Chapter 11: Mysterious Man
"KUKURUYUUUK!"
Jack terbangun mendengar suara Lena. Dilihatnya jamnya. 15 menit lagi pukul enam. Biasanya dia bangun jam 5. Tapi, sekarang hampir pukul 6. Kalau saja dia tidak mendengar suara ayamnya itu, dia pasti sudah kesiangan.
Segera Jack turun dari tempat tidur dan mulai mempersiapkan diri untuk mulai bekerja hari ini. Tepat jam 6 dia sudah selesai sarapan. Setelah itu dia langsung keluar dan disambut oleh Brown yang sudah tidak sabar ingin memakan sarapannya. Begitu Jack menaruh makanannya di mangkok makanannya, anjing coklat itu langsung menyambar makanannya.
"Makannya pelan-pelan, Brown," pesan Jack.
Brown terlihat tidak mempedulikannya. Dia terus saja makan dengan lahapnya. Jack hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat hal itu. Dia kemudian berjalan menuju kandang ayam. Dengan semangat Jack membuka pintu kandang dan berseru, "Selamat pagi, Lena!"
Mungkin karena kaget, ayamnya itu malah melompat ke arahnya dan mematuknya secara bertubi-tubi. Jack hanya bisa mengaduh saja sampai Lena kembali tenang.
"Kenapa pagi-pagi begini aku sudah kena sial?" keluhnya.
Setelah memberi makan Lena, Jack segera keluar karena kelihatannya ayamnya itu masih marah padanya. Dia menutup pintu kandang dan menghela nafas lega.
"Ini parah sekali. Bagaimana cara aku bisa akrab dengan ayamku?" gumamnya bingung.
"Pagi, Jack." Terdengar suara Popuri.
Jack menoleh dan melihat Popuri dan Ann sedang berjalan menyeberangi jembatan.
"Oh, Pagi, Popuri, Ann," sapa Jack saat mereka berdua sudah tiba.
"Habis memberi makan ayammu, ya?" tebak Popuri.
"Begitulah," jawab Jack.
"Dan sekaligus habis dipatuk olehnya, ya?" tebak Ann. "Tadi kami mendengar suaramu. Makanya kami kemari untuk melihat keadaanmu."
Jack cuma nyengir malu mendengarnya. Sekeras itukah suaranya?
"Memangnya apa yang kau lakukan tadi sampai membuat ayammu itu marah?" tanya Ann.
"Kurasa aku membuatnya kaget tadi, makanya dia marah," jelas Jack. "Kalau begini bisa lama untuk akrab dengannya."
"Sebenarnya untuk bisa akrab dengan ayam itu mudah saja," kata Popuri. "Setidaknya setiap pagi kau mengelusnya. Tidak setiap hari juga tidak apa-apa. Itu hanya untuk menunjukkan kalau kau itu sayang padanya. Lama-lama dia akan akrab denganmu. Akan kutunjukkan padamu."
Popuri melangkah masuk ke kandang ayam. Dia berjongkok tidak jauh dari tempat Lena berdiri. "Kalau dia belum mau mendekat, panggil dengan cara halus. Jangan sampai membuatnya kaget atau merasa terancam," jelasnya.
Popuri mengulurkan tangannya dan memanggil Lena dengan nada lembut. Perlahan Lena mendekat sampai tangan Popuri berhasil meraihnya. Popuri kemudian mengelusnya dan dengan mudahnya dia mengangkat Lena ke dalam pelukannya. Jack memandang dengan kagum.
"Kalau soal ayam, Popuri memang hebat, ya," puji Ann.
"Sekarang kau mau mencobanya, Jack?" tanya Popuri. "Aku akan meletakkannya di tempat jauh dan kau coba memanggilnya seperti tadi."
Gadis berambut pink itu kembali meletakkan Lena di tempat yang agak jauh. Setelah itu, Jack mencoba cara yang diajarkan Popuri barusan. Dia berjongkok dan memanggil Lena dengan cara yang sama dengan Popuri. Perlahan Lena pun mendekat sampai tangan Jack bisa meraihnya. Jack perlahan menggerakkan tangannya untuk mencoba mengelusnya. Tanpa terlihat takut, ayamnya itu mau dielus oleh Jack. Jack tersenyum senang. Lalu, dia pun mengangkat Lena ke dalam pelukannya.
"Caramu bekerja dengan baik, Popuri," ucap Jack senang. "Terima kasih, ya."
"Sama-sama," sahut Popuri sambil tersenyum senang melihat keberhasilan Jack itu.
Ann juga tersenyum senang melihatnya.
Untuk pertama kalinya Jack akhirnya bisa akrab juga dengan ayam. Masalahnya waktu dia masih kecil juga dia tidak bisa akrab dengan ayam. Yang ada dianya yang dikejar sekoloni pasukan ayam.
"Ayam dari Mineral Town berbeda dengan ayam dari daerah lain," kata Popuri. "Mereka lebih mudah untuk didekati asalkan dengan cara yang benar. Ditambah lagi insting hewan akan bahaya itu lebih kuat dari manusia. Jadi, kalau kita punya maksud buruk terhadap mereka, mereka tidak akan mau mendekat bahkan menunjukkan diri saja tidak mau."
"Ya, aku pernah mendengar itu dari Kakek," kata Jack.
"Oh, satu hal lagi. Kalau cuacanya sedang cerah, keluarkan ternakmu saja. Mereka suka berada di luar saat cuaca cerah. Kalau sedang hujan, tentu saja harus memasukkan mereka kembali ke kandang," pesan Popuri.
"Benar, buat juga pagar agar ternakmu tidak dikejar anjing liar. Di sekitar sini kadang suka muncul anjing liar yang memangsa ternak," sambung Ann.
Jack termenung sejenak. "Anjing liar, ya. Aku belum pernah melihatnya juga, sih," gumamnya.
"Sudahlah, cepat buat pagarnya. Akan kubantu. Biar Popuri yang menjaga ayammu sampai pagarnya selesai," kata Ann.
"Ya, baiklah," sahut Jack. Dia kemudian menyerahkan Lena pada Popuri. "Tolong jaga sebentar, ya."
"Serahkan saja padaku," kata Popuri sambil menerima Lena.
Segera Jack dan Ann mulai mengambil kayu dari tempat penyimpanan kayu. Kemudian satu per satu kayunya disusun di ladangnya sehingga membentuk pagar pembatas yang tidak begitu luas karena ayamnya baru satu ekor. Setelah selesai, Popuri meletakkan Lena di balik pagar kandang luar yang baru selesai dibuat itu.
"Dengan begini, ayammu akan aman," kata Ann.
"Ya," sahut Jack.
Ann memperhatikan seluruh ladang milik Jack. "Kau belum menanam apa pun, ya?"
"Belum, masalahnya cangkul yang kuminta untuk Kakek Saibara perbaiki baru bisa diambil hari ini. Nanti kalau tokonya sudah buka, aku akan segera ke sana untuk mengambilnya," jawab Jack.
"Toko Kakek Saibara itu buka jam 10 baik libur atau tidak," kata Popuri.
Jack segera ke rumahnya dan melihat jam dindingnya dari jendela. "Oh, sudah jam 10. Berarti sudah buka," ucapnya.
"Sudah jam 10, ya. Kalau begitu aku pamit pulang. Aku harus membantu ayahku," kata Ann.
"Aku juga. Aku harus membantu ibuku," kata Popuri.
"Ya, terima kasih atas bantuannya," kata Jack.
"Kalau ada perlu lagi, bilang saja, ya. Sampai jumpa." Ann melangkah pergi.
"Dadaah." Popuri melambaikan tangannya dan berjalan menyusul Ann.
"Hati-hati di jalan, ya," seru Jack sambil melambaikan tangan pada mereka berdua.
Setelah mereka pergi, Jack mendengar Brown menggonggong dan kokokan Lena yang terdengar panik. Dia berbalik dan melihat Brown sedang menggonggong pada seekor anjing besar berbulu hitam yang ada di jembatan. Jack pun sadar kalau itu adalah anjing liar yang sempat Ann katakan tadi.
Jack segera mengeluarkan palunya dan berlari ke arah anjing liar itu. "PERGI! Hush! Hush!" usirnya sambil mengayun-ayunkan palunya.
Brown juga ikut mengejar sambil menggonggong. Anjing liar itu segera berlari kabur. Setelah melewati jembatan, Jack berhenti mengejarnya karena anjingnya sudah berlari jauh. Brown juga berhenti mengejarnya.
"Baru saja diceritakan. Sekarang sudah muncul," gumam Jack. "Kalau saja tidak ada Brown dan tidak ada pagar, mungkin Lena sudah dimakan olehnya. Kalau begitu...," dia menatap ke arah Brown, "Brown, jaga Lena kalau aku pergi, ya," pintanya pada anjingnya itu.
Brown menggonggong setuju.
"Jack!" Seseorang memanggilnya lagi dari belakangnya.
Jack berbalik dan melihat Harris berjalan mendekatinya. "Harris?"
"Maaf mengganggumu, Jack," kata Harris begitu tiba.
"Ada apa datang kemari?" tanya Jack karena melihat Harris berwajah serius.
"Begini, ada seseorang berpakaian lucu berwarna kuning dengan membawa sebuah tas berkeliaran di desa. Orang itu terlihat mencurigakan," jelas Harris. "Berhati-hatilah. Bila kau melihatnya, segera laporkan padaku. Temui aku di alun-alun nanti."
"Baik, akan kulaporkan bila melihatnya," sahut Jack dengan wajah agak bingung. Masalahnya baru kali ini ada orang mencurigakan berkeliaran di desa.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Segera laporkan bila melihatnya, ya," pamit Harris sambil berjalan pergi.
"Ya, hati-hati di jalan," ucap Jack.
Orang mencurigakan yang mengenakan pakaian lucu berwarna kuning dan membawa sebuah tas? Jack merasa belum pernah bertemu dengan orang seperti itu sebelumnya. Masa' bisa ada orang seperti itu di sini?
"Oh, sial." Seseorang menggerutu di belakang Jack. "Kenapa aku bisa datang di tempat seperti ini?"
Jack menengok dan melihat seorang pria berwajah oriental, berkumis tipis, rambutnya dikepang, memakai baju aneh yang terlihat lucu berwarna kuning serta membawa sebuah tas, datang dari arah pegunungan. Jack terbelalak karena ciri-ciri orang tersebut sama dengan yang disebutkan Harris tadi mengenai orang mencurigakan yang sedang berkeliaran.
Orang itu berjalan menghampiri Jack. "Kau pemilik tempat ini? Aku lelah. Aku mau beristirahat sebentar di sini. Boleh?" pintanya.
"Y, ya... Silahkan," jawab Jack terbata-bata.
"Terima kasih." Pria berkumis itu kemudian berjalan ke arah pohon apel dan duduk di bawah sana. "Tenang saja, aku tidak akan membuat masalah," sambungnya.
Jack memperhatikan pria itu. Penampilannya memang terlihat mencurigakan karena belum pernah ada orang berpenampilan seperti itu sebelumnya di sini, tapi kelihatannya dia bukan orang jahat.
"Sebaiknya kulaporkan saja," gumamnya. "Brown, jaga rumah sebentar, ya. Aku mau pergi dulu," pintanya, berlari pergi.
Brown menggonggong, mengiyakan perintah majikannya.
-x-x-
Jack berhenti berlari setibanya di pinggir Rose Square. Dia mencari Harris dan menemukannya sedang berdiri di depan bangku taman. Segera Jack menghampirinya. "Harris!" panggilnya.
Harris menoleh. "Oh, Jack."
"Anu, mengenai orang yang kau sebutkan tadi. Dia sekarang berada di kebunku. Orang itu memakai baju aneh berwarna kuning dan membawa sebuah tas," lapor Jack.
"Benarkah? Baiklah, aku segera ke sana." Harris pun berlari pergi meninggalkan Jack.
Jack menatap Harris dengan bingung. Sejak berkenalan dengan Harris, baru kali ini dia melihat polisi itu begitu serius. Kelihatan sekali kalau Harris itu begitu menyayangi desa ini.
"Wah, kita bertemu lagi!" Pria berbaju kuning itu muncul tepat di samping Jack yang hampir melompat karena kaget dengan kemunculannya yang tiba-tiba. "Sebenarnya aku ini sedang tersesat, tapi untungnya tempat ini aman. Apakah di sini ada polisi?"
"Ya, memang ada satu orang," jawab Jack sambil memaksa senyum.
Kalau orangnya di sini, berarti Harris tidak akan menemukannya di kebunku. Aku harus segera menemuinya, batin Jack.
"Anu... aku mau balik dulu ke kebunku. Sampai jumpa." Jack segera mengambil langkah seribu kembali ke kebunnya. Dia berlari sampai tidak sadar kalau Rick memperhatikannya.
"Jack kenapa?" gumam Rick bingung melihat Jack yang terburu-buru itu. Soalnya saat Jack ke alun-alun, dia juga melihatnya.
Sesampainya di kebun, Jack tidak menemukan Harris di mana pun. "Harris ke mana?" gumamnya sambil mencari-cari.
Orang yang dicarinya akhirnya ketemu, sedang berada di depan rumah Gotz. Tanpa menunda lagi, Jack segera ke sana. Dia menyeberangi jembatan dan langsung menuju rumah Gotz untuk menemui Harris.
"Aku sudah ke kebunmu, tapi dia sudah pergi," kata Harris.
"Saat kau pergi tadi, orangnya muncul di alun-alun," kata Jack.
"Apa? Sekarang dia di alun-alun? Baiklah, kali ini dia tidak akan lolos." Harris, dengan begitu antusias, kembali pergi untuk mengejar orang yang mencurigakan itu.
Akan tetapi, lagi-lagi pria berbaju kuning itu muncul saat polisi itu pergi. Jack sampai heran kenapa hal tersebut bisa terjadi sampai dua kali. Masa' dia harus pergi mengejar Harris lagi?
"Sial, aku tersesat lagi," umpat pria itu. Pria itu melihat Jack. "Oh, kita ketemu lagi. Kita sering ketemu, ya."
"Ya...," sahut Jack pelan.
Tidak disangka ternyata Harris balik lagi dan langsung memergoki pria berbaju kuning dan berkumis tipis itu. "Aha! Berbaju kuning dan sebuah tas. Akhirnya aku menemukanmu!" serunya.
Pria berbaju kuning itu jadi bingung. "Hah? Ada apa ini sebenarnya?"
-x-x-
"Aku tidak menemukan apa pun yang mencurigakan," kata Harris setelah memeriksa tas milik pria berbaju kuning itu yang sekarang sudah diketahui bernama Won yang datang dari tempat jauh. Diketahui juga kalau Won itu numpang tinggal di tempat Zack.
"Tentu saja. Aku ini pedagang," kata Won.
"Mungkin aku harus membeli sesuatu darimu sebagai tanda maaf," kata Harris.
"Kurasa itu bagus juga. Bagaimana kalau kusarankan ini." Won mengeluarkan sebuah apel dari tasnya. "SUGDW Apple! Cuma 500 G. Bagaimana?"
Semua mendadak hening sampai suara serangga pun tidak terdengar. Hanya suara hembusan angin yang terdengar. Won itu mau menjual atau memeras? Apel yang tidak beda jauh dari apel lain itu ditawarkan dengan harga semahal itu?
"Ada yang salah?" tanya Won bingung dengan keheningan yang terjadi.
"Mungkin sebaiknya kutangkap saja kau," umpat Harris yang sudah kehilangan minat untuk membeli dari pria berkepang itu.
Dan akhirnya penduduk Mineral Town bertambah satu orang lagi.
Welcome to My Fic! \(^O^)/
Wuiiih selesai...
Maaf, ya, baru update sekarang... m(_ _)m... Sudah 2 bulanan tidak update. Itu keterlambatan yang paling parah buatku.
Mengenai cara mendekati ayam yang dijelaskan Popuri di atas, sebaiknya tidak usah dipraktekkan karena dengan ayamku saja itu sama sekali tidak berhasil. Yang ada kabur semua. Mau datang cuma kalau waktunya makan.
Ok, seperti biasa aku ucapkan terima kasih untuk para pereview yang telah meninggalkan reviewnya: Blood Maniac Sparda, hm lovers, AlesaRemon, ichiyama qalbi-neechan, and
To BABY . HEART . PRIZIE: kalau fic di luar pairing game, kurasa aku pikir-pikir dulu, deh. Soalnya aku nulis fic paling sering tergantung mood dan kondisi jadwal kuliah yang kadang suka diubah-ubah.
Sekali lagi terima kasih telah membaca ^^.
~Princess Fantasia~
