Holaaaa! Ren kembali! Akhirnya! Ren tahu ini update terlama, hikshiks. Selama enam bulan terkahir ini Ren benar-benar berusaha keluar dari WB. Ren benar-benar gak nyangka akan selama ini. Ada beberapa alasan sebenarnya selain WB; ffn error! Seriusan Ren gak bisa buka ini web di hape atau PC lebih dari lima bulan. Ini aja udah ke-6 kalinya Ren ganti kartu dan baru bisa buka beberapa minggu terkahir ini. Ini juga bikin Ren sulit untuk balas Review secara langsung. Untuk itu chapter ini Ren buat lebih panjang, semoga gak mengecewakan. Terimaksih banyak untuk semua pembaca setia yang udah mau mampir untuk sekedar fav, follow, dan review! Ren sangat, sangat menghargainya. Itu semua seperti bahan bakar yang ngebuat Ren terus ingin ngelanjutin ini fic. *Deepbow*

Love u all ;)


Yosh! Balasan Review chap 10 :

hanazawa kay : Yep... dikit lagi bersatu thank's reviewnya

Angel Muaffi : Seiring waktu Naruto bakal ingat kok. Uh, utk ItaKyuu itu...maunya Ren juga bersatu kok.

Nauchi KirikaRE22:Yep! Lanjut!

Lee Kibum :Hahaa gak usah terburu-buru bacanya... updatenya aja kaya siput gini. Ini aja Ren masih berusaha keluar dari WB. Yosh! Semangat!

Vianycka Hime : Seiring berjalannya cerita mereka pasti bersatu kok #Woi! Gak kok. Ren di sini gak akan buat Naru sebego itu. hehe

Ayuni Yukinojo: Kelainan? Uh, gak separah itu kok. Tapi bukannya Kyuubi itu emang udah kelainan dari awal ya? #dibakarKyuubi

Namika Imamura : Sampai tuntassss

minae cute Aaminnn... Go Uchiha brothers! :D

gici love sasunaru : Ren bayangin Fugaku aja ampe merinding.. #brrr

Katsu : Salam kenal Katsu. Sasori hanya bertindak sesuai perintah author aja kok ;) akan jelas seiring berajalannya cerita :D Uh, Emang rumit banget ya? Padahal Ren pinginnya ini cerita nyantai aja gitu... Ren juga bingung kenapa jadinya complicated gini. Haaaa... otak Ren emang ruwet sih..

mifta cinya :Yep Lanjut. Iya Naru sakit kepala. Haha.. pengennya SasuNaru bersatu.. tungguin aja.

: A-Ahahaha... maaf Fic Ren NO LEMON. Gak sanggup buat hehe. Tapi kalo Ethi mau, ethi yang buat bole kok, entar Ren yang baca ;)

Aki-Ame Kyuuran: Harapan Aki terkabul nih.. Chap ini seriusan panjaaaang... Fiuh. SasoDei Cuma main*cough*dikamar*cough*. Seiring berjalannya waktu.. hehe

Yamaguchi Akane : Penyakit Kyuu yang jelas gak parah kok. Untuk sementara SasuNaru genjatan senjata. Dan chapter ini kayanya lebih panjaaang.

.5: Wow... Naru bakalan ingat kok seiring berjalannya cerita #digepak.

margritFlow : Yep! Lanjutttt...

: Itu quote sama sekali gak Ren prediksi loh padahal.

Yun Ran Livianda : Uh.. maaf ya lama... Saso hanya belum mengenal Dei yang sebenarnya.

RisaSano : Haha Phobia? Pilihan kata yang bagus. Oke ini lanjuttt

yunaucii : Makin ruwet, soalnya isi kepala Ren juga Ruwet hehe. Gak kok.. SasoDei Cuma cium sana-cium sini.. hehe.

RaraRyanFujoshiSN : Salam kenal juga .. oke ini lanjuttt

mimi1301 : di chapter ini terjawab kok

ayuki siFHujo: Oke nexttt

rizkhachanmoe : Thank you :D #hughug

pertiiwiie : Oke Lanjuttt... :)

Jasmine DaisynoYuki : Yep! Lanjutt

Typeacety95 : Thank you Yep.. Ganbatte!

alta0sapphire : Oke lanjutt

.vikink : emang di lanjut kok..

Guest : Maaf lama... di Warning kan udah di kasih tahu OOC sangat oke.. ini lanjutt..

shiroi.144 : Iya lanjuut kok nih..

Yuzuru Nao : iya maaf lama.. :(

BlackXX : Hahaha.. gak masalah.. ini juga ngaret updatenya.. maaf ya... Sasu tau kok.

ukkychan :Yep lanjutt


Naruto © Masashi Kishimoto

Allergy or Love written by RenJeeSun

Rated: M (for Theme)

Genre: Romance, Hurt/Comfort.

Pairing: SasuNaru. Itakyuu. SasoDei.

warning: AU, Yaoi, BL, OOC (SANGAT), OC, typo bertebaran, bahasa kasar.

Well, if you Don't like, don't read!

::A::C::SN::J::S::

.

::A::C::SN::J::S::

.

Semua ini benar-benar di luar kendalinya. Semuanya kacau. Sungguh, jika beberapa hari yang lalu ada seseorang yang mengatakan bahwa seorang bajingan akan jatuh cinta padanya ia pasti akan menertawakannya. Namun sekarang ia bahkan tidak bisa berpikir untuk tertawa.

Sesuatu di dalam hatinya tahu apa yang dirasakan Sasuke padanya adalah serius. Di suatu sudut dalam pikirannya sudah sejak lama ia tahu Sasuke memang menyukainya. Naruto tahu, namun ia tidak ingin mengakuinya. Karena semua terasa aneh dan bias. Perasaan Sasuke padanya membuatnya merasa tidak aman dan takut. Satu-satunya yang bisa ia pikirkan sekarang adalah berlari sejauh mungkin dari perasaan itu. Layaknya seorang pengecut. Ia tahu itu, tapi ia juga tidak bisa menghentikkan kakinya.

Walaupun ia sudah merasa napasnya mulai sesak, paru-parunya terasa terbakar karena kekurangan udara akibat berlari entah berapa lama, kakinya mulai terasa mati rasa, hingga akhinya ia menyerah dan berhenti sepenuhnya, mengatur napasnya yang putus-putus. Ia melihat sekeliling yang hanya lagi-lagi di kelilingi pepohonan. Untuk sejenak ia hanya diam berdiri.

Ia melihat ke atas ketika merasakan tetesan air yang jatuh tiba-tiba. Hujan turun dengan derasnya.

Ia memaki.

Tidak bisakah ia lebih sial dari ini?

Naruto menoleh ke segala arah mencari tempat berteduh dan tersentak ketika merasakan seseorang mencengkram erat pergelangan tangannya untuk kemudian menariknya berlari.

Sasuke? Naruto menatap bingung punggung laki-laki itu.

Ia terlalu lelah untuk protes, kakiknya tetap menjejak langkah yang sama dengan Sasuke yang terus saja berlari di depannya tanpa sepatah kata pun. Hingga akhirnya mereka berhenti di kuil tua yang mereka kenal.

Naruto tersengal-sengal di samping Sasuke yang berusaha menyeka air di wajahnya. Sesungguhnya Naruto masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Banyak pertanyaan berputar dibenaknya. Sebenarnya apa yang Sasuke lakukan di sini? Kenapa dia menyusulnya? Apa yang sebenarnya Sasuke inginkan darinya?

Merasa napasnya sudah kembali normal Naruto berjalan menjauh dari Sasuke. Bersandar pada dinding kayu, duduk dengan memeluk kedua lututnya. Sasuke mengkuti Naruto dengan duduk dengan jarak satu meter darinya, menumpu satu tangannya dengan satu lutut yang di tekuk sebatas dada. Keheningan canggung menyelimuti mereka. Naruto hanya berharap hujan cepat berlalu. Karena ia bisa merasakan tubuhnya yang menggigil akibat hujan. Berefek pada hidungnya dan kemudian bersin tanpa bisa di cegah.

Sasuke melirik ke arahnya, melihat kondisi Naruto yang gemetar kedinginan. Ingin sekali dia merapatkan tubuhnya dan memberikan kehangatan pada tubuh ramping itu. Tapi Sasuke tahu, sekarang hal itu bukan sesuatu yang akan Naruto terima dengan senang hati. Satu-satunya hal yang bisa terpikirkan olehnya saat ini adalah mengalihkan pikiran Naruto dari alerginya yang mulai kambuh.

"Kenapa kau sangat membenciku?"

Naruto tersentak, menoleh pada Sasuke yang menatapnya datar, namun tidak menutupi keseriusan dalam pertanyaannya. Naruto membuka mulutnya, namun tak ada satu pun kata yang keluar. Ia menutup mulutnya dan kembali memandang pepohonan di kejauhan. Ia mengulang pertanyaan Sasuke dalam benaknya. Seharusnya ia bisa menjawabnya dengan mudah, laki-laki ini sangat menyebalkan, sombong, licik, tidak tahu malu, mesum, dan suka sekali membuatnya marah. Tapi setelah dipikirkan kembali itu bukan alasan yang kuat untuk membenci seseorang. Itu semua memang sudah sifatnya alaminya. Memang seperti itulah dirinya. Lagipula bukan sifat Naruto untuk membenci kepribadian seseorang. Naruto sadar ia tidak benar-benar membenci laki-laki ini.

"Aku tidak tahu." Naruto mengernyit. "Mungkin aku tidak benar-benar membencimu, tapi aku tetap tidak menyukaimu."

Sasuke mengangguk, cukup puas dengan jawaban itu. Selama ini ia memang sedikit tidak tenang dengan sikap Naruto yang memang kelihatan sangat membencinya. Sejujurnya Sasuke sendiri tidak mengerti mengapa Naruto bersikap seperti itu padanya. Dia memang suka menggodanya namun Sasuke tidak pernah sekalipun mencoba menyakiti atau melukainya. Jawaban itu membuat hatinya lega, jika seperti itu ia bisa mengerti, well memang tidak banyak orang yang menyukainya.

"Apa kau serius dengan perkataanmu tadi?" Naruto balik bertanya, masih tidak mau menatap Sasuke.

"Yang mana—" Sasuke mengerjap, "Oh itu. Tentu saja aku serius. Mana mungkin aku main-main dengan perasaanku sendiri," jawabnya dengan sangat mantap.

"Kalau begitu apa warna favoritku?"

Sasuke hanya menatapnya, tidak mengerti dengan arah pembicaraan ini.

Naruto menghadapnya kali ini, "Kau tidak tahu?" Ia mengernyit dalam. "Aku tidak mengerti bagaimana bisa kau mengatakan kau mencintaiku, jika menjawab pertanyaan semudah itu saja kau tidak bisa."

"Itu tidak ada hubungannya—"

Naruto mendengus kasar, "Jangan berikan omong kosong itu padaku! Bagaimana bisa kau mencintai orang yang tidak kau kenal? Siapa yang sebenarnya kau cintai? Seriously, apa yang sebenarnya kau harapkan ketika kembali ke kota ini?"

Ketika tidak ada jawaban dari Sasuke Naruto melanjutkan, "Apa kau berharap bahwa Naruto yang kau kenal sepuluh tahun lalu itu akan menyambutmu dengan pelukan hangat?" —Tubuh Sasuke mendadak kaku, sejujurnya ia memang berpikir seperti itu—"Aku memang tidak mengingatmu, tapi aku mengenal siapa diriku, meskipun aku tidak mengingat hubunganku—apapun itu—denganmu sepuluh tahun lalu, aku tetap tidak akan bersikap lebih baik dari ini. Kau bajingan. Aku rasa siapa pun itu tidak akan mudah menerimanya."

Sasuke merasa ditampar dengan keras dan hanya bisa mematung di tempat. Seumur hidup baru kali ini ia merasa malu dengan predikatnya.

Naruto menghela napas, ia tahu bahwa ia telah melukai laki-laki di hadapannya, tapi itulah kenyataannya. Sasuke harus menerimanya; Naruto yang dicintainya sudah tidak ada. "Aku rasa kau tidak benar-benar mencintaiku. Kau mencintai Naruto yang berada di dalam ingatanmu." Inilah yang membuatnya tidak pernah percaya dengan semua perkataan Sasuke sejak awal. Sasuke tidak akan pernah benar-benar mencintainya jika yang dia inginkan adalah Naruto dalam ingatannya.

"Tidak, kau salah. Aku mencintaimu." Sasuke memaki dalam hati ketika suara yang keluar terdengar tidak yakin, bahkan untuk telinganya sendiri.

Naruto memicingkan mata padanya. "Mulai sekarang, menjaulah dariku. Atau aku bersumpah, aku akan benar-benar membencimu." Lalu Naruto berdiri, dan berlari menerjang hujan.

"Naruto!" Sasuke memanggilnya.

Naruto tak mengubris panggilan itu sama sekali. Semuanya sudah berakhir. Ini keputusan yang terbaik. Naruto akan mendapatkan kembali kehidupan normalnya, seperti sebelum bajingan itu memasuki hidupnya. Kehidupan yang Naruto tidak lagi yakin ia masih menginginkannya.

Ia tertawa, mengejek dirinya sendiri. Ketika merasakan kekosongan dalam hatinya. Perasaan yang sangat ia kenal. Naruto tahu mengapa perasaan seperti itu kembali ia rasakan; ia sudah mulai terbiasa dengan sosok bajingan-angkuh itu. Dan kali ini perasaan itu lebih kuat dibandingkan ketika Sakura meninggalkannya.

Dua minggu. Naruto meringis. Dua minggu waktu yang diperlukan bajingan itu untuk mengacaukan seluruh perasaannya.

"NARUTO! KEMBALI!"

Suara Sasuke berubah putus asa, Naruto tetap tak mendengarkan dan semakin berlari menghilang dari pandangan. Sasuke menyumpah-nyumpah, ia ingin sekali mengejar Naruto, namun pergerakkannya terhalang. Ia tidak dapat bergerak, kakinya tersangkut pada lubang di lantai kuil yang terbuat dari kayu tua. Sewaktu berdiri untuk mengejar Naruto ia tidak sadar bahwa lantai kuil tersebut terlalu lapuk menahan bobot tubuhnya, mengakibatkan lantai berlubang dengan kakinya yang tak dapat di angkat, ia bisa merasakan serpihan kayu menggores betisnya. Ia hanya berharap goresan itu tidak dalam. Dan memaki dalam hati ketika mengingat smartphone-nya tidak ia bawa.

.

::A::C::SN::J::S::

.

Hujan semakin deras turun, membasahi setiap kaca jendela. Sudah sejak setengah jam lalu Kyuubi tidak beranjak dari tempatnya. Menatap tetesan hujan yang menerpa kaca jendela di hadapannya. Ia telah menyaksikan kejadian seluruhnya. Dari semenjak Naruto melakukan perkelahian konyol di halaman belakang sampai ia berlari memasuki hutan. Dan tanpa diinginkan ia kembali mengingat saat Uchiha Itachi memandangnya cukup lama dari kejauhan di halaman tersebut. Tatapan datar itu seolah ingin melihatnya jauh sampai ke dasar jiwanya. Yang membuatnya bergidik setiap kali mengingatnya. Sampai sekarang ia masih bisa merasakan dengan jelas jejak-jejak panas di tubuhnya akibat perlakukan bajingan itu beberapa waktu lalu. Tubuhnya mengingat setiap detail sentuhan yang diberikan Itachi padanya. Dan ia membenci dirinya sendiri karena itu.

"Kenapa kau tidak mengakuinya saja kalau kau masih mencintainya."

Kyuubi mengerjap kaget, lalu berbalik menatap sepupu pirangnya. "Siapa yang menyuruhmu masuk kamarku tanpa izin?"

Deidara mengangkat bahu, "Ada tulisan 'welcome' di bawah pintumu," katanya, nyengir lebar.

Kyuubi menyipit tajam, tidak termakan lelucon itu, "Pergi dari kamarku, aku tidak ingin bicara denganmu."

"Oh ya ampun, kau masih marah padaku?"

Kyuubi mendengus, "Kau masih perlu bertanya?"

"Ayolah Kyuu... aku sudah merenungi kesalahanku semalam, maafkan aku, ya?" Deidara memasang raut memelas, yang sayangnya tak pernah berhasil jika berhadapan dengan laki-laki di hadapannya.

Kyuubi memutar matanya, malas menggubris sepupunya yang lagi-lagi mengabaikan perintahnya dan malah menyamankan diri di kasurnya. Kyuubi berjalan ke arah kulkas kecil di kamar itu dan mengambil sekaleng minuman. Ketika Deidara sadar ia melupakan sesuatu.

"Kau mengalihkan pembicaraan!" Deidara memandang kesal Kyuubi.

"Sejak kapan urusan pribadiku jadi pembicaraan?" sengit Kyuubi.

Deidara memberengut seketika.

"Lagipula, daripada kau mengemis maaf dariku, bukankah kau punya kegiatan lain yang lebih menyenangkan dengan 'mainan' barumu?"

Dediara mengenyit bingung, "Huh? Apa yang kau bicarakan?"

"Lelaki yang kau ajak kemari. Dia itu mainan barumu, kan?" Kyuubi melirik Deidara dari balik kaleng minumannya.

Wajah Deidara berubah masam, beralih menatap karpet di bawah kakinya yang tiba-tiba terasa lebih menarik, "Jangan bicarakan itu. Dia bukan mainan."

Kyuubi menyeringai melihat sikap Deidara yang mendadak muram. Tentu saja ia tahu jika pria itu bukan mainan, terlebih setelah apa yang di lihatnya tadi pagi. Tapi tetap saja itu tidak menghentikan Kyuubi untuk menggoda sepupunya.

"Bukan? Kau tidak sedang mengatakan kau jatuh cinta pada pria lembek dan bodoh itu kan?"

Seketika Deidara mengangkat kepalanya berhadapan dengan seringai Kyuubi yang selalu membuatnya kesal. "Kenapa jadi membicarakan tentang aku?" ketusnya, walaupun ia bisa merasakan pipinya memanas.

"Kalau kau merasa tertanggu, kenapa kau tidak keluar dari kamarku sekarang juga?" tuntut Kyuubi.

"Astaga! Kau tahu tidak seberapa menyebalkannya kau akhir-akhir ini?" sungut Deidara kesal, ia hanya ingin mencari pengalih perhatian sebentar saja dari hubungannya dengan Sasori yang semakin tidak jelas, tapi sepertinya Kyuubi benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama. Tentu saja Deiedara tahu jika mood buruk Kyuubi di sebabkan oleh Uchiha sulung.

"Sebenarnya ada apa denganmu dan Itachi, huh!?" Deidara meledak, kesabarannya sudah habis menghadapi suasana tegang yang sejak dua minggu lalu terus saja mengganggunya. Ditambah masalahnya dengan Sasori. Kondisi ini membuat tekanannya meninggi. "Sejak makan siang tadi sikapmu semakin menyebalkan. Kalau kau sudah tidak memilki perasaan apa-apa lagi padanya seharusnya kau tidak perlu sewot seperti itu! Tapi kalau sebaliknya, kenapa kau tidak temui saja dia sekarang dan katakan sejujurnya! Just fuck him already!"

Untuk sejenak Kyuubi menatapnya tanpa berkedip. Sedikit kaget dan tidak percaya Deidara berani membentaknya. Mungkin ini pertama kalinya, biasanya jika menghadapi sikap keras kepala Kyuubi dia hanya menyerah dan pergi tanpa bicara apa-apa lagi.

"Kau tahu. Itu bukan sikap yang baik untuk kau perlihatkan padaku loh, Deidara-kun," kata Kyuubi memandang Deidara tak suka.

Deidara menegang, ia menelan ludah paksa ketika mendengar senandung lembut nan berbahaya dari cara Kyuubi menyebut namanya.

"Ah, aku mengerti, itu kah yang kau lakukan tadi pagi bersama pria itu? Begitukah caramu menunjukan rasa cintamu; 'Just fuck him'?" Kyuubi mengerutkan hidungnya jijik. "Wow! Kau benar-benar tahu caranya menjadi 'penakluk', iya kan?"

Sekejap wajah Deidara berubah merah padam, tidak menyangka Kyuubi melihat kejadian tadi pagi. Jika seperti ini Deidara yakin Kyuubi akan selalu mengungkit hal itu dan mempermalukannya setiap sepupu kejamnya itu memiliki kesempatan. Sial! Ini sih menggali lubang kubur sendiri namanya! Terlebih kenapa Kyuubi harus mengingatkannya tentang Sasori!? Deidara kembali galau.

Sejenak Deiara hanya terdiam, menatap kosong padanya. Lalu ia menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Kyuubi. "K-kau melihatnya?" tanyanya pelan, suaranya bergetar.

Kyuubi mengerutkan keningnya melihat perubahan sikap Deidara yang mendadak aneh. "Aku hanya tidak sengaja lewat dan mendengarmu menyatakan cinta pada pria itu," jelas Kyuubi sedikit kebingungan. Ia pikir Deidara akan marah padanya karena menguping, tapi pemuda itu malah melakukan hal sebaliknya.

Setelah beberapa saat Kyuubi memerhatikannya, ia menghela napas, "Kau benar-benar menyukainya, huh?" kata Kyuubi berusaha terdengar lebih bersimpati, meskipun tidak meyakinkan. Walaupun ia suka sekali menjahili sepupunya yang satu ini bukan berarti ia tidak menyayanginya. Deidara merupakan salah satu sepupu favoritnya. Melihatnya beraura suram seperti ini membuatnya sedikit kasihan juga. Karena ia sadar kali ini Deidara serius dengan perasaanya pada pria berambut merah itu.

Kejadian tadi pagi berulang dalam benak Deidara. "Aku tidak hanya menyukainya, Kyuu. Tapi aku mencintainya... dan rasanya menyakitkan." Deidara mengakui pelan, suaranya nyaris tidak terdengar. Ia bisa merasakan pandangannya mengabur, mengepalkan tangannya erat, dan berusaha keras menahan air mata yang siap tumpah.

Kyuubi terkesiap ketika Deidara kembali menatapnya dengan mata berkaca-kaca, "The Hell! Kenapa wajahmu itu!? Kau menangis karena pria lembek itu?" ia benar-benar tak habis pikir. Sejak pertama kali melihat Sasori, bagi Kyuubi laki-laki itu tidak ada menariknya sama sekali. "Hentikan itu! Astaga! Kau bukan wanita! Kau tidak cocok berwajah cengeng seperti itu. Pria seperti itu seharusnya kau singkirkan jauh-jauh. Bukannya kau tangisi!"

Sesaat Deidara terdiam menatapnya, lalu terbahak, melihat Kyuubi yang kebingungan hanya karena melihatnya menangis, "Astaga! Wajah panikmu itu lucu sekali," ia menghapus air matanya dengan cepat, lalu terkekeh pelan. "Sejujurnya, kau orang terakhir yang kurahapkan untuk menghiburku."

Kyuubi mendengus, bersyukur dalam hati karena Deidara tidak jadi menangis, "Itu tidak menjelaskan mengapa sejak awal kau memilih kamarku untuk meratapi nasib cintamu yang menyedihkan."

"Apa aku sudah mengatakan betapa menyebalkannya dirimu?"

"Uh-huh."

Deidara cemberut, ia memeluk lutunya di depan dada. "Hei Kyuu, menurutmu apa yang akan terjadi selanjutnya?" tanyanya kemudian.

"Apa maksudmu?"

"Kau sudah melihatnya sendiri bukan, Sasuke benar-benar menyukai Naruto. Melihatnya sekali saja semua orang juga langsung tahu."

"Aku tidak mau membahasnya." Sergah Kyuubi kasar.

"Menurutmu ingatan Naruto akan kembali?"

"Damn it! Deidara!" Kyuubi memandang marah sepupunya itu. "Kau mau aku mengatakannya berapa kali, hah!? Tidak bisakah sehari saja kau tutup mulutmu itu?"

"Kau tidak bisa menghindari ini selamanya, aku pikir Naruto tidak akan meninggalkanmu, bagaimana pun kau kakaknya," ujar Deidara keras kepala.

"Yang benar saja! Kau tahu seperti apa perlakuanku padanya saat itu, dia membenciku."

Deidara membuka mulutnya kembali, namun Kyuubi sudah terlebih dulu mengangkat tangan untuk menghentikannya. "Jangan katakan apa pun lagi, tutup mulutmu, dan keluar dari kamarku sekarang juga."

Deidara memasang wajah keras kepalanya, di balas Kyuubi dengan sama keras kepalanya, hingga akhirnya Deidara melemparkan kedua tangannya ke udara dengan kesal.

"Fine!" bentaknya dan keluar kamar sambil menghentakkan kaki. Tak peduli jika tingkahnya seperti anak kecil. Dan membanting pintu kamar Kyuubi sekeras mungkin.

Belum sempat bernapas lega, Kyuubi mendengar pintu kamarnya di ketuk, dengan langkah kesal Kyuubi menuju pintu dan membukanya secara kasar.

"APA LAGI!?"

"Kau tahu, marah-marah seperti itu tidak baik buat kesehatan loh," komentar si Tamu tak diundang dengan bijak. Kyuubi mendelik pada tamu yang tidak lain adalah Itachi, ekspresinya terlihat sangat terhibur.

"What the fuck are you doing here!?"

Itachi mengangkat sebuah nampan berisi makanan di hadapan Kyuubi, tidak merasa terganggu sama sekali oleh sikap galak Kyuubi. "Aku membawakanmu makanan. Tadi siang kau sama sekali tidak menyentuh makananmu."

Sesaat Kyuubi memandang Itachi kosong, lalu mengerjap, dan mengernyit, "Tidak butuh," katanya dan menutup pintu kamarnya kembali dengan bunyi keras.

Itachi memutar bola mata dan mengangkat bahu singkat, "Aku meletakkan makanan ini di depan pintu!" serunya, tahu bahwa Kyuubi mendengarkan.

Itachi berbalik hendak pergi, namun langkahnya sedikit terhuyung ketika tiba-tiba seseorang menabraknya. Dengan sigap Itachi menahan lengan orang yang menabraknya.

"Naruto?" alis Itachi bertaut. Merasa cemas ketika melihat keadaan Naruto yang basah kuyub dengan hidung dan mata merah. "Kau baik-baik saja?"

Naruto menatapnya dengan tidak fokus, lalu menoleh ke arah pintu yang mendadak terbuka. Itachi ikut menoleh dan melihat Kyuubi berdiri dengan raut bingung.

"Naruto? Darimana saja kau?" kata Kyuubi merasa heran dengan kedatangan Naruto yang tidak terlihat baik.

Itachi mengalihkan pandangannya kembali pada Naruto, "Di mana Sasuke? Dia tidak bersamamu?" Itachi melihat ke arah datangnya Naruto, tapi tidak menemukan tanda-tanda adanya Sasuke.

Naruto menggeleng, dan berkata lirih, "Aku—dia di kuil." Lalu menyingkirkan tangan Itachi di lengannya dan berlari menuju kamarnya. Menghiraukan Kyuubi yang berteriak memanggil namanya.

"Naruto! Buka pintunya!" Kyuubi berusaha membuka pintu kamar Naruto yang telah di kunci dari dalam. "Naruto! Jelaskan padaku apa yang terjadi!"

Keributan itu memancing Deidara dan juga Sasori yang tidak jauh bergegas menghampiri mereka.

"Ada apa? Kenapa kau menggedor kamar Naruto, Kyuu?" tanya Deidara heran, di sampingnya Sasori juga sama herannya. Tapi pertanyaan itu tidak digubris Kyuubi yang masih melanjutkan aksinya menggedor pintu.

"Naruto!" Merasa kesal Kyuubi memberikan tendangan pada pintu yang terbuat dari kayu ek itu. Itachi mendekatinya dan memberikan sentuhan ringan di pundaknya, nyaris membuat Kyuubi melompat.

"Apa!?" Sentak Kyuubi kaget. Sekilas ada kilatan tak terbaca dari mata Itachi ketika melihat reaksi Kyuubi.

"Tenanglah, untuk sementara biarkan dia sendiri. Percuma saja kau memaksanya. Kau bisa menyuruh seseorang membawakanya handuk dan minuman hangat atau apa pun untuk mencegahnya jatuh sakit. Aku lihat dia benar-benar basah kuyub tadi." Mendengar perkataan Itachi ada benarnya, tanpa berkata apa-apa Kyuubi pergi menuju dapur.

Setelah Kyuubi menghilang dari pandangan Itachi dengan gerakan cepat mengambil smartphone-nya dan menekan tombol untuk kemudian menelpon seseorang, namun hanya di jawab oleh suara operator. Mengernyit heran Itachi, ia beralih pada dua orang yang masih menunggu penjelasan.

"Sasuke tidak pulang bersama Naruto, aku rasa dia mendapat masalah," jelas Itachi pada dua orang di depannya.

"Apa maksudmu dia mendapat masalah?" tanya Deidara.

"Aku juga tidak tahu, tapi Sasuke tidak mungkin membiarkan Naruto pulang sendirian. Jadi aku pikir dia mungkin mendapat masalah. Aku akan mencarinya. Kalian sebaiknya bantu Kyuubi saja." Dengan itu Itachi bergegas keluar rumah.

"Sepertinya hidupmu penuh dengan drama, ya?" komentar Sasori begitu Itachi tidak terlihat lagi. Deidara hanya menghela napas, dan beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Sasori yang menatap kepergiannya dengan sorot mata tak terbaca.

.

::A::C::SN::J::S

.

Satu jam kemudian keributan kembali terjadi. Beberapa pelayan berlarian menuju pintu utama dan terkesiap kaget ketika melihat Itachi sedang bersama Sasuke yang sedang di bawa dengan sebuah tandu oleh dua orang pekerja peternakan.

"Cepat panggilkan Tsunade! Lalu ambilkan selimut dan air hangat!" perintah Itachi mengagetkan pelayan yang masih dalam keadaan syok. "Kenapa kalian masih di sini!? Cepat pergi!" Mereka langsung bergegas memenuhi perintah itu.

Sasuke dengan hati-hati di baringkan di sofa ruang duduk. Hanya berselang semenit Itachi telah mendapatkan apa yang diminta. Ia menyelimuti Sasuke dengan selimut tebal, lalu mengambil gunting dan langsung menggunakannya untuk memotong celana jins Sasuke yang telah berlumuran darah segar. Dengan begitu ia bisa memeriksa jelas luka yang diderita Sasuke.

"Itu hanya goresan kecil," kata Sasuke berusaha terlihat tenang berbanding dengan kondisi tubuhnya yang mengigil dan wajah pucat pasi.

"Goresan? Kakimu tertusuk!" ujar Itachi, tak habis pikir bagaimana adiknya itu bisa menganggap luka di kakinya hanya sebuah goresan, padahal jelas-jelas betis kanan Sasuke tertusuk oleh sepotong papan berdiameter sekitar lima sentimeter. "Bagaimana bisa kau ceroboh seperti ini? Aku kan sudah mengingatkanmu untuk berhati-hati di kuil itu."

Sasuke mengerang keras, "Berhentilah mengomel. Kau membuatku sakit kepala," kata Sasuke, memijit keningnya.

Itachi memberikan tatapan tajam padanya. Lalu ia mengulurkan tangan untuk menyingkirkan tangan Sasuke dari keningnya dan menggantinya dengan tangannya sendiri.

"Kau demam," kata Itachi, merasakan betapa panasnya kening Sasuke. Ia mengalihkan pandangannya pada para pelayan, "Di mana Tsunade!?" kata Itachi mulai tak sabar.

"Di sini," jawab Tsunade yang langsung mendekati Sasuke. Ia datang bersama Kyuubi, Deidara dan Sasori dan pelayan yang membawakan selimut dan air hangat yang diminta Itachi, dan langsung memberikannya pada Sasuke. Berbeda dengan ketiga laki-laki yang hanya mematung di tempat dengan segala kepanikan yang ada di ruang tamu. Karena memang tidak ada yang bisa mereka lakukan ketika melihat keadaan yang terjadi.

Tsunade memerhatikan kondisi Sasuke dengan seksama. Lalu, "Cepat bawa dia ke klinik, kita perlu melakukan operasi kecil untuk mengeluarkan potongan papan itu secepat mungkin sebelum terjadi infeksi," katanya.

"Apa dia akan cacat?" tanya Kyuubi.

Kedua Uchiha menatap kaget padanya, yang dibalas tatapan polos oleh Kyuubi, seolah ia tidak mengatakan sessuatu yang membuat kedua jantung Uchiha berhenti berdetak untuk sesaat, mereka langsung beralih menatap Tsunade yang menatap tajam pada pria berambut oranye itu dan memberikan jawaban tegas.

"Tidak. Sasuke tidak akan cacat. Ini hanya luka kecil."

Kyuubi mengangkat bahu singkat, "Sayang sekali," katanya tanpa rasa bersalah.

Tsunade memberikan pukulan pada kepalanya, Itachi menghela napas dan Sasuke memutar bola matanya.

"Kenapa kau memukulku!?" Kyuubi melotot tajam padanya sambil mengusap kepalanya.

"Apa itu sakit?"

"Tentu saja!"

Tsunade tersenyum, "Bagus. Memang itu tujuannya." Ia beralih pada Itachi, "Aku akan mengambil peralatanku di kamar. Itachi kau bawa Sasuke ke mobil. Kita akan membawanya ke klinik desa." Perintahnya dan berlalu ke lantai dua, mengabaikan Kyuubi yang memberengut masam.

"Aku heran kenapa kau tidak bisa menjaga mulutmu selama lima menit tanpa mengeluarkan racun."

Kyuubi menatap tajam Deidara yang balas memandangnya dengan tatapan sinis. "Apapun yang kulakukan dengan mulutku itu bukan urusanmu."

"Tapi kau baru saja berharap anak itu cacat."

Kyuubi mengangkat sebelah alisnya, "Intinya?"

"Itu tidak baik, tidak berperasaan... kau kejam."

Kyuubi menyipitkan mata padanya, "Dipihak siapa kau sebenarnya?"

Deidara mengangkat bahu, "Kalau Kushina mendengarnya dia tidak hanya sekedar memukul kepalamu," katanya memberikan alasan yang memang sesuai dengan kenyataan.

"Damn straight!" ujar Kyuubi tajam, melotot marah, "Sudah kuduga kau yang melakukannya! Aku tidak percaya memliki sepupu tukang gosip sepertimu."

Awalnya Deidara bingung dengan apa yang dibicarakan Kyuubi, namun kemudian mendadak sikap Deidara berubah gugup, ia membuka mulut ingin membantah tapi tatapan tajam Kyuubi langsung membuatnya berubah pikiran, "Aku bukan tukang gosip!" protesnya lemah, diliputi dengan rasa bersalah, ia tidak berani menatap mata Kyuubi.

Suara Kyuubi sedingin es, "Kau tukang gosip. Kau bahkan lebih parah dari Ino. Kau kan yang mengadu pada Kushina tentang semua orang yang aku kencani? Kau menjadi mata-mata untuk wanita itu."

"Uh, tapi itu karena mereka semua menjengkelkan," ujarnya berusaha memberikan alasan. Lalu mengerutkan kening keras kepala. "Lagipula kenapa kau harus memilih wanita-wanita itu? Jelas-jelas mereka tidak pantas untukmu. Mereka terlalu serakah, berisik, dan bodoh. Seharusnya kau bersyukur bisa lepas dari mereka."

Kyuubi menatapnya datar, "Sudut pandangmu tidak bisa dijadikan alasan kenapa aku tidak bisa berkencan dengan para wanita itu."

"Kenapa tidak?"

"Kau gay," tukas Kyuubi dengan raut wajah tak berubah.

Deidara memutar bola matanya, "Yeah? Aku memang gay. Dan mungkin aku perlu mengingatkanmu jika mantan pacarmu sekarang berada di ruangan yang sama dengan kita. Dan dia laki-laki."

Kyuubi melirik orang yang dimaksud, jujur saja ia nyaris lupa jika Itachi masih ada bersama mereka. Kedua Uchiha itu menatapnya dengan sorot terhibur, lalu ia kembali menatap Deidara. Jika tatapan bisa membunuh, sejak tadi Deidara sudah tergeletak bersimbah darah di lantai.

"Aku bukan gay. Aku lebih tertarik dengan wanita. Dan wanita-wanita itu tidak serakah, mereka realistis. Tidak berisik, tapi mencoba menarik perhatian. Walaupun terkadang terlihat bodoh tetapi mereka Sexy. Dan aku mendapatkan 'imbalan' yang pantas dengan berkencan dengan mereka."

"Aku setuju dengan kalimat terakhir Kyuubi." Itachi memberikan suara tanpa diminta.

Kyuubi memutar bola matanya. Tentu saja, cibir Kyuubi dalam hati.

"Kalian menjijikan." Deidara meringis jijik. "Seharusnya kalian kembali bersama saja. Kalian sangat cocok untuk satu sama lain."

"Akhirnya ada seseorang yang sependapat denganku, " kata Itachi, tersenyum senang.

Kyuubi menatap tajam Itachi, "Itu tidak akan pernah terjadi," tukasnya dingin.

Sudut bibir Deidara berkedut mendengarnya, ia melirik Itachi yang kali ini sedang menatap Kyuubi dengan sorot penasaran, bukan kesal seperti yang ia kira. Tanpa bisa ditahan ia bertanya, "Kenapa tidak?"

"Iya, kenapa tidak?" Sasuke ikutan bertanya, sejenak melupakan kondisinya tubuhnya. Baginya perdebatan ini lebih menarik.

"Aku tahu jika dia bukan pria sempurna untukmu. Hell, kita semua tahu dia bajingan. Tapi aku berani bertaruh jika hanya kau satu-satunya orang yang bisa membuat Itachi melakukan apa saja. Termasuk membuang semua predikatnya itu. Lagipula kalian memiliki banyak kesamaan. Aku rasa kalian pasangan yang lebih dari cocok, jadi kenapa kau tidak ingin kembali berasama Itachi?" Sasuke sama sekali tidak peduli jika objek yang dibicarakan tepat berada di depan mereka.

"Way thank you, brother," gerutu Itachi. Merasa benar-benar tak dianggap.

Jika Deidara membuat Kyuubi ingin membunuhnya hanya dengan tatapan, maka kali ini Kyuubi ingin menguliti bungsu uchiha untuk kemudian membunuhnya secara perlahan. Ia bisa merasakan amarah menguasainya, tidak ada yang lebih membuatnya kesal daripada seseorang yang membicarakan kehidupan cintanya, terlebih di depan mukanya sendiri.

"Shut up! Itu sama sekali bukan urusan kalian. Perdebatan ini seharusnya tidak pernah ada!"

"Itukah yang sedang kita lakukan?" tanya Itachi dengan nada bingung, yang membuat semua mata beralih padanya dengan tatapan bertanya.

Kyuubi mengernyit, "Apa yang sedang kita lakukan?"

"Apa kita sedang berdebat sekarang?"

"Tentu saja, kau pikir kita sedang apa?"

"Menjalin keakraban."

Kyuubi memutar bola matanya malas. "Hanya kau yang berpikir seperti itu."

"Benarkah?" tanya Itachi, menatap satu persatu orang yang ada. Deidara dan Sasori hanya bisa memberikan tatapan aneh padanya, dan Sasuke yang sudah kebal dengan sikap random Itachi hanya menghembuskan napas.

"Abaikan dia," kata Sasuke, yang mendapat gerutuan dari Itachi.

"Yeah, dan bukannya Tsunade menyuruhmu untuk membawanya ke mobil? Untuk apa kau masih di sini, Uchiha?"

Sebelum sempat Itachi menjawab Deidara berkata, "Bilang saja kalau kau ingin mengelak." Kembali pada pembicaraan Kyuubi sebelumnya.

Kyuubi benar-benar berharap jika tatapan bisa membunuh. Ia kira Deidara telah melupakan pembicaraan—perdebatan mereka. Dan ia yakin saat ini Deidara pasti sedang menertawakannya dalam hati. Tapi ia tidak akan membiarkan sepupu pirangnya itu bersenang-senang lebih lama di atas penderitaannya. Lalu ia melirik orang yang sejak tadi hanya diam menyaksikan perdebatan mereka, ia berusaha keras untuk tidak menyeringai.

"Deidara, jika kau punya waktu untuk mengurusiku, kenapa kau tidak pergunakan waktumu untuk menyenangkan dirimu sendiri?" sudut bibir Kyuubi tertarik mencurigakan, membuat Deidara menyipitkan mata waspada. "Bagaimana jika sekarang kau pergi ke kamarmu dan membawanya—"Kyuubi menunjuk Sasori yang berada di belakang Deidara"—di sana kau bisa melucuti pakaiannya dan memberikan v-card-mu pada orang yang sangat kau sukai itu. Bukankah itu lebih menarik daripada kau membuang-buang waktumu bergosip tentang kehidupanku?"

Deidara terkesiap, rahangnya terjatuh, wajahnya merah padam. Seumur hidupnya ia tidak pernah merasa terhina seperti ini.

"Kau suka padaku?" Sasori bertanya, menatap punggung Deidara dengan raut tak percaya dan kebingungan.

"Kau masih virgin?" Itachi tak bisa menahan rasa terkejutnya.

"Yang benar?" Sasuke terdengar sama tak percayanya. Ia menggigit pipi bagian dalam mulutnya, mencegahnya agar tidak tertawa keras.

Deidara menutup rahangnya, tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tahu bagaimana menjawab semua pertanyaan yang diucapakan nyaris bersamaan itu. Kyuubi sialan! Ia memberikan tatapan membunuh pada sepupunya yang menatapnya dengan seringai puas di wajahnya.

"Tapi tadi pagi aku melihatmu nyaris me-rape Sasori-san di ruang santai." Itachi mengerutkan kening bingung, "Dan sikapmu terlihat sangat berpengalaman."

Mendengar fakta itu kali ini Sasori ikut merona, dan Deidara semakin memerah, dalam hati berharap ia bisa menghilang dari tempat itu secepat mungkin.

Kyuubi tertawa keras, terlihat sangat menikmati penderitaan sepupunya, ia mengibaskan tangannya singkat, membantah pernyataan Itachi. "Itu karena dia suka sekali berperan seperti itu, benarkan Deidara? Kau sangat suka berpura-pura bertingkah seperti slut. Walaupun kenyataannya berbeda. Aku yakin ketika kau membawa dia ke kamarmu kalian hanya melakukan make out session."

Deidara benar-benar merasa di permalukan, terlebih ketika apa yang dikatakan Kyuubi benar. Sorot mata Deidara menampakkan rasa malu dan marah secara bersamaan.

"Fuck you!" Umpat Deidara dengan penuh perasaan pada Kyuubi yang balas menatapnya puas.

"You wish."

"Asshole."

"Yeah, I am." Kyuubi menyeringai lebar. "And you know it. So get over it."

"I hate you!" Dengan itu Deidara pergi sambil menghentakkan kaki.

"I love you too, my dear cousin." Seru Kyuubi sepenuh hati, dengan senyum lebar yang mendapat balasan jari tengah dari Deidara yang berlari ke lantai dua, dan malah membuat Kyuubi tertawa.

"Kau keterlaluan, Namikaze-san."

Tawa Kyuubi seketika berhenti, ia beralih pada Sasori yang menatap tak suka padanya.

"Dia tidak bermaksud buruk padamu. Tidak seharusnya kau mempermalukannya seperti itu. Kau seharusnya bersikap lebih baik padanya. Kau sepupunya."

Kyuubi mengangkat alis, tersenyum mengejek padanya, "Yeah? Katakan itu pada orang yang menganggapnya seperti piala bergilir." Sasori terdiam, sekilas sorot matanya menunjukkan rasa bersalah, namun dengan cepat ia menutupinya. Tanpa berkata apa-apa Sasori pergi ke arah Deidara menghilang.

"Kalian! Apa yang kalian lakukan huh!? Kenapa kalian masih santai-santai di sini? Itachi, bukankah aku sudah menyuruhmu membawa Sasuke ke dalam mobil?"

Semua mata menata menatap Tsunade yang terlihat membawa tas. Raut wajahnya sangat tidak bersahabat. Itachi hendak membuka mulutnya, namun Tsunade memotongnya. "Jeez, lupakan. Itachi cepat ikuti aku," ujar Tsunade.

Ia beralih pada Kyuubi, "Kurama, aku harap kau bisa menjaga sikapmu selama aku tidak ada. Aku tidak mau lagi mendengar ada keributan di sini," tambahnya seperti memberikan arahan pada anak umur lima tahun. Yang di respon Kyuubi hanya dengan memutar bola mata bosan.

Tanpa berakata apa-apa lagi Itachi mengikuti perintah Tsunade, dengan cekatan ia membantu Sasuke bangun, melingkarkan lengan Sasuke di pundaknya. Itachi mengikuti Tsunade keluar rumah di bantu dengan pelayan memapah Sasuke ke mobil. Selama perjalanan ke klinik ia menceritakan seluruh kejadian di halaman manor beberapa waktu lalu dan bagaimana ia menemukan Sasuke yang sedang tertatih-tatih berjalan pulang dari arah kuil. Ia meminta bantuan pada dua orang pekerja yang kebetulan lewat untuk membawakan tandu dan mengangkut Sasuke pulang. Begitu Itachi selesai bercerita Tsunade menekan pangkal hidungnya.

"Demi Tuhan! Kenapa setiap keluarga kalian bersama selalu saja ada masalah yang muncul?" Itachi meringis, lalu mengangkat bahu singkat. Sejujurnya ia juga tidak tahu jawabannya.

.

::A::C::SN::J::S::

.

Saat ini Sasori yakin seseorang diatas sana pasti sedang melakukan lelucon pada takdirnya. Hanya itu yang bisa dia pikirkan tentang apa yang baru saja ia dengar tadi. Ia masih tidak percaya jika Deidara benar-benar menyukainya, tidak percaya jika apa yang dikatakan Deidara tadi pagi bukan merupakan lelucon untuknya. Dan satu-satunya hal untuk mengetahui kebenarannya adalah berbicara dengan Deidara sendiri.

Langkah kakinya bergema di sepanjang lorong lantai, di tikungan ia masih bisa melihat sosok pirang berbelok dan kemudian mendengar suara pintu terbuka dan sedetik kemudian tertutup dengan keras. Langkahnya semakin lebar, terburu-buru, hingga ia berada di depan pintu kamar sosok yang ia kejar, tanpa ragu langsung mengetuk pintu itu, namun tidak ada jawaban, hingga ia melakukannya berulang kali.

"Deidara, buka pintunya."

"Pergi. Tinggalkan aku sendiri."

"Aku tidak akan pergi sebelum kita bicara." Selama kira-kira semenit lebih Sasori tidak mendapatkan jawaban, hingga ia mengetuk pintu lagi, "Deidara, kau tahu kita perlu bicara. Aku tidak akan pergi sampai kau membuka pintunya."

Sejenak ia menunggu hingga ia mendengar bunyi gaduh dari dalam kamar, lalu suara kunci di putar dan pintu terbuka. Deidara membuka pintunya sambil menundukkan kepala, membuat Sasori tidak bisa membaca emosi di wajah Deidara. Tanpa berkata apapun Sasori memasuki kamar, dan mendengar Deidara menutup pintu.

Sejenak yang dilakukan Sasori hanya memerhatikan Deidara secara keseluruhan. Deidara masih menundukkan kepalanya, menyembunyikan ekspresinya dari Sasori, meskipun begitu Sasori masih bisa melihat rona kemerahan di telinga Deidara, ia terlihat berdiri tidak nyaman membelakangi pintu sambil memainkan ujung baju yang ia kenakan—Salah satu tindakan yang dilakukannya ketika ia gugup. Jika Sasori tidak benar-benar mengenalnya, ia mungkin tidak percaya jika Deidara yang saat ini berada di depannya sama dengan pemuda yang tadi pagi menggodanya dengan penuh percaya diri. Ini membuat Sasori kembali mengingat peristiwa tadi padi. Jika apa yang dikatakan Kyuubi benar, maka tadi pagi Deidara tidak berpura-pura. Ia memang mengunggkapkan perasaannya dengan sungguh-sungguh. Ia ingat betul bagaimana gugupnya Deidara saat itu. Tapi saat itu Sasori benar-benar tidak mempercayai satu kata pun darinya. Tidak setelah selama ini ia mendengar rumor yang beredar. Ia hanya menganggap tingkah malu-malu dan gugup Deidara tadi pagi sebagai trik saja untuk mendapatkan perhatiannya.

Awalanya Sasori juga tidak mempercayai rumor itu—rumor yang mengatakan pemuda pirang yang memiliki ciri fisik yang diatas rata-rata itu merupakan seseorang yang suka menaklukkan kaum pria, beberapa orang menyebutnya man whore— namun beberapa bulan ia mengenal Deidara, Sasori mulai mempercayai rumor itu ketika melihat betapa seringnya Deidara berganti pasangan. Dan tadi pagi Deidara memang terlihat berpengalaman dengan apa yang dilakukannya. Tapi yang membuat Sasori heran kenapa Deidara tidak menyangkal apa yang dikatakannya? Sasori mendesah, lalu memijit pangkal hidungnya.

"Apa kau serius menyukaiku?" tanya Sasori kemudian.

Deidara menginggit bibir bawahnya, "Uh, itu..." ia mengangguk dan dengan ragu mengangkat kepalanya, memberanikan diri untuk melihat reaksi dari mata hazel Sasori yang menatap serius dan penuh perhitungan padanya.

"Bagaimana dengan rumor itu?"

Ekspresi Deidara berubah muram, "Percaya atau tidak, rumor itu tidak benar."

"Dan para pria yang sering bersamamu?"

Deidara berjengit ketika mendengar nada kasar yang digunakan Sasori. "M-mereka bukan siapa-siapa. Hanya kenalan."

Sasori menyipitkan matanya, berusaha mengetahui kebohongan dari pemuda yang kini mengalihkan pandangan darinya. Meskipun ia bisa melihat kejujuran pada diri Deidara namun Sasori tahu Deidara masih menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi untuk saat ini Sasori melepaskannya. Oh well, ia masih punya banyak waktu untuk mencari tahu apa atau siapa sebenarnya pemuda pirang di depannya ini.

Sasori menghela napas, dan berkata, "Aku minta maaf atas kata-kataku tadi pagi padamu. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu."

"Uh, kau tidak perlu minta maaf, Senpai..."

"Tentu saja perlu. Aku tidak seharusnya menghakimi seseorang—terlebih lagi dirimu—tanpa tahu keadaan yang sebenarnya. Begini saja, kalau kau tidak keberatan setelah pulang dari sini aku ingin mengajakmu makan malam."

Deidara terkesiap, matanya membulat, "K-kau mengajakku kencan—maksudku makan malam, Senpai?"

"Iya. Aku mengajakmu kencan. Bagaimana? Apa kau mau?"

"A-ah, tentu saja."

Dan kali ini Sasori berani bersumpah senyum cerah di wajah Deidara membuat hatinya merasakan kehangatan asing yang membuatnya ikut tersenyum, namun senyum itu hanya bertahan sebentar ketika ia mengingat sesuatu.

"Oh, ya. Apa benar kau masih virgin?"

Senyum Deidara luntur, rahangnya kembali terjatuh, entah bagaimana wajahnya terlihat lebih merah daripada sebelumnya. Tanpa dijawab pun Sasori sudah tahu jawaban untuk pertanyaannya sendiri. Dan ia tidak bisa menghentikan dirinya untuk tertawa melihat ekspresi konyol yang diperlihatkan salah satu pemuda paling populer di kampus.

.

::A::C::SN::J::S::

.

Hari telah beranjak malam. Dan sejak lima belas menit lalu Naruto tidak henti-hentinya mondar-mandir di kamar. Satu jam yang lalu Shizune telah menceritakan apa yang terjadi saat dirinya mengurung diri di kamar. Tanpa bisa dicegah Naruto merasa bersalah, andai saja ia tidak mengabaikan panggilan Sasuke saat itu semua ini pasti tidak akan terjadi.

Dengan ragu Naruto akhirnya memutuskan untuk melihat keadaan Sasuke. Ia keluar dari kamarnya. Berjalan dengan langkah pelan, mengendap-endap. Saat ini masih sekitar pukul sembilan malam, namun selama ia menuju kamar Sasuke tak satu pun ia menemukan orang berkeliaran.

Begitu sampai di depan kamar Sasuke, ia hanya berdiam diri, mulai ragu dengan tindakannya. Lalu ia mengambil napas panjang dan menghembuskannya, membulatkan tekad ia membuka pintu kamar itu. Kamar itu rapi, dan penataannya sama dengan kamar lainnya di lantai dasar, terdapat bangku di salah sudut ruangan, lemari pakaian, kasur single di dekat jendela, T.V flat di dinding, dan laptop di atas meja. Tidak ada orang lain selain Sasuke yang terbaring di ranjangnya, terlelap dengan nyaman. Selimut menutupi tubuhnya hingga dada.

Naruto menutup pintu, melangkah pelan mendekati ranjang Sasuke. Berdiri gugup di sana. Selama sepeluh menit ia hanya memerhatikan Sasuke yang sedang tidur. Wajah laki-laki itu terlihat lebih pucat dari biasanya, walaupun begitu ia terlihat tenang, dan lebih rileks, berbeda ketika saat terjaga, ekspresi Sasuke terlihat lebih kaku. Mau tidak mau Naruto mengakui jika saat ini bajingan itu terlihat lebih tampan.

"Sampai kapan kau akan berdiri di sana?"

Naruto tersentak, dan memekik ketika mendengar suara parau itu. Selama beberapa saat ia hanya terdiam menatap Sasuke yang balas menatapnya dengan mata setengah terbuka.

"K-kau tidak tidur?" tanya Naruto, sedikit kaget dengan Sasuke yang ternyata masih terjaga.

"Tadinya, tapi aku mendengar seseorang memasuki kamarku."

"Maaf," kata Naruto pelan, semakin merasa bersalah. "Bagaimana keadaanmu?"

Sasuke mengangkat bahu singkat. "Setelah melakukan dua belas jahitan, aku rasa, kakiku akan baik-baik saja."

Naruto mengangguk dan sesekali melirik Sasuke dengan gelisah.

"Katakan saja, Naruto," kata Sasuke. Sikap gelisah itu cukup membuatnya tahu apa yang dipikirkan Naruto.

"Ugh. Aku... aku minta maaf sudah meninggalkanmu di kuil."

Sasuke menatapnya serius dan berkata dengan nada datar, "Bukan salahmu. Aku saja yang tidak hati-hati."

"Tapi kalau saja aku mau mendengarkanmu—"

"Kau benar," potong Sasuke. "Sepertinya aku memang mengharapkan sesuatu dari orang yang salah."

Naruto mengerjap dengan pernyataan itu.

"Kau tahu, selama sepuluh tahun yang kuharapkan hanya untuk kembali bersamanya. Jika dipikir-pikir lagi mungkin ini hukuman untukku karena meninggalkannya," tukas Sasuke, yang membuat Naruto tidak bisa mengatakan apa pun dengan kejujuran itu. Terlebih karena Sasuke menggunakan orang ketiga untuk menyebut Naruto sepuluh tahun lalu. "Aku minta maaf karena memaksakan diriku padamu. Mulai sekarang aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak kau sukai."

Semua perkataan itu Sasuke ungkapkan tanpa sedikitpun emosi yang terlihat di wajahnya. Walaupun begitu Naruto bisa merasakan kejujuran dalam perkataannya, dan Naruto tahu seharusnya kejujuran Sasuke itu membuatnya senang. Tapi sesuatu dalam diri Naruto terasa mati rasa. Ia tidak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini. Naruto hanya bisa mengangguk. Ia tidak bisa mempercayai dirinya sendiri untuk bicara. Takut jika ia akan mengatakan sesuatu yang akan ia sesali.

"Tapi jika kau tidak keberatan, aku masih ingin berteman denganmu."

Naruto mengerjap, menatap Sasuke untuk waktu yang lama. Tidak percaya jika pria yang selalu punya niat tidak baik itu benar-benar mengajaknya untuk berteman. Padahal sebelumnya jelas-jelas laki-laki itu mengatakan 'ia tidak punya niat sedikitpun untuk berteman dengannya' tapi dilihat dari ekspresi Sasuke padanya, laki-laki itu serius dengan perkataannya. Sepertinya dia memang benar-benar hanya ingin berteman.

"Aku tidak akan memaksamu, jika kau tidak mau," kata Sasuke yang, melihat keraguan di wajah Naruto. "Aku benar-benar tidak akan melakukan sesuatu yang tidak kau suka. Kali ini kau bisa memegang kata-kataku. Aku ingin berteman denganmu karena kau satu-satunya orang yang aku kenal di kampus. Lagipula Kushina memang memintaku untuk bisa berteman denganmu."

Kening Naruto berkerut mendengar alasan itu. Entah kenapa alasan itu terdengar salah di telinganya. Meskipun Naruto sendiri tidak tahu mengapa ia bisa berpikir seperti itu.

"Baiklah," kata Naruto akhirnya, "Kita berteman."

Tubuh Sasuke berubah kaku, ekspresinya tak terbaca, rahangnya mengeras. Sikap itu jelas membuat Naruto heran, bukankah ini yang diinginkan oleh Sasuke? Tapi kenapa Naruto merasa kalau laki-laki itu sedang... marah?

Naruto mengerjap ketika melihat Sasuke mengulurkan tangannya dengan ekspresi datarnya yang biasa. Mungkin Sasuke tidak benar-benar marah, mungkin itu hanya perasaannya saja. Lalu dengan ragu Naruto menyambut uluran tangan itu, meremasnya pelan yang dibalas dengan remasan mantap dari Sasuke.

"Oh ya," kata Sasuke, melepas tangan Naruto, dengan ekspresi yang sama, datar. "Kau sudah berada di ruangan sama denganku selama sepuluh menit, apa kau sadar kalau alergimu tidak muncul?"

Naruto mengerjap, mencerna perkataan Sasuke. Laki-laki itu benar, ia tidak merasakan gejala alerginya kambuh seperti biasa.

"Mungkin 'terapi' yang kau lakukan padaku mulai terlihat hasilnya?" kata Naruto akhirnya, lebih berupa pertanyaan.

"Mungkin."

"Jadi, apa ini artinya..." Naruto tidak menyelesaikan kalimatnya.

"Aku yakin sekarang kau baik-baik saja. Kau tenang saja, aku tidak akan memaksamu melakukan 'terapi' apapun lagi denganku." Kata Sasuke yang langsung memahami maksud Naruto.

Naruto mengangguk pelan, "Errr... baiklah, kalau begitu sebaiknya aku pergi. Kau bisa melanjutkan istirahatmu. Selamat malam."

"Selamat malam, Naruto."

Naruto lalu bergegas keluar dari kamar Sasuke meninggalkan Sasuke yang hanya menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu.

Tanpa sadar Naruto sendiri sudah nyaris mendekati kamarnya. Pikirannya terasa kosong. Ia masih tidak percaya jika sekarang ia benar-benar bebas dari bajingan itu. Padahal beberapa jam yang lalu ia baru mendengar bajingan itu mengungkapkan perasaannya dengan begitu percaya diri. Uh, Naruto memang tahu bahwa ia sendirilah yang membuka mata Sasuke untuk melihat siapa yang sebenarnya bajingan itu inginkan. Sungguh, Naruto tidak menyesali keputusan Sasuke untuk berteman dengannya. Tapi ada sesuatu yang membuat Naruto merasa sesuatu tidak pada tempatnya. Ada sesuatu yang salah. Dan Naruto tidak bisa menjelaskan apa itu dan kenapa ia bisa merasa seperti itu.

Naruto berhenti berjalan, lalu mengerang frustasi sambil mengacak rambutnya. Rasa kepalanya bisa meledak sekarang juga. Semenjak ada Sasuke Uchiha masuk ke dalam kehidupannya ia tidak pernah merasa tenang. Ia mendesah lelah, dan tiba-tiba tersentak kaget mendengar seseorang berteriak. Yang berasal dari kamar di dekatnya, tepatnya kamar Kyuubi. Ia bisa mendengar jelas jika ada yang bertengkar di dalam kamar itu.

"FUCK YOU!"

Naruto mengernyit. Merasa heran sekaligus penasaran dengan siapa Kyuubi beradu mulut. Apalagi Naruto jarang sekali mendengarnya memaki seseorang, jika tidak sedang marah besar. Naruto mendekati kamar Kyuubi, mengintip dari sedikit celah pintu yang terbuka. Dan mengernyit semakin dalam ketika melihat Uchiha Itachi sedang berhadapan dengan kakaknya. Suasana di sekitar mereka terlihat benar-benar tegang.

"Seriously, kau akan terus bersikap keras kepala seperti ini? Apa menjawab pertanyaan itu saja sangat sulit bagimu."

"Kau selingkuh dariku, Brengsek! Itulah kebenarannya! Apapun yang aku lakukan kau tidak berhak melakukan itu! " teriak Kyuubi tepat di depan wajah Itachi.

Itachi menyipit padanya, "Itu tidak adil, iya kan? Kau sendiri yang bilang kalau kau ingin mengakhiri semuanya denganku."

"Aku punya alasan yang jelas kenapa aku melakukannya."

Itachi mendengus, mencemooh, "Kau tahu saat itu aku akan melakukan apapun untuk bisa bersamamu. Termasuk meninggalkan keluargaku. Jika saja kau mau bertahan di sampingku bukannya melarikan diri dariku, aku yakin kau tidak akan pernah melihatku bersama wanita itu."

Pernyataan itu membuat Naruto menahan napas. Ini memperkuat bukti bahwa memang kecurigaannya selama ini benar. Uchiha Itachi bukan sekedar orang luar bagi Kyuubi. Namun lagi-lagi Naruto tersentak kaget ketika merasakan seseorang menepuk pundaknya dan membekap mulutnya yang hendak berteriak. Dengan cepat ia memutar kepalanya ke kanan untuk melihat Deidara yang sedang menempelkan satu jarinya di bibir, menyuruhnya untuk diam. Naruto mengangguk dengan patuh.

"Ikut aku," kata Deidara dengan mulut yang tidak mengeluarkan suara.

Naruto mengangguk kali ini dengan heran dan bingung, namun ia tidak bisa bertanya ketika Deidara berjalan sudah terlebih dahulu di depannya. Akhirnya ia memilih mengikutinya, berharap apa pun yang Deidara rencanakan bisa mengalihkan pikirannya dari Sasuke. Walaupun tidak rela, karena ia masih penasaran dengan pertengkaran antara kakaknya dan Uchiha sulung itu.

"Kita mau ke mana, Dei?" tanya Naruto ketika Deidara membawanya ke belakang rumah yang terlihat sangat gelap. Ia menelan ludah gugup. Ia sangat tidak suka dengan tempat-tempat seperti itu. "Uh, Dei, aku tidak yakin dengan jalan itu. Kenapa kita tidak kembali saja ke kamar sekarang dan kembali besok pagi?" saran Naruto penuh harapan.

"Kau pikir untuk apa aku menyelinap malam-malam, heh. Jika bisa, sudah sejak kemarin aku melakukannya. Tidak, kita harus melakukannya malam ini sebelum Satan menyadarinya."

"Satan? Siapa yang kau maksud?"

Deidara yang berada di depan membalikkan tubuhnya, ekspresinya sangat serius ketika berkata, "Seseorang yang sangat, sangat, mengerikan."

"Seperti yang ada di neraka?"

Deidara mengangguk mantap.

"Oh," ujar Naruto, tidak tahu lagi harus berkata apa. Dan kembali mengikuti Deidara menuju jalan setapak yang gelap. Lalu langkah Naruto berhenti, ketika melihat Deidara membuka sebuah pintu kayu yang terlihat sangat tua. Naruto mengintip sekilas di balik pintu itu, namun hanya kegelapan yang ia lihat.

"Aku tidak mau masuk ke sana."

Deidara menatapnya penuh tanya.

"Tempat itu gelap sekali. Aku tidak mau masuk kesana. Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu padaku? Bagaimana jika ada hantu yang muncul dan ingin memakanku?" Naruto bergidik ngeri sambil memeluk tubuhnya sendiri.

Deidara memutar bola matanya, "Di dalam sana tidak ada apa-apa, Naruto. Kau jangan selalu mendramatisir keadaan."

Naruto memberikan tatapan ragu pada Deidara.

Deidara mengalihkan pandangannya pada pintu masuk itu, "Jika kau masuk ke dalam sana mungkin kau akan menemukan sesuatu yang selama ini kau cari."

Naruto menatap Deidara lama, berusaha memahami kalimat sepupunya itu. Yang menurutnya tidak masuk akal. Memangnya apa yang ia cari? Tapi Deidara tidak memedulikan tatapan Naruto, karena ia sudah terlebih dulu memasuki ruangan itu. Seolah hapal dengan seluk-beluk ruangan itu, tanpa ragu Deidara menyalakan lampu dengan menekan saklar lampu yang berada di dekat pintu masuk.

Cahaya langsung menerangi seluruh ruangan. Ruangan itu cukup luas untuk menampung lima rak besar yang berjejer rapi dengan berbagai buku yang tersusun di dalamnya, persis seperti perpustakaan, tapi lebih kecil dari perpustakaan yang berada di ruang keluarga di lantai dua.

"Ruangan ini digunakan untuk menyimpan arsip lama keluarga kita," jelas Deidara seraya menuju ke rak ke tiga yang berada di tengah-tengah dan mengambil salah satu file di sana, dan menyodorkannya pada Naruto. "Aku membawamu ke sini untuk memperlihatkanmu benda ini. Bukankah benda ini yang kau cari?"

Dengan sedikit ragu Naruto menerima benda yang lumayan lebar yang merupakan sebuah album. Naruto mengerjap kaget, ia menatap Deidara dengan mata membulat lebar. Benda di tangannya ternyata merupakan album yang beberapa waktu lalu ia tanyanyakan pada ibunya. Bagaimana...?

"Ibumu cerita padaku jika kau mencari album itu. Sebenarnya itu salah satu alasanku membawamu ke peternakan ini," ujar Deidara. "Dan kupikir kau memang berhak untuk melihatnya, tentu saja kakakmu tidak berpikir seperti itu."

"Kyuubi tidak mau aku melihat ini? Kenapa?"

"Dia takut kau akan meninggalkannya."

Naruto menatap sepupunya dengan bingung, "Ini hanya sebuah album. Mengapa dia sampai berpikir seperti itu? Dia kakakku, mana mungkin aku meninggalkannya."

Deidara mendengus, "Aku sudah mengatakannya hal yang sama padanya. Tapi kau tahu sendiri, dia itu sama keras kepalanya denganmu."

"Itu konyol," sergah Naruto, "Sebesar apapun aku ingin meninggalkannya, tetap saja aku tidak bisa, dia satu-satunya saudara kandung yang aku punya. Mau tidak mau selamanya aku akan terikat denganya."

"Kau benar," Deidara menghela napas, "Sayangnya, dia tidak berpikir seperti itu."

"Itu artinya dia bodoh."

Deidara terkekeh, "Jangan sampai dia mendengarmu menghinanya."

"Memangnya apa yang akan dia lakukan? Menghajarku?" Naruto mendengus, "Ibu akan melemparnya keluar jendela sebelum sempat melakukannya."

Tawa Deidara meledak. Ia bisa membayangkan Kushina melakukannya. Dan gambaran itu membuatnya sakit perut. Naruto menggelengkan kepalannya melihat reaksi sepupunya, lalu berjalan menuju bangku yang tersedia di perpustakaan itu, mulai membuka dan mengamati album tersebut. Setelah puas tertawa, Deidara duduk di samping Naruto, menopang pipinya dengan satu tangan. Selama beberapa saat ia hanya duduk memerhatikan sepupunya itu, sampai sebuah pertanyaan terlintas di benaknya.

"Naruto, apa kau memang berniat mencari ingatanmu yang hilang? Itukah alasannya mengapa kau ingin melihat album itu?"

Tangan Naruto berhenti untuk membalikkan halaman, ia terdiam sesaat. Lalu, "Tidak," jawabnya tegas, "Aku tidak peduli jika ingatanku kembali atau tidak. Aku hanya ingin tahu kenapa dia begitu gigih ingin bersamaku...tapi mungkin sekarang ini tidak diperlukan lagi."

"Apa maksudmu?"

"Sekarang dia hanya ingin berteman denganku."

Deidara menatap Naruto dalam waktu lama. Ia bersumpah mendengar nada marah dari Naruto atas kata-katanya sendiri tentang hubungan barunya dengan Uchiha bungsu. Tapi yang lebih aneh lagi adalah Sasuke yang mendadak berubah haluan ingin menjadi sebatas teman dengan Naruto, sedangkan beberapa jam lalu laki-laki itu baru saja mendeklarasikan perasaannya pada Naruto. Apa yang direncanakan Uchiha bungsu itu sebenarnya? Deidara bertanya-tanya dalam hati.

"Dei," panggil Naruto pelan membuyarkan pikiran Deidara, matanya masih tekunci pada foto di album itu.

"Hm?"

"Sedekat apa aku dengan Uchiha Sasuke saat sepuluh tahun lalu?"

Deidara mengerutkan kening sesaat, "Uh, kalian nyaris tak terpisahkan. Kalian sering nginap bersama. Saat kau mengalami mimpi buruk maka kau akan meminta Sasuke tidur di sampingmu. Ah ya, waktu itu kau pernah demam dan Sasuke sama sekali tidak mau meninggalkanmu sendiri bahkan untuk mandi, sampai-sampai ia memohon untuk bisa merawatmu sendiri, seperti membantumu berganti pakaian, menyuapimu, membantumu mandi... ya, seperti itulah."

"Terdengar menyenangkan," ujar Naruto mengernyit dalam sambil memandangi salah satu foto, di mana dua anak laki-laki sedang tidur bersama dengan tangan yang saling mengait.

"Kenapa kau bertanya?"

"Hmmm..." Naruto memejamkan matanya dengan kening yang semakin mengerut dalam, dengan pelan memijit keningnya sendiri, berusaha membuat nyeri di kepalanya menghilang karena berpikir keras, "...a-aku rasa aku mengingat sesuatu."

Punggung Deidara menjadi tegak seketika, "Kau serius?"

"Uh-huh." Gumam Naruto, "Aku ingat ada seorang anak kecil yang sepertinya terus di sampingku. Anak itu... Sasuke."

.

::A::C::SN::J::S::

.

Sore ini merupakan sore yang paling melelahkan bagi Kyuubi. Semakin lama ia berada di peternakan ini semakin membuat suasana hatinya suram. Bukan hanya karena tidak suka dengan keberadaan Uchiha di sekitarnya sekarang Deidara ikutan-ikutan memusuhinya, walaupun ia tahu itu karena salahnya sendiri. Jika dipikir-pikir lagi ia memang terlalu keras pada sepupunya itu. Belum lagi ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan adiknya. Dan sejak satu jam lalu Kyuubi hanya menghabiskan waktu dikamarnya, duduk di kusen jendela yang lebar, merasakan kesejukan angin malam, di dekatnya terdapat sebotol wishkey yang telah di minum setengahnya. Berharap minuman itu bisa membantunya melupakan kejadian beberapa hari terakhir.

Kyuubi mendekatkan gelas ke bibirnya bermaksud kembali merasakan cairan memabukkan itu membakar tenggorokannya. Namun berhenti ketika merasakan kehadiran seseorang memasuki kamarnya. Ia melirik ke arah pintu, ia hanya bisa melihat siluet seorang pria berdiri disana karena kamarnya yang gelap dan laki-laki itu sedang membelakangi cahaya yang berasal dari luar kamar.

"Kita perlu bicara."

Tubuh Kyuubi menegang begitu mendengar suara Itachi yang sangat tenang dan penuh keseriusan.

"Keluar," kata Kyuubi tajam. Ia benar-benar tidak mau berhadapan dengan bajingan itu saat ini. Karena Kyuubi merasa apa pun yang ingin dibicarakan pria bermata kelam itu hanya akan sia-sia, yang ada ia hanya akan kembali merasakan luka lama yang tidak ingin ia rasakan kembali.

Itachi mengabaikan perintah itu, dan menyalakan lampu kamar, menerangi seluruh ruangan hingga Kyuubi harus memejamkan mata dan menutupi wajahnya untuk menghalau sinar lampu.

"Apa yang kau lakukan? Matikan lampunya!"

Itachi sekali lagi mengabaikannya dan berkata, "Aku tidak akan keluar sebelum kita bicara."

Kyuubi menurunkan tangannya, memberikan tatapan setajam pisau pada Itachi yang kini berada dalam jarak dua meter darinya. Sikap Itachi begitu tenang, tidak memperlihatkan emosi sedikitpun pada raut wajahnya, tidak ada sikap bermain-main seperti sore tadi dalam diri laki-laki itu. Kali ini sikap Itachi jelas menandakan keseriusan dan kesungguhan untuk mencapai apa yang diinginkannya.

Kyuubi membentuk bibirnya menjadi satu garis lurus, rahangnya mengeras melihat sikap Itachi itu. Sangat tahu jika kali ini ia tidak akan bisa membuat Itachi menuruti kemauannya. Kyuubi mencibir dalam hati. Memang siapa dia? Sejak dulu dia memang tidak pernah bisa membuat Itachi menuruti kemauannya tanpa kehendak dari laki-laki itu sendiri.

"Tidak ada yang perlu kita bicarakan," ujar Kyuubi, mengalihkan tatapannya pada gelas di tangannya.

"Sampai kapan kau akan menyangkalnya?" kata Itachi menatap lekat-lekat Kyuubi yang kini mengernyit samar. "Banyak yang harus kita bicarakan. Aku sudah menunggu kesempatan seperti ini selama sepuluh tahun. Kalau kau berpikir bisa menghindarinya kau salah besar."

Kyuubi mengangkat kepalanya dengan cepat, memandang mata kelam itu dengan marah, "Dengar. Kalau kau ingin bicara, bicara sekarang juga, jangan bertele-tele! Aku tidak punya banyak waktu untukmu."

"Tentu saja, kau lebih punya banyak waktu untuk minum-minum." Sindir Itachi yang di balas Kyuubi dengan tatapan mengancam. Tatapan itu menjanjikan penderitaan panjang. Tapi sama sekali tidak membuat Itachi gentar, "Aku ingin tahu kejadian yang sebenarnya tentang sepuluh tahun lalu," kata Itachi.

Kyuubi mendengus, "Apa lagi yang ingin kau tahu? Kau sudah mengetahui semuanya."

"Aku memang mengetahuinya dari Ino dan Deidara, tapi aku belum mengetahuinya dari sudut pandangmu. Aku ingin kau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi."

Untuk waktu yang lama Kyuubi menatap Laki-laki itu, mencoba mengetahui apa sebenarnya jawaban yang diinginkan Itachi.

"Apa yang sebenarnya kau cari, Uchiha?" tanya Kyuubi akhirnya.

"Kebenaran."

Sesaat Keheningan terjadi, lalu Kyuubi tidak bisa menahan dirinya untuk tertawa, mungkin itu karena pengaruh alkohol di tubuhnya hingga berpikir bahwa jawaban Itachi merupakan hal terlucu yang pernah ia dengar. Itachi hanya diam melihat reaksi Kyuubi, menunggunya dengan sabar sampai Kyuubi berhenti tertawa sambil memegangi perutnya yang sakit.

"Jangan berkata hal konyol seperti itu dengan ekspresi datarmu. Itu terlihat sangat lucu," ujar Kyuubi di sela tawanya.

"Aku tidak berusaha untuk membuatmu tertawa."

Kyuubi kembali tergelak, sepertinya alkohol mulai merusak otaknya. "Kau tidak perlu berusaha untuk melakukannya, sejak dulu kehadiranmu saja bisa membuatku tertawa."

Itu benar, salah satu hal yang berusaha keras Itachi pahami dari cara berpikir Kyuubi. Dan pengakuan itu cukup membuat Itachi rileks. Walaupun hal itu diungkapkan saat dia sedang mabuk.

"Aku hanya ingin kau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi, Kurama."

Begitu mendengar nama depannya disebut, Kyuubi berhenti tertawa, ia menatap Itachi tajam. "Kebenaran yang kau cari tidak ada. Aku melepaskanmu dan itulah yang sebenarnya terjadi. Aku tidak akan mencari pembenaran atas keputusanku sepuluh tahun lalu."

"Kenapa kau melakukannya?"

Kyuubi mengalihkan pandangannya dari Itachi. "Itu yang terbaik."

"Terbaik? Untuk siapa?"

Kyuubi memilih diam. Itachi tak bisa lagi menahan kesambarannya dan melangkah maju untuk menyambar lengan Kyuubi, membuat Kyuubi terhuyung dan langsung membuat Kyuubi menghadapnya, nyaris menempelkan tubuh mereka.

Itachi menatap lurus ke arah ruby itu, "Kurama, jawab aku."

Kyuubi memicingkan matanya, lalu menghentakkan tangan Itachi di lengannya.

"FUCK YOU!"

"Seriously, kau akan terus bersikap keras kepala seperti ini? Apa menjawab pertanyaan itu saja sesulit itu bagimu."

"Kau selingkuh dariku, Brengsek! Itulah kebenarannya! Apapun yang aku lakukan kau tidak berhak melakukan itu! " teriak Kyuubi tepat di depan wajah Itachi.

Itachi menyipit padanya, "Itu tidak adil, iya kan? Kau sendiri yang bilang kalau kau ingin mengakhiri semuanya denganku."

"Aku punya alasan yang jelas kenapa aku melakukannya."

Itachi mendengus, mencemooh, "Kau tahu saat itu aku akan melakukan apapun untuk bisa bersamamu. Termasuk meninggalkan keluargaku. Jika saja kau mau bertahan di sampingku bukannya melarikan diri dariku, aku yakin kau tidak akan pernah melihatku bersama wanita itu."

Kyuubi tahu bahwa yang dikatakan Itachi benar, tapi ia benar-benar tidak bisa melakukan itu. "Fine! Kau mau tahu!? Aku akan memberitahumu! Aku ingin lepas darimu, itu semua keinginanku, untuk kebaikanku. Aku mencampakkanmu, Itachi. Terimalah kenyataan itu."

Mata hitam itu berkilat marah, "Kau pikir, keinginkanku untuk bicara denganmu adalah karena aku tidak bisa menerima kenyataan kalau kau sudah membuangku?" balas Itachi tajam ada nada pahit dalam suaranya. "Kau salah jika berpikir seperti itu, kalau aku tidak bisa menerima keputusanmu, aku tidak akan pernah membawa wanita itu ke kamarku setelah kau mengatakan ingin putus dariku."

Kyuubi mengepalkan tangannya erat-erat, "Benar, dengan itu kau berharap aku merasakan rasa sakit yang sama seperti yang kau rasakan."

"Tepat sekali," Kata Itachi dengan raut wajah tak terbaca, "Apa aku berhasil melakukannya?"

Kyuubi memberikan tatapan membunuh terbaiknya, "Fuck you!" umpatnya tanpa berniat menjawab.

"Aku berhasil rupanya. Kalau begitu aku punya pertanyaan terakhir... apa kau benar-benar membenciku?"

Sorot mata Kyuubi berkilat tajam, ia mencondongkan tubuhnya, "Kau. Selingkuh." Desisnya, tepat di depan wajah Itachi, hingga Itachi bisa merasakan napas Kyuubi yang beraroma alkohol, "Saat itu aku memintamu untuk memikirkan keluargamu. Aku mengambil keputusan itu karena aku tahu hubungan kita tidak akan pernah diakui. Aku hanya ingin kau mengerti semua itu. Tapi kau—kau malah... Aku tidak peduli jika keputusanku membuatmu marah dan melampiaskannya padaku, bahkan menghajarku sekalipun. Tapi kau malah memilih tidur dengan wanita itu untuk membalas rasa sakit hatimu padaku. Kau mengkhianatiku, Brengsek. Sampai kapan pun aku akan membencimu. Aku tidak akan pernah memaafkanmu."

Semua itu diungkapkan Kyuubi dengan sepenuh hati, sorot mata Kyuubi yang penuh dengan kebencian bercampur dengan rasa sakit sudah cukup menjadi kebenaran kata-katanya. Itachi bisa merasakan tangan Kyuubi yang menggenggam kerah kemeja gemetar akibat pelampisan amarah yang selama ini ia pendam. Dengan lembut Itachi menyentuh tangan itu, perlahan menyingkirkannya, dan beralih mengaitkan jemari mereka, membuat Kyuubi berubah kebingungan menatap kedua tangan yang bersatu itu.

"Kau tahu seberapa besar aku merindukan untuk menggenggam tanganmu?" ujar Itachi, sesuatu dalam suaranya membawa Kyuubi untuk menatapnya kembali, kebingungannya semakin dalam.

"Selama sepuluh tahun, aku menginginkan kembali momen seperti ini, di mana kau berada di sisiku, menggenggam tanganku, merasakan kau berada dalam pelukanku, bisa menyentuhmu seperti ini." Itachi meraih pipi Kyuubi dengan tangannya yang bebas, "Tapi membayangkan betapa bencinya kau padaku saat ini..." bibir Itachi menampakkan senyum ganjil, "...itu semua sepadan dengan yang kulalui."

Kyuubi mengerjap, "Apa yang sebenarnya kau bicarakan..."

Senyum Itachi lenyap, dengan gerakan tak terduga ia meraih tubuh Kyuubi, mendekapnya, lalu mendekatkan mulutnya di telinga Kyuubi yang masih dalam keadaan sedikit syok dengan perubahan situasi. Begitu sadar Kyuubi berusaha melepaskan diri dari dekapan kuat Itachi pada tubuhnya.

"Aku ingin mengakui sesuatu padamu," bisik Itachi, membuat Kyuubi membeku di tempat. Merasakan napas hangat Itachi berada dekat di telinganya, dan mengalirkan getaran tak nyaman di punggungnya. Kyuubi menelan ludah gugup dengan reaksi tubuhnya. Berharap Itachi tidak menyadari respon tubuhnya akibat kedekatan mereka, dan dalam hati menyalahkan alkohol yang sepertinya mempengaruhinya lebih dari yang ia perkirakan. Kedekatannya dengan Itachi benar-benar mengganggunya, tidak bisa membuatnya berpikir jernih.

"Uh, aku akan mendengarkan pengakuanmu... tapi, bisakah kau lepaskan aku?" kata Kyuubi penuh harap, merasa semakin tak nyaman dengan posisi tubuh mereka yang telah menempel sepenuhnya.

Itachi semakin kuat mendekap tubuh Kyuubi, dan kembali berbisik, "Kenapa? Aku lebih suka seperti ini, dengan begitu kau bisa dengan jelas mendengar apa yang aku katakan." Kyuubi bisa merasakan senyum dalam suara Itachi. Bajingan itu menikmati setiap siksaan yang Kyuubi rasakan.

Sudut alis Kyuubi berkedut kesal, dengan kasar ia mendorong tubuh Itachi hingga mendarat di atas tempat tidur. "Brengsek! Kalau mau bicara-bicara saja, jangan mencuri kesempatan!" bentaknya.

Itachi membenarkan posisinya menjadi duduk, tertawa kecil, "Maaf, aku tidak bisa menahannya. Tubuhku seperti punya pikiran sendiri jika berada di dekatmu," katanya yang tidak terdengar menyesal sama sekali.

Kyuubi menyipitkan mata padanya. "Jauhkan tanganmu dariku. Katakan apa yang perlu kau katakan lalu cepat pergi dari kamarku."

Itachi memberikan gerakan menyerah pada Kyuubi. "Baiklah, aku tidak akan macam-macam," Janjinya. "Tujuanku kemari karena aku ingin mengatakan sesuatu yang selama ini aku sembunyikan darimu."

"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?"

"Uh-huh," gumamnya, "Wanita yang kau lihat di kamarku sepuluh tahun lalu, saat itu aku tidak tidur dengannya. Aku tidak pernah menyentuhnya sedikitpun. "

"Waitwhat?"

"Aku tidak pernah selingkuh darimu."

Kyuubi terdiam, berusaha memproses berita yang di dengarnya. "Selama ini kau menipuku?" tanyanya, tak percaya.

Itachi mengangguk kecil.

Kali ini Itachi tak menyangka Kyuubi akan menyerangnya. Ia kembali terlempar ke tempat tidur dengan rasa nyeri di wajahnya. Kyuubi merangkak dia atas tubuh Itachi, kedua kakinya mengunci tubuh Itachi. Mencengkram kemeja bagian dada Itachi.

"You son of a bitch!" makinya. "Apa kau tahu betapa benci aku sekarang padamu? Aku ingin mengahajarmu hingga tak ada dirimu yang tersisa. Membuatmu membusuk di neraka. Apa kau tahu apa yang sudah kau lakukan padaku? Bajingan. Kau tidak bisa mengatakan bahwa itu semua hanya kebohongan. Kau mengkhianatiku! K-kau selingkuh. Kau manusia tidak berhati, Itachi." Kyuubi membenamkan wajahnya di dada Itachi, memakinya dengan putus asa, "Aku sangat membencimu, Itachi."

Itachi meraih wajah Kyuubi, menangkup kedua pipinya. Mata ruby itu berkaca-kaca, alkohol membuat emosi Kyuubi di luar kendalinya. Ekspresi terluka di wajah Kyuubi ikut menghancurkan hati Itachi. Selama ini Itachi tidak pernah mengira ia melukai Kyuubi sampai seperti ini.

"Maafkan aku."

"Why?" Suara Kyuubi nyaris pecah.

Kyuubi bisa merasakan tubuh Itachi yang berubah kaku, laki-laki itu mengalihkan pandangan darinya, berkata dengan nada datar, "Aku marah padamu. Sangat marah. Karena kau dengan mudahnya melepaskanku. Seolah aku tidak pernah menjadi bagian penting dalam hidupmu. Padahal kau tahu aku akan melakukan apa saja untukmu. Aku marah padamu karena kau tidak mau memperjuangkan kita." Walaupun begitu Kyuubi bisa mendengar sesuatu dari cara Itachi berbicara, sesuatu yang Kyuubi pikir tidak akan pernah ia dengar dari bajingan itu. Penyesalan. Tapi Kyuubi tahu, penyesalan itu ditujukkan bukan karena Itachi menyesal dengan perbuatannya. Itachi tidak pernah menyesali perbuatannya. Mungkin lebih menyesal terhadap keadaan yang mereka hadapi saat itu.

"Kau tahu semua itu tidak benar. Dari awal tidak pernah ada yang namanya kita. Kau hanya ingin mengontrolku. Menganggapku binatang liar yang perlu kau jinakan."

Itachi terdiam. "Itukah kebenarannya? Itukah alasanmu memilih melepaskan dirimu dariku? Itukah yang kau pikirkan selama ini?"

"Apa aku salah?"

"...Tidak. Kau benar." Dan jawaban itu sudah cukup membuktikan kebenaran prediksi Kyuubi di awal Itachi melangkahkan kaki ke dalam kamarnya, cukup membuktikan kemampuan Itachi untuk membuat hatinya terluka sekali lagi. Kyuubi bisa merasakan emosi yang bergejolak liar dalam dirinya, bercampur aduk hingga rasanya ia ingin berteriak sekeras mungkin melepaskan emosi yang ia rasakan saat itu, tapi anehnya tubuhnya tidak merespon keinginan hatinya, tubuhnya hanya terdiam kaku.

Itachi menanggapi keterdiaman Kyuubi dengan meraih tubuh Kyuubi untuk kemudian membalikkan posisi tubuh mereka, hingga Kyuubi terlentang di bawahnya. Walaupun begitu tetap saja tidak ada respon dari Kyuubi atas posisi baru mereka. Kyuubi hanya terbaring diam, matanya menatap kosong ke depan, menolak membiarkan Itachi melihat emosi yang sedang ia rasakan.

Itachi mengangkat tangannya, untuk menyentuh pipi Kyuubi dengan lembut, dan melanjutkan dengan pelan, "Tapi aku tidak pernah berhasil melakukannya, sekeras apapun aku berusaha menjinakkanmu—mengontrolmu. Semua itu tidak pernah berhasil. Karena sejak awal kau tidak pernah memberikan rasa peracayamu padaku sedikitpun..." Sesuatu dalam nada bicara Itachi kembali menangkap perhatian Kyuubi, mata ruby itu beralih pada mata kelam di atasnya yang memancarkan suatu emosi yang membuat napas Kyuubi tercekat, emosi yang Kyuubi pikir tidak akan pernah ia temui lagi dalam bola hitam itu, dada Kyuubi terasa sesak hanya dengan melihatnya dan ia tidak bisa mengendalikan debaran di hatinya ketika melihat seulas senyum lembut yang Itachi berikan untuknya, dan jantung Kyuubi berhenti bekerja ketika bibir itu bergerak mengucapkan kalimat yang tidak pernah ia duga.

"...Itulah yang membuatku jatuh cinta padamu, Kurama."


::To Be Countinue::