HALLO, Readers... ARE YOU READY FOR THE NEXT CHAPTER? ARE U WAITING FOR THIS CHAPTER, GUYS? And…. Jeng jeng jeng jeng *sound gagal* this is it! The next chapter of this fanfiction. So it's been a long time and long chapter since the last chapter I've published. Hope you won't feel bored with this fanfiction guys… Thanks for ur review(s), Favorites and follows, GUYS! LOVE U ALL!
NOTE! MUST READ!: LAST 4 CHAPTER!
CREDIT POSTER: jalilfunny at HSG (High School Graphics)
So, no banyak cingcong, HAPPY READINGG~~~~
.
.
.
"Bagaimana pun juga, semua orang akan mati, kan?"
Korden berwarna magenta itu terbuka lebar, sementara masih ada korden putih tipis nyaris tembus pandang yang memburamkan pengelihatan Jimin dan Taehyung akan dunia luar. Bias-bias cahaya mentari menjadi tidak terlalu menohok netra kedua entitas yang tengah berbincang-bincang itu.
Suara helaan nafas terdengar dari salah seorang lelaki bersurai kehitaman, bersamaan dengan pundaknya yang menurun. Uap-uap menempel sekejap pada alat bantu pernafasan. "Bukan itu maksudku."
Lelaki lainnya tengah meneguk susu putih yang tersedia entah dari mana dan untuk siapa. Ia hanya kehausan dan ada sebuah keharusan untuk minum susu di awal hari. Ia berhenti meneguknya ketika diyakininya lawan bicaranya telah memberi waktu padanya untuk menjawab. "Jadi yang mana maksudmu?", sahutnya dengan bekas susu menyelimuti bibir atasnya.
"Apa kita tidak pernah memiliki perasaan dan nasib yang sama?", tanya Jimin.
Taehyung mengerutkan keningnya, menampakkan wajah tak mengerti dan sedikit konyol. Kepalanya tertarik sedikit dalam sentakan keterkejutan. "Perasaan yang sama? Jangan bilang kau jatuh cinta padaku?"
"Taehyung… jangan seperti ini. Aku serius.", Jimin mulai gemas. Hendak rasanya ia memukul lengan Taehyung dengan tenaga bajanya. Sayang, rasanya tenaga baja itu telah hilang entah ke mana.
Taehyung menaruh gelas yang telah kosong itu seraya menghilangkan bekas susu di bibirnya dengan lengan hoodie usangnya. "Perasaan yang sama? Maksudmu seperti saat aku sedih, kau juga akan sedih?"
Jimin mengangguk pelan, membiarkan helaian rambut jatuh ke dahinya.
"Mungkin saja. Kenapa tidak? Kita sudah bersama-sama sedari kecil. Aku sebenarnya tak pernah menyangka kita akan bersama-sama sampai seperti ini. Maksudku seperti, hey ayolah, aku dulu hanya anak kecil terbuang yang dipungut Sekretaris Choi. Ia yang memperkenalkanmu padaku dan membiayaiku hingga aku lulus sekolah menengah atas. Kemudian ketika kau keluar dari rumah, Sekretaris Choi yang menitipkanmu padaku.", jelas Taehyung seraya mengerubungi kepalanya dengan hoodienya, kemudian menarik tali hingga erat dan menyisakan wajah bulatnya. Ia kedinginan.
"Jadi kenapa ketika aku baik-baik saja, kau tak bisa jadi baik-baik saja?"
Taehyung terdiam sejenak, tak sampai 1 detik hingga sebuah kekehan terdengar. Jari-jemarinya sibuk mengikat tali hoodienya hingga membentuk pita yang bergelayut di lehernya. "Memangnya kenapa? Sekarang saja aku baik-baik saja, dan lihat dirimu? Apa kau baik-baik saja?"
Tak seuntai kata mampu terucap dari bibir ranum Jimin. Mungkin dirinya hanya berpikir terlalu berlebihan semalam hingga tak sempat memejamkan matanya. Ia berani bertaruh kantung matanya akan sangat kentara dengan warna kulit pucatnya sekarang.
"See? Apa kau memikirkan tentang hal itu semalam hingga tidak tidur?"
Netra Jimin membulat, terkejut bahwa Taehyung tahu dirinya tak tidur semalam. "Dari mana kau tahu aku tidak tidur semalam?"
Taehyung mengedikkan bahunya, "Aku juga tidak tidur semalam. Hanya duduk dan menutup mata.". Ia menguap lebar dengan mata yang berair, "Makanya aku sangat mengantuk sekarang.", lanjutnya.
"Tapi kau menutup matamu sepanjang malam, sementara aku tidak. Lalu bagaimana bisa-"
Taehyung mementil dahi Jimin cukup keras hingga suara ketukan terdengar nyaring di indra pendengaran si pelaku. "Kau kira aku tuli? Kau bergumam sepanjang malam asal kau tau.", sergap Taehyung dengan nada kesal.
Sosok lelaki bersurai dirty brown itu menakup kedua pipi tembam sahabat karibnya itu. "Bagaimana jika aku tak bisa melewati operasiku? Bagaimana jika tak ada pendonor? Bagaimana jika ini, bagaimana jika itu… aku pusing mendengarnya, Jim.", tutur Taehyung seraya menekan kedua pipi itu sehingga bibir Jimin terlihat seperti ikan yang bernafas.
Suara geraman dari tubuh yang menggeliat tidak nyaman di sofa mengalihkan perhatian keduanya. Wajah entitas itu sedikit bengkak, tertutup bantal kecil dan separuh syal tebal."Tidak bisakah kalian diam sekejap saja, Bocah…", suara serak Hoseok yang khas menyapa –tepatnya memprotes- keduanya di pagi hari.
Beberapa detik kemudian, dengan terpaksa, Hoseok menyeret kakinya yang beralas sandal rumah sakit keluar kamar. Netranya setengah terbuka sementara hidung dan mulutnya tertutup oleh syal tebal. Ah sial, tidak mungkin Hoseok akan pergi mencari sarapan dengan surai seberantakan itu, kan, pikir Taehyung.
"Apa kalian lihat-lihat?", sergap Hoseok seakan tak terima ketika atensi kedua lelaki yang lebih muda darinya itu tertuju padanya.
Taehyung mengedikkan bahu, "Kalau kau lapar, setidaknya benahi dulu rambutmu, Hyung."
"Seperti singa…", sindir Jimin dari balik alat bantu pernafasannya.
Selanjutnya, yang terekam di memori Taehyung dan Jimin adalah bagaimana Hoseok yang kesal menutup pintu itu kembali dengan kakinya, kemudian masuk ke dalam kamar mandi berbarengan dengan suara air keran yang mengucur.
Ada waktu di mana keheningan menjamu mereka, tak ada konversasi. Ketika Taehyung mengambil tempat duduk dan menyeretnya ke samping Jimin, sementara Jimin diam-diam memerhatikan sosok sahabatnya itu. Satu hal yang ia sadari, Taehyung semakin kurus walaupun tertutup hoodie itu. Tulang selangkanya terlihat jelas dari balik hoodie yang 'jatuh' ketika Taehyung menunduk, tulang rusuknya pun begitu.
Taehyung duduk di kursi itu ketika ia sadar Jimin memerhatikannya. Sedetik kemudian, setelah mereka tidak sengaja bertemu pandang, Jimin mengalihkan gerakan bola matanya menuju televisi yang terpampang tanpa ada niatan untuk dihidupkan.
"Kenapa kita tidak hidupkan televisinya? Aku bosan tidak menonton apapun.", tutur Jimin yang sadar bahwa ia telah tertangkap basah memerhatikan Taehyung. Ia hanya perlu sedikit acting yang simple untuk mengundang iba dari Taehyung.
"Kau bisa menontoniku sepuas hatimu seperti tadi. Lagi pula aku tidak keberatan."
Jimin memutar bola matanya seraya berusaha meraih remote televisi di atas nakas yang tepat ada di sampingnya. Ketika ibu jari pendek yang Taehyung sebut imut menekan tombol merah di pojok remote, televisi itu memampangkan siaran kartun tom and jerry. Jimin nampaknya tak ada niatan untuk mengganti siaran kekanakan itu.
"Kau tidak sarapan?", tanya Taehyung.
Jimin menggeleng dengan netra yang masih berkiblat pada televisi itu, "Aku menunggu ibu.", sahutnya.
Senyum miring terpatri seketika di bibir kemerahan Taehyung, "Manja."
"Aku hanya sedikit banyak pikiran, kurasa. Aku sedang memerlukan ibuku."
Bercampur suara kunyahan popcorn milik Hoseok dari dalam mulut Taehyung, ia bertanya lagi, "Kenapa?"
"Kudengar hari ini keputusan ada atau tidaknya donor paru-paru untukku."
"Lalu?"
"Aku hanya takut jika aku tidak mendapatkannya."
Taehyung terbahak sumbing, seakan-akan Jimin baru saja menyatakan perasaan cinta padanya. Entitas lainnya yang bersurai hitam legam hanya menatap dalam diam bagaimana Taehyung terpingkal-pingkal di kursinya. Jimin mampu membaca tawa hambar itu.
"Bukan sesuatu yang harus kau tertawakan.", ucap Jimin datar. Ia tidak marah, ia hanya tak suka tawa hambar itu berdengung di indra pendengarannya.
Taehyung tersenyum dengan telapak tangan di pipinya, "Kenapa tidak? Aku hanya tengah menertawai kebodohan seseorang."
"Maka ajari aku untuk tidak seperti ini."
Taehyung terdiam seketika, masih dengan senyuman penuh arti di wajahnya. Tatapannya teduh namun Jimin mendapatinya sebagai hal yang berbeda. Seperti ada aroma-aroma tantangan yang entah bagaimana menyeruak dari raut wajah simple lelaki berhoodie itu. Lelaki dengan alat bantu pernafasan itu dipenuhi tanda tanya dan kata 'apa'.
"Kau yakin aku harus mengajarimu?"
Akhirnya Taehyung buka suara.
Jimin meneguk salivanya kasar, mengendus hal-hal mencurigakan dari pertanyaan sahabat senasib sepenanggungannya itu. Matanya memicing tanpa bermaksud semakin menantang Taehyung. "Jangan lakukan apapun itu yang bentuknya kriminal."
Tangannya berpindah pada dagu, menopang kepalanya. Bahu kurusnya berkedik di balik hoodie sehingga sedikit tak jelas tertangkap di netra Jimin. "Aku tidak tahu apapun itu. Tapi aku mengajarinya secara reflek."
Penekanan pada kata reflek itu membuat bulu kuduk Jimin meremang. Sial, Taehyung terkadang seperti psikopat di matanya. Ia menghindari kontak mata dengan kembali bergelut dengan keriangan yang dipaksakan dengan menonton televisi. Curi-curi pandang pun, Jimin masih mendapati Taehyung ada di sana dan menatap intens padanya.
Suara ciutan pintu kamar mandi yang terbuka membawa atensi Jimin pada asal suara. Ada Hoseok di sana dengan rambut setengah basah di bagian depan dan kering di bagian belakang. Tak lupa eksistensi syal tebal bercorak kotak-kotak hitam merah putih yang menutupi setengah wajahnya. Netra Hoseok mengukung 2 entitas lain di kamar itu menatap ke arahnya.
"Apa sudah lebih baik?", pertanyaan yang tak terdengar jelas, bergemuruh hanya sebatas di balik syal tebalnya, sisanya tergantung pendengaran lawan bicaranya.
Jimin dan Taehyung mengangguk berbarengan. Hoseok terkejut sekaligus tak habis pikir bagaimana bisa gerakan itu terjadi berbarengan pada 2 lelaki yang lebih muda darinya itu. Ia beranjak keluar kamar dengan tujuan yang tak ada yang mengetahuinya, hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.
Ketika pintu tertutup dan eksistensi Hoseok menghilang dari netra Taehyung, ada alarm tersendiri dalam dirinya untuk melanjutkan konversasi bersama sahabatnya.
"Seok Jin hyung pernah membawaku ke suatu tempat yang rahasia. Sangat indah."
"Pamer…"
Taehyung berdecak, memukul paha Jimin pelan. "Bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin memberitahumu kalau Seok Jin hyung berjanji membawa kita ke sana."
"Lalu?"
"Tidakkah kau ingin melakukannya bersamaku…."
Jimin menoleh ke arah Taehyung, penuh rasa ingin tahu apa yang ada di benak sahabatnya itu sebenarnya.
"….hari ini juga?"
[-]
Sosok lelaki berbalut kemaja putih tipis meneguk perlahan cangkir berasapnya. Kemajanya sengaja dilipat sebatas siku, memudahkan pergerakan persendian di sikunya. Dari balik kemajanya, terbentuk otot-otot kekar dan pembuluh yang menyembul di balik kulit putihnya. Celana panjang hitam menjadi pasangan yang pas dirasa pemakainya.
Tiap tiupan pelan yang lepas dari mulutnya, hangat dari hot chocolate menyapa kulit wajahnya. Aroma khas cokelat menohok indra penciumannya, membuat senyum tipis penuh kedamaian terpatri di wajahnya.
"Mana ada lelaki yang bekerja di perusahaan sepertimu yang minum cokelat panas bukannya kopi hitam panas atau Americano atau cappuccino.", sindir lelaki lainnya yang duduk tepat di hadapan lelaki berkemeja putih tipis itu.
Jungkook meletakkan kembali cangkir berisi hot chocolate-nya ke atas piring kecil. "Aku orangnya.", sahut Jungkook dengan nada berat khas lelaki dewasa yang dipaksakan.
Entitas bersurai madu nan berantakan di hadapan Jungkook tersenyum miring, "Apa kau sehat?"
Tidak… Jungkook tahu bahwa dibalik senyuman miring itu, Yugyeom tak bertanya masalah keadaannya, namun lebih ke arah kewarasannya. "Tentu saja sehat."
"Mana ada pula pemilik café yang mengundang sahabatnya ke café lain yang extra mahal seperti dirimu?"
Jungkook mengedikkan bahu setelah melahap sepotong chocolate muse yang disendoknya dari dalam cup putih kecil. "Aku hanya ingin memberi treatment plus pada sahabat yang lama tak kujumpai. Sudahlah jangan banyak protes kau, Bocah."
Tawa riang terlontar dari mulut Yugyeom. Dalam pendengaran Jungkook, suara tawa yang meledak-ledak itu bersatu padu dengan musik klasik yang diputar café itu, seperti opera yang tiba-tiba dicampur marching band. Jujur saja, Jungkook terganggu dan pusing dengan kepekaan yang keterlaluan tersebut.
"Kau pasti kenal Taehyung hyung dan Jimin hyung, kan? Kalian satu angkatan.", tanya Jungkook tanpa basa-basi.
Keterdiaman yang tiba-tiba terundang pada diri Yugyeom. Alisnya terangkat dalam kebingungan, tanda ia harus bertanya sesuatu balik kepada Jungkook. Yugyeom mengangguk sebagai sahutan awal, "Memangnya kenapa?"
"Kau tahu mengenai kecelakaan laboratorium mereka?"
Yugyeom mengangguk, ingat betul bagaimana kecelakaan penelitian gas radon itu pernah terjadi ketika dirinya ada di sekolah menengah atas dulu. Tapi tak ada hal menarik tentunya yang mampu membuat Jungkook mengungkit hal tersebut. Lagi pula, Yugyeom sejujurnya tak banyak tahu tentang hal itu, hanya mendengar desas desus yang beredar. Dirinya hanya siswa transferan sekolah lain untuk menjalankan kelas percepatan. Dan nyatanya, dirinya pun bukan saksi mata kejadian karena kelas pecepatan jauh dari laboratorium.
"Kutebak kau tak tahu banyak tentang itu."
Yugyeom bersandar dengan tangan yang terlipat di depan dada. "Tentu saja aku tak banyak tahu. Apalah yang kuketahui selain belajar di dalam kelas, memperebutkan ranking dan menambah rival di dalam kelas."
Jungkook bertumpu dagu pada lengannya di atas meja. Nafas terhembus agak keras dari mulut Jungkook. "Tapi biasanya orang-orang sepertimu, tahu banyak tentang desas desus yang beredar, bukan?"
Yugyeom mengedikkan bahunya dan memberikan wajah tak percaya serta sedikit gelengan kepala. "Kenapa tak berusaha mencari bukti asli dibandingkan mencari rumor?", tanya Yugyeom. Jungkook itu pintar namun ada sisi bodohnya juga, pikir Yugyeom.
"Sebelum mencari bukti asli, aku perlu abstrak untuk dipertanyakan."
Oh sial, kebodohan yang menyelubungi kemasuk-akalan ternyata. Kedua telapak tangan Yugyeom terbuka di depan dadanya kemudian tertutup lagi seakan ia hendak berucap sesuatu namun diurungkannya. "Aku tak tahu banyak rumor. Hanya ada satu rumor yang masih aku ingat."
"Apa?"
Yugyeom menghela nafasnya sebelum berucap beberapa untai kalimat sebagai balasan untuk Jungkook, "Kudengar kejadian itu disengaja. Kebocoran pipa itu semua disengaja. Sudah direncanakan untuk menggagalkan proyek itu."
"Why?"
"Who knows? Ini hanya rumor belaka, tak ada yang bisa membuktikannya dengan benar. Kalau pun benar, mungkin saja alasannya ada yang iri atau benci pada mereka?"
Jungkook meneguk hot chocolate sebelum melanjutkan esensi dari percakapannya itu. "Seperti sabotase, begitu?"
"Bisa dibilang seperti itu."
Jungkook sama sekali tidak terbantu oleh ini. Ia tidak menemukan titik terang, justru kekalutan baru. Ia perlu jalan terang, bukannya terowongan gelap yang entah berujung pada apa dan di mana. Dan keheningan yang menjamunya di café itu sama sekali tak berarti apapun pada tanda tanya di benaknya.
"Siapa yang menyabotasenya?"
[-]
Hoseok duduk dengan pulpen bertinta hitam di tangannya. Di bawah telapak tangan yang menggenggam pulpennya, terdapat sebuah kertas putih kosong. Mungkin dirinya hendak mencatat sesuatu yang sekiranya akan diucapkan dokter muda berkacamata di hadapannya. Sempat tak percaya jika lelaki semuda itu akan menjabat sebagai dokter ahli penyakit dalam dan telah menjalankan berbagai operasi. Ia berani bertaruh jika ada kemungkinan dirinya dan dokter muda itu sebaya. Di sisi lain, pulpen di tangannya tak bisa diam, berputar-putar sesuai permainan jemari lentiknya. Dirinya tak berhenti mengumandangkan kata-kata harapan dalam sukmanya agar setidaknya ada berita baik yang keluar dari mulut dokter muda yang diyakininya bernama Kim Namjoon itu.
"Masalah pasien Park Jimin ssi, uh…", mata dokter itu tak lepas dari dokumen dengan kertas A4 yang diprint rapid an professional. Itu pasti dokumen riwayat penyakit Jimin, pikir Hoseok.
"…yang jelas operasi harus secepatnya dilaksanakan. Dari apa yang dilaporkan, sudah ada 2 donor paru-paru yang cukup untuk pasien Jimin ssi. Jadi, operasi terjadwal sementara akan dilakukan 5 hari lagi jika tidak ada kendala dengan kondisi kesehatan pasien Jimin.", jelas dokter Namjoon dengan senyuman di bibirnya. Terlihat jelas lesung pipi yang manis di antara kewibawaannya di balik jubah suci kedokteran itu.
"Itu berarti adik sepupuku akan pulih kembali, kan?", akhirnya 1 senyuman penuh harap mampu tersungging di wajah Hoseok hari itu.
"Jika tahap operasi berjalan lancar dan tahap penyesuaian paru-paru serta kemoterapi juga tanpa kendala, tentu saja pasien Park Jimin akan sembuh. Mungkin tahapan penyesuaian akan sedikit rumit jadi diperlukan dukungan dari orang-orang di sekitarnya."
Hoseok menulis sedikit pesan dari Namjoon agar terhindar dari segala kemungkinan lupa informasi yang telah diberikan. Tulisannya cakar ayam. Bersambung dari satu huruf ke huruf lain dnegan cepat. Patut dipertanyakan apakah orang lain atau bahkan dirinya sendiri dapat membaca tulisan itu nantinya.
"Sebenarnya aku cukup terkejut melihat bagaimana pasien ini bertahan cukup lama bahkan ketika aku mendengar bahwa ia menolak segala obat-obatan dan terapi. Pengidap kanker sepertinya mungkin akan sulit untuk bertahan tetap seperti itu. Aku yakin pasti ada pihak-pihak yang membantunya seperti ini."
Hoseok tersenyum simpul, dalam hatinya mengelu-elukan nama Taehyung yang telah membantu adik sepupu yang sangat ia sayangi itu untuk melewati masa-masa sulit bersama. Mungkin seperti itu adanya sahabat, pikir Hoseok.
"Sahabatnya selalu mendukungnya hingga jadi seperti ini."
Namjoon mengangguk seraya membenahi letak kacamatanya, "Aku tidak heran jika dukungan keluarga dan sahabatnya membuatnya jadi sekuat ini."
"Terima kasih banyak, Dok. Aku akan menyampaikan ini pada pihak keluargaku."
"Sama-sama. Ngomong-ngomong, panggil saja Namjoon. Tak perlu sungkan. Kurasa kita sebaya.", sahut Namjoon.
Hoseok tersenyum untuk kesekian kalinya sebelum meninggalkan ruangan itu dengan penuh suka cita. Kertas berisi catatan singkat itu berada di pelukannya, sedikit lecek. Syal tebalnya bergelayut aktif di lehernya, mengikuti arah jalan cepat penuh kebahagiaan pemiliknya. Begitu pula dengan rambutnya. Senyumnya tak mampu lagi ditahan mendengar bagaimana dalam waktu 5 hari, operasi yang akan menyelamatkan hidup Jimin akan dilaksanakan. Walaupun mungkin terlambat, tapi dengan kekuatan Jimin, semua pasti akan baik-baik saja.
"Kau akan segera sembuh, Chim…"
[-]
Ketika waktu di layar telepon genggam Nyonya Park menunjukkan pukul 15.08, Taehyung setengah berbaring di sofa seraya menonton televisi. Rambutnya basah sehingga hoodie pun tak lekas dipakainya. Setelah sekian lama, mungkin 2x24 jam tidak mandi dan akhirnya merasakan air hangat dari shower, rasanya seperti surga di dunia. Terberkatilah shower rumah sakit yang dua kali lebih baik daripada shower di apartment murahannya dulu.
Netranya dan atensinya di awal-awal memang terpaku pada televisi itu, namun lama kelamaan tatapannya menerawang. Ingatan dan atensi Taehyung tidak lagi di sana. Dengan wajah datarnya, diingatnya secara tak sengaja potongan memori masa remajanya saat ada di sekolah menengah atas bersama Jimin. Bagaimana mereka datang ke kelas bersamaan, menjadi penyebar jawaban ketika ulangan, hujan-hujanan, memperebutkan sebatang pensil dan sebuah penghapus, membuat penelitian beasiswa bersama dan hingga naasnya, tragedy itu terjadi dan tak lama setelahnya, kabar yang lebih buruk menghantam kehidupan sempurna seorang Kim Taehyung dan Park Jimin.
Kala itu, Jimin hanya dapat berbaring tak berdaya di atas kasur putih itu. Terlihat sangat mengenaskan mengingat usianya yang belum seberapa. Jimin berada di ujung tanduk, tak dapat mengelak maupun menerima. Dirinya hanya bisa terdiam mendengar bagaimana dokter telah mengutarakan segala hal terjadi padanya.
Tak lama setelah mendengar penjelasan dokter, Taehyung datang, kristal air mata membasahi setiap millimeter pipinya. Ketika Jimin melirikkan netranya pada Taehyung, tangisan tak lagi dapat Taehyung bendung. Sosok lelaki bersurai hitam legam itu tahu, sebagai seorang sahabat yang ada bersamanya sedari kecil, sosok bersurai dirty brown itu pasti sangat menyesal dan hendak mempersalahkan dirinya.
"Maafkan aku…", isak Taehyung segera setelah dirinya berhambur memeluk Jimin erat. Tubuhnya bergetar. Resonansi begitu kental dari suara berat nan serat khas Taehyung.
Dalam benak Jimin yang terdalam, dalam sukmanya yang tak mampu menerima segala kenyataan ini, ada sebuah pertanyaan yang sama. Apa dirinya terlihat semenyedihkan itu di mata Taehyung bahkan orang-orang di sekitarnya? Apa ia akan mati semudah itu?
Jimin tersenyum simpul walau dalam kekalutan tanpa sahabatnya sadari, "Gwaenchanha. Tak ada yang harus disesali…"
Taehyung mendekap Jimin semakin erat, seakan berusaha menghentikan waktu dan memberikan dirinya waktu lebih lama untuk tetap berada di sisi Jimin. Sayangnya, waktu terus bergulir, tak peduli seberapa banyak tetes air mata menitih dari mata indah Taehyung dan seberapa erat Taehyung mendekap Jimin.
"Tetaplah berada di sisiku hingga saatnya nanti atau tetaplah berada di sisiku hingga hari kelulusan nanti….", pinta Jimin tatkala setetes air mata menitih dari pelupuk matanya. Rubuh sudah benteng pertahanannya menerima kenyataan yang ada ditambah melihat bagaimana terpuruk sahabatnya itu. Dirinya tak pernah bermaksud membuat orang-orang khawatir akan dirinya seperti ini.
"Aku pasti tetap di sisimu...", sahut Taehyung pasti dengan sebuah anggukan yang begitu terasa di pundak Jimin.
Jimin lega, setidaknya ia punya satu orang yang dapat datang dan memakamkannya suatu hari nanti.
"Taehyung…", suara khas wanita sangat halus merangkak ke indra pendengarannya. Atensi teralihkan ke dunia nyata tepatnya wanita berusia paruh baya yang terduduk di pinggir kasur Jimin. Sekilas, ia mampu melihat Jimin menatap ke arahnya pula.
"Apa aku tak menyahut terus menerus?"
Sebuah gelengan dihadiahi Nyonya Park pada Taehyung. "Ibu melihatmu melamun jadi ibu hanya khawatir. Apa kau ada pikiran?"
Taehyung tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, "Tidak ada yang begitu serius, Bu. Aku hanya berpikir bagaimana dengan kuliahku dan pekerjaanku di café Seok Jin hyung. Bukan masalah besar juga karena sepertinya Hoseok hyung sudah mengurus semuanya.", jelas Taehyung seraya memeluk hoodienya.
Detik berikutnya, sebuah selimut tebal telah menyelimuti tubuh kurus Taehyung. Nyonya Park memang merangkap sebagai ibu Taehyung, selalu mengerti apa yang Taehyung perlukan bahkan ketika keadaan anak kandungnya sendiri tidak lebih baik dari Taehyung. Nyonya Park selalu seimbang antara Jimin dan Taehyung seakan keduanya lahir dari rahim yang sama yaitu rahim Nyonya Park.
"Ibu dengar kau tak tidur semalam. Tidurlah. Ibu akan membangunkanmu saat makan malam tiba, okay?", tutur Nyonya Park seraya mengelus surai dirty brown Taehyung penuh kasih sayang. Taehyung merasakan kehangatan menjalar di sukmanya. Sosok ibu yang diimpikan dan dirindukannya telah datang.
Ia mengangguk sebelum menutup matanya, berjalan menuju dunia mimpi. Terlelap dalam tidur bukanlah hal yang mudah bagi Taehyung di saat-saat seperti ini. Menutup mata dan berpura-pura tidur itu mudah. Lalu bagaimana untuk sekadar beristirahat ketika netra dan tubuh sudah lelah namun pikiran terus bekerja? Salahkan otak Taehyung yang bekerja di luar kendali dirinya sendiri. Terlalu hyper-active.
Di sisi lain, Jimin dapat membaca bagaimana Taehyung tak benar-benar ingin tidur dengan mata tertutupnya. Kerutan tipis di kening Taehyung cukup terbaca di netra Jimin walau sedikit samar. Dan hal lain yang akhirnya terjawab adalah bagaimana tubuh Taehyung benar-benar mengurus dari terakhir kali mereka bertemu di apartment. Hey ayolah, siapa yang sakit di sini dan siapa yang bertambah kurus di sini? Dirinya sedikit khawatir dengan keadaan Taehyung, sedikit bahagia pula bahwa itu berarti Taehyung memang masih sama seperti dulu. Penuh pertahatian untuk dirinya sebagai sahabatnya.
"Kau harus makan lebih banyak, Kim…"
"Jim, kenapa kau menatap Taehyung begitu?"
Jimin menggeleng, "Aku suka melihat Taehyung tidur. Rasanya damai sekali. Biasanya saat di apartment aku akan menekan-nekan pipinya dengan jariku tanpa ia sadari ketika tertidur. Ia benar-benar seperti kerbau, Bu.", tutur Jimin antusias dengan senyuman di bibirnya.
Nyonya Park mengusak surai hitam legam anak kandungnya itu turut bahagia mendengar cerita putranya yang seperti anak kecil. "Kau selalu bahagia bersama Taehyung, kan?"
Jimin mengangguk pasti tanpa basa basi. "Taehyung selalu mendukungku ketika aku pergi dari rumah. Walau selalu membujukku untuk pulang bersamanya, tapi ia tetap menjagaku dengan kekeras-kepalaanku. Ia itu sabar sekali ketika bersamaku.", penuturannya terputus ketika dirinya mengalihkan netranya pada sosok Taehyung yang diyakininya belum tertidur. Rasa berat di hatinya terasa bersamaan dengan beberapa tetes air mata mengalir tanpa seijinya. Entah itu air mata bahagia atau justru kesedihan mengingat memori-memori kebersamaan mereka.
"Kenapa anak ibu menangis, hm? Taehyung sudah di sini. Semua ada bersamamu sekarang, Jim. Jangan khawatir, Sayang…", ucap Nyonya Park seraya menyeka air mata putranya dengan ibu jarinya.
"Bahkan Taehyung mati-matian bekerja di café Seok Jin hyung untuk membayar biaya pengobatanku selama aku tak mendapat biaya apapun dari keluargaku sendiri. Aku memberatkannya, Bu. Taehyung itu sangat baik. Aku tak tahu bagaimana harus membalas kebaikannya selama ini.", sambung Jimin seraya menahan air matanya agar tidak tumpah dan menambah emosional keadaan dan situasi dalam bangsal rumah sakitnya itu. Tak baik pula untuk pernafasannya jika ia terisak seperti itu.
"Jim, kau hanya harus sembuh dan Taehyung pasti akan sangat bahagia. Kau harus kuat, mengerti?"
Jimin mengangguk kecil dengan sebuah senyum simpul yang dipaksakan.
Selanjutnya, ada sosok Hoseok yang datang dengan senyum sumringah menghampiri Nyonya Park dan Jimin.
"Apa kata dokter, Hoseok?", tanya Nyonya Park.
"Donor sudah ada dan operasi akan dilakukan lima hari lagi. Dokter bilang, ia optimis Jimin akan sembuh terutama mengingat bagaimana Jimin bertahan sampai sejauh ini dengan bantuan orang-orang di sekitarnya."
"Benarkah?", Nyonya Park segera memeluk putranya itu penuh rasa bahagia. "Kau akan segera sembuh, Jimin. Kau akan seperti dulu lagi. Kau harus kuat, mengerti?"
Jimin mengangguk, membalas pelukan ibunya.
Netranya bertubrukan dengan netra Taehyung yang entah sejak kapan telah terbuka dari tidur bohongannya. Didapatinya senyum tipis terpatri di bibir Taehyung yang nyaris tersembunyi di belakang selimut tebalnya. Jimin membalas senyuman itu, bersamaan dengan sebuah janji yang Jimin ingat Taehyung katakan tadi pagi.
"Kau harus membawaku ke tempat itu sebelum operasi.", hanya ada gerakan mulut tanpa suara dari Jimin, sementara dirinya masih memeluk hangat dan erat ibunya.
Taehyung mengangguk.
Namun, entah bagaimana, pertanyaan dan rasa penasaran kembali muncul di benak Jimin mengenai kata-kata Taehyung semalam. Jadi, Taehyung akan baik-baik saja, kan?
.
.
.
Kau akan baik-baik saja, kan, Tae ketika aku sembuh nanti? – Jimin.
Aku selalu berharap seperti itu, Jim. Kalau pun tidak, aku akan tetap baik-baik saja. –Taehyung
.
.
TBC (Last 4 Chapters!)
HUAAAAAAAAAAAAAAA! Aku gatau kudu ngomong apa wkwkw. Aku ngerjain ini ngebet banget biar selesai hari ini hauahhaha :V. So, bagaimana dengan chapter ini, guys? Doakan aku yang mau UKK terakhir besok yaahh ;))) Please tinggalkan review yahh… Thankk you and see u in the next chapter. Bye bye /lambai-lambai bareng si taetae and nchimol/
What will be my next project? Please stay tune for this Guys!
1. YoonKook Brothership, Illegal Racing, Crime, Slight Romance and Friendship.
2. MinYoon Romance, Psychological, Crime (Collab with. Jilan)
3. Other good things? Comment cast dan genre-nya yah! Akan dipertimbangkan untuk aku buat.
