Baekhyun tengah berjalan gontai keluar dari kantornya sore itu. Ia memang terlihat lebih murung belakangan. Tidak bisa wanita itu pungkiri jika hubungannya dengan Chanyeol yang merenggang begitu mempengaruhi psikisnya. Terkadang ia akan menemukan air matanya mengalir saat Chanyeol beranjak pergi setelah mengunjunginya yang pura-pura tidur. Atau saat melihat mobil Chanyeol yang pergi dari pelataran gedung kantor setelah mendapati bahwa ia pulang duluan walau sebenarnya ia masih bersembunyi di belakang pilar demi menghindari Chanyeol.
Lalu sore itu, Chanyeol berhasil menemukannya. Baekhyun sudah terlambat untuk menghindar lagi kali ini. Setelah melewati beberapa adegan konyol, Chanyeol berjalan mendekat ke arah Baekhyun. Mencuri satu kecupan di bibir yang lebih mungil. "Jadi, bisa kita pergi sekarang? Bisa kita sudahi permainan petak umpet ini?" Baekhyun mengangguk.
"Hum."
"Masuklah." Chanyeol menggiring Baekhyun masuk ke mobilnya.
"Park Chanyeol!"
Seruan itu membuat Baekhyun dan Chanyeol secara refleks menoleh.
"Yuan-ssi?" Baekhyun bergumam.
"Berhenti di sana. Dan kau Byun Baekhyun, kalau kau lupa Chanyeol adalah kekasihku."
Mendengar hal itu Chanyeol melirik Baekhyun. "Kau mau merasakan bagaimana rasanya menjadi aktris di film action? Err, Mr and Mrs Smith? Bagaimana kalau kita membuatnya menjadi Mr and Mrs Park?"
"Huh?" Baekhyun mengerjap bingung.
"Masuklah. Cepat!" Chanyeol berseru. Pria itu segera masuk ke mobilnya dan mendudukkan diri di balik kemudi. Baekhyun melakukan hal yang sama karena terlalu terkejut.
"Pakai seat belt-mu Baek." Baekhyun mengangguk.
Lalu di menit berikutnya, Baekhyun bisa merasakan betapa mengerikannya Chanyeol yang mengendarai mobilnya secara ugal-ugalan meninggalkan pelataran gedung perusahaan.
.
.
Miss Right
EXO's Fanfiction
ANNOTATION
Ide cerita sepenuhnya milik ©Curloey Smurf.
Apabila tokoh, alur, tipe cerita, dll kurang berkenan. Cukup klik icon silang di halaman. Be a wise readers!
Hanya sebatas manusia biasa, typos, sedih dapat bash, kemampuan berhayal terbatas, fiktif keterlaluan dll. Jadi mohon pengertiannya. Thank You~
This is an EXO's fanfiction, Genderswitch, Byun Baekhyun and Park Chanyeol as main cast, other EXO member, guest star (?), etc as support cast. Pairing Chanbaek. Genre Romance, Friendship. Chapter: 11 of ?. Rate: M for safe.
I'm not a writer but I love to write.
e)(o
She might a good woman, but still not a right woman for you
.
.
.
Baekhyun mengerjapkan matanya. "Apa itu tadi?" Baekhyun bersuara tepat saat mobil Chanyeol menempati posisi parkir yang benar.
"Adegan film action di mana dua detektif kabur dari markas pejahat saat misinya ketahuan." Chanyeol tergelak.
"Ya! Kita bisa mati terbunuh."
"Hum, setidaknya itu lebih baik dari pada harus mendengar suara mengerikan tadi. Jadi nona Byun, waktunya menonton film."
Baekhyun terlalu takut hingga tak sadar bahwa Chanyeol benar-benar membawanya ke sebuah bioskop untuk menonton film. Pria itu benar-benar sulit ditebak.
.
.
"Aku lebih suka ice cream."
Chanyeol mengernyitkan dahinya. "Tapi tidak ada ice cream di sini Baek, hanya ada cola."
"Tapi aku ingin ice cream."
Setelah memijat pelipisnya yang berdenyut. Berdebat dengan pikirannya sendiri, pada akhirnya Chanyeol memutuskan untuk membatalkan acara menonton film malam itu dan berakhir di sebuah toko ice cream yang berada tak jauh dari apartemen Baekhyun. Baskin Robins. Membeli beberapa kaleng ice cream untuk dimakan di apartemen.
.
e)(o
.
Chanyeol memilih untuk mengalah. Membiarkan Baekhyun menonton drama favoritnya selagi duduk dengan bersandar dada bidangnya. Wanita mungil itu sesekali akan memasukkan sesendok ice cream ke mulutnya atau mulut Chanyeol.
"Aku rindu eomma."
"Hum?"
"Eomma jarang sekali berkunjung ke apartemen untuk menonton drama bersamaku belakangan ini." Keluhan Baekhyun berhasil membuat Chanyeol tersenyum gemas.
"Kau benar. Eomma berada di Jeju sekarang. Ayah dari abeoji, kakekku sedang sakit dan eomma harus merawatnya."
"Kenapa kau tidak mengujungi kakekmu?"
"Mau ke sana bersama?"
Baekhyun mencembikkan bibirnya. "Ah, kekasihmu pasti akan menumpahkan minuman ke wajahku jika itu terjadi."
"Kau akan melakukannya pada dirimu sendiri?" Chanyeol mengerang kesakitan saat jari Baekhyun mencubit pinggangnya.
"Rasakan! Itu hanya hal kecil, pria playboy sepertimu harusnya mendapat pukulan atau semacamnya." Chanyeol terkekeh geli.
"Maafkan aku, aku hanya berpikir untuk menghentikan Yuan mengganggumu. Kau mendapat luka bakar dan kaki terkilir. Itu sungguh keterlaluan."
Baekhyun menatap Chanyeol terkejut. "Kau tahu?"
"Hum, aku mendengar percakapan staff teater Yixing. Kenapa tidak mengatakannya padaku?"
"Aku hanya tidak ingin kau marah."
"Tapi kau yang marah saat itu." Cibir Chanyeol.
"Ya!"
"Baekhyunee."
"Hum?"
"Kau akan menghindariku lagi setelah ini?"
Baekhyun menatap Chanyeol yang juga menatapnya. "Um. Tergantung sikapmu." Baekhyun menggedikkan bahu.
Mendengar itu Chanyeol merebut kaleng ice cream Baekhyun. Meletakkannya di meja beserta sendok yang ia gunakan. Pria itu mengubah posisi duduk Baekhyun menjadi menghadap ke arahnya.
"Jangan berani melakukannya lagi, sekalipun hanya dalam pikiranmu."
"Chanyeola."
"Hum?"
"Bukankah tugasku hampir selesai?"
"Apa?"
"Mencari miss right itu, lalu kutukan itu. Ku pikir jika kau mencoba bertunangan dengan Yuan kutukan itu akan terbukti sudah- mmhph"
Chanyeol menjatuhkan tubuh Baekhyun di atas sofa saat bibirnya menyambar bibir Baekhyun sebelum si mungil menyelesaikan kalimatnya. Lagi dan lagi seolah tidak akan ada hari esok bagi keduanya.
.
e)(o
.
"Jeju?"
Baekhyun mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Chanyeol. "Ya, salah satu kolega perusahaan mengadakan pembukaan resort di sana dan Presdir Park tidak bisa hadir jadi aku akan datang sebagai wakilnya."
"Haruskah kau datang?"
Baekhyun mendengus sebal, mendorong tubuh Chanyeol menjauh. Pria itu terus menempelinya sepanjang jalan. Benar kata Jongin, mereka seperti hidung dan ingus di musim dingin. Keduanya sedang berada lorong menuju kafetaria kantor saat ini. "Ya."
"Berapa lama kau akan berada di sana?"
"Um, dua hari? Oh, sejujurnya karena itu akhir pekan maka aku berencana untuk pulang minggu malam."
"Ya! Kau berniat menghabiskan akhir pekan di Jeju tanpaku?"
"Kurasa begitu. Oh. kau tahu, aku mungkin saja bisa bertemu dengan beberapa pria tampan yang bisa menemaniku di Jeju nanti."
Chanyeol tergelak. "Pria tampan? Kau hanya akan bertemu dengan petinggi perusahaan yang usianya mungkin sama dengan ayahmu."
"Cih, kau hanya iri. Mereka mungkin membawa putranya yang masih muda dan tampan."
"Ya, selamat bersenang-senang nona Byun."
"Tentu saja. Kau akan iri setengah mati nanti."
Chanyeol menggedikkan bahunya. "Lagi pula ini musim dingin, tidak banyak yang bisa kau lakukan di Jeju saat musim dingin."
"Jika bertemu dengan pria tampan ku pikir musim dingin akan berubah menjadi musim semi."
"Atau bisa saja kau justru ingin cepat-cepat kembali karena pria tampan itu sedang bekerja keras di Seoul. Jadi kita bisa menghabiskan akhir pekan bersama di apartemenmu."
Baekhyun memutar bola mata malas. "Dalam mimpimu Park."
.
e)(o
.
"Arah jam tiga, tepat lima langkah dari pintu masuk."
Dua penghuni lain meja itu segera menoleh ke arah yang dimaksud.
Brak
"Aw! Itu pasti sakit sekali." Luhan terkikik geli.
Kyungsoo menggeleng tak percaya menatap ekspresi Luhan. "Kau benar-benar."
"Uh, bukankah itu Gayoung?" Baekhyun menatap ke arah Luhan dan Kyungsoo bergantian.
Dua sosok yang dimaksud Luhan tadi adalah Yuan dan Gayoung. Yuan baru saja masuk ke café langganan Luhan ini, ia berjalan menuju barisan untuk memesan tanpa mengalikan tatapannya dari ponselnya. Lalu wanita yang berdiri di depannya sepertinya juga tidak menyadari jika ada orang lain yang berdiri tepat di belakangnya. Wanita itu menumpahkan sebagian isi nampan yang ia bawa -berisi cake dan kopi- ke sisi jaket bulu Yuan. Itu yang membuat Luhan terkikik geli.
"Gayoung? Moon Gayoung?" Beo Kyungsoo.
"Ya. Haruskah kita mengundangnya untuk bergabung dengan meja kita?" Tanya Baekhyun.
"Tentu, aku tak masalah." Kyungsoo bersuara. Luhan juga mengangguk.
"Gayoung-ssi!" Panggil Baekhyun.
Sepertinya dua wanita yang terlibat insiden beberapa waktu lalu tidak terlalu memperhatikan sekitar. Terbukti dari bagaimana Yuan sibuk membersihkan jaketnya dengan tissue dan sesekali mendorong tubuh Gayoung. Di sisi lain, Gayoung nampak menatap datar sosok di hadapannya.
"Yah! Sepertinya kita harus menghentikan mereka."
Luhan memutar bola mata malas. "Biarkan saja. Lagi pula itu bukan urusan kita." Kyungsoo menghela nafas.
"Tinggalkan saja Luhan di sini. Kita harus memisahkan mereka setidaknya jika ingin berdebat biarkan mereka berada di tempat lain sebelum menjadi tontonan." Ucap Kyungsoo lalu berdiri dari duduknya.
"Ya! Kau sudah gila? Apa kau tahu harga mantel ini?" Yuan berseru marah.
"Apa kau pikir aku pramuniaga toko pakaian?" Gayoung menatap Yuan malas.
Yuan yang marah segera bergerak mengambil asal minuman milik pengunjung café lain yang paling dekat dengannya. Berniat menyiramkan minuman itu kepada Gayoung.
"Ya! Yuan-ssi! Gayoung-ssi! Hentikan!" Seru Kyungsoo.
Keduanya menoleh dan mendapati Kyungsoo yang menatap tajam ke arahnya dan Baekhyun yang berdiri di belakang Kyungsoo.
"Ha! Buruk sekali. Bertemu dengan wanita gila dan sekarang aku harus bertemu dengan perusak hubungan orang lain."
Plak
"Ya!"
Tidak hanya Yuan yang terkejut saat Gayoung tiba-tiba melemparkan tamparan keras ke pipinya, hal yang sama juga berlaku pada Kyungsoo dan Baekhyun. Yuan menatap nyalang ke arah Gayoung sedangkan Kyungsoo segera memberi kode pada Baekhyun untuk menarik Gayoung menjauh, Kyungsoo yang akan mengurus Yuan.
Luhan yang menatap kejadian itu dari tempat duduknya hanya berdecak. "Apakah mereka benar-benar wanita yang memiliki martabat?"
.
e)(o
.
"Gayoung-ssi."
"Ya?"
"Tidakkah kau merasa kita diikuti?"
"Huh?"
"Dua pria itu, bukankah mereka seperti sedang mengikuti kita?"
Pada akhirnya Baekhyun memang memilih untuk menyeret Gayoung keluar dari café. Keduanya kini tengah berada di jalanan tak jauh dari café tempat insiden pertengkaran beberapa saat lalu terjadi.
"Ah, mungkin saja itu hanya perasaanmu. Mana mungkin mereka mengikuti kita." Baekhyun menatap Gayoung sanksi.
"Apa kau yakin?"
"Ya."
"Ah, soal tadi. Kenapa kau tiba-tiba menampar Yuan-ssi?"
"Wanita seperti itu perlu diberi peringatan keras. Menyebalkan, aku tidak suka suaranya. Ia suka sekali berteriak."
Baekhyun terkekeh. "Ku pikir ia pasti akan marah sekali sekarang dan mungkin Kyungsoo kewalahan mengatasinya."
"Bukankah sejak dulu ia seperti itu?" Gayoung menggedikkan bahu. "Oh, apa kau putus dengan Chanyeol? Apa Chanyeol memilih untuk kembali pada wanita itu?"
"Huh? Bagaimana kau tahu? Ah maksudku bisa berpikir demikian?"
"Wanita tadi mengatakan bahwa kau merusak hubungan orang lain."
Baekhyun menggembungkan pipinya. "Ya, mereka kembali."
"Dan kau akan diam saja?"
"Huh?" Baekhyun tertawa kecil. "Lalu aku harus apa?"
"Aneh sekali. Bukankah kau kekasihnya? Kenapa bertanya padaku?" Gayoung terkekeh.
"Uh, Gayoung-ssi?"
"Hum?"
"Ku pikir kau banyak sekali berubah." Baekhyun menghentikan langkahnya. "Tapi itu hal yang baik."
"Apa maksudmu?"
"Seingatku kau cukup pendiam waktu itu." Baekhyun mencembikkan bibir tipisnya. "Kau bahkan mengabaikanku saat pertama kali aku menyapamu."
Gaeyoung tertawa kecil. "Hum, tinggal di New Zealand sepertinya berhasil membuatku sedikit berubah."
"Soal itu, aku sedikit mendengar sesuatu. Apa benar kau sudah menikah?" Baekhyun menatap Gayoung dan mendapati ekspresi Gayoung yang berubah, Baekhyun buru-buru melanjutkan. "Ah, tentu saja itu rumor yang sering terdengar di mana-mana. Abaikan saja pertanyaanku." Baekhyun tertawa kikuk.
"Baekhyun-ssi. Bukankah kita berteman? Kau yang mengatakan itu dulu."
Baekhyun mengerjapkan matanya. "Tentu saja."
"Apakah jika aku mengatakan ini kau bisa menjaganya?"
"Huh?"
Gayoung tersenyum masam. Menarik Baekhyun untuk berhenti di sebuah minimarket lalu duduk di kursi yang disediakan. "Kau masih ingat apa yang terjadi sepuluh, ah tidak sebelas tahun yang lalu?"
"Bukankah itu saat kita masih berada di Hyundae?"
"Ya. Sesuatu terjadi tepat dua bulan setelah kau pindah ke Kanada."
.
.
Musim semi baru saja berakhir. Udara hangat yang menyelimuti kota kini sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih menyengat kulit dan suhu terasa lembab. Penggunaan kipas angin dan Ac meningkat drastis. Pantai atau kolam pemandian air dingin menjadi pilihan yang tepat untuk menghabiskan waktu. Di tengah suhu yang hampir mencapai 23 derajat celcius itu sekumpulan remaja dengan baju seragam berlogo Hyundae SHS tengah berkumpul di depan sebuah papan besar.
"Apakah ini benar?"
"Kurasa ya."
"Tapi bukankah ia bahkan tidak pernah bicara dengan temannya?"
"Eiyy, bisa saja itu hanya topeng!"
"Sungguh mengerikan jika ini benar!"
Suara bisikan dan pandangan menuduh terlihat disepanjang lorong kelas.
"Apa yang terjadi?" Baekhyun yang baru saja datang bertanya pada teman yang duduk di bangku sebelahnya. Jung Soojung.
Soojung yang merasa ditanya berbalik menatap Baekhyun. "Apa kau tidak melihat papan berita siswa sebelum ke kelas?" Soojung balik bertanya.
"Aku tidak sempat." Jawaban itu membuat Soojung mendengus sebal.
Meski terkesan dingin dan menyebalkan dengan wajahnya yang seolah selalu melihat remeh seseorang, Soojung mungkin satu-satunya teman di kelasnya yang masih bisa diajak bicara setelah insiden di mana Baekhyun ditolak secara terang-terangan oleh Chanyeol beberapa waktu lalu. Meski tidak bisa dipungkiri jika wanita ini juga tertawa keras dan ikut membicarakannya waktu itu.
"Apa kau mengenal Moon Gayoung?"
"Huh? Moon siapa?"
"Moon Gayoung! Yaish kau ini! Ia berada di kelas sebelah kita. Kau tahu, siswi yang terlihat selalu menyendiri di kebun sekolah. Yang tidak bisa bicara itu."
Baekhyun mengerjapkan matanya. Ia masih tidak mengerti siapa siswi yang dimaksud dengan Soojung. "Lalu, apa masalahnya?" Soojung memberi kode pada Baekhyun agar merapat padanya.
"Wanita itu ternyata selingkuhan pejabat! Uh, mengerikan sekali. Kau tahu Kim Young An bukan?"
"Maksudmu anggota dewan kementrian pendidikan yang beberapa waktu lalu tersandung masalah skandal perselingkuhan?"
"Ya. Salah satu foto yang beredar terlihat jika wanita yang pernah menjadi selingkuhannya adalah Gayoung."
"Siapa yang menyebarkannya?"
Soojung menggedikkan bahu. "Yang terpenting adalah kasusnya sedang diusut. Gayoung bisa saja dikeluarkan jika terbukti benar."
Baekhyun menatap Soojung terkejut.
.
e)(o
.
Semenjak insiden penolakan di halaman sekolah terjadi, Baekhyun lebih sering menghabiskan waktu istirahatnya di taman yang berada di atap sekolahnya yang jarang dikunjungi atau di perpustakaan yang tenang. Sama halnya dengan siang yang panas itu.
"Oh! Apa aku mengejutkanmu?" Tanya Baekhyun begitu menyadari ada sosok lain di atap sekolahnya.
Siswi yang ditanya hanya menatap Baekhyun datar.
"Maafkan aku. Kalau kau keberatan aku bisa pergi dari sini." Baekhyun baru saja berniat melangkah pergi sebelum mengingat sesuatu. Gadis mungil itu mengeluarkan kertas dan bolpoin dari kantung sakunya. Menulis sesuatu di sana.
"Bukankah kau Moon Gayoung?" Begitu yang ia tuliskan. "Maaf aku tidak ingat kalau kau tidak bisa bicara. Kau bisa menulisnya di sini." Baekhyun meringis kikuk. Lucunya bukankah Baekhyun hanya tahu jika wanita itu tuna wicara bukan tuna rungu?
"Aku keberatan. Bisakah kau pergi?"
Baekhyun membulatkan matanya terkejut. "Kau bisa bicara? Astaga! Maafkan aku, Soojung maksudku teman sekelasku berkata kau tidak. Oh, sepertinya aku salah mendengar perkataan Soojung tadi."
"Apa yang kau lakukan di tempat ini?"
"Huh? Ah, aku hanya ingin makan siang dengan tenang. Namaku Baekhyun, Byun Baekhyun. Kau mungkin mengenalku karena aku cukup terkenal beberapa hari ini."
Gayoung mengangguk. "Kau juga mengenalku? Aku cukup terkenal hari ini." Baekhyun terkikik.
"Ah, haruskah kita berteman? Kita bisa menjadi pasangan popular di sekolah." Baekhyun menatap Gayoung.
"Teman?"
"Ya."
Siswi bernama Gayoung itu tertawa kecil. "Mau kuberi tahu sebuah rahasia kecil karena kita berteman?"
"Apa itu?"
"Orang-orang di bawah sana hanyalah sekumpulan mahluk penjilat." Baekhyun mengerjap tidak mengerti. "Mereka mudah sekali dihasut. Lalu menjatuhkan orang lain." Gayoung menatap Baekhyun. "Ah! Yuan, Irene dan Seohyun. Apa aku benar?"
"Apa yang kau maksud?" Begitu menyadari arah pembicaraan Gayoung, Baekhyun memekik. "Bagaimana kau tahu?"
"Mereka akan menderita karena menyakiti satu sama lain."
"Oh, Gayoung-ssi. Apa mungkin kau juga diancam dengan hal yang sama? Berita yang terpasang di papan informasi siswa pagi ini?"
Gayoung mengangguk. "Keterlaluan bukan?"
"Mereka benar-benar harus dihentikan. Aku akan melaporkan mereka pada pihak sekolah."
"Kau tidak perlu melakukannya."
"Huh?
"Sudah waktunya kita kembali ke kelas."
.
.
Baekhyun menatap Gayoung. "Sesuatu?"
"Kau mendengar rumor itu? Aku dikeluarkan dari sekolah." Baekhyun bergumam.
"Ya, aku mendengarnya."
"Itu tidak sepenuhnya salah ataupun benar. Setelah kau pindah ke sekolah, aku masih bisa bertahan di sana meski terus mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Lalu dua bulan setelahnya orang tuaku memutuskan untuk melakukan home schooling. Lalu, apa kau mendengar alasan mengapa aku dikeluarkan?"
Baekhyun mengusap tengkuk lehernya kikuk. "Kau menabrakkan mobilmu pada seorang siswi?" Gayoung terkekeh.
"Itu sepenuhnya benar." Baekhyun menatap Gayoung terkejut.
"K-kau bercanda?" Gayoung menggelengkan kepalanya.
"Seohyun, ia yang pertama kali menyebar foto dan berita bohong itu di sekolah. Aku membencinya dan menabraknya dengan mobilku. Beruntung ia tidak terluka parah." Gayoung menggedikkan bahu. "Berita bahwa aku menabrak Seohyun hanya di dasarkan pada spekulasi. Tidak ada bukti meski itu benar, semua orang jelas tahu siapa yang menyebar informasi bohong itu tapi berusaha menutupinya. Aku mengundurkan diri dari sekolah lalu pindah ke New Zealand."
"Lalu, apa yang terjadi setelahnya?"
"Ah, aku hidup dengan nyaman di New Zealand. Seohyun, wanita itu tidak berani menyentuhku meski tahu aku yang membuatnya mendapat perawatan di rumah sakit. Dan aku menikah dengan seorang pria yang menjadi temanku semasa kuliah. Kami memiliki seorang putra tampan tapi aku harus meninggalkan keduanya selama beberapa waktu."
Baekhyun ikut tersenyum senang, wanita yang duduk di hadapannya itu jelas merasa bahagia. "Oh! Apa itu artinya kau hanya sebentar di Korea?"
"Ya. Aku akan segera kembali setelah menyelesaikan beberapa urusan."
"Ah, sayang sekali."
"Ku harap aku bisa kembali ke Korea nanti bersama keluarga kecilku saat kau memberi kami undangan pernikahanmu Baek." Gayoung mengedipkan sebelah matanya membuat Baekhyun terkikik.
"Kuharap juga begitu. Aku akan memastikan kau datang nantinya."
.
e)(o
.
"Kau benar-benar harus pergi?"
"Hum."
"Kau benar-benar benar harus pergi?"
"Hum."
"Kau benar-"
"Berhentilah menanyakan hal yang sama Park." Baekhyun memutar bola mata malas. Wanita itu sedang mengepak koper yang akan ia bawa ke Jeju besok siang.
Chanyeol menatap Baekhyun dari atas ranjang. Pria itu berbaring menelungkup dengan kedua siku menyangga tubuh bagian atasnya. Ia tidak berniat membantu sama sekali, bahkan kalau bisa ia akan membakar koper itu dan isinya jika Baekhyun tidak memelototinya beberapa menit yang lalu karena ia terus mengeluarkan barang-barang yang Baekhyun masukkan ke koper. Pria itu tidak ingin kekasihnya pergi.
"Bisakah kau kembali tepat setelah acaranya selesai?"
"Tidak Park. Aku akan berlibur."
"Pastikan kau menjawab setiap panggilan dan pesanku selama di sana."
"Aku menolak."
"Mengapa tidak Sekretaris Jang saja yang berangkat?"
Baekhyun memutar bola mata malas. "Masih banyak hal penting lainnya yang perlu diurus oleh Sekretaris Jang."
"Baekhyuna."
"Hum."
"Aku ingin kau berhenti bekerja jika kita menikah."
"Ya, aku akan melakukannya."
Chanyeol tersenyum lebar mendengar jawaban itu. Sepertinya kekasihnya tidak benar-benar mendengarkan ucapannya.
"Um, aku ingin kita mengambil liburan panjang dari pekerjaan untuk honey moon. Hawaii? Cebu? Mana yang kau suka?"
"Kemanapun itu terserahmu."
"Lalu, aku ingin memiliki tiga anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Ah tidak, dua anak peremuan."
"Hum, kau boleh memiliki sesukamu."
Seringai Chanyeol kian melebar. Pria itu kini beralih duduk di belakang Baekhyun. Mengecup pipi Baekhyun sekilas sebelum memeluk tubuh mungil di depannya erat-erat membuat Baekhyun mengerang. "Yah! Apa yang kau lakukan Park!" Pekik Baekhyun. "Tunggu, apa yang kau tanyakan padaku tadi?"
"Aku akan membantumu berkemas."
"Yah, bagaimana bisa kau membantuku jika kau memelukku seperti ini? Lepaskan. Aku sudah mengantuk jadi segera menyingkir Park."
"Aku menolak."
"Yah!"
Chanyeol melirik jam dinding di kamar Baekhyun. "Baek."
"Hum?" Si mungil masih kesal karena Chanyeol justru membuat tubuh keduanya jatuh ke karpet tebal di ruangan itu.
"Bagaimana dengan midnight date? Besok kau akan meninggalkanku dan berniat mencari pria lain di Jeju jadi hari ini kau milikku."
Baekhyun memutar bola mata malas. "Lepaskan aku dan kau akan mendapatkannya Park."
"Kau sudah berjanji."
"Hum."
.
e)(o
.
Baekhyun berteriak nyaring saat sepeda yang ditumpanginya melaju begitu cepat di turunan. Chanyeol terkikik geli mendengar suara Baekhyun. Sepertinya ia memang berniat mengerjai Baekhyun. Malam itu keduanya memutuskan untuk berkencan di sungai Hangang. Chanyeol bahkan menyewa sepeda untuk itu.
Setelah beberapa puluh menit mengitari pinggiran sungai Han dengan sepeda akhirnya Chanyeol memutuskan untuk menepi. Ia menghentikan laju sepedanya di lapangan basket yang sepi. Ada beberapa lapangan basket di sana dan ia memilih tempat yang tidak ditempati. Nyatanya memang meski sudah dini hari kawasan itu masih bisa dikatakan ramai pengunjung yang kebanyakan adalah mahasiswa yang sekedar menghabiskan waktu bersantai.
"Mau bermain basket?" Tawar Chanyeol pada Baekhyun.
"Aku tidak bisa sama sekali. Kau mau mengajariku?"
"Hum. Sepuluh dolar permenitnya."
"Ya!"
"Kemarilah."
Chanyeol berdiri di belakang Baekhyun untuk memberikan arahan. Meski begitu tak jarang pula pria itu justru mengganggu Baekhyun saat si mungil akan melempar bola. "Yah, perhatikan posisi tanganmu."
"Aku tahu." Si mungil merengut sebal.
Melihat hal itu Chanyeol segera beralih merebut bola dari tangan Baekhyun. "Ambil bolanya dariku. Jika kau bisa melakukannya aku akan mengabulkan satu permintaanmu." Tawarnya.
"Call."
Pria itu sengaja memainkan bolanya. Melempar bola oranye itu ke udara beberapa kali. Sesekali ia akan berakting seolah akan melempar bola itu ke ring. Lalu Baekhyun yang melihat ada peluang segera berjalan mendekat ke arah Chanyeol, pria itu dengan sigap segera mengangkat bola itu tinggi-tinggi. Baekhyun masih tidak menyerah, dengan kaki berjinjit ia berusaha meraih bola itu.
"Baek."
"Hum? Yah! Jangan mengangkatnya terlalu tinggi!" Pekik Baekhyun.
"Baek."
"Apa- hmmh" Tepat saat Baekhyun mendongakkan kepalanya Chanyeol meraih bibir si mungil dengan bibir tebalnya. Melempar bola yang dibawanya ke ring dan membiarkan bunyi benturan antara bola dan lapangan basket mengiringi gerakannya mengeksplor bibir yang lebih mungil.
.
.
Baekhyun mengamati bagaimana tautan antara tangannya dan tangan Chanyeol berayun seiring langkah mereka. Setelah sesi ciuman panas di lapangan basket beberapa waktu lalu, keduanya memutuskan untuk kembali pulang karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 3 dini hari. Besok pagi-pagi sekali Chanyeol harus bekerja sedangkan Baekhyun harus pergi ke bandara.
"Kau mendengarku kan Baek."
"Hum."
"Katakan apa yang kuucapkan."
"Aku tidak boleh terlambat makan, kau melarangku pergi ke luar di malam hari tanpa teman, aku harus menjawab seluruh pesan dan panggilan darimu, memakai baju hangat, uh kenapa banyak sekali?" Keluh Baekhyun.
Chanyeol tertawa kecil. Mengusak surai Baekhyun lalu mengeratkan tautan tangan keduanya. "Aku akan merindukanmu, jadi jangan mengabaikan panggilanku. Hum?" Baekhyun tersenyum lebar mendengarnya.
"Aku akan menemukan pria tampan di sana jadi jangan merindukanku."
"Eiyy, kau yakin pria yang kau maksud itu bukan pria bernama Park Chanyeol?"
"Ya! Jangan mengada-ada."
.
e)(o
.
Jeju-do.
Baekhyun mematut penampilannya di cermin kamar hotel. Wanita mungil itu mendesah kesal. Gaun yang dibelinya tertukar dengan milik seseorang. Entah apa yang terjadi, sepertinya paper bag miliknya tertukar dengan milik orang lain saat di bandara. Seingatnya ia sempat berpapasan dengan seseorang yang terburu-buru entah karena apa. Paper bag miliknya dan wanita itu terjatuh lalu si wanita secara acak mengambil paper bag yang memang berasal dari brand yang sama. Tahunya memang tertukar.
Sejujurnya Baekhyun sedikit bersyukur karena barang yang tertukar dengan miliknya ternyata berisi gaun juga dan ukuran tubuh keduanyapun sama persis. Tapi setelah melihat bagaimana potongan gaun itu, ia jadi ragu untuk ikut dalam pesta jamuan makan malam pembukaan resort yang akan berlangsung kurang dari setengah jam lagi. Gaun itu memang cantik dan terlihat begitu elegan meski tidak berlebihan. Berwarna hijau zamrud yang panjangnya hampir menyentuh permukaan lantai, meski begitu belahan kakinya cukup tinggi hingga mencapai setengah paha Baekhyun. Belum lagi punggung terbuka yang memamerkan punggung mulusnya. Chanyeol sudah pasti akan mengomelinya jika tahu itu. Beruntung sekali pria itu tidak ada di sini.
"Uh, sepertinya aku harus tetap hadir." Gumam Baekhyun.
Usai memakai higheels setinggi 10 cm miliknya, Baekhyun melenggang keluar menuju hallroom tempat pesta diadakan.
.
.
"Aku tidak tahu kalau kau mengenakan gaun secantik ini untuk datang ke pesta pembukaan nona Byun."
Tubuh Baekhyun tersentak saat seorang pria tiba-tiba bersuara tepat di sisinya. Belum lagi pria itu menempatkan tangannya di bahu Baekhyun lalu menjalar turun ke pinggang Baekhyun setelah sempat mengusap punggung telanjangnya dengan gerakan seduktif.
"Yah! Bagaimana jika ada yang melihat." Pekik Baekhyun tertahan.
Chanyeol, pria itu menatap Baekhyun dengan kilat nakal. "Jadi kau lebih suka jika tidak ada yang melihat um?"
"Yaish. Kau benar-benar mesum."
"Aku tidak mengatakan apapun."
"Uh, tapi kenapa kau bisa ada di sini?"
"Tentu saja untuk menjaga kekasih nakalku yang akan pergi berpesta dan mencari pria lain untuk dijadikan selingkuhan."
"Aku bukan kekasihmu Park."
"Oh, tapi kau selingkuhanku nona Byun."
Baekhyun memutar bola mata malas. "Kita akan terus berdiri di depan pintu seperti ini?"
"Tunggu sebentar." Pria itu melepas jas luarannya. Meletakkannya di bahu Baekhyun guna menutupi punggung Baekhyun. "Setidaknya ini lebih baik. Jadi, siap untuk berpesta?" Chanyeol mengulurkan lengannya dan disambut dengan tawa kecil Baekhyun yang kemudian melingkarkan lengannya ke lengan Chanyeol.
.
e)(o
.
"Aku tidak tahu kau seterkenal itu."
Chanyeol menggedikkan bahunya. "Bukankah dari dulu memang begitu?" Baekhyun berdecak sebal meski dalam hati mengakui hal itu.
"Bagaimana kau bisa sampai ke Jeju secepat ini?"
"Aku memesan tiket pesawat kemarin. Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan aku berangkat dari Seoul sore tadi."
"Kenapa tidak memberitahuku?"
"Surprise!"
"Yaish, menyebalkan."
"Tapi bukankah kau menemukan pria tampan di pesta itu?"
"Ya, ya bicaralah sesukamu."
Chanyeol menekan angka di lift. "Kamar nomor 61 lantai 4 bukan?"
"Dari mana kau tahu?" Baekhyun menatap Chanyeol takjub.
"Tentu saja. Dan itu rahasia. Kau tidak perlu tahu."
"Eiyy, menyebalkan sekali."
Chanyeol terkekeh. "Ah ya Baek, bagaimana jika kita mengunjungi kakekku? Eomma dan abeoji sedang berada di sana sekarang."
"Huh? Kau yakin?"
"Ya."
"Ya! Aku tidak membawa pakaian layak. Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya?"
"Um, surprise?" Baekhyun berdecak. "Jadi?"
"Wanita seperti apa yang kakekmu suka?"
"Huh?"
"Maksudku, bukankah aku harus telihat layak?"
"Baek, kau hanya akan berkunjung. Bukan menikahi kakekku."
"Ya!" Baekhyun terkikik geli. Ucapan Chanyeol ada benarnya.
"Tapi Baek, kalau kau bertanya wanita seperti apa yang kusuka, aku akan menjawabnya."
"Uh? Memangnya wanita seperti apa huh? Sepertiku?"
"Hum. Kau benar."
Chanyeol bergerak mendorong tubuh Baekhyun dengan cepat memasuki kamar hotelnya begitu si mungil berhasil membuka pintu. Chanyeol bahkan tak segan menutup pintu itu dengan kakinya. Pintu tertutup secara otomatis, meninggalkan sosok Baekhyun yang terhimpit di dinding tepat di depan pintu dan tubuh besar Chanyeol.
"Baek."
"Hum."
"Hanya ada kita berdua." Ucap Chanyeol dengan nada rendah, pria itu menatap Baekhyun intens.
"Lalu?"
"Kau tahu apa yang akan terjadi jika seorang wanita dan pria berada di dalam ruangan yang sama? Hanya berdua."
"Apa yang akan terjadi?" Baekhyun menatap Chanyeol dari bawah bulu matanya.
.
.
To Be Continue.
e)(o
[Interaction Corner]
Spoiler: Chapter depan bakalan penuh moment Chanbaek dan Chanyeol-Baekhyun bakalan LDR part 2.
Btw saya sebenarnya pengen sekali balas review kalian satu per satu tapi belum sempat. Nanti mungkin di chap akhir saya akan melakukannya. Terima kasih atas cinta kalian pada FF ini. Gak berasa sudah hampir 2 bulan FF ini tapi belum tamat juga wkwk udah 10 chapter. Adegan mana yang menjadi favorit kalian? Kalau saya pribadi pas di bandara sebelum Chanyeol ke London haha. Momen love bird Chanbaek.
Special thanks to chapter 10: Guests, Jeonharu, agnesnes, moonlight90921, yousee, loeybee61, KimDoYoon, cloudybite, fauziahagustina, danactebh, narsihamdan, reallovepcy, freshmyeon, Npn, hokage614, ssuhoshnet, loeybee6104, Pcy61, FreezingUnicorn180, hulas99, PiggY614, ay, kai'serigom, chogiwagirl, BaekHill, Kimmuth, MeAsCBHS, Bee Payol, Byuniebee, Asti272, Chanboobaek11, joruri, googirl, sindijulia, HyunRa05, veraparkhyun, rly, rizkaa.
Keberatan untuk meninggalkan jejak (lagi)?
Enjoy!
Sincerely,
Curloey Smurf
