Naruto © Kishimoto Masashi.

This is a work of fanfiction. No material profit is taken.


soba ni iru kara

A Naruto fanfiction

.

[bagian 11]

.

Tangan pucat gadis belia itu saling bertautan, meredam getaran halus yang tiba-tiba saja menyergap tubuhnya. Pandangan matanya yang tidak fokus terarah pada pemandangan di balik jendela rumah sakit. Pandangannya yang mengabur–seperti lensa kamera yang kehilangan fokus–membuat gadis merah jambu itu berkali-kali harus mengerjapkan matanya, berusaha menghalau selaput tipis yang terus membayangi matanya.

Seseorang menyeruak masuk dan membuyarkan lamunan gadis itu. Dengan suara bedebam pelan, pintu kamar tempatnya dirawat menutup rapat. Kemudian sosok berambut merah menyala itu duduk di samping ranjang rawat.

"Kau sudah siap, Sakura?"

Sakura, gadis yang tengah termangu itu, mengalihkan pandangannya dari jendela ke sosok berwajah buram yang duduk di sampingnya. Kedua ujung bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Kepalanya mengangguk sekali.

Sosok yang berdiri di samping ranjangnya mengangsurkan tangan, meraih tangan pucat Sakura yang balas menggenggam erat tangan besar yang sangat dikenalnya, kemudian bangkit perlahan dari ranjangnya.

"Hati-hati…" Sakura mengangguk mengiyakan.

"Nii-chan, dimana Sasuke?"

Sasori mengeratkan genggamannya pada Sakura. "Dia baik-baik saja," jawabnya dengan nada berusaha meyakinkan.

Sakura tersenyum tipis sambil menatap pemandangan yang mereka lewati di luar rumah sakit. "Nii-chan, aku tanya dimana Sasuke."

Sasori menelan ludah. "Ada di sini."

Kali ini Sakura terkekeh, dengan suara serak. "Ya ya, aku tahu."

"Ya sudah kalau kau tahu."

Selanjutnya mereka berjalan lamat-lamat sembari mengobrol. Sesekali Sasori menghela napas lega, mengira adiknya baik-baik saja.

Sakura berdiri mematung dengan kepala tertunduk, berusaha mengatur napasnya yang entah mengapa tiba-tiba sesak. Seolah-olah dadanya sedang dihimpit batu besar.

"Sakura…" Sasori merengkuh bahu mungil Sakura dari belakang. "Masuklah…"

Sakura mengangguk kecil, kemudian melangkah perlahan–berusaha menyeimbangkan hasratnya untuk segera masuk ke ruangan itu dengan tubuhnya yang mulai nyeri, terutama di bagian bahunya. Sakura menggapai-gapai pintu yang sudah ada di dekatnya. Dengan gerakan meraba, tangan mungil Sakura akhirnya berhasil meraih handle pintu dan memutarnya dengan perlahan.

Bau obat-obatan tercium lebih menyengat ketika Sakura sudah sepenuhnya masuk ke ruangan yang masih buram dalam penglihatannya itu. Sakura menarik napas dalam-dalam, mengisi penuh paru-parunya dengan oksigen yang ada. Kakinya melangkah mendekat ke ranjang pasien yang tak jauh darinya. Ada yang tengah terbaring di sana–yang ia yakini adalah sosok yang terus dicarinya. Ia pikir ia sudah siap dengan hal ini. Salah. Dadanya masih serasa tercabik, seolah-olah seseorang tengah menusukkan belati ke dadanya, kemudian dengan kejamnya menarik belati itu, berkali-kali, terus menyakitinya.

Satu hal yang disadarinya, setitik air mata mengalir melewati pipinya yang pucat dan jatuh di pangkuannya.

"Baka…"

Tubuh rikihnya gemetar dengan tangan mencengkram erat selimut bergaris itu untuk menenangkan diri. Tak kuasa, bibirnya bergetar lebih hebat. Satu, dua, tiga, air matanya tak henti-hentinya menetes dari emerald yang memandang tak fokus itu.

"Bangun, bodoh…" pintanya serak. Pandangannya mengabur berlipat ganda sekarang.

Direbahkannya kepalanya di samping leher sosok yang sangat dirindukannya, Sasuke. Tersenggal-senggal, Sakura berusaha menghentikan tangisnya yang menjadi-jadi.

"Bodoh! Bangun!" jeritnya putus asa. Tangannya memeluk erat bahu Sasuke yang kaku tanpa gerakan.

Dari luar, Sasori mengamati adiknya dengan perasaan pilu. Tak kuasa melihatnya, Sasori memilih beranjak pergi dengan perasaan galau.

Sakura tak memerlukan orang lain untuk menenangkannya. Ia sudah tenang, jauh lebih tenang dari sewaktu ia melihat kondisi Sasuke pertama kali. Jauh terlihat lebih tenang. Mata emerladnya menatap sosok pria dan wanita yang kini tengah berdiri di samping ranjang Sasuke. Sosok wanita berambut hitam tengah menangis tersedu-sedu dalam dekapan seorang pria dengan wajah datarnya–walaupun onyxnya dengan jelas menggambarkan kecemasan luar biasa.

"Apa yang terjadi padamu, Sasuke? Padahal… kami ke sini untuk menjenguk Sakura-chan. Kenapa..?" isak wanita itu–Mikoto.

"Kaa-san, sudah. Tenang. Sasuke baik-baik saja." Sosok lain yang sangat mirip dengan Sasuke–dengan rambut gondrong yang diikat, berusaha menenangkan kaa-sannya yang tak kuasa menahan diri.

Untuk menit-menit selanjutnya, ruangan VIP itu senyap. Hanya terdengar isakan tangis Mikoto sesekali. Sakura hanya duduk termenung di sofa untuk penjenguk, tak mampu memfokuskan pikirannya dengan apa yang terjadi sekarang. Hingga tak menyadari setitik darah menetes dari salah satu lubang hidungnya, dan perlahan pandangannya menggelap hingga tak lagi terdengar apa pun dari sekelilingnya.

"Dokter tidak mengijinkanmu keluar dari kamar rawat untuk tiga hari ke depan. Kondisimu jauh dari kata baik-baik saja."

Gadis merah jambu yang tengah duduk bersandar di ranjangnya hanya menundukkan kepala, tak berani menatap kakaknya yang tengah bicara–atau tepatnya menceramahinya akibat kejadian yang baru saja terjadi.

"Aku ingin menemui Sasuke…" gumam Sakura lirih.

"Kau sadar tidak sih, kondisimu itu lebih buruk dari kondisi Sasuke!" sergah Sasori tak sabar.

Bagaimana ia bisa sabar ketika mengetahui adiknya tidak baik-baik saja–untuk saat in tentu saja. Dan gadis merah jambu ini lebih memilih mengkhawatirkan Sasuke yang walaupun belum bisa dikatakan baik-baik saja.

"Paling tidak hanya tiga hari. Kau harus menjalani check up untuk mengetahui dampak gegar otakmu."

Dengan pasrah, Sakura menggagguk. Tak lupa dengan helaan nafasya. "Ha'i…"

Ruang rawat VIP tempat Sasuke dirawat tampak sedikit lebih ramai dari biasanya. Terlebih suara datang dari sulung Uchiha, Itachi Uchiha.

"Ada-ada saja. Porsche kesayanganku sampai kau rusak begitu."

Sang objek pembicaraan yang tengah terbaring lemah hanya memutar mata onyxnya. "Hn. Mana Sakura? Dia baik-baik saja?" Tanpa bisa dipungkiri, suara Sasuke terdengar sarat kecemasan.

Wanita sosok keibuan yang duduk di samping ranjang Sasuke mengelus rambut emo anaknya yang kali ini tidak mencuat seperti biasa. "Dia baik-baik saja. Dokter Regina sedang melakukan pemeriksaan penuh pada Sakura-chan. Nanti siang giliranmu."

Sasuke mengalihkan tatapan matanya dari anikinya ke kaa-sannya. "Sou ka…"

"Istirahatlah. Sakura juga sangat mengkhawatirkanmu," gumam Itachi sebelum beranjak keluar dari kamar Sasuke, meninggalkan Sasuke sendiri bersama kaa-sannya.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Sasuke?" tanya Mikoto dengan suara rendah begitu pintu kamar rawat Sasuke ditutup.

Sasuke menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak begitu mengerti. Sakura kecelakan. Dan sepertinya semuanya berhubungan dengan kakek."

Mikoto mengerutkan keningnya. "Apa hubungannya dengan kakek?"

Lagi-lagi Sasuke menggeleng. "Aku tidak begitu yakin. Tapi ini semua ada hubungannya dengan masa lalu Sakura."

"Masa lalu?"

"Iya." Sasuke mengangguk mengiyakan. "Kaa-san pasti belum tahu."

"Apa itu?"

Sasuke menarik napas sejenak. Kemudian cerita panjang mengenai keluarga Sakura dan masa lalunya meluncur lancar dari bibir pucat Sasuke, sesuai dengan dugaannya dan diperkuat dengan cerita Sasori padanya beberapa hari lalu ketika ia menanyakan tentang keluarga Kinoichi yang ternyata adalah keluarga asli Sakura.

Mikoto tampak serius mendengarkan cerita Sasuke. Sesekali ia menggigit bibir miris, menahan napas, bahkan nyaris menitikkan air mata.

"Kasihan sekali Sakura-chan…" desah Mikoto iba. "Dan kau berpendapat kalau ini semua ada hubungannya dengan kakek?"

Sasuke mengangguk mengiyakan. "Hn."

"Jangan berpikiran negatif dulu tentang kakek. Kaa-san rasa, kakek pasti punya alasan untuk ini."

Kali ini Sasuke tidak menjawab. Dialihkan tatapan matanya dari kaa-sannya ke langit-langit kamar. Yang tengah ia pikirkan saat ini hanyalah Sakura. Bagaimana jika Sakura membenci keluarganya? Terlebih dirinya? Ketakutan-ketakutan semacam it uterus melanda pikirannya. Dihelanya napas berat. Kepalanya berdenyut hebat kala harus memikirkan masalah ini. Ah, ia belum siap dengan semua ini.

"Jadi, kau bisa lihat dengan jelas dari jarak ini?"

Sakura menggeleng. "Tidak."

"Sejauh ini?" Dokter bersanggul minimalis itu maju beberapa langkah. Stiletto yang dipakainya mengetuk-ngetuk lantai ruangan yang dipakainya bersama Sakura untuk mengecek penglihatan gadis Asia itu.

Lagi-lagi Sakura menggeleng. Dan dokter muda itu hanya mampu menghela napas, membuat Sakura ikut-ikutan menghela napas berat. Penglihatannya memburuk–sangat buruk. Bahkan melihat ujung kakinya sendiri pun masih buram. Sepertinya goncangan keras telah mempengaruhi kerja otak belakangnya. Walaupun sudah dipastikan oleh Dokter Reg, bahwa otaknya tidak mengalami gangguan permanen dan berbahaya.

"Apa yang terjadi dengan penglihatanku, Dok?" tanya Sakura dengan suara lirih, nyaris tak terdengar kalau saja Dokter Reg tidak memiliki pendengaran baik.

Dokter itu menghembuskan napas perlahan. "Anggap saja kau sedang minus puluhan." Dokter Reg menggedikkan bahunya. "Kira-kira seperti itu."

"Apa…"

"Tentu, dear. Ini hanya sementara. Aku bisa jamin itu. Tak perlu takut," jawab Dokter Reg cepat dengan nada menenangkan.

Sakura menghembuskan nafas lega. "Syukurlah…"

Dokter Reg tersenyum, menampakkan sebuah lesung cantik di pipi kirinya. "Nah, istirahatlah. Kita lanjutkan pemeriksaan penglihatanmu besok. Semoga sudah ada perubahan. Jangan lupa untuk terus mengabariku kalau kau merasakan sesuatu yang tidak nyaman atau sesuatu telah membaik."

Sakura mengangguk semangat, kemudian memamerkan senyum manisnya. Dengan bantuan salah satu suster yang ada di sana, Sakura berjalan perlahan kembali ke kamarnya.

"Hai…"

Sakura mendongak, membeku di tempatnya tepat sesaat sebelum ia memasuki kamar rawatnya. Suara berat dan dalam yang sangat dikenalnya–sekaligus teramat dirindukannya–menggetarkan gendang telinganya. Membawa perasaan berdebar yang selalu menghantuinya tiap ia mendengar suara itu.

Sakura tersenyum lebar pada sosok raven itu–walaupun ia tidak bisa melihat dengan jelas sosoknya. "Hai…" Langkah mungilnya membimbing dirinya menuju ranjang rumah sakit di mana sosok Sasuke menunggunya, tak menghiraukan suster yang tergopoh-gopoh berusaha memeganginya.

Dengan langkah terhuyung, Sakura berhasil mencapai ranjangnya. Satu langkah terakhirnya membuat tubuh lemahnya terjungkal ke depan, menubruk tubuh kokoh berbalut perban itu.

"Hati-hati…" gumam Sasuke tepat di telinga Sakura.

Sakura buru-buru menegakkan tubuhnya. Dengan setengah menopang pada Sasuke, gadis buble gum itu menatap dalam-dalam mata onyx Sasuke. Dari jarak sedekat ini, hanya pekat mata Sasuke yang terlihat jelas dalam pandangannya. Senyum canggung tersungging di wajah pucat Sakura.

"Apa kabar?"

Sasuke mengetatkan pelukannya. "Baik. Kau?"

"Seperti yang kau lihat," senyum lebar Sakura sekali lagi menghiasi wajahnya, membuat mata emeraldnya menyipit.

Tatapan Sasuke perlahan melembut. Dikecupnya kening Sakura lama. "Kau tidak tampak seperti itu."

"Aku baik-baik saja," dilingkarkannya tangannya ke leher Sasuke yang juga dibalut perban putih. "Karena ada kau."

Kening mereka berdua saling menempel, saling berbagi senyuman.

"Kau merindukanku." Sebuah pernyataan, bukan pertanyaan. Senyum Sakura mengembang indah.

Sakura mengerling memesona. "Kau lebih merindukanku."

Sasuke menyentuhkan ujung hidungnya ke hidung Sakura dengan sebuah seringai lebar. "Ketahuan ya?" jawab Sasuke, membuat Sakura terkikik geli.

Sakura menghela nafas lega. "Kau membuat semuanya lebih mudah," gumam Sakura rendah.

"Tentu." Dihirupnya dalam-dalam aroma rambut Sakura, wangi lavender. "Kau hanya perlu lebih jujur padaku."

Sakura menyeringai lebar, berusaha menahan tawanya yang nyaris tumpah. Didongakkannya kepalanya, membuat leher jenjangnya terekspos bebas. Sasuke mengerling nakal, kemudian menyusupkan wajahnya ke leher Sakura. Menghirup aroma tubuh Sakura lebih dalam. Sakura menjerit geli dan buru-buru menundukkan kepalanya lagi.

"Geli!" sergah Sakura dengan tawa renyahnya.

"Hn…" Sasuke tidak memerdulikan Sakura dan terus menenggelamkan kepalanya di antara geraian rambut Sakura. "Kau perlu dihukum. Kau membuatku terlalu lama menunggu."

Sakura mengerutkan keningnya sembari memandang Sasuke keheranan. "Apa? Kau juga membuatku cemas!" Sakura merucutkan bibirnya, membuat Sasuke gemas hingga ingin menggulung Sakura menjadi bola dan memeluknya sepanjang malam.

Dengan gemas, diketatkannya pelukannya pada Sakura. Kemudian dengan tanpa aba-aba, Sasuke menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.

"Akh!"

"Ugh…"

Sasuke memejamkan matanya menahan sakit di punggungnya, lupa bahwa tulang-tulangnya tengah remuk. Sakura yang jatuh di atas Sasuke dengan posisi tidak nyaman memukul dada bidang pemuda raven itu.

"Kau apa-apaan?"

Setelah rasa sakit di punggungnya hilang, Sasuke memperketat pelukannya lagi. Sakura hanya bisa pasrah menyandarkan kepalanya di dada Sasuke, mendengarkan ritme detak jantung Sasuke yang berirama.

"Ini hukumanmu."

"Begini nih hukumannya?" Sakura mencibir. Kalau sekedar dipeluk sih, sering-sering juga tidak apa-apa, batin Sakura dalam hati diiringi dengan tawa gelinya.

"Apa?" Sasuke mengerutkan keningnya bingung mendengar tawa Sakura.

Lama mereka diam dalam posisi seperti itu, tanpa ada obrolan maupun gerakan sedikit pun. Sakura yang jatuh dengan posisi tidak nyaman terus menggeliat, berusaha melepaskan diri dari Sasuke. Namun rupanya Uchiha satu itu tak ada niat mengendurkan pelukannya yang mematikan bagi Sakura.

"Ugh…" hela Sakura lelah. Punggungnya terasa nyeri karena harus diam dengan posisi seperti itu terus menerus. Kalau yang begini sih benar-benar hukuman namanya… Sakura menggerut dalam hati.

"Jadi… Penglihatanmu akan membaik dalam beberapa hari. Kau sudah bisa melihat lebih jelas kan?"

Sakura mengangguk semangat. Tangan mungilnya menggenggam erat tangan Sasuke. Di sampingnya Sasuke dengan serius memerhatikan penjelasan Dokter Reg tentang kondisi fisik mereka berdua.

"Dan kau, Sasuke… Perbanyak mengonsumsi kalsium dan vitamin C." Sasuke mengangguk mantap mendengar instruksi dokter yang telah merawat mereka berdua selama tiga minggu ini.

"Jadi, kami sudah boleh pulang?"

Dokter Reg mengangguk. "Tapi kalian harus tetap memeriksakan kondisi kalian di rumah sakit. Jepang punya rumah sakit bagus."

"Pasti."

Dan kini mereka tengah berada di sebuah pesawat pribadi mewah yang sebentar lagi akan menerbangkan mereka kembali ke Jepang. Sasuke dan Sakura duduk berdampingan di kursi barisan paling belakang, menjauh dari para orang tua yang mengambil tempat di barisan kursi depan sembari mengobrol. Sasori yang tengah asyik menyenandungkan lagu yang didengarnya dari iPod merahnya juga turut memilih duduk di belakang–di pojok lain barisan kursi penumpang. Sedangkan Itachi? Tentu saja harus tinggal di Dallas untuk menggantikan tugas Sasuke di kantor pusat. Malang.

"Aku rindu sekali pada Ino, Hinata dan Tenten. Apa kabar ya mereka?"

Sasuke, yang asyik dengan majalah olah raga di tangan, menoleh ke samping. Di sampingnya Sakura tengah memandang kejauhan melalui jendela pesawat.

"Sebentar lagi kita sampai. Mungkin di sana sudah agak malam." Sasuke melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Pukul delapan pagi.

Sakura melirik Sasuke. "Hm… iya…"

Dengan tatapan lembut, Sasuke meraih kepala merah jambu Sakura dan menyandarkannya di dadanya. Tangannya mengusap-usap puncak kepala Sakura, menenangkan. Tak lama, badan pesawat bergetar menandakan pesawat pribadi itu hendak lepas landas. Semua penumpang mengetatkan sabuk pengaman mereka. Dan perjalanan kembali menuju Konoha pun dimulai.

Dihadapannya sekarang, tiga sosok gadis seumuran dirinya berdiri berkacak pinggang, terutama gadis blonde berkuncir kuda yang berdiri paling depan. Sedangkan gadis merah jambu yang tengah dihadang hanya mampu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Di sampingnya berdiri pemuda raven yang dengan cueknya mendengarkan musik dari iPodnya tanpa ada minat sedikit pun untuk ikut dalam obrolan para gadis itu.

"Kau tidak mengucapkan apa pun pada kami saat pergi! Kau tidak mengabari kami selagi di sana! Kau bahkan tidak cerita kau kecelakaan di sana! Dan kau… tidak bilang kau akan pulang! Arrgh!"

Sakura meringis kecut, setengah mendesis pada pemuda raven yang tidak tampak akan menolongnya.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tiba-tiba terdengar suara dari sosok pemuda merah dari arah belakang. Sakura menghela napas lega.

Ino, gadis blonde itu, memicingkan mata dan memandang tajam Sasori yang baru saja datang–masih menenteng tas sekolahnya yang tampak ringan. Sasori yang dipandangi mengerikan seperti itu menyeringai canggung. Sepertinya suasana sedang tidak bersahabat untuk diajak bercanda, seperti niat semulanya. Mata beriris pucatnya melirik Sasuke yang juga hanya diam saja Sakura dihadang seperti itu.

"Ayo pergi," sergah Sasori malas sambil menyambar lengan Ino yang tengah berkacak pinggang.

"Lepas! Aku perlu bicara dengan adikmu!"

Sasori memutar bola matanya. "Sudah, ayo."

Dengan wajah cemberut, Ino hanya bisa pasrah ditarik Sasori ke kelasnya. "Besok!" serunya pada Sakura.

Dari kejauhan, mereka bisa melihat dua sosok remaja itu saling bertengkar. Si gadis pirang dengan jengkel menjitak kepala merah di sampingnya, membuat sang pemilik kepala meringis kencang. Puas melihat dua remaja itu, Tenten dan Hinata segera mengembalikan tatapan mereka pada Sakura. Lagi-lagi Sakura mengkeret.

"Ayo, sebentar lagi bel." Tanpa aba-aba, Sasuke melingkarkan lengannya di bahu Sakura, kemudian menariknya lagi untuk berjalan. Tenten hanya bisa berdecak sebal tanpa bisa membantah Sasuke, sedangkan Hinata hanya tersenyum tipis.

"Aa.."

"Kau tidak mengerti! Kami cemas tahu!" Dengan garang, Ino menggebrak meja kantin, membuat para siswa lain dengan pandangan heran dan kaget menoleh ke meja mereka.

Kepala-kepala lain yang duduk melingkar itu hanya terdiam. Terutama pemilik kepala merah jambu.

"Kau… Ak… Aku cemas sekali tahu!" Suara Ino tiba-tiba berubah serak. Aquamarinenya tergenang air. "Pa…"

Dengan telaten, Sasori yang duduk di sampingnya segera menarik Ino untuk kembali duduk. Kemudian didekatkannya kepala pirang Ino ke dadanya. Ino yang tiba-tiba menangis membuat Sakura semakin merasa bersalah. Sedangkan teman-temannya yang lain juga hanya diam.

"Yang penting kan Sakura baik-baik saja,"

Semua kepala yang ada segera melirik Shikamaru yang baru saja buka suara–minus Ino. Tumben sekali dia bangun.

"Sudah…" bujuk Sasori berusaha menenangkan Ino yang dengan ganas melampiaskan kekesalannya pada Sasori. Sesekali Sasori meringis kesakitan saat kuku-kuku lentik Ino mencakar dadanya.

"Maaf…" Sakura buka suara. Digigitnya bibir bawahnya canggung. "Aku hanya tidak ingin membuat kalian kha-"

"Jus-"

"Shhh…" Sebelum Ino menyelesaikan kata-katanya, Sasori lebih dulu memotongnya dengan mengetatkan rangkulannya. "Sudah…"

"Ugh…"

"Maaf… Aku…" Sakura meminta maaf sekali lagi. Kali ini ditujukan pada Ino yang sepertinya akan ngambek padanya untuk beberapa hari ke depan.

"Ada-ada saja. Ayo pergi," tiba-tiba Sasuke bangkit dari duduknya dan menarik tangan Sakura untuk ikut berdiri dengannya. Dengan langkah lebar, mereka berdua pergi menjauh meninggalkan teman-teman mereka di kantin yang mulai ramai itu.

Kebisuan terjadi sepanjang perjalanan pulang menuju rumah Sakura. Di sampingnya, Sasuke tengah serius menyetir Porsche hitamnya. Sejak masuk sekolah tiga hari lalu, Sasuke memang memutuskan membawa mobil karena beberapa lukanya belum sembuh benar, terutama di bagian dada dan punggung. Lalu apa hubungannya dengan mobil?

Karena motor sport Sasuke mengharuskan pengendaranya membungkuk untuk mengendarainya, dan tentu saja Sasuke berkilah kalau membungkuk seperti itu menyakitkan. Alasan yang hanya ditanggapi Sakura dengan dengusan, karena ia tahu benar kalau Sasuke sedang ingin memamerkan Porsche barunya, mengingat Porschenya rusak berat dalam kecelakaan beberapa pekan lalu.

"Ujian semester tinggal empat hari lagi. Bagaimana pelajaranmu?" Tiba-tiba Sakura buka suara, mengangkat topik tentang sekolah mereka.

Sambil menyetir, Sasuke mendengus meremehkan. "Hn."

Awalnya, satu kata favorit Uchiha satu ini selalu membuat Sakura bingung. Namun, seiring dengan kebersamaan mereka, Sakura mulai mengenali bermacam-macam makna di balik satu kata 'hn' itu. Seperti saat ini. Cukup dengan satu kata 'hn', wajah bosan, dengusan dan pandangan bosan seperti itu, Sakura sudah bisa menyimpulkan bahwa Uchiha di sampingnya ini tengah meremehkannya.

"Jangan beri aku pandangan pertanyaan-konyol-dan-tidak-bermutu-mu, Uchiha!" Sakura balas mendengus dengan tangan bersedekap di dada, persis seperti anak kecil yang tengah merajuk.

Mau tak mau Sasuke dibuat menyeringai dengan sikap kekanakan Sakura satu ini. Seringai lebar Sasuke membuat Sakura mendengus sebal sekali lagi.

"Kau benar-benar kutu buku dengan kacamata setebal itu."

Sakura melirik Sasuke yang kini bersenandung mengikuti irama musik yang mengalun dari radio di dalam mobilnya. "Terima kasih," jawab Sakura sarkatik, membuat Sasuke lagi-lagi menyeringai.

"Kepang dua rambutmu."

Sakura mendesis jengkel. Di waktu yang sangat tidak tepat, Sasuke benar-benar bisa berubah menjadi sosok paling menyebalkan bagi Sakura. Hanya gara-gara ia harus memakai kacamata super tebal semenjak mereka pulang, Sasuke tak henti-hentinya mengejeknya dengan kacamata minus entah-berapa-nya itu. Memang, dengan kacamata bingkai putih itu, Sakura terlihat lebih kutu buku. Ditambah lagi tasnya yang selalu menggembung penuh buku dan tangan yang jarang lepas dari buku. Ada saja yang dibaca gadis itu.

"Coba kalahkan nilai ujianku," canda Sasuke sambil lalu.

"Oke! Ayo kita bertaruh."

Sasuke menyeringai lebar. "Taruhan. Apa yang kita pertaruhkan?"

Tiba-tiba Sasuke sudah menghentikan mobilnya tepat di sebuah toko yang asing bagi Sakura. Namun, Sakura tidak mau ambil pusing dan memilih mengikuti Sasuke yang keluar dari mobil tanpa banyak tanya.

"Kalau aku yang menang, aku mau… Hm…"

Sasuke mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi, dengan congkak. "Yakin sekali menang?"

Sakura menyeringai, nyaris mirip dengan cara Sasuke menyeringai. "Tentu!"

"Bagus. Buktikan saja."

Kini mereka sudah masuk ke toko itu. Dinginnya AC yang dipasang di toko kecil itu segera menyergap kulit Sakura yang tidak tertutup seragamnya.

"Hm… Aku mau kau melakukan hal-hal yang kusuruh selama seminggu!" Sakura melompat girang, menemukan ide yang cemerlang, menurutnya.

Sasuke mengangguk-angguk dengan mata berbinar geli. "Boleh."

Mereka berhenti di depan seorang pelayan toko, tanpa benar-benar Sakura perhatikan.

"Kalau aku yang menang…" Sasuke memenggal kalimatnya. Mata onyx Sasuke menatap Sakura dalam-dalam dengan sinar mata yang mampu menghipnotis Sakura ke dalam dunia pribadi mereka. "Kalau aku menang dan kau kalah, aku mau satu hal."

Sakura mengangguk antusias. Satu lawan tak hingga. Sakura tersenyum menang. Kalah atau menang tak akan merugikannya. Namun tak lama, begitu Sasuke menyatakan persyaratannya, Sakura tercengang. Sangat tercengang dengan mulut terbuka lebar. Matanya melotot menatap benda mungil yang entah sejak kapan sudah dipegang Sasuke di tangannya, seolah hendak keluar dari rongganya saking shocknya dengan persyaratan Sasuke–terlebih dengan benda yang semakin meyakinkan dirinya bahwa ia tidak tengah berhalusinasi atau salah dengar.

"Aku mau kau bertunangan denganku."