11th Cap
"Tidak, tidak. Jangan lakukan itu. Kalian tidak akan mendapatkan apapun jika seperti itu. Untuk saat ini kita harus fokus pada siapa pelakunya. Jangan pedulikan mereka. Tetap lanjutkan pemeriksaan. Aku tidak bisa mendapatkan sample dari Kyuhyun, tapi para dokter sudah memastikan jika jenis racun itu sama….. Ah. Kalian sudah mengumpulkan semua CCTV? Jangan sampai ada yang terlewat. Pakaian, peralatan makan, mandi, bahkan parfumnya. Aku ingin kalian memeriksa semua itu. Jika perlu aku akan meminta izin untuk penggeledahan rumah komisaris Lee Joosok… Ya. Dia baik-baik saja… Belum. Dokter mengatakan kita masih harus menunggu. Ia masih belum sadarkan diri… Ya… tenang saja. Aku akan memberitahu jika ada perkembangan."
Ryeowook hanya terdiam memperhatikan seorang pria yang sejak dari tadi terus saja menelepon. Namun siapapun mereka yang mendapat panggilan, ia yakin bahwa orang ini memiliki sebuah tanggung jawab besar atas apa yang sedang terjadi. Sangat mengesankan. Jika dirinya saat ini sudah sangat yakin tidak ingin melihat dirinya di depan cermin karena pasti akan melihat sosok zombie di sana, pria di hadapannya justru masih terlihat rapi dan berkharisma. Sikapnya memang tidak setenang sungai Hangang saat musim dingin, namun tatapan mata itu sangat fokus hingga mungkin dapat menembus sebuah dinding beton di sekitar lorong rumah sakit. Kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu tertata, tidak cepat namun juga tidak terlalu lambat, sangat tegas dan lugas, sampai sepertinya tidak ada satupun dari kalimat yang terucap akan salah diartikan.
Ryeowook mengingat lagi nama pria itu. Park Jungsoo jika tidak salah dengar. Pria tersebut langsung menjabat tangan dan menyebutkan namanya saat baru memasuki kamar perawatan. Orang ini seorang jaksa.
"Ah. Maaf. Aku harus melakukan beberapa panggilan untuk memastikan. Kau tahu. Semuanya kacau. Aku sama sekali tidak menyangka hal ini akan terjadi. Begitu tiba-tiba." Jungsoo akhirnya bicara pada pemuda yang berdiri di depannya setelah selesai dengan semua panggilan tadi.
Ryeowook menggeleng menanggapi perkataan Jungsoo. "Tidak ada yang akan menyangkanya Tuan Jaksa." Ujarnya pelan. Namun ia seperti sedikit kehilangan orientasi dengan perkataan yang keluar dari mulutnya sendiri. Sesuatu seperti mengganggunya. Setiap perkataan dari sang jaksa seperti menampar dinding paling tebal yang membungkus banyak ingatan masa lalunya.
Jungsoo membenarkan perkataan tersebut. Dilihat dari manapun, kejadian ini tidak akan pernah menjadi sesuatu yang akan disangka oleh semua orang.
Pagi yang buruk karena tidurnya diusik oleh sebuah kabar tewasnya seorang tersangka atas kasusnya baru-baru ini. Pembunuhan tidak pernah menjadi hal yang biasa walaupun pekerjaannya akan selalu berhadapan dengan semua itu. Terlebih jika korbannya adalah sebuah kunci untuk bisa melewati pintu dari semua misteri di balik kekuasaan. Ia sangat marah. Kematian komisaris Lee sama artinya dengan kehilangan satu petunjuk penting. Jungsoo benar-benar tidak ingin tersesat lagi.
"Bagaimana kau menemukannya? Maksudku, Kyuhyun." Jungsoo buru-buru menambahkan karena pertanyaan pertamanya membuat pria di sana mengerutkan kening.
"Kami tinggal bersama."
"Huh?"
Ryeowook tidak langsung menyahut, ia mengamati ekspresi sang jaksa yang saat ini begitu terlihat rumit. Seperti semua bentuk rasa ingin tahu bercampur jadi satu.
"Aku ada di apartemen Kyuhyun saat kejadian." Ryewook menjawab datar.
"Oh. Begitu." Jungsoo kembali merileks-kan ekspresi wajahnya dan tersenyum. "Maaf. Aku belum pernah melihatmu. Hanya beberapa dari teman Kyuhyun yang pernah aku temui. Denganmu, ini yang pertama kalinya.
Benarkah? Benarkah ini pertemuan pertama kita?
Ryeowook meremas ujung mantelnya dengan kuat. Jantungnya sedikit berdetak lebih cepat dari keadaan normal. Kedua matanya tidak bisa lepas dari wajah pria yang tengah bersamanya itu.
"Kau baik-baik saja? Tuan… Kim O'Connell—"
"Nathan. Kau bisa memanggilku begitu."
Jungsoo mengangguk mengerti. Ia menatap Ryeowook lekat-lekat. Pemuda itu memiliki wajah yang unik. Garis tegas akan kelelahan seakan kontras dengan kedua matanya yang tetap tajam dan binar yang indah. Ryeowook memiliki wajah Asia yang tampan.
"Jadi kau benar-benar seorang Amerika-Korea. Aku sering mendengar berita tentang rumah sakit ini dan nama pemiliknya. Tapi baru kali ini aku benar-benar berhadapan langsung." Jungsoo tertawa pelan, "Dunia ini memang sempit. Siapa yang menyangka jika kau ternyata dekat dengan Kyuhyun. Kupikir teman-temannya hanya tiga orang bodoh itu."
Ryeowook tidak tahu siapa yang dimaksud dengan 'orang bodoh' oleh Jungsoo. Tapi ia tersenyum. Walaupun detak jantungnya tidak memperlihatkan tanda-tanda melambat.
"Ternyata kau masih sangat muda." Jungsoo melanjutkan.
"Apa kau tidak mengenaliku?" Ryeowook tiba-tiba saja melancarkan pertanyaan itu dan membuat senyum pria di hadapannya tersebut menghilang.
"Maaf?"
"Tidak tahu dimana dan bagaimana. Tapi wajahmu sangat tidak asing, Tuan Jaksa."
"Jungsoo. Kau bisa panggil dengan nama itu." Jungsoo memotong.
"Jungsoo… ssi…"
Ada keheningan beberapa saat setelahnya. Baik Ryeowook dan Jungsoo tidak meninggalkan tatapan mereka satu sama lain. Walaupun terlihat canggung, namun keduanya memiliki rasa penasaran yang hampir sama. Ryeowook sangat ingin tahu mengapa dirinya tiba-tiba menyebutkan kata 'hyung' pada seseorang yang baru saja ia dengar suaranya di telepon, dan kenapa jantungnya berdetak cepat ketika akhirnya seseorang tersebut muncul di depan mata. Rasa frustasi sedikit mengusik pemuda itu, namun aneh karena rasanya seperti bukan sesuatu yang buruk.
Sedangkan Jungsoo justru tidak yakin pada dirinya sendiri. Entah apakah karena Nathan adalah salah satu tokoh misterius yang namanya sering kali disebut di media tanpa satupun gambar, untuk pertama kalinya seorang Park Jungsoo sangat senang bertemu dengan orang baru.
Kemudian Jungsoo tersenyum canggung. "Entahlah. Aku tidak yakin dengan itu. Tapi jika memang benar kita pernah bertemu, kau harus memaafkan aku karena aku sama sekali tidak ingat… Nathan. Tapi apapun itu, aku senang bisa bertemu denganmu. Ehm… tentu saja… terlepas dari hal tidak menyenangkan yang sudah membuat kita bertemu di sini. Sayang sekali, bukan?"
Kemudian Ryeowook mencoba membuat dirinya fokus. Apapun kemungkinan yang ada mengenai pertemuannya dengan Park Jungsoo, saat ini Kyuhyun adalah yang terpenting. "Aku tidak sengaja mendengarkan tadi. Apa yang terjadi?"
"Ah, maksudmu tentang seorang tersangka kami yang tewas dengan racun yang sama? Kami juga sedang memeriksanya. Tidak ada tanda-tanda bahwa racun itu diberikan melalui makanan atau minuman. Tim forensik juga sudah memastikannya."
"Botulinum tidak menggunakan makanan atau minuman untuk bisa meracuni seseorang. Zat itu bisa menginfeksi bahkan hanya dari pori-pori kulit. Dan jika dosisnya tepat, dapat berakibat sangat fatal." Ryeowook mencoba menjelaskan dari apa yang sudah ia temui pada kasus Kyuhyun. Tidak ada yang akan repot-repot memasukkan botulinum pada makanan untuk meracuni seseorang.
"Apa kau ingin mengatakan bahwa siapapun itu, dia menggunakan cara yang lebih sederhana seperti… sebuah sentuhan? Atau lebih rumit menggunakan jarum suntik?" Jungsoo mengaitkan seluruh jemarinya dan bergerak gelisah. "Begini… tersangka ada dalam pengawasan ketat petugas, dan satu-satunya yang akan melakukan kontak fisik hanya—tunggu…" kemudian ia seperti mengingat sesuatu.
Ryeowook menunggu. Tidak ada yang sulit untuk sebuah hipotesa. Terlebih untuk seorang Jaksa hebat seperti Park Jungsoo.
"Dia baik-baik saja sampai kami memberinya pakaian untuk tahanan." Puzzle itu terlalu cepat untuk disatukan, untuk itu akan selalu ada lubang yang belum terisi. "Tapi waktu kematiannya adalah pagi ini, bukankah sembilan jam itu waktu yang sangat lama untuk reaksi sebuah zat kimia yang kau katakan paling berbahaya itu?"
"Jangan salah mengerti, Jungsoo-ssi. Kau tidak akan pernah tahu apa yang bisa terjadi pada sebuah endapan. Semakin banyak waktu yang diperlukan, reaksi yang terjadi akan semakin intens. Tentu saja teoriku bisa salah, tapi tidak ada salahnya jika kalian memeriksa pakaian dan segala hal yang mungkin sering dibawa oleh korban. Dan dari yang kuingat, kau sudah memerintahkannya."
Jungsoo menggeleng sambil tertawa frustasi, "Ya Tuhan, ini benar-benar mengerikan. Nathan, jika teorimu benar, lalu apa yang bisa menjelaskan mengenai keadaan Kyuhyun?"
Wajah Ryeowook berubah seketika. Kecemasannya memutar kembali kejadian saat ia hampir saja kehilangan Kyuhyun. Dan Jungsoo benar, itu sangat mengerikan. "Dokter menemukan zat itu menempel di telapak tangan dan bibirnya. Bisa dikatakan Kyuhyun cukup beruntung karena ia sempat berendam dengan air hangat karena sedikit banyak mengurangi jumlah endapan yang sudah terlanjur masuk pada pori-pori kulitnya."
"Aku benar-benar tidak ingin menganggap itu suatu keberuntungan. Terakhir kali melihat Kyuhyun terbaring di ranjang rumah sakit seperti sekarang adalah ketika seseorang menanamkan sebuah peluru panas di tubuhnya. Aku tidak ingin lagi membayangkan yang lebih buruk dari itu."
Ekspresi Ryeowook melemah, "Kau sangat dekat dengan Kyuhyun." Bukan pertanyaan yang keluar.
"Kyuhyun sudah kuanggap seperti adik sendiri."
"Adik…"
Tiba-tiba saja perubahan atmosfir yang kontras tercipta di antara mereka berdua. Suasana mendadak begitu hangat sekaligus terasa menyakitkan secara bersamaan. Entah apa yang terjadi, namun masing-masing memiliki definisi sendiri akan kata adik.
Kemudian Ryeowook tersenyum. Bukan senyuman dari sebuah kebahagian, melainkan suatu buncahan rasa akibat potongan ingatan menyakitkan. "Jika mengingat ekspresimu ketika datang tadi dan mendapati Kyuhyun terbaring di dalam sana, siapapun itu, dia pasti akan beruntung memiliki kakak sepertimu."
Hal yang sama juga ditunjukkan oleh Jungsoo. Sebuah senyuman miris menghiasi wajahnya.
"Entahlah." Ujarnya pelan, "Dalam ingatanku, aku pernah gagal untuk mengemban tugas itu."
oOo
Kyuhyun sudah berhasil bangun dari hibernasinya, dan ia merasa sangat… kacau.
Tubuhnya pernah merasakan sesuatu seperti ini. Ketika ia baru saja memulai latihan awal dalam akademi kepolisian. Latihan panjang yang membuatnya bahkan hampir tidak bisa merasakan tangan dan kakinya sendiri. Seperti mayat hidup. Seluruh persendiannya melemah dan bergantung pada pertolongan yang lain ketika akan menggerakkan bagian tubuh tersebut.
Dan ia merasakannya lagi saat ini.
"Ini hanya efek antitoksin, Kyuhyun. Kau akan segera merasakan kembali tangan dan kakimu dengan latihan fisik."
"Apa aku punya alasan untuk tidak percaya padamu?" Kyuhyun menggerutu. Ryeowook sedang 'merawatnya' saat ini. Menyuapinya makanan, membersihkan tubuhnya dengan air hangat, dan mengganti pakaiannya. Seperti orang yang menderita kelumpuhan, Kyuhyun tidak bisa melakukan semua hal sederhana itu sendirian.
Ryeowook diam-diam tersenyum. Tempramen Kyuhyun sangat buruk jika menyangkut pergerakan tubuhnya. Tapi tidak ada yang bisa dilakukan selain pasrah menerima bantuan dari itu semua. Ia merasa seperti memiliki seorang bayi besar.
"Aku tahu kau tersenyum, Ryeowook. Liat saja nanti ketika tangan dan kaki ini sudah bisa bergerak sendiri." Ujarnya lagi. Merajuk bukan hal yang biasa Kyuhyun lakukan. Tapi rasanya tidak masalah jika di hadapan Ryeowook. Toh, pemuda ini sudah melihat semuanya.
Ryeowook duduk di samping ranjang dan meraih satu tangan Kyuhyun. Ia menyelipkan jemarinya dan menautkan dengan milik Kyuhyun, menggenggamnya seolah tidak ada yang bisa melepaskan. "Aku senang bisa mendengarmu menggerutu lagi." Katanya pelan. Ia mencium punggung tangan Kyuhyun dengan lembut.
Ada jeda beberapa detik sebelum Kyuhyun akhirnya membuka mulut lagi. "Maafkan aku."
Pria di hadapannya tersenyum. Guratan kelelahan nampak samar menghiasi wajah Ryeowook yang tirus. Menurut pandangan Kyuhyun, Ryeowook terlihat lebih manis saat ini. Rambutnya tidak ditata terlalu rapi, pria itu membiarkan jutaan surai tersebut jatuh ke wajah dan hampir menutupi seluruh alisnya. Walaupun bukan termasuk pecinta kosmetik, Ryeowook terbiasa mengaplikasikan pelembab di wajahnya hingga terlihat lebih cerah. Namun tidak untuk saat ini. Kyuhyun hanya terbiasa melihat wajah itu ketika bangun tidur. Begitu alami dan merupakan pemandangan terbaik untuknya.
"Karena kejadian ini, aku baru menyadari betapa berbahayanya pekerjaanmu, dan itu membuatku lebih cemas sekarang." Ryeowook menatap kedua berlian hitam Kyuhyun lekat-lekat. Apapun alasannya, ia tetap tidak bisa membayangkan kejadian hari itu akan terualang lagi. Saat itu ia benar-benar hampir kehilangan Kyuhyun, bahkan ketika dirinya ada bersamanya. Bagaimana jika suatu saat semua itu kembali terjadi? Dan yang terburuk, bagaimana bila ia tidak ada di sana bersama Kyuhyun?
"Aku sudah mengalami banyak kejadian berbahaya jauh sebelum kita bertemu. Jangan terlalu khawatir, Ryeowook. Wajahmu akan lebih cepat berkerut nanti." Kyuhyun mencoba bergurau untuk mencairkan suasana. Jika dibandingkan dirinya yang berada dalam bahaya, orang lain yang menyaksikan pasti akan berada dalam keadaan yang lebih buruk.
Saat itu Kyuhyun memunculkan kembali ingatan saat pertama kali bertemu Ryeowook. Pemuda itu juga dalam bahaya. Jika saat itu saja ia begitu khawatir dengan Ryeowook yang memang bukan siapa-siapa, bagaimana jika kejadian tersebut terulang? Ryeowook mungkin sudah lebih dari sekedar 'siapa' dalam hidupnya. Pria itu sudah menjadi 'apa' dalam setiap aliran darah di tubuh Kyuhyun.
"Aku kurang tidur kalau kau ingin tahu." Rryeowook ganti mengeluh. Ia menempelkan tangan Kyuhyun pada sisi kiri wajahnya. Mengalirkan suhu tubuh satu sama lain dan menetralkannya.
"Naiklah ke tempat tidur. Kau bisa memejamkan mata sebentar." Ia menunjuk ranjangnya yang memang masih cukup untuk satu orang lagi di sampingnya. "Ahhh… aku bahkan tidak bisa merasakan kulitmu dengan baik. Kau tidak kedinginan kan?"
Ryeowook tidak menjawab. Ia beranjak dari kursi dan duduk di ranjang tempat Kyuhyun berbaring. Mereka masih berhadapan. "Kau sangat tidak kreatif. Masih ada cara lain untuk mengetahui hal itu kan?"
Kyuhyun terlihat tak yakin dengan perkataan Ryeowook. Ada sesuatu yang berbeda dari senyumannya.
"Aku suka ide bercinta di atas ranjang rumah sakit. Tapi… saat ini mungkin hanya kau yang diuntungkan. Aku tidak suka membayangkan kau bermain sendirian."
Ryeowook terkikik pelan mendengar perkataan Kyuhyun. Bagaimana pria ini bisa berpikir tentang seks padahal menggerakkan tangan dan kaki saja tidak bisa? "Lain kali aku mungkin akan meminta dokter untuk memberimu obat bius yang bisa menghentikan sejenak otakmu berpikir. Kau. Sangat. Mesum."
Namun berbanding terbalik dengan protesnya, Ryeowook justru mendekatkan wajah mereka dan mengikis jarak dengan cepat. Dalam hitungan dua detik, bibirnya sudah menyentuh dengan lembut bibir Kyuhyun yang terasa begitu menyambut senang. Keduanya tahu bila ini bukan sekedar kecupan singkat karena begitu banyak ketegangan yang harus segera mereka lepaskan.
Selama beberapa detik mereka hanya saling memagut dengan gigitan-gigitan kecil. Sesekali keduanya merasakan tawa di mulut masing-masing dan menambah keintiman saat bibir-bibir tersebut kembali berpadu.
Kyuhyun menyerah dan membiarkan Ryeowook menguasai dirinya karena walaupun sudah sekuat tenaga mencoba mengangkat tangannya, bagian tubuh itu tetap tidak mau bergerak sesuai perintah. Namun rasanya memang tidak begitu buruk karena Ryeowook sudah melakukannya dengan sangat baik. Pria itu tahu apa yang harus dilakukan pada french kiss mereka.
Kedua mata mereka terpejam dan menikmati setiap tarikan napas dan hisapan lembut yang Ryeowook lakukan. Kyuhyun bisa merasakan jika pria itu benar-benar membagi kegelisahan dalam setiap ciumannya. Bahkan ketika ia memutuskan untuk berhenti sejenak dan menatap satu sama lain.
"Kyuhyun…" Ryeowook mencoba mengatur napas yang agak tersengal. "Jangan lakukan hal ini lagi padaku."
Alih-alih menjawab perkataan tadi, Kyuhyun justru memajukan kembali wajahnya dan mencium Ryeowook lagi. Kali ini lebih dalam, dan ia bisa merasakan tangannya mulai terangkat, menyentuh punggung Ryeowook.
Saat bibir kembali menari dan mengecap rasa masing-masing dari mereka, pintu ruangan terbuka.
"Kapten—"
Kyuhyun mendorong tubuh Ryeowook secara tiba-tiba.
Seakan bukan hanya dua insan tersebut yang jantungnya hampir copot, tiga orang di ambang pintu juga tidak terlihat baik-baik saja. Seolah darah di wajah mereka surut dan mengalir entah kemana.
oOo
Minho meletakkan sekaleng minuman di atas meja, tepat di hadapan Ryeowook. "Aku tidak tahu apa yang biasa kau minum. Orange juice tidak masalah, kan?"
"Aku baik-baik saja dengan ini."
Setelah menyaksikan sesuatu yang (menurutnya) sangat tidak pantas untuk disaksikan, ketiga anak buah Kyuhyun jadi merasa tidak enak. Terlebih Minho. Untuk itulah ia yang lebih dulu berinisiatif untuk mengajak Ryeowook keluar dan minum.
Sangat bisa dibayangan bagaimana keadaan saat itu. Kyuhyun mengoceh bahwa hal itu tidak seperti yang mereka lihat walaupun memang sebetulnya adalah yang benar-benar telah dilihat oleh semua orang. Padahal tidak ada satupun diantara Minho, Henry, dan Jonghyun yang mengatakan sesuatu mengenai apa yang sudah mereka lihat. Mereka bertiga tahu keadaan Kyuhyun, dan itu sudah terjadi jauh sebelum hari ini. Hanya saja mungkin yang mengejutkan adalah siapa yang sedang bersama Kyuhyun. Mereka tidak mengenalinya, walaupun yakin pernah melihat wajah itu.
"Ehm… kuharap kau tidak tersinggung—"
"Nathan. Panggil aku Nathan."
"Ah. Ya. Nathan-ssi, kuharap ini semua tidak membuatmu jadi tidak nyaman. Kami adalah orang-orang kepercayaan kapten, dan selain pekerjaan, mungkin bisa dikatakan jika hubungan kami sangat dekat di luar itu. Kami seperti saudara." Minho memiliki perkataan yang sangat bagus untuk ukuran seorang petugas kepolisian.
"Aku bisa melihatnya seperti itu." Ryeowook mengakuinya. Walau bagaimanapun Kyuhyun tidak seperti dirinya yang hidup seperti makhluk luar angkasa dan tertutup. Pria itu pasti memiliki banyak sekali orang yang ada di sekitarnya.
"Jangan tersinggung, Nathan. Kami tahu bagaimana Kyuhyun hyung, dan yang tadi hanya membuat kami sedikit terkejut."
"Kurasa Kyuhyun memang tidak menceritakannya pada kalian." Ada nada terluka dari perkataan Ryeowook. Kenyataan bahwa mungkin Kyuhyun menyembunyikan hubungan mereka dari semua orang membuatnya sedikit tidak nyaman.
Dan Minho dapat menyadari hal tersebut. "Jangan salah paham. Kami sama sekali tidak mempermasalahkannya. Terkadang, kapten kami memang memiliki sebuah urusan pribadi yang tidak harus dibagi. Bukankah setiap pria pasti punya rahasia?" pemuda itu mencoba menguasai keadaan. Jujur saja keadaan yang canggung ini harus segera berakhir karena mungkin akan berpengaruh pada semua orang di kemudian hari. "Sebenarnya… Kyuhyun hyung sudah pernah mengatakannya padaku secara tidak langsung. Tapi karena kupikir dia masih ragu dengan ceritanya, jadi tidak ada alasan untuk ikut campur. Kami hanya tidak menyangka jika harus tahu dengan cara seperti ini. " ia mencoba tertawa dan membuat semuanya terlihat biasa saja.
"Aku mengerti."
"Emm… kalau boleh tau, berapa umurmu?"
"Aku hanya setahun di atas Kyuhyun." Jawabnya singkat.
"Ya ampun, maafkan aku karena memanggilmu dengan tidak sopan tadi." Minho sedikit membungkukkan badan sebagai salam yang terlambat. "Namaku Choi Minho. Kau bisa memanggilku Minho saja. Dua orang tadi yang datang bersamaku, Henry dan Jonghyun, kami semua ada dalam tim yang sama. Mereka akan memberi salam dengan benar padamu nanti, jangan khawatir."
"Kyuhyun sangat beruntung. Ia benar-benar memiliki orang-orang baik di sekitarnya."
Minho tersenyum mendengar perkataan tersebut. "Karena dia juga orang baik, Hyungnim."
Ryeowook mengangguk. "Ya. Kyuhyun bahkan terlalu baik terhadapku."
oOo
Sungmin mengemudi dengan kecepatan di atas normal. Ia baru saja mendapatkan kabar. Kabar tentang Kyuhyun tentunya. Walaupun Henry sudah menjelaskan keadaan terakhir Kyuhyun, namun tetap saja Sungmin mengutuk dalam hati tentang kejadian tersebut. Dan walaupun tidak ada suatu keharusan, dirinya tetap tidak mengerti mengapa harus menjadi yang paling terakhir tahu.
Pria itu memarkirkan kendaraannya di basement rumah sakit dengan tergesa hingga hampir saja menabrak sebuah mobil mewah yang berada di dekatnya.
Untuk pertama kali Sungmin menjelma menjadi seorang yang ceroboh. Dan semua karena Kyuhyun.
[…]
"Aku akan menghajarmu jika mengatakan bahwa aku tidak harus ada di sini." Sungmin menatap wajah Kyuhyun, pria itu masih belum bisa menggerakkan tubuh dengan baik. Kecemasan dalam ekspresinya bukan sekedar kepalsuan, dan seorang Lee Sungmin akan selalu seperti itu terhadap Cho Kyuhyun.
"Apa aku mengatakan sesuatu tadi?" Kyuhyun menyahut. Merasa tidak enak dengan kenyataan bahwa seseorang sudah memberitahukan kabar ini. Pada kenyataannya tidak ada yang salah dengan perihal 'mengabari', hanya saja Kyuhyun sangat mengerti bagaimana perasaan Sungmin jika dia harus jadi yang paling terakhir mengetahuinya.
"Sungmin hyung, tenanglah. Masa kritis sudah berlalu dan Kapten kami baik-baik saja." Henry ikut bicara juga dalam rangka melindungi diri sendiri. "Kau terlalu berlebihan."
Sungmin hanya mendelik kesal. Jujur entah apakah sikapnya saat ini masih bisa dikatakn pantas. Apapun alasannya, sekarang dia bukan siapa-siapa bagi Kyuhyun. "Aku tahu… tapi tetap saja…" namun akhirnya ia menyerah dan tidak membalas perkataan Henry lagi.
Sungmin duduk di kursi yang paling dekat dengan ranjang. Ia mengamati tubuh Kyuhyun sejenak dan mencoba untuk mengobservasi keadaan pria itu. "Apa yang terjadi?" tanyanya lemah.
"Aku tidak terlalu memperhatikan, tapi sangat jelas kalau aku keracunan. Apa yang mereka sebutkan tadi? Botulinum? Ya itu. Rasanya semua orang menyebutnya seperti itu." Kyuhyun menjawab dengan ekspresi mencoba-mengingat-dengan-baik.
"Botilinum? Jadi, seseorang sebenarnya mencoba membunuhmu atau apa?" kecemasan itu muncul kembali. "Aku harus mampir sebentar untuk melihat catatan pasien. Aku akan segera kemba—"
"Sungmin…" namun Kyuhyun menghentikannya. "Tidak perlu. Mereka sudah mengurus semuanya."
"Aku juga seorang dokter, Kyuhyun. Kau tidak perlu khawatir karena kami selalu membawa kode etik kemanapun kami pergi…"
"Kumohon, Sungmin." Kyuhyun memotongnya tegas. "Jangan lakukan apapun."
Sungmin kembali duduk dan menatap Kyuhyun. Tidak bisa dipungkiri permintaannya tadi cukup membuat ia tersinggung. "Apa keberadaanku begitu menggangumu?" tanyanya pelan.
Kyuhyun memejamkan mata beberapa detik dan berbisik, "Jangan mulai lagi, Sungmin."
Sementara itu tanpa mereka sadari Henry dan Jonghyun sempat melemparkan pandangan satu sama lain sebelum akhirnya keluar dari ruang perawatan. Keduanya hanya ingin segera terbebas dari sebuah tekanan abstrak di ruangan tersebut. Sama sekali bukan atmosfir yang baik untuk jiwa bebas dua pemuda itu.
Dan entah memang tidak menyadari atau sengaja tidak ingin menyadari, baik Sungmin ataupun Kyuhyun membiarkannya.
Saat beberapa detik, akhirnya Sungmin tahu jika ia kini hanya tinggal berdua. Pria itu menggigit bibir sebelum kedua tangannya menyentuh lengan Kyuhyun yang masih terkulai. Pada awalnya Sungmin menekan bagian pangkal secara perlahan. Dapat ia rasakan bahwa Kyuhyun terkejut sejenak sebelum akhirnya tidak memprotes. Kemudian setelah itu ia pun mulai memijat lengan Kyuhyun secara keseluruhan sampai kebagian jari-jari. Gerakan tersebut ia ulangi beberapa kali. Sesuatu yang sangat diketahuinya dapat melatih sistem motorik yang terganggu.
"Mereka seharusnya melakukan ini setiap hari. Terapi pijat sangat baik untuk mengembalikan kekuatan pada persendianmu. Aku tidak tahu seberapa banyak racun itu masuk ke dalam tubuhmu, tapi rasanya cukup untuk membius seekor gajah dan membuatnya mati secara perlahan."
Kyuhyun tidak menjawab. Ia tidak bisa menyangkal penjelasan itu karena Sungmin juga seorang dokter. Mereka bisa saja bertengkar saat itu juga jika Kyuhyun tetap egois. Namun sepertinya Sungmin sudah tahu apa yang akan terjadi, jadi ketimbang membalas perkataan Kyuhyun, ia lebih memilih untuk menahan diri.
"Kau sudah mendapat hasil laboratorium dari DNA orang yang sudah menyerangmu waktu itu?" Kyuhyun mencoba mencari topik pembicaraan. Walau bagaimanapun ia tidak ingin membiarkan kepalanya memikirkan hal-hal konyol. Sungmin hanya masih peduli padanya, dan mungkin tidak akan ada masalah dengan hal itu.
"Hm. Jaksa Park sudah menghubungiku. Ia berjanji akan segera menangkap pelakunya dan mengembalikan ponselku."
Kyuhyun berdecih, "Apa yang kau simpan di dalam sana memang? Rekaman malam pengantin?"
"Aku sangat ingin memberitahumu tentang ini." Sungmin menatap Kyuhyun dan tersenyum, "Tidak pernah ada malam pengantin untukku."
Perkataan tersebut cukup untuk membuat Kyuhyun menahan napas selama beberapa detik. Perkiraan-perkiraan pasif mulai menggerayangi isi kepalanya. Tentang apakah Sungmin benar-benar tidak menikmati pernikahannya. Atau… apakah pemuda itu hanya bergurau padanya. Ia sangat takut untuk mengetahui kebenaran.
"Sungmin—"
"Aku tahu. Kenyataan bahwa kau sudah memiliki orang lain. Aku tahu semuanya."
Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya, "Semua? Seberapa banyak?"
Tangannya berhenti memijat, namun tidak beranjak dari sana. "Tidak banyak. Tapi cukup untuk membuatku seperti di neraka. Aku selalu berpikir, apakah seperti ini rasanya mengetahui bahwa seseorang yang sangat kau cintai berpaling darimu… bagaimana caramu hidup selama ini… apa yang ingin sekali kau lakukan padaku saat itu… semua hal, Kyuhyun, dan yang terburuk dari semua itu adalah… bagaimana kau melakukannya… menerimaku untuk ada di hadapanmu seperti sekarang ini."
"Kau sudah memiliki segalanya. Jangan jadi orang serakah, Sungmin." Kyuhyun berusaha membuat ekspresi wajahnya setenang mungkin.
Sungmin mengangguk mendengar 'penghinaan' itu. "Serakah." Ia menjedanya dengan satu tarikan napas panjang, "Kau benar. Seharusnya aku bisa puas dan bahagia karena hidup bersamamu."
"Aku tidak melihat peluang bahwa perkataanmu akan mengembalikan keadaan seperti dulu."
"Apa aku benar-benar tidak punya kesempatan?" kali ini Sungmin memberikan sorot mata permohonan yang dalam untuk menembus dinding pertahanan Kyuhyun. Keyakinannya masih begitu besar bahwa mereka berdua masih memiliki kesempatan. Sesulit apapun itu, mereka pernah begitu saling mencintai.
"Jangan pernah mencoba, Sungmin. Untuk kali ini kau mungkin tidak hanya akan melukaiku."
"Aku juga terluka, Kyuhyun!" Suara Sungmin sedikit meninggi karena emosi yang tertahan. "Tidak bisakah kau melihatnya sekarang? Aku akan berlutut padamu jika perlu."
"Lee Sungmin—"
"Aku sudah katakan padamu. Akan kulakuan apapun. Pernikahan ini hanya omong kosong, Kyuhyun. Aku bahkan tidak pernah menyentuh wanita itu sekalipun."
"Ya Tuhan, ada apa denganmu? Sungmin, apa kau tidak sadar jika saat ini kau sudah seperti orang jahat?"
"Aku tidak peduli, asal itu bisa membuatku kembali bersamamu. Kyuhyun-ah… aku masih mencintaimu."
"Aku sudah memiliki dia."
"Tapi kau belum cukup mengenalnya. Dia mungkin saja orang yang berbahaya. Aku sudah mendengarnya. Dia hampir membunuh orang di jalan, bukan?"
"Kau menyelidikinya?" Kyuhyun kini menggeram. Pikirannya begitu buruk karena kini Sungmin sudah berani mencampuri kehidupannya.
"Aku hanya khawatir padamu."
"Dan kau pikir itu semua akan membuatku kembali padamu?!" Suara Kyuhyun tidak kalah tinggi. Beruntung karena mereka ada di kamar perawatan kelas utama dengan kualitas dinding yang sangat baik. "Sadarlah, Sungmin!"
"Kyhyun-ah, Kita sudah mengorbankan banyak hal untuk bisa bersama dulu—"
"Kyuhyun tidak akan mengorbankan apapun lagi mulai saat ini."
Perkataan itu bukan berasal dari Sungmin ataupun Kyuhyun. Seseorang saat ini sudah berdiri di ambang pintu. Entah sudah berapa lama, namun sepertinya cukup untuk bisa mendengar apapun yang sudah dua orang tersebut bicarakan.
"Nathan." Entah kenapa Kyuhyun begitu terkejut. Begitu pula dengan pria yang duduk di sampingnya.
"Kau tahu? Kisah cinta Romeo dan Juliet sudah tidak keren lagi sekarang. " Ryeowook berjalan mengitari ranjang Kyuhyun dan mendekati Sungmin. "Dua orang yang saling mencintai sudah seharusnya bahagia. Tapi kalian tidak bisa hidup hanya dengan cinta, dan mengorbankan banyak hal itu hanya pekerjaan yang sia-sia."
Pemuda itu menatap tajam pada Sungmin.
"Dan Jika kau ingin tahu lebih banyak tentangku, akan kuberitahukan satu hal lagi." Ryeowook mengikis jarak wajahnya dengan Sungmin hingga mereka begitu dekat.
"Aku tidak suka seseorang menyentuh milikku. Jadi singkirkan tanganmu dari Kyuhyun."
oOo
Jungsoo terbangun dini hari setelah beberapa mimpi mendatangi tubuhnya. Tidak yakin apa yang sebenarnya dia impikan saat itu. Beberapa memang terlihat sedikit buruk, namun terus diselingi dengan sesuatu yang membahagiakan. Sudah sejak lama malamnya selalu dilengkapi mimpi buruk tentang masa lalu. Wajah seorang anak laki-laki yang terus saja menangis dan meminta tolong padanya selalu muncul dalam tidur. Sebuah rasa bersalah yang tidak pernah berujung dan terus menuntut balas.
Namun hari ini, malam ini, mimpi itu berubah. Jungsoo seperti melihat sebuah senyuman dan mendengar tawa riang dalam kepalanya. Wajah sang adik… untuk pertama kalinya tersenyum di dalam mimpinya.
Berbeda dari malam-malam sebelumnya yang selalu memaksanya menelan beberapa pil tidur untuk menyingkirkan kenangan buruk dalam bunga tidur, kali ini seperti ada sebuah kelegaan dalam hatinya. Kecemasan yang menjadi teman tidur seperti tidak ia rasakan sama sekali.
"Aku tidak tahu alasannya, tapi menyenangkan bisa bicara denganmu."
Perkataan itu terus berulang di kepalanya, bersanding dengan senyuman manis yang sepertinya terekam dengan sangat baik dalam lensa penglihatannya.
Nathan Kim O'Connel. Nama yang asing bagi seorang Park Jungsoo. Tapi tidak seperti namanya, pertemuan pertama dengan pemuda itu begitu membekas. Jika dipikirkan, semua begitu aneh, tidak ada yang menarik dari sebuah obrolan canggung, namun Jungsoo tidak bisa beranjak dari satu kalimat terakhir sebelum mereka berpisah. Juga senyuman itu… ia sangat yakin bahwa senyuman dalam mimpinya sama dengan milik Nathan.
Dan tanpa sadar ia pun tersenyum. Menikmati saat-saat melankolis tidak begitu buruk, pikirnya.
Ponselnya berdering. Namun suasana hatinya tidak begitu buruk untuk menjawab panggilan tersebut.
"Aku tidak bergadang, Bibi. Hanya terbangun karena mimpi."
[Omo, kau mimpi buruk lagi?]
Suara seorang wanita paruh baya mengisi gendang telinganya. Ia bersumpah sangat lega bahwa wanita inilah yang menghubunginya sekarang.
"Hmm… kali ini tidak begitu. Bisa kukatakan bahwa mimpiku tadi cukup indah jika dibandingkan malam-malam sebelumnya."
[Ada apa ini? Apa Jaksa Park sedang tersenyum sekarang? Aku seperti bisa melihat lesung pipimu dari sini.]
Kali ini Jungsoo benar-benar tersenyum. "Aku sangat senang bahwa kali ini kau menelepon bukan untuk mengomel, Bibi."
[Itu karena aku sangat mencemaskanmu, anak nakal.]
Pria itu tetap pada senyumannya dan menikmati setiap helaan napas seseorang yang sudah beberapa tahun ini menggantikan sosok seorang ibu yang sangat ia impikan. Bibi Seo adalah seorang kepala rumah tangga yang merawat keluarganya. Wanita itu bergabung dalam keluarganya bersamaan ketika ia kembali dari pendidikannya di luar negeri.
"Aku juga sangat merindukanmu." Alih-alih menggoda, Jungsoo justru membisikkan sesuatu yang langsung membuat wanita itu terdiam di seberang sana. "Aku ingin sekali makan masakanmu lagi. Rasanya sudah begitu lama, bukan begitu bibi?"
[Dasar anak nakal. Kau tidak akan kelaparan seperti ini kalau menuruti perkataanku untuk pulang.] Wanita itu membentak dengan nada haru yang tidak dapat disembunyikan. Kerinduan begitu menggerayangi kedua orang yang dipisahkan jutaan radiasi telekomunikasi itu.
"Belum saatnya, Bibi. Aku harus mengurus beberapa hal di sini. Tapi jika kau mau menemuiku di luar rumah, aku akan sangat senang."
[Ayahmu tidak akan mengizinkan. Kau tahu itu.]
Seketika senyuman itu berubah menjadi kebencian yang teramat dalam. Akan terdengar lebih baik jika saja kata 'ayah' tidak pernah disebutkan. Karena kenyataannya adalah ia sudah kehilangan sosok itu dari sejak waktu yang sangat lama. Tidak ada lagi 'ayah' di rumah. Satu-satunya pria paruh baya yang katanya terus saja meminta dirinya untuk kembali ke rumah bukanlah seorang ayah.
Jungsoo lebih suka menyebutnya sebagai monster.
"Bagaimana kesehatanmu? Apa kau masih sering mengeluh sakit kepala?" Jungsoo berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia benar-benar tidak suka membicarakan orang 'itu'.
[Aku wanita yang sangat kuat. Khawatirkan saja dirimu. Kau ini, terakhir kali aku mengirim orang untuk mengisi persediaan makananmu, mereka bilang menemukan banyak sekali bahan makanan yang sudah kadaluarsa.]
Jungsoo tertawa. "Akhirnya kau mengomel juga. Itu semua karena aku jarang makan di rumah, Bibi. Terlalu sering ada di kantor."
[Walaupun begitu kau masih harus tetap menjaga kesehatan, dan mulailah dengan makananmu setiap hari. Besok aku akan mengirim makanan kesukaanmu. Jadi jangan katakan kalau kau akan seharian ada di luar rumah. Samgyetang bukan sesuatu yang bisa kau simpan sampai berbulan-bulan.]
"Akan sangat menyenangkan jika kau bisa membawanya sendiri."
[Kau pikir aku tidak mau? Dasar… Aku akan tutup teleponnya. Istirahatlah.]
"Selamat malam, Bibi."
Terkadang, kasih sayang seorang ibu tidak harus datang dari mereka yang menyandang identitas sebagai 'ibu'. Dan Jungsoo masih selalu merasa beruntung karena ia bisa mendapatkanya walau hanya dari seorang kepala rumah tangga.
oOo
Ryeowook memarkirkan Hyunday hitam pekat itu dengan apik di basement apartemen tempat tinggalnya. Ia memenangkan perdebatan tentang kemana Kyuhyun akan pulang setelah keluar dari rumah sakit. Menurutnya Kyuhyun masih memerlukan perawatan untuk pemulihan, dan apartemennya memiliki hampir segala hal yang diperlukan. Ryeowook bahkan membawa pulang beberapa alat terapi otot dari rumah sakit.
Ya. Walau bagaimanapun itu rumah sakitnya. Tidak akan ada yang melarang jika ia melakukan hal tersebut.
"Setidaknya aku harus mampir ke rumah untuk berkemas." Kyuhyun masih duduk dan belum berniat melepas sabuk pengamannya.
Sementara itu Ryeowook sibuk mengeluarkan kursi roda dari bagasi mobil dan memasangnya agar bisa dipakai. Kemudian mendekati sisi mobil dimana Kyuhyun masih ada di dalam dan mengetuk kacanya. "Kau mau seharian di sana?" ujarnya agak jengkel. Energinya sudah benar-benar terkuras akibat adu mulut di rumah sakit tadi. Entah apa yang membuat orang itu bersikeras pulang ke rumahnya sementara untuk berdiri saja masih harus dibantu.
Sebenarnya bukan hal sulit bagi Ryeowook untuk tinggal di sana. Hanya saja, pergerakannya di rumah itu masih sedikit terbatas. Ia tidak bermaksud merendahkan perabotan yang Kyuhyun punya, hanya saja Ryeowook berpikir bahwa lelaki itu akan cepat pulih jika berada di rumahnya.
Kyuhyun akhirnya membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Pria itu masih membutuhkan sedikit bantuan untuk menggerakkan kakinya dan Ryeowook dengan sigap memapah tubuhnya untuk duduk nyaman di atas kursi roda. "Aku bisa jalan kaki, Ryeowook."
Pemuda itu memutar bola matanya, "Tentu saja. Aku hanya ingin menghemat waktu tempuh karena sudah sangat lapar."
Ryeowook membawa Kyuhyun menuju pintu apartemennya melewati lift yang ada di pintu samping gedung. Kotak besi itu kosong ketika mereka naik, dan itu dimanfaatkan pria yang satunya untuk bicara lagi.
"Ryeowook-ah, anak buahku mungkin akan datang ke sini untuk membicarakan kasus kami." Kyuhyun masih berusaha melobi.
Ryeowook lagi-lagi menghela napas, "Kita sudah membicarakannya tiga kali, Kyuhyun. Aku tidak keberatan jika mereka memang datang untuk masalah pekerjaan."
"Kau tidak tahu betapa berisiknya mereka."
"Aku tahu."
"Kau pasti akan merasa terganggu."
"Saat ini kau lebih menggangguku. Jadi bisakah kita memiliki perjalanan-menuju-rumah yang tenang?"
Kyuhyun menoleh ke belakang, menatap Ryeowook yang kini ekspresinya terlihat kesal. "Kau masih marah?" tanyanya lembut. Tangannya bergerak merapikan pakaian Ryeowook yang sebetulnya sangat tidak perlu.
"Tidak."
"Kau masih marah." Kali ini bukan pertanyaan.
"Kyuhyun—"
"Baiklah… baik… aku diam. Tapi…" pria itu menggantung kalimatnya.
"Tapi apa?"
"Tidak bisakah kau memberikan sebuah ciuman untukku? Hari ini aku belum mendapatkan satupun."
Kedua mata Ryeowook terpejam sejenak untuk kemudian menatap Kyuhyun yang kini memandangnya dengan sorot mata seekor anjing kecil yang menginginkan sentuhan majikannya. Ia lemah dengan hal itu, Kyuhyun selalu berhasil melancarkan jurus andalannya. Kemudian setelah menimang sebentar, Ryeowook menunduk dan mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun. Pemuda itu menempelkan bibirnya pada bibir Kyuhyun dan menciumnya dengan gerakan lembut.
Tepat saat mereka selesai, lift berdenting dan membuka pintunya, mengantarkan mereka pada lantai tujuan. Lalu Ryeowook berbisik dan menatap Kyuhyun lekat-lekat.
"Welcome home."
oOo
"Kau tidak mau ikut?" Kyuhyun baru saja menyamankan dirinya di dalam bath-up yang diisi dengan air hangat dicampur aroma yang menyenangkan. Ryeowook memilihkan lavender sebagai salah satu dari sekian banyak metode terapi Kyuhyun selama beberapa hari, dan tentu saja pria itu menyukainya.
Ryeowook hanya tersenyum, tangannya mulai membasuh Kyuhyun dengan air di sana. Diam-diam memuja betapa halus kulit di bawah tangannya, dan betapa kuat otot-otot yang terbentuk di balik kulit tersebut. Kyuhyun mungkin bukan pria yang memiliki tubuh kekar bak seorang pelatih di sebuah pusat kebugaran. Tapi berdasarkan pengamatannya, sosok di hadapannya saat ini sudah begitu ideal dan merupakan mimpi indah untuk setiap wanita.
"Ayolah, aku bosan kalau harus menunggumu di atas tempat tidur sementara kau telanjang seorang diri di dalam kamar mandi. Kita bisa menghemat waktu dengan mandi bersama." Kyuhyun kembali merayunya.
Terkadang, kebutuhan biologis mendesaknya untuk bertindak kurang ajar seperti ini. Ryeowook betul-betul bersikap sulit selama merawatnya. Orang itu begitu berhati-hati dengan apa yang harus Kyuhyun lakukan. Tidak memperbolehkan ini dan itu, bahkan demi sebuah 'pencegahan', Ryeowook lebih memilih untuk tidur setelah Kyuhyun benar-benar sudah terlelap.
Tapi sekuat apapun mereka menahannya, keinginan itu justru datang lebih sering.
"Angkat tanganmu." Ryeowook memerintahkan.
Kyuhyun hampir saja memprotes, namun ia segera menurut saat melihat Ryeowook mendelik padanya. Ia mengangkat kedua tangan ke udara dan membiarkan Ryeowook menghitung dari satu sampai tiga puluh.
"Dua puluh sembilan… tiga puluh."
Sambil tersenyum, Kyuhyun masih mengangkat tangannya. "Kau bisa menghitung lagi dari awal. Aku bisa melakukannya tiga kali lipat sekarang."
Alih-alih menjawab, Ryeowook justru berdiri. Ia tidak melepaskan tatapannya pada Kyuhyun—yang juga menatapnya lapar. Pria itu mulai melucuti pakaian sedikit demi sedikit. Ia sangat menikmati bagaimana Kyuhyun berubah menjadi tidak sabar karena gerakannya yang lambat saat melepas kaos, celana panjang, dan terakhir pakaian dalamnya.
Jantung Kyuhyun mulai berdebar kencang ketika Ryeowook bergabung dengannya di dalam bak mandi. Napasnya menjadi sangat berat saat merasakan pemuda itu bergoyang di pangkal pahanya. Ketegangan langsung menyeruak hebat di sekitar pinggang. "Kau sangat berbahaya, sayang." Bisiknya.
Ryeowook sudah berada di pangkuan Kyuhyun dan merasakan hembusan napas yang panas ketika pria di belakangnya mulai mengecup pundaknya yang telanjang. Kedua mata itu terpejam menikmati sensasi aroma bersamaan dengan kehangatan tubuh Kyuhyun di dalam air. Tanpa sadar ia menekuk lutunya saat bersandar pada dada Kyuhyun, membuka sedikit kaki dan membelai sesuatu yang sedari tadi sudah mengganjal bokokngnya. Milik Kyuhyun sudah sangat keras dan ia sangat yakin hal itu sudah berlangsung bahkan sebelum dirinya masuk ke dalam bak mandi.
Genggamannya begitu penuh dengan ukuran yang luar biasa. Walaupun sangat yakin bahwa benda tersebut pernah merasukii tubuhnya sebelum ini, Ryeowook tidak bisa mengingat apa-apa. Dia mengingat percintaan pertamanya dengan Kyuhyun, namun tidak yakin dengan detailnya. Hal itu sedikit membuatnya cemas.
Kyuhyun menahan diri untuk tidak lepas terlalu cepat walau tidak bisa dipungkiri, jemari Ryeowook pada bagian sensitifnya sudah membuat akal sehatnya hilang. Samar-samar ia mendengar Ryeowook berkata pelan "Inikah yang kau inginkan?" dan merasakan bahwa napasnya semakin berat. Tangannya masih bermain pada pusara Ryeowook. Pria itu bergerak-gerak gelisah dan Kyuhyun tahu bahwa saat ini Ryeowook tengah menggigit bibirnya.
"Jangan coba-coba menyembunyikan teriakan-teriakan kecil itu dariku, Ryeowook. Mereka milikku."
Ryeowook merasakan bahwa saat ini kedua tangan Kyuhyun mulai menjajah tubuhnya. Tangan kanan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada milik Kyuhyun, lalu tangan kiri mencubit putingnya secara bergantian. Ryeowook melenguh ketika libidonya meningkat tajam, ia sudah tak kuasa lagi membendung. "Aaahhh…" mulutnya terbuka dan satu tangannya yang bebas mencengkeram pinggiran bak mandi.
"Lihat aku, Ryeowook." Kyuhyun memerintahkan dengan suara yang terdengar seksi di telinga Ryeowook. Kemudian setelah mendapati pemuda itu menoleh, segera saja mulutnya meraup bibir yang entah bagaimana caranya sudah sangat lembab dan menggoda. Ia berusaha memberikan ciuman terbaik saat itu, ciuman yang terlalu basah dan seksi. "Aku sudah jadi anak baik menunggu saat ini tiba sambil membayangkannya. Membayangkan suara yang akan kau buat ketika aku bercinta denganmu."
Ryeowook tidak menyahut. Pemuda itu sibuk menyeimbangkan ciuman mereka dengan lenguhan-lenguannya yang memabukkan.
"Membayangkan bagaimana kau memohon padaku dan berteriak seperti malam itu. Kumohon Ryeowook, aku ingin mendengar suaramu, suaramu yang memintaku untuk melakukan semua hal untuk membuatmu berteriak."
"Kyuhyun." Ryeowook mengangkat pinggulnya, merasakan tangan Kyuhyun di bagian tubuhnya yang paling pribadi dan terlindungi. Benar. Ia menginginkan Kyuhyun melakukan itu semua. Ia ingin Kyuhyun menjadi alasannya malam ini untuk berteriak. Ryeowook menginginkannya. Ryeowook sangat ingin Kyuhyun berada di dalam tubuhnya.
Kyuhyun menggunakan energi yang masih mungkin ada untuk mengangkat tubuh Ryeowook. Mereka bertukar posisi tanpa melepaskan ciuman. Saat ini Ryeowook ada di bawah tubuh Kyuhyun, mereka berciuman seperti dua orang kanibal yang lapar dengan persediaan daging yang terbatas. Keduanya berebut untuk mendominasi gerakan. Kyuhyun menyentuh sesuatu di bawah sana yang masih terasa sempit. Ia mulai menggunakan jarinya membuka sebuah jalan yang akan membuat mereka mencapai puncak surga dunia. Ketika tangannya mulai menerobos masuk, ciuman mereka terlepas karena Ryeowook berteriak.
Demi semua rasa sakit yang pernah ia dapatkan setelah malam pertama dengan Kyuhyun, Ryeowook tidak pernah sekalipun mengingatnya.
Namun sekarang ia mengingat semuanya.
"Ryoewook."
Pria itu membuang muka, tidak mampu menatap kedua mata Kyuhyun. Entah rasa sakit atau malu atau bahkan keduanya, Ryeowook merasakan tangan Kyuhyun membawa kembali wajah mereka untuk saling berhadapan. "Lihat aku." Ujar Kyuhyun memohon.
Ryeowook membuka mulutnya, "Bagaimana… bagaimana jika aku melupakannya lagi?" tanyanya pedih. Rasanya seperti ia tak mau lagi kehilangan kenangan paling penting bersama Kyuhyun.
Jawaban tidak langsung diberikan. Kyuhyun mengambil kesempatan itu untuk menikmati keindahan wajah Ryeowook lebih detail. Matanya yang akan selalu bersinar dan meyakinkannya, bibir yang akan selalu tersenyum dan mengucapkan kekhawatiran yang berlebihan, serta hidung yang akan terus mengeluarkan tanda-tanda kehidupan di setiap tidur indahnya. Semua itu miliknya. Hanya miliknya. "Aku mengingat semuanya. Itu sudah lebih dari cukup."
Kyuhyun menekan lubang tubuh Ryeowook dengan apa yang mungkin ia sebut sebagai tongkat besi. Tubuh Ryeowook menegang karena rasa sakit yang hebat. Ia tidak bisa menahannya. Sebuah teriakan meluncur dari bibirnya yang basah dan bengkak. "Aku menginginkanmu. Tuhanku… Aku sangat menginginkanmu, Kyuhyun." Kyuhyun mendorong lagi tubuhnya untuk bisa masuk secara menyeluruh, menahan napasnya.
"Aku tidak ingin menyakitimu—"
"Tidak, Kyuhyun. Jangan berhenti."
Kesepakatan sudah terjalin, dan tanpa ragu Kyuhyun mulai menggerakkan punggungnya. Riak air dalam kolam kecil tersebut bergerak tak tentu arah dan semakin bergolak seiring dengan kecepatan yang Kyuhyun berikan. Ryeowook mencoba menggigit bibir untuk mengurangi sedikit teriakan-teriakan kecil yang jumlahnya pun sudah tidak dapat dihitung lagi. Tubuhnya terasa seperti terbelah dan sesuatu di bawah sana bagai terkoyak. Namun ia tidak ingin semua itu berhenti. Ryeowook bersumpah sangat menginginkan Cho Kyuhyun. Tidak ingin membaginya dengan apapun, apalagi siapapun. "Aku mencintaimu, Kyuhyun."
Pundak Kyuhyun bergetar ketika merasakan ledakan di bawah perutnya. Seolah seluruh energi surut dari tubuhnya, ia menjatuhkan diri di atas tubuh Ryeowook yang keadaanya juga tidak jauh berbeda. Mereka berbaring di dalam genangan yang sudah bercampur dengan sperma, beristirahat dan menikmati puncak kelegaan dari birahi yang meluap-luap.
"Ini lebih hebat dari yang pertama kali." Kyuhyun berucap masih dengan napasnya yang memburu.
"Sepertinya aku akan marah jika tidak mengingat ini."
"Cobalah untuk tidak melupakannya. Ini hanya permintaan, bukan perintah."
Ryeowook tertawa pelan, ia menatap wajah Kyuhyun yang kelelahan namun tampak begitu menggairahkan. "Aku mengatakan sesuatu yang aneh tadi."
Lalu mereka kembali berciuman, dan kali ini seperti semacam cooling down. "Aku akan mengatakan sesuatu yang lebih aneh. Aku lebih mencintaimu, Ryeowook."
oOo
Ryeowook merutuki dirinya karena sama sekali tidak bisa bergerak. Keadaan tubuhnya lebih buruk dari pada saat ia pertama kali melakukan latihan fisik di pusat kebugaran. Sementara itu pria yang saat ini tengah menatapnya justru tidak berhenti tersenyum. Tentu saja. Lelaki sialan ini sudah mendapatkan apa yang sangat dia inginkan. Tubuhnya. Dan benar-benar sialan karena Ryeowook kini mengingatnya dengan baik. Setiap detailnya. Tanpa cela.
"Hentikan, Ryeowook. Memangnya kau mau seharian di tempat tidur?" Kyuhyun terkikik geli melihat sosok Ryeowook yang seperti seekor kucing. Menggulung diri dalam selimut tebal dan meringkuk.
"Memangnya salah siapa ini?" Ryeowook berujar dari balik selimut. Suaranya jadi terdengar sangat kecil.
Ada alasan kenapa malam kedua terasa lebih hebat. Kau tidak akan melakukannya sekali, tapi berkali-kali. Dan itu juga alasan mengapa Kyuhyun tidak melepaskan senyuman gila itu dari wajahnya sampai sekarang.
Mereka melakukannya lagi ketika berdiri di bawah shower. Saat sedang berbilas. Kemudian melanjutkannya di atas ranjang. Dan ketika bahkan ranjang sudah dalam keadaan tidak layak huni, mereka kembali melakukannya di lantai dengan hanya beralaskan sebuah karpet tebal. Walau tidak cukup tebal bagi Ryeowook. Tulangnya terasa bagai diremuk.
"Ayo bangun. Aku sudah membuatkan sarapan untukmu." Kyuhyun mencoba menarik selimut tersebut. Tapi Ryeowook memegangnya begitu kuat.
"Isshh… aku lapar… tapi…"
"Tapi apa?"
"Aku tidak mau makan tanpa mengenakan pakaian. Kau akan menyerangku lagi nanti."
Kemudian gelak tawa Kyuhyun terdengar seantero rumah besar itu.
oOo
Kyuhyun berlari kembali ke dalam rumah karena meninggalkan sesuatu. Ia mengacak-acak isi tas besarnya untuk mencari sebuah pena. Hari ini dirinya akan pergi ke tempat keluarga mendiang komisaris Lee Joosok. Jungsoo akan ada di sana juga untuk mewawancarai. Sebenarnya bisa saja ia menggunakan teknologi untuk merekam pembicaraan yang berlangsung, namun tetap saja, ingatannya akan lebih berguna jika ia menuliskan semua itu dengan tangannya sendiri.
Ketika akhirnya tidak menemukan benda tersebut di dalam tas, Kyuhyun mulai memandang berkeliling dan melihat kalau pintu ruang baca Ryeowook terbuka. Pasti dia menyimpan pulpen di sini, pikirnya saat memasuki ruangan tersebut.
Kyuhyun mencoba mencari di atas meja dan membuka setiap laci ketika tidak sengaja lengannya menggeser sebuah lampu meja. Namun ada hal yang lebih membuatnya terkejut karena selain lampu itu tentu saja bergeser, sesuatu di bawah meja yang tadinya terkunci juga bergeser.
Dengan ragu pria itu mulai mendekati laci rahasia tersebut. Jika saja Ryeowook ada di rumah, ia mungkin hanya akan berteriak dan langsung bertanya tempat apa itu. Namun saat ini pemilik rumah sudah pergi dari tadi pagi dan rasa penasaran Kyuhyun—beserta harapan besarnya untuk menemukan sebuah pulpen di dalam sana membuat ia menarik tuas laci dan melihat lebih jelas.
Dahinya berkerut karena menemukan tumpukan kertas lusuh yang mirip seperti denah. Kyuhyun memperhatikan dengan seksama denah itu, dan ia seperti pernah melihatnya.
Lalu saat dadanya mulai bergemuruh dengan penemuan tersebut, ia kemudian melihat judul kecil dari gambarnya.
Di sana tertulis 'Gudang Haluen'.
Seakan tidak cukup, Kyuhyun kembali merogoh laci tersebut dan menemukan sebuah ponsel. Ia tidak perlu mengingat untuk benda persegi itu karena seberapa banyak waktu yang telah ia lewatkan, Kyuhyun tidak akan pernah melupakan benda yang sudah 'bertanda' ini.
Sebuah ponsel dengan cashing ukiran huruh K dan S. Ia membelinya dua tahun yang lalu sebagai hadiah ulang tahun seseorang.
Ulang tahun Sungmin.
Ponsel itu milik Lee Sungmin.
oOo
Masih ingat Gudang Haluen? kalau lupa silahkan baca lagi 3rd Cap kkk~
Well,, tidak lama untuk chapter ini karena saya tidak mikir untuk bikinnya hahaha. Jadi maafkeun kalo ada banyak typo, apalagi di bagian ehm..-nya hihi... gak sanggup basah 2 kali soalnya.
thanks udah mau ikut pindah di sini yah. soalnya kalau dilihat2 disini gak bakalan terganggu sama yang namanya blocking website macem kayak di situs sebelumnya itu. Dan kalau di sini, kalau ada komentar berbentuk pertanyaan bisa langsung saya balas. ya tentu aja tanpa mengurangi kode etik spoiler haha.
oke.. ditunggu feedbacknya...
dan makasih udah baca fic ini
