Warning : OOC, AU, , Abal-abal, Gaje, OOT, OC, dsbnya
Rating : Sesuai ceritanya saja. Kalau author lagi sedeng, mungkin ntar akan meningkat ratingnya jadi M. Tapi itumah masih *mungkin. Hahay
Dan tebak? Ternyata hari ini Author sedang sedeng! hahahha Terdapat sedikit lemon di dalam cerita ini. Untuk membayar kisah yang sudah terlantar lama ini. Silahkan dinikmati minna-saaann ^^
Seperti biasa, kita balas review dulu ya untuk chapter 10 kemarin ^^
aishanara87 waahh, saya pun g tw fict ini akan sampai berapa chapter. Habis g prnh nargetin ato psg strategi jauh, aku mikirnya pas lg ngetik aja hehhe
wahahaha bisa jadi lho. Krna para reader bnyk yg minta fict ini overall dibikin rating M aja nih. Dsar kalian reader2 mesum *authornya jg pdhl XD
kudo shin iya,kau lah si otak mesum wahhha nanti aku usahakan y bikin yg hentai dikit heheh
Nana iya, ini udh update lg. Cpt kan? Aku akan update stiap hari insyaallah. Mgkn sabtu dan minggu libur cz dirumah ada org jd g blh pake laptop.
Renesmee cullen ahahha itulah shinichi! Pokoknya disini akemi itu murid kelas 3 yg besar satu tahun dari adiknya shiho. Jd rata2 umur akemi disini mungkin 17/18 tahun ^^
Nadia shakira makasih ya, ini saya usahakan update ^^
Red Blue ini lagi 1 lg yg mesum *TOS ahahhaa
Guest shinichi: tenang, di chapter ini keinginanmu akan terwujudkan ahahha
Dan tak lupa terimakasih atas favs nya minna-san ^^
Citra Zaoldyeck
KidMoonLight
Kuas tak bertinta
Namikaze ArdhyaMouri
Sapphire666
aishanara87
non nominatur
Desclaimer : Aoyama Gosho om author *dilemparin uang. Maksudnya, Gosho Aoyama adalah pemilik syah DETECTIVE CONAN/ CASE CLOSED.
.
.
Kita anak Sekolahan
Chapter 11/?
.
.
"Aku melihat semuanya!" bentak Ran menatap Shinichi dengan penuh amarah.
Shinichi hanya diam tidak tahu berkata apa.
"Ternyata selama ini kau membohongiku! Kau bilang kau mencintaiku, tapi apa? Kau malah melakukan hal yang tidak senonoh itu dengan Shiho! Aku membencimu!" teriak Ran marah dan berlalu meninggalkan Shinichi.
Entah kenapa, Shinichi hanya diam dan tidak mengejar Ran. Ia sama sekali tidak memikirkan Ran, tapi yang ada dipikirannya itu malahan sosok Shiho yang barusan telah mendapati perlakuan tidak baik olehnya.
Shiho pasti marah.
Di lain sisi, Ran terus berlari dan berlari. Dengan air mata yang berlinang di pipinya Ran terus berlari menembus keremunan di jalanan. Setibanya di halte bis yang lumayan dekat dari rumah Shinichi, Ran berhenti berlari dan menghapus air matanya sambil terisak. Ia menoleh ke belakang. Tersiratlah rasa kekecewaan di hatinya.
"Shinichi, tidak mengejarku." isak Ran dengan hati terluka dan terduduk menangis sepuasnya di halte itu.
.
.
CIITTT
Shuichi menghentikan mobilnya di tepi jalan pinggiran Pantai. Ia keluar dari mobilnya, begitupun Akemi.
"Tempat yang indah kan?" kata Shuichi menatap suasana pantai di senja yang indah itu. Akemi berjalan menghampiri Shuichi yang sedang terpesona oleh keindahan pantai, ia berdiri disamping Shuichi dan ikut memandang pemandangan didepannya itu.
"Ya. Sangat indah." ulas Akemi tersenyum.
Shuichi mengacak-acak rambut Akemi, sehingga membuat Akemi sedikit menunduk dan menatap pria yang lebih tinggi darinya itu dengan wajah bersemu merah.
"Aku bukan anak kecil lagi." gerutu Akemi malu menyingkirkan tangan Shuichi.
"Yaaa, sekarang nona Miyano adalah gadis yang tumbuh manis dan disukai banyak pria." sindir Shuichi kembali menatap ke depan dengan tenang.
"Tapi tuan Shuichi juga sangat disukai para gadis-gadis." timbrung Akemi tidak mau kalah.
"Lantas? Apa kau tidak suka?" tanya pria yang akrab dipanggil Akai itu mendekatkan kepalanya kehadapan Akemi. Akemi mencondongkan badannya kebelakang berusaha menjauhi kedekatan itu.
"Tidak ada yang perlu aku permasalahkan." Akemi membuang muka.
Shuichi tersenyum sinis. Lagi, ia memandang ke hamparan laut yang luas dan tumpukan karang yang dihempas ombak itu.
"Tahu tidak? Aku sangat senang sekali bisa bertemu denganmu lagi. Apalagi aku juga bisa menjelaskan semuanya padamu."
Akemi hanya diam memeluk lengan dan menekurkan kepalanya.
"Aku juga. Senang sekali. Tapi kadang aku juga merasa sedih." Shuichi melirik Akemi yang berdiri disampingnya.
"Sedih?" ulang Shuichi penasaran.
"Ya, sedih karena keegoisan dan kebodohanku aku kehilangan teman sekaligus orang yang ku cintai."
"Akemi.." Shuichi menatap gadis itu dalam. Ingin rasanya ia memeluk gadis itu dan mengajaknya untuk kembali bersatu, tapi ia takut, takut nanti gadis itu malah tidak menyukainya dan menjauhinya. Lagi.
"Kau menangisinya?" tanya Shuichi berusaha mencairkan suasana. Karena Shuichi yakin kata-kata itu bisa menghibur gadis itu.
"Tidak. Aku tidak akan menangisi masa lalu. Seperih apapun itu." Akemi mengangkat wajahnya menatap Shuichi dan tersenyum. Tapi Shuichi tahu, gadis itu sedang bersandiwara.
"Huft." Shuichi membuang muka. Akemi terlihat heran.
"Kenapa?" tanya Akemi penasaran.
"Selalu saja begitu. Kau tidak berubah."
"Maksudmu?" Akemi makin penasaran.
"Selalu saja berpura-pura menjadi gadis yang tegar." celetuk Shuichi membuat Akemi terdiam.
Memang benar. Apa yang dikatakan Shuichi memang benar. Akemi tidak pernah mau mengeluarkan airmatanya di hadapan orang lain. Terkecuali kepada Shiho adik kandungnya sendiri. Walau sesakit apapun itu, ia akan selalu menyimpannya sendiri. Di dalam hatinya.
Walau ia tampak selalu tersenyum, tapi Shuichi tahu kalau sebenarnya hatinya menangis. Tiada yang bisa dipercayainya, kecuali Shiho.
"Sudah mau malam, antar aku pulang." Akemi berjalan duluan ke dalam mobil. Shuichi pun menghela nafas.
"Tapi sebentar lagi sunsetnya akan muncul."
"Tidak. Aku tidak mau melihat itu lagi." Seolah menyimpan sejuta kenangan buruk akan "Sunset", Akemi bergegas masuk ke dalam mobil. Shuichi hanya menghela nafas dan ikut masuk ke mobil. Lalu Shuichi pun melajukan mobilnya mengantarkan Akemi pulang.
.
.
Shiho terus mengurung diri di kamar. Sejak kejadian tadi ia hanya tertegun di kamarnya dan teringat kejadian yang penuh dengan hasrat itu. Ia teringat akan ciuman panas Shinichi. Walau awalnya ia menolak, tapi memang dari dalam benak terdalamnya ia sangat menyukai perlakuan Shinichi.
Namun...
"Shiho!" terdengar suara Shinichi mengetuk pintu.
Dor dor dor
"Shiho, buka pintunya." Shinichi kembali memanggil. Tapi Shiho hanya diam dan menutup mata serta kupingnya dengan bantal.
"Shiho." Karena tidak juga ada jawaban, Shinichi mendobrak pintu itu. Shiho yang kaget membuka matanya shock melihat Shinichi kini ada dihadapannya. Berdiri menatapnya dengan pandangan menyesal.
"Aku benar-benar minta maaf." Shinchi menundukkan kepalanya kehadapan Shiho.
Shiho hanya diam menatap pria itu yang tampaknya tak berani bertatap wajah dengannya.
"Sudahlah. Lupakan saja." Shiho membuang muka.
Shinichi yang merasa Shiho sudah kembali seperti semula dan sepertinya tidak mempermasalahkan hal itu mencoba sok asyik dan mencairkan suasana.
"Ya sudah, lupakan saja. Hmm, sebagai permintaan maafku bagaimana kalau besok pergi jalan-jalan ke taman ria?" tawar Shinichi kembali cengengesan. Shiho yang merasa harus mengendalikan diripun berpura-pura tenang dan menyetujuinya.
"Benar juga. Kalau begitu besok pulang sekolah ya."
"Oke." Shinichi mengedipkan matanya dan pergi meninggalkan kamar Shiho. Setelah memastikan Shinichi berlalu, Shiho kembali murung.
"Kenapa harus melupakan moment yang indah itu?" batin Shiho menyesal.
.
.
Pagi itu Shinichi keluar dari gerbang rumahnya. Ia mengamati sekitar, tidak ada Ran disana. Padahal biasanya Ran akan menjemputnya dan pergi ke sekolah bersama. Tapi sepertinya Ran benar-benar marah.
"Huah." Shinichi hanya membuang nafas dan berlalu berangkat menuju sekolahnya.
Setibanya di sekolah, ia tampak dihadang oleh Vermouth dan kawan-kawannya.
"SHINICHI!" bentak Vermouth menghentikan langkah pria itu.
"Ada apa?"
"Ada apa? Huh! Enteng sekali kau bertanya setelah kau menyakiti hati adik kandungku!" bentak Vermouth membuat teman-temannya yang berdiri dibelakangnya ikut memandang Shinichi sinis.
"Nee-chan, aku menghormatimu sebagai seniorku. Tapi Jangan ikut campur masalahku dengan Ran!" ujar Sinichi menatap Vermouth tajam. Sehingga membuat Vermouth sedikit ngeri melihat wajah serius Shinichi itu.
"Shi, shinichi." Vermouth dan kawan-kawannya terlihat takut melihat respon dingin Shinichi barusan. Shinichi hanya menghela nafas dan berlalu kedalam kelasnya meninggalkan Vermouth and the Gang yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"iii, Shinichi terlihat mengerikan sekali."
"Iya, tidak biasanya ia seperti itu." kata teman-teman Vermouth ngeri. Vermouth hanya bisa terdiam mengepal erat tangannya.
Di sisi lain, Shiho dan Akemi berangkat bersama ke sekolah. Mereka tampak mengobrol sedikit tentang kejadian kemarin, tentu saja tentang Akemi dan Shuichi yang ke Pantai kemarin. Kalau masalah Shiho dan Shinichi kemarin, ia membiarkan kakaknya untuk tidak mengetahuinya.
Setibanya di sekolah keduanya berpisah. Shiho masuk ke kelasnya dan Akemi ke kelasnya. Namun di tengah koridor saat sedang berjalan seorang diri, Akemi dihadang oleh seseorang.
"Siapa?" tanya Akemi kepada pria bertampang ramah dan lembut berkacamata itu.
"Shuichi menyukaimu ya?" tanya pria yang akrab dipanggil Araide itu.
Akemi hanya membuang muka.
"Kau salah orang." Akemi melanjutkan langkahnya. Tapi Araide menarik tangan Akemi paksa dan membawanya ke suatu tempat.
"Apa-apaan sih?" ronta Akemi walau harus terpaksa menurut.
"Ikut saja." Araide tersenyum.
Sampailah mereka di kelas paling senior di sekolah itu, yaitu kelasnya Shuichi.
"Ini kan," belum sempat Akemi menuntaskan ucapannya, ia sudah disambut hangat oleh adegan mesra Vermouth yang tengah menangis di pelukan Shuichi didalam kelas. Murid-murid ikut tercengang melihat moment itu. Terutama Akemi. Mendadak ia merasakan darahnya naik menuju ubun-ubun. Akemi mendorong Araide dan ia pun berlalu meninggalkan kelas itu.
Araide hanya diam menatap kepergian Akemi.
"Hmm." Pria misterius yang dingin tapi ramah itu hanya memperbaiki letak kacamatanya dan masuk ke dalam kelas.
"Hiks. Ran sangat malang. Aku menyayanginya." Isak Vermouth pura-pura berusaha mengambil hati Shuichi. Tapi Shuichi segera melepaskan pelukan Vermouth.
"Sudahlah, jangan seperti ini. Aku tidak mau digosipkan hanya karena kau ingin mengambil perhatian semua orang di sekolah ini." kata Shuichi dingin kembali ketempat duduknya.
Vermouth hanya tersenyum di dalam diam. Ia kembali ke tempat duduknya saat Araide sudah duduk duluan.
"Bagaimana?" tanya Vermouth kepada Araide teman sebangkunya itu.
"Aku sudah membawanya kesini. Sepertinya aku tahu sekarang tujuanmu menyuruhku membawa gadis itu ke kelas kita."
Vermouth tertawa lantang, sehingga membuat seisi kelas menatapnya.
"Siapa suruh dia mencari gara-gara denganku." kata Vermouth dengan wajah sadis.
"Lain kali kalau meminta bantuanku untuk hal yang tidak berguna, aku tidak akan mau lagi." Kata Araide tampak kesal, walaupun mimik wajahnya tetap sendu dan ramah.
"Vermouth hanya tersenyum licik.
.
.
BLAM
Akemi menutup pintu kamar mandi Putri itu rapat-rapat. Ia bersandar di pintu WC dan menangis. Menangis karena amarahnya yang sudah ingin meledak-ledak keluar.
"Pembohong." isak Akemi mengingat ucapan Shuichi yang berkata hanya mencintai dirinya.
Di lain sisi, Shiho masuk ke kelasnya dan duduk di sebelah Shinichi, kawan serumah dan sebangkunya itu.
"Pagi Miyano." sapa Shinichi tersenyum ke arah Shiho. Shiho hanya menguap dan mengeluarkan bukunya. Tak berselang lama masuklah Ran ke dalam kelas. Ia mengerling Shinichi dan Shiho yang tampak sangat akrab, entah kenapa ia merasa sakit hati lagi. Tapi ia menahannya dan segera duduk di bangkunya. Sonoko menyambut kedatangannya dengan canda.
"Bagaimana kemarin? Kau jadi menyusul pria itu?" colek Sonoko menggoda Ran. Ran hanya menunduk. Sonoko heran melihat Ran yang tidak biasanya suram seperti ini. Ia menunduk dan melihat kenapa Ran tidak mengangkat kepalanya. Ternyata tampak butir air mata membasahi rok gadis itu.
"Ran!" teriak Sonoko mengagetkan seisi kelas. Bahkan Shinichi dan Shiho.
"Ran, kenapa kau menangis?" Sonoko penasaran dan tidak suka melihat gadis itu menangis. Sontak Shinichi merasakan kalau itu adalah karena dia. Shiho yang merasakan ada sesuatu yang tidak beres mengerling Shinichi.
"Ada apa?"
Shinichi hanya menggeleng.
"Entahlah."
"Kenapa kau tidak menenangkannya?" Shiho membuat Shinichi tertegun.
Shinichi pun bangkit dari bangkunya dan menghampiri Ran. Tapi Ran tetap menunduk dan menangis.
"Shinichi." Sonoko memandang Shinichi meminta penjelasan. Tapi Shinichi hanya diam dan tiba-tiba menarik Ran keluar kelas. Walau terpaksa, Ran pun mengikutinya.
Shinichi membawa Ran untuk duduk di bangku belakang sekolah. Mereka sengaja bolos untuk bicara berdua. Ran masih menekurkan kepalanya. Shinichi menghela nafas dan mengacak-acak rambut Ran.
"Maaf." Hanya hal itu yang bisa diucapkan Shinichi.
"Maaf telah mempermainkan perasaanmu. Tapi aku bahkan tidak tahu dengan perasaanku sendiri. Aku memang merasa nyaman bersamamu, tapi entah kenapa itu hanyalah perasaan nyaman memiliki sahabat yang menakjubkan sepertimu. Aku baru menyadarinya setelah aku menyadari perasaanku terhadap Shiho. Maafkan aku telah mengecewakanmu." Shinichi menunduk merasa bersalah. Tapi sebagai lelaki, ia memang harus jujur akan perasaannya.
Ran masih menekurkan kepalanya.
"Kalau kau membenciku silahkan saja. Tapi jangan membenci Shiho. Dia hanyalah korban perasaanku. Aku yang memaksanya melakukan hal seperti itu. Karena aku tidak ingin kehilangannya." ulas Shinichi sungkan.
Tak juga mendengar jawaban dari Ran, Shinichi pun bangkit dari bangkunya.
"Ran, aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini saja. Walaupun menyakitkan, tapi ku harap kau mau menerimanya dan kita kembali seperti dulu, sebagai sahabat."
Ran masih terdiam. Shinichipun ikut terdiam. Tiada kata lagi yang keluar, karena Shinichi merasa sudah mengeluarkan unek-uneknya. Sekarang tinggal Ran, bagaimana akhirnya Ran lah yang bisa menentukan.
Tak berselang lama kemudian, merasa tidak diacuhkan dan memang Ran butuh waktu untuk sendiri, Shinichi melangkah meninggalkan gadis itu. Tapi beberapa langkah berjalan, Ran ikut bangkit dan memanggil pria itu.
"Shinichi."
Shinichipun terhenti dan berbalik. Tampak di ujung sana Ran berdiri menatapnya dalam.
"Seharusnya memang tidak harus begini. Aku hanya memaksakan perasaanku. Tapi melihatmu dan Shiho, aku merasa kalian memang pasangan yang serasi. Untuk itu, asalkan kau bahagia, aku akan mengikhlaskan kau dengannya. Dan kita kembali seperti dulu," Ran mengerem ucapannya dan tersenyum.
"Sahabat."
Shinichi tertegun. Tak disangka Ran akan semudah itu memaafkannya dan menyetujui permintaannya.
"Ran?"
Ran tertawa dan menghampiri Shinichi.
"Baka! Jangan mengecewakan Shiho ya." Ran menjitak Shinichi dan berjalan duluan. Shinichi hanya terdiam menatap punggung Ran yang berjalan semakin menjauh.
Tanpa sadar ia tersenyum.
"Terimakasih Ran. Tapi kau berhak bahagia. Dan kebahagiaan itu hanya bisa kau dapat dari pria yang benar-benar tulus mencintaimu." batin Shinichi.
"Eh Ran!" tiba-tiba Sonoko mengagetkan Ran.
"Y, ya?"
"Tahu tidak, akhir-akhir ini ada sekelompok pria jahat yang suka berkeliaran di dekat sekolah-sekolah lho. Mereka satu komplotan di dalam mobil dan mengincar murid Perempuan yang sedang sendirian atau berdua. Kita harus berhati-hati."
"Ah benarkah?" tanya Ran ngeri.
Sonoko mengangguk.
"Benar. Sampai saat ini sudah 5 murid yang jadi korban. Jadi kalau masuk busway harus berhati-hati."
"Huah, mengerikan sekali. Semoga mereka cepat tertangkap." kata Ran takut.
"Ke-5 korban itu satunya meninggal bunuh diri karena prustasi lho. Sedangkan selebihnya ada yang mengurung diri dan menjadi anti sosial karena shock. Ada juga yang kritis di Rumah sakit. Sekitar 10 orang memperkosa mereka secara bergantian. Sungguh menyedihkan."
"Iya Sonoko. Aku takut!" kata Ran ngeri.
"Ya sudah, sampai komplotan itu tertangkap kau pulang ku antar saja ya sama supirku." Tawar Sonoko berbaik hati. Ran mengangguk.
"Terimakasih Sonoko."
.
.
Ran kembali ke kelas dengan wajah yang cerah. Murid-murid di kelas tampak kaget melihat perubahan mimik wajah gadis itu yang tadi menangis kini malah tersenyum berseri-seri.
"Ran, kau tidak apa-apa?" tanya Sonoko heran.
Ran tersenyum.
"Tidak apa-apa kok. Hmm, Sonoko, aku dan Shinichi sudah putus. Kami merasa sudah tidak cocok lagi."
"APA?" kaget Sonoko. Sonoko mengepal erat tangannya.
"Apa yang dilakukan pria itu sehingga membuat hubungan kalian berakhir?" geram Sonoko.
Ran hanya menggeleng.
"Sudahlah. Kami ingin terus berteman saja. Kami kan sahabat." Kata Ran centil mengedipkan sebelah matanya ke arah Sonoko. Sonoko hanya tertegun.
"Huft, baiklah. Terserah kau saja." Kata Sonoko kembali fokus ke PR-nya.
Ran menatap pemandangan di luar dari balik jendela di sebelah tempat duduknya itu. Ia sedikit menyipitkan mata dan kembali murung.
"Walaupun susah untuk melupakan sakit hati itu, tapi demi dirinya aku akan ikut bahagia. Karena cinta memang tidak harus memiliki." batin Ran tersenyum.
.
.
Sepulang sekolah, Shinichi menepati janjinya untuk mengajak Shiho ke taman Ria. Setelah sebelumnya izin ke Akemi untuk pergi berdua, Shiho dan Shinichi pun berlalu meninggalkan Akemi sendirian.
"Kemana mereka?" batin Akemi terdiam. Dalam murung Akemi melangkah pulang, tapi ia dicegat oleh seseorang.
Tin Tin
Pria itu mengklakson Akemi dari atas mobilnya. Tampaklah Shuichi tersenyum ramah ke arahnya.
"Mau pulang bersama?" tawar Shuichi. Tapi Akemi hanya membuang muka dan terus melangkah.
"Akemi-chaaan~" teriak para Akemi lovers mengikuti dari belakang. Shuichi jadi kehilangan Akemi.
"Akemi?" batin Shuichi merasa ada yang aneh dengan gadis itu.
Sementara itu, Akemi segera naik busway dan duduk di samping jendela. Para pria di Busway itu melirik Akemi dan tampak ikut terpikat oleh kecantikannya. Tapi Akemi tidak peduli. Tiba-tiba seorang pria menghampiri Akemi dan duduk disebelahnya.
"Hai nona manis."
Akemi hanya membuang muka.
"Wah sombong sekali." Pria itu dengan santai tertawa ke teman-temannya yang berdiri bergelantungan di tengah-tengah.
"I am sorry. But don't judge me." tutur Akemi malas. Tapi pria-pria itu tertawa lagi. Bahkan dengan lantang.
"Hei, mau melawan ya? Kau tidak tahu kalau sekarang kau sedang di wilayah kekuasaan siapa?" Akemi tertegun dan mengamati busway itu. Ternyata ada yang aneh.
Semua penumpang busway itu, Pria. Dan wajah mereka tampak tersenyum aneh ke arahnya. Senyum Licik. Akemi menyadarinya.
"Kalian..."
TBC
