Yassajarapukabura

Salam sejahtera untuk kita semua. Tidak banyak hal yang ingin saya sampaikan kali ini tapi terima kasih atas review yang dengan murah hati kalian sampaikan untuk menghibur hati author ini seperti yang sudah-sudah.

Terima kasih atas perhatiannya.

~Selamat Membaca~

Gedung Utama MBI.

Dua hari telah berlalu. Takami Sahashi menemukan fakta penting bahwa gedung cabang bekas di area kontruksi wilayah barat Shinto Teito sudah hampir lenyap dibelah menjadi beberapa potongan , dia harus mengirim beberapa orang untuk menambahkan bom disana-sini agar bisa merobohkannya sepenuhnya. Dia juga harus mengarang beberapa cerita pendek imajinatif dan kreatif untuk menyakinkan masyarakat umum sekitar agar mencegah timbulnya kepanikan dan kekacauan lebih jauh. Pelakunya adalah dua orang yang sangat dia kenal, yang tentu saja sudah meninggalkan tempat kejadian tanpa jejak. Oh dia juga harus membungkam beberapa saksi mata yang sempat melihat ataraksi lompat seseorang tertentu.

Karasuba tidak dalam kondisi yang lebih baik, sekirei hitam tiba di gedung MBI sore itu dengan ekspresi wajah yang seolah menampilkan ancaman kematian kepada publik sehingga dengan efektif mencegah komentar apapun atas penampilannya yang tidak biasa; cukup acak-acakan dengan jelaga hasil pertempuran, meski sepertinya tubuhnya bebas dari luka fatal dengan pengecualian beberapa goresan menyinggung di beberapa tempat.

Takami memiliki seribu satu ide tentang apa yang menyebabkan penurunan mood zero four yang luar biasa serius, yang hampir semuanya melibatkan oleh seorang pria pirang sakit-sakitan tertentu yang saat ini kemungkinan keberadaannya tidak diketahui pasti.

Takami dan semua orang memilih jalur aman dengan membiarkan gadis itu memiliki semua hal yang dia butuhkan, waktu dan tempat. Karena bahkan Natsuo Ichinomi yang karismatik sudah dipastikan tidak akan bisa menjadi solusi yang dibutuhkan untuk mendinginkan amarah sang Zero four.

Ini semua karena orang itu terlibat.

Naruto Namikaze, atau Naruto Namikaze Mikogami, anak itu pernah menjadi bagian MBI, langsung pada bagian paling sensitif dari rencana sekirei. Penelitian, uji coba, dan pembunuhan. Anak itu memegang rahasia yang bahkan tidak bisa digapai Takehito Asama dan Minaka Hiroto. Sudah lebih dari beberapa tahun belalu sejak dia meninggalkan MBI dan sekarang dia kembali tiba-tiba.

Fakta yang dia dengar dari Minaka bahwa Naruto Namikaze sudah menyayapi Zero One, Miya, sebenarnya sudah ada dalam ramalannya sejak lama. Tapi itu semua terlalu tiba-tiba, dimulai dari tindakannya pada sayap sekirei pertamanya , pengunduran dirinya di masa lalu dan kedatangannya yang tiba-tiba, harus ada alasan masuk akal dibalik semua hal itu. Naruto Namikaze yang Takami tahu hanyalah anak bebal dengan data statifikasi roman zero persen. Tidak salah lagi, anak itu memang punya 'bakat', akan tetapi...

Takami mengambil nafas panjang.

Sekarang, dia perlu melaporkan semuanya pada atasan eksentriknya yang sepertinya sudah mengetahui tentang kondisi 'unik' kali ini. Dia berjalan melewati lorong panjang dan sesekali menyapa beberapa pekerja saat dia berjalan melewati mereka. Hanya butuh waktu beberapa saat untuk sampai didepan pintu besar kantor milik sang direktur MBI.

Takami membuka pintu pelan dan masuk hanya untuk mendapati atasannya, direktur sah perusahaan Mid Bio Informatics, Minaka Hiroto, seperti biasanya menikmati dirinya sendiri dengan menyusun rencana praktis yang akan menambah tingkat permainan konyolnya di meja kerjanya. Takami gagal memperhatikannya sebelumnya, tapi sepertinya ada tambahan kehadiran seseorang tertentu dengan rambut pirang, jelas seorang pria, sedang bersantai di kursi tepat didepan meja kerja Minaka. Mata biru licik menghadapnya dengan senyuman bosan dan Takami berhasil menjatuhkan batang rokok yang sebelumnya terselip rapi di bibirnya ke lantai...

Speak of the Devil!

.

Butuh sedikit jeda waktu yang sehat sebelum Takami maju lurus kedepan, meminta penjelasan. "Naruto!"

"Hm, ada apa. Sahashi-san?" menanyakan apa yang salah. Sisa-sisa stres yang menumpuk di Tuakami akibat ledakan rantai kekacauan baru-baru ini terbendung dengan susah payah.

"Apa yang kau lakukan disini!" Sang wakil direktur mulai menuntut penjelasan dengan desisan berbahaya dibawah nafasnya.

"Minaka mengundangku kemari." Pernyataan itu adalah jerami terakhir seiring suara Ashikabi terkuat yang berdering polos, tak terpengaruh. Jelas tidak membantu.

Dalam hitungan detik, kambing hitam: Minaka Hiroto, mendapatkan kerusakan serius dari dampak murka Takami Sasashi. Tidak ada yang berani menegur Office violent sang wakil direktur selama sisa hari itu.

Namikaze Naruto sekali lagi keluar dari kekacauan tanpa menderita kerugian apapun.

XXXX

Mata abu-abu menyempit menatap foto di tangannya, Seo Kaoru kembali menatat kearah pria berambut pirang didepannya, kliennya.

Dia hanya memiliki informasi terbatas tentang pria pirang itu.

Namanya Namikaze Menma, seorang pengusaha dan direktur muda dari salah satu cabang perusahaan kolosal Senju inc. yang bergerak dalam bidang operasi bisnis transportasi paling berpengaruh di seluruh Jepang sejak delapan dekade terakhir.

Seo kembali menatap foto itu, pada gambar seorang anak laki-laki berambut pirang sebahu yang terlihat pucat, menatap kearah kamera dengan tatapan bosan dari mata biru kusam yang lelah dan tidak puas. Anak itu mungkin berusia tidak lebih dari delapan tahun, kulitnya pucat, dan memakai baju berwarna biru polos yang sepertinya merupakan seragam khas rumah sakit, dia duduk tenang diatas kursi roda dengan buku dipangkuannya dan dilatar belakangi oleh beberapa bonsai dan dinding batu buatan. Anak laki-laki dalam foto itu adalah kakak dari Namikaze Menma yang harus mereka temukan.

"Jadi begitu, anda ingin kami menemukan 'kakak' anda."

Freelancer berusia dua puluh lima tahun itu mengela nafas.

"Namikaze, berapa usia kakakmu?." Seo berusaha bertanya dengan nada tersopan yang bisa dikerahkannya, lembut.

"Maaf, hanya itu yang kami miliki." Menma Namikaze tersenyum minta maaf padanya dengan tulus.

...

Pada dasarnya mereka di minta untuk menemukan seorang pria berusia dua puluh tahunan lebih yang hilang lebih dari satu dekade hanya dengan nama dan ciri khas dasarnya. Seo merasa perlu membenturkan kepalanya di tembok terdekat, dia ingin mundur dan mengatakan bahwa itu mustahil untuk dilakukan, memangnya ada berapa banyak pria berambut pirang dan bermata biru yanng tinggal di Shintou Teito?, seribu?!.

Ah, tapi uang muka itu sangat pas dikantongnya, dan lagi setiap biaya pencarian akan di tanggung.

Menghela nafas, Seo kembali memperhatikan foto yang diberikan klien muda kaya rayanya. Foto itu masih terlihat baru dan sepertinya sudah dirawat dengan baik. Kliennya mengatakan bahwa anak dalam foto itu adalah kakaknya, lebih tepatnya kembaran dari kliennya. Dengan informasi itu, dia hanya bisa menarik kesimpulan bahwa mereka sepertinya kurang lebih mirip. Dan Namikaze Menma sudah mengkonfirmasinya dengan mengatakan bahwa itu memang benar, untuk mempermudah beberapa hal kliennya juga menjelaskan tentang kondisi kesehatan kakaknya itu yang kurang baik dan mungkin benar-benar lemah, jadi Seo mungkin bisa mulai mencarinya di beberapa rumah sakit. Jika cukup beruntung, mereka mungkin akan segera menemukan namanya dalam daftar pasien.

Ada beberapa hal mencurigakan yang tidak dimengerti Seo, hal yang tidak bisa dia uraikan. Seperti fakta bahwa seharusnya seorang dengan ranking hidup tinggi layaknya kliennya pasti memiliki beberapa koneksi ayang bisa membuatnya segera menemukan sang 'kakak'. Dan lagi, apa untungnya mencari orang yang di kabarkan hilang lebih dari satu dekade, terutama jika orang tersebut seharusnya sudah bisa dianggap meninggal menurut hukum perdata 'jepang'.

Tapi itu bukan masalahnya. Dia hanya dibayar untuk menemukan orang ini, seorang pria muda berusia dua puluh tahunan lebih yang merupakan kakak kembar dari kliennya.

Namikaze Naruto

Nama itu cukup unik, seolah berteriak tentang orang tua gila mana yang memberikan anaknya nama dari salah satu toping ramen konyol.

Seo hanya berharap siapapun pria yang sebelumnya adalah anak delapan tahun di foto itu tidak terlalu putus asa untuk mengubah namanya. Sehingga mempersulit pencarian Seo.

...

Tapi rasanya nama itu juga tidak terlalu asing. Dimana dia pernah mendengarnya?

...

Untuk tambahan, Kliennya juga mengatakan bahwa dia bukan satu-satunya orang yang mencari keberadaan kakak kembarnya.

XXXX

Mata cokelat kemerahan Miya menatap diam Ashikabinya yang duduk disisi ranjang sambil membaca beberapa dokumen catatan penting, yukata yang dipakainya tidak bisa menutupi ikatan perban putih yang membalut leher, tangan dan dadanya dari tatapan Miya yang khawatir.

Naruto tidak peduli dengan kondisinya. Bertindak seolah tidak terjadi apapun.

.

"Ada apa Miya?."

"Sensei..." Miya menggerakkan bibirnya ragu

"apa kamu khawatir?"

Sambil menggeleng sedikit, Miya menjulurkan tangannya untuk mengambil buku di rak, agak merasa nyaman saat dia melihat ashikabinya menganguk dari sudut matanya.

.

Angin berhembus dengan kencang di daratan yang terkoyak, Zero One menyarungkan katananya dengan desisan pelan. Menurunkan kewaspadaannya yang terpicu karena kemunculan handlernya yang tiba-tiba.

"Apa yang kau lakukan disini, Namikaze?." Dia bertanya ketika pemuda itu mengambil tempat duduk di sampingnya tanpa izin.

Pertanyaannya sebelumnya jelas diabaikan oleh si kepala pirang.

"Chofu, Urainka, Lance, dan Ohio..." si pirang tersenyum ke langit, Biru membentang dengan kapas awan yang melintas.

"Hey Miya, apa menurutmu langit hari ini terlihat damai?"

Miya tidak mengerti, itu bukan pertanyaan.

Miya tidak tahu

Dia tidak mengerti

Didepan mereka adalah medan perang, lautan darah dan gundukan mayat bankai besi puluhan tank dan helikopter yang terbakar. tapi saat itu langit terlihat bersih, biru dan indah seperti biasanya.

Naruto Namikaze tersenyum dengan senyuman dingin, terlihat angkuh dan percaya diri dengan mata biru berkilat yang anehnya beku juga...

Kenapa saat itu dadanya terasa sesak dan pemuda disampingnya terasa jauh

.

"...Miya?"

"Naru-to..." Miya menghentikan tangannya membalik buku ditangannya dan menghadap ke arah ashikabinya yang menatap kearahnya.

"Jangan khawatir, Gagak itu hanya sedikit lebih kuat dari yang kuingat."

Karasuba. Tentu saja.

Ashikabinya menerima luka-lukanya bukan karena dia terlalu sombong atau mulai berkarat dan ceroboh dalam pertempuran. Zero Four hanya semakin kuat. Bagaimanapun gadis itu bukan manusia terlepas dari perwujudannya yang sangat manusiawi. Zero four adalah Sekirei, Ashikabi mereka adalah manusia yang memiliki batasan dan mengalami pelemahan secara signifikan karena kondisinya yang tidak memadai sementara Zero four mengalami perkembangan kekuatan dan penyembuhan cepat. Jadi Zero one, Miya dipaksa menggantungkan kepalanya cemad setiap saat karena Naruto tersenyum acuh dan melambai tanpa niat dari tempat duduknya, menyuruhnya untuk membuang seluruh isi pikiran tentang menghawatirkan hal itu lembut dengan mengandalkan posisinya sebagai Ashikabi.

Itu kotor, tapi tidak ada cara lain untuk mencegah Zero one dari melompat kearah gagak yang amnesia untuk pertarungan berat sebelah yang diyakinkan mampu merobek bumi.

"Sekarang, ayo buat rencana untuk game akhir sekirei."

Mereka akan segera menyelesaikan semuanya.

XXXX

Izumo inn.

Minato sahashi menarik nafas lega, merenggangkan tubuhnya lalu menjatuhkan dirinya di lantai tatami dengan senyuman puas diwajahnya. Dia memeringkan tubuhnya, sedikit berguling ke samping sebelum mengadapkan kepalanya ke langit-langit kayu diatasnya. Di akhirnya sudah selesai membersihkan seluruh ruangan.

Wajah polos dengan mata cokelat muda besar memenuhi pandangannya "Ah... Ternyata kamu disini Minato-san!"

Minato Tersentak, lalu bangkit dengan panik.

"E-EH! Musubi... chan"

Pria dua puluh tahunan yang gagal mendaftar kuliah dua kali berturut itu mengelus dadanya untuk menenangkan jantungnya yang sekali lagi diuji.

"Hehe, Apa yang kamu inginkan untuk makan malam nanti?"

XXXX

.

"Oya-san belum kembali juga ya..."

"Jangan khawatir Minato. Oya-dono menginap ditempat temannya untuk malam ini"

"Tsukiumi, apa 'teman' yang kamu maksud itu Namikaze-san."

"..."

"Ooh! Mungkinkah 'menginap' yang kamu maksud itu...Ooh!"

"Ap-apa Kazehana san"

"Fufufu mungkin saja kan"

"M-matsu san!"

Kring kring kring

"Ah ada telephon"

"Musubi-chan"

"Tunggu dulu! Musubi, jangan angkat tel柎

.

"Moshi-moshi"

'...'

"Ah...Oya-sama"

.

""""Onore Author""""

.

.

.

Jadi pada dasarnya author lebih nyaman mengambar dan melukiskan ekspresi karakter lewat manga tapi kurang mampu jadi...

Kumohon jangan bunuh aku.