After You kill all The Chasers,
You will be The Chaser

D-20

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday, happy birthday
Happy birthday to you.

Acara makan malam bersama untuk memperingati ulang tahun Jiyoon berlangsung hangat dan santai di sebuah restoran keluarga—restoran sushi di mana Jiyoon sempat berjanji untuk mentraktir ketiga sahabatnya beberapa waktu lalu. Jiyoon meniup lilin, memotong kue, dan menyuapkannya ke kedua orangtua dan kakak laki-lakinya. Para tamu undangan yang ada di restoran yang disewa keluarga Jeon itu bertepuk tangan meriah.

"Jiyoon-ah," kata Gayoon girang, "oppamu keren sekali!" Ia melirik kakak laki-laki Jiyoon yang sedang berbicara dengan orangtuanya.

"Kenalkan pada kami dong," sahut Hyomin centil sambil memeluk lengan Jiyoon manja.

"Dasar!" sahut yang lain.

Jiyoon hanya bisa tertawa geli. Terpaksa. Ia terpaksa memasang senyum sepanjang acara. Sejak acara dimulai ia terus melongok kesana-kemari mencari Sunggyu. Biasanya ia datang bersama Hyuna dan … Hyungseung. Namun, kali ini Hyuna datang sendiri dan menyendiri di meja terpojok.

Hari itu bukan hari istimewa seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka tidak lengkap.

"Sebentar ya," kata Jiyoon ke teman-temannya lalu menghampiri Hyuna. Ia duduk di depan gadis itu, tidak berniat membuka pembicaraan. Mereka memikirkan hal yang sama.

"Apa Gyu Oppa masih marah?" tanya Hyuna pelan. Tatapannya tak beranjak dari jalanan yang sejak tadi menjadi objek penglihatannya sejak sampai di kafe.

Jiyoon menggeleng dan mengembuskan napas. Ia memangku kepalanya di atas meja. "Aku tidak yakin. Namun, kita tahu dia, Hyuna. Semarah apapun dia, dia tidak bisa tidak datang ke sini."

"Gyu-ah," panggil Jiyoon ketika jam istirahat sekolah. Ia menghampiri kelas Sunggyu waktu itu.

"Ada apa?"

"Tiga hari lagi, kau ingat?" tanya Jiyoon hati-hati.

"Tentu. Aku tidak akan lupa," kata Sunggyu sambil tersenyum lemah. Hati Jiyoon perih melihatnya. Sunggyu seperti tidak semangat hidup setelah meninggalnya Hyunseung.

"Anu, aku ingin mengundangmu dan beberapa orang lain untuk makan bersama di restoran waktu itu, Gyu. Tiga hari lagi."

"Kau apa?" tanya Sunggyu heran dambil mengerutkan muka.

Oh, tidak. Ia tahu apa arti dari ekspresi itu. Jiyoon pun mengulangi perkataannya tadi lebih pelan.

"Kau? Merayakan hari ulang tahunmu di saat-saat seperti ini?" geram Sunggyu. Tatapannya setajam pisau, seolah-olah bisa membutakan mata Jiyoon dalam sekejap.

"Aku hanya—"

Sunggyu berdiri dengan kasar sehingga kursinya terdorong ke belakang dan menabrak meja belakangnya sehingga menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga. Beberapa murid di kelas itu tersentak kaget dan melihat ke arahnya. "Hanya apa, Jiyoon-ah?" tanya Sunggyu marah. "Membuatku merasa lebih baik, EOH? Kau anggap apa kematian Hyunseung yang tidak masuk akal itu? HAH? BISA KAUJELASKAN PADAKU? TIDAK! DAN AKU TIDAK AKAN DATANG!" Sunggyu mengakhiri kalimat-kalimatnya dengan keluar dari kelas dengan langkah penuh emosi.

Jiyoon hanya bisa memejamkan mata dan meremas rok seragamnya. Ia tidak boleh menangis. Pesta ulang tahun itu bukanlah kemauannya, melainkan orangtua dan kakak laki-lakinya. Mereka sudah terlanjur pulang ke Seoul tanpa memberi tahu Jiyoon terlebih dahulu. Ketiga anggota keluarganya itu terkejut ketika mengetahui hal yang menimpa Hyunseung dan segera membatalkan acara ulang tahunnya. Jadi, orangtua Jiyoon memutuskan untuk menyewa restoran saja untuk makan bersama sekaligus doa bersama untuk Hyunseung.

"Sunggyu Oppa pasti datang," ucap Hyuna membuyarkan lamunan Jiyoon. "Aku memberitahunya tentang doa bersama."

"Dia akan menganggap hal itu bodoh, Hyuna." Jiyoon menghela napas lagi. Ingin segera ditinggalkannya restoran itu dan berdiam diri di kamar apartemennya.

"Ah, wasseo?" Suara Hyuna itu membuat Jiyoon berbalik. Sunggyu datang sambil membawa kotak yang dibungkus dengan kertas kado berwarna aqua. Jiyoon hanya bisa tertegun.

"Saengil cukhae, Jiyoon-ah!" kata Sunggyu dengan senyum lebarnya seperti biasa seraya menyodorkan kotak itu.

Untuk menyeimbangkan suasana, Jiyoon pun tersenyum dan menerima hadiah dari Sunggyu. "Gomawo."

"Maaf, aku terlambat. Aku cari hadiah yang cocok untukmu dari tadi pagi." Sunggyu berujar sambil menggosok tengkuknya.

"Tidak apa-apa. Kau duduk di sini dulu bersama Hyuna ya. Kau mau makan apa? Biar kupesankan untukmu." Jiyoon berdiri dan menarik tempat yang didudukinya tadi.

"Seperti biasa."

"Oke," kata Jiyoon dan segera ke konter.

Untuk beberapa saat Hyuna dan Sunggyu saling diam. Hyuna kembali melihat jalanan di luar restoran. Ia tidak berani melihat Sunggyu karena takut akan teringat Hyunseung lagi. Ia sudah susah payah menyembunyikan ini semua agar tidak terbongkar. Bagaimana jika Sunggyu tahu bahwa yang membunuh Hyunseung adalah sahabatnya sendiri?

Hyuna menggeleng-gelengkan kepalanya keras sambil meremas rambut. Jangan diingat lagi!Pekiknya dalam hati.

"Ya!" panggil Sunggyu. "Rambutmu sudah kusut! Jangan diacak-acak lagi."

Hyuna menoleh dan memasang wajah cemberut. "Bukan urusanmu," decaknya tak acuh. Sunggyu tertawa, Hyuna ikut tertawa. Suasana kembali seperti dulu lagi: hangat dan penuh tawa. Jiyoon yang baru datang membawa makanan Sunggyu pun ikut masuk dalam pembicaraan.

Sejak itu, semua berjalan baik-baik saja. Sungjong, Myungsoo, Minho, dan Kanata menghadiri acara ulang tahun Jiyoon. Dengan sedikit kebohongan yang dipaksakan, Sunggyu tidak heran mengapa Sungjong dan Minho, dua orang yang belum dikenal Sunggyu, bisa mengenal Jiyoon dan Hyuna. Terlebih Minho yang seorang atlet kebanggaan Korea Selatan. Dalam waktu singkat, ia sudah dikelilingi oleh teman-teman Jiyoon. Kanata pun tak kalah banyak penggemarnya. Dua pria terkenal itu pun mendadak jadi objek yang lebih penting daripada yang berulang tahun.

Ya, baik-baik saja… sampai semuanya terdiam ketika terdengar suara teriakan dari sudut ruangan.

Kanata ditemukan tergeletak di sebelah meja dengan busa yang tak berhenti keluar dari mulutnya.

"Tidak mungkin chef restoran menaruh racun di minumannya," kata Minho. "Kalau iya, yang lain pasti juga ikut keracunan." Dirinya, Hyuna, Jiyoon, Sunggyu, Sungjong, dan Myungsoo sedang berada di rumah sakit. Manajer Kanata juga duduk bersama mereka dengan gelisah. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang amat sangat.

"Tidak ada yang memanggil polisi, bukan?" Tanyanya. "Kejadian ini harus ditutupi rapat-rapat dari media."

"Tidak, Jimin-ssi. Aku sudah memberi tahu semua undangan untuk tutup mulut," jawab Jiyoon.

Jimin menghela napas tepat saat dokter yang menangani Kanata keluar dari ruang ICU. Ia segera berdiri bersama kelima orang lain. Setelah bertanya tentang keadaan Kanata, sang dokter berkata bahwa operasi pengeluaran racunnya berhasil dan mereka sudah bisa menengok Kanata.

Pria itu belum sadar. Wajahnya pucat sekali, ditambah dengan tubuh kurusnya yang membuatnya terlihat sangat lemah. Elektrokardiograf di samping ranjangnya mengeluarkan bunyi 'pip' teratur. "Lebih baik kalian pulang saja ya. Biar aku yang menjaganya," kata Jimin sopan. "Terima kasih sudah menghubungiku, Minho." Teman-teman Kanata saling melirik seolah-olah mereka sedang berdiskusi dengan telepati. Dengan berat hati, mereka pun pamit.

Jiyoon PoV

Kurasa, salah satu di antara kami berenam sudah ada yang bergerak. Satu per satu di antara kami akan mati mengenaskan. Dan apa yang terjadi pada Kanata tadi hanyalah sebuah permulaan yang cukup menakutkan. Andai saja aku tahu siapa yang ada di balik semua, kupastikan ia tidak akan hidup dengan tenang. Yang terbaik, ia musnah dari dunia. Kalau perlu, tanganku sendiri yang membuatnya begitu.

Sepuluh hari sejak status kami berubah menjadi Pengejar, kami berenam sudah hampir tidak pernah bertemu, kecuali aku dan Hyuna. Minho sesekali. Aku ingin menganggap semua pembunuhan itu hanyalah angin lalu. Namun, setiap pagi, peneror mengirimi kami peringatan tentang berapa jam lagi yang harus kami lewati sebelum kami meledak menjadi jutaan serpih.

Ya, jutaan serpih. Tadi pagi sang peneror mengirimi pesan yang mengatakan bahwa tubuh kami akan meledak jika tidak tersisa satu orang survivor di detik terakhir. Sungguh ironis. Kami berenam akan mati di saat yang bersamaan saat itu. Kupikir lebih baik begitu daripada harus membunuh lagi.

Aku pun mulai was-was lagi sejak kejadian tadi. Kusuruh Sungjong pulang segera sebelum aku, Hyuna, Sunggyu, Minho, dan Myungsoo masuk ke mobil ambulance. Ia terlihat keberatan, namun ini untuk keselamatannya, mengingat ia adalah maknae. Kendati demikian, apa yang kulakukan tidak berarti aku tidak mencurigainya. Semuanya patut dicurigai, Hyuna sekalipun. Yah, berat memang untuk mencurigai sahabatmu sendiri.

Aku tidak langsung pulang ke apartemen, melainkan ke sebuah mall untuk melihat-lihat produk baru maupun yang sedang diskon. Karena tidak niat membeli, aku pun keluar dengan tangan kosong. Biasanya aku selalu pulang dari mall dengan minimal satu kantung belanjaan. Sebelum sampai di apartemenku, aku menghampiri taman bermain yang terletak dekat sana. Aku duduk di sebuah ayunan dan mengayunkannya setinggi mungkin, membiarkan angin malam menerpa wajah dan rambutku. Bunyi besi dari ayunan ini menggelikan telinga di tengah kesunyian taman.

Setelah lima belas menit aku berayun tinggi-tinggi, kedua kakiku mulai pegal dan telapak tanganku jadi sakit akibat menggenggam rantai ayunan terlalu kuat. Aku pun menghentikan laju ayunan dan berjalan pulang. Saatnya tidur dan menyambut hari esok. Ayah, ibu, dan kakakku pasti sudah di bandar udara. Mereka tidak bisa berlama-lama di Seoul. Mereka pun tadi berharap agar Kanata tidak apa-apa.

Pintu lift terbuka di lantai lima belas di mana terletak apartemenku. Sesampainya di depan pintu apartemen, aku tertegun. Jantungku berdebar kuat dan cepat sekali. Rasa takut menyelimutiku.

Bagaimana tidak?

Pintunya terbuka sedikit dan ada seberkas cahaya yang keluar dari sana! Siapa yang menyusup ke sini? Tidak ada yang bisa masuk ke sini tanpa menempelkan sidik jariku di detektor! Cepat-cepat kudorong pintu dan memeriksa keadaan di dalam.

Aku hampir tak sanggup bernapas. Di dalam, semuanya berantakan! Meja, kursi, dan sofa terbalik. Hiasan dinding dan lusinan porselin sudah berada di lantai dan beberapa di antaranya pecah. Keran di kamar mandi mengalirkan air, aku pun segera mematikannya. Hanya kamarku yang tetap rapi. Aku langsung memeriksa apakah ada barang yang hilang. Tidak ada. Syukurlah.

Aku meremas rambutku dan duduk di sebelah tempat tidur. Kuharap, dengan kulit kepalaku yang tertarik bisa meredakan amarahku. Lalu, mataku tertuju pada gorden yang menutupi jendela kamarku. Ada orang di baliknya! Kuambil pemukul bisbol yang kusimpan di kolong tempat tidur dan berjalan ke arah jendela pelan-pelan. Dari bayangannya, ia tak terlalu tinggi dan badannya bukan milik pria. Kuulurkan tanganku yang bebas dan menarik gorden ke samping secepat yang aku bisa.

Pemukul bisbol yang sudah berada di atas kepalaku jatuh begitu saja karena aku berteriak keras melihat siapa–ralat–apa yang ada di balik gorden sejak tadi. Tubuhku bergetar hebat, lalu jatuh berlutut melihat itu.

Di hadapanku, berdiri manekin mirip diriku dan dibungkus dengan handuk superbesar kesayangan milikku. Di handuknya tertulis enam kata dengan tinta berwarna merah: "You'll be The First to DIE"

D-19

465 Hours Left

Itulah yang dikirimkan hari ini. Sisa sembilan belas hari dan sembilan jam dari pukul tujuh pagi ini. Dan setelahnya, kami berenam (atau lima?) akan binasa. Yah, mungkin saja kan peneror menyelamatkan dirinya saja? Kecuali kalau dia ingin melakukan aksi bunuh diri bersama kami berlima yang tak tahu apa-apa ini.

What the heck.

Semalaman, aku membersihkan dan membereskan semua kekacauan yang menimpa apartemenku. Jadilah aku terkantuk-kantuk ke dan pulang dari sekolah. Ketika melewati gang menuju apartemenku, tiba-tiba kurasakan ngilu yang menusuk di leher belakangku. Sepertinya aku disuntik. Dan pandanganku gelap seketika.

Author PoV

"Hyuna! Kau harus baca ini!" kata Naeun tepat di depan wajah Hyuna ketika ia baru saja sampai di kelasnya. Naeun memperlihatkan berita yang sedang dibuka di ponselnya. "Daebak!"

Asal Tato Tersangka Pembunuhan Misterius Adalah Obat Uji Coba Ilegal?

Hyuna langsung mengambil ponsel Naeun dan membaca berita itu sampai habis. Yang dapat ia simpulkan adalah ada sejenis obat yang belum memiliki nomor registrasi di pemerintahan. Seseorang telah mengambilnya dari sebuah laboratorium di pusat riset Amerika Serikat dan mengujicobakannya ke beberapa penduduk Seoul dan Tokyo. Obat tersebut diinfokan bisa membentuk tato sesuai keinginan konsumen dengan menyalurkan gelombang elektromagnetik dari chip ke otak yang telah menyerap kandungan obat tersebut. Namun, disarankan oleh para ilmuwan agar menggunakan komputer untuk mengontrol hubungan chip dan obat itu karena menggunakan otak terlalu berbahaya. Warna hitam adalah darah yang mengandung karbon dioksida dengan kadar sembilan puluh persen, kuning adalah lemak, hitam kehijauan dari empedu, dan merah dari darah konsumen sendiri.

Hyuna hanya bisa menganga. Jantungnya berdebar-debar tak keruan. Bagaimana bisa produk itu bisa ada di dalam tubuh mereka? Siapa yang bisa-bisanya membawa benda yang belum diketahui publik ke luar dari pusat penelitian? Dan komputer dihubungkan dengan bahan kimia? Hyuna sudah pusing bukan kepalang. Berbagai pertanyaan terus muncul di kepalanya seperti lava yang keluar dari gunung meletus.

"Kurang kerjaan sekali orang ini. Kenapa tidak diujicobaan saja ke—HEY! Hyuna, mau ke mana?" Naeun tak sempat menyelesaikan komentarnya karena Hyuna sudah buru-buru ke toilet.

"Angkat. Ayolah, diangkat. Cepat!" gumam Hyuna gelisah sambil menggigiti kuku jempol kanannya. Ia harus memastikan keraguannya.

"Ada apa meneleponku pagi-pagi begini, Hyuna?"

"Myungsoo! Apa kau sudah baca beritanya?"

"Berita apa?"

"Obat tato itu."

"Oh, yang itu. Sudah. Kenapa?"

"Kau… tahu sesuatu tentang itu? Kau kan ahli IT dan kimia. Kau pernah menjuarai Olimpiade Komputer Dunia dua tahun lalu."

"Hei, Nona Kim," panggil Myungsoo tak sabar, "kau ini selalu saja bertele-tele. Kau pikir aku yang melakukannya? Yang benar saja! Lebih baik aku membuat game online dan menjualnya. Beres! Lalu, yang menjuarai Olimpiade itu Zhang Yixing, sedangkan aku nomor dua puluh tujuh. Itu pun karena sedang beruntung. Sudah, ya. Aku harus sekolah. Bye."

Tut tut tut…

Hyuna masih menempelkan ponsel ke telinganya. "Zhang Yixing?"

Minho menggoyang-goyangkan kedua kakinya dengan gelisah. Hidangan lezat di depannya tidak akan bisa ia sentuh kalau orang yang ditunggunya sejak tadi belum tiba juga.

Kini, ia sedang berada di restoran Miracle, tempat di mana sang peneror melakukan transaksi di Black Market untuk membeli program buatan Ion alias teman dekatnya, Yixing. Minho sudah meminta rekaman CCTV yang merekam keadaan restoran pada tanggal transaksi. Namun, sia-sia saja. Pada hari tersebut, CCTV restoran sedang rusak sehingga ia tidak bisa melihat siapa saja yang datang ke sana.

"Hai, sudah menunggu lama?"

Minho mendongakkan kepalanya dan mendapati Myungsoo sedang menarik kursi di depannya untuk diduduki. Minho menyunggingkan senyum lebar, tetapi hanya dua detik. Wajahnya jadi serius. "Lumayan," jawabnya.

"Jadi," kata Myungsoo, "ada kemajuan?"

Minho menggeleng. "Saat itu, CCTV-nya sedang rusak."

"Atau sengaja dirusak." Myungsoo mengoreksi. Minho tampak agak bingung. "Kau tak mengerti maksudku? Bisa saja dia merusak kerja CCTV dengan kemampuan cracking-nya yang di luar dugaan kita itu."

"Memangnya bisa?"

Myungsoo mengangguk mantap. "Aku pernah mencobanya. Tidak berhasil total sih. CCTV rumahku hanya mati selama semenit. Coba kau tanya saja pada teman sekelasmu itu, Zhang Yixing. Ia lebih mengerti."

Selama beberapa menit ke depan, mereka hanya menyantap makanan yang sudah mereka pesan dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Saling mencurigai? Tentu saja. Menutup mulut untuk menghindari hal-hal yang mengancam nyawamu? Seperti, misalnya, kau mendapat petunjuk lalu membeberkannya ke lawan bicaramu, tanpa kausadari bahwa orang itu adalah sang pelaku sendiri. Dan akhirnya, karena ia takut kau menangkap basah dirinya, kau dihabisi secara diam-diam.

"Menurutmu," kata Minho di tengah-tengah ritual makan mereka, "pelakunya benar-benar ada di antara kita berenam?"

"Sembilan puluh lima persen, iya."

"Lima persennya lagi bagaimana?"

"Kau ingat hologram yang berbicara di rumah Jiyoon Noona saat itu?" bisik Myungsoo sambil melipat tangan di atas meja. Minho mengangguk. "Itulah lima persennya. Jika salah satu di antara kita adalah pelakunya, tidak mungkin dia ada bersama kita waktu itu untuk memberitahu waktu kematian kita, bukan?"

Minho manggut-manggut mengerti. "Benar juga kau. Sembilan puluh lima lagi?"

Myungsoo tersenyum sinis, lalu menggeleng. "Kenapa kau begitu ingin tahu, Choi Minho-ssi?"

Nyiiiik.. Nyiiiik..

Bunyi menggelikan yang berasal dari arah kiri ujung rumah itu mengganggu seorang wanita paruh baya yang sedang baru saja pulang kerja. "Hyuna?" Panggil Nyonya Kim sambil berjalan menuju dapur. Tidak ada jawaban.

Ketika sampai, ia menemukan Hyuna sedang duduk bersila memunggunginya. Kedua tangan gadis itu bergerak-gerak teratur, entah apa yang sedang dilakukannya.

Kres! Ngiiiik.. Ngiiiik..

Bunyi itu membuat bulu roma Nyonya Kim berdiri dan ia harus menutup telinganya.

"Hyuna, apa yang—" kalimat ibu Hyuna terpotong di kala ia melihat apa yang sedang anak tunggalnya perbuat.

Di depan gadis itu—tepatnya di lantai, darah berceceran, bahkan ada yang menetes-netes dari kedua tangan Hyuna. Ia tengah menggunting perut seekor kodok, mengeluarkan isinya, lalu mengiris-iris setiap organnya satu per satu dari ujung ke ujung, menggesek permukaan lantai dengan bilah pisau. Dari sana lah bunyi menggelikan itu berasal.

Bukan hanya kodok. Ada setumpuk potongan tubuh beberapa ekor cecak juga di dekat lututnya. Di dekat itu pun tergeletak kulit tikus putih. Ya, hanya kulit. Nyonya Kim menebak kalau tikus itu sudah diperlakukan seperti kodok yang berada di genggaman Hyuna dan tumpukan satu lagi adalah irisan semua organ tubuh hewan pengerat itu.

"Ah, Eomma! Sudah pulang? Apa Eomma membeli camilan kesukaanku?" Hyuna bertanya sambil tersenyum manis, lalu melanjutkan kegiatannya.

Nyonya Kim, tenggorokannya sudah tercekat. Kedua matanya memerah dan hampir menangis. Ia segera menaruh kantung plastik yang berisi cheesecake di atas meja makan. "Eomma su..dah membelinya. S..sekarang kamu cuci tangan dulu, baru bisa makan," katanya susah payah sambil mengelus puncak kepala Hyuna sayang. Jari-jari tangannya yang satu lagi bergerak-gerak gelisah.

Hyuna menurut. Mula-mula, ia mengangkat hasil guntingan dan irisannya dengan tangan untuk dimasukkannya ke dalam plastik hitam, mengikatnya, lalu membuangnya ke tong sampah. Wajahnya tidak menunjukkan rasa jijik karena ia sudah sering melakukannya sewaktu kecil dulu. Tangan dan pisau ia cuci di wastafel, genangan darah ia lap hingga lantai dapur mengilap dan wangi seperti habis dipel, meninggalkan banyak bekas goresan pisau di sana.

Ibunya memperhatikan setiap detil gerak-gerik dan ekspresi anaknya dengan kekhawatiran tingkat maksimum. Kursi yang seharusnya nyaman diduduki rasanya jadi seperti kursi reot. Ia takut terjatuh karena tubuhnya gemetar. Apa ia kembali seperti dulu? Kenapa bisa seperti ini lagi, Nak?

Hyuna kembali ke meja makan dengan sebilah pisau kecil di salah satu tangan. Tangan yang satu lagi membawa sebuah piring dan sepasang sendok. Ia mengeluarkan kotak cheesecake dari plastik, membuka pentutupnya, lalu memotong kue berwarna kuning keemasan itu menjadi beberapa bagian. Diletakkannya sepotong di atas piring tadi.

"Eomma, ini sendok," katanya seraya menyodorkan benda antikarat itu. "Ayo, makan bersama."

Nyonya Kim mengambilnya dan memotong sedikit bagian kue setelah Hyuna memotong di sisi lain dan menyuapkannya ke mulut.

Sungguh. Rasa cheesecake itu jadi terasa hambar di lidah wanita itu saking syoknya.

"Tadi," ujar Hyuna. Oh, ia memulai cerita. "Empat ekor cecak sekaligus berebut lalat untuk dimakan. Karena kasihan melihat cecak jadi rebutan, aku menangkap mereka berempat untuk memotong-motong tubuh mereka. Awalnya, ingin kucincang, tetapi tidak jadi.

Lalu, seekor tikus putih nan lucu lewat. Kuulurkan tanganku untuk mengelus hidungnya, tapi itu menggigit jempolku hingga berdarah!" Hyuna menunjukkan titik kecil berwarna merah di jempol kanannya. "Jadi, kuberi pelajaran padanya. Tadi Eomma lihat kulitnya? Sepertinya bisa kujadikan pembatas buku setelah dikeringkan dan diawetkan. Khekhe.

Kodok itu!" Hyuna mengerutkan muka tidak suka. "Kaki-kakinya yang berlendir mengotori lantai rumah kita! Entah habis dari mana dia–mandi di lumpur? Ewh! Eomma tenang saja. Selama ada aku, rumah kita akan selalu nyaman!" Hyuna mengakhiri kalimatnya dengan menggebu-gebu, seolah-olah ia adalah pahlawan di rumah keluarga Kim.

Nyonya Kim hanya bisa tersenyum samar. "Anak baik. Tapi kamu tidak perlu melakukan hal seperti tadi. Nanti kamu malah repot membereskan darah itu. Bagaimana kalau darah mereka beracun?" Oke. Nyonya Kim merasa dirinya cukup konyol mengatakan kalau darah tikus dan kodok itu beracun.

"Habisnya aku bosan di rumah, Eomma. Gyu Oppa dan Jiyoon Eonni sibuk belajar untuk ujian kelulusan nanti," oceh Hyuna sambil mengambil potongan cheesecake kedua. "Dan, aku tahu mana hewan beracun mana yang tidak."

Nyonya Kim bingung harus menjawab apa. Hanya dokter Jung yang bisa menangani Hyuna kalau begini. Dokter Jung sudah memberikan beberapa saran padanya, namun hasil usahanya tidak memuaskan. "Baguslah kalau begitu. Nilai biologi kamu lebih tinggi dari Eomma dulu." Nyonya Kim dan Hyuna tertawa kecil. "Lain kali jangan begitu lagi ya. Biar Appa dan Eomma yang mengusir hewan-hewan itu untukmu."

"Bukan usir, tapi bunuh," koreksi Hyuna datar seolah-olah itu hal biasa sebelum memasukkan potongan kecil kue ke mulutnya.

"Ya, baiklah. Eomma mau mandi dulu ya. Simpan kuenya untuk Appa dan esok hari." Nyonya Kim bangun dari kursi dan berjalan ke luar dapur dengan jantung berdebar-debar.

"Eomma," panggil Hyuna tepat ketika ibunya akan berbelok menuju tangga ke atas.

"Ya?"

"Jangan beri tahu Dokter Jung ya. Aku tidak mau kembali."

Skakmat. Rencana Nyonya Kim terbaca dengan sangat mudah.

Jiyoon membuka matanya perlahan setelah mengerjap-ngerjapkannya. Kepalanya pusing dan pergelangan kaki maupun pergelangan tangannya terasa sakit dan tidak bisa digerakkan. Setelah ia bisa mengatasi rasa pusingnya, ia menemukan dirinya dalam kondisi terikat di atas sebuah kursi kejut di ruang tamu apartemennya sendiri. Di depannya ada sebuah kursi plastik kecil berwarna hitam pekat, senada dengan kursi yang sedang didudukinya. Kursi-kursi dari mana ini? Ia bertanya dalam hati apakah orang yang mengikatnya seperti ini adalah orang yang meletakkan manekin berisi ancaman itu.

"Ah," ringis Jiyoon pelan. Kepalanya semakin sakit. Udara di sekitarnya berbau pahit. Ia juga merasakan sedikit tusukan di lengan kanan atasnya. Ketika ia menolehkan kepalanya, matanya terbelalak ketakutan ketika ia menyadari kalau tangannya diinfus dengan cairan yang mematikan.

Sianida cair!

"Goddammit!" rutuk Jiyoon dengan desisan. Ia berusaha menggerak-gerakkan bahunya agar jarum infus itu terlepas, namun sia-sia. Baru beberapa detik saja tangannya sudah sakit pergerakannya tertahan oleh punggung kursi yang membatasi antara punggung dan kedua tangannya. Tubuhnya lemas dan pandangannya agak buram, seolah-olah ruangannya dipenuhi oleh kabut.

"Sudah sadar?" terdengar suara laki-laki dari belakang Jiyoon. Jiyoon merasa familiar dengan suara itu, tetapi ia tidak tahu siapa karena suara laki-laki itu teredam.

Laki-laki itu melewati Jiyoon dan duduk di atas kursi hitam dengan memakai baju steril dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pada bagian kepala terdapat kaca plastik agar orang-orang bisa melihat mata pemakainya. Namun, Jiyoon tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di balik pakaian serba putih itu. Laki-laki itu memegang sebuah remot kecil berwarna hitam.

Remot kursi kejut.

Jantung Jiyoon berdebar keras. "Apa yang kau lakukan dengan apartemenku?" tanyanya sambil melihat pria itu dari atas ke bawah, menuntut penjelasan tentang pakaiannya.

"Hm… Gas sianida. Aku masih menyayangi paru-paruku lho, makanya aku pakai baju begini."

"Anak bayi pun tahu hal itu!" balas Jiyoon sinis. "Dasar, tak berperikemanusiaan kau ini!"

"Who cares, Jeon Jiyoon-ssi?" sahut pria itu dengan senyum miring (Jiyoon melihatnya samar-samar).

"Apa sebenarnya maumu?"

"Kau tahu siapa aku?"

"Hanya seorang pengecut di balik layar, yang bersembunyi demi kepentingan dirinya sendi—uhuk uhuk! Sialan! Lepaskan aku dari alat-alat kampungan ini!"

"Hei, hei, hei!" protes pria itu. "Kampungan, katamu? Tidakkah kau tahu seberapa mahal harganya? Ewh!" Ia melipat sebelah kakinya ke atas kaki yang lain. "Aku tidak bersembunyi, tidak pernah. Aku selalu menjadi bayangan," lanjutnya sambil menarik sudut bibirnya tinggi-tinggi.

Benar. Mereka berlima—minus pelaku—benar. "Kau ada di antara kami."

"Well, ini adalah hipotesis yang sangat hebat walaupun kalian baru memulainya saat itu. Aku sampai panik setengah mati. Tapi," ia mendekat ke Jiyoon dan berbisik, "aku adalah aktor yang hebat, bukan?" Ia menekankan nada pada kata 'aktor'.

Tidak! Batin Jiyoon. Tidak mungkin dia!

Pria itu tertawa. "Tentu saja dia," kata pria itu seolah-olah ia membaca pikiran Jiyoon. "Eh, diasiapa ya? Haha."

"Bloon," desis Jiyoon.

"Terserah kau mau mengataiku apa. Aku ingin membahas tentang Chanyeol. Hm, sungguh bodoh ya dia? Kupikir dia pintar sekali karena dia murid program akselerasi. Tapi ternyata, sepintar-pintarnya orang dalam pelajaran, belum tentu dia juga pintar dalam menyusun siasat. Anak-anak jaman sekarang masih saja terobsesi pada nilai. Tsk. Caranya menyuruhmu untuk mengaku di kantor polisi itu sungguh murahan. Tsk. Aku salah memilih orang."

Jiyoon diam. Ia berterima kasih dalam hati kepada orang di depannya karena sudah memberitahunya hal itu. Ia cerdas dan kecerdasannya tidak boleh disamakan dengan Chanyeol. Ia juga harus pintar menyusun siasat agar bisa lepas dari kursi yang sudah tak sabar menyetrumnya. Tetapi ia sadar bahwa hal ini tidak mungkin. Botol infus sudah kosong setengahnya. Sudah pasti nyawanya akan melayang kurang dari setengah jam ke depan.

Pandangan Jiyoon semakin kabur, kepalanya makin sakit, perutnya semakin bergejolak ingin mengeluarkan apa yang sudah dimakannya tadi siang, dan ia semakin sulit bernapas. Penetralisir ruangan otomatis di apartemennya pasti sudah dinonaktifkan oleh pria di hadapannya.

"Uh, aku ingin cepat-cepat menghabisimu, Jeon Jiyoon. Pakaian ini membuatku gerah."

Jiyoon mengerutkan muka. Menghabisinya? Bahkan dengan sianida itu, pengecut itu tidak perlu repot-repot menghabisinya! "Ternyata kau bisa telmi juga, ya," Jiyoon tertawa meledek.

"Eem, maksudku ingin melihatmu mati lebih cepat. Karena kalau terlalu lama, permainan menjadi tidak seru karena peserta masih terlalu banyak. Kalau tinggal one-to-one kan luar biasa!" katanya sumingrah. "Soalnya aku kesal melihat Kanata Hongo yang dapat penanganan cepat."

Jiyoon mengerjap-ngerjapkan mata agar bisa melihat pria di depannya lebih jelas. Mata hitam kelam dan indah itu. kenapa Jiyoon tidak bisa mengingatnya? Baiklah Jiyoon, pikirnya. Saatnya membongkar satu per satu apa yang dia lakukan di belakang kalian.

"Kau tahu ketika Hyuna mengganti nomor dan email-nya."

"Begitulah." Ia mengibaskan sebelah tangannya malas. "Sangat mudah untuk melakukan hal itu."

"Kau peretas legendaris."

"Tidak ada yang tahu." Pria itu mengangkat bahu.

"Pintar sekali kau berakting, huh? Kenapa kau tidak ke Holywood saja?"

"Kau mau bersilat lidah denganku ya?" tanya pria itu menantang.

"Aku ragu kalau kau masih bersekolah," ucap Jiyoon sinis. "Kau hanya bisa memanfaatkan kami yang bahkan belum tahu ingin mengambil jurusan apa ketika kuliah nanti. Ah! Apa jangan-jangan, kau adalah seorang tua yang mengalami hipopituitarisme dan menyamar menjadi anak sekolahan?"

Pria itu tertawa mengejek. "Haha. Lucu sekali, Jeon Jiyoon. Keluargaku tidak akan membiarkan garis keturunannya mengidap kelainan seperti itu. Kalau memang aku mengidap hipopituitarisme, lebih baik aku menyibukkan diri dengan pekerjaan yang lebih penting. Lagipula, hipopituitarisme sudah dimusnahkan dari muka bumi oleh ilmuwan terdahulu."

Jiyoon merasa tubuhnya semakin melemah dan matanya semakin berat. Namun, ia masih bisa tersenyum dengan tatapan menusuk ke arah pria itu. Ia tahu siapa pelakunya, yah, setidaknya ia yakin 85 persen. "Aku pintar kan?" tanyanya. Ia senang sekali, mendapati bahwa orang di depannya mudah sekali terpancing ke topik pembicaraan yang lain, yang tanpa si peneror sadari telah menjebaknya.

Pria itu mengernyit heran. "Heh. Tentu saja. aku tidak memilih orang yang sembarangan untuk bermain dalam permainan ini, Jeon Jiyoon. Ah, tapi kelihatannya Kim Hyuna tidak pintar ya? Dia hanya psikopat yang terjebak dengan romansa yang tidak jelas. Hahaha." Ia tiba-tiba memajukan tubuhnya dan menarik dagu Jiyoon. "Aneh. Seharusnya kau tidak mampu mengeluarkan suara lagi sekarang. Kau disuntik vaksin apa saat bayi?"

"Bukan vaksin yang kau, bahkan keluargamu ketahui, bocah." Jiyoon mendesis tidak suka sambil menarik dagunya lepas dari tangan pria itu.

"Tidak mungkin. Orang awam sekali pun tahu vaksin apa saja yang sudah ada di dunia kedokteran!"

"Memangnya kau dokter?" Jiyoon bisa melihat kedua mata pria itu menggelap dan memberinya tatapan mengintimidasi.

"Hei! Apa maksudmu?"

"Berhentilah berlagak sok pintar, seolah-olah kau tahu semuanya. Masih banyak orang-orang di luar sana yang lebih luas wawasannya dari dirimu. Dan, kau salah telah memilihku, bocah."

"Ya! Kenapa kau terus memanggilku bocah? Dan, salah telah memilihmu? Haha. Aku tidak akan memilih orang yang IQ-nya lebih tinggi dariku!"

"Dasar bodoh. Kau memang masih bocah!" cibir Jiyoon. "Angka IQ tidak seperti yang kau bayangkan!" Jiyoon mulai susah menarik napas. Paru-parunya seperti tidak mau menerima oksigen. "Biar aku menganalisis bagaimana cara kerjamu sebelum aku menghembuskan napas terakhir. Kau menggunakan komputer dan tab untuk memantau segala aktivitas kami, seperti di mana kami berada, meretas sistem keamanan jalan serta kota, mencuri data dari kepolisian, memberi sugesti kepada orang-orang di sekeliling kami untuk menghindar dari tempat pembunuhan lewat chip yang ada di tubuh mereka. Chip dalam tubuh kita dibuat oleh pemerintah, tapi kau bisa mengaksesnya dan memengaruhi pikiran penduduk. Pekerjaan yang hebat untuk diselesaikan dalam waktu yang singkat."

"Data dari kepolisian mudah sekali diperoleh. Cih. Polisi-polisi itu membutuhkan ahli IT yang selevel denganku!"

"Simpan gerutuanmu untuk nanti. Aku sudah mau mati." Pria itu tertawa puas mendengar pernyataan pongah Jiyoon. "Pekerjaanmu ini bukan hanya memerlukan monitor yang lebih dari satu, namun juga obat ilegal yang diberitakan tadi pagi. Bagaimana caramu mendapatkannya? Entahlah. Yang jelas, kau berasal dari keluarga yang dikelilingi dengan ilmu murni. Namun, hanya kau yang berbeda jalur. Bukan begitu?"

Pria itu terkejut. Tubuhnya menegang. "Sudah seberapa banyak yang kau ketahui? Huh. Aku tidak salah memilihmu sebagai korban pertama Jiyoon-ssi, setelah kegagalanku memusnahkan si Hongo! Dari dulu aku selalu mendapati matamu selalu tertuju ke arahku ketika kita berenam—plus Hyunseung, jadi tujuh—berkumpul."

Jiyoon tertawa lemah. "Tidak. Semuanya baru kusimpulkan baru-baru ini. Apa kau bekerja sendiri?"

"Tentu saja aku sendi—" Ia berdiri dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Tidak usah bertele-tele, Jeon Jiyoon! Katakan apa maumu!"

"Mauku? Sudah pasti tidak akan terwujud olehmu kan? Uhuk Uhuk! Dengar baik-baik perkataanku selanjutnya." Jiyoon berdeham serta menarik napas panjang dengan susah payah. "Gerakanmu sangat mudah terbaca oleh kami. Sebentar lagi, identitasmu akan terbongkar oleh kecerobohanmu sendiri. Manusia itu tidak sempurna. Apartemenku sudah dipasang alat penyadap dan kamera CCTV yang bahkan oleh orang sepertimu tidak akan bisa mendeteksi lokasinya, apalagi meretasnya. Percakapan kita sudah terekam dari tadi dan didengar oleh salah satu teman kepercayaanku."

Pria itu bergeming. "Kau—"

"Bagaimana?" tanya Jiyoon dengan nada mengejek. "Aku pintar kan, Cheng—"

Pria itu memutar kedua bola matanya, lalu tertawa lagi. "Kau benar-benar menghabiskan waktuku, Jiyoon-ssi!"

"Tunggu!" seru Jiyoon dengan suara yang hampir berbisik. Ia merinding melihat si peneror yang siap-siap menekan tombol di remot kursi kejut. "Setidaknya, beritahu aku apa maksud dari perkataanmu mengenai karma buruk yang kami petik dari masa lampau?"

"Oh, iya. Aku hampir lupa memberitahumu. Ingat sepupumu, Boram, yang mengidap lycanthropy? Ia membunuh kelinci kesayanganku saat kecil. Stop!" ia memberi isyarat kepada Jiyoon yang sudah membuka mulutnya, ingin membalas pernyataan peneror. "Ya, ya. aku tahu itu bukan kejahatan yang kau lakukan. Tapi, aku tidak bisa membalas orang yang sudah meninggal bunuh diri kan? Jadilah aku membalas dendam padamu yang paling dekat dengannya yang sudah tidak punya orangtua, melainkan diurus oleh kedua orangtuamu."

Jiyoon ingat anak kecil yang menangis kencang-kencang di tepi jalan karena kelincinya dilahap oleh sepupunya yang mengidap kelainan jiwa itu! Ia ingat! Ia tahu siapa penerornya! Dugaannya sama sekali tidak salah!

"Bocah sialan. Kau lebih psikopat dari—AAH"

Jiyoon tak lagi bernapas dalam beberapa detik setelah kursi kejut mengalirkan listrik bertegangan supertinggi ke tubuhnya.

421 hours left

"Lee Sungjong!"

Sungjong membuka matanya dan menoleh ke arah pintu kamarnya. "Ne, Eomma?"

"Ada tamu untukmu." Ibunya bergeser, memersilahkan orang di belakangnya untuk masuk.

"Hai, Sungjong-ie." Sang tamu menyunggingkan senyum khasnya setelah ibu Sungjong menutup pintu.

"Ah, Myungsoo Hyung. Masuklah."

"Apa aku menganggu tidur siangmu?" Myungsoo mengambil tempat di anak tangga menuju lantai dua kamar itu.

"Ya, sedikit." Sungjong mengusap mukanya dan duduk bersila menghadap Myungsoo. "Kenapa tidak beritahu aku dulu kalau mau datang, Hyung?" Ia memang tidak terlalu suka mendapat tamu tanpa berjanji terlebih dahulu.

"Aku sms, tak dibalas. Telepon juga tak kau angkat."

"Ah, begitu. Maaf." Sungjong merasa lelah sekali karena penyakitnya dan aktivitas yang makin banyak. Ia perlu banyak istirahat. Bahkan, ia masih mengenakan seragam sekolah sekarang. Setelah pulang sekolah tadi, ia langsung merebahkan tubuh ke atas lantai dan tidur. Tidur di lantai yang awalnya ia antipati tak jadi masalah lagi baginya. "Aku bergadang tadi malam," tambahnya. "Jadi, ada perlu apa, Hyung? Aku lelah sekali."

Myungsoo menghampiri Sungjong dan berjongkok di depannya. Tas hitam yang dipangkuan dibukanya dan sebuah pistol yang dikeluarkannya dielus-elus dengan santai. "Keperluanku di sini ya? Em.. Mebunuhmu?"

Tubuh Sungjong tersentak kaget saat mulut pisau ditodongkan ke arahnya. Apa-apaan ini? Myungsoo mulai terpengaruh kah? Sungjong memertahankan ekspresinya agar tetap tenang. "Kau tak takut dicurigai sebagai tersangka setelah aku mati?" Mati kau, Sungjong.

"Haruskah aku takut setelah membunuh sekian banyak orang?" tanya Myungsoo sakartis setelah mencerna maksud pertanyaan Sungjong. "Dan kau, seharusnya tak takut mati."

Sungjong mengerutkan kening. Ketakutan terhadap kematian itu wajar kan? "Kenapa?"

"Karena kau yakin kau akan menang." Mulut pistol kini menempel di dahi Sungjong.

Sungjong menaikkan sebelah sudut bibirnya membentuk senyumaan heran. "Aku? Bukankah kita tidak akan membunuh satu sama lain?"

"Kau pikir begitu? Pertama Kanata keracunan, lalu Jiyoon Noona keracunan sianida dan tersetrum di apartemennya kemarin. Bukankah salah satu di antara kita sudah ada yang mulai takut mati? Dan kini giliranku untuk mengikuti jejak orang itu."

"Jiyoon Noona? Apa dia baik-baik saja?"

Myungsoo memutar bola matanya. "Baik-baik saja? pertanyaan bodoh macam apa itu? Jelas-jelas kau sudah sering bertemu zat-zat kimia bersama ayahmu, lalu kau—" Myungsoo menarik napas dan membuangnya dengan keras. "Jiyoon Noona sudah meninggal."

Tiba-tiba Sungjong merasakan pukulan yang sangat keras di tengkuknya. Ia pingsan seketika.

"Aish!" geram Myungsoo sambil menaruh pistol ke dalam tasnya. "Kalian lama sekali! Aku takut memegang pistol lama-lama." serunya pada dua orang lelaki yang baru masuk. Salah satunya memegang pemukul bisbol.

"Maaf, Kim," kata Minho. "Menyusup ke sini tidak mudah lho."

"Ya. Untunglah ada pintu belakang, ternyata." Yixing menambahkan.

"Oke, teman-teman. Singkirkan anak ini dan jalankan misi kita selanjutnya," perintah Myungsoo.

"Aye aye, Captain!"

Hai, semua ^^ Hehe. Maaf ya telat banget updatenya. Sudah hampir setahun saya ga update T_T

Dunia kuliah itu sangat berbeda dengan SMA~

Baiklah. Bagaimana? sudah tahu siapa pelakunya? Wehehehe. Siapa yang bisa memberi jawaban atas petunjuk-petunjuk yang sudah saya berikan? Kalau ada satu orang saja yang menjawabnya dengan benar, saya akan memberikan petunjuk terakhir yang benar-benar mudah untuk dijawab!

Saran dan kritik sangat dipersilahkan ^^

Sampai jumpa di chapter selanjutnya :3

balasan review:

Lee Jihye: iya, terinspirasi dari Mirai Nikki juga ^^Ini udah update hehe. Maaf ya telat banget huhu T_T Makasih ya udah review :D

Jung Sara: Makasih udah review :D Maaf telat updatenya T_T Sekarang masih penasaran ga penerornya siapa? wkwk