Discalimer : Tite Kubo.
Warning : Gaje, OOC, typo lagi….
A/N : thx atas reviewnya dari Relya schiffer hmm bukannya qmu udah pernah review cerita ini dari chap 1 sampai chap 3 yah? Thx banget atas review dari qmu.. hahahaah.
Thx atas reviewnya dari Hamasakisayaka-cha hehe thx udah mau baca dan mampir di fic saya.. maaf kalo masih banyak kekurangan.. hehehe
Thx juga atas reviewnya dari Cartha thx yah…loh? Kenapa? Kalo masih ada kekurangan bilang saja yah.. sekali lagi thx..^^
Thx atas review untuk semuanya juga okeh..latih tanding dimulai.. hari ini yang bertanding Nel vs Nnoitora dan tiiiiit *disensor* kalo mau tau silahkan baca chapter ini..*di gebukin readers*. Sekian notes gaje dari saya.
Okeh selamat membaca… ^^
A Night Under White Moon
Chapter 11.
Nel tears and Nnoitora reason.
"Tringgg." Suara kedua pedang yang bersentuhan kembali terdengar. Ekspresi Nel terlihat datar dan tidak biasanya Nnoitora diam dalam menjalani sebuah pertarungan. Setelah beberapa menit bertahan dalam posisi seperti itu pedang mereka terpisah. Nel pun mundur ke belakang begitu pula Nnoitora, Nel menatap Nnoitora dan memejamkan matanya sejenak.
'Dia memang sudah berbeda.' Nel kembali mengingat saat dia bertemu Nnoitora.
Flashback
"Aizen-sama." Arrancar perempuan berambut hijau toska dengan topeng hollow di kepalanya, keluar dari kepulan asap di ruangan besar milik Aizen.
"Selamat bergabung di Las Noches, Neliel." Aizen mengulurkan tangannya dan saat asap benar-benar menghilang Nel menyambut uluran tangan Aizen.
"Perkenalkan anggota baru di Las Noches, Neliel Tu Oderschvank." Aizen berbalik menatap beberapa Arrancar di hadapannya, Nel sendiri langsung berbalik menatap rekan barunya.
'Cantik.' Kata itu menyeruak di dalam pikiran seorang Arrancar jangkung sambil terus menatap sosok Nel.
"Gin."
"Iya, Aizen-taicho?" Gin maju mendekati Aizen.
"Antarkan rekan baru kita ke kamarnya."
"Baik."
"Kalian boleh pergi." Perintah Aizen dan beberapa Arrancar yang ada di sana keluar, setelah Aizen meninggalkan ruangan.
"Ikuti aku, Nel." Nel mengikuti Gin dari belakang dan sesekali dia menoleh ke belakang.
"Ada apa?" Gin menghentikan langkahnya karena menyadari Nel tidak terlalu focus.
"Tidak, hanya saja saya merasa ada yang menatapku." Lalu Gin menoleh ke belakang.
"Ara? Kau belum mengenal smeua rekan baru mu kan? Biar aku perkenalkan." Gin berhenti dan ke 5 Arrancar yang ada di belakang mereka juga berhenti.
"Barragan Luisenbarn." Gin menunjuk Arrancar yang terlihat paling tua dan Barragan mengangguk tanda salam perkenalan darinya. "Zommari Leroux." Gin menatap Arrancar berkulit hitam, dan Zomamari pun hanya mengangguk dan berjalan pergi. "Szayel Aporro Granz." Gin menunjuk Arrancar berambut pink dan berkacamata, Szayel tersenyum dam membetulkan letak kacamatanya. "Aaroniero Arruruerie." Gin menatap seorang Arrancar yang seluruh kepalanya tertutup.
Ke 4 arrancar lain telah pergi ke kamar masing-masing. Sehingga, tersisa satu Arrancar. "Dan yang terakhir, Nnoitora Jiruga." Gin menunjuk Arrancar jangkung yang sedang bersandar pada dinding di belakangnya. Nel menatap Nnoitora perlahan begitu juga dengan Nnoitora. Lalu, Nel berjalan mendekati Nnoitora.
"Hai." Nel tersenyum. "Neliel Tu Oderschvank." Nel mengulurkan tangannya.
"Aku sudah mendengar namamu tadi." Nnoitora mengalihkan padangannya.
"Haha..Aku tau itu." Nel tertawa dengan tangan yang masih terulur di hadapan Nnoitora, mendengar suara tawa Nel, Nnoitora kembali menatap Nel.
"Nnoitora Jiruga." Tanpa Nnoitora sadari dia menyambut uluran tangan Nel. Untuk sesaat Nel terkejut melihat Nnoitora tiba-tiba menerima uluran tangannya, namun setelah itu Nel kembali tersenyum.
"Silahkan kalian mengenal lebih dekat lagi nanti, sekarang kau harus segera ke kamarmu, Nel." Gin tersenyum. Nel menoleh ke arah Gin.
"Ah, baik." Nel melepaskan tangannya dan saat berbalik ujung rambut Nel yang panjang menyentuh telapak tangan Nnoitora. Saat baru berjalan beberapa langkah, Nel kembali berbalik dan menatap Nnoitora. Lalu, dia tersenyum.
"Sampai jumpa lagi, Nnoitora." Nel melambaikan tangannya dan berlari ke arah Gin yang telah menunggunya.
"Tch..sampai jumpa, katanya?" Nnoitora mengangkat kedua ujung bibirnya sehingga membentuk sebuah senyuman. "Sampai bertemu lagi, Neliel." Nnoitora berjalan menuju kamarnya.
End of Flashback.
"Sebaiknya kalian menyingkir ke atas menara itu, agar tidak mengganggu mereka berdua." Saran Gin.
"Ulquiorra, lindungi Orihime." Perintah Aizen.
"Saya mengerti." Semua Espada telah mengisi hampir seluruh atap menara, Ulquiorra sendiri langsung menggendong Orihime dan membawanya ke salah satu atap menara.
"Ulquiorra." Orihime memanggil Ulquiorra dengan pelan.
"Apa?" Ulquiorra memutar kepalanya.
"Apa semalam terjadi sesuatu? Sepertinya ada yang aneh di…" Warna kulit Orihime berubah menjadi setingkat lebih merah sekarang.
"Apa yang ingin kau katakan?" Sejujurnya, Ulquiorra mengerti apa yang dimaksud Orihime, dia hanya tidak ingin mengatakannya.
"Ti-tidak ada apa-apa." Ulquiorra menatap Orihime sejenak lalu kembali menatap pertarungan Nel.
"Perhatikan pertarungan mereka." Perintah Ulquiorra dan Orihime maju selangkah. Sehingga dia berdiri di samping Ulquiorra. Lalu, Orihime melirik Ulquiorra. Ulquiorra menyadari dirinya diperhatikan.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Ah, ma-maaf."
'Rasanya semalam hanya mimpi.' Orihime kembali mengingat saat dia mendapat kecupan dari Ulquiorra. 'Tapi hal itu terasa nyata.' Orihime menyentuh bibirnya. 'Tapi, tidak mungkin Ulquiorra melakukannya.' Setelah puas dengan pikirannya sendiri dia menatap pertarungan Nel.
'Nel…' Orihime dapat melihat setiap ekspresi yang ditunjukkan Nel saat dia mengayunkan pedangnya ke arah Nnoitora. 'Sedih ya..' Orihime menatap sedih pertarungan itu. 'Apakah aku benar-benar dapat bertarung dengan mereka nanti?' Orihime mulai memikirkan hal itu.
Flashback.
Setelah beberapa hari Nel telah menjadi seorang Arrancar yang tangguh. Aizen juga sering memberi misi kepada Nel dan Nnoitora. Hal ini membuat Nel terlihat selalu bersama Nnoitora dan membuat hubungan mereka semakin dekat.
"Szayel.." Nel berdiri di depan pintu kamar Szayel. Berkali-kali dia mengetuk dan memanggil nama Szayel, tapi orang yang dimaksud tidak kunjung membukakan pintu untuknya.
"Huft..Aku masuk ya." Nel mendorong pintu kamar Szayel. Dan pantas saja Szayel tidak membukakan pintu untuk Nel, karena dia sedang berkonsentrasi dengan penelitiannya.
"Szayel." Nel menepuk bahu Szayel dan berhasil membuatnya menunjukkan ekspresi keterkejutan.
"haah..Nel, kau mengagetkan ku." Szayel tersenyum memandang Nel.
"Aku sudah memanggil mu berkali-kali tadi." Szayel pun tertawa ringan.
"Maaf, aku terlalu berkonsentrasi, aku tidak dengar." Szayel kembali menatap layar di hadapannya.
"Apa kau melihat Nnoitora?" Nel bertanya.
"Kenapa kau mencarinya?"
"Tidak tahu, aku hanya ingin mencari saja." Nel berkutat dengan pikirannya.
'Iya, kenapa aku mencarinya?'
"Tidak tahu? Aneh, kau tertarik padanya?" Tanya Szayel tanpa menoleh.
"Tidak, hanya saja aneh rasanya jika tidak bertemu dengan nya."
"Kalau bukan tertarik, apa itu namanya?"
"Entahlah, bagi ku, dia adalah orang yang paling dekat dengan ku." Szayel memutar kursinya dan menatap Nel.
"Begitu." Szayel tersenyum begitupula dengan Nel.
"Lalu, dimana Nnoitora?"
"Tadi dia berkata ingin membantu ku. Tapi, sepertinya itu hanya alasan untuk menumpang tidur di kamarku." Nel membalikkan badannya dan mendapati Nnoitora sedang tertidur di tempat tidur milik Szayel.
"Kenapa dia tidak tidur di kamarnya?" Szayel mengangkat bahunya dan kembali menatap layar.
"Enthlah, dia kan tidak suka berbagi kamar dengan siapapun." Nel mengangguk, Nnoitora memang harus berbagi kamar dengan Tesla di karenakan beberapa bangunan yang belum selesai. Nel beruntung tidak harus berbagi karena dia Arrancar perempuan pertama yang diciptakan Aizen. Sedangkan Szayel, dia meminta kepada Aizen agar dia memiliki kamar sendiri, karena kamarnya dia gunakan sekaligus sebagai tempat penelitian.
Nel menghampiri Nnoitora yang sedang tertidur pulas. Lalu, dia duduk di tepi tempat tidur itu sambil menatap Nnoitora. Nel menemukan sesuatu yang aneh di dalam tabung yang diletakkan dengan rapi oleh Szayel. Nel berdiri dan mengambil tabung itu, dia membuka tabung itu dan mengambil benda di dalamnya yang kita kenal sebagai, bulu. Nel menggerakkan bulu itu hingga menyentuh wajahnya dan dia menggeliat karena geli. Lalu, dia tersenyum dan kembali menghampiri Nnoitora. Nel menyentuh wajah Nnoitora dengan bulu di tangannya, lalu Nnoitora bergerak dan menyentuh wajahnya, Nel tersenyum jahil, lalu dia kembali melanjutkan aksinya, Nnoitora terus menggeliat dan membuat Nel semakin tersenyum.
'Huh..kau kira aku masih tertidur dengan perlakuanmu, akan ku balas kau.' Nnoitora tersenyum dalam pikirannya. Saat Nel akan kembali mendekatkan bulu itu ke wajah Nnoitora, Nnoitora memegang pergelangan tangan Nel dan seketika gerakan Nel terhenti dan menatap Nnoitora.
"Apa kau sudah puas bermain?" Nnoitora masih memegang tangan Nel.
"Kau sungguh lucu, aku belum puas." Nel tertawa lalu seulas senyum terukir di wajah Nnoitora.
"Begitu." Nnoitora duduk dan menarik Nel perlahan saat jarak mereka cukup dekat Nnoiotra mengambil bulu yang di pegang Nel dan mulai membalas Nel, Nel tertawa karena dia merasa sangat geli akibat bulu itu.
"Kau mengganggu waktu tidurku." Nnoitora terus mengerjai Nel, Nel sendiri merasa lelah karena tertawa terus dari tadi.
"Hahaha…baik..baik..aku minta maaf." Nel mendorong Nnoitora dan turun dari ranjang.
"Ada apa kau mencari ku?" Tanya Nnoitora.
"Aizen-sama memanggil kita."
"Misi baru?"
"Tidak, dia memanggil kita semua." Szayel menoleh.
"Aku juga?"
"Iya, ayo." Mereka bertiga keluar bersama, di perjalanan Nel masih bercanda dengan menggunakan bulu tadi untuk mengganggu Nnoitora, di sepanjang perjalanan selalu terdengar gelak tawa dari Szayel dan Nel, dan selalu terdengar ocehan kesal dari Nnoitora.
End of Flashback.
"Tch..jangan bercanda dengan ku, Neliel." Nnoitora bersiap menendang Nel, Nel menghindar dan melompat ke belakang.
"Aku tidak bercanda dengan siapapun." Nel menatap Nnoitora.
"Lawan aku dengan serius." Nnoitora melempar pedang besarnya dan dengan mudah di tepis oleh Nel dan Nel langsung bersonido tepat di hadapan Nnoitora dan mengayunkan pedangnya. Nnoitora berseringai dia langsung menarik pedang besarnya mengarah ke Nel.
"Kau yang jangan bercanda dengan ku." Nel langsung menahan pedang Nnoitora dari punggungnya tanpa menoleh ke belakang, Nel menangkis pedang Nnoitora sehingga pedang itu terjatuh ke pasir. Nel langsung mengayunkan pedangnya dan membuat goresan panjang di perut hingga dada Nnoitora, setelah melakuakn hal itu Nel kembali bersonido ke belakang. Darah Nnoitora bercucuran dari luka yang dibuat Nel barusan, Nel menggerakkan pedangnya sehingga darah yang menempel di sana terjatuh ke pasir.
"Itu..Nel?" Orihime terkejut melihat sosok Arrancar berambut hijau toska yang biasa tersenyum manis kepadanya, sekarang sedang menatap lawannya dengan sebuah wajah datar tanpa ekspresi.
"Bagaimana pun, kami adalah Espada." Ulquiorra bersuara seolah dapat mengerti pikiran Orihime.
"Tch." Nnoitora menyentuh darahnya. "Hahahaha." Nnoitora tertawa. "Itu yang aku inginkan." Nnoitora langsung meningkatkan reiatsunya. Sektika angin menjadi bertiup lebih kencang dari biasanya
"Perisai mu." Perintah Ulquiorra.
"Santen Kesshun."
Nel diam dan hanya menatap Nnoitora. Nnoitora menghilang dari pandangan Nel, Nel memejamkan matanya.
"Tringggg." Nel menahan pedang Nnoitora yang datang dari atas kepalanya, Nnoitora kembali bersonido.
"Tringg." Nel kembali dapat menahan pedang Nnoitora.
"Tringggg." Dengan mata yang masih terpejam Nel dapat menahan setiap serangan Nnoitora, dan hal itu dilakukan tanpa Nel harus bergerak dari tempatnya berdiri. Nnoitora kembali bersonido, saat sebelum Nnoitora mengayunkan pedangnya, Nel langsung menendangnya hingga dia menabrak salah satu menara tempat Grimmjow berdiri, Grimmjow langsung bersonido ke tempat Ulquiorra.
"Grimmjow." Orihime menoleh saat Grimmjow menginjakkan kakinya di atap yang sama dengan Orihime. Tapi, yang disapa hanya diam dan langsung menduduki tepi atap tersebut dan menatap serius ke arah pertandingan Nel.
'Apakah..dia khawatir?' Orihime bertanya dalam hati saat melihat ekspresi Grimmjow.
Nnoitora mengangkat pedangnya dan melemparkannya ke arah Nel, Nel menahannya. Nnoitora segera bersonido.
"Tch.." Nel berdecak, Nnoitora berdiri di belakangnya dan siap memukulnya. Nel mengangkat pedangnya, saat Nnoitora memukulnya, Nel menghilang dan berdiri di belakang Nnoitora. Nnoitora langsung berbalik dan menarik pedangnya, Nel kembali bersonido ke hadapan Nnoitora, tanpa banyak bicara Nel langsung meninju wajah Nnoitora. Sehingga, Nnoitora terlempar ke belakang.
"Cuih.." Nnoitora membuang darah di mulutnya, lalu dia mengelap sisa darah yang ada di ujung bibirnya dengan punggung tangannya. Nel menatap Nnoitora seketika ekspresinya menjadi sedih. Nnoitora terkejut melihat ekspresi itu.
'Apa maksudnya?' Nnoitora berpikir.
"Aizen-sama." Nel memanggil aizen.
"Ada apa, Nel?"
"Pertarungan ini akan berakhir jika salah satu dari kami menyerah bukan?"
"Benar, lalu?" Grimmjow membulatkan matanya begitu pula Nnoitora yang mengerti apa yang akan dilakukan Nel.
"Saya.." Nel mengangkat tangannya.
"Tringg." Nel langsung menahan serangan Nnoitora.
"Aku sedang berbicara dengan Aizen-sama, jangan mengganggu ku." Nel menendang Nnoitora tapi tendangan itu mengenai pedang Nnoitora.
"Jangan bodoh, Neliel." Nnoitora melepaskan pedangnya dan meninju perut Nel.
"Ugh.." Nel mundur beberapa langkah dan menyentuh perutnya.
"Dari dulu, kau selalu menolak bertarung dengan ku, sekarang lawan aku, NELIEL TU ODERSCHVANK!." Nnoitora kembali melempar senjatanya. Nel menahannya dan wajahnya tertunduk.
"Dulu? Dulu yang mana yang kau maksud? Dulu kau tidak pernah mengajak ku bertarung." Ucap Nel. Nnoitora terdiam sejenak.
'Kau benar, tapi sampai hari itu Nel, sampai hari itu.'
Flashback.
"Aku sudah memikirkan dengan matang, aku akan membentuk Espada."
"Apa itu, Aizen-sama?" Tanya Szayel.
"Espada, sepuluh Arrancar terkuat yang nantinya akan membantu ku untuk mencapai tujuan kita."
"Siapa saja mereka?" Tanya Barragan.
"Barragan Luisenbarn, Espada no 2. Zommari Leroux, Espada no 7. Szayel Aporro Granz, Espada no 8. Aaroniero Arruruerie, Espada no 9. Nnoitra Jiruga, Espada no 5. Dan Neliel Tu Oderschvank, Espada no 3." Semua Arrancar di sana menatap Nel. Ekspreis terkejut terukir jelas di wajah Nnoitora.
'Aku di bawahnya?'
"Aizen-sama." Nnoitora berdiri. Gin tersenyum melihat hal yang dilakukan Nnoitora.
"Ada apa?" Nel pun menoleh kearah Nnoitora.
"Ada apa, Nnoitora?" Nel berkata seraya berbisik dan terdapat raut kekhawatiran di sana. Suara Nnoitora tercekat ketika melihat tatapan mata Nel. Lalu, dia kembali duduk di kursinya.
"Tch..tidak apa-apa."
"Lalu, bagaimana dengan sisanya?" Tanya Nel.
"Kalian akan segera bertemu dengan mereka. Baiklah, kalian boleh pergi." Aizen keluar dari ruangan itu. Ke 6 Espada itu juga keluar bersamaan, Nel segera menghampiri Szayel dan berbincang dengannya, sedangkan Nnoitora.
'Apa yang ku pikirkan? Aku kesal jika seorang perempuan harus berada di atas ku..tapi dia itu Nel.. Nnoitora." Nnoitora menatap Nel.
"Iri?" Suara seseorang mengagetkan Nnoitora.
"Tch..tidak.."
"Bohong..kau iri padanya karena dia mendapat peringkat yang lebih tinggi dari mu, padahal dia hanya perempuan."
"Apa maksud mu, Aaroniero?"
"Aku mengerti apa yang kau rasakan." Suara seorang laki-laki kembali berkata. "Kau I.R.I." Dan kini suara seorang perempuan seperti berbisik kepada Nnoitora.
"Tch.." Nnoitora segera mengambil langkah seribu untuk meninggalkan Espada yang seluruh kepalanya tertutup itu.
"Aku dapat membantu mu menjatuhkannya." Suara itu terdengar manis di telinga Nnoitora sehingga membuatnya menghentikan langkahnya.
"Tapi.."
"Kemana perginya Nnoitora yang sangat menyukai pertarungan ini?" Suara laki-laki meninggi. "Jiwanya sudah terbawa oleh gadis itu, pantas saja dia tidak berani." Ucap suara seorang perempuan.
"Berisik, baiklah, beritahu aku."
"Jika kau dapat mengalahkannya, kau pasti mendapatkan peringkat yang lebih tinggi darinya, mungkin kau bisa menjadi Primera Espada." Nnoitora berseringai.
'Benar, apa yang dikatakan mereka benar, jika aku dapat mengalahkannya aku dapat menjadi yang terkuat. Tapi..' Nnoitora menatap Nel tertawa. 'Dia Nel, Nnoitora, selama ini hubungan kalian baik.'
"Lihat, ekspresi bahagianya saat dia mendapat peringkat lebih baik dari mu. Dia menertawakan mu."
"Berisik." Nnoitora sedikit berteriak, Nel langsung menoleh.
"Nnoitora, ayo ke sini." Nel memanggil Nnoitora, Nnoitora mengangkat kakinya mulai berjalan.
"Kau tidak akan menjadi kuat, jika selalu bersamanya." Setelah mengucapkan kalimat itu, Aaroniero segera bersonido ke kamarnya.
"Aku tidak menyangka mendapat peringkat 3." Nel tersenyum, entah kenapa perasaan kesal kembali menghantui Nnoitora.
"Selamat ya, Nel." Szayel memberi selamat.
"Terima kasih." Nel tersenyum, lalu dia melihat Nnoitora yang hanya terdiam. "Hei, kau kenapa?" Nel mendekatkan wajahnya ke wajah Nnoitora sambil tersenyum. Tiba-tiba dia kembali teringat perkataan Aaroniero.
"Menyingkir dari pandangan ku." Ucap Nnoitora ketus dan berjalan meninggalkan Nel dan Szayel yang terpaku mendengar perkataan Nnoitora.
"Hei, hei." Nel mengejar Nnoitora dan menahannya. "Kau kenapa? Aku dan Szayel ingin mengadakan perayaan karena kita masuk dalam jajaran Espada." Nel tetap tersneyum.
"Perayaan, huh? Kau sangat senang mendapat peringkat 3 itu? Baik, ku beritahu aku tidak suka kau berdiri di hadapan ku dengan status yang lebih kuat dari ku. Jadi, untuk apa aku ikut kedalam perayaan yang di dalamnya terdapat musuh ku." Nnoitora berseringai, Nel sangat terkejut mendengar ucapan Nnoitora.
"Apa kau bilang? Musuh?"
"Iya, kau adalah MUSUH KU. Aku sangat membenci mu, mulai besok dan seterusnya aku akan membuat mu turun dari posisi 3 mu itu." Nnoitora berbalik dan meninggalkan Nel.
"Nel." Szayel menghampiri Nel.
"Tidak apa, dia hanya sedang kesal. Aku yakin besok dia akan kembali seperti biasanya." Nel tetap tersenyum, walau Szayel mengerti di raut wajah Nel masih terdapat keterkejutan di sana. Nel segera bersonido ke kamarnya.
Setelah hari itu, Nel tetap menghampiri Nnoitora dan tersenyum seperti biasanya. Tapi, Nnoitora mengacuhkan Nel dan mengajaknya bertarung. Hal itu selalu berlanjut dari hari ke hari. Sampai Nel mengerti, bahwa mereka sudah tidak dapat bersama lagi.
"Nnoitora, gomen." Semenjak hari itu, Nel menjadi lebih dingin dari biasanya, tidak ada senyum yang biasa menghiasi wajahnya. Aizen tetap memberi misi untuk Nel dan Nnoitora, Nel tidak lagi tersenyum untuk Nnoitora, yang keluar dari mulut manisnya hanya perkataan yang semakin membuat Nnoitora membenci dirinya. Nel sendiri sekarang jauh lebih sering menghabiskan waktunya di kamar membaca buku kecilnya, tidak ada lagi berkunjung ke kamar Szayel dan tidak ada lagi suara tawa dari mereka bertiga yang menghiasi koridor menara 5.
End of Flashback.
"Baik, mari kita selesaikan smeuanya di sini." Nel meningkatkan reiatsunya dan berdiri tegap menatap Nnoitora. Dan detik berikutnya Nel menghilang. Nnoitora tidak dapat mengikuti gerakan Nel, reaksi yang dia lakukan selalu terlambat dengan serangan Nel. Tubuh Nnoitora mulai penuh luka. Nnoitora berdiri dan menjulurkan lidahnya, terlihat tato bernomor 5 di sana dan sinar gold mulai keluar dari ujung lidah itu. Ya, Nnoitora menembakkan cero ke arah Nel. Nel hanya berdiri dan mengangkat tangannya menahan cero itu, dan perlahan Nel menghisapnya.
"Tch..kemampuan yang menyebalkan." Nnoitora segera bersonido. Tapi, Nel mengetahui dimana Nnoiotra. Saat Nel selesai menghisap cero itu, dia mengayunkan pedangnya sehingga pasir bertebaran memenuhi area pertarungan Nel. Nnoitora mencoba menebak dari arah mana Nel akan menembakkan cero nya. Saat Nnoitora mencoba menebak-nebak, sebuah sinar merah mengarah ke dirinya. Tentu saja Nnoitora dapat menghindarinya saat Nnoitora baru berhenti sebuah cero sudah tepat di hadapannya.
BLAMMM
Suara dentuman pun terdengar keras.
"Taktik yang bagus, Nel." Puji Aizen.
"Terima kasih." Asap mulai menghilang dan tubuh Nnoitora tergeletak dengan penuh luka. "Apa pertarungan ini sudah selesai?" Tanya Nel kepada Aizen. Saat Aizen ingin menjawab, seluruh Espada yang ada di sana merasakan reiatsu Nnoitora meningkat.
"Jangan bercanda." Nnoitora berdiri, lalu mengangkat senjatanya. "Inore, Santa Teresa." Reiatsu berwarna gold menyelimuti Nnoitora. Nel berbalik menatap Nnoitora dan kembali bersiap.
Saat reiatsu itu menghilang, sosok Nnoitora muncul dengan 2 tangan kanan dan 2 tangan kiri lengkap dengan senjatanya yang sudah berubah menjadi seperti sabit.
"Pertarungan baru di mulai." Nnoitora berseringai dan berikutnya dia sudah menghilang dari tempatnya berdiri.
"Apa!" Nel terkejut melihat Nnoitora sudah berdiri di belakangnya. Nel segera berbalik dan menahan ke 4 pedang Nnoitora. Nel semakin terdesak dengan kekuatan Nnoitora yang meningkat pesat.
"Tch.." Nel mengangkat pedangnya, dan bersiap menendang perut Nnoitora tapi Nnoitora sudah tidak berdiri di tempatnya, melainkan dia sudah berdiri di belakang Nel, saat Nel berbalik Nnoitora memukul wajah Nel.
"Akh.." Nel menabrak salah satu reruntuhan menara. Nel berdiri dan menyentuh wajahnya. Diapun langsung bersonido ke hadapan Nnoitora. Saat dia berhenti Nnoitora sudah berdiri di hadapnnya dan mengayunkan pedangnya ke samping. Nel menghindar tapi pedang Nnoitora tetap menggores pipi Nel, darah mulai keluar dari luka itu.
Nel mulai menyerang Nnoitora, tapi kini serangannya selalu dapat dihentikan oleh Nnoitora. Saat Nnoitora menyerang yang dapat dilakukan Nel hanya bertahan.
"Sudah cukup." Nel berkata pelan dan meningkatkan reiatsunya. "Aku tidak pernah ingin bertarung dengan mu, Nnoitora. Tapi, kau tak dapat dihentikan." Nel mengangkat pedangnya dan menendang perut Nnoitora dan kali ini berhasil membuat Nnoitora mundur, Nel meningkatkan kecepatan sonidonya dan saat Nnoitora berdiri, Nel langsung memukul Nnoitora lagi, kali ini Nnoitora hanya mundur beberapa langkah dan Nnoitora langsung mengayunkan pedangnya dan melukai perut Nel.
Nel menatap seragam Arrancarnya yang putih polos kini menjadi warna merah. Akibat luka yang dibuat Nnoitora, gerakan Nel menjadi sedikit lambat. Hal ini sangat menguntungkan Nnoitora.
"Apakah Nel akan baik-baik saja?"
"Dia pasti baik-baik saja." Grimmjow bersuara dengan tangan terkepal dan menggertakkan giginya sehingga darah menetes dari mulutnya akibat gertakan yang terlalu kuat.
"Gunakan Resurreccion mu." Perintah Nnoitora.
"Tidak." Nel berdiri dan darah dari tubuhnya sudah tidak keluar. "Aku akan segera menyelesaikan pertarungan ini, bersiaplah." Nel bersonido dan mengacungkan pedangnya ke dada Nnoitora namun di tahan oleh pedangnya.
"Itu tidak akan cukup." Nel mengangkat pedangnya dan reiatsunya menjadi lebih besar dari sebelum-sebelumnya. Dan dengan ayunan cepat ke 4 pedang Nnoitora patah. Nel menggores perut Nnoitora.
"Kenapa kau begitu membenci ku, Nnoitora?" Nel bertanya.
"Kau selalu bertanya seperti itu, tapi kau tidak mengerti. Aku lebih kuat dari mu tapi kenapa kau bisa berada diatas ku!."
"Begitu." Nel tersenyum. Nnoitora terkejut melihat senyuman Nel yang tulus seperti saat mereka berdua bertemu.
'Aku sudah lama tidak melihat senyuman itu.'
"Apakah akan cukup jika kau membunuh ku?" Tanya Nel dengan senyum yang tetap menghiasi wajahnya. "Kau orang pertama yang aku kenal, kau orang pertama yang tertawa bersama ku, dan kau orang pertama yang ingin membunuh ku." Air mata Nel mulai menetes. Grimmjow dan semua orang yang ada di sana terkejut melihatnya termasuk Nnoitora.
"Sepertinya kau senang, Gin."
"Begitulah, lebih baik jika masalah mereka segera diselesaikan." Senyuman Gin makin lebar.
"Semua ini sudah cukup, Nnoitora. Aku lelah harus bertarung dengan mu." Nel mendekati Nnoitora. "Jika kau merasa puas hanya dengan membunuh ku, silahkan." Nel manatap Nnoitora. "Bagiku, kau sangat penting."
"HAHA..Jangan bercanda! Kau berbohong kan? Kau takut mati kan?" Nnoitora segera memunculkan pedang baru dan mengayunkannya
SRATTT..
Nnoitora menyayat bahu Nel, darah segar kembali keluar. Nnoitora terkejut melihat Nel yang tidak bergeming. Terlihat ekspresi kesakitan dari wajah Nel walau dia tidak mengerang.
'Apa yang kau tunggu, Nnoitora? Bunuh dia sekarang." Tangan Nnoitora bergerak, bersiap untuk membunuh Nel. Nel tersenyum.
'Apa yang dia lakukan, di saat seperti ini dia masih tersenyum?'
"Lepaskan aku, Ulquiorra." Grimmjow memberontak untuk ke arena pertempuran Nel.
"Jangan bodoh."
Sedikit lagi menyentuh kepalanya, Nnoitora kembali menyayat bahu Nel hingga ke perutnya.
"Jangan… membenci ku…lagi." Nel tersenyum lalu terjatuh.
"NELLLLL" Grimmjow berteriak. "LEPASKAN AKU." Tapi Ulquiorra tetap memegang lengannya.
"Latih tanding pertama selesai, Nnoitora menang. Latih tanding berikutnya Barragan melawan Yammy, segera bersiap." Ulquiorra segera melepaskan lengan Grimmjow dan Grimmjow langsung bersonido kearah Nel.
"Nel..Nel.." Grimmjow menggoyangkan tubuh Nel. "ONNA!." Orihime langsung di gendong Ulquiorra menghampiri Nel.
"Nel.." Orihime menatap Nel.
"Orihime, sembuhkan Nel di kamarnya."
"Baik." Grimmjow langsung menggendong Nel lalu dia melihat ekspresi Nnoitora.
"Setelah dia sembuh, aku akan membunuh mu." Ucap Grimmjow. Mereka ber 4 segera menuju kamar Nel.
'Aku menang?' Nnoitora sudah kembali seperti biasa, dia menatap tangannya yang terkena cipratan darah Nel. 'Harusnya aku senang. Aku menang dari Nel. Tapi, kenapa aku seperti merasa hampa.'
"Nnoitora kembalilah ke kamarmu, untuk beristirahat." Perintah Aizen. Nnoitora segera berjalan.
'Akh, sial aku tidak mengerti.' Nnoitora berbalik menatap rambut hijau toska milik Nel berkibar yang semakin jauh dari pandangannya. 'Nel.'
Di kamar Nel.
Grimmjow langsung membaringkan Nel di sana.
"Onna." Orihime langsung mendekat.
"Sōten Kisshun." Kedua peri Orihime mulai menyelimuti tubuh Nel dengan aura berwarna Oranye. Ulquiorra duduk di sofa seperti biasa, sedangkan Grimmjow, duduk di tepi ranjang menatap Nel. Luka Nel perlahan menutup, tapi penutupan lukanya lumayan lama.
Setelah 30 menit semua luka Nel tertutup, hanya saja Nel belum sadar.
"Lukanya sudah menutup hanya tinggal menunggu Nel bangun." Ucap Orihime.
"Aku mengerti, kalian pergilah." Ulquiorra dan Orihime berjalan ke luar. Ulquiorra mendekati Orihime dan menyentuh pinggangnya.
"Ulquiorra, kita berjalan saja ya?" Pinta Orihime.
"Baiklah." Ulquiorra mulai berjalan di depan Orihime.
"Aku berpikir, apakah aku dapat bertarung dengan teman-teman ku?"
"Kau harus, itu konsekuensi dari kekuatan yang telah kau dapat dari Aizen-sama."
"Kau benar, apakah kau juga dapat membunuh Halibel?" Orihime terkejut.
'Kenapa aku mengatakan hal itu?' Ulquiorra langsung berhenti.
"Kenapa kau selalu, mebawa-bawa nama Halibel?"
"Ti-tidak, aku hanya salah bicara." Orihime pura-pura tersenyum dan langsung melangkah. Tapi, tangan Ulquiorra menariknya mendekat. Ulquiorra menundukkan kepalanya.
'Deg..deg..deg..' Jarak wajah mereka sangat dekat begitupula bibir mereka.
"Jangan selalu membandingkan segala sesuatu dengan aku dan Halibel, itu tidak ada hubungannya dengan mu." Ulquiorra langsung menyentuh pinggang Orihime dan menggendongnya.
'Astaga…' Orihime memegang dadanya yang berdegup kencang. 'Kalau begini terus tidak baik bagi jantung ku.' Wajah Orihime masih memerah dan degup jantungnya tetap tidak beraturan. 'Ayolah, tenang.' Orihime membatin.
Saat Orihime dan Ulquiorra tiba, pertarungan Barragan dan Yammy sudah di mulai.
"Kekuatan seperti mu, tidak akan dapat melawan ku."
"Hee..lihat saja nanti, kakek." Yammy ingin memukul Barragan, tapi pukulan itu dapat dihindari dan malah sebaliknya Barragan hendak memukul Yammy. Dan Yammy terkena telak pukulan itu sehingga dia terlempar jauh.
"Lihat, kau tidak akan bisa membunuh ku, ataupun melukai ku." Barragan mengeluarkan pedangnya dan mengayunkannya menuju Yammy. Yammy yang mengetahui kemampuan pedang Barragan segera bersonido. Dan benar saja, pedang barragan mampu membelah apapun, karena yammy sudah tidak berdiri di sana pedang itu hanya terlihat seperti membelah posir.
"Kabur, huh?" Yammy berdiri di belakang Barragan dan bersiap memukulnya. Namun, langsung di tahan oleh pedang Barragan. Barragan mengangkat pedangnya dan mengayunkannya ke samping. Namun, Yammy langsung menghindar, saat dia ingin menendang Barragan, Barragan hanya menghindar sedikit. Dan dengan satu pukulan dari Barragan, Yammy kembali terjatuh.
"LILYNETTE!" Ggio masih berteriak-teriak di dalam Las Noches mencari Lilynette. "Tch.. anak itu, diapasti bersembunyi." Ggio mulai mengucek matanya. "Gara-gara dia, aku tidak tidur semalam." Ggio memejamkan matanya, mencoba melacak reiatsu Lilynette.
"Hihihi..Ggio pasti tidak tahu aku bersembunyi di sini." Lilynette tertawa di dalam sebuah ruangan gelap. Lilynette mencoba memainkan pedang Ggio, lalu dia mengeluarkan pedang Ggio dari sarungnya.
"Kenapa ada warna merah disini?" Lilynette mendekatkan pedang itu ke indera penciumannya. "Baunya seperti darah, darah siapa ini?" Tanya Lilynette.
'Dia kira, aku bodoh.' Ggio menatap pintu besar yang biasa di kenal sebagai kamar Loly dan Menoly yang sudah tidak dipakai lagi oleh Aizen. Ggio membuka pintu kamar itu. 'Ruangan ini sungguh gelap.' Ggio mengedarkan pandangannya mencoba mencari keberadaan Lilynette. Tapi, tidak dia temukan. 'Dimana dia?' Lalu, Ggio teringat sesuatu.
"Hei Ggio, kau tau di kamar Loly dan Menoly itu ada terowongan rahasia loh."
Ggio langsung tersenyum mengingat perkataan Lilynette saat dia sedang setengah tertidur itu. Ggio mulai meraba-raba tembok, dan saat dia merasakan angin dari celah-celah tembok, dia mendorongnya.
'Wow, dua Arrancar ini canggih juga.' Ggio berjalan menyususri lorong panjang itu dan berhenti di sebuah ruangan besar, yang dulu pernah mereka gunakan untuk menyandera Orihime. Ggio mendorong pintu itu perlahan. Ggio pun masuk ke ruangan tersebut.
'Disitu dia rupanya.' Ggio menatap Lilynette yang sedang berkonsentrasi dengan pedangnya. Ggio berseringai.
"LILYNETTE!" Ggio berteriak tepat di telinga Lilynette.
"GGIO!." Lilynette balas berteriak karena kaget. Lilynette hendak berlari tapi bajunya segera di tarik Ggio.
"Sudah cukup main-mainnya. Kembalikan pedang ku." Ggio mengulurkan tangannya.
"Huh, iya iya, ini." Ggio mengambilnya. "Lepaskan aku." Ggio melepaskannya.
"Hei Ggio, ada darah di pedangmu, kenapa tak kau bersihkan?" Tanya Lilynette seraya mereka berdua berjalan ke luar.
"Ini tanda kenang-kenangan darinya." Jawab Ggio dengan senyumnya.
"Darinya?" Tanya Lilynette bingung.
"Anak kecil seperti mu tidak boleh tau." Lilynette langsung mendelik kearah Ggio.
"Jadi menurut mu, kau sudah besar?"
"Tentu saja."
"PERHATIKAN DULU BENTUK TUBUH MU!." Lilynette sengaja meninggikan volume suaranya.
"Apa maksud mu?" Ggio menatap tajam Lilynette.
"Tubuh pendek seperti mu, belum pantas disebut besar." Lilynette tersenyum mengejek.
"Kau.." Ggio hendak memukul Lilynette, tapi Lilynette sudah bersonido sambil berteriak.
"STARK!"
"Tch.. dasar." Ggio memngeluarkan pedangnya. "Dasar tidak sopan membuka barang orang lain." Ggio melihat warna merah di sana. "Tentu saja ini darahnya." Ggio tersenyum. 'Soifon.' Ggio langsung pergi ke kamarnya.
"Kau sudah kembali, Yoruichi-san?" Yoruichi memasuki sebuah toko dan di sambut oleh seorang pria bertopi dan bersandal bakiak.
"Iya, aku sudah mengatakannya dengan, Soutaicho." Yoruichi duduk.
"Apa jawabnya?"
"Tentu saja, dia setuju." Pria bertopi itu menatap yoruichi.
"Ada apa dengan mu?" Yoruichi menatap pria bertopi itu.
"Tidak, apa-apa, aku lelah." Yoruichi merubah tubuhnya kembali menjadi kucing, dan tertidur pulas. Pria bertopi itu langsung menggendong kucing itu dan meletakkannya di pangkuannya.
"Kita akan menang kan, Kisuke?'" Gumam Yoruichi.
"Iya, tentu saja." Pria yang bernama Urahara Kisuke itu menatap Yoruichi dan mengelus bulu-bulu hitam itu.
"Urahara-dono." Seorang laki-laki berkacamata mengahmpiri Urahara.
"Segera lakukan persiapan dan selesaikan penelitian itu sebelum waktunya tiba."
"Baik." Pintu pun kembali tertutup.
"Tentu saja, kita pasti menang." Tatapan Urahara menjadi serius.
Saat Yammy berusaha bangkit, Barragan sudah mengayunkan pedangnya sehingga memotong lengannya.
"Akhhhh…"
"HAHA…sungguh tidak menyenangkan bertarung dengan mu." Barragan segera bersonido ke belakang Yammy dan mengacungkan pedangnya tepat di lehernya.
"Cepat menyerah, atau kepala mu yang akan terpisah dari tubuh mu."
"Sialan!." Yammy berteriak. "Aku menyerah."
"Ara, tidak kusangka pertarungan mereka akan begitu membosankan." Gin bersuara. "Latih tanding yang kedua selesai, pemenangnya Barragan."
"Kalian semua kembalilah ke kamar kalian masing-masing, untuk hari ini cukup."
"Baik." Semua orang yang ada di sana segera menuju kamar mereka masing-masing.
"Ulquiorra, jenguk Nel dulu, mau tidak?" Tanya Orihime.
"Sudah malam, kau harus istirahat."
"Tapi.."
"Ini perintah."
"Uhhh." Orihime sangat kesal jika Ulquiorra sudah mengeluarkan kata-kata 'perintah'.
Di kamar Nel.
Nel masih belum sadar juga dari tidurnya.
"Nel.." Grimmjow membelai rambut Nel. Tiba-tiba air mata Nel keluar. Grimmjow menghapusnya. Lalu Grimmjow mendekatkan bibirnya ke telinga Nel.
"Nel, jangan menangis, aku di sini." Grimmjow berbisik di telinga Nel.
"Grimmjow." Nel mengigau.
"Aku di sini Nel." Ulang Grimmjow sekali lagi. Lalu, Nel tersenyum.
To Be Continued…
A/N : maaf yah kalo adegan batle yammy n Barragan terlalu pendek..
Maaf juga kalo mengecewakan..
Aqu punya quiz…
Coba tebak.. siapa yang akan jadi lawan tandingnya Orihime?
Yang betul.. aqu kasih sesuatu..^^
Okeh
Review plis…..
