[CHAP 11]
ENJOY STORY!
[Don't Like? Want To Bash Me? HUSH!]
LullabyDik
Presents
.
.
"Kibum, kenapa?" tanya Kyuhyun lirih. Changmin melirik ke arah Kibum, tidak mendapat ekspresi berarti apa-apa dari dongsaeng nya itu.
"Ah, bukan sesuatu yang penting. Kenapa kau serius sekali, evil." Sekejap saja Kyuhyun memasang wajah bosan. Tidak penting tapi Heechul langsung datang ke sini di pagi buta, membawa seseorang yang di rindukannya. Bagaimana Kyuhyun tidak panas-dingin?
"Kibum akan tinggal di sini tiga hari. Tadi pagi, tuan Kim menelefon eomma. Dia ada urusan, dan katanya tidak bisa di tinggalkan. Jadi, Kibum tidak punya teman di rumah. Tuan Kim yang meminta tolong eomma mengantarkan bocah ini, lagipula eomma memang ingin mengunjungi kalian."
"Kenapa Kibum...?"
Heechul yang langsung mengerti maksud Changmin mengangkat bahu, "Tuan Kim bilang bocah ini berkelahi dengan bocah tinggi berkulit pucat semalam. Tidak tahu kenapa." Serempak Kyuhyun dan Changmin saling pandang. Ciri-ciri seperti itu mengarah pada Sehun. Kejutan pagi hari mendengar kabar langka itu.
"Jja. Eomma langsung balik saja. Kalian baik-baik di sini. Untuk kalian berdua..." tunjuk Heechul pada Changmin juga Kibum. "Sebisa mungkin turuti keinginan Kyuhyun. Awas saja sampai terdengar kabar Kyuhyun sakit. Kalian berdua tidak bisa merasakan oksigen lagi." Changmin meneguk ludah kasar. Kibum mengangguk kecil. Kejam sekali.
Kyuhyun menatap bingung eomma nya, dia merasa ada yang janggal tapi ia sendiri tidak tahu apa itu.
Setelah kepulangan Heechul, Kibum menyampirkan ransel yang ia letakkan di atas sofa sebelumnya, "Kamar ku dimana?"
Meskipun masih bingung, Changmin menunjuk satu kamar berpintu warna hitam. Warna hitam kepunyaan Changmin, sedangkan pintu berwarna biru langit di sebelahnya kepunyaan Kyuhyun. Pintu itu sebenarnya putih, tapi, Kyuhyun ngidam kamarnya harus biru semua. Secepat kilat Heechul menyuruh pekerja melakukannya. Melihat Kyuhyun ngidam, Changmin ikutan. Dia juga ingin kamarnya serba hitam, maka dari itu Changmin meminta pekerja yang mendekorasi sekalian memperbaharui kamarnya. Tanpa sepengetahuan Heechul tentunya. Karena mereka di suruh sekamar, bukan berpisah. Changmin juga suka tidur bersama, tapi, tidak mungkin setelah melihat wajah iblis Kyuhyun yang mengerikan.
Kibum memasuki kamar tanpa sepatah kata lagi. Jalan Kibum agak bungkuk dan tertatih-tatih. Changmin sampai takjub melihatnya, Kibum tidak pernah berantam. Tidak pernah sekalipun. Changmin bisa mengambil kesimpulan, selama Sehun memukulinya, Kibum tidak membalas namja albino itu. Kasihan sekali. Pasti sepasang 'suami-istri' itu bertengkar hebat.
"Sehun..." gumam Changmin menyadari sesuatu. "Kyu...!" panggil Changmin, begitu ia berbalik. "WOAAA..." ternyata sedari tadi Kyuhyun sudah berada di samping nya. Ia terlalu larut dalam lamunan. Kyuhyun menatap Changmin jengah, telinganya sakit mendengar teriakan melengking Changmin.
"Mwo?" tanya Kyuhyun ketus.
"Aku baru saja memikirkan sesuatu! Dan ini mungkin jawaban mengapa Kibum tidak mengaku." Alis Kyuhyun keduanya terangkat. Jangan bilang Changmin dengan pemikiran bodohnya lagi.
"Apa itu?"
"Kibum mencintai Sehun! Dan saat ia melihatmu, mungkin dia baru saja menonton film 'ehem'. Kibum tergoda. Melihatmu, ia membayangkan Sehun. Dia membawamu ke kamar nya. Lalu, membuka helai demi helai pakaianmu dengan penuh nafsu. Ia mendaratkan ciuman ganas hingga bibirmu membengkak... tidak kuat lagi, Kibum mulai turun ke leher jenjangmu, meninggalkan bercak kemera..."
BUGH
PLAKKK
PLETAKKK
BUGH
"HENTIKAN BODOH! DASAR MESUM!"
Kali ini Kyuhyun berhak marah dan memukuli Changmin. Dia sudah mendengarkan dengan seksama. Dan sudah mengambil kesimpulan kalau yang dikatakan Changmin ada benarnya. Bahkan hati Kyuhyun sudah berdenyut sakit tadi.
Tapi...
Siapa yang tahan kalau bicara Changmin semakin melantur. Tatapan tajam penuh nafsu ke bibir dan leher Kyuhyun. Sapuan lidah di bibir. Menjijikkan dan sangat mengganggu.
BLAM
Kyuhyun ikutan masuk kamar, tapi, ke kamar nya. Kakinya menghentak-hentak kasar. Masih pagi dan dia harus merasakan sakit. Lelehan bening mengalir di pipi nya. Demi PSP nya, Kyuhyun merasa bodoh sekarang. Bagaimana jika yang di katakan Changmin benar?
Lalu, hari ini Kibum mengakuinya kepada Sehun. Sehun marah dan memukuli Kibum hingga babak belur.
"Hueee... Kibum benar-benar tidak mau tanggung jawab. Apa aku harus menikah dengan si tiang mesum itu! Andwae... andwae..." jerit Kyuhyun.
Kyuhyun berguling-guling di atas tempat tidur. Memeluk bantal guling erat, kemudian melempar nya kasar ke bawah, sedetik berikutnya, Kyuhyun mengambil bantal gulingnya dan memeluknya kembali erat. Membuangnya. Mengambilnya lagi. Kyuhyun kesal. Sangat-sangat kesal. Seprai tempat tidurnya sudah tidak berbentuk. Bantal tidurnya habis di gigiti Kyuhyun.
Fokus pada pekerjaan melampiaskan rasa kesalnya, Kyuhyun tidak sadar ada orang lain di kamar itu yang berjalan mendekat. Melangkah gontai sampai ke tempat tidur Kyuhyun. Tanpa aba-aba, orang itu langsung merebah. Mengatur nafasnya pendek-pendek. Keringat sebiji jagung terhampar di dahinya.
Kyuhyun terdiam. Dia merasakan ada nafas lain di sampingnya. Nafas berat yang menyeramkan. Perlahan-lahan, Kyuhyun melirik ke sampingnya. Pikiran-pikiran negatif bersarang di kepala Kyuhyun. Dia tidak penakut, Kyuhyun hanya anti dengan hal-hal berbau mistis. Dia sedang hamil, bisa jadi sekarang hantu apartemen itu mendekatinya dan mengambil calon bayi Kyuhyun.
Kyuhyun hampir pingsan membayangkannya.
Namun ternyata salah. Bukan hantu yang ingin mengambil calon bayi Kyuhyun, melainkan appa dari si calon bayi. Berbaring disana dengan mata tertutup. Sesekali meringis sakit.
Hati Kyuhyun luluh, dia tidak tega melihat keadaan Kibum. Pucat pasi, lebam dimana-mana, keringat dingin. Mengiris hati sekali. Kyuhyun jadi berikrar dia akan membuat perhitungan dengan Sehun.
"Bum...? Kau baik-baik saja...?" Kyuhyun duduk. Mendekat ke arah Kibum dan menyeka keringatnya menggunakan seprai. Kyuhyun tidak mau repot-repot, ada alternatif lain langsung di gunakan. Kibum menggapai-gapai tangan Kyuhyun dan menggenggamnya. Tangan Kibum sedingin es. Tapi, Kyuhyun berpikir wajar manusia es punya tangan sedingin es.
"Peluk..." gumam Kibum lirih.
Alis Kyuhyun saling bertaut, Peluk? Tiba-tiba sekali. Kyuhyun menjadi canggung karena permintaan itu. "Kau kenapa, Bum?"
"Peluk..." gumam Kibum lagi lebih lemah.
Seolah Kibum sedang menghadapi sakaratul mautnya.
"Peluk..." dan ini lebih-lebih lemah lagi.
Kyuhyun tidak mungkin tidak mengabulkan permintaan Kibum, Kyuhyun takut itu permintaan terakhir dari Kibum.
Akhirnya Kyuhyun ikut berbaring, sedikit lebih tinggi posisinya dari Kibum. Melingkarkan tangannya di bahu Kibum, yang mendapat respon dari Kibum. Bocah itu memiringkan tubuhnya, melingkarkan lengannya ke pinggang Kyuhyun. Menenggelamkan wajahnya ke perut Kyuhyun.
Meski masih canggung, Kyuhyun sangat menikmati pelukan ini. Kyuhyun yakin calon bayinya juga senang. Nafas Kibum mulai terdengar teratur. Nampaknya bocah itu benar-benar nyaman di pelukan Kyuhyun.
Kyuhyun menyisir rambut kelam Kibum dengan jari jemarinya. Mengusap sampai ke punggung. Terkadang mencium pucuk kepala Kibum. Serasa tidak ada hal lain yang di butuhkan Kyuhyun saat ini.
"Kyu?"
Kyuhyun melihat Changmin di ambang pintu. Meletakkan jari telunjuk ke bibirnya menyuruh Changmin diam.
Changmin tertegun cukup lama. Dongsaeng dinginnya memeluk tubuh Kyuhyun erat, Kibum tidak pernah terlihat semanja itu. Diam-diam Changmin tersenyum tipis, pelan-pelan meninggalkan kamar Kyuhyun.
Sebenarnya Changmin ingin menyerahkan minuman isotonik penghilang rasa mual. Tadi ia mendengar Kibum muntah-muntah di kamar mandi kamarnya. Wajah dongsaengnya sangat pucat pasi. Changmin memutuskan membeli ke apotik terdekat. Setelah pulang ia tidak mendapati Kibum di kamar. Mencari ke seluruh penjuru ruangan juga nihil.
Ternyata...
Kibum pergi ke tempat obat penghilang rasa mualnya yang asli.
[~KID!DIK~]
Siang nya, Changmin sangat senang mendapati tamu mereka adalah Ryewook. Bagaimana mungkin Changmin lupa, jika Kibum disini, berarti Ryewook juga ke sini. Beruntungnya ia bisa melakukan pendekatan tanpa repot-repot mengejar Ryewook.
"Kibum sedang mandi. Kau tunggu saja dulu disini." Changmin mempersilahkan namja mungil itu masuk dan mempersilahkan duduk di sofa. Di susul ia yang duduk di sebelah Ryewook.
"Terima kasih, Changmin-ssi." Jawab Ryewook formal.
"Ah, tidak usah seformal itu. Panggil saja aku hyung."
Ryewook menatap bingung Changmin. "M-maksudku, Changmin saja." Ralat Changmin. Wajah Ryewook itu imut dan menggemaskan. Mungil dan tubuh yang jauh lebih pendek dari Changmin. Siapa sangka Ryewook itu lebih tua 6 tahun.
"Changmin... kau harusnya memanggilku hyung." diam sebentar sampai Ryewook menegur Changmin. Awalnya Ryewook tidak niat, tapi, Changmin tersenyum bodoh dari tadi ke arahnya.
Changmin merasa ia aneh sekali. Biasanya di hadapan siapa saja ia tidak pernah secanggung ini. Changmin selalu bertingkah 'everything is easy', seperti zaman SMA nya yang karena tingkah Changmin ia mendapat gelar Cassanova. Biar guru atau petugas kebersihan -_-
"Ba-baiklah, hyung."
Ryewook mengangguk sekali. Mengalihkan perhatiannya dengan melihat-lihat isi apartemen Changmin yang belum ada apa-apanya. Masih polos kecuali warna pintu kamar yang sangat kontras dengan cat putih dinding.
"Kau sudah makan hyung?" –ini masih usaha mendekati Ryewook.
"Sudah." Tentu saja sudah. Untuk apa Ryewook datang dengan perut kosong. Apa dia ingin minta makan? Changmin merutuki pertanyaannya barusan.
"Tapi aku belum." Lagi-lagi Changmin ingin memaki mulutnya yang bersuara semudah itu. Dia sekarang mengadu belum makan, demi kehamilan Kyuhyun, bisa-bisa Ryewook menilah aneh kepadanya.
Diam beberapa detik, Ryewook tidak langsung menjawab. Entah apa yang dipikirkan namja mungil yang biasanya ceria itu, sebenarnya jika Changmin menyadari sesuatu, Ryewook terbilang aneh berbicara singkat dengan lawan bicaranya. Dengan Kibum saja Ryewook selalu berceloteh ria dan berusaha sebisa mungkin percakapan itu tidak terputus.
"Kau ingin hyung masakkan sesuatu?" Ryewook berkata ragu.
"Kita beli bahannya dulu diluar hyung. Ayo." Changmin segera menarik tangan Ryewook. Mengambil dompetnya dan keluar dari apartemen itu. Tidak memberi kesempatan Ryewook berkata sepatah katapun. Nyatanya di lemari es tersedia banyak bahan makanan, tidak mungkin Heechul sampai hati membiarkan Kyuhyun kelaparan.
Changmin tidak mau mereka terlalu lama saling canggung. Changmin takut ia kehabisan kata. Terkadang, bila tidak berhasil dengan ucapan, tindakan adalah pilihan terakhir.
[~KID!DIK~]
"Hati-hati..." dengan sigap Kyuhyun mengambil alih kaos Kibum, memakaikan bocah itu perlahan-lahan. Ada tanda merah lebam di punggung dan lengannya sehingga saat ingin memakai, Kibum terlihat kaku dan lamban. Tidak ada ringisan, tapi, Kyuhyun yakin itu sangat sakit. Benar-benar keterlaluan Sehun –pikir Kyuhyun.
Saat melihat Kibum membuka mata, Kyuhyun menyuruh bocah itu mandi yang sebelumnya sudah ia siapkan air panas. Tanpa kata Kibum menurut dan mandi di kamar mandi Kyuhyun. Setelahnya, Kyuhyun sendiri mengambil baju Kibum berupa kaos dan celana panjang longgar di kamar Changmin. Saat mencari Changmin, sahabatnya itu sedang makan siang di dapur. Changmin sempat menawari karena ia baru masak telur goreng. Kyuhyun menolak, Changmin benar-benar perut karet hingga makan siang pukul 11.
Tapi, Kyuhyun sempat memberi pesan pada Changmin untuk membuat bubur segera. Yang mau tidak mau diangguki Changmin karena itu untuk adik kesayangannya sendiri.
Kibum memperhatikan lekat wajah Kyuhyun yang berada di hadapannya. Raut wajah cemas Kyuhyun yang entah mengapa membuat semua sakit Kibum tidak terasa lagi. Hiperbola, tapi, fakta.
Selama Kyuhyun memakaikan kaos Kibum, ia hanya diam. Antara malu dan kesal. Malu sebab mereka seperti sepasang suami-istri. Dan kesal mengingat luka yang di dapat Kibum dari Sehun, yang kemungkinan karena hal yang dikatakan Changmin.
"Gomawo, hyung..." Kyuhyun berdiri diam di tempat. Kibum yang posisinya sedikit lebih rendah karena duduk di kasur menengadah dan memberi senyum tipis. Berkali-kali lipat lebih tampan. Pipi Kyuhyun sampai memerah karena kagum dan malu. Tidak sinkron dengan wajah yang Kyuhyun buat sengaja tanpa ekspresi.
Kibum meraih tangan Kyuhyun dan menggenggamnya erat. Mencium kedua punggung tangan Kyuhyun bergantian. "Gomawo, hyung..." ujarnya lagi.
Kyuhyun tidak menolak perlakuan manis Kibum, tapi, ia juga tidak merespon.
"Gomawo, baby..." tanpa Kyuhyun duga, Kibum membenamkan wajahnya ke perut Kyuhyun. Mencium bertubi-tubi perut yang di lapisi kemeja putih yang Kyuhyun kenakan. Tangan Kibum melingkar ke pinggang Kyuhyun, lebih mendekatkan tubuh Kyuhyun kepadanya.
"Bum... kau..."
Kyuhyun menggigit bibir bawahnya keras. Sikap Kibum seolah mereka sudah saling mengakui. Sikap Kibum seolah sudah menerima bayi yang ada dalam perutnya. Tapi, itu belum cukup memastikan semua. Kyuhyun butuh pengakuan yang jelas.
"Ayo kita makan hyung." Kibum menjauhkan wajahnya dan mendongak lagi melihat Kyuhyun. Pemuda yang tengah hamil itu merasa matanya panas. Cairan bening itu saling berdesakan untuk keluar. Kyuhyun tidak tahu mengapa ia cepat luluh oleh sikap Kibum dan sedetik kemudian, ia tahu semua itu hampa tanpa ada kejelasan apapun. Kibum membuatnya merasa menjadi orang terbodoh, yang terkurung di labirin dalam waktu lama.
Katanya, malu bertanya sesat di jalan.
Apa harus Kyuhyun yang pertama bertanya? Anehnya, perasaan takut akan respon penolakan Kibum nanti menghantui pikiran Kyuhyun. Takut dan takut.
"Kau memikirkan apa hyung?"
PLAKKK
Mungkin Kyuhyun keluar dari akal sehatnya, ia menampar pipi Kibum begitu saja. Dia marah, kesal, merasa kacau, merasa dirinya bukan seperti Kyuhyun yang biasa. Hanya karena satu, Kim Kibum.
"TAHUKAH BETAPA AKU MEMBENCIMU KIM KIBUM! KAU MEMBUATKU TAKUT! AKU TIDAK PERNAH SETAKUT INI! TAPI AKU TAKUT KARENA KAU, BOCAAHHHHH...!"
Kyuhyun menjerit. Air matanya mengalir deras. Kyuhyun menghentak-hentak kasar kakinya bak anak kecil. Menunjuk-nunjuk muka Kibum dengan telunjuknya, Kyuhyun bahkan menjambak rambutnya. Dia teramat kesal dengan Kibum.
"KAU AYAH BAYI INI KAN?! TANGGUNG JAWAB BOCAHHHH! KAU MEMPERKOSAKU...!"
GREPPP
Kyuhyun bisa merasakan pelukan erat Kibum, lama kelamaan, ia juga dapat merasakan cairan di kemejanya yang menyebabkan basah disana. Kibum menangis? Bocah itu menangis?
"Maafkan aku hyung... tapi, aku sangat mencintai Sehun. Aku khilaf melakukan itu padamu, maafkan aku hyung, aku tidak bisa bertanggung jawab..."
.
.
.
.
.
"Hyung..."
"Hyung..."
"Hyung..."
Kyuhyun merasa tubuhnya di guncang-guncang. Mengerjap-ngerjap beberapa kali hingga ia menemukan wajah bingung Kibum di depannya. Tidak ada jejak air mata di wajah itu. Dan, kemejanya juga masih kering.
"E?"
"Kau melamun hyung?" Kyuhyun masih keadaan diam. Astaga! Dia baru saja melamunkan sesuatu yang membuat tangannya mendingin. Beruntung semua hanya khayalan singkatnya. Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya kuat. Jantungnya bahkan berdetak tak karuan karena lamunan singkat itu.
Seandainya itu terjadi..., penulis cerita ini pasti di demo massal.
"Ah, ani. Ayo kita makan saja. Bubur mu nanti dingin."
[~KID!DIK~]
Sudah dua jam lamanya Kyuhyun dan Kibum saling diam sehabis makan siang. Changmin juga belum pulang juga, Kyuhyun ingin menelefon tapi ponsel sahabatnya itu tinggal. Setidaknya jika ada Changmin, Kyuhyun tidak habis kata seperti ini.
Kibum duduk di atas sofa sibuk mengkompres wajahnya. Tentu saja masih sakit. Jejak kebiruannya saja belum hilang. Beberapa kali Kibum juga melirik ke arah Kyuhyun yang fokus menonton drama di televisi. Canggung. Kedua orang yang duduk saling bersebelahan tanpa benar-benar fokus dengan kegiatan masing-masing.
"Kau ingin sesuatu hyung?"
Kyuhyun melirik Kibum. Kemudian mengalihkan perhatiannya lagi ke layar. Degup jantung Kyuhyun tiada hentinya berdebar. Meski luka parah begitu wajah Kibum masih tetap tampan. Sungguh menjerat Kyuhyun ke dalam pesonanya. Refleks Kyuhyun mengusap perut datarnya, saat ada Kibum serasa ia tidak membutuhkan hal lain. Tapi, tidak mungkin ia mengatakan hal konyol itu.
"Tidak ada." Jawab Kyuhyun singkat.
"Bukankah kau harus punya?" dahi Kyuhyun berkerut. Kenapa Kibum jadi cerewet? Ah, sepertinya Kyuhyun mengerti. Kibum sekarang dalam tahap penyesalan dan ingin berbuat baik kepada dirinya sebagai pengganti tingkah tidak bertanggung jawabnya. Pemikiran itu malah membuat Kyuhyun ingin menjambak rambut Kibum. Menoyor keras wajah lebam itu, tidak peduli Kibum semakin kesakitan.
"Aku ingin menjambak dan memukul mu." Ujar Kyuhyun datar. Mematikan televisi dan mengubah posisi duduk berhadapan dengan Kibum, kedua kaki yang di naikkan ke sofa dan di silangkan.
Alis Kibum terangkat sebelah. Apa dia salah tanya? Seperti nya iya. Nampak jelas mood Kyuhyun yang berubah drastis. Pipi gembil itu terangkat ke atas akibat senyum lebar Kyuhyun, mata bulatnya menyipit, berbeda dengan tangan Kyuhyun yang terangkat berada di depan wajah Kibum, menggerak-gerakkan jari jemarinya persis ingin menjambak.
Manis tapi, menyeramkan.
Kibum meneguk ludah kasar.
"Ba-baiklah..." Kibum menundukkan kepalanya agar mudah di jambak Kyuhyun nantinya. Memejamkan mata karena ia harus menerima hukuman lagi.
Ternyata bukan tarikan keras di rambut, yang ia terima sebuah kecupan lembut di kepala serta tangan panjang yang melingkar di bahunya. Kepala itu turun ke bahu Kibum dan menyurukkan wajahnya ke sana. "Aku ingin tidur..." gumam Kyuhyun.
Kibum tersenyum tipis. Balas memeluk Kyuhyun dengan melingkarkan tangannya ke pinggang namja manis itu. Perlahan-lahan Kibum mengubah posisi nya menjadi terlentang namun tetap merengkuh tubuh Kyuhyun ke dekapannya. Sangat pelan sekali gerakan Kibum hingga mereka berdua rebahan di sofa, Kibum juga sengaja memposisikan tubuh mereka menyamping. Kibum masih sayang anaknya. Anak? Ya, tentu saja. Anak yang belum lahir itu adalah anak Kibum.
Dan Kibum tahu itu.
[~KID!DIK~]
Malam harinya Changmin pulang. Dengan wajah berseri-seri senang. Ia juga menenteng dua plastik besar berisi makanan. "I'AM HOME EVERYBO~" Teriakan itu harus terhenti saat melihat dua insan yang masih lelap saling berpelukan. Wajah keduanya damai.
"Okay, jadi begini bocah." Changmin tersenyum simpul. Tidak mau mengganggu kedua sejoli itu, ia membereskan bawaannya dan tidak lupa mengusap lembut rambut dongsaeng kesayangannya. Changmin tidak tahu berapa besar rasa sayang nya ke Kibum. Mereka bersama sejak kecil. Tanpa ayah dan ibu. Sedikit banyaknya perasaan bersalah itu masih menghantui Changmin sampai sekarang, dia pernah membenci Kibum. Karena bocah itu, ibunya pergi meninggalkan Changmin. Begitulah yang Changmin kecil pahami dulu.
Changmin sempat tidak mau berbicara dengan Kibum, bahkan melihatnya saja enggan. Saat Kibum menginjak usia ketiga. Bocah itu dengan polosnya selalu mengajak Changmin bermain. Mereka tinggal bertiga, itu pun sering di tinggalkan tuan Kim dan yang merawat mereka terkadang keluarga dari ibu atau ayahnya, terkadang juga di sewa oleh tuan Kim dengan alasan tidak mau merepotkan keluarga.
Pernah beberapa kali mereka di titipkan dalam jangka waktu lama di salah satu keluarga dari ibu atau ayahnya. Benci. Changmin sangat membenci nya karena mereka tidak ada yang mengerti rasa kehilangan yang Changmin rasakan. Mereka lebih sayang Kibum yang cerdas daripada dirinya. Padahal, Kibum itu yang menyebabkan ibunya pergi.
"Bocah ini... tetap saja berbuat ulah." Gumam Changmin di sela kegiatannya membereskan makanan yang ia bawa. Changmin menghela panjang. Membuka memori lama tidak semenyenangkan biasanya. Kibum itu menjadi dingin, karena ulahnya. Kibum tetap membela nya meski Changmin pernah mendorong tubuh bocah itu hingga luka-luka. Di saat itulah Changmin sadar betapa berharga nya Kibum.
Kibum yang masih berusia 5 tahun tidak marah malah mengucap maaf padanya karena menghilangkan ibu mereka. Sangat polos. Kibum ikutan membenci orang-orang yang Changmin benci. Kecuali untuk bibi Jaejoong, karena saat itu Kibum pernah melihat Changmin menangis di pangkuan Jaejoong dan bibi cantiknya itu mengusap lembut rambut Changmin. Di balik pertengkaran mereka, Kibum bisa ambil kesimpulan mereka saling sayang. Dan, Changmin tahu itu.
"Kau beruntung mendapatkan Kibum, Kyu..." Changmin masih setia bermonolog. Paling tahu sifat Kibum yang jika sudah menyayangi tidak akan pernah main-main. Jadi, untuk banyak alasan itulah Changmin mendukung pasangan yang menurutnya aneh. Kibum itu aneh. Dan yang ia cintai juga aneh.
Changmin hanya tertawa simpul mengingatnya.
Lagipula, Changmin menemui Sehun tadi. Untuk menanyakan perihal pertengkaran mereka. Well... apa yang Changmin dapat? Kebingungan Sehun. Bocah tinggi yang ia kira pasangan hidup Kibum itu malah bertanya keadaan Kibum dan dimana ia tinggal. Cerewet sekali.
"Dasar bocah." Changmin tersenyum geli.
[~KID!DIK~]
Changmin terpaksa membangunkan Kibum dan Kyuhyun. Mereka pasti belum makan malam. Changmin masih sayang Kibum dan untuk Kyuhyun, mana mungkin ia tega dengan namja yang tengah hamil, bisa-bisa anaknya tidak bergizi nanti.
"Aku malas ke dapur. Mau disini saja." Manjanya Kyuhyun kambuh. Wajah baru bangun dan terlihat kusut membuat ia berkali-kali lipat lebih menggemaskan. Efek hamil atau memang wajah Kyuhyun semakin chubby dan kekanakan.
"Di gendong?" tawar Changmin.
Kyuhyun menggeleng keras. "Ani! Aku mau disini. Sambil nonton..." persis bak anak kecil merajuk. Kyuhyun menggembungkan dan mengerucutkan bibir cherry nya. Duduk bersila dan mencoba tidak bergeming sedikitpun. Changmin terkekeh kecil. Kemudian ia melirik Kibum yang masih duduk di sebelah Kyuhyun. Ternyata Changmin salah fokus. Melihat Kibum mendorong ia untuk tertawa keras.
Mata Kibum lekat ke wajah merajuk Kyuhyun. Wajah Kibum memerah. Dia sangat terpesona oleh Kyuhyun. Belum lagi jakun Kibum yang naik-turun menelan ludah. Karena lapar? Ya, benar. Tapi, lapar dalam artian lain. Changmin juga tidak sengaja melihat gembungan yang tercetak indah di antara selangkangan Kibum.
Tiba-tiba ide jahil lewat di pikiran Changmin. Jarang-jarang dia bisa mengerjai Kibum.
"Aku ambil makanan mu." Tanpa menunggu respon Kyuhyun, Changmin langsung melesat ke dapur. Tidak lama membawa semangkuk jajamyeon yang sudah ia hangatkan. Tadinya Changmin ingin menghidangkan samgyeul, bibimbap, bahkan bulgogi yang baru ia borong. Tapi, kalau begitu ia tidak bisa melancarkan aksinya. Sesuai dugaan Changmin, dongsaeng datarnya masih terpaku mempelototi Kyuhyun. Semakin terkembang liar senyuman iblis Changmin.
"Aku membeli jajamyeon kesukaanmu. Kau suka kan?" Kyuhyun mengangguk antusias. Changmin bertutut di depan Kyuhyun dan mulai menyuapi sahabatnya yang tampak tidak peka dengan sosok 'bernafsu' di sebelahnya. Sengaja tidak di sebelah Kyuhyun atau duduk diantara mereka. Kalau begitu, aksi nya tidak bisa di lihat Kibum. Biar saja lututnya sakit setelah ini, yang penting puas melihat reaksi Kibum nantinya.
Selang tiga sendok masuk. Sesuai yang di harapkan, dan Changmin memang sengaja menyulangkan Kyuhyun sedikit berlepotan. Kuah hitam jajamyeon terhampar di bibir Kyuhyun. Dengan sigap Changmin menjulurkan jari jempolnya mengusap perlahan bibir Kyuhyun. Sengaja menggerakkan secara sensual, menekan lembut bibir tebal Kyuhyun. Terakhir, mencubit belahan bibir bawah Kyuhyun gemas.
Sebenarnya jika tidak ingat sedang dalam misi mengerjai Kibum, Changmin bisa saja terlena sendiri. Dia baru tahu bibir Kyuhyun seperti jelly yang menggiurkan. Oh, Changmin menggeleng pelan. Salahkan jiwa cassanova nya yang masih aktif.
GREPP
Sedikit tersentak, Changmin menoleh ke arah Kibum yang mencengkram lengannya dan menjauhkan kasar dari bibir Kyuhyun. Kibum sendiri terkejut dengan aksinya. Mata yang biasanya datar sedikit membulat. Tapi, bukan Kibum namanya jika tidak bisa cepat mengubah kembali ke ekspresi kesayangannya.
"Tadi ada nyamuk."
DOEEENGGG
Perut Changmin tergelitik keras mendengar jawaban asal Kibum. Selama ini Kibum tidak pernah berbuat tanpa di pikir terlebih dahulu. Mungkin, ini menjadi hal baru bagi dongsaeng kesayangannya itu.
"Terima kasih buat nyamuknya." Sindir Changmin. Kepala yang sedikit dimiringkan dan sudut bibir terangkat sebelah ke atas.
Kibum hanya diam. Melepas perlahan cengkramannya. "Biar aku yang menyuapkan Kyuhyun."
Changmin tersenyum puas. Apa yang ia harapkan melebihi dari yang di bayangkan. "Baiklah. Hyung serahkan padamu."
Mangkuk jajamyeon itu sudah berpindah tangan. Saatnya Changmin pamit undur diri dan menyibukkan diri dengan hal lain.
Kyuhyun menatap selera jajamyeon yang ada di tangan Kibum. Namun, bocah itu diam saja. Hingga Kyuhyun mengerucutkan bibirnya lebih maju. "Bum-bum... Aaaaa..." Kyuhyun membuka mulut lebar. Dia sangat lapar. Wajar saja, Kyuhyun makan untuk dia dan sang jabang bayi. Tidak bisa dipinggirkan rasa lapar yang teramat sangat itu.
Terdiam sebentar. Sebelum akhirnya Kibum menyumpitkan penuh mie kuah hitam itu dan mengarahkannya ke mulut Kyuhyun. Kyuhyun mengunyahnya, tapi, Kibum terlalu banyak memasukkan mie. Kyuhyun jadi makan berlepotan. Pipi gembil nya membulat sempurna, naik-turun searah kunyahan nya.
Kibum meneguk ludah kasar lagi.
Dia juga lapar. Sangat lapar dan rasanya di mata Kibum hanya ada Kyuhyun yang bergerak sensual. Kyuhyun yang mengusap bibirnya perlahan, mata nakal seolah memancing Kibum memulai adegan panas. Mie jajamyeon yang sengaja Kyuhyun julurkan satu untuk menggoda Kibum memakan nya dari mulut nya langsung.
GLUPPP
Kibum tidak tahan. Tidak perduli aksi panas Kyuhyun hanya imajinasinya.
Meletakkan asal mangkuk jajamyeon itu ke meja di depan mereka.
Secepat kilat Kibum menyambar bibir Kyuhyun, melumat nya ganas dan mendorong lidahnya memasuki rongga mulut Kyuhyun yang penuh jajamyeon. Mengambil sebagian mie yang ada di mulut Kyuhyun dan menelannya. Menyapu langit-langit mulut Kyuhyun, menyesap dalam semua rasa jajamyeon dan manis yang ada disana. Kibum menahan tengkuk Kyuhyun untuk memperdalam ciumannya.
Lidah Kibum bergerak liar membelit lidah Kyuhyun, mengajaknya melakukan pertarungan yang sudah di tentukan Kibum lah pemenangnya. Kekenyalan bibir atas dan bawah bagai jelly manis yang Kibum rasakan. Kecup, kecup, kecup. Seolah tiada waktu lain menikmati bibir ranum semerah cherry itu.
Kyuhyun mendorong-dorong dada Kibum. Mereka hampir 5 menit berciuman tanpa jeda. Sudah waktunya mengganti oksigen dan mungkin memulai babak kedua.
Kibum mengerti. Melepas 'makanan' nya meski ada perasaan tidak rela. Bibir dan lidah Kibum gatal. Tidak bisa diam dan tidak mau melepas rasa manis memabukkan barang hanya sedetik. Kibum juga tidak menghiraukan ia perlu oksigen yang banyak juga. Apalah artinya oksigen sekarang jika hidup Kibum ada pada sosok di depannya.
Bibir Kibum bergerak ke samping, mencium dan menggigit kecil pipi gembil Kyuhyun. Menghirup dalam aroma lembut yang menguar. Turun ke bawah dan mencium rahang Kyuhyun. Menjilat sensual kulit wajah Kyuhyun hingga ke dagu. Bermain-main liar di leher Kyuhyun terutama di bagian jakun mungil yang bergerak naik-turun seiring Kyuhyun mengambil dan menghembuskan udara.
Kibum mencetak banyak kiss mark disana.
"Eungghhh..." Kyuhyun mulai mendesah. Memejamkan mata menikmati permainan lihai Kibum. Meremas rambut hitam bocah itu dan memintanya 'memakan' habis lehernya. Kyuhyun bagai terbang ke nirwana. Ia menyukai setiap sentuhan yang Kibum berikan. Bagaimana jejak liur bocah itu membuat seluruh wajah hingga lehernya basah.
Mendengar desahan-desahan Kyuhyun membuat Kibum semakin bersemangat. Tangannya mulai turun dari leher Kyuhyun dan mengusap-usap sensual punggung nya. Semakin turun lalu meremas bongkahan kenyal yang selalu menggoda Kibum.
Tangan Kibum satunya beralih ke depan. Membuka satu persatu kancing kemeja Kyuhyun dan menyelusupkan jari jemari panjangnya ke dalam; memulai perjalanan menyenangkan meraba-raba tubuh mulus itu. Menggapai dua gunung kecil yang Kibum sukai. Menekan-nekan; memelintir; menarik; serta meremas gemas mainan kesukaannya itu.
"Aaaahhhhh... Bum-bum..." desahan Kyuhyun semakin menjadi. Tubuhnya melemas menghadapi gerakan liar Kibum. Sangat ingin tapi di sisi lain Kyuhyun mulai merasa lelah.
Kyuhyun jatuh ke pelukan Kibum. Menghembus nafas putus-putus tepat di telinga bocah itu. Tidak tahu bahwa yang Kyuhyun lakukan malah membangunkan sisi tergelap Kibum. Bocah itu merasakan geli nikmat akibat nafas hangat Kyuhyun.
Membuat ia tidak bisa lagi memberhentikan permainan meski Kyuhyun menolak nantinya.
Wajah Kibum kembali bergerak ke atas. Tepatnya ke telinga Kyuhyun. Mengulumnya sebentar hingga kemudian Kibum berbisik lirih disana. "Aku mencintaimu Kyu. Sangat. Aku akan bertanggung jawab untuk anak kita."
Kyuhyun membulatkan matanya.
Apa dia salah dengar?
Kibum mengatakan cinta dan akan bertanggung jawab? Mata Kyuhyun memanas, pemikiran lain singgah di benaknya. Mungkinkah Kibum mengatakannya karena mereka sedang dalam keadaan begini? Sakit sekali jika itu benar.
Kibum menghentikan aksinya mengeksplor telinga Kyuhyun saat merasakan basah di bahunya. Kibum menjauhkan tubuhnya dan menggenggam erat kedua sisi bahu Kyuhyun. Menegakkan tubuh namja manis itu di hadapannya, melihat tangis Kyuhyun.
"Kenapa kau menangis?"
"Hiks... aku benci kau bocah. Kenapa kau mengatakannya sekarang?!" –ah, Kibum paham. Pasti sangat sakit menjadi Kyuhyun. Namun, apa boleh buat. Dua kali rencananya menyeleweng dari seharusnya. Ternyata, mencintai Kyuhyun itu penuh kejutan tak terduga.
"Maafkan aku." Kibum mengecup sebentar dahi Kyuhyun. Menangkup wajah manis itu dan mengecup kilat bibir itu. "Semua diluar rencana. Aku tidak bermaksud melakukan itu. Nyatanya kau sangat menggoda." –sedikit berbohong di bagian Seunghyun mungkin tidak masalah. Memikirkan balik hanya akan membuat Kibum malu jika mengatakannya.
Wajah Kyuhyun memerah. Menggoda? Kata yang terlalu frontal menurutnya.
"Aku berencana mengatakannya setelah lulus ujian akselerasi. Aku ingin cepat SMA agar usia kita terlihat tidak begitu mencolok dan kau, tidak akan malu jalan denganku Kyu."
Hati Kyuhyun tersentuh. Oleh karena itu Kibum tidak acuh padanya selama ini. Mengurung diri di kamar dan belajar keras. Betapa bodohnya Kyuhyun memikirkan hal lain.
"Tapi, aku baru tahu kau seorang male pregnant. Maaf. Aku sempat bingung dan takut harus melakukan apa."
"Kau kan bocah." Cibir Kyuhyun.
Kibum tersenyum simpul. Kyuhyun ternyata tidak semarah yang ia bayangkan. Tentu saja Kibum kalut mengetahui Kyuhyun hamil. Dia bingung. Banyak daftar rencana-rencana yang ia lakukan untuk Kyuhyun. Bagaimana cara mengakuinya dan bagaimana agar Kyuhyun juga tidak marah. Kibum sangat tahu ia sudah terpenjara di hati Kyuhyun. Maka itu, ia takut lebih menyakiti hati Kyuhyun.
"Tapi, darimana luka-luka ini? Aku kira, kau dan Sehun bertengkar karena kau mencintainya dan... tidak mau bertanggung jawab." Suara Kyuhyun memelan di akhir. Takut dan gelisah menunggu jawaban Kibum.
"Itu..."
BRAKKKK
"APA YANG KAU LAKUKAN BOCAH! KAU TIDAK BOLEH MELAKUKAN ITU DENGAN KYUHYUN!"
"EOMMA?!" pekik Kyuhyun.
Begitu datang, Heechul sudah di kerubungi aura hitam. Jalannya cepat, secepat tangannya menarik rambut Kibum dan menjauhkan dari jangkauan Kyuhyun. Sampai tubuh Kibum terseret dan jatuh ke lantai. Begitu-begitu Heechul tetap saja seorang laki-laki. Tenaganya tidak bisa di anggap enteng apalagi itu menyangkut Kyuhyun.
"YAKKK! EOMMA! HENTIKAN!"
Changmin yang sebenarnya dari awal memperhatikan adegan Kibum dan Kyuhyun dari balik dinding dapur, bergegas melepaskan aksi Heechul yang semakin brutal menjambaki rambut Kibum. Dia pernah merasakannya dan Changmin tidak tega juga melihat kekerasan itu langsung terjadi pada Kibum di depan matanya. Seumur-umur ia tidak pernah menjahati Kibum lagi.
Changmin memang berniat menghancurkan aksi panas Kibum yang tidak tahu tempat. Tapi, itu nanti kalau sudah sampai ke inti sekali. Ternyata, tiba-tiba saja ada kejutan lain dari tetua iblis.
"Eomma! Eomma! Hentikan. Kibum masih sakit." Changmin mencekal kedua tangan Heechul. Menahan pergerakan Heechul dari belakang dengan mendekapnya kuat.
PLAKK
PLAKK
PLAKK
Dan Changmin pun harus merasakan sedikit pukulan Heechul yang brutal.
Kyuhyun membantu Kibum duduk kembali ke sofa. Merapikan rambut Kibum dan sedikit mengurutnya. "Sakit sekali Bum?" Kibum menggeleng, tersenyum tipis ke arah Kyuhyun.
"Eomma! Berhentilah berbuat brutal!" teriak Kyuhyun marah. Matanya menatap tajam Heechul.
Akhirnya pergerakan Heechul berhenti. Menetralkan nafasnya dan balas memandang sengit Kyuhyun. Sudah dibantu tapi anaknya tidak tahu terima kasih –menurut Heechul.
"Kau ini masih hamil muda Kyu! Kalau melakukan itu sekarang, janin mu bisa bermasalah bodoh." Ketus Heechul. Ia melangkah ke arah Kyuhyun dan mendudukkan diri seenaknya di antara Kibum dan Kyuhyun. Memisahkan dua orang yang mendengus kesal.
Heechul mengancing kemeja Kyuhyun. "Lihat! Banyak kiss mark dimana-mana. Bocah ini punya nafsu yang tinggi juga ternyata."
Changmin terkekeh geli mendengar gerutuan Heechul. Keturunan mereka mungkin yang mesum. Changmin sendiri juga mesum.
"Kenapa eomma bisa tiba-tiba disini, heh."
Heechul menunjuk vas bunga yang berada di meja kecil depan sofa mereka duduk. Kemudian menunjuk lukisan di atas televisi. "Kamera. Tentu saja eomma tidak seenak itu membiarkan kalian tinggal berdua. Eomma harus tahu yang terjadi. Di kamar mu dan Changmin juga ada. Di dapur bahkan di kamar mandi." Jawab Heechul santai.
Kyuhyun dan Changmin saling tatap. "Jadi?"
"Yeah... dan eomma juga memasang alat pendengar supaya bisa mendengar yang kalian katakan."
Hening.
Kalau itu adanya, berarti Heechul mengetahui yang mereka katakan dan artinya Heechul tahu semuanya.
Kesimpulannya...
.
.
.
.
.
.
-To Be Continued-
Note's : Tinggal satu chapter lagi kan di bulan ini? Gimana, udah panjang kan untuk chapter ini? Dan tampaknya cerita ini akan segera berakhir. Readers setuju? Hehe. Ini gak Dik baca balik dan NO EDIT. So, mari maafkan dik kalo ada typo dan banyak kata absurd.
[Thanks For Review] Maaf gak bisa balas. Tapi, Dik selalu baca review kalian semua kok.
Important!
Make A Review Please?
Anggap review itu hadiah buat FF abal-abal Dik.
[Thanks For Reading]
Jja!
