.

.

.

Kegelapan Putih (Slumber Corpses another story)
Bagian 11

(Khusus untuk 13 tahun ke atas)

Normal p.o.v

Hanbei diberi kewenangan Otonomi oleh Hideyoshi di Provinsi Mino tempat Hanbei tinggal dulu. Dua bulan kemudian, Hanbei dan istrinya, Misa serta beratus-ratus anggota pasukan Toyotomi pindah ke kastil Inaba. Perjalanan menuju Mino pun dimulai. Misa berada di dalam Tandu sedangkan Hanbei naik kuda putih kesayangannya dan berjalan di samping Tandu. Para pengawal Toyotomi mengelilingi mereka sepanjang perjalanan. Hari pun beranjak malam. Mereka memutuskan untuk berhenti dan beristirahat di bawah sebuah kaki bukit. Ketika semua dayangnya sedang sibuk membenahi tempat persinggahan itu, Misa keluar dari tandu menuju bawah sebatang pohon rimbun. Musim semi baru mulai. Bunga Sakura bermekaran di pohon itu. Beberapa kelopaknya menghujani wanita itu. Wanginya begitu semerbak. Angin malam membelai wajah dan rambut coklat Misa

"Indah sekali."ucapnya kagum. Ia mencoba meraih sekuntum sakura yang paling rendah letaknya. Namun bunga itu terlalu tinggi. Ia tidak dapat menggapainya. Sekonyong-konyong sebuah tangan mengambil bunga itu. Misa terkejut dan melihat lelaki yang mengambil bunga Sakura itu.

"Astaga! Maafkan aku." kata pria itu."Aku tidak tahu Anda juga ingin memetik bunga Sakura ini. Baiklah. Aku memberikannya pada Anda. Terimalah."

Misa hanya melongo melihat lelaki asing itu. Apa yang harus dia lakukan?


Main p.o.v.

Kutatap lelaki yang menyodorkan bunga sakura itu. Aku segera mengambilnya. Tapi aku tidak segera pergi. Perasaanku tertarik untuk mengenal pria yang telah memberiku bunga Sakura ini. Kupandangi dia dari kepala hingga kaki. Ia mengenakan baju tempur bewarna coklat. Rambutnya pendek. Dia memiliki dua bilah pedang di sisi kanan tubuhnya, menunjukkan bahwa dia kidal. Ada bekas luka di pipi kirinya. Matanya terlihat begitu tenang.

"Ah, terima kasih banyak."kataku."Oh, ya. Aku baru melihat orang sepertimu disini. Siapa namamu?"

"Katakura Kagetsuna. Tapi Anda boleh memanggilku Kojuro." ujarnya." Aku adalah Ajudan dari Gubernur Oshu di Utara. Aku kemari untuk berjalan-jalan bersama Tuanku, Date Masamune."

"Kojuro, nama yang bagus. Aku baru melihatmu. Dimana Tuanmu?"Tanyaku.

"Sepertinya dia menghilang. Aku sudah mencarinya, tapi dia tidak juga muncul. Dan aku tidak bisa pulang kalau Masamune-sama belum datang. Oh, dan siapa namamu, Nona?"

"Misa."

"Misa-chan, senang berkenalan denganmu."

"Aku juga senang berkenalan denganmu, Kojuro."

Tiba-tiba sebuah siulan mengejutkan kami. Kami menoleh. Tampak seorang pemuda berusia sekitar sembilan belas tahun mendekati kami. Ia mengenakan baju tempur bewarna biru dengan kepala tertutup helm bersabit emas. Sebuah penutup mata bertengger di mata kanannya. Dia terlihat cukup tampan.

"Well, Kojuro. Kau dapat teman baru rupanya. Dan dia wanita." Katanya seraya menoleh ke arahku." Baiklah, siapa nama Anda, Milady?"

Aku tertegun mendengar kata-kata pemuda itu. Ada beberapa kata yang diucapkannya terasa asing di telingaku. Tapi aku segera menjawab pertanyaannya. "Namaku Misa."

"Oh, Such a Graceful Lady. Namaku Date Masamune, Gubernur Provinsi Oshu. Senang berkenalan dengan anda, Misa-san." Kata Masamune sembari menyeringai.

Aku tertawa kecil."Jadi kau atasan Kojuro? Wah, hebat! Aku benar-benar senang memiliki teman baru seperti kalian. Kapan-kapan kita mengobrol, ya?"

Kojuro mengangguk."Boleh,Misa-chan. Ah, iya. Aku dan Masamune-sama tidak bisa terlalu lama berada disini. Jarak Oshu dari sini cukup jauh. Kami akan pulang kemalaman. Baiklah, sampai bertemu kembali." ujar Kojuro seraya melambaikan tangan kearahku. Aku balas melambaikan tangan sampai akhirnya ia dan Masamune menghilang di tikungan. Pertemuan singkat dengan kedua lelaki itu membuatku bahagia. Akhirnya aku mendapatkan teman baru lagi. Dan Kojuro, aku merasa tertarik padanya. Entah mengapa tanganku bergetar. Kugenggam erat bunga Sakura yang diberikannya padaku.

'Pria yang menarik. Kapan-kapan aku harus memperkenalkannya pada Hanbei. Siapa tahu mereka bisa akrab ... 'Batinku senang.


Hanbei p.o.v

Aku baru saja turun dari kudaku dan pergi ke Tandu Nona Misa untuk menjemputnya keluar. Namun sesampai disana, kudapati Tandu itu kosong. Dimana Nona Misa?

" Misahime-sama? Misahime-sama, dimanakah Anda?"

Kucari dia di sekitar Tandu. Tidak ada tanda-tanda Nona Misa disitu, membuatku khawatir. Takut sesuatu yang tidak diinginkan telah menimpanya.

" Hanbei-sama, ada apa?" Sebuah suara membuyarkan pikiranku. Ku menoleh. Seorang dayang tua melihatku dengan tatapan heran.

Aku mendesah." Maaf. Tapi istriku menghilang. Bisakah Anda membantuku mencarinya?"

" Oh, tentu."

Kami pun mencari Nona Misa. Setengah jam berlalu. Kami tidak mendapatinya di Kaki bukit ini. Hatiku semakin resah, khawatir dengan nasib Nona Misa. Tiba-tiba aku terbatuk-batuk darah. Tampaknya Penyakitku kambuh lagi karena terpapar angin malam. Dayang tua yang menemaniku segera mendekatiku." Hanbei-sama, sebaiknya Anda istirahat. Biar aku yang akan mencarinya."

" Tapi ... "

Kalimatku terpotong ketika wanita tua itu mendorong tubuhku menjauh dari tandu." Tidak, biarlah aku yang mencarinya. Aku dayangnya. Maafkan keteledoranku karena telah meninggalkan Tandunya tadi."

Mendengar itu, aku terpaksa harus menunggunya menemukan istriku.


Main p.o.v

Aku masih menatap bunga-bunga Sakura yang bermekaran di atas pohon. Mereka sangat indah. Warna mereka yang lembut membuatku tenang. Tahu-tahu kudengar sebuah suara di belakangku.

"Misa-sama! Ternyata Anda disini. Hanbei-sama begitu khawatir pada Anda karena Anda tidak berada di Tandu. Anda tidak apa-apa?" Ternyata seorang dayangku yang mendatangiku. Aku tersenyum. " Tidak apa. Aku hanya melihat-lihat di sekitar sini. Aku akan kembali sekarang."

Kami berdua kembali ke tempat persinggahan. Seorang prajurit memberitahuku bahwa Hanbei ingin bicara empat mata denganku.

"Ah, Terima kasih. Dimana Hanbei sekarang?"

" Beliau sedang duduk di pohon kecil di bukit itu."kata prajurit tersebut seraya menunjuk bukit yang dimaksud." Tampaknya Beliau sangat mengkhawatirkan Anda."

" Ah, Terima kasih banyak."

Aku bergegas mendaki bukit tersebut. Kutemukan Hanbei di bawah pohon seraya memandang bulan purnama yang menghiasi langit malam. Ia melihat kedatanganku dengan senyum.

"Misahime-sama, Anda darimana saja? Aku sangat khawatir begitu mendapati Anda tidak berada di Tandu Anda. Anda baik-baik saja, kan?" Tanyanya dengan nada khawatir.

Aku mendesah panjang "Aku hanya berjalan-jalan sebentar, Hanbei-sama. Pemandangan di bukit ini sangat indah, terutama pohon Sakura-nya. Dan aku baru saja bertemu dengan..."

Kalimatku terpotong begitu Hanbei menaiki kuda putihnya. Lelaki itu menunggang kudaku ke arahku seraya memberikan tangannya padaku. " Bagaimana kalau kita berdua berkuda sejenak di sekitar tempat ini?" ujarnya lembut." Malam ini begitu cerah. Anda pasti suka pesiar dengan keadaan ini."

Kalimatnya itu membuatku terbengong-bengong. Bagaimanapun juga, Hanbei suamiku. Dan ajakannya yang romantis ini sukar untuk ditolak. Kurasa pipiku memerah bagaikan tomat." Han ... Hanbei-sama, apakah kau serius?"

"Ya. Pegang tanganku dan akan kubantu Anda untuk naik."

Kuraih tangan Hanbei dan mencoba menaiki kudanya. Aku merasa sedikit kesulitan karena tubuhku terasa berat. Namun Hanbei segera memegang pinggangku dan menarik tubuhku naik. Tahu-tahu aku sudah di dalam gendongannya. Kurasa jantungku berdegup dengan kencangnya. Kupandang Hanbei dengan gugup.

"Han...Hanbei, terima kasih..."

Hanbei tertawa kecil."Misahime-sama, tidak apa-apa. Lagipula kita jarang bersua seperti ini. Anda tidak perlu takut. Aku akan menjaga Anda. Baiklah, kita mulai pesiar!"

Kami pun berkuda di bawah sinar bulan. Malam itu lumayan dingin. Kurapatkan tubuhku pada Hanbei, menyandarkan kepalaku di bahunya sementara tubuhku meringkuk di kehangatan dadanya.

"Hanbei-sama, aku bertemu dengan dua orang lelaki tadi. Mereka begitu baik. Kapan-kapan kau harus berkenalan dengan mereka."ujarku.

Hanbei menatapku dengan tatapan yang menyatakan bahwa ia merasa penasaran." Siapa mereka?"

"Hmm...kau akan tahu siapa mereka. Yang jelas mereka berasal dari Oshu."

Ketika aku mengatakan itu, Kulihat ekspresi terkejut di wajahnya.

"Oshu?!"

"Ya. Ada apa? Kau tampak begitu kaget."

"Ah, ada sesuatu yang harus kukerjakan disana."

"Apa itu?"

"Itu rahasia, Misahime-sama."

" Huh! Kau selalu saja berlagak misterius seperti itu." kataku seraya menyentuh pipi Hanbei."Dan karena kalimatmu itu kau berhasil mengelabuiku tempo hari!"

Hanbei mengangkat kepalanya." Hahaha...anda lihat, dunia ini penuh dengan taktik. Anda harus mengasah otak untuk bertahan. Dan itu berguna sekali."

"Kau benar,Hanbei-sama." Ujarku. Serta-merta aku berbisik pelan." Ah iya. Aku tahu ini rumit, tapi bolehkah aku melakukan hal 'itu' padamu?"

Hanbei menatapku dengan heran. "Apa maksud anda?"tanyanya.

"Aku tahu Nago telah melakukan hal hina itu terhadapmu." Bisikku pelan." Aku tidak ingin dia melakukan itu lagi. Akan kujaga kau dari cinta yang salah."

"Ahaha...terima kasih, Misahime-sama. Anda membuatku malu." Tawa Hanbei kecil.

Aku balas tertawa. Kutarik wajah Hanbei kearahku hingga jarak antara wajah kami hanya sepanjang jari kelingking. "Hanbei...terima kasih telah menjadi dirimu kembali."

Hanbei tersenyum simpul."Misahime-sama, akan kubuat diri Anda bahagia. Aku benar-benar beruntung menikahi Anda."

Ku tersenyum. Kami menempelkan kening satu sama lain seraya berpelukan erat.

Hanbei, aku tahu kita menghadapi berbagai masalah. Tapi untuk sekarang, mari kita saling menenangkan pikiran dalam kemesraan yang begitu hangat.


Ahh... akhirnya selesai juga Chapter ini. Misa akhirnya berteman dengan Kojuro dan Masamune. Namun tampaknya Hanbei kurang senang dengan hubungan itu
. ( Ya iyalah. Mereka kan Rival berat -_- )

Mohon review :)