Four Brothers

Remake The Chronicles of Audy: 4R by Orizuka.

Character(s): Oh Sehun, Lu Han, and EXO members.

Pairing: SehunxLuhan, slight! Chanbaek and SuLay

Rating: T

Genre: Romance, Family, Drama, lil bit Humor, Yaoi

[Warn!] Bahasa amburadul, typo(s), boyxboy, dll.

I own nothing but this fanfic! Semua milik Tuhan Y.M.EEXO teteup milik SM.

Enjoy!

Chapter 11: What to do?

"Maldo andwae."

Luhan menggumamkan kata-kata itu untuk kesekian kalinya hari ini. Setelah kejadian luar biasa kemarin siang, ia terus coba merenungkannya sampai tidak bisa tidur semalaman. Namun, dipikir sebanyak apapun, sedalam apapun, akalnya tetap tidak bisa menjangkaunya.

Sehun, bocah genius itu, menyukai Luhan, namja yang kurang genius—okelah, tidak genius—ini? Dua kata: apa-apaan?

Apakah harus diperjelas lagi kalau Luhan itu namja tulen? Yah, walaupun tampangnya mungkin lebih cantik dari yeoja lain (Luhan tidak bermaksud membanggakan wajahnya atau apa), tapi ia tetap saja namja! Kalau Sehun itu genius, harusnya dia tahu itu!

Berbagai kemungkinan melayang-layang di otak Luhan sejak kemarin. Mungkin, Sehun salah mengisi inhaler-nya dengan pengharum ruangan. Mungkin, dia terlalu stres belajar. Atau mungkin, dia hanya menjajal candaan terbaru versi robot rusaknya.

Kemungkinan terkini yang ia pikirkan pagi ini adalah: mungkin, air danau kemarin itu mengandung halusinogen.

"JESPER!"

Atau mengandung Jesper.

"Eh?" Luhan tersadar begitu pikirannya melantur. Seorang wanita lewat di depannya dengan kecepatan maksimum, meninggalkan wangi parfum yang bikin sesak napas.

Saat ini, Luhan sedang menunggui Ziyu dan sepertinya, kelasnya baru saja bubar. Meskipun begitu, Luhan tak paham kenapa ahjumma itu harus menyambut anaknya sedemikian heboh.

"Jesper! Kenapa kamu, Nak?"

Luhan menyipitkan mata ke arah kelas Ziyu. Jesper tampak mengucek mata di pintu kelasnya, sementara ibunya berlutut di depannya. Perasaan Luhan tiba-tiba jadi tidak enak.

"MWO? ZIYU?"

Mendengar nama Ziyu, punggung Luhan langsung menegak. Sejurus kemudian, Ziyu muncul dari dalam kelas, memandang dingin Jesper yang ternyata sedang menangis. Jangan bilang...

"Luhan-ssi !" panggil Sooyoung saem.

Luhan segera mengumpat dalam hati, tapi tetap memasang senyum. Dengan langkah kaku, ia menghampiri mereka. Di dalam, teman-teman sekelas Ziyu sudah mengerubungi pintu, tampak penasaran pada Jesper yang masih tersedu-sedu.

"Tadi, Ziyu sama Jesper bertengkar," kata Sooyoung saem hati-hati.

Luhan menghindari tatapan sengit ibunya Jesper, lalu berlutut di depan Ziyu. "Zi. Ada apa?"

Ziyu balas menatap Luhan tanpa ekspresi. "Aku cuma kasih pinjem ini," katanya sambil menunjukkan sebuah benda warna-warni. Sebuah kubik-rubik tiga kali tiga. "Geundae, dia nggak bisa mainnya."

Luhan menatap kubik-rubik itu, lalu mengerjap ke arah Ziyu. Well. Anak umur 4,5 tahun mana yang bisa main kubik-rubik?

"Terus...pas Jesper mau minjem lagi, Ziyu nggak ngebolehin dan bilang itu karena Jesper..." Sooyoung saem tidak meneruskan perkataannya dan menatap Ziyu ragu. Luhan bisa melihat arah pembicaraan ini dan bersyukur Sooyoung saem tidak melanjutkannya, tapi tentu saja, kenyataan tidak selalu sejalan dengan rencana.

"Karena Jesper bodoh," cetus Ziyu, mungkin mengira Sooyoung saem menyuruhnya untuk melanjutkan kalimat tadi.

Luhan memejamkan mata, lalu menoleh takut-takut ke arah ibunya Jesper yang sudah balas menatapnya dengan mata berkilat-kilat. Sebelum beliau sempat mengamuk, Luhan menganggukkan kepala. "Jeosonghamnida."

"Kenapa minta maaf?" tanya Ziyu, membuat Luhan kembali menatapnya. "Aku nggak sopan?"

"Nah, itu tahu," sambar ibu Jesper. Wanita itu mendelik Luhan judes, lalu kembali menatap Ziyu. "Dasar anak nggak tahu sopan santun!"

Ibu Jesper bangkit, lalu menggendong anaknya pergi. Di belakang Luhan, para ibu yang lain ternyata sudah berkumpul dengan tampang sama sengitnya. Luhan minggir untuk membiarkan mereka menjemput anak-anak mereka, lalu melipir bersama Ziyu ke arah ayunan.

Ziyu duduk di ayunan sambil mengamati kubik-rubik di tangannya. Luhan menatapnya, lalu duduk di ayunan sampingnya. Mulut anak itu sudah mengerucut. Kakinya bergoyang-goyang.

"Zi," kata Luhan setelah menarik napas panjang. "Kamu bukan nggak tahu sopan santun. Kamu cuma...belum tahu. Kita bisa belajar. Ne?"

Ziyu mengutak-atik kubik-rubiknya. "Tadi aku salah?"

Luhan menatap anak itu lama. "Ziyu. Kadang...walaupun ada hal-hal yang menurutmu benar, lebih baik kamu simpan di dalam hati. Atau sampaikan dengan cara yang lebih baik."

Ziyu akhirnya menoleh ke arah Luhan. Wajahnya tampak bingung.

"Misalnya yang tadi. Kamu tahu kalau Jesper nggak bisa main kubik-rubik. Tapi, kamu nggak harus kasih tahu alasannya di mukanya," kata Luhan lagi. "Sebaliknya, kamu bisa bantu ngajarin dia. Itu jauh lebih sopan."

Ziyu berkedip-kedip, mungkin sedang mencoba mencerna ucapan Luhan. Luhan sendiri bisa memahami perasaan Jesper, berhubung ia juga pernah mengalaminya. Ia tahu ia bodoh, dan ia tidak perlu orang lain untuk memberitahunya juga. Mungkin ada beberapa orang yang secara reguler mengingatkannya—ya, Sehun dan anak di sampingnya ini—tapi karena Luhan sudah mengenal mereka, ia tidak sakit hati. Namun, Jesper? Dia pasti sakit hati, apalagi ibunya. Lebih-lebih, Jesper tidak bodoh. Ziyu saja yang jauh lebih pandai untuk anak-anak seusianya.

"Jadi, aku harus gimana?" tanya Ziyu lagi.

Luhan mengamati Ziyu lagi, lalu tersenyum. "Besok, minta maaf sama Jesper. Terus, ajarin dia main kubik-rubik. Otte?"

Ziyu manyun. "Tadi dia juga nggak ngerti-ngerti. Percuma."

"Atau nggak, cari mainan lain yang lebih gampang dimainin?" usul Luhan, membuat Ziyu berpikir.

"Ah." Wajahnya berubah cerah. "Besok aku bawa Scrabble."

"Nggak, nggak Scrabble," kata Luhan segera, nyaris putus asa. "Gimana kalau...Tamiya?"

Ziyu mengerutkan dahi, lalu mengangguk. "Sasisnya harus diganti dulu tapi."

Luhan ikut menggangguk-angguk, walaupun tak yakin mengetahui apa yang Ziyu maksud.

Kenapa untuk permainan sesimpel mobil-mobilan saja ada istilah rumit begitu, sih?

...

Permasalahan Ziyu-Jesper tadi membuat Luhan hampir lupa dengan pernyataan cinta Sehun, sampai ia melihatnya di rumah sebelum makan siang. Luhan sedang memanaskan sup saat dia muncul di ruang keluarga, lengkap dengan maskernya.

Luhan segera terpaku, teringat kejadian Plato di jemuran itu. Setengah mati, Luhan berharap Sehun membuka masker itu lalu mengatakan 'kemarin aku mimpi buruk' karena Luhan pasti bakal langsung mengamininya, tapi itu tidak terjadi. Setelah membuka maskernya, Sehun tersenyum ke arahnya.

Luhan ulangi, ter-se-nyum.

Yah, walaupun tidak seperti yang orang normal lakukan (dia hanya mengangkat sedikit salah satu bibirnya), tetap saja, dia tersenyum.

Di luar kendali Luhan, ia merinding. Sehun adalah orang paling serius yang pernah Luhan temui. Sehun tidak pernah bicara kecuali mengenai hal yang menurutnya penting. Kalau dia tegas mengatakan dia menyukai Luhan, artinya, dia memang menyukai Luhan (walaupun dia butuh belajar teori Plato untuk mengetahui alasannya).

Luhan kewalahan. Maksudku, aku tidak pernah ditaksir orang genius (apalagi seorang namja), yang cukup tampan (meski terlalu muda), yang kebetulan tinggal di rumah yang sama denganku. Yah, memang secara teknis kami tinggal di bangunan yang berbeda, tapi tetap saja,kami harus bertemu setiap ha—

"Wae?"

Suara berat Sehun menghentikan racauan-dalam-hati Luhan dan membuatnya berjengit. Kepalanya tiba-tiba terasa tak bermassa. Luhan tidak tahu harus menjawab apa—ia bahkan mungkin akan bingung kalau ditanyakan nama.

"Em...itu.." Luhan melotot melihat Sehun menghampirinya, lalu segera menyingkir secara sangat tidak santai dari jalannya. Dalam usahanya itu, Luhan menyenggol panci sup. Nyaris saja mereka gagal makan siang kalau ia tidak sigap menangkap gagangnya.

Sehun yang ternyata hanya mau mengambil gelas, sekarang menatap Luhan bingung. Luhan sendiri menggaruk keningnya yang tak gatal, lalu cepat-cepat memindahkan isi panci itu ke dalam mangkuk sayur.

Selagi ia pura-pura sibuk dengan sup, Sehun melangkah ke dispenser. Luhan pikir situasi sudah aman dan ia bisa menghela napas lega, tapi ia malah mencium wangi peppermint. Begitu ia menoleh, Sehun sudah ada di sampingnya, berjarak kurang dari setengah meter, menatap mata rusanya lekat-lekat.

Luhan hanya bisa membatu, sampai akhirnya Sehun mengulurkan tangan dan mematikan kompor yang ternyata masih menyala. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia meletakkan gelas bekasnya di bak cuci, lalu meninggalkan Luhan yang masih menahan napas.

Luhan sadar benar kalau barusan, ada yang aneh dari sikap Sehun. Alih-alih mengkritiknya seperti biasa, dia mematikan kompor itu untuknya tanpa banyak omong.

Harusnya Luhan merasa senang seorang Oh Sehun bersikap sopan kepadanya, tapi kenyataannya, ia malah merasa ngeri.

Sebenarnya, Plato mengajarkan apa sih?


Hidup Luhan setelah ditembak Sehun praktisnya tidak sama lagi. Ia jadi merasa canggung tiap kali berada seruangan dengannya. Belum lagi, Luhan harus berakting seolah tidak terjadi apa-apa di depan saudara-saudaranya. Dan itu melelahkan.

Satu-satunya hal yang bisa menghibur Luhan dalam beberapa hari terakhir ini adalah Ziyu dan Jesper. Ziyu sukses minta maaf kepada Jesper walaupun kelewat chic (dia bilang 'mian' tanpa nada, lalu melengos sebelum mendengar jawaban Jesper). Akan tetapi, Jesper yang masih lugu tidak menyimpan dendam. Begitu Ziyu menawarkan diri untuk membantunya meningkatkan perfoma Tamiya-nya, Jesper langsung setuju. Sejak itu, mereka jadi akrab.

Yah, kalau Ziyu menjelaskan nama seluruh spare part Tamiya dan Jesper cuma manggut-manggut dengan pandangan kosong bisa dibilang akrab, sih.

Di sekolah Ziyu, perhatian Luhan mungkin bisa teralihkan. Namun, begitu sampai di rumah dan tiba saatnya makan siang atau malam, Luhan akan kembali merasa cemas.

Seperti saat ini misalnya, saat mereka sedang makan malam. Sehun sesekali meliriknya sembari membaca buku (Luhan harap bukan Plato), sementara Luhan berusaha keras untuk tidak menatapnya. Luhan bahkan tidak menatap mata siapapun kecuali mata ikan kembung goreng yang ada di piringnya.

"Pokoknya misinya tambah seru."

Sedari tadi, Chanyeol mengoceh soal game yang tidak Luhan pahami. Hanya Ziyu yang bisa terhubung dengannya secara sempurna. Suho cuma sesekali mengangguk sambil makan dengan gayanya yang berkelas.

"Lu." Chanyeol tahu-tahu memanggil, membuat Luhan refleks menoleh. "Kamu mau main Halo, nggak? Nanti aku ajarin."

"Hello...mwo?" gumam Luhan, tak tahu apa yang dibicarakannya. Tepat pada saat itu, sudut mata Luhan menangkap pandangan Sehun. Cepat-cepat, ia kembali menunduk.

"Oh iya, Lu," kata Suho, membuat Luhan mendongak. "Kemaren aku bantuin pedagang keripik singkong yang dituduh bawa lari handphone polisi, dan tadi dia ngasih keripik banyak banget. Tadi pas aku pulang kamu nggak ada, jadi aku simpen di lemari dapur yang atas, ne. Siapa tahu kamu mau."

Luhan mengangguk-angguk, tidak tahu apa-apa soal keripik. Memang, sudah beberapa hari ini, ia sedapat mungkin meminimalisir kehadirannya di rumah utama. Luhan masih belum tahu bagaimana harus bersikap terhadap remaja tampan bin genius yang menyukainya.

"Eh, Lu." Sekarang, giliran Ziyu yang memanggilnya. Sedapat mungkin, Luhan menoleh ke arahnya tanpa mencuri-curi pandang ke arah Sehun. "Nanti cariin '*Pom Na Tu Ri', ne."

Sesaat, Luhan merasa itu permintaan yang konyol, tapi ia segera sadar kalau dia sedang membicarakan judul lagu.

"Ah. Oke." Sang pemuda manis menyanggupi, lalu kembali pura-pura sibuk dengan ikan kembungnya yang terasa hambar.

Atau mungkin itu hanya ia yang tidak bisa masak.

"Luhan."

Seluruh bulu roma Luhan meremang ketika suara berat itu akhirnya terdengar. Kenapa dia harus ikut-ikutan memanggilku, sih?, gerutunya dalam hati.

Walaupun sungkan, Luhan mengangkat kepalanya. "N-ne?"

Serentak, Suho, Chanyeol, dan Ziyu menengok ke arahnya. Luhan tahu, barusan ia menjawab Sehun kelewat formal, tapi ia sedang kebat-kebit dan itu membuatnya tidak bisa berpikir jernih.

Seperti memahami itu, Sehun meletakkan bukunya, lalu menatap Luhan lurus-lurus. "Skripsinya gimana?"

"Aah, skripsi," kata Luhan cepat-cepat, lalu membasahi bibir plumnya begitu sadar kalau ia tidak punya jawabannya. "Skripsi, yah..."

Begitu Sehun mengangkat alis, Luhan mengalihkan pandangan. Sebenarnya, ia ingat soal skripsi. Ia ingat, tapi ia kehilangan semangat untuk mengerjakannya setelah urgensi itu tiada. Maksudnya, sekarang perekonomian keluarganya sudah membaik. Luhan juga bisa tinggal dan makan gratis di rumah ini. Intinya sih, ia terlena. Luhan tidak pernah bilang ia anak teladan, kan?

"Aku pernah janji untuk bantuin kamu skripsi," kata Sehun lagi. "Jadi, ayo dikerjain."

"Nggak usah," tolak Luhan segera, merinding membayangkan momen-momen berdua saja dengannya. "Kamu sebentar lagi ujian, kan? Kamu belajar aja.."

Tanpa sengaja, Luhan membaca judul buku yang sedang Sehun baca. Molecular Physics and Elements of Quantum Chemistry. Luhan memang tidak cerdas, tapi ia tahu itu bukan buku pelajaran anak SHS.

Sehun sepertinya mengetahui isi kepala Luhan. "Setelah ini, ne."

Tidak. Tidak setelah ini, tidak kapan pun. Tidak selama dia masih menyukaiku dan aku masih belum tahu bagaimana harus menyikapinya!—batin Luhan panik.

"Minggu depan!" sahutnya, terlalu stereo sehingga membuat Chanyeol tersedak nasi. "Sekarang, kamu belajar aja dulu—terserah belajar apa. Belajar tentang molekul-molekul itu juga boleh. Minggu depan, baru deh."

Sehun tidak langsung menyetujui ide Luhan dan malah mengamatinya dengan dahi berkerut. Luhan sendiri berjanji dalam hati untuk menemukan cara menghadapinya sebelum minggu depan.

Di sampingnya, Chanyeol masih terbatuk sambil memijat tenggorokan. Wajahnya tampak merah dan matanya berair. Mereka menatapnya, tapi tak satupun bertindak karena siapapun tahu dia suka bikin heboh.

"Du..Duri." Chanyeol memberi tahu di sela batuknya, membuat Luhan melebarkan mata, sadar kalau dia sedang tidak bercanda. Ia segera bangkit, meraup nasi dari mangkuk, mengepalkannya, lalu tanpa basa-basi lagi, menjejalkannya ke dalam mulut Chanyeol yang sedang terbuka.

"Telan!" perintah Luhan. "Jangan dikunyah, langsung telan!"

Chanyeol sepertinya malah mau muntah, tapi Luhan membekap mulutnya dan memaksanya untuk menelan nasi itu. Setelah dia berhasil menelannya dengan susah payah, Luhan melepas mulutnya. Chanyeol segera menyambar gelas dan minum banyak-banyak. Luhan menepuk-nepuk punggungnya simpati.

"Gwaenchana?" tanya Suho, yang seperti biasa tampak khawatir kalau menyangkut kesehatan adik-adiknya.

Chanyeol mendesah lega setelah menghabiskan isi gelasnya. "Aigoo, kupikir aku mau mati."

"Lebay," komentar Ziyu, membuat Chanyeol menoleh ngeri ke arahnya. Chanyeol lalu menggeleng-geleng, matanya terpejam.

"Aku sudah gagal melindunginya," ucap Chanyeol sambil memegang kepala, seolah ada kamera yang sedang menyorotnya. "Akhirnya dia tahu juga kata itu."

Luhan bisa paham perasaan Chanyeol. Teman-teman Ziyu (terutama si Jesper) mengenalkannya beberapa kata yang mereka dapatkan dari Drama. Ziyu, si mesin fotokopi unggul, menyerap semuanya tanpa terkecuali.

Tahu-tahu, mereka dikagetkan oleh suara kursi yang didorong secara kasar. Sehun bangkit, tampak tak peduli dengan segala sesuatu itu dan membawa mangkuk dan piring kotornya ke bak cuci. Saudara-saudaranya melanjutkan makan sambil mengobrol soal liga-sesuatu, tapi Luhan menoleh cemas ke arah Sehun. Sehun tidak pernah selesai makan duluan.

Luhan mengangkat mangkuknya, lalu menghampiri Sehun yang sedang mencuci piringnya.

"Aku aja, Hun." Luhan mengulurkan tangan, bermaksud mengambil alih piringnya. Namun, dia malah bergeser dengan gerakan menyentak.

Luhan menatap Sehun bingung, tapi dia menghindari tatapannya. Setelah beres mencuci piring, dia meraih lap dan mengeringkan tangan, lalu pergi begitu saja. Luhan memandanginya sampai dia menghilang di balik pintu kamarnya. Ada apa dengan bocah itu?

Luhan menelengkan kepala, lalu memutuskan untuk mulai mencuci piring. Tepat pada saat itu, tahu-tahu saja, ia mengerti apa masalahnya. Luhan sudah sering menyusahkannya, bahkan dua kali mencoba membunuhnya, tapi saat dia menawarkan diri untuk membantunya, Luhan malah menolaknya.

Luhan menatap pintu kamar Sehun, lalu melirik tiga saudaranya yang sudah selesai makan dan sedang bergerak ke sofa untuk menonton bola. Luhan menggunakan kesempatan ini untuk membuat secangkir cokelat hangat.

Sementara Suho, Chanyeol, dan Ziyu asyik memprediksi pertandingan, Luhan mengendap membawa cokelat itu ke kamar Sehun. Ia mengetuk pintunya pelan, lalu membukanya sambil menarik napas dalam-dalam. Wangi peppermint membantu menenangkannya sedikit, tapi begitu Luhan melihat punggung tegap Sehun, ia kembali deg-degan.

"Wae?" tanya Sehun tanpa menoleh.

Luhan melangkah masuk, lalu menutup pintunya. Setelah memantapkan hati, ia mendekati Sehun. Dia ternyata masih membaca buku molekul-apalah-itu yang tadi.

Dengan sekali gerakan cepat, Luhan meletakkan gelas yang dibawanya ke meja belajar Sehun, lalu segera melangkah ke tempat tidur dan mengambil bantal—berjaga-jaga kalau Sehun melemparnya dengan gelas itu. Namun, Sehun tidak memberi reaksi apa-apa dan tetap fokus ke bacaannya.

Luhan mengamatinya selama beberapa saat, lalu duduk di ranjangnya. Melihat Sehun membaca buku serius dalam sikap sempurna di meja belajar membuatnya sakit punggung, selain tentunya sakit kepala.

Kemudian, ia teringat masalah yang harusnya ia bahas.

"Mianhae, Sehun-ah," kata Luhan, lalu menyadari kalau ia selalu mengatakan itu setiap berada di kamar ini. "Bukannya aku nggak mau ngerjain skripsi, tapi...minggu depan. Aku janji."

Sehun bergeming. Mata elangnya masih tertancap pada buku yang terbuka, dahinya berkerut dalam. Meskipun begitu, kakinya mulai bergoyang-goyang. Kalau dipikir-pikir lagi, tempo hari dia juga pernah terlihat gelisah seperti ini. Sindrom menjelang ujian? Atau betulan karena halusinogen?, pikir Luhan.

"Sehun—"

"Bisa, kamu nggak masuk ke kamar ini lagi?" cetus Sehun tiba-tiba, menghentikan Luhan dari pemaparan teori danau-mengandung-halusinogen.

Luhan terdiam sebentar untuk mencerna ucapannya tadi, tapi ia tak memahami apapun. Karena mungkin salah dengar, Luhan bertanya, "Gimana, Hun?"

Sehun menarik napas dalam-dalam, dan pada saat itulah, Luhan sadar kalau dia belum membalik halaman bukunya dari sejak ia masuk. "Jangan masuk ke kamarku lagi."

"Geundae... wae?" tanya Luhan, bingung. "Kamu marah karena aku nggak mau ngerjain skrip—"

"Aniya, bukan itu," potong Sehun lagi, masih tanpa membalas tatapan Luhan. "Sekarang...bahaya."

"Bahaya apanya?" Luhan mulai merasa takut Sehun sudah benar-benar kehilangan kewarasannya karena ujian—atau halusinogen, terserahlah. "Neo gwaenchanayo?"

"Aku nggak baik-baik aja," jawab Sehun. "Makannya, jangan bikin tambah parah."

Oke. Mungkin ini bukan semacam obrolan yang biasa terjadi di debat Fisika, tapi tetap saja Luhan tidak mengerti.

"Maksudnya apaan sih?" desak Luhan.

Sehun sendiri berhenti menggoyangkan kaki. Dia mengenggam pinggiran bukunya erat-erat. Rahangnya mengeras.

"Kamu...terlalu banyak makai oksigen," katanya akhirnya.

"Ha?"

Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Luhan setelah beberapa lama keheningan.

Akan tetapi, Sehun menolak untuk menjelaskan lebih lanjut. Luhan seperti diharapkan untuk memecahkan sandi dalam kalimatnya tadi, tapi tentu saja, ia TIDAK bisa. Harusnya Sehun yang paling tahu itu.

"Sehun. Mungkin kamu harus periksa ke dokter?" saran Luhan. "Atau psikolog?"

Sehun mendesah keras-keras, seperti menyesal sudah mengajak ngobrol orang dungu.

"Pokoknya," kata Sehun lagi, dengan nada setengah mengancam, "Jangan masuk-masuk kamarku lagi."

Luhan menatapnya lama, lalu akhirnya mengedikkan bahu. "Geurae. Terserah kamu aja."

Sehun tidak bergerak sedikit pun saat Luhan berderap ke arah pintu. Luhan melempar tatapan sebal padanya sebelum keluar, lalu menutup pintu kamarnya keras-keras. Ia pun tidak mengindahkan protes orang-orang karena ia lewat tepat pada saat terjadi gol keseratus dalam karier pencetaknya. Masa bodoh dengan gol itu, Luhan cuma ingin segera sampai ke paviliun dan berteriak.

Kenapa sih aku harus berurusan dengan seorang remaja labil? Aku sendiri belum cukup stabil!

.

.

.

To be Continued...


*Pom Na Tu Ri (Springtime outing): lagu anak-anak korsel.


Say hello to sehun yang jadi labil. ;)))

Saya kelamaan ga sih updatenya? Kalo kelamaan, saya minta maaf. Sebentar lagi uts, jadi saya harus belajar yang rajin n tekun :'''3 #yakali. Ini kehitung sebagai hunhan moment ga? kalo enggak, saya minta maaf sekali lagi. Saya ga mungkin update dua chap sekaligus—bukannya ga mungkin sih, mlz sebenernya hehe *senyum innocent*.

Disini ga bakal ada kaisoo, mian. Dan insiden (?) adek luhan itu...sebenernya saya juga mikir setelah ada readers yang review 'bungsunya ziyu kan~', dan saya baru nyadar pas nge post chapter 3, kayaknya ada yang aneh. Terus saya balik baca chapter 1, dan saya nyadar kalo saya malah nulis haowen adek nya luhan. :''''))) yah, karena saya udah terlanjur nge post, saya biarin deh. Udah terlanjur, hiks. Beda itu baik kan, heuheue. Soal mereka jadian atau enggak, ditunggu aja ya~

Salam HHS,

-Ann