Fifty Shades of Darker

HAEHYUK

.

FIFTY SHADES OF DARKER
© E. L. James

REMAKE
senavensta

Genre: Romance/Drama

Cast:

Lee Hyukjae
Lee Donghae
Kim Jongkook Lee Sungmin
C
ho Kyuhyun Kim Hyuna
A
hn Chilhyun(Kangta) Kwon Boa
Hangeng Kim Heechul
Kim Taeyeon Tiffany Hwang
K
im Youngwoon Kim Jungmo
J
ang Hyunseung Kim Ryeowook
Jessica Jung Park Jungsoo
Shin Donghee
T
aylor Martini Gail Jones
C
hoi Minho Kim Jaekyung
yang lain nyusul

.

Warn: Remake, BL/Boys Love, OOC, Typo(s).

Perubahan nama keluarga (marga) dan tempat, lokasi gedung, langsung didalam cerita, sengaja gak aku tulis dicast satu-satu karena nanti kepenuhan hahaha
Yang tidak suka hal-hal berbau remake, gak perlu maksain diri buat baca(?).
Daftar istilah ada dibagian paling akhir –kalo ada(?).

.

Wanna RnR?

.

.

Fifty Shades of Darker

.

Donghae menutup pintu di belakangnya dan menatap ke arah Hyukjae hati-hati.

"Semuanya baik-baik saja?" tanyanya.

Hyukjae mengangguk membisu, dan Donghae memiringkan kepalanya ke satu sisi, wajahnya tegang dengan keprihatinan.

"Hyukjae, ada apa ini? Apa yang Dr. Leeteuk katakan?"

Hyukjae menggeleng lagi.

"Kau baik dalam tujuh hari," gumam Hyukjae.

"Tujuh hari?"

"Ya."

"Hyukkie, ada apa?"

Hyukjae menelan ludah, "Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kumohon, Donghae, biarkan saja."

Donghae berdiri di depan Hyukjae. Ia menggenggam dagu Hyukjae, menarik kepala Hyukjae ke belakang, dan menatap tegas ke matanya, berusaha untuk menguraikan rasa panik Hyukjae.

"Katakan padaku," bentak Donghae bertubi-tubi.

"Tak ada yang bisa diceritakan. Aku ingin berpakaian," Hyukjae menarik dagunya keluar dari jangkauan Donghae.

Donghae mendesah dan menjalankan tangan ke rambutnya, mengerutkan kening pada Hyukjae. "Mari kita mandi," katanya akhirnya.

"Tentu saja," gumam Hyukjae, sedikit terganggu, dan mulut Donghae berputar karena itu.

"Ayo," kata Donghae cemberut, menggenggam tangan Hyukjae erat. Ia berjalan menuju kamar mandi saat Hyukjae mengekor di belakangnya.

Rupanya Hyukjae bukan satu-satunya orang dalam suasana hati yang buruk, tampaknya.

Menghidupkan shower, Donghae dengan cepat melepas pakaian sebelum berbalik kepada Hyukjae.

"Aku tidak tahu apa yang membuatmu sedih, atau jika kau hanya jadi pemarah karena kekurangan tidur," kata Donghae, sementara tangannya membuka jubah Hyukjae. "Tapi aku ingin kau memberitahuku. Imajinasiku berjalan jauh bersamaku, dan aku tak menyukainya."

Hyukjae memutar matanya pada Donghae, dan sebagai balasannya, Donghae melotot ke arah Hyukjae, menyipitkan matanya.

"Dr. Leeteuk memarahiku karena lupa minum pil. Dia bilang aku hampir hamil."

"Apa?" Donghae memucat, dan tangannya membeku saat ia menatap Hyukjae, tiba-tiba pucat.

"Tapi aku tidak hamil. Dia melakukan tes. Itu mengejutkan, itu saja. Aku tak percaya aku sebodoh itu."

Seketika Donghae tampak santai lagi.

"Kau yakin kau tidak hamil?"

"Ya."

Donghae menghembuskan sebuah napas dalam-dalam, "Bagus. Ya, aku bisa melihat bahwa berita seperti itu akan sangat menjengkelkan."

Hyukjae mengerutkan kening. Perkataan Donghae itu kalau disimpulkan berarti dia tidak mau Hyukjae hamil. Hanya mau ambil untung saja.

"Aku lebih khawatir tentang reaksimu."

Donghae mengernyitkan alisnya pada Hyukjae, bingung.

"Reaksiku? Ya, tentu saja aku lega. Itu akan menjadi kecerobohan yang sangat tinggi dan merupakan sebuah perilaku buruk untuk menghamilimu."

"Kalau begitu, mungkin seharusnya kita tidak melakukannya," tukas Hyukjae.

Donghae menatap pada Hyukjae sejenak, bingung, seolah-olah Hyukjae semacam eksperimen ilmiah, "Kau mudah naik darah pagi ini."

"Itu hanya sebuah kejutan, itu saja," ulang Hyukjae dengan kesal.

Menggenggam kelepak jubah Hyukjae, Donghae menarik Hyukjae ke dalam pelukan hangat, mencium rambutnya, dan menekan kepala Hyukjae ke dadanya. Hyukjae teralihkan oleh dada bidang dihadapannya, yang bergesekan dengan pipinya.

"Hyukkie, aku tak terbiasa dengan ini," gumam Donghae.

"Kecenderungan alamiku adalah untuk memukulmu agar kau memberitahuku, tapi aku benar-benar ragu kau menginginkan hal itu," lanjutnya.

Hyukjae sekali lagi terpana oleh kejujuran Donghae. Ternyata Donghae tak tahu apapun tentang hubungan, dan Hyukjae sebenarnya juga tidak, kecuali apa yang telah Hyukjae pelajari dari Donghae. Nah, karena Donghae meminta kepercayaan dan kesabaran, mungkin Hyukjae harus melakukan hal yang sama.

"Tidak, aku tak mau. Ini jauh lebih membantu," Hyukjae memeluk Donghae, kencang, dan mereka berdiri lama dalam pelukan yang aneh, Donghae telanjang dan Hyukjae dibungkus dalam jubah.

"Ayo, mari kita mandi," kata Donghae pada akhirnya, melepaskan Hyukjae.

Melangkah mundur, Donghae melepaskan jubah dari diri Hyukjae, dan Hyukjae mengikuti Donghae ke dalam air yang mengalir, ia memegang wajah Hyukjae keatas semburan air yang deras.

Ruangnya cukup untuk mereka berdua di bawah pancuran raksasa. Donghae meraih sampo dan mulai mencuci rambutnya. Lalu ia menyerahkannya kepada Hyukjae dan Hyukjae mengikutinya.

Semuanya terasa nikmat.

Menutup mata, Hyukjae menyerah pada air yang menghangatkan dan membersihkan.

Saat Hyukjae membilas sampo dari rambut, Hyukjae merasakan tangan Donghae pada tubuhnya, menyabuni tubuhnya, bahu, lengan, di bawah lengan, dada, dan punggung Hyukjae. Dengan lembut Donghae memutar tubuh Hyukjae dan menariknya untuk mendekat saat ia terus menyabuni bagian bawah tubuh Hyukjae, bagian perut, jari-jari terampilnya diantara kaki Hyukjae, kemudian pantat. Hyukjae merasa semuanya begitu intim.

Donghae memutar tubuh Hyukjae lagi agar berhadapan dengannya.

"Ini," kata Donghae pelan, sambil menyodorkan Hyukjae bodywash. "Aku ingin kau untuk mencuci bersih sisa-sisa lipstik."

Mata Hyukjae terbuka dengan sebuah kebingungan dan dengan cepat menatap Donghae. Donghae menatapnya tajam, basah kuyup dan indah, mata coklat gelapnya bersinar dan gemilang tidak menunjukan apapun.

"Jangan menyimpang jauh dari garis, please," gumam Donghae sedikit tegang.

"Oke," gumam Hyukjae, berusaha meresapi besarnya hal yang baru saja Donghae minta padanya. Menyentuh Donghae di tepi dari zona terlarang.

Hyukjae memeras sedikit sabun di tangannya. Ia menggosokkan tangannya bersama-sama untuk menciptakan busa, kemudian menempatkan busa-busa itu pada bahu Donghae dan dengan lembut membasuh garis lipstik pada setiap sisi.

Donghae terdiam dan menutup matanya, wajahnya tanpa ekspresi, namun dia bernapas cepat, dan Hyukjae tahu itu bukan nafsu, tapi ketakutan.

Itu membuat hati kecil Hyukjae terluka.

Dengan jari-jari gemetar, Hyukjae hati-hati mengikuti garis bawah sisi dada Donghae, menyabuni dan menggosok lembut, dan Donghae menelan ludah, rahangnya tegang seakan giginya terkatup. Hati Hyukjae terasa sesak dan tenggorokannya mengencang. Rasanya Hyukjae akan menangis.

Hyukjae berhenti untuk menambah sabun lebih ketangannya dan merasakan Donghae relaks di depannya. Hyukjae tak bisa melihat ke arah Donghae. Hyukjae tak tahan untuk melihat kesedihannya, itu terlalu banyak.

Hyukjae menelan ludah. "Siap?" gumamnya dan ketegangan keras dan jelas dalam suara.

"Ya," bisik Donghae, suaranya serak, seakan diikat dengan ketakutan.

Dengan lembut, Hyukjae menempatkan tangannya di kedua sisi dada Donghae, dan Donghae membeku lagi. Semua itu membuat Hyukjae kewalahan oleh kepercayaan Donghae padanya, ia kewalahan oleh rasa takut Donghae, oleh kerusakan yang telah terjadi pada tubuh Donghae yang indah, tumbang dan tidak sempurna itu.

Air mata Hyukjae menggenang di mata dan akhirnya tumpah ke wajah, hilang bersama air dari pancuran.

Diafragma Donghae bahkan bergerak cepat dengan setiap napas pendeknya, tubuhnya kaku, ketegangan memancar darinya seperti gelombang saat tangan Hyukjae bergerak sepanjang garis, menghapus bekas lipstik.

Kalau saja Hyukjae bisa menghapus rasa kesedihan itu, Hyukjae akan melakukannya, Hyukjae akan lakukan apa saja dan Hyukjae tak ingin apapun selain mencium setiap bekas luka yang Hyukjae lihat, mencium pergi semua tahun-tahun mengerikan saat Donghae disia-siakan.

Tapi Hyukjae tahu kalau dirinya tak bisa, dan air mata Hyukjae jatuh tanpa diminta mengalir ke pipi tirusnya.

"Tidak. Tolong, jangan menangis," gumam Donghae, suaranya sedih saat ia membungkus Hyukjae erat-erat dalam pelukannya.

"Tolong jangan menangis untukku," lanjut Donghae. Dan isakkan Hyukjae meledak jadi tangisan keras. Hyukjae mengubur wajahnya ke leher Donghae, karena Hyukjae bisa membayangkan bagaimana seorang anak kecil yang tenggelam dilautan rasa takut dan rasa sakit, ngeri, diabaikan, dianiaya, terluka melampaui semua daya tahannya.

Donghae menarik diri, mendekap kepala Hyukjae dengan kedua tangannya, memiringkannya kebelakang, dan membungkuk untuk mencium Hyukjae.

"Jangan menangis, Hyukkie kumohon," bisik Donghae dimulut Hyukjae. "Itu sudah lama sekali. Aku sangat menginginkanmu untuk menyentuhku, tapi aku tidak bisa menanggungnya. Ini terlalu banyak. Tolong, tolong jangan menangis."

"Aku juga ingin bisa menyentuhmu. Lebih dari yang pernah kau tahu. Melihatmu seperti ini, begitu terluka dan takut, itu membuatku terluka juga. Aku sangat mencintaimu."

Donghae mengelus bibir bawah Hyukjae dengan ibu jarinya. "Aku tahu. Aku tahu," bisiknya.

"Kau sangat mudah untuk dicintai. Tidakkah kau sadar akan hal itu?"

"Tidak, sayang, aku tidak."

"Ya. Dicintai olehku dan begitu juga keluargamu. Juga Tiffany dan Taeyeon, walaupun mereka memiliki cara yang aneh untuk menunjukkan hal itu, mereka mencintaimu. Kau layak dicintai."

"Berhenti," Donghae menempelkan jarinya di bibir Hyukjae dan menggoyangkan kepalanya, ekspresi kesakitan di wajahnya.

"Aku tidak bisa mendengar ini. Aku bukan apa-apa, Hyukjae. Aku hanya sebuah kulit manusia. Aku tidak memiliki hati."

"Ya, kau punya hati. Dan aku menginginkan itu, semuanya. Kau pria dewasa yang baik, Donghae, seorang pria dewasa yang benar-benar baik. Jangan pernah meragukan itu. Lihatlah apa yang telah kau lakukan, apa yang telah kau capai," Hyukjae terisak.

"Lihat apa yang telah kau lakukan untukku, apa yang telah kau palingkan, dariku," bisik Hyukjae lagi, masih terisak.

"Aku tahu. Aku tahu bagaimana perasaanmu terhadapku," Donghae menatap ke arah Hyukjae, matanya lebar dan panik, dan yang bisa mereka dengar hanyalah aliran air yang mengalir terus diatas pancuran.

"Kau mencintaiku," bisik Hyukjae.

Mata Donghae jadi lebih melebar dan mulutnya terbuka. Ia mengambil napas dalam, seakan kehabisan napas. Ia tampak tersiksa, terlihat rentan.

"Ya," bisik Donghae.

.

Fifty Shade of Darker

.

Hyukjae tak bisa menahan sorak kegembiraan dalam hatinya. Ia menatap penuh kerinduan ke mata Donghae yang melebar, mata tersiksa. Pengakuan lembut Donghae yang manis memanggil Hyukjae sampai beberapa tingkat dasar yang mendalam seolah-olah sedang mencari pengampunan; tiga kata kecilnya terasa seperti makanan yang berasal dari surga.

Air mata menusuk mata Hyukjae sekali lagi. Tentu saja, Donghae mencintai Hyukjae. Hyukjae tahu kalau Donghae mencintainya.

Ini seperti realisasi yang membebaskan seolah-olah beban berat yang menggantung telah hancur dicampakkan. Pria tampan kacau itu sudah Hyukjae anggap sebagai pahlawan romantis, penyendiri, misterius, tapi juga rentan dan terasingkan dan sangat membenci dirinya sendiri.

Hati Hyukjae membengkak dengan kebahagiaan tapi juga ada rasa sakit atas penderitaan Donghae. Dan Hyukjae tahu pada saat inilah hati Hyukjae menjadi lebih besar, cukup untuk mereka berdua.

Hyukjae harap itu cukup besar untuk ia dan Donghae, berdua.

Hyukjae meraih keatas untuk menggenggam wajah tampan Donghae yang sangat ia sayang dan menciumnya dengan lembut, menuangkan semua cinta yang ia rasakan menjadi satu koneksi yang manis. Ia ingin melahap Donghae dibawah aliran air panas.

Donghae megerang dan memeluk Hyukjae, menahan tubuh Hyukjae seolah-olah Hyukjae adalah udara yang ia butuhkan untuk bernapas.

"Oh, Hyukkie," bisik Donghae dengan suara serak, "Aku menginginkanmu, tapi tidak di sini."

"Ya," bisik Hyukjae sungguh-sungguh ke dalam mulut Donghae.

Donghae mematikan pancuran dan meraih tangan Hyukjae, membawanya keluar dan membungkusnya dengan jubah mandi.

Meraih handuk, Donghae membungkus sekeliling pinggangnya, kemudian mengambil satu yang lebih kecil dan mulai mengeringkan rambut Hyukjae dengan lembut.

Saat sudah puas, Donghae meletakkan handuknya di sekitar kepala Hyukjae hingga terlihat di cermin besar diatas wastafel kalau Hyukjae seperti memakai kerudung.

Donghae berdiri di belakang Hyukjae dan mata mereka bertemu di cermin, mata coklat gelapnya membara dengan mata coklat karamel, dan itu memberi Hyukjae sebuah ide.

"Bisakah aku melakukannya juga padamu?" tanya Hyukjae.

Donghae mengangguk, meskipun keningnya berkerut.

Hyukjae meraih handuk lain dari tumpukan handuk lembut yang ditempatkan di samping meja rias, dan berdiri di hadapan Donghae, ia mulai mengeringkan rambut Donghae.

Donghae sedikit membungkuk ke depan, membuat prosesnya lebih mudah, sesekali Hyukjae menangkap wajah Donghae sekilas di bawah handuk, Hyukjae melihat Donghae menyeringai ke arahnya seperti anak kecil.

"Sudah lama sekali semenjak seseorang melakukan ini padaku. Sangat lama sekali," bisik Donghae, tapi kemudian mengerutkan kening. "Bahkan kupikir tak seseorang pun pernah mengeringkan rambutku."

"Pastinya Boa melakukan itu? Mengeringkan rambutmu ketika kau masih anak-anak?"

Donghae menggelengkan kepalanya, menghambat proses Hyukjae.

"Tidak. Dia menghormati batas-batasku dari hari pertama, meskipun itu menyakitkan untuknya. Aku sangat mandiri ketika masih kecil," kata Donghae pelan.

Hyukjae merasakan seperti ada sebuah tendangan di tulang rusuknya saat ia memikirkan bagaimana seorang anak kecil berambut cepak merawat dirinya sendiri karena tak ada orang lain yang peduli.

Pikiran itu membuat Hyukjae muak dan menyedihkan. Tapi Hyukjae tak ingin perasaan melankolis itu merusak keintiman yang sudah berkembang.

"Ya, aku merasa terhormat," kata Hyukjae lembut menggoda Donghae.

"Terima kasih, Tuan Lee Hyukjae. Atau mungkin akulah yang merasa terhormat."

"Itu tidak perlu dikatakan, Mr. Lee," Hyukjae menanggapi dengan ketus.

Hyukjae selesai dengan rambut Donghae, meraih handuk kecil lain, dan bergerak memutari Donghae untuk berdiri di belakangnya. Mata mereka bertemu lagi di cermin, dan Donghae waspada, sepertinya mempertanyakan keadaan.

"Bisakah aku mencoba sesuatu?"

Setelah beberapa saat, Donghae mengangguk. Hati-hati, dan sangat lembut, Hyukjae menjalankan handuk yang lembut menuruni lengan kiri Donghae, menyerap air yang seperti manik-manik di kulit Donghae.

Melirik ke atas, Hyukjae cek ekspresi Donghae di cermin. Donghae berkedip pada Hyukjae, matanya terbakar kepada Hyukjae.

Hyukjae membungkuk dan mencium otot bisep Donghae, dan bibir Donghae langsung terbuka, seperti rasanya tak terkira. Hyukjae mengeringkan lengan yang lain dengan cara yang sama, meninggalkan ciuman di sekitar bisepnya, dan Donghae menagggapi itu dengan senyum kecil di bibirnya.

Dengan hati-hati, Hyukjae mengusap punggung Donghae, di bawah garis lipstik samar, yang masih terlihat. Tidak seluruhnya Hyukjae membasuh punggung Donghae.

"Lagi, seluruh punggung," kata Donghae pelan, "dengan handuk."

Donghae mengambil napas tajam dan menutup matanya saat Hyukjae mengeringkan tubuhnya dengan cepat, dengan hati-hati menyentuhnya hanya dengan handuk.

Donghae memiliki punggung yang menarik, lebar, bahunya seperti dipahat, semua otot kecilnya tampak jelas. Dia benar-benar merawat dirinya. Tapi pemandangan indah itu dirusak oleh bekas lukanya.

Merasa kesulitan, Hyukjae mengabaikan itu dan menekan dorongan yang sangat kuat untuk mencium satu persatu luka itu.

Ketika Hyukjae sudah selesai, Donghae mengembuskan napas, dan Hyukjae membungkuk membalasnya dengan memberinya ciuman diatas bahunya.

Menempatkan tangan di sekeliling Donghae, Hyukjae mengeringkan perutnya. Mata mereka bertemu sekali lagi di cermin, ekspresi Donghae geli tapi juga waspada.

"Pegang ini," Hyukjae memberikan handuk wajah yang lebih kecil, dan Donghae mengerutkan kening bingung.

"Ingat saat di Gangnam? Kau membuat aku menyentuh diriku sendiri menggunakan tanganmu," tambah Hyukjae.

Wajah Donghae berubah gelap, tapi Hyukjae mengabaikan reaksinya dan meletakkan tangan di atas tangannya.

Mereka berdua saling menatap dicermin, saling memandang keindahan, ketelanjangan, dan Hyukjae dengan rambut kerudungnya, mereka hampir terlihat seperti di Alkitab, seolah-olah dari sebuah lukisan baroque di Perjanjian Lama. Hanya perbedaannya, Donghae dan Hyukjae berkelamin sama.

Hyukjae meraih tangan Donghae, dimana Donghae merelakan itu untuk mempercayakannya kepada Hyukjae, dan membimbing naik ke atas dadanya untuk mengeringkannya, menyapu dengan handuk perlahan-lahan, dengan canggung melintasi tubuhnya.

Sekali, dua kali, sekali lagi. Donghae benar-benar menggerakkannya, kaku karena tegang, kecuali matanya, yang mengikuti tangan Hyukjae menggenggam di atas tangannya. Hyukjae adalah dalang paling berkuasa.

Kecemasan terasa dari punggung Donghae yang sedikit bergetar, tetapi ia tetap mempertahankan kontak matanya, meskipun matanya bertambah gelap, lebih mematikan. Mungkin menunjukkan rahasianya.

"Aku pikir kau sudah kering sekarang," bisik Hyukjae saat menjatuhkan tangannya, menatap kedalam mata coklat gelap Donghae di cermin.

Pernapasan Donghae bertambah cepat, bibirnya terbuka.

"Aku membutuhkanmu, Hyukjae," bisiknya.

"Aku membutuhkanmu juga."

Dan saat Hyukjae mengucapkan kata-kata itu, Hyukjae terkejut karena itu memang benar. Hyukjae tidak dapat membayangkan hidup tanpa Donghae, tidak pernah.

"Biarkan aku mencintaimu," kata Donghae serak.

"Ya," jawab Hyukjae, dan berbalik, Donghae menarik Hyukjae ke dalam pelukannya, bibirnya menginginkan Hyukjae, memohon pada Hyukjae.

Memuja Hyukjae.

Menghargai Hyukjae.

Dan pasti, mencintai Hyukjae.

.

Fifty Shade of Darker

.

Jemari Donghae bergerak ke atas dan ke bawah ditulang belakang Hyukjae saat mereka saling menatap, diliputi kebahagiaan setelah mereka bercinta, penuh kenikmatan.

Mereka berbaring bersama, Hyukjae memeluk bantal, Donghae di hadapan Hyukjae dengan posisi miring, dan Hyukjae menikmati sentuhan lembutnya. Hyukjae tahu bahwa itu memang benar, sekarang Donghae perlu menyentuh Hyukjae.

Hyukjae seperti balsem bagi Donghae, sumber pelipur lara, dan bagaimana bisa Hyukjae menolaknya. Hyukjae merasakan hal yang sama tentang diri Donghae.

"Jadi kau bisa bersikap lembut," bisik Hyukjae.

"Hmm… Tampaknya memang seperti itu, Tuan Lee Hyukjae."

Hyukjae menyeringai, "Kau tidak begitu, terutama saat pertama kali kita… Umm, melakukan ini."

"Tidak?" Donghae menyeringai. "Ketika, aku merampas keperawanan lubangmu?"

"Ya! Lagipula aku tidak berpikir kau merampasku," Hyukjae bergumam dengan sombong.

Astaga, Hyukjae bukan seorang gadis tak berdaya, walaupun memang Donghae satu-satunya orang yang memasuki tubuhnya untuk pertama kali –dan sampai sekarang.

"Kurasa, aku menawarkan 'keperawanan'ku dengan bebas dan sukarela. Aku juga menginginkanmu, dan jika aku ingat dengan benar, aku juga menikmatinya untuk diriku sendiri," Hyukjae tersenyum malu-malu pada Donghae, sambil menggigit bibir.

"Aku juga, jika aku ingat itu, Tuan Lee Hyukjae. Kita bertujuan untuk saling menyenangkan," gaya bicara Donghae seperti biasa dan wajahnya melembut, serius.

"Dan itu berarti kau milikku, sepenuhnya," Semua jejak humor telah hilang saat Donghae menatap Hyukjae.

"Ya, aku milikmu," gumam Hyukjae membalasnya. "Aku ingin menanyakan sesuatu padamu."

"Silakan."

"Ayah biologismu. Apa kau tahu siapa dia?" tanya Hyukjae mengeluarkan isi pikirannya yang terus-menerus mengganggu.

Alis Donghae berkerut, lalu ia menggelengkan kepalanya.

"Aku tak tahu. Bukankah orang biadab itu juga mucikarinya, bukan orang yang baik."

"Bagaimana kau tahu?"

"Mengenai ayahku, Kangta mengatakan sesuatu padaku–" ucap Donghae menggantung kalimatnya, membuat Hyukjae menatapnya penuh harap, menunggu.

Donghae jadi menyeringai ke arah Hyukjae, "Kau sangat haus akan informasi, Hyukjae," keluhnya, menggelengkan kepalanya.

"Mucikarinya menemukan tubuh pelacur pecandu itu dan menelepon ke pihak berwenang. Dia butuh empat hari untuk melaporkan penemuan itu. Ia menutup pintu saat ia pergi, meninggalkan aku bersama… mayat pelacur itu," mata Donghae berkabut mengingat itu. Hyukjae menarik napas dalam-dalam.

"Kemudian polisi mewawancarainya. Ia menyangkal mentah-mentah bahwa aku ada hubungannya dengan dia, dan Kangta mengatakan dia sama sekali tidak mirip aku."

"Apa kau ingat dia terlihat mirip siapa?"

"Hyukjae, ini bagian hidupku dan aku tidak ingin hal itu sering mendatangiku. Ya, Aku ingat dia mirip siapa. Aku tak pernah melupakan dia." Wajah Donghae bertambah gelap dan mengeras, menjadi lebih kaku, matanya dingin penuh kemarahan.

"Bisakah kita bicara tentang sesuatu yang lain?"

"Maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu marah."

Donghae menggelengkan kepalanya, "Ini berita yang sudah basi, Hyukkie. Bukan sesuatu yang ingin aku pikirkan."

"Jadi, apa kejutannya, saat ini?" Hyukjae perlu mengubah topik sebelum Donghae meninggalkannya dengan semua kekacauannya.

Ekspresi Donghae langsung cerah.

"Bisakah aku mengajakmu keluar untuk mencari udara segar? Aku ingin menunjukkan sesuatu."

"Tentu saja," jawab Hyukjae heran betapa cepatnya emosi Donghae berubah, termasuk bergairah seperti biasa.

Donghae menyeringai pada Hyukjae dengan senyum kekanak-kanakan, ceria, senyum yang menyatakan Hyukjae baru berumur dua puluh tujuh, dan hati Hyukjae serasa menggelinding masuk ke dalam susu stroberi.

Jadi itu adalah sesuatu yang dekat dengan hati Donghae, Hyukjae tahu itu.

Donghae memukul Hyukjae dengan main-main di bagian pantat.

"Cepat berpakaian. Lebih baik pakai jeans. Aku harap Taylor mengemas beberapa jeans untukmu," Donghae bangkit dan menarik celana boxer-nya keatas. Hyukjae bisa duduk di sini sepanjang hari, menonton Donghae di seluruh ruangan. Sebagai penyuka sesama jenis dan lebih cenderung menyukai yang tampan, batin Hyukjae rasanya bisa pingsan saat melihat Donghae.

"Ayo bangun," tegur Donghae, sangat bossy seperti biasa.

Hyukjae menatap Donghae sambil nyengir, "Hanya mengagumi pemandangan."

Donghae memutar matanya ke arah Hyukjae.

Saat mereka berpakaian, Hyukjae melihat bahwa mereka bergerak dengan sinkron, layaknya dua orang saling mengenal dengan baik, masing-masing saling berhati-hati dan sangat sadar dengan yang lainnya, sesekali saling bertukar senyum malu dan saling menyentuh dengan manis. Dan Hyukjae baru sadar bahwa hubungan itu sama barunya bagi Donghae dan dia.

"Astaga rambutmu masih sedikit basah, keringkan rambutmu," perintah Donghae setelah mereka berpakaian.

"Mendominansi seperti biasa," Hyukjae menyeringai pada Donghae, dan Donghae membungkuk untuk mencium rambut Hyukjae.

"Itu tak akan pernah berubah, sayang. Aku tak ingin kau sakit."

Hyukjae memutar mata ke arah Donghae, dan mulut Donghae berputar dengan geli karena itu.

"Telapak tanganku masih berkedut, jika kau tahu, Tuan Lee Hyukjae."

"Aku senang mendengarnya, Mr. Lee. Aku mulai berpikir kau sudah kehilangan keunggulanmu," balas Hyukjae.

"Aku bisa dengan mudah menunjukkan bahwa itu tidak terjadi, sebelum kau memintanya."

Donghae menyeret tas krem besar, mengeluarkan sweter rajutan dari tasnya dan menyampirkan di atas bahunya. Dengan kaus putih dan jins, rambut kusutnya yang indah, sekarang ini, ia tampak seolah-olah dia melangkah keluar dari halaman sebuah majalah dengan lembaran kertas mengkilap. Tidak ada seorangpun yang bisa terlihat setampan itu.

Dan Hyukjae tak tahu apakah itu gangguan sesaat dari penampilan sempurna Donghae semata, atau sadar bahwa Donghae mulai mencintainya, tapi ancamannya tidak lagi membuat Hyukjae ketakutan.

"Ini adalah Fifty Shades -ku, ini adalah cara dia."

Saat Hyukjae meraih pengering rambut, cahaya nyata dari sebuah harapan mulai berkembang. Ia dan Donghae akan menemukan jalan tengah. Mereka hanya perlu mengenali kebutuhan satu sama lain dan mengakomodasi hal itu.

Mereka pasti bisa melakukan itu, benar kan?

Hyukjae menatap dirinya di cermin meja rias. Ia mengenakan kemeja biru pucat yang sudah dibelikan Taylor dan tampak menggemaskan untuknya. Rambutnya masih sedikit berantakan, wajahnya memerah, bibirnya bengkak. Hyukjae jadi menyentuh bibirnya sendiri, mengingat ciuman Donghae yang membakar, dan Hyukjae tidak bisa mencegah sebuah senyum kecil keluar dari bibirnya.

.

Fifty Shade of Darker

.

"Sebenarnya kita mau pergi kemana?" tanya Hyukjae saat mereka menunggu petugas valet di lobi.

Donghae menyentuh sisi hidungnya sendiri dan mengedipkan matanya pada Hyukjae penuh rahasia. Tampaknya ia berusaha keras menahan kegembiraannya.

Terus terang itu sangat-sangat bukan seorang ciri seorang Fifty. Dia terlihat seperti anak muda yang sangat bersemangat.

Hyukjae membalas dengan tersenyum ke arah Donghae dan Donghae balas menatap Hyukjae dengan pandangan yang manis, cara yang sama baiknya, dengan seringai miringnya. Sedikit membungkuk ke bawah, Donghae mencium Hyukjae dengan lembut.

"Apa kau tahu bagaimana kau membuatku bahagia?" gumam Donghae.

"Ya. Aku tahu persis. Karena kau melakukan hal yang sama padaku."

Petugas valet datang membawa mobil Donghae, dengan senyum ceria. Astaga, semua orang begitu bahagia hari ini.

"Mobil bagus, Sir," gumam valet itu sambil menyerahkan kunci Donghae.

Donghae mengedipkan mata dengan menjijikkan dan memberi valet itu tip lumayan banyak.

Hyukjae mengerutkan kening pada Donghae, dengan terang-terangan.

.

Fifty Shade of Darker

.

Ketika mereka meluncur menembus lalu lintas, Donghae tenggelam dalam pikirannya.

Suara seorang wanita muda keluar melalui speaker; Merdu, penuh, warna suaranya lembut, dan Hyukjae seperti terbawa dalam kesedihannya, suaranya menggetarkan jiwa.

"Aku perlu berputar. Seharusnya tidak memakan waktu yang lama," kata Donghae tanpa sadar, mengalihkan perhatian Hyukjae dari lagu.

Hyukjae yang bingung hanya pasrah, ia tertarik untuk mengetahui kejutan Donghae jadi ia tak bisa berbuat banyak.

"Tentu," bisik Hyukjae.

Tapi sesuatu yang tidak beres sepertinya menenggelamkan Donghae. Tiba-tiba, ia terlihat muram. Donghae membawa mobil memasuki areal parkir dealer mobil besar, menghentikan mobilnya, dan menoleh kearah Hyukjae, ekspresinya waspada.

"Kita perlu membeli mobil baru untukmu," kata Donghae.

Hyukjae menganga padanya. Dan itu adalah dealer mobil Saab.

"Bukan Audi?" tanya Hyukjae dengan bodohnya, satu-satunya hal yang bisa Hyukjae pikirkan untuk pertanyaan, dan menyetujui Donghae, muka Donghae benar-benar memerah.

Ya ampun, Donghae malu. Ini adalah yang pertama.

"Kupikir kau mungkin menyukai sesuatu yang lain," gumam Donghae. Ia hampir menggeliat.

Hyukjae menyeringai, "Sebuah Saab?"

"Ya. Saab 9-3. Ayo."

"Ada apa denganmu dan mobil asing?"

"Jerman dan Swedia membuat mobil paling aman di dunia, Hyukjae."

"Kupikir kau sudah memesan lagi Audi A3 untukku?"

Donghae menatap Hyukjae muram tapi tampak geli, "Aku bisa membatalkan itu. Ayo."

Keluar mobil dengan lancar, Donghae berjalan dengan tegap khas pengusaha ke samping Hyukjae dan membuka pintu untuknya. "Aku berutang padamu, hadiah kelulusan," katanya lembut.

"Donghae, kau benar-benar tak perlu melakukan ini."

"Ya, aku perlu. Kumohon. Ayo," Nada suara Donghae mengatakan kalau ia tidak mau dianggap enteng. Hyukjae pasrah pada nasibnya.

Hyukjae meraih tangan Donghae, dan mereka berjalan memasuki showroom.

Troy Turniansky, si salesman, menempel ketat pada Donghae seperti sebuah setelan murah. Ia bisa mencium aroma penjualan. Aksennya ganjil, kedengarannya seperti Atlantik tengah, atau mungkin juga Inggris.

Sulit untuk menebaknya.

"Sebuah Saab, Sir? Keluaran terbaru?" tanya Troy menggosok-gosokkan tangannya dengan kegirangan.

"Baru," jawab Donghae, dengan bibir yang dikatupkan menjadi garis keras.

"Jenis apa yang anda inginkan, Sir?" Nada bicara Troy begitu menjilat.

"Sedan Sport 9-3 2.0T."

"Pilihan yang sangat hebat, Sir."

"Apa warnanya, Hyukjae?" tanya Donghae tiba-tiba, mencondongkan kepalanya.

"Emm, hitam?" balas Hyukjae mengangkat bahu. "Kau benar-benar tak perlu melakukan ini, Donghae."

Donghae mengernyit, "Hitam tidak gampang dilihat pada malam hari."

Demi Tuhan, Hyukjae menahan godaan untuk memutar matanya mendapat respon itu, "Kau punya mobil hitam."

Donghae merengut pada Hyukjae.

"Kalau begitu kuning kenari terang," balas Hyukjae mengangkat bahu.

Donghae meringis, kuning kenari jelas bukan warna kesukaannya.

"Warna apa yang kau inginkan untukku?" tanya Hyukjae seolah-olah Donghae seorang anak kecil, yang mana dalam beberapa hal ia harus memilikinya.

Pemikiran yang tidak Hyukjae sukai.

"Silver atau putih."

"Silver. Kau tahu aku akan mengambil Audi," Hyukjae menyahut, didera oleh pikiran dalam otaknya.

Troy pucat, ia merasakan akan kehilangan penjualan.

"Mungkin anda ingin jenis convertble, Sir?" tanya Troy, mengatupkan tangannya dengan antusiasme.

Donghae mengerutkan kening dan menatap Hyukjae.

"Convertible?" tanya Donghae, menaikkan satu alisnya.

Hyukjae memerah. Ini saat paling tidak nyaman. Hyukjae menunduk menatap tangan sendiri. Sementara Donghae menoleh ke Troy.

"Bagaimana statistik keselamatan pada convertible?"

Troy merasakan kerentanan Donghae, ia mengutamakan keselamatan, mengoceh tentang segala macam statistik.

Tentu saja, Donghae ingin Hyukjae aman. Itu adalah semacam agama bagi Donghae, dan Donghae seperti seorang yang fanatik, ia mendengarkan dengan penuh perhatian pada bualan Troy.

Donghae benar-benar peduli.

Hyukjae tanpa sadar nyengir dengan tolol kearah Donghae karena membayangkan perkataan Donghae tadi pagi dikamar mandi, dan saat Donghae melirik ke arah Hyukjae, dia geli namun bingung dengan ekspresi Hyukjae.

Hyukjae hanya ingin memeluk dirinya sendiri, merasa sangat bahagia.

"Apa pun yang kau pikirkan, aku juga menginginkannya, Tuan Lee Hyukjae," guman Donghae waktu Troy berbalik menuju komputernya.

"Aku memikirkanmu, Mr. Lee."

"Benarkah? Ya, kau jelas terlihat memabukkan," Donghae mencium Hyukjae sekilas. "Dan terima kasih untuk menerima mobil ini. Rasanya jauh lebih mudah daripada yang terakhir kali."

"Ya, ini bukan Audi A3."

Donghae menyeringai, "Itu bukan mobil untukmu."

"Aku menyukainya."

"Sir, jenis 9-3? Saya punya satu di dealer kami yang berlokasi di Samsung Town. Kita bisa mendatangkan ke sini untuk anda dalam dua hari lagi," Troy berseri dengan kemenangan.

"Pasti dua hari lagi?"

"Ya, Pak."

"Baik," Donghae mengeluarkan kartu kreditnya, atau mungkin itu punya Taylor. Hyukjae masih belum tau dan yang pasti pemikiran yang menakutkan melintasi otaknya.

Hyukjae ingin tahu bagaimana keadaan Taylor, jika Taeyeon masih berada di dalam apartemen. Hyukjae menggosok dahi.

"Anda akan membayar dengan ini, Mr..." Troy melirik nama di kartunya, "Lee."

.

Fifty Shade of Darker

.

Donghae membukakan pintu, dan Hyukjae naik kembali ke dalam kursi penumpang.

"Terima kasih," kata Hyukjae ketika Donghae sudah duduk di sampingnya.

Donghae tersenyum, "Sama-sama, Hyukjae."

Musik mulai menyala lagi saat Donghae menyalakan mesin.

"Siapa ini?" Hyukjae bertanya.

"Eva Cassidy."

"Dia memiliki suara yang indah."

"Benar, dulunya iya."

"Oh."

"Dia meninggal waktu masih muda."

"Oh."

"Apakah kau lapar? Kau tidak menghabiskan semua sarapanmu tadi," Donghae melirik cepat ke arah Hyukjae, ketidak setujuannya diuraikan di wajahnya.

"Ya."

"Kita makan siang dulu."

Donghae mengendarai menuju pantai kemudian mengarah ke utara sepanjang jalan menuju Incheon.

Ini hari indah yang lain di Seoul. Rasanya menyenangkan, tidak seperti beberapa minggu terakhir.

Hyukjae merenung, sementara Donghae tampak bahagia dan rileks saat mereka duduk kembali sambil mendengarkan suara manis Eva Cassidy, suaranya menggetarkan jiwa dan pesiar menyusuri jalan raya.

Hyukjae tak tahu pernahkah ia merasa senyaman ini sebagai teman bicara Donghae sebelumnya.

Hyukjae tidak cemas dengan suasana hati Donghae, yakin bahwa Donghae tidak akan menghukumnya, dan Donghae tampak lebih nyaman dengannya, juga.

Donghae belok kekiri, mengikuti jalan pantai, dan akhirnya berhenti di sebuah tempat parkir di seberang Pantai Wangsan yang luas.

"Kita akan makan di sini. Aku akan membukakan pintumu," kata Donghae seperti kebiasaannya yang Hyukjae tahu itu tidak bijaksana untuk memperlakukan seorang pria juga, dan Hyukjae mengawasi Donghae bergerak mengitari mobil.

"Akankah ini akan jadi membosankan?"

Mereka berjalan sambil bergandengan tangan menuju pantai di mana Wangsan membentang di depan mereka.

"Begitu banyak kapal," bisik Hyukjae takjub.

Ada puluhan kapal dalam segala bentuk dan ukuran, naik-turun di atas ketenangan perairan Wangsan yang tenang. Suara keluar disana, dari puluhan layar yang tertiup angin, berkibar ke sana kemari, menikmati cuaca yang bersahabat.

Itu merupakan suatu pemandangan, diluar ruangan yang menyehatkan.

Angin berhembus agak kencang, jadi Hyukjae menarik jaket untuk membungkusnya.

"Dingin?" tanya Donghae dan memeluk Hyukjae erat-erat.

"Tidak, hanya mengagumi pemandangan."

"Aku biasanya memandangi ini sepanjang hari. Ayo, lewat sini," Donghae mengarahkan Hyukjae memasuki bar yang besar di pinggir laut dan berjalan menuju konter.

Dekorasinya lebih mirip New England daripada Pesisiran, dindingnya dicat putih, perabotan biru muda, dan dilengkapi perahu yang menggantung dimana-mana.

Tampak cerah, tempat yang ceria.

"Mr. Lee!" Bartender menyapa Donghae dengan hangat, "Apa yang bisa saya bantu untuk anda siang ini?"

"Dante, selamat siang," Donghae menyeringai saat ia dan Hyukjae berdua duduk di kursi bar, "Pria manis ini, Lee Hyukjae."

"Selamat Datang di Tempat SP," Dante memberi Hyukjae senyum yang ramah. Dia berkulit hitam dan tampan, matanya yang gelap menilai Hyukjae dan tampaknya tidak menemukan apa yang diinginkan.

Hyukjae melihat kerlipan di salah satu telinga Dante yang bertahta berlian besar. Hyukjae langsung menyukainya.

"Apa yang ingin kau minum, Hyukjae?"

Hyukjae melirik Donghae, yang memandang dengan penuh harap. Akhirnya seorang Lee Donghae membiarkan Hyukjae untuk memilih sendiri.

"Panggil aku Hyukkie, dan aku akan memesan apa pun yang diminum Donghae," Hyukjae tersenyum malu-malu pada Dante. Donghae jauh lebih baik dalam hal anggur dibanding dirinya.

"Aku ingin bir. Ini adalah satu-satunya bar di Seoul dimana kau bisa mendapatkan bir Adnams Explorer."

"Bir?"

"Ya," Donghae menyeringai ke arah Hyukjae, "Tolong dua Explorer, Dante."

Dante mengangguk dan menyiapkan bir di bar.

"Mereka membuat sup kental seafood yang rasanya lezat, di sini," kata Donghae, sepertinya itu niat untuk bertanya juga.

"Sup kental dan bir kedengarannya menyenangkan," Hyukjae tersenyum pada Donghae.

"Dua sup kental?" tanya Dante.

"Ya," Donghae nyengir pada Dante.

.

Mereka mengobrol saat makan, itu belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Donghae terlihat santai dan tenang, dia tampak lebih muda, bahagia, dan bersemangat terlepas dari semua yang terjadi kemarin.

Dia menceritakan sejarah SM Enterprises Holdings, dan semakin dia mengungkapkan segalanya, semakin Hyukjae merasakan semangatnya untuk memperbaiki masalah perusahaan, Donghae berharap bisa mengembangkan teknologi, dan mimpinya membuat tanah di dunia ketiga lebih produktif.

Hyukjae mendengarkan dengan terpesona.

Donghae lucu, pintar, dermawan, dan tampan, dan dia mencintai Hyukjae. Pada gilirannya, Donghae akan mengganggu Hyukjae dengan bertanya tentang Hangeng dan Heechul –orangtua Hyukjae, tentang perjalanan tumbuh dewasa Hyukjae di hutan yang subur di dekat Busan, dan domisili singkat Hyukjae di Texas dan Cina.

Donghae ingin tahu buku dan film favorit Hyukjae, dan Hyukjae terkejut betapa banyaknya persamaan yang mereka miliki.

Saat mereka membahas novel karya Thomas Hardy, itu seperti mengejutkan Hyukjae, Donghae beralih dari tokoh Hardy's Alec ke Angel, kehinaan menjadi cita-cita yang tinggi dalam waktu yang singkat.

Jam dua lebih ketika mereka menyelesaikan makanan mereka. Donghae membayar tagihan dengan Dante, yang ingin memberikan salam perpisahan pada mereka.

"Ini adalah tempat yang menyenangkan. Terima kasih untuk makan siangnya," kata Hyukjae saat Donghae mengambil tangannya dan mereka meninggalkan bar.

"Kami akan datang lagi," kata Donghae, dan mereka berjalan-jalan di sepanjang pantai.

"Aku ingin menunjukkan sesuatu."

"Aku tahu, dan aku tak sabar untuk melihatnya, apa pun itu."

Mereka berjalan bergandengan tangan di sepanjang Wangsan. Ini adalah siang yang menyenangkan bagi keduanya. Orang-orang keluar menikmati hari Minggu, berjalan dengan anjingnya, mengagumi kapal, mengawasi anak-anak mereka yang berlarian sepanjang area untuk pejalan kaki.

Ketika Hyukjae dan Donghae turun menuju ke Wangsan, kapal terlihat lebih besar. Donghae membawa Hyukjae ke dermaga dan berhenti di depan sebuah kapal catamaran yang sangat besar.

"Aku pikir kita akan berlayar siang ini. Ini adalah kapalku."

Paling tidak panjang kapalnya empat puluh, mungkin lima puluh kaki. Dengan dua lambung ramping warna putih, sebuah dek, kabin yang luas, dan menjulang ke atas sebuah tiang layar yang sangat tinggi.

Hyukjae tak tahu tentang kapal, tapi Hyukjae bisa mengatakan yang satu ini pasti spesial.

"Wow… ," gumam Hyukjae keheranan.

"Dibangun oleh perusahaanku," kata Donghae bangga dan hati Hyukjae membengkak karena itu.

"Dia telah dirancang dari bawah sampai ke atas oleh arsitek perkapalan yang terbaik di dunia dan dibangun di sini, di Seoul, di dokku. Dia digerakkan dengan listrik hybrid, papan asimetris berbentuk seperti belati, atasnya sebuah layar besar berbentuk persegi–"

"Oke, kau sudah membuatku bingung, Donghae."

Donghae menyeringai geli, "Dia kapal yang hebat."

"Dia terlihat benar-benar kokoh, Mr. Lee."

"Betul, Tuan Lee Hyukjae"

"Apa namanya?"

Donghae menarik Hyukjae ke samping hingga Hyukjae bisa melihat namanya: The Kwonb.

Hyukjae terkejut, "Kau memberi nama seperti nama keluarga ibumu?"

"Ya," Donghae memiringkan kepalanya ke satu sisi, bingung, "Mengapa kau merasa aneh?"

Hyukjae mengangkat bahu. Ia hanya terlalu terkejut menerima kenyataan kedekatan Donghae dengan ibu angkatnya.

"Aku mengagumi ibuku, Hyukjae. Kenapa tidak aku memberi nama kapalnya dengan namanya?"

Hyukjae memerah, "Bukan, maksudku bukan itu, hanya saja–"

"Hyukjae, Boa Kwon menyelamatkan hidupku. Aku berutang sesuatu padanya."

Hyukjae menatap Donghae, dan membiarkan rasa hormat dalam pengakuan lembutnya yang diucapkan, membersihkan sangkaan Hyukjae. Itu jelas bagi Hyukjae, untuk pertama kalinya, bahwa Donghae mencintai ibunya.

Hyukjae hanya bingung kenapa Donghae menegang dan bersikap aneh seperti memiliki dua sifat yang bertentangan terhadap ibunya.

"Apakah kau ingin menaiki kapal?" tanya Donghae, matanya cerah, bersemangat.

"Ya," Hyukjae tersenyum.

Donghae terlihat gembira dan menyenangkan dalam satu paket yang nikmat dan lezat.

Menggenggam tangan Hyukjae, Donghae melangkah menaiki tangga kecil kapal sambil menuntun Hyukjae hingga mereka berdiri di dek, di bawah kanopi yang kaku.

Di salah satu sisinya ada meja dan bangku berbentuk U yang ditutupi dengan kulit warna biru muda, yang bisa diduduki sedikitnya delapan orang.

Hyukjae melirik melalui pintu geser ke bagian dalam kabin dan melompat, terkejut ketika ia melihat seseorang di sana.

Seorang pria tinggi berambut pirang membuka pintu geser dan muncul, kulitnya semua kecoklatan, berambut keriting dan bermata cokelat, mengenakan kaos polo lengan pendek warna merah muda yang sudah pudar, celana pendek, dan sepatu untuk berlayar. Kira-kira umurnya awal tiga puluhan.

"Mac," Donghae berseri-seri.

"Mr. Lee! Selamat datang kembali."

Mac dan Donghae berjabat tangan.

"Hyukjae, ini Liam McConnell. Liam, ini pacarku, Hyukjae Lee," Donghae masih menyeringai selama dalam posisi seperti ini.

Jujur Hyukjae sedikit terkejut dengan kata pacar dari mulut Donghae, mendengar dia mengatakan itu masih membuat Hyukjae bergetar.

"Bagaimana kabarmu?" Liam menjabat tangan Hyukjae.

"Panggil aku Mac," katanya hangat, dan Hyukjae tidak dapat menebak aksennya, "Selamat datang dikapal ini, Tuan Lee."

"Hyukkie, saja," gumam Hyukjae, malu.

Mac memiliki mata cokelat tua.

"Bagaimana kondisinya, baik, Mac?" Donghae menyela dengan cepat, untuk sesaat Hyukjae pikir Donghae berbicara tentangnya.

Tololnya Hyukjae.

"Dia siap untuk rock and roll, Sir," Mac berseri-seri.

"Ayo kita segera berangkat berlayar."

"Kau yang akan menjadi nahkodanya?" tanya Hyukjae menyimpulkan ajakan Donghae.

"Ya," Donghae berkedip pada Mac dengan seringaian jahat yang cepat, "Mau tur singkat, Hyukjae?"

"Ya, silakan."

.

TBC

.


Maaf sebelumnya, lipstik yang masih ada bekasnya di badan Donghae itu memang hasil gambar Hyukjae tapi bukan dari bibir. Hyukjae tidak pakai lipstik buat bibir, jadi lipstiknya itu dia pake buat gambarnya fungsinya gantiin spidol aja.