PRETEND

.

.

[Note: fanfic PRETEND ini mungkin akan lama sekali saya lanjutkan, mood buat nulis ff ini entah kenapa lari-larian gajelas dan saya gak ada feel buat ini ff. Semua yang saya tulis kacau dan aneh-mungkin saya kena WB- tapi yah sudahlah saya harap kalian sabar menunggu. Terima kasih]

.

GENRE : HURT, ROMANCE

LENGTH : CHAPTERED

FANFICT BY TIANLIAN

DESCLAIMER : THIS IS MY OWN

RATE: A+M (AGAK MENYIMPANG)

WARN : YAOI, BXB, TYPO'S

.

-CHANYEOL-JONGIN-

And

-KYUNGSOO (GS)-

Other cast

-WU YIFAN –BYUN BAEKHYUN (GS)- OH SEHUN-

And new cast

ZHANG YIXING and XI LUHAN (GS)

.

SUMMARY

Pernikahan Jongin dan Chanyeol bukanlah sebuah komedi putar yang akan selalu mononton dan terus berputar pada porosnya, pernikahan mereka lebih dari sekedar itu semua. Namun, sayangnya semua itu harus berakhir saat sosok lain hadir diantara keduanya.

.

.

.

"Oh Sehun.." pemilik nama itu berbalik, menatap sosok tegap yang begitu dikenalinya lantas menatapnya heran.

.

"hyung?" ucapnya tanpa arti.

.

Sosok tegap itu tersenyum begitu hangat hingga dua lesung terlihat di masing-masing pipinya.

.

"hm, kau makin terlihat pucat dengan jas putih itu."

.

"dan kau makin terlihat menyedihkan."

.

Keduanya terkekeh, saling menyelami masa-masa dimana mereka tertawa bersama selama beberapa detik dan kemudian salah satu diantaranya menatap satu yang lain dengan sorot mata tegas lalu berujar.

.

"bisa kau lakukan satu hal untukku?"

.

Sehun mengernyit bingung, Balik menatap sorot mata pemuda tegap yang dipanggilnya hyung itu dengan binar kebingungan yang begitu kentara. Namun, sang pemuda yang dipanggilnya hyung itu malah membuang wajahnya kearah lain, mempersembahkan wajah rupawannya pada langit senja yang telah berubah merah menyembunyikan matahari dengan begitu posesif lantas tersenyum tipis tanpa ada niatan menjelaskan apa yang dia minta pada Sehun.

.

Sehun sendiri masih menunggu dalam menit-menit yang berlalu tanpa ada salah satu diantara mereka berdua yang berbicara. Hening menjadi lagu pengiring mereka, dan pada detik selanjutnya saat langit telah benar-benar gelap Sehun mau tak mau harus menayakan apa maksud kalimat aneh itu.

.

"apa maksudmu, Lay hyung?"

.

Pemuda bernama Lay itu kembali menatap Sehun tanpa arti dan tersenyum. "jangan bertanya apapun, hanya diam dan lakukan saja apa yang aku minta. Tidak bisakah kau melakukannya?"

.

.

.

Chapter 11

-Letting Go-

.

.

Chanyeol berlari dengan tergesa sepanjang lorong Seoul International hospital, pikiranya begitu kalut dan hal yang memenuhi otaknya bukan lagi perusahaannya yang masih diambang kehancuran. Bukan lagi.

.

Semua pikirannya kini teralihkan pada dua sosok cantik yang telah memberikannya setitik kehangatan dalam sebagian hatinya yang begitu gelap. Dua sosok yang kini menjadi tanggung jawabnya. Kyungsoo dan anaknya.

.

Yang kini entah bagaimana tengah berada dalam satu ruangan bersama orang yang tidak pernah terpikirkan akan hadir dalam sebagian kisahnya, tak pernah sekalipun.

.

Chanyeol bahkan tidak pernah berpikir Luhan akan datang ke Seoul setelah kejadian beberapa tahun silam. Kejadian yang membawa kehancuran untuknya serta seluruh keluarganya. Tidak pernah. Namun, nyatanya hal yang tak pernah ada dalam pikirannya itulah yang sekarang mau tak mau harus dia hadapi.

Luhan..

saudara kembarnya, orang yang berbagi segala hal dengannya.

Rahim..

Kehidupan..

Orang tua…

Dan semua hal yang pernah menjadi sumber bahagia mereka..

Luhan, yang entah bagaimana pula kini tengah menjelma sebagia mimpi terburuknya.

Park Luhan..

.

.

.

.

.

"kenapa Chanyeol tidak pernah bercerita jika dia mempunyai saudari kembar. Eonni?" Kyungsoo bertanya dengan sopan pada Luhan yang kini duduk disamping ranjangnya berbaring. Sosok Luhan terlihat begitu anggun. Namun tanpa sepengetahuan Kyungsoo, Luhan tersenyum sinis lalu diam-diam melirik pintu keluar yang tertutup, menghalangi pandangannya dari sosok yang sekarang tengah ditunggunya, Chanyeol.

.

"ahh, Chanyeol memang seperti itu.. dia tidak akan menceritakan hal pribadi pada orang yang belum dia percayai."

.

Kyungsoo tersentak mendengar jawaban Luhan. Sedangkan Luhan, dia masih menpertahankan senyuman cantiknya dan kembali berujar. "tapi, mungkin Chanyeol hanya belum sempat mengenalkan keluarganya padamu. Kau kan Istrinya.."

.

Sebuah senyum kaku tersemat dibibir kissable Kyungsoo. "hm, nde.. mungkin seperti itu."

.

BRRRAAAKKK

.

Hentakan pintu yang terlalu keras itu menyetak Luhan serta Kyungsoo, Chanyeol berdiri disana. Diambang pintu yang terbuka lebar dengan kondisi yang tak bisa mereka berdua jelaskan. Keringat menghiasi pelipisnya secara rapi, nafasnya terengah-engah dan sorot mata itu… Kyungsoo tak pernah melihat sorot mata itu, sorot mata yang begitu marah namun berselimut ketakutan yang begitu kentara di dalamnya.

.

Namun, lain dengan Luhan… sorot mata itu bukanlah hal yang asing bagi Luhan. Sorot mata itulah yang selalu ia lihat setelah kejadian beberapa tahun silam. Sorot mata yang begitu menggelikan. Pikirnya.

.

"hai, saudaraku.." Luhan melambaikan tangannya seraya memamerkan seulas senyum mencemooh diwajah cantiknya. "kau terlihat begitu berantakan.. a-dik-ku…" Luhan sengaja menekankan kata adikku untuk melihat bagaimana reaksi Chanyeol dan benar saja.. seperti dugaannya….

.

Tanpa babibu Chanyeol melangkah kan kakinya mendekati Luhan. Tanpa berkata apapun Chanyeol mencengkram lengan Luhan kasar dan menariknya berdiri.

.

"Chanyeol, apa yang kau lakukan pada Luhan eonni?" Kyungsoo berteriak.

.

Chanyeol melirik sekilas Kyungsoo yang menatapnya heran namun tak lantas menjelaskan apa yang hendak ia lakukan. Menghiraukan Kyungsoo, Chanyeol menarik Luhan pergi dari kamar rawat dan menghilang. Meninggalkan Kyungsoo yang menatap kepergian keduanya dengan hati berdenyut sakit.

Chanyeol menghiraukannya..

Chanyeol menghiraukannya.. lagi..

Dan secara tiba-tiba pipinya terasa hangat, hangat karena tetesan air bening yang berjatuhan secara urut dari pelupuk matanya. Kyungsoo.. dia lelah, namun siapa yang perduli. Tidak ada seorangpun perduli. Hatinya juga sakit. Namun, nyatanya tak ada seorangpun bertanya akan hal itu..

Ia tersiksa, ia menyesal, namun ia tak bisa mundur…

Apapun resikonya.

Semua yang ada dalam genggamannya tak akan lagi pernah dia lepaskan. Tidak akan pernah. Sesakit apapun itu. Dia tidak akan pernah berhenti mengeratkan genggamannya. Selamanya.

.

.

.

.

.

Chanyeol menatap Luhan geram, sedangkan Luhan. Dia tersenyum dengan sangat cantik untuk Chanyeol lalu tertawa pelan. "kau sungguh menggemaskan Chan.."

.

"apa maumu!"

.

Pemilik mata rusa itu pura-pura terkejut saat Chanyeol membentaknya. "aku?" Luhan menunjuk wajahnya dengan polos. "memangnya apa yang kau miliki, aku hanya menjenguk adik iparku. Apa aku salah?"

.

"berhentilah, ini bukan permainan Lu… berhentilah bermain-main!"

.

Lagi-lagi Chanyeol membentak, Luhan diam-diam menyeringai. Berhenti? Tidak ada yang bisa menghentikan permainan ini. Tidak ada seorangpun tanpa terkecuali. "um.. bagaimana ya, sayangnya aku tidak punya keinginan untuk berhenti." Luhan kembali tertawa. "apa kau mau menghentikan permainan ini?"

.

"apa maksud―"

.

"bersiaplah, jika kau ingin menghentikan permainan ini.. bersiaplah."

.

Cup

.

Sebuah kecupan singkat diterima Chanyeol. Luhan mengecup bibirnya singkat lalu mengusap kepalanya lembut. Sama, sama seperti dulu.

.

"aku akan menunggu.. jadi, bersiaplah."

.

.

.

.

.

"ya, aku sudah siap."

.

Lay menatap Jongin yang kini tengah menatap kosong jendela lebar berbingkai kelambu putih menampilkan hamparan bunga lili indah yang sayang tak lagi bisa dilihat Jongin. "baiklah, apa kau tidak memberitahu nona Byun?"

.

Jongin hanya diam sejenak, menghela nafasnya pelan dan berbalik. "aku akan menghubunginya setelah kita sampai."

.

"kalau begitu aku akan menyiapkan mobil."

.

Lay pergi, Jongin lagi-lagi menghela nafasnya pelan. Semua benar. Ya, semua yang dia lakukan benar. Semua ini benar. Keputusannya sudah benar. Tangannya yang memegang buku kecil berisi sebuah tiket penerbangan menuju jepang itu berkeringat. Yah, Jongin akan pergi meninggalkan Seoul. Kota kelahirannya, kota yang menyimpan seluruh kenangan bahagianya, Kota yang menyimpan seluruh kesakitan yang pernah dia terima. Kota yang sangat indah, yang menjadi tempat beristirahat kedua orang tuanya. Kota yang harus ditinggalkannya untuk membalas kematian kedua orang tuanya, dan juga… untuk membunuh perasaan konyol yang masih saja bersarang dalam rongga dadanya. Cintanya.

.

'aku mencintaimu Kim Jongin'

.

Bisikan samar itu kembali menggema dalam otaknya. Mata itu terpejam, mengeratkan genggamannya pada telpon yang telah tersambung pada voice mail dan berujar lirih. "aku mencintaimu.." jeda sejenak, Jongin menghela nafasnya yang entah bagaimana jadi begitu sesak saat kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya lalu menghela nafasnya dengan begitu dalam. "maaf, maaf karena aku terlalu pengecut. Maaf, maaf ..telah membuatmu berada dalam kebingungan. Maaf, maaf, untuk semua waktumu yang terbuang sia-sia saat bersamaku. Maaf.." kembali Jongin menjeda ucapannya dalam beberapa detik dan kembali melanjutkan.

.

"suatu saat, entah kapan itu… saat itu, saat aku sudah tak lagi merasakan apapun saat kau tersenyum padanya, aku, akan kembali, mengambil apa yang seharusnya kumiliki. Semoga kau bahagia, Park Chanyeol"

.

Pick, voice mail itu terputus dan jongin perlahan mengambil tongkat hitam yang sekarang mejadi penuntunnya. Ia buta dan dia belajar menerimanya, untuk sekarang.

.

.

.

.

.

Untuk sekarang, dunia yang ada dihidupnya bukanlah dunia yang selalu dia impikan. Dunia ini tidaklah seperti apa yang dia inginkan. Tetapi.. bagaimanapun juga, dunia yang sekarang ada adalah dunia yang terlanjur dia ciptakan dari puing-puing tumpukan masa lalunya, masa lalunya yang tak pernah jauh dari kata penyesalan.

.

Netranya mengawasi sepasang pemuda yang baru saja turun dari sebuah mobil hitam, di liriknya jam yang bertengger tenang di tangan kiri dan menghela nafasnya kasar. Ia mengusap rambutnya perlahan kemudian beranjak dari tempatnya sembari membawa tas ―yang entah berisi apa- menuju gate keberangkatan yang tak jauh dari tempatnya.

.

Drrrttt… dddrrrrrrrtttt[]

.

Getar handphone yang bersarang di saku coatnya menginterupsi, ia berhenti sejenak. Membuka flip ponsel yang menampilkan sebuah pesan singkat dari seseorang yang selalu membuatnya tersenyum perih dan detik selanjutnya sebuah panggilan dari orang yang sama yang baru satu detik lalu mengiriminya sebuah pesan singkat tertera disana.

.

"hm, ada apa princess?"

.

Senyum perih itu kembali mengembang, semua, segala tentangnya, hanya membuatnya merasa sakit.. namun nyatanya dia juga tak pernah bisa berhenti. Dia suka semua itu, semua kesakitan itu, dia menyukainya.

.

'Oh Sehun' suara itu memanggilnya, 'aku menunggumu.'

.

"Tentu saja,"

.

Tunggulah dan semuanya akan seperti yang kau inginkan. Tunggulah dan aku akan melakukan apapun seperti waktu itu. Tunggulah..

.

.

.

.

.

Baekhyun memutar matanya kesal saat pria berjas abu-abu yang dia kenal sebagai sepupu Do Kyungsoo ini lagi-lagi berkunjung ke kantornya. Untuk berobatkah? Jangan bercanda Byun Baekhyun adalah dokter spesialis anak, dia bukan dokter umum, dan juga psikiater yang biasa menangani orang dengan kelainan otak seperi pria dihadapannya ini.

.

Wu Yifan.

.

"jika kau merasa ada yang aneh pada perutmu aku sarankan kau berkunjung saja ke kantor dokter Kim, dia dokter spesialis toraks dan aku rasa dia tahu apa yang tengah kau keluhkan."

.

Yifan meringis sembari memegang perutnya. "ishh.. bukankah kau juga dokter, kenapa bukan kau saja yang mengobatiku?"

.

"aku bukan dokter umum."

.

"tapi kau tetap dokter bukan?"

.

Kembali memutar matanya kesal, ini melelahkan dan Baekhyun rasa lima menit tidaklah cukup untuk mengusir pria dengan gangguan otak dihadapannya ini. "apa maumu, Yifan?"

.

Sebuah binar geli terpancar dalam manik mata Yifan. "apa kau tidak merasa lapar?"

.

"tidak." Dengan singkat dan terlalu cepat Baekhyun menjawab pertanyaan ahh lebih menjurus kesebuah ajakan sepertinya, dan mulai membenahi berkas berserakan dihadapannya tanpa tahu Yifan malah tersenyum geli karenanya.

.

"tapi sepertinya aku lapar." Suara itu beralun datar. Baekhyun sendiri mencoba tak perduli dan bersikap tak acuh, berharap Yifan segera menyerah dan pergi. Toh, ini sia-sia, sebenarnya apa tujuannya? Mereka bahkan tidak saling kenal.

.

Tanpa disadari oleh Baekhyun, Yifan telah berdiri menjulang dibelakang kursinya dan menghembuskan nafas hangatnya tepat di telinga kiri Baekhyun dengan sangat tidak sopan. "dokter Byun.." desah Yifan dengan lambat, dan hal itu sukses membuat Baekhyun hampir terkena serangan jantung karenanya.

.

Mendesis geram, Baekhyun mencoba berdiri hendak memaki kelakuan kurang ajar Yifan ini namun semuanya tak berjalan sesuai dengan apa yang dia rencanakan saat lengan-lengan panjang itu malah menrengkuhnya dan kembali berbisik di telinganya.

.

"berkencanlah denganku."

.

Sebuah kerut samar menghampiri dahi Baekhyun. Kencan?

.

.

.

.

.

Dengan tenang Jongin menghembuskan nafasnya yang entah bagaimana kini terasa sesak, ia hanya pergi untuk semua rencana besarnya, ia hanya pergi selama jangka waktu yang entah seberapa lama, pergi mengubur semua kenangan lamanya yang tak seharusnya kembali dia kenang.

Pergi… melarikan diri dengan begitu egois. Yah.. dia, Kim Jongin memang sangatlah egois. Dan karena itu dia pergi membawa serpihan hatinya yang masih terpatri nama seseorang.

Katakan saja dia pengecut dan dia hanya akan tersenyum menanggapinya. Ia memang pengecut, seorang pengecut yang sangat menyedihkan.

Kehilangan orang yang dicintainya, penglihatannya, hatinya, dan orang-orang yang dikasihinya.. tidakkah dia cukup untuk meyandang predikat menyedihkan itu.

.

Suara gesekan garmen disebelahnya menginterupsi Jogin. Dengan pelan bibir itu berucap. "Lay hyung?"

.

Namun tak ada jawaban dan hal itu membuat Jongin diam-diam merasa aneh, bukankah seharusnya Lay ikut bersamanya meninggalkan Seoul?

.

"Lay hyung, bicaralah." Lagi suara Jongin memecahkan hening, dan tetap tak ada jawaban dari seseorang yang duduk disampingnya. Merasa geram, Jongin mengdengus kesal dan meraba tempat duduk disebelahnya tanpa pikir panjang. Dan… suara serak itu menginterupsinya, suara orang menyebalkan yang waktu itu. Yah.. orang itu, Jongin tidaklah salah. Karena suara orang itu begitu menyebalkan terdengar ditelinganya sampai-sampai tanpa sadar Jongin mengingatnya.

.

"hey, apa orang buta tidak punya sopan santun?" see, predikat orang menyebalkan yang diberikan Jongin bukanlah predikat abal-abal.

.

"kenapa kau duduk disini?"

.

"apa kau juga sekarang tuli?"

.

"kenapa kau duduk disini?!"

.

"memangnya aku harus duduk dimana lagi? Ini kursiku."

.

"jangan bercanda ini bukan kursimu!"

.

"tch.. memang susah berbicara dengan orang buta."

.

"hey!"

.

"ssst, diamlah orang lain merasa cukup terganggu dengan teriakanmu tuan,"

.

"apa kau gila, kursi yang kau duduki itu milik orang lain!"

.

Orang menyebalkan ―menurut jongin itu tak menyahuti- dan Jongin sendiri juga tidak tahu apa yang sekarang tengah dilakukan orang menyebalkan itu, setelah beberapa menit diam telinga Jongin menangkap bahwa orang menyebalkan yang duduk dikursi Lay hyungnya itu kini tengah menelpon seseorang.

.

"kau tidak mengatakannya? Tch. Yang benar saja. benar-benar tak berguna. Ini sia-sia hyung, aku tidak sanggup, aku angkat tangan…..kau bercanda! Orang buta ini benar-benar menyebalkan…. Dan aku tidak mau melakukan hal ini.."

.

Jongin diam, samar dia masih bisa mendengar suara pramugari yang menerangkan entah apa dan pikirannya masih terfokus pada 'dimana Lay hyung' dia ingat Lay hyung tadi mengantarnya masuk kedalam dek pesawat dan setelahnya pamit entah kemana, lalu setelah beberapa menit berlalu dia terusik karena seseorang yang dia kira sebagai Lay, tetapi malah bukan.

.

"haahhh…" Jongin mendengar orang menyebalkan itu mendesah dengan berlebihan. "kau saja yang berbicara, aku malas." Dan setelahnya Jongin merasakan benda licin tertempel disalah satu telinganya. Baru saja ia hendak protes suara seseorang membuatnya tertegun.

.

Ini suara Lay, Lay hyung yang seharusnya ada disini menemaninya.

.

"in… jongin, hey kau mendengarku."

.

Dengan kaku Jongin menjawab. "Lay hyung?"

.

Terdengar suara tawa lalu kemudian terdiam. "ya, ini aku. Maaf tidak memberitahumu sebelumnya. Jongin…Orang disampingmu adalah orang yang akan bertanggung jawab terhadapmu selama di jepang. Aku harus mengurus beberapa hal disini, jadi.. baik-baiklah dengannya. Dia adikku dan dia adalah dokter paling hebat. Kau pasti akan segera melihat jika di tangannya. Ah, jangan kuwatir, aku akan menyusul setelah semuanya selesai."[]

.

Sreeet,

Handphone yang tadinya tertempel itu kini telah berpindah alih. "ahh, ya dia cukup baik menerimanya, hm. Yasudah aku sudah dipelototi oleh pramugari seksi disini karena masih bertelpon ria padahal sudah waktunya take off, hm. Tenang saja."

.

Pick[]

.

Telpon dimatikan.

.

"nah, kau sudah mendengarnnya bukan."

.

Jongin masih diam namun tak lama karena beberapa detik setelahnya mata itu menoleh kesamping, dimana orang menyebalkan itu duduk dalam hampa dan berucap. "kau, siapa kau?"

.

Sebuah kekehan samar terurai beberapa detik lalu kembali hening.

.

"aku adik orang aneh yang kau panggil hyung itu..

.

―namaku Sehun, Oh Sehun. Dan aku bertanggung jawab atas matamu."

.

.

.

.

.

'suatu saat, entah kapan itu… saat itu, saat aku sudah tak lagi merasakan apapun saat kau tersenyum padanya, aku, akan kembali, mengambil apa yang seharusnya kumiliki. Semoga kau bahagia, Park Chanyeol'

.

Kalimat itu kembali berdengung dalam kepalanya, Park Chanyeol―pemilik kepala itu memandang lurus kedepan, dan mendapati sebuah pemadangan manis yang dua tahun terakhir ini selalu meramaikan harinya. Kyungsoo, wanita cantik yang berhasil membuat hatinya berkhianat itu kini telah sah menjadi istrinya. Setelah kejadian beruntun yang tak pernah diperkirakan Chanyeol dan menghilangnya Jongin. Kini Chanyeol hidup bersama mereka, Kyungsoo dan anaknya. Hidup yang sangat indah juga bahagia. Perusahannyapun tak jadi pailit sebab tuan Do yang pemurah malah memberikan saham miliknya pada sang anak. Semua berjalan teramat sangat lancar, segalanya tampak begitu mudah. Namun Chanyeol, Chanyeol tak lagi bisa mendapatkan hatinnya. Hatinya yang bobrok itu ikut menghilang bersamaan dengan hilangnya Jongin. Dan sekarangpun masih sama. Hatinya.. hatinya itu kini bertambah kelam dengan segala yang telah dia genggam.

.

Kyungsoo mengalihkan perhatian dari anaknya saat Chanyeol berada dalam sudut pandangnya, ia menatap jam yang menghiasi dinding berwarna merah muda yang menunjukkan pukul satu siang dan kemudian menghela nafas pelan. Chanyeol dan segalanya yang telah dia miliki, entah kenapa semua itu bagaikan sebuah dongeng yang akan menghilang saat sang pembawa kenyataan hadir membelah jalan indah dongengnya. Dan semua itu layaknya hujan yang tak pernah membawa kepastian. Bisa satu tahun, dua tahun atau satu detik kemudian. Semua akan berhenti berjalan sesuai yang dia ingini dan kembali pada porosnya atau malah berhamburan tak beraruran dan lebur.

.

Sosok Park Chanyeol yang membuatnya jatuh cinta itu tersenyum, kearahnya, namun bukan untuknya.. senyum itu hanyalah sebuah senyuman tanpa makna yang menyembunyikan rasa sesal yang teramat sangat dalam untuk seseorang. Seseorang yang tak pernah Kyungsoo inginkan hadir kembali dalam hidupnya. Jongin yang hilang setelah kematian orang tuanya. Kim Jongin yang membawa hati suaminya dan menyisakan pahit untuknya. Kyungsoo, dia membencinya nya.. ia benci semua hal yang pada akhirnya tak akan pernah dia miliki dan akan selalu di genggam oleh Jongin.

.

Hati Chanyeol, ia benci hal itu.. namun, sebenci apapun dia pada Jongin, Kyungsoo tetaplah menyayanginya. Jongin Oppa. Jongin nya.. ia ingin membenci pemilik nama itu yang telah membuatnya tersiksa dalam kemenangan. Tapi, semua tidaklah semudah itu… dia tidak bisa, dan pada akhirnya saat tangan-tangan panjang Chanyeol mendekapnya dalam pelukan yang Kyungsoo lakukan hanyalah balas mengusap punggung lebar itu dalam diam dan bertanya.

.

"kenapa pulang lebih awal?"

.

Rengkuhan itu merenggang, lagi-lagi Chanyeol tersenyum dan mengusap lembut wajah cantik Kyungsoo lalu menjawab. "aku merindukan kalian."

.

Bohong, bukan itu.. bukan karena itu, dan kebohongan itu terus berlanjut semenjak dia menyandang status sebagai seorang suami dan ayah untuk Kyunsoo serta anaknya. Selama itu dia berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. sebaik yang semua orang lihat serta bayangkan. Baik namun rusak.

.

Kyungsoo balas tersenyum. "kami juga merindukanmu." Ia mengalihkan perhatian pada balita berumur dua tahun yang tengah sibuk bermain dibawah mereka dan membawanya dalam gendongan. Suara celoteh lucu itu menari dalam udara, Chanyeol mengulurkan tangannya meminta sang balita dan Kyungsoo dengan hati-hati memberikan Seoyeol pada appanya.

.

Keluraga kecil yang bahagia. Seorang ayah yang terlihat begitu mencitai putri serta istrinya. Hangat yang menguar dalam gelak tawa mereka bagaikan matahari hangat musim panah yang seakan tak pernah berganti. Semua terlihat begitu sempurna. Cinta seakan meluap diantaranya. Dan tak terlihat sedikitpun retak dalam potret itu. Semua terlihat indah. Sangat indah, namun semua tidaklah wajar.

.

Retakan kecil tak kasat mata ada didalam ikatan sempurna itu. Sakit, penyesalan dan airmata ada disana. Menunggu waktu untuk meluap dan menghancurkan dinding bernama bahagia yang semu itu untuk jatuh dalam jurang kesakitan lalu lenyap.

Seperti buih yang menghilang dalam gulungan ombak yang menyapu pasir pantai.

.

.

.

.

.

Nafasnya masih terengah, ia menumpukan tangannnya pada lutut dan membiarkan tetesan bening itu berjatuhan membasahi rumput berembun yang dia tapaki. Mendongak, lantas mengedarkan perhatiannya pada sekeiling, dan dengan keras mendengus saat matanya menangkap pemandangan memuakkan yang selalu saja sama. Seorang pemuda dengan wanita cantik yang bergelanyut manja disampingnya.

.

"tch, keparat itu benar-benar sialan." Ucapnya dengan agak keras hingga membuat orang-orang yang ada didekatnya menatap heran dan memilih menjauh.

.

Tubuh berbalut kaos hitam serta celana training yang masih menstabilkan nafasnya itu kemudian merogoh saku celana trainingnya, mengambil ponsel dengan cepat dan mendial nomor yang ada dalam daftar kedua kontak telponnya.

.

Tut..tuuuutt..tuuuttt―"ada apa?!" teriakan itu berdengung ditelinganya, ia menjauhkan ponselnya secara reflek dan kembali memandang ponselnya dengan sebal.

.

"apa operasinya hari ini ada diluar ruangan?" bertanya dengan nada datar, ia memandang sosok lain yang sedari tadi membuatnya sebal itu tengah menampilkan wajah bodoh yang sangat menjijikkan dan tersenyum konyol.

.

"heeiii, kau ada dimana? Apa kau ada di―" pemilik wajah bodoh itu melambaikan tangannya dengan kelewat senang. Kedua pasang mata itu saling menatap, satu dengan mata malas dan satu lagi dengan binar cerah yang sangat indah. "apa kau sudah selesai? Seseorang mengatakan toko kecil yang ada disebrang jalan memiliki croisant yang cukup enak, apa kau mau meluangkan waktu berhargamu untukku, tuan Kim Jongin?"

.

Jongin, pemuda yang masih menatap sebal pada pemilik senyum konyol itu berujar. "tidak."

.

"uhh, kau benar-benar tidak bisa berbasa-basi. Baiklah… kalau begitu izinkan aku mengantar seseorang itu untuk beberapa jam ke depan. Jangan menung―."

.

Pick, telepon dimatikan.

.

Dengan terlatih tangannya mengantongi ponsel lantas berbalik menghiraukan tatapan mata tajam yang mengawasi setiap geriknya dengan tangan yang masih memegang ponsel disamping telinganya.

.

Sosok Jongin kian menjauh, dan mata itu tetap menatap punggung itu dalam diam.

.

"Sehunie, apa kita tidak jadi pergi heum?" suara yang terdengar manja itu mengalun dan berhasil memecahkan pandangannya. Sehun berbalik, menatap lembut pemilik suara itu dan berkata. "maaf, bagaimana kalau lain kali saja."

.

"tap―"

.

Cup, sebuah kecupan singkat memotong bantahan dari bibir mungil mengkilap itu dan bungkam. "aku pergi." Sehun tersenyum, lantas berlari pergi meninggalkan sosok cantik yang masih mematung terbungkam sembari mengusap bibirnya yang baru saja dikecup oleh Sehun secara tiba-tiba.

.

.

.

Langkah itu berubah pelan saat sosok yang sedari tadi dicari pada akhirnya tertemukan. Dengan langkah pelan Sehun membawa tubuhnya duduk dihamparan rumput hijau yang masih terlihat basah karena embun dan merebahkan tubuhnya tepat disamping Jongin.

.

"apa yang kau lakukan?" Jongin bersuara tanpa menoleh sedikitpun pada Sehun.

.

"berbaring." Tukas Sehun.

.

"bukankah kau bilang beberapa jam."

.

Sehun menoleh, menatap Jongin yang memejamkan matanya lalu menyeringai. "kau cemburu?"

.

Sehun bisa mendengar nafas teratur Jongin berubah, ia terkekeh kemudian menutup telinganya dengan ujung telunjuk.

.

"MATI SAJA KAU! OH SEHUN!"
.

Dan kebahagiaan itu memanglah nyata adanya. Sehun mulai membuka matanya setelah beberapa detik dan tersenyum melihat wajah memerah Jongin yang menatapnya kesal seperti biasa. Cinta? Bukan, bukan perasaan seperti itu yang ada diantara keduanya.. perasaan seperti itu tidaklah bisa membuat tuan keras kepala Kim mampu berteriak dengan lantang seperti apa yang satu detik lalu dia lakukan. Tidak bisa membuat hati itu kuat bahkan setelah hancur sekalipun. Tidak bisa... perasaan macam itu tidak bisa membuat mata itu kembali berbinar dengan sangat indah seakan tak pernah ada luka yang tersirat didalam sana. Tidak bisa.

.

"Kim…" Wajah itu berpaling dan menghadap wajah Jongin.

.

"jangan mengatakan hal yang aneh." larang jongin dengan wajah geram.

.

"matahari itu terlihat begitu indah bukan, namun kau tidak akan bisa melihatnya tanpa merasakan sakit saat ia bersinar terang."

.

Jongin menghela nafasnya malas. "hhhh, apa-apaan ini?"

.

"aku merindukannya, kau tahu bukan?"

.

"hm, lantas?"

.

"aku butuh pengalihan perhatian."

.

Jongin memutar bola matanya malas. "dan kau hanya bisa mengalihkan perhatian dengan bermain wanita."

.

Senyum itu merekah. "gotcha! Kau benar."

.

"lalu apa hubungannya dengan sakit saat melihat matahari?" Jongin mendengus dan bersamaan dengan itu keduanya bangkit, lantas duduk bersila dengan posisi sejajar. Sehun mengendikkan bahu acuh. "entahlah, aku hanya mengatakan apa yang aku lihat dan rasakan."

.

"idiot."

.

"Kim Jongin." Sepasang mata itu saling bertaut dengan serius. "tidakkah kau ingin melihat orang yang telah membuangmu itu sekali lagi? Tidakkah kau ingin melihatnya hancur seperti apa yang dia lakukan terhadapmu? Tidakkah kau ingin semua yang kau rasakan itu terbayar dengan setimpal? Tidakkah?"

.

Wajah Jongin berubah kaku, jemari tangannya menggenggam dengan sempurna hingga menekan buku-buku jarinya sampai memutih. "tentu saja." balas Jongin dengan nada aditif yang begitu datar.

.

"aku sama sekali tidak berniat untuk membiarkannya bernafas dalam satu dunia dimana aku ada dan menghirup udara yang sama bersamanya. Tidak akan."

.

.

.

.

.

Pulang, mungkin memang seperti itulah adanya. Mungkin sudah waktunya ia mengakhiri semua ini. Mungkin dia memang harus kembali dan mengembalikan semua hal dalam orbit yang sudah seharusnya. Mungkin, atau.. ia harus membuatnya lebih menarik dan menikmati permainan yang akan segera dia mainkan?

.

Entahlah, memikirkan semua hal itu membuatnya tak bisa tidur. Jongin mengusap rambutnya dengan kasar, dia turun dari ranjangnya dan berjalan menuju jendela. Bulan sempurna terpampang indah dalam selimut hitam pekat bertaburan bintang dan dalam diam ia menatap pemandangan itu sampai matanya berat.

.

Derit pintu yang terbuka tetap tak mengalihkan atensinya, suara langkah itu mendekat dan berhenti tepat disampingnya. "aku tidak menyangka kau akan sesenang ini sampai-sampai tidak tidur."

.

Hening. Tak berniat membalas apapun yang dikatakan Sehun, Jongin tetap fokus mengamati jutaan bintang yang bersinar disamping bulan yang telihat begitu angkuh dan berbalik saat suara Sehun kembali menguar. "istirahatlah, besok akan jadi hari yang cukup berat."

.

Dan setelahnya Sehun juga beranjak pergi dari kamar Jongin tanpa berucap apapun. Hari yang cukup berat eh? Sehun, orang idiot itu benar-benar berlebihan. Pikir Jongin sembari melihat jam digital diatas meja yang menampilkan angka 12.07 am.

.

Ia mengambil ponsel yang tergeletak pasrah disampingnya lalu menimbang-nimbang apa yang akan dia lakukan ini tidak berlebihan. Ini sudah terlalu larut dan orang itu tentunya sudah tertidur, namun… sesuatu dalam hatinya terus mendorong nya hingga batas limit dan pada akhirnya jemari Jongin dengan sukses mendial nomor seseorang yang selalu dia rindukan selama dua tahun terakhir ini.

.

"J-Jongin?" suara serak khas orang yang baru bangun tidur itu terdengar begitu indah ditelinganya meski tak menyamarkan nada terkejut yang begitu kentara didalamnya.

.

"hm, ini aku." Senyum kecil itu berhias indah diwajah Jongin. Tak ada suara yang terdengar kemudian, hening merambat dalam detik-detik berikutnya hingga menyisakan riak kecil berupa khawatir saat tak terdengar apapun.

.

"Baek, Byun Baekhyun?" Jongin mencoba memanggil nama itu dan suara itu kembali mengalun seperti yang diharapkan oleh seorang Kim Jongin. "kau… kemana saja kau bocah!"

.

Jongin merindukannya, begitu merindukannya…

.

"Baek…" Jongin kembali bersuara. "tunggulah.. aku akan kembali" lanjutnya perlahan diiringi isakan seorang Byun Baekhyun yang tak kunjung berhenti.

.

.

.

―aku akan kembali."

.

.

.

.

.o0o.

Chapter 11 Finish

.

.

.

a/n :

untuk hana yang selalu tanya kapan saya update, nih udah saya update… semoga nggak mengecewakan, seperti note saya yang ada diatas sana. Mood saya kacau, maaf jika kalian menunggu terlalu lama..

dan di chapter ini alurnya cepet banget, saya tahu.. memang sengaja saya buat begitu biar cepet selesai.

Ini fanfict kayak sinetron, emang.

Trus kalau kalian masih bingung juga mending jangan dipaksakan baca karena saya takutnya kalian nanti malah sakit perut.

Di part terakhir ada hunkai eh? Bromance banget… dan memang begitulah adanya.

Ada part KaiBaek juga! Yang si Jonginnya kek pacar yang mau kembali dari wamil terus nelpon ceweknya.. aih, keknya saya terlalu banyak nonton DoTS, #korban_DoTS -_-

Dan berhubung saya sedang baik hati,

Silahkan mampir di fanfict saya 'HUG ME' [promosi terselubung] buat yang suka baca genre uke yang disakiti itu fanfict pas banget, apalagi ada banyak seme kece yang available.. aish ngomong apa saya. Abaikan.

.

Dan terakhir

.

Thanks to my precious readers

| onrie1420 | Seraphine Rin | diannurmayasari15 | laxyovrds | kimpinku | YuRhachan | sehuniesm | Fawkaihoon | kaiku | Sa | Miss Wuhan | sehunfina | park28sooyah | ChocoBear Noona | xpasiphaey | gdtop | gothiclolita89 | unknown | GYUSATAN | jung Naera | jihan park | KJ | YooKey1314 | hana | Devia494 | hunkai lovers | sayakanoicinoe | KAI's | njongah | aNOnime9095 | Khoirunnisa890 | Uzumakichan | melizwufan | WyfZooey | diajunie61 | Veraseptian | nana.k | dhadhiaa | kai uke shiper | HaeSan | ariska | steffifebri | jjong86 | | Guest | cute | hanbinikon | Song Haru | Kim Jongin Kai | hunexohan | sejin kimkai | helenaaaaafela | GaemCloud347 | bapexo | hnana | lalalalala | kim | yellowfish14 | kimkai88 | ucinaze | Kimsibling | ohkim9488 | Wiwitdyas1 | Waniey318 | elidamia98 | KkaiOlaf | YooKey1314 | Aesmayae | KSKJ | xsxsso | Jun-yo | NadyaputriKpoperBestFriendofYuNaCha | geash | kim nara | kimkaaa | estkai | Parkyayim | kaieqso | BabyWolfJonginnie'Kim | Jungie nuna | sasha | Yuki Edogawa | ParkJitta | Disyeye | KimuraRin | onespoonfulloppa | Dya Kim | bubblebaek | JSA | ranirahma | NishiMala | yooonnah | KKOS | | minjoo | isnawati96511 | sheyy bunny | Ziyuu Exol9488 | rellicioud94 | KJInoona | seorinkim88 | May | popyanzz | chiekai | M2M | baby tan bear | jumee | Karen Ackerman |

terima kasih telah menyempatkan diri buat mampir dan baca ini fict. ^^V

Silahkan tinggalkan jejak kalian dikotak review jika berkenan.

GOMAWOO!

.

.

.

With love

=TianLian=

.

.

.

[p.s : fanfict ini akan slow apdet untuk jangka waktu yang tidak menentu]

Bagi yang mau berteman dengan saya di facebook silahkan add fb saya

[ Tian Lian Lian ]