"A Life"

Disclaimers : Naruto punya Masashi Kishimoto-sensei

Rated : T

Pairing : SasuFemNaru

Warning : Gander Bander,Gaje,Aneh,Typo bertebaran,dll

By : Runa BluGreeYama

.

"Aku yakin dia akan bahagia meski aku mati. Usahamu akan sia-sia, Sakura." Ucap Sasuke sinis.

"Kau terlalu percaya diri, Sasuke!"

Braakk...

"Sasuke!"

"Terlambat.."

Dorr...

"Ugh.."

.

.

Beberapa jam yang lalu..

"Bisa kau percepat laju mobil ini, Gaara?!" Bentak Naruto. Perasaannya kalut, takut, dan bingung disaat yang bersamaan. Bahkan laju mobil Gaara yang tidak bisa dibilang pelan itu masih kurang cepat bagi Naruto.

Gaara memaklumi perasaan Naruto sekarang, bagaimanapun semua ini juga termasuk dalam kesalahannya. Kesalahan yang tidak bisa tertebus selamanya.

"Ini sudah diluar kemampuanku, Naruto. Aku tidak bisa mempercepatnya lagi." Gaara berkata pelan, berharap Naruto akan mengerti dan berhenti membentaknya.

".."

Gaara berharap Naruto akan membalas perkataannya, tapi tidak. Naruto hanya mendesah pelan dan membuang mukanya menatap keluar jendela. Raut wajah gadis itu tidak terbaca, pandangannya kosong menatap jejeran pertokoan yang ramai. Gaara benar-benar cemas, batinnya terus saja merutuki dirinya sendiri.

Gaara menyesal..

Andai saja dulu ia tidak bodoh menerima tawaran Sakura, andai saja dulu ia bisa menyimpan perasaannya pada Naruto tanpa adanya rasa egois, dan andai saja dulu ia bisa merelakan Naruto bersama sahabatnya, Sasuke.

Tapi itu hanya pengandaian, waktu tidak bisa berjalan mundur atau kembali lagi. Rasa sesalpun akan sia-sia karena semuanya telah terjadi. Toh, penyesalan selalu datang terlambat, kan?

Gaara kembali dari lamunannya saat suara lirih Naruto menyapa pendengarannya.

"Daijoubu ka, Sasuke?" Lirih Naruto, dan setetes air matapun jatuh membasahi pipinya.

.

"Angkatlah, Sakura!" Pekik Kushina. Namun nihil, hanya suara operator lah yang terdengar di telinganya. Gemuruh khawatir menyerang hatinya.

Tangan kirinya masih setia menekan handphone ditelinga kirinya meski ia tahu itu percuma, handphone Sakura tidak aktif. "Antarkan aku ke daerah Shibuya!" Ucapnya cepat.

Tanpa basa-basi, Iruka langsung membukakan pintu mobil dan segera beranjak dari kantor polisi.

Kushina termenung, rasa sesalnya akan benar-benar terlambat jika Sakura telah bertindak. Bisakah ia menjadi seorang ibu yang baik untuk Naruto? Adakah kesempatan untuk bisa memperbaiki semua kesalahannya?

"Iruka, apa aku bisa menebus kesalahanku?" Tanya Kushina pelan.

Iruka sempat tersentak, matanya sedikit melirik kearah Kushina dibangku penumpang. Wanita itu menangis.

"Saya yakin bisa." Jawab Iruka singkat. Meski Iruka tidak tahu apa yang terjadi sekarang, tapi ia bersyukur setidaknya Kushina sudah sadar.

"Percepat lajunya, Iruka!"

"Ha'i."

Kushina kembali menekan beberapa tombol di ponselnya untuk menelpon seseorang. "Mikoto!" Teriaknya begitu telepon tersambung.

"Mikoto, cepat ke desa gedung tua daerah Shibuya! Sasuke ada disana. Maafkan aku, Mikoto. Tapi Naruto dan Sasuke mungkin akan dalam bahaya." Lirihnya.

'Kali ini apa yang kau lakukan, Kushina?!'Kushina semakin menangis saat Mikoto membentaknya.

"Maafkan aku, maafkan aku.." Isak Kushina. Ia menutup mulutnya ketika Mikoto memutuskan sambungan telepon mereka.

.

Gedung tua besar menyambut penglihatan Naruto. Daerah tidak berpenghuni, dengan tembok-tembok tua yang kumuh membuat dirinya semakin was-was. Ia berharap, malam tidak akan cepat datang.

"Cepat! Kau bisa berlari?" Tanya Gaara.

Naruto menggeleng, penyakitnya tidak akan mengizinkannya berlari. Ia ingin menyelamatkan Sasuke, jangan sampai malah ia yang diselamatkan Sasuke.

"Gaara.." Lirih Naruto. Tangannya mencengkram lengan kanan Gaara. "Aku mohon, selamatkan Sasuke." Ucapnya seraya terisak pelan.

Gaara berbalik menghadap Naruto, tangannya terangkat dan menghapus air mata yang mengalir dipipi Naruto. Jujur, hatinya sakit melihat Naruto seperti ini. "Maafkan aku.."

Gaara tersenyum hangat, ia melepaskan pegangan Naruto lalu berlari. "Aku akan menyelamatkan sahabatku, Naruto!" Teriaknya lantang.

Naruto mulai berjalan pelan, sorot matanya kosong. Jujur, Naruto bingung apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang harus dia lakukan? Dan apakah semua akan berakhir baik?

Dikepalanya terngiang setiap pengakuan Gaara padanya.

"Sakura akan menculik Sasuke. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya, tapi dia bilang kau akan menyesal dan terpuruk."

"Membuat aku terpuruk? Mungkinkah..." Gumamnya. Dan sekali lagi ia menatap punggung Gaara yang mulai menghilang di balik tembok. Gadis itu mendesah. "Persetan dengan penyakitku!" Geramnya lalu mulai berlari menyusul Gaara.

"Gaara!" Teriak Naruto. "Kau tau dimana Sakura berada? Gedung ini terlalu luas untuk di jelajahi, waktunya tidak akan cukup!"

Gaara berhenti berlari. Ia memang tidak tahu akan kemana. Meskipun kakinya memaksa untuk berlari lagi, tapi percuma ia tidak tahu dimana Sakura. Gaara menggeleng.

"Aku tidak tahu dimana Sakura." Gumam Gaara.

Naruto mulai berfikir, Gaara memaksa menciumnya di atap. Mungkin saja mereka berada di lantai tertinggi gedung ini. "Baiklah, aku akan mencari kelantai paling atas. Kau cobalah telepon polisi dan mencoba mencari dilantai 17."

"Tapi..." Belum sempat Gaara berbicara, Naruto sudah memasuki lift. Wajah gadis itu penuh peluh dan pucat. Gaara kembali merasakan sakit di hatinya.

"Maafkan aku Naru, maafkan aku.." Lirih Gaara lalu berlari menaiki tangga darurat menuju lantai atas.

.

Lantai 18, lantai tertinggi sebelum atap gedung ini.

Naruto menghela nafas berat. Ia mulai keluar lift dan melirik sekitar. Terlihat dipojokan dekat tangga menuju atap Sasuke tengah diikat dikursi. Naruto tercekat lalu bersembunyi dibalik tembok.

"Ada permintaan terakhir, Sasuke-kun?" Sosok itu tersenyum sinis.

'Permintaan terakhir?' Batin Naruto

"Sakura! Apa maksudmu, hah?!" Sasuke mendesis. Tubuhnya sudah penuh dengan peluh dan berkali-kali memberontak agar tali yang mengikat tangan dan tubuhnya terlepas, tapi seberapa besarpun ia berusaha tetap saja hasilnya nihil.

Sakura terkikik, namun perlahan berubah menjadi tawa yang menggelegar. Suara tawa Sakura yang menggema digedung tua itu membuat Sasuke sedikit mengerutkan keningnya. 'Orang ini gila?' Fikirnya.

Sakura kembali terdiam, "Tentu saja membunuhmu, Sasuke. Menurutmu apalagi?"

Naruto menutup mulutnya kaget. Apa yang Naruto takutkan mungkin akan terjadi. Naruto mengintip dari balik tembok. Dua orang berbadan besar berjaga dibelakang Sakura dan Sakura memegang sebuah pistol.

Nafas Naruto mulai memburu. 'Tidak, jangan kambuh dulu.' Pintanya dalam hati. Jantungnya mulai berdenyut tak karuan.

"Astaga.. Bisakah kalian ini berhenti memburuku?" Naruto kembali mengintip saat suara Sasuke terdengar.

Sekali lagi Sakura tertawa, kepalanya hingga mendongak. Pertanyaan Sasuke sungguh konyol, "Kemana otak pintarmu pergi, Sasuke-kun?" Suara tertawanya mereda, "Seseorang ingin memburu karena ada suatu hal yang membuatnya terpaksa memburu. Kau fikir aku dengan tanpa alasan memburumu dan ingin membunuhmu?"

"Karena Naruto?" Sasuke menunduk, sedikit merasa miris. "Bunuh aku, dan berhenti menyakitinya.."

Tes..

Jatuhlah air mata yang selama ini Naruto tahan. Sasuke bodoh! Bagaimana bisa ia menyerahkan hidupnya agar Naru tidak diganggu lagi oleh Sakura? 'Sasuke baka, baka,baka!'Ucap Naruto dalam hati.

Sakura mendengus kasar, matanya mengerling sinis. "Lihat, sangat drama sekali.." Sakura menatap Sasuke dengan datar, seakan mencoba menyalurkan rasa bencinya. "Naruto.. Anak itu terlalu sempurna! Lihat berapa banyak orang yang menyayanginya! Dan aku? Apa yang aku punya? Apa?!" Geramnya.

"Kau hanya melihat semuanya dari luar, Sakura." Ucap Sasuke pelan.

Ya, Sakura tidak tahu bagaimana rapuhnya Naruto selama ini. Dia tidak tahu bagaimana masalah yang selama ini ia buat membuat Naruto hampir mati beberapa kali. Da juga tidak tahu bagaimana sulitnya hidup Naruto meskipun keluarga Uchiha dan kekayaan selalu ada disisinya.

Karena yang Sakura lihat hanyalah hal yang menyenangkannya saja, bukan hal yang lain..

Cklak..

Sakura menodongkan pistolnya, bersiap menembak. Tangannya tidak terlihat gemetar sedikitpun. "Aku akan membuatnya hancur hanya dengan membunuhmu, Sasuke.." Sakura kembali tersenyum sinis. "Dia akan gila dan akhirnya bunuh diri.."

Naruto mulai kalut. Apa yang harus ia lakukan? Naruto kembali mengintip. Sasuke sempat memberontak, tapi kembali terdiam. Seakan mempersilahkan malaikat pencabut nyawa mengambil nyawanya saat itu juga.

"Aku yakin dia akan bahagia meski aku mati. Usahamu akan sia-sia, Sakura." Ucap Sasuke sinis.

"Kau terlalu percaya diri, Sasuke!" Bentak Sakura.

Naruto semakin gemetar, ia mengambil sebongkah kayu yang ada dibawah kakinya lalu berlari menghampiri mereka.

Braakk...

"Sasuke!"

Dorr...

"Ugh.."

Hening..

Waktu seakan berhenti, seorang penjaga bertubuh besar tengah merintih kesakitan karena pukulan bongkahan kayu yang dilanyangkan Naruto tepat mengenai kepalanya. Sakura masih sama dengan posisinya saat menembak, tidak bergerak sedikitpun. Dan Naruto, tersenyum..

"Akhirnya, aku tidak terlambat menyelamatkanmu, Sasuke. Aku selalu menyayangimu" Ucapnya pelan.

Sasuke menatap punggung Naruto. Gadis itu masih terdiam dan dengan perlahan mulai ambruk.

"Na.. Naruto.." Sasuke gagap. "Naruto!" Teriak Sasuke.

Sasuke kembali memberontak, kedua tangannya yang semakin memerah karena tali yang mengikatnya tidak ia gubris sama sekali. Yang ia fikirkan hanyalah Naruto. Gadis itu masih bernafas walaupun Sasuke yakin Naruto sedang kritis saat ini.

"Sakura! Hentikan!"

Gaara. Pemuda itu terdiam membeku saat melihat Naruto yang sudah bersimbah darah dilantai. Kakinya melemas, tubuhnya merosot begitu saja. "Naruto.." Lirihnya.

"Gaara.. Gaara! Bawa Naruto kerumah sakit! Cepatlah Gaara!" Pinta Sasuke, air matanya sudah membanjiri kedua pipinya.

.

.

Musim dingin telah datang kembali. Memaksa setiap orang yang akan beraktifitas memakai baju tebal. Karbon dioksidapun mengepul diudara keluar dari setiap orang yang bernafas.

"Dei! Sasori sudah menunggu! Cepatlah berdandannya, bodoh!" Teriakan Ino mewarnai pagi ini. Kedua tangannya sibuk membawa beberapa map dan sebuah tas kerja.

Tas kerja?

Ya, sekarang sudah beberapa tahun berlalu sejak kejadian menyedihkan itu terjadi. Semua sudah berubah pesat. Semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, tidak perduli dengan apapun. Lain hal nya dengan Sasori dan Dei. Mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih.

"Ino, tidak perlu berteriak seperti itu." Saran Sasori.

Sementara Ino? Hanya mendelik dan berlalu meninggalkan Sasori yang tengah menggelengkan kepalanya.

"Saso-kun, sudah lama? Gomen ne, aku lama." Ucap Dei seraya menggandeng tangan Sasori erat. "Ayo kita berangkat! Aku yakin, Kurama akan mengomel lagi kalau kita telat." Ucapnya lagi seraya terkikik pelan.

Sasoripun hanya tersenyum dan mengangguk.

.

Ino, saat ini bekerja di perusahaan Namikaze sebagai assisten direktur. Tentu saja direktur utama Namikaze corp adalah Kurama. Dei dan Sasori juga bekerja disana dibawah pimpinan langsung dari Kurama.

Kurama telah berusaha keras selama beberapa tahun ini untuk membangkitkan kembali perusahaan Namikaze. Perusahaan itu sempat terpuruk karena Minato yang masuk penjara dan Kushina juga mengikuti jejak suaminya karena telah melakukan perencanaan pembunuhan dengan Sakura dan Gaara.

Sakura dan Gaara?

Merekapun sama, berakhir masuk bui. Dan keadaan Gaara semakin memburuk di penjara, selayaknya sebuah mayat berjalan ia seperti tidak punya nyawa. tatapannya selalu kosong dan terkadang menangis dengan sendirinya.

Sakura?

Ibu nya pernah menjenguknya sekali di penjara. Ah, bahkan nyonya Haruno itu menatap dingin Sakura. Nyonya Haruno itu hanya menatap Sakura, dan bertanya "Apa kau masih layak ada didalam keluarga Haruno? Huh, walaupun aku memakai kursi roda, cacat dan miskin, aku masih punya perasaan. Aku harap kau mendapatkan balasan yang setimpal, Sakura."

Lalu nyonya Haruno meninggalkan Sakura.

"Aku bahkan belum membunuh Sasori-kun. Tapi aku sudah di hukum seumur hidup." Lirih Sakura dengan tatapan kosong.

.

"Otouto, pulanglah. Sudah dua hari ini kau tidak pulang. Biar aku yang mengurus sisanya." Pinta Itachi pelan.

Sudah dua hari Sasuke mengerjakan laporan perusahaan, bahkan kantung mata hitam bertengger manis di bawah matanya. Ia tidak berniat beristirahat sedikitpun.

"Kaa-san menyuruhmu pulang. Ia khawatir padamu." Ucap Itachi lagi seraya menutup laptop yang digunakan Sasuke begitu saja.

Sasuke mendengus. "Tinggalkan aku."

"Kau seperti mayat hidup! Bisakah kau berfikir dewasa? Umurmu sudah 25 tahun, Sasuke!" Bentak Itachi.

Sasuke mendelik, ia bangkit dan mengambil jas nya. "Aku memang seorang mayat, Itachi." Gumamnya. Lalu meninggalkan Itachi yang termenung.

.

"Ino, aku akan menjenguk Naruto. Rapat hari ini kau yang pimpin." Perintahnya telak. Kurama bahkan memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak. Masa bodoh dengan omelan pedas Ino nanti.

Kurama selalu mencoba menjadi seorang pemuda yang bisa diandalkan. Ia cukup senang ketika perusahaan Namikaze bangkit dari keterpurukan karena usahanya. Tapi, ada satu hal yang selalu membuatnya menyesal hingga saat ini..

Naruto, adik pirangnya, adik kesayangannya, matahari paginya, dan cahaya kebahagiaannya. Kenyataan Naruto yang membuatnya menyesal hingga saat ini.

Dengan sebucket bunga Lily putih yang bertengger manis dikursi penumpang, Kurama melajukan mobilnya secepat mungkin untuk bertemu Naruto.

.

"Kau disini Sasuke." Nada berat Kurama menyapu pendengaran Sasuke.

Sasuke menoleh, Kurama masih dengan jas kantornya dan sebucket bungan Lily di tangan kanannya. "Hn." Gumam Sasuke. Lalu kembali menatap pusara dihadapannya dengan sendu.

"Jadi benar kata Itachi.." Kurama berlutut disamping makam adiknya dan menaruh sebucket bunga Lily nya disana. "Kau seperti mayat hidup." Lanjutnya lagi.

Sasuke mendengus geli. "Kau pun sama. Gaara pun sama. Semua sama menyesalnya hingga mayat hidup menjadi pilihan utama."

Kurama terdiam. Sasuke benar. Kuramapun selalu menjaga jarak dengan siapapun dan bahkan selalu menyembunyikan semua masalahnya. Saat Kurama tahu Sasuke dan Naruto saling menyukai, Kurama mengerti mengapa Sasuke jadi terpuruk atas kepergian adiknya. Tapi, Kurama tidak menyangka Sasuke akan benar-benar terpuruk seperti ini.

Semua berbeda saat Naruto tiada, gadis itu menutup usianya dengan senyuman. Meski sempat bertahan selama 2 hari, tapi peluru yang menembus jantungnya membuatnya kehilangan nyawa. Sebelum menutup matanya, Naruto sempat menyampaikan beberapa kata..

"Hiduplah bahagia untukku."

Meski akhirnya, tidak ada satupun yang bahagia selepas kepergiannya. Perasaan Sasuke pun ikut terkubur bersama Naruto.

.

Itachi terperangah. Demi ayahnya yang sedang tertawa lebar, Itachi seakan melihat arwah Naruto! Dihadapannya seorang gadis dengan seragam SMA tengah berbicara dengan salah satu karyawan di perusahaannya.

Gadis itu pirang, tubuhnya hampir sama dengan Naruto. Bukan, bukan hanya hampir sama tapi memang sama. Kecuali, satu. Matanya yang berwarna merah ruby.

"Ah, Akimoto-san! Sumimasen." Panggil Itachi seraya menghampiri mereka.

'Kami-Sama.. Mereka memang mirip!' Batin Itachi saat melihat gadis itu dari dekat.

"Itachi-sama.." Akimoto-san membungkuk hormat didepannya. "Maaf, anak saya lancang datang keperusahaan ini. Dia akan pulang sekarang. Maafkan saya, itachi-sama."

Masih dengan wajah terperangahnya, Itachi menggeleng. "Tidak, tidak apa.. Aku hanya penasaran dengan putri anda, Akimoto-san." Itachi tersenyum. "Dia sangat mirip sekali dengan adik kami. Siapa nama putri anda Akimoto-san?"

Gadis pirang itu menatap datar Itachi. Sorot matanya penuh dengan kewaspadaan. "Naruko. Akimoto Naruko." Ucap gadis itu.

"Ya, dia anak saya. Akimoto Naruko." Jawab ayah Naruko. Dan Itachipun tersenyum. Sepertinya dia tahu cara untuk membangkitkan kembali para mayat-mayat hidup disekitarnya.

TBC

Holaaaa... Runa come back setelah berhiatus ria! Yap, kemarin Runa baru saja selesai UN. Dan sekarang Runa 'berngebut-ngebut' ria untuk meng update fic ini. Karena apa? Hari ini Runa ulang tahun yang ke-18~~ Yeaaa.. Hehehe

Runa minta maaf, karena baru fic ini saja yang Runa update. Semua ini karena writerblock yang mendera Runa. Maaf juga karena kelanjutan fic ini yang gaje, alur kecepetan, dan aneh -_- Sekali lagi Runa minta maaf ya minna-san!

Berniat kasih masukan atau yang lainnya? PLISS REVIEW NYAA YAA MINNA-SAN!

BIG THANKS TO :

alta0sapphire : Ya, jawabannya sudah ada dichapter ini yaa :D Thanks udah me review

Dewi15: Yaaa, sudah dilanjuutt, Arigatou sudah me review

Nokia 7610: Sudah dilanjut gan! Arigatou sudah review..

: Sudah dilanjut.. Arigatou sudah review

Hyull: Iyaa, jangan sampe punah T^T SasuFemNaru bener-bener pair favorite Runa :D Ini sudah dilanjut yaa, Arigatou sudah menanti fic Runa dan sudah mau me review

mifta cinya : Aminn.. Arigatou do'a nya Yap, pertanyaanmu sudah dijawab di chapter ini yaa :D Arigatou sudah review

: Maaf belum bisa update kilat:'( Ini sudah dilanjut yaa, Arigatou sudah review

kawaihana: Sudah dilanjut yaa, terimakasih sudah review

Uzumaki Prince Dobe-Nii: Apa? Apa? Hehe, Pertanyaanmu sudah ada di chap ini yaa :D Sebentar lagi tamat ya :D Ganbatte! Arigatou sudah review yaa..

Miyamoto Yuukio : Sudah dilanjut yaa :D Arigatou sudah review

zadita uchiha: huaaa terima kasih :D um, untuk happy ending sepertinya bukan buat Naruto -_- Maafkan Runa :'( Arigatou ya sudah review

Net : Terima kasih ini sudah dilanjut yaa.. :D Arigatou untuk review nyaa..

YMD : Iyaa, Runa udah kelas 3 SMK :D Maaf kalau kelanjutannya semakin ancur dan tidak sesuai harapan ya :'( Terima kasih sudah review

Sadistic : Hehe, maaf ya gantung :D Ini sudah dilanjut yaa.. Arigatou review nyaa :D

Mu : Sudah dilanjut.. Terimakasih :D

UzumakiDesy: Ini sudah dilanjut, Terima kasih reviewnya yaa :D

Tsuki Nigatsu No KinyoubiNatsu: Hehe sepertinya Tsuki-san benar :D Sudah dilanjut yaa, terima kasih reviewnyaa.. :D

za hime: Siapa yang tewas sudah ada di chapter ini yaa :D arigatou sudah me review :D

Guest : Iyaa :'( Terima kasih ya sudah me review :D

Calpa : Iyakah? Wah, arigatou! Um, sepertinya bukan Gaara yang tewas :D Wah terima kasih yaa pujiannya :D Ini sudah Runa lanjut! Arigatou reviewnyaa :D

Himeka : Woaa, benarkah? Runa juga ikutan terharu :'( Arigatou ya sudah me review :D

Widuri : Runa ga kemana-mana :D Cuma inspirasi Runa aja yang kemana-mana :D hehe, Terima Kasih sudah review :D

Uzumaki Fiyyana : Amiin terima kasih do'a nya :D Ini sudah Runa lanjut yaa :D Arigatou sudah review :D

kazekageashainuzukaasharoyani: Yap, SasuFemNaru crack pair :D wakakak Jawaban nya ada di chap ini yaa :D arigatou sudah review :D

B-Rabbit Ai : Sasu-teme ga mati koo :D Mungkin chap depan endingnya :D Arigatou ya sudah review :D

SafOnyx Reizza : Woa maaf kalau menggantung :'( Wah senengnya... Terima kasih Ona-san sudah me review plus mem fav dan follow. Runa senang sekali :D

Hyuuga Hime899 : Ini sudah dilanjut yaa :D terima kasih sudah review :D

Ain : Ini Sudah di lanjut, terima kasih sudah review :D

kyuu nagatsu : Woaa, terima kasih. Ini sudah dilanjut yaa :D

Kim Amai : Woaa, terima kasih :D Ini sudah dilanjut ya, terima kasih sudah review :D

uzumaki ryuto : Sudah dilanjut ya, terima kasih sudah review :D

Jasmine DaisynoYuki: Hehe, maaf-maaf.. Terima kasih sudah review yaa :D

Guest : Woaa, terima aksih yaa.. Terima kasih juga sudah review :D

Sukmawindia : Terima kasih :D Ini sudah dilanjut yaa, terima kasih sudah review :D

gladys gillua : Ini sudah di update, okee.. terima kasih ya sudah me review dan fav :D

Terima Kasih untuk para readers yang sudah me review :D Dan sekali lagi Runa minta maaf, kalau chap ini tidak memuaskan. :D Jangan lupa review lagi yaa...