"And by his self, I mean the thing he was to himself—
it – the thing – was quite unknown to me.
I created him solely in relation to myself like a work of art,
beautiful and pure in the sunlight; it was an object corresponding to the ghost inside me.
It was a picture of my (forgotten) little brother."
- Kim Heechul ex. Cho Heechul -

.

.

.


Baginya, ada banyak tingkatan dari rasa kehilangan.

Yang pertama masih konstan; rasa sakit yang diterima masih baru; masih segar. Ingatan tentang sosok itu selalu mucul dalam benak, membuatnya tersiksa. Pada tahap ke dua sakit itu mulai surut dan mengalir dengan waktu; kadang terlupakan, terkubur di dalam sudut otak bersamaan dengan pergantian hari. Lalu di tahap ketiga, harapan dan keputusasaan menjadi musuh dalam selimut. Membuatnya rindu akan sosok yang sudah lama pergi. Merintis harapan di hatinya hingga ia tidak dapat lagi membedakan mana yang mimpi dan mana realita.

Lalu sekarang, apa aku masih berada di dalam mimpi?

Kyuhyun bisa merasakan tubuhnya mulai terdorong ke belakang, kakinya kehilangan pijakan dan tiba-tiba saja ia sudah melayang di udara. Ia tidak bisa merasakan apapun. Rasa sakit di dadanya kini hanya tinggal denyut tumpul; hampir tidak terasa.

Jungsoo-hyung, aku lelah. Apa aku bisa bertemu denganmu sekarang?

Mata Kyuhyun perlahan menutup.

Aku harap aku bisa melihatmu sekali lagi.

Namun satu detik kemudian, bulatan karamelnya membuka lebar.

Apa yang kau pikirkan, Cho Kyuhyun?!

SRAK!

"Argh!" Kyuhyun meringis ketika tulang keringnya menghantam dinding kuat. Sebelum ia terjun bebas ke bawah, Kyuhyun segera mengeratkan pegangannya pada pinggir gedung. Tubuhnya yang kurus bergelantungan di sana hanya dengan bermodalkan topangan tangan.

"—HYUN! YA! APA KAU MENDENGARKU?!"

Kepala Kyuhyun otomatis mendongak; wajah cemas Heechul menyambutnya dari atas. Kemudian ia menengok ke bawah, di mana orang-orang mulai berkerumun. Menatap mereka dengan khawathir. Kyuhyun mengutuk ketika menyadari kalau suara teriakan mereka pasti sudah menyentak seisi sekolah.

"Ya!" Kyuhyun kembali mendongak saat Heechul berteriak padanya. "Cepat berikan tanganmu!"

"Jangan sentuh aku!" bentak Kyuhyun dengan keras. Sesuatu mulai membara di dalam dadanya. "J-Jangan—"

Heechul melotot tidak percaya. "Apa yang kau katakan hah?! Cepat pegang tanganku!"

"Aku bilang lepaskan!" raungnya kuat saat Heechul makin menjulurkan tangannya agar berada di radius genggaman Kyuhyun. Pemuda itu tidak membutuhkan belas kasihan, terlebih dari orang yang selama ini selalu menganggapnya tidak ada. "Aku bisa sendiri!"

"YA! Dasar keras kepala!" bukannya menarik tangannya kembali, pemuda itu masih bersikeras untuk meraih tangan Kyuhyun. "Ini bukan waktunya untuk berakting sok kuat! Cepat pegang bodoh!"

"Tidak! Lepaskan!"

"YA! Sebenarnya ada apa denganmu?!"

"Aku bilang lepaskan!

"Ya! Kenapa kau benar-benar keras kepala?!"

"Karena jika bukan diriku sendiri, tidak akan ada artinya!"

Segala sesuatunya hening, yang terdengar hanya bunyi nafas yang memburu dan bisikan-bisikan yang datang dari bawah. Kyuhyun sama sekali tidak menghiraukan keduanya dan memilih untuk fokus pada pinggiran pagar yang sedikit menjorok keluar. Dengan tangan gemetar, segera ia raih patahan besi itu. Berusaha begitu keras agar beratnya tidak membebani benda itu teralu banyak.

Heechul menatap pemuda itu terkejut ketika ia mulai menarik dirinya ke atas, melewati pagar pembatas yang licin akibat air hujan. Walaupun butuh waktu lama, belum lagi ditambah dengan raut kesakitan yang tertera pada setiap gerak tubuhnya, Kyuhyun berhasil melewati pagar pembatas dan mendarat dengan selamat tepat di samping kaki Heechul.

"Kau…." Heechul terperangah dengan nafas tersengal. Pemuda itu benar-benar tidak habis pikir dengan tindakan Kyuhyun yang menurutnya begitu bodoh. "Sebernarnya apa yang salah denganmu? K-Kau benar-benar…"

Tidak ada tanggapan, dan Heechul kembali memandanginya dalam diam. Setelah beberapa kali mengatur nafas, Kyuhyun langsung mengamati telapak tangannya yang sedari tadi berdenyut sakit. Banyak luka tersemat di sana, mulai dari goresan kecil hingga luka mengaga yang mengeluarkan darah. Cedera yang ia alami tidak terlalu serius untuk ukuran perbuatan gila yang baru saja ia lakukan.

Kyuhyun mendunduk, menyembunyikan wajah dibalik tirai coklat kehitaman. Bahu pemuda itu sedikit bergetar. Awalnya Heechul mengira Kyuhyun sedang menangis, namun segera ditepisnya pikiran itu jauh-jauh ketika sebuah tawa membelah keheningan. Melambung tinggi di udara lalu menusuk tulangnya dalam.

"Jeongmal…" Kyuhyun menyeka matanya yang berair. "Aku benar-benar terlihat menyedihkan."

"Bocah…" Heechul bergumam, pandangannya sama sekali tidak bergerak dari sosok di hadapannya ini. "Kau—"

"Kau pasti senang 'kan melihatku begini?" hardiknya sambil tersenyum mengejek. "Ah, tentu saja kau senang. Ini tontonan yang jauh lebih menarik ketimbang memandangi mayat dengan disfigurasi dari atas gedung, ne, Kim uisa?"

Mulut Heechul otomatis membuka dan menutup. "A-Aku—"

"Tidak apa-apa, aku mengerti." potong Kyuhyun sambil mengibaskan tangan. "Kau membenciku. Kau ingin melihatku menderita. Yada yada yada." katanya dengan nada merendahkan. "Aku mengerti, sungguh. Kau membenciku. Ya, membenciku setengah mati."

"Kau…" bisik Heechul pelan. "Kau mengatakan semua omong kosong ini, tapi apa kau tahu kenapa aku membencimu?"

Mulut Kyuhyun otomatis menutup, sorot matanya meredup. "Karena Jungsoo-hyung? Karena Younghwan-ssi? Atau karena… eomma?" ucapnya setelah beberapa detik. "Di rumah sakit… kau mengatakan sesuatu tentang kecelakaan… Apa aku yang sudah menyebabkan eomma begitu? Apa karena perbuatanku, eomma jadi kehilangan ingatannya?"

Heechul tersenyum miris. "Apa kau mempercayai kata-kataku?"

Tawa kembali menyelip di suatu tempat di tenggorokan Kyuhyun, memaksanya untuk mengatupkan bibir rapat. Pemuda itu memandangi Heechul sejenak, matanya berkilat-kilat penuh emosi.

"Entahlah, hyung. Kau beritahu aku. Apa itu adalah kebenaran?" tanya Kyuhyun. "Kau yang sekarang sudah tidak bisa aku pahami lagi. Bagaimana bisa aku membedakan apakah kau sedang berbohong atau jujur jika semua yang kau tujukkan padaku hanyalah kebencian?"

Heechul terdiam, bibirnya terkatup rapat.

BRAK!

"YA! Segera buka pintu ini sekarang!"

Gedoran yang bercampur teriakan dari pintu menyadarkan mereka dari benak masing-masing.

"Ini benar-benar menyebalkan." gerutu Kyuhyun pelan. Ia mengacak-acak rambutnya yang basah oleh peluh dan hujan. "Baru hari pertama, dan masalahku sudah bertambah saja. Ini hari yang sial."

Kyuhyun menepuk-nepuk seragamnya yang kotor. Dahinya berkerut ketika melihat darah merembes pada seragamnya. Diusapnya jejak kemerahan itu dengan punggung tangan, namun itu malah membuat noda makin besar. Pemuda itu menghela nafas, lagi, sebelum berbalik menghadap Heechul.

"Aku rasa cukup sampai di sini, hyung." Kyuhyun segera membenahi penampilannya yang berantakan. "Mereka sudah menungguku di luar. Sebaiknya aku segera kembali ke kelas sebelum Jung seonsaeng-nim menghukumku lagi." pamitnya sambil tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa.

Pemuda itu mulai berjalan, namun satu meter dari pintu, langkahnya terhenti tiba-tiba.

"Ah, sebelum aku pergi." ucap Kyuhyun sambil membalikkan badan. "Aku tidak pernah meminta mereka untuk menjadikanmu sebagai wali sahku. Ini bukan bagian dari game yang akan kita mainkan, hyung. Kau tahu, aku bukan tipe yang suka memakai cheat sepertimu."

Heechul meringis, namun tidak berkata apa-apa.

Cho Kyuhyun…

"Hm, aku rasa itu saja." katanya lagi, masih dengan senyum yang sama. Pemuda itu lantas memutar knob pelan hingga mengeluarkan bunyi klik yang samar. "Sampai jumpa lain waktu!"

apa sebenarnya tujuanmu melakukan ini?


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kau sudah sejak lama berhenti di sana,
menunggu untuk diselamatkan,
menunggu untuk pengampunan.
Namun kejamnya realita teralu kuat untuk kau tepis.
Karena itu tiap kalimat yg terlontar dari bibirmu,
akan selalu bertanya;

.

.

Bisakah kita kembali—
pada kebahagiaan yang telah berlalu?

.

.


i-r-i-d-e-s-c-e-n-t
chapter ten
a solitary haven for us; sinners


.

.

.

.

.

Setelah beberapa jam diceramahi atas tindakannya yang, menurut mereka, 'sangat bodoh dan luar biasa gila' Kyuhyun akhirnya dibebaskan dari kekang ruang konseling. Pemuda itu menyusuri lorong sekolah dengan langkah terseok. Pegal sudah memacung semua sendinya, yang ingin ia lakukan saat ini adalah pulang dan tidur. Ia benar-benar lelah, ditambah lagi ia sama sekali tidak melihat Heechul di manapun, bahkan ketika ia keluar dan mencari-cari sosok itu di gedung sekolah yang sekarang sudah sepi.

Ah, apa yang sebenarnya aku harapkan?

Kyuhyun menghela nafas panjang. Setengah jam setelah kekacauan yang hampir membuat satu sekolah gempar, Heechul seperti menghilang ditelan angin. Sama sekali tidak meninggalkan jejak. Para guru yang berniat meminta keterangan malah dibuat kebingungan karena sulitnya melacak keberadaan pemuda itu. Setelah satu jam mencoba dan tetap nihil, mereka akhirnya menyerah. Memilih untuk menelan Kyuhyun bulat-bulat selaku 'tersangka' yang tertinggal di tempat kejadian.

Pemuda itu mengecek jam di koridor yang masih menunjukkan pukul lima sore. Donghae tidak akan pulang sebelum pukul tujuh karena ada operasi yang harus ia tangani. Harusnya dokter muda itu ikut menemaninya di ruang konseling untuk menerima sedikit – ahem – teguran dari pihak sekolah. Untung saja para guru tidak terlalu mempermasalahkan kejadian ini karena kebohongan manis yang keluar dari bibir Kyuhyun.

(Aku tidak sengaja terpeleset karena hujan seongsang-nim, katanya dengan pandangan memelas. Ini hanya kecelakaan, dan lihat, aku baik-baik saja! Tolong maklumi keadaan Heechul-hyung. Ia menghilang karena dapat panggilan mendadak dari rumah sakit. Aku harap kau tidak menggangunya, dia sangat sibuk. Ne, seonsaeng-nim?)

Kebohongan manis, dan fakta kalau mereka tidak bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas akibat hujan yang turun begitu deras.

Ini adalah pertama kalinya aku merasa berterimaksih pada hujan.

"Heh. Katakan saja okupasi mereka sebagai dokter spesialis rumah sakit ternama, dan mereka langsung percaya begitu saja." geleng Kyuhyun tidak habis pikir. "Bagaimana bisa mereka menelan kebohongan seperti menelan air?"

Karena masih kesal, Kyuhyun terus menggerutu sampai tidak menyadari seseorang yang sedang mengawasinya dari kejauhan. Orang asing itu mengenakan coat tebal dan syal rajut yang menutupi hampir seluruh wajah, ditambah lagi dengan sepasang kacamata kotak membingkai matanya yang makin membuatnya tampak misterius. Dia memandangi Kyuhyun lama; menarik matanya atas setiap gerak tubuh pemuda itu, sebelum akhirnya melangkah keluar dengan langkah pelan.

"Ahhh, hari yang sangat melelahkan!" protes Kyuhyun sambil menggerakkan tangan liar. Tubuhnya benar-benar terasa pegal. Ia menyeret kakinya menuju lantai dua dengan malas, tentu masih dengan gerutu yang keluar dari katup bibir. "Aigoo… kenapa sekolah ini tidak dipasang lift atau elevator?"

Langkahnya serta merta berhenti ketika pintu bertuliskan 3-A mucul dalam sudut pandang. Didorongnya pintu perlahan. Sebuah senyum tercetak di wajah ketika mendapati tasnya masih tergeletak di tempat ia meninggalkannya tadi. Pemuda itu membuka isinya, lega karena tidak ada satupun barang yang hilang.

Sehabis memastikan kelengkapan barangnya, Kyuhyun langsung menarik tasnya dari meja. Sesuatu jatuh bersamaan dengan tarikannya ke lantai. Kyuhyun lantas menghentikan gerakannya sejenak. Dipungutnya benda itu, dahinya berkerut. "Siapa yang meletakkan plester dan kompres di sini?"

Kyuhyun rasa, ia sama sekali tidak memberitahu siapapun tentang luka lecet pada telapak tangannya. Guru-guru memang sudah berusaha menyeretnya ke klinik, namun pemuda itu menolak mati-matian dengan alasan kalau lukanya hanyalah luka kecil. Jadi—

siapa?

BRAK!

Kyuhyun berjengit ketika suara debuman keras tiba-tiba meraung dari balik pintu. Bulu kuduknya mulai meremang, tubuhnya bergetar hebat.

Jangan-jangan—

"Argh molla! Aku tidak peduli lagi!" teriaknya sambil berlari keluar dengan langkah seribu.


.

.

.

.

.

Kyuhyun segera mendudukkan diri satu detik setelah kereta mulai bergerak. Karena lelah, Kyuhyun lantas memejamkan mata sambil memijit keningnya. Ia membiarkan suara dari pengeras menggema begitu saja; kalimat demi kalimat mati ketika sampai di telinganya. Benaknya terlalu sibuk berfikir tentang insiden yang baru saja ia alami. Pemuda itu sama sekali tidak memperhatikan sekitarnya sampai seseorang berbicara padanya.

"Kau menjatuhkan sesuatu."

Kyuhyun segera terlonjak dengan mata masih setengah tertutup. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, sebelum pandangannya jatuh pada pemuda di sebelahnya. "H-Huh? Apa yang terjadi?"

Pemuda itu tersenyum mengejek. "Kau – menjatuhkan – sesuatu."

"Ah." Kyuhyun mengedip ketika melihat tasnya sudah tergeletak di bawah, isinya berhamburan ke mana-mana. Para penumpang lain di sekitarnya, terutama gadis-gadis yang memakai seragam, terkikik geli sambil menunjuk-nunjuk mereka berdua. Kyuhyun refleks menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang tersipu. Bahkan setelah sekian lama, ia masih belum terbiasa menerima perhatian orang banyak kepadanya.

Setelah membereskan kekacauan yang ia buat, Kyuhyun kembali menengok ke samping. Matanya menyapu wajah rupawan dengan kulit pucat yang entah mengapa tampak familiar. Pemuda asing itu menyilangkan kaki layaknya seorang bangsawan, sepasang earphone menggantung di leher. Kyuhyun membuka mulutnya, bermaksud untuk berterimakasih, namun terdiam saat menyadari kalau seragam yang pemuda itu kenakan sama sepertinya. Ia menajamkan mata. Kim Kibum; tertulis di sana.

"Kau," mulainya dengan penasaran. "—sekolah di tempat yang sama sepertiku?"

Kibum – pemuda itu – hanya melirik Kyuhyun sejenak, lalu kembali memejamkan mata.

"Uh, terima kasih sudah membantuku?" kata Kyuhyun sambil mengaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ini adalah pertama kali ia mendapatkan perlakuan seperti ini. Biasanya ia yang menghiraukan orang lain, bukan sebaliknya.

"Hn."

"Um, apa kau juga dalam perjalanan ke rumah?"

"Hn."

"Kau turun di stasiun mana?"

Kibum melirik lagi, alisnya bertautan. "Bukan urusanmu." katanya dingin. Namun sesuatu sempat melintas di matanya sebelum ia berbalik, pandangannya lurus ke depan.

Sudut persegi serta merta terbentuk di dahi Kyuhyun.

Benar-benar tidak sopan!

"Ya! Kau ini punya mulut tapi dipakai sembarangan!" bentaknya dengan nyaring. Ia sama sekali tidak memperdulikan orang-orang yang menatapnya menegur. Bagimanapun juga, ini adalah tempat umum. "Apa kau tidak diajarkan sopan santun?!"

Atas tuduhan itu, Kibum mengerlingkan matanya bosan. "Hn."

"Hn. Hn. HN!" tiru Kyuhyun sambil memelotot lucu. Ia mulai menggerakkan tangannya di udara, sebuah kebiasaan yang selalu mucul jika ia kesal. "Apa kau tidak lulus tk? Apa kosa katamu begitu terbatas sampai-sampai hanya dua huruf itu yang kau gunakan? Huh?"

"Hn." kata Kibum, lagi. Kali ini dengan penekanan.

Ubun-ubun Kyuhyun mulai mengeluarkan asap. Pemuda ini benar-benar membuatnya kesal setengah mati. Tadi pagi ia harus bersabar menghadapi si bocah Changmin dan sekarang ia harus menghadapi manusia kutub tidak lulus tk. Apa yang sebenarnya salah dengan hidupnya? "YA! Aku beritahu padamu—!"

"Perhatian. Perhatian. Kereta akan segera tiba pada Stasiun Seocho dalam lima menit. Saya ulangi, kereta akan segera tiba—"

"Ah," Kalimatnya berhenti seketika. Jika saja bukan karena pengumuman itu, Kyuhyun pasti sudah mengoceh habis-habisan. Sepertinya ini memang bukan hari keberuntungannya. "Itu stasiunku."

Namun untuk kesekian kalinya, Kyuhyun dibuat terkejut. Kibum berdiri dari tempatnya, bersiap-siap untuk turun bahkan lebih cepat pemuda itu. Pintu kereta membuka bersamaan dengan suara desis mesin yang melengking. Kibum langsung melangkah keluar, namun sebelum ia melewati batas pintu, pemuda itu memberikan sesuatu pada Kyuhyun.

"Ini." katanya datar. "Lain kali jangan di buang."

Seketika tubuh Kyuhyun meremang. Ia memandangi plester dan kompres di tangannya yang bergetar, lalu berbalik memandangi Kibum dengan mulut menganga. Namun pemuda itu sudah menghilang tanpa jejak. Padahal Kyuhyun hanya melepaskan pandangannya satu detik sebelum mencari-cari sosok pemuda itu lagi.

Apa dia penguntit?! Mahkluk halus penguntit?!

"A-Andwae." geleng Kyuhyun, keringat dingin mulai mengembun di sisi pelipisnya. "A-Andwae!"

Sudah bisa dipastikan, ia tidak akan tidur nyenyak malam ini.


.

.

.

.

.

"Kerja bagus, Lee uisa!"

"Ne, kamsahamnida. Saya permisi!"

Donghae melepaskan scrub yang masih melekat pada tubuhnya dengan kecepatan kilat. Ini sudah hampir pukul tujuh dan ia masih belum juga berada di apartemen. Kyuhyun pasti tidak akan makan sebelum ia pulang.

Mereka memang sudah pindah ke sebuah blok apartemen lima menit dari St. Mary sejak satu bulan lalu. Donghae rasa sudah cukup belasan tahun Kyuhyun habiskan di antara dinding putih rumah sakit. Sekarang pemuda itu bisa melihat, Donghae ingin menunjukkan dunia yang sebenarnya tanpa kurang sedikitpun. Ia bukannya memutuskan ini dalam sehari. Melihat kesehatan Kyuhyun yang makin membaik dari waktu ke waktu, tidak ada salahnya bagi pemuda itu untuk menikmati hidup selagi dia masih diberikan kesempatan.

Donghae tidak akan mengekangnya lagi jika itu membuatnya bahagia.

"Ah, Lee uisa." Donghae berbalik untuk mendapati seorang dokter senior tersenyum padanya. "Kau terlihat lelah. Apa operasinya berjalan lancar?"

"Ne, sunbaenim." katanya sambil membungkuk sembilan puluh derajat. "Pasien sempat mengalami shock ringan, tapi kami bisa mengatasinya dengan baik."

"Kerja bagus." pujinya tulus. "Kau memang bisa diandalkan seperti mendiang ibumu."

Donghae membeku. "S-Sunbaenim mengenal ibu saya?"

"Tentu saja, kami cukup dekat saat dia masih bertugas di rumah sakit ini. Hyangsook-ssi orang yang supel, sangat sulit untuk tidak berteman dengannya." katanya sambil menahan senyum. "Dia wanita yang benar-benar keras kepala dan punya pendirian kuat. Wajahnya rupawan tapi tingkahnya kadang kekanak-kanakan." ucapnya sambil tertawa ringan. "Rasanya masih bisa kuingat jelas walaupun sudah bertahun-tahun tidak melihatnya."

"Ah…" sorot mata Donghae meredup. "Begitu…"

"Ibumu itu bukan seorang jenius sepertimu." potongnya sambil tersenyum maklum. "Dia sangat ceroboh dan pelupa, sangat aneh mengingat profesinya sebagai suster yang membutuhkan ketelitian tinggi. Tapi disamping itu, Hyangsook-ssi memiliki hati yang baik dan lemah lembut. Semua orang sangat menikmati dirawat olehnya."

Eomma…

"Ah," Dokter itu menyentikkan jari saat teringat sesuatu. "Tapi dari semua pasien ibumu, aku rasa ada satu orang yang paling berkesan."

Menanggapi ini, Donghae hanya bisa mengedip bingung. "Huh?"

"Omo, aku lupa kalau ini adalah rahasia." Shindong tersenyum canggung. "Tapi sepertinya tidak apa-apa memberitahumu. Kau anaknya, tentu saja kau berhak tahu."

"Sunbaenim…"

"Beberapa tahun sebelum kecelakaan maut itu terjadi, Hyangsook-ssi pernah bertugas sebagai suster pribadi. Pasiennya seorang anak kecil berumur sekitar 5 tahun yang mengidap penyakit yang serupa seperti mendiang ayahmu. Aku rasa karena itu dia dipilih. Terlepas itu, aku bisa melihat kalau dia sangat menyayangi pasiennya itu. Mereka benar-benar terlihat seperti ibu dan anak."

"Benarkah?" bisik Donghae. "Kenapa eomma tidak pernah mengatakan apapun padaku?"

"Kalau aku tidak salah ingat, keberadaan pasien memang dirahasiakan saat itu karena beberapa alasan menyangkut keselamatannya." tutur Shindong. "Aku juga tidak terlalu mengerti karena waktu itu kami bertugas di bangsal yang berbeda."

"Ah… begitukah…"

Eomma… apa lagi yang kau sembunyikan dariku?

Mereka terdiam cukup lama. Raut wajah Donghae berubah keruh. Shindong yang menyadari ini langsung merasa tidak enak.

"Um, Donghae-ah." panggil Shindong. "Jika kau mau, aku masih menyimpan beberapa foto di laci nakasku. Aku akan sangat senang jika kau menerimanya."


.

.

.

.

.

Langit yang semula diwarnai dengan senja berganti menjadi kelabu. Siluet malam menyusup dari balik kumpulan awan nimbostratus yang muncul makin banyak. Pemuda itu merapatkan cardigannya erat saat hawa dingin mulai terasa menusuk. Angin semakin gencar menerpa bumi, sesekali dengan hentakan keras yang membuat pakaian setengah tersingkap. Heechul bisa mendengar orang-orang di jalan menggerutu kesal. Uap yang timbul dari bibir mereka berbaur dengan kabut tipis yang terbentuk akibat gerimis.

"Sebentar lagi aku yakin hujan deras akan turun." kata Heechul sambil memasukkan kedua tangan dalam kantong. Bisa ia rasakan butir air menghujam kulit di balik lengan cardigannya "Argh, benar-benar hari yang menyebalkan."

Dengan malas-malasan, ia menyusuri trotoar yang kini diterangi dengan pendar lampu jalan. Heechul menatap pemandangan itu datar. Hal yang semula terlihat begitu memukau sekarang tampak mati. Ia tidak lagi menemukan warna-warni yang tercetak pada aspal dan genangan air indah. Baginya warna-warna itu sudah luntur, hampir tidak berbeda dengan hitam dan kelabu.

Mungkin ini terdengar menyebalkan, namun Heechul sudah terlalu muak melihat dunia yang tidak henti-hentinya bergerak ini. Dunia yang bergerak begitu cepat; cepat sekali hingga ia tidak yakin bisa mengikuti kecepatan yang rasanya di luar akal tersebut.

BRUK!

"Ah! Mianhae!" Heechul mengedip ketika tubuhnya limbung, sebelum ia jatuh dengan hentakan keras. Ringisan keluar dari bibirnya saat pantatnya mencium aspal. Melihat ini, pemuda yang tadi menabraknya segera membantunya berdiri. "Mian! Aku benar-benar sedang terburu-buru!"

Entah apa yang merasuki Heechul, pemuda itu hanya diam. Tidak satupun kata lolos dari bibir; rasa-rasanya ia tidak memiliki energi yang cukup untuk sekedar meneriaki orang asing di hadapannya ini. "Hn."

"Jeongmal mianhae, ahjumma!" teriak pemuda itu lagi sambil membungkukan badan. "Lain kali aku akan menaktrikmu teh sebagai tanda aku benar-benar menyesal!"

"A-Ahjumma?" guman Heechul syok. "YA! SIAPA YANG KAU PANG—"

Heechul mengedip, lagi.

B-Bagaimana—? Kapan—? Hah—?

Entah sejak kapan, pemuda itu sudah tidak ada di sana.

"Arghh! Ini benar-benar hari yang sial!"

Heechul mengutuk. Ia tahu penampilannya hari ini tidak seperti biasanya. Dengan rambut yang acak-acakan dan cardigan oversize, pemuda itu tahu kalau ia terlihat sangat mengerikan untuk dipandang. Tapi tetap saja itu tidak berarti siapapun memiliki hak untuk memanggilnya ahjumma!

"Siapa yang kau panggil ahjumma ha? Akan kutunjukkan ahjumma!" teriak pemuda itu emosi sambil membanting tas designer miliknya. "Dasar tidak sopan!"

Tidak sampai satu detik, Heechul langsung menengok lagi ke bawah. Dipungutnya benda itu lalu dibersihkannya dengan sayang.

"Mianhae. Aku sedang emosi." pemuda itu berbisik dengan suara menyesal yang dibuat-buat. "Aku tidak akan pernah membuangmu, chagi."

Ketika ia bangkit berdiri, sesuatu yang tergeletak di tanah menyita perhatiannya. Ada selembar kertas yang sudutnya sudah mulai menguning di makan waktu. Pemuda itu mengapit lembar itu diantara jari, alisnya saling bertaut dalam bingung. "Huh? Apa ini?"

Karena tidak melihat apapun, ia lantas membalik kertas itu. Matanya langsung membeladak ketika ia menemukan potret sebuah wanita dengan seorang anak kecil di pangkuannya. Mereka berdua menatap kamera dengan senyuman yang begitu lebar hingga membuat Heechul meringis.

Matanya turun ke bawah. Tepat di sudut foto itu, tertulis;

Suster Lee dan Kyuhyun! Tidakkah kami terlihat seperti ibu dan anak? Hehe :)

"….bagaimana bisa?"


.

.

.

.

.

Sambil bergelung dalam selimut tebal di sofa, manik karamelnya menatap langit-langit kamar bosan. Sepuluh menit lalu, gerimis memaksanya untuk menghidupkan pemanas ruangan karena udara yang begitu dingin. Kyuhyun menghela nafas panjang lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Perutnya terasa seperti diremas. Sudah pukul delapan, dan Donghae belum sampai juga.

"Kenapa dia lama sekali!" gerutu Kyuhyun sambil mengerucutkan bibir. "Apa dia tidak tahu seberapa takutnya aku sekarang? Demi tuhan aku baru saja bertemu dengan hantu! Dua kali!"

Ia lantas memejamkan mata, mencoba mengusir perasaan takut yang sedari tadi mengikutinya. Setelah insiden tidak menyenangkan di kereta tadi, pemuda itu merasa tidak tenang walaupun sudah berada di rumah sendiri. Ia tahu kalau ceritanya terdengar konyol, dan juga perihal yang ditemuinya adalah manusia atau bukan, Kyuhyun juga masih juga menimbang. Tapi demi Tuhan, bagaimana bisa kebetulan terjadi dua kali dengan adegan yang sama?

BLAM!

"Omo!" Kyuhyun terlonjak kaget, kepalanya membentur bantalan sofa. "S-Siapa?"

Setelah menenangkan diri dan mengenakan cardigan rajut untuk menghalau hawa dingin, Kyuhyun beranjak dari sofa menuju ruang tamu. Di sana ia menemukan Donghae berdiri dalam keadaan basah dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wajahnya pucat pasi dengan bibir yang mulai membiru.

"Ya! Apa yang terjadi?!" bentak Kyuhyun khawathir. "Lihat dirimu! Apa sebenarnya yang kau pikirkan? Kau harus segera mandi air hangat jika tidak mau sakit—!" ocehan Kyuhyun berhenti begitu saja ketika mata mereka bertemu. "…h-hyung? Kau baik-baik saja?"

Donghae yang semula terdiam mulai memandang Kyuhyun, lama sekali, sebelum ia tersentak dari episode kecilnya. "A-Ah, ne. Aku baik-baik saja."

"Hyung…?" Kyuhyun menggigit bibir bawahnya kuat. Entah mengapa ia merasa Donghae sedang berbohong kepadanya.

Melihat bagaimana Kyuhyun memandangnya, Donghae lantas tersenyum. Namun senyum itu terlihat dipaksakan di mata Kyuhyun. Terlalu dipaksakan. "Gwaenchana, Kyuhyunnie. Hyung hanya lelah. Operasi tadi cukup menguras tenaga."

Hati Kyuhyun mencelos ke dasar perut. Ada perih yang bersemayam di dadanya, membuatnya sesak.

Senyum itu lagi.

Kyuhyun memaksakan tawa. "Ya! Kalau begitu kau harus segera mandi! Kajja!"

Senyum palsu, kenapa kau mengenakannya di depanku?

"Ne, ne. Aku akan mandi wahai Ya Mulia Kyuhyun." balas Donghae jahil.

Apa kau tahu betapa bencinya aku dengan senyum itu?

"Hmph. Bersyukur kau punya dongsaeng baik hati sepertiku." katanya sombong. "Kajja! Aku akan menyiapkan air panas untukmu!"

Karena itu tolong—

"Ne," senyum Donghae pudar sedikit, menampakkan perih yang bersemayam di balik lengkungan bibirnya. "Kajja, Kyuhyun-ah."

jangan tunjukkan senyum itu di hadapanku.


.

.

.

.

.

Ruang makan milik mereka cukup luas dengan dinding berpanel kayu serta baris jendela tinggi yang dibingkai brokat hitam. Meja makan minimalis yang terbuat dari kayu ek terletak di dekat balkon kaca. Kyuhyun mendudukan dirinya di salah satu kursi dengan mangkuk-mangkuk berisi makanan yang masih mengepul hangat di hadapan dan segera mengambil sendok. Ia memang tidak memiliki nafsu makan, namun perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi.

Donghae duduk di sisi yang lain, bertemu tatap dengan Kyuhyun yang duduk di hadapannya. Mereka berpandangan untuk beberapa saat, lalu kemudian secara bersamaan mereka saling bertukar cerita. Hanya sebaris atau dua baris kalimat dan tawa di beberapa bagian; hanya sekedar berbasa-basi.

Kyuhyun menatap ke jendela di mana titik-titik air mengumpul lalu meluncur jatuh. Kini kalender sudah mulai memasuki bulan juli. Musim semi sudah mati bersamaan dengan gugurnya bunga cherry di taman kota, kelopaknya memudar dari merah muda menjadi coklat rapuh. Menggantikan musim semi adalah musim penghujan, lengkap dengan udara dingin menusuk dan rintik air yang terus datang dari balik langit. Kyuhyun tidak pernah menyukai hujan. Orang-orang yang ia kasihi selalu pergi meninggalkannya saat hujan. Hujan selalu membawa nasib buruk pada kehidupannya.

(Selalu membuat semua menjadi sulit.)

"Kyuhyun-ah," panggil Donghae pelan, menyentak pemuda itu dari lamunannya. Dia bergerak gelisah pada bangkunya, sesekali melirik Kyuhyun dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. "A-Apa boleh aku bertanya sesuatu?"

"Hm?" gumamnya dengan mulut penuh. Pemuda itu segera menelan makanannya lalu meneguk air putih dengan cepat. "Tentu hyung. Tanyakan saja."

"Apa kau… mengenal seseorang yang bernama Lee Hyangsook?" tanya Donghae. Nada bicaranya santai, tetapi Kyuhyun menangkap getaran emosi dalam gema suaranya.

"Lee… Hyangsook?" Kyuhyun memiringkan kepala. Nama itu terdengar familiar, namun Kyuhyun tidak bisa mengingat dari mana ia pernah mendengarnya "Ani. Aku rasa tidak. Memang dia siapa, hyung?"

Donghae terdiam, matanya jatuh pada telapak tangannya yang terkatup di paha. Pemuda itu sama sekali menolak untuk menatap Kyuhyun. "Apa kau benar-benar tidak mengenalnya?"

"Ne." angguk Kyuhyun pelan. Entah mengapa kepalanya mulai berdenyut sakit. Dadanya juga terasa sesak seperti ada yang menghimpit paru-parunya kuat. Tapi karena ia tidak ingin membuat Donghae khawathir, dipaksakannya sebuah senyum untuk menghias bibir. "Satu-satunya orang bermarga Lee yang aku kenal hanyalah kau dan—"

Rasa sakit itu kian menjadi, memukul-mukul tulangnya dengan ganas. Kyuhyun terdiam sambil mengigiti bibir bawahnya hingga berdarah.

"Dan siapa… Kyuhyun-ah?" bisik Donghae lagi, masih tidak mengangkat kepalanya.

"D-Dan…" Kyuhyun mengedip. Ia sudah tidak bisa merasakan apapun selain rasa sakit yang mendera tubuhnya. "Dan s-suster Lee… suster yang dulu pernah merawatku. T-tapi kami sudah l-lama tidak bertemu… terakhir kali… terakhir kali kami—"

Kyuhyun berhenti di tengah-tengah kalimat, bibirnya terkatup rapat.

Huh? Terakhir kali apa yang terjadi?

Sorot matanya berubah kosong.

"…a-apa kau ingat apa yang terjadi padanya?"

"S-Suster Lee… a-aku…" Rasa mual merangkak naik dari dasar perut, bercampur dengan sesak yang makin menekan tulang rusuknya. Sup asparagus yang baru ia telan beberapa menit lalu terasa seperti gumpalan pahit di kerongkongan; membuatnya ingin muntah. "H-Hyung—"

"K-Kyuhyun?" Donghae yang menyadari ini langsung mendongakkan kepala. Dia terkejut saat mendapati wajah Kyuhyun pucat pasi dan dipenuhi dengan keringat dingin. Bibirnya bahkan sudah mulai membiru. Pemuda itu segera menghampiri Kyuhyun dengan tergesa. "Kyuhyun-ah? Ya! Kyuhyun-ah!"

Kyuhyun mengepalkan tangannya dalam tinju, berusaha untuk mengusir rasa sakit itu menjauh. Tapi yang didapatnya, rasa sakit itu malah makin menjadi. "H-Hyung… s-sesak—"

"Kyuhyun-ah! I-Ikuti perkataanku, arrachi?" perintah Donghae panik. "Hem—hembuskan nafasmu sesuai dengn hitung—"

"S-Sesak—hyu –ng…" potong pemuda itu dengan nafas satu-satu. "—sa – kit."

"K-Kyuhyun-ah!"

Pemuda itu memejam saat perih menghujam dadanya. Air mata mulai mengumpul di mata, membuat pandangannya kabur. Ia mencoba untuk mengunci mata Donghae dengan miliknya, namun bernafas saja ia sudah tidak sanggup. Rasa sakit di dada dan kepalanya terlalu berat untuk ia tahan, dan terakhir yang Kyuhyun lihat, adalah gelap.


.

.

.

.

.

"Kyuhyun-ah!" sebuah suara nyaring disusul dengan pelukan hangat membuat Kyuhyun ototmatis berjengit. "Mau menemani suster jalan-jalan bersama putra suster?"

"H-Huh?" bocah berumur tujuh tahun itu memiringkan kepalanya lucu. Bibirnya bergetar kecil hingga kalimatnya muncul sedikit terbata. "B-Bersama putra suster? Kemana?"

Pelukan pada tubuhnya mengendur. Kyuhyun merasakan sebuah tangan hangat mengelus pucuk kepalanya lembut sebelum ia ditarik dalam gendongan."Mencari kado ulang tahun! Kajja!"

Kyuhyun kecil menggeleng lemah. "T-Tapi Kim ajusshi—"

"Ey, jangan pikirkan apapun!" potong wanita itu. "Hari ini, Kyunie harus bersenang-senang, arra? Suster akan mengenalkanmu pada Donghwa, putra suster yang paling besar! Aku yakin dia pasti senang memiliki tambahan dongsaeng manis sepertimu."

.

Kyuhyun bergerak gelisah dalam tidurnya. Suara-suara dan perasaan yang kini menyerbu kepalanya terasa begitu asing dan menyakitkan. Walaupun dalam ingatannya Kyuhyun merasakan kebahagian, walaupun dalam ingatannya ia merasakan kehangatan, entah mengapa kali ini hanya perih yang bisa ia kecap.

.

"Kyuhyun-ah?" panggil wanita itu sambil tetap melihat ke depan. Di samping kiri dan kananya ada dua bocah lelaki yang menggandengnya erat. "Apa kau senang hari ini?"

Bocah yang masih belum genap tujuh tahun itu tersipu ketika ia merasakan Donghwa – anak suster Lee – memandanginya. Pipinya yang tambun memerah menahan malu. Hari ini ia benar-benar dimanjakan oleh pasangan ibu dan anak itu. "N-Ne… sangat.. senang."

Suster Lee tidak berkata apa-apa padanya, namun wanita itu kembali mengusap pucuk kepalanya lembut. Kyuhyun menikmati tiap elusan itu sambil tersenyum, sebelum sebuah tangan menepis miliknya dari genggaman suster Lee.

"K-Kyuhyun-ah?" sebuah suara yang familiar menggema. "Apa itu kau? Ini eomma nak, ini eomma!"

Entah kenapa suara suster Lee tiba-tiba terdengar cemas. "N-Nyoya Cho, bagaimana bisa Anda di sini?"

"Kau!" hardik orang asing itu keras hingga membuat Kyuhyun terlonjak. "Apa kau yang sudah merebut Kyuhyunnie dariku?!"

.

Hembusan nafasnya mulai terdengar satu-satu akibat sesak yang menghimpit paru-parunya. Kyuhyun mencengkram dadanya kuat hingga kukunya menancap dalam sampai melewati piyama yang ia kenakan. Bulir-bulir keringat dingin melintang di sepanjang pelipisnya, wajahnya pucat pasi seperti mayat hidup.

Ia menggeliat saat sesak itu makin menjadi. Paru-parunya yang terhimpit berteriak meminta udara dan ia bisa mendengar jantungnya berdentam kencang. Kyuhyun membuka mulutnya lebar-lebar untuk mengambil nafas lebih banyak, namun hal itu tetap saja tidak membuat sesak di dadanya memudar.

.

Suara decit ban yang bergesekan dengan aspal membuat telinga Kyuhyun sakit. Bocah itu duduk meringkuk dalam pelukan Suster Lee, telapaknya ditekan erat ke telinga agar suara-suara mengerikan itu tidak menggangunya lagi.

"Nyonya Cho!" ia mendengar Suster Lee berteriak. "Tolong hentikan! Pikirkan keselamatan anak-anak!"

"E-Eomma…" isakan pilu datang dari samping Kyuhyun. Bisa ia rasakan Donghwa bergetar di sampingnya menahan tangis. "A-Aku ta – kut…"

"Diam! Kalian semua diam!"

Dari luar kaca jendela, Kyuhyun bisa mendengar suara mesin mobil yang kehilangan kendali sebelum Suster Lee membungkusnya dengan tubuhnya erat, membuatnya tidak merasakan apapun selain kehangatan.

.

Kyuhyun membuka mulutnya untuk berteriak, namun tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya; sedikitpun tidak. Hanya hening yang membuat suara-suara di otaknya makin jelas terdengar. Dan tiba-tiba saja, adegan itu terpotong bersamaan dengan berkas cahaya menyilaukan muncul dari belakang retinanya.

.

Hal pertama yang Kyuhyun rasakan, adalah bau amis yang menusuk hidungnya. Bocah itu lantas menekan hidungnya sambil terisak. Suara sirene ambulan yang mengaum dari kejauhan benar-benar membuatnya takut.

"Adik manis." Kyuhyun terlonjak ketika sesorang menyentuh kepalanya lembut. "Tidak perlu khawathir, arra? Kami akan mengobatimu. Katakan mana yang sakit?"

Menanggapi itu, Kyuhyun menggeleng. Teriakan kembali menggema dari kejauhan, membuatnya menangis makin keras.

"Ya! Hyangsook-ah! Bertahanlah sebentar lagi ambulans—"

"S-Sajangnim—" suara batuk disusul dengan muntahan darah keluar dari bibir wanita muda itu. "D-Donghwa—K-Kyu – hyun—"

"M-Mereka baik-baik saja!" bisik pemuda baya itu parau sambil menahan tangis."Kau harus bertahan. Kau dengar aku Hyangsook-ah? Tetap berpegang, arra?!"

.

Kyuhyun merasa seolah-olah ada lubang besar di perutnya. Air mata mengucur deras di antara bulu matanya sebelum jatuh membasahi pipi. Suara-suara itu masih tetap melintas seperti gulungan kaset rusak. Cahaya putih terus berkedip-kedip hingga membuatnya pusing sebelum menghilang di kejauhan, digantikan dengan pekat hitam yang membelenggu mata.

(Sekali lagi, suara-suara itu menggema.)

.

"Kami berhasil mengeluarkan Hanna-ssi dengan selamat, tapi pendarahan di otaknya cukup parah. Kami tidak bisa menanganinya di sini jadi—"

"Tolong Selamatkan dia!"

"T-Tolong Anda tenangkan diri terlebih dahulu—"

"Aku mohon padamu selamatkan dia!"

"T-Tuan—"

"E-Eomma! Eomma jangan tinggalkan Chullie!"

.

Bersaman dengan teriakan pilu itu, badan Kyuhyun menegang. Ia mulai meronta-ronta hebat hingga hampir terjatuh ke lantai. Suara isakan keluar dari baris bibirnya yang bergetar. Pemuda itu benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit yang mendera seluruh anggota tubuhnya.

"Kyuhyun-ah!

Kyuhyun menggeleng. Tangannya terangkat untuk mencengkram kepalanya sambil sesekali terisak, memohon agar rasa sakit itu segera hilang. Memohon agar suara teriakan itu berhenti.

Sakit! Ini sakit sekali!

"KYUHYUN-AH!"

PLAK!

Kyuhyun membeladakkan mata lebar saat sebuah tamparan mendarat di pipinya. Perlahan-lahan, Kyuhyun menoleh; pandangan kosong seakan tidak sanggup berpikir jernih untuk menerima keberadaan pemuda itu di sampingnya.

"Kyuhyun-ah!" Donghae menatapnya khawathir. "G-Gwaenchana?"

Ia segera menghambur ke pelukan Donghae, badannya bergetar hebat. Air mata mengalir membasahi pipinya, melewati sudut-sudut bibir yang terkatup rapat. Tiap butir turun lebih deras hingga membasahi piyama hijau miliknya. Sepasang tangan kurus meringkuk di sekeliling punggung Donghae, mencari berkas-berkas kekuatan untuk menopang dirinya yang seakan hancur. Kyuhyun menangis saat pemuda itu mengusap kepalanya lembut. Tekanan samar jari-jari hangatnya terasa begitu familiar; begitu nyata hingga membuatnya bernostalgia.

"Kyuhyun-ah, hanya mimpi." bisik pemuda itu pelan, kedua lengannya memeluk tubuh ringkih Kyuhyun erat. Memastikan pelukannya cukup kuat sampai pemuda itu tidak bisa melarikan diri. "Semua hanya mimpi…"

Kyuhyun menggeleng, suaranya sama sekali tidak keluar.

Mengerikan. Takut.

"Hyung ada di sini…" bisiknya lagi. "Hyung tidak akan meninggalkanmu.."

Kyuhyun mengedip.

"J-Jeongmal?" suara Kyuhyun terdengar rendah dan serak sampai-sampai ia bertanya apakah itu sungguh suaranya. Pemuda itu mendongakkan kepala untuk menatap Donghae dalam, mencoba mencari kebenaran di balik sepapsang manik karamel tersebut. "H-Hyung… janji t-tidak akan m-meninggalkanku?"

"Ne, hyung akan selalu di sini." katanya sambil mengecup kening Kyuhyun. "Karena itu jangan takut. Hyung pasti akan selalu berada di sisimu."


.

.

.

.

.

Heechul duduk termangu di depan jendela apartemennya yang kini terbuka lebar. Benaknya melayang pada kecelakaan maut tujuh tahun silam tanpa bisa ia hentikan.

Masih bisa ia ingat kejadian itu dengan jelas. Bagaimana mobil yang ditumpangi Hanna dihantam oleh truk tronton sebelum meledak, memercikan lidah api yang menyala terang. Potongan-potongan logam dibakar oleh api, lalu terbanting ke tanah akibat gravitasi. Heechul hanya bisa menonton adegan itu dalam diam, tubuhnya membatu; mati rasa.

Masih bisa ia ingat bagaimana ia ditarik menjauh dari tempat kejadian ke gedung terdekat, di mana dinding pencakar langit mungkin bisa menyembunyikan pemandangan mengerikan itu darinya. Melalui matanya yang berkaca-kaca, Heechul menatap pilar-pilar asap menjulang naik ke langit kelabu. Di telinganya suara siren terdengar seperti lagu pengiring kematian. Seakan-akan berteriak padanya kalau seharusnya ia turut berada di sana, berada dalam mobil itu, harus mati menggantikan tempat eommanya tapi—

Tapi semua yang bisa ia lakukan adalah menonton bagaimana tubuh penuh darah diangkut satu persatu dari balik kobaran api. Bagaimana tim paramedis berteriak begitu kuat hingga membuat telinganya berdenging. Bagaimana bau amis menusuk-nusuk indra penciumannya. Bagaimana eomma yang begitu ia kasihi meregang nyawa.

Yang tidak ia ketahui saat itu, bukan hanya eommanya yang meregang nyawa dalam kecelakaan maut itu. Bukan eommanya yang akhirnya berakhir terkubur enam kaki di bawah tanah, melainkan seorang wanita yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Dan beberapa lama kemudian, remaja yang ditemukan bersama wanita itu, ikut menyusulnya ke alam baka.

(Heechul tidak bisa menahan isi perutnya saat ia tahu kalau mereka adalah sepasang ibu dan anak.)

Diusapnya wajah kasar. Pemuda itu menunduk, matanya meluncur pada sebuah liontin perak dalam genggaman; lalu pandangannya beralih. Di pangkuannya, sebuah kotak bernoda darah bertengger dalam diam.

Ia mengambil foto yang ia temukan lalu meletakkannya di atas kotak, tepat di sebelah kartu ucapan yang sejak lama menggangu pikirannya.

Untuk anakku yang paling tampan, Donghae. Selamat ulang tahun; di sana tertulis.

"Lee Donghae…" bisik Heechul. "Apa mereka orang yang sama…?"

Dipandanginya lagi kartu ucapan itu lebih lama, ekor matanya meyapu tiap kata dan huruf dengan seksama. Ada satu nama di sana yang sangat ia kenal; nama dari seorang bocah yang baru saja ia temui pagi ini.

"Kyuhyun…" kata pemuda itu lambat dan penuh kehati-hatian seakan baru mengucapkan nama itu untuk pertama kali. "Apa pemuda itu masih akan tinggal di sisimu jika semuanya terbongkar?"

Heechul meraba wajah bahagia Kyuhyun yang dibekukan oleh waktu, sebaris senyum sinis terpeta di wajahnya yang pucat pasi.

"Heh. Aku rasa tidak."


.

.

.

.

.

Heeyeol mengedarkan pandangan pada satu vas penuh dengan bunga carnation. Kelopaknya yang merah muda kini sudah mulai menggulung dan berubah kecoklatan. Sudah beberapa hari ini ia tidak memperdulikan apapun. Ia hanya berangkat ke pagi-pagi sekali, berkerja hingga petang menjelang, lalu pulang seperti pekerja kantoran pada umumnya. Heeyeol tidak lagi gemar menyesap teh sambil memandangi matahari terbenam. Tidak lagi merawat bunga yang mengingatkannya pada seseorang. Tidak lagi menghabiskan waktu duduk termangu, memikirkan hal yang harusnya ia lakukan tapi tidak.

Karena memikirkannya pun tidak akan menghasilkan apapun. Hanna masih mendekam di rumah sakit. Kyuhyun masih harus berjuang melawan penyakitnya. Sekuat apapun ia mencoba, sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Sudah tidak bisa ia ubah lagi takdir yang menunggu mereka di kemudian hari.

"Jika saja dulu aku lebih berani untuk meminangmu, semua tidak akan jadi begini." bisiknya lembut. "Jika saja dulu aku tidak memenuhi permintaan Hyemi-ah untuk menikahinya, kita bisa saja menjadi keluarga yang bahagia sekarang."

Heeyeol membelai kelopak bunga itu lembut, lalu menarik keluar sehelai kelopaknya.

"Apa kau ingin aku beripikir begitu? Hm?" monolognya. "Maafkan aku, Hanna-ya... tapi aku tidak pernah menyesalinya. Aku tidak pernah menyesal menikah dengan Hyemi yang waktu itu sedang terluka dan menderita. Aku tidak menyesal menjadi appa yang dibanggakan Changmin meskipun kami tidak memiliki hubungan darah. Dan aku—aku tidak pernah sekalipun menyesal melihatmu dan hyung mengucapkan janji suci di altar. Tidak pernah."

Dengan perlahan, ia meremas kelopak itu erat.

"Karena aku tahu, dia pasti akan membahagiakanmu untukku."

Dipandanginya kelopak itu dengan seksama. Warna yang semula cerah kini makin menghitam akibat remasannya beberapa detik lalu.

"Yang aku sesali adalah kebodohan kita yang tidak bisa jujur pada perasaan masing-masing. Aku tahu di suatu tempat di hatimu, kau mencintai Younghwan-hyung seperti dia mencintaimu. Tapi di sisi lain, kau masih tidak bisa melepaskan perasaanmu padaku. Begitupula denganku."

Pria baya itu kembali mengatupkan jari-jarinya erat. Kelopak carnation di telapaknya kini tak lebih dari lembaran rusak; tidak bisa diperbaiki lagi.

"Karena itu maaf. Maaf karena sudah meninggalkanmu, tapi jika aku harus memilih antara kebahagiaanku atau hyung, aku akan selalu memilihnya." bisiknya dengan suara tercekat. "Apa kau membenciku, Hanna-ya? Karena sudah menikah dengan wanita lain dan meninggalkanmu? Karena sudah memutuskan kontak denganmu? Karena sudah merelakanmu untuk mejadi milik orang lain?"

Setelah beberapa lama, genggamannya perlahan membuka.

"Aku tahu ini sudah tidak ada gunanya lagi. Semuanya sudah terlambat." pria baya itu tertawa miris. "Malam itu harusnya adalah yang terakhir kali. Harusnya kita mengucapkan selamat tinggal dan kembali pada keluarga bahagia kita masing-masing. Tapi aku tidak bisa, dan begitu juga kau. Karena perbuatan kita malam itu, karena dosa kita malam itu, banyak orang yang akhirnya harus terluka. Kyuhyun bahkan harus menanggung dosa orangtuanya dan hidup dalam penderitaan sampai detik ini." katanya pelan. "Apa kau masih mengingatnya, Hanna-ya?"

Heeyeol tersenyum simpul saat kelopak itu jatuh ke tanah bersamaan dengan air mata yang turun dari sudut matanya.

"Aku harap kau masih mengingatnya, bahkan sampai detik ini."

Drrt

Heeyeol terlonjak dari lamunannya dan mendapati layar smartphone di atas meja bergetar. Nama Kim Kibum berkilat-kilat ditimpa cahaya. Ia terdiam sejenak. Mungkin, secara tidak sadar, ia selalu takut menerima kabar dari Kibum. Heeyeol menatap ponselnya sendu, menggengamnya di antara jari yang bergetar, namun tidak menekan tombol jawab walau sudah lima detik berlalu.

Tapi tiba-tiba saja ia mengingat Kyuhyun. Mengingat senyum gemetar dan wajah penuh air mata saat terakhir kali ia melihatnya. Tidak butuh waktu lama, Heeyeol langsung menyambungkan panggilan. "Hello?"

"President Yoo." suara Kibum mengalun dari speaker.

"Kibum-ah." katanya pelan, genggamannya pada ponsel mengerat. "What's the matter?"

Jeda membentang beberapa detik sebelum dia menjawab. "Something happened to Kyuhyun. I think you need to know about this."

Raut wajah Heeyeol langsung berubah gelap. Pria baya itu lantas mendudukan dirinya di kursi, kedua tangan menumpu pada meja.

"I'm listening."


.

.

.

.

.

Changmin berpangku tangan dalam diam. Dilahapnya sandwich dengan pelan dan penuh penghayatan. Pemuda itu mengunyah tiap gigitan sesuai dengan anjuran dokter gigi langganannya tanpa protes Hal ini tentu saja sangat bertolak belakang dengan gaya makannya yang terkesan barbar. Pemuda itu tidak paham kenapa, tapi ia merasa sangat tidak bersemangat hari ini.

Masih mengunyah gigitan yang sama, Changmin kembali terdiam. Semenjak insiden di atap yang membuat satu sekolah gempar, alien itu seperti menghilang ditelan bumi. Sudah tiga hari ia tidak masuk sekolah. Dan selama tiga hari itu pula Changmin tidak bisa tidur dengan tenang. Sesuatu tentang Kyuhyun membuatnya terjaga sepanjang waktu. Karena sungguh, tidakkah tingkah alien itu benar-benar berbeda dari terakhir kali mereka bertemu?

Kyuhyun memang terkesan lebih terbuka dan banyak omong dibandingkan dirinya di pemakaman tiga bulan silam, namun emosi yang terbentuk di dalam matanya sama sekali tidak bisa menyembunyikan kepedihan yang dia pendam. Dan lagi, kenapa pemuda itu tiba-tiba mengganti namanya menjadi Lee Hyunsoo?

Bukankah itu benar-benar aneh?

Changmin merasa pernah membaca tentang hal ini di suatu tempat. Sesuatu tentang ego dan kepribadian dan reaksi formasi? Ia tidak terlalu ingat sampai mendetail, tapi jika ia tidak salah sebutannya adalah—

Defense mechanism.

"Yep." Pemuda itu mengganguk samar. "Aku yakin mereka menyebutnya begitu."

Tidak sampai dua detik kemudian, Changmin mengerucutkan bibirnya lucu.

Kenapa aku jadi terus memikirkan alien itu?

"Andwae, andwae!" gelengnya sambil mengguman kecil. "Mungkin dia sedikit mirip dengan orang itu, tapi bukan berarti aku harus memikirkannya 24 jam. Memang dia siapa? Yeojachinguku?"

Sakin sibuknya ia dengan dunianya sendiri, Changmin sampai tidak menyadari seseorang sedang berdiri di hadapannya.

"Shim Changmin?"

Changmin mengedip, pikirannya tentang Kyuhyun buyar seketika. Ia menyipitkan mata, keningnya berkerut. Dipandangnya orang asing itu dari pucuk kepala hingga ujung kaki, namun seberapa keras pun ia mencoba, otaknya sama sekali tidak mengenali orang di hadapannya ini. Kening pemuda itu makin berkerut ketika menyadari kalau seragam yang pemuda itu kenakan sama sepertinya.

Dia bersekolah di sini?

"Shim Changmin?" panggil pemuda itu lagi. "Namamu Shim Changmin, benar?"

"Ne?" katanya sambil mengangkat satu alis. "Kau siapa?"

Pemuda asing itu lantas tersenyum, namun di mata Changmin senyum itu tampak menyeramkan.

"Kim Kibum imnida. Senang bisa berkenalan denganmu."


.

.

.

T-R-I-V-I-A
(a.k.a) hal-hal yang aku selipkan dari chapter awal sampai chapter ini yang mungkin membutuhkan sedikit penjelasan lebih detail :)

*Korea memiliki empat musim, yaitu musim hujan dan musim panas di pertengahan tahun (musim hujan akhir Juni – pertengahan Juli, musim panas Juli – Agustus) , musim gugur September – November, musim dingin November – Maret, dan musim semi akhir Maret – awal Mei.

*Selain pneumothorax dan PPOK, Kyuhyun juga mendertia Ablasio Retina. Kondisi ini banyak dialami bayi prematur. Ablasio retina adalah kondisi di mana retina lepas dari tempat perekatanya. Hal ini menyebabkan mata tidak bisa mengangkap cahaya yang masuk dan mengirimkan sinyal-sinyalnya ke otak sehingga objek yang ada di depan mata tidak tampak.

*Ablasio Retina tidak otomatis membuat pasien buta permanen. Penyakit ini bisa diobati dengan operasi dan konsumsi obat-obatan. Namun, dalam satu kasus, konsumsi obat-obatan tertentu yang mengendap di lapisan kornea bisa merusak kornea. Jika kornea sudah rusak, tidak akan bisa dipulihkan lagi, akibatnya penglihatanpun akan terganggu seumur hidup (buta permanen). Hal ini hanya dapat diatasi dengan transplantasi kornea.

*Selain menggunakan tongkat, tuna netra juga bisa menggunakan anjing penuntun yang sudah terlatih. (Sebenarnya draft awal aku maunya gitu, tapi karena Kyu takut anjing… batal deh T^T)

*Amnesia anterograde sangat berkaitan dengan kondisi psikologis seseorang. Namun bisa juga disebabkan karena gegar otak atau cedera otak. Komplikasi sehabis operasi otak juga bisa menyebakan penyakit ini. Ada beberapa kasus amnesia anterograde yang irreversible (tidak bisa disembuhkan/permanen). Untuk yang disebakan oleh trauma emosional atau psikis, harus diterapkan terapi khusus untuk kesembuhan.

*Seribu Bangau Kertas (Zenbazuru) adalah kumpulan origami yang berbentuk bangau yang dipercaya bisa mengabulkan satu permohonan, biasanya yang berhubungan dengan umur atau kesehatan. Zenbazuru juga menjadi simbol perdamaian dunia melalui kisah Sadako Sasaki, seorang gadis jepang yang mencoba berjuang melawan penyakit leukemia yang dideritanya sebagai dampak radiasi ledakan bom atom di Hiroshima ketika PDII.

*Hyungsoo berarti [panjang umur].

*Defense Mechanism adalah suatu strategi pertahanan yang diperankan oleh ego yang dimiliki seseorang untuk berhadapan dengan kenyataan dan mempertahankan citra-diri. Mekanisme tersebut diperlukan saat terjadi konflik dalam diri atau bila ada ancaman dari luar yang dihadapi ego.

*Bunga bakung melambangkan new beginning atau [awal yang baru] dalam Bahasa bunga. Lily putih melambangkan simpati, pengabdian, dan persahabatan. Anyelir merah muda melambangkan [aku tidak akan pernah melupakanmu] dan mother's love. Sweet Pea melambangkan [selamat tinggal] dan [terimakasih atas waktu yang menyenangkan]. Hydrangea melambangkan [terima kasih] dan pengertian. Hyacinth melambangkan [maafkan aku] dan kepedihan (sorrow). Hampir setiap chapter aku selipkan Bahasa bunga, yg matanya jeli pasti ketemu deh :)

*Apartemen baru Kyuhyun dan Donghae terletak dekat rumah sakit St. Mary di distrik Seocho yang masih satu lingkungan dengan apartemen Heechul yang terletak di distrik Gangnam. Jadi jangan heran kenapa mereka bisa berpapasan :)


.

.

.

Author's notes:

Hohohoho… aku kembali dengan chapter baru~ Tidak dalam satu bulan seperti yg sudah dijanjikan, karena ternyata rumah sakit itu sangat membosankan. Jadi deh aku ngelanjutin chapter 10 yg penuh dengan rahasia ini :) Well, dengan chapter ini aku melunasi hampir semua hutangku, aku harap sudah sedikit nyambung yaa hehe~ Tapi kalau masih gak konek juga, feel free to leave a comment or two~ Pasti aku bales dengan senang hati :)

Seperti biasa, aku gak suka sama jalan cerita yg klise. Jadi jangan harap Kyuhyun diselamatin oleh Heechul terus mereka balikan deh jadi keluarga. Nope~ Jadi sabar" aja yaa readers, nanti bakalan ketemu titik terang kok :) Intinya coba tebak-tebak aja dehh, pasti ada satu atau dua yg sama. Aku baca dari review kemarin, beberapa udah ada yg nyambung walaupun hanya bermodalkan hints abal-abal yg aku tebar di chapter" sebelumnya. Chukae bagi yg tebakannya benar~ Daebak! :P/"

Masalah update, harus klarifikasi lagi. Gini aja, update gak ditentuin berapa lama, bisa satu minggu, dua minggu, tiga minggu, bahkan sebulan. Tapi kalau udah lebih dari sebulan dan aku belum update" juga, itu baru perlu dipertanyakan hehe. Ff ini akan segera end beberapa chapter lagi, jadi siapkan hati dan mental yaa. Ahh rasanya singkat banget padahal udah hampir 4 bulan... Well, this is chapter 10~ Hope that you like it~ (P.S: Kayaknya aku harus banyak belajar nulis adegan komedi... ternyata sudah banget ya nulisnya T^T)

Seperti biasa, gomawo untuk readers yang sudah mereview! Review kalian di chapter kemarin panjang" dan sukses bikin aku senyam senyum sendiri hehe…. Jadi keinget sama ff aku yg lain hiks. Btw selamat datang bagi para readers baru :) Ini balasannya~


.

.

.

Lydiasimatupang2301: Tentu enggak~ Kalau dia mati berarti ff ini tamat dong :) #ditabok. Hehehe, masalah Heeyeol udah agak nyambung belum? Gomawo udah baca yaa~

Illena Davis: 'Sedikit' cerah seperti perkataanku hehehehe #PLAK. Hhahaha, terluka sih nggak… dia cuman lagi kumat aja :) Hehe becanda~ Masalah dia disiksa lagi atau nggak… rahasia ok? #digampar. Gomawo buat pujiannya! Thanks for reading ^^

Kyuonata: Hehehe, mianhae kalau ff ini bikin gula darah naik :( #baper #hiks. Masalah hubungan dari tokoh udah mulai terkuak kan satu" di chapter ini~ Semoga udah sedikit nyambung yaa. Gomawo udah baca :)

Mr12: Aigoo, gak ppa atuhh. Aku gak pernah maksa review kok :) Itu kan tergantung readernya mau review atau enggak hehe. Whaaaaaa…. Pujiannya terlalu banyakkk #tersipu #blush. Hehehe, seneng deh kalau ff ini gak mudah ditebak :) Thanks for reading ya!

Karina: Kayaknya udah nunggu" Kibum nih :) Semoga rasa rindunya terbalaskan yaa~ Hehe, gomawo buat kata" penyemangatnya! #sujud #peluk. Wahh, kayaknya ff ini masih belum bisa disamain sama novel deh :) Aku rasa masih banyak kesalahan dan error yg tersebar di mana". Tapi gomawo buat pujiannya! Thanks for reading too :D

Chaerin: Hehehe, Heechul kan memang terkenal evil :) Gomawo ya udah baca ^^

PeltingRain: Kenapa yaaaa? Aku aja authornya juga gak tahu hehe #PLAKK. Wah, tebakan eonni bener soal Heeyeol! Daebaakk! Padahal aku udah takut kalau hints yg aku kasih gak cukup… syukurlahh #nangis #baper. Waaa….. aku seneng deh kalau eonnie berpikiran gitu :) Semoga puas ya baca chapter ini. Thanks for reading!

Cho Sabil: Untuk sementara sih, belum ada rencana soalnya karakter Yesung beneran hasil eksekusi terakhir hehe #PLAK #gak jelas #abaikan. Ini udah di lanjut~ Gomawo udah baca~

SparKyu9258EIN: Iya eon, kayaknya lagi sibuknya sampe gak sempet ngecek hape :) Huwaaaa… aku seneng kalau eon gak benci karakter Jungsoo lagi… rasanya bener" puas hehe. Hehehe, ok eon~ Hhahaha, nyerah dalam rangka apa dulu ini eon? Iyaa, walaupun awalnya aku gak niat buat serumit ini, ujung"nya jadi terlalu semangat hehe #PLAK. Wah, tebakan eonnie bener! Congratulation hehehe~ Gimana chapter ini udah seru belum? #ngarep #kepo. Gomawo udah baca yaa ^^

Miharu Aina: Ook kka :) Hehehe, Heeyeol itu memang baru aku masukin di chapter kemarin kok, tapi hintsnya sudah aku sebar di beberapa tempat. Secara keluarga, Changmin dan Kyu memang sepupu, tapi kalau hubungan darah.. mereka sama sekali gak ada hubungan kok :) Hehehe, kan enak kak baca cerita yg kayak gado"~ Semua rasa dapet and nyampur jadi satu! #PLAKK #gakjelas #tolongabaikan.

Wah wah! Tebakan kka tepat sasaran! #salut #keren #wowww. Aku terharu…. (T^T). Sepertinya kka baca tiap paragraf dengan cermat sampe semua hints ketangkep… #banjir #nangis. Tentang Changmin dan Heeyeol tunggu chapter depan yaa~ Semuanya pasti terungkap kok! Ini gak sebulan kka~ Aku coba deh buat gak lama" amat, tapi sekali lagi tergantung yaa~ Hehehe gomawo kka! Please take care of your health too :) Thanks for reading ^^

Cinya: Dia beneran lompat kok, tapi akhirnya sadar kalau apa yg dia perbuat itu bodoh pake baget hehe :) Heechul sih, walaupun benci sama Kyu masak mau jadi pembunuh? Hehehe, masalah Heeyeol kunci atau nggak, sebenernya bermuara ke Kyuhyun kok :) Hampir semua masalah berhubungan dengan dia, jadi bisa di bilang kunci tersembunyi? #senyum misterius. Ahh, aku memang mudah banget sakit karena imun tubuh aku rendah :( Belum lagi anemia dan maag… yah, aku sih udah pasrah kena opnam terus :) Hehehe tebak lagi dong~ Kalau Kyu berhasil aku culik, nanti kita bagi dua deh~ #evil laugh. Gomawo udah baca yaa :D

Lee Hyera: Hohoho, mianhae eon, tapi aku emang suka banget main sama emosi di setiap cerita yg aku buat :) Ah, benarkah? Padahal aku rasa dari semua sunbae yg Kyu 'gaet' Heeyeol itu salah satu yg interaksinya paling aku tunggu. Apa bayangan eonni udah mendekati benar? #justasking #hehe. Wahhhhhh, eon baik baget hiks #nangisbombay #terharu. Gomawo eon! Thanks for reading yaa :)

Micchazz: Bunuh diri nggak yaa~~ #hehe #gakjelas #abaikan. Tentang suster Lee.. udah terungkap kan siapa :) Kalau Kibum sih, udah fix sekolah di tempat yg sama dengan Kyu, tapi masalah mereka sekelas atau nggak, tunggu chapter depan yaa~ Wahh, gomawo :) Aminn. Hehe aku udah biasa kok sakit gini~ Gomawo udah baca hehe :p/"

MinahELFin: Memang selalu tbc eon :) Sekarang rasa penasarannya udah kejawab belum nih? #kepo #hehe. Heeyeol… kenapa yaa? Coba tebak" aja eon, kali aja bener trus dapet piring cantik deh~~ Hehe, walaupun menusuk hati, jangan benci dia ya eon :) Iyaa nih eonni, seperti biasa aku drop akibat tugas menupuk hehe. Waaa…. Aku terharu hiks… Gomawo eon udah baca! ^^

Jihyerim: Hehehe, sepupu nggak ya? #PLAK. Udah terkabul deh harapanmu, mereka satu sekolah tuh :) Gomawo udah nunggu ff ini~ Wahhhh, gomawo buat pujiannya! #tersipuparah #blush. Aku seneng kalau kamu gak merasa terbebani. Thanks for reading!

Ayame: Hehehe, gomawo buat semangatnya! :) Thanks for reading yaa~

Readeer: Paham apa? #kepo #gakjelas #abaikan. Hehehe, orang di balik layar? Tenang, Kyu cuman lagi kumat. Toh dia sudah kembali ke jalan yg benar kan (?). Hehe ok dokie~ Gomawo ya udah baca :D

Kotonoha no Mari-chan: Ending yg keren dan bikin deg"an hohohoho~ #PLAK. Yah, udah cerah mah ini atuh. Coba bandingin sama chapter 9, suram banget kan? #ditabok #lagi. Hehe, Changkyu ada hubungan darah emang? Kata siapaaa? #gakjelas #abaikan. Wah, tebakanmu yg satu ini bener banget Mari. Akhirnya temenku yg lola satu ini konek juga #plakkkk. Mian, mian~ Candaa~ Wah wah, sepertinya kamu esper :) Siapa juga yg hobi masuk rs Mariii~ Kamu gak tau betapa menderitanya aku di sini hiks (T^T).Thanks for reading yaa!
P.S: Bener juga yaa, udah punya pengalaman sih kamu baca Semper Memento dan ff aku yg lain (Walaupun beda Bahasa). Tenang deh aku hehe :)

HariKyuKyu: Hahaha, emang angst ada tarifnya yaa :) Wah wah, tebakanmu yg satu ini tepat sasaran! Daebak! Omona…. Detail banget taunya… aku terharu deh kalau gini (T^T). Keliatan bangetb kalau kamu menghayati tiap chapter huhuuhu…. Hahaha, aku juga suka. Waktu Heeyeol's Sketchbook kan? Sumpah bikin aku diabetessss #gigitbantal. Well, sepertinya Kyuhyun berhasil nyelamatin dirinya sendiri~ Huwaaa…. Gomawo buat pujiannya! Aku harap chapter ini bisa menjawab pertanyaan"mu ya! Thanks for reading! ^^

Miruko: Thank you :) Gomawo udah baca yaa~

Eka Elf: Kenapa ya? Hehehe, udah sedikt kejawab kan di chapter ini? :D. Omo, jangan kesel sama Chullie dong~ Yakin deh dia benci pasti ada alasan kuat kenapa :) Penyesalan Hee kayaknya masih lama nih, namanya juga kepala batu. Jadi yg sabar yaa nunggunya! Thanks for reading :)

Angel Sparkyu: Kyu gak jatuh kok :) Gomawo udah baca yaa~ ^^

Yolyol: Hehe, secara darah sih nggak, tapi kalau secara keluarga, mereka memang sepupu :) Wah, itu bener lho. Kalau dipikir" Kyu memang terlahir di keluarga yg 'sempurna' sementara dirinya sendiri 'nggak sempurna'. Kebencian Heechul pasti ada alasan yg kuat, udah seikit nyambung kan setelah baca chapter ini? #ngarep #hehe. Hhaha masak mereka bertengkar di bilang seru :) Hehehe, walaupun Jungsoo mati, bukan berarti peran dia di hidup kyu berakhir. Memang Kyu terluka, tapi karena itu kan dia bisa menata hidup lagi? :) Thanks for reading yaa!

Apriliaa765: Huwaaa…. Gomawoo buat semua pujiannyaa :) #tersipu #blush #baper. Hehe, tenang deh kalau kamu nggak terbebani baca ff ini~ Masalalu mereka masih belanjut kok, jadi sabar" yaa menunggu akhir dari ff ini. Hhahahaha, moment heekyu kayaknya masih asem pahit dulu untuk chapter ini, tunggu ya sampai mereka manis lagi kayak chapter 7-8. Gomawo udah baca! ^^

Diahretno: Ehh.. malahan bentar lagi ff ini mau end :) Mungkin sekitar 4-5 chapter lagi perkiraan aku. Hahahaha, kompleks yaa? Semoga gak bikin bingung yaa #ngarep. Omo, kok baca kalimat ini akunya yg nyesek (memang aku author kejam… #hiks). Thanks for reading :D

LiuChen1994: Hehe, nggak papa kok santai ajaa :) Yah, sebenernya nggak semua salah Heeyeol sih. Masing" pihak punya perannya sendiri dalam masalah ini. Bahkan Kyuhyun juga… jadi di antara mereka nggak ada yg bener" salah tapi nggak ada juga yg bener" suci. Iyaa, karakter Heeyeol kayaknya baru ada di ff ini yaa? #ngarep #abaikan. Wah wah wah, tebakanmu hampir mendekati benar! Tapi hebat lho bisa konek sama hints abal" gitu~ Salut deh aku sama kamu. Hehe, thank you for readingg ^^

Masya25: Enggak dua"nyaa hehehe~ #PLAK. Gomawo yaa buat dukungannya! Gomawo juga udah bacaa~ (P.S: Udah bener kok, salam kenal jugaa #hugs #hehe)

Dewidossantosleite: Hehehe, iyaa Kyu udah bisa liat berkat kornea Jungsoo sekarang :) Heechul benci Kyuhyun karena ada alasan kuat tentu aja. Masalah dia nanti nyesel atau nggak, kita liat aja yaa nanti~ #ditabok #gakjelas. Thanks for reading! ^^

Anonim-san: Hhahaha, rollercoaster? Apa aku harus bangga atau sedih nih? #ngakak. Hmmm, kyubum moment yaa… pasti ada dong :) Yg di atas masih kurang? Pengen nambah lagi? Tunggu chapter depan~ #PLAKK #gakjelasbanget #aneh. Hhohoho, gimana Kyuchul-nya? Masih bikin nyesek? Hehehe, gomawo udah baca yaa :D

Awaelfkyu13: Selamet dong pastinya~ #senyuminosen #hehe. Heechul sih tau gimana~ Kepala batu kayak dia butuh waktu yg lama buat luluh sama perjuangan Kyuhyun :( Thanks for reading yaa~

Wonhaesung Love: Ini udah di next~ Thanks for reading!

Cuttiekyu94: Hehehe, apa yaa? #PLAK. Beberapa udah terungkap, tapi yg lain masih menunggu untuk ditayangkan~ Gomawo udah bacaa :)

Nurani506: Hehe, secara keluarga, mereka memang sepupu… tapi kalau secara darah, hmmm… #senyummisterius. Hhahaha, tenang~ Kyu cuman lagi kumat aja. Toh dia udah sadar dan kembali ke jalan yg benar (?). Wah antara sayang sama benci itu tipis, jadi gak bisa dikira deh perasaan tuh Cinderella satu. Hhaha memang chapter" kemarin nangis terus yaa? Ini moment kihyun nya~ Gimana? Masih kurang? #kepo. Ini udah di update cepet :) Thanks for reading!

Readlight: Sepertinya begitu :) Bener, disarankan jangan, nanti malah tamba mumet karena konflik yg rumit bak benang kusut #eahhh #gakjelas #abaikan #hehe. Hohoho, memang aku mah gini orangnya :P/" Sabar" aja yaa baca ff ini, memang menguras emosi dan tenaga~ Hohoho, aku tahu ff ini ajaib~ Ini udah di lanjut kok~ Karena aku bosen, jadi deh otak jalan. Kurang apaan nih? Hhahaha, aku harap masih waras yaa setelah baca chapter ini~ Gomawo udah bacaa ^^

Sparkyubum: Hehehe, iyaa Kyuhyun yg sekarang bukan lagi Kyuhyun yg dulu~~ #nahlo #eh #gakjelas #abaikan. Kalau penderitaan udah kayak harga mati buat Kyu #PLAK. Kayaknya nggak tuh… siap" aja yaa buat chapter depan #peace #hehe. Gomawo udah baca~

Ahsanriri: Wahh gomawoo~ :) Thanks for reading yaa ^^

Gyuhae: Makin rumit pastinyaa~ Kalau masalah Heeyeol itu 'kunci' atau bukan.. hmmm… gimana yaaa #PLAK #gakjelas #abaikan. Wah wah wah, untuk bagian itu kamu bener chingu! Congrats yaa~ :) Hhaha, seneng deh kalau dianggap tantangan. Gomawo ya udah baca!

Jihyunelf: Hehehe, dia cuman kumat kok~ Ini udah kembali ke jalan yg benar (?). Thanks for reading :)

Jnonk: Kyu nggak bakal mati kok :) Gomawo yaa udah baca! ^^

LianiSparkyu: Hehehe, memang tujuan aku biar makin panas #PLAK. Hhaha iya nyut banget pasti, tapi tenang Kyu sadar kok kalau yg dia lakuin itu bodoh. Hehe, gomawo buat semangatnya! Ini udah diupdate semoga puas yaa bacanya~ Thanks for reading :D

Kuroi Ilna: Hhaha, alur ff ini memang bikin greget dan berpotensi menyebabkan pusing", muntah", laper, dan darah tinggi (?) #gakjelasbanget #hohohoho. Heechul sih keras kepala, butuh waktu buat bikin dia cair~ Gomawo udah baca yaa :p/"

Phn19: Ahh, Kyu emang rada kumat di chapter kemarin tapi dia udah tobat kok sekarang~ #PLAK. Wahh, untuk adegan itu kayaknya nggak bakal terjadi deh, tapi Kyu baik" aja kok :) Thanks for reading yaa!

Kodok: Ah, gomawoo~ #tersipu #blush. Ini nggak lama kan? #ngarep. Untuk changkyu moments tunggu chapter depan yaa~ Gomawo udah bacaa ^^

: Eh, baru di omongin dia udah kolaps aja di chapter ini hohoho~ :) Huwaaa…. Gomawo buat pujiannya! #baper #nangis. Pasti selalu dijaga :) Thanks for reading hehe~

Hyunhua: Hohoho, sepertinya udah sadar nih kalau hubungan Heeyeol-Kyu-Chwang itu beneran rumit :) Well, kalau masalah kenapa dia 'mengganti' dirinya dengan Hyunsoo itu semacam defense mechanism (strategi psikologis untuk berhadapan dengan kenyataan dan mempertahankan citra-diri). Kyu nggak jatuh kok tenang :) Hohoho mungkin dia bisa gila mungkin juga nggak~ Gomawo yaa udah baca!

MissBabyKyu: Hhahaha eon parah banget ngarepnya Kyu jatuhh #ngakak. Kayaknya udah error banget eon, abis ngapain nih? #kepo #abaikan #hehe. Hhahaha, eon kayaknya eror beneran ini, udah eon istirahat aja dulu kasian aku liatnyaa :) Hehe, udah diselipin tuh moment kihyun nya di atas~ Kalau masih kurang, tunggu chapter depan yaa! Ya ampun eon tobatttt~ # for reading^^

Evayesiu12: Hehehe, semoga dengan chapter ini udah nggak bingung lagi yaa~ #ngarep. Belum dong~ Untuk chapter ini, masih rahasia… aku nunggu saat yg tepat buat meng'ekspos' penyakit kyu fufufu~ #evillaugh. Hhaha, nggak sebulan kan ini? :) Gomawo udah baca~

KateGyu11: Hehe gomawooo~ #tersipu. Ahh, alasan kenapa Heechul benci sama Kyu udah sedikit jelas kan? #ngarep #kepo. Huwaaaaaa…. Pujiannya banyak banget…. Nanti aku besar kepala… (T^T). Tentu dong, pasti ff ini dilanjut sampai tamat! Thanks for reading yaa :)

HyukRin67: Hahahaha, semoga setelah baca chapter ini bingungnya udah sedikit berkurang yaa #ngarepbanget #huhuhu. Gomawo buat pujiannya :) Gomawo juga udah baca! ^^

Guest: Gomawo buat pujiannya hehe~ Pasti dilanjut dong. Thanks for reading ya :)

Oke sekian dariku! Jika masih ada yang bingung jangan takut buat nanya~ Aku gak gigit kok :) Mohon maaf jika ada kesalahan tulisan dan typos yang menjamur. Saran dan kritik kalian selalu welcome. RnR? ^^