TITLE : Enchanté
GENRE : Romance, Humour
LENGTH : 10 of (..)
RATE : T+
CAST : Wonwoo (GS), Mingyu, Jungkook (GS)
DISCLAIMER : semua tokoh punya YME, yang saya punya Cuma plot dan typo yang bertebaran di ff gaje ini. Jika ada kesamaan plot, nama tempat, dll. Itu semua murni Cuma kebetulan. Karena saya bikin ff ini karena dapat inspirasi pas liat Mingyu lagi fansign..
SYNOPSIS : Jeon Wonwoo yang mencintai keluarganya demi apapun dimintai tolong agar bisa meminta tanda tangan seorang idola yang sedang naik daun oleh adiknya yang sakit. Tapi bagaimana jika ditengah acara fansign itu ia malah salah orang? Ia salah mengenali sang idola yang malah membuat semuanya jadi runyam!
This is a Genderswith. Please just close the tabs if you don't like any of 'genderswitch'. Please do not bash. I was just write my wild imagination into this absurd ff please enjoy
.
.
.
Saat Wonwoo membuka matanya di pagi hari ini, semua berjalan dengan lancar. Alarm nya berbunyi seperti biasa, air panas di showernya juga sedang tidak bermasalah. Ban mobilnya yang biasa mengalami kempis pun hari ini baik-baik saja. Membuat mood Wonwoo untuk hari ini cukup bagus.
Ia pergi bekerja dengan hati senang, menyapa semua orang yang ia temui di kantornya, membuat mereka mengernyit aneh. Karena tidak biasanya seorang Jeon Wonwoo bersikap ramah.
Pagi ini Wonwoo sengaja datang lebih pagi daripada biasanya. Ia bahkan sempat pergi untuk membeli segelas cappuccino panas dan sebuah muffin coklat di café seberang kantor.
Di tengah ruangan kerjanya, tepatnya di kubikel sahabatnya, Jung Eunji, Wonwoo dapat melihat beberapa karyawati lainnya sedang mengerubung sambil berbisik-bisik, membuatnya turut penasaran.
"ada apa ini? Kalian sudah bergosip di pagi hari." Sapa Wonwoo, lantas membuat mereka terlonjak kaget, dan bertingkah aneh, seolah salah tingkah karena tertangkap basah sedang mencuri ayam.
"eo-eoh! Wonwoo-yah! A-aniya! Kami hanya sedang membicarakan diskon di mall yang baru dibuka, itu saja!" ucap seorang rekan kerja Wonwoo yang kurang dekat dengannya.
"n-ne! kami sedang membicarakan sale, itu saja!" ucap yang lain.
"a-ah! Sudah jam segini! Sebentar lagi kita harus bekerja, kalau begitu sampai jumpa. Nanti kita sambung lagi, ya!" rombongan itu akhirnya mengakhiri acara bergosip mereka tepat setelah melihat wajah Wonwoo. Padahal sebelumnya mereka terlihat sangat asyik.
Bukan karena Wonwoo itu atasan mereka sehingga mereka takut. Tidak, melainkan karena sepertinya topic yang sedang mereka bicarakan itu adalah Wonwoo sendiri.
"eunjinie, ada apa? Aku tahu kalian sedang berbohong padaku. Apa terjadi sesuatu?" tanya Wonwoo pada satu-satunya orang yang tersisa disana, yang tak lain dan tak bukan adalah sahabatnya sendiri.
"a-aniya, Wonwoo-ya. Kau jangan terlalu khawatir. Kami hanya berbincang biasa saja! Hehehe…" elak Eunji. Namun Wonwoo tahu, dari gelagatnya yang terlihat gugup dan Eunji yang tidak berani menatap matanya, maka gadis tersebut pasti sedang berbohong.
"geojitmal. Kumohon katakan padaku." Pinta Wonwoo.
Eunji menghela nafasnya panjang. Ia menatap Wonwoo sekilas, namun kemudian kembali membuang muka seolah malas melihat keberadaan Wonwoo disana. Ia kemudian berdecak.
"yang ada apa sebenarnya itu dirimu! Ck!" tiba-tiba saja Eunji berkata demikian dengan raut kesalnya, membuat Wonwoo cukup kaget.
"nan? Wae?" tanya Wonwoo tanpa tahu apa-apa.
"ish! Ya! Ikut aku!" eunji kemudian bangkit dari kubikelnya, dan menarik tangan Wonwoo dan menggeretnya menuju atap gedung.
Selama berada disana, mereka terdiam untuk beberapa saat. Wonwoo yang juga tidak mengerti apa kesalahannya, diam saja. Ia merasa agak ngeri melihat kekesalan Eunji pagi ini.
"sebenarnya ada apa, Eunji?" tanya Wonwoo dengan pelan.
Eunji yang sedari tadi membelakangi Wonwoo kemudian berbalik dan menatap mata gadis itu. Ia kemudian berdecak sekali lagi, tetapi tidak lama ia menggerakan tubuhnya, berdiri dihadapan Wonwoo.
Ia merogoh kantung di blazernya dan mengambil sesuatu, mengotak-atik isinya, dan kemudian memberikannya pada Wonwoo.
Wonwoo kemudian memperhatikan dengan seksama layar ponsel Eunji. Ia tidak perlu membaca apapun dari sana, karena hanya dengan melihat gambarnya saja ia sudah yakin.
"ingin menjelaskan sesuatu?" tanya Eunji sarkastik.
"i-itu.. bagaimana bisa?" tanya Wonwoo tidak percaya pada apa yang dilihatnya.
Eunji kembali merebut ponselnya, dan membacakan dengan suara agak lantang headline dari berita yang tertera disana.
"tertangkap basah! Kencan tengah malam seorang idola yang sedang naik daun di rumah kekasihnya." Sambil melirik kearah Wonwoo.
Wonwoo gelagapan. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kini ia yang tidak berani menatap mata Eunji.
"sebenarnya ada apa, Wonwoo-ya? Kenapa tidak pernah kau ceritakan ini pada kami? Kau tidak menganggap kami sahabatmu?" tanya Eunji dengan nada kesal, namun juga terdengar sedih.
"bu-bukan begitu! Hanya saja… ini semua rumit, Eunji-ya. Kau mengerti, kan?"
"aku tidak mengerti. Bagaimana aku bisa mengerti sedangkan kau saja tidak pernah menceritakannya pada kami." Suara Eunji lirih.
Mendengar itu, Wonwoo jadi merasa bersalah. Namun ada satu hal yang masih membuatnya penasaran.
"tapi dari mana kau dapatkan itu semua, Eunji-ya?" tanya Wonwoo.
"website dispatch. Kau tahu, kan? Web yang berisi tentang rumor soal idol maupun para actor dan aktris. Baru saja semalam berita ini dirilis. Isi berita ini memang tidak menyebutkan siapa idol yang ada disini, tapi melihat dari postur dan tinggi tubuh, serta mobil yang ia gunakan, para netizen sudah seratus persen yakin bahwa pria ini adalah Kim Mingyu Seventeen." Ucap Eunji berusaha menjelaskan.
"bagimana mereka tahu kalau itu Mingyu?" tanya Wonwoo menyangsikan itu semua. Hell, postur tubuh? Memangnya di Korea ini hanya Mingyu saja yang tubuhnya tinggi semampai seperti itu?
"fansite carat. Semalam sangat heboh dibicarakan. Yah, mereka juga tidak mau mempercayai ini. Tapi bagaimana lagi. Dari nomor kendaraan serta jenis mobilnya, mereka yakin bahwa itu adalah mobil yang biasa digunakan oleh para member Seventeen baik off, maupun on air."
"sedangkan dengan untuk postur tubuh, kau tahu? Siapa lagi di grup Seventeen yang memiliki tubuh setinggi pria itu?" ucap Eunji penuh logika menurut Wonwoo.
"lalu? Bagaimana kalau perempuannya? Bagaimana mereka bisa tahu kalau itu aku?" lagi-lagi Wonwoo dibuat bingung.
"yah, tidak semua orang tahu soal identitas sang perempuan. Di berita ini bahkan dikatakan bahwa identitas sang perempuan masih belum diketahui."
"lalu?"
"hei! Apa kau kira kita baru berteman selama seminggu? Aku hafal wajahmu! Postur tubuhmu! Dan, itu adalah foto didepan rumahmu, bukan?! bagaimana aku bisa tidak tahu kalau itu adalah kau?!" cecar Eunji kesal.
"yah, kau bisa saja benar, kau sahabatku. Tapi bagaimana dengan yang lain? Mereka bahkan berhenti bergosip saat aku datang. Dan aku sangat yakin tadi mereka sedang membicarakan soal ini." Ucap Wonwoo menatap Eunji tajam.
Eunji hanya memutar bola matanya malas.
"yang tadi berkumpul di mejaku itu semua adalah fans Sebong. Mereka juga salah satu dari anggota member fansite carat, wajar kalau mereka berkumpul untuk membicarakan masalah itu. Dan sialnya, salah satu dari mereka mengenali dirimu di foto itu! Yah, kau benar. Mereka sempat mengosipkan dirimu dihadapanku, tapi itu benar-benar murni rasa penasaran mereka, apakah benar gadis dalam foto itu kau atau bukan." Eunji berusaha menjelaskan kepada Wonwoo yang sudah lebih dulu merasa down.
Entahlah, Wonwoo hanya tidak suka jika ada seseorang yang membicarakannya di belakang. Ia jauh lebih suka jika seseorang itu berteriak memanggil namanya, dan membicarakan segala kejelekannya didepan wajahnya.
"heum… jadi sebenarnya mereka juga masih belum yakin apakah gadis dalam foto itu benar aku atau bukan?" tanya Wonwoo lagi.
"yah, bisa dibilang begitu. Tapi mereka hampir enam puluh persen yakin."
Wonwoo mengigit bibirnya gugup. Jujur, ia sangat bingung saat ini. Dan jika boleh lebih jujur lagi, ia sedikit takut. Takut akan segala yang akan ia hadapi kedepannya. Keselamatan jiwanya, keluarganya, ketenangan hidupnya, dan juga… karir serta hidup pria yang tak bisa ia tampik, sudah berada di hatinya, Kim Mingyu.
.
.
.
Akhirnya dengan janji bahwa Wonwoo akan menceritakan segalanya pada semuanya saat jam makan siang, Wonwoo bisa lolos dari pelototan mata Eunji pagi ini. Tapi tetap saja. Hal itu tidak bisa membuatnya tenang.
Kini ia sedang duduk didepan komputernya dan berusaha mensearching tentang artikel tersebut. Alangkah kagetnya ia, bahwa kini sudah banyak bermunculan artikel lainnya yang bahkan sangat bertolak belakang dari kejadian yang sesungguhnya, membuat Wonwoo semakin resah.
Tangannya gatal ingin membaca kolom komentar yang diberikan seluruh netizen di penjuru Korea, namun hatinya belum siap. Wonwoo bukannya tidak tahu, tapi mulut para netizen tersebut sangat tajam, hingga bisa melukai hati siapa saja. Sebab itulah Wonwoo belum bisa memantapkan dirinya membaca komentar tentang dirinya.
Ia terus saja mengigiti bibirnya resah. Sudah dua jam sejak terakhir Wonwoo mengirimkan pesan pada Mingyu, namun pria itu belum juga membalas. Wonwoo juga sudah berusaha menelepon, namun hasilnya sama nihilnya.
Tidak biasanya Mingyu tidak membalas pesan Wonwoo. Sesibuk apapun, setidaknya pria itu selalu membalas pesan Wonwoo, selambat-lambatnya satu jam setelah pesan terkirim.
Sungguh ia merasa sangat bersalah. Meski setelah dipikir-pikir lagi, ini juga bukan murni salah siapa-siapa. Well, siapa yang mau disalahkan saat kau sedang jatuh cinta?
Hingga tiba saatnya makan siang, Wonwoo sesuai dengan janjinya, ia akan menceritakan tentang bagaimana kisahnya dengan Kim Mingyu.
Mereka kali ini berkumpul di restaurant dimana mereka bisa mendapatkan sedikit privasi. Dan Wonwoo menceritakan semuanya, mulai dari awal hingga akhir. Dimulai dari ia yang salah mengenali orang, kemudian Mingyu yang mengatakan bahwa ia menyukai Wonwoo, hingga kini karir pria itu sedang terancam karena mereka tertangkap basah.
"huwaa.. Wonwoo-ya, benarkah?" tanya Mari tidak percaya.
"Wonwoo-ya, kisahmu benar-benar seperti drama! Aku tidak percaya bahwa ada sahabatku yang benar-benar mengalaminya!"
Wonwoo hanya tersenyum tipis. Entah ia harus merasa bangga atau malah ironis. Karena kenyataannya, hal seperti itu hanya indah diawal menurut Wonwoo.
"heum.. Wonwoo-ya! Aku benar-benar iri padamu! Kapan aku bisa mengalami hal seperti itu dengan pangeran berkuda putihku! Haaah… jinjja yeppeuda.."
Mereka semua hanya tersenyum tipis, terkecuali Eunji. Ia tetap tidak merasa puas akan penjelasan Wonwoo. Masih ada satu hal yang mengganjal di pikirannya.
"Wonwoo-ya, lalu bagaimana sekarang?" tanya Sera.
Dan pertanyaan tersebut sukses membuat Wonwoo terdiam. Ia juga tidak tahu harus bagaimana sekarang. Pesannya juga tidak kunjung dibalas oleh Mingyu. Yah, sebenarnya Wonwoo yakin bahwa pria itu juga kini sedang dilanda dilemma. Tidak seharusnya Wonwoo menambah beban pria itu.
"nado molla." Wonwoo menghela nafasnya pelan. Ia memejamkan matanya sesaat, hingga suara Eunji menyapa pendengarannya.
"tapi bagaimana perasaanmu padanya sekarang? Kau bilang ia menyukaimu, tapi apakah kau memiliki perasaan yang sama padanya?" tanya Eunji dingin.
Wonwoo menelan ludahnya dengan kasar. Sungguh, ia bimbang. Wonwoo belum bisa dibilang mencintai Mingyu, namun bukannya Wonwoo juga tidak peduli pada pria itu. Ia hanya..
Belum siap.
"melihat keterdiaman Wonwoo, sepertinya aku tahu jawabannya." Ucap Sera.
"huh?"
"wonwoo menyukai Mingyu. Pasti."
"aku yakin seratus persen."
"benarkah itu, Wonwoo-ya?" tanya Mari.
Wonwoo tidak juga menjawab. Ia hanya mentap bingung para sahabatnya. Tapi rasanya.. ucapan Sera juga tidak salah. Ia bahkan baru menyadarinya. Benarkah? Bahwa ia menyukai Kim Mingyu? Tapi sejak kapan?
"aku…"
"huh, sepertinya Sera benar. Aku sulit mengakui ini, tapi sepertinya kau memang benar-benar sudah jatuh pada pesona pria itu, Wonwoo-ya." Ucap Eunji. Kini ia mulai merubah nada suaranya yang dingin menjadi kembali biasa.
"benarkah? Tapi sejak kapan?" tanya Wonwoo.
"yak! Kenapa tanya pada kami? Tanyakan pada dirimu sendiri, gadis bodoh!" semprot Eunji kesal. Ia meminum ocha dinginnya dengan kasar karena kesal mendengar pertanyaan Wonwoo.
"hahaha… Wonwoo-ya. Biar kubantu kau.." ucap Mari lembut,
"eotte?" tanya Wonwoo penasaran.
"apakah saat Mingyu-ssi mengatakan bahwa ia menyukaimu, hatimu berdebar-debar?"
Wonwoo tidak kunjung menjawab, membuat Mari mengganti pertanyaannya.
"hah! Biar kuganti pertanyaannya. Apakah ada saat kau menemui Mingyu-ssi, hatimu sedikit saja, merasa senang?"
Wonwoo memejamkan matanya berusaha mengingat. Yah, perlu diakui. Akhir-akhir ini jika Wonwoo bertemu dengan Mingyu, moodnya memang menjadi sedikit lebih baik. tidak, bahkan hanya dengan bertukar pesan dengan pria itu saja sudah membuat Wonwoo menyunggingkan senyumnya.
Akhirnya ia menganggukan kepalanya pelan.
"assa! Pertanyaan selanjutnya! Apakah kau menantikan saat-saat kau bisa menemuinya kembali?"
Wonwoo kembali menganggukan kepalanya pelan. Membuat para sahabatnya tersenyum penuh arti menatap dirinya.
"tidak perlu dilanjutkan. Kami sudah bisa menyimpulkan." Ucap Eunji santai sambil terus menyuapkan kimchi kedalam mulutnya.
Sera dan Mari tersenyum, mereka kemudian menggelengkan kepalanya tidak percaya akan kelakuan temannya yang sangat polos dalam urusan percintaan ini.
"kau menyukai Mingyu-ssi, Wonwoo-ya. Kami seratus persen yakin. Dan.." Mari sengaja menjeda perkataannya. Ia kini melirik Sera untuk melanjutkan ucapannya.
"dan bisa saja bahkan kini kau sudah mencintainya." Ucap Sera enteng.
Wonwoo segera membelalakan matanya tidak percaya. Ia menggeleng dengan keras. Mungkin benar bahwa Wonwoo peduli pada Mingyu, mungkin juga benar Wonwoo menyukai pria itu, namun untuk cinta… Wonwoo rasa belum sejauh itu.
"hati manusia tidak ada yang tahu, Wonwoo-ya. Sekarang kau bilang tidak menyukainya, bisa saja besok kau tergila-gila padanya." Ucap Eunji masih dengan nada santainya.
"ish! Kau menyumpahiku untuk tergila-gila padanya?!" cecar Wonwoo, kemudian sedikit memukul ringan lengan Eunji.
"hei! Kan aku bilang hati manusia siapa yang tahu?! Lagipula memang apa salahnya tergila-gila pada Kim Mingyu? Ia tampan, mapan, terkenal. Sungguh husband material yang sempurna. Apalagi ia berkata bahwa ia menyukaimu."
Wonwoo menggigit bibirnya.
"tapi aku tidak mau tergila-gila padanya."
"hmph, awas Wonwoo-ya, mulutmu harimaumu. Biasanya kenyataan akan terjadi sebaliknya dari hal yang kau ucapkan. Itu kutukan." Eunji berusaha menggoda Wonwoo. Kini ia tersenyum jenaka. Entahlah, mood wanita itu sudah lebih baik dari tadi pagi. Ia kini sudah bisa menggoda Wonwoo seperti biasa.
Yah, ia juga harus belajar bahwa para 'oppa' nya hanya manusia biasa yang juga butuh kasih sayang dari pasangan mereka masing-masing.
"ahh! Molla! Kalian membuatku semakin pusing!"
"Wonwoo-ya, tapi kau benar-benar harus berhati-hati. Adalah suatu keberuntungan identitasmu tidak terkuak disini. Tapi jika para fans itu sampai mengenali dirimu, maka habislah kau." Nasehat Eunji dalam mode seriusnya kembali.
"kau jangan menakutinya, Eunji-yah." Ucap Mari sambil menatap wajah Wonwoo khawatir.
"tidak, Eunji benar. Kau harus lebih ekstra hati-hati, Wonwoo-ya. Tinggal selangkah lagi sebelum hubungan kalian tercium public. Ani, mereka bahkan kini sudah mulai mengendus baunya. Kami hanya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika itu benar menimpa dirimu. Maafkan aku jika berlebihan, tapi kau tahu benar bahwa para netizen dinegeri ini sangat over protektif pada idola mereka, bukan?" nasehat Sera membuat Wonwoo terdiam. Ia sudah tahu akan hal ini. Namun tetap saja, diberi tahu berapa kalipun, Wonwoo tetap merinding membayangkan hal tersebut.
"yaah.. pokoknya untuk sekarang lebih baik kau mem-private semua akun social mediamu, Wonwoo-ya. Mencobalah untuk menjadi tidak semencolok mungkin. Untuk lebih jauhnya, mari kita pikirkan ini bersama-sama." Ujar Eunji. Wonwoo mengangguk mengikuti nasehat para sahabatnya. Sungguh, dalam hati Wonwoo sangat bersyukur memiliki teman seperti mereka. Entah bagaimana Wonwoo jika mereka tidak mau menjadi temannya.
.
.
.
Wonwoo membaringkan tubuhnya dengan malas diatas ranjangnya. Ia merasa sangat kesepian. Sebenarnya ia sangat bosan berada disini. Ia ingin menjenguk Jungkook, tetapi untuk sekarang, akan lebih baik apabila ia tidak pergi kemana-mana selain ke kantor untuk saat ini.
Ia jadi teringat ucapan sahabatnya tadi siang. Ia menyukai Mingyu? Benarkah? Tapi, bagaimana bisa? Memang pertanyaan itu hanya Wonwoo yang tahu jawabannya, namun ia sendiri masih bingung dengan perasaannya sekarang.
Ia memejamkan matanya. Berusaha melupakan soal ini semua. Namun tidak bisa, tangannya seolah gatal ingin mengetikkan nama Kim Mingyu di kolom situs pencarian, dan demi ketenangan jiwanya, akhirnya Wonwoo benar-benar melakukannya.
Terdapat begitu banyak berita disana. Mulai dari berita yang agak lama hingga yang ter-update, yaitu hubungan percintaan pria itu yang terkuak. Namun Wonwoo muak. Sudah cukup ia membaca segala kisah yang dibuat-buat oleh para pembuat gossip untuk mencari nafkah mereka. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka kolom gambar saja, untuk melihat wajah tampan Kim Mingyu yang belum juga memberikannya kabar seharian ini.
Wonwoo membuka sebuah gambar. Itu adalah foto Mingyu saat di acara fansign waktu itu. Saat Wonwoo salah mengenalinya. Ia masih ingat dengan jelas rupa pria itu, bahkan hingga baju yang ia kenakan saat itu.
Wonwoo mengelus layar ponselnya lembut, berusaha menyampaikan bahwa ia khawatir, bahwa ia menunggu kabar dari pria itu. Hingga pada akhirnya ia menyadari bahwa ia merindukan pria itu. Benar bahwa ia menyukainya. Pria itu, Kim Mingyu.
Wonwoo menghela nafasnya kasar. Ia men-save foto Mingyu tersebut dan menjadikan gambar itu sebagai wallpaper di ponselnya. Ia kembali memejamkan matanya, berusaha untuk tidur, namun kembali gagal karena suara dering ponselnya yang nyaring kembali mengganggu.
Tanpa melihat siapa yang menelepon, Wonwoo mengangkat panggilan tersebut. Ia menjawab dengan malas. Ia bahkan tidak repot-repot membuka matanya dan beranjak dari posisinya yang rebahan.
"yeoboseyo?"
Tidak ada jawaban. Satu detik. Dua detik. Hingga detik keempat.
"yeoboseyo? Bicaralah. Atau aku akan menutup panggilannya."
Wonwoo baru saja ingin menekan tombol merah, namun sebuah suara yang sedari tadi ditunggunya menyapa, membuat gerakannya terhenti seketika.
"annyeong."
Merasa tidak percaya akan pendengarannya, Wonwoo kembali memastikan. Kali ini ia melihat id caller yang terpampang disana, dan betapa lega perasaannya saat tahu yang menelepon adalah pria yang sedari tadi ia rindukan.
"ya! Kenapa baru mengubungi sekarang? Kau tidak tahu aku khawatir? Kenapa juga pesanku tidak dibalas?!" cecar Wonwoo pada pria diseberang sana.
Hanya terdengar suara kekehan pelan.
"mian. Aku membuatmu khawatir? Senangnya." Ucap Mingyu pelan.
Wonwoo bukannya senang saat MIngyu menelepon, tapi ia malah tambah khawatir. Pasalnya ia kini mendapatkan suara Mingyu yang terdengar sangat letih. Tidak biasanya yang selalu terdengar ceria.
"ada apa denganmu?" tanya Wonwoo.
Ia bisa mendengar dari seberang sana, Mingyu menghela nafasnya keras, kemudian tertawa hambar.
"aniya, geunyang."
"Mingyu.. apa kau sudah membaca tentang artikel itu?" tanya Wonwoo. Ia kini bahkan beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju balkon kamarnya.
"sudah. Kau pasti juga sudah, ya? Maaf ya, karena aku. Kau jadi ikut terseret dalam hal ini." Ucap Mingyu lirih membuat Wonwoo menaikkan sebelah alisnya.
"mwo? Kenapa minta maaf. Memangnya ini hal yang kau lakukan sendiri? Aku juga salah. Kita berdua yang salah, karena kurang berhati-hati. Pokoknya aku tidak mau mendengar permintaan maafmu." Oceh Wonwoo memarahi Mingyu karena tidak suka dengan pernyataan yang pria itu berikan.
Jeda sebentar tanpa ada siapapun yang berbicara, hingga suara tawa Mingyu yang biasanya kembali terdengar.
"hahaha… senang rasanya bisa mendengar suaramu seperti ini. Entah mengapa, ini adalah pertama kalinya aku merasa senang setelah dimarahi. Mungkin karena ini adalah dirimu.."
Mendengar ucapan Mingyu, Wonwoo tidak bisa berbuat apa-apa kecuali merona dan tersenyum tipis.
"Wonu-ya…" panggil Mingyu lirih.
"heum?"
"bogoshippo."
"aku ingin beranjak dari sini untuk menemuimu, tapi tidak bisa. Ingin juga melakukan video call denganmu, namun tetap tidak bisa. Intinya aku ingin melihat wajahmu, tapi aku tidak bisa." Suara Mingyu yang begitu rendah dan serak membuat Wonwoo merinding. Ia baru kali ini mendengar suara Mingyu yang seperti ini.
Wonwoo mengigit bibirnya. Ia ragu. Ia ingin mengatakan sesuatu pada Mingyu. Namun apakah ini saat yang tepat?
"nado bogoshippo."
Mingyu tidak membalas ucapan Wonwoo. Membuat Wonwoo menunggu dengan penuh antisipasi. Jujur, hatinya sangat berdebar-debar sekarang.
"syukurlah. Aku senang sekali mendengarnya."
"wonu-yah.." panggil Mingyu lirih.
"eoh?"
"aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita nanti. Aku juga tidak tahu apakah kita bisa bertemu dalam waktu dekat ini atau tidak, tapi ada satu hal yang harus kau ketahui…"
"perasaanku padamu… bukan lelucon. Aku sungguh menyukaimu. Ani, aku bahkan sudah mulai menumbuhkan rasa cintaku untukmu." Ucap Mingyu membuat jantung Wonwoo hampir berhenti berdetak. Disatu sisi, ia senang mendengar pengakuan cinta Mingyu padanya, namun disisi lain, haruskah ia menangis karena Mingyu berkata bahwa mereka sudah tidak bisa bertemu lagi?
"aku ingin berusaha jujur padamu. Yah, sesungguhnya keadaan disini tidak terlalu baik. karena berita kita, kondisi di kantor sajangnim cukup kacau. Itulah mengapa aku tidak bisa menghubungimu sedari tadi meskipun aku ingin. Aku sedang menunggu keputusan dari sajangnim, tindakan apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Maafkan aku, Wonu-ya.."
"karena aku, para member lain ikut terkena sangsi. Maka dari itu aku tidak bisa egois. Karena itulah, aku belum bisa menemuimu untuk sekarang. Kau mengerti,kan? Mereka sedang bekerja keras menutup mulut para wartawan, namun aku tidak bisa menjamin bahwa mereka akan bisa disuap semudah itu."
wonwoo bisa mendengar dengan jelas helaan nafas Mingyu, ia jadi turut merasa bersalah.
"Wonu-yah… kau mau mengerti, kan? Kita.. sebaiknya berpisah dulu untuk sementara." Ucap Mingyu, membuat dada Wonwoo serasa dihantam batu keras.
Wonwoo berusaha menguatkan hatinya. Ia berusaha tersenyum, meski percuma karena Mingyu pasti tidak bisa melihatnya.
"nan gwenchana. Memang lebih baik kita focus pada masalah ini dulu. Karena sejujurnya, aku juga tidak mau mereka sampai mengenaliku." Ucap Wonwoo berusaha membuat Mingyu tidak merasa sangat bersalah padanya.
"eum. Kau jangan khawatir. Aku akan mengusahakan bahwa identitasmu tidak terkuak ke media massa."
Wonwoo meremas piyamanya di bagian dada. Ada sesuatu yang terasa nyeri disana.
"maaf Wonu-yah.. kita tidak bisa bertemu untuk sementara. Dan kupikir… lebih baik apabila kita juga tidak berhubungan dulu selama beberapa saat ini."
Hati Wonwoo mencelos mendengar ucapan pria ini. Baru saja Wonwoo menyadari bahwa ia menyukai pria itu. Baru saja Wonwoo mengakui bahwa Wonwoo merindukannya, namun sekarang? Perasaanya harus dihempaskan ke tanah begitu saja.
Namun Wonwoo sudah berjanji pada mendiang ayahnya akan menjadi wanita yang kuat. Ia tidak menangis hanya karena masalah pria. Dan Wonwoo sudah memantapkan hatinya.
Sambil mengepalkan tangannya erat, Wonwoo berkata,
"heum. Begitu akan lebih baik. kita tidak perlu bertemu, dan tidak perlu berhubungan lagi. Kalau begitu… selamat tinggal, Kim Mingyu-ssi. Semoga kau selalu sukses."
Tanpa menunggu ucapan Mingyu selanjutnya, Wonwoo memutuskan panggilan begitu saja. Ia bahkan mematikan ponselnya, takut kalau Mingyu kembali menghubunginya.
Wonwoo kembali masuk kedalam kamarnya. Ia segera merebahkan tubuhnya kembali, dan menarik selimut hingga ke ujung kepalanya.
Wonwoo sudah memantapkan hatinya barusan. Ia tidak seharusnya menangis, namun rasanya sangat sakit. Hingga kemudian ia berkata pada dirinya bahwa ia akan menangis malam ini, untuk dirinya, untuk segala perasaannya, dan untuk semuanya yang sudah terhempas ke tanah.
Dan didalam selimutnya, diikuti dengan isak tangis yang lolos dari bibir, Wonwoo bersumpah ia tidak akan lagi jatuh untuk pesona seorang pria untuk kedua kalinya.
TBC
Huff… akhirnya selesai juga nulis chapter ini.. maaf ya, seharusnya minggu lalu ku-update, tapi apa daya.. aku lagi kena writer's block saat itu, ditambah keadaan yang gak memungkinkan, jadi yah.. dipending ampe minggu depannya deh.. *bow*
Oiya, aku juga mau sekalian minta maaf di sekuel ff good thing take time itu memang ternyata banyak banget kata yang ilang.. padahal aslinya ga gitu.
Aku juga ga ngerti kenapa, aku bikinnya memang di hp, sih. Biasanya di laptop. Dan itu memang kemarin kuupdate lewat hp juga. Tapi seharusnya ga ngaruh, kan? Kok bisa ilang ya? Dan kuperhatiin rata-rata itu missing 2 words. Huhu kesel banget : ((((
Pengen di apus, trus apdet ulang, tapi aku mager banget, jadi maafin ya, kalau kemarin itu gajelas banget. Nanti deh ya, dilain kesempatan aku update ulang yang benernya biar enak dibaca. Hehe. Minggu depan, mungkin? Ditunggu ajaa
Last but not least, review juseyooo..
