Naruto milik Kishimoto-sama.
Italic + Bold = Flashback
Chapter 10
"Itachi, hitung sampai 3, tatap mataku, dan jangan berkedip!"
...
...
...
"SASU-CHAAAAANNNN! Sasu-chan yang paling imut se-Konoha punyanya Shisui ada di mana?" Shisui Uchiha tersenyum lebar dan melangkah mantap masuk ke rumah orang tanpa permisi sambil meneriakkan nama balita yang ia cari. Mata onyx miliknya langsung berkilauan begitu melihat seorang anak bertubuh sedikit gempal memandangnya bingung.
"SASU-CHAN!" Shisui langsung memeluk anak kecil tersebut dan mengelus-eluskan pipinya ke pipi putih sang bayi. "Main sama kakak ya hari ini. Ya, ya, ya?"
"Ya ampun, Shisui. Pagi-pagi begini sudah heboh sendiri." Mikoto memandang anak dari anggota klan Uchiha yang juga merupakan sahabat putra sulungnya itu.
"Ah, bibi Mikoto, selamat pagi. Selamat pagi juga, paman Fugaku!" Fugaku yang baru datang hanya mengangguk mendengar Shisui mengucapkan salam kepadanya dan langsung duduk di meja makan. Sasuke kecil yang sedari tadi diam saja menarik-narik baju Shisui.
"Kak Shisui, kak Shisui, Sasu nggak disalamin nih?" tanya bocah Uchiha itu memprotes tidak suka. Shisui yang gemas dengan pandangan mata Sasuke saat ini langsung memeluk balita itu kembali dengan erat dan mengucapkan salam berulang kali.
"Oh iya, Itachi mana? Sudah pergi ya?" tanya Shisui yang sudah duduk di meja makan dengan Sasuke kecil di pangkuannya. Sudah bukan hal baru jika Shisui terkadang ikut sarapan di kediaman kepala klan ini. Mikoto dan Fugaku sudah menganggapnya sebagai anak kandung sendiri, melihat bagaimana Shisui bisa menjadi kakak yang baik bagi Itachi.
"Nah, itu dia ... Itachi sudah menghilang dari tempat tidurnya entah sejak kapan. Anak itu tidak pernah berhenti membuatku khawatir." Shisui melihat Mikoto menghela nafasnya, sedikit kesal, namun juga terlihat wajahnya sangat cemas saat ini. Itachi tidak biasanya pergi begitu saja. Jika ia tidak dapat berpamitan langsung, sang kakak selalu menuliskan pesan untuk ibunya.
"Hn, sudahlah Mikoto. Itachi paling-paling sedang latihan di suatu tempat." Shisui hanya tertawa kaku melihat Mikoto hampir saja mengarahkan pisau yang ada di tangannya ke arah Fugaku. Sudah bukan rahasia lagi jika ayah dua anak itu selalu tampak tidak peduli dengan hal-hal kecil semacam ini. Tapi hati orang siapa tahu. Ayah Shisui pernah berkata bahwa Fugaku itu selalu mengkhawatirkan kedua anaknya. Hanya saja ia tidak pernah memperlihatkannya, bahkan di depan istrinya sendiri.
Lebih anehnya lagi, balita yang berada di pangkuannya saat ini tidak berkomentar sedikit pun soal kehilangan kakaknya. Biasanya ia selalu yang nomor satu paling cerewet jika sudah menyangkut perihal Itachi menghilang. Sekarang malah balita itu asik meneguk susu cokelatnya sambil memandang kedua orang tuanya berargumen.
"Eh, Sasu kok tumben nggak nyariin kakak?" tanya Shisui penasaran.
"Hahu hahi hihum huhu hahi hggak hihsa homong," ucap Sasuke tanpa melepas gelas susu dari bibirnya. (baca: Sasu lagi minum susu jadi nggak bisa ngomong.)
Seakan menjawab kekhawatiran keluarga ini, mereka mendengar suara pintu terbuka dan langkah kaki yang berlari ke dalam. "AYAAAAAAAAAAAAHHHHH!" Alis Fugaku berkedut saat mendengar suara seseorang berteriak. Ia sudah memicingkan mata ke arah Sasuke yang memandangnya polos. Biasanya yang berteriak seperti itu adalah alien kecil yang masih asik minum susu ini. Tapi tidak mungkin suara itu adalah milik Sasuke. Lagipula untuk apa juga si kecil itu berteriak jika mereka berada di ruangan yang sama.
"AYAH, SELAMAT PAGI! 'TACHI BAWAKAN KORAN PAGI BUAT AYAH!" Suaranya lantang. Mata onyx yang dulu selalu terlihat serius dan tenang itu sekarang berkilau secerah mentari. Bibirnya tertarik lebar mengangkat kedua pipinya yang memerah akibat terlalu semangat berlari. Itachi Uchiha tampak seperti seorang anak berumur sepuluh tahun seharusnya. Dan itu cukup membuat syok semua orang yang berada di situ.
"I-I-Itachi?!" Tanpa mempedulikan ekspresi orang-orang di sekitarnya, Itachi berlari menuju ayahnya, memberikan koran pagi untuknya, dan memberinya kecupan selamat pagi di pipi. Setelah itu ia langsung melaju ke Mikoto yang dengan senang hati namun masih tertegun mendapatkan kecupan yang sama.
Shisui dan Sasuke memandang Itachi seakan anak itu sedang melakukan sesuatu yang gila. Bahkan mereka berdua sampai tidak berkedip dengan mulut berbentuk 'o'. Tapi Sasuke kembali normal terlebih dahulu sebelum Shisui dan dengan gembira menyapa kakaknya.
"Kakak, kakak, Sasu juga mau dicium pipinya?" Tapi malang nasib balita itu, kakak yang dimaksud justru memandangnya tajam dengan aura hitam di sekelilingnya. Kilauan mentari di mata onyx-nya berubah menjadi awan mendung, bahkan lebih seram dari Itachi yang biasanya.
"Siapa juga yang mau nyium pipi balita jelek seperti Sasu! Dasar bocah tukang cari perhatian!" bentak Itachi.
"HAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHH?"
"Itachi! Kau sedang tidak sakit kan, nak? Kau kenapa? Badanmu panas? Kau terluka? Apa kepalamu terbentur sesuatu?" Mikoto langsung memegang pundak anak sulungnya dan memandangnya lamat-lamat. Semuanya normal, tubuh Itachi tidak terluka sedikitpun. Badan Itachi juga tidak panas. Mikoto juga tidak menemukan benjolan di kepalanya. Lalu ...
Itachi yang sadar dengan kekhawatiran ibunya kembali ke ekspresi wajahnya sebelum memandang Sasuke. Dia memeluk ibunya sambil tersenyum. "'Tachi baik-baik saja kok, bu."
"Tidak mungkin kau baik-baik saja!" Sekarang giliran Shisui yang berteriak histeris. "Apa kau sadar yang baru saja kau lakukan, ha?"
"Eh, ada kak Shisui?" ucap Itachi seenak jidat lebarnya. Rupanya anak itu baru sadar kalau sahabat yang merangkap sebagai kakak angkatnya itu ada di situ. "Memangnya apa yang 'Tachi lakukan? 'Tachi kan nggak buat salah? 'Tachi juga lagi nggak sakit kok. Malah 'Tachi ngerasa bisa marathon ngerjain misi hari ini."
Fugaku berdeham mendengar perkataan anak sulungnya. Seperti Sasuke yang selalu berbicara dengan orang ketiga tidak membuatnya frustasi saja, sekarang malah Itachi juga begitu. "Benar kata Shisui. Apa yang terjadi padamu, Itachi?"
"Nggak ada. 'Tachi sehat-sehat saja kok."
"Hn, memang nggak ada yang salah dengan dirimu. TAPI KAU BARU SAJA MEMBENTAK ADIKMU, ITACHI UCHIHA! Kau tidak lihat apa adikmu yang sudah hampir menangis ini? KAU? ITACHI UCHIHA MEMBUAT SASUKE MENANGIS? Aku yakin 100% pasti otakmu itu sedang konslet!" Shisui menjerit dramatis sambil menunjukkan Sasuke yang matanya sudah membesar dan berkaca-kaca bak anjing kecil yang ditinggal majikannya. Fugaku dan Mikoto langsung mengangguk setuju.
"Memangnya 'Tachi peduli. Sejak awal juga 'Tachi nggak butuh yang namanya Sasuke Uchiha!" ungkap Itachi dengan aura gelap yang kembali menyelimutinya. Tiba-tiba petir menggelegar di pagi yang cerah ini. Dan saat itu juga pecahlah tangis darah Sasuke Uchiha yang hampir membuat Konoha tenggelam dalam banjir.
.
.
"Oi, Sasu-chaaaaan ... Kok diem aja. Ngomong dong sayang ..." Shisui menusuk-nusuk pipi tembam nan menggembung milik Sasuke. Sejak Sasuke menghentikan tangis yang bertahan selama hampir tiga jam itu, sang balita belum mengutarakan satu patah kata pun dari bibirnya. Dia hanya menggembungkan pipinya dan terduduk lesu di ruang keluarga sang kepala klan. Bahkan Mikoto dan Fugaku akhirnya menyerah membujuk anak itu untuk berbicara. Itachi? Dia tidak peduli dan langsung pergi menjalankan tugasnya sebagai ANBU.
"Sasu-chan jangan cemberut gitu dong! Kan jadi nggak lucu. Nanti nggak ganteng lagi lho kaya biasanya. Ntar penggemar Sasu-chan pada lari kalau lihat Sasu-chan nggak semangat gini," ujar Shisui berusaha membujuk balita itu sekali lagi. Namun, gagal total.
"Tenang saja. Biar kak Shisui nanti yang pukul si Itachi itu. Dasar kakak paling nggak bertanggung jawab. Kalau saja ada predikat kakak terburuk langsung aku calonkan bocah sombong itu jadi pemenangnya!" gerutu Shisui. Melihat Sasuke tidak bereaksi sama sekali, dengan berat hati anak yang lebih tua itu meninggalkan sang bayi Uchiha itu sendiri. Ia berjanji kepada dirinya akan menemukan apa yang salah pada diri Itachi dan menggeret bocah itu untuk bertekuk lutut di hadapan Sasuke.
.
.
Sudah tiga hari tiga malam Shisui mengikuti pergerakan Itachi. Dari yang dilihat oleh mata Shisui, tidak ada yang salah dari anak itu. Itachi melakukan pekerjaannya seperti biasa. Tidak banyak bicara dan bertanya seperti biasa, walaupun ketika ia membuka mulutnya ekspresi yang keluar sungguh berbeda dari Itachi yang biasa. Itachi yang lama selalu tampak tenang, serius, dan percaya diri. Namun, Itachi yang baru ini terlihat lebih santai, ramah, dan sedikit berantakan walaupun kepercayaan dirinya masih tetap ada. Hanya saja sifat ramahnya itu ditujukan ke semua orang kecuali Sasuke.
Sungguh balita yang malang karena ia sudah tiga hari juga berhenti berbicara. Di rumah, Itachi tidak pernah mau melihat balita itu dengan kasih sayang. Kalaupun mereka bertemu pandang, Itachi akan mendengus kesal dan bergegas pergi seakan jijik melihat adiknya sendiri. Dan Shisui yang selalu kena getahnya karena Mikoto dan Fugaku mengandalkannya untuk menjaga Sasuke dari Itachi.
"Apa yang salah denganmu, Itachi?" gumam Shisui. Ia ingin saja memukul Itachi hingga babak belur jika itu bisa membuatnya sadar. Tapi semua orang melarangnya mengingat posisi Itachi yang cukup dihormati warga seklan.
"Mungkin ia berada dalam pengaruh genjutsu."
Shisui teringat perkataan Hokage saat ia berkonsultasi kepada kakek tua itu. Hokage dan hampir seluruh orang-orang yang mengenal Itachi tentu saja merasa aneh dan ganjil melihat seseorang yang begitu pendiam berubah menjadi enerjik namun menakutkan saat melihat adiknya sendiri. Tapi bukankah suatu penghinaan besar jika mengatakan bahwa seorang pengguna setia genjutsu berada di bawah pengaruhnya sendiri. Fugaku dan seluruh klan juga berpikir demikian. Bahkan Hokage juga ragu dengan teorinya sendiri.
"Kakak, mau ke mana? Sasu sendirian di rumah." Dari luar rumah Shisui mendengar untuk pertama kalinya suara lirih Sasuke sejak mogok bicara. Ia melihat Itachi keluar tanpa peduli dengan bocah kecil yang menarik-narik bajunya karena tidak ingin ditinggal sendirian.
Hari ini ada malam pertemuan klan. Dan Shisui serta Itachi juga akan menghadirinya. Fugaku dan Mikoto yang sudah berangkat terlebih dahulu memberitahu Shisui bahwa malam ini juga mereka akan menginterogasi Itachi untuk mencari tahu apa yang salah dari anak itu. Tapi melihat Sasuke yang sungguh ketakutan karena ditinggal sendirian membuat Shisui cukup iba. Jika ini Itachi yang lama, ia pasti sudah menolak mentah-mentah dan memilih tinggal dengan Sasuke.
Shisui berjongkok dan melepaskan tangan Sasuke dari baju kakaknya. "Ne, Sasu-chan, buat malam ini saja kak Shisui pinjem kakak ya ... Nanti kak Shisui janji, begitu pulang dari pertemuan klan, kak Itachi udah jadi normal lagi kaya dulu. Oke?"
"Tapi Sasu mau ikut. Sasu kan juga Uchiha. Sasu mau ikut kakak!" rengek Sasuke. Bibir balita itu mulai bergetar. Sasuke bahkan tidak harus menunjukkan kekuatan matanya untuk Shisui tahu bahwa anak itu benar-benar ketakutan.
"Kak Shisui, buruan! Udah telat nih!" Shisui hampir saja keceplosan mengutuk Itachi yang dengan santainya berjalan menjauh dari rumahnya. Dengan penuh penyesalan dan berat hati, Shisui akhirnya meninggalkan balita itu sendirian di rumah. Pasti Sasuke akan membencinya setelah ini.
Mata onyx Sasuke membesar seketika melihat kedua orang yang ia anggap sebagai kakak pergi meninggalkannya sendirian. Balita itu bahkan tidak berani menoleh ke belakang dan masuk kembali ke dalam rumah. Semuanya terlihat mengerikan di dalam kesunyian malam.
"Sasu tunggu ibu, ayah sama kakak di sini aja deh," ungkap Sasu yang duduk di teras rumahnya sambil memeluk boneka dino yang sejak tadi ia bawa.
.
.
"Itachi Uchiha, selama tiga hari ini kami semua menemukan keanehan di dalam tingkah lakumu. Apa kau sungguh baik-baik saja?" tanya Kagami, ayah dari Shisui Uchiha. Fugaku memandang seorang anak yang memang mirip Itachi itu namun bertolak belakang sifatnya dari yang seharusnya. Mikoto juga ikut menatap lamat-lamat anaknya sambil meremas tangan suaminya.
"Kenapa 'Tachi ditanyain ini terus sih. Udah dibilangin 'Tachi baik-baik aja kok. Apa yang namanya pertemuan klan kalau isinya cuma tanya hal-hal sepele macam ini ke 'Tachi," ujar Itachi kecut.
"Itachi, sayang, yang Kagami-san maksud di sini adalah kenapa perubahan sikapmu itu tiba-tiba dan amat drastis? Seperti Itachi lebih sering tersenyum dan lebih terbuka kepada orang-orang sekarang dibanding dirimu yang dulu," jelas Mikoto. Ia melihat wajah anaknya mengerut tidak suka mendengar penjelasan ibunya itu.
"Memangnya salah?" tanya Itachi.
"Hn, tidak ada yang salah. Tapi kenapa hanya Sasuke yang kau musuhi?" tanya Fugaku langsung kepada intinya. Sekali lagi wajah Itachi menunjukkan aura gelap dan ekspresi tidak suka kepada nama yang disebut ayahnya itu.
"Karena 'Tachi benci kepadanya."
"Boleh ayah tahu kenapa kau benci kepada adikmu sendiri?" tanya Fugaku berusaha tenang.
"Entahlah. Yang jelas 'Tachi benar-benar membenci Sasu. Balita itu menyebalkan sekali sih." Itachi melipat kedua tangannya dan membuang muka dari ayahnya. Mikoto yang melihat itu hampir saja menegurnya jika saja Fugaku tidak menghentikannya.
Tidak ada yang tahu akan hal ini namun Mikoto selalu berharap agar Itachi sedikit lebih hidup dan terbuka. Akan tetapi ketika anak sulungnya ini mulai berubah sesuai yang ia inginkan, entah mengapa Mikoto merasa sedikit kehilangan. Memang selama tiga hari ini Itachi selalu menunjukkan rasa sayang yang besar kepada ibunya – hal yang jarang sekali anak itu tunjukkan hingga saat ini. Namun jika melihat Sasuke yang sangat sedih ketika mendengar Itachi membencinya, itu sungguh membuat hati sang ibu ikut terluka melihat kedua anaknya tidak saling menyayangi satu sama lain.
"Aduh, ini sungguh rumit!" Fugaku memijat-mijat alisnya karena penat. "Pertama aku punya anak yang begitu pendiam, kurang baik dalam bersosialisasi, namun begitu sayang kepada adiknya. Sekarang aku punya anak yang ramah dan terbuka kepada siapa saja tapi begitu membenci adiknya. Aku ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi di sini."
"Itachi, apa kau benar-benar jujur soal perasaanmu?" tanya Kagami.
"Kalau 'Tachi bohong juga nggak ada gunanya, paman."
Sekarang giliran Kagami yang memijat-mijat kepalanya karena pusing. Itachi sendiri juga sudah bosan diinterogasi dengan pertanyaan yang sama berulang-ulang selama dua jam. Shisui bisa melihat itu. Bahkan banyak anggota klan yang hampir tertidur hanya dengan mendengar percakapan ini.
"Hm, Fugaku-sama, apa yang dilakukan Itachi sebelum ia berubah seperti ini?" tanya Kagami. Fugaku tampak berpikir mengingat-ingat apa yang dilakukan putra sulungnya tiga hari yang lalu.
"Kurasa ia sudah seperti ini sejak bangun tidur tiga hari yang lalu," jawab Fugaku. "Apa mungkin karena pengaruh mimpi ya?"
"Mungkin iya mungkin tidak. Itachi seperti berada dalam hipnotis. Tapi ia tidak sedang berada dalam pengaruh genjutsu, ini sungguh membingungkan," timpal Kagami.
"Hipnotis?" Semua orang menatap Shisui yang seperti mengingat sesuatu. Saat melihat ke arah Shisui, mata Fugaku dan Kagami langsung terbelalak seketika.
"Itachi ... bukankah sehari sebelum kejadian ini kau ..." Fugaku memulai.
" ... bermain di rumahku seharian dengan putraku. Benar begitu?" lanjut Kagami. Itachi yang bingung dengan perubahan pertanyaan ini hanya mengangguk mengiyakan.
"Apa saja yang kalian lakukan seharian itu?" tanya Kagami lagi.
"Apa saja? ... um apa ya? Oh, kami menonton acara aneh dan kak Shisui berusaha untuk menirukannya sementara 'Tachi hanya mengantuk melihatnya ..."
"HIIIIIIYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHH HH?" Semua orang melompat kaget saat mendengar jeritan yang berasal dari Shisui Uchiha yang sekarang sudah berdiri dari tempatnya duduk. "Tidak mungkin ... Ternyata berhasil? Tapi tunggu dulu, ini tidak mungkin ..." gumam Shisui tidak percaya. "Apa ini malah genjutsu yang aku pakai ya? Tapi aku yakin waktu itu tidak ada sharingan yang aktif kok ..."
"Shisui, bisa kau katakan apa yang berhasil dan apa yang tidak mungkin?" tanya Kagami yang merasa bahwa dalang di balik semua ini adalah tidak lain dan tidak bukan anaknya sendiri.
Sehari sebelum Itachi menjadi abnormal ...
"Kak Shisui nonton apaan? Kok sepertinya sejak tadi tidak berkedip." Itachi yang baru saja selesai mengerjakan laporannya untuk Hokage memandang Shisui yang masih menonton televisi dalam jarak dekat. Ekspresi kagumnya bisa terlihat dari matanya yang berkilauan dengan senyum lebar yang merobek pipinya.
"'Tachi, sini lihat sini. Acaranya bagus. Orang tua itu bisa bikin sepuluh peserta ini melakukan hal yang aneh-aneh hanya dengan menjentikkan jarinya." Itachi yang penasaran pun akhirnya berpindah tempat di sebelah Shisui dan ikut menonton. Benar saja hanya dengan mendengar kata-kata dari orang tua di dalam televisi, para peserta melakukan apa yang diperintahkannya seperti bermain bola, bertingkah seperti bayi, menyanyi, hingga terjun dari ketinggian beribu-ribu kaki.
"Apa namanya?" tanya Itachi semakin penasaran.
"Hipnotis," ungkap Shisui.
"Dia pakai genjutsu?" Shisui hanya menggeleng penuh semangat dan berkata bahwa orang tua itu bukanlah seorang ninja seperti mereka. "Terus kok bisa?" lanjut Itachi.
"Nah, itu menariknya aku juga nggak tahu," jawab Shisui cepat dan langsung meyetop Itachi saat anak yang lebih muda itu membuka mulutnya lagi. "Aku tahu kau penasaran, tapi diam sebentar bisa? Aku mau lihat triknya dulu nih."
Itachi mengangguk dan kembali diam menonton bersama Shisui. Namun, sang jenius itu tidak terlalu antusias melihatnya dan justru mengantuk. "Hoahm, aku malah ngantuk lihatnya, kak."
Mendengar Itachi berkata demikian, justru terbersit pikiran nakal di benak Shisui saat itu juga. "Daripada ngantuk mending kita nyoba cara kerjanya aja. Gimana?" tanya Shisui.
Itachi yang melihat senyum aneh Shisui hanya mengerutkan dahinya. "Nggak mau ah. Kalau kak Shisui korbannya sih aku mau-mau aja."
"Enak aja. Aku belum membalas tendanganmu waktu di kantor Hokage dulu (baca Chap.7). Pokoknya kau harus jadi korban! Titik. Yang muda harus nurut sama yang tua!" perintah Shisui.
"Mana ada peraturan begitu. Harusnya kak Shisui yang nurut sama calon pewaris Uchiha dong!" ujar Itachi sambil menyeringai bengis kepada Shisui yang terkena kartu matinya.
"Tetep nggak bisa. Aku tuan rumah di sini. Kalau nggak mau ya udah deh. Kan masih ada Sasu-chan. Weeek!" Shisui bisa melihat perubahan di wajah Itachi saat ia mengatakan akan menggunakan adik Itachi sebagai pengganti. Mau tidak mau sang kakak akhirnya tunduk juga. "Nah daritadi begitu kenapa sih?"
Itachi mengamati bandul jam yang ditemukan Shisui di laci ayahnya ke kanan dan ke kiri. Untuk fokus kepada bandul itu sih tidak masalah, tapi Itachi juga tidak ingin jadi korban dan dipermalukan di depan publik oleh Shisui. Mau tidak mau ia memecah fokusnya dengan memikirkan hal lain, seperti kasurnya yang empuk dan siap ia tiduri saat pulang nanti.
"'Tachi, yang serius dong!" tegur Shisui yang bisa membaca pikiran Itachi.
"Ugh, aku udah ngantuk nih kak!" balas Itachi sambil menopang dagunya.
"Ah, kalau begini mana berhasil. Serius dikitlah, 'Tachi. Kalau nggak Sasu-chan yang jadi korban lho!" ancam Shisui sekali lagi dan Itachi langsung mematuhinya tanpa protes.
"Itachi, hitung sampai 3, tatap mataku, dan jangan berkedip!"
1 ... 2 ... 3 ...
Itachi menatap lamat-lamat mata Uchiha Shisui sambil mendengarkan perkataannya dengan seksama. Lama kelamaan pandangannya menjadi kabur. Mata Shisui seperti berputar cepat, berwarna merah dengan lingkaran hitam aneh di tengah-tengahnya terus berputar hingga membuat Itachi pusing. Tidak ingin lebih lama lagi memandang perputaran itu, Itachi memejamkan matanya dan dalam seketika tertidur.
"Itachi, ketika kau membuka mata, kau akan berbicara dalam orang ketiga dan sifat serta kelakuanmu akan berubah 180 derajat ..." kata Shisui menirukan ahli hipnotis di dalam televisi tanpa tahu bahwa Itachi sudah benar-benar terlelap dalam posisi duduk.
"SHISUI UCHIHA!" Shisui bergidik ngeri saat mendengar orang-orang di sekitarnya menatapnya dengan tajam, termasuk di dalamnya Fugaku, Mikoto, Kagami, dan sang korban Itachi Uchiha. Ternyata kesalahan ini adalah tanggung jawabnya selama ini. Dan Shisui melupakan hal terpenting itu.
Sudah bisa dipastikan, jika Itachi sadar dan tahu apa yang sudah terjadi kepadanya ... um, terutama apa akibat yang disebabkan oleh Shisui kepada Sasuke, Shisui yakin hidupnya tidak akan lama lagi.
"Jadi, kau bilang kalau kau dan Itachi sedang menonton acara hipnotis ini ketika kau mempelajari trik sang master dan mempraktekkannya kepada putra Fugaku-sama. Lalu kau benar-benar lupa hingga beberapa menit yang lalu saat aku menyebutkan kata hipnotis. Benar begitu?" Shisui mengangguk kaku mendengar ucapan dingin ayahnya. Bahkan jika Itachi tidak berhasil membunuhnya, sudah pasti Kagami akan menggantungnya di rumah setelah ini.
"Shisui, Shisui, Shisui! Sungguh kau ini benar-benar ..." Fugaku menyetop Kagami sebelum temannya itu mulai menceramahi anaknya panjang lebar. Dan Shisui lebih baik diceramahi oleh Kagami daripada harus berhadapan empat mata dengan Fugaku.
"Ano, paman Fugaku ..."
"Shisui!" Sekarang tubuh Shisui gemetar tak terkendali mendengar suara dingin Fugaku. "Kalau kau bisa sampai menghipnotis anakku, berarti kau juga bisa melepaskannya dari hipnotis ini. Benar begitu?"
"Uh, yah begitulah ... T-tapi aku harus ..."
"Harus apa, Shisui?" tanya Mikoto yang sudah tidak sabar.
"Itachi, ketika kau membuka mata, kau akan berbicara dalam orang ketiga dan sifat serta kelakuanmu akan berubah 180 derajat. Kau akan kembali normal tiga detik setelah aku menendang kepalamu hingga tidak sadarkan diri."
"APA?!" Sekarang giliran Itachi yang berdiri dari tempat duduknya sambil menjerit tidak percaya. Seperti terkena hipnotis tidak sengaja temannya, lalu diinterogasi umat banyak masih belum membuatnya puas saja. Dan sekarang ia harus rela kepala yang berisi otak jenius mengalahkan Einstein ini ditendang begitu saja oleh sang sahabat. Sungguh indah hidup Itachi malam ini.
"Kalau begitu lakukan."
"AYAH!" Itachi terkejut mendengar ungkapan dingin ayahnya. Lebih hebatnya lagi, sang ibu mengangguk setuju. Begitu juga dengan para anggota klan lainnya.
"Kembalikan Itachi kami seperti sedia kala, Shisui!" protes para anggota klan secara bersamaan. Mau tidak mau Itachi hanya bisa pasrah menunggu kepala berharganya ini ditendang mati oleh Shisui.
"Itachi, sayang. Ibu lebih bangga jika Itachi menjadi Itachi, karena apapun yang terjadi Itachi tetaplah anak ibu."
Belum sempat Itachi membalas senyum Mikoto yang amat menentramkan hati itu, terdengar bunyi BUMP! keras sekali. Shisui Uchiha telah berhasil menendang kepala si Einstein Uchiha itu dari belakang yang membuat dahinya menghantam tatami keras. Wajah Shisui menunjukkan sedikit bersalah dengan sang pewaris, namun di lain sisi ia juga puas karena berhasil membalas tendangan Itachi waktu itu.
Benar saja, dalam tiga detik Itachi terbangun dari tidur singkatnya dan meraba-raba kepalanya sedikit pusing. Mikoto dengan sigap memeluk anaknya dan membantunya berdiri. Sedangkan penghuni klan lainnya bersorak sorai menyambut kembalinya pewaris mereka.
"Aduh, kepalaku sakit!" Itachi merintih kesakitan sambil berusaha memperhatikan sekitarnya. "Huh, aku di mana ya?"
"Kau ada di tempat pertemuan klan," ucap Fugaku datar. "Baiklah, karena Itachi sudah kembali normal, kita bahas topik penting lainnya."
Itachi mengerutkan dahinya mendengar ucapan ayahnya. Kalau ayah dan ibunya di sini lalu siapa yang di rumah?
"Aku pulang saja. Kepalaku pusing," gumam Itachi namun masih bisa didengar oleh Fugaku. Mikoto hanya tersenyum penuh arti melihat apa maksud sebenarnya dari anak sulungnya itu. Fugaku juga tahu pasti apa yang dilakukan anaknya itu, tapi dia diam saja dan untuk kali ini membiarkan si sulung itu lolos dari pertemuan.
Itachi tidak tahu alasan mengapa ia sangat membenci adiknya pada saat terhipnotis karena ia juga sebenarnya tidak tahu alasan mengapa ia sangat menyayangi adiknya itu. Begitulah kesimpulan yang berhasil ditarik oleh Fugaku dan Mikoto yang melemparkan pandangan saling mengerti.
"Itachi, pastikan alien kecil itu sudah tidur saat aku pulang nanti." Fugaku berkata datar seperti biasanya, namun Mikoto yakin pemimpin Uchiha itu sangat mengkhawatirkan anak bungsunya. Itachi mengangguk dan tersenyum kecil sambil berjalan keluar dari ruangan.
"Aku ikut!" seru Shisui. Akan tetapi, dengan segera Kagami menangkapnya.
"Tunggu dulu, anak muda! Masih banyak yang harus kita bicarakan!" Dan Shisui Uchiha bertekuk lutut di depan ayahnya yang memberikan ceramah panjang lebar di depan seluruh anggota klannya.
Setidaknya untuk hari ini, baik Itachi maupun Shisui sama-sama dipermalukan di depan publik.
.
.
" ... 522 ... 523 ... 524 ... hiks... hiks..." Seorang anak kecil tidak lebih dari lima tahun masih dengan sabar duduk di teras menunggu kepulangan keluarganya. Wajahnya dipenuhi dengan lelehan air mata. Sebenarnya angin malam semakin dingin, namun Sasuke masih tidak berani masuk ke dalam rumahnya seorang diri. Ia bersikeras melawan kantuk agar bisa melihat ayah, ibu dan terutama kakaknya kembali ke rumah.
"Sasuke?" Balita itu mengangkat wajahnya dan menatap wajah bingung kakaknya yang masih meraba-raba kepalanya. Dengan kesal Sasuke hanya menggembungkan pipinya dan membuang wajah dari orang yang selama ini selalu ia idolakan itu.
"Sasuke kenapa di luar dan ... menangis?" tanya Itachi yang ikut berjongkok di depan balita itu. Namun tidak ada jawaban. "Maaf ya, kakak juga nggak ngerti kenapa bisa ninggalin Sasu sendirian di sini."
Mendengar ucapan Itachi, Sasuke memberanikan diri untuk melihat kembali kakak yang memandangnya dengan normal, tidak ada rasa jijik atau benci sedikitpun. "Sasu lagi hitung bintang. Kalau bintangnya ada 1000 berarti kakak nggak benci Sasu. Tapi Sasu nggak bisa ngehitungnya ... HUEEE!"
"Yah, kalau itu sih kakak juga nggak bisa hitungnya. Lagian siapa yang bilang kalau kakak benci sama Sasu?" tanya Itachi.
"Kakak," jawab Sasuke sambil menggigit jarinya.
"Eh? Masa?" ungkap Itachi yang masih hilang ingatan. Sasuke mengangguk kecil. Melihat Itachi yang semakin kebingungan, akhirnya balita itu malah tertawa kecil karena ekspresi aneh kakaknya yang tidak biasa itu. Mau tidak mau Itachi ikut tertawa dan menyentuh dahi si kecil sambil berkata, "Maaf ya Sasuke. Kakak nggak ingat sama sekali."
"Berarti kakak nggak benci Sasu kan? Kakak masih butuh Sasu kan? Soalnya kakak bilang kakak nggak butuh Sasu," celoteh Sasuke panjang lebar.
"Haduh, Sasu ngomong apa sih? Kakak bingung nih. Ya jelas kakak nggak benci Sasu-lah. Sini!" panggil Itachi. Dan dengan sigap si bungsu Uchiha itu berdiri dan menghampiri kakaknya. Itachi menghapus air mata dari pipi adik kesayangannya itu. "Jangan menangis ya Sasuke, kakak ada di sini untuk melindungimu, tidak peduli apapun yang terjadi."
Sasuke mengangguk dan memeluk erat Itachi. "Sasu bobok sama kakak ya malam ini. Sasu nggak mau sendirian."
"Tentu saja, Sasuke."
.
.
Keesokan harinya, ketika Shisui merasa semuanya sudah kembali normal dan aman, Itachi mengingat semua yang terjadi kepadanya sejak ia bangun dari tidurnya. Jika ada yang lebih mengerikan daripada kemarahan ayah kandungnya dan sahabatnya sendiri, maka itu adalah kemarahan Sasuke Uchiha. Seperti tersambar petir utusan dewa, Shisui akhirnya bertekuk lutut dan menyembah Sasuke memohon ampun.
"Ampuuuuun, Sasuke-sama. Janji nggak bakal diulang lagi!" teriak Shisui pasrah sambil mengelus jari-jari tangannya yang hampir putus digigit oleh Sasuke.
"Ne, Sasu yakin mau maafin kak Shisui setelah apa yang ia lakukan pada kakak? Sasu yakin?"
Wot de pak! Akhirnya keluarlah kutukan Shisui - walaupun hanya dalam hati - sambil melihat Itachi berbisik layaknya setan di belakang Sasuke kecil yang masih tampak marah. Sasuke mengeram ganas jauh dari sifat imutnya selama ini. Itachi menyeringai bengis. Dan kali ini Shisui-lah yang menangis darah di bawah kaki pasangan kakak-adik mengerikan itu.
.
.
TBC
.
a/n : Akhirnya chapter nggak jelas. Maaf ya minna, update-nya kelamaan dan author ngerasa kurang banget di tulisannya kali ini. Maklum lagi miskin ide :(
Oh ya ada satu dialog yang diambil dari kata-kata Itachi ke Sasuke pas masih bayi. Lupa chapter berapa. Dan kata-kata ini juga yang jadi favorit author dan sukses bikin terharu. Itachi kurang apa sih! Coba gue punya kakak kayak dia! #melukmakamItachi
Jangan menangis ya Sasuke, kakak ada di sini untuk melindungimu, tidak peduli apapun yang terjadi – Itachi Uchiha.
On next ?
"Ssst, jalannya pake jempol kaki aja dong, un!"
...
"Sebenarnya apa tujuanmu mengajakku melakukan jerit malam begini sih? Di kamar Itachi lagi!"
...
"Un, kau tidak dengar ya, muka bayi? Aku mau lihat karya seninya!"
"Itu boneka, muka bencong!"
.
.
Tebak-tebakan yuk! Dua orang di cuplikan di atas siapa yah? Boleh ikutan jawab sekaligus mau diapain makhluk-makhluk aneh itu pas jerit malam di kamar Itachi. Yah, itung-itung bantuin author bikin ceritanya biar kembali ke jalur yang benar. Yang bener jawabnya dan usulannya paling oke author jadiin cerita!
Hihihi... #authorgila #authornggakpenting
Terus beribu-ribu terima kasih untuk yang udah review, fave, dan follow, especially :
milkyways99, Dypa-chan, TheBrownEyes'129, Nohara Rin, Benrina Shinju,Sakumori Haruna, Uchiha Fuiin, Ayam Berbulu Pink, pindanglicious, Maehime, UchiHarunoKid, kazusa kirihika, NaNo Kid, , shironeko97, Rannada Youichi, Uchiha dant57, Fuyuki Fujisaki, Ruenni Uzumaki, AlchemistElric, SoulHarmoni, Kitsune Fuyuki, dikdik717, kyuakira28.
Sedikit terharu waktu tahu banyak yang suka fic ga jelas ini :') Maaf nggak bisa update cepet karena lagi banyak tugas juga #nangisdarah #curcol
See you soon deh pokoknya.
Sign,
-petitewinsy-
