.
Aku memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Percuma juga aku mengadu pada Petra. Ku pikir ia masih marah kepadaku atas perbuatanku yang tidak baik kemarin itu. Penyesalan selalu datang terakhir bukan? Bukankah aku orang terbodoh di dunia ini?
.
.
"Tasmu tertinggal di kamarku!"
.
Suara dan sosok itu mengagetkanku! Pak Guru Erwin sedang berada di lobby rumah sakit, duduk dan hanya ditemani oleh tasku.
.
.
"Apa yang kau lakukan? Udara sudah mulai dingin, kau bisa sakit pak!" ujarku khawatir,
.
.
"Memang aku sedang sakit bukan?" ujarnya sambil tersenyum jahil,
.
.
"Apa yang kau lakukan Pak... ayo kembali ke kamarmu! Sebelum ada perawat yang melihatnya!" perintahku sambil mendorong tubuhnya. Pak Guru Erwin malah terkekeh karena perbuatanku ini.
.
.
Ia membalikkan tubuhnya dan menatapku lekat-lekat. Uhh... aku kembali di buat tidak karuan karenanya!
.
.
"Kau, dingin kepadaku akhir-akhr ini, ada apa?" tanyanya penasaran.
.
.
"Tidak... bukan apa-apa!" jawabku singkat, mana mungkin aku mengatakan padanya kalau aku cemburu!
.
.
Pak Guru Erwin sedikit terkekeh karena jawabanku,
.
"Um... boleh aku berbicara padamu?" tanyaku.
.
.
"Tentu... bicaralah sepuas hatimu!"
.
.
Aku tertunduk malu, rasa ini... sama seperti aku menembaknya setahun yang lalu. Ah... iya... Petra pernah memberitahukannya kepadaku, tepat satu tahun yang lalu. Kalau aku gugup,
.
cukup tarik nafas saja! Huuupp...
.
"Aku... aku tidak peduli kau mencintai orang lain atau tidak. Tapi aku akan tetap menyukaimu, karena kau cinta pertamaku!" ujarku berani, hampir sama seperti setahun yang lalu.
.
"Biarkan aku setidaknya menemanimu, dan menjagamu! Jangan khawatir... aku akan merawatmu juga!" aku menawarkan diriku dengan percaya diri.
.
.
"Hmm..." nampaknya ia berpikir, sama seperti setahun yang lalu. "Ini cukup aneh, setahun yang lalu kau langsung mengatakan ingin menjadi kekasihku, tapi sekarang kau ingin merawatku?" ujarnya dengan raut muka yang serius,
.
"Aku terima tawaranmu untuk merawat diriku!" ujarnya mantap.
.
.
Walau tidak menjadi pacarnya, toh' aku masih bisa dekat dengannya lagi! Jadi seseorang yang merawatnya! Aku berjanji, aku akan jadi pengasuh yang baik!
.
.
"Ngomong-ngomong... ada yang meninggalkan bukunya di pemakaman," Pak Guru Erwin berkata seperti itu sambil mengacung-acungkan sebuah buku berwarna kuning. Itu... Buku Diary-ku!
.
"Sekarang anda tidak usah khawatir pak! Libur pertengahan semester akan datang, dengan begitu aku akan merawatmu terus!" ujarku riang, aku selalu ingat pesan ayah untuk tidak menampakkan wajah sedih di depan orang sakit. Itu justru akan memperparah penyakitnya!
.
.
"Itu artinya kau harus belajar! Setelah liburan pasti latihan ujian kelulusan sudah menunggu tuh'!" ledek Pak Guru Erwin padaku.
.
.
"Aku ini sudah pintar bukan? Buat apa belajar lagi?" aku menyombongkan diri.
.
.
"Dasar murid pemalas!" gerutu Pak Guru Erwin, aku hanya bisa tersenyum membalasnya.
.
.
"Hi..hi..hi... aku hanya bercanda!"
.
.
"Oh ya, bagaimana guru penggantiku?" tanyanya penasaran.
.
.
"Ahh... Pak Guru Nile itu lebih galak dari bapak!" keluhku.
.
.
Pak Guru Erwin hanya bisa tertawa mendengarnya, "Kalian yang sabar ya!"
.
.
"Yang lain sih, sabar tapi kan' aku sudah diajar dua kali olehnya! Aku boleh minta ganti gak ya?" aku berandai.
.
.
"Mintalah pada kepala sekolah kalau begitu!"
.
.
Kamipun tertawa bersama, kami bahkan lupa kalau kami sekarang berada di rumah sakit!
.
.
"Ngomong-ngomong, bagaimana bisa bapak menemukan Diaryku?" tanyaku,
.
.
"Oh.. itu..." gumamnya.
.
Lalu ia bercerita kepadaku mengenai keluarganya. Sebetulnya ia akan mengunjungi makam ayah dan ibunya. Letak makam itu percis di timur laut makam Petra. Ayahnya meninggal delapan tahun yang lalu, karena penyakit yang sama. Ayahnya menjadi seorang pecandu alkohol sejak kematian ibunya. Ibunya sendiri meninggal ketika melahirkan Pak Guru Erwin.
.
.
"Jadi... anda belum pernah bertemu dengan ibumu?" tanyaku, Pak Guru Erwin hanya menggeleng. Ahh... mungkin itu alasannya mengapa Pak Guru Erwin sangat ingin melihat surga!
.
.
"Setelah aku kembali, aku tidak sengaja menemukan buku itu tergeletak di sebuah nisan, ternyata itu makam Petra!" sambungnya, "Aku ambil saja, lumayan bukan? bisa dijadikan jurnal!"
.
.
"Enak saja! Itu buku hadiah ulang tahunku dari Petra!" ujarku dengan sedikit membentaknya,
.
.
"Ha...ha..ha... lagipula hanya orang aneh yang mau membuang barang sebagus itu di makam! Oh ya... apa kau sudah cek foto-fotonya? Ada sekitar 5 foto di dalamnya."
.
.
"5 foto? Hanya ada 3 foto pak! Itu semua foto yang diambil ketika upacara penerimaan murid baru, foto dengan wali kelas kelas 1, dan kelas 2, tidak ada foto yang lain!"
.
.
"Eh... tapi bapak yakin ada dua foto lagi! Dua-duanya foto seorang laki-laki dan perempuan," jelas Pak Guru Erwin keheranan.
.
.
"Ya Ampun... ini pasti akibat kerasnya obat yang bapak minum ya? Sampai-sampai bapak berhalusinasi!" aku meledek Pak Guru Erwin sekarang.
.
.
"Hei... aku tidak mungkin berhalusinasi, lebih baik cek lagi fotonya ya!" saran Pak Guru Erwin.
.
.
Kami kembali terdiam, sebelum kemudian kami saling lempar pandang. Mataku terpaku oleh matanya, kami tidak mengeluarkan kata-kata, tapi kami berbincang melalui mata.
.
"Bapak tahu? Kadang aku masih berharap bapak mau jadi pacarku!" ucapku jujur.
.
.
Alis tebal Pak Guru Erwin terangkat, sambil tersenyum ia bilang, "Maaf kalau masalah itu..."
.
.
"Tidak... anda tidak usah bersusah payah menerimaku!" aku menyambar kalimatnya,
.
"Lagipula aku baru menyadarinya, aku masih belum pantas!" lanjutku.
.
.
"Tidak... bukan karena kau belum pantas," balas Pak Guru Erwin sambil menatapku tajam,
"Hanya saja, cinta tidak semudah itu, berpacaran kemudian putus dan saling memaki. Cinta butuh komitmen, harus ada janji untuk saling setia, saling menyayangi, serta saling mau menerima kekurangan. Ini tidak bisa diburu-buru Levi, waktu yang akan membuat kita saling jatuh cinta nantinya!" jawabnya bijak.
.
.
Terdengar seperti penolakkan yang lain sih menurutku! Tapi penolakkan kali ini terasa lebih indah dan tidak menyakitkan. Kalau itu alasannya mengapa ia tidak menerimaku dulu, aku akan menerimanya dengan ikhlas!
.
.
"Kalau begitu, berjanjilah!"
.
.
"Berjanji?"
.
.
"Ya, aku dan bapak berjanji, kita mengangkat kelingking dan menyatukannya sambil mengucapkan janji," ujarku sambil menirukan gayaku kalau sedang berjanji dengan ayah. Aku dan ayah selalu melakukannya seperti itu!
.
.
"Berjanjilah padaku kalau bapak akan sembuh dan atau bertemu denganku lagi!" ucapku sambil mengakat kelingkingku, dan mendekatkannya pada kelingking Pak Guru Erwin yang sudah terangkat. Tapi...
.
.
.
'tuk...tuk...'
.
.
.
Aku lupa kaca penghalang memisahkan kami! Aku kembali murung! Karena kondisinya yang makin parah, terpaksa ia dipindahkan ke ruangan khusus. Ruangan di mana hanya perawat dan dokter-lah yang boleh memasukinya. Aku bahkan berbicara dengannya melalui saluran, seperti telepon khusus, yang hanya terhubung dengan ruangan tempat Pak Guru Erwin berada.
.
.
.
'tuk...tuk...'
.
.
.
Pak Guru Erwin mengetuk-ngetuk kaca, sambil menunjuk-nunjuk telapak tangannya, yang sudah menempel pada kaca itu. Seolah ia mengajakku untuk berjanji dengan cara yang berbeda, ya... ini cara kami berjanji! Sambil tersenyum aku meletakkan tanganku tepat selurusan dengan tangan Pak Guru Erwin. Kalau tidak ada kaca, kami mungkin sudah saling menyentuh tangan!
.
.
"Aku Erwin Smith berjanji, pada muridku yang paling manis ini, dan demi muridku yang ceria ini..."
.
.
"Juga kelas Scouting 3!" tambahku, Pak Guru Erwin tersenyum sambil menarik nafasnya, aku melihat dengan jelas bahunya yang terangkat naik-turun tadi.
.
.
"Juga kelas Scouting 3, bahwa aku akan segera sembuh, kembali mengajar, dan..." sejenak Pak Guru Erwin terdiam, ada sedikit kilatan seperti airmata jatuh di pipinya. Ini membuatku sedikit terharu, "Akan kembali bersama dengan muridku yang paling cantik ini..." lanjutnya.
.
.
Aku jelas menangis di depannya, ayah maafkan aku telah menangis di depan orang sakit. Karena teringat ayah, aku langsung menyeka airmataku ini dengan cepat. Aku kembali tersenyum pada Pak Guru Erwin,
.
.
"Ngomong-ngomong... selamat ulang tahun guruku yang tampan...!" ujarku memberikan selamat. Pak Guru Erwin kembali tersenyum padaku, dia berterima kasih padaku. Usianya kini tepat 26 tahun. Aku selalu berharap usiamu akan terus bertambah guruku. Dan kau akan menua bersamaku, karena aku yakin kita akan bersama suatu saat nanti! Tidak ada yang bisa memisahkan kita... guruku yang paling ku sayang.
