Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Warning : OOC, Typo, perusakan karakter, tulisan berantakan *seperti biasa, author ga pernah meriksa ulang*, etc.
.
Desire
.
Langkah gontai mewakili ekspresi putus asa yang begitu tergambar jelas di wajah. Kaki-kaki mungilnya seperti berjalan tanpa arah meskipun jelas dia tengah berjalan di koridor rumah sakit, menuju tempat Orihime menunggu.
Rukia mendesah lemah.
Lagi-lagi dia menghancurkan kepercayaan Ichigo. Mengapa otaknya begitu bodoh sampai-sampai bisa mengendalikannya mengambil uang tanpa seizing si pemilik? Walaupun sewaktu kecil sebelum tinggal di panti asuhan Rukia pernah mencuri—bersama Ashido, yang dicurinya adalah orang-orang tidak tahu diri yang suka memperlakukan anak yatim piatu seperti onggokkan sampah. Jelas Ichigo bukan salah satu yang memiliki sifat sama seperti mereka. Ichigo berbeda. Pemuda itu selalu perhatian dan tak pernah sedikitpun bersikap pelit. Dan sekarang—cuma karena uang satu juta—dia sudah mengacaukan segalanya.
Bagaimana cara memberbaikinya? Masihkah Ichigo mempercayainya lagi? Atau—haruskah dia menceritakan tentang Bibi Yorouichi pada Ichigo?
Ada yang aneh… kenapa selama ini Ichigo tidak pernah bertanya kemana perginya semua uang yang telah diberi? Yah, sebenarnya wajar. Kekasih berambut orangenya memang begitu disibukan oleh pekerjaan, tidak ada guna bagi kekasihnya mencari tahu pergi kemana uang 'kecil' yang sama sekali tidak mempengaruhi isi dompet.
"Rukia~" Orihime muncul membuyarkan lamunan.
Rukia memaksakan senyum dibibir, tangannya mulai merogoh isi tas untuk mengeluarkan uang. Kalau tidak segera dikeluarkan, sepupunya bisa saja mulai mengoceh hingga membuat telinganya nyaris tuli—
"Pacarmu benar-benar baik."
Huh?
"Pa,car?" suara Rukia sedikit gagap.
Orihime mengangguk riang. "Beberapa menit yang lalu pacarmu mengirimkan bawahannya untuk mengurus semua biaya pengobatan Bibi Yorouchi sampai selesai."
"Bagaimana bisa?" gumam Rukia hampir melongo.
Orihime langsung memasang wajah cemberut sambil menyilangkan tangan didepan dada. Tekadang sepupunya yang satu ini meskipun pintar bisa sedikit lamban. "Tentu saja bisa. Pacarmu kan orang kaya."
"Bukan," Rukia menggelengkan kepala, bersusah payah menelan ludah. "Bukan itu maksudku."
"Lalu apa?"
Sejenak Rukia membuka mulut, namun dia menggeleng cepat. Tidak ada gunanya bercerita pada Orihime, lebih baik dia mencari keputusan sendiri.
"Aku harus pulang."
.
.
.
mmmmm
.
.
.
Terlalu banyak beban pikiran yang memukul, membuat Rukia benar-benar lumpuh dan tidak tahu lagi harus bertindak apa. Semua berjalan terlampau membingungkan. Beribu-ribu pertanyaan selalu muncul membayangi. Apakah selama ini Ichigo sudah tahu masalah ekonomi keluarganya? Lalu, buat apa ia memberinya uang tadi pagi? Apa ini sekedar lelucon?
Rukia menggeram jengkel. Dia benar-benar ingin tahu bagaimana cara Ichigo menilainya. Kalau ini memang sebuah lelucon, jelas tidak lucu. Maka tindakan yang harus dilakukan adalah segera menghentikan permainan. Tapi… bagaiaman kalau ini bukan lelucon? Dan, jika Ichigo tulus, bagaiamana?
Lelah mondar-mandir tanpa tujuan didalam kamar sambil menggenggam ponsel, Rukia mulai memberanikan diri menghubungi seseorang yang bisa segera menghubungkannya dengan Ichigo. Tidak ada waktu menunggu hingga Ichigo pulang.
Mereka berdua perlu berbicara.
.
.
.
mmmmm
.
.
.
"Setelah lift terbuka, kau akan langsung menemukan pintu ruang kerja Kurosaki," terang Ishida datar seperti biasa.
Mata asisten direktur Seireitei Inc. sesekali melirik jam dipergelangan tangan dengan malas. Ia sepertinya harus mengatur ulang jadwal atasannya. Memang harus. Soalnya ia sekarang seperti petugas yang sedang mengantarkan kesukaan sang bos yang sudah siap santap. Ishida kenal watak Ichigo, daripada menghadiri rapat Ichigo jelas lebih memilih melakukan seks dengan kekasih mungilnya sebagai penghilang stress. Dasar atasan pedofil, selalu suka seks, tapi anehnya sekalipun pekerjaannya tidak pernah terganggu. Yah, selagi hobi sang atasan tidak merusak kinerja kerja, ia tak pantas memprotes apapun.
"Kita sudah sampai," lagi-lagi cuma Ishida yang berbicara. "Kau bisa pergi sendirian kan?"
"Ya," Rukia mengangguk. "Terimakasih sudah mengantarku, Ishida-san."
Ishida melirik malas. "Psh, pastikan saja bajumu tidak robek waktu pulang nanti."
Rukia membungkukkan badan sebagai isyarat terimaksih, kakinya begitu kikuk meninggalkan lift, bagaimanapun juga dia tidak ingin Ishida melihat pipinya yang memerah karena perkataan barusan. Prediksi Ishida Uryuu cenderung tepat, tak jarang laki-laki berkulit pucat itu memasuki apartemen Ichigo ketika dirinya dan Ichigo cuma terbungkus selimut berbaring di karpet ruang tamu. Wajar kalau Ishida menjadi hafal dengan kebiasan Ichigo yang tidak bisa menjaga tangan sendiri ketika Rukia didekatnya. Tapi perlu diingat lagi, tujuannya kesini memang untuk berbicara dengan Ichigo, sayangnya tidak menutup kemungkinan ada seks meja sebagai tambahan.
Melakukan seks di atas meja kerja Ichigo? Apa rasanya ya?
Rukia menggeleng-gelengkan kepala, sesekali tangannya akan menepuk pipi sendiri. Ingat! Dia cuma ingin berbicara, jangan mulai memikirkan hal-hal menyimpang lainnya.
Jarak lift dengan ruangan Ichigo memang tidak begitu jauh, baru beberapa langkah kaki Rukia—yang terbiasa melangkah pendek karena ukuran tubuh—sudah hampir tiba. Dari jarak ini ia saja meja kosong sekretaris yang terletak disebelah pintu kantor telah terlihat.
Kosong?
Rukia menjilat gugup bibirnya yang kering. Tadi Ishida Uryuu mengatakan Ichigo berada diruangannya. Huh? Jadi dia harus mengetuk sendiri pintunya.
Tangan Rukia begitu berkeringat menyentuh gagang pintu, jatungnya terus berpacu memukul-mukul dari dalam seolah akan melompat keluar.
Oke, tenang, tinggal buka pintunya dan—
Rukia cepat membekap mulutnya dengan tangan agar jangan menjerit. Ada. Didalam sana kekasihnya sedang duduk di kursi kerja, punggung pemuda itu begitu santai bersandar pada sandaran kursi, dan satu pemanis disana. Seorang gadis berambut hijau tosca duduk di atas meja menghadapi Ichigo. Lewat potongan kemeja yang begitu pas di badan, bentuk tubuh gadis itu begitu memiliki lekuk yang indah. Dengan senyum menggoda gadis itu mencondongkan badan kedepan, seakan menawarkan pemandangan dadanya—dua kali milik Rukia—pada Ichigo.
Ichigo melipat tangan didepan dada, memiringkan kepala sambil menyeringai nakal. Ekspresi ini…
Oh, Kami-sama… jangan…
"—yang aku takutkan… kalau ternyata pacarmu memuaskan diri ditempat lain juga."
Rukia menggelengkan kepala kuat. Tidak, Ichigo tidak mungkin bermain dengan gadis lain. Mustahil Ichigo melakukannya. Pemuda itu pernah berkata kalau yang diinginkannya cuma dirinya seorang.
Heh, seorang?
Adakah Ichigo mengatakan ia hanya ingin Rukia—dan tidak ada yang lain?
Dua tetes cairan asin meluncur melewati lekuk pipi, lalu bergabung di ujung dagu Rukia.
Tidak pernah. Ichigo tidak pernah mengatakan kalau ia tidak ingin gadis-gadis lain. Dulu ia cuma bilang ingin Rukia, tidak ada embel-embel lain.
Hadapilah, Rukia. Pada kenyataannya Ichigo memang tidak puas dengan satu gadis. Laki-laki berambut orange itu memang hampir sepanjang waktu melakukan seks dengannya di apartemen., tapi itu bukan jaminan bahwa di tempat lain Ichigo tidak bisa. Di kantor misal. Contohnya…
'Sekarang,' isak Rukia nyaris seperti bisikan angin.
Apakah kali ini dia ingin menyangkalnya lagi? Ini sudah cukup jelas meskipun berkali-kali lagi disangkal. Ini nyata, hatinya betul-betul sakit melihat Ichigo bersama gadis lain. Nyaris seperti dihujam seribu tusukan.
Benar.
Perasaan ini… Rukia telah jatuh cinta pada Ichigo.
Rukia berlari menuju lift. Langkahnya begitu gemetar hingga sedikit bertabrakan dengan seseorang yang baru keluar dari lift. Gadis itu tidak begitu ambil pusing dengan sifat kurang sopannya, meskipun orang yang ditabrakknya terus memandang aneh padanya, Rukia tetap acuh membiarkan pintu lift tetutup sepunuhnya.
Tubuh mungilnya langsung merosot begitu bersandar ke dinding lift yang begitu dingin, sedingin hatinya. Matanya terpejam erat, jari-jarinya meremas tali tas melebihi kekuatan yang wajar.
Jangan menangis, Rukia. Jangan…
Tidak bisa. Meski otaknya melarang sekalipun, beberapa tetesan cairan bening lagi-lagi lolos dari pelupuk mata. Ia sakit. Inilah akibatnya melanggar peraturan kecil seorang perempuan penghibur di atas kasur, jangan pernah jatuh cinta pada orang yang kita layani.
.
.
.
mmmmm
.
.
.
Ichigo keluar dari kamar mandi sambil meregangkan otot-ototnya. Mandi air hangat sama sekali tidak membantu mengurangi lelah. Pekerjaan di kantor membuatnya sepeti robot yang tidak berhenti menghasilakan. Sekarang pertengahan Desember, dan cuaca diluar sungguh sialan dingin. Lengkaplah sudah, otot kaku, cuaca dingin, hasilnya… ia ingin seks.
Ughh… kubur saja keinginan itu. Walaupun kakinya telah menginjak lantai kamar, tetap tidak bisa karena Rukia-nya sudah tidur. Ini jam sebelas malam, meski sedang libur tetap jarang ada orang yang masih terjaga jam segini. Yah, kecuali dirinya sendiri.
Ichigo mendesah sedih, setelah memakai piyama lengkap ia langsung masuk kedalam selimut bergabung dengan kekasihnya. Tangannya terjulur memeluk Rukia yang tidur memunggunginya, mengubur hidungnya di rambut hitam yang beraroma lavender. Sial, dasar iblis kecil. Aroma lavender memang selalu membuat laki-laki terangsang dua kali lebih cepat. Apa sebaiknya Rukia dibangunkan saja?
Walau sedikit ragu, tangan Ichigo perlahan merambat masuk kedalam baju kaos tipis yang Rukia kenakan. Temperature cuaca begitu dingin, tapi gadis mungilnya tetap memakai baju kaos miliknya saat tidur. Jelas baju kos itu kebesaran dibadan si mungil. Ichigo menyeringai geli, disaat tidurpun Rukia selalu ingin menggodanya.
"Rukia…" bisik Ichigo menggigit daun telinga Rukia, tangannya juga bergerak mengusap perut si mungil.
"Nghh…"
"Bangun, sayang…"
Rukia mengeliat enggan, mencoba mendorong Ichigo pergi. "Besok pagi saja, Ichigo."
"Aku mau sekarang…" bisik Ichigo kian manja.
Sial. Laki-laki keras kepala.
Rukia membuka mata, pandangannya masih sedikit kabur karena mengantuk. Nafas hangat Ichigo terasa jelas menerpa wajah. Rukia ingin menyuarakan penolakan lagi, namun cepat dibungkam oleh bibir hangat si rambut orange. Ciuman terasa mengantuk, tapi lapar. Ichigo bersemangat membuka paksa bibirnya dan mulai menjelajahi mulutnya dengan lidah. Ini hanya berlangsung beberapa detik untuk membawa pergi rasa kantuk, meninggalakan kerakusan bercampur kebutuhan Ichigo yang kian menggebu-gebu. Bahkan dua detik kemudian, Ichigo cepat berguling di atasnya dan menekan bibirnya ke bibir pemuda itu lebih keras.
"Ichigo…" desah Rukia melepas ciumannya, memalingkan wajah kearah lain. Namun Ichigo tampaknya tidak keberatan, dengan santainya bibir pemuda itu berpindah menelusuri lehernya.
Tangan Rukia masih berupaya mendorong Ichigo pergi. "Darimana, hhh… kau tahu… tentang bibiku?"
"Heh?"
Oke. Ichigo ingin seks, dan Rukia ingin bicara. Berarti harus ada cara untuk membuatnya jadi sejalan.
"Aku akan membiarkan ini jadi lebih mudah kalau kau mau berbicara lebih dulu," janji Rukia.
Ichigo otomatis mengangkat kepala, menatap langsung wajah Rukia yang begitu memerah karena permainan meraka. Gadis itu berjanji akan membuat semua lebih mudah kalau mereka berbicara, berarti ia bisa meminta lebih dari satu putaran. Lumayan. Berbicara dulu sepertinya bukan ide yang buruk.
"Dari Ishida," ucap Ichigo santai sesekali mengecup leher Rukia.
Rukia mengatur nafasnya. "Kapan kau tahu? Apa sudah sejak lama?"
"Tidak. Baru saja tadi pagi. Kalau Ishida sudah sejak lama."
"Kalau asistemu tahu sejak lama, kenapa kau baru tahu tadi? Apakah Ishida-san tidak memberitahumu?"
"Aku yang melarangnya cerita semua padaku. Aku ingin mendengar langsung darimu. Tapi, ketika melihat kau mengambil uangku tadi pagi, aku tahu kau tidak akan pernah cerita apapun padaku."
"Kau… kasihan padaku?"
Ichigo sedikit mencibir. "Tidak."
"Mengapa tidak?" jerit Rukia tercekik di tenggorokkan. Ichigo tidak lagi melakukan apapun pada tubuhnya, tapi nafasnya masih belum juga teratur.
"Karena kau akan lari dariku kalau kukasihani. Aku kenal watakmu, kau tidak pernah ingin dikasihani orang lain. Apakah sudah cukup?"
Sungguh manis. Apakah benar Kurosaki Ichigo yang berbicara barusan. Pikir Rukia sinis. Tidak ingin Rukia lari darinya, atau tidak ingin kekurangan boneka seks?
Rukia tersenyum tipis. "Terima kasih."
"Jadi, apakah sekarang sudah boleh terserah aku?" tanya Ichigo, ada sedikit seringai dari nada suaranya.
Hanya dengan sekali anggukan lemah, Ichigo langsung melepaskan kontrol yang telah dipegang sejak tadi. Mulai menikmati seluruh bagian tubuh Rukia dengan keinginan yang sejak tadi ditahan.
Rukia memalingkan wajah, membiarkan Ichigo berpesta pada tubuhnya. Sentuhan Ichigo begitu menghanyutkan, namun tetap saja Rukia merasakan jijik. Karena dia tahu, tangan itu sebelumnya pasti sudah menyentuh perempuan lain di kantor pemuda itu.
.
.
To be continued…
Arrrrghhhh... ideku buntu!
Beginilah idenya berkembang… Sepertinya tidak ada kejelasan untuk chap mendatang akan seperti apa. Jadi, tolong tinggalkan review agar Mey bisa tahu isi kepala readers tentang chap ini..
Mey bener-bener minta map ga bisa balas review, bisa update kilat aja dah syukur kayaknya... jadi map buat readers... u_u
n_n
Oke, kalimat copas chap kemarin :
Yang berbaik hati membaca dan memberi review, Mey ucapakan terimakasih…
Selalu, pereview adalah yang terbaik…
n_n
Mind to R & R?
