THIRTY SOMETHING (Remake)
Chapter 11
Cast :
Chanyeol, Baekhyun, Kris, EXO (pairing CHANBAEK dan KRISBAEK)
Genre :
Romance, Hurt, Sad, Family
Rate :
T/ Gender Switch (GS)
.
.
FF ini merupakan hasil remake kedua dari novel karya Mira W.
.
.
.
Beware of typos!
.
.
.
Happy reading!
.
.
.
.
Baekhyun langsung bangkit ketika melihat Chanyeol diantarkan oleh petugas rumah tahanan.
"Baek," sapa Chanyeol sambil tersenyum. "Apa kabar?"
Masih senyum yang sama. Tatapan yang sama. Meskipun tubuh Chanyeol terlihat lebih kurus. Dan matanya sayu seperti kurang tidur.
"Baik," sahut Baekhyun tersendat.
Dia ingin bersikap tenang. Tidak memperlihatkan kesedihannya. Tetapi begitu melihat Chanyeol, air matanya berlinang tanpa dapat ditahan lagi.
Dan melihat air mata Baekhyun, Chanyeol sudah dapat menerka bagaimana hasil pemeriksaan tumor payudara wanita itu. Dia tampak begitu syok sampai tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Baekhyun melepaskan genggaman tangan Chanyeol. Dan duduk kembali di kursi. Kakinya terasa lemas sampai rasanya dia tidak kuat lagi berdiri. Sementara air matanya mengalir perlahan ke pipi.
Sebenarnya Baekhyun tidak ingin menangis. Lebih-lebih di depan Chanyeol. Dia tidak mau menambah kesedihan lelaki itu. Tetapi akhir-akhir ini air matanya memang mudah sekali mengalir.
Chanyeol membalikkan tubuhnya. Lengannya bertumpu ke dinding. Tangannya menutupi wajahnya.
Sesaat hanya keheningan menyakitkan yang mengisi suasana.
"Kenapa, Tuhan?" gugat Chanyeol getir. "Kenapa perempuan sebaik dia harus menanggung penderitaan seberat ini?"
"Jangan salahkan Tuhan, Yeol," balas Baekhyun lirih. "Tuhan tidak pernah keliru. Bantulah agar aku tetap tabah dan pasrah."
Chanyeol menurunkan tangannya. Memutar tubuhnya dan menatap Baekhyun dengan sedih sambil bersandar lesu ke dinding.
"Stadium berapa?"
"2B."
"Kau masih bisa dioperasi, Baek."
"Dokter menganjurkan supaya aku dioperasi secepatnya, kemudian diikuti oleh radiasi."
"Aku mohon padamu, Baek," suara Chanyeol begitu memelas. "Ikuti apapun perintah dokter. Aku ingin ketika aku keluar dari penjara nanti, kau masih menungguku!"
"Bagaimana kasusmu, Yeol?" Baekhyun menyusut air matanya.
"Aku sudah menandatangani proses verbal. Kata pengacaraku, kasusnya akan segera dilimpahkan ke pengadilan."
"Ada harapan pengadilan akan membebaskanmu?"
"Rasanya tidak mungkin. Korban yang kutabrak tewas. Kalau aku beruntung, jaksa hanya menuntutku lima tahun."
"Aku bersedia memberikan kesaksian jika diperlukan, Yeol. Malam itu aku menabrakmu sampai kau tidak bisa pergi melapor ke kantor polisi."
"Aku tidak mau melibatkanmu, Baek. Kau juga bisa dituntut karena sudah menyembunyikan seorang buronan. Kau bisa dipenjara."
"Kalau dapat meringankan hukumanmu, aku rela mengambil resiko itu!"
"Aku tidak rela! Kesulitanmu sudah cukup banyak!"
"Waktuku tidak banyak lagi, Yeol. Aku ingin masih sempat melihatmu keluar dari penjara."
"Berjanjilah kau mau menungguku, Baek," pinta Chanyeol sungguh-sungguh. "Supaya kita bisa berkumpul kembali."
Aku mau, Yeol, bisik Baekhyun dalam hati. Aku mau! Tetapi masih maukah Tuhan menunggu?
"Bagaimana anak-anak?" Chanyeol menatap Baekhyun dengan redup. "Mereka...sudah tahu?"
"Mereka sangat sedih. Begitu sedihnya sampai rasanya sangat menyakitkan melihat mereka menangis daripada mendengar kankerku ganas."
"Kami sama-sama takut kehilanganmu, Baek."
"Dan aku lebih takut meninggalkan kalian daripada menghadapi kematian itu sendiri."
"Paling tidak sekarang anak-anakmu sudah dapat memahami dirimu."
"Tetapi sikap mereka sangat berubah, Yeol!"
"Apa salahnya jika perubahan itu membawa mereka lebih dekat kepadamu?"
"Mereka jadi kehilangan keceriaannya. Mereka seolah-olah takut berbuat salah. Takut membuatku sedih. Mereka sangat tertekan!"
"Lama-lama mereka pasti dapat menyesuaikan diri. Jangan salahkan dirimu. Kau harus tetap kuat. Jangan terlalu stres supaya daya tahanmu tidak menurun."
.
.
.
Mati-matian Baekhyun menahan agar air matanya tidak runtuh ketika mobil tuanya dibawa pergi dari halaman rumahnya.
Pergilah sahabatnya yang setia. Yang telah menemaninya hampir lima belas tahun.
Nilainya sebagai mobil sudah hampir tidak ada. Modelnya sudah ketinggalan zaman. Warnanya sudah pudar. Catnya sudah banyak yang terkelupas.
Tetapi dia masih tetap bertahan. Membawa Baekhyun dan anak-anaknya menelusuri hiruk-pikuk jalanan kota Seoul.
Mina, Sena, dan Jina tegak di ambang pintu dengan paras sedih. Sementara Hana memilih pergi meninggalkan rumah biarpun masih terlalu pagi untuk berangkat kerja. Dia juga pasti merasa kehilangan. Esok pagi tidak ada lagi mobil yang harus dicucinya.
Baekhyun membawa anak-anaknya masuk. Dan membereskan uang yang masih bertumpuk di atas meja ruang tamu.
Sena dan Jina tegak di samping kursi Baekhyun. Sementara Mina duduk di hadapan ibunya.
"Apa uangnya cukup untuk biaya operasi, bu?" tanya Sena ragu-ragu.
"Pasti cukup!" sergah Jina segera. "Uang segini banyak, tidak mungkin tidak cukup. Iya kan, bu?"
Baekhyun hanya tersenyum. Tetapi sedihnya senyum itu sudah menjawab pertanyaan Sena. Mobilnya hanya terjual beberapa juta won saja. Bahkan tidak sampai separuh dari biaya operasi yang dibutuhkan.
Sementara Kris sudah mencoret nama Baekhyun dari daftar pemain dalam produksi film-nya. Memang tidak sulit menghilangkannya begitu saja. Dia hanya pemain pengganti. Tidak ada yang mengenali wajahnya. Diganti pun tidak ada yang tahu. Tidak merusak kesinambungan cerita.
Sia-sia Baekhyun berusaha menemui Kris. Dia sudah tidak mau menjumpainya lagi. Memprotes pun tidak ada gunanya. Tidak ada kontrak yang mengikat mereka. Dia pemain lepas. Dibayar hanya ketika dia bermain peran. Ke mana lagi dia harus meminta bantuan?
.
.
.
"Kau belum setahun bekerja. Bagaimana mungkin kau mau pinjam uang sebanyak itu?"
Tuan Kang, bagian keuangan di perusahaan farmasi tempat Hana bekerja, sebenarnya baik hati. Orangnya kalem. Tetapi bagaimanapun baiknya dia, tuan Kang tidak berani meminjamkan uang sebanyak itu pada karyawan baru seperti Hana.
"Ibu saya harus dioperasi, tuan."
Mengemis adalah yang paling dibenci Hana. Tetapi kali ini, demi ibu, rasanya dia rela melakukan apa saja.
"Maafkan saya, Hana. Tapi kebijaksanaan perusahaan tidak bisa saya langgar."
Sia-sia. Percuma saja mengemis belas kasihan. Tuan Kang tidak dapat menolongnya. Padahal di rumah, ibunya sangat memerlukan uang. Kalau tidak, ibu tidak akan menjual mobil kesayangannya.
"Berapa sisa uang yang diperlukan ibu?" tanya Hana malam itu kepada adiknya. Tentu saja tanpa sepengetahuan ibunya.
Mina menggeleng sedih.
"Ibu merahasiakannya. Pasti banyak sekali."
"Kau tidak punya teman yang bisa dipinjami uang?"
Mina kembali menggeleng.
"Ajaklah aku bekerja di pabrikmu, eonni."
Kali ini Hana yang menggelengkan kepala. "Kau tidak akan kuat. Lagi pula berapa uang yang bisa kita kumpulkan? Kalau hanya mengandalkan gaji dari tempatku bekerja, sampai kapan kita baru bisa mengumpulkan uang untuk operasi ibu?"
"Jadi kita harus minta tolong ke mana?"
"Aku juga tidak tahu."
"Apa eonni setuju kalau aku meminta bantuan pada paman Kris?"
"Paman Kris? Gila! Ibu bisa marah!"
"Tapi hanya dia yang bisa menolong kita!"
"Belum tentu dia bersedia."
"Siapa tahu, demi ibu?"
"Orang seperti dia hanya mau membantu jika ada maunya!"
"Apa salahnya mencoba?"
.
.
.
"Hyunie," perlahan-lahan nenek duduk di samping tempat tidur Baekhyun. "Yuna sudah tidur?"
"Sudah, bu. Malam ini dia tidak rewel."
"Beberapa hari ini dia memang baik sekali. Barangkali dia juga tahu, kau sedang sakit."
"Aku ingin menyekolahkan Yuna di sekolah untuk anak berkebutuhan khusus, bu."
"Jangan pikirkan Yuna dulu, Hyunie. Pikirkan saja kesehatanmu. Tumormu tidak sakit?"
"Tidak terasa apa-apa, bu. Makanya orang sering tidak mengetahui ada pembunuh yang bersembunyi di dadanya. Baru tahu sesudah terlambat."
"Kau sudah mantap akan melakukan operasi?"
"Sepertinya itu memang jalan yang terbaik, bu."
"Kapan?"
"Entahlah."
"Uangmu belum cukup?"
"Oh, tinggal kurang sedikit, bu. Tidak usah khawatir. Kata dokter—"
"Jangan bohongi ibu. Anak-anak boleh kau bohongi. Tapi ibu tidak bisa."
Baekhyun tidak menjawab. Percuma memang mendebat ibunya.
"Ibu tidak punya apa-apa lagi, Hyunie," kata nenek setelah sekian lama terdiam. "Hanya ini."
Dalam keremangan Baekhyun melihat ibunya menyodorkan sebuah kotak beludru berwarna biru tua.
"Apa ini, bu?" tanya Baekhyun bingung.
"Pakailah untuk menambah biaya operasimu."
Ibunya menjejalkan kantong itu ke dalam genggaman Baekhyun. Ketika Baekhyun membuka kotak itu, dia melihat sepasang cincin pernikahan. Terbuat dari emas.
"Hanya itu peninggalan ayahmu," kata nenek datar. "Rasanya dia juga setuju kalau kau menjual cincin itu untuk biaya operasimu."
Tercekat kerongkongan Baekhyun oleh tangis. Ibunya, perempuan cerewet yang menjengkelkan dan paranoid itu, ternyata amat menyayanginya. Dia rela mengorbankan peninggalan terakhir suaminya untuk Baekhyun. Cincin pernikahannya sendiri.
.
.
.
"Siapa?" Kris Wu menoleh dengan malas ke arah sekretarisnya.
"Katanya namanya Mina, sajangnim."
"Aku tidak kenal," sahut Kris pendek.
"Dia bilang, dia anak dari Byun Baekhyun, sajangnim."
Mata Kris yang sudah beralih ke angka anggaran produksi di depannya mendadak membeku. Tidak jadi melahap deretan angka-angka di hadapannya. Diangkatnya mukanya dengan kesal.
"Ada urusan apa lagi?" tanyanya separuh membentak.
"Tidak tahu, sajangnim. Dia hanya meminta untuk bertemu dengan anda."
"Suruh dia masuk!"
Bergegas sang sekretaris meninggalkan ruang kerja direkturnya. Ketika kembali, seorang gadis timpang mengikutinya dari belakang.
"Selamat siang, paman Kris," sapa Mina begitu masuk.
"Ibumu yang menyuruhmu kemari?" tanya Kris dingin.
Mina tertegun sesaat. Bukan oleh pertanyaan Kris. Tetapi oleh dinginnya nada suara lelaki itu. Kapan pernah didengarnya paman Kris bertanya sedingin itu? Biasanya dia selalu ramah. Selalu berusaha mengambil hatinya.
Hanya sekali paman Kris marah. Waktu terakhir kali datang ke rumahnya. Pada malam ulang tahun ibunya. Tetapi bagaimana pun marahnya dia saat itu, Mina tidak menyangka begini tawar sambutannya padanya.
Bukankah dia marah pada ibunya? Kenapa tampaknya dia kesal juga kepadaku, gerutu Mina dalam hati. Siapa dulu yang begitu ingin menjadi ayah kami? Apakah dia kesal kepadaku karena aku tak pernah bersikap ramah padanya dulu?
"Ibu tidak tahu aku datang kemari, paman."
Mina tidak berani duduk karena paman Kris tidak menyilahkannya. Sekretaris yang ramah itu juga sudah pergi meninggalkan mereka setelah menutup pintu.
"Mau apa kau ke sini?"
"Paman," Mina mencoba menenangkan dirinya. Dibayangkannya wajah ibunya. Ibunya yang sedang sakit. Yang sedang memerlukan biaya besar untuk operasi. Dikuatkannya hatinya. Demi ibu. Dia harus mencoba. "Aku ingin minta tolong..."
"Kenapa datang padaku?"
"Karena hanya paman Kris yang bisa menolong."
Kris mencibir. Menyakitkan sekali. Kalau bukan untuk ibunya, Mina pasti sudah lari meninggalkannya.
"Kenapa tidak minta tolong pada ibumu? Atau pada kekasihnya yang muda belia itu?"
"Paman Chanyeol sudah masuk penjara..."
Ketika melihat seringai di bibir Kris, Mina menyesal mengatakannya. Untuk apa? Seharusnya dia tidak usah tahu!
"Jadi dia bukan hanya seorang gigolo!"
"Paman Chanyeol bukan gigolo!" protes Mina tersinggung.
"Oh ya? Lantas sedang apa dia di kamar ibumu?"
"Paman Chanyeol sakit!"
"Dan dia tidak bisa membayar biaya rumah sakit?"
"Paman Chanyeol sangat baik!"
"Lalu kenapa orang baik bisa masuk penjara?"
"Dia tidak sengaja menabrak orang..."
"Lalu dia lari ke rumah ibumu? Hmm, malang sekali nasibnya."
"Paman, saya datang kemari untuk meminta tolong."
"Apa yang dapat kubantu? Menjenguk paman Chanyeol-mu itu di penjara?"
"Ibu sedang sakit, paman."
Sesaat Kris terdiam. Ditatapnya gadis yang tegak di hadapannya itu dengan tajam. Ketika melihat air mata yang mulai menggenangi matanya, hati Kris melunak.
"Sakit apa?"
"Kanker." Mina tak dapat lagi menahan air matanya.
Kris tersentak. Kanker? Baekhyun terkena kanker?
"Kanker apa?" tanyanya agak gugup.
"Kanker payudara, paman. Ibu harus dioperasi..."
"Kenapa datang kepadaku?" desis Kris pahit. "Aku bukan dokter!"
"Ibu memerlukan uang untuk biaya operasinya..."
"Tapi di sini bukan departemen sosial!"
Sekali lagi Mina terhenyak. Matanya menatap lelaki itu dengan tatapan tak percaya. Bukankah paman Kris adalah teman ibunya? Beginikah tanggapan seorang teman? Tidak tergugahkah hatinya mendengar ibunya sakit kanker dan harus segera dioperasi?
"Aku tidak bisa menolongmu," gumam Kris datar. "Antara ibumu dan aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi."
"Tapi... paman Kris teman ibu, kan?" protes Mina kecewa.
"Dulu. Tapi sekarang kami sudah putus. Ibumu juga sudah tidak bekerja lagi di sini. Aku tidak bisa menolongnya."
"Paman Kris tidak bisa meminjamkan uang?" desah Mina hampir menangis.
"Apa jaminannya? Kapan akan dikembalikan?"
"Kami sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dijaminkan, paman. Rumah saja masih menyewa. Mobil sudah dijual..."
"Itu sama saja dengan meminta."
"Aku berjanji akan mengembalikannya!"
"Kapan? Kau sudah bekerja? Di mana? Berapa gajimu?"
Ya Tuhan! Jahatnya lelaki ini! Untung ibunya tidak jadi menikahi lelaki ini! Ternyata dia hanya baik kalau ada maunya... Kebaikannya selama ini palsu... Munafik!
.
.
.
Hana memasukkan kantong berisi obat-obatan itu ke saku celananya. Lalu bergegas dia menyelinap ke WC.
Semua sudah direncanakannya matang-matang. Seluruh obat-obatan yang dicurinya itu dituangnya ke dalam kantong.
Lalu kantong plastik bekas obat itu dilipatnya sampai kecil sekali. Dimasukannya ke dalam mulut.
Kemudian dengan tenang dia keluar. Mengambil ranselnya. Dan mengikuti antrean teman-temannya melewati pos pemeriksaan di depan pintu.
Pemeriksaan lewat begitu saja. Sudah beberapa hari Hana mengawasinya. Hanya tas yang diperiksa oleh petugas. Kalau ada yang dicurigai, baru mereka menggeledah semuanya.
Tetapi sikap Hana yang sangat tenang sama sekali tidak memancing kecurigaan. Dia dapat melewati pos pemeriksaan dengan aman.
.
.
.
"Golongan Nitrazepam begini sekarang sudah tidak terlalu laku," komentar nyonya Gong sambil memasukkan obat-obatan itu ke dalam botol plastik. "Harganya turun. Dan keuntungannya sedikit sekali."
"Sementara ini hanya itu yang bisa saya peroleh, ahjumma. Saya memerlukan uang."
"Dasar remaja! Kebutuhan banyak, tapi tidak punya uang!"
"Mana uangnya, ahjumma? Saya harus cepat pulang. Sudah malam."
"Ini." Nyonya Gong menyodorkan sebuah amplop. Hana menerima amplop itu dan menghitung uangnya.
"Hanya ini?"
"Sudah kubilang, obat-obatan ini kurang peminatnya sekarang."
"Alasan saja! Kalau hanya dihargai semurah ini, lebih baik saya mundur saja. Daripada saya ketahuan. Dipecat. Lebih sial lagi kalau sampai ditangkap polisi!"
"Kau ingin uang yang banyak? Apa kau tahu obat yang sekarang sedang in?"
"Ekstasi?"
"Kalau kau bisa menjual obat seperti ini," Nyonya Gong mengambil salah satu obat itu, "Bagianmu tujuh puluh ribu won per butir."
"Tujuh puluh ribu won?" mata Hana melebar.
"Obat-obatan ini memang mahal. Nah, kenapa tidak kau jual pada teman-temanmu?"
"Tapi teman-teman saya hanya kuli pabrik."
"Tapi sebelum jadi kuli, kau pernah sekolah kan? Nah, jual obat ini pada teman-teman sekolahmu."
"Saya tidak mau menjerumuskan teman-teman saya!"
"Menjerumuskan? Ekstasi hanya sebangsa amphetamin! Teman-temanmu tidak akan teler. Mereka malah akan semakin bersemangat! Makin gembira! Ini, ambil beberapa butir. Gratis!"
Kalau tidak membuat pemakainya ketagihan, mana mungkin kau memberiku barang mahal ini secara gratis, pikir Hana muak. Membagikan pil mahal ini secara gratis?
.
.
.
"Byun Sena, ahjussi ini adalah seorang agen pencari bakat. Dia pernah menonton operet Putri Salju-mu. Dia sangat tertarik padamu."
Sena menggeleng lesu. Matanya tidak bercahaya. Amat berbeda dengan Sena yang mereka lihat waktu memerankan Putri Salju. Saat itu dia tampak begitu hidup. Begitu cerah. Begitu lincah.
"Tuan Ahn kebetulan sedang mencari seorang bintang cilik untuk film iklannya," sambung seonsaengnim. "Seorang anak yang berbakat sepertimu."
"Tapi Sena sedang malas, seonsaengnim," sahut Sena lesu.
"Kau tidak tertarik?" desah seonsaengnim heran. "Kau bilang kau ingin masuk TV!"
Sena menggeleng malas. Matanya redup.
"Kau kenapa, Sena? Sakit?"
Sena menggeleng lagi. Tanpa gairah. Tanpa semangat.
"Ceritakan pada seonsaengnim, Sena. Kau kenapa?"
"Ibuku sakit."
"Anak manis," seonsaengnim menghela napas lega. Dibelainya rambut Sena sambil tersenyum. "Kalau kau muncul di TV, pasti ibumu senang. Dan penyakitnya langsung sembuh."
"Ibuku tidak bisa sembuh. Harus dioperasi."
"Sena," tuan Ahn mengeluarkan sehelai kartu nama. "Ini kartu nama ahjussi. Kalau ibumu sudah sembuh, kau boleh datang ke kantor kami untuk audisi. Nah, ibumu pasti senang kalau kau terpilih. Lagipula, honornya besar."
Sena mengawasi ahjussi itu dengan ragu-ragu.
"Apa betul aku bisa dapat uang banyak?"
"Tapi kau harus meminta persetujuan ibumu dulu ya? Kalau ibumu mengizinkan, baru kau boleh ikut audisi..."
"Apa aku sudah pasti akan menjadi bintang iklan, ahjussi?"
"Kau harus mengikuti audisi dulu. Ada banyak anak-anak berbakat sepertimu yang datang nanti."
.
.
.
"Anak ini belum bisa apa-apa," kata petugas di lembaga yang merawat anak-anak tunamental itu kepada Baekhyun. "Kami sudah melakukan beberapa tes. Hasilnya jelek sekali, nyonya. Kalau anda setuju, lebih baik Yuna dirawat di sini saja."
"Tapi saya ingin mengasuhnya sendiri di rumah," desah Baekhyun sedih.
"Dalam masa perkembangan, seharusnya ada proses timbal balik antara faktor kematangan fisik dan kesempatan untuk mempelajari fungsi-fungsi dasar kehidupan manusia. Pada anak normal, mereka dapat mempelajarinya sendiri, hanya dengan melihat, mendengar, dan meniru orang dewasa. Pada anak cacat mental, lebih-lebih penderita imbesil seperti anak anda, harus diajarkan dengan metode khusus."
"Bolehkah saya tahu metode khusus itu? Supaya saya dapat mengajari anak saya sendiri di rumah."
"Tentu saja boleh. Tetapi terus terang, kami meragukan hasilnya. Yuna bukan saja memiliki IQ yang sangat rendah, tapi koordinasi antara otot-ototnya pun lemah. Lihat saja caranya berjalan. Caranya memandang. Caranya memegang benda."
"Bolehkah saya mencoba melatihnya dulu di rumah? Saya belum ingin berpisah dengan anak bungsu saya."
"Oh tentu saja boleh. Hanya perlu anda ketahui, jika terlambat, akan lebih sulit lagi mengajarinya."
"Terima kasih atas penjelasan anda."
"Sama-sama. Kami selalu siap membantu jika anda membutuhkannya. Satu pertanyaan lagi, nyonya. Apakah saudara-saudaranya dapat menerima kehadiran Yuna dengan wajar?"
Baekhyun tertegun. Sungguh tidak pernah terlintas dalam pikirannya.
"A...apa...maksud anda?"
"Saudara-saudaranya tidak melecehkannya? Tidak merasa minder karena memiliki adik seperti Yuna?"
Baekhyun tidak mampu menjawab. Sena dan Jina memang tidak pernah mengejek Yuna. Tetapi...Baekhyun tidak tahu apakah mereka malu mempunyai adik yang terbelakang mental...
.
.
.
TBC
Guys!
Chapter 11 is up!
Aku tahu...aku tahu...chapter ini cukup membosankan... Tapi sabar ya... kedepannya akan lebih greget lagi.
Buat yang tanya FF ini selesai di chapter berapa, jawabannya mungkin sekitar 3-4 chapter lagi... Ya, ini mendekati ending, pemirsa!
Makanya jangan lupa tinggalkan jejak! Jejak...jejak..jejak...!
Oke deh, sampai jumpa di chapter selanjutnya!
Bye-bye!
