ini hal serius atau hanya permainan tebak-tebakanmu? Kalau ini hanya permainan aku tidak akan ikut. Kau perlu mencari kawan lain yang punya hobi yang sama denganmu, bukan aku."
Meski nampak jengkel, Iruka masih terlihat tetap menunggu respon dari pria di depannya. Ada sesuatu yang lain. Ia tau itu.
Kakashi Hatake adalah putra dari mantan Menteri Luar Negeri Jepang, pekerjaan yang mempertemukan ibu Kakashi itu dengan seorang pria Amerika berambut perak misterius, ayah Kakashi, yang akhirnya diketahui merupakan salah satu anggota Federal. Setelah Kakashi lahir ia tinggal di Amerika selama hampir seluruh masa remajanya, dan kembali ke Jepang untuk bekerja selama tiga tahun sebagai syarat agar ia juga bisa masuk menjadi anggota FBI seperti ayahnya. Ia bertemu dengan Iruka ketika bekerja di yayasan pendidikan yang sama. Hubungan mereka menjadi sangat dekat lebih dari yang Kakashi berani bayangkan saat itu, ia bahkan membantu Iruka secara tenaga dan finansial membesarkan Naruto yang pemuda coklat itu putuskan untuk adopsi. Setelah tiga tahun bersama, dengan berat hati Kakashi memutuskan kembali ke Amerika, mengejar mimpinya, meninggalkan Iruka dan Naruto di Jepang. Kakashi berhasil melewati masa berat di Akademi Quantico dan segera mendapat posisi Intelligence Analyst setelah lulus. Baru setahun ia menggeluti posisi itu, Kakashi segera menemukan fakta mengejutkan mengenai siapa yang ia dan Iruka adopsi empat tahun lalu di Jepang dan langsung mengundurkan diri. Ia kembali ke Jepang. Melamar menjadi dosen tetap di salah satu Universitas di Jepang dan hidup bersama Iruka membesarkan Naruto hingga sekarang.
Kakashi tidak pernah bisa menipu Iruka jika sesuatu yang mereka sebut 'teka-teki' tengah mengalihkan Kakashi. Betapapun si perak sangat pandai menyembunyikannya. Bagaimanapun juga, sehebat apapun kau berbohong, nyaris mustahil mengelabui seseorang yang mengisi lebih dari setengah total usiamu.
"Kau belum menjawabku. Ini tentang Naruto?" Iruka menebak, mulai merasa tidak nyaman. Semenjak Kakashi kembali dari Amerika untuk hidup bersamanya puluhan tahun silam, segala tentang Naruto selalu menjadi topik yang berbahaya. Apalagi jika ada 'orang luar' yang menyentil mereka dengan teka-teki.
"Naruto aman." Jawab Kakashi, berusaha menenangkan. "Ia masih bersama Sasuke sekarang."
"Lalu ini apa?"
"Itu yang ingin aku cari tau. Bukan apa, tapi siapa yang akan kesana."
"Kesana? Maksudmu, ini alamat?"
Iruka kembali memelototi 34.836694, 137.221806 at 13.04 yang tercetak begitu kecil pada potongan kertas yang digenggamnya. Ia mendongkak dan sekali lagi melihat mata pria perak di depannya melengkungkan senyuman.
"Koordinat, sayang."
.
.
"Fuck! Aku tidak mau ikut check out! Kau saja sendiri!"
"Nar, kau pun juga sama-sama akan keluar dari pintu depan."
"Asalkan tidak berdua!"
"Kenapa?"
"Ke-Kenapa kau bilang?! Kita berdua berbatang!"
"...Lalu?"
"Sas!"
TING!
Naruto sontak menghempaskan punggungnya ke dinding elevator, memisahkan diri dari Sasuke, ketika pintu membuka. Sepasang muda mudi nampak malu ketika bertubrukan mata dengan si pirang dan pria raven yang bersamanya di dalam kotak besi itu sebelum mereka masuk.
Si pirang segera insecure mengartikan rona pipi pemuda pemudi itu sebagai bentuk kecurigaan bahwa ia dan Sasuke datang ke Love Hotel berdua. Berbeda dengan Sasuke yang sadar bahwa kedua orang yang masuk itu hanya malu karena berada di Love Hotel sepagi ini.
Meski masih sempat berdebat, proses check out pagi itu berjalan cukup lancar dengan bantuan diam seribu bahasanya si pirang ketika menemani Sasuke ke meja resepsionis. Ia bahkan tidak berbicara sama sekali selama mereka berjalan meninggalkan halaman Hotel.
"Kau tidak perlu menutupi wajahmu seperti itu. Justru akan terlihat mencurigakan."
Naruto yang tengah sibuk menarik-narik ujung kerah jasnya ke atas seperti penguntil minimarket bodoh hanya mendengus geram, "Kau tidak tau seganas apa paparazzi. Sai memberitahuku kalau mereka ada dimana-mana." Gerutunya.
Sasuke hanya mendengus, "Itu cuman buat menakut-nakutimu saja. Si pusar telanjang itu kuyakin tidak ingin majalah memajang fotomu dalam pakaian yang menarik selain jas dan kemeja."
Mendengar itu Naruto mengangkat wajahnya dari persembunyian, memandang lurus dengan ekspresi tidak nyaman, seolah tiba-tiba menyadari sesuatu yang mengganggu, "Aku...masih tidak percaya itu." Bisiknya, "Kau bilang Sai tertarik padaku, seperti kau tertarik padaku..." Ia juga ingin menyebut Shikamaru, tapi sangat yakin itu akan memperumit masalah, jadi ia pun memilih untuk tidak mengatakannya, "...aku masih tidak percaya orang-orang tertarik padaku secara seksual. Maksudku...mereka laki-laki." Tuturnya lebih hati-hati, meringis sejenak lalu bertanya. "Siapa saja?"
Sasuke tidak memandangnya ketika menjawab, "Kalau kau mau berpatokan pada jumlah orang yang aku secara pribadi curigai...," kata Sasuke menggantung, "...maka, lebih banyak dari yang kau bisa bayangkan."
"Ergh!"
"Kenapa?" Sasuke sontak berbalik oleh respon itu, "Kau jijik?" tanyanya mewanti. Bahkan setelah semua hal yang mereka berdua lakukan semalaman?
Uchiha Sasuke luar biasa senang ketika Si Pirang mengkonfirmasi bahwa ia ingat semua hal yang terjadi semalam. Bahkan ia ingat dengan kata kunci "Ingatkan aku," yang ia perintahkan padanya jika sampai Naruto lupa dengan ucapannya di dalam ruang perlengkapan.
Itu membuat Sasuke kegirangan. Setidaknya di dalam hati, betapapun ekspresi yang ia tunjukkan hanyalah sebuah senyuman ketika Naruto menkonfirmasi.
Sasuke tidak buru-buru menodong Naruto dengan pertanyaan 'Jadi sekarang kau dan aku pasangan?' melihat bagaimana CEO-nya itu segera berubah mood karena teringat lokasi mereka berada. Lima menit pertama sebelum mereka memasuki elevator saja tadi bahkan dipenuhi dengan omelan si pirang tentang betapa bodohnya keputusan Sasuke membawa mereka ke tempat yang sangat 'berbahaya' seperti ini. Bahaya untuk reputasi mereka berdua, reputasi perusahaan Naruto, reputasi-reputasi yang sebenarnya jauh lebih Naruto takutkan akan sampai ke telinga putra sulungnya, Boruto. Karena dibandingkan dengan seluruh aset yang telah ia genggam, ia jauh lebih ketakutan jika keturunannya akan mengingat ia sebagai Kakek Homo yang Tidak Tau Diri.
"Dengar, kau tidak perlu khawatir tentang paparazi. Kalau pun ada yang memotretmu bersamaku, hal pertama yang mereka pikirkan adalah kita berdua menyewa PSK ketimbang tidur berdua. Bagaimana pun kau seorang ayah dari dua anak dan aku pun punya Sarada dari...,"
"Sa...Sakura...," sambung Naruto terbata.
Sasuke merengut, seperti baru saja ditikam sebuah belati tepat di rusuk, "Aku tau. Kau pun tidak perlu khawatir soal dia. Aku...,"
"Bukan, Sas. Di...di belakangmu."
Dan tikaman itu pun terasa selusin lebih banyak setelah melihat seorang wanita berambut merah muda memakai topi jerami floppy turun dari mobilnya dan melangkah mendekati mereka sembari bertepuk tangan pelan penuh sarkasme.
.
.
"Kau akan kesana?" Tanya Iruka. Ia tampak kembali khawatir.
"Aku rasa kita sebaiknya pulang ke rumah."
"Tapi disini tertulis at 13.04 kurang dari satu jam dari sekarang."
"Mereka tidak mengingkanku datang." Kata Kakashi, mengambil potongan kertas dari tangan Iruka lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop, "Ini adalah imbalanku."
Belum sepenuhnya paham dengan kalimat itu, Iruka buru-buru menahan tubuh suaminya yang hendak melangkah pergi dengan kedua tangannya. Ia memandang iris mata itu tajam, meminta lebih banyak penjelasan. Jika ini berkaitan dengan Naruto, yang mana sudah pasti berkaitan dengan Naruto mengingat Kakashi mendapatkan amplop itu di pesta putra angkat mereka, maka ia tidak akan tinggal diam dan hanya mengunyah informasi mentah seperti itu begitu saja.
"Ini rahasia." Bisik Kakashi, tidak tau lagi harus membujuk seperti apa. Namun melihat Iruka sama sekali tidak melembekkan ekspresinya, ia pun akhirnya menghela nafas dan menyerah. "Ini, bukan untukku. Aku membantu seseorang, oke dua orang, masuk ke dalam pesta. Sebagai imbalan aku ingin mereka memberikanku benda yang sama persis dengan yang akan mereka berikan pada target mereka di pesta itu."
"Dan target dua orang ini adalah?"
"Itu dia pertanyaannya. Aku harus mengalihkan cukup banyak tamu agar mereka leluasa bergerak. Itu membuatku nyaris tidak bisa melihat kepada siapa amplop itu diberikan. Aku bahkan tidak melihat mereka berdua di dalam pesta itu. Kuyakin penyamaran mereka cukup luar biasa sampai bisa mengelabuiku."
"Mereka." Iruka mendesis, "Apa salah satunya adalah Itachi?"
Kakashi seketika membeku di tempat. Lebih waspada, mereka berada di tempat umum. Meski tempat ini sepi dan mudah untuk menemukan orang-orang yang mungkin saja tengah menguping, tapi Kakashi tetap meningkatkan kehati-hatiannya. Ia merunduk dan berbisik, "...dan partnernya."
Iruka sudah pernah diberitahu, saat Kakashi berada di FBI, pelacakannya sempat cukup dalam pada salah satu organisasi besar yang paling ditakuti di muka bumi itu. Akatsuki. Seluruh aset mereka yang didaftarkan secara resmi terbilang sangat bersih. Namun rumor bahwa mereka punya jaringan bawah tanah yang tidak kalah besar sangatlah mengganggu para penyelidik diseluruh negara. Masalahnya tidak ada unit intelegensi dari negara manapun yang berhasil menemukan bukti konkrit akan keberadaan bisnis ilegal yang Akatsuki miliki. Kehororan yang menjadi reputasi pekat organisasi yang kini dikendalikan sembilan orang setelah Orochimaru keluar tersebut sangatlah tersohor. Para mafia besar yang tertangkap kepolisian mengaku bahwa Akatsuki punya andil dalam banyak hal di dunia mereka, tapi tiap kali dilakukan menyelidikan, banyak hal aneh yang terjadi yang membuat mereka tak tersentuh. Barang bukti yang lenyap, saksi yang tiba-tiba mengatakan hal yang sebaliknya, hingga kepala penyelidik FBI yang tiba-tiba diundurkan oleh sang Presiden sendiri di waktu yang tidak masuk akal. Sangat ngeri jika ingin dibayangkan, Akatsuki seolah-olah sudah berada dalam sistem keamanan internasional itu sendiri.
Semua kehebatan itu akan masuk akal jika saja orang-orang tau siapa yang memegang kuasa di baliknya. Kakashi tau beberapa nama, dan yang pasti ia tau bahwa Akatsuki membagi kesembilan anggotanya ke dalam divisi-divisi besar. Divisi keuangan, Pertahanan, Penelitian, dan Penyelidikan. Tiap Divisi akan dipegang oleh dua orang. Dan Uchiha Itachi bersama partnernya –Kisame Hoshigaki adalah pemegang Divisi Penyelidikan, menjadi alasan mengapa mereka berdua yang paling sering turun dan berpindah negara, FBI menyebut duo itu sebagai si 'Pekerja Lapangan' karena saking seringnya mereka terlihat turun ke jalan dibanding anggota akatsuki lainnya. Uchiha Itachi sangat berbakat dalam menyelundupkan barang dan manusia, ahli dalam penyamaran dan taktik penyelidikan, ia menjadi orang penting yang menyodorkan nama-nama kepada ketua Akatsuki. Nama para pesaing, nama calon kolega, dan nama yang harus digulingkan, membuat posisinya sangat terpercaya. Sementara Kisame Hoshigaki adalah pria bertubuh besar yang sangat tau caranya membuka jalan dan membersihkan jejak selama Itachi berkerja, ia tau seluk beluk tiap tempat dan bagaimana cara mengakalinya, terkadang ia menggunakan otaknya untuk memanipulasi sistem tapi tidak jarang pula ia menunjukkan betapa lihai dan barbarnya ia menggunakan pedang raksasa miliknya untuk menggertak para penghalang.
Mereka selalu berpasangan saat berkerja. Jadi ketika Itachi muncul di ruangan Kakashi bersama seorang pria dengan tato biru di seluruh permukaan kulitnya, Kakashi segera tau, bahwa kedatangan Itachi kali ini bukan untuk say hello pada wakil Naruto seperti biasa. Tetapi untuk bekerja sebagai Akatsuki.
Sama halnya dengan Iruka, Kakashi sendiri pun sangat khawatir jika Akatsuki terlalu dekat dengan Naruto. Tapi kekhawatirannya itu segera menguap saat tau Naruto masih bersama Sasuke di Hotel hingga saat ini dan sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa Naruto telah menerima undangan pukul 13.04 dari Akatsuki.
Lalu pada siapa undangan itu di berikan? Apa salah satu tamu? Kakashi ingat ada dua menteri hadir di pesta itu, sekedar karena Naruto adalah pengusaha besar yang sangat berpengaruh pada ekonomi Jepang satu dekade ini. Atau bisa jadi target mereka adalah istri anggota parlemen yang Kakashi juga sempat lihat ada di pesta itu?
Atau mungkinkah...Kyuubi?
Kakashi sebenarnya mengeleminasi Kyuubi dengan segera dari daftar dugaan target Akatsuki karena reputasi Kyuubi sendiri. Klan Kurama dan Akatsuki benar-benar tidak akur. Mereka berusaha saling menjatuhkan tapi sekaligus berusaha tidak saling bersentuhan satu sama lain. Mereka melakukan pertarungan kekuasaan. Berlomba siapa yang mampu menguasai lebih banyak uang di dunia dengan sangat sengit.
Jadi kesimpulannya mustahil Akatsuki tiba-tiba mau mengundang Kyuubi untuk minum teh apalagi mengajaknya kerja sama. Bisa dibilang baik Akatsuki maupun Klan besar Kurama sama-sama akan sangat jijik bahkan untuk sekedar bersenggolan di jalanan.
"Kita sebaiknya pulang. Kau akan lapar jika mendengarku menjelaskan semuanya."
"Kau sebaiknya benar-benar menjelaskannya dengan detail padaku." Iruka menyeletuk, mengangkat ponselnya sendiri yang tengah berdering dengan layar bertulisan 'Sai Asisten Naruto' pada Kakashi sebelum kembali menyahut, "Karena Naruto pun punya orang-orang jeli yang bekerja padanya."
.
.
Ingin rasanya Naruto menguburkan diri ke dalam tanah saat ini juga kalau memang menutupi satu gedung Love Hotel di belakang mereka dengan kain korden raksasa terdengar terlalu mustahil. Ia merasa seperti baru saja tertangkap basah oleh orang yang bahkan ratusan ribu kali lebih mengerikan dari paparazzi. Ia lebih memilih dihujani blitz kamera sekarang juga dibanding harus menghadapi wanita temperamental berkekuatan Gorilla seperti yang ada di hadapannya itu.
"Lihatlah kalian berdua. Sekarang jauh lebih terang-terangan memamerkan penyakit kalian." Sakura mencibir puas. Bibirnya tersenyum bahagia tetapi kedua alisnya tertaut kuat hingga membentuk tiga gundukan padat di pangkal batang hidungnya, "Kalian tau? Dengan status sosial yang kalian miliki, pemandangan ini bisa menjadi headline berita skandal terbesar tahun ini. Aku penasaran berapa banyak pihak yang akan dengan sukarela menghamburkan uang untuk secuil fakta yang bisa mereka gali dari ini."
Sementara Naruto terlihat kepalang basah, Sasuke di sisi lain justru terlihat tidak terusik. Ia tidak tertarik mengelak dugaan yang sedang menari di dalam kepala Sakura, ia justru lebih khawatir dengan efeknya. "Kau tidak akan berani melakukannya." Ujar Sasuke tegas.
"Kenapa tidak?!" balas Sakura, "Kau tidak punya backup apapun lagi untuk mengancamku, Uchiha. Aku bisa menghancurkan reputasi kalian dengan skandal ini."
"Sarada." Jawab Sasuke.
"Hah?"
"Kau akan menghancurkan Sarada." Ia melanjutkan, "Jika kau menyebarkan ini maka ototmatis Sarada akan menanggung semua tekanan publik yang kau sebabkan. Terutama di sekolahnya. Kau rela mengorbankan Sarada?"
Naruto sontak melompat mundur ketika Sakura tiba-tiba meludah jijik, "Sekarang kau membawa-bawa anak? Hah! Kemana saja kau?" bentak wanita itu, ia menjambak topi besar yang sejak tadi ia gunakan untuk menutupi perban di belakang kepalanya dan mencengkram anyaman jerami itu hingga tak berbentuk, "Apa kau sendiri memikirkan Sarada saat membawa dia ke hotel?!" Hardiknya, "Apa kau mengingat perasaan putrimu saat kau memulai sesi fantasi-fantasi menjijikkanmu itu, hah, bangsat?! Sekarang kau baru mau berlagak menjadi orang tua yang baik?! Menggelikan!" Sakura membanting topi yang sudah terpelintir habis itu ke tanah.
"Lalu bagaimana denganmu sendiri?" Sasuke melangkah maju. Bisa Naruto lihat pria itu telah terpancing meski berusaha disembunyikannya dengan baik.
"Apa yang kau bicarakan? Aku yang melahirkannya! Sudah jelas aku selalu memikirkan putriku!"
"Itu yang kau pikirkan saat pergi dari rumah?" tepis Sasuke. Nadi tebal kini menancap jelas di sisi leher putihnya ketika ia berusaha mati-matian untuk tidak membentak tinggi, "Apa kau tau jika kemarin putrimu kembali dari penginapan dan malah mendapati rumah tempat ia pulang telah dikosongkan sepenuhnya oleh ibunya sendiri yang tiba-tiba pergi entah kemana? Apa kau mengingat putrimu sendiri saat kau termakan amarah dan mengepak semua barang-barang itu tanpa meninggalkan jejak sama sekali? Kau melupakan Sarada, Sakura. Ia nyaris pergi dari kota ini sendirian karena berpikir ia telah dibuang dan dilupakan. Kau sebut dirimu seorang ibu?!"
Kali ini Sasuke meledak. Naruto sangat sadar amarah yang baru saja tersembur dari tenggorokan Sasuke barusan tidak sepenuhnya ditujukan pada Sakura, tapi sebagian adalah untuk diri si pria raven itu sendiri. Sasuke sangat sadar bahwa dirinya pun telah gagal menjadi ayah untuk Sarada. Dan benar-benar mengutuk dirinya karena hal itu.
Tapi setidaknya Sasuke sudah meminta maaf dan berjanji akan lebih perhatian, pikir Naruto. Tidak seperti Sakura yang masih sepenuhnya dibutakan oleh kebenciannya.
Lihatlah ia sekarang, dengan sulutan balik Sasuke, wajah Sakura telah berubah dari warna kulit manusia menjadi semerah kepiting dalam hitungan detik. Benar-benar siap untuk memuntahkan argumen lain.
Buru-buru Naruto memotong atmosfir itu sebelum ledakan yang lebih buruk terpental dari mulut keduanya, "Kurasa ini bukan tempat yang tepat untuk membahas ini."
"DIAM KAU!"
Oh, oke. Terlambat. Sakura maju, benar-benar siap menerjang Uchiha Sasuke dengan segala emosi yang terpusat di sekujur tubuhnya. Namun sebelum itu terwujud Naruto yang entah keracunan apa hari itu sudah berdiri lebih dulu menghadang monster merah muda yang melangkah dengan sangat perkasa menghampiri mereka.
"Menyingkir!" Teriak Sakura nyaring. "Kau tau aku bisa dengan mudah memuntahkan isi perutmu, Uzumaki."
Well, Naruto sama sekali tidak meragukan itu. Mengingat bagaimana ia bisa dengan mudah menjatuhkan bahkan membanting Shikamaru semudah mendorong seekor kucing dari atas kursi.
"Kau tidak perlu sampai melakukan ini, Sakura." Bujuk Naruto, mengabaikan betapa ia cukup bergidik dua detik yang lalu.
"Jangan ikut campur. Kau penyebab semua kehancuran ini!"
"Jika kau berpikir aku penyebabnya, bukankah itu artinya aku secara tidak langsung menjadi bagian dari masalah ini?" kilah si pirang. Menyiagakan kedua telapak tangannya ke depan dada, jaga-jaga jika ada bogem yang melayang seperti tempo hari.
"Kau menjijikkan." Decih Sakura. "Kapan kau mau sadar kalau kau sudah menghancurkan keluarga orang lain?"
Kali ini Naruto yang tersulut, jauh di dalam hatinya. Ia sangat sadar. Bahkan ini salah satu alasan mengapa ia tidak ingin belajar mengakui perasaannya sendiri pada Sasuke. Ia tidak ingin dicap seperti ini.
"Kudengar kau yang lebih dulu mengajukan cerai. Bukankah itu artinya kau yang ingin berpisah? Berarti sekarang kau tidak berhak lagi mengganggu atau memutuskan dengan siapa Sasuke akan...," Naruto ingin berkata berkencan tapi buru-buru disambungnya, "...dengan siapa ia akan bertemu." Ia ingin terlihat senetral mungkin. Tapi dengan menjadi orang ketiga (secara teknis) rasanya sulit sekali untuk bersikap tegar.
"Lihat dirimu." Sakura menarik wajahnya menjauh, seolah menghindari aroma busuk yang menguar dari dua pria di depannya, "Kau sudah berani." Ia terdengar nyaris tidak percaya, "Apa service suamiku sebegitu hebatnya hingga bisa mencuci otakmu sekarang? Ha? Naruto?"
Jangan terpancing! Bentak Naruto pada dirinya sendiri.
"Aku hanya berusaha memperjelas situasi disini."
Itu benar, Naruto berusaha mencari pegangan di dalam dirinya sendiri. Terombang ambing oleh pertanyaan apakah yang ia lakukan ini benar? Apakah ia harus maju? Ataukah sebaiknya ia pergi saja dan menyerah?
Tapi Sasuke akan menderita, Sakura bahkan ia yakin tidak punya niat lagi untuk memperbaiki hubungan mereka meski pun Naruto mengundurkan diri sekarang. Dan parahnya ia tau Sakura tidak akan pernah berhenti mengusik Sasuke dan hidupnya yang berarti juga cepat atau lambat akan mengganggu keluarga Naruto juga.
"Lancang sekali. Kau parasit. Kau penyebab utama penyakit ini." Desis Sakura muak, memikirkan bagaimana si pirang itu masih juga bersikap tidak sadar diri membuatnya ingin muntah. Apa yang lebih tidak memuakkan ketimbang melihatseorang icon sex yang tidak sadar dan tidak mau mengakui bahwa tubuhnya sudah menjadi pemeran utama di mimpi-mimpi seksual ratusan orang di luar sana? Ditambah ia telah merebut suaminya, bahkan putrinya pun diam-diam mengidolakan si bangsat sok innocent ini. "Aku tidak akan pernah mengajukan cerai kalau bukan karena kau!"
"Kau menyalahkan orang lain atas rusaknya rumah tanggamu?"
"Itu sudah jelas, idiot! Sudah sangat jelas rumah tanggaku kehilangan keharmonisannya karena kau!"
"Aneh." Celetuk Naruto. "Bukankah itu justru menunjukkan kegagalanmu sebagai istri?" ujarnya berusaha tidak terdengar kasar, "Gagal karena tidak mampu membuat suamimu sendiri merasa nyaman?"
Sakura terperanjat. Darimana Naruto bisa belajar selancang ini? Ia yang merusak rumah tangganya dan dia malah berbalik menyalahkannya?
Sementara Naruto mati-matian untuk tidak plin plan menghadapi Sakura, Sasuke di balik punggungnya justru nampak berusaha menahan senyum melihat si pirang sangat berusaha keras membelanya.
"Dia itu gay!" Sakura mengacungkan telunjuknya pada pria tinggi di belakang Naruto. "Apapun yang kulakukan tidak akan berpengaruh apa-apa. Jangan coba-coba membolak-balikkan fakta, Uzumaki sialan."
"Lalu kenapa kau menikahinya?"
Sakura lagi-lagi terdiam. Meringis.
"Bukankah itu seperti berusaha menguras air laut? Kau tau hal itu sia-sia. Tapi kau tetap menikahinya, tau jika kau akan menderita tapi tetap menjalaninya, dan setelah kau benar-benar berakhir menderita seperti ini kau malah menyalahkan orang lain." Naruto nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya, tapi anehnya ia tidak bisa menghentikan diri, "Lagipula, memangnya kau punya bukti?" ia menoleh sejenak ke gedung ber-barner merah kelap kelip di belakang mereka. "Kau memang melihat kami keluar dari sana, tapi itu tidak masuk hitungan. Kita sedang membicarakan bukti yang bisa kau jadikan alasan untuk menyetor surat gugatan ceraimu ke pengadilan kemarin. Yang artinya kita perlu bukti 'Sasuke gay' yang terjadi sebelum kau menggugat."
"Di-Dia membawa fotomu di dalam kegiatan intim kami." Sakura berani taruhan nyawanya baru saja ikut keluar ketika mengatakan itu. Ia merutuki diri. Ia malu, tapi sangat tidak ingin membiarkan si pirang menang.
Naruto yang mendengar pernyataan itu nampak nyaris gagal untuk tidak syok. Apa-apaan itu?! Sasuke membawa fotonya?! Haaa?!
"Kau ada bukti? Video?" Tanya Naruto, berhasil bersikap dingin di atas keterkejutannya.
Sakura kembali membisu, tapi raut wajahnya terlihat sangat ingin menjawab lantang YA meski ia harus berbohong untuk itu.
"Kuanggap itu sebagai 'tidak ada'" sahut Naruto akhirnya, "Jangan khawatir, gugatanmu akan tetap dikabulkan dengan alasan ketidakharmonisan di dalam rumah tanggamu, Sakura. Tapi jika kau mau menyeret rumor skandal hanya untuk sekedar memuaskan amarahmu, kuharap kau mau berpikir ulang. Itu justru bisa menjadi bumerang super besar untukmu. Alih-alih melaporkan kami yang sama-sama berstatus ayah biologis dan punya latar belakang pernah menjadi suami seorang wanita dengan bukti yang tidak kuat seperti itu, media mungkin bisa saja malah akan berbalik menuduhmu sebagai istri sekaligus ibu yang gagal secara mental dan perilaku,"
Percakapan itu berakhir dengan gerakan reflek Naruto menggamit tangan Sasuke dan menyeretnya pergi dari hadapan Sakura pagi itu. Meninggalkan wanita tersebut cepat-cepat sebelum dia punya ide gila lain untuk berteriak-teriak.
.
.
Ini pertama kalinya Kyuubi berada di bangku penumpang kendaraan yang bukanlah miliknya, dan pertama kalinya pula disopiri oleh orang selain Darui. Hal itu membuatnya cukup gugup.
Takut.
Satu kata itu adalah hal terakhir yang ingin Kyuubi Kurama akui. Ia berhasil mengelabui kepala pengawalnya dan diam-diam keluar dari kediamannya. Datang sendiri menemui musuh bebuyutan seluruh klannya tanpa pengawal sebenarnya menjadi alasan yang sangat normal untuk merasa takut. Terlebih jika kau memegang gelar pewaris tunggal klanmu. Dan punya reputasi belum pernah berpisah jauh dari baby sitter berkedok pengawal kekar seumur hidupmu.
Kyuubi merutuki lututnya yang gemetar ketika ia keluar dari mobil dan melangkah masuk ke sebuah bangunan dengan dikawal orang-orang asing.
Ia sempat mengecek lokasi itu sebelum berangkat. Satu bangunan besar tunggal berlantai dua yang terpisah jauh dari pemukiman. Dikelilingi oleh tanah kosong dan pepohonan, bagunan terdekat berjarak enam belas meter di sisi utara yang Kyuubi sangat yakin tidak berpenghuni, begitu pun dengan seluruh bangunan dalam radius dua kilometer dari tempat itu. Bangunan yang ia masuki sendiri dari luar sama sekali tidak mencolok. Atapnya bewarna pucat dan tidak begitu mencurigakan. Para mengawal berada di dalam gedung dan tidak berbaris di depan. Mobil-mobil yang mereka gunakan dimasukkan ke dalam garasi di bawah tanah. Dan ketika Kyuubi mulai menghitung berapa jumlah jendela di sisi selatan bangunan itu, sebuah kereta melintas dengan suara yang sangat memekakkan telinga, membuatnya terperanjat, sekaligus mengingatkannya bahwa tepat hanya tiga meter dari deretan delapan jendela kaca besar di lantai dua bangunan itu rel jalur Tokaido Shinkansen terbentang di sepanjang mata memandang.
"Silahkan ikuti saya."
Kyuubi tidak banyak berbicara, merasa seperti ada aturan kau tidak boleh berbicara sebelum diperintahkan yang terendus sangat pekat di dalam bangunan itu. Kyuubi tidak pernah suka diperintah seumur hidupnya, ia selalu melanggar apapun yang menurut ia menyusahkan. Tapi disinilah ia. Sendirian dan penurut. Ia bahkan belum bertemu dengan yang memegang kuasa di tempat itu, hanya para penjaga, tapi tenggorokannya sudah sekering Sahara.
Ia tidak tau siapa yang akan ia temui. Kemungkinan besar Pain akan menurunkan Divisi Pertahanan untuk menemuinya. Memastikan tujuannya melakukan kontak dengan Akatsuki. Bagaimanapun juga ia telah diam-diam memberi sinyal bahwa ia ingin bertemu dengan ketua Akatsuki. Maka tidak akan mengejutkan jika mereka menurunkan Sasori dan Deidara untuk mengintrogasinya lebih dulu. Kyuubi harus ingat bahwa ia seharusnya bersikap bahwa ia tidak tau banyak mengenai dua orang itu selain hanya sebatas nama, betapapun Itachi pernah memperingatkannya bahwa Deidara bisa saja sudah meletakkan bom di tiap dinding bangunan yang didatanginya dan Sasori bisa dipastikan sudah mengendalikan delapan puluh hingga seratus persen manusia yang berada di gedung tersebut layaknya mengendalikan boneka tali.
Lepas dari ketegangan yang melingkupi pikiran dan tekuknya, pengawal yang mengantar Kyuubi akhirnya membuka sebuah ruangan di lantai dua. Pintu bercat putih itu terlihat semakin terang oleh terpaan sinar matahari dari salah satu jendela besar yang tadi dihitung Kyuubi yang kini berada tepat di depan pintu.
Kyuubi diminta menunggu di dalam. Dan ketika pintu ruangan itu ditutup dari luar, untuk pertama kalinya Kyuubi Kurama bernafas layaknya manusia. Ia menghirup udara dan mengumpat.
Ia benci sekali dengan situasi yang melingkupi dirinya. Ia dikandang Tyrex! Tanpa pengawal! Ia benar-benar panik. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Akatsuki akan mengundangnya segera setelah kunjungannya dari Transylvania, padahal ia di kota itu tiga bulan penuh! Mengapa mereka baru setuju menemuinya setelah ia kembali ke Jepang? Mengirim anggotanya yang paling terlarang masuk ke Jepang untuk menjemputnya? Apa ini jebakan?
Apa...Apa mungkin mereka tau jika Itachi dan dirinya...
Tidak.
Itu sama sekali tidak mungkin terjadi.
Meski gelisah, Kyuubi tetap berusaha mencari informasi apapun yang berguna di ruangan itu. Kesimpulan pertamanya, bangunan ini adalah markas temporer milik Akatsuki, seperti yang pernah Itachi beritahukan, mereka punya ratusan dan kebanyakan akan langsung disamaratakan dengan tanah setelah digunakan. Ia harus memikirkan kemungkinan bahwa bisa jadi Deidara sudah menempatkan bom-bomnya di gedung ini. Dugaan lainnya, kemungkinan hanya ada satu divisi di satu tempat. Anggota Akatsuki nyaris tidak pernah berkumpul utuh sembilan orang. Tidak kecuali ada kejadian luar biasa yang menggemparkan. Dan Kyuubi sangat yakin ia bukan salah satunya. Ini hanya kunjungan, ia sangat yakin pula mereka tidak akan berani menyakitinya, itu tindakan ceroboh, meski pun sebenarnya Kyuubi punya sedikit keraguan akan hal itu mengingat betapa tidak dapat diduganya tiap aksi Akatsuki selama ini.
Ruangan yang ia tempati sendiri adalah sebuah kamar, yang cukup mengejutkan punya interior yang lumayan mewah. Ranjang besar merah dengan permadani. Sofa dan meja dari kayu Gaharu yang di atasnya bertengger sebotol wine merah dalam ember berisi es beserta gelasnya nampak diletakkan pada sudut terjauh kamar itu. Ada kamar mandi pula di ruangan itu. Beberapa pakaian ganti bahkan berderet rapi di dalam lemari besar di sisi seberang ruangan. Kyuubi sempat tidak percaya bahwa ini salah satu gedung temporer yang akan dihancurkan.
Setelah seluruh sudut ruangan itu habis ia pelototi untuk menyingkirkan rasa berkecamuk di dalam perutnya, Kyuubi akhirnya menyerah pada lututnya yang bergetar. Ia merosot duduk ke atas ranjang merah di tengah ruangan itu dengan perasaan mencelos.
Merenung.
Lalu mengehela nafas panjang.
Ia merasa tidak menjadi dirinya sama sekali. Ia lemah. Dan menjadi uring karena kenyataanya memang ia sangat lemah sekarang.
Satu-satunya yang membuat ia percaya akan selamat keluar dari sini adalah kepercayaannya bahwa Akatsuki tidak segoblok itu untuk menyakitinya.
Memanfaatkanya...well, itu akan jadi lain cerita.
Kyuubi datang untuk menawarkan dirinya, Akatsuki tidak perlu repot-repot untuk memanfaatkannya, karena ia sendiri akan bergabung dengan suka rela. Sebagai barter yang, menurut Kyuubi, sepadan.
Ia berencana memberikan dua anak perusahaan Klan Kurama yang ia miliki sebagai tawaran.
Tawaran untuk menukar nama Uzumaki Naruto keluar dari daftar Nama yang Harus Digulingkan milik Akatsuki.
Kekhawatiran Kyuubi bukan hanya karena Akatsuki bisa melakukan apapun untuk mendepak Naruto dari tahtanya. Tapi Daftar nama yang harus digulingkan terkadang bisa berarti ia harus dilenyapkan secara keseluruhan, Kematian yang tidak akan bisa ditelusuri bukan sesuatu yang jarang terjadi kepada orang-orang yang masuk dalam daftar 'penggulingan' Akatsuki. Dan Kyuubi tidak ingin mengambil resiko salah satu dari kedua kemungkinan itu untuk terjadi lebih dulu.
Ia akan melakukan apapun untuk menyingkirkan Naruto dari bahaya. Bahkan jika itu berarti ia harus menjual seperempat kekayaan Klan Kurama secara paksa.
Ia akan bertarung.
Ketika ia sibuk melamun, terdengar seseorang tengah membuka kunci pintu putih ruangan Kyuubi dari luar. Segera saja setelah suara ganggang diputar berderit, Kyuubi langsung berdiri sigap di atas kakinya yang seketika itu juga kembali melemas dan bergetar.
"Fuck!" Runtuknya kesal. Terlalu nyaring hingga sosok yang membuka pintu itu bisa mendengarnya dengan jelas.
"Woah, watch your language, Sir." Sahutnya, "Aku datang dengan damai, oke?"
Untuk sesaat Kyuubi merasa harus mengingat ulang seperti apa ciri-ciri Divisi Pertahanan Akatsuki yang digambarkan Itachi padanya dulu. Ia yakin Itachi menyebutkan bahwa Deidara berambut pirang panjang dan Sasori berambut merah. Bukannya sesosok pria biru besar tinggi dengan mata hiu yang tengah menyeringai memamerkan gigi-gigi tajam seperti di hadapannya sekarang.
"Kau...Ki-Kisame?" Pekik Kyuubi, kehadiran partner Divisi Itachi itu tidak terlalu memberi efek signifikan pada rasa gugupnya, ia bahkan malah punya alasan baru untuk merasa khawatir berada satu ruangan dengan penjagal paling sadis se-Akatsuki ini. Ia tidak lupa sama sekali bagaimana orang-orang ayahnya yang dikirim untuk mencarinya dibantai dengan sangat mudah oleh satu orang.
Kyuubi melangkah mundur.
"Salah," ujar Kisame, menangkap cepat salah satu lengan Kyuubi dan menariknya, "Langkah ke depan, bukan ke belakang." Tanpa permisi ia langsung menarik Kyuubi seperti sedang mencabut ubi dari akarnya, Kyuubi sangat yakin pria itu tidak sadar seberapa besar kekuatan yang ia gunakan ketika menyentak tubuh kurusnya keluar dari ruangan itu sampai ia meringis.
"Oh, maaf Tuan Putri. Tanganku tidak diciptakan untuk memegang seseorang dengan romatis, mereka diciptakan untuk mencengkram tulang leher." Tukasnya kembali mengunci pintu ruangan barusan lalu melangkah maju lebih dulu menyusuri lorong, "Ayo, kita tidak punya banyak waktu."
"Kupikir Divisi Pertahanan yang akan menemuiku. Di ruanganku."
"Salah." Sahut Kisame lagi dengan logat uniknya, "Mereka tidak akan kesini. Kau dipersiapkan untuk menemui Pain langsung."
Kedua lutut Kyuubi sontak membeku di tempat.
"What? A-Apa tidak salah? A...Aku, maksudku aku dari Klan Kurama. Dia tidak seharusnya seceroboh itu menemuiku langsung."
Kisame tidak dapat mengabaikan bagaimana kedua kaki kurus pria merah di depannya bergetar hebat, "Kau punya rasa takut juga? Yeah, tidak normal rasanya kalau kau sampai tidak takut bertemu dengan dia. Terlebih setelah kau tau banyak hal yang tidak diketahui orang lain."
"Aku tidak...," Apa dia tau tentang apa yang Itachi sebarkan padanya? Dia memang partner Itachi, tapi semua anggota Akatsuki loyal pada ketua mereka, meskipun mereka partner bisa jadi Kisame berpihak pada Pain ketimbang ...koleganya.
"Tidak apa? Nah, kid. Kau mau melangkah ke depan atau tidak? Aku tidak bisa menggendongmu. Bukan karena aku akan membuatmu keseleo, tapi itu terlalu mencolok di cctv. Ayo...!"
"Berhenti menakutinya, Kisame." Seru sebuah suara di sisi lorong. Lorong tempat mereka berada sama sekali tidak gelap, hanya saja sosok itu tengah berdiri di balik tiang dinding, hanya menyisakan bayangannya yang jatuh ke lantai sebagai penanda keberadaanya.
Kisame segera mendekat disusul Kyuubi yang berjalan lebih lambat. "Jangan bersembunyi. Santai." Celetuk Kisame, ia meliukkan badannya ke belakang untuk menggamit Kyuubi dan menyodorkannya pada sosok di balik dinding itu.
Kyuubi yang lagi-lagi tidak mampu protes ditarik paksa oleh otot besar Kisame hanya mampu berseru, "Itachi?" ketika menyadari siapa sosok di balik tembok itu.
"Berapa lama lagi?" Itachi melempar tanya pada partnernya, nyaris mengabaikan keterkejutan sekaligus rasa lega tersirat dari wajah si merah.
Kisame mengelus dagunya sejenak sebelum berkata, "Tiga menit dari sekarang."
"Ayo kalau begitu," jawab Itachi, merentangkan tangannya untuk Kyuubi gamit. Namun sebelum jemari Kyuubi menyentuh telapak tangan si Uchiha, Kisame segera memotongnya seperti pisau.
"Jangan terlalu terang-terangan sedang membawa lari sandera begitu."
"Tunggu! Membawa lari katamu? Apa maksud kalian? Bukannya kalian seharusnya membawaku menemui ketua kalian?! Kau sebaiknya jelaskan ini padaku, Uchiha." Kyuubi menghardik. "Aku sudah bilang aku tidak akan berubah pikiran! Apapun yang terjadi!"
"Kau lihat dirimu sendiri? Kau ketakutan. Kau bahkan belum bertemu dengannya. Rencana berubah, Divisi Pertahanan dibatalkan untuk mengintrogasimu. Pain sendiri yang akan menemuimu. Itu bukan kabar yang bagus." Itachi menepis.
"Hanya ada dua hasil jika kau bertemu dengannya," Kisame menambahkan, "Kau keluar dari ruangan itu dalam keadaan miskin total, atau tidak bernyawa."
"Pasti ada hasil lain!" Kyuubi bersikeras. Dia tidak rela sudah jauh-jauh datang kesini dan pergi begitu saja.
"Apa? Kau berpikir ketua kami bisa jadi hanya 'memakaimu' dan membiarkanmu pulang?" Kisame meledek.
"Dia tidak sebodoh itu untuk menyakitiku! Apalagi membunuhku! Akatsuki tidak akan mau melakukan kontak fisik pada klan Kurama."
"Well, apa kau pikir itu yang ketua kami pikirkan saat memerintahkanku membantai bawahan ayahmu yang berkunjung ke Transylvania kemarin?" Kyuubi berjingit ketika rentetan gigi-gigi tajam itu mendekat tiba-tiba ke depan wajahnya dalam mode full seringaian, "Kami tidak setakut itu untuk menyentuhmu." Bisiknya, mengangkat satu jari biru panjangnya tinggi-tinggi ke udara dan bergerak turun dengan sangat perlahan untuk menyentuh dahi Kyuubi.
"Berangkat. Sekarang." Tandas Itachi, menempelkan telapak tangannya ke atas jidat Kyuubi, menggagalkan pendaratan jari panjang nan kasar Kisame disana.
"Setuju." Sahut Kisame.
Dengan berjalan cepat ketiganya menyusuri lorong yang ujungnya depenuhi pengawal sepanjang anak tangga.
Dari kejauhan suara kereta yang baru saja meninggalkan stasiun sekali lagi terdengar. Dalam beberapa menit seluruh gedung pasti akan bergemuruh ketika kereta besi super cepat itu melintas.
"Apa mereka tidak khawatir aku akan kabur jika mereka menggelar pertemuan di dekat stasiun begini?" celetuk Kyuubi memfokuskan seluruh inderanya ke seluruh penjuru mata angin.
"Nah itu sebenarnya salah satu tes. Kau datang kesini untuk menawarkan kerja sama. Kami harus membuktikan apa kami bisa percaya atau tidak padamu. Nah setelah keputusannya keluar. Kami akan memutuskan apakah akan membiarkanmu pulang menaiki kereta selanjutnya atau justru meletakkamu di tengah-tengah rel." Celetuk si muka Hiu dengan begitu santai, "Jangan terlalu tegang." Sambungnya lagi, menyadari perubahan air muka sandera mereka.
"Kau sama sekali tidak berjaga-jaga jika mereka tau kalian membawaku pergi?"
Kali ini seringaian Kisame lebih tipis ketika ia melirik manis ke belakang, "Salah satu cara berhati-hati yang baik disini adalah dengan tidak terang-terangan terlihat terlalu berhati-hati."
Awalnya Kyuubi pikir itu artinya mereka hanya akan melewati penjaga dengan berpura-pura hendak membawanya kesuatu tempat. Tapi dugaannya segera diamburadulkan ketika Kisame berdiri di ujung tangga dan mengangkat pisau raksasanya secara horizontal lalu meluncur riang ke bawah hingga kakinya mendarat sempurna pada undakan anak tangga terakhir dalam satu kali lompatan, menyisakan lusinan kepala terpenggal di belakangnya menggelinding ke segela arah.
Kyuubi seketika tercengang. Getaran di sekujur tubuhnya kali ini menjalar hingga ke tiap-tiap pangkal helaian rambutnya ketika menyaksikan tangga putih yang baru saja dilewatinya beberapa menit yang lalu itu kini sepenuhnya bewarna merah.
"Kau bisa menutup mata, biar aku menggendongmu ke bawah." Tawar Itachi, namun Kyuubi sudah keburu tenggelam dalam kengerian yang terbentang di depan matanya. Membekukan suara juga kesadarannya.
Suara kereta semakin melengking.
"Shinkansen hanya akan telat 35 detik. Mereka akan tau ada yang tidak beres jika kuhentikan terlalu lama." Teriak Kisame dari bawah lalu menyerbu lusinan pengawal lain di lantai berikutnya.
Itachi tidak ingin menunggu Kyuubi untuk meresponnya. Ia langsung menyambar tubuh itu dan menggendongnya sambil berlari mengikuti Kisame.
Dalam dua menit mereka berhasil keluar dari gedung itu, diikuti tembakan dari beberapa pistol. Itu hanya tembakan penggertak, atau hanya diarahkan ke alat gerak mereka, yang sayangnya dalam kasus ini terlalu cepat untuk bisa mereka kenai. Tidak ada pengawal Akatsuki yang cukup berani menembaki kepala Divisi sebelum ada perintah langsung dari Pain. Dan itu keuntungan bagi duo Pekerja Lapangan yang tengah kabur memanjati pagar rel dan menyerobot masuk ke dalam kereta Shinkansen yang telah dibajak Kisame untuk berhenti disana dengan pintu terbuka untuk mereka selama 35 detik.
Tepat pukul 13.04 kurang 35 detik kereta itu pun melaju kilat dari posisinya. Meninggalkan hanya beberapa pengawal tersisa dan seseorang yang baru saja tiba di base tersebut.
Seluruh gerbong kereta Shinkansen yang kini akhirnya melaju pada kecepatan terbaiknya segera dipenuhi pengumuman permintaan maaf dari masinis yang menjelaskan adanya kesalahan teknis yang membuat kereta mereka berhenti dengan pintu terbuka di perfektur Aichi barusan.
Itachi memandang Kisame yang sama-sama berdiri di pintu masuk pintu penghubung antar gerbong sebelum menengok dua baris kursi terdekat dari pintu penghubung antar gerbong yang sudah dikosongkan partner kerjanya itu.
Kyuubi duduk dengan masam di sisi kanan kursi deret tiga. Tidak melepas wajah bengisnya barang sedetik pun pada Itachi. Dan dari ekspresi murka itu, Itachi bisa menyimpulkan kalau tubuh si musang merah itu sepertinya sudah lebih cukup mendingan sejak pertemuan terakhir mereka semalam. Ia tidak akan begitu terkejut, klan Kurama punya tenaga medis sebaik Akatsuki.
"Ini bisa membuatmu dalam bahaya." Itachi menatap Kisame serius.
"Kau yang membawaku masuk ke Akatsuki. Kau pikir aku akan tetap tinggal saat kau tidak ada?" bisik si pria biru itu. Melempar senyum yang Itachi yakin Kyuubi tidak akan tahan melihatnya. "Aku punya prinsip kerja sendiri. Kau boleh menjalani hidup sesuai yang kau mau, aku pun punya caraku sendiri." Sambungnya.
"Kau ingin berada di pihak yang paling berkuasa. Itu yang kau katakan ketika kau memustuskan masuk kesana."
"Betul,"
"Kau menemukan kandidat yang lebih baik?"
"Kurang lebih begitu." Jawabnya, melirik penuh arti pada sosok merah di belakangnya. Lalu kembali menatap rekan kerjanya yang rupanya tengah memberinya glare matang. "Oh, jangan khawatir. Dia milikmu seutuhnya. Aku mengincar hal lain. Ikan yang lebih besar namun belum terekspos."
Butuh beberapa detik sebelum Itachi sadar siapa yang pria bergigi tajam ini maksud. Jika ada yang bertanya siapa yang mungkin bisa menaklukkan Akatsuki, maka jawabannya pasti Klan Kurama. Semua orang tau setelah Tuan Besar Kurama hengkang, penerusnya adalah Kyuubi Kurama, satu-satunya putra yang dikonfirmasi oleh Tuan Kurama itu sendiri. Tapi jika bukan Kyuubi yang Kisame maksudkan sebagai kandidat terbarunya untuk mengabdi, lalu siapa?
Itachi tidak perlu lama-lama berputar-putar mengabaikan satu nama yang jelas-jelas menari-nari di benaknya sejak tadi ketika Kisame sendiri mendekati telinganya untuk berbisik, "Aku harap, kakak lelaki kekasihmu belum punya pengawal seprotektif dirimu, karena... aku sangat siap menjadi yang pertama."
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
NOTE : koordinatnya itu asli, lho haha
/terimakasih sudah membaca ^^
