Previous Chapter :
"Cukup, Sasuke-san!. Cukup sampai disini semuanya!".
"Mulai sekarang, kita tak saling mengenal satu sama lain. Jangan pernah kau usik lagi hidupku, Sasuke-senpai". Suara gadis ini menurun. Nadanya tak sekeras tadi. Akan tetapi, tetap saja. Perkatannya penuh dengan penekanan.
"Ya, kau memang benar, Hinata. Aku memang bersalah. Itu semua memang benar. Dan, baiklah. Aku akan menjauhimu. Aku tak kan mendekatimu lagi. Akan tetapi, aku tak akan melepaskanmu. Aku yang akan membuatmu mempertanggung jawabkan apa yang sudah kau lakukan pada hatiku. You're Just For Me. And I believe it". Tangan Sasuke kembali ia layangkan diatas ujung kepala Hinata yang tertutup dengan beanie lembut itu.
Karena tak ada reaksi apapun yang muncul dari Hinata, Sasuke semakin mendekatkan wajahnya di depan wajah gadis imut itu. Hembusan nafas teratur milik Sasuke menimpa wajah Hinata. Ia dapat merasakannya dengan sangat jelas. Semakin dekat, hingga akhirnya ujung bibir Sasuke bertemu dengan bibir ranum gadis ini. Hinata membulatkan matanya sekali lagi. Namun, saat ia merasakan sapuan lembut di bibirnya dan juga melihat kedua mata obisidian Sasuke tertutup rapat, entah mengapa gadis ini juga menutup kedua pasang manik ungu pucatnya. Ia merasakan setiap kecupan Sasuke yang lembut mengenai bibirnya. Itu tak berlangsung lama. Sasuke segera melepas pagutan diantara mereka. Hinata yang masih menutup kedua matanya, sedikit terkejut ketika Sasuke mengubah sasaran kecupannya di kening Hinata yang masih tertutup anakan rambutnya. Setelah itu, Sasuke meninggalkannya tanpa mengucap sepatah katapun. Ia melangkahkan kakinya maju meninggalkan Hinata.
…..
"Hinata!". Suara seorang gadis seusianya mengudara di antara keheningan yang menjalar di sekitar Hinata berdiri saat ini. Ntah apa yang terjadi, saat senpai aneh itu meninggalkannya beberapa detik yang lalu, wajahnya tertunduk lesu. Ia masih mempertahankan posisi berdirinya yang terlihat bak patung di sebuah museum kuno. Gadis ini sangat yakin jika Sasuke sudah pergi meninggalkannya.
"Hei, apa yang kau lakukan disini?. Apa kau sendirian saja?. Hinata, kau mendengarkanku kan?". Suara yang tadi memecahkan keheningan itu kini mendekat kepada Hinata. Pemilik suara lembut itu juga menyentuh lengan kanan Hinata.
"I-iya. A-aku sendiri, Tenten-chan". Akhirnya suara Hinata berhasil menyeruak keluar di dalam mulut mungilnya setelah ia membuang nafas besarnya secara percuma. "A-ayo kita p-pergi, Tenten-chan". Hinata mengangkat wajahnya dan menatap sayu wajah sahabatnya yang selalu bercapol dua ini. Ia juga balas menarik lengan sahabatnya itu untuk segera pergi dari lorong tempat ia berdiri ini.
Hinata dan Tenten melangkahkan kakinya menuju tangga turun dari lorong tadi. Mereka berjalan beriringan tanpa di iringi sepatah perbincangan pun di antara mereka berdua. Hinata memang tak menangis, namun ia hanya tertunduk lesu setelah pertemuannya dengan senpai aneh tadi. Bisa di katakan, ini adalah pertemuan terakhir mereka secara langsung. Hati Hinata terasa sangat pedih. Ia tak bisa menafsirkan dengan jelas perasaan yang ia rasakan sekarang. Apakah mungkin Hinata merasa kehilangan dengan kepergian Sasuke?. Tapi tunggu, bukankah ini yang ia inginkan dari Sasuke?. Ntahlah. Gadis ini hanya bisa menatap kosong sekelilingnya. Ia tak mengerti harus berbuat apalagi. Bagaimanapun, ini adalah kemauannya.
JUST FOR ME
Disclamer © Masashi Kishimoto
Pairing : Uchiha Sasuke X Hyuuga Hinata, Haruno Sakura X Uzumaki Naruto
Rated : T
Genre : Drama, Friendship, Romance, and Hurt/Comfort
Warning : OOC, Typo's everywhere, cerita pasaran, AU, Gaje, DLL
Ngga suka boleh ngga baca dan ngga review karena saya baru belajar membuat FF :D
Tak terasa, musim semi sudah memasuki hari ketiga. Tak ada perubahan yang signifikan terjadi. Semua seperti sedia kala. Begitulah yang Hinata rasakan saat ini. Semua kembali seperti seperti saat ia pertama kali berpindah di negara sibuk ini. Ia selalu berhasil menyibukkan dirinya sehingga waktu untuknya bersama seluruh rekannya harus terbatasi bahkan nyaris tak ia miliki. Gadis lembut ini selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai pramusaji di kedai ramen Ichiraku juga berbagai tugas mata kuliahnya yang nyaris tak pernah luput ia kerjakan. Namun, berbeda dengan hati gadis ini. Sesibuk apapun kegiatan yang ia lakukan, dengan sangat terpaksa ia harus akui jika hatinya merasa kesepian. Sesuatu yang semula membuat hatinya penuh dengan kejutan dan debaran yang tak menentu, kini semuanya menghilang begitu saja. Perasaan sepi dan hampa menggantikan perasaan yang dulu membuatnya harus berulang kali memijat keningnya. Ya, sejak saat itu, tak ada lagi seseorang yang selalu bisa menyudutkannya dan lebih memilih untuk menurutinya. Tak ada lagi seseorang yang beberapa hari lalu bisa membuat jantungnya berdebar tak menentu atas tingkah orang yang ia juluki senpai aneh itu. Tak ada lagi Sasuke. Mereka memang masih bertemu, namun semuanya berubah 180 derajat. Sasuke tak lagi mengusiknya. Sasuke tak lagi memaksanya untuk melakukan permintaan senpai itu. Mereka hanya bertemu wajah saja. Bukankah ini yang sedari dulu Hinata inginkan?.
Seperti hari ini. Ia melakukan aktivitasnya seperti sedia kala. Nyaris setiap hari, ada saja suara penghantar dirinya untuk memasuki kelas silih berganti membicarakannya tentang kedekatan dirinya dengan senpai aneh itu. Suara-suara itu dengan setia mengiringi langkah gontai kaki Hinata hingga dirinya tiba di ambang pintu kelas. Akan tetapi, ia tak melihat sosok pria berambut raven yang dulu selalu saja mengganggunya. Kedua manik pucatnya tak menangkap sosok pria berbadan jakung itu dimanapun. Kemanakah Sasuke?.
.
.
.
.
.
SEBELAS
"Sasuke. Jangan pergi kemanapun untuk hari ini". Suara besar Fugaku sang kepala keluarga membuyarkan lamunan Sasuke yang sedang mengenakan sepatu sneakers di kakinya. Ia sedikit terkejut dengan suara ayahnya yang mendadak memintanya untuk tinggal dirumah.
"Aku hanya ingin berangkat kuliah, Tou-san". Sasuke membalikkan wajahnya kepada sumber suara Fugaku yang sudah berdiri di belakangnya. Tentu saja, hanya dengan kuliah, Sasuke bisa melihat wajah Hinata walaupun sosok gadis itu tak lagi bisa ia dekati seperti sebelumnya.
"Kau tak perlu kemanapun hari ini. Ada hal penting yang harus kau ketahui". Fugaku yang menyilangkan kedua tangannya di balik punggung tegapnya, kini terlipat sempurna di depan dada bidangnya.
Fugaku membalikkan badannya kembali kedalam rumah mewah yang menjadi kediaman keluarganya tersebut. Langkah kakinya di ikuti oleh Sasuke yang langsung menyusulnya. Pria berambut raven ini dengan sangat terpaksa membuka kembali sepatunya. Tangan besarnya menari diatas layar benda berbentuk persegi panjang yang berada dalam genggamannya untuk mengetik beberapa teks pesan kepada rekannya, Shikamaru.
Naruto dan Sakura. Ya, pasangan baru ini terlihat sedang memadu kemesraan mereka di depan khalayak umum seperti di lorong kampus saat ini. Canda tawa dan rona merah semu terlihat jelas di antara kedua pipi Sakura ketika gadis ini mendapat perlakuan manis dari Naruto, pasangannya. Hingga akhirnya langkah kaki mereka berdua terhenti saat kedua manik mata mereka menangkap sosok salah satu sahabatnya sedang duduk seorang diri di bangku taman. Sosok gadis bersurai indigo yang terlihat sibuk dengan sebuah buku tebal di tangan putihnya. Tanpa berpikir lebih panjang, Sakura dan Naruto segera menghampiri sahabatnya tersebut.
"Hei, Hinata". Tangan besar Naruto menyentuh bahu lemah Hinata yang terlihat asyik membaca novel klasik favoritnya.
"N-naruto-kun. H-hei". Dengan ekspresi wajah terkejutnya, Hinata mencoba menyapa Naruto kembali. Tak lupa, senyum manisnya ia sunggingkan diantara kedua pipinya yang mengembang. Membuat pria manapun yang baru melihatnya sangat gemas ingin bermain-main dengan pipi gadis bermahkota indigo ini.
"Hinata, kau melupakanku?". Sakura pun tak mau kalah ikut menyapa gadis pendiam pecinta ungu ini. Gadis bersurai selembut bubble gum yang hanya sebahu itu melipat kedua tangannya di depan dadanya. Mahasiswi kesayangan Tsunade sang pemilik Universitas sekaligus kekasih dari Naruto ini terlihat sedikit merajuk karena Hinata tak memperdulikan ataupun mempertanyakan keberadaannya.
"S-sakura-chan. M-mana mungkin a-aku melupakanmu?. D-duduklah". Sebisa mungkin, Hinata mempertahankan senyuman hangatnya yang semula ia tujukan kepada Naruto juga ia tujukan kepada sahabatnya yang bermata emerald dan bertingkah sedikit tomboy di setiap penampilannya tersebut. Sakura juga memperlihatkan senyuman manis terbaiknya untuk membalas senyuman Hinata dan segera duduk di sebelah Hinata. Kini, posisi duduk Hinata di apit oleh kedua sahabatnya yang sedang di mabuk asmara. Perasaan risih dan geli mendadak menyeruak didalam otak dan hati Hinata. Jika di perbolehkan, ia sangat ingin pergi dari himpitan kedua sahabatnya ini. Namun sekali lagi, ia tak mungkin setega itu melakukannya. Bagaimanapun, pasangan ini adalah kedua sahabatnya. Dan karenanya juga, mereka menjadi pasangan serasi.
"Eh iya, aku tak melihat Sasuke-senpai. Kemana dia, Hinata?".
"A-ano, a-aku juga t-tak mengetahuinya, Sakura-chan". Wajah putih Hinata sedikit tersentak dengan pertanyaan ringan sahabat wanitanya yang duduk bersebelahan dengannya.
"Bukankah kau dan Sasuke-senpai sudah resmi menjadi sepasang kekasih?. Semua mahasiswa dan mahasiswi bahkan para sensei di Universitas ini pun mengetahuinya. Seharusnya kau mengetahui kemana perginya senpai itu". Naruto tak mau kalah dari sang kekasih dan ikut mengintrogasi Hinata.
"E-eh, i-itu tidak b-benar. K-kalian s-salah paham". Hinata semakin gugup dengan pertanyaan sambung dari Naruto. Susah payah agar ia masih terlihat wajar di hadapan kedua sahabatnya.
"Aku meragukannya. Ino yang mengatakan langsung padaku jika kalian sudah resmi berpasangan dan kau akan menjadi saudari iparnya di keluarga Uchiha". Dengan sedikit godaan, Sakura kembali mengintograsi Hinata. Akan tetapi, Naruto justru tak bisa menahan tawanya saat mendengar pernyataan yang keluar dari mulut kekasihnya.
"Haha, dasar Ino. Tapi, kau juga akan menjadi calon menantu seorang Uzumaki Kushina, Sakura. Apa kau bersedia jika saat itu terjadi nanti?". Kini, giliran Naruto yang menggoda kekasihnya. Mata kirinya berkedip genit kearah Sakura. Membuat sang gadis kembali memunculkan semburat tipisnya dan senyuman malunya.
"Naruto. Kau ini berbicara apa?. Aku bertanya pada Hinata, bukan padamu. Dan jangan balik menggodaku seperti itu di depan Hinata". Tak bisa lagi Sakura tutupi rona merah di wajahnya. Hinata hanya tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya tersebut.
"S-sebenarnya, a-aku dengan S-sasuke-senpai h-hanya berpura-p-pura saja. I-itu karena p-perjanjian yang k-kita s-sepakati sebelumnya".
"Perjanjian?. Perjanjian apa yang kalian sepakati?". Naruto kembali menaikkan alis sebelahnya mendengar penjelasan Hinata mengenai hubungan antara dirinya dengan senpai yang sangat terkenal itu. Secara bergantian sepasang manik shappire Naruto menatap Hinata dan Sakura. Tak bisa ia elakkan lagi segudang tanda tanya berkeliling di kepalanya atas ucapan Hinata.
"A-ah. K-kalian tak p-perlu m-mengetahuinya. I-itu sudah b-berlalu". Hinata mencoba menenangkan Sakura dan Naruto sebelum keduanya mempertanyakan lebih lanjut lagi tentang pernyataannya tadi.
"Tapi, aku melihatnya berbeda. Sasuke-senpai benar-benar menjatuhkan hatinya padamu. Itu yang aku tau dan aku rasakan saat melihat kedekatan kalian". Sakura menatap manik ungu kepucatan Hinata dalam-dalam yang juga sedang melayangkan pandangannya kepada kedua manik emerald Sakura. "Ntahlah. Itu mungkin hanya perasaanku saja. Karena, ku pikir kedekatan dan perhatian yang Sasuke-senpai berikan kepadamu baik yang ku lihat secara langsung ataupun cerita yang ku dengar dari Ino, itu sudah membuktikan seberapa besar perasaannya kepadamu, Hinata". Sakura menundukkan kepalanya mengarah kepada tanah yang ia pijaki saat ini setelah bertatapan dengan manik Hinata.
"Baiklah jika kau tak mau menjelaskan lebih lanjut mengenai hubunganmu dengan Sasuke-senpai. Aku tak akan memaksamu. Tapi, hanya satu pintaku untukmu, Hinata. Kau jangan takut untuk mengakui jika kau benar-benar mencintai seseorang. Ingat, saudara kembarku sudah memiliki pasangan disana. Dan aku yakin, kau juga akan memilikinya disini. Ayo pergi, Sakura-chan". Naruto menarik lengan putih Sakura yang sedari tadi berada di atas lutut gadis tomboy itu setelah memberikan nasihatnya kepada Hinata mengenai perasaan Hinata sendiri. Mereka berdua pun beranjak pergi karena kelas Naruto akan berlangsung.
Kini Hinata sendiri lagi. Ntah mengapa, nasihat Naruto tadi begitu tertancap keras di kepalanya. Mengajak otaknya untuk berpikir keras akan nasihat itu. Gadis mahkota indigo ini masih terkejut bukan main, namun ia segera menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak-tidak. Aku tak mungkin menyukai senpai itu. Iya, aku hanya mencintai Menma-kun. Yah, hanya Menma-kun. Bukan Sasuke-san". Gadis ini bermonolog dengan dirinya sendiri. Dengan cepat, ia membantah keras jika ia menyukai senpai aneh itu. Tidak. Tidak akan pernah dan jangan sampai itu terjadi!.
Setelah sekian lama ia duduk seorang diri di bangku taman, Hinata memutuskan untuk melangkahkan kaki jenjangnya menuju kelasnya. Walau ia tau jika kelas masih belum dimulai karena sensei Hiruka masih harus mengurusi setumpuk map berwarna-warni yang berisikan catatan mengenai nilai akhir mahasiswa dan mahasiswi yang akan segera mengakhiri masa kuliahnya tahun ini. Ntahlah, Hinata tak mengerti dengan tugas sensei yang menurutnya sangat ramah itu. Yang jelas, dapat ia pastikan jika seluruh rekan di kelasnya masih sibuk untuk berpacaran atau melakukan hal yang lain sampai sensei itu memasuki kelasnya. Hinata hanya tak ingin jika ia mendapat omelan keras dari sahabatnya yang selalu memiliki capol dua dan juga selalu duduk sebangku dengannya. Tidak, benar-benar tidak menginginkan hal itu.
.
.
.
***SEBELAS***
Seluruh pria di dalam keluarga Uchiha yang di pimpin oleh Fugaku ini berkumpul di dalam ruang kerja Itachi sang putra sulung. Mereka diantaranya adalah Itachi, Fugaku, Sasuke dan beberapa pengacara juga manager di dalam bisnis keluarga Uchiha yang bercabang di Tokyo dan Konoha. Tak ada Sai sang putra bungsu. Menurut Fugaku, Sai masih terlalu dini untuk mengetahui bisnis keluarganya yang sangat terkenal tersebut.
"Akhirnya kau datang juga, Otoutou". Itachi yang semula membalikkan kursi hitamnya dari pintu masuk pembatas ruang kerjanya ini memutarkan kursinya untuk menyambut sang adik sekaligus sang Ayah.
"Ada apa ini, Tou-san?". Sasuke sama sekali tak mengindahkan sapaan kakaknya. Justru, ia langsung mengalihkan wajahnya kepada sang ayah yang sudah berdiri di sampingnya.
"Duduklah, Sasuke. Ada yang harus kau ketahui tentang bisnis keluarga ini. Terlebih jika kau sangat bisa membantu". Fugaku tetap saja melipat kedua tangan kekarnya di depan dada bidangnya. Pria jakung yang sudah hendak memasuki usia uzurnya tersebut tetap saja terlihat gagah perkasa di usianya yang sudah tak muda lagi. Rambutnya masih tak menampakkan warna putih yang menghiasi kepalanya. Kepala keluarga Uchiha ini juga terkenal sangat dingin dan sangat sukar hanya sekedar untuk beramah-tamah ataupun tersenyum kepada orang-orang yang ia temui. Sifat itulah yang ia wariskan kepada putra keduanya. Sangat persis sekali. Hanya saja, Sasuke memiliki hati lembut seperti Mikoto, sang ibu.
Sasuke dan Fugaku pun menduduki sofa berwarna putih panjang yang menghiasi ruang kerja Itachi ini. Hanya Itachi yang tak berkutik sedikit pun dari singgahsana ruang kerjanya ini untuk ikut berbaur dengan sang ayah dan adik kesayangannya itu. Hanya wajahnya yang ia hadirkan di tengah-tengah konferensi itu.
"Jadi, apakah dia yang akan melakukan tugas ini, Fugaku-sama?". Suara salah seorang yang turut memasuki konferensi bisnis keluarga Uchiha ini membuyarkan suasana awkward yang tercipta di ruangan berbentuk persegi ini.
"Hmm. Mungkin saja Sasuke mau melakukannya. Karena tak mungkin Itachi juga yang harus melakukan semuanya. Mengingat, ini adalah wilayah bisnis yang akan ia jalankan nanti di masa depannya. Selain itu, Itachi juga sudah memiliki pasangan. Sangat tidak memungkinkan jika Sai yang masih terlalu dini untuk melakukannya". Fugaku membuang nafas besarnya ketika menyadari keterpaksaannya meminta Sasuke melakukan perintahnya agar bisnis keluarga yang sudah berjalan lama ini agar tetap berjaya bahkan bisa memperlebar wilayah bisnisnya.
"Begitu. Gomenne, Sasuke-dono. Kami dengan sangat terpaksa meminta Anda untuk meninggalkan sehari waktu belajar Anda. Sebelumnya, saya akan memperkenalkan diri saya. Perkenalkan, nama saya adalah Uchiha Obito. Saya adalah kepala management dari bisnis Uchiha ini. Dan, disebelah saya ini adalah Uchiha Shisui. Dia adalah saudara saya sekaligus pengacara di dalam bisnis ini. Kami sama-sama bekerja langsung di bawah pengawasan Fugaku-sama yang beroperasi di Konoha. Dan mereka a-".
"Bisakah kau segera memberitahuku apa tugasnya?. Aku sudah mengetahui kau dan juga mereka, Obito". Seperti biasa. Bukan Uchiha Sasuke namanya jika tak memutus pembicaraan seseorang yang menurut pria berambut raven ini terlalu panjang dan bertele-tele.
"Baiklah. Seperti yang Anda ketahui, bisnis ini adalah bisnis keluarga Uchiha. Kami semua masih terikat saudara dengan Anda mengingat kami semua juga keturunan dari sesepuh yang sama, yaitu Uchiha Madara. Kami, dari pihak induk usaha Uchiha dengan sangat rendah hati meminta bantuan Anda. Yaitu adalah dengan bersedianya Sasuke-dono mempersunting salah satu putri dari keluarga kerajaan sekaligus konglomerat terkemuka di Konoha, yaitu Hyuuga".
"Mempersunting?. Apa maksudmu aku harus mau menikahi putri dari kerajaan itu?". Sasuke menaikkan sebelah alisnya mendengar penjelasan dari Obito tadi.
"Tepat sekali, Sasuke-dono. Ini demi tercapainya impian bisnis untuk memperluas wilayah bisnis di negara yang sangat susah untuk di taklukkan bisnis keluarga Uchiha, yaitu Paris dan Amerika. Kebetulan, kedua negara tersebut berada di bawah kekuasaan keluarga Hyuuga. Dan tanpa di sengaja pula, keluarga Hyuuga menyetujui kerja sama ini agar mereka bisa mengembangkan usaha yang tak cukup terkenal disana. Hanya Sasuke-dono yang bisa melakukannya. Kami sangat mohon dengan sangat rendah hati". Kini, Shisui sang pria kurus tampan tersebut menggantikan tugas Obito untuk menjelaskan sekaligus merayu Sasuke.
"Jadi, apa keputusanmu, Otoutou?. Kedua negara itu adalah calon wilayah bisnismu dengan salah satu putri dari kerajaan Hyuuga di Konoha. Apa kau bersedia?". Itachi ikut menyuarakan suaranya agar Sasuke tidak goyah dan menerima tugas ini. Namun, sikap yang sangat berlawanan justru Sasuke tunjukkan saat konferensi bisnis keluarga ini berlangsung. Sasuke mengubah posisi duduknya menjadi berdiri sempurna. Pria jakung berambut raven itu tak menampakkan ekspresi apapun untuk anggota konferensi. Ia melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari ruang kerja Itachi begitu saja.
"Akan ku pikirkan lagi nanti". Hanya itu yang keluar dari mulutnya saat Sasuke berhasil meraih gagang pintu ruang ini. Dan, Blam. Pintu tertutup rapat seperti semula.
.
.
.
.
.
Hinata melangkahkan kaki jenjangnya melewati jalanan kota Tokyo yang selalu ramai dengan aktivitas penduduk yang mendiami kota ini. Gadis imut bersurai indigo ini memilih berjalan seorang diri untuk sampai di tempat kerjanya. Tenten, sang sahabatnya tak lagi menemani karena tadi gadis bercapol dua itu di jemput oleh sebuah mobil mewah yang terkenal di Tokyo. Mungkin dia adalah kekasih Tenten. Mungkin saja. Hinata bahkan tak mau memusingkan kegiatan sahabat-sahabatnya yang lain. Ia lebih memilih menyibukkan dirinya dengan bekerja sambilannya.
Setelah sampai di tempat yang Hinata maksud, gadis ini segera memasukkan dirinya kedalam bangunan bernuansa makanan khas jepang itu dan segera mengganti pakaiannya untuk memulai pekerjaannya.
.
.
.
.
.
"Sarutobi, kau di panggil oleh Ayame-sama". Saat Hinata sedang sibuk dengan kegiatannya menata beberapa makanan disebuah nampan yang merupakan pesanan dari salah satu pelanggan kedai tempatnya bekerja ini, seseorang memanggil namanya dan ia harus memberhetikan aktivitasnya tersebut. Hinata hanya mengangguk pelan kepada salah satu rekan kerjanya itu dan melangkahkan kakinya menuju tempat Ayame sang boss mudanya bekerja.
"Ah, kau tiba juga. Hinata, di meja nomor 15 ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Tenang saja, dia bukan Sasuke-san. Aku baru pertama kali melihatnya". Ayame memberi interupsi jika Hinata sedang kedatangan tamu yang tak ia duga sebelumnya.
'Kalau bukan Sasuke, lalu siapa?. Orang pertama yang baru Ayame-neechan temui?. Siapa dia?. Dari mana ia tau jika aku bekerja disini?'. Batin Hinata terus saja berbicara tak hentinya saat Ayame memperjelas tamu tak di undangnya tersebut. Dengan perasaan yang menentu antara takut, ragu, dan terkejut menyerang ulu hatinya, gadis ini melangkahkan kaki jenjangnya menuju nomor meja yang sudah Ayame sebutkan tadi. Namun, ekspresi wajah imut gadis ini berubah ketika ia mengetahui wajah tamu misteriusnya.
"Kau?".
To Be Continue . . . . . .
Maaf karena terlalu lama dan juga OOC sekali dari karakter aslinya. Sekali lagi selamat membaca :)
A/N : Maaf tidak bisa balas satu persatu review. Saya janji chapter depan akan balas semua review. Terimakasih :) ini ff baru bangkit dari kubur :D *sereem*. chap selanjutnya akan bercerita tentang perlakuan Sasuke kepada Hinata yang membuktikan ketulusan cintanya. Sasuke dan Hinata tak mengetahui jika mereka ternyata di jodohkan. So, keep read and waiting. Maaf jika membosankan :)
