Disclaimer: Super Junior is belong to God, SMent and themselves.
Pair: Hankyung x Kim Heechul and other members of Super Junior
Rated: T
Genre: Friendship, Romance
Warning: Typo(s), abal, gaje, bahasa berubah-ubah (?), mengandung efek samping yang berbahaya (?) semi-canon, de-el-el.
Author's song list: Always, Can You Feel It – 49 Days OST, Someday I Will Be Good Enough – A Little Thing Called Love OST, Firework – Katty Perry, Konayuki – Remioromen, Shining Star – Super Junior (bila punya lagu-lagu ini, coba deh untuk dengerin. Hehehe)
Enjoy this! ^^
.
.
Believe And Promise
.
.
Chapter 11: Someday, I Will Be Good Enough
Super Junior's Dorm
Pagi kembali datang sebagai pembuka hari baru. Matahari sudah mulai menampakkan diri. Burung-burung bercicit-cuit, terbang dari dahan pohon satu ke dahan pohon yang lain. Sesekali juga hinggap di balkon dorm. Tidak terasa, tahun pun akan berganti. Tanggal di kalender sudah menujukkan angka 31 dalam bulan Desember.
Di hari terakhir dalam tahun 2009, suasana dorm Super Junior berjalan seperti biasanya. Ah, tapi sedikit berbeda untuk seminggu belakangan ini. Setelah satu anggota mereka hengkang, suasana dorm pastilah berbeda. Tapi, para anggota yang masih bertahan berusaha menyesuaikan diri dengan perbedaan ini.
Seperti biasa, Ryeowook bersama Sungmin sudah bangun lebih awal. Mereka menyiapkan sarapan dan sedikit bersih-bersih yang kini dibantu oleh hyung tertua mereka, Leeteuk. Kemudian disusul anggota-anggota lain yang mulai bangun dari tidurnya.
"Selamat pagi..." Sapa Eunhyuk yang masih mengusap-usap matanya yang masih setengah terbuka, diikuti yang lain.
"Ah! Selamat pagi, hyung!" Ryeowook pun menjawab dengan semangat.
"Kau kelihatan suntuk sekali, sih? Hei, lihat kalender! Ini hari terakhir di tahun 2009, lho!" Ujar Sungmin. Sementara Eunhyuk malah langsung duduk di kursi meja makan tepat di depan Sungmin.
"Aku masih mengantuk, hyung..." Kata Eunhyuk sambil membaringkan kepalanya di atas meja makan.
"Aku juga..." Donghae ikut-ikutan.
"Haiiish! Ayo cepat bersihkan badan kalian! Sarapan sudah hampir siap!" Sungmin pun mengusir mereka agar lekas mandi. Tapi memang dasarnya couple EunHae itu manja, mereka hanya bisa tidur-tiduran di atas meja makan. Akhirnya, dengan sentuhan terakhir, Sungmin memukul-mukul piring dengan sendok sehingga menimbulkan suara nyaring nan berisik, membuat Eunhyuk dan Donghae terkesiap dan kelabakan.
Sementara itu, Leeteuk dibantu Kibum yang juga baru bangun, nampak sedang membersihkan ruang tengah yang sempat semrawut karena kelakuan dongsaeng-dongsaengnya—Kyuhyun, Eunhyuk dan Donghae—yang semalam bermain game di ruang tersebut. Leeteuk hanya terkekeh sambil menggeleng mendengar keributan di ruang makan. Pantas saja Eunhyuk dan Donghae masih mengantuk karena mereka bertanding game hingga dini hari. Mereka bermain dengan serunya hingga berteriak-teriak. Rekan-rekan lain yang ikut menyaksikan juga ikut bersorak-sorak. Leeteuk sendiri sudah memperingatkan mereka untuk tidak berisik, tapi mau bagaimana lagi. Leeteuk akhirnya hanya geleng-geleng. Sejujurnya, Leeteuk menyukai suasana ramai dan hangat seperti semalam, walaupun telinganya jadi korban.
Di tengah-tengah kesibukannya, pikiran Leeteuk melayang sejenak. Otomatis, ia menghentikan kegiatannya. Ia jadi teringat rekan sebayanya, Heechul. Sejak Hankyung pergi, ia jadi tidak bersemangat dan suka mengurung diri di kamar, hanya ditemani oleh kucing peliharaannya. Tapi, sejak hari itu, dimana dirinya mencurahkan semuanya pada Leeteuk malam itu, Leeteuk yakin Heechul akan kembali seperti semula.
"Kyuhyun dan Heechul belum bangun juga?" Tanya Leeteuk sambil kembali merapikan bantal-bantal di sofa.
"Kurasa belum, hyung." Jawab Sungmin yang sedang mengelap piring-piring di meja makan. Sementara Ryeowook menjawab dengan memberikan isyarat tangan karena ia tengah mencicipi masakannya.
"Lebih baik, kalian coba bangunkan mereka. Jangan sampai kita kesiangan untuk melakukan jadwal kita yang pertama." Nasihat Leeteuk. Dua dongsaeng yang ia suruh pun membatu seketika.
"A-ani, hyung... kita mau-mau saja membangunkan Kyuhyun. Tapi... kalau Heechul hyung..." Sungmin berhenti di tengah jalan. Ia melirik takut-takut ke arah rekannya, Ryeowook.
"Benar, hyung... kami tidak berani mengganggunya." Lanjut Ryeowook. Melihat itu, Leeteuk tersenyum ala angelnya.
"Tak apa. Aku yakin dia sudah tidak seperti kemarin. Bangunkan dia dan lihat perubahannya hari ini. Dia sudah lebih baik." Leeteuk meyakinkan. Tapi, Sungmin dan Ryeowook masih ragu. Mereka saling menyikut lengan satu sama lain. Leeteuk terkekeh melihat kepolosan dua dongsaengnya itu.
"Tidak apa-apa. Lekaslah..." Kata Leeteuk sambil menyuruh mereka bergegas dengan tangannya. Dengan langkah berat nan ragu, Sungmin dan Ryeowook melangkah menuju kamar Heechul.
.
.
Sungmin terlihat menyikut lengan dongsaengnya, Ryeowook ketika mereka sampai di depan pintu kamar Heechul.
"Hei, Ryeowook, kau yang buka pintunya..." Desis Sungmin.
"Ani, hyung! Kau saja! Enak saja kau ini!" Ryeowook menyolot.
"Aah, kau ini! Lekaslah! Nanti kita kena marah Leeteuk hyung!"
"Aiish... kenapa aku yang dikorbankan! Oke! Kita buka sama-sama!" Ryeowook mulai emosi. Akhirnya, mereka berdua sepakat untuk membuka pintu kamar hyungnya itu bersama-sama.
"O-oke..." Jawab Sungmin sambil menelan ludah. Baru saja tangan mereka hampir menyentuh kenop pintu, sedetik kemudian kenop itu berputar dan pintu pun terbuka. Sungmin dan Ryeowook tersentak bukan main melihatnya. Mereka tersentak hingga berjalan beberapa langkah kebelakang. Tapi, melihat seseorang yang kini berdiri di ambang pintu, rasa kaget mereka lenyap seketika.
"Waeyo? Kenapa kalian berdiri di depan kamarku seperti itu?" Tanya sang pemilik kamar—Kim Heechul—dengan tatapan heran plus menyeidik. "Kalian... mau menyusup ke kamarku, ya?"
Tapi, pertanyaan-pertanyaan Heechul pagi itu tak dihiraukan oleh dua dongsaeng di hadapannya itu—yang menatap Heechul dengan tatapan berbinar. Yaa... wajar saja karena sudah lama mereka tidak melihat hyungnya itu keluar kamar.
"Heechul hyung...?" Ujar Sungmin dan Ryeowook bersamaan dengan nada tidak percaya. Heechul terheran-heran dengan sikap dua dongsaengnya pagi ini. Saking herannya, satu alisnya terangkat begitu saja.
"Ada apa in..." Belum sempat Heechul melanjutkan kata-katanya, ia sudah keburu didekap dua makhluk di hadapannya yang kini mendadak jadi hyper. Heechul sungguh tidak menyangka. Jantungnya serasa ingin melompat dari dadanya. Bagaimana tidak kaget kalau tiba-tiba seseorang—tidak—dua orang sekaligus melompat ke arahmu dan mendekapmu dengan erat hingga kau serasa tak bisa bernapas? Dan lagi. Mereka juga berjingkrak-jingkrak seperti sedang memeluk idola berat mereka!
"Heechul hyuung! Akhirnya kau mau keluar kamar juga!"
"Aku merindukanmu, hyuung!"
"Astaga! Hentikan kalian berdua! Ohok-ohok!" Heechul menggerutu sambil berusaha melepaskan diri. Mendengar Heechul berteriak, Sungmin dan Ryeowook terhenti sejenak. Ia saling berpandang-pandangan.
"Aaa! Akhirnya kau kembali seperti semulaa!" Seru mereka lagi sambil memeluk Heechul erat setelah sekian detik terdiam.
"HEEIII! KALIAN MAU MEMBUNUHKU, HAH?"
.
.
Hari ini, Heechul kembali dengan dirinya yang sedia kala. Sudah cukup untuknya merenungkan kepergian sahabat terbaiknya sekaligus kekasihnya itu. Dan mulai hari ini, ia melakukan rutinitasnya sebagai seorang artis seperti biasanya. Para member yang lain terlihat antusias menyambutnya dan berkata bahwa mereka merindukan sosok Heechul yang seperti ini. Selalu tersenyum dan suka bercanda. Walaupun terkadang bertingkah-laku berlebihan dan gampang emosi. Mereka semua merindukan Heechul yang seperti itu. Dan lagi, hari ini adalah hari spesial. Tepat sehari sebelum pergantian tahun. Dari kejauhan, Leeteuk hanya memperhatikan para dongsaengnya itu sambil tersenyum.
Setelah semua siap, kedua belas member Super Junior pun pergi menuju tempat dimana mereka menjalankan jadwal-jadwal mereka. Hari ini Super Junior nampak kebanjiran jadwal untuk mengisi acara tahun baru, baik yang live ataupun rekaman. Mereka pun berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Walaupun merasa lelah dan cuaca yang sedang ekstrimnya, tapi mereka tetap menikmatinya.
Untuk sore ini, mereka istirahat di kantor agensi mereka sebelum malam nanti harus mengisi acara live di salah satu stasiun televisi dalam memperingati malam pergatian tahun. Mereka menggunakan waktu sebaik mungkin untuk refreshing, bercanda, tidur-tiduran, makan, dan lain-lain. Bersama teman-teman satu agensinya mereka berbaur layaknya saudara. Sifat mereka yang ceria dan seperti anak kecil itu membuat ruangan tempat mereka berkumpul menjadi ramai. Gelak tawa terdengar dari mana-mana.
Kyuhyun dan Eunhyuk asyik memusatkan diri pada PSP hitam milik Kyuhyun bersama Changmin DBSK. Sesekali mereka berseru kecewa ataupun senang. Donghae, Sungmin, Yesung dan Ryeowook asyik menikmati cemilan ditemani secangkir kopi panas bersama Taeyeon dan Yoona SNSD. Shindong dan Kang In sedang beradu panco di pojok ruangan dan disaksikan setengah dari member SHINee dan F(x). Siwon, Kibum, Leeteuk dan yang lain nampak sedang mengobrol. Walaupun cuaca di luar sangat dingin karena salju sedang turun, tapi suasana di ruangan ini terasa hangat.
"Hei, apa kalian melihat Heechul?" Tanya Leeteuk setelah menyadari Heechul tidak bersamanya.
"Tidak, hyung." Jawab Ryeowook sambil menoleh.
"Tadi kulihat dia sedang keluar." Sambung Yoona.
"Benarkah? Kemana?"
"Ah, hyung. Biar aku saja yang mencarinya." Siwon tiba-tiba memotong. "Aku yakin dia tidak akan jauh-jauh."
"Tidak apa-apakah? Salju sedang deras kali ini."
"Gwaenchana, hyung. Aku bisa bawa payung." Kata Siwon sambil berlalu.
"Hati-hati!" Seru Leeteuk sambil melihat dongsaengnya itu menjauh.
"Kira-kira... Heechul hyung kemana, ya?" Gumam Sungmin. "Aku khawatir kalau memang benar dia belum pulih dari keterpurukannya..."
"Aku yakin dia sudah pulih, kok..." Taeyeon meyakinkan sambil mengangkat cangkir kopinya, lalu menyeruputnya perlahan.
"Semoga..." Desah Sungmin.
.
.
Heechul nampak sedang bingung memilih-milih barang di sebuah toko souvenir. Sesekali ia mengusap-usap dagunya sambil menunjuk-nunjuk barang-barang yang ada di depannya. Yaa... malam nanti, tepat jam dua belas lebih satu menit, salah satu dongsaengnya akan berulang tahun, jadi ia sibuk untuk memilih kado yang bagus untuknya. Sekalian membeli beberapa hadiah tahun baru untuk teman-temannya walaupun hanya kecil-kecilan. Dan setelah sekian menit memilih-milih, ia pun sepakat mengambil slayer berwarna merah muda sebagai hadiah untuk dongsaengnya itu. Heechul tersenyum puas memandangi slayer itu.
"Semoga Sungmin menyukainya." Gumamnya. Ia pun berpaling ke konter souvenir lain dan mendapati deretan aksesoris dalam berbagai warna dan bentuk terjajar rapi di dalam rak kaca. Melihat itu, ia pun berminat untuk membelikan teman-temannya kalung dan gelang.
"Maaf, apakah aku bisa melihat-lihatnya?" Tanyanya pada penjaga konter agar membukakan tutup kacanya. Mata Heechul berbinar-binar melihat aksesoris-aksesoris di depannya. Mumpung harganya murah dan barangnya bagus, ia bisa memborong beberapa untuk teman-temannya.
Heechul memilihkan sebuah gelang berwarna putih bersih yang di sudut-sudut tertentunya disentuh dengan warna perak untuk Leeteuk karena ia tahu namja itu suka sekali warna putih. Heechul kemudian mengambil kalung dengan inisial 'D' dan 'E' untuk Donghae dan Eunhyuk yang kebetulan tali dari kalung tersebut bermotif sama. Melihat gelang rantai berwarna merah muda, ia juga sertakan itu untuk hadiah ulang tahun Sungmin. Untuk Kyuhyun dan Siwon, Heechul pilihkan jam tangan berwarna biru tua dan hijau tua untuk mereka. Untuk Yesung dan Ryeowook, Heechul memilih untuk membelikan mereka gelang yang terbuat dari tali berwarna merah-hitam dan ungu-hitam. Untuk Kang In, Shindong dan Kibum, ia memutuskan untuk membelikan mereka topi rajutan berwarna hitam-putih, ungu dan biru muda yang ia lihat tergantung di gantungan topi tak jauh darinya. Untuk dirinya sendiri, ia memilih gelang rantai silver. Heechul mendesah kewalahan karena harus membelikan rekan-rekannya aksesoris yang seseuai dengan warna dan karakter mereka. Tapi, walaupun begitu, ia merasa senang dan tidak keberatan memilih dan membelikannya. Setelah semua dapat, ia pun membayarnya di kasir.
.
.
Heechul menenteng souvenir pembeliannya dalam sekatong plastik putih di satu tangannya, dan tangannya yang lain ia masukkan ke kantong coat abu-abunya. Sesekali ia tersenyum sambil melihat-lihat apa yang ia beli untuk teman-temannya itu. Tapi, setelah ia menyadari derasnya salju yang turun sore ini, dengan sigap Heechul mempercepat langkahnya.
Heechul menyusuri trotoar yang kini padat oleh pejalan kaki. Dua kali ia menyeberang menuju trotoar di seberang. Butiran-butiran salju jatuh dan mencair saat menyentuh kulit putih Heechul. Napas namja berparas cantik itu mengepul saat dihembuskan. Tiba-tiba, ia merasa ponselnya bergetar di dalam saku coatnya. Dengan setengah terperanjat, Heechul pun mengeluarkan ponselnya dan memencet tombol hijau.
"Ne, yeoboseyo?" Sapanya sambil terus berjalan. "Ah! Siwon-ah?" Mata Heechul sedikit terbealak.
"Hyuuung... kau dimana? Teuki hyung tadi mencarimu. Sekarang aku sedang keluar karena diminta Teuki hyung untuk mencarimu..." Kata Siwon di seberang.
"Aiish, tidak perlu! Oke, oke. Aku akan segera kembali!" Kata Heechul akhirnya hingga ia memutus sambungan teleponnya dengan dongsaengnya itu. Heechul menutup ponsel flipnya itu dan memasukkannya ke kantong coatnya kembali.
"Huuuft... dinginnya..." Desahnya sambil berlari-lari kecil menuju gedung SM Entertainment.
Setelah Heechul berjuang demi perjalanannya kembali menuju kantor agensinya—dengan berlari-lari kecil, naik bus—ia pun kini sampai juga di depan gedung dimana teman-temannya berkumpul. Yaa... sebenarnya, ia juga tidak mau buru-buru. Tapi, karena tuntutan cuaca yang dingin, ditambah rekan-rekannya yang mencarinya, alhasil ia harus cepat-cepat pulang. Ini juga salahnya sendiri yang tiba-tiba pergi tanpa bilang-bilang. Setelah hampir seminggu ia terus mengurung diri di dorm—di kamarnya—ia jadi merindukan dunia luar. Dan akhirnya, ia malah jadi keluyuran.
Saat Heechul akan menapakki konblok halaman depan gedung agensinya, seakan ada sesuatu yang mencegahnya, ia pun sesaat mengurungkan niat untuk cepat-cepat masuk. Heechul terhenti tepat di depan gerbang kantor agensi. Ia menengadahkan kepalanya ke atas. Matanya sendu menatap seluruh badan gedung yang berdiri kokoh di hadapannya itu.
Tak dapat ia pungkiri, ia menjadi seperti sekarang ini, selain karena kemampuannya sendiri, tapi juga karena berkat pendiri agensi ini dan kerja keras kru-kru dan staff-staff yang ada di dalam gedung tersebut. Heechul memulai karier sebagai artis setelah bergabung dengan grup beranggotakan dua belas orang pada akhir tahun 2005, dan ditahun berikutnya, keanggotaan mereka ditambah dengan satu anggota dari audisi generasi kedua yang umurnya dibawah rata-rata para anggota senior.
Banyak suka-duka ia jalani bersama rekan-rekan seperjuangannya itu. Awalnya, ia tak percaya bisa mempunyai teman-teman yang aneh bin ajaib seperti teman-temannya kini. Tapi, seiring jalannya waktu, ia jadi terbiasa dan akhirnya berteman baik dengan mereka. Ia dan rekan-rekannya belum tentu dekat satu sama lain. Beberapa diantara mereka ada yang berada di posisi canggung dengan rekan lain. Tapi posisi tersebut sedikit demi sedikit bisa mereka atasi.
Heechul tersenyum kecil saat mengingat masa-masanya yang indah bersama sahabatnya, Hankyung, dahulu kala. Hankyung yang polos, dan Heechul yang hyper, aneh dan mempunyai karakter 4 dimensi, persahabatan yang unik dengan dua kepribadian yang bertolak belakang. Kedekatan Heechul dengan Hankyung bisa dirasakan perbedaannya dengan saat ia dekat dengan rekan-rekannya yang lain. Hingga akhirnya, Hankyung menyatakan perasaannya. Dari tahun 2005 hingga 2009 mereka bersama hingga akhirnya sebuah masalah menimpa Hankyung yang memaksanya keluar dari keanggotaan. Heechul pastilah menjadi orang pertama yang terpukul atas keputusan kekasihnya itu untuk meninggalkannya dan yang lain. Heechul tersenyum getir saat teringat itu semua. Matanya menatap ke bawah—memperhatikan sepatu sekalian butiran-butiran salju yang jatuh di sisi sepatunya.
Heechul terus terdiam sembari menapak tilas kehidupannya setelah resmi menjadi artis di bawah naungan agensinya kini. Tak sedikit hal berkesan, juga menyakitkan yang bersemayam abadi di benaknya. Tapi, sesakit apapun pengalaman itu, sesedih apapun pengalaman itu... ia percaya hal itu akan menjadikannya sebagai pribadi yang lebih kuat, walaupun ratusan butiran air mata berhasil dijatuhkannya demi menyongsong hari-hari dimana ia bisa melewati lorong kesedihan itu.
Sedang asyik-asyiknya merenungkan hidupnya sambil menelusuri setiap inchi gedung SM Entertainment yang menjulang tinggi, tiba-tiba Heechul merasa sesuatu menaungi kepalanya dari jatuhan butir-butir salju putih yang dingin. Menyadari itu, Heechul tercekat dan membalikkan badan. Betapa terkejutnya ia saat melihat seseorang berdiri di belakangnya sambil menaunginya dengan payung transparan.
"S-Siwon...?" Katanya sedikit gagap. Heechul menatap wajah Siwon yang nampak simpati padanya itu. Membuat hatinya luluh sejenak. Tatapan khawatir yang membuat hati Heechul menjadi hangat dan tentram.
"Apa yang hyung lakukan di sini?" Tanya Siwon khawatir. Heechul hanya mengerjap-ngerjapkan kedua matanya sambil menatap lawan bicaranya. "Salju sedang deras-derasnya sore ini. Cuaca dingin sekali... kenapa kau malah keluyuran tanpa bilang-bilang, hyung...?" Protes Siwon. "Yang lain mencari-carimu. Tolong jangan seenaknya begitu... kau juga harus menjaga kesehatanmu. Malam nanti kita masih ada jadwal, kan?" Heechul menundukkan kepalanya setelah mendengar ceramah singkat dari Siwon barusan.
"Mianhae, Siwon-ah..." Lirihnya. Tapi, melihat hyungnya merasa bersalah begitu, Siwon malah lebih merasa bersalah karena sudah memarahi hyungnya itu.
"Ah, hyung... gwaenchana... aku juga salah karena sudah memarahimu." Katanya. "Itu karena aku mengkhawatirkanmu."
Sesaat, suasana berubah sunyi. Yang terdengar hanya suara-suara samar kendaraan dan bunyi sepatu orang-orang yang melintas. Lagi-lagi, dengan tatapan kosong Heechul menatap gedung di hadapannya. Ia terpaku pada sebuah tulisan yang terpampang di tembok gedung itu yang kini menjadi nama dari gedung tersebut.
"Siwon-ah..." Panggilnya pada Siwon yang masih senantiasa bersamanya. "Apa kau tahu? Waktu aku dan Hankyung masih sebagai trainee hingga debut, di sini kami mengikrarkan sumpah demi cita-cita kami beruda dan semuanya." Kata Heechul sedikit bergumam. "Aku dan dia sungguh-sungguh menekuni apa yang telah kami pilih." Siwon tak menduga kata-kata itu keluar dari hyung di sisinya itu.
"Saat akhirnya aku dan Hankyung dimasukkan dalam grup bernama Super Junior ini... kami benar-benar merasa senang sekaligus berdebar-debar. Di dalam grup ini, aku banyak bertemu teman-teman yang sudah kukenal maupun belum kukenal. Saat aku menyadari ada beberapa teman dekatku yang ternyata satu grup denganku, aku merasa bahagia sekali. Tapi, aku juga tidak menyesal ada beberapa teman baru di dalam grup ini."
"Setelah semuanya berjalan selama kurang lebih enam bulan, Kyuhyun pun masuk. Awalnya aku merasa sedikit aneh dengannya, tapi seiring berjalannya waktu, aku malah menjadi dekat dengannya. Semua pun yang tadi canggung satu sama lain, akhirnya bisa berbaur sebagaimana saudara sendiri. Itu membuatku ingin selalu tersenyum bila mengingatnya. Lucu, ya?" Heechul tersenyum, masih sambil menatap gedung agensi yang menaunginya. Siwon menatap hyungnya itu dalam diam.
"Kalian semua mengajarkanku banyak hal. Aku merasa beruntung bisa berada di sisi kalian. Kalian semua mengajarkanku bagaimana cara menghargai hidup. Selain itu, aku juga banyak diajari betapa pentingnya mempercayai kekuatan sendiri." Kata Heechul. "Saat Hankyung akhirnya memutuskan untuk mengambil jalannya sendiri, aku merasa sangat kehilangannya." Lirihnya di akhir kalimat.
"Kalau boleh jujur, aku sangat ingin kembali ke masa-masa lalu. Ke masa-masa penuh kenangan kita bersama. Bila aku diberi kesempatan, ingin rasanya aku membuat mesin waktu, agar aku dapat kembali ke masa lalu. Aku rindu dengan apa yang kita lalukan di masa lalu. Tidak dapatkah itu semua diulang?" Gumam Heechul seraya menengadah ke atas. Matanya sayu menatap langit yang kini mendung. Siwon masih tetap setia menaunginya dengan payungnya. Heechul terus begitu sampai beberapa menit, terdiam sambil merenung. Tapi sedetik kemudian, ia pun menoleh ke arah Siwon sambil tersenyum.
"Gwaenchana, Siwon-ah... sesekali, manusia juga punya waktunya untuk jatuh dan terpuruk, kan?" Katanya sambil menatap Siwon. "Tapi... setelah itu, manusia itu pasti akan jadi lebih kuat. Setelah kejadian yang sempat membuatku terpukul tempo hari, suatu saat nanti, aku akan kembali seperti semula, menjalani hidup dengan senyuman dan tawa." Lanjutnya. Mendengar perkataan Heechul barusan, Siwon merasa tertegun. Hatinya tersentuh. Walau bagaimana pun di antara semua member, Heechul seoranglah yang merasa paling terpukul. Tapi, ia benar-benar bersyukur kalau saja hyungnya itu kini sudah benar-benar pulih dari keterpurukannya.
"Kau benar, hyung..." Jawab Siwon sambil melempar senyum yang menyiratkan simpatinya yang dalam. Sejujurnya, ia bangga mempunyai hyung seperti Heechul. Kembali, Heechul menengadahkan kepalanya menatap awan. Tapi, senyum kini tersungging di bibir ranumnya. Setelah apa yang menimpanya seminggu belakangan ini, ia tak pernah menyiratkan rasa menyesal. Ia percaya, semua itu, suatu hari nanti akan membuatnya jadi seseorang dengan hati yang lebih baik dan kuat.
.
.
Malam pun turun dua jam yang lalu. Kini, kedua belas member Super Junior disibukan dengan aktivitas mereka mengisi acara malam tahun baru di salah satu stasiun tv hingga menjelang pergantian tahun nanti. Dengan sekuat tenaga, mereka mempersembahkan bakat mereka dalam menyanyi dan menari. Terkadang, mereka juga menjadi pelawak dadakan dan membuat semua penonton tertawa.
Walaupun ini pertama kalinya mereka mengisi acara pergantian tahun tanpa Hankyung, mereka tetap bisa menampilkan apa yang terbaik untuk dipersembahkan. Walaupun memang di hati kecil mereka hal ini terasa janggal. Mereka tetap larut dalam kebahagiaan.
Malam ini, mereka membawakan beberapa lagu yaitu Sorry-Sorry, Don't Don, It's You dan Shining Star. Ditambah penampilan duet Leeteuk bersama Kyuhyun. Leeteuk memainkan grand piano solo sebagai pembukaan dan kemudian diikuti Kyuhyun bernyanyi. Leeteuk yang mahir bermain piano tidak tanggung-tanggung saat memainkan pianonya. Dua lagu milik Choppin sekaligus ia bawakan dengan megahnya dan berhasil membuat semua orang kagum. Acara live ini menjadi seperti layaknya mini konser untuk Super Junior karena penampilan mereka yang mendominasi. Selain itu juga demi mereka mempromosikan album mereka yang ke tiga, hingga akhirnya tahun depan mereka merilis album ke empat yang masih dipersiapkan.
Tak terasa, sudah dua jam mereka menghibur penonton yang ada di studio maupun yang menonton lewat televisi. Setidaknya, mereka berhasil membuat akhir tahun ini menjadi lebih bersemangat dengan penampilan mereka. Tepat pukul 24.00 mereka merayakan pergantian tahun bersama. Mereka bersama meniup terompet keras-keras sesaat setelah acara penutup selesai. Balon-balon dan beribu kertas-kertas warna-warni dijatuhkan dari atas studio. Menambah kemeriahan penyambutan awal tahun. Tawa bahagia terlihat di wajah mereka dan bintang tamu lainnya.
Welcome A New Year 2010!
.
.
Selesai mengisi acara, Super Junior kembali menuju gedung agensi mereka untuk mengambil barang-barang yang mereka sengaja tinggal di sana. Grup-grup sahabat mereka ternyata juga sudah banyak yang kembali untuk mengistirahatkan tubuh sejenak sebelum pulang ke dorm masing-masing. Untuk kali ini, mereka mempunyai jadwal masing-masing dan hanya bertemu saat berkumpul di gedung ini saja utnuk istirahat.
"Berhubung awal tahun baru saja datang, bagaimana kalau kita adakan pesta kecil-kecilan di atap?" Usul salah satu manajer grup jebolan S.M Entertainment itu. Dan dengan tangan terbuka, usulan itu langsung diterima. Jarang-jarang para artis dan para staff bisa berkumpul untuk bersenang-senang. Tapi, ralat untuk perkataan si manajer tadi. Apakah benar ini hanya sekedar pesta kecil-kecilan, sementara orang yang diajaknya sebanyak ini? Sambil membawa makanan kecil, minuman ringan, terompet, dan perlengkapan lainnya, mereka semua pun bergegas menuju atap. Waktunya untuk berpesta, kawan!
Tak lama kemudian, atap gedung megah itu pun berubah jadi tempat pesta yang meriah. Makanan dan minuman ditata rapi di beberapa meja yang dijadikan satu di tengah-tengah halaman atap. Sambil menikmati angin malam, mereka bercanda, tertawa dan bernyanyi bersama. Sesekali beberapa di antara mereka mengambil selca-selca lucu bersama rekan-rekan yang lain. Mereka juga bertingkah usil. Sejenak, mereka lupakan tuntutan kerja yang jadwalnya membludak dan juga kelelahan mereka setelah menjalankan beberapa jadwal untuk hari ini.
Berhubung hari sudah berganti tanggal menjadi 1 Januari 2010, semua orang yang ada di atap langsung berbondong-bondong memberi selamat ulang tahun untuk Sungmin. Sungmin yang awalnya lupa pada ulang tahunnya sendiri itu nampak terkejut ketika di depan matanya terpampang kue tart berukuran yang tidak tanggung-tanggung yang disematkan lilin sesuai umurnya dia sekarang. Leeteuk membawa kuenya dari pintu atap gedung sementara mata Sungmin ditutup oleh kain, dan setelah itu dibuka setelah Leeteuk berhenti tepat di depan Sungmin. Senyum sumringah Sungmin merekah sudah. Sambil diiringi gitar dan perkusi meja dan kursi yang sembarang dipukuli, semua pun menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuk Sungmin.
"Saengil chukkae hamnida! Saengil chukkae hamnida! Saengil chukkae uri Sungmin, saengil chukkae hamnidaa!" Seru semuanya sambil bertepuk tangan. Dengan segera, Sungmin pun memanjatkan do'a sebelum meniup api kecil di atas lilin-lilinnya. Tak hanya Sungmin seorang yang berbahagia, tapi semuanya juga. Setelah acara tiup lilin, kue pun dipotong dan dibagi-bagikan. Semuanya duduk manis di bangku-bangku yang tersedia di atap sambil menikmati kue tart Sungmin yang dibuat sendiri oleh Ryeowook diam-diam. Banyak dari mereka memuji kue hasil eskperimen dari sang Eternal Maknae tersebut. Sungmin juga sangat berterimakasih sudah dibuatkan kue itu. Sambil menyantap kue, satu per satu artis dan staff memberikan kado untuk sang Prince Aegyo yang sedang berulang tahun tersebut, tak ketinggalan para memebr Super Junior yang lain.
"Sungmin-hyuung! Kami punya sesuatu untukmu!" Seru sang EunHae couple sambil berlari membawa bingkisan. "Ini untukmu, dari kami berdua!" Lanjutnya layaknya anak kecil.
"Aa... Gomawoyo..." Sambut Sungmin dengan suka cita. Ia pun membukanya tak sabar. Sebuah album foto berwana merah muda yang berisi foto-foto Eunhyuk, Donghae bersama Sungmin. Yaah... memang dasarnya mereka berdua narsis. Tapi, Sungmin menyukainya.
"Hyaa... dasar hyungdeul narsis!" Ejek Jonghyun yang diikuti tawa oleh Taemin dan Key. Sungmin pun ikut tertawa.
"Jangan begitu... kami bersembilan juga punya hadiah untuk sang Prince Aegyo oppa..." Sahut Taeyeon sambil menyerahkan bingkisan bersampul kertas berwarna merah gemerlap.
"Waah... sweater rajutan..." Sungmin mengangkat hadiah dari para member SNSD tersebut sambil menerawangnya senang.
"Kami merajutnya bergantian, lho..." Kata Sunny.
"Gomapta...!" Ucap Sungmin sambil memeluk gemas sweater rajutan berwarna pelangi itu.
"Ehem... kalau begitu, hyungdeulmu yang lain juga tidak kalah, Sungmin-ah..." Tiba-tiba Leeteuk menyambar. "Aku punya sesuatu juga untukmu. Ini, hanya dariku." Lanjutnya sambil menujukkan sebuah gantungan ponsel berbandul kelinci putih. "Walaupun kecil, tapi ini kupersembahkan dari hati untuk dongsaeng bunny-ku." Leeteuk tersenyum. Dengan senang hati Sungmin menerimanya dan langsung memasangkannya pada ponselnya. Pokoknya, malam ini, Sungmin kebanjiran hadiah. Dari F(x), BoA, Kangta, TRAX, SHINee, DBSK juga tak ketinggalan. Dari jauh sana, Henry dan Zhou Mi tak lupa juga mengucapkan semalat ulang tahun dan tahun baru untuk Sungmin melalui SMS.
Saat semua kembali bersenang-senang dengan rekan-rekannya sendiri, kini giliran Heechul memberikan kado untuk Sungmin. Ia mendekati Sungmin yang sedang sibuk dengan kado-kadonya—yang sedang asyik membukanya satu per satu dibantu oleh Kyuhyun. Heechul tidak memberikannya awal-awal dan menunggu saat-saat Sngmin sendirian—atau setidaknya hanya ada satu atau dua orang yang ada bersama Sungmin untuk memberikan kadonya. Ia ingin ini semua menjadi berkesan untuknya dan Sungmin.
"Aku juga punya sesuatu untukmu, Sungmin-ah..." Katanya lirih sambil menghampiri kursi Sungmin.
"Ah? Jinjjayo?" Sungmin ternyata masih antusias seperti biasa. Kyuhyun yang ada di sampingnya juga tak sabar ingin melihat kado apa yang diberikan hyungnya itu pada roommatenya. "Ooh... syal? Gelang tangan juga?" Ucap Sungmin dengan nada kagum sambil mengeluarkan barang-barang pemberian Heechul satu per satu dari kotak bingkisan di pangkuannya. "Gomawoyo, hyung!" Sungmin pun refleks memeluk Heechul erat. Dengan senang hati pun Heechul pun menyambut pelukan dongsaengnya itu.
"Sama-sama, Sungmin-ah..."
"Aku ingin melihat Heechul seperti ini lagi. Untuk kali ini, dan seterusnya..." Gumam Sungmin disela-sela pelukannya. "Aku akan ikut sedih jika hyung terus-terusan berlarut-larut dalam kesedihan seperti kemarin. Tidak hanya aku, yang lain pun juga begitu, hyung..."
Heechul tercenung sesaat. Ternyata, di saat-saat ia berpikir tidak ada orang yang peduli padanya, rekan-rekan satu grupnya malah masih saja setia mengkhawatirkannya. Heechul menyunggingkan senyum setelah mendengar perkataan Sungmin barusan.
"Aku tahu. Kali ini, aku tidak akan sedih lagi, kok. Itu juga semua berkatmu dan yang lainnya." Kata Heechul akhirnya. Sungmin pun lebih mengeratkan pelukannya dengan manja. Membuat Heechul tercekat sesaat.
"Kau tahu, hyung? Kami semua sangat menyayangimu." Heechul terharu mendengarnya. Kedua matanya kini menatap Kyuhyun yang ada di depannya. Kyuhyun dengan senang hati menganggukkan kepala, meyakinkan. Heechul merasa matanya berkaca-kaca.
"Gomawoyo, Sungmin-ah... Kyuhyun-ah... semuanya..." Heechul melepas pelukannya.
"Untuk kedepannya, hwating, hyung!" Seru Sungmin dan Kyuhyun sambil menunjukkan kepalan tangannya. Heechul tertawa renyah.
"Ooii! Sekarang sudah sampai puncak acara, lho! Ayo berkumpuul! Saatnya perta kembang api!" Seru manajer Super Junior yang sedang menyiapkan banyak kembang api dengan berbagai jenis bersama manajer-manajer dan staff yang lain. Semuanya pun berbondong-bondong menyerbu manajer mereka dan beberapa staff yang bersiap menyalakan kembang api tersebut. Dalam hitungan detik, kembang api pun meluncr dan meledak di udara, menyajikan percikan-percikan api warna-warni yang menghiasi langit.
"Waaa... indahnya..." Seru mereka kagum. Beberapa juga ada yang memainkan kembang api kecil dan mengusili rekan-rekannya yang lain. Leeteuk dan Siwon sibuk mengabadikan momen-momen mengesankan ini, yang juga tidak luput dari keusilan rekan-rekannya yang lain. Entah itu satu grup, atau beda grup. Suara gelegak tawa ceria terdengar dimana-mana. Teriakan-teriakan bahagia terdengar semarak siring bunyi kembang api yang meledak di udara.
Kue tart Sungmin yang masih sisa kini menjadi korban comot-comot untuk mencorengi wajah dengan krim-krimnya. Sungmin berteriak geli ketika wajahnya dicorengi oleh rekan-rekan satu agensinya secara bergantian. Ia juga tak mau kalah dan membalas mereka hingga terjadi insiden kejar-kejaran. Heechul juga tak ketinggalan dalam momen-momen manis ini. Sudah empat kali wajahnya menjadi korban coreng-mencoreng para juniornya. Sambil berlari-lari, ia mengejar dan membalas mencoreng. Untuk pertama kalinya setelah seminggu ini, gelak tawa cerianya terdengar lagi. Dari kejauhan, Leeteuk yang sibuk merekam gambar mereka dengan handycam hanya bisa tersenyum puas melihatnya. Di saat-saat yang bersamaan, kembang api mulai melesat dan meledak lagi di udara.
Walaupun cuaca malam hari ini dingin meski salju tidak turun, tapi di atas atap ini seakan kontras dengan cuaca yang ada. Kebersamaan mereka, canda-tawa mereka membuat malam ini terasa hangat. Pernah seseorang berkata, manusia tidak bisa hidup dalam kesendirian. Dengan bersama-sama, mereka bisa melalui segala masalah yang menimpa. Saling menguatkan dan dikuatkan. Manusia ada kalanya terjatuh dan akhirnya mencoba untuk berdiri walaupun menahan sakit dan menangis. Tapi, arti sebuah kehidupan lebih dari itu semua. Pahit dan manis kehidupan bukankah lebih indah jika dilalui bersama?
Dan... malam ini, Heechul pun mulai mengerti makna kebersamaan dan kehidupan. Setelah ditinggal Hankyung, banyak hal baru yang mengajarkannya tentang arti makna dua kata itu. Setiap orang pasti akan kehilangan sesuatu dan menerima sesuatu yang baru. Walaupun begitu, mereka juga tidak akan lekas melupakan dan terus mengingat satu sama lain meski hal baru sudah banyak diraup. Begitulah manusia.
"Ah! Salju turun lagi!"
.
.
TBC
A/N: Hyaa... ngadet banget... maaf, ya, readers... sekolah sudah berjalan seperti biasa dan tugas-tugas numpuk lagi. Pas saia neglanjutin fic ini, ee... jadinya panjang amet. Kepanjangan, gak, sih? Maaf kalau kepanjangan, ya... ide tiba-tiba menyusup, nih, hehehehe :D.
Oke, segini aja, deh, cuap-cuap saia. Bingung mau ngomongin apa. Yang jelas, saia mau berterimakasih buat yang baca n ripiuw dan mohon ripiuwnya lagi, ya... nasihat, kometar, pujian, saia terima dengan senang hati. Jika ada kesalahan pengetikan, mohon maaf banget. Saia agak buru-buru.
Saa... semoga kalian suka. XD
Ms. Simple :D
