Our Home

Pagi itu di apartemennya, Luhan sedang mengoleskan selai strawberry diatas roti panggang. Pagi itu sangat sunyi,membuat Luhan merasa tenang dan damai. Luhan bersenandung riang saat sepasang tangan memeluk pinggangnya dari belakang.

"Good Morning Sunshine," bisik Sehun, "Kau terlihat begitu senang untuk seorang ayah dari 2 anak laki-laki."

Luhan tertawa kecil dan Sehun mencium pipinya. Dengan malas-malasan Sehun duduk dimeja makan memperhatikan Luhan yang masih menyiapkan sarapan untuk mereka.

Pagi itu terasa damai untuk Sehun dan Luhan. Sehun masih memperhatikan Luhan dengan senyum yang menghiasi wajahnya dan suara merdu Luhan mengisi dapur apartemen mereka. Tidak sampai Ziyu,anak bungsu mereka berteriak sambil berlari menghampiri mereka.

"Baba!" teriak Ziyu, "Gwenchana?"

"Ziyu,ini masih pagi jangan berteriak-teriak seperti itu!" ucap Luhan sambil menggendong Ziyu dan meletakannya di kursi disamping Sehun.

"Ta-tapi Ziyu khawatir dengan kondisi baba!" ucap Ziyu.

"Memang kenapa? Apa yang terjadi pada baba?" tanya Sehun sambil merapikan rambut Ziyu yang berantakkan.

"Tadi malam Ziyu dengar baba berteriak! Ziyu pikir ada monster dikamar baba dan appa!" Ziyu bercerita dengan sangat ekspresif,mata bulatnya terbuka dengan lebar, "Baba berteriak 'Ahh Ahh! Cukup!Aku tidak tahan lagi!'"

Sehun yang sedang memakan rotinya tersedak mendengar cerita Ziyu. Luhan yang juga terkejut langsung memberikan Sehun air mineral. Ziyu masih dengan semangat bercerita dan meniru suara teriakkan (desahan) Luhan tadi malam.

Sehun dan Luhan saling berpandangan.

Sebenarnya tidak ada monster yang masuk kekamar mereka berdua. Lebih tepatnya , 'monster' Sehun yang masuk kedalam lubang Luhan yang membuat Luhan berteriak seperti itu tadi malam.

.

.

.

"PUAHAHAHAHAHAHA!" Baekhyun tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan dengan heboh, "Jadi tadi malam kalian bercinta dan Ziyu mendengarnya?"

"Ya," jawab Luhan dengan muka kusut, "Dan ia kira ada monster dikamar kami!"

Baekhyun tertawa lagi,memegangi perutnya yang terasa sakit karena terus tertawa.

"Oh Luhan, ini saatnya kau memasang dinding kedap suara dikamarmu," ucap Baekhyun sambil menepuk-nepuk pundak Luhan, "Percayalah Luhan, Bahkan jika Ziyu tidur didepan kamarmu ia tidak akan pernah mendengar desahan kerasmu lagi."

"Kamarku sudah sempit okay, jika aku memasang dinding kedap suara aku dan Sehun tidak akan bisa bernafas disana."

"Kalau begitu beli rumah baru!" usul Baekhyun, "Usaha Hotel milik Sehun berjalan dengan sukses, malah ia sedang membuka cabang-cabang di kota lain. Lalu apa yang membuat kalian tetap tinggal di apartemenmu yang dulu?"

Luhan hendak menjawab saat Baekhyun mengangkat tangannya, "Jangan bilang kau tidak mau menjual apartemen itu karena di apartemen itu terlalu banyak memori yang tak bisa kau tinggalkan. Itu jawaban klise."

Luhan cemberut, "Padahal aku akan menjawab seperti itu."

Baekhyun mengedikkan bahu dan meminum kopinya, "Sudah kuduga."

"Tapi alasan lain kami belum pindah rumah adalah Sehun masih sibuk dengan pekerjaannya hingga kami tidak sempat membicarakan tentang hal ini." Luhan menghela nafas lalu menopang dagunya lemas.

"Untung saja pagi ini aku bangun lebih awal jadi aku sempat membuatkannya sarapan. Biasanya ia sudah berangkat ketika aku bangun dan pulang ketika aku hendak tidur."

"Kau harus memakluminya," ucap Baekhyun, "Hotel yang ia dirikan banyak mengundang perhatian beberapa perusahaan besar. Jadi tidak aneh jika sekarang ia begitu sibuk mengurusi kontrak-kontrak kerja sama yang dikirimkan perusahaan-perusahaan tersebut."

"Aku tahu," ucap Luhan sambil mendesah pelan, "Tapi aku juga merindukannya."

"Awwww, Kau bertingkah layaknya pengantin baru. Kau tidak bosan melihat Sehun dari kecil? Aku saja melihat Chanyeol dari SMP sudah bosan bukan main!"

Luhan tertawa kecil dibuatnya, "Ya ya! Aku ingat saat SMA kau menendang Chanyeol dan menyuruhnya untuk duduk dibangku lain selama seminggu karena kau bosan melihat wajahnya."

Baekhyun mengingat saat-saat itu. Chanyeol harus duduk dimeja kantin dekat tong sampah karena entah kenapa Baekhyun merasa kesal hanya dengan keberadaan Chanyeol disisinya.

"Ya aku ingat!" teriak Baekhyun sambil tertawa, "Tapi aku hanya bisa tahan selama beberapa jam. Akhirnya aku datang kerumahnya dan meminta maaf."

"Dan kalian berakhir saling berdekatan. Dikamar Chanyeol. Dengan kau diatas tubuhnya." goda Luhan.

Wajah Baekhyun memerah, "Hey!"

Luhan tertawa dan terus menggoda sahabatnya itu hingga wajah Baekhyun semerah kepiting rebus.


Hari itu saat Luhan bangun, lagi-lagi Sehun sudah tidak ada disampingnya. Luhan mendesah kecewa. Ia begitu merindukan Sehun. Bahkan di akhir pekan seperti ini Sehun masih pergi kekantor untuk rapat bersama Chanyeol. Sehun juga pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya dikantor (karena kalau ia bekerja dirumah, ada Ziyu yang bisa mengganggu pekerjaannya seperti saat ia menggambar olaf dikertas laporan keuangan yang dibawa Sehun).

Maka dari itu Luhan berencana untuk membawa makanan untuk Sehun dan Chanyeol ke kantor Sehun.

Di mobil, Luhan mendapatkan ide untuk mengajak sahabatnya Baekhyun untuk menemui kedua suami mereka. Luhan menghubungi ponsel Baekhyun sebelum pergi menjemput Baekhyun kerumahnya.

"Yeoboseyo?"

Luhan terkejut saat mendengar suara berat itu mengangkat teleponnya.

Itu suara Chanyeol.

"Chanyeol?"

"Ya hyung?" ucap Chanyeol parau. Ia baru saja bangun tidur.

"Kenapa kau ada dirumah? Kupikir kau sedang ada rapat bersama Sehun."

"Huh? Rapat apa? Kurasa tidak ada jadwal rapat hari ini."

Luhan menggenggam setir mobilnya erat.

Sehun bohong kepadanya.

"Oh Baiklah kalau begitu, kututup teleponnya ya Chanyeol."

Setelah Luhan menutup telepon, ia kemudian menghubungi sekretaris Sehun, Ren.

"Ada apa kau menghubungiku tuan? Ada yang bisa kubantu?"

"Ren, Apakah ada jadwal rapat untuk Sehun hari ini?"

Ren meminta Luhan untuk menunggu sementara ia melihat jadwal Sehun di agendanya.

"Tuan Luhan,maaf anda lama menunggu. Kulihat tidak ada agenda apa-apa untuk hari ini."

Luhan menghentikkan mobilnya dipinggir jalan. Jantungnya berdegup cepat,membuat dadanya sesak.

Sehun bohong kepadanya.

.

.

.

Malam itu Luhan mencoba untuk tidak jatuh tertidur. Ia berbaring dikasurnya sambil menunggu Sehun untuk pulang. Sehun pulang kerumah pukul 11 malam. Dengan hati-hati ia masuk kekamar lalu menyalakan lampu.

"Luhan?" sehun terkejut ketika melihat Luhan masih bangun. Luhan tersenyum tipis dan menghampiri Sehun. Ia langsung memeluk suaminya itu dengan erat.

"Darimana saja kau?" tanyanya.

Sehun tidak menjawab selama beberapa menit, "Aku dari kantor." Ucapnya sambil melingkarkan tangan dipinggang Luhan.

Dada Luhan terasa sesak. Sehun berbohong kepadanya.

"Apa pekerjaanmu begitu banyak?"

Sehun menenggelamkan wajahnya diceruk leher Luhan dan menghirup wangi tubuh Luhan, "Ya begitulah."

"Kalau begitu cepat mandi. Setelah itu kita bisa tidur dengan nyaman."

Sehun tersenyum lalu mengecup bibir Luhan. Ia segera melepas jas hitam dan kemejanya lalu mengambil handuk sebelum pergi kekamar mandi.

Setelah Sehun pergi, dengan tangan gemetar Luhan mengambil jas Sehun. Mencari benda apa saja yang bisa menjadi bukti kemana suaminya pergi.

Di kantong jas Sehun ia menemukan sebuah kartu nama berwarna merah muda.

Luhan tidak membaca jelas semua informasi yang tertulis disana karena air mata sudah menetes saat ia baru saja membaca nama yang tertera disana. Kim Daeun, dan Luhan yakin itu adalah nama seorang wanita.


Setelah menemukan kartu nama disaku jas Sehun ia tidak bisa menahan tangisnya dan selalu menangis kapanpun Sehun ,Haowen dan Ziyu tidak ada didekatnya. Luhan pikir sudah cukup dirinya menangis tanpa menyelesaikan malasah yang ada. Apakah Sehun selingkuh? Ia harus menanyakan ini kepada Sehun, apapun penjelasan yang diberikan Sehun Luhan harus menerimanya.

Sehun pernah pergi meninggalkannya dahulu dan hidup bersama dengan wanita lain. Jadi bukan tidak mungkin jika sekarang Sehun mengkhianatinya lagi.

Luhan menangis lebih keras. Ponselnya tiba-tiba berdering menandakan ada sebuah telepon masuk. Luhan terkejut ketika melihat Sehunlah yang meneleponnya. Dengan cepat ia mengatur nafasnya, mengelap air mata dipipinya lalu mengangkat telepon dari Sehun.

"Yeoboseyo?"

"Sayang," ucap Sehun dari balik telepon, "Kau ada dimana?"

"Di kafe. Tepatnya di toilet," jawab Luhan dengan jujur.

Luhan mendengar Sehun tertawa, "Babe jangan bilang kau sedang buang air?"

"Tidak. Aku hanya sedang menenangkan pikiranku disini."

Sehun terawa lagi,membuat Luhan meneteskan air matanya. Kenapa Sehun bersikap seolah tidak ada yang salah antara mereka?

"Aku merindukanmu," ucap Sehun.

Luhan menggigit tangannya menahan tangis. Apakah benar Sehun merindukannya? Apakah ia hanya pura-pura?

Entahlah, tapi Luhan ingin sekali percaya bahwa Sehun tulus mengatakannya.

"Aku juga merindukanmu," ucap Luhan berusaha terdengar biasa saja walaupun suaranya sedikit bergetar.

"Kalau begitu bagaimana jika kita pergi makan malam bersama anak-anak?"

"Tentu."

"Kalau begitu jam 8 malam aku akan menjemputmu."

"Ya baiklah," ucap Luhan datar.

"Sampai Jumpa. Aku mencintaimu Luhan."

Luhan segera menutup teleponnya , tidak bisa menahan lagi rasa sedih yang terasa dihatinya. Sudah cukup, ia tidak akan menjadi Luhan yang pasrah seperti dahulu. Ia akan membicarakan masalah ini dengan Sehun malam ini. Dan jika hubungan mereka memang harus berakhir, Luhan akan menerimanya dengan tegar.

.

.

.

Sehun sampai diapartemen tepat pukul 8 malam. Senyum sudah menghiasi wajahnya yang tampan. Ia memeluk Luhan dan Luhan hanya diam tak melakukan apapun.

"Siap untuk pergi?" tanya Sehun lembut sambil membelai pipi Luhan.

"Appa! Kita mau makan dimana?" tanya Ziyu sambil berlari diikuti dengan Haowen yang selalu menggerutu agar Ziyu berhati-hati.

"Ra-Ha-sia!" jawab Sehun sambil menggendong Ziyu.

"Baba?" panggil Haowen kepada Luhan yang masih melamun dan terdiam, "Apa Baba baik-baik saja?"

"Ya,sayang. Ayo kita berangkat." Luhan memegang tangan Haowen dan pergi menyusul Sehun dan Ziyu.

Dimobil Ziyu dan Haowen masih heboh bercerita tentang kartun pororo yang mereka tonton sebelumnya, sementara Luhan hanya diam sambil memperhatikan jalan yang mereka lalui.

"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Sehun sambil mengusap-usap kepala Luhan, "Kau terlihat begitu lemas."

"Aku tidak apa-apa." Jawab Luhan datar.

Di lampu merah,saat mobil mereka berhenti, Sehun melepaskan jasnya lalu menyelimuti tubuh Luhan.

"Kalau kau lelah, kau boleh tidur, ketika kita sampai aku akan membangunkanmu."

Luhan hanya menggumam dan kembali menatap jalanan. Sehun menatap Luhan dengan khawatir. Apa yang terjadi dengan suaminya? Kenapa ia begitu murung akhir-akhir ini. Ini membuat Sehun cemas. Bahkan Luhan terlihat cuek kepadanya. Luhan tidak memeluk Sehun ketika mereka tidur, Luhan tidak membalas kata cinta Sehun ketika mereka bertelepon.

Apa Luhan merasa bosan kepadanya?

Sehun mengenyahkan pikiran itu dari otaknya sebelum pemikiran itu menyesakkan dadanya. Mereka baru saja kembali menjalin hubungan dari 8 bulan yang lalu. Mereka harus kembali membangun kepercayaan satu sama lain. Maka dari itu Sehun percaya kepada Luhan. Jika Luhan memang benar-benar bosan kepadanya Luhan pasti sudah mengusirnya dari dulu.

Luhan juga tidak sepenuhnya menghindari Sehun. Kurir sering mengirim makan siang untuk Sehun walaupun sang kurir tidak mengatakan siapa yang mengirimnya, Sehun tahu pasti bahwa masakan yang ia terima adalah dari Luhan.

Luhan masih peduli padanya, Luhan masih mencintainya. Lalu ada masalah apa sehingga sikap Luhan berubah?

"Nah! Kita sudah sampai!"

Ziyu lompat ke tengah,diantara Jok Luhan dan Sehun, dan mengintip dari mobil, "Ini rumah siapa Appa?Kenapa kita kesini?Bukankah kita akan makan malam di restoran?"

Sehun tersenyum, "Kita akan makan malam disini."

Sehun menatap Luhan yang masih tertidur dibangkunya dengan jas Sehun menyelimuti tubuh kecilnya.

Luhan terbangun merasakan tangan Sehun mengusap-usap kepalanya, ia menatap Sehun bingung dan Sehun tersenyum lembut padanya.

"Kita sudah sampai."

"Huh? Kita dimana?" tanya Luhan.

Masih sambil tersenyum Sehun menjawab, "Dirumah."

Mereka berempat Masuk kedalam rumah minimalis bertingkat dua tersebut. Haowen dan Ziyu menganga tak percaya, terus mengucapkan kata 'Wow!' sambil berjalan menyusuri rumah yang nyaman itu.

"Appa bolehkah kita ke atas?"

Sehun mengangguk sambil memeperingatkan agar mereka hati-hati dan jangan sampai terluka.

Luhan mengedarkan pandangannya dengan takjub. Rumah bernuansa warna putih itu terasa nyaman, pintu kaca memisahkan mereka dari taman kecil yang ada dibelakang.

"Suka dengan rumahnya?" tanya Sehun sambil memeluk tubuh Luhan dari belakang.

Luhan mengangguk pelan, "Rumahnya sangat bagus. Apa kita akan membeli rumah ini?"

Sehun tertawa lalu membalik tubuh Luhan, "Kita sudah membeli rumah ini."

"Apa?!" Luhan terkesiap.

Sehun mencium pucuk hidung Luhan, "Rumah ini sudah menjadi milik kita Luhan."

"Ta-tapi bagaimana bisa?"

"Aku diam-diam mencari rumah untuk kita karena apartemen itu sudah tidak bisa menampung 2 orang dewasa dan 2 orang monster kecil dikeluarga kita lagi."

"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku terlebih dulu?"

"Umm Kejutan?" ucap Sehun, "Apa kau tidak suka?"

Luhan menggeleng keras, "Bukan seperti itu."

"Lalu apa?"

Luhan menggigit bibir bawahnya, "A-apa kau mencari rumah ini diakhir pekan?"

Sehun mengangguk, "Ya kau benar. Ketika aku bilang aku ada pekerjaan di kantor,aku bohong. Sebenarnya aku pergi untuk mengecek beberapa kondisi rumah yang kutemukan iklannya di koran dan internet. Maafkan aku karena berbohong padamu Luhan."

Luhan mengangguk kecil, akhirnya pertanyaan yang selalu menghantui benaknya sedikit demi sedikit terjawab.

"Butuh waktu beberapa minggu untukku mencari rumah yang tepat. Aku mulai putus asa karena aku tidak menemukan rumah yang sesuai dengan kita dan karena aku jarang bertemu denganmu," ucap Sehun sambil cemberut, "Tapi untungnya aku bertemu dengan pemilik rumah ini,nyonya Daeun."

"Huh? Daeun?" tanya Luhan sambil membelalakkan matanya, "Kim Daeun?"

"Kau mengenalnya?"

Luhan kembali menggeleng, "Tidak juga. Aku menemukan kartu namanya di jasmu dan kupikir Kau berselingkuh dengan-"

Luhan menutup bibirnya dengan tangan. Sehun memperhatikan Luhan dengan satu alis terangkat.

"Ah," ucap Sehun sambil menganggukan kepala, "Jadi kau pikir selama ini aku pergi dan berselingkuh dengan Daeun begitu?"

Luhan akhirnya melepas tangan yang menutupi bibirnya dan mengangguk.

"Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu Luhan? Aku tidak mungkin mengkhianatimu. Apa kau tidak percaya padaku?"

Luhan mendongak dan menatap Sehun, "Bukan seperti itu. Tapi aku selalu merasa takut kalau suatu hari nanti kau akan menemukan kekuranganku dan berpikir aku tidak sebaik apa yang kaupikirkan. Aku takut suatu hari nanti kau akan meninggalkanku setelah menemukan seseorang yang lebih baik dariku."

"Luhan," ucap Sehun sambil memeluk Luhan erat, "Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Jika suatu saat aku menemukan kekuranganmu, aku tidak akan meninggalkanmu. Malah,aku yang akan melengkapinya."

Sehun melepas pelukannya dan menatap Luhan dalam.

"Aku mungkin tidak pernah mengatakannya padamu," ucap Sehun sambil mengelus pipi Luhan, "Tapi bahkan ketika aku bekerja ,walaupun aku tertekan dan lelah, jika aku membayangkan dirimu aku akan tersenyum dan kembali bersemangat. Karena aku tahu, ada kau,Ziyu,dan Haowen yang membutuhkanku dan yang akan menungguku pulang dan membuatku kembali tersenyum."

"Aku mencintaimu Luhan. Tidakkah itu cukup untuk membuktikan bahwa aku benar-benar membutuhkanmu?"

Bibir Luhan mengerucut,dan matanya berkaca-kaca, "Aku juga mencintaimu Sehun. Aku sangat mencintaimu. Kalau kau meninggalkanku dan berselingkuh, aku akan menyuruh Baekhyun mengendarai mobilnya dan melindas penismu."

Sehun tertawa dan kembali memeluk Luhan, "Kau mengerikan."

"Aku tidak peduli. Aku mencintaimu dan kau milikku!"

Sehun tersenyum dan menempelkan pipinya dikepala Luhan, "Kau mengerikan tapi aku menyukainya."

Luhan akhirnya tersenyum dan memejamkan mata, merasakan nyamannya dada Sehun.

"Appa!" teriak Haowen dari atas, "Disini kamarnya begitu Luas! Bolehkah kita tinggal disini?"

"Tentu saja! Kita akan pindah kerumah ini besok!" ucap Sehun sambil merangkul Luhan.

Kedua anak mereka berteriak kegirangan dan segera berlari kekamar yang tadi mereka lihat.

"Oh Sebentar," ucap Luhan dan menatap Sehun, "Apa kamar kita memakai dinding kedap suara?"


Keluarga Oh akhirnya pindah ke rumah baru mereka yang lebih luas dan nyaman. Mereka sudah tinggal disana selama 3 bulan.

Hari itu Luhan sedang menemani Haowen dan Ziyu menonton TV ketika sebuah lagu terdengar dari taman dibelakang rumah mereka.

Luhan dan kedua anaknya pergi ke balkon dan melihat Sehun sedang berdiri ditengah taman dengan memakai Jas pernikahan. Balon-balon putih menghiasi taman kecil mereka.

Sehun berdiri ditengah sambil memegang sebuket bunga mawar merah. Lagu romantis masih mengalun dari tempat dimana Sehun berdiri.

"Apa yang kau lakukan appa?" tanya Haowen.

"Appa ingin menikah dengan babamu sekali lagi," jawab Sehun sambil tersenyum, "Bisakah kau turun pengantin pria? Calon suamimu ini sudah kepanasan."

Luhan tertawa dan turun bersama Haowen dan Ziyu. Ia langsung menghampiri Sehun dan berdiri didepan suamnya yang terlihat begitu tampan.

"Saat kita tumbuh dewasa bersama,saat kita berubah karena usia, ada satu yang tidak akan pernah berubah," ucap Sehun sambil tersenyum, "Aku akan selalu jatuh cinta kepadamu."

Luhan tersenyum manis, bermain dengan jarinya dengan gugup.

"Jadi Luhan," ucap Sehun, "Bersediakah kau hidup bersama denganku selamanya? Dalam susah maupun senang? Bersama dengan anak-anak kita ketika mereka nakal maupun baik?"

Luhan tertawa lalu mengambil bunga ditangan Sehun, "Ya aku bersedia Oh Sehun."

"Dan sekarang kalian resmi menjadi pasangan yang akan terus hidup bersama," ucap Sehun sambil memeluk pinggang Luhan, "Kau boleh mencium pengantinmu."

Luhan mencium bibir Sehun,senyum tidak pernah hilang dari wajahnya.

.

.

.

Suatu hari Luhan akan terbangun pada jam 3 pagi karena tidak bisa tidur.

Ia akan melihat ke sisinya dan Sehun akan ada disana.

Tidur dengan damai, walaupun keriput sudah menghiasi wajahnya.

Dan tiba-tiba Luhan tersadar, dunianya tidak akan pernah terasa sepi lagi.

END

It's really end.

Tapi tenang aja! Masih ada 3 cerita ekstra yang bakal aku post hari sabtu nanti!

Jangan lupa like halaman facebook aku:SeLuminati