iyeyt!
chapp 11.
ohohoo.
chap ini begitu...,
ahahahahahaa

terima kasih reader & reviewer...
ya aloooh...
100 loh...
-happy tears-
perkiraan awal cuma 50-an aja...

yang minta kenalan di review...,
nice to know you too...
:)

WARNING
OOC,
OC,
drama queen author,
dan kejelekan akut yang masih belum juga ilang.

ONWARD!!


"Ini ramen-mu, teme...", Naruto memberikan sebungkus ramen instan kepada sosok sahabatnya yang berdiri di depan pintu apartemennya...

...pada jam 2 pagi.

"Hn."

Sasuke berjalan menjauh tanpa mengucapkan terima kasih. Naruto tidak memprotesnya. Mereka berdua masih terlalu mengantuk untuk menyadari sepenuhnya 'transaksi' kecil itu.

Apa yang membuat Sasuke meminta ramen pada frenemies-nya di dini hari buta...?

Well, pinky has the answer...

flashback—

Sasuke berusaha untuk tertidur di sofa. Sudah hampir sejam ia hanya berganti-ganti posisi, mencoba untuk nyaman di sofa yang tidak begitu besar itu. Meski sekarang Sakura dan dirinya sendiri sudah 'mengakui' perasaan satu sama lain, tapi tetap saja, Sasuke berpikiran kolot dan memilih untuk tidur di sofa daripada satu ranjang dengan Sakura.

Tentu saja ini hanya sampai bayinya lahir dan mereka menikah setelahnya...

Ditariknya selimut sampai ke dagu, dan ditenggelamkannya kepala ke bantal. Sedikit-sedikit, matanya terasa berat...

"Sasuke-kun...?"

Aku tertidur...

"Sasuke-kun..??"

Aku tertidur..., ini hanya mimpi...

"Sasuke...!!"

Jangan berbalik...

"UCHIHA SASUKE!!"

Dengan panggilan itu, Sasuke berbalik cepat, mendapati Sakura berdiri di samping sofa tempatnya tidur. Dua tangan Sakura terkepal.

"Ya...?", Sasuke berpura-pura terbangun dari tidur.

"Aku lapar...", kemarahan Sakura begitu cepatnya menghilang. Sasuke bergeser dan Sakura duduk di sebelahnya, tangannya mengusap perutnya yang sudah besar.

"Hn...?"

"Bukannya 'hn'...!! Ambilkan makanan...!"

Sasuke menghela nafas, "Kau ingin makan apa.. Hmp!", Sasuke memotong tanyanya...

...terlambat.

"Aku ingin...", Sakura melihat ke atas, seakan jawabannya ada di langit-langit rumah.

Pelan, Sakura melihat ke arah Sasuke. Dengan senyum lebar yang membuat Sasuke menelan ludah.

"...ramen..."

Sasuke terdiam.

Dia ingin apa..??

"Sasuke-kuuun!!", Sakura menarik lengan baju Sasuke, "Ramen...!!"

"Hn... Sakura... Ichiraku pasti sudah tutup...", Sasuke berusaha mengalihkan perhatian Sakura dengan mengusap rambut pink-nya.

Biasanya, usapan itu akan berhasil...

Tapi kali ini tidak...

Poor Sasu... :P

"Aku. Ingin. Ramen. Sekarang."

Sasuke menghela nafas. Lagi.

Ditatapnya Sakura, yang mulai menangis...

Damn that mood-swing...

"Kau tidak suka ya, aku memintaimu tolong...??", Sakura melihat Sasuke dengan mata berkaca-kaca, "Jangan-jangan kau juga tidak suka aku ada di sini..."

Sasuke membuka mulut untuk berkata 'tidak', tapi lalu Sakura berbicara lagi.

"Bukan aku yang mau ramen..., tapi bayinya..."

Sasuke merasa sudah dipukul dengan keras, tepat pada bagian 'perasaan'.

flashback end—

And that's how the avenged prince search for ramen by 3 in the morning...

...for the begining of a long-long-long day.

Sasuke berjalan menuju ruang keluarga yang masih diterangi lampu. Ia memegang ramen instan di tangannya. Sebelum masuk, ia menarik nafas panjang. Berusaha untuk tidak terlihat kesal di depan Sakura.

Ia berjalan masuk.

"Sakura...?"

"Oh, hai, Sasuke-kun...!"

Sasuke tersenyum melihat ibu dari anak-anaknya kelak sudah ceria kembali.

"Aku sudah dapat ra...-"

"Coba tebak...!"

Sasuke menaikkan alis.

Jangan bilang...

"Aku tidak lapar lagi...!", Sakura berkata diikuti tawa.

Sasuke flinch.

Like I always said...; patience Sasuke-kun... 'Cause we all loooove pregnant Sakura who's make you soooo weak... ;p


Sakura merapikan dress-nya sekali lagi. Ia berdiri di depan sebuah cermin tinggi dan melihat pantulan dirinya. Sesekali terlihat alisnya berkerut.

"Sakura...?", Sasuke masuk ke kamar besar itu.

"Oh, Sasuke-kun...", Sakura hanya melihatnya sebentar, lalu sibuk bercermin lagi.

Sasuke berjalan mendekat, "Apa yang kau lakukan...?", katanya seraya duduk di kasur.

Sakura menghela nafas, menggigit bibir bawahnya. Ia berbalik menghadap Sasuke.

"Apa aku gendut...??"

Hening.

Sasuke's right eye twitch.

"Sasuke-kun... Aku gendut tidak...??"

Saat itu juga, Sasuke teringat nasihat Kakashi beberapa hari yang lalu.

Jangan buat wanita kecewa...

"Tidak... Kau tidak gendut..."

Sakura berbalik ke arah cermin.

"Ah, ini sih gendut namanya!", katanya sambil mencubiti lengannya sendiri.

"Tidak, Sakura... Kau tidak gendut..."

"Gendut...!"

"Tidak..."

"Geenduuut!!"

"Tidak, Sakura..."

"GENDUT!!"

Sasuke berusaha menahan marah, "Kau hamil, Sakura... Wajar kalau kau gen-"

"JADI MENURUTMU AKU GENDUT??"

What a pity-poor-weak daddy Uchiha...

"Kau JAHAT!!", Sakura berteriak, "KELUAR!!"

Dan ketika Sasuke sadar, pipinya sudah lebam...


Sasuke memegangi bagian mukanya yang masih terlihat kebiruan. Ia mendesis kesakitan.

Catatan penting...; berhati-hati pada Sakura yang sedang hamil...

Sebelah tangan Sasuke meraih ke dalam kulkas dapurnya. Mengeluarkan semangkuk es. Ia lalu membawanya ke ruang keluarga, bersama dengan sehelai handuk kecil.

Dibungkusnya beberapa es dengan handuk, pelan-pelan ia menempelkannya pada pipinya.

"Sasuke-kun..??", Sasuke berbalik sedikit kaget, membuat kompresan itu mendadak tertekan ke arah lukanya. Ia mengerang kesakitan sebelum menjawab.

"Ada apa, Sakura...?"

Sakura ber-oh melihat Sasuke yang meletakkan kompresan dan memasang muka kesakitan. Ia lalu berjalan ke arah pria yang beberapa jam lalu ia beri bogem mentah.

"Maaf, ya...", Sakura menggeser tangan Sasuke yang menutupi lebam itu. Dengan hati-hati, Sakura mengalirkan chakra ke pipi Sasuke.

"Nah..., sudah... Bagaimana...?"

"Hn... Terima kasih...", Sasuke membereskan kompresannya dan berdiri.

"Aku benar-benar minta maaf, Sasuke-kun...", Sakura mengulang permintaan maafnya.

"Hn.", Sasuke memiringkan badan, mencoba melewati kaki Sakura.

Tapi tangannya tertahan oleh tangan Sakura. Dan Sasuke harus menahan diri agar tidak menimpa Sakura ketika tangannya ditarik.

Ke perut Sakura.

"Bayinya yang menyuruhku minta maaf...", Sakura berkata pelan.

Sasuke melihat mata Sakura, lalu ke arah perutnya. Ia menaruh kompresan dan mangkuk es itu di meja. Dan duduk rendah di hadapan Sakura yang bersandar di sofa. Didekatkannya kepala ke perut Sakura.

"Aku sudah memaafkan ibu...", Sasuke seakan bicara pada bayinya, "Seperti ia memaafkan ayah berulang kali..."

Sakura tersenyum pada perkataan Sasuke.

And they kiss...


"Jadi..., apakah namanya sudah ditentukan...?", Ino bertanya pada Sakura yang sedang memilih bunga di tokonya.

Sakura tersenyum, "Kami belum membicarakannya..."

Ino terlihat kecewa, "Hm... Aku rasa kalian harus sudah mulai mempersiapkannya..."

Sekali lagi, Sakura tersenyum, "Tentu saja... Tapi nanti..."

Ino shrugged.

"Hei, kau sudah dengar tentang bayi Taira...??"

Sakura berbalik, "Kenapa dengannya...?"

Ino mendengus, "Ia terlihat mirip sekali dengan ayahnya..."

"Ayahnya...? Maksudmu...", Sakura berjalan mendekati meja kasir.

"Oh! Panjang umur..."

Bel pintu berdenting.

"Yo."

tbc-


ohohohohohohoho.
pasti udah pada tau doong, siapa ayahnya...?
ya kan ya dong bener kan bener doong??
-susi OB-
:p

hmm.
maaf chap ini begitu pendek dan garing...

dan,

ya.

adegan 'gendut' itu terinspirasi (atau meng-copy) dari salah satu scene di Jomblo.

VOTE/POLLING
nama bayi SasuSaku...??
kasih di review, plus arti dari namanya...

nama cewe – cowo ya...
biar milihnya ga bingung.
:)

review, please...?
xo xo ,
Yvne F.S. Devolnueht