--- Kemana langkahku pergi ---

--- Slalu ada bayangmu ---

--- Ku yakin makna nurani ---

--- Kau takkan pernah terganti ---

--- Claire's POV ---

"Sssh, Ann..." aku mencoba menenangkan sahabatku. Ann, sahabatku yang baru saja kehilangan orang yang dicintainya. Oh, tidak, Cliff tidak meninggal. Dia hanya pergi ke pulau sebelah. Cliff memang sahabat baikku, sekaligus orang yang disukai Ann akhir-akhir ini. Perasaan tulus Cliff terus tertanam di hati Ann, membuat Ann tak tahan menangis saat Cliff terpaksa meninggalkan Mineral Town ini.

"...."

Tidak seperti cewek kebanyakan, yang biasanya ditinggal cowok, pasti cewek-cewek bakalan nangis sambil teriak-teriak enggak karuan. Tapi Ann tidak. Dia hanya bisa menangis dengan perlahan tanpa suara. Aku sendiri nyaris tak bisa mendengar isakannya.

"... Claire, maaf ya, sudah memaksamu menemaniku seharian ini. Aku udah enggak apa-apa kok. Cliff memang pergi karena ada hal yang harus dilakukannya disana. Aku mengerti kok. Makasih dan maaf ya, Claire." jelas Ann yang matanya masih sembab. Aku hanya tersenyum lemah melihat sahabatku.

"Oke. Sampai besok ya, Ann."

Aku pergi keluar kamar Ann.

"Ah!"

Aku dan Gray tanpa sadar bertemu. Gray, kakak Ann, memang sejak awal sudah tahu pasti aku akan disuruh datang oleh Ann untuk menemani saat dia menangis.

"Bagaimana, Claire?" tanya Gray datar.

"Sekarang dia sudah tenang." jelasku. "Aku harus pergi. Bye bye, Gray."

Kutinggalkan Gray. Dan aku segera kembali ke pertanianku.

--- Saat lautan kau sebrangi ---

--- Janganlah ragu bersauh ---

--- Ku percaya hati kecilku ---

--- Kau takkan berpaling ---

--- Ann's POV ---

Aku menatap mukaku didepan cermin. Kucoba menghapus air mata yang masih mengalir pelan dari mataku. Sudah Ann, jangan nangis lagi! Kau harus tegar. Kau harus bisa mengerti keadaan Cliff. Dia tak ingin merepotkan ayah dan aku lagi. Dia melakukannya demi aku. Dia juga sudah berjanji akan bertemu lagi denganku suatu saat.

Kutatap jam dinding di kamarku. Aku sedang tak berselera makan. Langsung saja kuganti bajuku ke piyamaku dan tidur.

--- Walau keujung dunia, pasti akan kunanti ---

--- Meski ke tujuh samudra, pasti ku kan menunggu ---

--- Karena ku yakin, kau hanya untukku ---

--- Next Morning ---

--- still Ann's POV ---

Aku terbangun. Baru jam 5 lebih. Aku segera masuk kamar mandi sebelum berebutan dengan ayah dan kakakku yang sama-sama keras kepala soal rebutan kamar mandi. Terkadang aku tertawa sendiri melihar ayahku dan kakakku berantem hanya gara-gara giliran mandi yang selalu ingin duluan. Aku juga pernah ingat saat Gray dan aku berantem mandi duluan karena kudengar Gray bakalan kencan dengan Claire hari itu. Aku beralasan sama, karena ingin jalan-jalan dengan Cliff ke Mother's Hill.

Seusai mandi, kuintip kamar kakak dan ayahku. Hem, mereka berdua masih tidur... Tak ada salahnya membuatkan sarapan kan?

Aku berjalan menuju dapur. Kubuat sarapan untuk aku, kakakku dan ayahku. Kugoreng telur mata sapi masing-masing dua untuk satu porsi, tak lupa daging asap dan jus jeruk segar dari kulkas. Kutata semua di meja makan.

"Huahm, pagi..." sahut ayahku menuju dapur. Kakakku, Gray juga mengikuti di belakang ayahku dengan kilauan mata masih 5 watt.

"Wah, kau membuat sarapan untuk kita, Ann? Waah! Tumben!" ayahku berkata dengan gembira saat melihat meja makan sudah tertata lengkap olehku.

"Wah, tumben nih..." Gray tersenyum pendek. Dia dan ayahku langsung duduk di meja makan.

"Hei, cuci muka kalian dulu dong! Masih pada belekan tuh..." ledekku sambil tertawa kecil.

"Ann..." ayahku memelas, sama dengan kakakku. Ah dasar.

"Cuci muka kalian dulu deh..." saranku.

Ayahku dan kakakku melakukan apa yang kusarankan. Setelah itu, kami makan bertiga.

--- Daytime at Inn ---

"Ayah, Harris pesan 3 lunchbox!" aku memberikan pesanan ke ayah. "Ada yang pesan cheesecake juga selusin!!"

Entah kenapa, hari ini sibuk sekali. Ramai pula. Banyak turis yang berdatangan dari berbagai kota lain. Yah, ini pasti berkat Karen dan kawan-kawan, yang membuat Mineral Town bisa didatangi banyak pengunjung di Mineral Town sih.

Claire dan Popuri juga ikut mampir, dan memutuskan untuk makan siang disini.

"Ann, sibuk ya?" tanya Popuri.

"Kayaknya repot amat... Mau kita bantuin?"

"Iya, entah kenapa bisa seramai ini... Eh, kalian enggak usah bantu kok, enggak apa-apa!" jawabku buru-buru. "Ah, masih ada banyak pesanan. Aku harus segera pergi. Kita makan sama-sama kalau aku udah enggak sibuk ya!" aku segera berlari lagi menuju pelanggan yang meminta pesanan.

Beberapa jam kemudian, Gray pulang. Aku menyuruhnya mengganti giliran. Sekarang giliran Gray melayani para pelanggan. Meski malas, akhirnya Gray mau tak mau menerimanya.

"Cih, padahal aku enggak suka ngelayanin pelanggan bawel..." keluh Gray. "Mau pesan apa?"

Seorang pelanggan berambut pirang dan bermata merah menyebut pesanannya. "Aku mau pesan... Pancake kodok, Kue tart kelelawar, dan Semur trout hidup..."

"Aku mau kue! Kue, kue kueee!!!" jawab seorang anak cewek berambut pink dengan bunga-bunga di kepalanya.

Gray terpaksa buru-buru melayani para pelanggan, sedangkan aku langsung duduk diantara kedua sahabatku, Popuri dan Claire.

"Waduh, Ann, kayaknya kamu capek banget..." sahut Claire sambil memijati pundakku.

"Iya nih... Entah siapa yang membuat Inn seramai ini... Tapi enggak apa-apa sih, kan yang beruntung kita juga..." jawabku sambil tersenyum.

"Coba kalau ada Cliff ya, pasti dia bakal..." perkataan Popuri terputus saat Claire menyumpal mulutnya dengan lap.

Aku terdiam dan menunduk.

"Sssh! Popuri! Nanti dia nangis lagi..." bisik Claire terdengar olehku.

"Enggak sengaja.... Sekarang gimana nih...?" bisik Popuri.

Aku mendongakkan lagi kepalaku sambil tersenyum ceria. "Tak apa-apa kok! Ahaha, Cliff wajar pergi, kok... Tapi enggak apa-apa. Aku harus semangat!"

"Hei! Pelayan! Aku pesan semur jengkol! Bukan semur trout hidup!!!" omel seorang turis berambut pirang.

"Tunggu sebentar! Akan kuganti!" aku segera bangkit sambil menghampiri pelanggan yang marah-marah itu. "Oi, Gray, kamu salah ngasih pesanan nih! Mana semur jengkol!"

"Tunggu sebentaar!" keluh Gray. "Cih, pelanggan kok sok-sok amat sih..."

"Hei, ingat. 'Pelanggan adalah raja'. Jangan lupa itu lho!" pesanku sambil tertawa.

"Hoi! Pelayan! Aku enggak mau ikan Marlin bakar! Aku maunya ikan Yamame goreng!" teriak seorang pelanggan.

"Ya enggak apa-apa kan?! Sama-sama ikan enggak usah protes dong!" balas Gray naik darah.

"Bukan gitu, tapi nama gue juga Marlin, monyet." jawab si pelanggan.

Aku dan Gray sweatdropped.

"Cepat, mana ikan Yamame gorengkuuu!!!!" teriak si pelanggan yang namanya Marlin itu.

"Kurang ajaaaa----" perkataan Gray yang sudah naik tensi ini kuhentikan.

"Sudah, Gray, sabar aja. Kita berikan yang pelanggan mau, oke?" pintaku sambil mengambil piring ikan Marlin goreng itu.

"Hmph... Ya udah..."

--- Pandanglah bintang berpijar ---

--- Kau tak pernah tersembunyi ---

--- Dimana engkau berada ---

--- Disana cintaku ---

--- Evening ---

Sudah jam 8 malam. Para pelanggan yang berdatangan mulai pulang. Akhirnya aku, Gray dan ayahku bisa beristirahat dari keliaran para pengunjung yang datang. Sekarang, pelanggan yang datang cuma Rick, Claire, Jack, sepupunya Claire, Mayor, walikota Mineral Town ini, dan Saibara, kakekku.

"Gila... Capek banget..." Gray meneguk air putih yang baru saja kuambilkan.

"Iya, sama..." aku tersenyum sambil melap dahiku yang sudah keringatan.

"Yaah, entah kenapa bisa datang sebanyak itu, tapi yang penting kita senang kan?" ayahku menjawab gembira.

Aku dan Gray mengangguk.

"Oh ya, ayah, boleh aku istirahat? Tapi di lantai 2, bagian cewek. Enggak apa-apa kan?" pintaku.

"Eh? Boleh aja sih..." jawab ayahku.

Aku langsung tersenyum. "Makasih ayah!"

Aku naik ke lantai dua, menuju kamar bagian cowok. Disitu sudah kosong. Biasanya Gray dan Cliff selalu main sama-sama disini, tapi sekarang dia sudah tak ada. Dia sudah pergi.

Ah! Tak usah dikhawatirkan. Aku tahu Cliff bertujuan baik untuk pergi. Dia memang cowok yang baik, tapi terkadang sifatnya yang selalu ragu-ragu dan mindernya yang selalu membuatku gemas untuk mendekatinya dan menemaninya sebagai 'teman'. Namun perlahan-lahan, aku mulai merasa berbeda sejak Cliff selalu meminta untuk membantu sekali-kali di Inn. Bahkan dia mau membantuku mengurus pelanggan yang berisik. Claire dan Popuri juga pernah meledek kami berdua suami-istri yang kompak. Mukaku sempat bersemu dan kujawab, "Kami hanya sahabat kok!" tapi Cliff tak berkata apa-apa saat aku berkata begitu. Saat aku sadar, aku tahu aku sudah membohongi diriku sendiri. Ingin sekali aku meminta maaf padanya karena sudah menyakiti hatinya.

Tapi Cliff sekarang sudah pergi. Tak apa-apa. Aku takkan menangis lagi. Cliff pasti akan menepati janjinya untuk kembali lagi padaku.

Aku menatap ke arah jendela Inn. Malam ini cerah sekali. Tak ada awan menghalangi. Bintang-bintang bersinar, bagaikan permata di malam hari. Kilauannya yang berbeda-beda mengingatkanku akan dirinya. Cliff... Kau akan menepati janjimu kan? Aku percaya, kau pasti kembali...

Seulas senyuman menghiasi mukaku. Entah kenapa, meski Cliff tak ada, aku tetap bisa merasakan dia berada di sekitarku. Dia pasti akan kembali. Aku tahu dia pasti akan kembali.

--- Walau ke ujung dunia ---

--- Pasti akan kunanti ---

--- Meski ketujuh samudra ---

--- Pasti ku kan menunggu ---

--- Pasti ku kan menunggu ---

--- Pasti ku kan menunggu ---

Sudah hampir sebulan Cliff pergi meninggalkan Mineral Town. Inn tetap ramai, seperti biasa. Sekarang Claire, sahabatku, mulai jadian dengan kakakku, Gray. Kadang aku meledek kakakku dengan menyebut-nyebut nama sahabatku hingga mukanya memerah semerah tomat. Kadang aku merasa iri dengan kedekatan Claire dan Gray, dan kadang sifat brother complexku keluar saat melihat Gray bersama Claire.

"Ann... Oi, Ann!"

"Hah?"

"Kok ngelamun, Ann?" tanya Claire. Sekarang dia sedang mampir ke Inn, seperti biasa, makan siang disini. Dia berhenti memakan makan siangnya karena memanggilku yang sedang melamun. "Kalau kebanyakan melamun, nanti kerasukan setan lho!" ledeknya.

"Ih, Claire bisa aja... Ha ha ha..." jawabku sambil tertawa.

Claire tersenyum saja.

KREK.

Terdengar pintu terbuka. Pasti pelanggan.

"Ah, udah ya, Claire! Ada pelanggan nih." aku mengeluarkan buku catatan kecil dari overall-ku. Saat aku menatap sang pelanggan, ya ampun... Pandanganku kaku.

"Hai... Ann..." sapa sang pelanggan. "Sudah lama aku tidak kembali ke sini... Aku kangen banget sama kamu, dan semua orang-orang di Mineral Town ini..."

Mulutku bergetar. Kujatuhkan buku memo kecilku.

"... Tapi cuma ada satu orang yang paling kurindukan saat tinggal di pulau sebelah. Kau, Ann..." muka sang pelanggan memerah. "Aku kangen banget sama kamu..."

Badanku mulai bergetar. Refleks, aku langsung memeluk sang pelanggan.

"Terima kasih... Kau tepati janjimu..."

"Aku kan sudah bilang... Kalau aku akan menepati janji, ya kan, Ann?"

"Iya..."

--- Karena ku yakin, kau hanya untukku ---

--- Karena ku yakin, kau hanya untukku ---

--- Hanya untukku ---

---+---

Selesaiiii~~~

Waah, AnnXCliff!! XD Lagunya dari Chrisye - Untukku.

Akhirnya kutepati janjiku... Oke, RnR yaa~ Kalau mau nge-flame jangan banyak-banyak, soalnya anisha enggak tau nomor pemadam kebakaran... -bawel- Ya udah... Review ditunguu~~~