Hello, guys.. I'm back again..
masih belum tau mau gimana buat paketan internet. But anw, mungkin saran dari salah satu temenku bisa dipakai. ;) And...thanks for the reviews..
Enjoy...
PAIN
BPOV
Aku terjaga sepanjang malam. Ingatanku terus melayang pada apa yang terjadi di pesta tadi. Bagaimana aku bisa membiarkan Tony menciumku? Dan yang lebih buruk lagi, aku juga membalas ciumannya.
Ini tidak adil. Apa ini berarti aku sudah menghianati Edward? Tidak, tidak. Aku tidak menghianati Edward. Aku tidak akan pernah mencintai orang lain selain Edward. Tapi bagaimanapun aku sudah mencium orang lain.
Orang lain? Tidak, aku tidak benar-benar menghianati Edward. Aku sadar akan satu hal, bahwa aku tidak mencium Tony tapi aku mencium Edward. Karena saat itu yang ada dipikiranku adalah Edward. Dan alasan lain yang sangat masuk akal adalah, karena dia sangat mirip dengan Edward.
Maafkan aku, Edward. Maaf. Aku mencintaimu.
Aku tidak tau bagaimana bisa aku jatuh tertidur, dan aku rasa aku baru saja memejamkan mata saat aku merasakan ada seseorang memanggil namaku dan mengguncang-guncang tubuhku.
"Bella. Bella, bangun!"
"Tidak, mom, ini masih pagi." Jawabku masih setengah sadar.
"Bella, ini aku, Jane. Dan sejak kapan aku jadi ibumu?" Jane? "Ayolah, kau kan sudah janji hari ini mau menemaniku mencari undangan untuk pernikahanku." Pernikahan?
Kubuka mataku perlahan dan kulihat Jane duduk ditepi ranjang. "Hei, Jane." Kulirik jam di meja. "Tapi ini kan masih terlalu pagi." Keluhku seraya meregangkan badanku.
"Pagi? Demi Tuhan, Bella. Jam berapa kau tidur? Lihat kantung matamu." Aku tidak peduli.
"Baiklah, baiklah. Aku akan bersiap-siap dulu."
"Oke. Aku tunggu dibawah."
Setelah badanku bersih dan memakai baju yang cukup pantas—tetap saja kalau Alice melihat pasti akan menceramahiku habis-habisan—akupun turun kebawah.
Saat sedang berjalan kebawah, aku memikirkan lagi kejadian tadi malam. Benarkah Jane tidak tau apa yang terjadi? Apa aku juga telah menghianati Jane? Aku tidak tau harus bagaimana.
"Jane?"
"Aku disini."
"Selamat pagi, sayang. Sarapan dulu sebelum kalian berangkat." Kata Aunt Athe.
"Pagi, Bella." Sapa Uncle Caius.
"Pagi." Kataku sambil duduk di kursi. "Dimana Alec?" Tanyaku setelah tidak melihat Alec pagi ini.
"Dia sedang jogging dengan Tony." Jawab Jane.
Mendengar nama Tony membuatku tersedak. Aku harus bersikap sewajar mungkin, aku tidak mau Jane curiga atau apa.
"Kau ini, hati-hati." Tegur Aunty.
"Iya, aku juga tidak buru-buru kok." Kata Jane sembari menepuk-nepuk punggugku.
"Maaf, maaf."
Setengah jam kemudian kami sudah berada disebuah toko bernama Midnight Sun—sebuah toko percetakan undangan.
Saat Jane sedang memilih-milih undangan, pandanganku tertuju pada satu contoh undangan yang terpajang didalam lemari. Undangan itu berwarna biru—warna yang sangat disukai Edward. Andai saja. . .
"Bella, bagaimana dengan yang ini?" Tanya Jane sembari menyodorkan salah satu contoh undangan.
Undangan itu berwarna emas, tulisannyapun berwarna emas. Terlalu mencolok untukku—tapi, well, inikan memang bukan untukku. "Pilihan yang bagus, Jane. Kau punya selera yang bagus rupanya. Aku pikir kau dan Rosalie akan menjadi teman yang baik." Kataku sembari masih memandangi undangan yang ada ditanganku.
"Benarkah? Aku pasti akan senang sekali. Aku tidak punya banyak teman dekat, Bella. Aku memilikimu sebagai teman saja sudah sangat beruntung."
"Hah, kau terlalu berlebihan, Jane."
"Tidak juga." Lalu Jane berpaling pada pemilik toko.
"Sakarang kita mau kemana?" Tanyaku saat kami keluar dari toko.
"Kita makan dulu, aku lapar. Baru setelah itu kita jalan-jalan. Aku bosan dirumah terus."
"Baik, aku juga kelaparan" Kami langsung masuk kemobil dan mencari café untuk mendiamkan perut kami yang sudah mulai bernyanyi.
"Halo, Tony. . . Oh, kau sudah sampai. . . Kami ada d café LnL. . .Oke, kami tunggu."
Kuberi Jane tatapan bertanya. "Tony bilang dia akan kemari dengan Alec. Mereka sudah sampai dan sedang menuju kemari." Jelas Jane.
Tony? Oh, hebat sekali.
Apa tidak bisa satu hari saja dia tidak muncul? Aku sedang tidak ingin mengingat-ingat kejadian tadi malam, sudah cukup rasanya semalam aku tersiksa memikirkan semua itu. Dan yang lebih parah dari semua itu, ada Jane juga disini. Itu membuatku semakin sulit bertindak normal. Karena jujur saja, walau tidak ada kejadian itu aku tetap merasa canggung berada didekat mereka berdua.
Saat pesanan kami tiba, Tony dan Alec masuk dengan gaya seperti slowmotion—well, paling tidak dipenglihatanku. Hah, konyol.
"Hai, sayang." Jane langsung berdiri dan mencium Tony. Kupalingkan wajahku dan menunduk melihat tanganku yang terlipan dipangkuan. Aku belum siap bertemu dengannya lagi.
"Hai." Jawab Tony sembari duduk dikursi sebelah Jane yang berada tepat didepanku. "Hai, Bella."
"Hai." Jawabku, berusaha terdengar biasa-biasa saja. Dan reaksi Tony pun biasa-biasa saja, itu membuatku sedikit lega.
"Pelayan!" Panggil Alec. "Aku sudah sangat lapar. Bagaimana hari kalian? Menemukan apa yang kau cari?" Tanya Alec pada Jane.
"Yah. Aku sudah menemukan undangan yang kusuka." Lalu berpaling kearah Tony. "Katamu itu terserah padaku, jadi aku harap kau suka dengan pilihanku. Aku minta pendapat Bella, dan dia bilang itu bagus. Tapi sepertinya ada contoh undangan lain yang menarik minat Bella." Jane mengedipkan mata kearahku. "Tidak apa-apa, kan?"
Tony tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Jane. "Iya, tidak apa-apa. Aku percaya pada pilihanmu."
"Baguslah."
Aku benci mengatakan ini, tapi ini pasti akan menjadi makan siang yang panjang, well, paling tidak bagiku. Tapi kenapa ada sesuatu yang lain yang menggangguku? Kenapa aku merasa sesuatu yang tidak mengenakan di hatiku? Seperti rasa sakit kalau aku tertusuk ribuan jarum kalau aku melihat mereka bersama. Apa. . .aku cemburu?
Hah! Itu tidak mungkin. Aku tau betul siapa dia. Dia bukanlah Edward. Lagipula dia sudah punya tunangan, kenapa aku bisa seperti ini? Aku tidak mungkin menyukai tunangan teman sendiri, kan?
Tunggu. Apa yang aku bilang barusan? Suka? Aku tersenyum miris dalam hati. Itu tidak mungkin.
"Setelah ini kalian mau kemana?" Tanya Alec setelah menghabiskan cokenya.
"Aku ingin mencari beberapa buku. Belakangan aku kekurangan bacaan dirumah." Alasan sebenarnya adalah, aku tidak ingin terlalu lama bersama Tony. Bukan karena tidak suka, tapi aku tidak ingin dia mengungkit-ungkit lagi soal semalam.
"Buku?"Nada suara Tony sedikit terdengar terkejut. "Wah, kebetulan sekali," Oh, tidak. "Aku juga ingin membeli beberapa buku."
"Jangan kau juga." Keluh Alec. "Sudah cukup aku mempunyai adik yang gemar membaca, jangan ditambah dengan satu orang lagi."
"Kalau begitu kalian mencari bersama-sama saja?" Saran Jane. Saran yang benar-benar tidak kuharapkan.
"Tidak, terima kasih. Aku tidak ingin merepotkan." Alasan yang tolol. Bagaimana itu bisa merepotkan, karena dia juga ingin membeli buku.
"Mana mungkin merepotkan? Lagipula kan kalian berdua ingin membeli buku juga."
"Lalu bagaimana dengan kau?" Tanyaku, berusaha mencari alasan lain. "Tony pasti tidak ingin berpisah denganmu."
"Aku tidak keberatan." Sial. Sebenarnya apa maumu, Tony?!
"Kau dengar sendiri, Tony tidak keberatan. Lagipula kan masih ada Alec, aku bisa meminta dia menemaniku. Iya kan, Alec?"
"B-benar." Jawab Alec sedikit terbata. Aku tau Alec pasti senang bisa pergi berdua dengan Jane. Meski dia telah berjanji tidak akan berbuat macam-macam.
Tidak ada lagi alasan untuk menolak. Alasan apapun saat ini pasti akan terdengar konyol dan mungkin akan membuat Jane curiga. Jaid aku terima saja tawaran itu, dan kelihatannya ini membuta Alec sedikit bahagia. Tapi, bagaimana denganku nanti?
Jane, benar-benar tidak merasakan ada sesuatu yang aneh, ya? tsk tsk tsk..
Leave me some love..
Laters..
Love,
B
