gue sayang xiuhan shpr, jd sebisa mungkin gue fast update buat lo dan ninggalin semua tugas2 gue lmao.


-15th Day-

Minseok masih menenggelamkan wajahnya kebantal. Kedua tangannya menekap telinga dan berusaha untuk tidak perduli pada panggilan Luhan di luar sana. Semalam dirinya tidur di kamar ini dan meninggalkan Luhan di kamarnya sendirian. Luhan selalu bertanya apakah semua itu terjadi karena Sehun atau dirinya, apakah Minseok marah hanya karena dasi, dan Minseok tidak mau mendengar kata-kata Luhan yang lainnya, Ia selalu menolak setiap kali Luhan berusaha memberi penjelasan. Bukan karena Minseok tidak bisa memaafkan Luhan. Minseok tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.

Luhan sekarang pasti sedang mempermasalahkan semua barang-barang yang pernah Minseok beli dengan uangnya. Minseok menggantinya, meletakkan sejumlah uang di atas ranjang mereka bersama surat yang memberi tahukan kalau semua itu untuk mengganti apapun yang Minseok habiskan selama ini, begitu terperinci. Minseok tidak membawa barang apa-apa dari kamarnya, hanya beberapa lembar pakaian lama untuk bekalnya disini. Dirinya sama sekali tidak ingin menggunakan barang-barang yang di beli dengan uang Luhan lagi.

Luhan sangat bertenaga untuk orang yang baru saja pulang kerja. Ia menggedor-gedor pintu kamar tamu yang di tempati Minseok sekarang sambil berteriak-teriak memanggil-manggil Minseok. Tidak akan lama, selama ini Luhan hanya bisa bertahan beberapa menit. Tapi Minseok sudah tidak tahan mendengar suara Luhan, ia ingin pergi menjauh dari rumah.

Minseok berusaha mengambil dompetnya dan menyelipkannya di saku celana jeansnya lalu membuka Pintu. Luhan terdiam saat melihat Minseok berhadapan dengannya.

"Aku mau bicara."

"Aku mau pergi dulu." Minseok hanya menjawab dengan itu. Ia sangat berharap Luhan menarik lengannya dan tidak membiarkannya pergi, tapi Luhan tidak melakukannya. Luhan tidak seperti laki-laki di drama-drama yang berusaha mengejar cintanya. Ini semua karena Luhan belum benar-benar mencintai Minseok. Luhan selalu mempersalahkan Jongin dan melupakan kesalahannya sendiri. Dia tidak suka melihat Minseok berdekatan dengan Jongin sedangkan Luhan sudah beristri. Minseok ingin marah, ingin berteriak, tapi akhirnya yang bisa keluar dari bibirnya hanya isakan. Ia akan kehilangan Luhan, Minseok akan membiarkan Luhan kembali kepada istrinya..

Langkah demi langkah Minseok lalui tanpa tujuan yang jelas. Pada akhirnya Minseok terperangah karena ia berada tepat di depan café baru Jongin dan terpaku melihat Jongin yang berdiri memandangnya dengan tatapan heran di balik dinding kaca. Minseok mendekat perlahan-lahan, seharusnya ia tidak meninggalkan Jongin, seharusnya ia memilih Jongin dan tetap setia kepadanya apapun yang terjadi "Kau ada masalah dengan suamimu?!" Jongin berbisik.

Minseok mengangguk, entah mengapa air matanya tumpah begitu saja. Jongin tau kalau Minseok sedang bermasalah dengan Luhan? Jadi firasatnya benar dengan membawanya kepada Jongin. Minseok selalu menemui Jongin setiap kali ada masalah karena hanya Jongin tempat ternyaman untuk berbagi.

"Kalau begitu masuklah. Kita bicarakan didalam."

Minseok mengangguk lagi. Langkah demi langkahnya berjalan pelan mengikuti Jongin menuju lantai dua café-nya. Ada sebuah ruangan disana, seperti sebuah Apartemen yang lengkap dengan ruang tengah, ruang makan, kamar mandi dan kamar tidur. Disini Jongin tinggal. Minseok duduk di sofa ruang tengah setelah Jongin menyalakan televisi, acara komedi disana tidak cukup untuk membuat Minseok tertawa dan melupakan masalahnya, ia malah semakin sedih karena merasa aneh.

Minseok tau kalau acaranya sangat lucu dan menyenangkan, ia ingin tertawa tapi tidak bisa tertawa. Jongin datang kembali dan duduk di sampingnya lalu memberikan segelas teh hangat kepada Minseok. Minseok berusaha menghadirkan sebuah senyum dan menerimanya.

Ia meminum tehnya seteguk dan meletakkannya di atas meja. Jongin mengecilkan Volume televisi dengan remote lalu memandang Minseok dengan serius.

"Kalian bertengkar karena apa?"

"Kami tidak bertengkar. Aku yang menghindar, aku menyesal menikah dengannya dan meninggalkanmu."

"Aku senang mendengarmu mengatakan itu."

Minseok mematung, Jongin senang dengan itu? Masih memiliki perasaan itu? Minseok merasa semakin merasa bersalah. Luhan sudah membuat Minseok yang polos menjadi wanita paling jahat di dunia, Luhan sudah membuat Minseok berubah, sangat berubah dan anehnya Minseok menikmatinya. Luhan, laki-laki itu..., Minseok menunduk, Sebulir air mata jatuh di pipinya.

Jongin menyeka airmata di pipi Minseok dengan lembut lalu mereka bertatapan. Minseok tidak pernah seperti ini bersama Jongin. Tidak pernah dalam suasana yang romantis seperti sekarang, tidak pernah sekalipun setelah menjalin hubungan serius selama setahun. Selang beberapa menit Jongin mencium bibirnya. Minseok tidak membalas tapi Jongin terus nekat. Pada akhirnya Minseok membalasnya. Bukan salahnya, kan? Dia sedang membutuhkan itu sekarang. Minseok menikmatinya beberapa lama, tangan Jongin mulai meraba tubuhnya dan saat itu Minseok tersentak.

"Jangan, Jongin! Jangan…"

"Maaf!" Jongin melepaskan pelukannya dan Minseok segera menjauh darinya. "Maaf, Minseok! Aku hanya terbawa suasana!"

Kali ini Minseok menangis. Benar-benar menangis dan hanya terpaku di sudut sofa. Ia tidak mau mendengar apa-apa, hanya ingin melampiaskan semua perasaannya dan berharap tuntas saat itu juga.

Jongin sepertinya mengerti dan diam untuk beberapa lama. Minseok pada akhirnya tertidur karena merasa lelah. Menangisi sesuatu yang tidak jelas membuat kelelahannya berlipat-lipat.

.

.

-16th Day-

PAGI hari, Minseok terbangun setelah matahari yang menelisip melalui kisi-kisi jendela menyilaukan matanya. Wajahnya terasa panas karena cahaya alami siang. Ia membuka mata dan segera meraba tubuhnya.

Pakaiannya masih lengkap. Ia dan Jongin tidak melakukan apa-apa seperti yang di khawatirkannya. Minseok memandang berkeliling, Jongin tidak ada disana, bahkan ranjangnya sudah rapi dan bersih seperti tidak pernah tersentuh. Minseok bangkit dari sofa dan memandangi Jam di dinding. Sudah hampir siang, Jongin pasti sudah sibuk di cafenya.

Sekarang sudah saatnya Minseok pulang, jika tidak Halmeoni pasti merasa khawatir, Luhan pasti merasa khawatir. Entah mengapa ia memikirkan Luhan lagi, mungkin Minseok akan kembali kepada Luhan, akan kembali membina semuanya.

Langkah demi langkah yang sangat perlahan Minseok tapaki menuruni tangga dan melihat keadaan café yang sudah lumayan ramai. Jongin menarik tangannya dan Minseok menolak. Hal itu membuat Jongin berhenti bergerak dan memandangnya.

"Sarapan dulu!" Suara Jongin tersengar sangat lembut, sama seperti kata maafnya semalam.

Minseok menggeleng. "Aku harus pulang."

"Kalau begitu ku antar."

"Jongin!" Minseok berkata tegas dalam suara pelan, ia tidak ingin ada orang lain yang mendengar perkataan mereka. "Ini akan jadi terakhir kalinya aku menemuimu."

"Kenapa? Karena tadi malam? Aku sudah minta maaf, kan? Aku tidak pernah melakukannya selama ini dan tadi malam benar-benar di luar kendali. Minseok, aku mencinta…"

"Ya, aku tau kau mencintaiku.!" Minseok memotong. Tapi ia tidak akan pernah lagi berkata kalau dirinya mencintai Jongin, Minseok tidak merasakan cinta kepada Jongin lagi, sudah lama. Dan Jongin tidak akan menuntut Minseok mengatakan kalau Minseok mencintainya juga, Kan? "Apa yang bisa ku berikan kepadamu? Apa yang seharusnya ku berikan untukmu sudah ku serahkan kepada orang lain."

"Minseok, Kau…"

"Aku mencintai suamiku, Jongin. Dan aku sudah memastikan untuk menunggunya kembali dengan setia meskipun dia sedang tidak setia. Seharusnya aku tidak mengatakan kalimat itu, tidak pantas untukku! Aku yang sudah membuatnya menjadi orang yang tidak setia."

Jongin mengangguk mengerti. "Kalau begitu kau boleh datang lagi jika ada masalah."

"Tidak akan pernah." Desis Minseok. "Selamat tinggal."

Dan Minseok berusaha pergi secepat mungkin, kembali kerumahnya dengan segera. Tapi apa yang di dapatnya begitu keluar dari café? Sebuah tamparan mendarat di wajahnya membuat Minseok terpaku. Luhan menamparnya di depan orang banyak? Mungkin orang-orang di café keluar dan melihat kejadian ini. Mengapa ini harus terjadi di saat Minseok berfikir untuk memperbaiki semuanya?

"Kau, pantas untuk mendapatkan itu!" Luhan berbisik. "Kau disini semalaman? Aku menunggumu kembali kepadaku. Apa yang kau lakukan disana? Kau tidur dengannya? Kau masih mengatakan kalau kau adalah seorang istri? Masih merasa berhak untuk marah karena Kyungsoo? Kita sama saja Minseok! Sama!"

Minseok meledak lagi. Tangisnya kembali hadir dan dirinya benar-benar kesulitan menenangkan diri. Pada akhirnya Minseok bisa menahan getaran suaranya dan memandang mata Luhan dalam-dalam. "Aku berkhianat semalam. Jadi kembalilah kepada Istrimu, aku tidak seperti dia. Aku tidak bisa menunggumu yang tidak setia!"

Luhan mengertakkan giginya geram. Minseok pergi menginggalkannya. Minseok mengakuinya. Dia berkhianat semalam, itu katanya. Mata Luhan beralih kepada Jongin yang berdiri di depan café dan memandanginya.

Sebuah pukulan penuh emosi melayang, sekali, dua kali, bertubi-tubi dan Jongin tidak melawan. Semua orang berusaha melerai dan Luhan masih berupaya untuk menyerang. Pada akhirnya lima orang yang memeganginya bisa membuatnya merasa lebih tenang. Tapi Luhan masih menunjukkan emosinya dengan kata-kata.

"Aku tidak suka melihatmu mendekati istriku." Teriaknya. "Aku tidak membunuhmu waktu itu, tapi aku akan membunuhmu sekarang!"

"Aku tau kau membenciku. Tapi tamparan itu tidak pantas untuk Minseok. Kau tidak pernah menampar Kyungsoo setiap kali memergokinya bercinta denganku. Lalu kenapa tamparan itu kau berikan kepada Minseok yang tidak melakukan apa-apa?"

Luhan terpaku. Minseok tidak melakukan apa-apa, kata-kata itu terus menggema di kepalanya.

.

.

Minseok tidak keluar kamar, tidak berbicara, dan terus menghindar setiap kali Luhan berusaha membuka mulut. Luhan ingin meminta maaf tapi Minseok tidak pernah memberikannya kesempatan. Setiap kali Minseok bersama Halmeoni adalah kesempatannya. Tapi Begitu melihat Luhan, Minseok langsung beranjak pergi kembali ke kamarnya. Luhan merasa semakin bersalah, terlebih saat melihat perban yang menutupi bekas tamparannya. Minseok menutupinya dari Halmeoni, Minseok sedang berusaha menjaga perasaan wanita itu dan Luhan tidak bisa menghancurkannya begitu saja. Kali ini Luhan berusaha mendekati Minseok di meja makan, dia sedang makan siang dengan tidak berselera. Jika bukan karena Halmeoni mungkin Minseok tidak akan pernah menyentuh makanan sama sekali.

"Minseok," Luhan berujar pelan. Minseok memandangnya dan hampir berdiri pergi. Tapi Luhan berusaha menahannya dengan kata-kata. "Aku akan keluar kota sore ini!"

Hanya sesaat, begitu kata-kata Luhan selesai di ucapkan, Minseok kembali menjauh. Luhan menghela nafas berat dan memandang Halmeoniyang memperhatikan mereka. Halmeoni pasti merasa heran dengan kelakuan mereka beberapa hari ini.

"Kalian bertengkar lagi?"

Luhan mengangguk.

"Ya, masalah di antara kalian, aku tidak akan ikut campur. Tapi tepatilah janjimu untuk tidak menyakitinya. Sekarang susullah dia, Minseok perlu di bujuk. Dia anak pertama jadi sedikit labil dan keras kepala!"

Kata-kata Halmeoni menghadirkan kembali semangat Luhan. Setelah mengucapkan kata permisi Luhan menyusul Minseok kekamar tamu dimana Minseok bersembunyi selama ini, tapi Minseok tidak ada disana, pintu terbuka begitu saja. Minseok pergi lagi? Luhan merasa kalau kaki-kakinya melemah. Minseok sudah marah kepadanya karena Kyungsoo dan Luhan menambahnya dengan tamparan itu. Dia maklum jika Minseok tidak bisa memaafkannya begitu saja. Luhan kembali kekamarnya, ia harus berangkat sore ini juga dan mungkin baru akan kembali besok. Hari tanpa Minseok bertambah, Luhan hampir merasa kalau dirinya akan mati karena ini.

Begitu membuka pintu kamar, Luhan hampir terlonjak senang. Minseok ada disana, sedang menyiapkan pakaiannya dan melipatnya rapi. Minseok sedang menyiapkan keperluannya untuk berangkat keluar kota, dari mulai sabun mandi, sikat gigi, parfum, jam tangan, ikat pinggang, bahkan dasi merah hati.

Luhan terbelalak. Minseok menyiapkan dasi pemberian Kyungsoo bersama pakaiannya? Minseok ingin mengusirnya? Luhan mendekat secepat yang dia bisa lalu mengambil dasi itu dan membuangnya ke tong sampah.

"Aku tidak mau memakai ini!"

Minseok diam, tidak memandangnya, dengan cekatan ia memasukkan barang-barang milik Luhan kedalam tas. Luhan berusaha membantu tapi Minseok selalu menepis tangannya. Saat Luhan mengambil dasi pemberian Minseok di dalam lemari dan memasukkannya kedalam tas, Minseok bertindak seolah-olah dia tidak perduli. Minseok sudah mulai melunak, tapi dia masih membuat Luhan putus asa.

"Masih marah?" Tanya Luhan.

"Masih!" Wajah Minseok masih tidak memandangnya. Minseok masuk ke kamar mandi dan keluar membawa handuk baru. "Jangan pakai handuk Hotel. Pakai ini saja!"

"Aku akan kerumah ibuku. Ada acara keluarga. Seharusnya aku mengajakmu…"

"Ajak istrimu saja!" Potong Minseok masih dengan suara datarnya.

"Sampai kapan akan begini? Kau juga Istriku!"

"Aku yang kedua, aku tidak bisa menuntut banyak. Setelah ini kembalilah kerumahmu sehari atau dua hari. Dia sedang hamil besar dan pasti sangat membutuhkanmu!" Minseok menyelesaikan semua pekerjaannya dan berjalan ke pintu, tapi sebelum membuka pintu ia berhenti dan mengatakan sesuatu. "Kau perlu bekal? Atau makan di jalan saja?"

Luhan terpaku sejenak lalu tersenyum. "Kau akan menyiapkan bekal untukku?"

Minseok tidak menjawab. Ia berjalan kedapur dan Luhan mengikutinya. Wanita itu sibuk membuatkan sesuatu, sejam kemudian sekotak sandwich sudah rapi di bungkus dengan serbet berwarna hijau zamrud.

Minseok memberikannya kepada Luhan dan mengusahakan sebuah senyum, sangat berat. Luhan tau itu sangat sulit bagi Minseok, dia sedang tidak ingin tersenyum.

"Hati-hati di jalan. Aku menunggumu disini!"

To Be Continue


Gue salut sama lo yang gak nangis baca chap sebelumnya. dan coba ajungkan telunjuk lo, siapa yang gak nangis baca chap ini?