Kini ia sedang duduk di dalam sebuah ruangan yang didominasi oleh warna putih dan krem, sebuah meja kerja lengkap dengan komputer canggih besar diatasnya. Sebuah ruangan yang hanya dipisahkan dengan sebuah tirai berada di satu sisi ruangan lainnya.

Salah satu ruangan dari tempat yang paling tidak disukai oleh Arthit -Rumah sakit.

Entah mengapa ia tidak bisa menolak permintaan dari Kongpob yang memohon padanya untuk pergi ke rumah sakit ini tadi pagi. Membuatnya harus menitipkan May dan M pada kakak Kongpob dan harus merasa sedikit cemburu karena hari ini berarti ia tidak bisa bersama kedua bocah manis itu. Padahal ia sangat ingin menemani May dan M membaca cerita dan tidur sambil berpelukan bersama di atas kasur lebar kedua bocah berusia 3 tahun itu.

Tapi semua itu harus ditundanya karena permintaan ayah dari kedua bocah itu.

Ingatannya kembali pada malam sebelumnya ketika dirinya dan Kongpob menangis bersama hingga tertidur bersama pula. Mereka tidur begitu saja di sofa ruang tv, tidak begitu ingat bagaimana caranya mereka meloloskan tubuh mereka berdua yang tidak bisa dibilang kecil diatas sofa panjang di ruang itu.

Wajah Arthit terasa panas mengingatnya. Apalagi jika teringat bahwa mereka terbangun dalam posisi saling berpelukan, dengan wajah Arthit berada di ceruk leher jenjang Kongpob. Dan sebuah ciuman hangat yang diberikan Kongpob di dahinya, sukses membuat pipinya semakin terasa panas.

Berbicara tentang Kongpob, mengapa pria itu lama sekali sih? Seharusnya mereka telah kembali ke rumah sekarang, apa yang ia bicarakan dengan tiga sekawan dari para dokter itu -julukan yang seenaknya diberikan olehnya pada sepupu Kongpob dan kedua temannya, dokter Beam dan dokter Kit.

Setelah semua pemeriksaan yang mereka lakukan pada tubuhnya, membuatnya mencoba berbagai macam mesin pemeriksaan dan interview yang lebih pada interogasi, juga hipnotis -sepertinya sih- yang berjalan berjam-jam lamanya, mereka dengan seenaknya meninggalkan dirinya di ruangan dokter Phana ini sendirian. Tidak masuk akal.

Ia membuka pintu ruangan dokter penanggung jawab rumah sakit itu dan berjalan di lorong-lorong rumah sakit besar itu. Melihat bahwa rumah sakit ini sepertinya memang menjadi pilihan pertama orang-orang yang sedang sakit diluar Bangkok -salah satu yang membuat Arthit ingin memaki Kongpob yang membawanya jauh keluar dari Bangkok hanya karena ingin ia diperiksa oleh sepupunya itu. Menyebalkan.

Lagipula, Arthit tidak sakit. Mengapa Kongpob berpikir ia perlu semua prosedur pemeriksaan itu? Dasar pria yang suka seenaknya.

Kakinya kini telah membawanya ke lorong panjang yang ia sendiri tidak mengetahui berada dalam sisi rumah sakit besar itu yang sebelah mana. Ia hanya terlalu asik memperhatikan suasana rumah sakit yang cukup ramai dengan pasien dan para penjenguk, hingga ia tidak menyadari bahwa ia tersesat.

Tersesat di dalam sebuah rumah sakit.

Tidak lucu.

.

.

"Kong, maafkan kami." suara pria muda yang memakai baju berwarna biru itu terdengar sangat menyebalkan untuk Kongpob untuk saat ini. "Kami telah melakukan semua yang kami bisa, namun semuanya berakhir pada hasil yang sama."

Kongpob tidak ingin mendengar permintaan maaf. Ia hanya ingin mendengar hasil pemeriksaan yang bisa menyatakan bahwa Arthit-nya bisa sembut. Bahwa Arthitnya bisa kembali mengingat semua memori yang lenyap walau memakan waktu yang sangat lama sekalipun.

Ia tidak ingin mendengar omong kosong yang dikatakan oleh ketika dokter muda di depannya ini.

"Cidera yang disebabkan oleh kecelakaan yang tidak segera di obati itu membuat lobus frontal pada otak P'Arthit tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hasil MRI yang kami lakukan pun menunjukkan bahwa kerusakan pada bagian otak di belakang dahi P'Arthit memang sudah membaik namun beberapa fungsinya sepertinya memang tidak bisa kembali seperti semula." dokter dengan perawakan yang paling kecil diantara ketiganya memijat pelipisnya. "Kita masih bisa bersyukur ia masih bisa menjalani kesehariannya tanpa kendala yang berarti. Bersyukurlah bahwa P'Arthit tidak kehilangan fungsi mobilitasnya juga." sambungnya.

"Aku sudah mencoba melakukan terapi kognitif padanya, namun semua tidak berhasil. Mungkin ia bisa kembali untuk melakukan terapi rutin karena pada dasarnya terapi untuk penderita amnesia tidak bisa dilakukan dalam satu kali sesi terapi." dokter yang memiliki name tag bernama Beam itu menepuk bahunya perlahan, "Jangan kehilangan harapan, Kongpob."

"Aku tidak ingin memberikan harapan palsu padamu, Kong." Ujar Phana, sebenarnya tidak tega membuat sepupunya itu bertambah beban pikirannya lagi. "Walaupun ada, namun kesempatan untuk mengingat dengan menggunakan terapi kognitif dengan hasil MRI yang seperti ini adalah sangat kecil hingga tidak mungkin terjadi."

"Apa yang harus kulakukan jika P'Arhit tetap tidak bisa mengingat? Tidak adakah cara lain?" harapnya lagi, masih tidak ingin mengakui analisis dari ketiga dokter muda itu.

Raut wajah bersalah dari ketiganya membuat Kongpob mengerti jawabannya.

Dan ia harus belajar menerima kenyataan pahit itu? Bagaimana?

Ketiga dokter muda itu kemudian hanyut dalam pikiran masing-masing, tidak ingin semakin membuat suami dari pasien yang baru saja mereka periksa itu semakin muram. Keempat pria dalam ruangan itu bahkan tidak menyadari sosok yang tidak sengaja membuka pintu ruangan itu dengan perlahan karena mendapati pria yang dicarinya sejak tadi.

Arthit Rojnapat mematung membelakangi tembok ruangan yang berisi empat pria yang dikenalnya -tiga baru ditemuinya tadi pagi. Matanya membesar, namun keningnya mengernyit, mencoba memahami semua hal yang baru di dengarnya.

.

.

Arthit merasa tidak enak karena mendiamkan Kongpob selama perjalanan kembali ke Bangkok. Ia juga tidak ingin meminta Kongpob untuk menyetir dalam keadaan malam hari seperti ini namun ia juga tidak ingin tinggal di kota itu bahkan untuk menginap satu malam sebelum kembali ke Bangkok. Ia hanya ingin kembali ke Bangkok, ke rumah merwah kediaman keluarga Suthiluck dan memeluk tubuh gembil dua bocah yang sangat dirindukannya.

Karenanya, ia langsung berlari memasuki rumah mewah itu begitu mereka sampai. Berlari kecil ke kamar dua bocah berusia 3 tahun itu dan memeluk tubuh mereka erat. Tidak mengindahkan rengekan kecil keduanya yang menanyakan mengapa ia pergi sangat lama. Ia hanya diam, semakin mengeratkan pelukannya dan mencium ujung kepala mereka, mendapatkan kedamaian yang ia inginkan. Kehangatan yang ia rindukan.

Pagi hari datang dan Arthit baru menyadari bahwa sosok kedua anak tuan Kongpob itu telah hilang dari sisinya. Jam dinding yang menunjukkan jam 11 pagi lewat itu membuatnya terlonjak kaget.

Astaga. Bagaimana mungkin ia bangun begitu siang dan melupakan tugasnya sebagai asistem rumah tangga dan baby sitter untuk penghuni rumah ini?

Segera ia menuju kamar mandi yang terdapat dalam kamar tidur khas anak kecil itu, membasuh muka seadanya dan merapikan wajah serta rambutnya yang berantakan. Ia berlalu dari kamar itu dan berniat untuk segera melakukan tugas rutinnya -membersihkan rumah dan memasak makan siang karena sebentar lagi memang waktunya makan siang.

Langkahnya terhenti ketika ia melihat dua sosok yang sepertinya sedang berbincang di dapur rumah itu. Kakinya melangkah dengan perlahan, berdoa agar dua orang itu tidak menyadari keberadaannya.

"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Kong?" suara seorang wanita yang lembut namun juga tegas terdengar.

Kakak pertama Kongpob, yang baru ditemui Arthit setelah ia bekerja di rumah ini selama sebulan. Wanita yang terlihat dominan, namun ternyata sangat lembut dan perhatian. Ia langsung memeluk Arthit dan menangis begitu melihatnya -waktu itu Arthit tidak mengerti alasannya. Wanita yang sering kali datang untuk mengunjungi kedua anak Kongpob dan berbincang segala macam hal dengannya.

Arthit menyukai keberadaan wanita itu.

"Aku tidak tahu, P'." terdengar suara Kongpob, seperti sangat kelelahan.

"Lepaskan Arthit, Kong."

"Apa maksudmu, P'?"

"Lepaskan dia, Kong. Dia bukan lagi Arthit yang kau cintai."

Arthit tidak menyukai bagaimana suara wanita yang juga adalah seorang Ibu itu menjadi begitu dingin. Seperti tidak ada lagi intonasi suaranya yang lembut ketika menyapa Arthit setiap kali berkunjung.

"Tidak akan adil untuk Arthit jika kau tetap mengurungnya di rumah ini sementara ia sendiri tidak menginginkannya."

"Dia tidak benci tinggal disini."

"Tapi tidak pula menyukainya, bukan? Kau memanipulasinya agar ia tetap tinggal disini, Kongpob!" Suara kakak Kongpob meninggi. "Kau memanfaatkan naluri 'keibuannya' terhadap May dan M agar ia mau berada di sisimu."

"Dia istriku!" Bentak Kongpob, terdengar suara kursi bergeser dan gebrakan pada permukaan yang keras -Arthit mengira itu adalah permukaan meja makan di dapur.

"ISTRI YANG TAK AKAN PERNAH MENGINGATMU!"

Tubuh Arthit terlonjak ketika suara nyaring kakak Kongpob terdengar. Tubuhnya bergetar, entah karena merasa terintimidasi oleh wanita itu atau karena makna ucapannya. Arthit tidak mengerti.

"Ia adalah istrimu, Kong, dulu." Suara kakak Kongpob kembali melembut. "Sekarang tidak lagi."

"Tidak, P'... mengapa semua orang terus saja mengatakan bahwa Arthit bukan istriku?" Suara serak Kongpob terdengar kembali memilukan. Membuat rasa sakit yang Arthit rasakan malam itu kembali lagi. "Mengapa semua orang mengatakan bahwa Arthit-ku bukanlah Arthit-ku... Mengapa P'? Dia adalah Arthit-ku, matahariku. Dia adalah hidupku. Mengapa semua orang ingin aku membuang hidupku?"

Kali kedua Arthit mendengarkan suara tangisan Kongpob yang begitu memilukan. Ia mencengkram bagiian depan bajunya, mencoba mengurangi sakit yang terasa kembali di dadanya.

"Bahkan Arthit-ku juga... hiks..."

"Dengarkan P', Kong..." Arthit bisa melihat bahwa kakak Kongpob kini memeluk tubuh adiknya yang jauh lebih tinggi darinya itu. Mendekapnya dengan lembut seperti seorang Ibu pada anaknya. "Lepaskan Arthit. Kalian hanya akan menyakiti satu sama lain jika hal ini terus berlanjut."

Arthit ingin berteriak, mengatakan bahwa itu semua tidak benar. Tapi bukankah memang semua ini yang ia inginkan? Terlepas dari pria yang terus saja mengatakan bahwa ia adalah istrinya, sementara ia sangat yakin bahwa mereka tidak saling mengenal.

Bahkan sampai detik ini ia yakin ia tidak pernah menikahi seorang pria bernama Kongpob.

Tapi mengapa hatinya terus saja menyakitinya seperti menyuruhnya untuk tidak mendengarkan logikanya itu?

"Kau akan melukai Arthit dengan pikiranmu bahwa ia adalah Istrimu, Kong... Arthit yang kau sewa sebagai baby sitter bukan lagi Arthit-mu... dan itu akan terus menyakitimu. Akan membunuhnya secara perlahan mengetahui bahwa cintamu tak akan pernah mengingatmu."

Kongpob terdiam. Ia tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk membantah kakaknya itu. Hatinya mengatakan bahwa suatu saat Arthit akan mengingatnya, akan kembali padanya, namun logikanya tidak bodoh hingga ia menolak apa yang sudah jelas adanya. Kenyataan bahwa Arhit-nya tidak akan pernah mengingatnya.

Haruskah ia mempertahankan keyakinan hatinya dan terus menyakiti Arthit dengan terus mengekangnya. atau ia harus mengikuti logikanya dan membiarkan Arthit bahagia walau ia yang akan menderita sebagai gantinya?

Jawabannya sungguh sederhana.

Karena Kongpob terlalu mencintai Arthit. Tentu saja ia akan memilih kebahagiaan Arthit daripada dirinya pada akhirnya.

.

.

tbc