Yosh, aku kembali, readers. Pertama kuucapkan terima kasih banyak buat semua yang udah meluangkan waktu untuk membaca fic abal ini. Terima kasih juga buat yang udah ripyu dan semua silent readers yang sudi mampir ke fic-ku. Okeh, langsung saja, aku mau bales ripyu dulu.
Scarlett Yukarin : Yuhu, gutten abend, yuka-chan…*padahal ngetik ini siang2*
Fiuh, syukurlah chap ini cukup memuaskanmu dan readers lain. Err, adegan bakar-bakaran itu terlalu horror, ya? Entahlah, ide itu muncul gitu aja. Hehehe. Tapi jujur, sampe sekarang, aku gak berani baca yang pas hime bakar mayat, pa lagi kalo udah malem. Hiieeyyy…
Ahaha, Ggi-Soifon di chap kemaren udah cukup, kan? Ggio emang usil banget,ya. Seneng banget ngeledekin Soi. Tapi image si harimau di mataku ya emang gitu.*Disabet pake Tiger Estoque*. Kita doakan saja semoga Ggio cepet sembuh.
Dan soal ulqui vs stark, masih belum kebayang bakal ada FIGHT-nya atau nggak. Nunggu ilham dulu. Soalnya ide lagi macet2 mulu, nieh. Semoga bukan tanda2 WB. Amien.
Yosh, makasih atas saran dan ripyunya…^^
Marianne der Marionettenspieler : Yeah, anne-san… Kau kembali meripyu secara langsung. Hohoho, tenang saja, aku cukup senang ditemenin Rinne-sama, kok,*senyum2 gaje*
Hohoho, kerja sama Starrk-Tia-Noi masih terus berlanjut. Err, strakk-san, boleh minta kue yang lagi kamu makan itu?*plakkk*
Aih, hime emang sedikit nekat di chap kemaren. Sampe gali kuburan Rangiku dan bakar mayatnya segala. Dia gak takut smaa burung hantu ataupun kalong dan codot. Kan dia udah bisa ngejinakin ulqui, secara ulqui rajanya kalong, codot, dkk. Iya, kan? XD*dibantai ulqui*
Err, ramuan buatanmu itu bikin aku bersimpati pada ulqui. Malang nian nasibmu, ulqui-kun..*ketawa setan, tp cuma dlm hati*. Ehehe, sudah cukup unikkah perseteruan antara grimm-ulqui kemaren? Sampe hampir lempar2an sofa segala. Wakakakak..
Nee, 'koi' ? Apa itu 'koi'? dan karena ada tambahan –ku dibelakangnya, itu menyatakan kepemilikan loh, anne-san.. khu khu khu..*smirked*
Wokeh, ramblinganmu bikin aku semangat. Makasih atas ripyunya. Dan semangat juga buat nuntasin requestmu yg bejibun itu…^^
Kazurin Ishihara : yoha, kazu-san…
Ah, maaf bikin kamu merinding. Bagian bakar2 itu jg bikin aku merinding kok. Ahaha, aku mau aja apdet lebih cepet. Tapi sayang, waktu buat ngetik mepet bgt. Hiks…
Yosh, mau apakah stark? Kita saksikan di chapter2 berikutnya,*plaakkk/korban iklan!*. Aiah, kazu jangan sewot, aku kan membantumu menjaga ulqui agar tidak disakiti.*nyengir gaje*. Iya, nieh. Ulqui nggak salah, stark-san. Lilynette mati (mati? emang aya? meninggal kale) bukan gara2 ulqui. BUKAN GARA2 ULQUI!*dibekep, dari tadi bikin ribut*
Wokeh, makasih atas ripyunya, ya…^^
Arisa-Yuki-Kyutsa : Waduh, risa-san juga masuk akuntansi, ya? Wah, semoga ketemu sama ggio, ya. Aku doain semoga kalian langgeng dan bahagia selalu…(loh kok?)*disengat tawon*
Nee, risa-san bae bener sama si kalong, mau ngelapin hidungnya. HIhihi.
Hmm, chap ini rada tenang, kok. Dan nggak ada fight-nya. Hhehe. Semoga terhibur, ya. Makasih atas ripyunya..^^
Yuzumi Haruka : yuhuuu, haru… Gpp kok telat. Aih, jangan garuk2 tembok. Kasihan temboknya nanti pada lecet. :-D
Ehehehe, ulqui-kun, kau itu protective nian. Haru kan cuma becanda. Dan…(ngeliat ripyu haru).. WHAT? KAU MAU MENYIKSA ULQUI? Yuk, aku juga mau ikutan… XD *gubraaakkkk*
Nee, makasih atas ripyunya. Semoga chap ini nggak terlalu buruk…^^
Galathea Dertov Leffertlark : Oh, yeah… ada gala-san..*senyum gaje*
Wah, dirimu ulang tahun? Selamet ulang tahun,ya.. Hadeh, pasti telat. Nggak etis banget. Gomenne, gala-san…*nunduk dalem2*
Hyah, sayang sekali. Padahal daku penasaran ttg sinetron itu. Yang maen sapa*gala-san sweat drop, dibilang udah lupa juga, masih aja nanya*. Well,ulqui emang perhatian nieh sama calon istri. Sampe nyusul ke kuburan segala. Eh, nggak nyusul ding. Kebetulan ketemu aja. Karena kalo nggak ketemu, dia bakal dicincang grimmjow. Hehehe.
Nee, gaya temenannya grimm-ulqui emang begitu. Aku cuma pengen masukkin unsur ringan, secara fic ini rasanya dark banget deh. Dan kegenitan Ggio itu *Ggio ngelempar death glare dibilang genit*, adalah salah satu caranya. Semoga nggak garing2 amat deh..
Err, tenang aja gala-san, sebisa mungkin nggak akan ada yang mati di chap ini. Tapi, err, nggak janji juga ding. Khe khe khe…
Yes, aku udah mampir ke ficmu. Hahaha, sudah kuduga kalo tesla ngejar2 soifon cuma mau ngasih undangan. Poor you, soi… Udah salah sangka aja. Hehehe..
Okeh, makasih atas ripyunya, gala-san…^^
dark-angel : Eh? ada ripyuer baru… Slama kenal angel-san… (kupanggil angel aja,ya. Dari pada kupanggil dark? XD)
Wahh, situasimu sangat tidak menguntungkan. Pas baca bagian bakar2an, malem2, hujan2 pula. Ah, itu sangat horror. Iya, benar, horror sekali.
Nee, makasih banyak atas ripyunya..^^
beside you : Gyahahahaha, duh, ripyumu bikin diriku nggak bisa berenti ketawa.
So, gimana? Sakit kan liat cara matinya ulqui? Siapa ya yang dulu ngeledekin dengan ngomong 'Idih, kartun aja ditangisin? Ulquiorra juga nggak nyata, cuma khayalan.' ? Hayoo… Dan sekarang, udah tahu kan rasanya? Karma tuh. Beruntung kau cuma 'hampir' nangis. Dari pada diriku sampe sesengukan. Huahahahaha…
Nee, kutunggu hadiah darimu besok. *smirked*
Ara, udah baca 'first december', toh? Ripyu,ya…*pleading eyes*
Yeah, welcome back buat hp yang abis direparasi itu. And, thank you very much for your ripyu…^^
Yak, sekian balesan ripyu dari para readers. Tanpa banyak cing-cong lagi, kupersembahkan chapter 11. Semoga tidak terlalu buruk di antara ideku yang lagi stuck. Happy reading, dan semoga terhibur, minna-san…^^
Disclaimer : Bleach bukan milikku… Karena itulah aku nggak akan ngaku-ngaku bahwa semua chara adalah milikku. Kecuali satu : Si Kalong Tampan * Tite Kubo-san bingung. Siapa Si Kalong Tampan?* XD
Rate : T
Pair : Ulquihime
Warning : AU, OOC, abal, gaje, typo(s) dan banyak keanehan yang akan ditemukan dalam fic ini.
A/N : This chapter is dedicated to 'My Ulquiorra'. It had been three years since you'd gone. But, I'm alright to be here, even without you. December 8th is not always bad for me since I do understand that you aren't going anywhere. So, you shouldn't worry about me anymore. From here, I'll always pray for you, so that you shall be okay as well…^^
.
.
.
Where Ever You Are
by
Relya Schiffer
.
.
.
Chapter 11
Tangan besar Ichigo menggenggam tangan pasiennya yang masih menggeram, namun tidak lagi mengeluarkan umpatan dan cacian. Dia berucap pelan. Lebih berbicara pada mata keemasan yang menatap mata coklatnya.
"Kau harus melawannya, Ggio! Kau tak boleh membiarkan keinginan itu mengambil alih dirimu. Kau harus menang!"
Tak ada sahutan selain raungan yang semakin keras. Ichigo melirik Rukia yang sudah bersiap dengan jarum suntik dan obat penenang di tangan.
"Kurangi dosisnya, Rukia," ucap pria muda itu tegas. Kemudian ia kembali menatap pemuda yang kini menggenggam erat tangannya hingga memerah, dan berkata lagi,
"Ggio Ishida, akan melawan ketergantungan ini dengan usahanya sendiri, dan sedikit bantuan dari kita."
Rukia mengangguk tanda mengerti. Detik berikutnya adalah sebuah kepastian yang sudah biasa terjadi di semua rumah sakit karantina bagi orang-orang yang mengalami ketergantungan terhadap zat-zat psiko-tropika. Semua rasa dikebaskan oleh cairan penenang sesuai dosis yang merangsek masuk melalui jarum kecil ke dalam pembuluh nadi.
Rumah itu memang tampak mewah dari luar. Sangat mencerminkan istana megah yang menjanjikan keindahan di dalamnya. Dengan garasi luas dan taman di muka rumah yang terawat, membuat siapa pun berkeinginan untuk bertandang―sekedar mengecap sedikit ketenangan yang memancar dari luar.
Adakah yang tahu, bahwa satu-satunya pemilik sah rumah itu bahkan ingin menukar keadaanya dengan kehidupan sederhana? Dia tidak butuh ketenangan palsu. Kedamaian yang menyelubungi wujud rumah itu pun hanya kedok, kamuflase. Hanya ada sepi di sana. Ya, sepi dan hampa.
"Tuan Muda, Anda sudah kembali?"
Mata emerald yang sedang terfokus pada langkahnya itu beralih, menatap seorang wanita berpakaian maid yang berdiri di lantai dasar rumah bertingkat itu.
"Apa ada yang Anda butuhkan, Tuan Muda Ulquiorra?" perempuan berkepang itu menunduk penuh hormat.
Ulquiorra orang yang dipanggil Tuan Muda itu, memutar sedikit tubuhnya. Ia―yang berada di tiga anak tangga pertama―menatap wanita berambut hitam itu datar.
"Tidak, aku tidak butuh apa-apa," sahut Ulquiorra. Wanita itu hendak bersuara lagi ketika Ulquiorra menyelak,"Dan bisakah tidak bersikap terlalu formal saat orang tuaku tidak ada? Aku tidak nyaman dengan sikap itu, Yadoumaru-san,"
"Lisa," wanita berkaca mata itu mengoreksi. Dia menunduk semakin dalam,"Lisa saja sudah cukup, Tuan―"
"Cukup Ulquiorra," kali ini si pemilik rumah yang mengoreksi. Pemuda berkulit pucat itu membalikkan tubuhnya, "Ulquiorra saja, Lisa-san," lanjutnya tegas, seraya mulai menaiki tangga menuju kamarnya.
Lisa Yadoumaru,satu dari tiga maid di rumah keluarga Schiffer itu masih menunduk hormat. Dia tak menyadari seorang seseorang yang muncul di belakangnya. Karena itulah, saat ia berbalik, perempuan berusia sekitar 25 tahun itu tersentak.
"Szayel Apporo-sama!" serunya kaget.
Pemuda berambut merah muda terang itu tersenyum. Ia membetulkan letak kaca matanya seraya menarik kesimpulan sepihak.
"Sepertinya Tuan Muda kita sedang tidak dalam mood yang baik, ya"
Sementara itu, Ulquiorra telah sampai di kamarnya. Sejenak ia terpaku di ambang pintu, menatap ruangan besar yang dilengkapi berbagai furniture modern itu. Ruangan berinterior klasik yang selalu menyimpan rapi semua kata-katanya yang tak terucap di dinding-dinding yang mengelilinginya. Pelan, pemuda itu menghela nafas panjang. Dia menghempaskan diri di ranjang yang mengisi bagian tengah ruangan, tanpa melepaskan sepatu serta jaketnya. Pikiran pemuda itu melayang ke beberapa saat yang lalu.
Banyak yang terjadi hari ini. Ulquiorra bahkan belum menceritakan perihal kaburnya Orihime pada Grimmjow, ia bahkan belum tahu ke mana Orihime pergi selama gadis itu menghilang tanpa jejak. Yang ia tahu, ia telah cukup bersyukur bisa menemukan adik kesayangan sahabatnya itu dan membawanya pulang. Tak peduli dengan seluruh tubuh pemilik mata kelabu itu yang memaparkan banyak goresan. Juga mengabaikan fakta bahwa pakaian perempuan berambut senja itu banyak dinodai warna khas tanah merah―kecoklatan.
Pergi ke mana Orihime sebenarnya?
Dan sebelum Ulquiorra menemukan jaaban atas pertanyaan itu, 'dia' muncul. Ya, orang itu. Tatapan tajamnya tak pernah bisa terlupakan. Sorotan dinginnya membawa dendam. Ulquiorra tersentak hebat. Mimpinya tentang Lilynette memperjelas semua hal yang berkaitan dengan masa lalunya. Pemuda bertinggi 169 cm itu bahkan harus menempuh sisa jarak ke rumah dengan kecepatan rendah―antara 20-40 km/jam. Bukan hanya karena efek shock, tapi juga karena penyakit sial yang kambuh tiba-tiba. Akan sangat beresiko ketika ia tetap menyetir mobil dengan kecepatan biasa di saat kepalanya berkunang-kunang.
Pemikiran Ulquiorra terhenti ketika pintu kamarnya terbuka tanpa diketuk. Para maid tak mungkin berani melakukan hal itu. Dan jika bukan maid, maka berarti…
"Kau tak pernah mengunci pintu rupanya, Tuan Muda,"
Suara itu…
"Ah, kau sudah sampai batas, ya? Sehingga harus berbaring pasrah seperti itu,"
Kacamata, tubuh langsing, rambut pink, senyum lebar. Hanya ada satu nama : Szayel Apporo Granz.
"Kau rupanya, Szayel," imbuh Ulquiorra datar. Dia kembali memalingkan wajahnya setelah sempat menoleh ke arah pintu.
Orang yang baru masuk itu, Syazel, tertawa pelan.
"Kau tidak sopan, cuek begitu terhadapku, Ulquiorra," dia memberikan cengiran tipis pada sosok yang masih berbaring di tempat tidur, "Terlebih aku ini dokter pribadimu merangkap sepupumu sekaligus."
"Jangan banyak bicara, cepat lakukan tugasmu!" tegas Ulquiorra, sedikit keras. Kenapa di saat dia ingin sendirian, keadaan seperti tak memperbolehkannya? Selalu saja ada pengganggu.
"Hei, aku datang membawa kehidupanmu," Szayel protes dengan cengiran jenaka di wajahnya.
"Ya, ya, ya, terserah apa katamu,"
Senyum Szayel sedikit meredup. Dia duduk di pinggir tempat tidur, membuka tasnya dan mengeluarkan kotak berwarna putih―ukurannya tidak begitu besar. Sebuah kapas basah diambilnya dari botol bening di kotak itu, yang begitu tutupnya terbuka langsung mengeluarkan bau tajam khas alkohol ke penjuru ruangan. Pemuda itu mengoleskan potongan kapas―yang telah dibentuk bola kecil― ke lengan pucat Ulquiorra. Tangannya yang lain memegang sebuah jarum suntik berisi cairan bening agak kehijauan.
"Aku heran karena kau tidak datang hari ini, Ulquiorra," Szayel mematahkan keheningan yang merambat dengan memulai obrolan. Jarum injeksi mulai menembus kulit pucat yang telah disterilkan. Tak ada jengitan atau reaksi apapun dari si pemilik kulit yang mengindikasikan adanya rasa sakit.
Yah, kegiatan ini sudah biasa baginya. Sejak divonis menderita kelainan fungsi organ pankreas, kegiatan inilah yang menjadi jalan keluar agar pemuda tampan itu bisa terus hidup. Organ penkreasnya bukan lagi sulit menghasilkan suatu zat bernama insulin, tapi sudah tidak bisa. Ya, sudah tidak berfungsi sejak Ulquiorra masih kecil, sehingga menyebabkan ia harus bergantung pada suntikan insulin seumur hidup.
"Kau harus mencoba ini sendiri," kata Szayel pelan, "jadi kau bisa menyelamatkan hidupmu seandainya kau berhalangan ke tempatku dan aku berhalangan mengunjungimu."
"Aku sibuk, Syazel," sahut Ulquiorra, "aku tidak datang karena harus menolong temanku."
Syazel mencabut jarum yang telah melakukan 'tugas mulia' hari ini. Mata ambernya menatap sepupunya dengan pandangan meneliti.
"Tapi hidupmu butuh diperjuangkan, Tuan Muda,"
"Aku mulai bosan,"
"Hanya seminggu sekali, dan kau merasa bosan?"
"Ya, kau benar, seminggu sekali," mata hijau Ulquiorra kini menatap balik Szayel,"tapi seumur hidup. Jika terlambat, hidungku tak mau berhenti mengeluarkan darah dan pandanganku gelap." tambahnya sadis.
"Bisa lebih parah dari sekedar mimisan, kau tahu?" Szayel membereskan peralatannya,"Dan kau harus siap dengan segala kemungkinan itu jika sudah berani mengabaikan waktu penyuntikan. Termasuk mengahadapi kematian."
"Aku merasa seperti sedang diinseminasi,"
Tanpa diduga, Szayel tertawa keras. Ia paham bahwa sepupunya ini pendiam, tertutup dan stoic. Tapi ada kalanya ucapan pemuda ini bisa mengundang gelak tawa.
"Kau menjadikan penyakitmu sebagai lelucon, Ulquiorra,"
Ulquiorra tak menyahut. Akhirnya ia bisa merasakan pegal pada bagian tangannya yang disuntik. Diam adalah pertanda bahwa ia sedang tak mau diganggu. Szayel pun memberikan privasi itu. Pemuda berusia 25 tahun itu beranjak, namun tidak ke luar.
Dia hanya melangkah menuju meja besar di sudut ruangan. Terhampar begitu banyak foto di bawah kaca yang melapisi bagian atas meja itu. Syazel mengamatinya satu per satu. Dia cukup mengenal beberapa wajah yang sering muncul di sana : Grimmjow, Neliel, Soifon, Ggio, dan juga adiknya Grimmjow, Orihime. Lalu ada Nnoitra―sekalipun bermusuhan, tapi ternyata Ulquiorra masih mengenang si pecandu narkoba itu sebagai teman.
Kalau Nnoitra saja masih diingat, itu berarti…
"Aku bertemu dengan Starrk-san di jalan,"
Suara Ulquiorra terdengar bersamaan dengan Szayel menemukan sebuah foto yang letaknya di sudut kiri atas meja. Foto seorang pemuda berambut hitam dan anak kecil berambut hijau terang―Ulquiorra dan Lilynette Gingerback.
"Tadi aku melihatnya,"
Pelan, berusaha sebisa mungkin agar tidak didengar, Syazel mendesah. Dia membalikkan badan, bersandar pada meja. Ulquiorra telah berada dalam posisi duduk dan menundukkan kepala.
"Menurutmu, apa dia masih belum puas atas keputusan pengadilan?"
Pertanyaan itu seperti pertanyaan anak kecil. Ya, anak kecil yang ketahuan merebut mainan temannya dan tidak dihukum. Penuh rasa bersalah.
"Kurasa, hidupmu belakangan ini agak berat."
"Begitulah."
"Well, tapi aku yakin kau mampu melewatinya."
Syazel bersedekap, mengawasaki gerak-gerik sepupunya dengan sesama. Kalau-kalau ia menangkap sinyal putus asa dari sosok pucat itu. Tapi tidak ada. Sama sekali tidak ada. Hanya tampak kejenuhan dan lelah.
"Kalau kau merasa terancam, kau bisa menyewa body guard,"
Saran itu langsung mendapat death glare super tajam. Lagi―jika tatapan bisa membunuh, Szayel pasti sudah mati.
"Kau mau aku ditertawakan Grimmjow?"
Szayel cekikikan kecil. Ia memang sengaja memberikan saran yang 'tidak normal', hanya ingin tahu respon dari Ulquiorra. Rupanya, tetap 'bagus'.
"Aku tahu soal Ggio. Dokter yang menangani Ggio, dia temanku di fakultas kedokteran dulu. Dan dia mengenalimu saat kau datang ke Las Noches."
Las Noches. Tempat itu mengingatkan Ulquiorra pada satu hal, yang langsung bertransformasi menjadi seraut wajah. Tak butuh waktu lama hingga menggaungkan sebuah nama : Nnoitra Jiruga.
"Kau tidak mengunjungi Ggio hari ini?" tanya Szayel.
Fokus Ulquiorra yang sedang memikirkan tentang Nnoitra menjadi buyar. Pemuda tampan itu mengangkat wajahnya dan mendapati sosok sepupunya itu sedang merambah rak buku di sudut ruangan.
"Aku ingin ke sana, tapi yang lain belum mengabariku," jawab Ulquiorra.
"Ah, benar, kau butuh istirahat,"
"Ucapkan kata-kata lain selain istirahat, Szayel,"
Szayel menoleh, lalu kembali memamerkan cengirannya," Itu memang pekerjaan orang sakit, kan?" ejeknya.
Kali ini Ulquiorra tak menyahut. Ponsel hitam di atas meja yang berada tepat di samping tempat tidurnya bergetar, pertanda ada pesan masuk. Tangan pucat pemuda itu pun terulur, meraih ponselnya.
Benar, ada pesan masuk. Dari Grimmjow. Kening Ulquiorra sedikit berkerut saat membaca sebaris tulisan yang dikirim si rambut biru itu.
Hai, manis. Nel dan Soifon mau ke Las Noches. Kau mau ikut, sayangku?
Manis? Sayangku? Apa-apaan ini? Racun apa yang telah ditenggak Grimmjow sampai dia menjadi tidak beres begini?
"Pesan dari temanmu, ya?" tebak Szayel, "Apa katanya?" ia bertanya seraya beralih dari rak buku.
Ulquiorra tak langsung menjawab. Ia berdiri dan melangkah menuju pintu, menyisakan Szayel yang terpaku heran dengan sikapnya.
"Hei, Ulqui? Kau mau ke mana?"
"Aku mau ke rumah Grimmjow," jawab Ulquiorra
"Lagi?" cecar Szayel
Dan sebelum bayangannya lenyap di balik pintu, pemilik mata emerald itu menambahkan penjelasannya dengan sebuah kalimat singkat.
"Kurasa dia sudah mulai gila,"
Pemuda berambut pink cerah dan bermata amber itu pun hanya tertawa.
BRAK!
Meja di ruang tamu rumah Grimmjow bergeser ketika pemuda berambut biru itu mendorong Ulquiorra ke tembok dan menguncinya di sana, denganmencekal kerah sahabatnya itu. Tatapannya menyipit―ekspresi kesal―lantaran Ulquiorra tetap bersikap datar atas reaksinya.
"Kau itu! Otakmu di mana, hah? Kau pikir sampai kapan kau bisa memendam masalahmu sendirian? Kalau kau ingin menyelesaikan semuanya sendiri, lalu kau anggap kami ini apa? Jawab, Ulquiorra!"
Neliel dan Soifon terdiam melihat perlakuan Grimmjow. Sementara Ulquiorra masih bertampang stoic, seolah tak terjadi apa-apa. Padahal ia baru saja diintrogasi, perihal ada apa sebenarnya antara dia dan Tia Hallibel. Rupanya Soifon telah menyampaikan pesan perempuan berambut kuning itu yang melibatkan dirinya.
Dan karena Ulquiorra hanya mengatakan 'Tidak ada apa-apa, Grimmjow. Itu semua tidak ada hubungannya denganku.', Grimmjow pun naik pitam. Ia menganggap Ulquiorra berdalih dan menyembunyikan 'sesuatu' dari mereka―para sahabatnya.
"Lepaskan aku," ucap Ulquiorra datar.
Grimmjow tak bergeming.
"Lepaskan aku, Grimmjow Ichimaru!" Ulquiorra mengulangi kata-katanya, kali ini dengan nada memerintah.
Geraman sengit terdengar dari pemuda bertinggi 185 cm itu. Tapi kemudian dia melepaskan cekalannya. Sorot mata biru itu belum berubah, tetap tajam.
Ulquiorra pun merapikan kerah bajunya yang agak kusut. Dia berdiri tegak―dengan tangan di saku tentu saja―dan menatap ketiga sahabatnya datar.
"Aku tidak tahu maksud Tia dengan melibatkan namaku. Dan aku sendiri tidak mengerti kenapa kalian begitu mudah termakan kata-katanya."
Grimmjow yang masih cukup kesal hendak menyahut, tapi Soifon telah mendahuluinya.
"Dosa masa lalu,"
Ganti―kini semua mata tak lagi tertuju pada Ulquiorra, tetapi pada gadis berkepang yang baru saja bersuara.
"Kau menyembunyikan sesuatu dari kami, Ulquiorra." Soifon menarik kesimpulan. Dan tanpa melepaskan tatapanya dari permata hijau itu, ia kembali bersuara, "Kami hanya tidak ingin terjadi apa-apa padamu, mengertilah…"
Ulquiorra menghela nafas pelan, sangat pelan. Ia memejamkan mata sejenak dan membukanya kembali.
"Kalian sahabatku. Kalian telah mengenalku sejak kita masih di bangku SMA. Adakah yang aku sembunyikan dari kalian?"
Tak ada sahutan. Penjelasan itu masuk akal. Ya, mereka memang telah saling mengenal. Selama ini Ulquiorra memang baik-baik saja. Dia tampak baik-baik saja. Tapi satu hal yang pasti― pemilik mata emerald itu pandai menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Dan fakta itu tak bisa diacuhkan.
Terlebih, Grimmjow mengenal perangai Tia. Meskipun psikopat, tapi mantan kekasihnya itu tidak pernah membual tanpa alasan. Jadi, pasti ucapannya tentang Ulquiorra memiliki alasan yang kuat.
"Masih tidak percaya juga," imbuh Ulquiorra, seperti mampu membaca pemikiran para sahabatnya.
Tiba-tiba saja Neliel teringat sesuatu. Dia agak ragu untuk mengangkat topik 'itu' ke permukaan. Tapi rasanya ini sudah tidak bisa dibiarkan. Ancaman Tia tak pernah kosong. Dan jika wanita cantik itu sampai melibatkan Ulquiorra, berarti ia mengetahui sesuatu tentang pemuda tampan itu.
"Lalu, bagaimana dengan ucapannya waktu dia mengatakan bahwa―" mata hazel perempuan itu menatap sahabatnya yang ebrambut hitam dengan serius,"―bukan dia yang akan memberikan hukuman padamu,"
Poker face ULquiorra tetap bertahan. Sekalipun tak bisa dipungkiri ia cukup terkejut karena Neliel masih mengingat kata-kata itu dengan baik, namun pemuda berkulit pucat itu sebisa mungkin bersikap biasa―tenang dan datar.
"Tak ada apa-apa, Neliel,"
Ulquiorra hendak beralih ketika Grimmjow mendorongnya lagi ke tembok dan memaksa pemuda itu menatap teman-temannya.
"Kau tidak bisa lari dari kami, Schiffer!" desis Grimmjow. Jujur saja, dia benar-benar kesal dengan sikap Ulquiorra yang seperti itu. Apa sosok stoic ini berpikir semuanya akan baik-baik saja dengan saling menutupi? Apa alasannya? Demi perlindungan? Ayolah, bukan begini caranya melindungi.
Ulquiorra membalas tatapan tajam Grimmjow dengan sorot mata dingin. Wajahnya mulai serius menanggapi ekspresi kesal pemuda berambut biru itu.
"Aku tidak lari dari siapapun, Jeagerjaques!"
Neliel dan Soifon cukup terkejut mendengar ucapan kedua pemuda tampan ini. Mereka memang bersahabat. Dan persahabatan mereka terjalin dengan cara yang unik. Namun, bukanlah sinyal yang baik ketika keduanya telah saling memanggil dengan nama keluarga. Terlebih saat Grimmjow memanggil Ulquiorra dengan 'Schiffer' dan Ulquiorra memanggil Grimmjow dengan 'Jeagerjques'. Ya, Jeagerjaques, bukan lagi Ichimaru. Hal ini mengindikasikan bahwa situasi di antara mereka mulai panas.
Neliel akhirnya memilih untuk menjadi penengah. Dipisahkannya kedua pemuda yang masih saling melemparkan death glare itu. Ia mendorong Grimmjow pelan. Dan seperti mengerti niat Nel, Soifon langsung menarik lengan Grimmjow dan menggenggamnya erat.
"It's okay, Grimm. Just calm down," ujar perempuan berambut biru itu dengan suara pelan. Grimmjow tak menyahut.
Nel sendiri menggenggam kedua bahu Ulquiorra. Dia menatapnya dalam, berusaha membuat Ulquiorra sadar bahwa yang menyorot dari sepasang matanya adalah kepedulian―bukan penasaran.
"Apa ada orang yang dendam padamu, Ulquiorra?" tanya Nel lembut, sangat berhati-hati.
Tepat ketika kata 'dendam' dapat dicerna seluruh syaraf di otaknya, Ulquiorra merasa ada yang terlengkapi. Sebuah potongan puzzle misteri―satu dari sekian banyak hal yang belakangan ini mengganggu pemikirannya―terasa mulai jelas.
Oh, jadi begitu rupanya. Benar, pasti begitu.
Kemunculan Starrk yang tiba-tiba―bahkan hampir bisa dibilang bersamaan dengan kemunculan Tia―adalah fakta yang memperjelas semua ini. Entah bagaimana caranya, Ulquiorra yakin kedua orang itu berkaitan. Tepat sekali. Di saat Grimmjow dan Neliel terganggu oleh kehadiran Tia, Ulquiorra disingkirkan dari mereka―agar tidak bisa memberikan bantuan dalam wujud apapun―dengan menghadirkan Starrk. Lalu untuk menyingkirkan Soifon…
Sepasang mata Ulquiorra sedikit melebar saat satu lagi kealpaan berhasil disadarinya. Tak bisa dipercaya. Jadi, ini semua telah direncanakan?
Tentu saja, cara termudah untuk mengalihkan perhatian Soifon adalah Ggio. Dan karena yang 'mengurus' Ggio adalah Nnoitra, besar kemungkinan laki-laki jangkung itu juga berhubungan dengan Tia dan Starrk.
Obsesi Tia, kepahitan Starrk dan sakit hati Nnoitra, semuanya berubah menjadi dendam yang tertuju pada sekelompok orang. Dua kubu bertentangan―dengan salah satunya yang berusaha untuk menghancurkan. Begitu mudahnya takdir mempermainkan kehidupan manusia.
"Ulquiorra,"
Panggilan itu menghentikan aktivitas Ulquiorra yang sedang menganalisa. Dia menatap Nel yang sedang menatapnya cemas. Perlahan ia menghela nafas dan memegang pergelangan tangan Nel yang bertengger dibahunya.
"Aku baik-baik saja, Nel,"tegasnya. Kali ini dia menatap Grimmjow. Tanpa mengubah ekspresi datar di wajah pucatnya itu, Ulquiorra mengucapkan sebuah kalimat pendek yang mampu membuat Grimmjow terbelalak.
"Aku bertemu dengan Starrk-san…"
.
.
.
Seorang gadis remaja berusia sekitar 15 tahun berdiri di depan sebuah makam. Gadis berambut pirang dan dikuncir itu menatap gundukan dihadapannya dalam diam. Poni yang menutupi sebagan dahinya tersibak angin. Gadis ini berpenampilan tomboy, dengan kaus putih yang dilapisi jaket merah. Dia juga memakai celana merah selutut dan get.Sebuah pedang kayu tersandang di punggungnya dengan posisi melintang.
Sejenak sosok bertubuh sekitar 133 cm itu memejamkan mata―berdoa. Setelah mengucapkan pengharapannya dalam hati, ia membungkuk―meletakkan seikat bunga lili putih di depan papan kayu yang menjadi nisan dari pemilik makam.
"Aku pulang dulu, Lily-chan," ucapnya pelan.
Remaja bertubuh pendek itu membalikkan badan, hendak berlalu. Namun gerakannya terhenti saat ia menyadari sosok seorang pria berambut coklat sedang berdiri di belakangnya. Menatapnya dengan senyum tipis. Sebuah nama pun terlontar dari bibir gadis kecil itu.
"Starrk-nii?"
Soifon memandangi sosok datar yang duduk dihadapannya dengan tatapan tak percaya. Penjelasan panjang yang akurat baru saja ia dengar. Sebuah analisa berdasarkan bukti dan fakta. Kesimpulannya? Tentu saja penjelasan itu masak akal dan tepat. Terbuat dari apa otak orang ini?, pikir Soifon. Kenapa dia mudah sekali menafsirkan kondisi pelik dalam sebuah deskripsi yang mudah dimengerti?
"Itu baru tebakanku saja. Tapi rasanya, jika semua kejadian yang menimpa kita belakangan ini adalah sebuah kebetulan, itu tidak masuk akal,"
Ulquiorra menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan,menjadi penutup dari penjelasan panjangnya.
"Jadi menurutmu, ketiga orang itu… bekerja sama?" Neliel membuka suara.
"Begitulah," imbuh Ulquiorra sambil berdiri. Dia melangkah masuk ke bagian dalam rumah. Grimmjow tampak sedikit aneh. Dia tidak seperti Soifon yang jelas-jelas terpukau dengan kejeniusan Ulquiorra. Ada hal lain yang mengganggu pemikiran pemuda itu. Dan Nel menyadarinya.
"Grimm," panggil perempuan cantik berambut hijau toska itu.
Grimmjow menoleh, "Dia menyebut nama Lilynette, Nel," terdengar kekhawatiran dalam nada bicara pemilik mata biru cerah itu.
Nel mengangguk ragu. Soifon ikut menoleh, menatap kedua sahabatnya yang sedang berpandangan itu.
"Lilynette… anak berambut hijau itu―" perempuan berkepang itu bicara dengan nada rendah.
"―kenangan buruk Ulquiorra," tambah Nel.
"Jika benar Starrk kembali, berarti Ulquiorra dalam bahaya,"
Mendengar kalimat yang diucapkan Soifon, Grimmjow langsung berdiri dan menyusul Ulquiorra. Dia menemukan sahabatnya itu baru saja menuang air dingin yang diambilnya dari lemari es ke dalam gelas. Menyadari kehadiran serta tatapan Grimmjow, Ulquiorra pun mengangkat wajah.
"Apa?" tanya pemuda itu singkat.
"Tidak." Grimmjow duduk mengisi salah satu kursi yang mengelilingi meja makan. Ditatapnya sosok pucat yang sedang mengandaskan isi gelasnya itu. "Ulquiorra,"panggil Grimmjow.
Tanpa menyahut, Ulquiorra mengarahkan permata hijaunya pada permata biru sahabatnya.
"Kau tidak apa-apa? Soal Lily―"
"Aku baik-baik saja, Grimm," Ulquiorra menyelak kata-kata Grimmmjow. Dia meletakkan gelasnya di meja dan kembali terfokus pada si rambut biru itu, "Jangan khawatir!"
Diminta terang-terangan seperti itu, GRimmjow justru merasa sebaliknya. Pemuda bertubuh tegap itu menghela nafas berat.
"Beritahu aku jika sesuatu terjadi padamu, Ulquiorra, " pintanya, "aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu. Dan kurasa yang lain juga begitu."
Tak ada sahutan. Ulquiorra hanya memberi anggukan kecil, lantas berlenggang menuju ruang tamu. Perangai cuek dan terkesan tak peduli ini membuat Grimmjow harus lebih bisa mengendalikan emosinya yang meledak-ledak. Karena jika tidak―terlebih dalam kondisi seperti sekarang―akan mudah baginya dan Ulquiorra kembali salah paham yang berujung pada pertengkaran.
Sosok pucat itu kembali menarik perhatian Nel dan Soifon ketika muncul dengan tampang datar andalannya. Tanpa mempedulikan ekspresi khawatir yang memancar dari mata kedua perempuan itu, Ulquiorra bersuara.
"Sebaiknya kita ke Las Noches saja sekarang,"
Neliel menatap Grimmjow yang mengekor di belakang Ulquiorra, meminta kepastian. Apa pembicaraan mereka hanya sampai di sini? Namun ketika melihat kekasihnya itu hanya mengangkat bahu, Nel tahu bahwa 'obrolan' penting telah diselesaikan.
"Ya, kupikir juga sebaiknya begitu," Neliel akhirnya memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan. Ia tahu―dan mengerti benar―bahwa sejarah tentang sosok bocah kecil bernama Lilynette Gingerback selalu menjadi hal sensitiv bagi Ulquiorra. Dia, Grimmjow, dan Soifon hadir di persidangan waktu itu. Dan mereka menjadi saksi bagaimana Ulquiorra tampak begitu menyesal ketika hakim membebaskannya dari segala tuduhan. Terlebih―saat itu―satu-satunya keluarga Lilynette tak segan-segan menunjukkan permusuhan.
Ulquiorra terluka, Nel tahu itu. Grimmjow dan Soifon pun tahu.
"Aku mau memberitahu Orihime dulu," ucap Grimmjow.
Bahkan nama Orihime pun tak mampu memberikan emosi di wajah datar itu. Nel menggigit bibir bawahnya. Getir. Rupanya efek dari mengungkit nama Lilynette masih begitu besar terhadap Ulquiorra.
Sementara yang lain telah melangkah menuju Escudo hitam di pelataran rumah, Grimmjow menuju kamar adiknya. Ia mengetuk pintu tiga kali dan membuka daun pintu berwarna coklat muda itu. Didapatinya Orihime sedang duduk di dekat jendela, melipat kertas origami. Dua kuntum bunga mawar kertas hasil lipatan teronggok di dekatnya.
"Orihime," panggil Grimmjow.
Yang dipanggil pun menoleh. Ia menghentikan aktivitasnya dan tersenyum pada Grimmjow yang tengahberjalan mendekat.
"Kenapa kamu tidak mau ke luar kamar? Padahal Ulquiorra, Nel dan Soifon datang," sambil berbicara, Grimmjow membelai rambut senja adiknya penuh sayang.
"Ulquiorra-kun?" ulang Orihime pelan.
Grimmjow mengangguk," Iya, tapi kami sudah mau pergi lagi." ia tersenyum mendengar adiknya itu hanya mengulang nama Ulquiorra. "Kamu tidak apa-apa kutinggal sebentar di rumah?"
"Grimm-nii mau ke mana?" tanya Orihime. Mata kelabunya membulat sempurna. Memancarkan kepolosan.
"Mau menjenguk Ggio," jawab Grimmjow,"dan aku janji hanya sebentar. Bagaimana?"
Orihime tak menjawab. Dia meraih satu hasil karyanya―mawar kertas berwarna merah muda―dan memberikannya pada Grimmjow, membuat kakaknya itu mengerutkan kening tak mengerti.
"Tolong, berikan pada Ulquiorra-kun, Grimm-nii. Ucapkan terima kasihku padanya."
Senyum lebar langsung muncul di wajah Grimmjow. Rasanya ia ingin tertawa terbahak-bahak, tapi akal sehatnya hanya membiarkan pemuda bermata sapphire itu memeluk Orihime dan mengecup kening gadis manis itu sejenak. Ditatapnya mata kelabu Orihime seraya menerima origami kertas itu.
"Aku pergi dulu, Hime-chan. Bisa kupastikan bunga ini akan sampai ke tangan Ulquiorra,"
Senyuman manis kini terlukis di wajah Orihime, membuat Grimmjow merasa sangat senang. Ya,dia benar-benar senang. Tak ada yang bisa melebihi kebahagiaannya sekarang ini―mengetahui bahwa adiknya telah bisa diajak berkomunikasi. Dan lagi, sepertinya, 'usaha kecil' kekasih Neliel itu telah membuahkan hasil.
Ketika akhirnya Grimmjow telah duduk di kursi kosong di samping Ulquiorra, Nel dan Soifon yang duduk di kursi tengah langsung memberondongnya dengan pertanyaan seputar Orihime. Pemuda berambut biru itu tak langsung menjawab. Dia justru menyeringai aneh sambil menyodorkan sebentuk mawar kertas berwarna merah muda pada Ulquiorra.
Dan saat sahabatnya itu mengerutkan kening tak mengerti, Grimmjow hanya berucap singkat.
"Untukmu, dari Hime-chan,"
Ya, hanya ucapan singkat. Namun ucapan singkat itu mampu menjadi penyebab Nel dan Soifon berseru-seru riuh rendah. Tidaklah aneh jika kemudian―di sepanjang jalan menuju Las Noches, Ulquiorra menjadi satu-satunya korban yang dicecar dengan berbagai macam ledekan, bukan?
Saat sebuah ice cream cone tersodor ke arahnya, remaja perempuan berambut pirang itu tersenyum. Dia menatap laki=laki berambut coklat yang baru saja memberikan es krim. Mata hijau cerahnya berbinar ramah.
"Arigatou, Starrk-nii," ucapnya seraya menerima es krim.
Laki-laki itu, Starrk, mengangguk dan duduk di sebelah anak perempuan itu. Saat ini mereka sedang berada di sebuah taman, tak jauh dari lokasi pemakaman.
"Apa kabar, Hiyori?" tanya Starrk membuka obrolan.
"Baik. Starrk-nii sendiri? Kapan kembali dari Venesia?" remaja perempuan bernama Hiyori itu balik bertanya.
"Baru beberapa hari yang lalu,"
"Bersama Tia-nee?"
"Ya, bersama Tia,"
Hiyori mengangguk tanda paham. Ia menjilati es krim di tangannya yang akan segera mencair jika tidak cepat di makan.
"Kakakmu, Shinji, sekarang bekerja di mana?" untuk kedua kalinya Starrk memecahkan keheningan.
"Di Las Noches. Tadinya dia bekerja di rumah sakit Ishida. Tapi kemudian berhenti dan pindah ke Las Noches. Aku tidak tahu alasannya," Hiyori bercerita.
"Sekolahmu?"
"Semuanya baik-baik saja," sejenak Hiyori melirik Starrk,"kecuali dirimu sendiri,Starrk-nii,"
Starrk mengalihkan tatapannya dari cecaran mata hijau Hiyori. Anak ini memang masih berusia 15 tahun. Tapi cara berpikirnya jauh lebih dewasa dari usianya. Dia juga teman yang baik bagi Lilynette. Setidaknya mampu menjadi sosok kakak perempuan bagi bocah berambut hijau terang itu semasa hidupnya.
"Aku pikir, sejak Lily meninggal, Starrk-nii dan Tia-nee tidak akan kembali ke Jepang," kali ini Hiyori yang bicara lebih dulu.
"Tia ada urusan, begitu pun denganku. Mungkin setelah urusan kami selesai, kami akan kembali ke Venesia,"
Sedikit berbohong. Sebenarnya Starrk tak punya tujuan khusus ketika Tia mengajaknya ke Jepang. Dia hanya ingin berkunjung ke makam Lilynette. Namun tujuan itu berubah ketika Tia mengenalkannya pada Nnoitra Jiruga. Lalu seperti domino―secara beruntun ia kembali mendengar nama yang selama ini dihindarinya.
Nama yang membuatnya sampai harus menerima ajakan Tia untuk ke Venesia setelah tragedi itu terjadi. Dia ingin menghindarinya agar permasalahan ini tidak semakin panjang. Tapi entah kenapa, saat Nniotra menyebut nama itu―Schiffer―ada sesuatu di dalam dirinya yang mendadak terasa mendidih.
Dan di sinilah Starrk berada. Terlibat permainan Tia serta Nnoitra.
"Sudah tiga tahun berlalu. Besok adalah hari kematian Lily," suara Hiyori membuat Starrk kembali pada kenyataan,"apa Starrk-nii punya rencana?"
Wajah Starrk mengeras. Matanya terarah lurus, tanpa objek yang jelas. Tapi ketajaman tatapan itu tak bisa luput dari perhatian seorang Hiyori Hirako.
"Ya, aku punya rencana,"
"Semoga bukan rencana yang membuat Lily sedih,"
Hening. Desiran angin membuat gemerisik dedaunan terdengar jelas. Setetes cairan dari es krim Hiyori yang meleleh jatuh ke tanah.
"Aku tahu, Starrk-nii pasti masih marah pada kakak tampan yang kulitnya pucat itu. Matamu tidak bisa bohong. Tapi satu hal yang harus kau tahu, Lily sangat menyayanginya."
Pembicaraan itu bukan seperti pembicaraan antara remaja berusia 15 tahun dan pria berusia 28 tahun. Tapi begitulah mereka. Hiyori memang dewasa. Bahkan lebih dewasa dari kakaknya yang masih sering bertingkah childish sekalipun telah berusia 22 tahun.
"Ya, dia menyayanginya. Sangat menyayanginya," Starrk menyahut kaku.
"Pikirkan semua akibat sebelum bertindak, Starrk-nii. Marah yang berkepanjangan itu tidak baik. Kurasa, kakak pucat itu juga merasa kehilangan. Apalagi Lily sering menganggapnya sebagai calon suami. Aku yakin, dia pasti juga sedih."
Sekali lagi, hening kembali turun ke bumi.
"Tingkat kesedihan seseorang berbeda dengan orang lain, meskipun apa yang hilang dari mereka adalah hal yang sama. Kadang kita berpikir bahwa kesedihan kitalah yang paling menyakitkan. Padahal sebenarnya kita tidak tahu apa yang dirasakan orang lain karena kita bukan mereka."
Hiyori menoleh, menatap Starrk yang masih tak juga menatapnya.
"Aku percaya padamu, Starrk-nii,"
Starrk terdiam. Kata-kata Hiyori terasa sangat mudah meresap ke dalam hatinya. Ucapan anak perempuan itu, seolah menjadi jawaban atas kegundahan yang tengah dirasakannya. Kata-kata itu terasa menariknya ke luar dari zona abu-abu―keraguan.
"Nee, aku harus pergi,"
Akhirnya setelah sekian lama memalingkan wajah, Starrk menatap anak perempuan di sebelahnya. Hiyori telah berdiri di depan Starrk dengan senyum manis andalannya.
"Kau mau ke mana?"
"Aku harus berlatih kendo. Kenpachi-sensei tidak akan senang kalau aku terlambat."
Mata kelabu Starrk terarah pada pedang kayu di punggung Hyori. Jadi itu alasannya kenapa anak ini membawa-bawa pedang kayu.
"Baiklah, hati-hati, Hiyori. Sampaikan salamku pada Shinji," ucap pria berambut coklat itu.
Hiyori mengangguk senang. Ekspresi ceria, binar mata serta senyuman lebarnya benar-benar mirip Lilynette. Membuat Starrk harus mengatupkan rahannya erat-erat dengan tangan yang terkepal kuat.
"Sayonara, Starrk-nii," Hiyori membungkuk dengan sopan. Dia melambaikan tangan sebentar, kemudian berlalu. Masih dengan menikmati sisa es krim vanilla di tangannya.
Starrk terdiam di tempat. Dia masih menatap sosok itu hingga benar-benar menghilang dari pandangan. Entah kenapa, pertemuannya dengan Hiyori membuat ia kembali memikirkan ulang semua rencana yang telah disusun untuknya. Ya, untuknya. Karena rencana 'itu' sebagian besar adalah ide Nnoitra.
Mana yang sebenarnya lebih menyesakkan? Menjadi pihak yang meninggalkan―atau menjadi pihak yang ditinggalkan?
"Kau mau ke mana?"
"Las Noches,"
"Menjenguk, eh? Tumben sekali,"
"Jika tidak tahu apa-apa, jangan bicara sembarangan, Noitra Jiruga,"
Noitra yang sedang tiduran santai di atas permadani terkekeh. Ancaman itu bukan masalah baginya. Toh mereka masih berada dalam satu 'aliansi'.
"Jadi?"
"Mereka ada di sana,"
"Eh? Jadi kau mau menarik simpati Grimmjow dengan pura-pura menjadi malaikat? Menjenguk Ggio? Oh, itu menyentuh sekali, Tia,"
Tia tak mempedulikan ejekan Nnoitra. Dia tetap bersiap-siap, sibuk sendiri dengan segala kepentingannya.
"Starrk belum kembali?" tanya Tia tiba-tiba.
"Belum," sahut Nnoitra pendek seraya menjilati serbuk putih di telapak tangannya.
Tia menatap sejenak ke arah pria jangkung itu, kemudian berpaling lagi. Dia meraih tasnya dan kunci mobil yang tergeletak di atas meja.
"Aku pergi, Nnoitra. Jangan lakukan apapun yang merugikan kita selama kau bersembunyi di sini,"
Hanya terdengar sahutan tak jelas dari sosok yang sedang menikmati 'hasil karya'-nya itu. Tia tampak tak peduli. Suara hak sepatunya yang mengetuk lantai terdengar menjauh ketika dia ke luar dari apartemennya itu.
Dia punya rencana sendiri.
.
.
.
Las Noches, pukul 13.00.
Neliel, Grimmjow, Soifon dan Ulquiorra menatap layar CCTV di ruangan dokter Kurosaki, dokter berambut orange yang menangani Ichigo. Awalnya mereka ingin masuk ke dalam ruangan rehabilitasi Ggio. Tapi rupanya ketergantungan pemuda berkepang itu baru saja kambuh, sehingga mereka dilarang untuk masuk. Mereka berempat hanya bisa melihat dari luar, sekalipun mereka sangat ingin bertemu langsung dengan Ggio.
"Ada dua kabar mengenai Ggio terhadap kalian," Ichigo membuka suara, membuat semua mata terarah padanya.
"Apa itu, Dokter?" tanya Grimmjow.
"Kondisi Ggio menunjukkan kemajuan yang cukup besar, apalagi setelah Anda berkunjung kemarin, Soifon-san," jelas Ichigo sambil menatap berkas berisi status Ggio.
Neliel tersenyum penuh arti, menyikut Soifon yang balas menyikutnya. Sementara Grimmjow dan Ulquiorra tetap mendengarkan penjelasan dokter di hadapan mereka.
"Dan ada sedikit kabar yang tidak begitu baik," mata coklat musim gugur Ichigo berpendar aneh. Dia mengeluarkan kertas dari map lain dan menunjukkan pada keempat sahabat pasiennya itu.
"Liver?" desis Grimmjow setelah meperhatikan kertas berisi status dan kondisi Ggio itu. Dia menatap Ichigo serius, "Apa maksudnya ini?" tuntutnya meminta penjelasan.
"Seperti yang tertulis di sana, saya menemukan pembengkakan pada organ liver Ggio. Mungkin ini akibat dari penggunaan narkotika yang dikonsumsinya. Tapi―"
"Masih bisa sembuh, kan?" Soifon menyelak penjelasan Ichigo dengan nada menuntut. Ditatapnya dokter muda itu tanpa berkedip sedikit pun.
Tak ada sahutan. Kepanikan merajai Soifon hingga perempuan berkepang itu memajukan tubuhnya, menatap sosok dokter dihadapannya dengan penuh harap. Entah kenapa sebersit ketakutan terasa melanda, seolah semua kondisi yang tidak baik ini akan menjadi semakin memburuk.
"Ggio―masih bisa sembuh,kan… Dokter Kurosaki?"
.
.
.
#TBC#
Hualah selesai juga. Aih, rasanya chap ini kurang maksimal, ya? Entahlah, apakah ini tanda2 WB? Biasanya cuma butuh sehari atau dua hari buat bikin satu chapter. Tapi chapter ini, butuh empat hari lebih. Nggak tahu ini cuma perasaanku aja, atau chapter ini nggak lebih baik dari yang kemaren, ya? Hadeehhh…
Huft, nggak terasa udah sampe di penghujung tahun… Udah bulan Desember…
Okelah, gommenne kalo chap ini nggak sesuai harapan. Nee, tapi aku tetap menerima cacian, saran dan kritik dari readers semua.
So, mind to ripyu, minna-san?^^
