"Sakura."

Sakura terkejut ketika mendengar suara pria yang memanggil namanya. Ia bahkan hampir terlonjak dan segera menoleh.

Ia mendapati Naruto tertawa seraya memegang ponsel dengan satu tangannya. Lelaki itu mengetikkan sesuatu di ponselnya dan tak lama kemudian terdengar suara dari ponsel lelaki itu.

"Jadwal istirahat kita sama, 'kan? Kau mau makan dimana?"

Iris klorofil gadis merah muda itu bergulir pada pemuda pirang di hadapannya, merasa bingung harus merespon seperti apa.

Semula ia berpikir suasana di kafe ini akan begitu hening dan terkesan kaku. Selama berjam-jam di meja kasir, ia hanya mendengar suara langkah kaki pelayan yang bergerak ke sana kemari serta suara mesin kopi maupun peralatan makan.

Ia tak pernah menduga jika ia akan mendengar suara seseorang sebelum ia sampai di rumah, atau setidaknya setelah ia meninggalkan kafe. Namun kini Naruto 'bersuara', lebih tepatnya mengeluarkan suara dengan menggunakan aplikasi penerjemah di ponselnya dan menekan tombol suara.

Sakura menatap Sasuke dan beberapa pegawai yang berada di dapur dan merasa tidak enak hati. Sasuke bahkan sampai mengabaikan adonan kue di hadapannya dan menoleh sejenak ketika mendengar suara dari ponsel Naruto.

Naruto bersikap seolah tak peduli. Ia hanya menatap Sakura dengan tatapan tak sabar, membuat gadis itu bingung harus menjawab seperti apa.

Entah kenapa Sakura merasa begitu gugup. Otaknya seolah buntu dan ia segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengetikkan sesuatu sebelum memperlihatkannya pada Naruto.

Aku istirahat jam satu. Kau juga?

Aku tidak tahu, nih. Sepertinya aku ingin membeli bento di vending machine terdekat.

Naruto membaca pesan itu sebelum mengetikkan sesuatu. Ia segera menekan tombol dan kembali terdengar suara pria dari aplikasi penerjemah.

"Mau makan siang bareng? Aku tahu tempat makan siang enak di sekitar sini."

Sasuke kembali menoleh ketika mendengar suara dari aplikasi penerjemah yang diputar oleh Naruto. Namun ia segera mengalihkan pandangan begitu iris oniksnya bersua dengan tatapan sang gadis merah muda.

" ... yang pasti harganya murah, hehe ... "

Sakura tak mampu menahan diri untuk tidak meringis ketika mendengar suara dari aplikasi penerjemah yang lagi-lagi diputar oleh Naruto. Di kafe terdapat peraturan untuk tidak bersuara dan ia sendiri mati-matian menahan diri untuk tidak berbicara. Bahkan ia sampai membekap mulutnya sendiri ketika ia hampir berbicara pada pelanggan yang membayar di kasir secara refleks. Namun Naruto malah sengajar bersuara.

Gadis itu hanya menganggukan kepala dan sedikit menunduk dengan perasaan bersalah sebelum menggerakkan tangan dengan canggung. Rasanya sedikit lucu menyaksikan seorang tunawicara yang berusaha untuk berbicara layaknya orang normal dan orang normal yang berusaha berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

'Ah ... maaf, bukannya sebaiknya menjaga keheningan di sini, ya?'

Naruto tersenyum lebar melihat reaksi gadis merah muda yang tampak canggung dan gugup itu. Gadis itu mengingatkannya akan teman wanitanya yang cenderung pemalu, tetapi ia merasa kalau gadis ini sebetulnya memiliki kepribadian yang berbeda.

Sasuke memasang plastic wrap di atas mangkuk dan segera meletakkan gulungan plastic wrap tersebut ke dalam laci serta menghampiri Naruto serta menggerakkan tangannya.

'Makan siang, hn? Aku ikut.'

Naruto mendengus jengkel dan segera menggerakkan tangannya. Lelaki itu jelas terlihat jengkel begitu Naruto menghampirinya.

'Katanya kau istirahat jam dua, teme? Sana lanjutkan buat rotimu.'

Iris oniks Sasuke bergulir antara gadis berambut sewarna bunga sakura dan temannya sebelum menatap dirinya sendiri. Tubuhnya seolah bergerak sendiri untuk menghampiri kedua insan berlainan jenis itu dan menyatakan diri untuk ikut makan siang bersama mereka, bak nyamuk penganggu pasangan yang tengah berkencan.

Sasuke terdiam sesaat. Otaknya berusaha memikirkan sebuah alasan untuk diungkapkan. Namun semakin keras ia berpikir, semakin sulit menemukan alasan yang tepat untuk dijelaskan pada lelaki pirang itu.

Biasanya Sasuke tak keberatan dengan makan siang sendirian. Bahkan ia berencana untuk pergi makan siang sendirian kali ini. Tetapi ia berubah pikiran secara mendadak ketika teringat bahwa gadis itu terlihat sangat gugup sejak pagi.

'Bukan urusanmu.'

Naruto menepuk bahu Sasuke hingga menimbulkan suara dan tangannya segera bergerak dengan gerakan yang lebih cepat hingga Sakura sedikit kesulitan membacanya.

'Dasar teme. Bilang saja ingin makan siang sama cewek, 'kan?'

Sasuke menatap tajam lelaki dihadapannya lekat-lekat dengan tatapan yang seharusnya mampu membuat seseorang mengalihkan pandangan, namun Naruto membalas tatapan itu secara terang-terangan, seolah tak merasa takut sama sekali.

'Bukankah itu kau, dobe?'

Sakura memberanikan diri menatap Sasuke dengan ekor matanya. Ia merasa gugup dengan keberadaan Sasuke, namun juga merasa lega di saat yang sama. Bagaimanapun juga, lelaki itu adalah orang yang paling dikenalnya dibanding pegawai lainnya dan ia merasa lebih nyaman berada di situasi yang asing jika bersama dengan orang yang dikenalnya.

Sasuke mengalihkan pandangannya pada Sakura. Ia sama sekali tak mengatakan apapun, namun tatapan lelaki itu sedikit lebih lembut, seolah berusaha memberikan kenyamanan pada gadis itu.

Menjalani hidup selama lebih dari dua dekade sebagai seorang penyandang cacat membuat Sasuke mampu mengobservasi lebih banyak ketimbang orang normal. Ia yang menghabiskan banyak waktu dalam diam dan mengamati membuatnya memahami orang lain jauh lebih mudah ketimbang yang diekspektasikan orang-orang terhadap orang sepertinya.

Meski Sasuke tampak seperti lelaki yang dingin di luar, sebetulnya lelaki itu mampu memahami apa yang diinginkan orang lain dan akan bergerak jika situasi mengharuskannya untuk bertindak, seperti yang dilakukannya di minimarket beberapa hari yang lalu.

Sasuke menyadari jika Sakura akan merasa lebih nyaman jika makan siang di hari pertamanya bekerja bersama seseorang yang dikenalnya sehingga memutuskan untuk menemaninya.

'Sudah, ah. Aku lapar.'

Sasuke tak menyahut. Ia segera menghampiri seorang pria berambut hitam yang diikat hingga terlihat seperti buah nanas dan menggerakan tangannya serta dibalas dengan anggukan yang terkesan malas-malasan.

Naruto melirik Sasuke sesaat sebelum menggerakkan tangannya.

'Santai saja. Si teme memang menakutkan dari sananya.'

Reaksi Sakura sedikit mengejutkan bagi Naruto. Ia tak menduga jika gadis itu malah mengekspresikan keingintahuannya secara gamblang.

'Kalian sudah berteman lama, ya?'

Naruto mengangguk sebelum menjawab, 'Dia teman sekolahku.'

Jawaban Naruto membuat Sakura terkejut. Ia tak mengira jika dua orang yang terlihat begitu kontras bisa berteman begitu lama. Padahal jika diibaratkan, Naruto bagaikan matahari di siang yang terik serta memancarkan sinar yang menyilaukan dan hangat. Sedangkan Sasuke bak bulan di malam musim dingin dimana angin terasa seolah menembus tulang dan membekukan.

'Sebenarnya dia orang yang baik. Cuma kesannya memang begitu.'

Tak butuh lebih dari sedetik bagi Sakura untuk menganggukan kepala. Ia sudah menyaksikan sendiri apa yang dilakukan lelaki itu hingga dapat menyimpulkan jika lelaki itu sebetulnya adalah orang yang baik meski bukan orang paling ramah yang pernah ditemuinya.

Sasuke segera menghampiri Naruto dan lelaki pirang itu menatap sahabatnya dengan jengkel, 'Lama sekali, sih.'

Sasuke tak menyahut dan menepuk bahu Naruto dengan keras hingga lelaki pirang itu meringis dan mengusap bahunya dengan satu tangan.

Sakura menatap kedua lelaki itu dan menyadari jika persahabatan kedua lelaki itu benar-benar lucu. Meski mereka berdua terlihat saling membenci satu sama lain, Naruto terlihat mengagumi lelaki itu hingga memujinya tanpa sepengetahuan Sasuke.

.

.

Sakura tak mengira jika ia akan berakhir di kedai ramen bersama dua lelaki. Pada awalnya, ia mengira Naruto akan mengajaknya ke salah satu restoran cepat saji atau konbini yang mejual set makanan dengan harga murah dan porsi yang super besar.

Kedai ramen yang dikunjungi Naruto tidak terlalu besar, namun sistem pemesanan restoran tersebut sudah modern. Pengunjung bahkan tidak perlu berbincang sama sekali untuk bertransaksi di restoran ini. Di luar restoran terdapat sebuah mesin dengan layar sentuh berukuran besar untuk memesan serta membayar makanan.

Pengunjung hanya perlu memesan di luar, memilih makanan dan membayar dengan non tunai atau memasukkan uang tunai dengan pecahan tertentu ke dalam mesin dan akan keluar kembalian secara otomatis. Selain itu pelanggan bisa memilih untuk dine in atau take away. Jika memilih dine in, maka akan terdapat gambar layout restoran dimana pengunjung bisa memilih untuk duduk di meja yang masih kosong.

Siang ini restoran tidak begitu ramai meski masih terdapat beberapa pengunjung yang mengisi meja. Namun entah kenapa restoran tersebut terkesan jauh lebih ramai dan berisik dengan keberadaan Naruto yang tak berhenti menyeruput ramen. Lelaki itu makan dengan cepat seolah sedang mukbang meski faktanya lelaki itu sedang menikmati makan siang yang santai.

Sakura melirik kedua lelaki yang duduk berhadapan dengannya dan entah mengapa ia merasa kedua lelaki itu begitu lucu karena begitu berlawanan dalam berbagai hal, hingga cara menikmati hidangan.

Naruto makan dengan porsi besar dan cenderung ribut seperti layaknya orang Jepang. Lelaki itu bahkan memesan dua porsi ramen untuk dirinya sendiri dan ia menghabiskan mangkuk pertama dalam waktu kurang dari lima menit.

Sedangkan Sasuke sebaliknya. Lelaki itu makan dengan sangat tenang dan tak bersuara sama sekali meski pada budaya Jepang ialah menyeruput ramen dengan suara keras sebagai bentuk penghormatan pada sang koki. Selain itu porsi dan kecepatan makan Sasuke juga terlihat lebih 'normal' jika dibandingkan dengan Naruto.

Diam-diam Sakura mensyukuri keberadaan Naruto siang ini. Seandainya ia hanya makan berdua saja dengan Sasuke, suasana pasti benar-benar canggung. Lelaki itu bahkan tak mengajak dirinya maupun Naruto untuk berbincang selama makan.

"Kau kurang suka ramen, Sasuke - san?"

Detik berikutnya Sakura menutup bibirnya sendiri dan sedikit membelalakan matanya. Ia terbiasa berbincang dengan orang lain dan tanpa sadar mengajak lelaki itu berbicara layaknya orang normal.

Di mata Sakura, Sasuke tak terlihat seperti orang yang memiliki disabilitas. Lelaki itu berpenampilan normal, bahkan cenderung stylish dengan produk fesyen rancangan desainer terkemuka yang melekat di tubuhnya. Fisik lelaki itu juga tergolong atraktif, bahkan melebihi beberapa orang normal pada umumnya. Dan sorot mata yang tajam yang berpadu dengan paras maskulin namun juga lembut di saat yang sama mampu membuat wanita heteroseksual maupun pria yang menyimpang meleleh seketika.

Tak seorangpun akan berpikir lelaki itu memiliki disabilitas hingga lelaki itu menggerakkan tangan untuk berkomunikasi dengan bahasa isyarat atau mengeluarkan suara yang aneh dan terdengar seperti geraman parau.

Sakura cepat-cepat menangkupkan kedua tangan di depan dada dan menundukkan kepala, memberi isyarat untuk meminta maaf dengan bahasa tubuh.

Sasuke sedikit mengernyit sebelum mengetikkan sesuatu di ponselnya dan tak lama kemudian terdapat notifikasi di ponsel Sakura.

?

Sakura mengernyitkan dahi. Kini giliran ia yang tak paham dengan maksud Sasuke. Dan lelaki itu tampaknya tidak berniat mengetik pesan yang panjang dan memilih mengungkapkan apapun yang ingin ia katakan dengan sebuah tanda tanya.

Sakura merasa gugup dan ia menatap sekeliling. Suasana restoran saat ini memang tidak begitu ramai meski terdapat beberapa meja yang terisi. Tetapi ia merasa canggung menggunakan bahasa isyarat, dan sejujurnya ia bahkan sedikit malu terlihat di tempat umum bersama Naruto dan Sasuke. Ia khawatir jika dirinya dikira sebagai orang cacat meski dirinya jelas-jelas normal.

Pada akhirnya harga diri mengalahkan empati Sakura dan ia segera mengeluarkan ponsel serta mengetikkan pesan meski ia yakin sebetulnya Sasuke pasti lebih nyaman berkomunikasi dengan bahasa isyarat, sama seperti orang normal yang lebih nyaman berkomunikasi dengan konversasi.

Maksudnya aku minta maaf karena berbicara tanpa sadar. Padahal sekarang aku sedang bersama kalian berdua.

Sasuke kembali mengetikkan pesan balasan dan memperlihatkannya pada Sakura.

Lalu?

Pesan Sasuke masih tetap singkat meski kini lebih mudah dipahami bagi Sakura. Ia mengalihkan pandangan pada lelaki pirang yang berkali-kali menatap ke arah dapur, tak sabar menunggu mangkuk kedua diantarkan ke meja. Lelaki itu bahkan tak peduli jika Sakura sedang berkomunikasi dengan Sasuke tanpa mengikutsertakan dirinya.

Ya mungkin kalian tidak nyaman karena aku bersuara?

Sasuke melirik gadis itu lamat-lamat sebelum mengalihkan pandangan pada layar ponselnya. Jemarinya hanya menyentuh layar ponsel tanpa mengetikkan satupun pesan.

Ia menyadari jika terdapat banyak asumsi terhadap orang-orang dengan disabilitas seperti dirinya. Yang ia tahu, banyak orang mengira jika orang disabilitas adalah orang yang cenderung perasa dan mudah tersinggung.

Padahal sebetulnya orang disabilitas juga tak berbeda dengan orang normal yang memiliki beragam kepribadian. Bahkan ia dan Naruto juga memiliki kepribadian yang berbeda.

Pada akhirnya Sasuke mengetikkan sebuah pesan yang cukup panjang setelah melirik lelaki pirang yang tersenyum setelah semangkuk ramen diantarkan ke mejanya.

Aku tidak keberatan.

Dobe apalagi.

Sasuke benar-benar serius dengan pesan yang ia tuliskan untuk Sakura. Naruto begitu suka mendengar suara dan benci dengan keheningan. Ia bahkan menguping pembicaraan orang lain yang didengarnya secara kebetulan di tempat yang ia kunjungi dan terkadang menjawabnya di dalam hati meski perbincangan itu tak ditujukan padanya untuk mengusir rasa penat akibat keheningan yang terlalu lama. Ia sendiri tahu dari pengakuan Naruto.

Saat kecil, Naruto bahkan memiliki mimpi yang jelas-jelas tidak masuk akal. Lelaki itu bahkan bermimpi untuk menjadi penyanyi dan berusaha mati-matian untuk belajar berbicara meski hasilnya nihil. Dan pada akhirnya, lelaki itu melepas mimpinya dan memilih bekerja di kafe.

Sasuke menyaksikan sendiri bagaimana Naruto berusaha keras meraih mimpinya yang tak membuahkan hasil karena tak realistis sejak awal. Karena itulah ia merasa kesal dan memastikan agar Sakura tak melepaskan mimpinya begitu saja.

Naruto menyadari jika kedua rekannya tampak sedang asik memainkan ponsel dan ia segera mengeluarkan ponselnya dan segera mengetikkan pesan di aplikasi penerjemah serta menekan tombol putar untuk mengalihkan atensi.

"Kalian sudah selesai makan?"

Sakura menggeleng dan ia segera menyentuh sumpitnya serta berniat menghabiskan ramen yang masih tersisa seperempat di mangkuknya, begitupun dengan Sasuke yang kini menghabiskan kuah ramen.

Sakura segera mengetikkan pesan di layar ponsel setelah menghabiskan ramen dan memperlihatkannya pada Naruto.

Terima kasih. Rekomendasimu mantap. Hehe ...

Naruto tersenyum lebar dan mengetikkan pesan seraya meletakkan mangkuknya sejenak.

Hehe ... benar, 'kan? Ichiraku memang terbaik.

Senyuman Naruto bagaikan patogen yang menular. Sakura bahkan ikut tersenyum tipis tanpa sadar. Dalam hati ia bertanya-tanya bagaimana bisa lelaki itu tersenyum begitu ceria seolah tanpa beban meski ia yakin hidupnya tak semudah yang terlihat.

-TBC-