Beijing International High School
Tidak ada yang tahu –kecuali Lao Gao ataupun memberitahu, perihal kepindahan sekolah Luhan secara tiba-tiba. Ayah Luhan meminta pada pihak sekolah untuk merahasiakan tempat tujan kepindahan sekolah anak nya. Pihak sekolah sendiri memaklumi alasan kepindahan tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa aksi sasaeng fans Luhan ini kerap mengganggu ketertiban sekolah, dan pria paruh baya yang menjabat sebagai Kepala Sekolah itu juga berulangkali meminta maaf atas ketidaknyamanan Luhan selama bersekolah disana. Perlu diketahui bahwa sekolah ini termasuk sekolah elit yang memungut uang bulanan dalam jumlah besar.
Pada awal nya, para sasaeng fans ini terkejut. Mereka mencoba mencari tahu sendiri alasan Luhan absen hingga berbulan-bulan lamanya, tetapi penelusuran mereka tidak membuahkan hasil, Lao Gao juga enggan untuk memberi tahu, ia telah disuap oleh keluarga Luhan sebelumnya agar tutup mulut. Hingga pada akhirnya mereka menyerah, mereka menganggap Luhan telah hilang secara misterius atau mungkin bersekolah di luar negeri, maklum saja Baba nya termasuk salah satu pengusaha kaya seantero Beijing.
Pagi itu, salah seorang wanita yang berkedudukan di bagian administrasi sekolah, sedang membereskan lemari nya yang penuh kertas-kertas lama dan sepertinya tidak penting atau berkas tersebut telah kedaluarsa. Ia berniat memindahkan tumpukan kertas itu ke gudang, sementara tumpukan kertas yang baru ia masukkan kedalam lemari. Wanita itu berniat membawa tumpukan kertas itu sendiri, namun karena banyak nya. ia rasa, ia tidak mampu untuk melakukannya sendiri. lalu ia panggil salah seorang siswa lelaki yang lewat di depannya.
"Hey!, Bisakah aku minta tolong bawakan ini ke gudang?" tanya wanita itu
Siswa lelaki itu mengangguk dengan patuh, ia kasihan melihat wanita itu harus memindahkan banyak kertas sendiri "Baiklah, saya akan membawa setengah nya"
Satu siswa lelaki lagi lewat di depan mereka, spontan wanita itu juga menghentikannya "Kamu, tolong bawakan sisa nya ini ke gudang. Aku masih harus mengurusi pekerjaan yang lain"
Mau tidak mau lelaki yang barusan dipanggil tadi akhirnya menurut, dengan pasrah bersama pemuda disamping nya berjalan beriringan membawa tumpukan kertas menuju gudang.
Wusshh...
Tiba-tiba angin kencang menerbangkan beberapa tumpukan kertas yang mereka bawa, salah satu dari mereka panik ketika kertas tersebut berserakan, akhirnya kedua pemuda itu saling membantu untuk merapikannya lagi, namun tanpa diduga ada satu berkas yang menarik perhatian mereka.
SURAT PERMOHONAN IJIN PINDAH SEKOLAH
NAMA: XI LUHAN
...
Matanya terus mengarah ke bawah, membaca dengan detail setiap informasi tersebut.
TUJUAN PINDAH SEKOLAH: SEOUL ACADEMY MUSIC SCHOOL
BERTEMPAT DI: SEOUL, KOREA SELATAN
Mereka dengan seksama membaca surat tersebut, salah satu dari pemuda itu merupakan kelompok sasaeng Luhan. belum hilang rasa terkejutnya, dengan segera salah satu pemuda itu berdiri kemudian berujar pada samping nya
"Maaf, aku ada urusan penting. Kau bawa ini sendirian saja, ya?"
Dan pemuda itu langsung melesat, sebelum satu temannya itu protes.
"Dasar! Ahh.. bagaimana ini" keluh nya
Pemuda yang berlari itu dengan cepat menghampiri kelompok nya, ia sampai ngos-ngosan sehabis berlari karena ia rasa, ia membawa suatu kabar yang penting.
"Ada apa dengan mu?" tanya temannya
"Kalian, lihatlah ini!" pemuda itu membentangkan kertas tersebut di hadapan teman-temannya
Sontak mereka terbelalak, lalu membaca informasi tersebut lebih dekat "Bukankah ini adalah Luhan, si cantik, kita?
"Benar, jadi selama ini dia pindah kesana?" gumam nya tidak percaya
"Asal dia tahu saja, aku tidak akan menyerah" cetus nya
"Benar, dan aku juga. Luhan harus jadi milikku" sahut yang lain
"Apa katamu?, tidak! Luhan itu takdir ku!" aku nya, dan tidak lama kemudian, pertengkaran sepele antar sesama anggota kelompok pun terjadi.
.
.
.
Damn I'm Manly Oh Sehun!
Chapter 10
I'll do all, please help me
By: HunHan SeRaXi
.
.
"Hey!, siapa kau?. Berani nya mencium pujaan hatiku?!" geram salah satu dari mereka
Sedangkan Sehun sendiri tetap mengeratkan pelukannya pada Luhan, ia memberi sinyal agar Luhan tetap diam dan terus berciuman.
"Lepaskan ciuman kalian sekarang juga!" paksa lainnya
Namun Sayang nya, Sehun dan Luhan tetap bergeming.
Dengan emosi yang telah memuncak sampai ke ubun-ubun, satu pemuda dari kumpulan sasaeng Luhan ini melangkah maju, ia mencoba memisahkan pangutan keduanya yang semakin lama membuat hatinya semakin panas.
"Tunggu!, jangan ganggu mereka"
Sebuah suara perempuan memekik nyaring, tidak lama kemudian kumpulan perempuan pendukung HunHan itu mulai membelakangi couple pujaan mereka, mereka bermaksud melindungi HunHan. Han Sera memimpin di depan, ia berhadapan langsung dengan seorang pemuda yang maju tadi.
"Siapa kau?, berani nya kau merusak suasana romantis mereka" ujar Sera dingin
"Apa-apaan ini? Minggir, kalian menghalangi jalanku" ujar pemuda itu juga tidak kalah dingin
"Hey!, tidak semudah itu, kawan." Sera kemudian menggeleng, mencoba santai dengan keadaan ini
"Perkenalkan, aku Han Sera. Pemimpin kelompok Fujoshi pendukung Sehun dan Luhan yang memang nyata"
"Apa katamu?" sahut nya, ia pikir ia salah dengar
"Sehun dan Luhan? hahh... apa kau bercanda?" dengus nya sedikit menggeram
"Tahu tentang apa kalian soal Luhan?, Ia sudah tinggal disini cukup lama, dan semuanya tentu saja berubah" perkataan Sera barusan memiliki makna tersembunyi
"Luhan hanya jatuh cinta pada Sehun" ulang nya, lagi
"Sehun? Apakah dia lelaki putih itu..." pemuda itu menengok dibalik punggung gadis-gadis itu, ia terkejut ketika objek yang ia cari sudah pergi darisana
"Sial, hey! Dimana dia?" dengus nya kesal
Beberapa pemuda itu hendak meninggalkan tempat, namun cepat-cepat pasukan Sera menghadang nya "Tunggu, kalian masih memiliki urusan dengan kami..."
Sedangkan Sehun sendiri, ia melepaskan pangutannya dengan Luhan ketika dirasa keadaan cukup mendukung saat ini, buru-buru ia menarik lengan Luhan agar menjauh dari lokasi tersebut, biar Sera dan pasukannya yang menghadapi mereka semua. Berterimakasih lah karena kedatangan gadis-gadis itu membuat Sehun maupun Luhan dapat bernapas lega.
"Sehun terimakasih..." gumam nya
Selain dari kata itu, Luhan tidak tahu harus mengungkapkan apa lagi terhadap Sehun. Hari ini ia terlalu beruntung –atau bersamaan dengan sial, posisi nya saat ini juga serba salah, disatu sisi ia ingin mengucapkan banyak ungkapan terimakasih, namun disisi lain, ia masih dalam mode bertengkar dengan Sehun, sedikit sungkan jika ia terlalu berlebihan sekarang.
"Sehun, kumohon. Jangan Cuma diam" paksa nya, ia tidak tahan di diamkan seperti ini
"Berhati-hatilah..." tukas nya singkat
Baik Sehun maupun Luhan sama-sama terdiam, mereka berhenti di bangku depan halaman asrama. Sehun merenungi sikap nya yang tidak sinkron barusan, ia seharusnya membiarkan Luhan, tapi apa?, kenapa ia malah menolong nya, selalu saja jika menyangkut Luhan, hati dan otak nya tidak pernah sejalan, ia jadi malu pada dirinya sendiri.
Luhan pun juga sama, ia ingin bertanya banyak pada Sehun. Bagaimana bisa lelaki itu tahu bahwa dirinya dalam bahaya, dan juga ciuman mendadak tadi..-ahh Luhan tidak ingin mengingatnya lagi. Samar-samar semburat merah itu muncul, tetapi keadaan saat ini sangat berbahaya dan juga mendadak, Luhan sendiri tidak pernah memprediksi bahwa mereka akhirnya akan tahu keberadaanya, dan Luhan sama sekali belum mempersiapkan apapun karena sudah terlanjur terjadi.
"Sehun, maafkan aku" ujar Luhan lagi, kali ini sedikit lirih sambil menunduk
Sehun tetap diam, membuat Luhan mengembuskan napas nya karena suasana saat ini begitu kaku. "Aku menyesal telah melakukannya"
Selama beberapa saat itulah belum juga ada respon dari Sehun, Luhan hampir menyerah. Ketika ia hendak beranjak dari situ, tiba-tiba Sehun berujar "Jaga dirimu baik-baik"
Seusai mengucapkan itu, Sehun benar-benar pergi darisana. Ia meninggalkan Luhan yang tengah mematung sendiri dengan banyak pikiran berkecamuk dalam benak nya. Bukan hanya Luhan yang seperti itu, namun Sehun juga mengalaminya.
...
Braak..
Pintu kamarnya ia dorong kencang, Luhan duduk dipinggiran ranjang dengan keadaan yang kacau. Ia takut sekaligus was-was dengan hadirnya mereka kembali. Ahh.. sial, darimana mereka tahu Luhan berada disini?, dan juga apakah mereka tidak punya pekerjaan lain selain menguntit dirinya?
"Apa jangan-jangan Lao Gao?"
Sedikit tidak percaya bila Lao Gao yang memberitahu nya, Luhan tidak begitu yakin. Setahu nya Lao Gao tidak pernah berurusan dengan mereka, atau jangan-jangan dia di hipnotis?, di suap, atau.. –ahh Luhan jadi bingung sendiri memikirkannya.
Terlintas di otak nya bahwa ia harus menghubungi Lao Gao sekarang, ya.. ide bagus.
Dengan sabar ia menunggu Lao Gao menjawab telponnya, 2 menit kemudian ternyata tidak kunjung diangkat, Luhan gusar sendiri
"Sok sibuk sekali"
Kemudian suara operator mengatakan bahwa 'nomor yang anda tuju sedang sibuk'. Luhan jelas kesal setengah mati, tetapi ia tidak menyerah dan mencoba menghubungi Lao Gao lewat jalur lain, Line misalnya.
"Angkat, kumohon..." gumam nya
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya panggilan itu terjawab. Namun Luhan tiba-tiba tercekat ketika Lao Gao marah-marah padanya
"Apa kau gila, Lu! Aku sedang berada di gereja, dan kau..."
Diseberang sana, Lao Gao menghela napas emosi. Ia terpaksa keluar dari areal gereja karena ponsel nya yang terus bergetar
"Benarkah, ahh.. Maafkan aku" sesal Luhan
"Ada apa lagi, mau meminta saranku? Tanya Lao Gao
"Tidak!" sahut Luhan, ia melanjutkan "Para sasaeng fans ku datang kesini. Mereka mencoba menggangguku lagi, dan sepertinya mereka nekat pindah sekolah karena mengetahui aku juga berada disini" keluh nya
Lao Gao disana nampak terkejut, ia tiba-tiba jadi serius sekarang "Lalu bagaimana?"
"Bagaimana apanya?, apa kau yang memberitahu mereka soal kepindahanku disini?" tuduh nya, namun perkataaanya menggunakan nada yang halus
"Demi Tuhan, Lu. Aku bodoh jika melakukannya" sangkal Lao Gao
"Lalu bagaimana bisa mereka sampai menyusul kemari" desah nya bimbang
"Aku juga tidak tahu, mungkin salah satu oknum pihak sekolah" pendapat Lao Gao
"Astaga! Lalu sekarang aku harus bagaimana?, aku benar-benar takut saat ini" Luhan bahkan sampai menggigiti bibir bawah nya
"Lu, mungkin ini kedengarannya konyol, tapi aku yakin—"
"Cepat katakan apa yang harus kulakukan?" desaknya
"Berpura-pura lah menjadi gay"
"Apa?! Kau gila menyuruhku seperti itu?" protes nya
"Dengarkan aku dulu, Lu" Lao Gao mengambil napas, kemudian ia melanjutkan "Mereka tidak akan kapok jika kau berkencan dengan gadis lagi, kau masih ingat Xuan Yi kan?. Saranku, cobalah ikuti alur permainan mereka, jadikan lelaki yang kau kencani itu sebagai tempat berlindungmu. Bukankah saat ini kau sedang ketakutan kan?"
Luhan terdiam, ia mencerna kalimat Lao Gao dengan matang-matang. Satu hal yang terlintas diotaknya saat ini hanya...-Sehun.
"Kau pernah bercerita kan, jika disekolahmu ada satu lelaki yang selalu mengganggumu?, mungkin dia menyukaimu, kencani saja dia, Lu"
Luhan seolah tersadar, namun lagi-lagi otak dan hatinya tidak sinkron. Dalam keadaan yang masih terkejut, ia sudah dihadapkan oleh situasi seperti ini, dengan berat hati ia terpaksa mengakhiri panggilannya dengan Lao Gao.
"Aku perlu waktu berpikir, maaf telah mengganggu mu sebelumnya"
Sambungan keduanya terputus. Sekilas Luhan seperti mengamati layar ponsel nya yang menghitam. Tapi bukan itu, dalam benak nya ia bimbang untuk menjadi gay 'tulen' namun saran Lao Gao sepertinya sedikit menggoyahkan prinsip nya. bisikan-bisikan sesat seolah meminta nya untuk menyerah menjadi gay saja, toh wajah nya lebih cantik daripada perempuan. Mau ditaruh mana wajah mu jika kau lebih cantik daripada gadismu? Menggelikan.
"Apa aku harus belajar membalas perasaannya?" monolog nya
"Tapi Sehun sangat baik padaku, aku merasa bersalah telah mengecewakannya"
Luhan menunduk dalam, berpura-pura mencintai Sehun karena alasan ketakutan adalah hal konyol dan juga akan berdampak buruk di akhir, ia sudah lelah bertengkar lagi, ia tidak ingin kehilangan teman-temannya lagi, cukup sudah sifat labil nya saat ini, yang jelas ia tidak ingin kejadian masa lalu terulang kembali. Luhan mengembuskan napas, sepertinya menyerah akan lebih baik.
"Bersabarlah Sehun, kali ini aku akan berusaha..."
...Berusaha untuk mencoba membalas rasa cinta mu, padaku"
...
Tetesan air yang berasal dari rambut nya jatuh diatas bahu serta kain bathrobe nya, bau segar khas mandi menguar disekitar nya, ia menghirup napas lega, seusai mandi membuat mood nya sedikit membaik, langkah kakinya ia bawa kedepan cermin, mengamati pantulannya yang semakin hari semakin tampan saja.
"Aku tampan" gumam nya, sedikit menyombongkan diri
Ia mulai menyemprotkan parfum –dengan bau maskulin nya mulai dari ketiak hingga belakang leher nya. ahh.. kesan kelaki-lakiannya semakin terasa. Sehun tersenyum menatap pantulannya sendiri, kemudian ia segera meraih kemeja dan juga celana jeans berwarna gelap yang senada, tidak lupa ia menyisir rambut nya kebelakang, dan menambahkan sedikit gel. Well..perfect!
"Apa aku seperti akan berkencan?"
Sehun lalu tertawa sendiri, ia tampan, kaya, tapi sayang nya gay, dan orang yang ia sukai masih lurus. Ahh.. payah sekali hidup nya, entah senyuman yang ia tampilkan adalah senyuman bahagia atau kesedihan, well... tidak ada yang bisa menebak ekspresi nya.
"Perlahan, lupakan lah soal Luhan"
Ia lantas menertawai diri sendiri, selama ini ia bodoh, berangan-angan Luhan akan jadi kekasihnya, ahh... sekarang rasanya mustahil. Tetapi ia bingung, kenapa ia masih selalu berada disekitar Luhan, bahkan selalu menolong pemuda rusa itu, bukankah ia ingin menghindar, tapi kenapa yang ada malah semakin mendekat? Lucu sekali.
Disaat ia merenungi diri sendiri, tiba-tiba ponsel nya bergetar menampilkan nama MinHo Hyung disana.
"Ada apa hyung?"
"Apa kau lupa, jika hari ini Ibu akan pulang dari rumah sakit?" MinHo berujar dingin
Seketika Sehun membelalak, astaga! Ia lupa. Kebetulan sekali ia sudah selesai berpakaian, dan saat itu juga ia segera keluar dari kamar asrama.
"Hyung, jangan terburu-buru. Aku akan segera kesana"
Sambungan diputus sepihak.
Langkah kakinya amat tergesa, syukur lah karena saat ini pos keamanan asrama sedang kosong, mungkin ahjussi-ahjussi tua itu sedang meminum kopi bersama. Ia lirik ke kanan-kiri, memastikan apakah ada taksi yang lewat. Tiba-tiba suara yang familiar memanggil namanya
"Sehun!"
Ia menoleh, oh astaga! Kenapa ia dipertemukan Luhan lagi?
"Kau mau kemana?" tanya nya, sangat polos dan lugu
"Apa kau mau ikut?" –sial, apa yang barusan ia katakan?
"Euhm... maksudku, hari ini Ibuku diperbolehkan pulang dari rumah sakit" jelas nya
Saat itu juga kedua mata rusa nya berbinar cerah, bahkan mimik wajah nya terlihat begitu ceria karena mendengar kabar bahwa bibi Sooyoung akan pulang.
"Sehunna, aku ingin bertemu Bibi Sooyoung lagi" ujar nya
"Kalau begitu ayo!"
"Eh!"
Luhan salah tingkah sendiri ketika Sehun tiba-tiba meraih pergelangan tangannya, oh tidak! Kenapa ia malah kikuk begini sekarang.
"Kenapa?" Sehun lantas mengernyit, kemudian ia menyadari sendiri bahwa ada yang salah
"Maaf" gumam nya
Dari kejauhan, taksi sudah terlihat. Luhan kemudian berujar "Ehm.. Aku ingin ikut, tapi bagaimana? Aku bahkan hanya memakai hoodie"
"Kau masih tetap tampan, ayolah! Taksi sudah dekat" tukas nya
"Baiklah..." Luhan menunduk sambil memilin ujung bajunya, ada perasaan tak biasa –atau mungkin tidak enak jika Sehun mengatakan dirinya tampan, well.. memang iya kan?
Taksi yang mereka hadang, berhenti. Keduanya kemudian masuk, di dalam sana keheningan terjadi lagi.
"Kau tadi darimana?" tidak tahan, akhirnya Sehun angkat bicara
"Hanya berjalan-jalan saja" gumam nya, ia asik menatap jalanan luar lewat jendela
"Kau masih berani melakukan itu ketika sassaeng mu mengintai?
Luhan kemudian terdiam, satu gumaman monoton ia lontarkan lagi "Maafkan aku..."
"Untuk apa meminta maaf?"
Luhan tidak menjawab, namun dalam hatinya berteriak "Jangan begitu Sehun, kumohon maafkan lah aku. Aku.. butuh perlindungan mu"
Teriakan hatinya itu tertahan dalam tenggorokannya saja, ia tidak mampu berucap.
Sooyoung begitu bahagia, ketika Sehun dan juga Luhan datang untuk mengantar nya pulang dari rumah sakit. Tak ada yang lebih membahagiakan dari ini, terutama Sehun dan juga keikutsertaan Luhan mengakibatkan suasana hatinya semakin cerah, ia jadi semakin bersemangat untuk sembuh.
"Hati-hati bu, jalannya"
Meskipun ada setitik kebencian pada Ibu angkat nya itu, namun hatinya yang tulus masih mau memapah sang Ibu angkat yang masih kesusahan untuk sekedar duduk di kursi roda saja. Sehun memegangi kursi roda itu kuat, berharap sang Ibu tidak terjungkal atau lainnya, Luhan juga turut membantu memasangkan jaket tebal di tubuh Sooyoung, karena saat ini cuaca semakin mendingin di luar.
"Apakah bibi senang?" tanya Luhan ketika mereka bertiga berjalan keluar dari area rumah sakit
"Tentu, terimakasih sudah mau ikut" ujar Sooyoung dengan senyum yang masih terus terkembang
"Ohh ya, Luhan. Perkenalkan, ini Hyung nya Sehun, Oh MinHo"
'Apakah aku masih dianggap anak disini?' sinis Minho dalam hati
"Luhan imnida, salam kenal" Luhan membentangkan senyum manis nya pada MinHo, dan itu hanya ditanggapi sekedarnya, MinHo masih terlalu canggung
"Aku, MinHo"
Melihat pemandangan anak-anak nya yang tengah akrab dengan seseorang yang ia sayangi membuat Sooyoung semakin ingin terbang ke awan saja, ia sangat menyayangi Luhan, itu jelas. Dan khusus untuk anak-anak nya, ia memberikan seluruh cinta nya pada mereka.
Kedua penjaga berbadan kekar itu membungkuk hormat, kemudian membukakan pintu mobil untuk Sooyoung, lagi-lagi dibantu oleh MinHo agar sang Ibu dapat duduk dengan nyaman di jok mobil. Sehun duduk disamaping Ibu nya, lalu MinHo duduk di kemudi, dan tersisa lah Luhan, ia mengalah dan mengambil tempat disamping MinHo.
"Luhan, kau main dulu ke rumah ya?" desak Sooyoung
Luhan terkikik, dengan patuh ia mengangguk "Tentu saja, bibi"
Mobil tersebut melaju perlahan meninggalkan kawasan Rumah sakit, dibelakang nya dikawal satu mobil yang merupakan kedua bodyguard tadi. Beberapa saat terjadi kecanggungan di dalam sana, Luhan melirik kesamping, berinisiatif untuk mengajak MinHo berbincang
"MinHo hyung sepertinya sudah bekerja, dimana?" Luhan angkat bicara
"Di Perusahaan Ayah ku" jawab nya singkat, ia mencoba untuk lebih bersahabat dengan Luhan
"Ahh.. begitu, Hyung sepertinya sibuk sekali dari penampilannya, hehe.." Luhan tertawa canggung
"Benarkah begitu?" MinHo menyahut
"Euhm..ya, Hyung pasti dikejar banyak perempuan cantik, haha.. sudah kaya tampan pula" puji nya tanpa sadar
MinHo tertawa lepas, ia sendiri juga tidak sadar kenapa sampai melakukannya. Semuanya spontan, dan itu karena Luhan.
Dari belakang, Sooyoung juga menyahut "Cepat bawa perempuan yang kau sukai, dan segera langsungkan pernikahan" titah Ibu nya
MinHo menggaruk tengkuk nya kikuk, apa-apaan ini? Ia saja terlalu sibuk hingga tidak bisa melirik ataupun berkencan dengan seorang wanita.
"Hahaha... astaga Ibu, aku masih belum menemukan yang cocok. Atau mungkin Luhan saja yang ku persunting?" MinHo mengerling nakal pada Luhan
Luhan spontan terkejut, semburat merah samar-samar tercetak di pipinya. Tiba-tiba MinHo tertawa lagi, ia berhasil menggoda Luhan disamping nya, well... Luhan begitu manis, boleh juga jadi tipe nya.
"Yyak! Apa-apaan MinHo hyung ini" gerutu Luhan menahan malu
Tiba-tiba Sehun berdehem keras, Luhan melirik kaca diatas nya, dan Sehun tepat menatap nya tajam, pandangannya mengisyaratkan bahwa ia sangat tidak suka. Ahh.. Luhan jadi merona lagi, apakah... Sehun cemburu melihatnya?
...
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti, Luhan mengamati lewat jendela, mulutnya sedikit membuka membentuk huruf 'O', ia begitu takjub, rumah Sehun seperti istana, padahal tidak ada bedanya dengan rumah nya di China, tapi entah mengapa kelihatannya lebih megah milik Sehun.
Ia turun dari mobil, ikut serta membantu Sooyoung berdiri. Sehun lah yang menyiapkan kursi roda nya lagi, kali ini Luhan yang diberi kesempatan untuk mendorong kursi roda Sooyoung.
"Rumah bibi sangat mewah" gumam nya
Sooyoung mengangguk, ia juga membalas "Nanti kita berkumpul di taman belakang, ya?, aku betah berada disitu"
"Apapun yang Bibi minta akan aku turuti, tapi bibi janji ya, bibi harus cepat sembuh"
Lagi-lagi tingkah kekanakannya muncul, Sooyoung jadi gemas, ia berujar semangat "Dan jika aku sudah bisa berjalan lagi, kupastikan kau akan selalu ku kejar, dan aku akan mengurung mu di Istana ku"
Mereka sampai dikamar megah Sooyoung, sebuah ranjang besar berpilar kayu putih, dan juga lukisan mahal diatas nya, membuat Luhan menatap penuh takjub. Semuanya bernuansa putih, dan ini terasa begitu elegan sekaligus mewah.
Sooyoung dibaringkan diranjang dengan nyaman, secara bergantian wanita itu mencium dahi MinHo kemudian Sehun.
"Tidurlah yang nyenyak, bu" gumam Sehun
"Semoga mimpi indah" sahut MinHo
"Aku berharap Bibi akan sembuh seketika saat membuka mata nanti" Luhan juga ikut berujar
Sooyoung tersenyum, ia kemudian menutup matanya dengan damai. Diikuti dengan ketiga pemuda itu yang segera meninggalkan kamar Sooyoung.
"Sehuun..."
Luhan mencengkram lengan Sehun, ia masih terlalu canggung berada didalam mansion mewah ini.
"Apa?" Sehun menyahutnya datar, mungkin masih terbawa perasaan tadi.
"Dimana toilet? Aku ingin pipis" rengek nya, melebihi anak SD sekalipun
Sehun mengembuskan napas, telunjuknya terangkat ke atas sambil berujar "Kau naiklah, disana jalan-lah lurus, kau akan menemukannya. Jika tidak, disana banyak maid berkeliaran, kau bisa meminta bantuannya"
"Terimakasih" sahut Luhan, ia langsung menaiki tangga melingkar itu kemudian berjalan sesuai yang Sehun katakan
Luhan mengembuskan napas lega, ia menemukan kamar mandi yang dimaksud Sehun dan segera menuntaskan hasrat nya disana. Setelah selesai, sekarang ia bingung harus kemana. Ditengah langkah nya ia berpapasan lagi dengan MinHo
"MinHo hyung?" sapa Luhan, MinHo menoleh lalu menyahut
"Ohh.. sedang apa disini?"
"Ehm.. barusan aku dari kamar mandi, aku bingung ingin kemana sekarang, hehe..."
MinHo tersenyum maklum, kemudian ia menawari Luhan sesuatu "Kau mau ikut denganku?, hmm.. aku ingin sedikit berbincang denganmu"
"Tentu saja" sahutnya spontan
MinHo menuntunnya masuk kedalam ruang kerja nya, atau bisa disebut juga ruang pribadi karena disini dilengkapi tv dan juga sofa yang kelihatannya nyaman, rak-rak yang menjulang tinggi tersebut semuanya penuh oleh buku dan juga meja kerja beserta laptop berlogo apel. Suhu disini rupanya sudah diatur dan juga wewangian cendana menguar disekeliling nya.
"Ini begitu nyaman" Luhan tiba-tiba bergumam, ia duduk disalah satu sofa empuk yang berjejer
Minho duduk diseberang Luhan, ia berdehem sejenak untuk mencairkan suasana "Jadi, Luhan..."
MinHo menjeda, sedangkan Luhan menatap penuh "Terimakasih..."
"Untuk?" Luhan menyahut
"Karena Ibuku"
Lalu Luhan bergeming, diam-diam ia juga mengulum senyum "Kalian berdua sama" gumam nya
Bahkan sebelum MinHo bertanya lebih jauh, Luhan cepat-cepat menambahkan "Bahkan Sehun juga mengucapkan ini, tapi... bolehkah aku bertanya satu hal?"
Dan ketika MinHo mengangguk, Luhan berujar "Aku baru tahu jika nama mu MinHo, sebelumnya Bibi tidak pernah bercerita padaku soal nama mu, beliau hanya menyebutmu Hyung nya Sehun saja. Maaf jika aku ingin tahu-"
"Aku hanya anak adopsi"
Seketika Luhan terdiam, ia bahkan menutup mulutnya sendiri saking terkejut sekaligus bersalah telah menanyakan hal ini "Maafkan aku, ak.. aku..hmm..."
Luhan gelagapan, namun MinHo segera menyahut "Fakta nya seperti itu, tidak usah merasa bersalah"
Tapi tetap saja, ada sebersit rasa bersalah mengganjal di hatinya "Aku tidak pantas menanyakan hal itu, kumohon jangan tersinggung"
Luhan menatap bawah, kemudian suara MinHo menyahut lagi "Kau pasti satu sekolah dengan Sehun kan?"
Setelah Luhan mengangguk, MinHo melanjutkan "Apakah dia melakukan sebuah kenakalan?, aku tidak bisa mengontrol perilakunya sejak dia tinggal di asrama"
"Sehun itu... baik" tanpa pikir panjang Luhan berujar seperti itu
"Dia benar-benar bersekolah disana, dan juga dia jarang melakukan pelanggaran. Percayalah padaku, aku ini juga salah satu teman dekat nya"
MinHo menatap lekat Luhan dari atas ke bawah, remaja ini terlihat memiliki image baik, tidak mungkin berbahaya bagi Sehun –adiknya, ia mengembuskan napas, kali ini ia ingin sedikit percaya pada Luhan. "Baiklah, aku percaya padamu"
Lalu satu senyuman terkembang di bibir Luhan.
...
Sehun gusar, ini sudah lebih dari 1 jam, dan Luhan belum juga menampakkan batang hidung nya sejak pergi ke toilet tadi. Ia hendak beranjak dari posisi tengkurap nya di sofa, namun kemudian tiba-tiba pintu nya terbuka. "Maaf membuatmu menunggu"
"Dari mana saja kau?" Sehun menyahut
"Rumah mu begitu luas, aku tersesat" bohong nya, ia berujar lagi "Tapi untung nya para maid itu mau menunjukkan jalannya ke kamar mu"
Luhan sengaja melakukannya, ia tidak ingin Sehun curiga karena pergi ke ruangan MinHo.
"Kemarilah, banyak sesuatu yang ingin aku tujukkan"
Luhan menurut saja, ia duduk mendekat disamping Sehun "Apa itu?" ia menunjuk sebuah album ditangan Sehun
"Kumpulan foto masa kecil ku"
Seketika Luhan merampas nya, dalam hitungan detik album tersebut sudah berada di tangan Luhan "Whoaa, dari kecil kau memang dilahirkan tidak punya ekspresi ya?"
Sehun mendengus, sontak Luhan terkikik "Cuek itu bakat alami mu ternyata" ia lantas menyadari
Luhan menatap Sehun sambil mengusap dagu nya "Kenapa sulit sekali membuatmu tersenyum?" saking jengkel nya, Luhan bahkan sampai mendekat kearah Sehun lalu kedua telunjuk nya berusaha menarik sudut bibir Sehun "Begini lebih—"
Ucapan Luhan terhenti ketika Sehun lagi-lagi menggengam kedua tangannya, dan secara perlahan menurunkan kedua tangan itu dari sudut bibir nya, ia tersenyum sangat tampan, yang secara tdak langsung menyiratkan sebuah kesan ketulusan. Luhan benar-benar dibuat gugup, jantung nya berdetak tidak karuan, spontan ia menunduk dengan pipi memerah.
"Apa yang kau lakukan?, kau membuatku—" pada akhirnya, ia tidak mampu mengungkap isi hatinya
"Sehun..." gumam nya, yang dipanggil itu masih menatapnya lekat "Maukah kau memaafkan ku, dan kembali menjadi teman ku, aku membutuhkan bantuanmu saat ini"
"Karena sasaeng mu?"
"Aku akan melalukan apapun, tapi tolong bantulah aku. Bahkan jika aku harus bisa membalas perasaan mu, tentu akan kulakukan"
"Aku bahkan sudah menyerah..." suara Sehun memberat, Luhan cepat-cepat menyahut
"Jangan!, aku berjanji akan itu" Ia sendiri sudah memantapkan hatinya untuk menjadi gay saja, ia juga ingin mengakhiri ambisi Manly nya dan mencoba merasakan bagaimana menjalani hubungan dengan sesama jenis.
Suasana semakin canggung, Luhan berujar kembali "Tolong jangan menyerah..."
Entah insting darimana tangan Sehun terulur menyentuh permukaan pipi halus Luhan, Luhan mendesis geli, mata nya secara otomatis memejam. Sehun semakin mendekat kearah nya, ia mengerjab dan saat itu juga bibirnya menyatu dengan Sehun.
Oh, apa yang dia lakukan?
Luhan meremat kain sprei dibawah nya, ia masih terkejut namun disisi lain ia tidak ingin menghentikan ini.
Sehun meraih kedua tengkuk Luhan, melumat bibir rusa itu atas dan bawah bergantian, tekstur kenyal nya dapat ia rasakan, dan ketika dirasa Luhan lengah, ia mendorong masuk lidah nya dan mengajak bertarung dengan Lidah Luhan.
Tidak, aku tidak boleh menghentikannya...
Ia pernah melakukan ini dengan Sehun sebelumnya, tapi sudah lama. Namun kali ini Sehun memperlakukannya sangat lembut, walaupun Luhan masih belum siap sepenuh nya, namun ia mendesak dirinya sendiri agar tidak menolak, ia ingin membuktikan pada Sehun bahwa ucapannya tidak main-main.
Sehun menghentikan aksi nya ketika dirasa Luhan kehabisan napas, ia melihat rusa itu rakus dalam bernapas, ia jadi merasa bersalah, kenapa tubuh nya selalu bereaksi lain?, kenapa ia selalu kehilangan kendali, dengan sangat menyesal akhirnya ia meminta maaf.
"Tidak, kau lihat sendiri aku tidak menolak?, tidak apa-apa. Lanjutkan saja"
Kalaupun Luhan tidak memberi lampu hijau, Sehun tidak akan mengikuti nafsu nya. Tapi apa yang ia dengar tadi?, mengapa rasanya ia seperti menang lotre, ahh.. ia terlalu bahagia. Terlalu tenggelam dalam euforia nya membuat Sehun tidak sadar bahwa saat ini Luhan sudah menanggalkan atasannya, dan secara cepat rusa itu mengalungkan kedua tangan di lehernya.
"Aku tidak main-main, Oh..." Luhan membisikkan marga Sehun yang kedengarannya seperti mendesah
Dan saat itu juga kedua tangan Luhan turun untuk melepaskan kancing Sehun, ia melemparnya asal, dan secara spontan Sehun meraih dan mengunci kedua tangannya, Luhan dibaringkan dengan ia diatas nya, menghisap daun telinga Luhan sambil menggumamkan sesuatu
"Apa kau kerasukan?, apa yang membuatmu hingga liar seperti ini?"
Luhan merasa bagian sensitif nya tergelitik geli, ia tidak mampu membalas bisikan Sehun, bibir nya terulum dan ia lebih menikmati aktivitas nya saat ini. Setelah itu ia merasa jakun dan leher nya yang dijilati serta gigi-gigi lelaki itu juga ikut andil, semakin menjalar ke ceruk leher beserta bahu nya. Luhan meringis, ketika Sehun tanpa sengaja menggigitnya kencang, hingga membuat permukaan kulitnya sedikit perih.
Sehun mendongakkan kepala, ia mengamati Luhan dalam wajah pasrah nya, ia singkirkan helaian poni Luhan kemudian mengecup dahi nya lembut.
"Sehuun..."
Panggilan merdu Luhan mengalihkan seluruh atensi pada rusa itu, kedua binar mata nya yang berkedip indah dan juga bibir nya yang lembab, ia betah jika harus memandangi wajah ini selama apapun.
"Lakukan ini dengan lembut, anggap saja ini yang pertama. Kali ini kita akan melakukannya dengan landasan cinta."
Bahkan tidak ada ucapan saling mencintai sebelum nya, tapi kenapa Luhan begitu terburu-buru. Ia mencoba mencari kebohongan dari kedua binar indah Luhan, tapi rusa ini sepertinya begitu menghanyutkan.
"Landasan cinta?" ulang nya
"Apa kau ingin menyerah saat ini?" Luhan bertanya balik
'Tidak akan pernah'
"Apa kau tidak ingin mewujudkan keinginan mu dulu?, untuk memiliki ku?"
Luhan berujar sangat lirih, bahkan seperti sebuah bisikan, tatapan sayu nya membuat pertahanan Sehun semakin goyah, Luhan begitu mengudang nya dan ia tidak tahan berada di posisi ini.
"Huuh..." Luhan mengembuskan napas, tatapannya berubah sendu "Kau ingin mengejar Jeong Han?, yang pernah kau ceritakan waktu itu?"
"Tidak, tidak!" sahut nya secepat kilat
Luhan lantas tersenyum, dan akhirnya kalimat yang ia harapkan keluar dari bibir Sehun.
"Aku masih mencintai mu"
"Aku juga, semakin lama aku yakin aku akan lebih mencintai mu"
Keduanya sepakat untuk menjalin hubungan saat ini, dan aktivitas yang sempat terhenti, kini mereka jalani lagi tapi dengan dasar saling mencintai, bukan seperti waktu lalu, saat mereka sama-sama terpaksa dan mengikuti nafsu.
Sehun menarik celana Luhan beserta dalamannya, terpampang lah penis mungil Luhan yang sedikit menegang, melihat ukurannya membuat Sehun tertawa, ahh.. masa bodoh. Ia kulum penis tersebut, dan desahan sensual terdengar dari si pemilik.
'Ah..Ahh...'
Luhan memejam nikmat, milik nya dioral dengan tempo teratur oleh Sehun, perlahan kecepatannya bertambah dan Luhan semakin berisik mendengungkan desahannya.
'Anghh...Ahh..'
Usus nya seperti diperas, hanya dengan seperti ini ia ingin keluar, Sehun mengocok beserta mengulum penis nya dengan sangat lihai, rupanya dia master of masturbation. Luhan rasa dirinya sebentar lagi akan datang
'Akhh...'
Sehun merangkak keatas, ia memaksa Luhan membuka mulut nya dan berbagi cairan bersama. Luhan mengatur napas, rasa amis itu masih asing di lidah nya, ia lirik Sehun yang menatap nya intens, laki-laki itu menyapu anak rambut Luhan kesamping, kemudian mengusap tetesan keringat yang mengucur dari sana.
"Kau cantik."
Dan setelah mengucapkan itu, Sehun kembali menyatukan bibir mereka, saling berperang lidah dan berusaha untuk sama-sama mendominasi, walaupun Luhan masih kalah saing. Ia usapi pipi halus Luhan, sedangkan Luhan sendiri sibuk mencengkram erat tengkuk Sehun.
Ciuman itu terlepas, untaian saliva menggantung di bibir mereka, kemudian jatuh dan menempel di sudut bibir Luhan, Sehun menjilatinya, lidah nya ia bawa turun kebawah dan menyesap lingkaran coklat disana.
Luhan meraung tidak jelas dibawah kungkungan Sehun, ia merintih merasakan salah satu titik sensitif nya diserang, Sehun menggigiti puting nya, ahh... ia semakin ingin menjerit. Tidak hanya kiri namun juga kanan, 'mereka' diperlakukan secara bergantian, dan si pemilik semakin pasrah ketika dijamah.
"Ukhh..'
Satu jari Sehun menerobos lubang nya diam-diam, jari panjang itu berusaha masuk lebih dalam, Sehun mendesis, lubang Luhan sudah menghisap-hisap jarinya kuat, bagaimana dengan milik nya nanti?, ia menggesek apa yang ada didalam sana, dan Luhan semakin memekik tertahan.
"Sehun.. .Jebal"
Luhan memohon, ia telah meruntuhkan harga dirinya. Namun sungguh, ia tidak merasa menyesal. Dirinya bahkan menggumam tak jelas ketika jari tersebut bertambah di dalam nya, berusaha untuk masuk lebih dalam dan menggaruk lembut prostat nya. ahh.. Luhan semakin dibuat melayang.
Tidak perlu berlama-lama, secara mandiri Sehun melepas celana beserta seluruh dalaman nya. ia mengocok milik nya sebentar sembari menunggu Luhan mengatur napas, sejak Sehun mengeluarkan jarinya, Luhan merasa kehilangan. Dan sebentar lagi ia rasa inti nya akan segera tiba.
Kedua paha nya dibentangkan lebar-lebar oleh Sehun, ia memposisikan milik nya sendiri yang sudah menegang, satu kaki Luhan disampirkan di bahu kanannya, lalu secara perlahan Sehun memasukkan penis nya secara hati-hati, kali ini mereka bercinta –bukan having sex, jadi dia melakukannya dengan cinta.
Luhan memekik, tanpa sengaja ia mencakar punggung Sehun. Padahal ia pernah merasakan ini dulu, tapi kenapa sekarang rasanya sakit sekali?, lubang nya tetap ketat, dan sepertinya milik Sehun tumbuh semakin besar. Ia memejamkan mata kuat-kuat, Sehun mengerti bahwa rusa nya kesakitan, ia hujani kedua mata terpejam itu dengan kecupan singkat nya.
"Sehun... ini sakit"
"Apa mau ku hentikan?"
"Tidak..kumoh—"
"Akhh.."
Ia tersentak ketika Sehun kembali menyesap puting nya, merasakan nikmat dan sakit menjadi satu, Sehun mencoba mengalihkan rasa sakitnya, dan lama-lama Luhan terbuai, ia tidak menyadari bahwa setelah ini kenikmatan akan menjemputnya, dan ketika Sehun mendapatkannya, Luhan memekik.
"Eunghh... like it"
Sehun tersenyum, ia telah berhasil menumbuk nya. menggesek penis nya semakin dalam, dan seiring berjalannya jarum jam, kecepatan dorongannya semakin kuat dan cepat, Luhan mau tak mau harus mengimbangi nya, tubuhnya terhentak-hentak hebat keatas, napas nya megap-megap, dan ranjang yang mereka pakai berdecit heboh.
Rasanya sebentar lagi surga putih itu akan terlihat, Luhan memejam dan setelah nya cairan ejakulasi itu keluar. Sehun memilih berhenti, walaupun gejolak hasrat itu semakin membara. Ia membiarkan Luhan mendapatkan organsme nya. ia memerintah Luhan untuk bangun dan berbalik, ia berniat menjamah Luhan dengan posisi seperti ini.
Luhan menumpukan tubuhnya di kedua lutut, ia berpegangan erat pada sandaran ranjang. Sehun memasukinya lagi, namun kali ini lebih mudah karena milik Sehun sedikit licin. Laki-laki itu kembali menggenjot nya dari arah belakang, dan ia mendesah pasrah lagi, ia terlanjur lelah untuk ambisi mendominasi.
Ia merasakan semakin lama penis tersebut membesar didalam nya, dinding anus nya juga tak tinggal diam untuk segera membuat benda panjang tersebut mengeluarkan cairannya. Suara penyatuan tubuh mereka terdengar nyaring, sesekali Luhan terkikik diam-diam, kegiatan mereka begitu erotis –pikirnya
Tangan Sehun menjalar kemana-mana, bongkahan pantat kenyal nya diremas-remas, sesekali juga ditampar hingga menimbulkan efek kemerahan. Tangan satunya lagi mengurut penis nya yang kembali terbangun, Luhan semakin tidak kuat ketika gigi-gigi Sehun mencoba melukis karya abstrak di punggung nya, terkadang lidahnya juga menyapu seluruh area bahu serta tengkuk belakang nya.
Luhan melayang jauh, sepertinya ia telah berada di surga.
Sehun tinggal sebentar lagi, genjotan di anus Luhan semakin cepat, cengkraman Luhan pada kayu headbed semakin kuat, Sehun memejam, sebentar lagi... dan ahh,
Ia mendapatkan klimaks pertama nya.
Namun sayang, penis Luhan terlanjur bangun. Sehun tertawa, akhirnya ia mengalah. Ia lepaskan penis nya dari anus Luhan, kemudian mengarahkan tangannya mengocok penis Luhan agar segera kembali tertidur. Diurut nya maju mundur dengan cepat, turut merangsang buah zakar Luhan, dan terkadang Sehun menyentil nya gemas.
"Sshh.."
Luhan bernapas lega ketika Sehun berhasil membuatnya klimaks untuk kedua kali, Sehun membawa Luhan duduk dipangkuannya, ia merebahkan diri yang otomatis Luhan juga ikut. Luhan berpindah posisi, ia tidur memiring menghadap Sehun.
"Apa sekarang kau percaya padaku, Sehun?"
Sehun ikut menatap nya, mencuri satu kecupan kecil di bibir Luhan "Ya, tentu."
"Apa kau rela jika seandainya aku direbut oleh salah satu sasaeng ku?" tanya nya, memancing emosi
"Tidak akan kubiarkan" sahut nya
"Kalau begitu mulai sekarang, tetaplah berada disisiku. Lindungi aku dari ancaman mereka"
Luhan semakin mengeratkan lingkaran tangannya diperut Sehun, ia menyembunyikan wajah di dada bidang –yang saat ini menjadi kekasihnya, Sehun mengelus surai lembut Luhan, sesekali ia menghujani kecupan disana, entah mengapa sebagai seorang 'Seme' ia merasa special ketika 'Uke' yang ia cintai membutuhkan lindungannya.
"Terimakasih, Luhan."
...
MinHo mengeratkan genggamannya pada knop pintu, dalam hati ia menggeram, melihat kelakuan dua manusia sesama jenis yang saling bergelut diatas ranjang rumah nya sendiri, apa yang selama ini ia tidak ketahui dari Sehun? Kenapa dia semakin brengsek sejak meninggalkan rumah, anak itu perlu dikerasi rupanya.
Tapi lagi-lagi ia teringat sang Ibu, Sooyoung akan menangis hebat jika Sehun dihukum terlalu berat. Tidak! Menyakiti Sehun sama saja dengan membunuh perlahan Ibu angkatnya sendiri. Emosi yang sempat ingin ia lakukan tiba-tiba saja urung. Akhirnya ia tetap membiarkan kedua insan itu saling bergelung, dan secara lambat, ia menutup pintu kamar adik nya kembali.
"Benar dugaanku bahwa Sehun semakin kurang ajar, dan juga Luhan. dia mengkhianati ucapannya"
MinHo menghela napas, ia menggumam penuh penyesalan.
.
.
TBC
.
.
Next Chapter...
Suasana makan malam berlangsung dengan canggung, hanya dentingan pisau dan garpu yang terdengar. Tidak ada yang mau melempar gurauan, padahal mereka ini adalah keluarga –kecuali Luhan. Oh Siwon, pria baya yang diketahui pemimpin dari segala cabang perusahaan Oh, bahkan tidak sekalipun memandang Istrinya yang baru pulang dari rumah sakit. Luhan jadi bingung sendiri, ia mengalihkan pandangan dan menemukan MinHo tengah menatap nya tajam, ia jadi takut.
.
"Sehun, ayo pulang!. Aku takut"
.
"Luhan, Apakah kau masih mengingatku?"
.
"Siapa dia?, kenapa sepertinya dia terus mengikuti ku"
.
spoiler again :v penasaran? kalo review nya tembus 400 bakal lebih fast update lagi wkwk :P
