Title :Detective Boys

Disclaimer : Kuroko no Basuke itu milik Fujimaki Tadatoshi. Kalau cerita ini baru milik saya

Rate : T

Warning :OOC, OC , adegan berdarah (?), typo, gaje, absurd, dan lain lain

CHAPTER 11


-Keesokan harinya-

Jam 8 pagi.

Saat ini Kisedai berencana mengunjungi rumah Kuroko untuk mengembalikan tas Kuroko yang kemarin dibawa oleh mereka. Mereka sedang berkumpul di rumah Akashi.

"Kenapa kalian tidak langsung ke rumah Tetsuya saja? Dan kenapa harus berkumpul di rumahku?" Akashi heran dengan teman-temannya karena pagi-pagi mereka sudah bertamu ke rumah dia. Akashi sedikit kesal karena aktivitas paginya diganggu oleh mereka. Tapi kekesalannya hanya ia pendam dan ekspresinya tetap tenang.

"Kan Akashi-cchi dan Kuroko-cchi tetangga-an jadi kami kumpul dulu disini-ssu." jawab Kise

"Lalu kenapa kalau kami tetanggan, Ryouta?" Kise bisa merasakan kalau Akashi mulai kesal. "Lagipula tasnya Tetsuya ada padaku. Aku bisa mengembalikannya sendiri."

"Aku ingin makan takoyaki buatan Tetsuna-san." Jawab Murasakibara sambil memakan camilannya.

"Atsushi, belum tentu Tetsuna-san sedang membuat takoyaki, kan."

"Sudahlah-nanodayo. Jangan ribut. Kalian berisik saja." tegur Midorima ketus tanpa mengalihkan pandangannya dari bukunya.

"Berani kau memerintahku ,hmm, Shintarou?" Akashi mulai mengeluarkan aura intimidasinya.

"Ti-tidak nanodayo." jawab Midorima dengan gugupnya.

Akashi hanya bisa menghela napas. Berdebat dengan teman-temannya hanya membuat dia kesal. Dan entah mengapa moodnya sedang buruk. Dan Akashi menyadari kalau mereka kehilangan seseorang. "Ngomong-ngomong, dimana Daiki?"

"Aku tidak tau, Aka-chin." Tiba-tiba pintu rumah Akashi dibuka dengan keras oleh orang yang baru saja dibicarakan. Dialah Aomine Daiki. Aomine datang dengan raut wajah yang kesal sambil membawa sebuah skateboard.

"AKH! Aku kesal sekali dengan skateboard ini." Ucap Daiki. Tanpa Aomine sadari ada aura ingin membunuh yang keluar dari Akashi. Hancurlah sudah mood Akashi hari ini.

"Kau ingin merusak pintu rumahku, D-A-I-K-I?" ucap Akashi dengan penekanan di nama Aomine.

"Oi-oi kenapa kau kesal sekali, Akashi?" Aomine merinding melihat Akashi sedang kesal. Saat Akashi mau membantai Aomine, tiba-tiba mereka mendengar teriakan dari salah satu teman mereka, yaitu Kise (dan membuat telinga mereka tuli sementara)

"UWAA! Kau merusak skateboardnya Kuroko-cchi,ssu." ucap Kise sambil menunjuk skateboard yang rusak sambil menunjukkan ekspresi panik.

"A-aku tidak sengaja merusaknya." jawab Aomine panik.

"Aomine-cchi, nanti Kuroko-cchi marah loh."

"Nanti aku akan minta maaf." Aomine pundung.

"Jangan teriak-teriak di rumahku, Ryouta." Akashi mengeluarkan aura intimidasi dan mengeluarkan guntingnya. "Kau ingin mati, ya…." Kisedai mulai panik.

"WOI, AKASHI. Jangan membuat fanfic saya menjadi crime dong." Author datang

"Genre fanficmu kan emang crime." Kisedai langsung spechless.

"Ah. Benar juga."

"Baka ka omae wa.?" (Kau bodoh ya?) -Akashi

"Sudah lah jangan berantem. Kembali ke cerita."

"Su-sudahlah-ssu. Lebih baik kita langsung ke rumah Kuroko-cchi saja, yuk."

"Ayo…" Dan mereka pun pergi ke rumah Kuroko.


-Sementara itu di rumah Kuroko-

Kita kembali ke waktu 1 jam sebelumnya. Jam 7 pagi.

Shiina sedang berada di kamar Kuroko dan membantu Kuroko untuk merapihkan rambutnya. Sementara Shiina sudah siap untuk pergi ke sekolah.

"Maaf ya, Nee-san. Bed hair ku memang susah dirapihkan."

"Daijoubu desu. Ini sudah biasa kan." Jawab Shiina tanpa menghentikan pekerjaannya.

"Bukannya Nee-san sedang buru-buru?" tanya Kuroko datar.

Shiina berhenti sejenak sambil berpikir. "Hmm… aku saja bingung kumpul untuk rapatnya jam berapa. Sakura belum menghubungiku lagi." Shiina kembali merapihkan rambut Kuroko. Satu jam kemudian, rambut Kuroko sudah rapi. (merapihkan rambut aja butuh waktu 1 jam. Sasuga BedHairnya Tetsu-kun :3)

"Selesai." Shiina tersenyum puas melihat hasil kerjanya. Tapi Shiina langsung memeluk Kuroko sampai Kuroko sesak napas. "Kyaa.. imut sekali. Aku lupa kalau kau sudah berumur 15 tahun padahal kau masih SD." Perlakuan tiba-tiba dari Shiina membuat wajah Kuroko memerah.

"Ne,nee-san kenapa tiba tiba…" ucapan Kuroko terpotong oleh gumaman Shiina.

"Andaikan aku punya adik kandung…." Suasananya mendadak hening. Tapi keheningan itu pecah karena ada suara telepon berbunyi. Dan yang menelepon Shiina pagi ini adalah Sakura.

"Ah. Moshi-moshi, Sakura."

"Moshi-moshi, Shiina-chan. Apa kamu sudah siap-siap?" jawab seseorang dari sebrang sana.

"Sudah daritadi sih. Tinggal berangkat saja. Aku malah sempat membantu Tetsuya untuk merapihkan rambutnya."

"Ah, souka. Kalau begitu sampai ketemu di sekolah." Sambungan telepon pun terputus.

Shiina hanya bisa spechless. "Kau menghubungiku hanya untuk itu?" Dan menghela napas.

"Sebaiknya Nee-san berangkat sekarang. Nanti terlambat loh."

"Ah. Benar juga." Mereka pun keluar dari kamar dan turun menuju meja makan.

"Obaa-san aku berangkat dulu, ya."

"Eh? Tidak sarapan dulu, Shii-chan?"

"Tidak usah. Nanti aku sarapan di sekolah saja." Saat Shiina hendak keluar, ada bel berbunyi.

TING TONG (suara bel :v)

"Ha'I" Shiina pun membuka pintu "Ara? Kimitachi ka?" (Ternyata kalian?)

"Shiina-san mau ke sekolah?" tanya Akashi.

Shiina mengangguk. "Harusnya aku sedang libur. Tapi tiba-tiba ada rapat dewan siswa. Ayo masuk dulu." Kisedai masuk ke rumah diikuti oleh Shiina. Shiina mengantar mereka ke ruang tamu dan memanggil Kuroko di ruang makan.

"Ara? Shii-chan bukannya mau berangkat?"

"Itu… Tetsuya, ada teman-temanmu datang." Shiina melihat jam tangannya. "Wah… sudah jam segini. Aku berangkat."

"Hati-hati di jalan Shii-chan/Nee-san" jawab ibu dan anak itu serempak.

Kuroko pun menuju ruang tamu untuk menemui teman-temannya.

"Ohayou gozaimasu, minna-san" sapa Kuroko

"Ohayou Kuroko/Kuroko-cchi/Tetsu/Tetsuya."

"Ngomong-ngomong ada apa ya pagi-pagi ke rumahku?"

"Oh, ini Tetsuya." Akashi memberikan tasnya Kuroko "Kami ingin mengembalikan tasmu."

Mengambil tas "Arigatou gozaimasu, minna-san." Kuroko menunduk sedikit. "Sampai repot-repot datang pagi-pagi untuk mengembalikan tasku. Padahal aku bisa mengambilnya sendiri."

"Sebenarnya pagi-pagi mereka sudah datang kerumahku, Tetsuya. Tas mu ada padaku. Aku juga kaget mereka sudah ada di depan rumahku saat aku sedang sarapan."

"Tadi jam 6 Kise menghubungiku. Katanya kita harus kerumah Tetsu." tambah Aomine. "Padahal aku masih ngantuk…. hooamm." Aomine menguap tanda dia masih mengantuk. Karena ucapan Aomine tadi, sontak membuat Kise menjadi murung.

"Oh iya." Aomine memberi skateboard Kuroko yang rusak. "Maaf ya Tetsu. Skateboardmu rusak."

Mengambil skateboard dari tangan Aomine "Tidak apa-apa kok, Aomine-kun." Tanpa sengaja Kuroko melihat Kise yang sudah murung.

"Ada apa, Kise-kun? Tiba-tiba murung begitu." tanya Kuroko.

"Ah… tidak apa-apa kok, Kuroko-cchi." Kuroko tau kalau Kise berbohong. Tapi ini yang terdengar di pikiran Kuroko. "Aku khawatir dengan Kuroko-cchi. Saat main petak umpet kemarin sikap Kuroko-cchi jadi aneh." Kuroko memakai telepati ternyata. Kuroko tersenyum kecil mendengar pikiran Kise.

"Kau menggunakan kekuatan telepatimu, Tetsuya?" Terdengan suara lagi dipikiran Kuroko tetapi orang yang berbeda. Kuroko sedikit kaget.

"Aku tidak tau kalau Akashi-kun bisa menggunakan telepati.." Jawab Kuroko.

"Aku belum begitu bisa mengontrolnya, Tetsuya."

"Nanti lambat laun Akashi-kun bisa mengontrolnya kok." Kuroko memberikan senyuman menandakan menyemangati Akashi.

"Kau benar."

Telepati mereka terputus karena Tetsuna memanggil Kuroko.

"Tetsu-kun ajak teman-temanmu sarapan bersama"

"Ha'I, Okaa-san." jawab Kuroko. "Minna-san bagaimana kalau kita sarapan bersama?"

"Uwaaahhh.. Aku lapar sekali. Aku ikut Tetsu."

"Aku juga." -Murasakibara

"Aku juga-ssu." -Kise

"Aku sudah sarapan di rumah-nanodayo." -Midorima

"Aku juga sudah." -Akashi.

"Baiklah. Akashi-kun dan Midorima-kun tunggu saja disini, ya. Nyalakan saja TV nya kalau bosan." Mereka berdua mengangguk. Kuroko, Kise, Aomine, dan Murasakibara ke ruang makan. Sementara Akashi, dan Midorima tetap di ruang tamu. Tidak lama kemudian, mereka selesai sarapan. Mereka berbincang bincang sebentar dan Kisedai akhirnya pulang ke rumah masing-masing.


-Sekolah Penyihir-

Dari rumah Kuroko sampai di sekolah, biasanya Shiina jalan kaki membutuhkan waktu 15 menit. Tapi yang terlihat, Shiina berlari dari rumah tadi dan 5 menit kemudian Shiina sampai di sekolah. Ia berhenti sejenak untuk mengambil napasnya yang tersengal-sengal dan melanjutkan larinya menuju Ruang OSIS. Setelah sampai, Shiina pun memasuki ruang OSIS tersebut dengan napas yang masih tersengal-sengal. Terlihat ada beberapa orang di ruangan tersebut, termasuk Sakura.

"Maaf … hosh….menunggu….hosh….. lama." Semua penghuni ruangan tersebut pun serentak melihat ke arah pintu yang sudah ada Shiina yang masih mengambil napas.

"Ah, tidak apa-apa kok, Kirigaya-san. Kami juga baru sampai." jawab sang Ketua OSIS tersebut. Sebut saja namanya Hyuuga Junpei. Shiina pun mencari kursi yang kosong dan duduk disana.

"Are Shiina-chan? Kamu kenapa? Kamu terlihat seperti habis lari marathon." ucap Sakuran yang melihat Shiina yang sangat letih.

Setelah napasnya kembali, Shiina menjawab pertanyaan Sakura "Aku habis lari dari rumah."

"Wah pantas…"

Sang Ketua OSIS pun membuka suara "Etto, minna. Minta perhatiannya." Anggota rapat itu langsung memperhatikan sang Ketua. "Kalau begitu, Riko tolong buka saja rapat hari ini." perintah sang ketua. Gadis yang dipanggil Riko -yang kebetulan menjadi sekretaris OSIS- pun berdiri.

"Ehem. Rapat kali ini membahas tentang kasus yang baru-baru ini terjadi yaitu kasus pencurian batu kebangkitan yang dilakukan oleh Departemen Anti Penyihir."

"Kita belum tau tujuan mereka apa, tetapi saya pribadi ada dugaan kalau batu itu akan digunakan untuk membangkitkan Sang Penyihir Kegelapan, Shinigami." tambah Hyuuga.

Salah satu anggota rapat tersebut mengacungkan tangan karena hendak bertanya, yaitu Sakura. "Sakura-san ingin bertanya apa?" tanya Aida Riko.

"Bukannya Shinigami itu penyihir juga? Departemen Anti Penyihir kan sangat membenci para Penyihir."

"Ini hanya dugaanku saja sih." jawab Riko. "Mungkin karena Shinigami ingin memusnahkan kaum penyihir jadi Departemen Anti Penyihir dan Shinigami bekerjasama."

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya anggota OSIS yang lain, Koganei Shinji.

"Kita harus mencegah hal tersebut tentu saja." jawab sang Ketua OSIS

"Aku mendapat informasi jika mereka benar-benar ingin membangkitkan Shinigami, maka mereka akan mencari penyihirdi seluruh dunia dan membinasakannya ." tambah Riko.

"Dan kalau mereka berhasil membangkitkan dia, Dunia Manusia tidak akan aman lagi. Mereka juga pasti akan membuat kekacauan" -Hyuuga

"Aku tidak tau cara mencegah kebangkitan sang Shinigami." -Riko

Tanpa sadari oleh anggota OSIS yang lain, Shiina yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan tersebut mengepalkan kedua tangannya yang berada diatas meja. Sekilas ekspresi Shiina masih datar tapi matanya sudah berkilat marah dan hawa ingin membunuh pun keluar dari tubuhnya. Sakura yang berada di sebrang pun saat merasakan aura yang tidak mengenakan langsung merinding

"Oi oi… Shiina-chan saat ini marah besar. Aku jadi takut. Sepertinya aku ajak dia kesini bukan ide yang bagus. Shiina-chan jadi mendengarnya langsung" batin Sakura

"Oh iya. Aku punya satu informasi lagi." perkataan Riko lantas membuat Sakura kembali fokus.

"Apa itu, Riko?"

"Hmm… entahlah ada hubungannya dengan kasus yang sedang kita tangani tapi semalam ada kecelakaan beruntun di jalan tol. Dan tersangkanya belum tertangkap. Nanti aku akan mencari informasi lagi. Mungkin saja ada hubungannya." dan Riko pun duduk kembali.

"Terima kasih Riko." Riko mengangguk. "Karena kita akan mencari informasi lebih rinci lagi, nanti saya akan menghubungi kalian lagi. Terima kasih atas waktunya." Hyuuga menunduk sedikit.

Para anggota rapat sedikit demi sedikit mulai meninggalkan ruangan. Dan tinggal Shiina, Sakura, Aida Riko dan Hyuuga Junpei.

"Kirigaya-san, ada yang ingin aku tanyakan." Hyuuga menghela napas. "Apa kau mengenal orang yang telah menghancurkan gedung Departemen Penyihir.?"

"Bukan kenal lagi. Malahan musuhku." Perlahan ekspresi Shiina yang tadi menyeramkan kembali datar. "Namanya Ryuunosuke dan Shiro. Aku tidak tau apa yang mereka lakukan padahal Departemen Penyihir mempunyai sistem keamanaan yang tinggi"

"Dan penjaga disana juga banyak dan cukup kuat." tambah Sakura.

"Tapi tidak cukup kuat untuk melawan mereka." jawab Shiina. "Lagipula tidak semua penjaga disana memiliki sihir. Ada juga manusia biasa."

"Tapi kan meskipun hanya manusia biasa, mereka cukup terlatih." ucap Riko.

"Kalian tidak tau mereka bagaimana." Shiina bangkit dari duduknya dan hendak keluar dari ruangan. "Rapatnya sudah selesai kan? Kalau begitu aku pulang." Shiina melanjutkan keluar dari ruangan.

"Tu-tunggu, Shiina-chan…" Sakura hendak mengejar Shiina tapi tangannya dipegang oleh Riko.

"Sudahlah, Sakura-chan."

"Ta-tapi, Senpai…"

"Tidak apa-apa. Aku akan mencari informasi lagi." ucap Riko.

"Baiklah." Sakura menunduk karena merasa bersalah atas sikap Shiina.


-Kembali ke Shiina-

Shiina hendak pulang ke rumah, tapi dia ingin menenangkan diri. Dan akhirnya Shiina duduk di taman tidak jauh dari sekolahnya. Pikirannya saat ini sedang memikirkan sesuatu.

"Kecelakaan? Apa itu perbuatan mereka juga?" batin Shiina dalam hati. "Ah.. perbuatan mereka tidak ada habis habisnya untuk menghancurkan dunia manusia" gumam Shiina sangat pelan.

"Ah, Kakak sedang berbicara sendiri ya?" ucap sebuah suara. Shiina yang sejak tadi sedang melamun tidak menyadari ada seorang anak yang sedang duduk di sampingnya. Dan Shiina pun kaget.

"Eh? Sejak kapan kau disini?" tanya Shiina kepada anak itu.

"Aku sudah daritadi disini." jawab anak itu.

"Uwa… menakutkan. Kok kayak Tetsuya sih? Tiba-tiba sudah disampingku saja." Batin Shiina.

"Kakak saja yang melamun terus daritadi tanpa menyadari kehadiranku."

Shiina sedikit bingung dengan pernyataan anak itu. "Ara? Kamu bisa tau apa yang aku pikirkan?"

"Tau kok." jawab anak itu dengan nada ceria.

Shiina menghela napas. "Maafkan aku kalau aku menggangumu."

"Tidak kok, Kak."

"Tapi kamu sama siapa disini? Orang tuamu dimana? Apa kamu tersesat?"

"Kakak bertanya terlalu banyak." Anak itu kesal karena Shiina banyak bertanya.

"Ah, gomennasai. (Maaf)" Shiina gugup karena pernyataan yang keluar dari mulut anak itu.

Anak itu tertawa kecil. "Kakak minta maaf terus. Ah perkenalkan. Namaku Momoi Satsuki. Aku sedang menunggu kakakku yang sedang rapat di sekolah dekat sini."

"Kakak?" Shiina sedikit heran. "Kakakmu tega sekali meninggalkanmu sendirian disini." "Apalagi sepertinya anak ini mengingatkanku kepada seseorang. Siapa ya?" batin Shiina dan memasang pose berpikir dan membuat anak itu sedikit merasa risih karena dilihat dengan tatapan menyelidik.

"Ano… ada apa dengan wajahku, Kak?" Lamunan Shiina langsung buyar.

"Ah, tidak apa-apa kok." Shiina menghela napas "Eto… bagaimana kalau aku antarkan ke tempat kakakmu berada?"

"Eh? Tapi aku disuruh tunggu disini. Nanti kakak malah khawatir kalau aku tidak ada disini."

Shiina mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman itu dan menemukan penjual es krim. "Ah, cuacanya mulai panas. Itu ada penjual es krim. Kamu mau?" tawar Shiina kepada Momoi.

"Boleh… Aku mau rasa stroberi ya, Kak."

"Baiklah. Tunggu disini, ya." Shiina meninggalkan Momoi untuk membeli es krim. Tak lama kemudian, Shiina kembali dengan membawa 2 cone es krim rasa vanilla dan stroberi.

"Nih, untukmu." Shiina memberika es krim rasa stroberi kepada Momoi.

"Arigatou, Onee-chan." Momoi memakan es krim itu. Mereka melanjutkan bincang bincang sambil menunggu Momoi dijemput kakaknya. Tak lama kemudian, mereka mendengar suara seseorang memanggil Momoi

"Satsuki-chan…" panggil Sakura sambil berlari menghampiri Momoi.

"Ah, Sakura onee-chan." Momoi senang akhirnya Sakura menjemputnya.

"Maaf ya menunggu lama. Rapatnya tadi cukup lama."

"Daijoubu desu. Aku tadi ditemani Kakak ini." Sambil menunjuk Shiina.

"Ara? Shiina-chan? Kupikir kamu sudah pulang."

Shiina berdiri. "Ini mau pulang kok." Shiina mengelus rambut Momoi lembut. "Sampai berjumpa lagi, Momoi-chan." Shiina hendak meninggalkan taman itu tapi berhenti karena tangannya ditahan oleh Sakura.

"Shiina-chan, maukah kamu membantu kami untuk menghentikan mereka?" tanya Sakura dengan pelan tapi masih bisa didengar Shiina. Dan ia pun berbalik untuk menatap Sakura

Tak lama Shiina menunjukkan senyum tipisnya. "Tanpa kamu minta aku pun akan menghentikan mereka. Walau nyawa ini taruhannya." Sakura langsung tertegun memdengar ucapan Shiina. Dan Sakura melepaskan tangannya, Shiina pun pergi meninggalkan mereka. Tapi Shiina masih bisa dengar gumaman lega dari Sakura.

"Syukurlah…"

"TO BE CONTINUE"


KiriShin :*pundung di pojokan*

Kisedai :*menatap KiriShin dengan aneh*

Aomine :Kenapa tuh si KiriShin?

Kuroko :Entahlah, Aomine-kun

KiriShin :*nangis sambil main hp*

Akashi :Kau kenapa sih?

KiriShin :Mau nonton film *nunjukin suatu video ke Kisedai* *pundung lagi*

Oke…. mungkin saya lebay karena beberapa waktu yang lalu saya abis liat PV Kuroko no Basket Last Game yang baru dan.….

KEREN BANGET SIH! TETSU-KUN NYA ITU LOH KAWAII Kuro :Aku tidak kawaii, Shiina-san *pundung lagi*

Tinggal tunggu 6 hari lagi Kuroko no Basket Last Game rilis…. Yeay~ saya tidak sabar untuk nonton

Midorima :Daripada itu kenapa updatenya lama sekali?

KiriShin :*pundung untuk sekian kalinya* Begini, Midorima-san. Karena tanggal 16 Mei saya menghadapi yang namanya SBMPTN jadi saya harus fokus untuk masuk ke perguruan tinggi negeri. Karena sekarang saya sudah jenuh jadi saya lanjutkan FF ini… haha…

Akashi :Dasar Author amatir.

KiriShin :Biarin

Sudahlah daripada buang buang waktu mending saya akhiri author note chapter ini

Reviewnya onegaishimasu, minna-san

Jaa ne

Kirigaya Shiina