Disclaimer:

Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

Pairing: UKNES

Rating: Mungkin M ?

Genre : Drama/Friendship/Romance

Warning:OOC mendewa,ABAL,ABSURD,ANEH,OOT(OUT OF TOPIC),TYPO BANYAK, mungkin akan membuat kehidupan anda menjadi absurd se absurd absurdnya sang author kaga jelas, romace pasti gak kerasa meresap menjiwai, drama yang begitu banyak, persahabatan yang memuakan. Jika anda membaca ini hargailah penulis jika tidak menghargai penulis anda jangan membaca cerita penulis yang aneh dan ga jelas. Ini adalah cerita sebuah permainan Date or Ditch2. Perhatian, jangan membaca sesuai umur you know that!This's rated M orang yang masih di bawah umur tidak boleh membacanya jika anda membacanya sungguh itu dosa kalian mungkin saja penulis menuliskan hal-hal yang mature.

Keterangan :

'Kalimat dalam hati'

"Kalimat langsung"

Happy Reading!~

Mengenang chapter yang lalu….

"Jangan berbuat macam-macam" kataku, padahal degupan jantungku semakin kian berdetak kencang, Arthur yang tidak memperdulikan ucapanku itu lalu kembali mengecup bibirku lagi dan lagi, lalu ia menggigit perlahan bibir bawahku "Bolehkah" tanyanya lagi kepadaku tetapi aku tidak menjawabnya lalu aku hanya sedikit membuka mulutku, yah benar perlakuannya yang lembut itu membuatku ketagian ingin lagi, begitu aku membuka mulut, Arthur kembali mengecupku perlahan, mengesap bibir bagian atasku kemudian pada bagian bawah, lama kelamaan lidahnya mulai bermain di bibirku lalu masuk ke dalam mulut bermain-main dengan lidahku yang pasif, lidahnya mengabsen setiap gigiku, decapan terdengar jelas dikupingku "Eeekkkkmm !" itu pasti suara sang supir, kemudian Arthur melepaskan ciumannya yang membuatkku menarik nafas, nafasku terengah-engah karenanya "Ki-ta hen-tikan sa-ja" ujarku yang masih terengah sembari memegang bahu Arthur

"Kita tunda Nesia" bisiknya tepat di telinga kiriku

.

.

Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

Netherland

.

.

"Oke,babak ke enam akan segera mulai! Semuanya harap bersiap ditempat masing-masing!" ujar Elisa "Camera ready? Light ready? Okey rolling action!"

Normal POV

Pada hari pesta pernikahan Willem, pesta dansa tradisonal pun digelar, suara musik yang khas, suasana yang dingin namun menyenangkan, banyak lampu-lampu kecil malam sebagai hiasan penerangan pesta outdoor ini, sekaligus sebagai ajang sosial untuk lebih erat dalam hubungan internasional, bisnis, ekonomi, dan sosial.

Willem dan pasangannya yaitu Maxima menari-nari dengan indah di dalam lingkaran para tamu yang ikut berdansa, lingkaran itu berputar, berpindah, kadang berbentuk seperti bunga yang mekar karena gaun yang dikenakan tamu perempuan mengembang dengan indahnya saat berputar, lalu sesekali para tamu perempuan yang berdansa itu diangkat ke atas oleh para tamu lelaki, berdansa tradional dengan alur musik yang ketukannya kadang cepat, kadang juga lambat. Salah satu dari para tamu yang berdansa itu ialah sahabat Willem dan rekan internasionalnya tidak lain Nesia dan Arthur, mereka berdansa berpasangan, berdansa secara teratur mengikuti ketukan musik itu, mereka memiliki aura yang berbeda dari para tamu yang menari melingkari Willem dan Maxima, mereka saling menatap dengan lembut, saling menautkan dan percaya pada pasangannya untuk berdansa dengan baik, kadang-kadang pasangan pria, Arthur iseng mengecup kuping sebelum musik itu benar-benar berhenti, kadang mereka saling berkomunikasi sehingga terlihatlah senyuman yang terukir pada wajah Nesia

Setelah tarian tradisional telah usai, Arthur Kirkland membawa Nesia pergi dari pesta malam yang diadakan Willem, Arthur telah menyewa sebuah mobil untuk mengantarkan kemanapun tujuan yang Arthur inginkan.

"Where we going sir?" ujar sang supir yang telah menghentikan aksi ketidak sopanan Arthur Kirkland terhadap Nesia a.k.a Kirana Kusnapharani melakukan itu di luar

Arthur Kirkland yang menghentikan aksi ketidak sopanan itu berbisik di telinga Nesia "Do you wanna having fun or are you hungry?" bisikan Arthur dengan suara berat yang khas Britania itu membuat Nesia sedikit gugup, apalagi Nesia tengah malu sehabis Arthur melakukan aksi ketidak sopanannya yang kepergok sang supir

"Im hungry Arthur" Nesia berujar dengan volume suaranya yang kecil namun terdengar oleh Arthur

"Well, first let go to De Librije Restaurant"[1] ujar Arthur kepada sang supir

"I will take you to Amsterdam train" ujar sang supir

"Where is that place Arthur?" ujar Nesia penasaran

"Broerenkerkplein, Zwolle, my dear" Arthur mengusap perlahan pipi kanan Nesia lalu kembari berkata "You must be like it"

"Aku tahu di sana masakan Prancis, Belgia, Belanda"ujar Nesia yang akan membuka penutup mata Arthur

"Busted—Nesia please" Arthur memegang tangan Nesia yang akan membuka penutup mata itu

"Aku tidak suka dengan penutup mata ini, rasanya tidak nyaman" ujar Nesia menggunakan bahasa negaranya

"As your wish" Arthur membuka penutup mata itu lalu menyimpannya kembali ke dalam saku jasnya yang dipakai Nesia

Nesia membuka matanya dan mengerjapkan matanya yang terasa lelah itu

"Are you okey?" Arthur yang mengetahui Nesia mengerjapkan matanya

"Yeah, I'm bit tired" ujar Nesia sedangkan Arthur sedang mengusap mata Nesia yang lelah itu dengan lembut

Arthur memegang pipi Nesia dengan kedua tangannya lalu berkata "Nesia" dengan suara pelan lalu Nesia menyahut panggilan Arthur menggunakan bahasa negaranya "Apa?" sembari menatap kedua mata Arthur Kirkland yang berwarna Emberland itu

"Hmm.. Yeah" Arthur bergumam dan Nesia hanya diam masih menatapnya "II just say you're beautiful" lalu Nesia membalas "Thanks"

"Tidak, maksudku..Hmm yeah" ujar Arthur pelan namun masih menatap mata Nesia dengan dekat

"What do you mean?" Nesia penasaran apa yang dimaksud Arthur padanya

Arthur menghela nafas perlahan, memejamkan mata sebentar lalu menatap mata Nesia kembali sembari memegang pipinya "I love you Nesia" ujar Arthur

"I love you too" mereka saling berpandangan satu sama lain, menatap dengan lembut kemudian Arthur mulai lebih mendekat pada Nesia sedangkan Nesia memejamkan matanya, Arthur mengecup dahi Nesia dengan lembut

"You always make me in paradise" Arthur menyentuh bibir Nesia dengan satu jari telunjuk tangan kanannya "Ssstt..Dont speak" Arthur mengecup kembali Nesia di dahinya perlahan-lahan turun ke hidung hingga ke bibirnya, kecupan itu tanpa balasan, rasanya tangan Nesia sudah membeku karena kaku, pikiran Nesia sedang kacau saat itu juga, Nesia binggung akan perbuatan Arthur yang tiba-tiba seperti ini, perjalanan menuju stasiun kereta Amsterdam terasa lama padahal pesta itu berada di Amsterdam juga, jadi bagaimana bisa masuk akal perjalanan ini terasa lama bagi Nesia namun sebaliknya bagi Arthur perjalanan ini sangat menyenangkan untuk menggoda pasangannya itu

Nesia membuka matanya, lagi lagi yang di tatapnya mata Arthur lalu jari telunjuk tangan kanan Nesia mengikuti hal yang sama seperti perlakuan Arthur sebelumnya "Ssstt..No more Arthur—" setelah itu Nesia melanjutkan berbisik tepat di telinga kiri Arthur "Dont be so rough Arthur" kemudian Nesia mengecup lembut kuping Arthur dan berkata "I love you" yang membuat Arthur menghentikan aksi nakal pada Nesia namun sebelumnya Arthur mengecup lagi bibir Nesia dan berkata "Alright dear"

.

.

Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

Netherland

.

.

Setibanya di De Librije Restaurant, Zwolle merupakan salah satu restoran terbaik di dunia yang berada di Kota Zwolle, Belanda. Untuk dapat makan di restoran ini para tamu harus menaiki kereta api dari Amsterdam kemudian mereka akan dijemput langsung oleh kepala pelayan di stasiunn kota Zwolle, restoran ini menempati sebuah bangunan kuno berupa bekas gereja Dominika dari abad ke-15 [2].

Di restoran ini juga menawarkan makan malam romantis bagi pasangan dengan berbagai kejutan di dalamnya, dengan kualitas pelayanan dan makanan di sana terjamin paling top, di dalamnya ada tempat ruang makan dengan langit-langit tertutup dan ruang makan langit-langit yang dilapisi kaca sehingga pengunjung di sana dapat melihat bintang-bintang di langit

"Mister, your name please?" ujar pelayan dengan sopan

"Arthur Kirkland, reserved for two" ujar Arthur Kirkland yang menjawab pertanyaan pelayan

"Please come" pelayan itu menggerakan tangannya memersilahkan masuk dan mengikutinya dari belakang, pelayan itu menunjukan tempat duduk yang telah di pesan atas nama Arthur Kirkland

Ruangan privasi yang di pesan Arthur Kirkland, ruangan ini terlalu luas untuk di pesan dua orang, terlalu panjang meja serta terlalu banyak kursi kosong yang ada di mejanya itu, meja pesergi panjang bentuknya dengan panjang ada empat kursi di setiap sisi sejajarnya dan untuk lebarnya ada satu kursi di setiap sisi sejajarnya, bisa dibilang ruangan privasi yang hanya di tempati satu meja dan sepuluh kursi, tentu saja interior ruangan ini sangat lah kental dengan arsitektur Eropa Klasik, sangat indah dan mewah, selain itu di ruangan privasi ini terdapat beberapa orang yang bermain musik klasik dengan lembut

Arthur dan Nesia duduk berhadapan

"Mau pesan apa tuan dan nyonya?" tanya seorang pelayan profesional dengan sopan

Arthur membuka-buka buku menu yang ada di tangannya, sedangkan Nesia tidak tahu harus memesan apa

"I want a dishes, Wild pigeon with Kohlrabi and hazelnut" ujar Arthur lalu menatap Nesia "And you dear?" tanyanya

"How about um.. Cauliflower heart, madras curry, currants for vegatable menu" ujar Nesia yang akhirnya memutuskan untuk memesan menu vegetarian

"Okay" pelayan mencatat dengan cepat

"I want white wine champagne of Jacquesson 1988 Non Dosé"ujar Arthur pada pelayan sedangkan pelayan dengan cekatan mencatat

"Arthur" panggil Nesia yang kemudian Arthur menatap Nesia dan mengangkat alisnya "Aku tidak minum seperti ini, daftar menu ini semuanya wine!" menggunakan bahasa negaranya

"It is everything okay?" ujar pelayan

Arthur yang mengerti ucapan Nesia dan berkata pada pelayan "Yeah, good" Arthur menghela nafas "Maafkan aku Nesia, aku kira disini akan tersedia selain wine" wajah Arthur terlihat menyesal

"Apakah di sini tersedia air setelah minum wine?" ujar Arthur pada pelayan

"Yes, of course, pure water for free after wine" ujar Pelayan

"Okay, that all for it" ujar Arthur

"Then excuse me" ujar Pelayan yang meninggalkan Arthur dan Nesia berdua dengan musik klasik yang mengalun di ruangan privasi ini

Nesia tetap diam menahan perkataan kasar yang akan dilontarkan untuk Arthur, sembari menatap Arthur dengan wajah kesal

"Lisen Nesia, i really sorry. I dont know" ujar Arthur

"Baiklah, air bening setelah minum wine itu kuberikan padamu" lanjut Arthur sedangkan Nesia hanya menghela nafas lelah dan berkata pada Arthur "Yeah, thanks" Nesia masih menatap Arthur karena kesal, bagaimana tidak kesal, Arthur kan tahu kalau Nesia tidak akan meminum minuman seperti itu yang membuatnya mabuk dan tak sadarkan diri lagi kah?

"Ayolah sayang jangan marah, apakah kau tidak ingat saat minum red wine dengan kadar cukup tinggi" perkataan Arthur membuat Nesia mengingat kembali kejadian memalukan yang dialaminya sewaktu kerja

"Hentikan Arthur, itu tidak lucu" Nesia tidak mau mengingat lagi kejadian itu

"Sudah dua kali kau mabuk Nesia, untung saja waktu itu aku yang menemukan mu, jika tidak entah apa yang akan terjadi"

"Dua kali?!" Nesia tampak terkejut mendengar Arthur berkata seperti itu

"Ya, pertama kau yang melucuti kancing-kacing baju ku sampai tergeletak di lantai, kau ingat?"

"Tidak!" Nesia tidak mengingat kejadian itu "Apa yang aku lakukan terhadap mu, Arthur?"

"Kau penasaran? Oh sebaiknya pembicaraan ini dihentikan sebelum aku benar-benar mengingatnya kembali"

"Katakan, apa yang telah ku perbuat pada mu?" Nesia penasaran

"Kau mengigit tubuhku sampai merah, bahu, dada, leher. Ingat?"

"Kapan?" Nesia mengingat-ingat kembali

"Kau agresif sekali Nesia, sampai rekan kerjaku mengetahui ada kissmark di leher, yeah.. leher tidak bisa di tutupi" wajah Arthur dan Nesia kini merah karena malu "Dan yang kedua kau muntah, terkena pakaianku"

"Maaf, aku.." Nesia menunduk malu akan perbuatannya

"It's okay, I like you, aku suka melihat sisi lain dirimu" ujar Arhur yang beranjak dari kursinya dan menghampiri Nesia lalu merunduk sedikit tepat di sebelah Nesia dan memegang dagunya dengan tangan kanan "Nesia, I really love you—" Arthur membelai rambut Nesia yang turun kebawah di pelipisnya "Aku tidak akan meninggalkanmu. I swear"

"Yeah Arthur.." Nesia memegang pipi kiri Arthur dengan tangan kanannya, tak lama setelah itu Arthur kembali ke tempat duduknya lalu pelayan membawakan makanan serta minuman yang telah dipesan keduanya, keduanya memakan makanan dalam diam tak bersuara hanya musik klasik lah yang melatar belakangi mereka berdua

.

.

.

Nesia POV

Setelah acara makan malam selesai bersama Arthur Kirkland di De Librije Restaurant, Zwolle. Arthur mendampingi ku hingga kembali setibanya di Amsterdam seperti biasanya Arthur menyewa mobil untuk menjeputnya

Sang supir mempersilahkan Arthur dan aku masuk dalam mobil, lalu kami memasuki mobil itu "Where you going sir?" tanya sang supir pada Arthur

"Bandara penerbangan pribadi" ujar Arthur singkat

"Tunggu Arthur, kita ke bandara? Bagaimana dengan koperku?" tanya ku pada Arthur

"Alice akan mengurus Belanda dan kita akan menuju Swissland, paspor, koper dan lainya sudah dipersiapkan. Semuanya sudah siap" ujar Arthur Kirkland

"Apa? Tapi bagaimana kerjaanku di La Moda" Nesia terkejut dengan rencana Arthur "Aku masih memakai gaun ini, Arthur"

"Nesia, you dont need these job. I have an business time in Swissland and Nesia, are you my finance right?" Arthur memelukku dari samping yang melingkarkan tangan kirinya di pinggangku "Dan aku juga masih memakai Tuxedo" lanjutnya

"But!—" kalimatku tergantung begitu saja saat melihat Arthur yang kelelahan

"Dont be mad dear please" Arthur memeluk lebih erat tubuhku

.

.

Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

Netherland

.

.

Normal POV

Sedangkan Alice Kirkland yang sedang emosi serta berkata kasar mengeluarkan amarahnya pada pelayan pribadinya karena kakaknya Arthur Kirkland yang membuat jadwal Alice menjadi berantakan, Alice yang seharusnya mengurus kepentingan bisnis di Swissland dan sekarang Alice harus menjadi duta besar Inggris di Belanda, bahkan Alice sendiri tidak pernah tahu apa yang di kerjakan kakaknya Arthur Krikland di Belanda tentang proyek apa, kriteria seperti apa, yah Alice tidak pernah tahu, kakaknya Alice yakni Arthur telah membuat adiknya kesal

"Nico angkat telepon genggam itu! Berisik sekali" Alice menghapaskan tubuhnya di sofa

"Hey, hey tenang Alice" ujar Francis sembari memeluk Alice dari samping dengan tangan kanannya di pundak Alice lalu Francis mengecup pelipis Alice dengan lembut

"Nona Alice, mereka mengadakan diskusi non formal tentang bisnis di Leidseplein Amsterdam" ujar Nico

"Where?"

"Casino miss Alice" ujar Nico

"Well, this is not bad at all. We have fun" Alice berujar sembari berdiri dari sofa "Kita sudah di undang Francis, mari kita bersenang-senang" senyum miring Alice sembari menatap Francis

"Yeah, we will" ujar Francis lalu berdiri dari sofa

Francis, Alice dan pelayan pribadi yaitu Nico pergi ke kasino dengan mobil yang telah di sewa selama di Belanda sebagai duta besar Inggris

Leidseplein atau Leidse Square adalah kawasan di Amsterdam yang menjadi salah satu pusat hiburan dan kehidupan malam di Amsterdam, dengan banyaknya toko, mall, cafe, restauran, bioskop, teater, klub malam hingga kasino, kawasan ini merupakan tempat nongkrongnya anak muda dan warga lokal Amsterdam, baik siang maupun malam. Para businessman dan wisatawan asing yang kebetulan singgah di Amsterdam juga biasa menyempatkan diri untuk menikmati secangkir kopi atau segelas bir di banyak cafe outdoor dan pub di area ini dan berbaur dengan warga lokal [2]

Alice Kirkland, Francis Bonnefoy dan Nikolas datang ke Jack Casino yang dapat di temukan tepat di jantung kota Amsterdam di Leidseplein, suasana di dalamnya yang mengejutkan dan berkilau. Jack Kasino dekat antara the Pathe City Theater, Jack kasino juga menawarkan ruangan bagi perokok secara bersamaan dan bagi yang tidak merokok pun di ruangan yang bersamaan, jam buka pada hari minggu dan hari libur adalah 13:00 sampai 24:00 dapat di akses dari delapan belas tahun keatas

Jack Casino adalah tempat permainan judi di salah satu kota Amsterdam, menyambut para pejudi baik profesional maupun amatir, mengenakan busana yang pantas dan mencoba peruntungan di permainan kasino klasik seperti rolet dan poker, meja-meja rolet Amerika menciptakan suasana yang semarak. Sekalipun tidak berjudi, melihat orang-orang mengelilingi meja, bermain poker, dan berteriak "Blackjack!" saja sudah cukup menyenangkan, mempelajari permaian dadu belanda Rocket 7 yang memerlukan beberapa pemain. Taruhan pembuka di kebanyakan meja biasanya kecil kecuali jika merasa cukup beruntung untuk menaikkan taruahan dengan menanggung sendiri resikonya di High Limit Area. Jika lumayan beruntung, beli koktail di kelap atau pesan hidangan bergaya Prancis di restoran bergaya De Brasserie sebagai perayaan. Jika kurang beruntung, ada juga hidanagn murah yang disajikan hampir setiap malam hari kerja di restoran ini dan restoran lainnya. Pada jumat terakhir setiap bulan digelar Casino's Friday Night Out dengan acara musik dan pertunjukan live. Tiket acara sudah ditambahkan ke ongkos masuk kasino

"Selamat datang" ujar para pekerja dan staff kasino sembari mempersilahkan ke ruangan VIP, di ruangan VIP ini ada beberapa orang dari berbagai duta besar negara dab tuan rumah yaitu mentri dalam negeri Belanda sendiri

"Welcome Alice and Francis" ujar mentri dalam negeri Belanda itu menyambut dengan hangat dan mempersilahkan duduk di meja bundar, setidaknya yang duduk di meja bundar ini cukup banyak

"Lets play" ujar bandar kasino yang sedang membagikan kartu, permainan poker itu, sembari bermaian poker di meja bundar itu, sesekali ada sedikit pertengkaran karena ketidak setujuannya, mereka bermain ringan sambil berdiskusi tentang pekerjaan

Poker merupakan permainan kartu yang identik dengan taruhan, para pemain di awal permainan akan mendapat 2 kartu dan para pemain bisa memasang taruhan untuk melanjutkan permainan atau menutup kartunya jika ingin berhenti, setelah itu kartu ke 4 dibagi di meja poker lagi, para pemaian pasang taruhan atau berhenti dan lanjut dengan kartu terakhir atau kartu ke 5. Pada intinya para pemain berlomba untuk besar-besaran dari 5 kombinasi kartunya, jadi seorang pemain bisa menang poker pada pembagian pertama yang sebanyak 3 kartu atau pada pembagian kedua kartu ke 4 atau pembagian poker terakhir kartu ke 5. Pada pembagian kartu ke dan ke 5, para pemain poker tetap hanya menjumlahkan kombinasi 5 kartu saja

Sebelumnya dalam permainan poker, pemain yang mempunyai kombinasi 5 kartu yang terbaik adalah yang menang, maka dari itu harus diperhatikan urutan dari kombinasi kartu poker tersebut.

Urutan dari 5 kombinasi kartu poker yang terbaik hingga terendah adalah Royal Flush, Straigh Flush, Four of a kind, Full House, Fulsh, Straight, Three of kind, Two pair, One pair, High Card

Bandar mulai membagikan kartu poker itu masing-masing dua kartu kepada setiap pemain, Alice membuka kartu yang ternyata ia mendapatkan kartu King dua, Alice menaruh uang taruan diatas meja sedangkan Francis langsung menutup kartunya yang lainnya pun sama, ada yang menutup kartunya dan memasang taruhan di meja kemudian bandar membagikan kartu ketiga secara terbuka di meja lalu memberi kesempatan untuk menaruh kembali uang taruhan atau berhenti menutup kartunya

Alice mendapatkan kartu nomor delapan love dan melanjutkan permainannya, menaruh uang taruhan diatas meja, aksi mata saling lirik ini membuat suasana tegang di meja bundar

"Ada apa tuan perdana mentri?" ujar Alice yang menangkap basah mentri dalam negeri yang melirik rekan kerja di sebelahnya

"Tidak biasanya kau mengeluarkan taruhan sebesar itu" ujar mentri Belanda

"Sedang bosan saja" perasaan Alice masih jengkel sama kakaknya

"Kakak mu, Arthur Kirkland pergi kemana?" Alice tambah jengkel mendengar nama kakaknya disebut-sebut

"Non of your business" jawab Alice singkat

Kemudian bandar kembali membagikan kartu ke 4 di meja secara terbuka, Alice mengambilnya dan ia mendapatkan kartu nomor delapan keriting, mata Alice berbinar senang tanda ia akan mendapat banyak keuntungan

"Kita mulai saja pak tua" Alice berkata tidak sopan pada mentri Belanda

"Baiklah, nona manja" balas perdana mentri "Pembangunan tanggul dekat pantai memerlukan biaya untuk memperbaikinya, aku akan memberikan surat-surat keesokan hari bagaimana?" lanjut perdana mentri

"Nico, kirim pesan pada kakak untuk permintaan perdana mentri ini" ujar Alice pada Nikolas sang pelayan pribadi

"Baik" Nikolas sedang mengetik mengirim pesan pada Arthur

"Pak mentri, bolehkah saya tahu apa keuntungan bagi Inggris untuk membantu penyumbangan biaya itu" ujar Alice

"Hanya meminjam saja, tidak kah Arthur memberi tahukan dirimu soal kerjasama dalam bidang ekonomi pasar dan pebangunan?" tanya mentri Belanda pada Alice

"Aku akan mencari tahu" ujar Alice singkat sedangkan bandar membagikan kartu ke 5 di meja secata tertutup

"Arthur tidak biasanya seperti itu Alice, baiklah akan aku jelaskan sekarang" ujar perdana mentri Belanda

"Kami, Inggris dan Belanda melakukan kerja sama Internasional dalam ekonomi dan pembangunan, pihak kami menekspor bahan kebutuhan ekonomi untuk Inggris dan kalian mengekspor bahan bangunan, kesepakatan itu sudah ditanda tangani sangat lama selama beberapa dekade ini, jadi ada suatu persyaratan dalam tanda tangan itu, kedua belah pihak menyetujui dan saling mendapat keuntungan, bagi kami kerja sama ini seperti sebuah persahabatan yang mengikat hubungan keduanya, kita saling membantu bukan?" ujar perdana mentri Belanda menjelaskan panjang lebar

Sedangkan Alice sembari mendengarkan ia membuka kartu poker ke 5 nya dan Alice mendapat kartu nomor delapan love lagi, Alice tersenyum lalu berkata sembari membenarkan posisi kartu poker di tangannya "Aku mengerti akan kusampaikan pada Arthur"

Bandar membuka kartu poker yang ada di tangannya, bandar mendapatkan One pair "Baiklah tuan dan nyonya, silahkan buka kartu anda bersamaan" ujar seorang bandar lalu pemain kartu poker itu membuka kartunya hampir bersamaan

"Flush!" teriak perdana mentri Belanda

"Bukan hari keberuntunganmu pak, aku Full House!" teriak Alice sembari tersenyum

"Oh ayolah Alice, kita bertaruh melawan bandar" ujar perdana mentri Belanda kemudian bandar membagikan keuntungan pada setiap pemain di meja bundar itu

"Aku bosan, bagaimana kita berganti main blackjack" ujar Alice pada perdana mentri Belanda

"Aku ikut" ujar wakit perdana mentri dan Francis hampir bersamaan

"Nona Alice, kata tuan Arthur 'Alice jangan bermain judi bersama perdana mentri! Dan soal pembangun itu tanda tangani secara resmi' begitu nona" ujar Nico pada Alice yang berbisik di telinga Alice

"Balas, aku bermain tidak akan menghabiskan uangku" ujar Alice di telinga Nico dan Nico mengangguk mengerti lalu Nico mengetik pesan dan mengirimnya ke Arthur Kirkland

"Pelayan aku pesan koktail, kalau kamu Francis?" tanya Alice sembari mengangkat tanganya

"Red wine s90" ujar Francis lalu Alice menurunkan tangannya dan mengambil kartu bermain blackjack

Alice mendapat kartu J keriting, Francis mendapat kartu nomor 7 love, perdana mentri mendapat nomor 9 diamond, dan wakil perdana mentri mendapat kartu As diamond sedangkan bandar mendapat kartu nomor 6

Tidak ada yang berbicara, ruangan ini serasa sunyi karena fokus terhadap kartu marsing-masing lalu bandar membagikan lagi kartu pada masing-masing pemain. Alice mendapat kartu nomor 10 dan sebelumnya kartu J keriting jika di jumlahkan hasilnya akan berjumlah dua puluh, Francis mendapat kartu K dan sebelumnya mendapat karu nomor 7 yang di jumlahkan hasilnya tujuh belas, Perdana mentri mendapat kartu nomor 9 lagi dan sebelumnya juga mendapat nomor sembilan jika di jumlahkan hasilnya delapan belas, sedangkan wakil perdana mentri mendapat kartu Q dan sebelumnya mendapat kartu As sedangkan bandar mendapatkan kartu nomor 10 dan sebelumnya mendapatkan kartu nomor 6, kemudian seluruh pemain tidak mendambah atau mengundurkan diri dari permainan tersebut sedangkan bandar menambah kartunya akan tetapi sayang sekali bandar mendapat bust yang akhirnya seluruh pemain memenangkan permainan ini

"Blackjack!" terik wakil perdana mentri

.

.

Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

Netherland

.

.

Normal POV

Alice dan Francis sedang asik bermain kasino bersama perdana mentri serta wakilnya, sedangkan Arthur dan Nesia kini berada di pesawat jet pribadi milik Arthur yang sedang terbang menuju Swissland

"Hey Nesia, menurut mu apakah aku melakukan tindakan yang benar, meninggalkan Alice dan Francis di Belanda untuk mengurusi kerjasama, aku tidak yakin dengan perasaan ku ini, mungkin kah mereka sedang bermain di kasino?" ujar Arthur pada Nesia

"Percayalah pada Alice, adikmu sendiri" ujar Nesia sembari tersenyum hangat lalu merangkul tangan kiri Arthur dan tertidur di pelukannya

TBC
(To be Countinue...)

Tinggalkan jejak

(Review! Don't be silent reader)

[1] info dari wwwdothollanddotcom

[2] info dari mbahgoogle

Catatan

Huaaa aku buru-buru ngetik sebelum tugas besar datang menghampiri ku! Aku ceritanya terasa pendek, lain kali aku akan memanjangkannya tapi setelah tugas besar selesai dan libur panjang hehehe (masih lama)