(!) Tidak diterjemahkan secara harfiah...


Lesson 6: Kissing is never enough (part two)

.

Ketakutan Baekhyun pada ujiannya agak sedikit mereda. Rupanya, ide Chanyeol untuk pergi ke tempat pizza hari itu untuk menghibur Baekhyun. Aku merasa lega mengetahui bahwa Baekhyun mengira aku langsung pulang ke rumah segera dari asrama hari itu.

Kami memutuskan untuk menonton sebuah film di malam hari pada salah satu minggu yang berat, meringkuk satu sama lain sambil mengunyah popcorn setelah belajar selama berjam-jam. Baekhyun sudah setengah tidur, kepalanya beristirahat di dadaku dan aku nyaris tidak bisa bernapas dengan benar karena itu.

Hari yang kuhabiskan dengan Sehun di mall begitu luar biasa. Dia bahkan menjemputku keesokan harinya di rumahku, dan kami pergi ke tempat es krim kesayangan kami lagi untuk dessert yang lezat. Dia mencuri ciuman sesekali sebelum kemudian dia mengantarku ke asrama pada larut malam di malam harinya. Namun setelahnya, dia tidak pernah mengirim pesan padaku. Dia bahkan tidak menelponku setelah kelas selesai dan tidak membalas pesanku untuk waktu yang lama.

Aku sungguh bingung dengan sikapnya. Itu seperti dia sedang bermain tarik tambang denganku... Menarikku begitu dekat kemudian melepasku untuk jatuh jungkir balik tanpa ampun...

"Baekkie?" Aku memanggil Baekhyun dan dia bergumam mengantuk sebagai tanggapan.

"Bagaimana kau dan Channie mulai berkencan?" tanyaku.

"Kau sudah tahu," gumamnya pelan.

"Ya, memang." Aku mengangguk. "Tapi aku ingin tahu apa yang kau pikirkan saat pertama kali bertemu dengannya. Bagaimana kau tahu dia tertarik padamu tidak hanya untuk...kau tahu...sesuatu secara fisik...?"

Baekhyun mengangkat kepalanya untuk menatapku selama beberapa detik dengan binar penuh kecurigaan di matanya. Aku menelan ludah ketika aku menoleh ke arahnya, bertanya-tanya apakah dia akan bertanya mengapa aku secara tiba-tiba ingin tahu tentang hubungannya.

"Yah, kau tahu bahwa kami bertemu di pesta ulang tahun seorang teman." Baekhyun bercerita. "Dan kami menghabiskan sepanjang malam dengan mengobrol dan tertawa bersama. Kemudian akhirnya, kami bertukar nomor. Chanyeol menelponku untuk mengajakku pergi keluar beberapa kali dan pertamanya, aku benar-benar tidak ingin pergi. Tapi aku bosan padanya karena anak itu tidak pernah menyerah! Jadi kuputuskan untuk menerima ajakannya sekali dan mengatakan padanya jika aku tidak tertarik. Tapi kemudian saat aku pergi dengannya... Aku merasa itu adalah malam paling indah yang pernah ada dan aku menyesal tidak menerima ajakannya sejak awal..."

Aku terkekeh. Kisah mereka begitu lucu dan aku sepenuhnya bisa membayangkan bagaimana Chanyeol menjadi seekor puppy terluka kapanpun Baekhyun menolak ajakannya untuk pergi.

"Apakah dia sulit ditebak? Seperti, ada saat ketika kau tidak tahu apa yang dipikirkannya?" Aku bertanya lebih jauh.

"Hmm..." Baekhyun mengetuk-ngetuk dagunya. "Kau tahu betapa mudahnya Channie ditebak. Maksudku, aku bisa tahu apa yang dia pikirkan bahkan sebelum dia mengatakan apapun. Dia begitu transparan,"

"Benar," bisikku. Itu tidak sama sekali membantu kasusku. Sehun dan Chanyeol adalah dua pribadi yang jauh berbeda.

"Tapi itu tidak sulit untuk mengetahui seorang yang menyukaimu." Baekhyun tersenyum melihat wajah murungku. "Dia akan selalu menjagamu, melindungimu, ingin menghabiskan waktu denganmu dan menggodamu karena dia ingin mendapat perhatianmu... Ini adalah hal-hal sederhana yang akan memberi tahumu betapa dia menyukaimu. Jika dia hanya ingin seks, dia tidak akan pernah mau repot-repot melakukan semua itu untukmu."

Aku tidak bermaksud untuk memerah, namun tiba-tiba aku teringat bagaimana Sehun melakukan semua yang Baekhyun sebutkan. Dia menjagaku, memanjakanku, dan selalu menggangguku, namun dia selalu berhasil membuatku merasa lebih baik setelahnya. Dia ingin mengawasiku dan memastikan aku sampai ke dalam rumahku dengan aman dan kupikir itu manis.

Namun, dia telah menekankan dengan sangat jelas bahwa dia tidak akan pernah jatuh cinta padaku... Aku bertanya-tanya apakah dia akan berubah pikiran...

"Hmm apakah ini pria yang sama dengan pria yang membuatmu mencampakkan Kris?" Baekhyun menyeringai padaku.

"Tidak, tidak!" Aku menggeleng. "Itu tidak seperti yang kau piki—"

"Ah jangan bicara!" Baekhyun meringkuk di dadaku lagi. "Kau adalah pembohong terburuk yang pernah ada. Lebih buruk dari Chanyeol."

Aku terkekeh ketika kudengar Baekhyun mulai mendengkur dalam hitungan detik setelahnya.

"Selamat malam Baekkie." Aku mencium dahinya dan melingkarkan lenganku di sekitar Baekhyun sebelum tidur juga.


.


Ujian semakin dekat namun aku tidak bisa fokus pada pelajaran. Aku tahu Sehun berusaha untuk tidak mengalihkan perhatianku dan karena itulah dia tidak pernah menelponku lagi. Dia hanya mengirim pesan setidaknya sekali dalam sehari dan aku merasa puas dengan itu setidaknya untuk saat ini. Aku tahu aku harus berkonsentrasi pada pelajaran, namun tiba-tiba memiliki seseorang yang memberi perhatian padamu, itu cukup mengangguku. Aku menunggu setiap hari baginya hanya untuk mengirim pesan padaku dan bertanya bagaimana keadaanku.

Setelah hari panjang dengan pekerjaan tak berkesudahan, aku memutuskan untuk mandi air hangat. Aku menghabiskan berjam-jam untuk berlatih matematika. Aku membuat banyak kesalahan dan hanya mengerti sedikit konsep. Itu membuatku begitu frustasi karena satu-satunya yang bisa kupikirkan hanyalah kapan aku bisa bertemu Sehun lagi.

Menghapus uap di cermin kamar mandi, aku menatap bayanganku sendiri. Mataku besar, wajahku terlalu kecil dan hidungku begitu mungil. Baekhyun selalu berkata bahwa aku sangat tampan. Benarkan aku seperti itu? Tapi aku tidak pernah suka bagaimana wajahku atau bagaimana tubuhku yang begitu kurus. Baekhyun adalah sahabatku, tentu saja dia tidak akan pernah memberitahuku betapa tidak menariknya aku. Namun masalahnya Sehun juga pernah bilang begitu...

Apa yang bahkan Sehun sukai dalam diriku? Aku mendesah ketika mataku tertuju pada bekas gigitan merah keunguan di leher dan tulang selangkaku. Ini terasa bergerinjul di bawah sentuhanku, bentuk gigi Sehun menonjol di kulit putihku dan wajahku berubah merah padam. Sehun begitu jahat, menandaiku dengan sangat jelas dan aku bahkan tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikannya.

Ponselku yang tergeletak di tepi wastafel menyala. Aku tersenyum karena aku tahu siapa itu. Dia biasa mengirim pesan padaku sebelum dia tidur di sekitar jam ini.

Sehun: Hai baby, apa yang sedang kau lakukan?

Aku: Hai... Aku baru saja mandi.

Sehun: Mmmm... Aku bertaruh kau akan terlihat sangat cantik saat telanjang.

Aku terkikik.

Aku: Aku tidak cantik.

Sehun: Kau bercanda, 'kan? :/

Aku: Tidak, aku tidak.

Sehun: Apa kau mabuk lagi? :p

Aku: Lucu. Aku sudah tidak menarik dan kau memberiku tanda mengerikan di kulitku -_-

Sehun: Tanda apa?

Aku: Gigitan di leher dan tulang selangkaku.

Sehun: Haha maksudmu hickeys?

Aku menyentuh tanda itu dan berbisik. "Hickeys..."

Sehun: Aku ingin lihat...

Aku: Bagaimana?

Sehun: Kirim aku gambarnya.

Aku: GAMBAR AKU TELANJANG?!

Sehun: Hanya bagian atas tubuhmu :p aku hanya ingin melihat hickeys.

Aku memerah.

Aku: Oke...akan kucoba...

Aku belum pernah mengambil selfie sebelumnya. Itu membingungkan ketika aku mengaktifkan kamera depan yang tidak biasa kupakai kemudian melihat kesana. Aku mengambil beberapa poto diriku dan tidak senang dengan satupun hasilnya. Aku meringis menemukan salah satu poto yang cukup mengerikan dimana aku menatap kamera dengan begitu serius dengan mataku yang terlihat besar dan tampak berair. Namun, disana aku berhasil mendapatkan wajahku beserta hickey di kulitku dalam satu poto. Aku tahu aku tampak seperti idiot dengan mulut setengah terbuka dan lidah menjulur di sisi mulutku karena aku yang lebih berkonsentrasi untuk memotret daripada mengatur ekspresiku. Namun begitu, aku memilih poto itu untuk aku kirimkan pada Sehun, karena aku tidak bisa lagi mengambil poto diriku lebih banyak.

Tidak butuh waktu lama untuk mendapat balasan Sehun...

Sehun: Sial...

Aku: Hmm?

Sehun: Sial Luhan, kau terlihat begitu seksi! Lidahmu, itu sungguh menggodaku...

Aku: A-aku pikir aku terlihat bodoh...

Sehun: Bodoh?! Potomu membuatku begitu sialan keras! Kulitmu terlihat begitu halus, begitu lezat ketika basah seperti itu...

Aku: Tidak, berhenti mengatakan sesuatu seperti itu...

Sehun: Mmmm... Aku ingin menciummu, lebih ingin menggigitmu... Aku ingin mendengar eranganmu, terengah-engah saat kau menjeritkan namaku... Aku ingin membuatmu cum hanya dengan setiap ciumanku...

Aku: Sehun kumohon tidak...

Sehun: Temui aku sekarang juga.

Aku: Sekarang jam 11, Sehun. Ini sudah sangat larut.

Sehun: Itu bahkan lebih baik karena hanya akan ada sedikit orang di luar. Aku harus melihatmu atau jika tidak aku akan gila. Aku membutuhkanmu, Luhan.

Aku membutuhkanmu, Luhan...

Aku: Dimana kita bertemu?

Sehun: Di tempat pribadi kita di perpustakaan. Aku akan disana dalam 5 menit.

Hanya ada beberapa mahasiswa di perpustakaan malam ini, kebanyakan dari mahasiswa sudah berada di asrama mereka, kelelahan setelah seharian belajar. Aku menelan ludah sementara berusaha untuk sebisa mungkin tidak terlihat mencolok, pura-pura bahwa aku disana untuk belajar juga.

Jantungku berdegup kencang ketika aku menunggu di sudut gelap perpustakaan diantara buku-buku berdebu... Sosok tinggi muncul di pintu masuk dan aku menegang. Dia berjalan pelan ke arahku dan aku merasa kotak gairahku akan meledak. Tangannya menyentuh pipiku, kemudian menyusuri garis hidungku hingga sampai ke bibirku...

"Luhan..." Suaranya bergema dalam rasa sakit. "Bawa aku kembali hidup..."

Kemudian dia menekan bibirnya pada bibirku. Malam ini tidak panas namun aku marasa akan meleleh dan ambruk, tubuh dan pikiranku menolak untuk bekerja sama ketika bibirnya menyatakan perang terhadap bibirku.

Kegelapan menyelimuti tubuhku, aroma kuatnya yang begitu memikat membuatku ingin menyembunyikan tubuhku dalam pelukannya, dan aku tahu malam beracun ini tidak akan cukup hanya dengan sedikit ciuman. Ini membutuhkan sesuatu yang lebih surreal, fantasi rahasia di otakku menuntut untuk terpenuhi.

Bibirnya membakar titik yang sama di leherku dan turun sampai tulang selangkaku, membuat tanda yang dibuatnya semakin jelas. Itu aneh bagaimana aku kecanduan akan rasa sakit tidak bermoral ini sehingga aku bahkan tidak memintanya untuk menghentikan penyiksaannya di tubuhku. Aku tersentak dan menggigil, tanganku mencengkram bagian belakang kemejanya ketika bibirnya mulai melumpuhkanku. Aku tahu malam ini dia putus asa dan aku bahkan mungkin lebih putus asa darinya... Aku menginginkannya untuk menyentuhku lebih dalam...

Dia dapat membaca pikiranku seperti biasanya. Sementara punggungku membentur rak buku dan bibirnya sibuk dengan bibirku, tangannya perlahan turun menuju kekerasanku yang berkedut diantara pangkal pahaku. Jari-jarinya menggoda milikku yang masih tertutup kain dan aku merintih putus asa.

"Begitu responsif." Dia terkekeh merasakan aku semakin keras dalam genggamannya. "Aku yakin kau sudah sangat basah di dalam sana sekarang..."

Aku sudah sangat sialan basah. Tubuhku gemetar dibawah sentuhannya. Merasakan kulitnya di kulitku, aku tidak harus menunggu terlalu lama untuk keinginanku terpenuhi. Jarinya membuka kancing dan menurunkan risleting celanaku sementara aku berusaha sebaik mungkin menahan pikiran cabulku. Keheningan sebagian terisi dengan ciumannya dan sebagian oleh suara yang keluar dari bibirku yang terdengar seperti tengah memohon bantuannya untuk menghidupkanku kembali dengan aku yang menyerahkan diriku sepenuhnya padanya.

"Mmm...begitu cantik," bisiknya, mengusap celana dalamku dengan sensual. "Aku ingin tahu bisa sekeras apa kau... Kau begitu memikatku, Luhan..."

"Kumohon..." Aku merintih.

"Mohon apa?" Dia menggoda.

"S-sentuh aku..." rengekku.

"Dimana?" Dia bertanya dan aku tahu dia tersenyum. "Tunjukkan padaku..."

Tanganku yang gemetar mencengkram jari-jarinya yang tengah menutupi penis berpakaianku dan membawanya menyusuri perutku. Dia terkekeh kecil, melihat keputusasaanku akibat sentuhannya. Jari-jari rampingnya menyusup perlahan ke dalam celana dalamku, kukunya menusuk kulitku dan berada begitu dekat dengan kekerasanku sehingga aku mengerang. Napasnya memberat ketika jari-jari panasnya dengan lembut mencengkram batang kerasku, gairah di matanya membuatku gemetar ketakutan.

"Begitu erotis." Dia berbisik, mengusapka ibu jarinya pada ujung lengket penisku. "Katakan padaku Luhan, apa kau berfantasi tentangku?"

Aku menelan ludah dan mengangguk.

"Gunakan kata-katamu." Dia menuntut.

"A-aku melakukannya," rengekku. "Aku begitu sering berfantasi tentangmu. Aku juga tidak bisa berkonsentrasi belajar karena itu,"

"Apakah ketika kau bangun di pagi hari kau menemukan dirimu basah dan horny?" Dia berbisik dan aku memerah.

"Terkadang..." Suaraku lebih terdengar seperti bisikan.

"Apa kau menyentuh dirimu sendiri semetara kau memikirkanku?" Dia berbisik, suaranya terdengar begitu lapar.

"T-tidak..."

"Kenapa tidak?"

"Aku takut,"

"Pada apa?"

"Takut aku tidak bisa menghentikan diriku dan melakukannya lagi dan lagi." Aku melihatnya dalam ketakutan namun dia hanya tersenyum.

"Oh Sweet Hannie." Dia terkekeh. "Aku akan membuatmu ketagihan dengan itu..."

Mataku melebar dan dia membungkam bibirku dengan bibirnya sebelum aku bisa menolak. Jarinya meremas penisku dengan kuat dan aku memekik dalam mulutnya. Gerakkannya kemudian berubah lesu ketika ia membelai dari pangkal hingga ujungku dengan santai, dan dengan penuh kehati-hatian dia mengoleskan cairanku sendiri pada batangku. Sementara tangannya berada di ujung, dia membiarkan satu jarinya dengan lembut menggoda dan menggelitik daging sensitifku. Aku meronta dalam cengkramannya namun dia menekanku pada rak, mulutnya menyerap tangisanku. Dia melepaskan ciumannya sejenak untuk membiarkan aku bernapas dan melihat mataku yang berkaca-kaca memohon belas kasihnya.

"Lain kali jika kau terangsang." Dia berbisik, mengusapkan hidungnya di pipiku. "Aku ingin kau menyentuh dirimu sendiri, hanya cengkram penismu dan tarik dengan kuat sampai kau kehabisan napas. Jangan melawannya. Biarkan dirimu menikmatinya..."

"Sehun..."

"Aku janji itu bukanlah hal yang buruk." Sehun menyisirkan jarinya di rambutku. "Karena aku melakukannya juga,"

"Kau melakukannya?" tanyaku, terengah-engah.

"Setiap malam." Dia mengerang. "Namun akhir-akhir ini, aku melakukannya lebih sering karena kau berada dalam pikiranku setiap waktu..."

Aku merengek ketika jari-jarinya mulai memompaku dengan lembut sementara kata-katanya menari-nari di kepalaku...

Kau berada dalam pikiranku setiap waktu...

"Aku bermimpi tentangmu di malam hari." Dia menggeram. "Aku akan terbangun dan menyadari jika aku membuat celanaku basah. Kau menyerang lamunanku dan sial, aku horny setiap waktu Luhan!"

Dia mendesiskan beberapa kata terakhirnya, membuatku menggigil. Kecepatan pompaannya di penisku semakin bertambah, tangannya sekarang lebih licin dan lebih lincah dari sebelumnya. Napasku tersendat di tenggorokan sementara aku berusaha menjernihkan pikiranku. Mata tajamnya berubah menjadi lebih gila, suaranya serak dengan rasa lapar yang tidak diragukan lagi ketika dia menggeram padaku. "Berbaliklah..."

Punggungku menempel di dadanya sementara cengkramannya pada penisku tidak sama sekali mengendor. Aku merasakan napas berantakannya di telingaku ketika tanganku menempel pada kayu rak buku untuk menahan tubuhku agar tetap berdiri. Aku merasakan sesuatu yang keras diantara pipi pantat berpakaianku dan aku tersentak.

"Fuck!" Aku mengerang ketika inti yang belum terjamah dalam diriku menjerit dalam kebutuhan. Aku tidak tahu jika aku bisa seterangsang ini ketika punggungku melengkung sejajar dengan tubuhnya, merasakan jari-jari membakarnya menahan pinggulku dengan kencang.

"Argh baumu begitu nikmat!" Dia menggeram di telingaku. "Aku ingin mengubur penisku dalam lubangmu begitu buruk."

Gerakan tangannya di penisku semakin cepat sementara lengannya melingkari pinggangku. Aku bisa merasakan napas panasnya di leherku, lidahnya yang basah menjilat telingaku ketika dia dengan panik menekan penisnya yang keras dan besar pada celah pantatku yang tertutup.

Lengannya yang masih menahan tubuhku menyusup ke dalam pakaianku kemudian mengagumi kulit dadaku. Dia mengutuk di telingaku sementara tubuh kami semakin basah dan udara di sekitar kami mulai menipis. Aku berusaha untuk tidak meringis ketika dia mencubit putingku dengan keras.

"Aku harus berjalan seharian dengan penisku yang keras," desisnya padaku. "Semua itu karena dirimu, Luhannie! Oh Tuhan, aku berfantasi tentang mulutmu yang berada di penisku dan kau yang menciumnya seperti bagaimana kau mencium bibirku dengan begitu lapar..."

Aku begitu dekat. Tubuhku bersandar pada tubuhnya ketika dia tanpa ampun menyusuri jari-jarinya ke setiap titik sensitifku, satu waktu dia meraih balls-ku dan meremasnya dengan begitu kencang sampai aku mengerang tidak terkendali. Aku tidak peduli dengan tempat, waktu atau siapapun sekarang. Aku merasakan bibir panasnya mencium sisi wajahku, kemudian leherku sementara dia terus membisikkan kata-kata kotor di telingaku.

"Kau begitu buruk untukku." Aku merengek. "Tapi aku suka bagaimana kau mengacaukan aku..."

"Mmm ya!" bisiknya, menjilati daun telingaku. "Aku ingin mengacaukanmu dengan cara apapun..."

Dan akhirnya aku datang, ejakulasi dengan keras, lebih keras dari yang pernah aku alami sebelumnya. Tubuhku bergoncang namun cengkramannya di dadaku cukup kuat untuk menahanku, tangannya mengambil orgasmeku sementara aku mendorong cairanku keluar semakin banyak. Dengan napasnya yang terengah di telingaku, aku merasakan rangkaian warna psychedelic di bawah kelopak mataku. Tidak pernah sebelumnya aku merasakan perasaan yang begitu surgawi seperti ini, sesuatu yang memabukkan, menyenangkan, dan begitu memuaskan. Aku benar-benar kehilangan akal sehatku dan aku merasa sungguh takut akan betapa nikmatnya semua yang dia lakukan padaku.

Aku tahu tidak ada cara bagiku untuk bisa kembali sekarang...

"Sehun, Oh Sehun..." Aku menjerit ketika lidahnya menekan lebih dalam ke telingaku.

"Baby, kau keluar begitu banyak." Dia mencium pipiku.

"M-maaf," bisikku dan dia tertawa kecil. Aku berbalik menghadapnya, mengamati wajah dan rambutnya yang berkeringat. Tampak begitu menggairahkan.

"Tidak, jangan minta maaf." Dia tersenyum sebelum mencium bibirku. Dia mengangkat tangannya yang kotor yang sebelumnya ia gunakan untuk memompa penisku kemudian menjilati cairan putih diantara jemarinya. Sementara melakukannya, pandangannya tetap terpaku padaku dan aku gemetar, bertanya-tanya seperti apa itu rasanya. Aku memerah sementara dia menarikku mendekat ke tubuhnya dan menyatukan dahi kami.

"Apakah itu terasa nikmat untukmu?" tanyanya lembut.

"Lebih nikmat dari yang aku kira," kataku dan dia bergumam sambil tersenyum.

"A-apakah kau cum juga?" aku bertanya, malu-malu.

Dia terkekeh, napasnya masih terdengar berat. "Maaf baby, aku butuh sesuatu yang sedikit lebih kasar untuk klimaks," katanya. "Meski begitu kau berhasil membuatku begitu dekat..."

Aku mencium bibirnya dengan lembut dan dia menggeram padaku.

"Aku masih terangsang jadi jangan lakukan itu." Dia membentak. Aku menahan tawaku.

"Hannie yang jahat," bisiknya pelan. "Tertawa di atas penderitaanku,"

"Maaf," kataku, menggigit bibirku dan menatapnya dengan polos.

"Dasar anak nakal." Dia terkekeh, "Sementara aku membutuhkan waktu untuk menidurkan kembali adikku, mengapa tidak kau bersihkan dirimu, baby? Aku akan menemuimu di luar,"

"Oke." Aku melingkarkan lenganku di lehernya dan memberinya ciuman panas. Dia bergidik penuh kesenangan sementara aku merasakan dorongan ego yang aneh dalam sistemku.

"Aku akan membalasmu untuk ini." Dia mendesis pada wajah menyeringaiku.

Masih terkekeh, aku berjalan keluar dari balik rak. Aku menyingkirkan rambut berkeringatku dari wajahku, tidak bisa berhenti tersenyum. Aku menarik napas dalam-dalam kemudian menutupi wajah dengan kedua tanganku sementara bertanya-tanya bagaimana menghentikan pikiran berantakan kami agar tidak menjadi gila. Hilang dalam pikiranku sendiri, aku tidak menyadari keberadaan seseorang yang bersembunyi di balik dinding...

"Ha! Akhirnya aku menangkapmu serangga!" Orang itu berteriak sementara menyambar kerah kemejaku.

Aku mencicit terkejut, berusaha melepaskan diri dari cengkramannya. Dia adalah seorang pria kekar yang memakai seragam keamanan.

Penjaga keamanan perpustakaan...

"Lepaskan aku!" Aku berteriak.

"Tidak semudah itu, Nak." Si penjaga berkata. "Akhirnya aku menangkapmu. Kau terlalu banyak bersenang-senang di perpustakaan, bukan begitu?"

"I-itu bukan aku!"

"Ya tentu saja, aku percaya padamu." Dia tertawa mengejek. "Aku mendapat keLuhan tentangmu selama berminggu-minggu dan aku akan membawamu ke Dekan sekarang juga."

Dekan...

Dekan adalah ayahku...

"T-tidak, kumohon, jangan Dekan kumohon tidak!" Aku berteriak namun penjaga tidak peduli. Aku menangis mohon ampun, kakiku diseret oleh pria besar itu ketika kami berjalan menuju kantor administrasi. Apa yang harus aku katakan pada ayahku? Jika dia tahu tentang aku dan Sehun, dia akan memecat Sehun dan membuatku berhenti kuliah kemudian mengurungku dalam kamar selama sisa hidupku.

Oh Tuhan tidak, tidak ayahku. Dia akan membunuhku malam ini juga. Aku harus keluar dari situasi ini. Aku harus berbohong dan mengaku dengan tegas bahwa itu bukan aku. Ini adalah mimpi buruk paling buruk yang telah menjadi kenyataan. Aku akan dilempar ke dalam kerak neraka tanpa apapun yang bisa menyelamatkan jiwa malangku.

"Masuk!" Suara ayah menggema setelah si penjaga mengetuk pintu.

"Sial." Aku merintih, air mata mengalir di pipiku.

Kami memasuki kantor ayah yang merupakan tiruan persis dari ruang kerjanya di rumah. Ini gelap dan suram dan aku tahu aku akan dihukum tanpa pengampunan disini. Ayahku bekerja di mejanya tanpa mengangkat wajahnya.

"Bapak Dekan." Si penjaga membungkuk. "Anak ini telah melakukan hal-hal yang tidak senonoh di perpustakaan selama beberapa bulan. Salah seorang mahasiswa komplain karena dia mendengar erangan dan suara kotor lainnya yang berasal dari lantai tiga perpustakaan dan saya bergerak untuk menyelidikinya sendiri kemudian menangkap basah anak ini."

Ayahku masih tidak mengangkat wajahnya dari pekerjaannya selama si penjaga bicara.

"Terima kasih atas kerja kerasmu," kata ayah, dengan serius. "Mohon tinggalkan dia disini."

Penjaga itu membungkuk dan segera pergi, meninggalkanku di bawah belas kasihan ayahku.

Ketika dia mengangkat wajahnya yang marah untuk menatapku, aku akhirnya mengerti mengapa Baekhyun selalu menyebutnya iblis...


.


Thanks for reading

.

520!