Disclaimer © Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Hiruk pikuk ditempat ini sama sekali tak bisa mengalihkan pikiran Sasuke. Pria tampan itu masih mematung didepan peti mati kakaknya, Uchiha Itachi. Sasuke tak tahu reaksi apa yang harus dia berikan melihat tubuh saudara satu-satunya terbaring kaku. Ini diluar nalarnya. Padahal baru saja dia bertengkar dengannya, baru saja mereka banyak bicara meski bukan tentang hal bagus, baru saja dia berinteraksi lebih banyak meski karna hal yang tak dia sukai, dan semuanya menjadi kosong dan dingin secara tiba-tiba.

Sasuke bahkan tak bisa menangis histeris layaknya ibunya, atau meratap dalam diam seperti ayahnya. Ya pria itu pasti sangat terpukul kehilangan putra kesayangannya. Siapa yang peduli. Sasuke tak bisa seperti mereka, Tak ada reaksi apapun. Sasuke hanya mematung didepan peti mati kakaknya. Menatap wajah kakaknya untuk terakhir kali yang waktunya semakin berkurang.

Dari laporan Menma, Itachi mengalami kecelakaan beruntun. Sopir truk yang mengantuk kehilangan kendali hingga membuat truk itu menyebrang jalur dan menabrak mobil Itachi dari samping. Beberapa mobil lainnya tak luput dari maut karna memang saat itu adalah jam padat. Kondisi Itachi sangat buruk, mobilnya ringsek tertabrak dua mobil lain selain truk. Putra pertama pewaris Uchiha meninggal saat dalam perjalanan ke rumah sakit.

Jelas kondisi ini membuat Fugaku murka. Bisa dipastikan perusahaan apapun pemilik truk beserta orang-orang yang terlibat dalam kecelakaan Itachi tak akan hidup tenang. Fugaku terbiasa mencabut hingga ke akar setiap penyakit yang mengganggunya. Terlebih ini melenyapkan nyawa putra kesayangannya. Dan Sasuke tak peduli akan hal itu. Dia hanya membenci situasi yang membuatnya benar-benar kehilangan kakaknya yang bahkan sulit memiliki waktu mengobrol dengannya.

"Menangislah, kau membuatku takut jika terus begini." Sasuke mengabaikan Shikamaru yang menepuk bahunya pelan.

"Aku tak tahu harus mengatakan apa. Maaf, aku memang sahabat yang buruk." Dan bodoh. Sahut Sasuke dalam hati. Tapi dia masih mengabaikan Naruto yang mengacak rambutnya. Kali ini dia sama sekali tak punya selera melakukan apapun pada pria pirang yang merusak gaya rambutnya ini.

Sai, dia tak mengatakan apapun. Hanya duduk diam disamping Sasuke sejak pertama kali datang hingga sekarang. Tanpa beranjak sedikitpun. Apa pria ini kehilangan racun di mulutnya? Ah atau mode pengertian sedang diaktifkan? Entahlah. Sasuke hanya merasa lebih hidup dengan keberadaan dan suara-suara kebingungan dari para sahabatnya. Tapi mulut pria raven itu masih belum mampu terbuka. Tepatnya otaknya belum mampu memberikan perintah apapun pada anggota tubuhnya.

"Sasuke-kun." Bahkan suara ini, suara kesayangannya ini belum bisa mengaktifkan kerja otaknya. Sasuke masih diam ditempatnya, pada posisinya. Sasuke merasakan hangatnya pelukan Sakura di bagian belakang tubuhnya. Sungguh, ini sangat nyaman. Tapi belum cukup untuk menutupi lubang menganga dihatinya. Besar sesalnya karna hubungan buruk pertama dan terakhirnya dengan Itachi. Dan apapun. Dan apapun. Semuanya yang berhubungan dengan Itachi menggumpal berubah jadi penyesalan.

Apa sasuke harus berterima kasih pada siapapun yang membawa Sakura kemari? Atau justru marah karna membuat gadisnya melihat kondisi terlemah dirinya? Ini membuatnya pusing. Tapi masih belum mampu membuatnya bergeming.

Sasuke merasakannya. Tubuh Sakura menegang dan bergetar hebat. Apa yang terjadi pada gadisnya? Ini memperburuk mood Sasuke. Mungkin kali ini dia bisa membunuh siapapun orang yang menjadi penyabab Sakuranya gemetar.

"Sakura..." Terima kasih tuhan. Otaknya masih mampu merasakan khawatir pada gadisnya. sasuke menoleh menghadap Sakura. Kengerian langsung menular pada Sasuke melalui emerald yang membeliak. Jelas gadisnya sedang mengalami hal buruk tak kasat mata. Dan itu terjadi saat hanya bayangan wajah Itachi yang terpantul di manik Sakura. Sasuke ingin mengerang frustasi.

"A... ah... tidaaak... jangan..." Sakura menjerit histeris mengagetkan semua orang yang berada di situ. "Ku mohon... hiks... jangan... hiks... tolong..." Raungan Sakura terasa mengerikan.

"Sakura." Temari menghampiri Sakura diikuti Ino dan Hinata.

"Jangan! Hiks... jangan... tolong..." Sasuke merasa ada batu seberat beberapa ton dijatuhkan ke kepalanya saat melihat hanya ada ketakutan yang nyata di emerald kesayangannya. Ini terlalu menyakitkan. Bahkan jasad Itachi belum dimakamkan dan Sasuke harus melihat kondisi Sakura yang memprihatinkan. Dia tak tahu lagi siapa yang harus dikasihani di sini. Tanpa sadar air matanya yang sejak tadi tertahan lolos mengaliri wajahnya.

"Kurang ajar. Apa yang kau lakukan didepan jasad putraku!" Raungan Fugaku mengudara. Segala kesedihan yang ditahannya berubah menjadi kemarahan melihat keributan yang disebabkan Sakura. Sasuke tak tahu lagi berapa lama dia bisa bertahan dikondisi ini. "Pengawal! Singkirkan pengganggu ini!" Murka Fugaku.

Temari melotot garang memeluk Sakura yang masih histeris. Kepala Sasuke makin sakit melihat segala kekacauan yang terjadi di sini. Tubuhnya limbung dan mungkin ambruk jika saja tak ada Sai disampingnya. Dia merasakan nyeri didadanya. Menyakitkan tak bisa melakukan apapun disaat Sakura butuh pertolongan. Tapi di sini dia kehilangan Itachi, dia merasa tak bisa bersimpati pada Sakura. Dia tak mampu melakukan apapun untuk Sakuranya. Bahu Sasuke bergetar menahan isakannya.

"Shika..." Lirih Sasuke. Apapun. Dia membutuhkan pertolongan pria ini untuk memperbaiki keadaan meski sedikit.

"Jangan khawatir. Akan ku pastikan gadismu baik-baik saja." Shikamaru membawa Sakura dan Temari pergi, sementara Naruto mengikuti dibelakang mereka memastikan para pengawal Uchiha tak melakukan apapun yang membahayakan. Tentu saja sebesar apapun kemarahan Fugaku tak akan membuatnya buta memicu masalah dengan dua putra rekan bisnisnya sekaligus.

Sementara itu Sasuke kembali ke posisi semula. Tawa getir muncul dibibirnya. Reaksi Sakura sudah menjelaskan keterlibatan Itachi pada masa lalu gadis itu. Dan Sasuke merasa buruk. Sungguh dia saat ini tidak mampu berdiri dipihak Sakura. Dia benar-benar tidak mampu menyalahkan Itachi. Dia tak bisa merasa simpati pada gadisnya.

"Ha ha ini... benar-benar..." Tawa Sasuke berubah menjadi isakan kecil yang tertahan. Sai merangkul bahu pria raven itu. Memberi sedikit dukungan pada apapun yang dilakukannya. Saat ini Sasuke benar-benar terpuruk.

Beberapa hari berlalu. Sasuke belum juga pergi ke sekolah. Dia masih belum bisa bertemu Sakura. Dia masih merasa belum mampu menatap emerald yang sangat dirindukannya itu. Tak ada alasan jelas, hanya merasa masih terjebak disituasi yang membingungkan. Sasuke masih meragukan reaksinya nanti saat mendengar kenyataan meluncur dari bibir gadisnya. Dan lagi kisah mereka tak akan mudah mengingat seberapa besar amarah Fugaku tentang insiden beberapa hari lalu. Selain itupun Sasuke harus bersiap menjadi pengganti Itachi dalam memenuhi setiap harapan ayahnya. Termasuk didalamnya tentang pasangan.

Sasuke mengusap peluh dipelipisnya. Saat ini dia sedang berlari pagi disepanjang jalan kompleks rumahnya. Tak melakukan apapun membuatnya stres, setidaknya Sasuke berharap berlari cepat membuatnya waras kembali. Dia sadar tak ada gunanya berlama-lama terpuruk. Dia harus memutuskan apa yang paling ingin dilakukannya. Ayunan langkah kaki Sasuke melambat saat onix kelamnya menangkap sesosok tak asing bersandar ditembok pagar rumahnya, seolah memang menunggunya.

"Yo Uchiha." Sasori mengangkat tangannya menyapa Sasuke dengan senyum yang menurut Sasuke menyebalkan. Sasuke melewati pria berambut merah itu seolah tak melihatnya.

"Hei hei hei. Kau menyakiti hatiku." Sasuke mendengus melihat Sasori lengkap dengan cengiran menyebalkan menghadang langkahnya. "Aku ke sini bukan ingin berkelahi." Sasori mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. "Ayo kita bicara."

"Aku lebih tertarik meremukkan wajahmu daripada bicara." Sasori tertawa mendengar ucapan sinis Sasuke.

"Kau masih dendam? Ayolah. Aku sudah menginap dirumah sakit seminggu hanya karna menyentuh gadismu sedikit, itu lebih dari cukup."

"Harusnya kau menginap di dalam peti mati."

"Wow wow wow. Kau mengerikan Uchiha. Ok, aku hanya ingin minta maaf. Jadi bisakah kau menghentikan langkahmu sebentar?"

"Aku sudah mendengarnya. Pulanglah." Sasuke tak menghiraukan Sasori.

"Ish kau ini kaku sekali sih. Ok, semoga beruntung." Sasuke menghentikan langkahnya mendengar ucapan Sasori. Entah kenapa dia merasa tak senang mendengarnya. "Waw kau berhenti. Jangan khawatir, aku tak memiliki dendam padamu meski kau membuatku masuk rumah sakit. Aku hanya senang mendapat tontonan menarik."

"Apa maksudmu?"

"Uhm ku pikir kau harusnya sudah tahu berapa banyak pintu yang harus kalian lewati untuk bersama. Dan itu sepertinya tidak mudah, jadi semoga beruntung." Sasori melambaikan tangannya sebelum berlari kecil meninggalkan Sasuke dengan senyum diwajahnya. "Siapkah kau dimusuhi banyak pihak demi gadismu? Uchiha Sasuke."

Sasuke menatap punggung Sasori hingga menghilang dibelokan. Dia sadar mulai saat ini semuanya akan lebih sulit. Ayahnya akan meletakkan semua beban dan harapan padanya. Dan Sakura? Sasuke harap hubungannya dengan gadis itu akan baik-baik saja. Sasuke sadar betapa egoisnya dia karna mengharapkan Sakura tak berubah sementara dia jelas menjauhi gadis itu akhir-akhir ini. Ralat, tak menemui sama sekali.

"Kau menjadi satu-satunya pewaris Uchiha, bersikaplah selayaknya pewaris." Sasuke mendongak. Mengalihkan perhatiannya dari piring ke ayahnya yang terlihat sudah menyelesaikan sarapannya.

"Aku tahu." Sasuke kembali menekuni sarapannya. Hari ini dia memutuskan masuk sekolah.

"Kau akan menggantikan Itachi. Semua posisi Itachi. Tinggalkan semua hal tak penting yang kau miliki. Berhentilah merengek." Lagi. Sasuke mengangkat kepalanya. Semua posisi Itachi, itu berarti termasuk pertunangan yang gagal. Bisakah dia melewati ini? Bagaimana dengan Sakuranya? Keras kepala saat ini tak akan ada gunanya. Tak akan merubah apapun.

"Aku akan berusaha." Ya, dia akan berusaha. Sasuke akan berusaha. Tentang klannya dan tentangnya. Jalannya tak akan mudah, tapi bukan berarti mustahil. Sasuke juga harus bersiap dengan semua kemungkinan terburuk.

Menma menghentikan mobilnya tak jauh dari rumah Sakura. Sasuke menghela nafas berat. Masih bisakah dia dan Sakura seperti dulu? Bagaimana jika Sakura berubah? Bagaimana jika gadis itu kecewa karna sikapnya? Sasuke akan mengerti jika itu terjadi. Dia sudah bersikap egois dengan hanya memikirkan lukanya, tanpa memikirkan kemungkinan Sakura yang juga terluka. Selain itu, bagaimana reaksi Sakura setelah tahu dia adik dari bajingan yang membuatnya menderita? Ah Sasuke tak nyaman menyebut Itachi bajingan. Hanya saja, maukah Sakura menerimanya?

Sasuke turun dari mobil. Ini hanya seperti yang biasa dia lakukan, menunggu Sakura keluar dari rumahnya, tapi kenapa terasa begitu berat dan menyiksa. Terasa asing dan menakutkan. Tubuh Sasuke membeku melihat Sakuranya keluar dari pagar rumah bersama Temari. Sasuke tak tahu harus bagaimana, menyapa terasa canggung dan sulit dilakukan.

"Aku akan pergi lebih dulu." Ucap Temari setelah menghela nafas panjang.

Sasuke dan Sakura masih terdiam meski Temari sudah cukup jauh meninggalkan mereka. Setelah menghela nafas berat, perlahan Sasuke melangkah mendekati gadisnya yang tertunduk. Ada apa dengan mereka? Sasuke tak mengira jika kecanggungan mereka akan separah ini. Setelah sekian lama berusaha berakrab ria kenapa berakhir seperti ini.

Sasuke berhenti tepat di depan Sakura yang tak juga mau mengangkat wajahnya. Tangannya terulur menyentuh wajah ayu yang sangat dirindukannya itu. Membimbing agar Sakura menatapnya, melihat betapa Sasuke sangat merindukannya. Sasuke tersenyum lembut melihat emerald gadisnya berkaca-kaca. Apa Sakura juga merindukannya? Apa Sakura juga menginginkannya?

"Aku sangat merindukanmu." Ucap Sasuke nyaris berbisik. Bersamaan dengan air matanya yang meluncur jatuh Sakura memeluk Sasuke erat. Sasuke membalas pelukan Sakura sama eratnya. Ditenggelamkan wajahnya pada surai pink dengan wangi memabukkan milik gadisnya.

"Aku sangat merindukanmu." Ulang Sasuke semakin mengeratkan pelukannya. Benar dia merindukan gadis ini. Kenapa dia tak menyadari jika dia sekarat selama ini? Kenapa dia mau tersiksa berlama-lama tak bertemu gadisnya? Entahlah. Yang jelas Sasuke tak mau lagi mengulangi hal itu.

"Sasuke-kun. Sasuke-kun." Ucap Sakura berulang-ulang dengan suara seraknya. Gadisnya menangis. Sasuke merasa bodoh karna membuat mereka berdua tersiksa.

.

.

Tbc...

.

.

Okey~~~ satu chap lagi hingga BM 1 versi RavencherrY selesai. Sejujurnya aku belum memutuskan akan melanjutkan story ini dulu atau menulis story baru atau merevisi story lainnya atau membuat lanjutan story-story tanggung yang ada? Terlalu banyak atau. Baiklah, aku akan putuskan itu pada chapter depan atau setelah Run! tamat pada 1 Desember nanti.

.

.

Keyikarus

26 November 2017