I couldn't bring myself to see him because I know he'll leave me again.

but I also do not want to continue to hide when I know if he would return.


CHAPTER 11

.

.

.

HAPPY READING !

(5K+ Words)

.

.

.

Pagi menyebalkan ditanggal 28 Januari 2016

Siapa? Karena apa?

Sehun. Karena ketukkan membabi buta juga suara jeblakan pintu yang berdentum pada dinding kamar miliknya membuatnya terlonjak bangun dalam sekejap. Kepalanya pening dengan pandangan buram lantaran kaget. Chanyeol sang pelaku hanya menyengir dan melangkah masuk tanpa permisi membiarkan koper yang dibawanya teronggok didepan pintu kamar.

Badannya yang tinggi tidak menyulitkannya untuk mengambil koper Sehun yang berada diatas lemari. Ia lantas memasukkan segala macam pakaian yang sekiranya diperlukan, mengabaikan sang pemilik yang tengah memijit kening juga sekitaran lehernya yang sakit.

"Tidak bisakah kau datang dengan sedikit manusiawi? Kau membuatku vertigo dipagi hari, Hyung!" Cela Sehun kesal.

"Ini jam 8.30 dan kau bilang ini masih pagi? Kita bisa terlambat." balas Chanyeol mendelik.

Sehun menggerutu dengan wajah masam pada Chanyeol yang telah mengganggu tidurnya, tentu saja itu masih pagi tapi seakan tidak perduli Chanyeol mengabaikan gerutuan Sehun dan berjalan mondar-mandir penuh semangat memasukkan keperluan Sehun yang lain selain pakaian.

"Kau mau mengajakku kemana? Aku sedang malas berpergian. Jadi kembalikan baju-bajuku ke dalam lemari!"

Pergerakkan Chanyeol terhenti, pria itu menoleh menatap Sehun sebentar sebelum melanjutkan kembali pekerjaannya, mengabaikan Sehun yang merengut kesal.

"Hyung~" panggil Sehun sedikit merengek saat Chanyeol ingin memasukkan parfum miliknya ke dalam koper.

"Bersyukurlah karena Luhan langsung meneleponku tadi malam. Dia bilang aku harus menemanimu ke Jepang hari ini. Manager hyung juga sedang berada disana sekarang." Balas Chanyeol.

Mendadak wajah Sehun menjadi datar seketika.

"Aku tidak mau pergi." kata Sehun kembali menjatuhkan badannya dan menarik selimut sampai atas kepala sambil menggerutu tidak jelas karena suaranya yang teredam.

"Ya sudah jika kau tidak ingin pergi, aku bisa saja langsung menghubungi Luhan hyung sekarang." Chanyeol merogoh saku celananya, menekan tombol power dan mulai mencari nomor Luhan.

Touch sounds pada layar yang dalam keadaan aktif pun sampai terdengar hingga ke telinga Sehun.

"Yeob—"

"Matikan!"

Chanyeol menoleh saat telinganya mendengar desisan juga selimut yang tersibak kesal yang lakukan oleh Sehun membuat empunya langsung terduduk diatas ranjang. Seolah mengerti, Chanyeol hanya tersenyum tipis dan mengangkat bahunya acuh sebelum melanjutkan kata-katanya, "Aah~ maaf hyung aku tidak sengaja. Hmm... annyeong."

Sehun langsung mendengus kuat-kuat setelahnya.

Setelah telepon tertutup, Chanyeol membenarkan posisinya menghadap Sehun. "Makanya. Kau—" tunjuk Chanyeol pada Sehun, "Cepatlah mandi dan kita segera pergi. Kau sudah memesan tiketnya, 'kan?" lanjutnya disertai pertanyaan, lalu berbalik dan menggeret koper Sehun keluar.

Sehun berdecih. "Sudah memang. Tapi—"

Langkah Chanyeol terhenti dan menoleh cepat saat mendengar kata tapi yang Sehun ucapkan.

"Tapi apa?"

"Tapi jam penerbangan kita sore hari, hyung. Jadi... tidak perlu terburu-buru." Kata Sehun acuh.

Dan rasanya Chanyeol ingin menghantamkan kepalanya kedinding kamar. Bukan apa-apa, hanya saja ia sudah mendapatkan pukulan sayang dari kekasihnya yang marah karena tidak diajak. Bahkan rasa sakitnya masih terasa dibeberapa bagian tubuhnya. Bukannya Chanyeol tidak mau, tapi Baekhyun memang harus lebih mementingkan Moon Lover nya 'kan?

.

Gerutuan juga sumpah serapah Chanyeol layangkan pada Sehun yang mendengus disampingnya. Itu semua karena Sehun yang bisa-bisanya KETIDURAN.

"Idiot. Idiot. Idiot. Dasar magnae idiot! Bagaimana bisa kau tertidur pulas disaat otakmu masih mengingat betul jika kita harus terbang sore ini, eoh?!" maki Chanyeol diperjalanan menuju bandara.

"YAK! Salahmu yang memaksa, hyung. Dasar idiot bertelinga gajah." Balas Sehun tak mau kalah.

"Wajah beton!"

"Yoda sialan!"

Terus seperti itu sampai kaki mereka menapak di lantai bandara yang ramai.

"Kakimu panjang. Jadi jangan seperti siput!"

Sehun mendongkol dalam hati. Sabar Sehun banyak orang jangan terpancing. Batin Sehun kesal.

Kedua pria itu, Chanyeol dan Sehun. Terlihat sedikit terburu waktu di dalam bandara. Tidak, sebenarnya hanya Chanyeol yang seperti itu karena Sehun tampak santai. Ia hanya akan sedikit mempercepat langkah karena tidak ingin tertinggal dan dikepung oleh fans yang kebetulan melihat mereka.

"Cepatlah Sehun!" kata Chanyeol sedikit keras menoleh kearah Sehun dibelakangnya. Sehun berdecak dalam hati melihat pria itu karena sudah lebih dulu menaiki eskalator meninggalkannya dibawah. Ia menanyakan, sebenarnya siapa disini yang berniat ke Jepang?

Uuuh sial sekali. Kenapa pula si Yoda itu harus terburu-buru? Mereka masih memiliki waktu yang cukup jadi tidak perlu berolahraga. Kalau pun mereka terlambat bukankah pihak maskapai akan memberikan beberapa menit untuk menunggu penumpang? Benar-benar.

.


.

"Kau menyuruh Sehun ke Jepang?"

Luhan mengangguk santai. Tangannya masih asik bermain rubik dengan lincah yang telah diacak oleh Laogao yang saat ini duduk disebelahnya, memperhatikan.

"Kenapa?"

Luhan mengangkat bahunya acuh.

"Karena dia ingin kesana dan aku memberikannya izin." Kata Luhan. Matanya hanya terfokus pada rubik jadi ia tidak tahu kalau Laogao menatapnya dengan memincing.

"Selebihnya?" tanya Laogao curiga.

Pergerakkan tangan Luhan berhenti sebentar, alisnya berkerut seperti berpikir sebelum kembali memutar tiap-tiap ruas rubik.

"Aku ingin Tokyo Banana." Aku Luhan jujur karena ia memang ingin makanan itu.

Laogao memutar bola matanya jengah. "Kau tahu apa maksudku yang sebenarnya, Lu." Kata Laogao serius.

Helaan napas terdengar setelahnya. Luhan meletakkan rubiknya diatas meja. Rubik itu sudah ia selesaikan, ia menyandar pada sofa dan membalas tatapan Laogao tak kalah serius.

"Sehun sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku. Entahlah~"

"Maksudmu?"

"Sehun. Dari yang kulihat dia seperti tengah menyibukkan sesuatu. Maka dari itu aku ingin datang dan mencari tahu. Lagi pula, aku memang ingin memenuhi janjiku padanya."

"Dengan menyuruhnya pergi saat kau datang?" tanya Laogao memastikan.

"Yup."

Laogao mengusap dagunya sebentar. "Kau mencoba membuat sebuah kamuflase. Itu yang aku tangkap dari perkataanmu."

"Tepat sekali. Aku tahu pasti bagaimana paniknya Sehun saat aku menggunakan jalur udara dan aku tidak ingin menimbulkan komentar negatif jadi aku menyuruhnya pergi lagipula kalau dia masih di Korea itu menghambatku untuk mencari tahu."

"Kalau kau sudah menemukan apa yang Sehun sembunyikan darimu, apa yang ingin kau lakukan?"

Luhan tersenyum mendengar pertanyaan itu membuat Laogao melemparkan tatapan bingung.

"Aku tidak bisa memprediksi apa yang akan aku lakukan padanya. Tapi jika 'sesuatu' itu bisa menyulut kemarahanku. Mungkin menendang aset pribadinya akan aku coba." Kata Luhan menyeringai yang sayangnya terlihat cantik sambil mengangkat bahunya acuh lalu tertawa.

Laogao menggeleng kepalanya tak habis pikir. "Terserah padamu. Tapi ngomong-ngomong, rekor baru untukmu bermain rubik. Kau menyelesaikannya hanya dalam waktu 20 detik." Kata Laogao mengecek stopwatch ditangannya. Menepuk bahu Luhan pelan dan pergi dari sana.

Luhan mengambil ponselnya diatas meja, mengingat hari ini hari jumat tapi ia belum memposting apapun.

Hari ini hari jumat. Lama tidak berjumpaaa~

Baru saja mengunggah foto, Sehun langsung mengiriminya sebuah pesan saat itu juga.

Lama tidak berjumpa membuatku semakin merindukanmu. Aku ingin pulaaaaaaang~

Luhan terkikik sendiri didalam kamarnya. Bagaimana tidak, tepat setelah pesan itu selesai ia baca, Sehun langsung meneleponnya dengan gerutuan panjang x lebar dan berkata ingin segera pulang. Tentu saja Luhan tidak akan membiarkan itu terjadi. Sehun yang kesal ditertawakan langsung memutuskan sambungan secara sepihak tapi tak lama sehabis itu, nyatanya pria pucat itu malah terus-terusan mengiriminya pesan yang membuat ponselnya berdering berisik.

"Astaga... ponselku bisa kehabisan baterai, Sehun-ah." Kata Luhan gantian menelepon. Terdengar dengusan diseberang.

'Aku hanya ingin pulang dan menyambutmu. Kenapa melarangku?!'

"Aku tidak butuh sambutan."

'Tapi aku ingin me- aah... jadi ini maksud kata-katamu yang tidak jelas saat itu? Wae? Wae? Waeee?'

Luhan memutar bola matanya malas, "Tidak jelas? Apakah perkataanku sesulit itu untuk kau mengerti, hmm?"

"Tidak juga.."

Aneh. Luhan mengernyit saat mendengar perkataan Sehun yang terdengar ragu-ragu.

"Oh benarkah? Aah... Apa kau memiliki koleksi baru majalah dan dvd berbau porno yang membuat otakmu mengalami penurunan IQ? Kalau benar, maka katakan selamat tinggal karena semuanya akan ku bakar!" ancam Luhan garang membuat Sehun kalang kabut diseberang telepon.

'Apa? Majalah Porno? Tidak—aku—sungguh! aku t—tidak memilikinya. Aku bersumpah!'

Dan Luhan menangkap dengan jelas kepanikkan itu. Mendadak wajahnya perlahan mulai memerah marah. Luhan merengut membuat bibirnya hanya terlihat seperti garis dengan telinga yang juga ikut memerah.

"KAU MENGOLEKSINYA!" tuduh Luhan garang.

'Tidak sayang. Aku sungguh.'

"KAU INGIN AKU MEMOTONG LIGHTSABER MU HAH?!"

Kontan saja teriakkan itu membuat Sehun kaget bukan kepalang disusul bunyi dentuman seperti benda berat yang terjatuh. Sehun terjatuh dari atas tempat tidur.

Lenguhan sakit terdengar setelahnya. Sehun mengaduh kesakitan pada Luhan tapi seakan tidak perduli Luhan tak menanggapi apapun.

"Aku akan pergi ke Seoul tanggal 31 nanti. Dan jika ketika aku sampai aku melihat koleksi itu di ruanganmu. Jangan salahkan aku jika kau hanya akan melihat abunya ketika kembali. Aku tidak main-main."

Sehun menelan ludahnya kepayahan. 'Ya. Terserah apa yang ingin kau lakukan tapi datanglah bersama seseorang.'

"dan melihat kelakuanmu yang mengoleksi benda sialan itu selama aku di China? Lebih baik aku pergi sendiri!"

'Oh-ayolah, baby... Kau ingin dikepung oleh fans?' kata sehun khawatir diujung telepon.

"Aku pria manly. Jadi tidak usah khawatir!" sebenarnya, ingin sekali Sehun tertawa mendengar kata 'manly' yang Luhan-nya katakan tapi daripada membuat rusa liar kembali mengamuk lebih baik ia mengabaikan kata itu.

Tapi bukan berarti membuatnya berhenti merasa khawatir. Sehun dengan cepat kembali memutuskan sambungan dan langsung mengubah panggilan itu menjadi sebuah videocall.

"Luhan tolonglah~ Jangan pergi sendiri!"

"Memangnya kenapa kalau pergi sendiri? Kau khawatir karena aku akan sendirian di dalam pesawat?"

Sehun mengangguk cepat. Luhan memutar bola matanya sebal.

"Tenang saja. Aku akan bersama belasan pramugari juga pramugara yang siap sedia mengurusku kalau penyakitku mendadak kambuh." Kata Luhan. Tapi Sehun tetap merasa tidak tenang.

"Sayang~ kumohon, pergilah berdua dengan seseorang. Memangnya kemana managermu itu?!" kesal Sehun.

"Laogao memiliki kepentingan pribadi. Ia tidak bisa ikut dan akan menyusul." Kata Luhan kali ini dengan wajah jengah.

"Kalau begitu pecat saja dia. Manager itu sudah seharusnya berada dimanapun artisnya berada." Sungut Sehun karena Luhan tetap tidak mau menurutinya.

Luhan langsung mendelik garang lagi.

"Bagaimana kalau aku bilang, berhentilah mengidolakan model-model itu?! Kalau tidak aku benar-benar akan memotongnya, kau mau?! Astaga! Tidak cukupkah melihatku benar-benar marah saat kau mengiriminya album?! Kau bahkan melakukannya secara diam-diam!" pekik Luhan kembali marah.

Sehun menciut saat itu juga, ia menyimpan bibirnya rapat-rapat. Takut salah kata lagi.

"Tentu saja aku tidak mau." gumamnya, "Nanti kalau dipotong bagaimana memasuki lubangmu lagi." Cicit Sehun dan Luhan mendengus kesal setelahnya.

.


.

"Hyung... nanti malam kita pulang, 'kan?"

Chanyeol menoleh langsung menghadap Sehun saat dirinya baru saja membuka pintu kamar mandi, selesai membersihkan diri. Matanya sedikit melirik sekilas pada jam yang tergantung di dinding yang menunjukkan pukul 8:00 pagi sebelum mengangguk pada Sehun yang langsung tersenyum senang.

Wajah Sehun yang penuh dengan lipatan seprai tampak masih lengket dengan kasurnya, berguling mencari posisi yang nyaman dari posisi tengkurapnya tadi setelah mengambil ponsel diatas nakas.

"Kau tidak ingin mandi?" tanya Chanyeol setelah berganti pakaian.

Sehun melirik sekilas dan kembali fokus pada ponsel. "Sebentar..."

"Cepatlah. Banyak yang akan kita kunjungi nanti." Kata Chanyeol menarik kaki Sehun turun dari tempat tidur. Walau sedikit menggerutu karena ia sedang asik melihat-lihat foto Luhan, Sehun tetap menurut karena tempat yang akan ia kunjungi adalah tempat untuk berburu oleh-oleh.

Mereka saat ini sedang berada di salah satu pusat fashion terbaik di Jepang untuk berburu beberapa pakaian dan juga aksesoris dari brand ternama. Kaki mereka sudah melangkah di beberapa tempat seperti Omotesando, Harajuku, Shibuya dan Daikanyama. Tak lupa juga mengambil beberapa foto sebagai kenangan sampai sebuah dering ponsel menghentikan kegiatan mereka berdua.

"Yeoboseyo..." Sehun mengangkat ponselnya cepat setelah melihat nama yang tertera dari layar itu.

'Kau pulang hari ini?'

Sehun menangkap suara diseberang telepon yang terdengar agak panik. "Ya, memangnya kenapa?"

'Batalkan!' perintah Luhan mutlak.

Sehun mengerutkan keningnya dalam.

"Waeee?" kata Sehun tidak terima.

'Aku berangkat malam ini dan kau pulang juga malam ini?! Yang benar saja. Kau bisa membuat kita bertemu didalam bandara.' Kata Luhan semakin panik.

Sehun memijit kedua alisnya yang mendadak tegang tadi sebelum membalas perkataan Luhan. "Kau yang tidak memberitahuku kapan kau pergi. Jadi jangan salahkan aku."

Luhan berdecak diujung telepon, Sehun bisa mendengarnya dengan jelas.

'Jadi kau menyalahkanku? Begitu?! Aku tidak mau tahu, pokoknya batalkan penerbanganmu.' Putus Luhan sepihak.

Oh ayolah. Batin Sehun mengerang. Ia menghela napas kuat-kuat sebagai aksi kekesalannya. Lantas melesakkan ponsel itu kembali ke dalam kantung celananya.

"Hyung, tolong batalkan penerbangan malam ini. Kepalaku pusing, ayo pulang!" ajak Sehun merengu kesal langsung berbalik hendak pergi sebelum perkataan Chanyeol mencegahnya.

"Tapi— Apa kita tidak jadi membeli Tokyo Banana sebagai oleh-oleh?"

Mendengarnya, Sehun berbalik arah berjalan menuju stand yang menjual makanan berbau pisang berwarna kuning itu. Luhan bisa mencekiknya jika pulang tidak membawa satupun kotak kegemaran Luhan. Hffft...

.

Niatan untuk tidur sepertinya musnah begitu saja. Sehun menatap layar ponselnya penuh minat sambil mencermati kata-kata yang tertulis rapi di dalam layar.

Sebuah pemberitaan mengenai dirinya yang tidak jadi pulang meluncur layaknya roller coaster.

Entah bagaimana dan dari mana yang jelas Sehun menggeram kesal. Kenapa berita cepat sekali tersebar? Baru beberapa jam yang lalu Chanyeol meminta bantuan pada manager mereka untuk membatalkan penerbangan tapi berita itu layaknya tiupan angin kencang menyebar kemana-kamana.

Tapi terserahlah, ia tidak peduli. Sehun menyibak rambutnya ke belakang, menyisir rambut setengah basahnya dengan jemari tangan sedangkan tangan yang lain memilah pesan yang dikirimkan oleh fans padanya mengenai kedatangan Luhan.

Melihat-lihat bagaimana rupa Luhan sesaat sebelum pergi dan setelah sampai di Korea. Walaupun kernyitan didahinya sesekali tampak, Sehun tahan tidak tidur walaupun jarum jam sudah bertengger manis melewati angka satu dini hari. Matanya seakan tidak lelah sedikitpun jika itu mengenai Luhan.

Terlebih ketika matanya tanpa sengaja menangkap kilau cantik dibagian pergelangan tangan Luhan. Membuat hatinya seketika menghangat.

Itu adalah gelang pemberian dari salah satu fansite mereka, Twinned Poison, sebagai hadiah ulang tahun Sehun tahun lalu dengan brand dari Amerika, Tiffany & Co.

Brand ini lebih dikenal sebagai brand special wedding yang memang bertemakan couple. Brand yang juga menekankan makna pada tiap itemnya. Jika Cartier Love Bracelet menekankan makna 'Janji yang lahir dari cinta tanpa batas' maka Tiffany & Co juga menekankan maknanya dengan 'Penyatuan dua hati menjadi satu yang dinamai dengan cinta'.

Sehun memberikan pasangan gelang itu pada Luhan. Dan—

—Luhan memakainya. Luhan benar-benar mencintainya.

Hanya dua kalimat itu yang mencuat di dalam kepalanya saat ini. Tanpa sadar Sehun mengulum bibirnya membentuk lengkungan manis disetiap sudut, ia tersenyum.

"Kau belum tidur?" tanya Chanyeol dengan telapak tangan yang mendarat sempurna pada pucuk kepala Sehun sedikit mengelusnya.

Sehun menggeleng pelan.

"Tidurlah besok kita pulang." Chanyeol menguap lebar setelah itu berjalan menaiki ranjangnya, tadi ia terbangun lantaran haus ditengah malam.

"Tapi Luhan menyuruh kita pulang lusa besok." Ya. Luhan yang baru sampai di Korea memang langsung menghubunginya dan berbicara sepihak tak membiarkannya untuk protes sedikitpun.

"Dan kau menurutinya?"

"Tentu saja TIDAK." Kata Sehun menekankan kata Tidak pada kalimatnya. "Kita tetap pulang esok hari." Lanjutnya menggebu-gebu. Chanyeol yang tengah teler hanya mengangguk sekilas.

"Ambil handuk itu dan keringkan rambutmu. Kau bisa terkena flu jika tertidur dengan rambut basah." Nasihat Chanyeol. Sehun bergumam untuk membalasnya.

"Kita pulang pagi, 'kan?"

"Siang. Aku tahu kau merindukannya tapi Luhan hyung tidak akan kabur. Tenanglah!" balas Chanyeol dengan suara yang semakin memberat, ia sudah sangat mengantuk saat ini.

"Kenapa siang, hyung? Kenapa tidak ambil jam pagi saja?" kekeuh Sehun bersikeras.

"Tidak bisa. Sudah jangan bertanya, aku mau tidur." Dan Chanyeol pun melesakkan kepalanya pada bantal tidur miliknya, mencegah Sehun untuk bertanya lebih lanjut dan mengganggu jam tidurnya saat ini.

Melihat itu, Sehun menendang asal kakinya dan mengambil handuk untuk mengeringkan rambutnya yang agak basah sebelum ikut tertidur tidak sabaran menanti hari esok.

.


.

Seoul, Korea Selatan. Tempat pertama yang ingin ia singgahi ketika sampai di Korea adalah rumah sang mertua alias rumah kediaman keluarga Oh. Namun karena ia tiba saat hari masih terlalu pagi ia mengurungkan niatnya untuk langsung mendatangi rumah itu dan memilih hotel sebagai singgasananya untuk beristirahat sejenak.

Rumah yang selalu hangat menyambutnya ketika datang, tidak heran ketika ia menekan bel pada dinding sang penjaga langsung membukakan pintunya mempersilahkan untuk masuk.

Luhan berjalan santai kemudian mengetuk pintu besar didepan wajahnya. Ia sedikit sangsi apakah ketukannya bisa terdengar hingga kedalam jika pintunya setebal itu namun kekhawatirannya musnah ketika pintu itu terbuka dan menampakkan wajah ayu dari wanita paruh baya yang sangat ia kenal.

"Annyeong, eommonim." Salam Luhan sopan.

"Astaga Luhanie. Aah~ jinjja bogoshipo." Ny. Oh membelalak kaget dan langsung memeluk Luhan dengan erat. Mengecupi kedua pipinya gemas sebelum membawa Luhan masuk kedalam.

Mereka duduk diatas sofa berdampingan. Ny. Oh masih meneliti setiap wajah Luhan dengan seksama dengan sorot mata penuh cemas. Luhan yang menyadari itu dengan tanggap memegang tangan ibu Sehun dan mengelusnya menenangkan.

"Aku tidak apa-apa, eommonim."

"Jangan sungkan. Oh-Astaga... eomma mengkhawatirkanmu sayang. Eomma benar-benar takut kau kenapa-kenapa mengingat perjalananmu pasti menggunakan pesawat."

Luhan tersenyum ketika Ny. Oh menyuruhnya untuk bersikap biasa. "Tidak apa-apa. Aku tiba tadi malam eomma."

"Jam berapa?" tanya Ny. Oh cepat.

"Satu...?" balas Luhan sambil menggaruk tengkuk belakangnya ragu.

"Pantas wajahmu terlihat pucat. Bibi Kang, tolong buatkan green teh hangat untuk menantuku!" teriak Ny. Oh pada seseorang yang dipanggil bibi Kang itu.

Luhan mengulum senyum malu, ia sangat malu saat Ny. Oh mengatakan menantu padanya. Dan juga mimik wajah itu ia kenal sekali membuatnya teringat pada Sehun yang persis seperti ibunya saat ini jika mengkhawatirkannya.

"Eomma sendirian?" Luhan celingukan melihat ruangan yang nampak sepi tidak seperti biasanya. Ny. Oh mengangguk sebal.

"Sehun ke Jepang. Ayahnya pergi ke Busan dan kakaknya ke Jeju. Jadi ya eomma sendirian kecuali jika kau menghitung penjaga juga mereka." Tunjuk Ny. Oh pada pelayan rumah yang berseliweran mondar-mandir membersihkan halaman belakang dan dapur.

Luhan tertawa renyah mendengar guyonan yang sebenarnya adalah luapan kekesalan dari ibu Sehun hingga seorang pelayan datang mengahampiri.

"Minumlah! Itu berguna untuk membuatmu semakin rileks. Setelah itu tidurlah dikamar Sehun."

Luhan mengangguk menuruti.

Tidak ada hal aneh didalam kamar milik Sehun. Semua tertata rapi ditempat masing-masing. Bahkan rubik miliknya masih berada ditempat dimana dulu ia meletakkannya, hanya saja susunan kotak itu bercampur jadi satu menandakan jika Sehun terus memutarnya tanpa mendapatkan hasil untuk menyelesaikannya.

Luhan meletakkan tas juga jaketnya pada single sofa dan berjalan meraih rubik itu lalu duduk ditepi ranjang Sehun. Tidak membutuhkan waktu yang lama dan rubik itu telah ia selesaikan hingga tersusun rapi sesuai warna dan kembali meletakkannya ditempat semula.

Pandangannya lalu berpendar, mengoral setiap sudut mencari apa kiranya yang disembunyikan oleh Sehun darinya. Tangannya dengan lincah membuka deret buku yang tersusun di rak sambil membacanya sekilas mana tahu ada majalah laknat yang terselip disana. Tapi tidak ada. Luhan mendengus menyadari Sehun benar-benar menyimpan benda itu dengan sangat hati-hati.

Lalu beralih pada lemari besar milik Sehun. Semua pintu tidak terkunci karena Luhan sudah mengeceknya barusan. Dimulai dari pintu pertama yang hanya berisi jas-jas milik Sehun hingga ujung lemari yang berisi dalaman miliknya. Tetap tidak ada yang aneh.

Namun saat matanya menatap pada meja nakas disamping ranjang yang memiliki 3 ruang berderet kebawah. Luhan dibuat penasaran. Ia berjalan mendekatinya berniat membuka itu tapi ternyata TERKUNCI.

Pasti ada sesuatu disana. Batin Luhan sedikit kesal.

Menyerah karena tidak bisa membukanya, Luhan menjatuhkan tubuhnya terlentang diatas ranjang milik Sehun.

Sebuah denting notifikasi tampak terdengar ketelinganya, Luhan meraih ponselnya didalam saku dan menemukan pesan dari Sehun.

Pesawatku sebentar lagi akan take off. Tetap ditempatmu dan jangan kemana-mana!

Begitu isi pesan yang Sehun kirimkan. Luhan mengendikkan bahunya acuh dan mulai menjelajah semua akun miliknya hingga terlihatlah berbagai kecaman negatif akan dirinya.

Ia bahkan membaca langsung komentar-komentar yang membully dirinya juga mengatainya bajingan, membuatnya pening seketika itu juga. Tapi setidaknya masih ada banyak fans yang senang akan dirinya itu membuatnya merasa lebih baik dan tanpa sadar terlelap begitu pulas.

.


.

Tiba di Korea ketika langit sudah mulai menunjukkan tanda-tanda akan menggelap semakin membuat Sehun bersungut-sungut didalam hati. Menggerutu kenapa pesawat yang ia tumpangi yang menurutnya terasa begitu lambat.

Chanyeol yang sempat berteriak tertinggal dibelakang saja tidak begitu ia pedulikan karena sungguh ia ingin pulang dan menemui Luhan! Dan beruntungnya ia ketika manager mereka mengatakan akan mengantarkannya dulu kerumah.

"Terimakasih." Kata Sehun membungkuk sekilas dan berlalu begitu saja dengan sedikit susah payah akibat dari koper juga belanjaannya yang melebihi batas. Chanyeol yang melihat itu menggerutu sebal sebelum mobil mereka kembali berjalan.

"Kau pulang cepat, apa karena Luhan?" tanya Ny. Oh menggoda sang anak dan membantunya membawakan barang-barang.

Sehun mengangguk kaku, tapi tunggu dulu-! "Luhan disini?"

Ny. Oh gantian mengangguk dengan santai diiringi tawanya yang keluar begitu saja karena Sehun langsung melesat menuju kamar miliknya.

Pintu terbuka dan Sehun bisa dengan jelas melihat seseorang sedang tertidur lelap diatas ranjangnya.

Setelah menutup pintu Sehun berjalan pelan mengahampiri Luhan. Sedikit menggeleng melihat kebiasaan Luhan yang bisa tertidur dimana saja dengan posisi menantang seperti itu.

Sudut bibir Sehun tiba-tiba terangkat menyeringai, merasa memiliki kesempatan emas didepan matanya saat ini. Tanpa pikir panjang, Sehun menaiki ranjang. Merangkak disela sisi tubuh Luhan membuatnya bisa kapan saja menindihkan berat tubuhnya pada tubuh kecil Luhan hingga membuat bagian bawah mereka bersentuhkan tapi Sehun tidak melakukan itu.

Ia hanya sedikit merunduk dan mencuri kecupan-kecupan kecil di bibir ranum Luhan yang sedikit terbuka menggodanya. Kemudian menjilat dan menghisapnya pelan sampai membuat Luhan mengulum dan menjilat bibirnya sendiri dalam kondisi masih terlelap.

Itu membuat Sehun terkekeh dan semakin gencar mengecupi bibir Luhan. Mengendus pipi dan hidung kekasihnya dengan hidungnya sendiri. Lalu kembali mengulum bibir Luhan pelan.

Tapi Luhan seakan tidak terganggu malah menarik leher Sehun lalu mendekapnya erat layaknya bantal guling. Sehun berusaha sekuat tenaga menahan tubuhnya agar tidak menimpa badan Luhan dan perlahan melepaskan tangan itu dari lehernya dan menahan tangan Luhan di masing-masing sisi kepalanya.

"Euuuung~" lenguh Luhan mulai terganggu. Sekali lagi Sehun mengecup sedikit menghisap bibir Luhan pelan.

"Euumh~Aah~ j-jangan menciumku." Racau Luhan setengah sadar. Sehun kembali mencium bibir Luhan telak hingga berbunyi erotis penuh nafsu sebelum menempelkan tubuh mereka juga melesakkan wajahnya pada leher Luhan.

"Uuuh~ Kau berat. Jangan menindihku!" racau Luhan lagi masih setengah sadar dan mulai meronta karena berat yang menindihnya membuatnya sesak. Dengan kesadaran yang perlahan mulai kembali otaknya seakan mampu memproses apa yang sudah ia ucapkan baru saja.

Dan tubuhnya mendadak diam tidak lagi meronta diganti dengan tubuhnya yang kaku. Apa yang sedang terjadi?!

"YAK! SIAPA KAU SIALAN?! MINGGIR DARI TUBUHKU!" jerit Luhan panik ia meronta sekuat tenaga.

Sehun agak kwalahan menahannya, mencoba sebisa mungkin agar tidak terjungkal.

"Ini aku, sayang. Ini aku... Tenanglah!" Kata Sehun lembut, wajar Luhan panik karena ia baru bangun tidur.

Mendengar suara milik Sehun juga aroma yang sangat ia kenali membuat Luhan menghembuskan napasnya lega karena tanpa sadar ia menahan napas tadi.

Sehun merubah posisinya turun dan berguling menyamping menghadap Luhan agar sang kekasih bisa dengan mudah melihat wajahnya.

"Kau tidak bilang jika akan kerumah." Kata Sehun.

Luhan mendengus karena dibuat panik. "Awalnya aku hanya ingin berkunjung tapi ibumu menyuruhku untuk tidur. Bukankah kau juga mengirimiku pesan dan menyuruhku untuk diam ditempat. Makanya aku masih disini sekarang."

Sehun terkekeh dan memeluk juga mengusap punggung Luhan perlahan. Merasakan itu, Luhan kembali terserang kantuk matanya mulai menyayu kembali. Ia menguap begitu saja setelah itu mengucek matanya yang berair dan menyamankan posisinya dalam dekapan Sehun yang hangat.

"Hey~ Kau tidak boleh tidur lagi."

"Sebentar saja, Sehunie. Aku mengantuk sekali." Rengek Luhan melesakkan hidungnya semakin dalam untuk menghirup aroma Sehun yang menenangkan.

Jujur saja Sehun merasa geli luar biasa. Ia bergidik takut terjadi sesuatu sedangkan diluar ada ibunya yang bisa kapan saja mendengar. Dengan berat hati Sehun sedikit menjauhkan lehernya dan beralih mengecup kening Luhan lama.

"Tidurlah selama aku mandi hm.." kata Sehun kemudian mulai bangkit dari posisinya setelah mendengar gumaman lirih dari Luhan.

.

Luhan terbangun ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka. Matanya yang masih sayu menatap Sehun yang berjalan kearahnya hanya dengan mengunakan bathrobe dan mengecup bibinya sekilas kemudian berganti pakaian dibelakang punggungnya.

"Aku tahu kau sudah bangun. Cepatlah mandi dan kita akan makan malam nanti." Kata Sehun setelah berganti pakaian dan menarik kedua tangan Luhan untuk bangun dan menghujani Luhan dengan kecupan-kecupan dibibir ranumnya.

Luhan berkedip imut sebelum mengangguk dan berjalan memasuki kamar mandi sempoyongan efek nyawanya yang baru setengah kembali membuatnya lemas.

Sehun tersenyum kecil sesaat matanya melihat ponsel Luhan yang tergeletak begitu saja diatas ranjang. Tanpa pikir panjang ia pun membuka ponsel itu dengan tenang namun apa yang ia lihat tidaklah lagi membuatnya tenang dan mulai membuatnya merasa kesal akan kata-kata kasar yang telah ia baca.

Apa-apaan?!

Lama tangannya bergerilia diatas layar membuatnya tidak sadar jika Luhan tengah berjalan kearahnya dan mengambil ponsel itu dari tangan Sehun pelan.

"Aku tidak apa-apa. Jangan mengeraskan wajahmu seperti ini."

Luhan membawa tangannya mengelus rahang dan tulang pipi Sehun yang mengencang marah. Tahu benar jika hanya dengan hal itu ia bisa meredakan amarah Sehun yang telah tersulut api.

Melihat wajah itu perlahan mulai tenang. Luhan mendudukan dirinya diatas paha Sehun mengalungkan lengannya melingkari leher itu untuk memeluknya.

"Mereka keterlaluan." Kata Sehun terdengar dingin. Luhan menggeleng lalu mengusap punggung Sehun perlahan.

"Mereka hanya merasa kecewa padaku. Itu wajar. Aku tidak apa-apa Sehunie."

Sehun kemudian membalas pelukan Luhan juga mengelus punggungnya menenangkan. Ia sadar karena saat ini yang pantas untuk ditenangkan adalah Luhan bukan dirinya.

Tak lama pelukan itu terlepas. Luhan bangkit dan menarik tangan Sehun kedepan lemari menorehkan tandatanya diperempatan kening Sehun. "Aku tidak bawa baju. Aku pinjam bajumu, yah?" tanya Luhan tersenyum childish sedangkan Sehun lantas membelalakan matanya pada Luhan ah-tidak tapi kebelakang Luhan karena ia menemukan sesuatu disana.

"Kau hanya membawa tas kecil itu dan jaket?" tunjuk Sehun dengan jarinya tidak percaya, Luhan menoleh kebelakang.

"Iya." Aku Luhan mengangguk santai.

"Astaga... aku saja yang hanya beberapa hari di Jepang harus membawa koper besar."

"Itu beda. Disini kan ada baju-bajumu yang bisa aku pakai sesuka hati." Tandas Luhan. Sehun mendengus kecil lalu menyeringai.

"Memangnya aku mau meminjamkannya padamu? Aku lebih senang melihatmu dalam keadaan polos tentu saja." Kata Sehun menggoda.

Luhan secara refleks memukul lengan berotot Sehun kencang.

"Jangan macam-macam. Cepat berikan aku bajumu! Aku sudah lapar." Kata Luhan mendelik garang dan kembali kedalam kamar mandi setelah mengambil dalamannya dari dalam tas, membuat Sehun memanyunkan bibirnya beberapa senti kedepan. Gagal untuk makan malam yang panas.

.

Perut kenyang membuat senyuman terpatri lama di bibir Luhan. Sehun menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Luhan saat makan yang belepotan disekitaran bibirnya. Bukan kenapa, hanya saja Sehun merasa gatal jika keinginan yang membuncah untuk mencium Luhan saat itu juga tidak bisa terealisasikan karena masih ada ibunya yang memperhatikan.

Saat ini mereka sudah berada di dalam kamar Sehun. Namun Luhan yang tahu jika Sehun ingin menciumnya bergerak cepat menghindarinya dan mengambil buku sebagai alasan.

"Hey~ beri aku ciuman baru boleh membaca buku milikku!" perintah Sehun dan Luhan langsung meletakkan kembali buku itu ketempat semula dan menduduki sofa begitu saja.

"Apa kau ingin menciumku juga baru memperbolehkan aku duduk disini? Kalau begitu aku pergi saja." Kata Luhan. Ia bangkit hendak mengambil tas juga jaketnya namun Sehun menahan tangannya dan terkekeh pelan.

"Kau menggemaskan sekali jika sedang marah." Rayu Sehun mendapatkan decihan dari Luhan.

Mata rusa itu tanpa sengaja melihat rak disamping tempat tidur membuatnya ingat jika sesuatu pasti disembunyikan disana.

"Kau mau aku cium?" tanya Luhan ambigu ditelinga Sehun.

Sehun mengernyit bingung tapi mengangguk juga, menyembunyikan keantusiasannya agar tidak terlihat begitu saja.

"Kalau begitu, buka lemari nakas itu karena tadi saat aku ingin membukanya benda itu terkunci. Pasti kau menyembunyikan sesuatu kan disana? Seperti dugaanku, majalah porno!" sungut Luhan mendadak kesal sendiri dengan ucapannya.

Beda dengan Sehun yang sedikit memucat. Haruskah?

"Eeum, t-tidak ada majalah porno sayang. Disitu tidak ada apa-apa." Kata Sehun gugup. Luhan langsung mendelik dan meraba saku celana yang saat ini Sehun pakai.

"Tidak ada dikantungmu. Kau letakkan dimana kuncinya?" tanya Luhan dan dengan seenaknya membuka lemari Sehun mencari keberadaan kunci itu dibawah-bawah baju miliknya dan ketemu. Sehun mematung begitu saja.

Luhan yang bergerak ingin menghampiri meja nakas harus terhenti lantaran tangan Sehun mencekalnya.

"Berikan kunci itu Lu! Tidak ada apa-apa disana." Sehun yang cepat tersadar mencegah Luhan untuk membuka rak itu dan merampas kunci yang berada ditangan Luhan.

Dan hal yang Sehun lakukan semakin membuat Luhan kesal hingga matanya berkaca-kaca.

"Tidak ada?"

"eoh? Ya, tidak ada apa-apa." Balas Sehun tak yakin terdengar ditelinga Luhan yang sekarang berdenging. Membenarkan kalau Sehun tengah berbohong.

"APA YANG KAU SEMBUNYIKAN DARIKU?!" pekik Luhan marah. Pikirannya mulai bercabang, membenarkan kemungkinan-kemungkinan apa yang terlintas diotaknya.

Sehun membeku melihat Luhan yang menangis dihadapannya. Tangannya terulur menghapus lelehan airmata itu namun Luhan menepisnya kasar.

"Jangan menyentuhku jika kau memang menyembunyikan sesuatu dariku!"

Sehun kalang kabut melihat Luhan yang beranjak hendak mengambil tasnya masih sambil terisak dengan cepat Sehun menarik tangan Luhan dan mencium bibirnya lembut meredam isak tangis Luhan agar tidak terdengar sampai keluar.

Tok~ Tok~ Tok~

"Sehun-ah, apa yang terjadi sayang? Eomma mendengar jeritan tadi." teriak Ny. Oh dari luar pintu.

Sehun menggeram lantas melepaskan ciuman itu dan membekap mulut Luhan dengan tangannya.

"Tidak ada apa-apa eomma." Balas Sehun ikut berteriak.

"Benarkah?" tanya Ny. Oh memastikan.

"Ya."

Dan tak terdengar lagi teriakan yang berasal dari luar diikuti langkah kaki yang menjauhi daun pintu. Sehun mengalihkan pandangannya lagi kearah Luhan yang semakin deras menangis. Sehun meringis melihatnya dan melepaskan tangannya dari bibir Luhan kemudian menghapus lelehan airmata itu pelan.

"Kau boleh membukanya tapi jangan menangis lagi, ok?" Sehun dengan sabar menghapus lelehan airmata Luhan yang masih menetes walau tidak sederas tadi dan kembali mengecupi bibir Luhan menghentikan isak tangisnya.

Masih dengan sesegukkan. Luhan menerima kunci dari tangan Sehun yang mendorong tubuhnya untuk membuka rak yang membuatnya menangis parah.

Hanya ada kertas, pensil dan remukkan dari kertas itu sendiri yang nyaris menumpuk penuh disana. Luhan mengedip bingung sambil menghapus air matanya yang tersisa sebelum meraih kertas-kertas itu dan membukanya.

L/I Z R O/Q

Huruf itulah yang memenuhi setiap kertas yang ia buka, beberapa ukiran juga tampak sengaja dibuat sebagai pemanis namun ada yang salah menurut Luhan. Untuk apa ini? Bagaimana cara membacanya? Dan kenapa setiap hasil yang cukup bagus itu terdapat tanda silang besar?

"Kau menggambar? Untuk apa?" tanya Luhan menoleh pada Sehun.

Sehun mengambil kertas-kertas ditangan Luhan, mendudukkan diri diatas ranjang dan menyuruh Luhan untuk duduk dihadapannya. "Ini design gambar ku yang gagal."

"Gagal?"

"Ya."

"Tapi itu cukup bagus menurutku."

Sehun mengusak rambut Luhan sambil tersenyum berterimakasih. "Tapi terlalu rumit untuk dibuat. Aku hampir frustasi membuat gambar-gambar ini."

"Kalau begitu, untuk apa kau membuatnya?" tanya Luhan malas tapi penasaran.

"Tentu saja sebagai design, sayang." Kata Sehun memutar bola matanya malas.

"Kau ingin beralih profesi?" tanya Luhan tanpa sadar memiringkan kepalanya. Dengan gemas Sehun menarik hidung merah Luhan semakin membuatnya memerah.

"Kau cerewet sekali. Baiklah, aku akan jelaskan padamu dari awal."

Luhan membenarkan posisi duduknya mengahadap Sehun.

"Aku membuka brand sendiri untuk kita."

"Hah?"

Sehun berdecak. "Jangan menyelaku dulu!" Luhan tersenyum polos mengangguk mengerti dan menyuruh Sehun melanjutkan.

"Aku melakukan ini sudah lama. Aku memulainya benar-benar dari awal dan mencoba untuk membuat design sesuai keinginanku namun mungkin karena pekerjaan yang memberatkan juga menyulitkanku aku jadi ikut-ikutan menyulitkan design ku sendiri." Kekeh Sehun.

"Peluncuran pertama aku hanya memakai huruf L.Z.R.O dengan sedikit garis diatas huruf O membentuk huruf Q tapi menurutku itu terlalu biasa jadi aku mengubahnya sedikit sebagai gambar resmi.

"Tapi ternyata aku malah mendapatkan huruf yang lain.

"Aku tidak tahu ini bagus atau tidak tapi setidaknya mereka bilang padaku kalau kali ini gambarku benar-benar berkesan, mudah mereka ingat." Sehun membuka laci nakas nomor dua dan mengambil selembar gambar dari sana. "Dan inilah hasil final dari design yang aku buat. Simple tapi Bermakna. Bagaimana menurutmu?"

Luhan mencermati hasil gambar Sehun dengan seksama. Bagus. Seperti yang Sehun bilang jika gambar itu memang simple karena hanyalah bertuliskan izro dengan mata sebagai ganti o juga bibir merah yang manis begitu artistik. Tapi bermakna?

Sehun melihat Luhan yang bingung menjelaskan, "Mata dan bibir itu milikmu. Sebenarnya aku ingin memberitahumu sebagai kejutan ketika semua sudah matang tapi karena tangisanmu tadi semuanya gagal." Sehun menghembuskan napasnya pasrah.

"Hey... kau membuatku terlihat kejam." Sungut Luhan. "Aku sungguh sudah terkejut saat ini. Kau membuatku menerka-nerka dan ternyata... Kau luar biasa Sehun-ah." Lanjut Luhan tersenyum manis dan memeluk Sehun sekilas. Sehun ikut tersenyum.

"Boleh ku tahu apa artinya?" tanya Luhan lembut.

Sehun mengangguk mengiyakan.

"Tapi, jelaskan dulu apa maksud L.Z.R.O ?"

"Baiklah..." Sehun berjalan kearah lemari dan mengambil sebuah topi dari dalamnya kemudian kembali duduk menghadap Luhan diranjang.

"L.Z.R.O adalah sebuah singkatan yang aku buat sendiri dalam bahasa Inggris, yaitu Liberty. Zone. Reality. Oppose. Yang berarti Kebebasan. Zona. Kenyataan dan Menentang.

"Aku ingin menyampaikan pada dunia bahwa setiap orang memiliki hak untuk menentang kenyataan yang ada dalam zona kebebasan mereka sendiri. Seperti aku yang memiliki zona ku sendiri untuk menentang kenyataan tentang hubungan yang mereka anggap terlarang karena aku memiliki hak atas kebebasan.

"Mereka tidak berhak menghakimiku karena kebebasanku tidak merugikan siapapun."

Ada kilat amarah dalam sorot mata Sehun yang berubah tajam. Luhan buru-buru mengambil tangan Sehun dan menggenggamnya erat.

"Lalu Q ? Apa yang ingin kau jelaskan pada huruf itu?" tanya Luhan.

Sorot mata itu berubah seketika sedikit melembut tapi terkesan tegas juga ada perasaan —sakit. Kenapa?

"Q adalah Queer yang berarti—

Tidak. Mata Luhan membelalak lebar. Ia tahu definisi nomina dari kata itu. Sudah! Cukup! Jangan diteruskan!

—Homoseksual." Kata Sehun.

Luhan menahan napas mendengarnya. Tidak perlu penjelasaan apapun untuk itu karena ia tahu. Cukup mengucapkannya saja pasti Sehun merasa seperti tombak panas menghujam dadanya sama seperti yang Luhan rasakan saat ini. Terlalu sakit untuk mengatakan bahwa semua kenyataan pelik mereka berawal dari kata itu.

Remasan kedua tangan mereka saling mengerat. Terlalu larut hingga tangis hanya menggumpal di tenggorokan mereka yang tercekat. Keduanya kehilangan kata-kata hanya untuk mengalihkan pembicaraan, sampai Luhan tersadar pada kenyataan dengan mata yang berkedip resah.

"L—lalu bagaimana dengan IZRO?"

Sehun menghembuskan napasnya yang sesak sebelum menjawab.

"IZRO. Ada dua arti dari dua negara berbeda untuk itu.

"Dalam bahasa Bulgaria izro berarti Bergetar, dimana yang dimaksud adalah degup jantung yang berpacu dikala jatuh cinta. Aku—aku benar-benar menyukai degup jantungku yang berpacu ketika pertama kali aku jatuh cinta padamu, Luhan." Kata Sehun diiringi tatapannya yang selembut kapas. Tidak ada perasaan sakit yang menyelimutinya dan Luhan senang itu. Ia dapat melihatnya dengan jelas dan ia menunggu untuk perkataan Sehun selanjutnya.

"Dan dalam bahasa Turki Izro disebut Isro yang berarti —Kebebasan."

Lagi? Betapa Sehun sangat menginginkan kebebasan.

Bergetar sudah jantung Luhan saat Sehun menatapnya begitu dalam menyalurkan apa yang ia rasakan padanya dengan sungguh-sungguh. Menyelami hitam mata Sehun yang begitu dalam seolah mengatakan sesuatu padanya.

"Jadi apa yang ingin kau sampaikan padaku, Sehunie?" tanya Luhan merasa kebas dikedua tangannya yang meremat begitu kuat.

Sehun tidak langsung menjawab ia memandang wajah cantik Luhan agak lama, menunggu detik yang tepat untuk mengatakan sesuatu itu,

"Saranghae." Lirih sekali tapi sehalus sutra.

"Aku mencintaimu, Lu. Tidak peduli apa yang mereka katakan. Aku tetap pada pendirianku, untuk mencintaimu, karena kita memiliki kebebasan untuk saling jatuh cinta. Karena itu—Tetaplah mencintaiku, Luhan."

Tetes airmata meluncur indah. Hancur sudah pertahanannya, Luhan kembali menangis dalam pelukan Sehun yang juga ikut menitikkan airmatanya. Ia bahagia namun tak kuasa menahan rasa sakit ketika cintanya ditentang dunia. Menganggap cintanya hanya sebuah kesalahan. Padahal tidak ada yang salah diantara cinta mereka.

Cinta yang tumbuh bebas itu tidak bisa dicegah. Jadi jangan salahkan mereka! Jangan salahkan cinta mereka! Jangan menghujam hujatan dengan melontarkan perkataan kasar pada cinta yang mereka miliki. Dan apa salah jika Sehun dan Luhan terus berusaha untuk tetap mempertahankan apa dan siapa cintanya?

.

.

.

.

.


Percayalah apa yang dilakukan Sehun dan Luhan semua memiliki makna terpendam. Kita harus mencari tahu itu lebih dalam jika benar-benar ingin tahu. Terlebih Sehun. Ia mudah untuk ditebak.


.

.

.

.

.

END YO~ CERITANYA UDAHAN YAH? ATAU MASIH PENASARAN? CHAPTER INI TENTANG APA? IZRO YAH? WKWK

THANKS FOR REVIEW FAVORITE AND FOLLOW :*:*:* MAKASIH JUGA BUAT KAK AMBAR YANG NGEBOLEHIN BUAT MASUKIN BEBERAPA ANALISANYA CYU~ :*:):):):)

ADA YANG NANGIS? MAAP SAYA GAK SEDIA TISU... SEMOGA CHAPTER INI GAK MENGECEWAKAN :')

SAYA GAK MAU BANYAK OMONG AAH MAU KABUR AJA... BYEEE~

TUMPAHIN KATA-KATA BUAT CHAPTER KALI INI DI KOTAK REVIEW. OKE?!