Control
By: pingmoo
Warning: BOYS LOVE. BOYXBOY. YAOI. TYPO.
Pairing: ChanBaek, HunHan, KaiSoo.
.
.
.
.
-Chapter 10-
Baekhyun menyambut tangan milik pemuda yang baru saja ditemuinya itu tanpa satu rasa curiga apapun. Namun saat tangan kanannya bertemu dengan tangan kanan pemuda itu, dirasakannya tangannya seperti tersengat sesuatu yang membuatnya menghentakkan tangannya kaget. Didongakkannya kepalanya, mata sayunya menatap bingung wajah pemuda depannya kemudian ke tangannya, lalu ke sosok di depannya lagi. Pemuda itu, Kim Taewoo, hanya tersenyum kecil menatapnya dengan raut wajah tak bersalah.
Nampak terlihat ada jarum kecil yang mencuat di cincin yang dikenakannya.
"Apa..." Baekhyun tidak dapat menyelesaikan perkataannya. Lidahnya terasa begitu kelu dan sulit digerakkan.
Dan hal terakhir yang Baekhyun ingat adalah sekeliling dunianya menjadi gelap. Kepalanya mendadak terasa sangat berat dan matanya seolah terputar ke belakang. Matanya pun terkatup tak sanggup menahan rasa kantuk sangat yang tiba-tiba menyerangnya. Baekhyun pun seolah kehilangan kuasa akan tubuhnya dan langsung jatuh. Baekhyun nyaris ambruk ke tanah kalau saja tidak ditangkap dengan sigap oleh pemuda itu. Senyum kemenangan tersungging jelas di bibirnya. Dibetulkannya posisi Baekhyun dan disandarkannya kepala Baekhyun ke pundaknya agar tidak nampak oleh orang-orang yang berada di taman bahwa Baekhyun telah kehilangan kesadarannya. Walaupun taman itu cukup sepi dan hanya ada beberapa anak-anak yang sedang bermain, namun akan lebih baik jika dia berjaga-jaga. Tangannya kemudian sibuk meraba saku-saku pakaian yang dikenakan oleh Baekhyun, dan dia menemukan ponsel miliknya di saku celana milik Baekhyun.
"Aku sungguh tidak menyangka akan seberuntung ini." Ujarnya pelan sambil memegang ponsel itu.
"Bisa kau bayangkan aku hanya sedang berjalan-jalan untuk menghilangkan rasa penatku," Taewoo terkekeh pelan.
"Dan peliharaan kesayangan Park Chanyeol berada di depan mataku tanpa satu bodyguard pun." Lanjutnya. Dibelainya pipi Baekhyun pelan.
"Well, ternyata Tuhan masih memihakku."
Dijatuhkannya ponsel itu ke tanah dan diinjaknya sampai hancur. Puas melihat ponsel itu hancur berserakan di tanah, diangkatnya tubuh Baekhyun ala bridal style, dan dibawanya menuju mobil yang diparkir tak jauh dari situ. Senyum kemenangan masih terukir di wajah tampannya itu.
Namun baru beberapa langkah Taewoo melangkah, sebuah tangan menepuk pelan pundaknya.
Taewoo menoleh siaga dan mendapati seorang pemuda manis tersenyum padanya dengan mata berbinar.
"Permisi, kak. Nampaknya aku tersesat bisa bantu aku menemukan alamat ini?" Tanya pemuda itu dengan raut wajah kebingungan.
"Maaf aku sedang buru-buru." Jawab Taewoo kesal. Dia harus segera bergegas pergi dari tempat ini sebelum anak buah Park Chanyeol menyusulnya. Mengingat yang sekarang berada dipelukannya adalah kekasih pemimpin Exordium itu sendiri, pasti sekarang boss besar itu sedang mengerahkan semua anak buahnya untuk menjemputnya kembali.
"Temanmu sakit?" Tanya pemuda itu. Menunjuk sosok Baekhyun yang nampak tertidur di pelukan Taewoo.
"Ya, aku buru-buru. Permi—" Belum sempat Taewoo menyelesaikan perkataanya sebuah hantaman mendarat leher belakangnya dan di lutut belakang kanannya membuatnya goyah sedikit. Gendongannya pada Baekhyun melonggar, belum sempat dia kembali pada posisi siaga, satu pukulan telak melayang ke pipi kanannya, menghantamnya tanpa ampun. Sejenak Taewoo nampak terdiam namun posisinya tak berubah banyak hanya goyah sedikit. Pemuda manis di depannya kesal melihat hal ini, tak tanggung langsung menyerang tulang keringnya dengan sebuah tendangan namun dengan sigap dihindari oleh Taewoo.
Genggamannya pada Baekhyun mengerat dan tanpa aba-aba pula satu tendangan dilayangkannya pada pemuda manis yang menyerangnya tadi dan pemuda itu langsung jatuh tersungkur ke tanah.
"Akh!"
"Luhan!" Teriak pemuda yang menyerang Taewoo dari belakang. Panik terdengar jelas dari suaranya melihat pemuda itu tersungkur di atas tanah. Taewoo berbalik cepat dan dilayangkannya tendangan pada pemuda itu juga, namun pemuda itu cukup sigap dan dapat menghindari serangan itu.
"Sehun! Awas!"
Luhan bangkit dari tanah dan langsung mengeluarkan baton miliknya, menyerang betis milik Taewoo namun Taewoo menghindari serangan itu dengan kakinya. Sehun memakai kesempatan ini untuk menyerang pinggang Taewo namun lagi-lagi dia dapat menghindar dari serangan tersebut. Kedua anggota FBI itu makin tak sabar dan nampak lebih gencar melancarkan serangan kepada Taewoo.
"Tidakkah ini nampak tak adil bagimu? Kedua tanganku jelas sedang sibuk dan kalian berdua menyerangku." Taewoo menggeleng-gelengkan kepalanya dan mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak dari Luhan dan Sehun yang sudah berdiri bersampingan dan siap menyerang Taewoo kembali dengan baton di tangan mereka masing-masing.
"Namun sesuai harapan, anak buah Park Chanyeol sama saja dengan bossnya." Ledek Taewoo.
"Jaga ucapanmu. Dibayar sebanyak apa pun kami tidak akan sudi untuk bekerja di bawah manusia bajingan seperti itu." Hardik Luhan emosi sambil mengacungkan baton miliknya ke arah Taewoo.
"Kalian bukan anak buah Chanyeol?" Taewoo memiringkan kepalanya bingung, seolah mengejek kedua pemuda di depannya. Dan kemudian dia mengambil kesimpulan, "Ahh—FBI?"
Kedua pemuda itu diam, tak menampik apa pun. Namun aksi diam mereka sudah lebih dari sebuah jawaban bagi Taewoo.
"Rupanya kita berada di posisi yang sama. Kalian juga mengincar pemuda ini bukan?" Dagu Taewoo menunjuk sosok Baekhyun yang masih terlelap dalam tidurnya akibat pengaruh obat bius yang disuntikkan Taewoo tadi.
"Mungkin kita bisa bekerja sama untuk menghancurkan Park Chanyeol? Kita berada di perahu yang sama. Apa salahnya kita berlayar bersama mencapai tujuan kita?" Taewoo menawarkan kerja samanya.
"Jangan samakan kami dengan dirimu. Tujuan kami hanya membebaskan pemuda itu dari belenggu Park Chanyeol dan membongkar sindikat organisasi gelap milik Park Chanyeol yang dia sembunyikan dibalik bisnis milyaran won miliknya. Begitu organisasi Park rata dengan tanah maka selanjutnya adalah giliranmu!" Bentak Sehun. Dia tak sudi disamakan dengan Taewoo terlebih lagi disamakan dengan Park Chanyeol.
Sosok Taewoo tak ada bedanya dengan sosok Park Chanyeol. Mereka berdua sama-sama menyembunyikan bisnis illegal mereka dibalik sosok pebisnis dengan asset milyaran won. Dan bisnis illegal yang mereka keluti sama. Obat-obatan terlarang. Bukan rahasia lagi di dunia mereka bahwa saingan terbesar organisasi Exordium milik Park Chanyeol adalah organisasi Exact milik Taewoo. Mereka berusaha menjatuhkan satu sama lain agar bisa memonopoli pasar di Korea. Bedanya jika Chanyeol menguasai pasar Asia maka Taewoo menguasai pasar di Eropa.
"Kami tidak ada waktu. Serahkan Baekhyun pada kami!" Perintah Luhan sambil mengacungkan batonnya. Taewoo hanya memutar bola matanya melihat hal ini.
"Please! Kau pikir aku akan menyerahkan anak ini begitu saja karena kau memintanya? Naif sungguh tidak mengerti kenapa FBI memperkerjakan anak baru puber sepertimu." Ujar Taewoo meremehkan Luhan, matanya menatap Luhan naik turun dengan pandangan merendahkan.
Mata Luhan berkilat marah. Sungguh dia sangat kesal jika pihak lawan memandangnya sebelah mata hanya karena penampilannya. Wajahnya itu merupakan anugrah dan kutukan secara bersamaan. Dapat digunakan untuk memperdaya lawan namun tak jarang juga wajahnya membuat lawan memandangnya sebelah mata.
Jika situasinya tidak seserius ini, mungkin Sehun sudah terbahak dari tadi. Beruntung dia dilahirkan dengan poker face, hingga dia bisa menahan tawanya. Satu kikikan lolos maka bisa jadi dia yang jadi korban amukan baton milik Luhan. Dia begitu tahu bahwa kekasihnya itu sangat benci diperlakukan seperti ini, dan berapa banyak musuh mereka yang harus mendapatakan perawatan insentif setelah diamuk Luhan. Sehun pun pernah merasakan hajaran baton milik Luhan karena meremehkannya di masa lalu. Hal yang tidak akan dia ulang lagi.
"Kau akan menarik kata-katamu itu!" Luhan pun langsung menerjang ke arah Taewoo tanpa ampun. Baru saja dia akan menghantam lengan milik Taewoo, dengan liciknya Taewoo menggunakan Baekhyun yang sedang pingsan itu sebagai tameng. Terkejut dengan situasi ini, Luhan mendadak menghentikan ayunannya, khawatir dirinya akan menyakiti Baekhyun. Taewoo yang menunggu kesempatan ini langsung menyerang Luhan dan langsung Luhan pun langsung disambut dengan tendangan Taewoo tepat di dadanya.
"Ugh!" Luhan terjungkal beberapa langkah ke belakang.
"Luhan!" Teriak Sehun murka. Tindakan Taewoo sungguh sangat pengecut, membuat amarah Sehun memuncak. Menggunakan warga sipil tak berdosa sebagai tameng, betult-betul tindakan yang sangat tercela.
"Berkelahilah sebagai seorang lelaki! Pengecut!" Maki Sehun.
"Heh, jika aku berkelahi mengikuti norma kau pikir aku akan sampai di titik ini?" Dengus Taewoo.
Taewoo mulai kesal dengan kedua FBI ini. Entah darimana mereka tiba-tiba muncul dan menyerang dirinya. Nampaknya kekasih Park Chanyeol ini bukan hanya dibuntuti oleh bodyguard milik Park Chanyeol tetapi juga oleh FBI. Sepertinya FBI benar-benar ingin menjatuhkan organisasi milik Park Chanyeol dengan cara apapun termasuk dengan melibatkan kekasihnya.
Taewoo tidak bisa berlama-lama lagi di tempat ini. Sialnya karena dia hanya datang sendiri di sini dan tidak membawa anak buahnya. Sesaat dia lengah karena fokus berusaha mencari celah untuk keluar dari kepungan Sehun dan Luhan, kesempatan ini dimanfaatkan oleh Luhan.
Luhan semakin tak sabaran ingin menghajar habis pemuda ini dan mengayunkan batonnya tepat di wajah Taewoo. Genggaman tangan Taewoo pada Baekhyun melonggar dan dia pun menjatuhkan Baekhyun ke tanah. Peluang ini dimanfaatkan oleh Luhan yang kemudian menyerang Taewoo semakin bertubi-tubi, berusaha menjauhkan Taewoo dari tubuh Baekhyun yang sudah tergolek di tanah sementara Sehun mengecek keadaan Baekhyun.
Wajah Taewoo nampak sangat berang. Dia tidak menyangka akan merasa terdesak seperti ini. Oleh seorang pemuda yang nampak baru mengalami pubertas pula.
Mendadak sebuah peluru sukses menembus lengan kanannya. Taewoo mendongak dan dilihatnya Kim Jongin tengah mengarahkan pistol ke arahnya.
"Fuck!" Maki Taewoo.
"Yeah, fuck! Kau mati malam ini Kasper!" Jongin kembali mengadahkan pistolnya ke arah Taewoo.
Luhan dan Sehun mendadak panik karena mereka tidak menyangka secepat ini anak buah Park Chanyeol akan tiba. Sehun sedang berpikir apakah dia akan kabur membawa Baekhyun yang sekarang sudah berada dalam dekapannya sementara anak buah Chanyeol sibuk dengan Taewoo.
Namun pikiran itu sirna ketika dia melihat Park Chanyeol tiba dan berjalan ke arah mereka. Matanya terlihat bisa membenamkanmu enam kaki di bawah tanah kapan saja. Pria itu sedang murka karena kesayangannya diusik.
Taewoo yang sudah merasa sangat terdesak mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Bom asap.
Mata Luhan menangkap pergerakan tangan Taewoo namun terlambat. Dilemparkannya bom asap itu ke arah Luhan dan begitu menyentuh tanah asap mengepul dari bom itu dan mengaburkan pandangannya.
Luhan terbatuk-batuk dan mencoba menjauhi sumber asap tersebut. Ketika asap itu mereda, Taewoo sudah hilang bersama angin. Untungnya Baekhyun sudah berada di dalam dekapan Sehun.
"Pengecut itu! Selalu menggunakan trik murahan seperti ini!" Jongin berdecak kesal. Pelurunya baru diloloskan satu dan hanya bersarang di lengan Taewoo bukannya melubangi kepalanya.
Sehun mendekati Luhan dengan wajah khawatir sementara Luhan masih terbatuk kecil. "Kau tak apa-apa?" tanya Sehun cemas.
"Ya, hanya bom asap biasa." Jawab Luhan.
Terdengar suara dehaman yang membuat Sehun dan Luhan menoleh.
"Bisa serahkan Baekhyun kembali padaku?" Chanyeol menunjuk sosok Baekhyun yang berada dalam dekapan Baekhyun.
"Kami memiliki kewajiban untuk melindungi warga sipil, Park." Sehun mengeratkan genggamannya pada tubuh Baekhyun.
"Dan aku tidak segan-segan melubangi kepala FBI yang selalu ikut campur." Ancam Park Chanyeol.
"Aku beri kesempatan serahkan Baekhyun padaku semenit ke depan dan kalian akan kuizinkan pergi dari tempat ini utuh. Kau tahu aku masih dendam padamu karena sudah menghancurkan pasar obat-obatanku di cina, Wu Shixun atau perlu kusebut Oh Sehun?"
"Namun mengingat karena interfensi dirimu dan temanmu hari ini Baekhyun bisa selamat dari cengkraman manusia terkutuk itu, aku akan melupakan sejenak perbuatanmu." Chanyeol mengulurkan tangannya seolah meminta Baekhyun dikembalikan padanya saat itu juga.
Sehun terlihat tidak rela menyerahkan Baekhyun. Dia bukan bertarung mati-matian tadi untuk membebaskan Baekhyun dari genggaman Kim Taewoo, hanya untuk diserahkan kembali ke tangan Park Chanyeol.
"Aku hitung sampai tiga..."
"Satu..."
"Sehun, serahkan Baekhyun padanya." Ujar Luhan. Sehun hanya menatap Luhan tak percaya.
"Dilihat dari segi mana pun kita kalah jumlah. Akan lebih baik kita mundur sekarang daripada kita ngotot mempertahankan Baekhyun untuk... 3 detik? Kemudian seluruh anak buahnya menembaki kita?" Luhan menjelaskan kondisinya pada Sehun.
"Pintar. Dengarkan temanmu itu. Serahkan Baekhyun padaku sekarang juga."
Sehun masih terlihat sangat tidak rela.
"Dua."
"Sehun!" Desis Luhan.
Mengemeretakkan giginya kemudian berjalan ke arah Chanyeol dan menyerahkan Baekhyun ke tangan Chanyeol yang sudah menunggu dari tadi. Sehun memandang kesal namun heran dengan pemandangan di depan matanya. Raut wajah Park Chanyeol terlihat begitu khawatir akan keadaan pemuda yang terlelap didekapannya itu. Boss Exordium yang terkenal berhati dingin itu benarkah menaruh rasa pada Baekhyun sampai berbuat sejauh ini?
Luhan menarik tangan Sehun untuk segera mundur dari tempat itu sebelum Chanyeol mengubah pikirannya. Sebab siapa yang tahu berapa lama kemurahan hati seorang Park Chanyeol akan bertahan.
"Sehun, kita pergi." Perintah Luhan.
Dengan berat hati Sehun pergi dari tempat itu. Padahal dia pikir kemenangan sudah di depan matanya. Tapi tidak hari ini.
Sehun dan Luhan beranjak pergi di tempat itu, namun mata Sehun tak bisa lepas dari sosok punggung Chanyeol yang menggendong Baekhyun berjalan menuju mobilnya dikelilingi para bodyguardnya.
.
.
Shindong berlutut di tanah sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasa sebentar lagi dia akan menemui ajalnya. Pandangan tangan kanan bossnya, Kim Jongin terasa begitu menusuk dan dia bisa merasakan sebentar lagi kepalanya akan meledak seperti anak buah Exordium lainnya yang tak dapat menjalankan tugas mereka dengan baik. Terdapat pula 10 orang lain yang juga turut berlutut di hadapan Kim Jongin.
"Tugas kalian hanya satu," ucap Jongin dengan nada pelan namun penuh amarah.
Shindong menundukkan kepalanya dalam-dalam tak berani menatap mata mengerikan milik tangan kanan bossnya itu.
"Yaitu memastikan Baekhyun baik-baik saja." Sambungnya.
"Bagaimana bisa tim kalian yang terdiri dari 15 orang bisa sampai kehilangan jejak Baekhyun? Kalian bahkan lebih parah dari amatir!" Hardik Jongin lagi.
"Kalian harusnya bersyukur bahwa Baekhyun baik-baik saja. Jika terjadi apa-apa dengannya sekarang ini kalian sudah terkubur 6 kaki di bawah tanah!" Sambung Jongin.
"Hukuman apa yang pantas aku beri—"
"Kami tahu kami bersalah! Berikan kami kesempatan sekali lagi!" Teriak salah satu anak buah di samping Shindong, menyela perkataan Jongin dengan lancangnya.
Suasana mendadak terasa lebih dingin dari sebelumnya. Dan semuanya terjadi begitu cepat.
"Lancang."
Begitu Shindong sadari pipinya telah berlumuran darah yang bermuncratan dari kepala anak buah di sampingnya. Satu tembakan lolos dari pistol milik Jongin memecahkan kepala anak buah itu tanpa ampun. Detik berikutnya tubuh itu langsung jatuh ke lantai. Tak ada seorang pun yang berani berbicara. Tangan Shindong bergetar di atas pahanya.
"Apa masih ada yang ingin menyela perkataanku?" Tanya Jongin tenang. Tidak ada satu pun yang berani bersuara. Semuanya menundukkan kepala mereka dan hanya berani memandang tanah.
"Bukan hanya tidak kompeten tapi nampaknya kalian juga tidak memiliki tata krama." Suara milik Jongin bergema di suara itu. Hanya suara ketukan sepatu miliknya yang bergema ketika ia berjalan mengitari para anak buah yang sedang bersimpuh itu seolah sedang menginspeksi mereka.
"Aku sedang bermurah hati maka akan kuberikan kesempatan sekali lagi," Jongin mengedarkan pandangannya menatap anak buahnya yang masih bersimpuh menatap lantai yang mulai tergenang oleh darah rekan kerja mereka yang baru saja dihabisi Jongin.
"Dan kali ini tidak boleh ada kegagalan. Bereskan itu dan kembali ke posisi kalian masing-masing." Sambung Jongin kemudian keluar dari ruangan tersebut.
Tangannya merogoh saku jas yang dikenakannya untuk meraih ponselnya. Ditekannya angka 1 dan ponselnya otomatis menghubungi ponsel milik Chanyeol. Chanyeol mengangkat ponselnya setelah nada sambung ketiga.
"Bagaimana keadaan Baekhyun?" Tanya Jongin khawatir.
"Dia baik-baik saja. Kata dokter dia akan sadar setelah obat bius itu bersih dari sistem tubuhnya."
"Syukurlah. Setelah ini apa yang akan kau lakukan?" Jongin bertanya lagi.
"Aku akan memastikan Kasper rata dengan tanah." Balas Chanyeol dingin.
"Jangan lupa untuk melibatkanku." Senyum Jongin. Dia sudah bisa membayangkan dirinya melubangi kepala milik Kasper yang bernama asli Kim Taewoo itu.
"Kapan aku pernah tidak melibatkanmu?"
Dan setelah itu sambungan telepon itu ditutup sebelah pihak oleh Chanyeol.
Jongin memutar matanya lalu menatap layar ponselnya dan menekan angka 2, menghubungi Kyungsoo, kekasihnya yang juga sedang menunggu kabar dari Jongin mengenai Baekhyun.
"Jongin? Kalian sudah menemukan Baekhyun?" Kyungsoo langsung bertanya pada Jongin dengan nada cemas.
"Ya, kami sudah menemukannya. Dia baik-baik saja jangan cemas." Jongin berusaha menenangkan kekasihnya.
"Aku merasa bersalah. Kalau saja aku tidak memberitahukan perihal wawancara kerja yang akan dilakukannya pada Boss, mungkin saat ini Baekhyun sedang membuatku kesal dengan kegembiraannya karena tidak menjadi asisten pribadiku lagi." Suara Kyungsoo terdengar begitu bersalah. Siapa sangka dulu awalnya dia tidak menyukai sosok Baekhyun yang dianggapnya sangat berisik. Tapi lama kelamaan dia mulai terbiasa dengan sosok berisik itu dan timbul rasa peduli pada Baekhyun.
"Walaupun kau tidak melaporkannya, Boss pasti akan tahu cepat atau lambat karena alat penyadap yang diinstall Boss di ponsel milik Baekhyun, Kyungsoo. Tidak usah menyalahkan dirimu sendiri." Jongin berusaha menenangkan kekasihnya.
"Tapi tetap saja. Jika dia sukses di interview itu dia tidak akan kabur seperti ini."
"Kyungsoo, bukan salahmu. Oke?"
"Jongin, malam ini bisakah kau datang?" Tanya Kyungsoo pelan.
Jongin terdiam sejenak. Tentu malam ini tidak akan ada jadwal meeting atau apapun itu mengingat Park Chanyeol tidak akan mau berpisah untuk sementara dari Baekhyun. "Aku akan datang, Kyungsoo."
"Jam berapa jadwalmu selesai malam ini?"
"Jemput aku di SBS TV pukul 11 malam."
"Siap."
Jongin tersenyum menampilkan seluruh giginya. Dia akan menenangkan kekasihnya malam ini. Akhir malam ini tidak seburuk dugaannya.
.
.
Ketika Baekhyun tersadar, dia mengerang pelan mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa begitu lemas. Kelopak matanya terasa begitu berat dan kerongkongannya terasa begitu kering. Samar-samar Baekhyun bisa merasakan kasur di sampingnya bergerak seolah menahan beban sosok yang sedang mengungkungnya dari atas. Pelan namun pasti Baekhyun membuka kelopak matanya dan melihat sosok Chanyeol berada di atasnya.
"Kau sudah sadar?" Tanya Chanyeol lembut. Bibir tebal miliknya mengecup pelan dahi Baekhyun.
"Mmm..?"
"Chan..yeol?" Suara Baekhyun terdengar serak.
"Ya, ini aku." Bibir Chanyeol turun dari kening Baekhyun mengecup pelan kelopak mata Baekhyun, turun perlahan ke ujung hidungnya, pindah ke pipinya dan perlahan menyeret bibirnya ke bibir tipis milik Baekhyun. Dilumat pelan bibir itu dan Baekhyun yang masih setengah sadar ikut melumat bibir tebal milik Chanyeol. Tanpa sadar Baekhyun mengalungkan kedua lengannya di leher Chanyeol yang kemudian semakin memperdalam ciuman miliknya. Baekhyun merintih pelan ketika dia merasakan lidah Chanyeol menyusup masuk dan bermain dengan lidahnya
"Mmhh..." Baekhyun mengerang kecil menikmati ciuman Chanyeol. Chanyeol menghentikan ciumannya ketika dirasanya pasokan udara mereka semakin menipis. Baekhyun mengeluarkan suara protes seolah tidak rela sesi ciuman mereka berakhir begitu saja. Chanyeol terkekeh pelan kemudian mengecup bibir yang sudah memerah itu sekali lagi. Kecupan itu kembali berubah menjadi lumatan dan Baekhyun dengan senang hati menerima kembali lidah Chanyeol di mulutnya.
Ciuman itu kembali terputus untuk kedua kalinya.
"Bagaimana perasaanmu?" Chanyeol bertanya sambil membelai pipi Baekhyun. Mata Baekhyun tertutup setengah, jelas terlihat dia masih berada dalam pengaruh obat bius.
"Kepalaku terasa berat." Jawab Baekhyun seadanya.
"Kau mau tidur lagi?" Tanya Chanyeol.
"Aku haus." Kata Baekhyun pelan.
"Sebentar akan kuambilkan air." Chanyeol bangkit turun dari tempat tidur dan bergegas keluar kamar. Tak lama dia kembali membawa sebotol air mineral untuk Baekhyun namun didengarnya suara dengkuran halus yang berasal dari sosok Baekhyun.
Chanyeol menghembuskan napas pelan. Diletakkannya botol air mineral itu di atas laci samping tempat tidurnya. Dibetulkannya selimut Baekhyun lalu dikecupnya lagi bibir Baekhyun.
"Tidur yang nyenyak, Baekhyun."
Chanyeol pun kemudian membuka jasnya dan naik ke tempat tidurnya hanya mengenakan boxer kemudian menarik selimutnya dan tidur memeluk Baekhyun. Dia tidak akan pernah melepaskan sosok ini.
.
.
Semenjak kejadian Baekhyun nyaris diculik pengamanan disekitarnya jauh lebih ketat. Lupakan tentang keinginannya mencari kerja untuk masa depannya, Baekhyun bahkan tidak diperbolehkan lagi untuk keluar dari mansion milik Chanyeol. Jika dulu dia masih tinggal di apartment Kyungsoo beberapa malam dalam seminggu, kini dia terus tinggal di mansion Chanyeol. Dia baru boleh keluar jika Chanyeol atau Jongin bersamanya. Baekhyun merasa sangat risih dengan semua pengamanan ini.
Demi Tuhan, beberapa bulan yang lalu dia itu hanya mahasiswa miskin berjuang untuk mencapai gelar sarjana kemudian berusaha mencari pekerjaan layak demi menata masa depan yang cerah, karena dia sudah capek hidup miskin. Sekarang lihatlah posisinya, dia seorang lulusan universitas yang tinggal di sebuah mansion raksasa dengan fasilitas layaknya hotel berbintang lima, lemari bajunya penuh dengan barang bermerek dan dia tak perlu bekerja sama sekali. Apa yang dia inginkan akan langsung tersedia di depan matanya. Baekhyun yakin tidak sedikit orang yang rela membunuh demi berada di posisinya sekarang. Namun jika diibaratkan, Baekhyun merasa dia seperti tinggal di sangkar emas. Baekhyun tidak tahan lagi dan memutuskan kabur.
"Masa bodoh dengan semua ini. Aku bisa gila jika aku harus dikurung terus menerus!" Baekhyun mendesis kesal, memutuskan untuk kabur dari kamarnya. Sehabis makan siang Baekhyun keluar dari kamarnya membawa nampan piring bekas makan siangnya ke dapur. Bodyguardnya tidak merasa curiga sedikit pun karena hal ini lumrah Baekhyun lakukan. Setelah menaruh nampannya di dapur, Baekhyun pun mengendap-endap ke ruang laundry seragam para pelayan.
Dia berhasil menyamar sebagai seorang pelayan dengan mencuri baju seragam pelayan di ruang laundry dan menyelinap keluar tanpa dicurigai sama sekali.
Hari itu pasti hari keberuntungannya. Baekhyun tidak menyangka semudah itu untuk kabur dari Park Mansion. Nampaknya Chanyeol harus memperketat penjagaan rumahnya jika siapa saja bisa keluar masuk hanya dengan menggunakan seragam pelayan.
Hal pertama yang Baekhyun lakukan dia langsung mampir ke phone booth terdekat yang bisa ia temui.
Dipencetnya nomor telepon yang dia hapal luar kepala. Setelah nada sambung ketiga, Baekhyun mendengar suara yang sudah lama tidak didengarnya.
"Halo?"
"Jongdae! Ini aku, Baekhyun!" Baekhyun menjerit senang bukan main. Entah sudah berapa bulan lamanya dia tidak mendengarkan suara sahabat karibnya.
"Yaaa, Baekhyun! Bagaimana kabarmu? Sangat sulit untuk menghubungimu sekarang!" jerit Jongdae.
"Kabarku buruk. Aku merasa seperti di neraka sekarang," Baekhyun mengeluh.
"Aku benar-benar terbelenggu sekarang. Bantu aku kabur, Jongdae!" Balas Baekhyub frustasi. Disandarkannya dahinya di dinding kaca phone booth itu.
"Kau mau kabur bagaimana?"
"Aku tidak tahu. Bantu aku Jongdae, please!"
"Kau mau datang ke Jeju? Datanglah! Aku bisa menampungmu di apartmentku." Jongdae menawarkan.
"Aku tidak membawa cukup uang bodoh. Bagaimana bisa aku terbang ke Jeju begitu saja. Ish! Aku benci Park Chanyeol sialan itu." Gerutu Baekhyun.
"Kau yang bodoh! Mengapa kabur tanpa membawa banyak uang!" Maki Jongdae.
"Yak! Jangan balas mengataiku!"
"Aish! Begini saja... Aku akan menelepon ibuku dan memintanya untuk memberimu uang. Bisakah kau menunggu ibuku di taman dekat rumahnya? Aku akan menyuruhnya ke taman itu."
"Jongdae, kau yang terbaik! Bagaimana bisa aku bertahan hidup tanpamu beberapa bulan terakhir ini?" Baekhyun memekik senang. Seperti ada secercah cahaya yang muncul dan menyinari phone booth itu.
"Ya ya ya. Bergegaslah! Aku akan menelpon ibuku sekarang." Baekhyun seolah bisa membayangkan Jongdae memutar kedua bola matanya ketika mengatakan hal ini.
"Saranghae Jongdae-ya." Seru Baekhyun senang.
"Hush! Kalau Park Chanyeol mendengarnya aku bisa dipenggal. Jangan mengucapkan hal yang tak penting seperti itu!" Teriak Jongdae panik. Walaupun singkat pertemuan antara Jongdae dan Chanyeol, Jongdae bisa merasakan betapa Chanyeol memiliki ketertarikan yang luar biasa pada sahabatnya itu. Dan tentu saja Park Chanyeol itu seorang yang sangat obsesif dan posesif terhadap kekasihnya. Park Chanyeol pun masuk ke dalam kategori pemaksa beserta diktator.
Pertama dia seenaknya saja secara sepihak menentukan bahwa Baekhyun harus menjadi kekasihnya. Kemudian dia merasa risih melihat kedekatan Baekhyun, Jongdae dan Minseok yang sudah seperti saudara itu dan dia ingin Baekhyun bergantung sepenuhnya hanya pada dirinya saja. Tak tanggung-tanggung Jongdae dan Minseok pun dikirim ke perusahaan cabang Pulau Jeju atas campur tangan Park Chanyeol. Sebagai seorang lulusan mahasiswa baru yang kesulitan mendapatkan kerja, tentu mereka tidak bisa menolak keputusan perusahaan yang meminta mereka untuk pindah cabang atau menolak keputusan itu dengan resiko kehilangan pekerjaan mereka.
"Hahaha dasar penakut. Sana, cepat telepon ibumu. Aku akan naik bus ke arah rumahmu sekarang. Bye, Jongdae!"
Baekhyun meletakkan gagang telepon itu kembali dan berjalan ke arah perhentian bus dengan riang. Sebentar lagi dia bisa bertemu dengan sahabatnya.
Baekhyun menunggu tidak terlalu lama di perhentian bus itu. Bus yang menuju ke arah rumah Jongdae tiba 10 menit setelah dia menunggu. Perjalanan menuju ke rumah Jongdae pun berjalan lancar. Bus itu berhenti di dekat taman. Baekhyun memasuki taman itu mengitarinya mencari sosok ibu Jongdae. Tidak menemukan sosok yang dicari, Baekhyun pun memutuskan untuk duduk di ayunan sambil menunggu ibu Jongdae.
Baekhyun mengayunkan pelan kakinya dan menghela napas. Sudah 20 menit berlalu tapi ibu Jongdae tidak kunjung datang juga.
"Bibi Kim lama sekali. Apa dia tidak mau meminjamiku uang, ya?" keluh Baekhyun sambil mengusak-usak rambutnya.
Mendadak Baekhyun merasakan ada tangan yang memegang pundaknya dari belakang. Namun Baekhyun mendadak membelalakkan matanya. Tangan ini rasanya terlalu besar, terlalu panas dan terlalu mendominasi untuk menjadi tangan bibi Kim. Rasanya Baekhyun tak ingin menoleh ke belakang untuk melihat siapa pemilik tangan ini.
Menelan ludahnya, Baekhyun pun memberanikan diri untuk menoleh dan mendongakkan lehernya menatap ke belakangnya. Mata Chanyeol menatapnya nyalang dan penuh emosi.
.
.
Aksi kabur Baekhyun hanya berhasil dilakukan selama 3 jam dan dia pun langsung ditemukan oleh Chanyeol dan kembali diboyong ke mansion milik Chanyeol. Meskipun dia tidak tahu bagaimana Chanyeol bisa menemukan keberadaannya secepat itu. Mengerikan.
"Kenapa?" Tanya Chanyeol.
Baekhyun bungkam.
"Kenapa kau terus menerus ingin lari dariku?" Chanyeol bertanya lagi.
Baekhyun masih bungkam. Bibirnya ditekan membentuk garis tipis.
"Jawab Baekhyun!" Chanyeol memegang rahang Baekhyun yang masih diam.
"Apa yang membuatmu tidak puas? Aku memberimu segalanya!"
Baekhyun menepis tangan Chanyeol marah.
"Kenapa kau masih bertanya? Aku tidak pernah meminta semua ini!" Jawab Baekhyun berang.
"Semua ini karena keegoisanmu semata saja. Ingat kau mengancamku untuk menjadi kekasihmu!" Sambung Baekhyun.
"Aku sungguh berharap kita tidak pernah bertemu di malam natal itu. Sejak malam itu aku merasa hidupku kacau diinvasi olehmu." Baekhyun mengatakan hal ini tepat menatap mata Chanyeol.
Chanyeol begitu marah mendengarkan jawabannya dan nyaris mematahkan kaki Baekhyun. Baekhyun mengingat dengan jelas bagaimana Chanyeol melemparnya ke atas ranjang kemudian mencengkram kakinya dengan tujuan ingin meremukkannya agar Baekhyun tidak bisa lari lagi.
"Kalau kau bersikap seperti ini terus akan kupatahkan kakimu agar kau tidak bisa ke mana-mana lagi!" Bentak Chanyeol. Satu tangannya sudah menggenggam mata kaki kanan Baekhyun dan menekan keras area itu.
"Lepaskan!" Jerit Baekhyun namun tidak dihiraukan Baekhyun. Yang ada Chanyeol malah makin mempererat genggamannya di kaki Baekhyun.
"Akh!" Baekhyun bisa merasakan tulangnya kakinya seperti retak.
"Tidak! Tidak! Hentikan! Aku janji tidak akan mengulanginya! Aku janji!" Jerit Baekhyun histeris berusaha memberontak melepaskan kakinya dari cengkraman Chanyeol. Chanyeol yang dibutakan emosi malah memperkeras tekanannya di mata kaki Baekhyun.
"Chanyeol hentikan kumohon!" Baekhyun yang semakin panik mencoba untuk menyerang Chanyeol dengan kaki kirinya yang masih bebas.
Chanyeol menangkap kaki kiri itu dan tersenyum kejam
"Kau ingin kedua kakimu aku patahkan, eh?"
Baekhyun menggeleng-gelengkan kuat kepalanya. "Kumohon jangan.." Pintanya pada Chanyeol. Saat ini dia betul-betul merasa takut pada Chanyeol. Baekhyun sadar betul sekarang hidupnya benar-benar berada dalam genggaman Chanyeol. Kabur ke mana pun Chanyeol akan menemukannya dan memaksanya untuk kembali ke sisinya.
Chanyeol memang tidak jadi meremukkan kakinya setelah Baekhyun akhirnya menangis histeris dan memohon-mohon pada Chanyeol dan berjanji tak akan mengulangi tindakannya lagi sambil terisak dan sesegukan namun timbul memar berbentuk tangan di sekeliling mata kakinya. Setelah itu Chanyeol merobek pakaian yang dikenakannya kemudian mulai menyetubuhinya dengan kasar namun Baekhyun bersyukur Chanyeol masih berbaik hati untuk menggunakan pelumas. Baekhyun tidak bisa membayangkan rasa sakit yang akan dideritanya jika Chanyeol memutuskan untuk menyetubuhinya tanpa pelumas. Walaupun sudah biasa disetubuhi Chanyeol tetap saja lubang analnya tidak akan mampu menerima penis Chanyeol tanpa pelumas karena bagaimana pun dia bukan seorang wanita yang bisa 'basah' dengan sendirinya.
Setelah Chanyeol selesai menyetubuhinya, seluruh tubuhnya terasa sakit. Cairan Chanyeol memenuhi setiap inci dalam dirinya seolah menandai dirinya. Bekas gigitan dan cupang memenuhi sekujur tubuhnya dan pinggangnya seolah remuk. Baekhyun tidak ingat berapa kali Chanyeol menyetubuhinya dan keluar di dalamnya malam itu. Yang dia tahu dia tidak menikmati malam itu sedikit pun. Hanya ada rasa takut dan sakit menjalar diseluruh tubuhnya. Biasanya Chanyeol selalu tahu bagaimana untuk merangsang dan membuatnya menikmati persetubuhan mereka. Tapi malam itu berbeda. Hanya ada insting primal untuk mencari kepuasan pribadi dan sama sekali tidak memperdulikan kepuasan pasangannya. Baekhyun merasa seperti seonggok daging pada malam itu.
.
.
Untuk sementara dia hanya bisa patuh pada keinginan Chanyeol untuk meredakan amarah Chanyeol.
Sebab Baekhyun sadar, pribadi Chanyeol merupakan pribadi yang tak bisa dibantah. Dirinya sendiri bukanlah pribadi yang penurut, namun dalam situasi seperti ini insting bertahannya menyuruhnya untuk patuh sementara sampai keadaan kembali normal lagi, baru Baekhyun bisa mebalikkan keadaan secara perlahan.
Meskipun tidak patah tapi ada retak di tulang kaki Baekhyun yang menyebabkan bengkak dan memar di kakinya. Sakit yang ditimbulkan memar yang disebabkan oleh Chanyeol begitu parah dan mengakibatkannya sulit untuk berjalan selama beberapa hari. Walaupun sebenarnya dia tidak bisa ke mana-mana hanya berada di dalam kamar saja. Chanyeol juga mengancam jika dia berani keluar selangkah saja dari pintu kamar, Chanyeol akan langsung mematahkan kaki Baekhyun tidak peduli bagaimana pun nanti Baekhyun memelas atau pun memohon kepadanya.
Ancaman Chanyeol sukses membuatnya ciut.
Ketika Kyungsoo datang untuk menjenguk dan menanyakan kabarnya, Baekhyun hanya bisa tersenyum kecut.
Kyungsoo memandangnya prihatin.
.
.
Sebulan berlalu, kakinya sudah tidak sakit lagi dan akhirnya Chanyeol mengizinkannya untuk keluar kamar namun dengan batasan. Aksesnya di dalam mansion pun terbatas. Jika dia menapakkan kakinya keluar kamar, maka minimal 3 bodyguards Chanyeol akan otomatis berada di sampingnya dan mengawasi pergerakannya. Baekhyun tidak boleh berada 5 meter dekat dengan pintu keluar. Terlalu berlebihan menurut Baekhyun. Jarak antara pintu dan pagar mansion milik Chanyeol saja terpaut beratus-ratus meter. Belum sempat lari ke dekat pagar saja seluruh bodyguard Chanyeol akan menjegalnya jatuh ke tanah dan menyeretnya kembali ke mansion.
Sama seperti sekarang ini. Dia baru saja membuka pintu kamarnya dan ingin menapakkan kakinya ketika 3 bodyguard langsung memblokir jalannya.
"Ehm.. Hai?" Tanya Baekhyun canggung.
Tak ada respon.
"Aku benar-benar merasa bosan di kamar terus. Bisakah aku ke mall?" Tanya Baekhyun pada bodyguard yang sedang berjaga di luar kamarnya.
"Aku bahkan tak bisa mengingat kapan terakhir kali aku keluar dari tempat ini." Sambung Baekhyun dengan wajah memelas. Biasanya wajah memelasnya sangat ampuh, Jongdae tak pernah bisa menolak permintaannya jika dia sudah memasang wajah memelasnya ini.
Tidak ada respon.
Well, sial...
"Kalau ada kalian yang menjagaku harusnya tidak masalah bukan?" Tanya Baekhyun lagi mencoba bernegosiasi.
Sama, masih tidak ada respon dari sang bodyguard.
"Oke, aku tidak akan ke mall. Aku hanya ingin mampir sebentaaarrr saja ke convenience store terdekat untuk membeli snack." Bujuk Baekhyun lagi.
"Berikan kami list snack yang anda inginkan dan kami akan membelikannya untuk anda."
"Eh, tidak seru. Aku ingin ke sana dan membelinya sendiri! Kau tahu kadang kau bisa menemukan snack keluaran terbaru. Siapa tahu aku sudah melewatkan banyak produk menarik karena aku terkurung di sini terus?" Baekhyun mulai kesal.
"Maaf kami hanya menjalankan perintah Tuan Park." Jawab bodyguard itu.
"Sebentar saja? Please? Tuan Parkmu tidak perlu tahu."
Bodyguard itu hanya menatap kosong ke wajah Baekhyun.
"Apa ini artinya tidak?" tanya Baekhyun sambil menghela napasnya.
Anggukan kecil sebagai tanda afirmasi dari bodyguard tersebut.
Baekhyun membanting pintu kamarnya kesal.
Baekhyun harus keluar dari rumah ini. Tak peduli bagaimana caranya. Persetan dengan ancaman Chanyeol yang akan mematahkan kakinya. Dia punya hidup sebelum bertemu dengan Chanyeol dan dia akan kembali menata hidupnya setelah berhasil kabur dari Chanyeol.
Malam itu Chanyeol mengirimkannya snack keluaran terbaru dalam jumlah yang banyak. Baekhyun ingin membuangnya untuk menunjukkan rasa kesalnya pada Chanyeol, tapi karena pada dasarnya dia tidak suka membuang makanan, terpaksa dia makan. Mana mungkin dia tega membuang semua cemilan baru ini kalau makanan yang sudah melewati tanggal kadaluarsa saja masih dimakannya selama masih belum berjamur.
Baekhyun sedang menikmati snack rasa okonomiyaki terbaru di atas tempat tidur ketika Chanyeol pulang.
"Menikmati cemilanmu?" Tanya Chanyeol.
"Hmm..." Baekhyun menggumamkan jawabannya. Mulutnya masih sibuk mengunyah cemilannya.
"Aku harap tidak ada remah-remah di atas tempat tidurku."
Kesal, Baekhyun membersihkan remahan di atas tempat tidur itu dengan temannya.
"Puas?"
"Lebih puas lagi kalau kau menanggalkan bajumu sekarang." Jawab Chanyeol.
Terdiam, Baekhyun berdecih pelan kemudian perlahan melepaskan baju yang dipakainya kemudian melemparkannya ke lantai.
"Lakukan sesukamu." Ujar Baekhyun dengan posisi tengkurap di atas tempat tidur. Tidak ada lagi kain yang menyelimuti tubuhnya, lekuk pinggang dan bokongnya sanggup memancing gairah pria mana pun.
Chanyeol tersenyum melihat pemandangan indah di hadapannya kemudian melepaskan ikatan dasinya dan menanggalkan setelan jasnya di lantai. Chanyeol naik ke tempat tidur mengungkung Baekhyun, kemudian mulai menyentuh punggung Baekhyun dan naik menyentuh wajah Baekhyun.
"Baekhyunku."
Bibir Baekhyun selalu menjadi titik terfavorit Chanyeol. Rasanya dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menatap bibir itu. Tapi kenapa menatapnya jika Chanyeol bisa melumatnya seperti yang dia lakukan sekarang ini. Bibir sensual itu bergerak selaras dengan bibirnya mengikuti permainannya.
"Kau terasa seperti okonomiyaki." Chanyeol terkekeh. Diubahnya posisi tengkurap Baekhyun menjadi posisi terlentang. Bibirnya turun ke leher jenjang Baekhyun menciuminya serta menghirup aroma tubuh Baekhyun. Aroma sabun almond dan aroma asli tubuh Baekhyun bercampur menjadi satu merupakan aroma yang paling disukainya.
"Mmh.."
Baekhyun memejamkan matanya dan membiarkan Chanyeol menciumi tubuhnya dan melebarkan kakinya, menyentuh daerah privatnya, memasukinya.
Satu malam lagi berlalu dengan dirinya dalam pelukan Chanyeol. Jauh dari dunia luar. Dia tidak tahu sampai kapan dia harus bersabar dan mengikuti semua permainan Chanyeol. Yang Baekhyun butuhkan sekarang hanya sebuah kesempatan. Dan bisa jadi kesempatan itu adalah kesempatan terakhirnya.
.
.
-Desember 2013-
Tidak terasa sebentar lagi tahun 2013 sudah hampir berlalu dan mereka sudah memasuki bulan December.
Baekhyun menjalani beberapa bulan terakhir ini dengan sabar. Chanyeol bahkan berpikir bahwa dia sudah menerima keadaannya sebagai kekasihnya dan mulai menikmati kedudukannya sebagai kekasih Chanyeol. Lihat saja bagaimana sekarang ini dia sudah diperbolehkan untuk berjalan keluar mansion. Baik itu sekedar belanja atau melakukan perawatan di spa termahal di daerah gangnam.
Baekhyun baru saja menyelesaikan jadwal kunjungan massagenya bersama Kyungsoo. Tempat massage itu merupakan tempat langganan Kyungsoo untuk melepas penatnya. Ketika pekerjaan membuatnya lelah, 3 jam massage di tempat ini seolah memberikan energi baru di tubuhnya.
Begitu Chanyeol memberikan izin bagi Baekhyun untuk keluar rumah, Kyungsoo, ditemani oleh 1 lusin bodyguard pun membawanya ke tempat ini untuk rileks. Baekhyun setuju saja. Walau pun awalnya dia sempat ragu.
"Tempat massage yang benar saja Kyungsoo?" Baekhyun memutar bola matanya.
"Jika kau masih bisa berkata seperti itu setelah menghabiskan 3 jam di sana aku akan memakan CD-ku sendiri." Balas Kyungsoo.
"Kau sudah melakukannya. Bagaimana kalau kau meneriakkan B.B.H JJANG di setiap akhir perkenalan dirimu?" Tanya Baekhyun tersenyum nakal.
"Lebih baik aku berhenti menjadi penyanyi."
"YAK!"
Baekhyun pun beranjak keluar dari mansion itu bersama Kyungsoo. Baekhyun tampak sangat senang.
Ke mana pun asal keluar dari mansion itu.
Awalnya Baekhyun sempat panik ketika dia harus membuka bajunya di hadapan masseur yang ditugaskan melayaninya. Tubuh Baekhyun penuh dengan bekas percintaannya dengan Chanyeol, namun masseur itu bahkan sama sekali tidak memperdulikan bekas-bekas tersebut dan memintanya berbaring dan merilekskan otot-ototnya.
3 jam sesi massage itu benar-benar terasa seperti surga. Sekarang Baekhyun mengerti apa yang dimaksud Kyungsoo.
Beginilah keseharian Baekhyun sekarang. Sambil menunggu Chanyeol pulang dia akan menghabiskan waktu bersama Kyungsoo apabila dia sedang tidak ada jadwal. Terkadang dia meminta diantar ke toko buku untuk membeli beberapa buku kemudian kembali ke mansion. Atau ke toko DVD membeli beberapa DVD keluaran terbaru.
Masih terasa sangat monoton tapi setidaknya dia tidak terlalu dikurung lagi. Lebih baik daripada di bulan-bulan di mana kerjanya hanya menunggu Chanyeol pulang untuk disetubuhi kemudian tidur.
Malam itu Baekhyun sementara membolak-balik majalah yang baru saja dibelinya ketika Chanyeol pulang. Chanyeol berjalan mendekat dan mengintip isi majalah itu dari balik pundak Baekhyun.
"Dekorasi pesta natal?"
"Hanya melihat-lihat saja. Sebentar lagi natal bukan?" Baekhyun membalik halaman demi halaman majalah itu.
"Tahun ini Monstrum Club kembali mengadakan acara VVIP untuk malam natal." Kata Chanyeol.
"Sudah menjadi tradisi bagi kami untuk berkumpul dan merayakannya di situ. Banyak kolega pentingku yang akan hadir."
"Oh." Jawab Baekhyun singkat. Dia kembali mengingat malam di mana semua ini bermula. Agak kesal mengingatnya.
"Kau mau ikut?" Tanya Chanyeol.
"Apa Kyungsoo akan ikut?"
"Mungkin jika dia tidak ada jadwal."
"Penyanyi sepertinya mana mungkin tidak ada jadwal di malam natal," Baekhyun mendengus.
"Aku tidak ikut." Sungguh rasanya tidak sudi menginjakkan kembali kakinya di tempat laknat di mana semua kesialannya ini bermula. Kalau saja malam natal itu dia ngotot tidak mau menggantikan Jongdae, mungkin sekarang dia sudah bekerja kantoran biasa dan mengeluh pada Jongdae bossnya itu sialan atau apa pun itu. Bukan berada di atas ranjang pemilik klub tersebut.
"Kita lihat saja nanti."
"Kau mau aku ikut?" Tanya Baekhyun mengalihkan pandangannya dari majalah di depannya dan menatap Chanyeol.
"Aku mengharapkan kehadiranmu. Malam natal pertama kita."
Baekhyun terlihat berpikir sejenak kemudian mengangguk. "Baiklah. Aku ikut."
Senyum Chanyeol terlihat begitu cerah.
.
.
Dalam satu tahun begitu banyak yang bisa berubah. Masih jelas dalam ingatan Baekhyun setahun lalu dia mengenakan blazer hitam itu dan berkeliling ruangan sambil menawari tamu-tamu VVIP ini champagne, dan sekarang dia salah satu di antara mereka. Bagaimana bisa roda kehidupannya berputar secepat ini.
Dimainkannya gelas champagne di tangannya. Matanya memandang orang-orang di sekelilingnya. Sungguh dia merasa salah tempat. Orang-orang ini terlahir dengan sendok emas di genggaman mereka, terlihat dari pembawaan mereka yang begitu angkuh. Baekhyun sedikit mual melihatnya.
"Kau tak menikmati pestanya?" Tanya Kyungsoo yang mendadak datang dari belakangnya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah malam natal ini seharusnya kau banyak job?" Baekhyun balas bertanya.
"Aku baru saja kembali dari konser malam natal."
"Hmm.." Baekhyun menggumam. Matanya menilik ke arah Chanyeol dan Jongin yang sedang sibuk berbicara dengan beberapa politisi yang wajahnya sering Baekhyun lihat di televisi. Baekhyun berdecak kesal, untuk apa dia ada di sini sebenarnya.
Kyungsoo melihat moodnya yang buruk ini, mengajaknya untuk menepi ke meja dessert. Baekhyun mengangguk setuju. Mereka mengambil beberapa potong kue kemudian Kyungsoo pamit untuk menghampiri Jongin sejenak. Baekhyun pun kembali berdiri sendiri, namun paling tidak kali ini dia ditemani banyak kue-kue.
Hanya ada seorang waitress berdiri di situ melayani para tamu. Pertama Baekhyun tidak terlalu memperdulikannya, tapi Baekhyun merasa waitress ini sangatlah tinggi untuk ukuran wanita. Rambutnya panjang dan hitam legam serta kakinya begitu putih dan jenjang. Baekhyun sementara mengunyah strawberry cake keduanya ketika waitress sementara menaruh kue-kue baru di piring di atas meja, lalu waitress itu menoleh dan menampilkan sosok yang sudah lama tidak dijumpainya.
"Uhuk uhuk uhuk!" Baekhyun tersedak. Tidak percaya siapa yang saat ini sedang berada di depannya.
"Se-Sehun hyung?!" Baekhyun berbisik kecil, masih agak shock dengan penampakan di hadapannya.
Mata 'waitress' itu membelalak. Jelas dia tidak menyangka akan bertemu Baekhyun di sini.
"Baek...?"
Mata Baekhyun menatap sosok Sehun dari atas ke bawah. Mulai dari rambutnya yang panjang diikat ponytail, make-up tipis yang dipoles di wajahnya, blazer yang dikenakannya serta rok span hitam selutut yang membuat kakinya terlihat sangat jenjang. Beberapa bulan tidak bertemu dan Sehun-hyung sudah...? Sungguh Baekhyun tidak ingin mengambil kesimpulan sepihak.
Dan jika ingatan Baekhyun masih baik, dia ingat betul Sehun memiliki gundukan yang cukup menonjol di bawah sana. Matanya singgah menatap daerah 'situ' untuk beberapa saat untuk memastikan gundukan itu masih ada di sana.
Masih ada.
Sekarang Baekhyun merasa antara lega dan...penasaran.
Apa yang sedang Sehun lakukan di sini dengan penampilan seperti itu?
Mendadak sebuah pemikiran terlintas di kepalanya. Dia sudah tidak memiliki satupun kenalan yang bisa dia mintai tolong, dan di malam natal ini mendadak Tuhan mempertemukannya kembali dengan kenalan yang sudah lama tidak di kenalnya. Hubungan mereka mungkin hanyalah sebatas pekerja dan langganan di 7-11, tapi Baekhyun sudah sampai di titik putus asa dia akan mencoba segala hal untuk bisa kabur dari kekangan Chanyeol. Mungkinkah Baekhyun bisa meminta pertolongan kepada Sehun?
"Sehun hyung.. tolong." Bisik Baekhyun.
.
.
Sehun merasa hari ini sungguh bukan hari keberuntungannya. Menurut info yang didapat oleh Junmyeon, malam natal ini akan banyak pejabat dan politisi yang datang untuk menghadiri pesta natal yang diselenggarakan oleh Chanyeol, namun pesta natal itu hanyalah kedok belaka dari pertemuan organisasi Chanyeol dengan kalangan pemerintah yang disogok oleh Chanyeol untuk memudahkan peredaran obat-obatan terlarang miliknya.
Dengan koneksinya sebagai manager di club itu, Junmyeon berhasil memasukkannya sebagai salah satu staff kasual. Sialnya Park Chanyeol sudah mengetahui sosok dirinya, dan mereka harus memikirkan cara lain. Sampai Luhan membuka mulutnya dan mencetuskan ide gila ini.
"Aku rasa Sehun bisa menyamar sebagai waitress dan menyusup masuk ke sana."
"Lu, yang benar saja!" Pekik Sehun. Suaranya naik satu oktaf.
"Kenapa? Kau tidak mungkin menyamar jadi tamu. Jadi waiter kau akan langsung dikenali. Lebih baik kau menyamar jadi waitress, Sehun." Ujar Luhan. Matanya terlihat berbinar nakal. Tampaknya dia senang sekali bisa mengerjai Sehun dan melaksakan misi sekaligus.
"Itu ide yang sangat brilliant! Baiklah sudah diputuskan. Lu, kau siaga di titik ini sementara Sehun membaur di lantai..."
"Aku tidak bilang aku setuju! Hyung!"
"Aku juga akan turut membaur..."
"Lu! Hyung!"
"Junmyeon, bagaimana jika tambahkan personel lagi di titik ini?"
"Ide bagus.."
"Fine! Hiraukan saja aku!" Sehun menghentakkan kakinya kesal dan beranjak keluar dari ruangan itu dan dibantingnya pintu itu.
Luhan dan Junmyeon menatap pintu yang baru saja dibanting Sehun.
"Aku sungguh tidak sabar!" Luhan berkata dengan antusias. Matanya berbinar nakal.
"Kalian ini benarkah sepasang kekasih?" Junmyeon menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dan di sinilah Sehun sekarang. Mengeyampingkan harga dirinya demi pekerjaan. Sehun seorang profesional, hanya memakai rok saja. Bukan masalah besar buat Sehun.
Semua berjalan dengan lancar. Dari pengamatannya dia sudah bisa mengenali beberapa pemilik maskapai pelayaran dan maskapai penerbangan serta freight fowarding. Orang custom pun terlihat berlalu lalang di lantai. Sungguh sebuah meeting besar di akhir tahun.
Berbekal alat penyadap dan pistol serta baton yang diselipkan di antara pahanya, Sehun membaur bersama waitress lain. Tinggi badannya memang cukup menonjol namun bukan masalah sebab para staff tidak terlalu memperdulikan staff lain dan hanya fokus pada tugas mereka masing-masing. Sehun sedang mengisi ulang kue-kue di atas meja ketika sebuah suara yang dia kenal hinggap di telinganya.
"Se-Sehun hyung?!"
"Baek?"
Sehun tidak bisa mempercayai penglihatannya sekarang. Baekhyun berdiri di depannya dan terlihat seolah-olah dia memang pantas berada di kerumunan para milyader Seoul ini dengan setelan jas mahal yang dikenakannya serta penampilannya yang begitu terawat. Kenapa Baekhyun bisa berada di pesta ini? Apakah sekarang Baekhyun sudah terlibat dengan organisasi milik Park Chanyeol? Mengapa?
Berbagai pertanyaan muncul di benak Sehun, sampai dia mendengar Baekhyun berbisik pelan padanya.
"Sehun hyung.. tolong."
Bisikan Baekhyun terdengar begitu samar-samar sampai Sehun sempat mengira dia salah dengar tadi. Tapi melihat raut wajah Baekhyun yang memelas Sehun yakin bahwa dia tidak salah dengar.
Sekarang yang bisa dia lakukan adalah tetap tenang dan tidak bertindak gegabah serta memikirkan cara untuk mengeluarkan Baekhyun dari tempat ini.
"Dengarkan aku, Baekhyun. Jadi..."
.
.
Jantung Baekhyun berdegup luar biasa kencang. Inilah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Dia bahkan tak bisa menikmati lagu yang dibawakan oleh Kyungsoo untuk menghibur para tamu VVIP. Di sampingnya Chanyeol dan Jongin menatap panggung sambil menyesap segelas champagne. Jemari Chanyeol mengusap pelan tangannya membuat Baekhyun terlonjak dari duduknya. Chanyeol melihatnya dengan tatapan aneh.
"Tanganmu dingin sekali dan berkeringat. Kau tak apa-apa?" Tanya Chanyeol sambil mengerutkan alisnya, menatap Baekhyun.
"Ah, perutku agak sakit. Mungkin akibat kue yang aku makan tadi." Baekhyun berbohong menarik tangannya dari sentuhan Chanyeol dan memegang perutnya sembari pura-pura meringis.
"Kau mau pulang? Mau kupanggilkan dokter?" Tanya Chanyeol lagi. Baekhyun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Ini dia...
"...bisakah aku ke toilet terlebih dahulu?"
"Tentu. Akan kupanggilkan beberapa bodyguard untuk menemanimu." Chanyeol mengisyaratkan dengan jari-jarinya dan 3 orang bodyguard datang mendekatinya. Mereka membantu Baekhyun untuk berdiri dan menuntunnya ke toilet. Chanyeol memandangnya dengan tatapan cemas. Firasatnya tidak enak dan instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Dan biasanya instingnya selalu benar. Dia sampai sejauh ini juga berkat insting yang dimilikinya.
Baekhyun menatap wajah Chanyeol sebelum dia ke toilet.
"I'll see you later, Chanyeol."
Dan pergi keluar dari ruangan VVIP itu.
Ketiga bodyguard itu memastikan toilet yang akan digunakan oleh Baekhyun kosong sebelum mengizinkannya untuk masuk ke dalam. Baekhyun pun masuk ke dalam toilet itu dan menunggu.
Sehun memberinya instruksi untuk menunggunya di dalam toilet. Jika dalam 15 menit Sehun tidak berhasil menjemputnya berarti rencananya gagal dan Baekhyun harus tetap pulang sesuai skenario yang direncanakannya.
Baekhyun tidak menyangka bahwa ternyata selama ini Sehun adalah anggota FBI yang menyamar. Baekhyun kurang lebih bisa mengira-ngira bahwa Chanyeol bukanlah orang sembarangan. Namun dia sama sekali tidak menyangka kalau Chanyeol merupakan kepala dari organisasi kriminal obat-obatan terlarang.
Kenyataan ini membuat Baekhyun agak shock. Selama ini dia benar-benar telah terlibat dengan orang yang salah.
Lima menit berlalu dan tak ada tanda-tanda dari Sehun sama sekali. Baekhyun duduk di balik bilik toilet itu menunggu dengan cemas. Jantungnya nyaris copot saat dia mendengar pintu toilet itu terbuka dan suara langkah kaki mendekat ke arahnya.
Ketukan pelan terdengar dari balik bilik itu.
"Baek...?"
Suara itu?!
Baekhyun membuka pelan bilik toilet itu. Bukan Sehun melainkan Luhan yang berdiri di depannya membawa tongkat hitam aneh di tangan kanannya. Terlalu banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya saat ini. Namun dia tidak bertanya apapun saat Luhan mengulurkan tangannya dan berseru...
"Ikut aku!"
Baekhyun menyambut uluran tangan itu tanpa ragu. Luhan lalu mengeluarkan baju seragam pelayan dari tasnya dan menyuruh Baekhyun mengganti seluruh pakaiannya dan melepaskan segala aksesorisnya. Baekhyun akan lebih leluasa untuk berkeliaran dengan seragam pelayan dibandingkan dengan setelan jas yang terlalu mencolok itu. Dan untuk berjaga-jaga jika Chanyeol menanam alat penyadap pada salah satu barang tersebut. Baekhyun pun mengerti kenapa selama ini Chanyeol selalu berhasil menemukan dirinya. Alat pelacak yang disematkan pada barang yang dikenakannya.
Ketika dia keluar dari toilet itu dia mendapati para bodyguard yang ditugaskan menjaganya tergeletak tak berdaya di atas lantai. Baekhyun menoleh pada Luhan dengan raut wajah bertanya.
"Mereka hanya kubuat pingsan." Ujar Luhan menenangkan Baekhyun. Baekhyun mengangguk kemudian mengikuti arah Luhan berjalan.
"Sehun sudah menunggu kita di mobil."
Baekhyun masih mengangguk saja. Tidak tahu harus merespon apa. Semua ini terasa tidak nyata seperti di dalam drama laga saja.
Semuanya terasa begitu cepat. Rasanya detik yang lalu dia masih merasakan bagaimana Chanyeol memegang tangannya, membuat napasnya merasa sesak dengan segala tekanan yang diberikannya. Dan sekarang ini dia sudah berada di dalam mobil bersama Sehun dan Luhan yang ternyata juga adalah seorang anggota FBI.
Dia sudah bebas sekarang. Bebas dari Chanyeol. Rasanya Baekhyun tidak bisa mempercayainya.
"Baek kau baik-baik saja?" Tanya Sehun.
"Rasanya seperti mimpi," Baekhyun berbisik.
"Kau yakin dia tidak akan menemukanku dan memaksaku kembali?" Tanya Baekhyun.
"Untuk itu kami butuh bantuanmu." Luhan menatap Baekhyun dengan wajah serius.
"Bantuanku? Aku tidak mengerti." Kata Baekhyun bingung.
"Kami ingin menempatkan Chanyeol dibalik penjara dan membongkar sindikat obat-obatan terlarang miliknya dan kami butuh saksi. Apa kau mengetahui sesuatu Baekhyun? Sesuatu yang bisa membantu kami?"
Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku bahkan baru tahu dia memiliki bisnis obat-obatan terlarang. Selama ini aku pikir dia hanya seorang pengusaha milyuner biasa."
Luhan mengusap dasinya frustasi. Luar biasa sekali Chanyeol itu. Bahkan menyembunyikannya dari kekasihnya sendiri.
"Tapi yang aku tahu... aku tidak mau kembali ke tempat itu. Chanyeol... sangat mengerikan dengan obsesinya. Aku merasa tercekat saat bersamanya." Baekhyun memeluk dirinya sendiri seolah ingin memberikan perasaan tenang pada dirinya.
Luhan mengangguk mengerti. Untuk sementara mereka mungkin harus menyerahkan tugas mengawasi club itu pada Junmyeon seorang.
.
.
-Same time, Monstrum Club-
Dua orang cleaner terlihat sibuk membersihkan tumpahan darah yang menggenang di lantai serta cipratan darah di tembok. Tiga orang bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga Baekhyun saat ini sudah terbaring tak bernyawa dengan peluru melubangi kepala mereka.
"Manusia tidak berguna!" Amuk Chanyeol. Suasana ruangan tersebut pun begitu kacau balau akibat menjadi pelampiasan objek kemarahan Chanyeol.
Jongin masuk ke ruangan Chanyeol tanpa mengetuk pintu dan membawa laptop di tangannya.
"Aku membawa hasil rekaman CCTV pas Baekhyun kabur." Ucapnya dan meletakkan laptop itu di atas meja Chanyeol kemudian menekan tombol 'play'.
Chanyeol menonton hasil rekaman itu tanpa berkedip sekalipun.
"FBI." Geramnya.
"Should have put bullets in their heads that day." Jongin menimpali.
"This is what I get for being generous. And I usually don't do 'generous'."
Chanyeol bangkit berdiri dan keluar dari ruangan itu diikuti oleh Jongin.
"Jika aku bertemu dengan mereka kupastikan detik berikutnya peluruku sudah bersarang di kepala mereka. Siapkan orang-orangmu!"
Jongin menganggukkan kepalanya. Malam itu dia mengerahkan semua anak buah yang berada di bawah naungannya untuk mencari Baekhyun.
Namun usaha Chanyeol malam itu dan malam-malam berikutnya percuma. Sebab tanpa pengetahuannya, Baekhyun telah meninggalkan Korea keesokan harinya.
Dan Chanyeol tidak akan bertemu dengannya untuk 3 tahun ke depan.
.
.
.
"I'll see you later, Chanyeol."
.
.
.
TBC
a/n: HALO HALO HALO HALOOO kalian semua… maaf update kali ini lebih lama dari yang biasanya. Sungguh saya minta maaf. Mangkir sampai 4 BULAN WOW WOW WOW. /sungkem dulu/
OK, flashbacknya sudah berakhir di sini. Entah kenapa butuh 10 chapter untuk flashback huehuehuehuehueheuheu ;v; /lap keringat/
Untuk masa-masa Baekhyun di Australia saya rasa saya tidak akan menuliskannya secara detail. Mungkin hanya sedikit cuplikan sana-sini saja. Saya rasa kalian juga tidak akan tertarik bila kehidupan Australia Baekhyun dijabarkan. Kan Baek ketemu Tae di Sydney wakakaka :))
Buat yang minta kapan Chanyeol dan Baekhyun lovey dovey, hmm mungkin akan susah karena di sini Baekhyun jadi kekasih Chanyeol juga terpaksa kan. Sebenarnya udah ada rasa dikit tapi karena pribadi mereka sama-sama keras di sini dan Baekhyun tipe orang yang tidak suka dikekang. Jadi gitu deh kabur mulu. Harusnya judul fic ini ganti aja ya jadi 'Catch Me if You Can' wakwakwakwak.. :v
Sampai jumpa di chapter berikutnya. Chapter berikutnya sudah di masa kini, lanjutan prolog itu. Kalau lupa silakan dibaca ulang. :)
Thank you for reading.
Review?
also big thanks to:
Kim Hyerin CBHS, aphroditears, n3208007, pacarsehun, Anaknya ChanBaek, baekkumaa, , fluffy puppy baekki, elisabethlaurenti12399, mputt4, Summer Mei, LUDLUD, sherli898, mumut, , Baek13erry, Anhwa, aya, ByunB04, nanabbui, , Babyfiechan, Loyh, Ellaqomah, LyWoo, LittleJasmine2, kimchi61, Freakyducky04, Ryvani95, Mingoo-nim, LittleOoh, kickykeklikler, ChoiChoi, Park Byunaa, Cbsforlayf, AlexandraLexa, BAEKBAEK04, metroxylon, welldonesatansoo, selepy, Fyenna623, Hyurien92, len, NLPCY, sashaakim61, Eun810,dhecl2, deboramichailin, dhecl2, AkagamiShimura27, Eka915, , Parkbaexh614, yellowfishh14, hyunriyeol, okkiaines, girl404, baekin236, xoxowkwk, Bumbu-cimol, parkobyunxo, chanbelong2baek, baekachu0506, beecikifly, byunlovely, daebaektaeluv, Tiara696, 90Rahmayani, kenlee1412, exobbabe, Hikari373, yousee, timsehunnie, parkbaekhy, chanbaeklmn, danactebh, mells, LightPhoenix614, ninchanim, EXO8861, Abcd-san, sydmooo, jiellian21, nocbnolife, Bbyunbbae98, leedyah12, Bbasjtr, chanxbaek614, BabyLuSsan, ruka, uswas19, meliarisky7, CiellaLala, HelloBiy, hunhanshin, Asandra735, , Innocent Vee, kimi2266, QueenHf15, akucantik, snowbellasn, Yoyo614, WinterJun09, ditamiemir, mputt4, VampireDPS, prktower, DIENAENAINPCY, KimKai69, diarayu22, Chanbaekshipper, Leethakim, ParkBaek267, Brunett, Baek13erry, ayuskrtj, prktower, CHANBAEK FOR LIFEE, BaekonisYummy, Park Eyin, Jungyonha, ezty, byun livi, jespereu, Akira ayzharu, nadivarahma614, 1997, hulas99, , hyunie00, ParkBaek267, fan. girl. shoot, aeria dan para guest sekalian.
Terima kasih banyak sudah mau meng-review cerita gak jelas ini.. :'*
