Kasus itu semakin berjalan rumit. Seperti jalan di labirin. Seperti potongan puzzle. Seperti teka-teki riddle. Dan Himchan ingin segera mengakhiri ini semua.

#banghim #bap #gs #t

Bang Her!
11

Ini semua salahku.

.

"Yongguk-ah!"

.

Aku tahu ini semua salahku.

.

"Aku mohon bertahanlah, Yongguk!"

.

Aku sangat tahu apapun yang aku lakukan pasti akan salah.

.

Brankar berisi tubuh berkulit tan yang berlumuran darah itu masih didorong dengan cepat menuju pintu terbuka dengan tulisan RUANG OPERASI di dinding bagian atas, tak dapat lagi terkejar oleh kaki kurus Himchan yang pada akhirnya menyerah dan perlahan roboh ke lantai dengan tangan memegangi bagian bawah perut buncit yang sudah tidak sanggup dibawa berlari lebih lama. Napas wanita itu tersengal layaknya paru-paru pasien yang mungkin akan berhenti meminta udara jika selang oksigen tidak dijejalkan ke dalam lubang hidungnya. Air mata Himchan menetes deras mengenai lantai, menyatu dengan titik darah merah yang sebelumnya jatuh dari ujung jari terkoyak, melihat hal tersebut tangisannya semakin mengalun pilu.

.

Aku penuh dengan kesalahan dan tidak seharusnya aku bertemu denganmu karena pasti kau hanya akan menjadi korban dari kesalahanku!

.

Mendengar suara tangisan dari belakang punggungnya, Jieun yang tertinggal di depan ruang operasi membalikkan badan dan sepasang mata lebar wanita itu langsung membeliak demi menemukan sesosok ibu hamil tengah terduduk di lantai sambil terisak.

"Himchan-ah!" dokter muda tersebut beranjak, membawa jubah putihnya berkibar seiring dengan kaki melangkah cepat lantas menjatuhkan diri di hadapan Himchan yang menundukkan kepala.

"Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau bisa di sini?" buru Jieun, meraih wajah di depannya dan langsung terenyuh melihat raut pucat penuh air mata laksana cermin kristal yang hancur berantakan terbanting di lantai pualam.

Himchan tak kuasa bicara, bibirnya terbuka namun hanya sedu sedan yang keluar dan Jieun tak ingin memaksanya sebab dia tahu apa yang mungkin akan dikatakan oleh wanita itu. Dokter tersebut merengkuh Himchan ke dalam pelukannya.

"Tenanglah. Yongguk akan baik-baik saja. Dia tidak selemah itu. Dia akan baik-baik saja." Jieun mencoba menghibur meski di suaranya masih tersimpan getar dan ia berusaha keras menahan suara tangis dari mata yang belum berhenti melelehkan air bening. Himchan tak bisa menjawab, cuma mencengkeram erat pakaian Jieun dan terisak makin pilu di pundaknya.

.

Ini semua salahku.

.

6 bulan yang lalu.

Ting, pintu lift terbuka namun sepasang mata hitam kelam Himchan hanya menatapnya kosong tanpa ada niat bergerak keluar dari tempatnya berdiri sekarang. Dia masih belum beranjak hingga terdengar suara berderak tanda pintu lift akan menutup, barulah pemilik tubuh semampai tersebut mengangkat tangan dan menahan pintu lalu buru-buru melangkahkan sepasang kaki jenjangnya keluar lift.

Gadis itu berjalan gamang di sepanjang koridor sepi apartemen mewah yang sudah hampir dua tahun terakhir ia huni. Tangannya bergerak menyisirkan jari ke rambut hitam yang nampak kusut tergerai hingga bawah bahu lalu mengusapkan punggung tangan di kedua pipi, mencoba menghapus jejak kilat minyak yang menyumbat pori-pori.

Langkah payah sandal dengan hak pendek dihiasi aksen tali itu perlahan melambat dan akhirnya berhenti sama sekali di depan salah satu pintu kamar apartemen penuh tempelan pita kuning dari kepolisian. Tulisan besar pada selembar kertas terbaca "DISITA PENGADILAN" terpampang jelas membuat tarikan napas paras cantik Himchan berubah berat menyimpan amarah. Di detik selanjutnya gadis itu sudah menarik, melepas, dan merobek pita kuning serta kertas peringatan yang ditempel di daun pintu apartemen sewaannya. Kemudian ia membuka kotak besi di sebelah pintu untuk memasukkan password dan begitu terdengar bunyi 'klek' kunci yang terbuka ia langsung memasukkan badan ke dalam.

Keadaan di bagian dalam apartemen tidak banyak berubah, sepertinya para polisi tidak punya waktu sebanyak itu sampai harus mengacak-acak seisi rumah dan bergegas pergi setelah menempelkan sticky note merah di hampir semua barang yang ada sebagai tanda benda-benda tersebut telah menjadi hak milik negara dan kerusakan maupun kehilangan atasnya akan dikenakan sanksi yang tidak main-main. Usai melepas sandal di beranda, Himchan berjalan menyusuri lorong rumah sambil kedua matanya menatap melas pada semua perabotan yang sudah berpindah tangan tanpa seijinnya. Dia membuka pintu kamar tidur dan mendekati ranjang yang juga mempunyai sticky note merah di bagian atas dipan, bedcover, bantal, bahkan selimut. Perlahan sepasang lutut yang menjadi batas baju terusan yang ia kenakan seperti telah menyerah dan meleleh jatuh di permukaan lantai menyusul punggungnya yang juga bersandar tanpa penopang di nakas. Gadis tersebut meraihkan tangan ke permukaan meja, mengambil bingkai foto yang memiliki sticky note merah menutupi salah satu wajah pada potretnya dan melihat itu dia tersenyum miris.

Bahkan foto saja juga dirampas dari dirinya, apalagi manusia yang sesungguhnya.

Dengan lemah tangan kurus tersebut meletakkan bingkai potret ke atas lantai, tatap matanya kosong serupa yang ia dengar menggema dari spasi rumahnya sekarang.

Begitu kosong, hampa, tanpa secercah harapan.

Perlahan sebutir air bening melompat turun dari kelopak mata dan membasahi pipi yang sudah berubah pucat. Makin lama air yang mengikuti semakin banyak dan tanpa sadar Himchan sudah terisak. Dilupakannya foto yang membisu di lantai, dia melipat kaki, memeluk lutut erat, menangis sesenggukkan seperti anak kecil yang habis dinakali dan diambil jepit rambutnya. Namun orang dewasa seperti dia tidak akan menangis hanya karena jepit rambut atau rumah sudah dirampas, melainkan melihat orang-orang tersayang dan paling dipercaya juga ikut menghilang, pergi diambil oleh mereka yang punya niat jahat, itu adalah hal yang paling menyakitkan.

.

Sebuah usapan pelan di salah satu pelipis menyadarkan Himchan dari mimpi hitamnya dan seiring mata gadis itu mengerjab dia juga merasakan permukaan lembut kasur sudah menempel pada pipi serta telapak tangan. Bibir tipis tersebut mengesah lirih, menenggelamkan wajah makin dalam di bantal yang mengembang seperti bulu kucing sebelum kemudian sadar sepenuhnya lalu bangkit duduk.

"Kau sudah bangun?" sebuah suara berat membantu Himchan semakin cepat mengumpulkan pecahan jiwa raga. "Aku mencarimu kemana-mana. Aku dengar kau ke Seoul dan aku segera berkeliling tapi tidak bisa menemukanmu. Kau pergi kemana, Himchan-ah?"

Himchan tidak menjawab, hanya menatap datar lelaki yang duduk di lantai yang barusan mengusap kepalanya ketika tidur dan saat ini tengah memandangnya dengan sepasang mata kecil serta senyuman hangat menyenangkan.

"Aku merindukanmu, Himchan-ah."

"Kenapa kau di sini?" desis gadis berambut hitam setelah hening sesaat.

Sungwoon mengerjabkan mata. "Aku cuma menebak kau ada dimana. Awalnya aku ragu kau akan pergi ke sini karena tempat ini sudah disita polisi tapi melihat pintu depan berantakan aku langsung masuk ke dalam." Suara pria tinggi itu terdengar tenang. "Himchan-ah, kau tahu pergi ke sini terlalu beresiko. Polisi bisa datang kapan saja dan kalau sampai mereka melihatmu kau bisa ditangkap lagi."

Himchan melengos, menyisirkan jari ke rambutnya sembari memalingkan wajah dari tatapan dewasa yang dulu dan selama ini sangat dia kagumi.

"Aku sudah bilang padamu, kalau kau butuh tempat pergilah ke rumahku. Aku tidak akan mengatakan apa-apa pada siapapun dan Junhong juga bisa menjaga rahasia. Aku—"

"Aishh, bullshit!" Himchan memotong dan langsung bangkit dari tempat tidur, melangkah menuruni kasur melewati Sungwoon yang hanya membalikkan badan memandang punggung sempit gadisnya dengan tatapan sabar.

"Himchan-ah, aku tahu kau masih marah padaku. Maafkan aku," kejar Sungwoon keluar kamar. "Kau sendiri tahu posisiku sedang tidak bagus dan kita sama-sama tahu watak Kyungwook seperti apa. Semakin dia dilawan akan semakin dia menggila. Satu-satunya cara adalah pura-pura menyerah—"

"Pura-pura menyerah apa!?" Himchan memelototkan matanya yang banyak memiliki garis urat merah, dihiasi warna menghitam di kulit bawah yang biasanya membingkai kedua manik itu dengan indah. "Kalau akhirnya sudah begini! Aku kehilangan segalanya! Apa ini masih pantas disEBUT PURA-PURA MENYERAH!?" wanita tersebut menjerit meluapkan rasa frustasinya.

"Kalau Oppa ada di posisiku, apa Oppa akan diam saja diperlakukan begini!?" air bening kembali tumpah dari kedua mata Himchan yang sudah terasa perih digunakan menangis berkali-kali. "Oppa mudah saja bilang ini sudah wataknya karena bukan Oppa yang menjadi targetnya, tapi aku! AKU, OPPA! DIA MENGHANCURKANKU! DIA BILANG DIA MENYUKAIKU TAPI DIA MENGHANCURKANKU!" dengan cepat Sungwoon merengkuh Himchan ke dalam dekapan erat, tetap bersikukuh memeluk gadis tersebut meski dia berontak memaksa untuk lepas, sampai sepasang tangan kurus itu menyerah dan hanya dapat meredam tangisan kerasnya di dada bidang sang kekasih.

"Maafkan aku..." bisik Sungwoon. Suaranya bergetar. "Maafkan aku, Himchan-ah. Maafkan aku yang pengecut dan tidak punya kekuatan lebih untuk melindungimu. Maafkan aku..."

"Aku pikir kalau aku menuruti keinginan Kyungwook dia akan melepaskanmu. Aku tidak pernah tahu kalau akhirnya dia malah bertindak keterlaluan seperti ini. Aku minta maaf..."

"Aku hancur, Oppa... aku sudah tidak punya apa-apa..." Himchan meraung, isakannya sarat dengan rasa sedih dan putus asa, seolah seisi dunia tidak ada yang sudi berpihak padanya.

"Tidak, Sayang. Kau masih memilikiku. Kau masih memiliki Oppa. Aku akan melindungimu, aku tidak akan membiarkanmu sendirian," bisik Sungwoon penuh janji. "Besok aku pergi ke Amerika. Ikutlah denganku. Kita menikah di sana dan Kyungwook tidak akan bisa mengusik kita berdua. Dia tidak akan pernah melukaimu lagi."

Himchan hanya menjawab dengan sesenggukan. Menggunakan kekuatan terakhirnya ia melingkarkan lengan di tubuh tinggi Sungwoon, meremas kuat kain baju pria itu, mencoba kembali menggantungkan harapan, membuat harapan, menguatkan diri untuk percaya pada harapan yang dikatakan kekasihnya sebab saat ini hanya itulah yang ia butuhkan. Bukan rumah, uang, atau mobil yang paling Himchan perlukan untuk bangkit sekarang melainkan kata-kata penenang tentang hari esok yang akan baik-baik saja. Seburuk apapun hari ini, Himchan cuma butuh keyakinan bahwa besok matahari pasti terbit menjanjikan harapan dan hidup yang lebih baik.

Namun mungkin matahari yang dimaksud tersebut tidak pernah ada di dunia ini sebab buktinya hari esok Himchan tetap kelam.

Dini hari gadis cantik itu terbangun oleh suara ponsel yang bergetar dan tidak dapat menemukan sosok Sungwoon berbaring di sebelahnya. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul Himchan mengambil ponsel lantas menjawab panggilan dan langsung disambut suara tangisan histeris Junhong.

"Eonnie! Sungwoon Oppa kecelakaan Eonnie!"

Dan matahari tidak pernah terbit lagi di hidup Himchan setelah itu.

Begitu mendapat telepon dari Junhong, Himchan bergegas menuju rumah sakit yang disebutkan gadis tersebut tapi saat tiba di sana dan melihat ada banyak orang perusahaan Kyungwook berkeliaran seolah sedang berjaga, Himchan sadar tidak seharusnya dia ke sana.

Kyungwook tidak main-main dengan ultimatum yang sudah ia katakan tentang akan menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalannya untuk mendapatkan Himchan. Jika bahkan Sungwoon, sahabat dekatnya sejak bertahun-tahun lalu, juga menjadi korban maka tidak ada alasan lagi untuk Himchan menganggap enteng ambisi dan ketidak-warasan lelaki tersebut.

Setelah melihat sendiri bagaimana brutalnya Kyungwook menghabisi siapapun yang ada di sekitar Himchan, membuat gadis itu akhirnya membulatkan tekad untuk memutuskan hubungan dengan orang-orang yang pernah muncul di hidupnya. Sungwoon, Junhong, Hyeseong, para pegawai kantor, klien, penjual bunga, pedagang buah, kasir minimarket, dan kalau perlu juga puluhan pejalan kaki yang setiap hari berpapasan dengannya dalam perjalanan pergi serta pulang kerja. Bahkan Himchan sempat berpikir untuk pindah ke luar negeri dimana tidak ada satu orang pun yang mengenalnya dan dia pun tidak akan mencoba untuk berkenalan dengan orang baru sebab rasa trauma bayangan orang-orang tak berdosa itu nantinya akan menjadi incaran Park Kyungwook tidak akan hilang dan pasti tetap menghantui kemana kakinya melangkah.

Itulah alasan kenapa dia histeris dan mati-matian menolak kehadiran Junhong ketika bertemu dengannya di mall pertama kali setelah berpisah begitu lama. Himchan takut ada yang melihat Junhong bersamanya. Lebih tepatnya, dia takut ada orang suruhan Kyungwook yang melihat pertemuan mereka dan tragedi Sungwoon kembali terulang.

Tapi agaknya, sekeras apapun usaha Himchan untuk berhati-hati yang namanya insting seekor anjing memang tidak bisa diremehkan. Dia akan tetap terbangun lalu mengejarnya hingga terbirit-birit, pun dengan Park Kyungwook.

Padahal Himchan sudah memastikan perusahaan Youngjae tidak pernah punya hubungan apapun dengan agensi Kyungwook dan atas dasar itu pula dia setuju dengan penandatanganan kontrak kerja sementara setelah sekian lama menganggur, namun kenapa... kenapa segalanya harus berakhir sama seperti ini?

Karyanya kembali dijiplak.

Semua orang pontang-panting.

Ada yang kena kecelakaan.

Dan Kyungwook masih damai, sejahtera, sentosa di kantornya tertawa terbahak-bahak seolah dia sedang menonton film lucu.

Selucu itukah penderitaan orang lain?

Selucu itukah membuat seseorang menderita hanya karena tidak bisa memilikinya?

Himchan muak.

Dia muak pada Kyungwook, pada takdirnya yang mengharuskan bertemu pria itu sejak awal.

Himchan muak pada dirinya sendiri yang terus saja membuat banyak orang menderita.

Himchan benar-benar menyesal pernah dilahirkan ke dunia ini.

Dia benar-benar menyesal harus bertemu dengan banyak orang yang baik namun pada akhirnya hanya bisa mencelakai mereka.

Himchan sangat menyesal pernah bertemu Bang Yongguk jika yang dapat ia lakukan sekarang cuma menangisi nasib sial yang diakibatkannya.

Flashback end.

-o-

Suasana senyap menyelimuti koridor rumah sakit. Suara detik jarum jam yang menggema semakin membuat berat rasa tidak nyaman akan kesunyian dan Jieun masih terpekur duduk di lantai bersandar pada tembok di depan pintu ruang operasi, di sebelahnya ada Himchan yang menselonjorkan kaki sama sekali tidak sanggup mengatakan apa-apa. Kedua wanita tersebut sama-sama terdiam, larut dalam pikiran serta kecemasan masing-masing terkait satu orang yang sama yang tengah berjuang melawan maut dibantu pisau bedah dokter di dalam kamar operasi.

"Yongguk bukan orang yang lemah," desis Jieun, suaranya serak dibalut rasa lelah, sedih, dan kurang istirahat.

"Sejak kecil dia tidak pernah menangis waktu jatuh dari sepeda dan tidak merengek ketika terantuk batu hingga kakinya berdarah. Ibunya sampai khawatir ada yang salah dengan sarafnya tapi dokter bilang tidak apa-apa. Memang wataknya saja yang seperti itu." Dokter muda tersebut berhenti sejenak. "Hal begini pun..." dia menelan ludah. "Pasti tidak akan ada apa-apanya untuk Yongguk." Mata Jieun berkaca-kaca.

Himchan diam, tidak menyadari jika air kembali menetes dari mata membasahi pipi pucatnya.

"Dia pasti akan baik-baik saja. Yongguk pasti akan baik-baik saja. Dia tidak akan kenapa-kenapa." Jieun berbisik berkali-kali sembari perlahan memeluk lutut, menenggelamkan tangisannya di sana. "Yongnam-ah, adikmu terluka. Yongnam-ah... adikmu terluka parah, Bang Yongnam..."

Himchan mengusap kedua pipinya yang basah dengan telapak tangan. Perlahan mencoba untuk berdiri lalu berjalan meninggalkan Jieun yang masih terisak, sama sekali tidak menyadari kepergiannya.

Mungkin, sudah waktunya untuk menyerah...

-o-

Daehyun melirik jam yang menggantung di dinding kantor. Pukul setengah empat pagi. Dia beralih memandang ponsel yang tergeletak di meja dan tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan membuat namja itu mengesah keras, mengulapkan tangan ke wajahnya yang sudah kusut akibat belum tidur sama sekali sejak sore.

"Haish, aku bisa gila!" Daehyun bersumpah serapah, menyandarkan punggung ke kursi dan membuat kepalanya tengadah menatap langit-langit kantor yang sepi senyap.

Youngjae sudah pulang sejak berjam-jam lalu, naik mobil, dengan dua orang detektif suruhan Jongup yang selalu mengikutinya untuk berjaga-jaga, meninggalkan Daehyun yang diminta Yongguk untuk tetap di kantor entah karena alasan apa. Atasannya itu bahkan melarang dia tidur barang sekejab saja dan harus selalu berada dekat dengan ponselnya.

Kenapa?

Daehyun tidak tahu. Jalan pikiran seorang Bang Yongguk tidak pernah bisa ia tebak dengan mudah.

"Hyung, apa yang sedang kau rencanakan?" desis Daehyun. "Kenapa perasaanku sangat tidak enak begini?"

Drrt, drrt, panggilan masuk. Hampir melompat Daehyun meraih ponselnya dan menjawab telepon dengan sigap.

"Halo? Jung Daehyun di sini."

"Yongguk sudah memberitahumu kau harus kemana?" sebuah suara serak dengan resonansi dalam membalas kalimat Daehyun membuat pemuda itu cengo sesaat.

"Yongguk Hyung?" dia mendesis, merasa mengenali suara bass tersebut sebagai suara ketua timnya.

"Bukan. Aku Yongnam."

"WOAH!" Daehyun berdiri seketika. "P-P-P-PresDir!" dia gagap. "Maafkan saya! Maafkan kelancangan saya! Saya kira anda Yongguk Hyu—maksud saya, General Manager! Saya benar-benar pantas dihukum! Saya mohon jangan pecat saya!"

"Ara ara." Suara Yongnam terdengar mendesis. "Kesampingkan dulu soal kelancangan atau apa itu yang kau sebutkan. Sekarang aku tanya sekali lagi, apa kau sudah diberitahu Yongguk kau harus kemana dan melakukan apa?"

"NE! General Manager sudah memberitahu saya semuanya!" Daehyun menjawab layaknya dia sedang mengikuti wajib militer.

"Suaramu keras sekali," keluh Yongnam. "Kalau begitu pergilah ke sana sekarang."

"Eh?" mata Daehyun membeliak. "Maksudnya?"

"Pergilah ke tempat itu sekarang. Seperti pesan Yongguk," tegas Yongnam.

Daehyun terdiam. Dia memang diminta Yongguk untuk tetap berjaga di kantor dengan satu pesan; jika ada sesuatu terjadi maka Daehyun harus segera pergi ke bangunan agensi X sesegera mungkin. Yongguk dengan sangat jelas berpesan itu meski tidak mengatakan apa alasannya.

"Kenapa? Apa sudah terjadi sesuatu?" tanya Daehyun, isi dadanya bergemuruh, perasaan tak nyaman yang sejak tadi mengendap di sana makin bergejolak tidak karuan.

"Penjelasannya panjang. Yang penting kau sekarang pergi ke tempat yang disebutkan Yongguk sebelum terlambat."

"Terlambat? Kenapa terlambat? Apa yang harus aku lakukan di sana?"

Yongnam berdecak keras. "Berhenti bertanya! Lakukan saja!"

Daehyun terjengat, spontan dia langsung memasukkan ponsel ke saku celana tanpa mematikannya dan menyambar mantel yang sudah menyimpan kunci mobil. Dalam hitungan detik pemuda tersebut sudah melesat di lorong kantor yang senyap.

-o-

Jongup menyalakan lampu bagian kiri mobilnya sambil dengan hati-hati membawa kendaraan tersebut bergerak ke arah kiri jalan raya, mendekati keramaian yang dipenuhi oleh mobil polisi serta ambulans.

"Detektif, akhirnya anda datang," seorang pria berseragam polisi lalu lintas segera memberi hormat begitu melihat sosok Jongup keluar dari mobil. Pemuda bermata sipit itu membalas hormat baru kemudian berjalan semakin dekat ke tempat kejadian perkara. Dia mengamati badan mobil sedan mungil berwarna kuning yang sudah penyok parah bagian depan akibat menabrak pembatas jalan dan mengalihkan pandangan pada bekas selip ban yang tercetak hitam tebal di aspal.

"Apa hasil penyelidikannya?" tanya Jongup.

"Siap! Sepertinya di tengah jalan korban kehilangan kontrol kemudi, mengalami selip, yang berakhir dengan menabrak pembatas jalan. Kami masih mengecek rekaman CCTV untuk memastikan," jawab polisi lalu lintas yang sebelumnya menyapa Jongup.

"Temuan lainnya?"

"Tali rem di mobil itu putus seperti bekas dipotong."

Alis tegas Jongup mengerut. "Jadi itu alasan kalian memanggil divisi kriminal?"

"Iya, Pak! Kecelakaan ini kemungkinan bukan kecelakaan biasa melainkan bisa masuk kategori percobaan pembunuhan. Kami masih menyelidiki bekas potongan pada tali remnya."

Jongup berdecak keras. "Aku sedang sangat sibuk sekarang. Kenapa kau harus memberiku pekerjaan sulit di saat seperti ini? Mana laporannya?" Dia menengadahkan tangan yang langsung disambut sebuah papan dengan beberapa lembar kertas terjepit di kepalanya.

Pria bertubuh tegap tersebut membuka lembar demi lembar kertas berisi laporan dengan malas namun roman mukanya berubah manakala tak sengaja terbaca olehnya identitas korban dan informasi kepemilikan mobil.

"Yoo Youngjae?" Jongup mencoba mengingat-ingat dimana kira-kira dia pernah mendengar nama itu. Pemuda tersebut melompati garis kuning polisi dan mendekatkan diri pada pintu pengemudi yang sudah dirusak sebelumnya untuk mengeluarkan supir yang terjebak di dalam. Nampak bekas darah berceceran di sana-sini menguarkan rasa miris dan bau amis.

Jongup memicingkan mata mencoba melihat jelas hiasan yang menggantung di kaca spion atas mobil. Sebuah bingkai plastik berisi foto seorang gadis manis dengan seorang pemuda.

"Daehyun..." Jongup mengenali wajah sang namja dan dia tidak ragu lagi kalau perempuan yang berpose di sebelah sosok Daehyun adalah orang yang ia kenal dengan nama Yoo Youngjae.

Badan Jongup terasa lemas.

Benar-benar terjadi... kecelakaan ini...

-o-

Mungkin, sudah waktunya untuk menyerah...

Himchan tidak bisa memikirkan satu kalimat tersebut bahkan setelah dia melangkahkan kaki keluar mobil dan sudah berdiri di halaman gedung perusahaan Kyungwook.

Kalau aku menyerah semua tragedi ini akan berhenti.

Himchan meletakkan tangan mungilnya di permukaan perut yang membuncit semakin besar.

Maafkan Eomma, Sayang. Eomma ingin bertahan sebentar lagi tapi kalau ini semua berlanjut Eomma tidak tahu siapa lagi yang akan menjadi korban. Jika nanti kau tidak bisa lahir ke dunia ini, kutuklah Eomma dengan semua kemarahanmu Eomma akan menerimanya. Maafkan Eomma... Himchan menutupkan tangan ke mulut untuk meredam suara tangisannya.

Sudah cukup Eomma keras kepala. Sudah cukup semua pelarian ini. Sudah cukup semua penderitaan ini. Harus ada yang berkorban untuk menghentikannya dan Eomma tidak mau orang-orang baik itu dan juga ayahmu yang menjadi tumbal dari keegoisan Eomma. Tidak ada cara lain lagi. Sejak awal memang hanya inilah satu-satunya cara.

Perlahan Himchan melangkahkan kaki menuju pintu masuk agensi milik Park Kyungwook, tempat yang dia sebut dalam sumpahnya tidak akan pernah dia dekati lagi setelah ia dibuat malu dan harga dirinya diinjak-injak di sana oleh teman lamanya sendiri. Sebuah tempat dimana untuk pertama kalinya Himchan tahu niat asli dan ambisi Kyungwook terhadap dirinya setelah bertahun-tahun lamanya pria itu berdiam diri. Sebuah tempat yang mengakhiri ikatan tulus persahabatan dan mengawali pertikaian tanpa perang namun mengalirkan darah. Dan Himchan berharap tidak akan ada darah lagi yang mengalir kecuali itu miliknya setelah ia menyerahkan diri sebab memang yang diinginkan Kyungwook hanyalah dirinya.

Grep! Langkah kaki Himchan terhenti saat tiba-tiba sebuah tangan besar meraih salah satu pundaknya dari belakang. Napas wanita tersebut nyaris berhenti dengan jantung yang langsung berpacu cepat. Dia memejamkan mata rapat-rapat, sekujur badannya gemetar, dan entah kenapa dalam hatinya tidak bisa berhenti menyebut nama Yongguk setelah permintaan tolong yang terbata-bata.

"Akhirnya kau ke sini. Aku sudah lama menunggumu, Kim Himchan."

-TBC-


Maafkaaan kemarin Myka sempat kena bajak tapi syukurnya bisa balik T0T
Senang ketemu sama kakak-kakak lagiii T0T

Btw, Myka lagi (sok) super sibuk sekarang jadi tolong maklum kalo bakal long update (biasanya sih juga looong update #plak)

SIAPA MAU NYUMBANG NAMA BUAT DEBAY NYA BANGHIM!? XD XD XD