/Chapter 11/

Sasuke's journal, February 14, 2010

Valentine datang lagi. Kali ini, hari yang biasanya selalu kuhindari karena menyebabkan datangnya makanan manis dan surat-surat beramplop merah jambu yang membuatku mual, berarti satu hal. Aku sudah melewati masa setahunku bersama Naruto. Dan aku hanya perlu bertahan satu tahun lagi. Tapi sepertinya aku perlu bertahan dari hal lain, dan aku tak yakin aku mampu.

~w~

"Ada lima belas komposer yang kemampuannya benar-benar diakui dunia, dan salah satu di antaranya dikenal dengan sebutan Bapak Simfoni, " Mrs. Gaydar menekan mouse laptop-nya dan gambar seorang pria dengan gaya rambut khas abad ke tujuh belas terpampang pada layar proyektor. Dosen Sejarah Musik itu memandang murid-muridnya dengan senyum khas-nya. "Ada yang bisa menjelaskan siapa Bapak Simfoni ini?"

"Franz Joseph Haydn," Sasuke buka suara, memecah keheningan kelas, "adalah salah seorang komponis yang paling berpengaruh dari zaman klasik yang dijuluki Bapak Simfoni atau Bapak Kuartet Gesek. Haydn menghabiskan sebagian besar karirnya sebagai musikus untuk keluarga Eszterházy di kediaman mereka yang sulit dijangkau di Austria. Terisolasi dari komponis-komponis lain dan tren musik sampai saat menjelang akhir hayatnya, ia dipaksa untuk, menggunakan istilahnya, 'menjadi orisinil'." Sasuke mengakhiri penjelasan panjang lebarnya, membuat senyum di wajah Mrs. Gaydar makin mengembang.

"Penjelasan yang sangat akurat, Namikaze," puji wanita itu. "Aku juga sangat berharap kau bisa menyebutkan ke-lima belas komposer-komposer yang ingin kubahas di sini."

"Mereka adalah Haydn," Sasuke menanggapi tantangan dosennya, "Handel, Rachmaninov, Tchaikovsky, Mahler, Verdi, Brahms, Liszt, Chopin, Schumann, Schubert, Wagner, Beethoven, Mozart, dan yang menduduki peringkat pertama adalah Bach. Masing-masing dari mereka telah menciptakan inovasi yang luar biasa dalam perkembangan musik klasik."

Mrs. Gaydar tertawa pelan, bersamaan dengan dering bel tanda berakhirnya pelajaran. "Ingatkan aku untuk memberimu nilai A di kelas ini, Namikaze," ucap Mrs. Gaydar sebelum meninggalkan kelas. Sasuke hanya menyeringai begitu dosennya berlalu, membuat Naruto mendengus sebal di sebelahnya. Pemuda pirang itu mendahului Sasuk keluar dari kelas, tapi Sasuke bisa segera menyusulnya.

"Bagaimana rasanya menelan buku teks, Namikaze?" sindir Naruto begitu Sasuke sudah berada di sebelahnya, menirukan Mrs. Gaydar. Sasuke hanya menanggapi sindiran itu dengan dengus geli. Naruto menghela napas. "Dan aku benci kalau dosen-dosen itu memanggilmu dengan margaku. Entah kenapa kok kesannya menjijikkan."

Sasuke melirik Naruto. "Kita terikat sumpah pernikahan, Dobe."

Naruto menghela napas makin berat dan mengangguk pasrah. "Kurasa aku mau cuci muka di toilet dulu," gumamnya, dan berbelok di toilet terdekat. Sasuke mengikutinya. Sejak kasus pengeroyokan terhadap Naruto beberapa bulan lalu, Sasuke memang selalu mengekor pemuda pirang itu kemana-mana. Naruto protes pada awalnya, tapi ia tahu ia takkan bisa menyingkirkan Sasuke, jadi ia pasrah. Toh takkan ada yang tidak terima dengan sikap Sasuke mengingat mereka memang pasangan suami-suami.

Naruto membasuh wajahnya di wastafel berkali-kali sementara Sasuke bersandar pada tembok keramik di sebelahnya, membaca e-mail dari Mr. Spark yang mengatakan kalau judul lagunya sangat sempurna. Naruto selesai membasuh muka dan menatap bayangannya pada cermin di hadapannya.

"Kurasa aku sedikit tidak enak badan," ucapnya, membuat Sasuke mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Perasaan tak enak yang selalu menyergap Sasuke sejak malam tahun baru lagi-lagi muncul ketika mata hitamnya memandang wajah Naruto yang basah dengan titik-titik air, membuat sebagian poninya menjuntai turun ke wajahnya.

"Istirahat saja di rumah kalau begitu," saran Sasuke, mengembalikan pandangannya ke layar ponselnya. Berusaha bersikap cuek. Yep, berusaha. Sasuke menyadari kalau akhir-akhir ini ia selalu berusaha untuk tetap menjadi dirinya sendiri yang cuek, pendiam dan anti-sosial. Ia benar-benar berusaha keras.

Naruto memandang keluar dari jendela di toilet itu, mengamati tetes-tetes air hujan yang makin deras. "Aku malas jalan ke tempat parkir mobilmu dalam keadaan hujan begini."

Sasuke menyipitkan mata memandang Naruto. "Apa perlu aku menggendongmu?" ucap Sasuke sarkas.

"Hm…" Naruto mengeringkan wajahnya dengan saputangan yang selalu dibawanya. "Ide itu boleh juga."

Sasuke membelalak dan menahan diri untuk tidak menghantamkan kepala Naruto ke wastafel marmer di hadapannya. "Aku tidak ada kuliah lagi hari ini. Kalau kau tidak ada kuliah juga, aku mau pulang," kata Sasuke.

Naruto mengangguk. "Aku ingin tidur siang bareng Kyuubi," ia menyetujui, dan berjalan keluar dari toilet.

"Namikaze!"

Baik Naruto maupun Sasuke menoleh. Seorang gadis dengan rambut coklat yang di-pony tail berjalan menghampiri mereka. Sasuke sama sekali tidak mengenali gadis itu, jadi pasti gadis itu kenalan Naruto.

Sasuke melirik Naruto, benar saja, senyum lebar mengembang di wajah Naruto ketika melihat sosok gadis itu dan ia balas menyapa, "Hei, Ash. Aku tidak melihatmu di kelas Mr. Crane pagi ini."

Gadis yang dipanggil 'Ash' itu nyengir salah tingkah, menunjukkan sederet gigi yang rapi. "Aku ada sedikit masalah, jadi aku absen pagi ini. Hehe."

Naruto tertawa. "Ah, kau pasti sudah tahu Sasuke," Naruto mengedik ke arah Sasuke yang masih berdiri diam di sebelahnya. "Teme, ini Ashley," kata Naruto lagi, memperkenalkan gadis itu. "Dia partnerku di kelas Mr. Crane."

Gadis itu tersenyum pada Sasuke dan mengulurkan tangannya. Sasuke biasanya menghindari kontak fisik dengan orang lain, tapi kali ini ia menjabat tangan Ashley.

"Kau mau pulang, Namikaze?" Ashley kembali mengalihkan perhatiannya ke Naruto.

Naruto mengibaskan tangannya. "Panggil aku Naruto saja, Ash. Tidak usah terlalu formal. Toh aku juga memanggilmu dengan nama kecilmu," tanggapnya. Dan Sasuke merasakan perasaan mencelos di dasar perutnya yang datang bersamaan dengan perasaan déjà vu. Kalimat berikutnya yang terlontar dari mulut Naruto hanya terdengar samar-samar di telinga Sasuke. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

Tiba-tiba otaknya dipenuhi dengan pemikiran random yang datang bertubi-tubi, membombardir otak Sasuke. 'Dia selalu meminta semua orang untuk memanggilnya dengan nama kecilnya. Aku tak pernah tahu tentang teman-temannya. Siapa gadis ini? Aku tak pernah mencari tahu tentang kehidupannya di luar rumah. Aku bahkan tak tahu berapa banyak gadis di luar sana yang selalu mendapat tatapan lembutnya dan senyum cerianya itu. Aku tidak menyukai ini.'

Entah kenapa hal-hal sepele tadi tampak begitu penting di benak Sasuke sekarang. Dan sebelum ia sempat mencegah dirinya sendiri, Sasuke sudah menarik tangan Naruto, dan menyeretnya menjauh dari Ashley. "Kita pulang sekarang. Kyuubi menunggu," geram Sasuke.

Naruto meronta dan berteriak memprotes, tapi tak ada yang bisa menembus telinga Sasuke. Sasuke masih berada di dunianya sendiri. Yang bisa ia rasakan hanyalah lengan Naruto dalam genggamannya. Detik berikutnya yang Sasuke tahu, ia sudah menghempaskan Naruto masuk ke dalam mobilnya dan langsung memacu mobilnya pulang ke apartemennya, tak peduli hujan masih turun dengan deras dan membuat jalanan aspal di bawahnya jadi sangat licin.

Samar-samar, Sasuke bisa merasakan Naruto berteriak memarahinya dari tempat duduk samping, tapi Sasuke tak menggubrisnya. Ia tak menghentikan laju mobilnya sampai di basement apartemennya, dan Sasuke baru sepenuhnya sadar ketika ia turun dari mobil, disambut dengan pukulan telak yang menghantam rahang bawahnya.

Sasuke mengerjap. Ia merasakan darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Sasuke mencoba menganalisis keadaan sekelilingnya dan ia melihat Naruto berdiri di hadapannya dengan tatapan marah dan tangan terkepal. Tampaknya Naruto-lah yang barusan meninjunya.

"Kau ini kenapa, hah? Sikapmu seperti orang tolol, Brengsek!" seru Naruto. Sasuke telah membuat kesabarannya terkuras habis.

Sasuke tak membalas ucapan Naruto. Pikirannya terfokus pada wajah Naruto yang terlihat sedikit pucat. Ia ingat kalau Naruto baru saja bilang ia tidak enak badan.

"Kau pikir apa yang kau lakukan?" seru Naruto lagi. "Kau membuatku muak!" dengan dengan tiga kata terakhir itu, Naruto membalikkan tubuhnya, berjalan menjauh dari Sasuke, keluar dari basement, dan menghilang di tengah hujan yang makin lebat.

Butuh beberapa menit bagi Sasuke untuk memahami situasi yang terjadi. Ia sendiri tak paham kenapa ia jadi lemot begini. Naruto berbicara pada seorang gadis bernama Ashley. Perasaan tak suka mendadak muncul di hatinya. Ia menarik Naruto pergi, dan sekarang Naruto marah padanya.

Sasuke menyandarkan dirinya di badan mobilnya sambil mengurut keningnya. Ia benar-benar tolol. Atas dasar apa ia menyeret Naruto pergi begitu saja? Dan… bagaimana kalau ternyata Naruto menyukai gadis itu? Argh. Ia benar-benar idiot. Wajar saja Naruto marah padanya. Semua orang juga akan marah kalau diseret pergi secara mendadak ketika ia sedang berbicara dengan orang yang disukainya.

Sasuke mendongak dan memandang hujan lebat di luar. Ia harus meminta maaf. Dan tanpa berpikir panjang lagi, Sasuke kembali masuk ke mobilnya, mencari Naruto.

~w~

Sasuke menyetir pelan-pelan, memicingkan mata untuk mengenali sosok Naruto. Hujannnya sangat deras, membuat pandangannya mengabur. Dan perasaannya makin tak enak ketika ingat Naruto mengeluh tidak enak badan. Bagaimana kalau keadaannya tambah parah dengan berkeliaran di hujan lebat begini?

Sasuke memukul ban setir mobilnya ketika ia sudah mencari selama satu jam dan hasilnya nihil. Seharusnya Naruto tak mungkin pergi jauh dengan berjalan kaki. Tapi Sasuke mencelos ketika ingat kalau Naruto sudah lebih lama berada di New York daripada dirinya, dan tentu saja itu membuat Naruto tahu tempat-tempat yang tidak diketahui Sasuke. Naruto bisa ada dimana saja sekarang.

Sasuke mengeluarkan ponselnya, mencoba untuk menghubungi Naruto untuk kesekian kalinya, tapi tak ada respon. Sasuke benar-benar merasa bersalah. Ia menggigiti bibir bawahnya, mulai panik. Bagaimana kalau penyerang-penyerang Naruto kembali menyergapnya? Shit.

Sasuke kembali meninju ban setir Volvo-nya dan menepi, memutuskan untuk mencari Naruto dengan berjalan kaki saja daripada dengan mobil. Tak peduli dengan hujan lebat yang masih turun tanpa ampun, Sasuke turun dari mobilnya menembus hujan, memicingkan matanya ke segala arah, berharap menemukan sosok pirang yang sangat familiar baginya. Pakaiannya langsung basah kuyup dalam sekejap, tapi Sasuke mengabaikannya. Ia mempercepat langkahnya untuk berbelok di 4th Street, melanjutkan pencariannya.

'Sial. Dimana kau, Idiot?'

Sasuke menggeram frustasi. Ia sudah berada terlalu jauh dengan apartemennya. Naruto tak mungkin berjalan sejauh ini. Sasuke menyingkirkan rambutnya yang basah dari wajahnya dan membalikkan tubuhnya hendak kembali ke jalan utama ketika matanya menangkap sosok Naruto sedang berdiri bersandar pada lampu jalan. Sasuke langsung berlari ke arah sosok itu, tak peduli genangan air yang dilaluinya membuat sepatunya kemasukan air.

"Dobe…" panggil Sasuke lirih, tak cukup untuk mengalahkan deru angin dan suara hujan yang menghantam permukaan bumi. Tapi sosok itu mengangkat kepalanya, dan menatap Sasuke dengan ekspresi tersinggung. Sasuke merasa benar-benar pantas mendapatkan tatapan itu.

"Maafkan aku. Aku tidak—"

"Aku muak melihatmu. Tinggalkan aku sendiri," potong Naruto.

Sasuke berdecak. "Ayolah, kau bisa sakit. Dan kenapa kau semarah ini? Aku cuma menyeretmu pulang…"

"Apa pedulimu kalau aku sakit?" geram Naruto, menegakkan dirinya sehingga ia tidak lagi bersandar pada tiang lampu. Ia berjalan perlahan ke arah Sasuke. "Cuma menyeretku pulang, hah? Kau merasa cuma itu yang kau lakukan?" Kedua tangan Naruto terkepal di masing-masing sisi tubuhnya.

Tiba-tiba perasaan cemas mendera Sasuke. "Kalau aku melakukan kesalahan lain, aku minta maaf juga untuk itu. Tapi kumohon, pulanglah."

Emosi sudah terlalu menguasai diri Naruto sehingga ia tidak menyadari kalau untuk pertama kalinya Sasuke telah memohon padanya. "Kau pikir maaf cukup, hah?" sentak Naruto. "Kau menyeretku pergi dan memperlakukanku seolah aku ini peliharaanmu! Tepat di depan gadis yang kusukai!"

Sasuke terhenyak. Secara mendadak tubuhnya mati rasa. Hanya dengan tiga kata yang terlontar dari bibir Naruto. Gadis. Yang. Dia sukai.

Naruto sudah berdiri di hadapan Sasuke sekarang. "Kau bilang aku boleh pergi kalau ada orang yang kusukai. Dan sekarang aku menyukai Ashley. Biarkan aku pergi."

Susah payah, Sasuke membuka mulutnya, "Kau bohong. Kau tidak menyukai Ashley. Itu hanya alasanmu."

Naruto mendengus. "Kalaupun aku bohong kau takkan tahu, Teme. Sama seperti kau membohongi keluargamu. Yang bisa kau percaya hanya apa yang kuucapkan, dan sekarang inilah yang aku ucapkan. Aku menyukai Ashley."

Sasuke merasa degup jantungnya bertambah cepat, dan nafasnya memburu. "Tapi aku tak percaya itu."

'Kumohon, Naruto. Berhentilah bicara.'

Naruto menyeringai. "Perjanjian tetap perjanjian, tak peduli kau percaya atau tidak."

Kedua tangan Sasuke mengepal. "Aku pasti akan melepasmu… tapi setidaknya jangan mendadak seperti ini… tunggulah satu atau dua bulan lagi."

'Diamlah, Naruto. Kumohon.'

Naruto berteriak frustasi. "Satu atau dua bulan lagi?" suaranya telah meningkat satu oktaf. "Aku bilang aku sudah muak bersamamu! Masalahmu memang selesai, tapi tidak denganku!"

Tangan Sasuke terkepal makin erat, membuat telapak tangannya sakit. Emosi sudah mulai menguasainya. Ia menahan diri untuk membungkam Naruto yang masih terus berteriak padanya dengan tinjunya. 'Hentikan bicaramu, Naruto. Hentikan itu.'

"Orang-orang mungkin tidak memandangmu aneh karena kau jenius! Dan kau tidak pernah direpotkan dengan hal sepele macam menyukai seorang wanita! Tapi aku mengalaminya!" Naruto menekankan telunjuknya dengan keras ke dada Sasuke tiap kali ia menyelesaikan satu kalimatnya. "Kau tak pernah merasakan berada begitu dekat dengan orang yang kau sukai, tapi kau bahkan tak bisa mengatakan kau menyukainya. Kau tahu kenapa? Itu karena kau tak punya perasaan, Brengsek!"

Sasuke hilang kesabaran. Ia meraih kerah kemeja Naruto, berniat akan membungkam pemuda itu. Membuatnya berhenti bicara…

Dan sekali lagi, tubuhnya mengkhianati rasionalnya. Bahkan sebelum Sasuke menyadari apa yang terjadi, ia telah lebih dulu merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menempel di bibirnya yang dingin. Sesuatu yang terasa begitu manis di sela-sela tetes air hujan yang tawar. Sesuatu yang membuatnya tak bisa berpikir jernih.

Sisi baiknya, dia memang membungkam Naruto. Dengan satu ciuman telak di bibir pemuda itu.

Mata biru Naruto terbelalak lebar, sangat kaget dengan perlakuan yang diterimanya dari Sasuke. Selama sepersekian detik sebelum ini, Naruto yakin Sasuke akan menghantamkan tinju ke wajahnya. Tapi dugaannya sama sekali salah. Ia sudah menyiapkan diri untuk pergulatan sengit dan adu pukulan di bawah hujan, tapi ia sama sekali tidak siap untuk menerima satu ciuman di bawah hujan. Naruto bahkan tak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.

Kedua tangan Sasuke yang masih berada di kerah kemeja Naruto mengendurkan cengkramannya. Sasuke begitu terkesima dengan mata biru Naruto yang berada sangat dekat dengannya sekarang sehingga ia tak menjauhkan diri, walaupun ia tahu Naruto akan kekurangan oksigen. Sejujurnya, ia malah menikmati sentuhan hangat bibir Naruto di bibirnya…

Dan ketika kebutuhan akan oksigen meningkat, Sasuke memutuskan untuk menjauhkan diri. Ia tak ingin Naruto mati kehabisan napas. Mata biru Naruto yang menatapnya dengan ekspresi shock bagaikan merontgennya. Setelah berhasil mengatasi kelumpuhan sementaranya, Sasuke meraih lengan Naruto dan menariknya dengan lembut kembali ke dalam mobil. Pandangan Naruto masih kosong ke depan. Begitu Sasuke berhasil menemukan dimana ia memarkir mobilnya, ia membukakan pintu untuk Naruto yang sepertinya belum bisa bergerak dengan normal, dan mendorongnya masuk.

Setelah Sasuke duduk di belakang kemudi, ia menatap Naruto dan mendengus geli. Ia menyalakan mesin mobilnya dan memacunya kembali ke apartemen. Sama sekali menghiraukan jok mobilnya yang basah kuyup.

~w~

Bahkan Sasuke perlu menuntun Naruto masuk ke apartemennya karena tatapannya masih kosong ke depan. Kyuubi tak menyambut mereka ketika Sasuke membuka pintu. Anjing itu punya kebiasaan baru untuk tidur di bawah meja dapur saat hujan dan takkan bangun sampai hujan reda.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke, mulai khawatir. Ia takut tindakan gilanya beberapa saat lalu mematikan saraf otak Naruto. "Maaf tadi aku—"

Kata-kata Sasuke terpotong karena mendadak Naruto menatapnya tajam. "Kenapa kau tadi melakukan itu?"

Sasuke menggeleng. "Entahlah. Aku…" Sasuke membiarkan kata-katanya mengabur ketika matanya terarah ke bibir Naruto. Dan sekali lagi, sebelum ia bisa mencegah dirinya sendiri, ia sudah kembali menyerang Naruto. Sasuke meraih tengkuk Naruto dan melumat bibir lembut itu untuk kedua kalinya dalam satu jam. Dan kali ini bukan hanya sekedar sentuhan dari bibir ke bibir. Sasuke memejamkan matanya dan menjilat permukaan bibir Naruto, mengabaikan dorongan Naruto di dadanya. Ia malah menekan tengkuk Naruto makin kuat, membuat Naruto bergerak memprotes. Sasuke memberikan satu gigitan pelan di bibir bawah Naruto, membuat pemuda itu membuka mulutnya sedikit, tapi itu cukup bagi Sasuke untuk menyelinap masuk.

Sentuhannya membuat Naruto berhenti bergerak memprotes. Sasuke mengendurkan tekanannya dan menelusuri punggung Naruto dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya tetap menahan tengkuk Naruto. Sasuke menelusuri tiap detail rongga bibir lawannya, membuat Naruto mencengkram kemejanya. Sasuke menemukan lidah Naruto, menjilat dan menghisapnya dengan lembut. Sasuke merapatkan tubuhnya ke tubuh Naruto, tak peduli mereka berdua masih dalam keadaan basah kuyup. Kenapa ia tak menyadari sensasi yang ditimbulkan bibir Naruto ketika ia menciumnya untuk pertama kali di altar dulu? Padahal begitu memabukkan…

Tapi satu dorongan kuat di dada Sasuke membuatnya menghentikan semua aktivitasnya. Sasuke menjauhkan dirinya dengan tangan masih berada di tengkuk dan pinggang Naruto, serta nafas terengah. Naruto menunduk menatap karpet di bawahnya yang basah karena tetesan air dari tubuh mereka berdua.

"Apa kau benar-benar menyukai Ashley?" tanya Sasuke lirih, menatap puncak kepala Naruto.

Naruto menggeleng pelan, membuat Sasuke menghembuskan napas lega. "Sudah kuduga kau berbohong," tanggap Sasuke.

Naruto mendongak, menatap Sasuke lekat-lekat dan menyingkirkan tangan pemuda itu sari tubuhnya. "Tapi perjanjian tetap perjanjian," ia buka mulut. "Aku memang tidak menyukai Ashley, tapi ada aturan no touching dalam hubungan ini. Dan kau sudah menyentuhku, lebih dari yang seharusnya."

Lidah Sasuke terasa kelu. Naruto mundur dua langkah darinya. Mata biru itu menatap Sasuke tajam. "Let me go."

Sasuk terdiam selama beberapa saat. Ia tak ingin Naruto pergi. "Sebegitu inginnyakah kau pergi?" tanya Sasuke.

"Kau yang membuatku harus pergi."

Sasuke menghela napas frustasi. "Peraturan ada untuk dilanggar. Kau tetap di sini, dan selalu begitu kecuali aku menyuruhmu pergi." Ia segera kembali ke sikapnya yang biasa, membuat Naruto terbelalak kaget. Sasuke menatap Naruto sinis, mengacak rambut pirangnya dan berlalu meninggalkan Naruto begitu saja. "Aku mau mengeringkan diri dulu. Kau sebaiknya juga kalau tidak mau sakit."

Begitu mendengar pintu kamar Sasuke terbanting menutup, Naruto berteriak kesal, "Teme sialan! Kau pikir kau bisa selamat setelah menciumku seenaknya begitu, hah! Kubunuh kau!" Naruto menunjuk dengan dramatis ke arah pintu kamar Sasuke, tak tahu Sasuke tersenyum geli dari baliknya mendengar teriakan kekanakkan Naruto.

~w~

PS

Dan inilah kesalahan kedelapannya, sesuatu yang sudah dia sadari lebih dulu. Dia membuatku menyentuhnya lebih daripada yang seharusnya. Dan yang membuatku lebih tidak menyukainya adalah, aku tak bisa menahan diriku sendiri. Aku sudah mengatakan di awal kalau aku harus bertahan karena sesuatu yang lain yang aku tak yakin akan mampu menghadapinya. Hal ini adalah salah satunya. Jeez, kuharap semua ini segera berlalu.

~w~

Naruto

Hujan kembali turun menghantam jendela rumah sakit, tapi Naruto tidak mempedulikannya. Ia menyentuhkan ujung jarinya ke bibir dan tersenyum kecil. Itu memang bukan ciuman pertamanya dengan Sasuke, tapi sampai sekarang Naruto masih ingat sensasi yang ditimbulkan oleh bibir itu.

"Why I feel that you still here, beside me…"

/tbc/

Kekeke. Jumlah words-nya tidak jauh lebih baik dari chapter kemarin *smirk, diparut* dan saya merasa ada sedikit hawa OOC di sini. *sigh, ditampar*

Ah, dan sebagai informasi, lagu yang ceritanya buatan Naruto dan Sasuke di chap lalu itu adalah Michi To You All (Violin version) by Aluto, dan Kanashimi no Yukue (Instrumental) by Kim Junsu. Banyak banget lagu yang sudah muncul di fic ini, tapi kenapa lagu yang digunakan sebagai judul fic ini malah belum muncul? Wkwkwkwkwk XD *digibeng*

Review Reply

Semuanya bisa menjawab dengan benar kenapa Itachi datang ke New York, tapi yang dapet hadiah review dari saya cuma Raika dan Yume ^^ hehehe. Yang lain belum beruntung, maaf ya. *disembelih* Kenapa saya cuma pilih Raika dan Yume? Tentunya karena cuma mereka yang punya fic untuk direview =.=" apalagi Yume bikin pair ShikaNaru yang notebene adalah favorit saya X3 ufufufu.

Thanks for all reviewers!

Mind to review? ^^

Disclaimer : Masashi Kishimoto

FAITH makes all things possible. HOPE makes all things work. LOVE makes all things beautiful. So, let's always keep the FAITH, HOPE to the end, and proud of our LOVE.

ONE world. ONE Red Ocean. ONE TVXQ.

Always Keep The Faith