Reader-sama... *berlutut* maukah anda sekalian memaafkan author karena telat (banget) update nyaaa? Hontou ni gomenasaiiiiii~ *sujud2*. Yah, sebenernya ada beberapa faktor yang bikin Ley ngaret (banget) update, tapi gak bisa dijeasin di sini *plak. Habis kalo dikasih tau, Ley jadi maluuuu aaaaaaa nooooo! *apa sih?*
Udah aja deh bacotnya segitu dulu, silakan membaca m(_ _)m
.
Day 11. The Truth part II
...dulu aku melukaimu karena cinta, dan sekarang kenyataan membayar segalanya...
Sesungguhnya, Tsuna tidak pernah takut pada kegelapan.
Bertahun-tahun lamanya wanita keturunan Άngelos itu menempa diri dengan serangkaian latihan mental yang sulit, berharap kelak ia akan sanggup mencapai kekuatan yang setara dengan para Άngelos jantan, agar suatu hari nanti ia dapat ikut berperang melawan kaum bersayap hitam yang bersembunyi dalam bayang-bayang kegelapan dan membawa kemenangan pada kaumnya.
Melawan gelap dan ilmu hitam tidaklah menjadi suatu halangan berat bagi Tsuna yang sekarang. Bahkan kalau ia boleh sombong dan menyepelekan, hal itu sudah terlalu mudah baginya.
Ya, mudah sekali.
Seharusnya memang demikian—
Namun, mengapa sekarang kegelapan lorong bawah tanah yang dingin dan lembab sanggup membuat tubuhnya merinding? Padahal di tangan kanannya yang berkeringat, tergenggam erat sebuah lilin, memberikan cahaya yang cukup untuk membantu penglihatannya. Dan di tangan kirinya tergenggam Ierá spathí –pedang yang selalu melindunginya dari ancaman dan bahaya. Tapi kedua hal itu sama sekali tak mengusir rasa takut dan keraguan yang sedari tadi terus menggerogoti pikirannya.
Mengapa?
Mengapa ia merasa takut hanya untuk kegelapan yang tak seberapa?
Gema yang dihasilkan oleh tapak-tapak kakinya terdengar begitu nyaring meskipun ia telah berusaha berjalan sepelan mungkin. Uap air dari tiap nafas yang dihelanya terlihat jelas di bawah cahaya lilin. Hawanya begitu sesak dan dingin di sini. Gadis itu merapatkan mantel lusuh yang hampir menutupi seluruh badannya, sementara kakinya terus melangkah meninggalkan gema, menyusuri lorong sempit seorang diri.
Tiga puluh menit lamanya Tsuna berjalan, namun lorong itu bagai tak memiliki ujung, tiada satu pun tanda-tanda dari tempat yang ingin dicapainya.
Melepas lelah sejenak, gadis itu berhenti dan bersandar pada dinding berlumut. Ia membuka tudung mantel sebelum tubuhnya merosot lemas, samar-samar memperlihatkan mimik letih dan sedih di wajahnya yang kotor dan berkeringat.
Sungguh, keadaan dan pikirannya benar-benar kacau sekarang. Menarik nafas dalam-dalam sebanyak apapun tak berhasil membuatnya tenang. Emosi yang labil, tekanan batin, bimbang dan putus asa, semuanya ia rasakan sekaligus, berkecamuk dalam hatinya yang mulai rapuh.
Sesak sekali—
.
.
.
"Hukuman mati, sayang
Itulah hukuman yang paling pantas baginya
Karena mengetahui apa yang seharusnya tidak diketahui—
Harus dibayar dengan kematian"
.
.
.
Betapa Tsuna ingin sekali meyakinkan diri bahwa apa yang didengar olehnya sepuluh detik yang lalu itu adalah salah. Tapi Knuckle telah melantunkan kalimat yang sama sebanyak tiga kali, dengan intonasi yang sama, tegas dan sangat jelas.
"Tapi kenapa? Hukuman mati? Apakah— itu tak terlalu berlebihan?" Pertanyaan spontan yang keluar dari mulutnya membuat Tsuna merasa bodoh. Bagaimanapun juga sifat keputusan enam petinggi adalah mutlak. Berapa kali pun ia bertanya dan menawar, meski memohon sambil berurai air mata, jawabannya akan tetap sama—
"Tidak."
Sesungguhnya Tsuna tak mengira bahwa enam petinggi itu akan menjatuhkan hukuman mati pada Mukuro semudah ini. Sedalam itu kah kebencian di antara Άngelos dan Diávolos hingga mereka akan saling membunuh satu sama lain tanpa pikir panjang? Lalu apa yang membedakan keduanya? Apa yang membedakan kaum Άngelos dari kaum Diávolosbila ternyata mereka bisa merenggut sebuah kehidupan semudah itu?
Sifat Mukuro yang berbeda dari makhluk sejenisnya membuat Tsunatersadar bahwa orang-orang Diávolos tidaklah seperti yang dipikirkannya selama ini. Mungkin Mukuro sepintas memang agak menakutkan dari luar, tapi sifatnya tidak seperti yang diceritakan dalam buku-buku sejarah tebal atau dongeng yang diceritakan secara turun-temurun. Ia adalah Diávolos yang penyayang, perhatian, dan menyenangkan di saat yang bersamaan. Tak pernah sekali pun pria itu berusaha mengorek informasi mengenai Άngelos, lalu pantaskah ia dihukum mati hanya karena secara tidak sengaja memasuki daerah yang terlarang baginya?
Tidak.
Mukuro tidak bersalah.
Kejadian ini tidak akan terjadi seandainya Tsuna lebih berhati-hati. Seandainya saja ia tidak mengajarkan Mukuro ilmu membaca pikiran, seandainya ia tidak memohon pada Giotto untuk merawat Mukuro, seandainya ia tak memasuki perpustakaan, maka laki-laki itu tidak akan divonis mati, dan ia tidak akan merasa kalut seperti sekarang ini.
Tapi keenam petinggi Άngelos masih tak mau mengubah keputusan meskipun gadis itu menjelaskan bahwa kasus ini adalah murni karena kesalahannya, kemudian Tsuna yang nyaris menyerah, tak memikirkan jalan lain selain memberikan penawaran terakhir:
"Aku akan memata-matai kediaman Diávolos."
Keheningan yang panjang kembali mengisi ruang sidang. Tawaran terakhir tadi terdengar menguntungkan. Pasalnya beberapa prajurit terdahulu sering mencoba memata-matai kediaman Diávolos, namun mereka tak pernah kembali.
Para petinggi saling melirik satu sama lain dalam bimbang sebelum akhirnya semua perhatian mereka tertuju pada sang pemimpin.
"Apa maksud perkataanmu yang barusan?" tanya Giotto. Pandangan matanya menajam.
Tsuna menelan ludah, berdoa dalam hati semoga tawaran ini bisa menghancurkan sifat keras kepala mereka.
"Mukuro dihukum karena mengetahui salah satu tempat rahasia di kediaman kita, kalau aku menyusup masuk ke dunia Diávolos dan mencari informasi mengenai rahasia di kediaman mereka juga, bukankah itu adil?"
Tiga dari enam petinggi itu berdiskusi, sisanya bersikap tak peduli, kemudian salah satu dari mereka, laki-laki berambut merah pucat dengan tato abstrak yang menutupi sebelah wajahnya, bertanya dengan intonasi menguji, "Lalu bagaimana caramu menyusup ke dunia mereka?"
Tsuna berpikir sebentar. Ia harus hati-hati dalam berkata, karena kalau tidak, mungkin ia tak akan memiliki kesempatan lagi untuk memberikan penawaran lainnya. "Aku—akan memanfaatkan Mukuro. Ia sangat mempercayaiku, kalau aku berkata padanya bahwa aku ingin pergi dari sini dan tinggal bersamanya di dunia bawah, maka ia tak akan menolak."
"Bagaimana kau bisa yakin kalau ia mempercayaimu?"
"Kau tidak tahu seberapa jauh kedekatan kami." Jawab sang gadis. Giotto mengepalkan tangan mendengar pernyataan tersebut, dadanya terasa panas dan bergejolak karena cemburu, ia baru saja akan menyanggah ketika Tsuna melanjutkan, "Karena kami terlalu dekat, aku sampai mengkhianati janjiku pada Giotto, bukankah itu adil bila aku mengkhianatinya juga dengan bertindak sebagai mata-mata?"
Keheningan lainnya berlangsung selama sepuluh detik.
"Kau tahu apa resikonya kalau kau gagal?" tanya laki-laki berambut pirang pucat, "Memata-matai kediaman musuh bukan tugas yang mudah dilakukan oleh seorang gadis kecil, kau pikir sudah berapa prajurit yang gugur karena tugas ini?"
"Aku menggunakan metode yang berbeda dengan mereka, Alaude." Jawab Tsuna, "Aku akan hadir di sana secara terang-terangan, sebagai tamu, sama seperti saat Mukuro tinggal di sini bersama kita, kemudian diam-diam mengambil informasi penting dari mereka."
"Jadi kau akan bertindak sebagai musuh dalam selimut?" tanya laki-laki berambut hijau bergelombang.
"—Ya."
"Kau yakin, Tsuna?" tanya Giotto, ia lebih terlihat khawatir dari pada tidak percaya, namun Tsuna mengangguk pasti.
"Aku akan melakukannya untukmu, sebagai tunangan pemimpin kaum Άngelos, tentu aku tidak akan gagal."
Iris cokelat yang memancarkan cahaya itu terlihat sangat jujur, membuat Giotto tersadar bahwa ternyata Tsuna masih mencintai dirinya, gadis itu masih mengakui dirinya sebagai tunangan sang pemimpin. Dan pernyataannya yang tegas barusan memang terdengar begitu meyakinkan.
Giotto menghela nafas, tak menyangka bila akhirnya ia akan terbujuk.
"Baiklah," katanya. "Aku akan mengutusmu ke dunia Diávolossebagai ganti dari hukuman pengasingan dan hukuman mati bagi Mukuro, misimu adalah mencari segala informasi mengenai tempat-tempat rahasia di kediaman mereka, tapi dengan satu syarat."
"Apa syaratnya?"
"Kau adalah tunanganku yang kelak akan mendampingiku seumur hidup, maka sudah sepantasnya kau menjaga perasaanmu, jangan jatuh cinta pada orang lain, terutama pada Mukuro."
Tsuna mengangguk menyanggupi. Beberapa petinggi lain masih tampak keberatan, tapi apa daya mereka melawan keputusan langsung dari sang pemimpin? Tak lama kemudian tiap-tiap dari mereka mengetuk palu, tanda telah tercapainya mufakat dan ditutupnya sidang yang berlangsung selama lima jam penuh.
.
.
.
Hanya itu satu-satunya jalan
Hanya itu satu-satunya harapan
Tiada pilihan lain yang bisa ia tawarkan lagi
Selain bekerja sebagai pengkhianat kaum hitam
.
.
.
Tsuna menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali berdiri dan menysuri lorong panjang. Tubuhnya masih sedikit merinding, tapi istirahat singkat tadi membuat pikiran dan hatinya lebih tenang sekarang.
Beberapa menit kemudian, Tsuna tiba di terowongan yang agak luas, dengan langit-langit tinggi dan empat obor yang menyala terang di dinding kanan-kirinya. Ia menyipitkan mata, menerawang ke depan.
Lima meter di hadapannnya, dua buah daun pintu kembar besar yang terbuat dari besi berdiri dengan kokoh, ukiran-ukiran mantera sulit dan rumit di seluruh permukannya memberi kesan mistik.
Gadis itumeletakkan lilin di tanah kemudian kembali menarik nafas dalam-dalam. Ia meletakkan telapak tangan kanannya pada dinding pintu besi, sementara tangan yang kiri tetap menggenggam Ierá spathí.
Setelah lima detik mengumpulkan konsentrasi, Tsuna melafalkan mantera panjang secara fasih, kemudian kedua daun pintu kembar itu mulai bergeser dengan suara keras dan berat, memperlihatkan sebuah ruangan yang sangat gelap hingga cahaya empat obor tak mampu menembus ke dalamnya.
"Siapa...?"
Suara pelan dan menusuk terdengar jelas dari dalam ruangan hitam tersebut. Tsuna tersenyum tipis sebelum menjawab dengan lembut,
"Ini aku, Mukuro."
"—Tsuna?"
Mukuro tampak bergerak menuju cahaya di mana gadis Άngelos ituberdiri, tiap langkahnya diiringi dengan suara gema besi yang menggesek permukaan tanah. Tatkala pria itu menampakkan diri, keluar dari kegelapan yang menutupi wujudnya, sekelebat perasaan perih menyayat hati Tsuna hingga senyum tipis yang sempat menempel di wajahnya hilang tak berbekas.
Keadaan Mukuro jauh lebih parah dari yang ia duga, jauh, jauh lebih parah. Rambut biru dengan style unik yang menjadi ciri khasnya terlihat sangat kusut, seperti semak-semak kering yang sekedar menempel di kepalanya. Kulitnya pucat, kotor dan penuh luka. Pakaian tahanannya yang tak lebih bagus dari kain pel hanya menutupi dada, perut, paha, hingga lutut. Kedua kakinya telanjang dan terbelenggu rantai panjang, membatasi setiap gerakan yang dibuatnya. Tetapi, meskipun keadaannya kian memprihatinkan, Diávolos bermata biru itu masih bisa memperlihatkan senyuman tulus tanpa beban pada Tsuna, seolah-olah ia tak mengetahui bila dirinya telah dijatuhi vonis hukuman mati.
"Aku senang masih bisa melihatmu lagi."
Kata-kata Mukuro yang barusan melelehkan air mata Tsuna. Belum pernah ia melihat pemandangan sesedih ini sebelumnya.
"Aku juga senang." Tsuna menjatuhkan pedangnya kemudian memeluk Mukuro, menangis tertahan di bahunya yang dingin sambil terbata-bata meminta maaf. Tapi lelaki itu hanya mengelus rambut sang gadis, berkata pelan-pelan dengan tegar bahwa peristiwa di perpustakaan itu sama sekali bukan kesalahannya, meskipun sekarang ia telah dijadikan tawanan yang sudah tak membutuhkan perawatan.
"Aku akan membebaskanmu sekarang." Tsuna melepaskan pelukannya, ia mengambil Ierá spathí kemudian mengerahkan seluruh tenaganya untuk memotong rantai yang mengikat kedua kaki Mukuro. Sayang ternyata untaian besi panjang itu lebih keras dari kelihatannya, Tsuna harus menghantamkan Ierá spathí dengan kekuatan penuh sebanyak dua puluh kali hanya untuk memotong satu rantai.
"Kau tidak apa-apa?" Mukuro memandangi wanita yang berjuang keras melepaskan rantai kakinya dengan persaan khawatir. Kedua tangan Tsuna lecet, tapi ia tak mengeluh, "Tanganmu terluka, Tsuna, jangan dipaksakan."
"Ini tak seberapa!" sahut Tsuna sambil terus mengayunkan pedangnya, "Aku-harus-membebaskanmu-sekarang juga!"
Akhirnya kedua rantai pun putus setelah hantaman ke empat puluh, Tsuna berlari membimbing Mukuro menuju jalan keluar, menyusuri lorong yang sempat dilaluinya hingga akhirnya mereka tiba di pintu masuk terowongan.
Mukuro mengeluarkan kedua sayap hitamnya yang lebar, mengepakkannya dua kali sebelum ia melayang di udara.
"Ikutlah denganku Tsuna." Lelaki itu mengulurkan tangan kanannya, berharap Tsuna akan segera menyambutnya. "Ikutlah denganku ke dunia bawah."
Pergi ke dunia bawah...
Memang itulah tujuan Tsuna membebaskan Mukuro, memancing agar lelaki itu mengajaknya pergi ke dunia tempat kaum Diávolos tinggal, seperti dalam skenario 'penyelamatan Mukuro' yang disiapkan Giotto.
Tapi kalau ia pergi bersama Mukuro sekarang, laki-laki itu mungkin akan memegangi tangannya selama berjam-jam, dan bila dalam perjalanan Tsuna tak hati-hati menjaga pikirannya, maka ada kemungkinan rencana pengkhianatan yang telah disusun dengan rapi akan terbaca oleh.
Kemampuan membaca pikiran Mukuro memang belum sempurna, tapi ia cerdas dan tajam. Tsuna tak akan siap bila pergi sekarang.
"Aku ingin ikut pergi bersamamu, tapi ada yang harus kulakukan terlebih dahulu, selain itu aku harus menutupi jejak kepergianmu."
Mukuro terdiam sesaat.
"Baiklah, nanti aku akan datang lagi untuk menjemputmu."
"Jangan, mereka akan segera meyadari keberadaanmu, kau tidak boleh datang lagi, terlalu beresiko."
"—Kalau begitu, aku akan menyuruh seseorang, tunggulah tiga hari lagi di tempat ini."
Tiga hari—sepertinya waktu yang cukup untuk mengkamuflase pikirannya.
"Baiklah."
"Jaga dirimu baik-baik, Tsuna."
Sedetik kemudian, Mukuro mengepakkan sayapanya, terbang menuju sumber kegelapan tak terbatas.
.
.
.
Tiga hari setelah waktu yang dijanjikan,
Skenario pengkhianatan telah tersusun rapi,
Panggung drama kematian telah digelar
Sang puteri siap berakting
.
.
.
"Maaf membuatmu menunggu."
Tsuna membalikkan badan, matanya menangkap sosok seorang anak laki-laki berambut merah dengan beberapa plester yang menempel di wajahnya. Ia terlihat seperti anak normal berusia 15 tahun, seluruh tubuh anak itu basah dari kepala hingga kaki, tertutup oleh mantel bertudung yang ia kenakan.
"Kau—"
Anak itu membuka tudung yang menutupi kepalanya, kemudian memperkenalkan diri dengan sopan seraya berlutut ala ksatria di depan Tsuna. "Namaku Kozato Enma, aku diutus oleh Rokudo Mukuro untuk menjemputmu."
Tsuna terpaku sesaat, sedikit heran mengapa Mukuro mengirim seorang anak kecil untuk membawanya pergi. Selain itu tubuhnya basah semua.
"Kenapa tubuhmu bisa basah kuyup begitu, Enma?"
"Aku berpindah dimensi dengan media air." Jelasnya.
"Berpindah dimensi?" Mata Tsuna melebar sesaat, seolah menyadari sesuatu yang sangat ganjil, "apakah kau—"
"Maaf, tapi waktu kita hanya sedikit," potong Enma, "Kita harus segera pergi dari sini, tolong ikuti aku."
Tsuna membiarkan kakinya berlari mengikuti langkah si laki-laki berambut merah. Keduanya memasuki hutan yang gelap sampai menemukan sebuah sungai besar dengan air yang tenang. Mereka berdua berdiri di tepi, Enma menggenggam pergelangan kiri Tsuna seraya memberikan instruksi.
"Tarik nafas dalam-dalam."
Detik berikutnya, mereka menceburkan diri ke dalam sungai.
.
.
.
Ksatria merah datang menjemput sang puteri
Mengantarnya melintasi langit gelap
Menuju panggung babak pertama
Menemui Pangeran Hitam yang menunggu kedatangan mempelainya
.
.
.
Hujan deras adalah hal yang pertama kali Tsuna rasakan begitu ia muncul ke permukaan untuk menarik nafas. Telinganya berdenging dan pandangannya samar-samar terhalang air, tapi gadis itu cukup yakin kalau ia tengah mengambang di sebuah sungai lebar dengan arus yang cukup kuat untuk menghanyutkan tubuhnya.
Tsuna sadar bahwa ia harus berenang, namun mantel yang dikenakannya mempersulit gerakan, untunglah Enma yang tepat berada di sebelahnya segera menarik gadis itu untuk menepi.
"Aku meleset," suara Enma yang pelan di tengah derasnya hujan terdengar runyam, dan Tsuna hanya berlutut di tepi, terbatuk-batuk karena sempat meneguk air sungai.
"Kita ada di mana?"
"Dunia tengah." Enma memperhatikan sekitarnya, pohon pinus mendominasi sejauh mata memandang, "Aku keliru memperkirakan tempat, kita berada kira-kira dua kilometer dari tempat berkumpul."
"Lalu sekarang bagaimana?"
"Aku hanya diberi waktu tiga puluh menit untuk menjemputmu," kata Enma seraya membantu Tsuna berdiri, "Kau bisa berlari?"
Gadis itu mengangguk,beberapa menit kemudian ia memacu kakinya mengikuti Kozato Enma, menembus jejeran pohon pinus yang menjulang.
Lari menempuh jarak 2 km di hutan gelap dan tanpa penerangan sedikit pun sama sekali bukan hal yang mudah, beberapa kali Tsuna nyaris tersandung atau terperosok atau bahkan tertinggal jauh dari Enma. Ia juga sudah lelah, namun Enma tak mengizinkannya beristirahat demi mengejar waktu.
Di sisa nafasnya yang terengah-engah, mata Tsuna yang berair menangkap siluet cahaya dari kejauhan. Enma mempercepat larinya menuju sumber cahaya tersebut, membuat Tsuna terpaksa menambah kecepatannya juga agar bisa menyusul.
Pelarian mereka berakhir di depan sebuah rumah sederhana di dekat danau. Enma melepas mantelnya, begitu pula Tsuna. Kemudian mereka berdua masuk, mengeringkan tubuh mereka dengan handuk yang telah disiapkan sebelum menuju pintu di mana Mukuro dan para sepupunya telah lama menunggu.
.
.
.
Pertemuan itu mengenalkan sang puteri pada iblis-iblis lainnya
Pertemuan itu membuat Pangeran Hitam menyatakan rasa sayangnya
Pertemuan itu membuat sang puteri harus rela melepas sayapnya
Dari pertemuan itulah, ia mulai menjalankan perannya di dunia kaum bersayap hitam
.
.
.
"Mukuro, seperti apa rupa Xanxus?"
Mukuro menoleh menghadap kekasihnya, ia membetulkan posisi tidurnya agar bisa melihat raut wajah Tsuna dengan jelas. Gadis itu nampak lelah setelah melewati perjalanan panjang dari dunia tengah menuju dunia bawah dimana para makhluk bernama Diávolos bersarang.
"Kenapa kau menanyakannya?" tanya Mukuro lembut.
"Waktu di pertemuan kemarin, kau menyebut-nyebut nama Xanxus tapi tak menjelaskan siapa dia atau bagaimana rupanya," Tsuna mempermainkan gelang berlonceng di tangan kanannya, memperhatikan lonceng-lonceng kecil yang menyembunyikan identitasnya sebagai Άngelos kemudian kembali melanjutkan, "Lagipula kalian semua nampak takut terhadap orang bernama Xanxus ini, aku jadi merasa sedikit khawatir."
Mukuro diam berpikir, mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan seorang Xanxus tanpa membuat Tsuna ketakutan.
"Xanxus itu memiliki kepribadian yang keras, juga kekuatan yang luar biasa, wajahnya sedikit tidak bersahabat, mungkin gara-gara ada beberapa luka bakar di sana, terkadang mudah marah, suka mengatur dan seenaknya, tapi ia sosok pemimpin yang ideal bagi kebanyakan Diávolos karena kemampuan murninya menduduki peringkat teratas." Mukuro membayangkan sosok Xanxus yang sebenarnya jauh lebih berbahaya dan menyeramkan dari penjelasannya barusan, tapi ia tak kuasa mengatakannya.
"Jadi, Xanxus itu pemimpin kalian?" Tsuna memiringkan wajahnya, kemudian ia melihat Mukuro mengangguk.
"Besok aku akan mempertemukan kalian, aku harus mendapatkan persetujuannya agar bisa terus bersamamu di sini." Katanya.
"Secepat itu?"
"Lebih cepat lebih baik."
"Tapi bagaimana bila ia tak setuju?"
"Tenang saja, ia akan setuju selama wujudmu yang sesungguhnya tidak terungkap."
"Lalu bagaimana bila ia tahu kalau ternyata aku adalah seorang Άngelos ?"
"Kalau begitu aku terpaksa harus membuatnya setuju, dengan cara apapun."
"Kau akan bertarung melawannya?" Tsuna menatap Mukuro dengan pandangan tak percaya, "Bukankah ia sangat kuat?"
"Kufufu, jangankan melawan Xanxus, demi mendapatkanmu, bahkan aku tak keberatan melawan Tuhan sekali pun."
"Itu terlalu berlebihan, Mukuro."
"Tidak sama sekali," Mukuro mencium kening Tsuna pelan, "Tak ada yang berlebihan untuk yang terkasih satu-satunya."
Tsuna tersenyum, hanyut dalam rayuan Mukuro yang membuat hatinya nyaman. Lelaki itu kemudian merangkul kekasihnya di tempat tidur hingga mereka berdua jatuh terlelap.
.
.
.
Babak berikutnya sang puteri mengunjungi pemimpin kegelapan
Persetujuan yang didapat harus dibayar dengan pengorbanan yang setimpal
Ia harus menukar kedua sayap putihnya
Kemudian mengucapkan sumpah di depan altar
.
.
.
"Ucapkan sumpahmu."
Makhluk mengerikan dengan perban yang hampir menutupi seluruh tubuhnya berkata dengan suara berat dan serak. Matanya yang terlihat seolah tak pernah bercahaya itu memberikan pandangan tajam kepada wanita berambut cokelat dengan sayap putih berkilauan yang berlutut di depannya.
Dikenal sebagai Bermuda von Veckenschtein, salah satu petinggi kaum Diávolos yang bertugas menjaga hukum di dunia kegelapan dan pemilik sihir hitam terkuat, ia mengambil andil sebagai hakim dalam upacara pengesahan Tsuna untuk menjadi bagian dari keluarga besar kaum bersayap hitam.
"Aku bersedia menukar kedua sayapku dengan kepercayaan kalian, wahai kaum bersayap hitam, atas sumpahku untuk setia pada Rokudo Mukuro, dan janjiku untuk mempersembahkan pengetahuan tak terbatas dari dunia kami."
Kemudian Bermuda menjulurkan tangan kanannnya ke arah kepala Tsuna, dan dari tangan kurus itu memancarlah dua rantai panjang yang tunduk pada perintahnya. Masing-masing dari rantai-rantai itu bergerak membelenggu kedua sayap Tsuna dengan erat hingga ia merintih kesakitan.
"Lakukan dengan hati-hati, Bermuda!"
Bermuda nampaknya tak menghiraukan peringatan Mukuro sama sekali, ia malah menarik rantai dalam genggamannya semakin erat.
Tsuna menutup mata rapat-rapat sementara tubuhnya berjuang melawan rasa sakit. Rantai-rantai itu seolah meremukkan sayapnya hingga ke tulang. Saking sakitnya bahkan ia tak sanggup berteriak atau mengerang.
"Kau membuatnya tersiksa, lakukan dengan cepat!"
Pijar api berwarna hitam menjalar di setiap mata rantai, membakar kedua sayap Tsuna dalam hitungan detik. Tsuna menjerit, nyaring sekali. Setelah sepuluh detik berlalu, sayap-sayap kebanggan itu sirna tertelan kegelapan, tak menyisakan sehelai bulu pun.
.
.
.
Sang puteri melepas mahkota kebanggaannya
Namun ia mendapatkan Pangeran Hitam yang ia inginkan
Kemudian sejak malam itu, sang puteri mengorbankan segalanya
Baik kehormatan, kehidupan, bahkan hatinya sekalipun
.
.
.
Aku tak boleh begini terus...
Tsuna terduduk di kasur, menekuk kedua lutut di depan dadanya sementara kedua tangannya mengusap wajah sambil mendesah depresi. Ia memperhatikan jendela. Meski jam dinding menunjukkan pukul sebelas siang namun tak ada cahaya matahari yang tampak pada tirai-tirai merah yang menutupi jejeran kaca tinggi. Ruangan itu hanya dipenuhi kegelapan.
Bola mata Tsuna beralih pada pria yang berbaring di sampingnya. Rokudo Mukuro masih tertidur lelap di balik selimut tebal yang hampir menutupi seluruh tubuhnya.
Ini adalah malam ke-21 Tsuna tidur bersama Mukuro dan tiap kali ia terbangun pada pagi harinya, rasa sesal menghantui hati gadis itu selama sehari penuh. Ia harus mengakui bahwa sulit sekali berpaling dari rasa sayang dan perhatian yang diberikan Mukuro padanya, dan tiap sentuhan serta pelukan lelaki itu membuatnya semakin bahagia dan juga semakin menyesal.
Tsuna mungkin bisa membohongi Giotto, namun ia tak bisa membohongi hati kecilnya yang terus membisikkan kalimat yang sama berulang-ulang sejak kedekatannya dengan Diávolos berambut indigo tersebut.
Ia mencintai Mukuro.
Tsuna mendesah sekali lagi sebelum turun dari tempat tidur dan berpakaian, ia menatap Mukuro yang masih tak bergerak di tempat tidur sejenak, lantas membuka laci meja rias dengan hati-hati agar tak menghasilkan suara yang dapat membangunkannya.
Tangannya merogoh sebuah kristal berwarna merah, kaum Diávolos menyebutnya Krýstallo ti̱s mní̱mi̱s (Crystal of memory). Ia menggenggam kristal itu kemudian pergi keluar ruangan.
Aku harus cepat melakukannya...
Tsuna berjalan setengah berlari menuju ke ruangan bawah tanah yang tersembunyi. Bila apa yang dikatakan buku-buku sejarah itu benar adanya, maka ruangan dengan enam pintu ini adalah tempat rahasia ke-12 yang dimiliki kaum Diávolos. Berarti tinggal satu tempat rahasia yang tersisa sampai misinya selesai dan setelah itu ia bisa pulang.
Pulang—?
Tsuna menghentikan langkah kakinya saat ia menyadari sesuatu, kepalanya tertuduk. Baru saja terpintas oleh benaknya, apabila ia menyelesaikan misinya kemudian pulang ke dunia atas, maka ia tak akan bisa melihat Mukuro dalam waktu yang sangat lama, atau bahkan selamanya. Namun bila ia tak menyelesaikan misinya, itu berarti sama saja dengan mengkhianati kaumnya, mengkhianati Giotto yang pernah ia cintai. Sementara di sisi lain ia juga tak ingin mengkhianati Mukuro.
Sekarang harus bagaimana?
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Tsuna tersentak dan seketika menoleh ke arah pemilik suara. Penerangan beberapa obor yang terpajang di dinding bata sudah cukup terang untuk memperlihatkan sosok laki-laki berambut merah yang kini berdiri di hadapan Tsuna dengan wajah datar.
"Kozato Enma—" Tsuna bergumam tanpa sadar. Gadis itu terlalu terkejut, tak menyangka akan tertangkap basah saat meneliti ruangan rahasia yang dilarang keras untuk dikunjungi makhluk sepertinya.
Enma menatap kristal merah yang menyala-nyala di tangan Tsuna.
"Kupikir siapa yang mengambi kristal di ruanganku dua minggu yang lalu," kata Enma, masih dengan wajah datar, "Sekarang letakkan benda itu di bawah, Tsuna."
Tsuna yang tak bisa berbuat banyak hanya bisa menuruti perintah dari iblis merah. Ia meletakkan kristal merah di tanah dengan hati-hati, kemudian kembali berdiri menghadap anak laki-laki yang memperhatikannya dari atas sampai bawah.
Enma berjalan mendekat, ia menatap mata Tsuna sekejap kemudian membungkuk untuk meraih kristal merah yang dietakkan gadis itu.
"Kau pergi ke tempat-tempat terlarang?" tanya Enma saat ia selesai menerawang ke dalam memori kristal, sekarang Tsuna bisa melihat ekspresi keheranan lelaki tersebut. "Jadi rupanya selama ini kau memata-matai rumah Diávolos?"
Tsuna menelan ludah, panik. Ia tak mungkin berkelit atau memberi alasan yang masuk akal, bagaimanapun juga benda di tangan Enma menyimpan segala buktinya.
"Ya, aku memang memata-matai tempat ini." Jawab Tsuna putus asa. "Lalu apa yang akan kau lakukan? Melaporkanku pada pemimpin kalian? Atau kau lebih memilih untuk membunuhku di tempat ini?"
Diluar dugaan, Enma hanya mendengus sambil mengembalikan kristal itu ke tangan Tsuna dan berkata, "Aku tidak suka ikut campur dalam urusan orang lain, silakan saja kalau kau ingin memata-matai tempat ini."
"Apa?" Kedua alis Tsuna berkerut saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Enma, "Kenapa? Kenapa kau tidak melakukan apapun padahal aku jelas-jelas melarang hukum di dunia kalian?"
"Itu karena aku bukan salah satu dari mereka." Jawab Enma sambil berbaik pergi. Tsuna termenung sesaat. Kemudian ia teringat dengan kemampuan Enma untuk berpindah dimensi dengan media air. Saat itu juga, bola mata Tsuna yang indah melebar seolah menyadari sesuatu yang mustahil terjadi.
"Kau—odi̱gós tou chó̱rou (the wizard of space)?"
Enma menghentikan langkah kakinya kemudian membalikkan badan. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Tsuna melihat laki-laki berambut merah itu menyeringai.
.
.
.
Lahir bukan dari kaum bersayap hitam dan memiliki kemampuan untuk menciptakan
Iblis merah bukanlah seseorang yang mengambil peran dalam panggung kematian ini
Ia adalah satu-satunya penonton yang menyaksikan—
Dan bertepuk tangan ketika semuanya selesai
.
.
.
"Kalau aku mati dan terlahir kembali sebagai makhluk yang lain, aku tidak ingin terlahir sebagai wanita." Tsuna bergumam sambil memainkan kristal merah di tangannya. Enma menolehkan kepala ke arah tempat tidur di mana gadis itu berbaring menghadap langit-langit, kemudian perhatiannya kembali tertuju pada foto berfigura di tangannya.
"Lalu kau ingin terlahir sebagai apa?" tanya si iblis merah.
Tsuna berguling agar ia bisa melihat Enma yang tengah duduk di kursi.
"Entahlah—" jawab Tsuna, ia berguling lagi dan turun dari tempat tidur untuk menyimpan kristal merah di laci lemari. "Yang penting bukan sebagai wanita."
Enma menaruh foto di tangannya ke atas meja, lalu menatap iris kecoklatan yang lurus memandangnya dari kejauhan.
"Kau merasa menyesal karena terlahir sebagai wanita?"
"Mungkin?"
Sang iblis mendesah, "Bukankah itu lebih baik daripada tidak lahir sama sekali?"
"Kalau kau dalam posisiku, Enma, maka kau juga akan lebih memilih untuk tidak pernah dilahirkan daripada terjebak dua pilihan sulit."
"Dua pilihan sulit apa?"
"Aku sudah menceritakan semuanya padamu bukan?" Tsuna menarik nafas dalam-dalam, "Aku tidak bisa menentukan salah satu dari mereka."
Enma membetulkan posisi duduknya sesantai mungkin sebelum bertanya seolah-olah menguji isi hati Tsuna.
"Apa kau mencintai Mukuro?"
Gadis itumengangguk, "Tapi sampai sekarang aku belum pernah mengungkapkan perasaanku padanya."
"Kalau begitu katakan saja."
"Tidak bisa, kalau aku mengatakan aku mencintainya, berarti aku mengkhianati tunanganku."
"Sebenarnya kau memang sudah mengkhianatinya dari awal." Tutur Enma, jelas membuat Tsuna terkejut, "Katakan perasaanmu padanya sebelum semuanya terlambat."
"Aku—"
'KREK'
Suara daun pintu yang terbuka memotong kata-kata Tsuna. Keduanya menoleh untuk melihat Demon Spade masuk sambil memasang ekspresi wajah yang penuh maksud.
"Pemimpin Άngelos datang berkunjung."
.
.
.
Dan hari bagi pangeran putih untuk menjemput sang puteri pun tiba
Cinderella kembali pulang menuju istananya
Tapi yang menantinya di sana bukanlah kebahagiaan semata
Ia tersiksa rasa rindu akan cinta dari sang pangeran Hitam
Ia merindukan cinta sejatinya
.
.
.
Namun—
.
.
.
Ketika takdir mempertemukan mereka untuk yang kedua kalinya,
Pangeran hitam sudah tak lagi mengenal cinta
"Kufufu, indah kan Tsuna?
Kau mengkhianatiku setelah mengucapkan sumpah palsu,
dan aku membunuhmu setelah mengucapkan dusta."
.
.
.
Ruangan luas yang hancur itu kini sepi.
Tak ada suara apapun, hanya keheningan yang meliputi suasana berkabung.
Laki-laki berambut merah itu menatap sosok yang sudah tak bergerak di depannya tanpa ekspresi. Tubuh yang telah kehilangan cahaya dan kehangatan di sekelilingnya. Aura suci dan pandangan sejuk yang pernah dimiliki gadis itu sirna, hanya tinggal menyisakan kekosongan dan genangan merah yang pekat.
"Aku pernah bilang, katakan perasaanmu yang sebenarnya sebelum semuanya terlambat bukan?"
Kozato Enma diam sejenak seolah menunggu jawaban, namun tentu mulut yang selalu berkata manis itu tak lagi bersuara. Ia mendesah, berlutut di samping Tsuna, perlahan-lahan tangan kanannya bergerak mengusap wajah ayu yang kini membeku, menghapus air mata dan menutup iris kecoklatan itu untuk selamanya.
"Γύρνα πίσω σε μένα, ω ψυχή που έζησε ποτέ "
(Come back to me, O soul that ever lived)
Seberkas cahaya yang berkilauan keluar dari mulut Tsuna setelah Enma melafalkan sebuah mantera. Cahaya itu melayang-layang di udara sebelum Enma meraihnya tanpa menyentuh.
"Padahal kau memiliki jiwa yang indah seperti ini," Suara Enma terdengar lirih dan sedih di sela angin yang berhembus dari jendela, suasana ruangan itu menjadi blur dan gelap secara perlahan-lahan, seperti luntur karena hujan. Namun sebelum semuanya menghilang, suara Enma masih terdengar dengan jelas di balik kegelapan.
.
.
.
"Aku akan mengabulkan keinginanmu."
.
.
.
Rasa sesak segera menyerang paru-paruku begitu aku membuka mata.
Dan kegelapan—seperti biasa, adalah hal yang pertama kali kulihat.
Dingin...
Butuh waktu lima detik untuk tersadar bahwa aku tengah berada di dalam air sekarang—atau sungai lebih tepatnya. Astaga, bagaimana bisa aku lupa bahwa aku dan Enma tadi tenggelam?
Secara spontan aku menghentakkan kakiku agar muncul ke permukaan, beberapa kali, sambil melihat ke sekeliling untuk mencari sosok yang kukenal.
Enma!
Pandangan mataku yang masih blur berhasil menyorotnya, Enma terbawa arus dua meter di depanku. Dengan kemampuan berenang yang sangat terbatas, aku bergerak mendekati Enma, tapi rasanya sulit sekali.
Susah payah akhirnya aku dapat meraih lengan Enma dan menariknya ke sisiku. Ada yang tidak beres dengannya. Ia tak sadarkan diri namun matanya setengah terbuka, dan ia sama sekali tak bereaksi meski aku mengguncang-guncang tubuhnya dengan keras. Diliputi rasa panik, aku menggenggam tangan kirinya erat-erat, seperti yang biasa kami lakukan tiap kali berpindah tempat lewat air, sambil berharap kami berdua akan berpindah dimensi.
Aku menunggu beberapa detik, tak terjadi apapun, dan rasa sesak di dadaku semakin hebat saja. Secara insting, aku mencoba berenang ke permukaan sambil menarik Enma, menggapai-gapai ke atas.
Ah, kenapa rasanya jauh sekali?
Aku sudah semakin lelah, sepertinya kekuatanku tak akan cukup untuk berenang sampai ke permukaan.
Beberapa detik kemudian aku berhenti bergerak, mataku terpaku ke permukaan air sambil mempertahankan sisa oksigen terakhir di paru-paruku.
...Bulan yang indah...
Dari bawah, aku bisa melihat cahaya refleksi benda langit yang terang itu menembus permukaan air. Bayangannya bergoyang-goyang seolah sedang menertawai nasibku. Menyedihkan sekali, apa ini menjadi pemandangan terakhir yang bisa kulihat sebelum benar-benar mati?
Mukuro...
Entah mengapa nama itu terlintas begitu saja di benakku. Padahal aku pernah mengatakan bahwa aku membencinya dari hatiku yang terdalam. Ia telah mencuri seluruh kehidupanku, menghancurkanku hingga berkeping-keping, bagaimana mungkin aku tidak membencinya?
Tapi setelah aku melihat semua peristiwa yang Tsuna tunjukkan kepadaku, perasaanku padanya berbalik. Ketika aku menutup mata, tak ada hal lain yang terbayang selain mata bicolour-nya yang redup. Aku merindukannya.
Mukuro—
Aku belum ingin mati, banyak hal yang ingin kusampaikan padamu, banyak kata-kata yang ingin kuungkapkan padamu. Kumohon—Tuhan, pertemukan aku dengannya sekali lagi. Aku belum meminta maaf atas semua hal yang pernah kuperbuat.
Dan kupikir Tuhan membenciku seperti aku pernah membencinya, kupikir Ia tak akan pernah lagi mendengar permohonanku, sampai kemudian kedua tangan itu datang dari permukaan, menarikku dari keputus asaan yang sempat menghampiriku 10 detik terakhir.
Siapa yang melakukannya?
Aku mencoba membuka mata, pandanganku buram seperti lukisan abstrak. Aku tak bisa melihat atau mendengar apapun dengan jelas.
"..shi..!"
Apa? Apa yang kau katakan?
"...shi...na...fa...s!"
Aku tak bisa mendengarmu.
"Bernafas, Tsunayoshi!"
Aku segera mengikuti komando suara itu, menghirup oksigen sebanyak yang aku bisa. Jantungku berdegup kencang dan keras, kedua tanganku bergetar, aku terbatuk-batuk beberapa kali sebelum menatap kedua bola mata yang berbeda warna di atas wajahku.
"Mu—kuro?"
"Apa yang kalian lakukan?" suara Mukuro terdengar sangat marah, juga terdengar seperti khawatir. Aku melirik ke kanan dan kiri mencari Enma. Ah, itu dia, Enma terselimuti mantel mewah dalam pangkuan Demon Spade.
Setelah tahu bahwa Enma baik-baik saja, aku kembali menatap Mukuro. Ia benar-benar kelihatan marah sekali, namun aku malah tersenyum lemah, aku bangun berusaha untuk meraih lehernya, memeluk tubuhnya tanpa mempedulikan ia akan kebasahan, tanpa mempedulikan raut wajah Demon Spade yang kehereanan. Bagaimanapun juga aku harus mengatakannya selagi sempat, sebelum mati untuk yang kedua kalinya.
"Maafkan aku,"
.
.
.
"Aku mencintaimu, Mukuro"
.
.
.
Selamat, anda telah membaca chapter ini sampai tuntas! Horeeee *tabur confetti*. Kayanya setelah chapter ini dipublish Tsuna yang cewek itu udah gak akan muncul-muncul lagi deh, sekarang bakal terpusat ke 6927 dan pairing2 kejutan lainnya haha.
Yah, di akhir kata ini, Ley sekali lagi minta maaf telat publish gara-gara waktu itu keasyikanpacaran *plak. Yah,demikianlah pemirsa, tapi sebelum anda sekalian pergi, jangan segan-segan untuk mereview atau memberikan kritik, saran, dan ajuan*?* ;D
sankyuuuuuu~ 3
