Bagian 1 "Aerial Negeri Cahaya, Negeri Kegelapan"
~ Chapter 09 ~
Cast :
VIXX N (GS) & Leo
VIXX Hongbin (GS)
B1A4 Jinyoung (GS)
SHINee Key (GS
DBSK U-Know
Super Junior Heechul (GS)
B1A4 Gongchan
Got7 Jackson
EXO Chen
~ AERIAL ~
Belum pulang juga! Ada apa, ya?
Ini sudah kedua kalinya Hongbin mengintip ke kamar kakaknya. Sudah lewat jam sebelas malam, dan Yeonie belum ada di dalam.
Perlahan, Hongbin menutup pintu kamar kakaknya, berjalan mengendap-endap kembali ke kamarnya yang terletak di ujung tangga Istana Putih, hanya beda ruangan dari kamar tidur Yeonie.
~ AERIAL ~
Pintu diketuk beberapa kali dan masuklah Madam Jinyoung—si guru piano sekaligus sahabat Nenek ketika beliau masih hidup—membawakan untaian kalung mutiara yang baru dibuatnya. "Untuk cucu-cucuku." Ia ikut duduk di tepi tempat tidur, mengecup kening Hongbin. Sejak Nenek meninggal, Madam Jinyoung berinisiatif menjadi pengganti beliau dengan turun tangan langsung membantu Ratu Key mengurus Yeonie dan Hongbin kecil sampai kini.
"Yeonie sudah tidur belum ya? Aku ingin berbincang-bincang sebentar dengannya—"
"Sudah Madam!" Hongbin memotong cepat. Tidak ada yang boleh tahu bahwa Yeonie tengah pergi. "Saya saja yang memberikannya pada Kakak."
Madam Jinyoung mengelus kepala Hongbin tapi tetap melangkah ke pintu. "Tidak usah sayang. Khusus untuk perhiasan, aku ingin memberikannya sendiri, terutama untuk Yeonie-ku yang terlalu banyak bermain-main dengan Jenderal U-Know..."
"Jangan! Kumohon…" Hongbin merasa sikapnya sangat konyol dan berlebihan. "A-Aku tidak berani tidur sendiri malam ini—tadi ada urla yang mengintip di jendela. Madam Jinyoung tahu kan bentuk mereka aneh-aneh."
"Tapi mereka sama sekali tidak berbahaya, Hongbin sayang." Madam Jinyoung kini memegang kenop pintu, bersiap keluar.
Hongbin semakin panik. Urla tidak berbahaya? Hongbin hampir saja mencibir. Madam Jinyoung sering kali mengeluhkan sifat Yeonie yang terlalu berani, padahal beliau sendiri tidak jauh berbeda.
"Aku ingin mendengar dongeng!" pinta Hongbin. "Dulu Nenek sering menceritakan berbagai legenda ajaib di Negeri Cahaya dan Kegelapan."
Raut muka Madam Jinyong langsung berubah. Hongbin menyadari permintaannya yang terkesan biasa akan menjadi sangat sensitif di mata wanita tua yang masih sangat rupawan ini. "Tidak bolehkah? Apakah Madam juga akan melarang saya menyebut kata 'Kegelapan'?"
Kali ini Madam Jinyoung benar-benar menjauh dari pintu dan duduk kembali di ranjang Hongbin. Ia tersenyum hangat, menggeleng dengan lembut. "Aku tidak melarangmu, Hongbin."
"Jadi Madam pun sebenarnya ingin semuanya bisa hidup damai? Berdampingan?" Hongbin bertanya blak-blakan.
Madam Jinyoung tidak menggeleng maupun mengangguk. Ia tetap diam dalam senyum yang sama.
"Sampai kapan ini akan terus terjadi? Dulu Nenek sangat menginginkan perdamaian itu. Sayang beliau sudah meninggal." Hongbin mencibir seperti anak kecil. Tapi sepuluh tahun baginya cukup besar untuk tidak dianggap "bayi" lagi. Dan dikiranya dengan memberitahu Yeonie, fakta bahwa Linc benar-benar masih ada, itu akan membuatnya terlihat tidak sekedar besar, tapi juga dewasa.
Tapi nyatanya Yeonie tetap saja menganggapnya anak kecil.
Dan Hongbin mulai kehabisan akal menyuguhkan pembuktian baru kepada kakaknya.
"Heechul adalah wanita yang sangat idealis, sama seperti kakakmu," air muka Madam Jinyoung terlihat sinis, "karena itulah ia pergi terlalu cepat."
Hongbin meringis seolah kata-kata wanita bergaya gipsi ini melukai telinganya yang mendengar. Sungguh ucapan yang pahit—bahkan Madam Jinyoung juga terdengar sama kesalnya, sama sedihnya, atas kematian Nenek dahulu.
Ya, Nenek bukan hanya meninggal, tapi mati—beliau dibunuh.
Dan yang lebih parah lagi, menurut desas-desus yang tidak pernah sampai dengan jelas di telinga Hongbin, pelaku pembunuhan keji itu berasal dari klan Kegelapan. Seorang pemuda ambisius yang menginginkan darah orang Cahaya agar dapat menjadi lebih kuat.
Namun ini adalah salah satu dari sekian kisah yang tidak boleh dibicarakan lagi di negeri Cahaya, di Castrum Niveus, selain legenda Aerial. Dan Hongbin yakin bukan hanya dirinya yang penasaran setangah mati, kakaknya juga—pasti kakaknya jauh lebih penasaran!
"Heechul yakin sekali Linc sang kudang terbang akan kembali ke negeri ini dan membantu kita mengalahkan bangsa laknat tersebut," kata Madam Jinyoung. Napasnya mendesah keras serta matanya berkilat penuh dendam.
Hongbin mengigit bibir. Mungkin bercerita pada Mada Jinyoung tentang Linc yang belakangan sering menghampirinya, bukanlah ide yang tepat.
Hongbin meraih kalung mutiara putih yang warnanya berpendar, kontras dengan nuansa kulitnya yang cokelat muda. Mutiara. Ia jadi teringat bros mutiara, hadiah dari Gongchan, si bungsu dari keluarga Minho, adik laki-laki Ken. Tidak berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya, Gongchan menaruh perhatian pada Hongbin, seperti Jackson dan Chen pada Yeonie. Tapi seperti kisah cinta Yeonie juga, cinta Gongchan bukanlah sesuatu yang ditanggapi Hongbin dengan serius. Melihat refleksi dirinya di cermin, Hongbin yakin sekali untuk hal beginian dia masih sangat, sangat muda. Terlalu dini.
Kisah cinta bisa menunggu. Tapi Linc tidak. Dan Hongbin tidak akan berlama-lama menunggu petunjuk, terutama dengan sikap Yeonie yang masih memandangnya sebelah mata. Ia akan mencari dan memanggil Linc seorang diri. Segera.
Masalahnya ia tidak tahu caranya bagaimana.
"Madam ingat kan kuda terbang putih yang dulu sering dibicarakan Nenek? Yang ada bintang emas di tengah-tengah dahinya? Katanya ia kuda terbang terakhir dan kita bisa memanggilnya lagi, bukan?" Hongbin menunjuk ruang di antara kedua alisnya.
"Itu hanya legenda. Mitologi."
"Iya sih. Tapi aku tidak pernah bosan mendengar ceritanya. Kalau tidak salah, Nenek tahu caranya. Madam tahu juga?" Hongbin tidak kenal lelah merajuk, membujuk. Ia belajar ini dari ahlinya, si Putri Yeonie tercinta.
"Hmm…" Madam Jinyoung mengingat-ingat, "Heechul memang pernah bercerita. Kalau tidak salah… letakkan setangkai mawar warna oranye di jendela dan—Oh! Ya, ya, aku baru ingat. Ada mantranya juga: Oo Aquilo, addo mihi solus uranicus creatura per rutilus astrum in suus frons. Wahai, angin utara, antarkan kepadaku makhluk terindah pemilik bintang emas satu-satunya."
Hongbin mencamkan kata-kata tersebut dengan wajah sangat serius, membuahkan kecurigaan baru dalam diri Madam Jinyoung. "Mengapa tiba-tiba kau tertarik pada legenda kuda terbang itu? Lagi pula nenekmu mengatakan bahwa kuda terbang tidak dapat dipanggil oleh sembarang orang—ia yang memilih orang tersebut."
~ AERIAL ~
Waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari. Sebentar lagi fajar menyingsing. Hongbin berdiri di tepi jendela kamarnya yang sangat lebar. Ia melirik ke bawah, para pengawal melakukan patroli, sehingga walau malam sudah kian larut suasana di sekitar Castrum Niveus tidak pernah sepi penjaga. Ia sempat ragu, dalam kondisi seramai ini—di ruang terbuka pula—kehadiran kuda terbang dari atas langit akan menarik perhatian banyak orang.
Kuda terbang tidak dapat dipanggil oleh sembarang orang—ia yang memilih orang tersebut.
Bukankah selama ini Linc yang mendatanginya? Berarti kuda terbang ini telah memilihnya, bukan?
"Tidak ada waktu untuk ragu." Hongbin memejamkan kedua matanya, berkonsentrasi dan menggumamkan mantra yang di ajarkan Madam Jinyoung, memanggil Aquilo—roh baik hati yang berwujud hembusan angin utara—untuk mengantar Linc kepadanya.
Untuk kali ini bukan Linc yang mengunjunginya dengan keinginan sendiri, tapi Hongbin yang memanggilnya, menunjukkan bahwa ia siap menjadi tuan baru bagi kuda terbang ini.
Setelah kata terakhir dari mantra selesai dilafalkan, angin tiba-tiba bertiup keras dari arah utara, membuat para penjaga di bawah ketakutan, mengira ada badai yang tiba-tiba menerjang. Mereka berlarian kelimpungan dan suasana istana berubah jadi sepi. Hanya derik ranting yang bergesekan dan sayup-sayup terdengar lolongan serigala dari negeri tetangga, yang membuat bulu kuduk Hongbin berdiri.
Sesaat ia takut dan ragu. Mendengar suara serigala mengingatkannya pada klan Kegelapan—makhluk itu adalah sahabat mereka!—serta objektif awalnya, yaitu mewujudkan perdamaian antara dua klan yang bertikai ini. Sebuah tugas yang rasanya hampir mustahil dilakukan. Tapi Hongbin yakin semua ini pada akhirnya, pada waktunya, memang harus berakhir.
Berakhir dengan baik.
Dan begitu determinasi kuat terformulasi di hatinya, Linc muncul di hadapan Hongbin dengan segala keanggunannya.
"Linc, kau benar-benar memenuhi panggilanku." Hongbin mendekat ke jendela, mengelus-elus kepala si kuda terbang, merasakan bulu lembutnya di tangan.
Lalu aura linc berubah. Ia melepaskan diri dari elusan Hongbin.
Tuanku Hongbin, aku telah mengetahui keinginanmu yang terdalam dan akan kubantu semampuku…
"Terima kasih, Linc. Aku akan berusaha sebaik mungkin."
Lalu Linc meneruskan: Dan aku hanya dapat membantu, Tuanku. Terwujud atau tidaknya, itu kembali pada tangan manusia—dan tentunya kau sendiri.
Hongbin mengangguk mengerti; mengerti bahwa itu adalah aturan mainnya—ia tidak perlu mengerti mengapa ia yang dipilih oleh Linc. Ia yang baru berusia sepuluh tahun dan tidak bisa berbuat apa-apa—setidaknya itu yang terefleksi dalam sikap Yeonie kepadanya.
Apa yang diharapkan makhluk sehebat dan sesakral Linc dari dirinya?
"Mengapa aku?" Saking rendah dirinya, suara Hingbin hanya berupa bisikan halus.
Karena hanya Tuanku yang dapat menyakinkan Putri Yeonie—dan Eripia—bahwa permusuhan ini harus segera berakhir, dan si penolong akan datang dari dunia lain.
Hongbin memalingkan wajahnya yang kini jadi sendu. Eripia berarti si penolong. Tapi ia tidak mengerti siapa Eripia yang dimaksud Linc. "Sungguh tugas yang berat, Linc. Andaikan Kakak mau mendengarkanku…"
Linc mendekatkan moncongnya, mengelus-eluskannya pada lengan Hongbin penuh dukungan. Engkau mampu, Tuanku Hongbin. Saat ini Putri Yeonie sedang memfokuskan dirinya untuk memikirkan kondisi bangsa Cahaya dan Kegelapan—bahkan ia tidak menyadari dirinya sedang mengupayakan perdamaian ini. Kekuatanku kini terbatas karena Llyr telah tiada. Sendiri, kami hanyalah setengah jiwa, tidak dapat menolong manusia sepenuhnya, maka itu engkau harus segera memanggil Eripia…
"Bagaimana caranya, Linc—? "
Blarrr!
Langit tiba-tiba menjadi terang oleh petir yang suaranya memekakkan telinga. Hongbin terkejut bukan main. Aneh sekali, karena saat ini sama sekali bukan musim penghujan.
Di depannya Linc bersiap mengepakkan sayapnya dan terbang pergi.
"T-Tunggu, Linc! Tunggu! Jangan pergi dulu!" Hongbin menubruk jendelanya, hampir saja melompat dari situ demi mencegah kepergian Linc.
Putri, kedatanganku telah diketahui oleh si Penyihir, orang yang tidak menghendaki perdamaian terwujud. Aku harus pergi.
"Penyihir? Siapa yang kau maksud, Linc? Lalu bagaimana aku bisa memanggil Eripia—si penolong dari dunia lain ini?"
Linc menggeleng, tidak tahu—atau tidak ingin mengatakannya.
Maaf, Tuanku. Hanya itu yang bisa kusampaikan. Yang jelas penyihir itu tidak bekerja sendiri.
Sekali lagi petir menyambar keras dan kali ini ke arah jendela menara istana, kearah Hongbin dan Linc. Sekejap mata, perisai elips muncul di situ, melindungi mereka. Percikan apinya membuat langit kelam di sekitar istana jadi terang seperti sedang berlangsung pesta kembang api.
Jangan takut, Tuanku. Aku akan selalu melindungimu.
Melihat ini, Hongbin yang masih melotot, takjub sekaligus takut, akhirnya menyadari betapa serius masalah yang sedang ia hadapi.
~To Be Continued~
