Author Notes :

Wow, I can't believe the Hits bar I saw in my Story Traffic page!

Thank you so much for reading OCD! *joyful tears*

Here the newest update, please enjoy your reading and don't forget to review!

Party~!

Disclaimer :

Bleach is copyrighted to Tite Kubo only.

As for this chapter, I was inspired by YenGirl's fic "Hold Me" since the ballroom scene is really cute.

If you had read that lovely fic, I bet you know what I'm pointing at.


Chapter 11

The Party

Orihime Inoue tidak pernah menyangka bahwa ulang tahun ketujuh belasnya akan dirayakan seperti ini. Sewaktu masih di kota Karakura dulu, dia hanya ingin merayakan momen spesial tersebut bersama sahabat kecilnya, Tatsuki. Jika bisa, bersama dengan teman-teman sekelas yang lainnya.

Ichigo dan Renji pasti akan mengacaukan pelaksanaan acara. Keigo dengan gayanya yang berlebihan pasti akan merepotkan Mizuiro. Rukia tentunya dia akan setanggap mungkin menetralkan lelaki berambut orange dan merah menyala yang mulai mengganggu kelancaran acara. Tatsuki akan seketat mungkin menjaga Orihime dari 'tangan jahil' Chizuru. Ishida akan duduk tenang bersama Chad.

Itu suasana pesta ulang tahun, yang sekiranya akan dirasakannya tahun ini. Ternyata… tidak.

Pesta ulang tahun di usia yang berkesan ini ternyata dilakukan di Las Noches.

Dan yang membuat otaknya tak habis pikir adalah bahwa pesta ini adalah sebuah kejutan, kejutan sempurna yang telah disiapkan Aizen serta anak buahnya.

Mereka sebisa mungkin menyesuaikan keadaan 'pesta ulang tahun' dengan yang ada di dunia manusia. Orihime yakin betul kalau ini adalah pesta ulang tahun pertama di dunia Hollow ini. Hollow tidak pernah merayakan hari ulang tahun mereka, bukan?

Orihime Inoue, lama kelamaan gadis itu makin menikmati kehidupannya di Las Noches.


Setelah membuka semua kado, tentu saja acara dilanjutkan dengan pesta yang sesungguhnya. Aizen sudah menyuruh dua Arrancar pelayan untuk meletakkan semua kado Orihime di kamar barunya. Orihime, dari hati kecilnya sungguh bersyukur Aizen memperlakukannya bak seorang putri. Gadis itu dimanjakan dan tidak pernah disakiti. Penguasa Hueco Mundo itu memang menginginkan agar Orihime menikmati kehidupannya di Las Noches.

Ini pemandangan yang langka bagi Orihime. Espada yang biasanya tidak pernah menyentuh makanan manusia itu, malam ini mereka menyantap beberapa makanan yang tersaji. Karena ini standing party, Orihime mendapatkan momen yang bagus untuk mengamati cara makan para Espada.

Yammy dan Nnoitra makan dengan cukup berantakan. Saus dan kuah sampai mengotori lantai di bawah mereka. Bagus.

Orihime tersenyum kecil saat melihat Hallibel dengan santai sedang menyuapi Starrk. Primera Espada itu tampak menikmatinya.

Mata abu-abunya melebar saat melihat Barragan, Zommari dan Aaroniero memegang sumpit. Ini pemandangan yang amat langka. Pemilik Shun Shun Rikka itu tidak pernah membayangkan kalau ketiga Espada itu bisa makan menggunakan sumpit.

Yang paling mengejutkan Orihime adalah saat melihat Ulquiorra, Grimmjow dan Szayel yang sedang menyantap hidangan mereka. Ulquiorra, Cuatro Espada itu makan dengan elegan. Dia tenang dan itu mengingatkan Orihime pada Aizen, cara mereka berdua makan hampir mirip.

Espada berambut pink juga makan dengan tenang, tetapi yang membuat Orihime menggelengkan kepalanya adalah karena Szayel selalu mencatat di buku catatannya seusai menelan sesuatu. Apa Octava Espada itu menganggap 'cara makan' dan 'rasa makanan' adalah bahan riset yang menarik?

Grimmjow yang diduga gadis itu liar saat menyantap sesuatu, di luar dugaan makan dengan cukup tenang. Sesekali mata sapphirenya memandang kesal Ulquiorra, gadis itu tidak tahu mengapa. Grimmjow mengingatkan Orihime pada Ichigo. Cara makan mereka mirip, yakni makan dengan cepat.

'Espada ternyata cukup humanoid,' pikir gadis itu, kemudian menyeruput sup asparagusnya.

Aizen yang duduk di sebelah Orihime, menyadari kalau pemilik Shun Shun Rikka itu menikmati pesta ulang tahunnya. Penguasa Hueco Mundo itu kemudian melambaikan tangannya pada Gin. Shinigami berambut perak itu segera menghampiri Aizen.

"Ya, Aizen-sama?" tanya Gin.

"Apa yang harus kita lakukan setelah ini?" Aizen berbisik pelan agar Orihime tidak mendengarnya.

Gin membuka catatannya. "Dansa, Aizen-sama. Wah, ini pasti menyenangkan."

Aizen mengangguk. Mantan wakil kaptennya itu memang ahli dalam hal begini.

Sudah keberapa kalinya Grimmjow memandangi Ulquiorra dengan tatapan penuh kekesalan? Mungkin sejak acara ini dimulai dan Sexta Espada itu tidak menghitungnya karena terlalu banyak. Grimmjow memang kesal, sangat kesal pada Espada bermata emerald itu.

Sebegitu sulitnyakah untuk menghancurkan topeng tanpa ekspresi Ulquiorra? Grimmjow tahu kalau Ulquiorra memiliki perasaan tertentu untuk Orihime. Walaupun Cuatro Espada selalu berkata 'tidak', Grimmjow lebih percaya pada instingnya.

"Mengapa kamu memandangiku terus dari tadi, Sexta?" Ulquiorra sadar kalau dirinya diperhatikan.

"Kamu mengesalkan," jawab Grimmjow ketus.

Ulquiorra hanya meneguk champagne-nya tanpa memandang Grimmjow.

"Tidak punya perasaan apapun, eh?" Espada berambut biru itu mendekati Ulquiorra, "… pada Pet-sama?"

Ulquiorra tidak menjawab. 'Pertanyaan yang bodoh.'

"Apa kamu masih bisa mempertahankan perkataanmu itu, setelah malam ini?" Grimmjow menyeringai.

Ulquiorra hanya menghela nafas mendengar perkataan Grimmjow tersebut.

Tiba-tiba suara musik slow terdengar. Gin rupanya baru saja menyalakan musik tersebut. Inilah peristiwa yang langka di Las Noches. Dansa.

Aizen berdiri dari sofa kemudian berdiri di hadapan Orihime, dan mengulurkan tangan kanannya pada gadis itu. Orihime memandangi Shinigami berambut coklat itu dengan bingung.

"Aizen-sama?" tanya Orihime, tidak mengerti.

"May I have this dance?" suara bariton itu pasti mampu melelehkan wanita mana pun. Orihime bisa merasakan debaran aneh saat mata coklat itu memandang mata abu-abunya.

Tentu saja Orihime tidak menolak, lagipula ini adalah pesta yang telah disiapkan khusus untuknya, bukan?

Di seberang ruangan, mata sapphire Grimmjow melebar. Mulut Grimmjow kemudian melengkungkan seringai.

"Aha, lihat itu, Emospada. Ada pemandangan yang menarik," suara Grimmjow bernada memanas-manasi.

Ulquiorra mengangkat kepalanya yang sedari tadi memandangi lantai marmer di bawah. Mata emeraldnya lalu tertuju pada dua sosok yang sedang berjalan menuju lantai dansa.

'Aizen-sama… dan Orihime?'

Aizen dan Orihime berhenti tepat di tengah-tengah lantai dansa di ruangan tersebut. Aizen dengan luwesnya menyampirkan tangan kanannya di pinggang Orihime dan tangan kirinya, menggenggam tangan kanan gadis berambut orange itu. Wajah Orihime langsung memerah. Oh Tuhan, mereka dekat sekali.

"Taruh tangan kirimu di pundak kananku, Orihime." Suara Aizen sangat dekat.

Orihime melakukan apa yang diperintahkan lelaki di hadapannya itu.

"Apa kamu pernah berdansa sebelumnya, Orihime?" Aizen bertanya, mata coklatnya seakan membius Orihime.

"P-pernah, Aizen-sama…" jawab Orihime malu-malu.

Dansa pertama Orihime adalah bersama dengan Ishida, sewaktu malam penutupan festival sekolah dulu. Quincy itu yang mengajarinya cara berdansa formal seperti saat ini. Orihime bersyukur dia pernah melakukan dansa sebelumnya, karena bila saat berdansa nanti gadis itu sampai menginjak kaki Aizen, pasti akan sangat memalukan.

Aizen tertawa kecil. "Oh? Baguslah. Dengan begitu dansa kita akan semakin menarik."

Mantan kapten divisi kelima Gotei 13 itu mulai melangkahkan kakinya. Orihime hanya perlu mengimbangi Aizen dan menjaga langkahnya sendiri. High heels tujuh senti yang dikenakannya, tampaknya harus menjadi perhatian penting. Gadis itu tidak menginginkan hak tinggi sepatu itu menancap di kaki Aizen.

Gerakan mereka berdua sangat indah. Tempo dansa mereka sama dan juga body language yang dilakukan keduanya, cukup untuk membuat seluruh orang di dalam ruangan penuh kaca itu tertegun. Aizen memang bukan orang biasa. Dia serba bisa. Orihime Inoue bukan hanya sekadar gadis manusia pemilik kekuatan dewa. Gadis itu memiliki kemampuan yang mengejutkan, berdansa, dan kemampuan berdansanya termasuk kategori mahir.

Jantung Orihime berdebar cukup keras saat mata coklat itu lagi-lagi memandangnya lembut, seakan-akan Orihime adalah sesuatu yang sangat berharga bagi Aizen. Mata itu memang memiliki daya tarik sendiri. Misterius, namun juga membius.

"Dansamu tidak buruk, Orihime." Aizen berbisik di telinga gadis itu.

"Terima kasih, Aizen-sama…" jawab Orihime.

Dengan elegan Aizen melemparkan tubuh Orihime, gadis itu berputar pelan kemudian kembali lagi di pelukannya. Wajah Orihime memerah lagi. Oh Tuhan… mereka sangat dekat.

"Rileks saja, Orihime." Aizen tertawa kecil.

Mereka berdua melanjutkan dansa tersebut. Dansa bersama Aizen seperti di alam mimpi. Sungguh memabukkan. Gerakan yang indah, mahir namun tetap santai. Tidak heran jika Gin sering menyebut Aizen 'womanizer' alias penakluk wanita. Penguasa Hueco Mundo itu memang mempesona.

Melihat dua orang yang sedang asyik berdansa itu, Ulquiorra Schiffer merasakan nyeri yang menjalar dari lubang Hollownya. Cuatro Espada itu bisa merasakan nyeri, padahal dia memiliki regenerasi yang sangat cepat?

Itu bukan sakit di fisiknya. Itu melanda sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak tampak. Kemampuan regenerasi miliknya itu, tidak bisa menyembuhkan nyeri ini.

Melihat Orihime dan penciptanya berdansa seperti itu, sedekat itu, ditambah lagi dengan warna merah yang menghiasi pipi Orihime… Ulquiorra, dia merasa seakan-akan dirinya tidak bisa bernafas. Sungguh menyesakkan.

"Cemburu?" Grimmjow lebih membuat pertanyaan itu terdengar seperti pernyataan.

Ulquiorra tidak menjawab dan hanya memandangi dua sosok yang masih berdansa.

'Cemburu? Aku, Ulquiorra Schiffer, cemburu pada penciptaku?' Ulquiorra bisa mendengar otaknya berteriak sangat keras.

Nnoitra kemudian bergabung bersama Espada berambut hitam dan biru tersebut. Espada jangkung itu baru saja selesai makan dan sepertinya cukup menikmati makan malamnya. Seringaian khas itu bisa dilihat di wajah tirusnya.

"Hei, Grimmjow… malam ini Pet-sama cantik sekali, bukan? Serasi dengan Aizen-sama," Nnoitra berkata dengan santai.

Grimmjow melirik Cuatro Espada di sebelahnya. Ulquiorra masih tanpa ekspresi.

"Benar. Mereka serasi," tidak diragukan lagi, Grimmjow sudah memantapkan diri untuk memanas-manasi Ulquiorra.

Ulquiorra memang menaruh kedua tangannya di saku celana seperti biasa, namun kali ini kedua telapak tangan Espada pucat itu mengepal.

"Setelah Pet-sama selesai berdansa dengan Aizen-sama, aku ingin mengajaknya juga!" Nnoitra kemudian tersenyum lebar.

Grimmjow tertawa. "Yang benar saja, Nnoitra. Tidak akan seimbang. Pet-sama harus berjinjit untuk bisa berdansa denganmu!"

Espada bermata satu itu lalu menggeram. "Cih, aku harus mengakui kalau kamu benar, Sexta."

"Lebih baik Pet-sama dansa bersamaku!" Grimmjow membalas perkataan Nnoitra.

Ulquiorra menghela nafas. Tak sedetik pun mata emeraldnya meninggalkan sosok pemilik Shun Shun Rikka itu.

'Berdansa ya?' pikir Ulquiorra.


Lima menit kemudian, dansa penuh debaran itu berakhir. Orihime kemudian kembali duduk di sofa bersama Aizen. Penguasa Hueco Mundo itu tampak menikmati pesta ini. Gadis berambut orange di sebelahnya, memang pantas bergelar 'Putri Las Noches'. Orihime menyimpan banyak kejutan dalam dirinya, yang kesemuanya adalah hal yang menarik bagi Aizen.

"Kamu lelah, Orihime?" tanya penguasa Hueco Mundo itu.

Orihime menggeleng. "Tidak, Aizen-sama. Aku belum lelah. Umm… aku ingin berdansa lagi. Bolehkah?"

Aizen tersenyum kecil. "Tentu saja, Orihime. Apa kamu ingin berdansa dengan Gin… atau mungkin para Espada?"

Mata abu-abu Orihime mencarinya, Cuatro Espada yang selalu bersamanya itu. Dan gadis itu menemukan Ulquiorra berdiri di dekat Grimmjow dan Nnoitra. Seperti biasa Espada pucat itu diam walaupun dua Espada di sebelahnya sekarang mulai berdebat, entah memperdebatkan apa.

'Apa Ulquiorra… mau berdansa denganku?' pikir gadis itu.

Tunggu, pertanyaan pertama adalah, apakah Ulquiorra bisa berdansa?

"Orihime-chan! Ternyata kamu mahir berdansa! Aku terpesona," Gin mengeluarkan senyum khasnya kemudian bertepuk tangan seperti anak kecil.

Orihime hanya tertawa menanggapi pujian dari tangan kanan Aizen itu.

"Oh, lihat itu, Orihime. Primera dan Tercera sedang berdansa," ucap Aizen.

Orihime tertegun melihat Starrk dan Hallibel yang sedang bersama di lantai dansa. Keduanya sangat dekat. Mereka berdua sama-sama tinggi. Serasi. Gerakan mereka juga indah, tidak kaku sama sekali. Jika memperhatikan lebih teliti, Orihime bisa melihat pandangan kedua Espada itu, sungguh berbeda.

"Seperti biasa, dansa Hallibel selalu memukau," kata Aizen.

Gin mengangguk. "Aku setuju, Aizen-sama. Tapi aku baru tahu kalau Starrk juga bisa berdansa. Jika melihat mereka berdua, sungguh kombinasi yang menarik."

Aizen, mata coklatnya mengamati dua Espada tersebut. Shinigami berambut coklat itu mengerti tentang atmosfer yang ada di antara Starrk dan Hallibel. Atmosfer itu berbeda dari Espada yang lain. Mereka berdua sama-sama pendiam, namun jika melihat dansa mereka ini… seakan mereka sedang berkomunikasi.

"Aku baru tahu kalau kamu bisa berdansa, Starrk." Hallibel cukup terkejut karena selama ini yang dia tahu adalah, Starrk paling tidak suka berdansa.

"Jangan meremehkan Primera, Tia." Hanya Primera Espada inilah yang memanggil namanya. Penghuni Las Noches yang lain, hanya memanggil nama belakangnya, termasuk Aizen.

Mata hijau cerah itu memandangi wajah Starrk yang untuk pertama kalinya, tidak tampak mengantuk.

"Ada apa?" Starrk bertanya pelan pada Espada berambut pirang itu.

Hallibel tersenyum, namun tentu saja tidak tampak. "Apa ini tidak apa-apa? Kita berdansa seperti ini… Aizen-sama juga melihat kita."

"… bukan masalah. Lagipula aku memang menginginkannya, Tia. Jika Aizen-sama bertanya, dengan senang hati aku akan menjawabnya."

Hallibel tidak pernah mengira bahwa kekasihnya ini bisa serius, terutama dalam hal begini. Bolehlah, Tercera Espada itu salut akan keseriusan Starrk.

Orihime ikut senang saat melihat Tercera Espada tampak menikmati pesta kali ini. Gadis berambut orange paham betul tentang hubungan spesial antara Starrk dan Hallibel. Kedua Espada itu memang sering terlihat bersama-sama, tapi sejauh pengamatannya, mereka jarang mengobrol. Momen kali ini, dirasa gadis itu mampu untuk membuat hubungan mereka semakin dekat.

"Aizen-sama… aku ingin berdansa dengan salah satu Espada," Orihime berdiri dari sofa kemudian mengangguk penuh hormat pada Aizen.

"Silahkan saja, Orihime." jawab Aizen. Penguasa Hueco Mundo itu sudah bisa mengira, dengan siapakah gadis itu ingin berdansa.

Orihime melangkah, menyeberangi ruangan tersebut. Duh, sepatu hak tinggi yang dikenakannya sungguh membatasi gerakannya. Dia ingin sesegera mungkin sampai di depan Espada itu.

Ulquiorra mengamati Primera dan Tercera Espada yang sedang berada di tengah lantai dansa itu. Keduanya seperti sedang berada di dunia mereka sendiri. Pandangan mata mereka tidak bisa menipu siapa pun yang berada di dalam ruangan penuh kaca itu.

Coyote Starrk dan Tia Hallibel, memang jelas saling jatuh cinta.

'Jatuh cinta? Apa kami, para Arrancar memiliki kemampuan untuk itu?' Ulquiorra bertanya pada dirinya sendiri.

'Apakah Hollow, yang sudah mati dan tidak memiliki hati… bisa merasakan perasaan seperti itu?' Espada keempat itu bertanya lagi. Sungguh rumit.

"Ulquiorra?"

Gadis berambut orange itu berdiri tepat di hadapannya. Dengan senyum yang sangat manis, Orihime kemudian mengulurkan tangannya.

"May I have this dance?"


Ulquiorra tidak sempat untuk menyembunyikan keterkejutannya. Mata emerald miliknya tidak berkedip memandang gadis berambut orange itu. Orihime mengajaknya berdansa…?

'Pet-sama mengajak Emospada berdansa?' Sexta Espada, mata sapphirenya melebar karena terkejut. Semula dia menduga Ulquiorra-lah yang nantinya akan mengajak gadis itu, namun yang terjadi justru kebalikannya.

Orihime merasakan jantungnya berdebar-debar. Apa Ulquiorra akan meraih tangannya, dan menerima ajakannya?

Cuatro Espada itu kemudian membungkukkan badannya, meletakkan tangan kanannya di depan dada dan mengangguk hormat pada pemilik Shun Shun Rikka itu.

"Suatu kehormatan bagiku, Orihime Inoue."

Jemari putih pucat Ulquiorra kemudian menangkap jemari Orihime. Digenggamnya jemari lentik itu. Orihime bisa merasakannya. Hangat.

Ulquiorra berjalan dan menggiring Orihime ke lantai dansa. Tak sekalipun dia melepaskan tangan itu, tangan milik gadis yang membuat perasaannya tidak karuan.

"… mengapa kamu mengajakku berdansa, Orihime?" Ulquiorra bertanya pelan.

Gadis itu tersenyum kecil. "Mengapa? Karena…. kupikir kamu menginginkannya, Ulquiorra."

Ulquiorra tidak menjawab dan mendengarkan Orihime berkata lagi.

"Dari tadi kamu memperhatikanku dan Aizen-sama, bukan? Jadi…"

Ulquiorra merasa sedikit malu, karena yang dikatakan oleh Orihime memang benar. Selama pemilik Shun Shun Rikka itu berdansa dengan Aizen, tak sedetik pun mata emerald miliknya melepaskan pandangannya dari gadis itu.

Espada keempat itu menghela nafas. '… kamu benar. Aku memang menginginkannya. Entah mengapa.'

Mereka berdua sampai di tengah lantai dansa itu. Ulquiorra meletakkan tangan kanannya di pinggang Orihime dan menggenggam tangan kanan gadis itu. Mata emeraldnya memandang lurus mata abu-abu Orihime. Dengan sedikit gemetar Orihime meletakkan tangan kirinya di pundak Ulquiorra. Gadis itu yakin seratus persen kalau wajahnya pasti sudah berubah warna lagi. Mereka sangat dekat.

Sewaktu berdansa dengan Aizen tadi, Orihime berdebar-debar. Mata coklat Aizen sungguh… memabukkan.

Mata emerald yang sekarang memandangnya ini, memancarkan kesedihan. Tetapi Orihime justru mendapati dirinya seakan terhisap ke dalam warna hijau itu.

Ulquiorra mulai melangkahkan langkahnya, memulai dansa mereka malam itu. Sedikit yang Orihime tahu, kalau Ulquiorra mahir berdansa. Tiap gerakan dari Cuatro Espada itu, selalu membuat Orihime berdebar. Gadis itu bisa merasakannya lagi, kehangatan yang terpancar dari mata emerald itu, serta kehangatan dari tubuh pucat di hadapannya.

Ya, Orihime sekarang bisa mendengar debaran jantungnya sendiri. Dia buru-buru membuang muka, tidak kuat jika harus terus memandang warna hijau itu.

"Orihime," Ulquiorra memanggil gadis itu, "… tata krama saat sedang berdansa…"

Dengan cepat Ulquiorra menarik tubuh Orihime hingga mata mereka kembali bertemu. Ulquiorra tidak peduli jika gadis ini bisa melihat semburat merah yang ada di wajah pucatnya sekarang. Dia tidak suka jika Orihime tidak memandangnya.

"… adalah memandang mata pasangan dansamu, bukan?" bisik Ulquiorra, tepat di samping telinga Orihime.

Kepala gadis itu langsung terasa pusing. Sudah lama sekali Ulquiorra tidak berbisik di dekatnya seperti itu. Intonasi dari perkataan Cuatro Espada di hadapannya ini, sungguh terdengar seakan-akan sedang menggodanya.

"M-maaf, Ulquiorra…" Orihime berkata terbata-bata.

Ulquiorra tersenyum kecil. Entah mengapa, Ulquiorra merasa senang melihat warna merah yang kini menghiasi pipi Orihime.

"Kamu sungguh manusia yang menarik, Orihime."

Pemilik Shun Shun Rikka itu hanya terus berdoa dalam hatinya, semoga dia tetap sadar sampai dansa ini selesai. Debaran jantung dan rasa pusing di kepalanya itu, mengapa?

Aizen dan Gin terkejut dengan aksi Ulquiorra kali ini. Ulquiorra bisa berdansa?

'Yang membuatku terkejut bukanlah karena Cuatro Espada bisa berdansa tapi… saat melihat sikapnya terhadap Orihime itu. Dia melepas topeng tanpa ekspresinya. Mata emerald itu, Ulquiorra tidak bisa berbohong padaku,' Aizen berkata dalam hati. Mata coklatnya tidak beralih pada yang lain kecuali dua sosok yang sedang berdansa itu.

'Aku benar. Orihime memang bukan gadis biasa, karena dengan kehangatan yang dipancarkannya, Ulquiorra yang dingin itu perlahan bisa mencair.'


Musik slow itu berhenti mengalun dan itu pertanda saat-saat yang mendebarkan bersama Ulquiorra juga sudah selesai. Orihime menurunkan tangan kirinya yang berada di pundak Ulquiorra. Perlahan, Cuatro Espada itu juga melepaskan tangan yang selama beberapa menit tadi berada di pinggang Orihime.

Begitu Ulquiorra juga melepaskan genggaman tangannya pada tangan Orihime, seketika gadis itu merasakan… ada yang hilang.

Gin dan Aizen menghampiri Orihime dan Ulquiorra. Shinigami berambut perak itu kemudian bertepuk tangan.

"Dansa yang sangat indah! Ulquiorra, kamu sungguh penuh kejutan!" Gin berteriak senang.

Ulquiorra tidak tahu harus berkata apa, jadi Espada pucat itu memilih untuk diam.

"Orihime, masih ada satu kejutan lagi untukmu." Aizen berkata dengan tenang.

Mata abu-abu Orihime berbinar. "Benarkah, Aizen-sama? Apakah itu?"

Aizen tertawa kecil. Orihime seperti anak kecil.

"Tutup matamu, Orihime. Begitu aku menghitung sampai sepuluh, baru kamu boleh membuka matamu." Penguasa Hueco Mundo itu menjawab pertanyaan Orihime tadi. Gadis itu menurut, dia menutup matanya.

Aizen memberi isyarat pada Gin dengan jarinya. Gin tersenyum rubah.

"Oke~ Closing party!"


"Satu…"

Orihime bisa merasakan sebuah lengan melingkar di pinggangnya. Jantung gadis itu berdebar-debar. 'Aizen-sama?'

"Dua…"

Pemilik Shun Shun Rikka itu merasakan tubuhnya menjadi ringan, seperti sedang diangkat. Perasaan ini sama seperti waktu Ulquiorra bersonido bersamanya. Apa mungkin Shinigami berambut coklat itu sedang bershunpo bersamanya?

"Tiga…"

Mereka sudah berpijak di tempat yang baru, yang diyakini Orihime adalah tempat yang berbeda dari ruangan pesta sebelumnya.

"Empat…"

Tubuh Orihime bisa merasakan hembusan angin malam. Mereka sedang berada di luar, ya?

"Lima…"

Orihime bisa mendengar langkah kaki banyak orang, dan suara sonido. Ah, pasti para Espada juga ikut kemari.

"Enam…"

Terdengar suara Grimmjow yang berteriak 'Emospada'. Tidak diragukan lagi kalau Sexta Espada itu sedang kesal pada Ulquiorra. Tunggu, mengapa tiba-tiba suara Grimmjow menghilang?

"Tujuh…"

Gin berteriak 'ayo cepat' pada orang-orang di sekelilingnya. Sebenarnya ada apa ini?

"Delapan…"

Tiba-tiba Orihime merasakan reiatsu yang luar biasa. Kakinya terasa lemas saat tekanan tersebut melandanya. Ini… reiatsu milik siapa saja?

"Sembilan…"

Samar-samar Orihime bisa mendengar suara Yammy yang sedang tertawa. Mengapa Cero Espada itu tidak tampak khawatir dengan reiatsu yang sangat menyesakkan ini?

"Sepuluh. Kamu boleh membuka matamu, Orihime."

Orihime membuka matanya perlahan. Yang dilihat olehnya pertama kali adalah langit malam Hueco Mundo. Bulan sabit itu tampak jauh lebih besar dari biasanya. Pemandangan di sekitarnya ini…

"Ini di atas kubah Las Noches, Orihime. Sekarang, nikmatilah pertunjukannya…" jawab Aizen.

Seberkas sinar emas seakan membelah keheningan saat itu. Warna itu kontras dengan langit malam Hueco Mundo yang hitam.

Kemudian seberkas sinar turquoise menghampiri sinar emas tadi, keduanya bertabrakan namun keduanya tidak menghilang. Mereka seakan bersapaan satu sama lain.

Sinar biru menghampiri dua sinar sebelumnya. Ketiga sinar itu mulai menari-nari di langit Hueco Mundo.

Begitu sinar merah dan kuning cerah menghampiri, Orihime teringat akan sesuatu…

Seberkas sinar hijau melengkapi kombinasi tersebut dan menyebabkan keenamnya menempel satu sama lain, seperti sebuah bola spektrum yang cukup besar dan bercahaya warna-warni. Aizen melangkah maju lalu mengarahkan jemarinya ke bola spektrum di langit itu.

"Hadou no yon, Byakurai." Sinar putih itu memancar dari jari tengah dan telunjuk Aizen, kemudian menghancurkan bola spektrum tadi, hingga meledak.

Ledakan yang dipancarkan itu bukanlah ledakan yang destruktif, tetapi…

"Ini…!" Orihime mengerti apa yang sedang terjadi.

Bola spektrum itu pecah menjadi banyak bagian dan masih membelah lagi. Ini.. seperti kembang api! Perpaduan dari keenam warna tersebut sungguh indah, tidak kalah dengan kembang api yang Orihime lihat sewaktu festival musim panas di kota Karakura.

"Wah, indah sekali!" Orihime berteriak senang. "Aizen-sama, apa ini?"

Aizen tersenyum melihat putri Las Noches itu senang akan kejutannya kali ini. "Sebut saja Dancing Cero, Orihime."

Sinar-sinar tambahan kemudian datang menghampiri lagi, membentuk sebuah tarian energi yang berwarna-warni. Itu cero. Walaupun demikian, tampak sangat indah.

"Aku harus berterima kasih pada Primera sampai Sexta Espada. Ini adalah gabungan dari cero mereka berenam…" Aizen menambahkan komentarnya.

Dancing Cero itu sekarang membuat langit malam terlihat sangat indah. Tidak pernah Orihime membayangkannya, kalau sinar destruktif itu bisa menjadi suatu pertunjukan yang indah. Kembang api, karya dari enam Espada. Kembang api spesial untuk ulang tahun Orihime.

Kira-kira sepuluh menit pertunjukan itu berlangsung, kemudian keenam Espada kembali berkumpul bersama empat Espada yang lain. Starrk diam-diam menggandeng tangan Hallibel, membuat Tercera Espada itu memerah. Barragan merenggangkan otot-ototnya. Ulquiorra tanpa ekspresi dan memasukkan tangannya kembali ke saku celananya. Nnoitra menyeringai puas sedangkan Grimmjow tertawa.

"Dancing Cero yang indah. Terima kasih," kata Orihime.

Tidak sia-sia usaha keenam Espada itu untuk berlatih menembakkan cero secara 'indah' tiap malam. Ini ide dari si maniak pengetahuan, Szayel. Espada berambut pink itu ingin agar cero milik Espada bisa menjadi suatu bahan yang unik. Gin mengembangkan ide tersebut menjadi sebuah karya seni. Aizen menyelesaikannya dengan membuat pola-pola kembang apinya.

"T-terima kasih, semuanya… ulang tahunku kali ini… t-tidak akan pernah kulupakan…" Orihime bisa merasakan matanya tergenang. Dia sungguh terharu.

Las Noches, adalah rumah barunya…

… dan ketiga belas orang di dekatnya saat ini, adalah keluarga barunya.

Aizen mengelus rambut orange Orihime itu, menenangkan pemilik Shun Shun Rikka yang mulai gemetar karena menangis.

"Sekali lagi, selamat ulang tahun, Orihime."

Penguasa Hueco Mundo itu kemudian mencium kening gadis berambut orange dan berhasil membuat mata abu-abunya melebar.

Rasa sesak itu kembali menghampiri Ulquiorra. Melihat penciptanya mencium kening Orihime, lubang Hollownya terasa perih. Jauh lebih menyakitkan daripada melihat mereka berdua berdansa tadi. Ada apa dengannya? Perasaan apa ini?


Ulquiorra melaksanakan tugas hariannya seusai acara malam itu, mengantarkan Orihime ke kamarnya, kamar barunya yang berada di menara kelima.

Kamar Orihime ini sangat berbeda dari kamar sebelumnya. Kali ini Aizen memberinya kamar mandi dalam. Ada jendela besar di samping tempat tidurnya, dari sini Orihime bisa melihat pemandangan padang pasir Hueco Mundo, seperti saat berada di kamar Ulquiorra. Untuk pertama kalinya, Orihime memiliki tempat tidur di Las Noches. Sebuah tempat tidur. Ranjang berukuran Queen Size yang di atasnya terdapat banyak bantal empuk.

Di sofa miliknya, tergeletak kado ulang tahunnya tadi. Gadis itu segera menghampiri sofa tersebut, lalu mengambil hadiah yang paling mengesankannya malam ini.

Sandrose.

Ulquiorra tersenyum kecil saat mendapati kado pemberiannya itu sekarang berada di genggaman jemari Orihime.

'Dia benar-benar menyukainya,' pikir Ulquiorra.

"Ini hadiah yang paling aku sukai, Ulquiorra! Terima kasih!"

Ulquiorra mengangguk, kemudian membuka jendela besar di kamar itu. Ternyata, terhubung dengan sebuah balkon. Angin malam langsung menyapa Ulquiorra.

"Wah, indahnya!" Orihime berteriak senang. Kamar ini benar-benar spesial. Bulan sabit itu terlihat sangat jelas dari balkon itu.

Gadis berambut orange itu kemudian meletakkan sandrose tadi di meja dan dia berjalan menghampiri Ulquiorra yang berdiri di balkon.

"Hari ini aku sungguh senang… Keluarga baruku… sangat menyenangkan," kata Orihime.

Ulquiorra menoleh dan memandangi wajah pemilik Shun Shun Rikka itu. Sinar bulan menerangi wajah Orihime, membuat gadis itu seakan-akan penjelmaan dari dewi bulan. Cantik.

"Sekali lagi, terima kasih!" Orihime kemudian tersenyum, pipinya bersemu merah.

'Cemburu?' kata-kata Grimmjow tadi tiba-tiba muncul di pikirannya.

Mata emerald itu kini tidak lepas dari sosok Orihime.

'Mengapa? Karena… kupikir kamu menginginkannya, Ulquiorra.' suara lembut Orihime kembali terngiang di telinga Ulquiorra.

Cuatro Espada itu melangkah maju mendekati Orihime. Gadis itu masih tersenyum.

'… kamu berubah,' Grimmjow pernah mengatakan ini padanya.

Terbayang saat gadis itu sangat dekat dengannya. Mata abu-abu itu…

Ulquiorra menyentuh pipi Orihime dengan jemari pucatnya. Orihime kembali berdebar dan wajahnya kembali memerah.

"U-Ulquiorra?" pemilik Shun Shun Rikka itu mulai panik. Ada apa ini?

'Nnoitra sering mengatakan pada Grimmjow kalau kamu adalah matahari, yang menerangi kami yang sudah mati ini…'

Ulquiorra memejamkan matanya. Dengan gerakan perlahan, dia mencium bibir gadis itu.

'Kamu benar, Nnoitra. Dia memang matahari.'

Mata abu-abu Orihime melebar. Apa yang sudah terjadi?

'Ulquiorra… m-m-m-menciumku?'

Ini ciuman pertama Orihime. Selama ini dia selalu membayangkan bahwa momen berkesan ini akan diberikan oleh Ichigo, namun yang sekarang bersamanya adalah…

Cuatro Espada, Ulquiorra Schiffer.

Ini bukan ilusi, bukan mimpi.

Gadis itu lalu memejamkan matanya, membiarkan perasaan hangat itu tetap tinggal, tidak meninggalkannya.

Di luar dugaan, bibir Ulquiorra terasa sangat lembut di bibirnya.

Ulquiorra, dirinya tidak mengerti mengapa dia melakukan ini. Sesuatu dalam dirinya seakan mendorongnya untuk melakukan ini, mencium Orihime. Ulquiorra ingin tersenyum saat mengetahui kalau gadis itu tidak menolak ciumannya.

'Manis,' pikir Ulquiorra.

Tak lama kemudian, Ulquiorra melepaskan bibirnya dari Orihime. Pemandangan yang dilihatnya saat ini… sungguh langka. Wajah gadis itu semerah tomat.

Espada pucat itu kemudian memeluk Orihime. Jantung pemilik Shun Shun Rikka itu berdebar sangat keras. Ada apa ini?

"Selamat ulang tahun, Orihime."

Orihime tersenyum, kemudian membalas pelukan Cuatro Espada itu. "Terima kasih, Ulquiorra…"

Ini akan jadi ulang tahun yang tak akan terlupakan bagi Orihime Inoue.


Chapter 11 selesai!

Amee : *tersenyum puas*

Gin : Chapter yang berat ya, Author?

Amee : Benar sekali. Degdeg-an waktu ngetik adegan kissnya Orihime ama Ulqui… arrrgh! Membuat tuh Emospada jadi romantis adalah tantangan yang sangat berat!

Ulqui : Kalo berat ya jangan dibikin romantis. Tiap chapter kok aku makin OOC! *reiatsu terasa mencekam*

Amee : *sweatdrop*

Gin : *senyum rubah* Hahaha ayo damai, Ulquiorra.

Amee : Bytheway Gin, bisa tolong kasih info ke readers tentang Dancing Cero?

Gin : Oke~ Dancing Cero tadi warnanya berdasarkan cero masingmasing Espada. Starrk berwarna biru, Barragan berwarna merah. Hallibel berwarna kuning cerah. Ulquiorra tentu saja hijau. Nnoitra warna gaul, emas. Untuk Grimmjow…

Grimmy : Sejatinya warna cero-ku merah kayak punya kakek (Barragan), tapi karena di luar kubah Las Noches, aku menggunakan Gran Rey Cero yang berwarna turquoise.

Amee : *ngangguk ngerti*

Aizen : Terakhir tinggal dikasih warna putihnya Byakurai. Sempurna!

Amee : Eh Grimmy, jadi rencanamu dari kemaren tuh apa ternyata?

Grimmy : Bikin Emospada panas. Susah banget… *menghela nafas*

Lain kali aku bakal lebih 'ganas' lagi! *evil grin*

Ulqui : *deathglare Grimmy*

Gin : Oke, akhir dari chapter 11. Tunggu chapter selanjutnya yaa.

Amee : Yang mau review, silahkan! *senyum lebar*