SUMMER BREEZE
[REMAKE; Novel by Orizuka]
CHAPTER 10
KAI – SEHUN - CHANYEOL
GS/Gender Switch
SABTU pagi, semua orang kecuali Ayah sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Jongin yang biasanya bangun siang pun tampak sudah rapi dan wangi. Chanyeol mengamati Jongin yang dengan seenaknya menjejalkan segala macam hal di meja makan selada, tomat, mayones, telur, saus tomat- ke dalam rotinya. Setelah pembicaraannya dengan Sehun kemarin, Chanyeol merasakan sesuatu terhadap Jongin, entah apa. Sepertinya Chanyeol merasa Jongin memang sedang membutuhkan pertolongan, tapi Chanyeol tak tahu harus berbuat apa. Jongin lah yang dulu selalu membantunya. Jongin dapat merasakan tatapan Chanyeol. Jadi, Jongin balas menatapnya, mengira Chanyeol jijik terhadap racikan roti isinya, lalu menggigit roti itu dengan buas. Sehun terkikik melihat kelakuan Jongin. Tak lama kemudian, Ayah keluar dari kamar dan bergabung ke meja makan. Ayah keheranan melihat Jongin yang biasanya masih tergeletak di sofa, sekarang sudah berdiri dengan pakaian lengkap.
"Mau ke mana kamu?" tanya Ayah. Jongin menatap Ayah sebentar, salah tingkah.
"Hm... keluar, Yah," jawab Jongin tak jelas.
"Kamu pikir Ayah bodoh ya?" sahut Ayah dengan nada tinggi, membuat kegiatan di ruang makan terhenti.
Mendadak, semua orang merasa tegang. Jongin menatap Ayah tajam. Jongin tidak bisa mengatakan padanya bahwa dia akan berangkat kerja paruh waktu untuk menambah biaya kuliah penerbangannya nanti. Ini sebuah kejutan, dan tidak akan mengejutkan jika diberitahu sekarang.
"Kamu ini kerjaannya main melulu," komentar Ayah, tapi sudah lebih tenang. Dia duduk di kursi makan. "Kalau nggak ngacau, berantem. Pulang-pulang pasti bonyok, bikin malu keluarga saja."
Jongin terdiam menahan semua emosinya. Roti isinya seperti menyangkut di tenggorokan. Dia dapat merasakan tangan dingin Sehun menggenggam tangannya.
"Mau jadi apa sih kamu ini?" tanya Ayah lagi, sementara semua orang masih bergeming. "Jangan-jangan selama ini kamu ngobat juga ya?"
Jongin merasa darahnya menggelegak dan naik ke kepalanya. Dia sudah tak tahan lagi. Tapi tangan Sehun membantunya untuk tetap tenang.
"Aku kerja, Yah," kata Jongin tegas.
Reaksi Ayah begitu keras. Mata dan mulutnya melebar. Jongin menatapnya gentar. Tak berapa lama, Ayah malah tertawa terbahak-bahak.
"Kerja? Kamu? Bisa apa kamu?" sahutnya sinis. "Apa aja," balas Jongin mantap. "Kerja di bengkel, di restoran, di mana aja."
Mendengar jawaban Jongin, Ayah terdiam sebentar. Dia lalu memukul meja keras-keras, membuat semua orang berjengit di tempat masing-masing.
"Kamu mengejek Ayah ya? Kamu pikir Ayah sudah nggak sanggup membiayai kamu? Kamu meremehkan Ayah?!" sahutnya dengan suara menggelegar. Jongin tak menjawab. Dia tahu bahwa tak ada yang harus dijawab. "Memang kamu anak kurang ajar!" sahut Ayah lagi.
Sekarang dia sudah bangkit, rotinya dilempar begitu saja. Jongin sendiri sudah siap menerima apa pun darinya. Tapi, Ayah tak memukul ataupun menampar. Dia malah pergi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nggak tau kamu mau jadi apa... Ayah sudah pasrah...," gumamnya sambil meninggalkan ruang makan menuju gazebo.
Jongin sempat berpikir untuk melupakan semua cita-citanya. Tapi kalau dia melakukannya, tak akan ada satu pun perubahan pada dirinya. Dan Jongin tak mau itu terjadi.
"Jongin," kata Ibu pelan. Wajahnya terlihat sangat lelah. "Kenapa sih, kamu sampai kerja segala?"
"Bu, ada sesuatu yang pengen Jongin beli. Dan Jongin nggak mau nyusahin Ayah sama Ibu," Jongin meraih ranselnya. "Jongin pergi dulu." Dengan langkah berat, Jongin bergerak ke luar rumah.
.
.
.
"Bagus!" seru Suho saat melihat Chanyeol baru saja berhasil mencetak three points. Chanyeol berlari-lari kecil mendekati pelatihnya sementara di tengah lapangan, Kris menatapnya bengis.
"Sepertinya kamu sudah berhasil nyelesaiin masalah kamu," Suho menepuk-nepuk pundak Chanyeol. "Kamu udah balik kayak dulu. Kalau gini, kamu bisa dapetin posisi kamu balik."
Chanyeol hanya tersenyum sambil menyeka keringatnya dengan handuk. Walaupun masalahnya dengan Jongin belum selesai, setidaknya beban Chanyeol tidak seberat sebelumnya. Sehun sudah dengan tegas menolaknya, dan tak ada yang bisa Chanyeol lakukan tentang itu. Chanyeol sudah memutuskan untuk menghilangkan masalah itu dari benaknya dengan berkonsentrasi penuh pada basket. Chanyeol tidak menyadari kehadiran Kris. Anak itu dan teman-temannya sekarang sudah mengelilingi Chanyeol sementara Suho kembali ke tengah lapangan. Chanyeol menatap mereka bingung.
"Ada apaan nih?" tanya Chanyeol heran.
"Serahkan posisimu padaku," kata Kris tegas.
"Apa?" tanya Chanyeol, takut salah dengar.
"Kamu nggak tuli, kan? Aku bilang, serahin posisi kamu ke aku," kata Kris lagi. Chanyeol menatap Kris sebentar seakan Kris hanya bercanda, lalu terbahak.
"Sejak kapan sih kamu jadi banci begini?" tanya Chanyeol di sela-sela tawanya. "Kenapa? kamu udah nggak bisa bersaing sama aku?" Kris menatap Chanyeol sengit. Chanyeol membalasnya dengan tak kalah sengit.
"Serahin posisi kamu waktu turnamen nanti," Kris tak memedulikan kata-kaya Chanyeol. "Kalo nggak, kamu tanggung sendiri akibatnya. Dan jangan bilang aku nggak pernah ngasih peringatan ke kamu," tambahnya sebelum berlalu diikuti teman-temannya.
Chanyeol menatap bimbang kepergian Kris. Chanyeol bukannya takut. Dia tahu betul bagaimana Kris. Dia bisa menyakaiti orang lain tanpa merasa bersalah. Kris orang yang bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Chanyeol lalu tertawa kecil. Ini hanya turnaman basket. Apa sih yang begitu serius? Tapi begitu mengingat rumor bahwa pada saat turnamen nanti banyak manajer tim-tim basket nasional berdatangan, Chanyeol menghentikan tawanya dan sibuk berpikir.
.
.
.
"Jongin!"
Sahutan Sehun membuat kepala Jongin terbentur kap mobil yang sedang diperbaikinya. Jongin menoleh dan mendapati Sehun sedang nyengir lebar dan melambai ke arahnya. Jongin menatap bimbang mobil itu sesaat, lalu memutuskan untuk meninggalkannya sebentar.
"Bos!" sahut Jongin kepada laki-laki setengah baya yang sedang duduk sambil merokok di depan sebuah Nissan Terrano. Laki-laki bernama Sooman yang merupakan bos dari Jongin itu menoleh. Jongin memberi isyarat padanya untuk minta waktu sebentar. Sooman melirik ke arah Sehun yang segera tersenyum, lalu kembali menatap Jongin. Jari kelingkingnya melambai-lambai sambil mengedikkan kepala, meminta jawaban atas status Sehun. Jongin garuk-garuk kepala sebentar, lalu mengangguk malas. Juanda menilai Sehun sesaat, lalu segera membentuk jari telunjuk dan jempolnya seperti lingkaran sambil memainkan alisnya. Jongin melambaikan tangannya sebagai tanda terima kasih, lalu segera menghampiri Sehun.
"Apaan tuh?" tanya Sehun geli.
"Apaan apa?" Jongin balas bertanya sambil duduk di atas tumpukan ban. Sehun hampir saja ikut duduk juga kalau tidak dicegah Jongin.
"Tadi, kode-kode tadi," kata Sehun.
"Oh," Jongin mengeluarkan lap dari kantong celananya, meletakkannya di atas ban, lalu menyuruh Sehun duduk di atasnya.
"Jangan dipeduliin. Cuma kode antar montir."
"Kode antar montir?" sahut Sehun lagi, sekarang sudah tertawa.
"Jadi, kenapa kamu bisa tau aku kerja di sini?" tanya Jongin. Sehun hanya tersenyum jail. "Oh, jangan ngomong," kata Jongin lagi. "Kamu ngikutin aku, kan?"
Sehun nyengir. "Yep." Jongin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sambil tertawa kecil. Sehun menatapnya lekat-lekat. "Jong, kenapa sih kamu kerja? Apa sih yang mau kamu beli?" tanya Sehun akhirnya.
Jongin balas menatap Sehun yang sepertinya tampak sangat ingin tahu. Selama beberapa saat, Jongin bimbang untuk memberitahunya. Jongin merasa lebih baik menyimpannya sendiri sampai saatnya tiba. "Itu buat kejutan, Hun," kata Jongin. "Aku belum kasih tau siapa pun."
"Tapi aku kan bukan 'siapa pun', Jong," rayu Sehun. Jongin menatap Sehun yang sekarang wajahnya sudah seperti 'anak anjing yang minta susu', lalu tersenyum. Jongin memang tidak bisa menyimpan rahasia apa pun darinya.
"Aku cuma mau mewujudkan cita-citaku, Hun," kata Jongin sambil berusaha membersihkan tangannya yang belepotan oli. "Kamu tau kan, cita-citaku?" Sehun sibuk berpikir sebentar, lalu memandang Jongin seolah tak percaya.
"Jongin! Dulu kamu pernah bilang mau jadi pilot kan?" tanya Sehun histeris dengan tangan menekap mulutnya.
Jongin cuma mengangguk. "Bener. Aku sekarang ngumpulin duit untuk daftar di salah satu sekolah penerbangan," kata Jongin sambil menerawang.
Sehun menatap Jongin yang tampak benar-benar berbeda. Baru kali ini Sehun melihat Jongin yang penuh harapan dan percaya diri. Sehun tahu tidak mudah bagi seorang Jongin untuk melakukannya. "Tapi Jong, kenapa tadi pagi kamu nggak bilang sama Om?" tanya Sehun lagi.
"Udah aku bilang, ini kejutan," jawab Jongin santai.
"Tapi kamu jadi kena marah-"
"Jangan khawatir soal itu," Jongin memotong kata-kata Sehun. "Aku udah terbiasa. Aku nggak akan nyerah hanya karna kena marah Ayah."
Sehun memandang Jongin khawatir. "Jongin, ada sesuatu yang harus aku omongin ke kamu. Tapi janji ya, jangan marah? Ini soal ayah kamu."
"Ngomong aja," kata Jongin penasaran.
"Jongin, mungkin kamu memang udah terbiasa kena marah. Mungkin kamu tau kamu kena marah bukan karna kesalahan kamu. Tapi apa ayah kamu tau? Apa kamu nggak ngerasa kalo selama ini ayah kamu juga menderita karna selalu marahin kamu?" tanya Sehun. "Apa kamu mempertimbangkan kesehatannya? Dia udah tua, Jong," kata Sehun lagi. Jongin terdiam. Sehun benar. Jongin tak pernah melakukannya.
.
.
.
"Capek, Yeol?" tanya Ibu begitu melihat Chanyeol masuk dari pintu depan.
"Banget, Bu," Chanyeol membanting tubuhnya ke sofa. "Si Sehun ke mana, Bu?"
"Katanya sih mau ke tempat kerjanya Jongin," kata Ibu sambil menyuguhkan segelas es cokelat untuk Chanyeol. Chanyeol mengernyitnya tak suka. "Bu, aku udah gede," kata Chanyeol sebal. "Jangan perlakuin aku kayak anak kecil lagi dong."
"Masa sih?" tanya Ibu genit. "Aduh... padahal rasanya baru kemarin Ibu nganterin kamu ke TK..."
Chanyeol memasang tampang masam. Ibu selalu melakukan semua untuknya. Ibu tak pernah membiarkan Chanyeol mengambil nasinya sendiri, menyiapkan sarapannya sendiri, ataupun bangun sendiri. Di umurnya yang sudah dua puluh ini, Chanyeol masih merasa diperlakukan seperti anak umur lima tahun.
"Malu, ah, Bu. Mulai besok-besok nggak usah kayak gini lagi," kata Chanyeol lagi.
"Besok-besok aja ya?" sahut Ibu dari dapur. "Kamu rela Ibu nggak ada kerjaan lagi?"
"Kenapa sih Ibu cuma manjain aku? Kenapa ke Jongin nggak pernah?" tanya Chanyeol, membuat Ibu menjatuhkan piring kesukaannya. Chanyeol terkejut dengan suara itu, jadi dia segera melompat ke dapur. Chanyeol melihat Ibu sedang memungut pecahan-pecahan piring.
"Aduh... Ibu ngapain sih?" Chanyeol membantu Ibu yang sudah berlinang air mata. "Bu! Ibu kenapa? Ada yang luka?" sahut Chanyeol panik sambil memeriksa jemari Ibu. Tapi, tak satu pun terluka.
"Udah terlambat, Chanyeol," kata Ibu di tengah isaknya. Chanyeol menatap Ibu tak mengerti. "Jongin udah terlalu marah sama Ibu... Ibu udah nggak bisa berbuat apa-apa lagi sama dia..."
Chanyeol pun paham. Bertahun-tahun Ibu mendapat kesempatan untuk memberi Jongin perhatian yang lebih, tapi tak dilakukannya. Semua orang tak melakukannya. Dan sekarang sudah terlalu terlambat bahkan untuk memulainya. Makan malam hari ini tidak dihadiri Ayah. Jongin sebenarnya ingin bertanya keberadaannya pada Ibu, tapi dia sangat enggan melakukannya. Sehun mengetahui maksud Jongin.
"Tante, Om ke mana?" tanya Sehun. "Oh, Om lagi dinas ke Bandung selama dua hari," jawab Ibu.
Jongin mendadak tak bernapsu makan. Tadinya dia sudah membulatkan tekad untuk meminta maaf pada Ayah, tapi ternyata bahkan takdir pun menentang keinginan mulia Jongin. Sehun menepuk pundak Jongin pelan, berusaha memberi semangat.
"Emang kenapa?" tanya Ibu heran.
"Nggak apa-apa," jawab Jongin, dan detik berikutnya dia menyesal telah menjawab, karna sekarang mata Ibu dan Chanyeol mengarah padanya. Tapi rupanya Chanyeol dan Ibu tidak mengambil pusing karna sekarang Ibu sudah menyodorkan nasi kepada Chanyeol. Chanyeol menolaknya, lalu mengedikkan kepalanya tanpa kentara ke arah Jongin. Ibu memandang Jongin bimbang sesaat.
"Jongin," Ibu menyodorkan secentong penuh nasi ke piring Jongin. Jongin bengong sesaat, tidak memercayai penglihatannya. Setelah Sehun menyikutnya, baru Jongin tersadar.
"Oh, eh, iya," kata Jongin kikuk sambil menyodorkan piringnya sehingga Ibu bisa menaruh nasi di atasnya.
"Mm... makasih," gumam Jongin pelan setelah piringnya terisi penuh.
Chanyeol dan Sehun berpandangan sebentar, lalu saling melempar senyum penuh arti. Sementara Jongin mengamati nasinya, Ibu bangkit dan berjalan ke dapur.
"Tante mau ke mana?" sahut Sehun.
"Ng... ke dapur, ngecek sayur!" sahut Ibu dari dapur. Ibu tidak mengecek sayur, Chanyeol tahu betul. Ibu pasti sedang menangis lagi.
.
.
.
"Yang semalem itu, lucu banget ya?" kata Sehun kepada Chanyeol besok siangnya.
Chanyeol mengangguk sambil tersenyum simpul. Mengingat wajah Jongin yang tampak luar biasa salah tingkah saat Ibu menyendokkan nasi untuknya semalam, sangat membuat Chanyeol geli. Tapi begitu mengingat wajah Ibu yang luar biasa terharu, Chanyeol membatalkan niatnya untuk tertawa.
"Nggak nyangka, Jongin bisa begitu salah tingkah," kata Sehun, juga masih dengan senyum tersungging di wajah. "Lucu banget."
"Aku rasa dia udah mulai ngebuka hatinya," kata Chanyeol.
"Bener banget," Sehun setuju. "Dan aku rasa, di sini ada seorang lagi yang harus berbuat sama."
Chanyeol memandang Sehun sebentar. "Kamu tau? Itu nggak akan mudah-"
"Jangan bilang gitu dulu sebelum mencoba," Sehun menepuk pundak Chanyeol. "Just give it a shot."
"Dalam arti sebenarnya, boleh juga," kata Chanyeol disambut tawa Sehun.
"Eh, kamu tau? Ada yang bisa kita lakuin. Mm... sebenernya sih, udah mau aku lakuin sejak tidur di kamarnya Jongin. Aku mau pasang poster di langit-langitnya! Kamu bantuin, ya?" tanya Sehun.
"Kamu kayak nggak ada kerjaan aja," kata Chanyeol heran. "Bukannya dilepasin, malah mau dibanyakin. Kamarnya tuh udah kayak sarang rock star!"
"Justru itu," Sehun memainkan alisnya. "Ayolah Yeol... Aku pengen banget pasang poster gedenya Mick Jagger di atas tempat tidurnya. Pasti shock berat!"
"Oh yeah," komentar Chanyeol sinis. "Shock banget pasti."
"Ayo dong Chanyeol... Katanya kamu mau memperbaiki hubungan kamu sama Jongin? Ntar aku deh yang bilang kalo yang masang poster itu kamu!" rayu Sehun lagi.
"Iya, iya!" sahut Chanyeol akhirnya. "Tapi nggak usah repotrepot! Bilang kamu aja yang pasang."
"Iya deh..." kata Sehun lagi. "Chanyeol baik deh... Eh, masuk yuk? Kita kerjain sekarang. Lagian, kayaknya udah mau ujan."
Chanyeol mengikuti Sehun yang melangkah riang ke dalam rumah. Entah mengapa Chanyeol merasakan firasat buruk. Tapi mungkin itu karna dia hendak memasuki kamar Jongin.
.
.
"Chanyeol, pegang aku erat-erat ya! Jangan sampai jatoh!" sahut Sehun yang sekarang sudah duduk di pundak Chanyeol. Kedua tangannya memegang poster besar Mick Jagger.
"Iya, iya! Berisik banget sih! Berat tau!" seru Chanyeol sambil berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya di atas kasur.
"Jangan goyang-goyang!" sahut Sehun lagi. "Miring nih Mick-nya!"
"Emangnya aku peduli!" balas Chanyeol. "Cepetan dong! Kram nih kakiku!"
Sehun tak bisa menempelkan posternya dengan benar karna Chanyeol selalu bergoyang-goyang. Saat akhirnya kaki Chanyeol tak kuat lagi menopang tubuh mereka, Sehun terjatuh dan menimpa Chanyeol yang sudah lebih dulu terjatuh ke kasur. Sehun dan Chanyeol tergelak-gelak menertawakan kebodohan mereka.
.
.
Hari ini Jongin bekerja dengan giat. Terlalu giat, mungkin. Jongin merasakan seluruh tubuhnya lumpuh total setelah mengerjakan dua mobil mogok sekaligus. Jongin memasuki rumahnya tanpa semangat, lalu berjalan gontai menuju sofa, bermaksud membanting dirinya ke sana. Tapi begitu mendengar gelak tawa Sehun dan Chanyeol dari kamarnya, Jongin memaksakan tubuhnya bergerak ke arah kamarnya dan membukanya. Sehun dan Chanyeol sedang... entahlah. Jongin tidak bisa menebaknya. Hanya saja, jelas bukan hal yang baik jika melihat posisi mereka berdua. Sehun berada tepat di atas tubuh Chanyeol, dan mereka berdua sedang tertawa riang.
Jongin dapat merasakan seluruh ototnya mengejang, dan darahnya mendidih dalam hitungan detik. Saat menyadari Jongin di ambang pintu, Sehun dan Chanyeol berhenti tertawa, lalu segera memisahkan diri.
Jongin mengepalkan kedua tangannya. Tepat pada saat ini, Jongin ingin membunuh mereka berdua. Tapi hati kecil Jongin mencegahnya mati-matian. Jongin bisa melihat Sehun berusaha menjelaskan sesuatu, tapi tak ada sedikit pun yang bisa terdengar oleh Jongin sekarang. Telinganya berdenging keras, seperti ada sesuatu yang telah mengganjalnya. Sehun bergerak mendekati Jongin, tapi Jongin tak akan membiarkannya. Jongin tak akan membiarkan gadis ini mendekatinya lagi. Tidak sekali pun lagi dalam hidupnya.
"Minggir!" sahut Jongin sambil menepis tangan Sehun sehingga Sehun terjatuh.
Chanyeol segera berlari menuju Sehun dan membantunya berdiri. Jongin sungguh muak melihat mereka. Jadi, Jongin segera menyingkir dan berlari sekuat tenaga ke luar rumah, menembus lebatnya hujan yang tiba-tiba turun. Jongin sudah tidak memedulikan keletihannya. Yang Jongin inginkan sekarang hanyalah mati. Jongin selalu tahu bahwa hidupnya tak akan semulus yg dia kira. Tidak mungkin bisa semulus ini. Jongin berteriak sekuat tenaga, melepaskan amarahnya.
"Jongin!" sahut Sehun di belakangnya. Jongin tak mempunyai keinginan untuk menoleh.
"Jongin, kamu harus dengerin aku!" Jongin bisa merasakan air matanya sudah berbaur bersama air hujan. Jongin merasa tak perlu mendengar apa pun lagi. Jongin sudah terlalu lelah berusaha. Pada akhirnya, dia akan kehilangan semuanya.
"Jongin, please..."
"Kamu bilang semua orang butuh kesempatan kedua," gumam Jongin dingin. "Dan aku udah ngasih kamu dua kali. Trus apa yang membuat kamu berpikiran kalo aku bakal kasih kamu sekali lagi?" Sehun terisak hebat.
"K-kamu ha-harus denger..," suara Sehun yg gemetar tenggelam dalam derasnya hujan.
"Kamu tuh….." Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. "Kamu tuh dari luar manis banget. Tapi, di dalem kamu tuh ancur!" Sehun tak bisa menjawab karna sudah sangat kedinginan, ditambah lagi isakannya yg menghebat.
"You know, I thought I knew you, but somehow I was wrong," kata Jongin lagi. "You're the sweetest little... witch I ever knew." Isakan Sehun berhenti begitu saja saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Jongin.
Sehun menatap Jongin yang juga sedang menatapnya tajam. Walaupun kulitnya terasa dingin, Sehun merasa hatinya panas setelah Jongin mengatainya.
"Jelas banget kalo kamu nggak pernah kasih aku sedikit pun kepercayaan," kata Sehun. "Kamu berani-beraninya ngatain aku. Berani-beraninya! Aku sayang banget sama kamu, Jong! Kenapa kamu nggak mau dengerin aku?!" Jongin menatap bimbang Sehun yg menggigil. Kepala Jongin dipenuhi berbagai hal yang belum selesai; pekerjaannya, kuliahnya, orangtuanya. Jongin mengira salah satu masalahnya yaitu Sehun sudah selesai. Tapi ternyata belum. Apa yg dilihat Jongin tadi sudah cukup untuk menjelaskan.
"Kenapa kamu nggak ngebiarin aku sih Hun? Kenapa sih kamu harus bikin aku gila?" tanya Jongin lelah.
"Jongin, kamu salah..." jerit Sehun putus asa. "Tadi itu, poster Mick..."
Jongin tak mau mendengar lagi. Sekarang Sehun malah mengigau soal sesuatu yang tak masuk akal. Jongin menjambak-jambak rambutnya, lalu berbalik berjalan menjauh, meninggalkan Sehun yang terduduk di jalan. Sehun bisa mendengar raungan Jongin, seperti serigala yang sedang terluka. Sehun tak bisa berbuat apa-apa. Untuk membuat Jongin percaya pertama kali saja sudah membutuhkan usaha Sehun yang setengah mati, dan sekarang Sehun hampir tidak punya sisa tenaga lagi untuk membuatnya kembali percaya.
Sehun kembali terisak. Hatinya sakit mengingat perkataan Jongin tadi.
TBC
Hi guys ketemu lagi sama aku. Apa kabar kalian? Rrr maaf ya aku suka ngilang gini. Tiba-tiba update dan kemudian ngilang, kelakuan Jongin ngajakin aku teleportasi mulu sih wkwk.
Gimana chapter ini? Nyesek? Baper? Seneng? Atau…?
Jujur ya kalo aku pribadi seneng pas bagian si Jongin naroh lap diban dan kemudian si Sehun baru boleh duduk, anjr itu so sweet T—T aku juga pengen dikaya gituin Jong. Tapi pas ending rasanya pengen nangis. Pas banget tadi dengerin music dan ngeplay lagu Don't Go nya EXO. Kan makin sedih….
Mulai sekarang ga bakal ada ilang ilangan lagi. Soalnya aku udah ngetik sampe chapter 13 nih. Perkiraan end yah chapter 20 mungkin?
Btw yang punya bbm inivite aku bisa kali. Pengen banyakin kontak kpopers nih hehe 7E8A763B.
Thanks to :
enchris.727 | auliavp | Icha | Kimoh1412 | Apelijo | YunYuliHun | JongOdult | mamasehun1214 | exolweareone9400 | VampireDPS | baekhyung | SUKA PAKE CAPSLOCK | exobabyyhun | rytyatriaa c | Ilysmkji | kjinftosh | gladisoler4 | sukha1312 |
Mind to review 'again'?
